Anda di halaman 1dari 2

Kampung Kapuk Teko atau yang lebih dikenal dengan Kampung Apung terletak di RT 10, RW

01, Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat dengan luas 3 Ha. Pada awalnya kampung ini sama dengan
kampung-kampung lainnya, dimana 1 Ha lahannya merupakan permukiman warga dan sisanya
merupakan area pemakaman umum. Seiring berjalannya waktu banyak sekali tanah di kampung
ini maupun sekitarnya diuruk guna pembangunan-pembangunan industri maupun perumahan-
perumahan. Alhasil tanah semakin habis dan menjadi rendah ketinggiannya sehingga bencana
banjir mulai melanda pada tahun 70-an di saat musim penghujan. Lalu bencana banjir ini makin
parah ketika tahun 90-an dimana hampir 3-6 bulan banjir tak kunjung surut sehingga
menyebabkan aktivitas masyarakat terhenti. Untuk mengantisipasi bencana ini, masyarakat mulai
meninggikan jalan hingga bangunan-bangunan di kampung ini sehingga apa yang ditempati saat
ini bisa dibilang dulunya merupakan atap rumah mereka. Barulah pada tahun 2010, kampung ini
disebut-sebut sebagai kampung apung oleh masyarakat sekitar maupun awak media dikarenakan
area pemakaman seluas 2 Ha ini terendam oleh air dan membentuk seperti danau buatan.
Meskipun pada tahun 2012 air yang merendam pemakaman tersebut sempat dilakukan
penyedotan guna dilakukan pemindahan makam, namun hal tersebut tak kunjung terealisasi.
Sehingga, seiring berjalannya waktu air kembali merendam pemakaman tersebut dan benar-
benar menjadi kampung apung yang hanya berisi rumah-rumah warga di atas danau buatan
tersebut.

Kampung Apung tak hanya ditinggali oleh penduduk asli melainkan juga banyak pendatang yang
tinggal disini. Ada sekitar 200 kk yang bertempat tinggal dan beraktivitas disini. Bila dirata-
ratakan, ada 50% penduduk yang bekerja sebagai buruh pabrik, 30% berwiraswasta, dan sisanya
bekerja serabutan seperti kuli bangunan, tukang ojek, dan buruh cuci. Menurut pernyataan ketua
RT kampung apung, mayoritas suami dan istrinya sama-sama bekerja. “Disini mah enggak ada
yang istrinya cuma nyantai-nyantai di rumah, pasti ikut bekerja” kata Pa RT. Hal tersebut
terkadang menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan, seperti adanya anak yang tercebur ke
danau sedalam 3 meter tersebut dan meninggal karena tenggelam diakibatkan lepas dari pantauan
orang tuanya. Sudah banyak memang kejadian yang tercebur baik pengendara motor maupun
orang berjalan kaki dan juga anak-anak namun bilamana warga melihat pasti langsung dilakukan
pertolongan.
Mulai sekitar tahun 2007, sudah ada beberapa Coorporate Social Responsibility atau disingkat
CSR yang masuk dan membantu pembangunan infrastruktur di kampung apung ini. CSR ini
berasal dari Yayasan Nurani Dunia yang bekerja sama dengan Standar Chartered Bank dalam
pembangunan rumah belajar terapung dan jembatan sebagai akses jalan masuk kampung. Selain
itu, Yayasan Nurani Dunia juga bekerja sama dengan PT. Freeport Indonesia dalam
pembangunan perpustakaan terapung. Ada hal unik dalam setiap pemberian CSR ini, dimana
warga kampung apung tidak mau dibantu dengan uang tetapi melalui pemberdayaan.
Pemberdayaan disini maksudnya ialah warga disediakan bahan-bahan bangunannya lalu yang
membangun warganya sendiri dengan cara gotong royong. Hal tersebut tidak terlepas karena
keahlian warganya yang rata-rata bekerja sebagai kuli bangunan. Sehingga pada proses
pembangunannya, warga yang bekerja diberikan upah Rp 50.000,- setiap harinya dari dana CSR
tersebut.