Anda di halaman 1dari 24

PROFIL SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT

KABUPATEN TANGERANG

ANGGOTA PERUMUSAN SOSIAL BUDAYA KABUPATEN


TANGERANG

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
SERPONG
2015
KATA PENGANTAR
ABSTRACK

Kabupaten Tangerang memiliki kultur budaya campuran Betawi dan Priangan.


Masyarakat Kabupaten Tangerang berbahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
dan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah. Ada juga bahasa Jawa yang merupakan
bahasa pendatang dari luar Kabupaten Tangerang yang umumnya para pekerja di
kawasan industri Kabupaten Tangerang.

Sampai dengan tahun 2002, dari 651.254 KK yang ada di Kabupaten Tangerang,
mereka yang dikategorikan sebagai penduduk pra sejahtera sebanyak 105.245 KK,
sejahtera I sebanyak 156.953 KK, sejahtera II sebanyak 206.040 KK, sejahtera III
sebanyak 130.356 KK dan sejahtera III Plus sebanyak 52.660 KK.

Masyarakat Kabupaten Tangerang termasuk masyarakat yang dinamis dan gemar


akan kesenian. Karakter kesenian yang ada di Kabupaten Tangerang adalah
perpaduan antara seni budaya Betawi dan Priangan. Beberapa kesenian yang
berkembang sampai saat ini adalah Seni Musik Gambang Keromong dan Tari
Cokek yang merupakan tarian pergaulan yang banyak berkembang di kawasan
Teluknaga dan Kosambi.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN

Kabupaten Tangerang memiliki beragam tempat wisata, diantaranya wisata pantai


dadap yang terletak di teluknaga sekaligus berbatasan langsung dengan Ibu Kota
Jakarta, pantai pulau cangkir yang terletak di Kecamatan Kronjo terdapat tempat
penziarahan atau makam keramat pangeran jaga lautan. Para wisatawan selain
hendak menikmati alam pantai juga berziarah ke makam tersebut, pantai tanjung
kait terletak di Kecamatan Mauk juga banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai
daerah, dan pantai tanjung pasir yang menyediakan resort dan tempat
pemancingan alam. Selain itu, Kabupaten Tangerang juga terkenal dengan tempat
wisata rekreasi dan belanja di Citra Raya Kecamatan Cikupa. Para wisatawan
dapat menemukan berbagai tempat perbelanjaan di kawasan Citra Raya
Kecamatan Cikupa.

Pengembangan pariwisata di Kabupaten Tangerang khususnya untuk wisata alam


dan wisata budaya belum dikelola secara Profesional dengan skala usaha industri
kepariwisataan. Kabupaten Tangerang memiliki garis pantai sepanjang 51 km
merupakan peluang bagi para investor yang bergerak dibidang kepariwisataan dan
pengembangan industri.
BAB II
GAMBARAN UMUM

Kabupaten Tangerang terletak di bagian Timur Provinsi Banten pada koordinat


106°20'-106°43' Bujur Timur dan 6°00'-6°20' Lintang Selatan. Luas wilayah
Kabupaten Tangerang 959,6 km2 atau 9,93 % dari seluruh luas wilayah Propinsi
Banten. Secara administratif, Kabupaten Tangerang terdiri dari 29 kecamatan, 28
kelurahan dan 246 desa. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Tigaraksa.
Berdasarkan jumlah penduduk pada tahun 2014 jumlah penduduk Kabupaten
Tangerang adalah 31.157.780, terdiri dari 1.617.090 jiwa laki-laki dan 1.540.690
jiwa perempuan.

Secara topografi, Kabupaten Tangerang berada pada wilayah dataran yang terdiri
dari dataran rendah dan dataran tinggi. Dataran rendah sebagian besar di wilayah
Utara yaitu di Kecamatan Teluknaga, Mauk, Kemiri, Sukadiri, Kresek, Kronjo,
Pakuhaji dan Sepatan. Sedangkan dataran tinggi berada di wilayah bagian tengah
kearah selatan.

Kabupaten Tangerang memiliki banyak keragaman sosial budaya dapat dilihat


dari segi agama, suku, budaya dan ras, dimana terdapat lima agama yang tersebar
di Kabupaten Tangerang, suku yaitu Suku Jawa, Suku Betawi, Suku Sunda dan
Suku Tionghoa, dengan keragaman ini akan menghasilkan suatu potensi yaitu
potensi kebudayaan di Kabupaten Tangerang yaitu potensi dari segi kesenian,
tradisi, kerajinan, kuliner dan cagar budaya.

Secara administratif, Kabupaten Tangerang terdiri dari 29 kecamatan yaitu


kecamatan Balaraja, Cikupa, Cisauk, Cisoka, Curug, Gunungkaler, Jambe,
Kemiri, Kosambi, Kresek, Kronjo, Legok, Mauk, Mekarbaru, Pagedangan,
Pakuhaji, Panongan, Pasarkemis, Rajeg, Sepatan, Sepatan Timur, Sindang Jaya,
Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga, Tigaraksa, 28 kelurahan dan 246 desa.
Adapun batas-batas lokasi studi merupakan batas administrasi Kabupaten
Tangerang (Gambar 1.1), yakni :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa (dengan garis pantai ± 51 Km),
 Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang
Selatan dan Kota Tangerang
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak.
BAB III
PROFIL SOSIAL BUDAYA
KABUPATEN TANGERANG

3.1 Sejarah
Dalam riwayat diceritakan, bahwa saat Kesultanan Banten terdesak oleh Agresi
Militer Belanda pada pertengahan abad ke-16, diutus tiga maulana yang
berpangkat Tumenggung untuk membuat perkampungan pertahanan di wilayah
yang berbatasan dengan Batavia. Ketiga Tumenggung itu adalah, Tumenggung
Aria Yudhanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Jaya Santika. Mereka segera
membangun basis pertahanan dan pemerintahan di wilayah yang kini dikenal
sebagai kawasan Tigaraksa.
Jika merunut legenda rakyat dapat disimpulkan bahwa cikal-bakal Kabupaten
Tangerang adalah Tigaraksa. Nama Tigaraksa itu sendiri berarti Tiang Tiga atau
Tilu Tanglu, sebuah pemberian nama sebagai wujud penghormatan kepada tiga
Tumenggung yang menjadi tiga pimpinan ketika itu. Hari jadi Kabupaten
Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943 (Peraturan Daerah Nomor 18
Tahun 1984 tanggal 25 Oktober 1984). Seiring dengan pemekaran wilayah
dengan terbentuknya pemerintah Kota Tangerang tanggal 28 Februari 1993
berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1993, maka pusat pemerintahan
Kabupaten Tangerang pindah ke Tigaraksa. Pemindahan ibu kota ke Tigaraksa
dinilai strategis, karena menggugah kembali cita-cita dan semangat para pendiri
untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang bebas dari
belenggu penjajahan (kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan) menuju
masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera.

3.2 Keragaman Etnis

3.3 Budaya Lokal


Budaya Lokal adalah budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu yang
juga menjadi ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Pergeseran
zaman pada saat ini membuat para generasi muda yang ada lupa akan budaya
mereka sendiri. Namun, mayoritas yang ada di Kabupaten Tangerang masih
mengembangkan budaya asli walaupun adanya campuran dengan budaya luar
yang masuk ke Kabupaten Tangerang. Terdapat beberapa aspek yang mendasari
budaya lokal di Kabupaten Tangerang yaitu dari aspek kesenian, tradisi,
kerajinan, kuliner, dan cagar budaya.

3.3.1 Kesenian
Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk
mengekspresikan rasa keindahan. Kabupaten Tangerang mempunyai berbagai
macam kesenian seperti tarian, alat musik, tradisi dan beladiri.
Berikut ini adalah kesenian asli yang ada di Kabupaten Tangerang.

A. Tari Cukin
Kebudayaan Tari Cukin “Tarian Selendang ala Betawi” tarian khas Tangerang
merupakan implementasi hasil workshop pengembangan kreasi seni daerah
Kabupaten Tangerang yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 2006 lalu. Sebagai
maestronya adalah Nani Mulyani yang mengadopsi gerak tari Cokek yang sejak
zaman Belanda telah berkembang. Hanya dalam ketentuan tari Cukin ini, rambu-
rambu yang diamanatkan seniman mengacu pada norma-norma agama dan
paradigma masyarakat Kabupaten Tangerang yang religius.
Tari Cukin sejenis drama tarian yang menceritakan para remaja putra dan putri
yang sedang bersenda gurau pada suatu malam yang cukup cerah dan
menggunakan tema ungkapan keceriaan para remaja dengan gerak tari yang cukup
indah sehingga membuat kaum laki-laki tergerak untuk ikut serta didalamnya.
Istilah Cukin merupakan bahasa asli masyarakat Tangerang yang mengandung
artian selendang biasa dipakai para penari yang berarti juga kain yang dipakai
untuk menggendong anak. Tari Cukin juga digunakan sebagai tarian sambutan
bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Tangerang.

B. Debus

Debus berasal dari kata Arab dablus, yang berarti sejenis senjata penusuk berupa
besi runcing. Ditinjau dari bentuk permainannya, debus dapat digolongkan salah
satu pertunjukan (upacara) syaman, tetapi ditilik dari isi dan pelaksanaannya
bertahan erat dengan keagamaan (Islam).
Tidak mustahil memang telah terjadi perpaduan diantara berbagai unsur budaya
tersebut. Yang menonjol dalam permainan ini adalah pertunjukan kekebalan orang
terhadap berbagai senjata tajam. Permainannya merupakan permainan kelompok.
Di kerajaan Banten dahulu, debus terkenal sebagai penyebarluas agama dan
budaya Islam, pertunjukan kekebalan yang sangat digemari dan dibanggakan oleh
masyarakat Banten ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk penyiaran agama Islam.
Unsur-unsur Permainan Debus:
• Pemain, terdiri atas syeh atau pemimpin permainan debus, para pezikir,
pemain dan penabuh.
• Peralatan permainan terdiri atas debus dengan gada nya, golok, pisau, bola
lampu, kelapa, alat penggoreng dan lain-lain.
• Alat musik untuk pingiring permainan debus terdiri atas: gendang besar,
gendang kecil, rebana dan kecrek.
Seorang pemain debus harus kuat, tabah dan yakin kepada diri sendiri. Mereka
harus taat menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam, tahan lapar, tahan
tidak tidur, tahan tidak bergaul dengan isteri selama waktu yang ditentukan dan
lain-lain persyaratan yang untuk orang kebanyakan sulit dilakukan nya.

C. Tari Cokek

Kebudayaan Tari Cokek adalah seni pertunjukan yang berkembang pada abad ke
19 M di Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Tarian khas Kabupaten
Tangerang ini diwarnai budaya etnik Cina. Penarinya mengenakan kebaya yang
disebut cokek.
Sejarah munculnya Tari Cokek berawal dari adanya pentas hiburan yang diadakan
oleh para tuan tanah Tionghoa yang tinggal di Kabupaten Tangerang. Dalam
pentas seni itu, Tan Sio Kek, yang merupakan salah satu tuan tanah di Kabupaten
Tangerang, mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud partisipasinya
dalam pesta hiburan rakyat itu. Pada awalnya, dia menyisipkan tarian para gadis
cantik tersebut sebagai pertunjukan tambahan. Namun, berawal dari pertunjukan
tambahan itulah, kemudian para penari ini menjadi terkenal dan berdiri sendiri
sebagai kelompok penari yang kemudian tariannya dinamakan Tari Cokek.

D. Lenong Tunah

Lenong tunah merupakan kesenian asal Pekayon, Kecamatan Mauk, Kabupaten


Tangerang. Bias any, pementasan Lenong Tunah diiringi dengan irama gamelan,
suling, perkusi dan gendang.
Lenong Tunah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kesenian itu kemudian
dikembangkan oleh suami istri Hj. Tunah dan Jampang, pada tahun 1951. Setelah
pasangan suami istri itu wafat, kesenian Lenong Tunah dilnjutkan oleh anaknya
Supriyati bersama sang suami, Ayub hingga kini.
"Lenong Tunah tidak jauh berbeda dengan Lenong Betawi. Biasanya kami
melakoni cerita rakyat Si Ayub dari Teluknaga, Tangerang," ujar Supriyati,
pengelola Lenong Tunah disela Festival Kesenian Tangerang yang digelar dalam
perayaan ulang tahun Kabupaten Tangerang yang ke 69, Kamis (27/12/2012).
Dalam kisahnya, sosok Ayub menggambarkan sosok pemuda Tangerang yang
berani melawan tirani dengan membela rakyat tertindas dari kompeni Belanda.
Untuk sekali pentas, Lenong Tunah yang memiliki jumlah personil mencapai 45
orang. Untuk sekali pentas, group Lenong Tunah dibayar Rp 5 sampai Rp 8 juta.

3.3.2 Tradisi
Tradisi atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu
yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu
kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau
agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi
yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa
adanya ini, suatu tradisi dapat punah. Berikut beberapa tradisi yang ada di
Kabupaten Tangerang.

A. Angklung Gubrag

Angklung Gubrag Merupakan salah satu kesenian tradisional yang sudah langka,
namun masyarakat Desa Kemuning, Kecamatan Kresek – Kabupaten Tangerang
masih melestarikan kesenian Angklung Gubrag pada acara khitanan, perkimpoian
dan selamatan kehamilan. Pada masa lalu kesenian Angklung Gubrag
dilaksanakan pada saat ritual penanaman padi dengan maksud agar hasil panen
berlimpah. Instrumen yang digunakan 6 buah angklung menggunakan bambu
hitam, masing-masing memiliki nama: bibit, anak bibit, engklok 1, engklok 2,
gonjing dan panembal, dilengkapi dengan terompet kendang pencak dan seruling.
Di atas angklung dikaitkan pita yang berasal dari kembang wiru, menurut
kepercayaan kembang wiru dan air yang berasal dari angklung dipercaya dapat
menjadi obat dan penyubur tanaman. Semua pemain berdiri tidak menari kecuali
penabuh dogdog lojor menabuh sambil ngibing diiringi beberapa penari
perempuan dengan kostum kebaya dan kain.

B. Ngadu Bedug

Tradisi Ngadu Bedug yang merupakan kebiasaan warga masyarakat Kabupaten


Tangerang dalam rangka memeriahkan Bulan Suci Ramadhan, dilakukan
menjelang dan setelah Hari Raya Idhul Fitri. Ngadu Bedug dilakukan oleh dua
atau lebih warga kampung yang berbeda, dengan diawali oleh salah satu kampung
yang menantang dengan menabuh bedug lagu tertentu (biasanya lagu Nangtang),
yang kemudian dijawab oleh kampung lainnya. Selanjutnya terus bersahutan,
saling bergantian lagu (motif / pola tabuh) sesuai kreatifitas warga kampungnya
masing-masing. Lagu-lagu yang biasa di mainkan diantaranya : Nangtang, Anting
Sela, Sela Gunung, Celementre, Pingping Cakcak, Gibrig Tuma, Gedag Limus,
Selangdog, Kakaretaan, Rurudatan, Angin-anginan, Bajing Luncat, Patingtung,
Koprok Kosong, Shalawat Badar, Tonggeret, Cingcangkeling, Oray orayan,
Baledog Jengkol dan Bedug Kula.
C. Sedekah Bumi

Di Kabupaten Tangerang, masyarakat sekitar masih mengadakan tradisi sedekah


bumi, sebagai tanda syukur mereka kepada Tuhan YME karena telah diberi rejeki
dan panen yang melimpah di tiap tahunnya. Dengan adanya sedekah bumi,
biasanya masyarakat sekitar membuat suatu tumpeng dan jajanan sedekah bumi
atau biasa di sebut dengan jajanan pasar. Jajanan pasar yang dibuat untuk acara
sedekah bumi tersebut seperti pasung, dumbek, bugis, dan masih banyak yang
lainnya. Di akhir acara sedekah bumi tersebut seusai berdoa, biasanya
menyelenggarakan suatu kesenian, di kampung melayu kecamatan teluk
naga paling terkenal dengan kesenian degung.

3.3.3 Kerajinan
Kerajinan adalah sebutan bagi suatu benda hasil karya seni manusia. Kata
'kerajinan' berasal dari kata 'rajin' yang artinya barang atau benda yang dihasilkan
oleh keterampilan tangan. Kerajinan terbuat dari berbagai bahan. Dari kerajinan
ini menghasilkan hiasan atau benda seni maupun barang pakai. Biasanya istilah
ini diterapkan untuk cara tradisional dalam membuat sesuatu.
Nilai - nilai yang dibutuhkan untuk membuat suatu kerajinan adalah memiliki
kecakapan, keahlian, penguasaan dalam proses pembuatan produk, dan kreatifitas
atau imajinasi.
Kerajinan terdiri dari 2 jenis yaitu :
• Kerajinan bahan alam, merupakan kerajinan yang terbuat dari bahan alam atau
bahan dasarnya bahan-bahan alam seperti : serat alam ,bambu, rotan .
• Kerajinan bahan buatan, merupakan kerajinan yang terbuat dari bahan buatan
seperti : plastik,gips,sabun,lilin,dan lain lain.
Berikut macam-macaam kerajinan khas dari Kabupaten Tangerang.

A. Batik Wareng dan Batik Kacang

Saat ini perajin batik dari Kabupaten Tangerang baru mengeksplorasi dua motif
batik yaitu Batik Wareng dan Batik Kacang. Kedua motif batik tersebut memiliki
warna dengan nuansa gelap dan motif diagonal. Dua batik ini memiliki filosofi
yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat yang menetap di Kabupaten
Tangerang.
Untuk batik kacang sendiri merupakan tanaman yang kerap kali ditemui pada tiap
halaman rumah di Kabupaten Tangerang yang kebetulan memiliki jenis tanah
yang gembur. Sedangkan batik wareng berarti galak. Biasa disematkan pada ayam
jantan. Ayam wareng atau ayam galak juga menjadi bagian dari Kabupaten
Tangerang yang dulunya suka mengadu ayam.

B. Topi Bambu
Kerajinan Topi Bambu telah menjadi khas kebudayaan Tangerang yang tepatnya
berada di Kabupaten Tangerang sejak era tahun 1800 sampai awal tahun1900.
Dijaman Hindia Belanda produk Topi Bambu ini sangat populer sampai ke Eropa
dan Amerika (umumnya di Amerika Latin), bahkan konon pemasarannya pernah
merajai Negara Prancis.
Dahulu dijaman revolusi, sentra pembuatan Topi Bambu di Kabupaten Tangerang
terdapat di Desa Cikupa, Desa Tenjo, Desa Balaraja, Desa Tigaraksa, dan
beberapa desa lainnya. Hasil produksi Topi Bambu dari beberapa desa tersebut,
lalu dikumpulkan oleh para tengkulak kemudian diserahkan ke pabrik topi yang
berada di Tangerang, untuk lebih disempurnakan lagi sebelum diekspor.
Sayangnya home industri di Tangerang ini pernah berhenti akibat kerusuhan anti
warga Tionghoa yang diprovokasi oleh NICA (Netherlands Indies Civil
Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang berkedudukan di
Indonesia). Akhirnya kerajinan Topi Bambu ini pun menghilang hingga beberapa
dasawarsa lamanya.

3.3.4 Kuliner
A. Dodol Wa Murad

Salah satu pembuat dodol yang sudah lumayan terkenal di Panongan, Kabupaten
Tangerang. Wa Marud, begitulah akrabnya disapa. Kediaman dan dapur dodol Wa
Marud terletak di Kampung Cukanggalih, Desa Ciakar, Kecamatan Panongan,
Kabupaten Tangerang, Banten. Dodol yang diproduksi Wa Marud adalah Dodol
Beras Ketang. Usaha dodolnya berkembang dengan sendirinya dari mulut ke
mulut pelanggannya.

B. Otak-Otak

Otak-otak adalah makanan khas Kecamatan Sepatan. Otak-otak adalah makanan


Indonesia yang terbuat dari ikan (biasanya tenggiri) yang dibungkus oleh daun
pisang dan di masak dengan cara di panggang.
3.6 Peninggalan Bersejarah
Peninggalan bersejarah di kabupaten tangerang tersebat di 5 daerah yatitu
Kecamatan Balaraja, Kecamatan Mauk, Kecamatan Pagedanga, Kcamatan solear,
dan kecamatan paku haji

1. Kecamatan Balaraja
 Situs bangunan rumah koloni belanda
2. Mauk
 Rumah Pegadaian Kolonial Belanda
 Fosil Gajah Purba
 Fosil Moluksa Kyokkenmodinger/Cangkang Kerang
 Klenteng Tjo Soe Kong
 Makam Dewi Neng
 Makom Ki Mawuk alias Mas Kalimangun Jaya Kusumah
3. Pakuhaji
 Fragmen Kapal Portugis
4. Pagedangan
 Rumah Kebaya Peninggalan Rd. Wangsakarsa
 Makam Aria Wangkasarka
 Mesjid Peninggalan Rd. Wangsakarsa
 Makam Ki Yunus
 Makam Ki Mutaqin
 Makam Rd. Aria Dwipa Kencana
 Makam Ki Buyut Galokgok
 Makam Ki Musa
 Makam Mas Laeng
 Makam Ki Buyut Onang
5. Solear
 Bngunan Bendungan Solear Peninggalan Belanda.
 Makom Solear
Peninggalan Bersejarah:
1. Rumah Pegadaian Kolonial Belanda
Peninggalan Bersejarah: 2. Fosil Gajah Purba
1. Bangunan Rumah Koloni Belnada 3. Fosil Moluksa Kyokkenmodinger/Cangkang
Kerang Peta Sebaran Peninggalan Bersejarah
4. Klenteng Tjo Soe Kong Kabupaten Tangerang
5. Makam Dewi Neng
6. Makom Ki Mawuk alias Mas Kalimangun
Jaya Kusumah

Peninggalan Bersejarah:
1. Fragmen Kapal Portugis

Peninggalan Bersejarah :
1. Rumah Kebaya Peninggalan
Rd. Wangsakarsa
2. Makam Aria Wangkasarka
3. Mesjid Peninggalan Rd.
Wangsakarsa
4. Makam Ki Yunus
5. Makam Ki Mutaqin
6. Makam Rd. Aria Dwipa
Kencana
7. Makam Ki Buyut Galokgok
8. Makam Ki Musa
9. Makam Mas Laeng
10. Makam Ki Buyut Onang

Peninggalan Bersejarah:
1. Bngunan Bendungan
Solear Peninggalan
Belanda.
2. Makom Solear