Anda di halaman 1dari 20

PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API

DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

BAB STUDI IDENTIFIKASI &


PENETAPAN LOKASI
03 TAPAK PERENCANAAN

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 1


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

3.1. TAHAPAN STUDI IDENTIFIKASI LOKASI

Dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) tidak disebutkan secara eksplisit dan jelas
tepatnya letak lokasi perencanaan Depo, baik ditinjau dari titik koordinatnya maupun
batas – batas yang jelas yang dapat dijadikan patokan secara lebih akurat di
lapangan. Demikian pula dengan luasan site yang dialokasikan beserta delienasinya,
belum tersebutkan dan tergambarkan dalam KAK.

Di sisi lain, kondisi di lapangan sebagaimana pada saat peninjauan awal bersama
dengan pemangku kepentingan dan penyelenggara kegiatan, belum dapat
teridentifikasi secara lebih jelas batas delienasi area site. Terlebih lagi jalur Main Line
Track Rel Kereta Api Trans Sulawesi belum terbangun hingga ke lokasi yang
menjadi studi perencanaan Depo ini. Selain itu, lahan yang dimaksudkan untuk jalur
track maupun area lokasi perencanaan Depo pun sebagaimana ditunjukkan dalam
peninjauan awal di lapangan hingga saat ini statusnya belum dibebaskan dan masih
merupakan lahan kebun ataupun ladang dan persawahan milik warga setempat.

Oleh karenanya untuk dapat dilakukan pengukuran delienasi dan topografi di


lapangan beserta pembuatan patok - patok Bench Mark sebagai batas area lahan
perencanaan yang akan dibebaskan nantinya, maka diperlukan studi identifikasi awal
luasan dan delienasi area site untuk Depo yang akan direncanakan. Studi identifikasi
tersebut dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Melakukan tinjauan terhadap hasil studi penyusunan rencana trase jalur Main
Line Kereta Api Makassar – Parepare, terutama untuk mengetahui dan
mengidentifikasi titik – titik koordinat trase yang telah ditentukan dan
dicantumkan dalam hasil studi.

2. Memetakan titik koordinat lokasi yang diambil pada saat survey/peninjauan awal
ke lapangan sebelumnya, melalui software yang mendukung dan
membandingkan serta mengukur jarak titik koordinat hasil survey awal dengan
koordinat trase main line Jalur Track maupun koordinat trase stasiun yang
terdekat, baik di Maros maupun Parepare.

3. Melakukan studi sementara kebutuhan ruang dan luasannya, berdasarkan acuan


perbandingan luasan ruang dan bangunan yang terdapat pada bangunan Depo
sejenis yang terdapat di Indonesia, serta mengacu pula pada standar aturan

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 2


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

yang dikeluarkan oleh pemangku kebijakan yang terkait yang mengatur standar
dimensi ruang, sarana dan juga jenis lokomotif dan gerbong kereta api yang
nantinya akan ditampung dan dirawat serta diperbaiki di dalam fasilitas Depo.

4. Melakukan penggambaran tatanan sementara blok plan area komplek Depo


dengan menggunakan software berbasis CAD, dengan mengacu pada hasil studi
sementara kebutuhan bangunan dan prasarana, dengan batas-batas delienasi
site yang sesuai dengan hasil studi kebutuhan luas total area.

5. Hasil bentuk site dan tatanan blok plan yang telah digambarkan tersebut,
kemudian dipetakan secara overlay pada peta citra satelit, dengan mengacu
pada titik koordinat hasil peninjauan lapangan dan menyesuaikan dengan trase
jalur Main Line dan trase posisi Stasiun yang terkait.

6. Pada saat proses overlay tersebut, bentuk site dapat dilakukan perubahan titik –
titik koordinat batasnya untuk menyesuaikan dengan kondisi area yang terlihat
pada peta citra satelit. Diupayakan agar bentuk batas delienasi dan luasan lahan
tidak bersinggungan dengan area permukiman, sehingga menghindarkan
terjadinya penggusuran rumah-rumah penduduk yang dapat berdampak pada
timbulnya ongkos sosial yang tinggi dalam proses pembebasan lahannya nanti.

7. Hasil akhir proses overlay di atas akan menjadi Draft Usulan Peta Lokasi dan
Delienasi Perencanaan Depo yang memuat batas-batas delienasi area lahan
yang dibutuhkan, lengkap dengan nilai koordinat dari titik – titik pembentuk batas
delienasi serta posisinya dari titik koordinat BM dari trase Main Line dan stasiun
yang terkait.

8. Bila Draft Usulan Peta Lokasi dan Delienasi Site Perencanaan Depo tersebut
dapat disetujui bersama oleh pihak – pihak pemangku kepentingan dan tim
teknis yang terkait, maka Usulan Peta Lokasi dan Delienasi Site Perencanaan
Depo tersebut akan menjadi acuan tetap bagi Konsultan dalam melakukan
penentuan titik koordinat patok Bench Mark (BM) yang menjadi batas lahan pada
saat pengukuran topografi dan delienasi di lapangan.

3.2. IDENTIFIKASI AWAL KAWASAN PERENCANAAN

Menurut RTRW Provinsi Sulawesi Selatan jalur kereta api yang menghubungkan
Kota Makassar dan Kota Parepare sepanjang 145 km dan melewati 23 stasiun

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 3


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

kereta api akan digunakan pada tahun 2018-2019. Jalur kereta api tersebut
menggunakan satu jalur kereta api akan tetapi pematangan lahan sudah disiapkan
menjadi dua jalur kereta api.

Gambar 3.1. Peta Rencana Arahan Sistem Jaringan Kereta Api sesuai dengan RTRWP
Provinsi Sulawesi Selatan Th. 2010

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 4


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

3.2.1. Delineasi dan Penetapan Lokasi Kawasan Depo Sarana Kereta api di
Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros

Meskipun dalam KAK tidak memuat lokasi perencanaan secara khusus dan
bersifat umum yang hanya menjelaskan di Maros dan Parepare, menurut
beberapa informasi yang di dapatkan oleh konsultan, kawasan perencanaan
Depo Sarana Kereta Api di Kabupaten Maros dan di Kota Parepare
menempuh sejauh 145 km. Jalur kereta api ini pada awalnya dibangun jalur
tunggal, tetapi lahan yang disiapkan dapat dibangun jalur ganda. Jalur ini
direncanakan mempunyai 23 stasiun yang akan dibangun sebagai
pemberhentian kereta api. Kedua puluh tiga stasiun yang terdapat di jalur ini
yaitu:

Tabel 3.1. Tabel Pemberhentian Stasiun Kereta Api pada jalur Kereta Api
Makassar- Parepare

 Stasiun Tallo (Makassar)  Stasiun Tanate Rilau


 Stasiun Parangloe  Stasiun Barru
 Stasiun Mandai  Stasiun Garongkong
 Stasiun Maros  Stasiun Pelabuhan Garongkong
 Stasiun Pute  Stasiun Takalasi
 Stasiun Lempangan  Stasiun Soppengriaja
 Stasiun Pangkajene  Stasiun Palanro
 Stasiun Bungoro  Stasiun Malusetasi
 Stasiun Labakkang  Stasiun Kupa
 Stasiun Ma'rang  Stasiun Lumpue
 Stasiun Segeri  Stasiun Soreang (Parepare)
 Stasiun Mandale

Dari tabel diatas bahwa stasiun kereta api di Kabupaten Maros berada di
Kecamatan Turikale dan stasiun kereta api di Kota Parepare berada di
Kecamatan Soreang. Untuk di Kabupaten Maros pihak provinsi telah
membuat tiga rencana pembangunan stasiun yaitu berada di Turikale,
Bontoa dan Pallantikan. Perencanaan peletakan stasiun di Kecamatan
Turikale berada di kawasan Pallantikan, dimana pemilihan lokasi tersebut
dikarenakan area tersebut berdekatan dengan kawasan Bandara
Hasanuddin, dan dapat dijadikan area yang bersifat TOD (Transit Oriented

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 5


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Devlopment) serta kawasan yang menuju ke daerah Garuntang untuk


komoditi Semen Bosowa dan Semen Tonasa.

Gambar 3.2. Peta Administrasi Kecamatan Turikal

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 6


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 3.3. Peta Rencana Pembangunan Depo Sarana dan Stasiun Kereta Api di Kecamatan Turikale, Kab. Maros (alternatif-1)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 7


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Kondisi
Eksisting Area
Perencanaan
Lbr Jln 6m
Kondisi Sungai

Gambar 3.4. J
alan
Kondisi Rumah yg terkena trase Jalur
Palantika
Kondisi Rumah yg terkena trase Jalur
KA n
KA
Gambar 3.5.

Kondisi eksisting masih berupa lahan


persawahan
Gambar 3.4. Peta Overlay dan kondisi eksisting Kawasan Perencanaan Depo Sarana KA Di Maros

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 8


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Tabel 3.2. Tabel Potensi dan Masalah Perencanaan Depo Sarana KA di Maros

ITEM POTENSI MASALAH


 Lahan yang digunakan untuk  Elevasi ketinggian tanah
perencanaan Depo sarana KA harus disesuaikan dengan
memiliki kebutuhan ± 30 Ha. trase jalan rel utama
 Lahan untuk perencanaan Depo
sarana KA yang berada di KM
18+100 dan lahan tersebut
Lahan masih berupa pematang sawah
 Lokasi lahan untuk
perencanaan Depo Sarana KA
berada di sisi Utara (sebelum
sungai) dan di sebelah kiri trase
jaln rel arah menuju ke Stasiun
Maros

 Tidak terdapat perumahan  Pada trase jalan rel melewati


penduduk yang terkena dampak perumahan penduduk,
Perumahan perencanaan Depo Sarana KA sekitar 6 blok rumah dan
Penduduk tanahnya harus dibebaskan

 Aksesbilitas/ jalan pada  Jalan Palantikan yang


perencanaan Depo Sarana KA menuju area perencanaan
di Maros mempunyai lebar jalan Depo Sarana KA dengan
10-12 m lebar jalan 6 m
Aksesibilitas  Jalan palantikan harus  Menghambat aksesbilitas
(Jalan) dikembangkan/ dilebarkan bagi warga dan pegawai
menjadi 10 m. yang akan menuju lokasi
Depo Sarana KA
 Kelas jalan harus
ditingkatkan menjadi kelas III
 Pada perencanaan Depo
Sarana KA harus disediakan
lahan khusus untuk sarana
Perencanaan IPAL, sehingga pembuangan
IPAL limbah tidak berdampak ke
sungai, dimana sungai tersebut
digunakan oleh warga sekitar
Sumber: Analisis Konsultan, 2017

3.2.2. Delineasi dan Penetapan Lokasi Kawasan Depo Sarana Kereta api di
Kecamatan Soreang, Kota Parepare

Menurut data sekunder sebagaimana dikutip dalam tajuk berita di media


massa, maka dapat dipahami bahwa akan terdapat dua Terminal besar yang
akan dibangun di kota Parepare, tepatnya direncanakan akan ditempatkan di

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 9


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

dekat Terminal Induk Lumpue dan di belakang Universitas


Muhammadiyah Parepare (Umpar) di daerah Lapadde, Kecamatan
Soreang. Dua Terminal yang dibangun di Parepare bersifat regional dan
lebih besar dibanding Terminal yang dibangun di Kabupaten Barru,
Pangkep dan Maros. Parepare merupakan stasiun terakhir dan
direncanakan Parepare juga akan menjadi Terminal regional yang dilengkapi
Depo, yakni tempat bermalam gerbong kereta. Pemerintah pusat, telah
menetapkan proyek ini direncanakan rampung tahun 2018. Sementara ini
proses pekerjaan jalur rel telah dimulai di Kabupaten Barru. Di daerah itu, rel
kereta sebagian melewati areal laut dan terowongan. Khususnya titik sekitar
Kupa ke arah Bojo.

Untuk Parepare, panjang jalur kereta yang perlu dibebaskan 11 kilometer


yang terbentang di enam kelurahan. Yakni :

a. Kelurahan Lumpue
b. Kelurahan Bumi Harapan
c. Kelurahan Lompoe
d. Kelurahan Lapadde
e. Kelurahan Bukir Indah dan
f. Kelurahan Bukit Harapan.

Rencananya, dari perbatasan Barru, proyek ini melewati Terminal Induk


Lumpue, sebagai stasiun pertama Parepare. Selanjutnya memotong Sungai
Karajae menuju daerah Minrulange.

Kemudian masuk Jalan Beringin, melewati kawasan belakang Rumah Sakit


Umum Andi Makkasau menuju daerah sebelah timur Perumahan Yasmin
Dua. Dari sana, jalur kereta selanjutnya memotong sungai Jawi-Jawi, masuk
daerah Panroko, tepatnya di samping SD Panroko. Kemudian masuk
Lapangan Tenis Kodim 1405 Mallusetasi, memotong Poros Parepare-
Sidrap, dan berakhir di belakang Umpar”. Konsultan akan mengawali untuk
mendeliniasi kawasan perencanaan.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 10


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 3.5. Peta Kecamatan Soreang, Kota Parepare

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 11


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 3.13. N

Sta. Soreang

Gambar 3.16. U
m
P
a
r

Detail-A

Lumpue

Gambar 3.6. Peta Rencana Depo Sarana Kereta, Terminal Lampue Dengan Area Di
Kawasan Universitas Muhammadiyah Parepare

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 12


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Ke Parepare Kota
Gambar 3.25. N
Sungai Karaje

Jalan Mattirotosi Radius


+/- 300m

Terminal
Lampue

Ke Kab. Barru
Gambar 3.7. Peta Detail-A, Di Kawasan Terminal Lampue

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 13


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Penetapan lokasi Depo di Lumpue, Kota Parepare, merupakan keputusan final yang
ditetapkan sebagai hasil rapat koordinasi Tim Konsultan dengan Tim Teknis dari Satker
Pembangunan Jalur Rel Kereta Api Trans Sulawesi yang dilaksanakan pada hari Senin,
tanggal 14 Agustus 2017, bertempat di Ruang Rapat Kantor Satker di Makassar. Rapat
ini merupakan pembahasan dan pengambilan keputusan untuk perubahan ke-2 dari
rencana lokasi kedua dari kegiatan Penyusunan DED Depo Sarana Kereta Api di Maros
dan Parepare, yaitu dengan keputusan kembali kepada lokasi semula sebagaimana
awalnya tercantum dalam KAK.. Hal ini dilakukan setelah sebelumnya adanya
perubahan pertama dimana lokasi yang awalnya sesuai KAK di Lumpue, Kota
Parepare, diminta dipindahkan ke lokasi di Palanro, yang masih termasuk dalam
wilayah administrasi Kabupaten Barru.

Berikut ringkasan pembahasan dan hasil kesepakatan yang dicapai dalam Rapat
Koordinasi pada tanggal 14 Agustus 2017 tersebut.

1. Pengantar dan Penjelasan dari Konsultan:


a. Mengkonfirmasi dan mengklarifikasi mengenai perubahan Depo Sarana KA yang
berada di Stasiun Palanro kembali ke lokasi asal di Stasiun Lumpui sesuai
informasi dan permintaan dari pihak Satker.
b. Konsultan mengajukan 2 alternatif desain rencana peletakan Depo Sarana KA
yang berada di Stasiun Lumpui, alternatif-1 masih menggunakan trase lama dan
alternatif-2 menggunakan trase baru dengan posisi Depo Sarana KA berada di
sisi Selatan Stasiun Lumpui
c. Tim konsultan akan membuat beberapa alternatif desain untuk rencana posisi
layout Stasiun dan Depo Sarana KA di Lumpui
2. Tanggapan dan Pengarahan Pihak Satker Makassar :

a. Setelah berkordinasi dan rapat dengan pihak Pusat, maka anggaran di tahun
2018 yang semula sampai dengan Stasiun Palanro maka diperpanjang sampai
dengan Stasiun Lumpui

b. Untuk rencana desain alternatif-1 tidak digunakan lagi, dikarenakan sudah ada
trase baru

c. Untuk alternatif-2 konsultan harus mempertimbangkan adanya bukit yang berada


dikawasan sekitar Stasiun Lumpui.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 14


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

d. Dalam perencanaan Depo Sarana KA di Stasiun Lumpui, pihak konsultan diminta


agar posisi Stasiun Lumpui bergeser di 132+750, sehingga setelah underpass
jalan menuju terminal tersebut sudah memasuki ujung emplasemen Stasiun
Lumpui

Berikut alternatif lokasi perletakan Depo Sarana KA di Lumpui yang telah dikaji dan
diajukan kepada Tim Teknis dari Satker Makassar dan telah disepakati bersama :

A. Depo Sarana KA di Lumpui alternatif 1

Rencana lokasi Depo Sarana KA di Lumpui untuk alternative-1 (Gambar 3.8)


mengikuti trase baru, dimana posisi rencana Stasiun Lumpui berada di KM
133+450 dengan panjang emplasemen sekitar 1 kilo meter. Sehingga rencana
penempatan untuk Depo Sarana KA berada di sisi selatan Stasiun Lumpui yang
berada di KM 132+850, luas sementara untuk perencanaan Depo Sarana KA di
Lumpui sekitar 2.7Ha. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi tersebut adalah:

 Dari seluruh luas rencana lokasi Depo Sarana KA, 70 persen area yang
digunakan masih terdapat area kosong atau lahan penduduk sehingga untuk
pembebasan lahan tidak mengalami kendala yang begitu besar.

 Sisi luas area Depo Sarana KA sekitar 30 persen, melintasi jalan lingkungan
sebagai akses warga dan sisi selatan jalan tersebut terdapat area bukit
dengan elevasi sekitar ± 45m, sehingga akan memangkas bukit tersebut.

 Akses jalan yang menuju ke Terminal Lumpui harus direncanakan underpass


sehingga tidak akan mengganggu lalu lintas kereta api maupun kendaraan
roda 4 dan roda 2.

B. Depo Sarana KA di Lumpui alternatif 2

Untuk desain penempatan Depo Sarana KA alternative-2 (Gambar 3.9)


mempertimbangkan antara lain:

 Poisisi Stasiun Lumpui beserta emplasemen (termasuk ujung wesel) akan


bergeser ke arah selatan sebelum akses jalan menuju Terminal Lumpui,
pertimbangan tersebut didasari oleh keamanan lalu lintas kereta api. Posisi
stasiun tersebut berada di KM 132+750 dengan panjang emplasemen 1 kilo
meter, serta posisi emplasemen stasiun agak melengkung dikarenakan
mengikuti trase yang ada.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 15


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

 Posisi rencana letak Depo Sarana KA berada di susu barat trase, dimana
posisi ujung Depo berada di bukit yang mempunyai ketinggian ± 36 m,
sehingga pada perencanaannya akan dilakukan cut and fill pada area
perbukitan dan posisi Depo Sarana KA ini sejajar dengan posisi trase jalur
utama

 Estimasi sementara, khusus untuk area hunian permukiman warga yang


terkena dampak dari perencanaan Depo Sarana KA ini adalah sekitar 60
persen dari luas area perencanaan Depo Sarana KA

C. Depo Sarana KA di Lumpui alternatif 3

Untuk desain penempatan Depo Sarana KA alternatif 3 (Gambar 3.10)


mempertimbangkan antara lain:

 Poisisi Stasiun Lumpui beserta emplasemen (termasuk ujung wesel) akan


bergeser ke arah selatan sebelum akses jalan menuju Terminal Lumpui,
pertimbangan tersebut didasari oleh keamanan lalu lintas kereta api. Posisi
stasiun tersebut berada di KM 132+750 dengan panjang emplasemen 1 kilo
meter, serta posisi emplasemen stasiun agak melengkung dikarenakan
mengikuti trase yang ada.

 Posisi rencana Depo Sarana KA berada di sisi timur trase, dimana pada area
lahan tersebut tanah paling tinggi sekitar ± 20 m, bila posisi Depo Sarana KA
berada di posisi ini barusnya sejajar dengan elevasi trase jalur utama.

 Estimasi sementara, khusus untuk area hunian permukiman warga yang


terkena dampak dari perencanaan Depo Sarana KA ini adalah sekitar 40- 60
persen dari luas area perencanaan Depo Sarana KA

Untuk rencana peletakan Depo arana KA di sisi utara atau setelah sungai
masih dipertmbangkan kembali dikarenakan pada sisi utara setelah sungai
terdapat beberapa bukit dengan elevasi paling tinggi sekitar ± 70 m dan paling
rendah sekitar ± 15 m.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 16


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 3.8. Peta Overlay Rencana Lokasi Pembangunan Depo Sarana dan Stasiun Kereta Api
Lumpue di Kota Pare-pare (Sisi Selatan Sungai)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 17


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 3.9. Peta Overlay Rencana Lokasi Pembangunan Depo Sarana dan Stasiun Kereta Api
Lumpue di Kota Pare-pare (Sisi Utara Sungai)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 18


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

A
B

Gambar 3.10. Peta Overlay dan kondisi eksisting Kawasan Perencanaan Depo Sarana KA Di Lumpui, Parepare

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 19


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Tabel 3.3. Studi Komparasi Potensi dan Masalah Alternatif Lokasi Depo Sarana KA di Lumpue, Pare-pare

NAMA LOKASI &


KONDISI POTENSI MASALAH
EKSISTING

LUMPUE SISI SELATAN SUNGAI LUMPUE SISI UTARA SUNGAI LUMPUE SISI SELATAN SUNGAI LUMPUE SISI UTARA SUNGAI

Kondisi tanah yang keras dan padat, sehingga Kondisi tanah yang keras dan padat, sehingga
Kondisi lahan terdapat area yang berbukit, apabila rencana lokasi Depo Sarana KA mengenai bukit, akan
tidak membutuhkan waktu apabila ada tidak membutuhkan waktu apabila ada
dilakukan sistem cut and fil dan disejajarkan dengan elevasi trase jalur rel
tambahan penimbunan tanah. tambahan penimbunan tanah.

KONDISI LAHAN
Ketinggian bukit bila dilihat dari google earth (google
Ketinggian bukit bila dilihat dari google earth
Kawasan rencana Depo Sarana KA berada di stasiun ujung (akhir) sebelum stasiun soreang, satelit), elevasi paling tinggi sekitar ± 70m dan paling
(google satelit), elevasi paling tinggi sekitar ± 70m
sehingga apabila trase jalur KA dikembangkan akan melingkupi stasiun berikutnya rendah sekitar ± 50m. Lokasi rencana Depo Sarana
dan paling rendah sekitar ± 15m
KA berada di elevasi ±70m

Pencapaian aksesbilitas pada kawasan Pencapaian aksesbilitas pada kawasan Lebar jalan Nurussamawati menuju area
JALAN Lebar jalan menuju area perencanaan sekitar 6m,
perencanaan sekitar ± 500m, dengan perencanaan sekitar ± 1.5 km dengan waktu perencanaan sekitar 6m, sehingga harus diperlebar
(AKSESBILITAS) sehingga harus diperlebar menjadi 10m mengingat
waktu tempuh 10 menit. tempuh sekitar ± 25 menit menjadi 10m mengingat jalan tersebut akan dilalui
jalan tersebut akan dilalui kendaraan berat
kendaraan berat
Akses jalan menuju ke lokasi perencanaan berdekatan dengan Jalan Provinsi

Estimasi sementara, khusus untuk area hunian


Estimasi sementara, khusus untuk area hunian
Disekitar rencana area lokassi kawasan Depo permukiman warga yang terkena dampak dari
permukiman warga yang terkena dampak dari
KONDISI LOKASI Merupakan area pemukiman Sarana KA Lumpue, terdapat kawasan perencanaan Depo Sarana KA ini adalah sekitar
perencanaan Depo Sarana KA ini adalah sekitar 30
permukiman warga 40- 60 persen dari luas area perencanaan Depo
persen dari luas area perencanaan Depo Sarana KA
Sarana KA

Kawasan sekitar rencana stasiun Lumpue


Kawasan rencana Depo Sarana KA Lumpue
dan kawasan rencana Depo Sarana KA Akses Jalan menuju rencana lokasi perencanaan Depo Sarana KA menyatu dengan jalan lingkungan warga,
PENCAPAIAN berdekatan dengan Lapangan olahraga, sehingga
berdekatan dengan Terminal Lumpue, sehingga akan di rencanakan jalan pemisah antar kedua jalan tersebut
berpotensi untuk area pengembangan lapangan
sehingga kedepan bisa dijadikan TOD

Pada perencanaan Depo Sarana KA harus disediakan lahan khusus untuk sarana IPAL,
SARANA IPAL sehingga pembuangan limbah tidak berdampak ke sungai, dimana sungai tersebut digunakan
oleh warga sekitar

Sumber: Analisis Konsultan, 2017

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN DRAFT FINAL III - 20