Anda di halaman 1dari 2

JEMBRANA

Jembrana merupakan penyakit yang terdapat pada sapi terutama pada sapi bali. Penyakit ini
ditemukan di Kabupaten Jembrana, Bali pada tahun 1964. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari family
retroviridae dan sub famili lentiviridae, virus ini masih satu kelompok dengan virus HIV AIDS.
penyakit ini umumnya menyerang pada sapi yang berusia di atas 1 tahun dan paling banyak terdapat
pada sapi yang berusia 4-6 tahun. Penyakt ini ditularkan lewat lalat (lalat tapis), caplak, dan nyamuk
melalui darah yang dihisap. Ketika nyamuk menghisap sapi yang terkena penyakit jembrana dan
menggigit sapi lain maka, sapi yang tadinya sehat dapat tertular penyakit jembrana.
Hewan yang terserang penyakit ini menunjukkan kenaikan suhu badan yang tinggi, berkisar antara
40- 42 C, disertai kelesuan dan kehilangan nafsu makan. Tanda-tanda ini disusul dengan pengeluaran
ingus berlebihan,lakrimasi, dan hipersalivasi. Lakrimasi adalah kelebihan produksi air mata yang
disebabkan oleh rangsangan pada kelenjar lakrimal. Pada awalnya ingus bersifat encer dan bening tetapi
kemudian berubah menjadi kental seperti mukosa. Selanjutnya adalah pembengkakan dan pembesaran
kelenjar limfe superficial ; yang pertama membengkak adalah kenlenjar limfe preskapularis (daerah
bahu), lalu kelenjar limfe prefemoralis (daerah perut lutut) dan akhirnya kelenjar limfe parotidae (daerah
bawah telinga). Pembesaran kelenjar limfe ini bersifat bilateral dan ukuran besarnya dapat sebesar tinju
orang dewasa, sehingga perubahan ini mudah dilihat dari jarak jauh. Sekitar 23% dari hewan yang
menderita menunjukkan perdarahan dan erosi di bagian selaput lendir disekitar lubang hidung, bagian
dorsal lidah, dan rongga mulut. Dalam rongga mulut lesi biasanya ditemukan diselaput lendir bagian
dalam,pipi,bibir atas dan bawah, dan gusi rahang atas atau bawah. Ukuran erosi juga bervariasi dari
beberapa millimeter sampai 5 cm. bentuknya biasanya lonjong bundaratau memanjang. Kadang-kadang
ditemukan juga ditepi dan sepanjang bibir di daerah perbatasan antara kulit dan selaput lendir nekrotik
yang cukup luas. Jaringan yang mati ini mudah dikelupas dan meninggalkan luka yang merah dan
dasarnya bergranulasi.
Perdarahan yang berbentuk linier kadang ditemukan pada mukosa bagian bawah pangkal lidah.
Perdarahan ini dengan mudah bisa dilihat bila ditarik keluar. Perdarahan ini dapat dilihat sewaktu hewan
masih hidup dan biasanya tidak nampak lagi setelah hewan mati. Salah satu gejala mencolok adalah
“berkeringat darah”. Keadaan ini biasanya terlihat sewaktu dan setelah demam dan berlangsung 2-3 hari.
Kira-kira 7% hewan yang bersuhu badan 41 C atau lebih memperlihatkan gejala tersebut. Gejala ini
terutama ditemukan didaerah panggul, punggung, perut, dan skrotum. Keringat yang encer, seperti air
dan berwarna merah darah jika masih segar, dan menetes dari permukaan kulit melalui sepanjang
rambut. Jika keringat menempel pada batang rambut, maka akan berbentuk kerak berbintil-bintil dan
tidak lepass jika diusap dengan tangan.
Bulu penderita menjadi kasar, kurang mengkilat dan berdiri. Ritme pernafasan dan denyut nadi
menjadi lebih cepat. Sapi yang menderita demam tinggi biasanya mengalami konstipasi dan setelah suhu
badan menurun hingga normal, disusul dengan diare. Sewaktu konstipasi sifat tinja padat dan keras, dan
kadang-kadang bercampur bekuan darah. Bila diare maka konstipasi tinja menyerupai air, berbau busuk
dan kadang-kadang bercampur bekuan darah atau darah segar. Pada hewan sakit atau hewan yang sering
mendekam dapat terjadi keluarnya darah segar dari anus.
Gejala lain yang sering terlihat adalah perdarahan pada selaput lendir alat kelamin. Kemerahan dan
perdarahan juga dapat ditemukan pada selaput lendir mata.bahkan kadang-kadang walau sangat jarang,
ditemukan perdarahan pada kamar mata depan dan gumpalan bekuan darah mengisi sebagian ruang
mata. Demam tinggi biasanya juga disertai kepincangan pada satu kaki atau dua kaki. Kaki ang pincang
terlihat sedikit membengkak karena oedema dan hiperemi didaerah zona koronaria. Bila daerah bengkak
ini depegang atau di tekan, penderita menunjukan rasa kesakitan. Gejala pincang bersifat permanen dan
dapat menghilang atau sembuh sendiri secara cepat. Sapi betina bunting yang mengalami penyakit ini
sering mengalami keguguran, terutama pada bunting 4 bulan atau lebih. Hewan yang mudah terserang
penyakit ini adalah hewan yang berumur lebih dari satu tahun . umur rata-rata sapi yang peka terserang
penyakit ini berkisar antara 3-4 tahun.
Penyakit Jembrana memiliki gejala klinis dan patologis sangat mirip dengan berbagai penyakit
viral seperti Malignant Catarrhal Fever (MCF), Rinderpest, Bovine Viral Diarrhea-Mucosadisease
(BVD-MD), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Bovine Ephemeral Fever (BEF) dan penyakit bakterial
seperti Septicaemia Epizootica (SE) atau penyakit parasit darah seperti Surra.