Anda di halaman 1dari 17

Netralisasi pada pengolahan limbah cair

Sebagian besar limbah cair dari industri mengandung bahan bahan yang bersifat asam (Acidic)
ataupun Basa (alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang kebadan air maupun sebelum
limbah masuk pada proses pengolahan, baik pengolahan secara biologic maupun secara kimiawi,
proses netralisasi tersebut bisa dilakukan sebelum atau sesudah proses equalisasi.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan microorganisme pada pengolahan secara biologi, pH perlu


dijaga pada kondisi antara pH 6,5 – 8,5, karena sebagian besar microb aktif atau hidup pada
kondisi pH tersebut. Proses koagulasi dan flokulasi juga akan lebih efisien dan efektif jika
dilakukan pada kondisi pH netral.

Netralisasi adalah penambahan Basa (alkali) pada limbah yang bersifat asam (pH 7).Pemilihan
bahan/reagen untuk proses netralisasi banyak ditentukan oleh harga/biaya dan praktis-nya, Bahan
(reagen) yang biasa digunakan tersebut adalah :
Asam : -Sulfuric acid ( H2SO4 )
-Hydrochloric acid ( HCI )
-Carbon dioxide ( CCG2 )
-Sulfur dioxide
-Nitric acid
Basa : -Caustic soda (NaOH) Ammonia
-Soda Ash (Na2CO3) Limestone (CaCO3)

Pengertian Netralisasi
Netralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton (atau ion hidronium) dan ion
hidroksida membentuk air. Konsep paling mendasar dan praktis dalam kimia asam basa tidak
diragukan lagi adalah netralisasi. Fakta bahwa asam dan basa dapat saling meniadakan satu sama
lain telah dikenal baik sebagai sifat dasar asam basa sebelum perkembangan kimia modern.
Netralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton (atau ion hidronium) dan ion
hidroksida membentuk air.
H+ + OH-–> H2O
H3O+ + OH-–> 2H2O
Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida).
menyatakan asam dan basa, n valensi, M konsentrasi molar asam atau basa, dan V volume asam
atau basa. Dengan bantuan persamaan di atas, mungkin untuk menentukan konsentrasi basa (atau
asam) yang konsentrasinya belum diketahui dengan netralisasi larutan asam (atau basa) yang
konsentrasinya telah diketahui. Prosedur ini disebut dengan titrasi netralisasi.
B. Contoh reaksi:
a. HCl + NaOH -> NaCl + H2O (Asam klorida direaksikan dengan Natrium hidroksida akan
menghasilkan Natrium Klorida (garam) dan air.
b. H+ + OH-–> H2O
Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida).
c. CH3COOH + C2H5OH CH3CH2COOCH3 +H2O
d. C6 H12O6 2C2H5OH + 2CO2
e. RCOOR+NaOH = RCOONa+ROH
f. K+ + Cl- = KCl

C. Industri yang menggunakan netralisasi.


1. Industri garam
Setiap asam atau h = garam memiliki ion lawannya, dan reaksi asam basa melibatkan ion-ion ini.
Dalam reaksi netralisasi khas seperti antara HCl dan NaOH,
HCl + NaOH –> NaCl + H2O
asam basa garam air
Selain air, terbentuk NaCl dari ion khlorida, ion lawan dari proton, dan ion natrium, ion lawan
basa. Zat yang terbentuk dalam netralisasi semacam ini disebut dengan garam. Asalkan reaksi
netralisasinya berlangsung dalam air, baik ion natrium dan ion khlorida berada secara
independen sebagai ion, bukan sebagai garam NaCl. Bila air diuapkan, natrium khlorida akan
tinggal. Kita cenderung percaya bahwa garam bersifat netral karena garam terbentuk dalam
netralisasi. Memang NaCl bersifat netral.
2 Proses Netralisasi minyak
Proses netralisasi atau deasidifikasi pada pemurnian minyak mentah bertujuan untuk
menghilangkan asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak mentah. Asam lemak bebas
(FFA) dapat menimbulkan bau yang tengik.
Proses netralisasi yang paling sering digunakan dalam industri kimia adalah proses netralisasi
dengan soda kostik, dengan prinsip reaksi penyabunan antara asam lemak bebas dengan larutan
soda kostik, yang reaksi penyabunannya sebagai berikut :
R----COOH + NaOH R-COONa + H2O
Kondisi reaksi yang optimum pada tekanan atmosfir adalah pada suhu 70 oC, dimana reaksinya
merupakan reaksi kesetimbangan yang akan bergeser ke sebelah kanan.
Soda kostik yang direaksikan biasanya berlebihan, sekitar 5 % dari kebutuhan stokiometris.
Sabun yang terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan. Soda kostik disamping berfungsi
sebagai penetralisir asam lemak bebas, juga memiliki sifat penghilang warna (decoulorization).
3. Industri NaBr
NaBr adalah sejenis garam yang berfungsi sebagai pelarut, membuat pasta gigi, dan penenang
saraf.
NaOH + HBr NaBr
4. Industri sabun
Reaksi saponifikasi pada sabun adalah contoh reaksi netralisasi.
RCOOR+NaOH = RCOONa+ROH
5. Industri KCl
KCl berfungsi sebagai pembuat pupuk.
K+ + Cl- = KCl
D. K3 netralisasi:
1. Gunakan APD dengan baik.
2. Sediakan APAR di sekitar area proses netralisasi.
3. adanya pemeriksaan instilasi alat.
4. adanya pemeriksaan instilasi listrik.

Reaksi Netralisasi
Kata Kunci: asam basa, reaksi netralisasi
Ditulis oleh Zulfikar pada 19-05-2010

Reaksi netralisasi merupakan reaksi penetralan asam oleh basa dan menghasilkan air. Hasil air
merupakan produk dari reaksi antara ion H+ pembawa sifat asam dengan ion hidroksida (OH-)
pembawa sifat basa,

reaksi : H+ + OH- → H2O

Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O

Reaksi ion : H+ Cl- + Na+ OH- → Na+ Cl- + H+ OH-

Reaksi netralisasi yang lain ditunjukan oleh reaksi antara asam sulfat H2SO4 dengan calcium
hidroksida Ca(OH)2, seperti dibawah ini :

Reaksi : H2SO4 + Ca(OH)2 → CaSO4 + 2 H2O

2 H+ SO42- + Ca2+ 2 OH- → Ca2+ SO42- + 2H+ 2 OH-

PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA KIMIA


Pengolahan air limbah secara KIMIA merupakan pengolahan air limbah dengan penambahan
bahan kimia (padat, cair, dan gas) kedalam air limbah. Beberapa proses pengolahan air limbah
secara kimia seperti Netralisasi, Koagulasi/flokulasi, dan gas transfer, setiap proses
mempunyai tujuan tertentu.

a. Proses Netralisasi
Proses netralisasi bertujuan untuk melakukan perubahan derajat keasaman (pH) air
limbah. Proses ini dilakukan pada awal proses (pengkondisian) air limbah sebelum dilakukan
proses lanjutan atau pada akhir proses sebelum air limbah dibuang kelingkungan dalam rangka
memenuhi standar baku mutu air limbah yaitu pH 6-9.

Beberapa air limbah memiliki derajat keasaman (pH) asam dan basa, dalam proses
netralisasi diharapkan pH air limbah menjadi netral atau berkisar 6-9. Berbagai reaksi yang
terjadi pada proses netralisasi :

YOH + HX → XY + H2O

Y dan X mewakili monovalen kation dan anion, XY merupakan garam yang terbentuk, sebagai
contoh reaksi netralisasi yaitu natrium hidroksida dengan asam clorida seperti berikut.

HCl + NaOH → NaCl + H2O

Dimana Na merupakan Y dan Cl merupakan X, pada reaksi tersebut akan dihasilkan garam
yaitu NaCl. Berbagai reaksi netralisasi seperti berikut :

HCl + NaOH → NaCl + H2O


2 HCl + Mg → MgCl2 + H2

H2SO4 + NaOH → Na2SO4 + H2O

Reaksi yang terjadi pada netralisasi ada yang bersifat eksotermis (the enthalpy of
neutralization) seperti reaksi antara natrium hidroksida dengan asam clorida, dan bersifat
endotermis yaitu natrium karbonat dengan asam asetat.

Pada air limbah yang bersifat asam, dibutuhkan basa untuk netralisasi dan
sebaliknya. Pada netralisasi air limbah dapat pula terbentuk padatan sehingga dibutuhkan
proses pemisahan padatan.

b. Proses Koagulasi-Flokulasi

Koagulasi dan flokulasi merupakan proses pengolahan air dan air limbah secara
kimia yaitu dengan penambahan bahan kimia kedalam air limbah. Air limbah pada umumnya
mengandung padatan tersuspensi, partikel koloid (berukuran < 1 mikron), bahan terlarut
(berukuran < nanometer). Padatan-padatan dalam air pada umumnya bermuatan negatif dan
padatan-padatan tersebut sangat sulit dipisahkan secara fisik (sedimentasi dan filtrasi dengan
media padat) dan dapat dilakukan secara kimia melalui proses koagulasi-flokulasi
Koagulasi merupakan proses destabilisasi partikel, sedangakan flokulasi merupakan
proses penggabungan partikel yang telah mengalami proses destabilisasi, mekanisme
destabilisasi partikel seperti terlihat dalam gambar berikut. Proses destabilisasi partikel
dilakukan dengan penambahan bahan kimia yang bermuatan positif yang dapat menyelimuti
permukaan partikel sehingga partikel tersebut dapat berikatan dengan partikel lainnya. Partikel
yang telah berikatan akan mudah untuk dipisahkan secara fisik (sedimentasi, flotasi, dan
filtrasi). Proses flokulasi dibutuhkan untuk penggabungan partikel dengan mennggunakan
bahan kimia sehingga mempercepat waktu pengendapan partikel (flok).

Pada proses koagulasi (destabilisasi) dibutuhkan bahan kimia yang mampu merubah
muatan partikel, perubahan muatan partikel dapat dilakukan dengan berbagai bahan kimia
tetapi bahan kimia yang bervalensi 3 (trivalent) sepuluh kali lebih efektif dibanding dengan
bervalensi 2 (divalent). Bahan kimia yang sering dipergunakan dalam proses koagulasi seperti
tercantum dalam tabel berikut.

Koagulan Formula Berat molekul

Aluminium sulphate Al2(SO4)3 .18 H2O 666,7

Ferrous sulphate Fe (SO4). 7 H2O 278,0

Lime Ca(OH)2 56 sebagai CaO

Ferric chloride FeCl3 162,1

Ferric sulphate Fe2(SO4)3 400

Berbagai reaksi yang terjadi pada penambahan koagulan kedalam air atau air limbah seperti
reaksi-reaksi berikut

ALUMINIUM SULPHATE

Al2(SO4)3 + 3 Ca(HCO3)2 → 2 Al(OH)3 + 3CaSO4 + 6 CO2

Aluminum + Calcium Aluminum + Calcium + Carbon

Sulfate Bicarbonate Hydroxide Sulfate Dioxide

(ada dalam air

yang diolah)

FERRIC SULFATE

Fe2(SO4)3 + 3 Ca(HCO3)2 → 2 Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6 CO2


Ferric + Calcium Ferric + Calcium + Carbon

Sulfate Bicarbonate Hydroxide Sulfate Dioxide

FERRIC CHLORIDE

2 Fe Cl3 + 3 Ca(HCO3)2 → 2 Fe(OH)3 + 3CaCl2 + 6CO2

Ferric + Calcium Ferric + Calcium + Carbon

Chloride Bicarbonate Hydroxide Chloride Dioxide

FERROUS SULFATE

FeS04 + Ca(HCO3)2 → Fe(OH)2 + CaS04 + 2CO2

Ferrous + Calcium Ferrous + Calcium + Carbon

Sulfate Bicarbonate Hydroxide Sulfate Dioxide

SODIUM ALUMINATE

2 Na2Al2O4 + Ca(HCO3)2 → 8 Al(OH)3 + 3 Na2CO3 + 6 H20

Sodium + Calcium Aluminum + Sodium + Water

Aluminate Carbonate Hydroxide Carbonate

Na2Al2O4 + CO2 → 2 Al(OH)3 + NaCO3

Sodium + Carbon Aluminum + Sodium

Aluminate Dioxide Hydroxide Carbonate

Na2Al2O4 + MgCO3 → MgAl2O4 + Na2CO3


Sodium + Magnesium Magnesium + Sodium

Aluminate Carbonate Aluminate Carbonat

Berbagai parameter perancangan sedimentasi untuk koagulasi berdasarkan jenis


koagulan yang dipergunakan seperti tercantum dalam tabel berikut
Tabel .Perancangan sedimentasi berdasarkan jenis koagulan

Jenis Koagulan Laju alir limpahan Waktu tinggal


(gallon/hari-ft2) (jam)
Aluminium 500 - 800 2–8
Besi 700 - 1000 2–8
Kapur-Soda 700 - 1500 4–8

Flokulasi merupakan suatu peristiwa penggabungan partikel-partikel yang telah


mengalami proses destabilisasi (koagulasi) dengan penambahan bahan kimia (flokulan)
sehingga terbentuk partikel dengan ukuran lebih besar (macrofloc) yang mudah untuk
diendapkan. Mekanisme flokulasi seperti terlihat dalam gambar 4.4. berikut

Beberapa jenis bahan kimia yang berfungsi sebagai flokulan seperti tercantum
dalam tabel berikut.

Tabel .Jenis flokulan


Sumber flokulan Jenis flokulan
Flokulan Mineral Silika aktif
Tanah liat (koloid) : bentonit
Logam hidroksida (aluminium dan ferri hidroksida)
Flokulan organik Turunan pati (pati singkong, dan kentang)
Polisakarida
Kitosan
Gelatin dan alginat
Flokulan sintetis Polyethylene-imines (cationic)
Polyamides-amines (cationic)
Polyamines (cationic)
Polyethylene-oxide (nonionic)
Komponen karboksil dan sulfonate (anionic)
Polyacrylamide (nonionic)

Flokulan sintetis merupakan flokulan yang diproduksi dengan berbagai


kebutuhan sehingga flokulan ini diproduksi bermuatan negatif (anionic), bermuatan
positif (cationic) dan netral (nonionic), flokulan bermuatan negatif dapat bereaksi
dengan partikel bermuatan negatif seperti garam-garam dan logam-logam hidroksida,
sedangkan flokulan yang bermuatan positif akan bereaksi dengan partikel bermuatan
negatif seperti silika maupun bahan-bahan organik, tetapi hukum itu tidak berlaku
secara umum karena flokulan negatif dapat mengikat tanah liat yang bermuatan
negatif.

Dalam proses koagulasi-flokulasi beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Konsentrasi padatan yang terkandung dalam air limbah. Konsentrasi padatan


atau zat terlarut dalam air limbah akan mempengaruhi kebutuhan konsentrasi
koagulan yang dibutuhkan dalam pengolahan air limbah, pada umumnya jika
konsentrasi padatan atau zat terlarutnya tinggi akan dibutuhkan konsentrasi
koagulan yang lebih kecil (diperlukan penelitian pendahuluan)
2. Jenis koagulan yang dipergunakan. Jenis koagulan yang akan diaplikasikan
tergantung pada karakteristik air limbahnya, hal ini disebabkan karena jenis
koagulan tertentu akan bekerja baik pada derajat keasaman (pH) air limbah
tertentu.
3. Kecepatan putaran pengaduk (jika menggunakan tangki berpengaduk).
Kecepatan putaran pengaduk pada pengolahan dengan tangki berpengaduk
berpengaruh terhadap ukuran flok yang terbentuk, kecepatan putaran pengaduk
dapat memecah flok yang sudah terbentuk. Untuk proses koagulasi kecepatan
putaran pengaduk sekitar 100 rpm, sedangkan pada proses flokulasi lebih
lambat sekitar 50 rpm.
4. Kecepatan aliran air limbah masuk dalam tangki (jika kecepatan aliran
dimanfaatkan untuk pengadukan)
5. Waktu pengadukan (waktu tinggal). Waktu pengadukan berkaitan dengan
mekanisme pembentukan flok, semakin lama waktu pengadukan pembentukan
floknya akan semakin sempurna dan mudah untuk diendapkan, tetapi jika terlalu
lama terkadang flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali.
6. Jenis padatan (flok) yang dihasilkan. Jenis flok yang terbentuk tergantung pada
jenis air limbah dan koagulan yang dipergunakan, pada pemakain jenis koagulan
tertentu akan menghasilkan flok tertentu, kekuatan flok tertentu dan berat jenis
flok tertentu. Dalam proses pengolahan air limbah secara kimia yang diharapkan
adalah terbentuk flok yang kuat dan mudah untuk diendapkan dan pengendapan
membutuhkan waktu yang relatif cepat.
7. Pengelolaan flok yang dihasilkan. Pada proses pengolahan air limbah secara
kimia dihasilkan padatan (flok), flok yang dihasilkan perlu dilakukan pengelolaan
sehingga tidak menghasilkan limbah padat meskipun jumlahnya tidak banyak.
Dalam pengelolaan flok yang perlu diperhatikan adalah apakah flok dapat dioleh
kembali menjadi bahan kimia baru, produk baru dan sebagainya.

OPTIMASI PROSES KOAGULASI DAN FLOKULASI


Keberhasilan proses koagulasi dan flokulasi dalam pengolahan air limbah dipengaruhi
oleh berbagai faktor diantaranya :

1. Konsentrasi koagulan
2. Kecepatan Putaran Pengadukan
3. Waktu Pengadukan

Dalam optimasi proses diarahkan kepada perancangan peralatan tangki berpengaduk


yang efisien. Untuk optimasi proses dipergunakan persamaan Camp, yang dikenal
dengan bilangan Camp yaitu menghubungkan GRADIEN KECEPATAN dengan Waktu
Pengadukan :

Bilangan Camp (Ca) = Gradien Kecepatan x waktu pengadukan.

Gradien kecepatan (G) merupakan fungsi dari Daya yang dibutuhkan (P), Viskositas air
limbah (Mu) dan Volume air limbah (V).

G = {P/(Mu x V)}^0,5 tanda (^) ini berarti pangkat

Daya (P) merupakan fungsi dari kecepatan putaran pengaduk (rev), luas penampang
pengaduk (A), densitas air limbah (rho), dan drag coefisien (CD). dan Persamaannya
seperti berikut.

P = (CD x A x rho x Rev^3 )/2

CD : drag coefisien yang merupakan fungsi dari bilangan Reynold (NRe) (lihat
literatur)
NRe = (Rev x dp x rho)/(Mu), dengan dp : diameter pengaduk.

Langkah pengerjaan :

1. Cari sifat fisik air limbah yaitu viskositas (Mu), densitas air limbah (rho)
2. Tentukan diameter pengaduk yang dipergunakan (dp) dan kecepatan putaran
pengaduk (rev)
3. Dengan mengetahui harga viskositas (Mu), densitas (rho), diameter pengaduk
(dp) dan kecepatan putaran pengaduk (rev), nilai bilangan Reynold (NRe) dapat
dihitung.
4. Dengan mengetahui bilangan Reynold (NRe) dan mempergunakan grafik (lihat
literatur), dapat dihitung besarnya drag koefisien (CD)
5. Dengan mengetahui nilai CD, rho dan rev, serta luas pengaduk, maka dapat
menghitung besarnya Daya (P)
6. Dengan mengetahui nilai Daya (P), Volume air limbah (V) dan viskositas (Mu)
maka dapat menghitung nilai Gradien kecepatan (G)
7. Dengan mengetahui nilai Gradien kecepatan (G), dan waktu pengadukan (t),
maka besarnya bilangan Camp (Ca) dapat dihitung.

Bilangan Camp inilah yang sering diperguanakn sebagai landasan dalam optimasi
proses koagulasi dan flokulasi. Bilangan Camp terbaik untuk proses koagulasi dan
flokulasi adalah 10.000 - 100.000 (bilangan tak berdimensi).

KINERJA PROSES PENGOLAHAN AIR LIMBAH


SECARA KIMIA (KOAGULASI & FLOKULASI)

 Penurunan padatan tersuspensi : 85 - 95 %


 Penurunan COD : 50 - 70 %
 Penurunan BOD : 50 - 70 %

c. Gas Transfer (injeksi gas kedalam air limbah)


Pada pengolahan air limbah, peristiwa gas transfer (injeksi gas kedalam air limbah)
sering terjadi seperti :

1. Injeksi gas chlor kedalam pengolahan air bertujuan untuk membunuh bakteri
2. Injeksi gas ozon kedalam pengolahan air limbah bertujuan untuk proses oksidasi
3. Injeksi udara kedalam pengolahan air limbah bertujuan untuk proses oksidasi,
menjaga agar air limbah tidak berbau, menjaga kehidupan mikroorganisme
(proses pengolahan air limbah secara biologi)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam injeksi gas/udara kedalam air limbah :

1. Kelarutan gas/udara tersebut didalam air limbah. Kelarutan gas/udara didalam


air limbah sangat penting untuk diketehui, ini berkaitan dengan perhitungan
berapa laju alir gas/udara yang diinjeksikan kedalam air limbah. Penentuan
kelarutan gas/udara sangat tergantung kepada Tekanan dan Temperatur.
2. Distribusi gas/udara didalam air limbah. Pendistribusian gas/udara didalam air
limbah bertujuan agar distribusi gas/udara merata pada setiap bagian air limbah,
sehingga perlu pengaturan pemasangan distributor gas/udara yang baik.
3. Tekanan cairan (terkait dengan tinggi cairan diatas distributor gas/udara).
Pemasangan distributor gas/udara pada bagian bawah air limbah akan
mendapatkan tekanan hidrostatik dari air limbah tersebut, sehingga ketinggian
air limbah diatas distributor perlu diperhatikan agar gas/udara dapat terdistribusi
didalam air limbah dengan baik.
4. Ukuran gelembung gas/udara dalam air limbah. Ukuran gelembung gas/udara
mempengaruhi proses kelarutan gas/udara, semakin kecil ukuran gelembung
gas/udara semakin baik proses kelarutannya.

NETRALISASI MINYAK

Netralisasi ialah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak,
dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga
membentuk sabun (soap stock). Pemisahan asam lemak bebas dapat juga dilakukan dengan cara
penyulingan yang dikenal dengan istilah de-asidifikasi. Tujuan proses netralisasi adalah untuk
menghilangkan asam lemak bebas (FFA) yang dapat menyebabkan bau tengik.
PROSES NETRALISASI MINYAK

Pemurnian (refining) minyak meliputi tahapan netralisasi, pemucatan (bleaching) dan


penghilangan bau (deodorisasi). Netralisasi dilakukan untuk mengurangi FFA untuk
meningkatkan rasa dan penampakan minyak. Asam lemak bebas merupakan pengotor
dalam minyak yang harus dihilangkan karena mempunyai stabilitas terhadap oksidasi
yang lebih rendah dibandingkan trigliserida sehingga keberadaannya meningkatkan
kerentanan minyak terhadap oksidasi ( mudah teroksidasi ). Netralisasi dilakukan
dengan mereaksikan NaOH dengan FFA sehingga membentuk endapan minyak tak
larut yang dikenal sabun (soapstock). Jumlah NaOh yang ditambahkan berkisar 0,1%
atau sekitar 1,5 kg NaOH per ton minyak per 1% FFA. Untuk menghilangkan pengotor
berupa gum di dalam minyak digunakan H3PO4 selanjutnya dipisahkan melalui cara
pengendapan (decantion) atau dengan sentrifugasi. — pdf teknologi minyak kelapa

Pada pemurnian ini jumlah dan konsentrasi alkali yang digunakan harus tepat. Jika
jumlahnya berlebihan, kelebihan alkali akan menyebabkan reaksi hidrolisis trigliserida
dan membentuk sabun yang berlebihan sehingga dapat menurunkan jumlah atau
rendemen minyak hasil pemurnian. Sebaliknya jika jumlah dankonsentrasi alkali kurang,
reaksi penyabunan tidak sempurna dan masih banyak asam lemak bebas yang
tertinggal dalam minyak.

Tahap pemurnian minyak meliputi tahap pencampuran minyak meliputi tahap


pencampuran minyak dengan larutan alkali, hidrasi, dan pemisahan. Pada tahap
pencampuran, minyak dengan larutan alkali dicampur dan diaduk selama waktu
tertentu. Setelah alkali dan asam lemak bebas bereaksi dilakukan hidrasi untuk
memudahkan pemisahan fraksi tersabunkan dan fraksi tidak tersabunkan, kemudian
kedua fraksi tersebut dipisahkan. Setelah proses hidrasi selesai, tahap selanjutnya
adalah pemisahan fraksi tersabunkan dan fraksi tidak tersabunkan atau minyak. Teknik
pemisahan yang dapat dilakukan adalah dengan cara dekantasi atau sentrifugasi. (
Estiasih, 2009 )

Netralisasi juga menghasilkan penghilangan fosfat, asam lemak bebas, dan warna.
Penghilangan sisa sabun dan embun dihitung dalam tahap pencucian dan pengeringan.
Berikut ini adalah gambar
proses netralisasi minyak
:
Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut :

R-COOH + NaOH RCOONa + H2O

sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran seperti
fosfolida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi yang
terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi. Netralisasi
menggunakan kaustik soda dapat menghilangkan fosfatida, protein, resin dan suspensi
dalam minyak yang tidak dapat dihilangkan dengan proses pemisahan gum. Komponen
minor dalam minyak berupa sterol, klorofil, vitamin E dan karotenoid hanya sebagian
kecil dapat dikurangi dalam proses netralisasi. Netrasi juga akan menyabunkan
sejumlah kecil minyak netral (trigleserida, monogleserida, digliserida dan trigliserida).

Jumlah larutan soda kaustik yang ditambahkan pada minyak pada proses pemurnian
biasa dinyatakan sebagai treat. Nilai treat didasarkan pada jumlah NaOH dengan
konsentrasi tertentuyang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak termasuk
kelebihan ( excess ) yang diperlukan. Treat biasanya dinyatakan sebagai persen
dengan perhitungan sebagai berikut :

Keterangan :

Treat = Persentase (b/b) larutan NaOH yang dibutuhkan untuk pemurnian


minyak ikan dengan bobot tertentu

0,142 = bobot molekul NaOH dan asam oleat

ALB = kadar asam lemak bebas dinyatakan dalam persen

Kelebihan = kelebihan larutan NaOH


Derajat Baume menunjukkan ( strength ) larutan NaOH berdasrkan bobot jenisnya.
Pemurnian biasanya dilakukan pada 10-30°Be. Minyak dengan mutu baik biasanya
dimurnikan dengan 12, 14, atau 16°Be.

Efisiensi netralisasi dinyatakan dalam refining factor, yaitu perbandingan antara


kehilangan total karena netralisasi dan jumlah asam lemak bebas dalam lemak kasar.

Makin kecil nilai refining factor, maka semakin tinggi pula nilai efisiensi netralisasinya.

Selain cara yang telah disebutkan diatas, masih terdapat metode-metode lain yang bias
digunakan dalam proses netralisasi minyak, antara lain :

1. Netralisasi dengan Natrium Karbonat (Na2CO3)

Keuntungan menggunakan persenyawaan karbonat adalah karena trigliserida


tidak ikut tersabunkan, sehingga nilai refining factor dapat diperkecil. Suatu
kelemahan dari pemakaian senyawa ini adalah karena sabun yng terbentuk
sukar dipisahkan. Hal ini disebabkan karena gas CO2 yang dibebaskan dari
karbonat akan menimbulkan busa dalam minyak. Namun, kelemahan ini dapat
diatasi karena gas CO2 yang dihasilkan dapat dihilangkan dengan cara
mengalirkan uap panas atau dengan menurunkan tekanan udara di atas
permukaan minyak dengan menggunakan pompa vakum.

2. Netralisasi minyak dalam bentuk ―miscella‖

Cara ini digunakan pada minyak yang diekstrak dengan menggunakan pelarut
menguap ( solvent extraction ). Hasil yang diperoleh merupakan campuran
antara pelarut dan minyak yang disebut dengan miscella. Asam lemak bebas
dalam micelle dapat dinetralkan dengan menggunakan kaustik soda atau natrium
karbonat. Sedangkan sabun yang terbentuk dapat dipisahkan dengan cara
menambahkan garam dan minyak netral dapat dipisahkan dari pelarut dengan
cara penguapan.

3. Netralisasi dengan Etanol Amin dan Amonia

Etanol Amin dan Amonia dapat digunakan untuk netralisasi asam lemak bebas.
Pada proses ini, asam lemak bebas dapat dinetralkan tanpa menyabunkan
trigliserida, sedangkan ammonia yang digunakan dapat diperoleh kembali dari
soap stock dengan cara penyulingan dalam ruangan vakum

4. Pemisahan Asam (de-acidification) dengan Cara Penyulingan

Proses pemisahan asam dengan cara penyulingan adalah proses penguapan


asam lemak bebas, langsung dari minyak tanpa mereaksikannya dengan larutan
basa, sehingga asam lemak yang terpisah tetap utuh. Minyak kasar yang akan
disuling terlebih dahulu dipanaskan dalam alat penukar kalor (heat exchanger).

Untuk menghindari kerusakan minyak selama proses penyulingan karena suhu


yang terlalu tinggi, maka asam lemak bebas yang tertinggal dalam minyak
dengan kadar lebih rendah dari 1% harus dinetralkan dengan menggunakan
persenyawaan basa. Minyak kasar dengan kadar asam lemak bebas yang tinggi
umumnya mengandung fraksi mono dan digliserida yang terbentuk dari hasil
hidrolisa sebagian molekul trigliserida.

Pada umumnya, kadar asam lemak bebas dalam minyak setelah penyulingan
sekitar 0,1-0,2% , sedangkan hasil kondensasi masih mengandung sekitar 5%
trigliserida. Jadi, penggunaan uap pada proses penyulingan akan membawa
sejumlah kecil fraksi trigliserida.

Pemisahan asam lemak bebas dengan cara penyulingan digunakan untuk


menetralkan minyak kasar yang mengandung kadar asam lemak bebas relative
tinggi, sedangkan minyak kasar yang mengandung asam lemak bebas lebih keil
dari 8% lebih baik dinetralkan dengan penggunaan senyawa basa.

5. Pemisahan asam dengan menggunakan Pelarut Organik

Perbedaan kelarutan antara asam lemak bebas dan trigliserida dalam pelarut organic
digunakan sebagi dasar pemisahan asam lemak bebas dari minyak. Pelarut yang paling
baik digunakan utuk memisahan asalm lemak bebas adalah furfual dan propane.
Piridine merupakan pelarut minyak dan jika ditambahkan air dalam jumlah kecil, maka
trigliserida akan terpisah. Trigliserida tidak larut dalam pyridine, sedangkan asam lemak
bebas tetap larut sempurna. Minyak dapat dipisahkan dari pelarut dengan cara
dekantasi sedangkan pelarut dipisahkan dari asam lemak bebas dengan cara
penyulingan. Dengan menggunakan alcohol sebagai pelarut, maka kelarutan trigliserida
dalam alcohol akan bertambah besar seiring dengan bertambahnya kadar asam lemak
bebas, sehingga pemisahan antara asam lemak bebas dari trigliserida lebih sukar
dilakukan.