Anda di halaman 1dari 9

Salah satu Vaksin yang Disarankan oleh Penyakit

Vaksin tersedia yang bisa membantu mencegah batuk rejan, juga dikenal sebagai pertusis. Batuk rejan
adalah penyakit pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Dua jenis vaksin yang
digunakan saat ini membantu melindungi dari batuk rejan, yang keduanya juga melindungi terhadap
penyakit lain:

Difteri, tetanus, dan pertusis (DTaP)

Tetanus, difteri, dan pertusis (Tdap)

Bayi dan anak di bawah umur 7 tahun menerima DTaP,

sementara anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua menerima Tdap.

CDC merekomendasikan vaksinasi batuk rejan untuk semua bayi dan anak-anak, pra-remaja dan remaja,
dan wanita hamil. Orang dewasa yang belum pernah menerima dosis Tdap juga harus mendapatkan
vaksinasi terhadap pertusis. Bicarakan dengan profesional kesehatan Anda atau anak Anda jika Anda
memiliki pertanyaan tentang vaksin batuk rejan.
Etiologi

Difteria adalah suatu penyakit yang disebaban oleh bakteri Corynebacterium


diphtheriae. Bakteri ini merupakan bakteri batang gram positif tidak membentuk spora.
Pada kedua ujungnya bakteri ini memiliki granula metakromatik yang memberi
gambaran club shape pada pewarnaan gram. Bakteri ini dapat diisolasi di dalam loeffler
medium dan inokulasi pada blood tellurite agar menunjukkan koloni berwarna hitam. C.
diphtheriae memiliki 4 biotipe yaitu gravis, mitis, intermedius, dan belfanti.
Biotipe mitis adalah yang paling sering menimbulkan penyakit diantara biotipe lainnya.

Patofisiologi

Penyakit disebabkan oleh toxin diphtheria yang merupakan faktor virulensi dari C.
diphtheriae. Toxin ini dikode oleh gen tox yang dibawa oleh suatu bakteriofaga lisogenik
yaitu Beta-faga. Hanya galur C. diphtheriae yang memiliki gen tox ini lah yang dapat
menimbulkan penyakit. Galur lain yang tidak memiliki gen ini tidak bersifat patogenik,
akan tetapi galur ini dapat berubah menjadi patogenik bila ditransduksi oleh
bakteriofaga lisogenik beta-faga. Spesies bakteri coryneform lain yang dapat
menghasilkan toxin ini adalah Corynebacterium ulcerans yang juga dapat menimbulkan
manifestasi klinis difteri.

Toxin diphtheria memiliki 2 subunit dan 3 regio. Subunit A memiliki regio katalitik,
sedangkan subunit B memiliki regio pengikat reseptor (receptor-binding region), dan
regio translokasi (translocation region). Reseptor untuk toxin ini adalah heparin-binding
epidermal growth factor yang terdapat pada permukaan banyak sel eukariotik, termasuk
sel jantung dan sel saraf. Hal ini yang mendasari terjadinya komplikasi kardiologis dan
neurologis dari difteri. Begitu toxin difteri berlekatan dengan sel host melalui ikatan
antara heparin-binding epidermal growth factor dan receptor binding region subunit B,
regio translokasi disisipkan ke dalam membrane endosome yang kemudian
memungkinkan pergerakan region katalitik subunit A ke dalam sitosol. Kemudian
subunit A bekerja dengan cara menghentikan sintesis protein sel host. Subunit A
memiliki aktivitas enzimatik yang mampu memecah Nikotinamida dari Nicotinamide
Adenine Dinucleotide (NAD) dan kemudian mentransfer sisa ADP-ribosa dari hasil
pemecahan tadi menuju Elongation Factor-2 (EF-2). EF-2 yang ter-ADP ribosilasi ini
kemudian menjadi inaktif. EF-2 merupakan faktor yang penting dalam translasi protein,
sehingga sintesis protein seluler menjadi terganggu. Proses ini kemudian menyebabkan
nekrosis sel disertai dengan inflamasi dan eksudat fibrin yang memberikan
gambaran pseudomembrane. Bentukan pseudomembrane ini dapat menghambat jalan
napas, sehingga kematian akibat difteri timbul karena sumbatan jalan napas.

Manifestasi Klinis

Difteri pada umumnya merupakan penyakit pada anak. Manifestasi klinis disebakan
oleh penyebaran toxin diphtheria. Manifestasi klinis difteri dapat berupa :

 Difteri hidung (anterior nasal diphtheria)

Gejala dapat berupa keluarnya pus dari hidung. Biasanya timbul unilateral, kemudian purulent
discharge dapat keluar bersama dengan darah dan timbul ekskoriasi pada area lubang hidung dan
mulut bagian atas. Difteri hidung pada umumnya timbul pada bayi.

 Difteri faucial

Bentuk ini merupakan bentuk tersering dari difteri. Gejala dapat berupa tonsillitis disertai dengan
pseudomembran yang berwarna kuning keabuan pada salah satu atau kedua tonsil.
Pseudomembran dapat membesar hingga ke uvula, palatum mole, orofaring, nasofaring, atau

bahkan laring. Gejala dapat disertai dengan mual, muntah, dan disfagia.

 Difteri tracheolaryngeal

Difteri laring biasanya terjadi sekunder akibat difteri faucial. Difteri tracheolaryngeal dapat
menimbulkan gambaran bullneck pada pasien difteri akibat cervical adenitis dan edema yang
terjadi pada leher. Timbulnya bullneck merupakan tanda dari difteri berat, karena dapat timbul
obstruksi pernapasan akibat lepasnya pseudomembran sehingga pasien membutuhkan
trakeostomi.

 Difteri maligna

Hal ini merupakan bentuk difteri yang paling parah dari difteri. Toxin secara cepat menyebar
dengan demam tinggi, denyut nadi cepat, penurunan tekanan darah dan sianosis. Biasanya
penyebaran membrane meluas dari tonsil, uvula, palatum, hingga lubang hidung. Gambaran
bullneck dapat terlihat, dan timbul perdarahan dari mulut, hidung, dan kulit. Gangguan jantung
berupa heart block muncul beberapa hari sesudahnya.

 Difteri kutaneus

Difteri kutaneus saat ini lebih sering muncul ketimbang penyakit nasofaring di negara barat. Hal
ini berkaitan dengan alkoholisme dan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Bentuknya dapat
berupa pustule hingga ulkus kronis dengan membrane keabuan yang kotor. Komplikasi toksik
dari difteri kutaneus ini jarang terjadi, dan jika terjadi komplikasi, neuritis adalah komplikasi
yang paling sering bermanifestasi dibandingkan miokarditis.

Diagnosis

Diagnosis dini difteri sangat penting karena keterlambatan pemberian antitoksin sangat
mempengaruhi prognosis pasien. Penegakan diagnosis difteri didasarkan pada temuan klinis
tanpa menunggu hasil mikrobiologi. Hal ini dikarenakan preparat smear kurang dipercaya, dan
hasil kultur membutuhkan waktu beberapa hari. Temuan berupa faringitis dan/atau laryngitis
disertai dengan pseudomembran, hoarseness dan stridor, cervical adenitis dan bullneck
merupakan temuan klinis bermakna sehingga pasien harus segera diterapi dengan antitoksin.
Pemeriksaan mikrobiologi biasanya menggunakan blood tellurite agar untuk isolasi bakteri.

Diagnosis banding

 Difteria Hidung, penyakit yang menyerupai difteria hidung ialah rhinorrhea (common
cold, sinusitis, adenoiditis), benda asing dalam hidung, snuffles (lues congenital).
 Difteria Faring, harus dibedakan dengan tonsillitis membranosa akut yang disebabkan
oleh streptokokus (tonsillitis akut, septic sore throat), mononucleosis infeksiosa,
tonsillitis membranosa non-bakterial, tonsillitis herpetika primer, moniliasis, blood
dyscrasia, pasca tonsilektomi.
 Difteria Laring, gejala difteria laring menyerupai laryngitis, dapat menyerupai infectious
croups yang lain yaitu spasmodic croup, angioneurotic edema pada laring, dan benda
asing dalam laring.
 Difteria Kulit, perlu dibedakan dengan impetigo dan infeksi kulit yang disebabkan oleh
streptokokus atau stafilokokus.

Komplikasi

 Miokarditis
 Neuritis

Tata Laksana

 Penatalaksanaan umum
Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negative 2 kali
berturut-turut. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Istirahat tirah baring
selama kurang lebih 2-3 minggu, pemberian cairan serta diet yang adekuat, makanan lunak yang
mudah dicerna, cukup mengandung protein dan kalori. Penderita diawasi ketat atas kemungkinan
terjadinya komplikasi antara lain dengan pemeriksaan EKG pada hari 0, 3, 7 dan setiap minggu
selama 5 minggu. Khusus pada difteri laring di jaga agar nafas tetap bebas serta dijaga
kelembaban udara dengan menggunakan nebulizer.

 Penatalaksanaan khusus

1. Antitoksin : Anti-Diphtheria Serum (ADS)

Antitoksin harus diberikan segera setelah diagnosis difteria ditegakkan. Dengan pemberian
antitoksin pada hari pertama, angka kematian pada penderita kurang dari 1%. Namun dengan
penundaan lebih dari hari ke-6, angka kematian ini biasa meningkat sampai 30%.

Dosis ADS Menurut Lokasi Membran dan Lama Sakit:

 Difteria Hidung 20.000 IU Intramuscular


 Difteria Tonsil 40.000 IU Intramuscular / Intravena
 Difteria Faring 40.000 IU Intramuscular / Intravena
 Difteria Laring 40.000 IU Intramuscular / Intravena
 Kombinasi lokasi diatas 80.000 IU Intravena
 Difteria + penyulit, bullneck 80.000-100.000 IU Intravena
 Terlambat berobat (>72 jam) 80.000-100.000 IU Intravena

Sebelum Pemberian ADS harus dilakukan uji kulit atau uji mata terlebih dahulu, oleh karena
pada pemberian ADS dapat terjadi reaksi anafilaktik, sehingga harus disediakan larutan adrenalin
1:1000. Uji kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis
1:1.000 secara intrakutan. Hasil positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm. Uji mata
dilakukan dengan meneteskan 1 tetes larutan serum 1:10 dalam garam fisiologis. Pada mata yang
lain diteteskan garam fisiologis. Hasil positif bila dalam 20 menit tampak gejala hiperemis pada
konjungtiva bulbi dan lakrimasi. Bila uji kulit/mata positif, ADS diberikan dengan cara
desentisasi (Besredka). Bila ujihipersensitivitas tersebut diatas negative, ADS harus diberikan
secara intravena. 1 vial ADS =10 cc = 20.000 IU.

Langkah-langkah pemberian ADS :


Jika uji sensitivitas positif : BESREDKA

1) 0,05 ADS ditambah 1 cc aquades diberikan injeksi sub cutan (SC).

2) 0,1 ADS ditambahkan 1 cc aquades diberikan injeksi sub cutan (SC).

3) 0.1 ADS murni diberikan injeksi SC

4) 0,2 cc ADS murni diberikan injeksi sub cutan (SC)/IM

5) 0,5 cc ADS murni diberikan injeksi sub cutan (SC)/IM

6) 2 cc ADS murni diberikan injeksi sub cutan (SC)/IM

7) 4 cc ADS murni diberikan injeksi sub cutan (SC)/IM

8) Sisanya diberikan semua bergantian kiri dan kanan

Atau bila keadaan penderita tidak memungkinkan bisa diberikan bertahap dengan jarak 15 menit.
Bila pada waktu pemberian BESREDKA terjadi alergi maka suntikan dosis obat diulang sama
dengan 1 tingkat/1 tahap sebelumnya.

Jika uji sinsitivitas negative: Diberikan melalui infus (Drip)

1. Pasang infus D5 ¼ Saline 200 cc + ADS dosis sesuai dengan berat ringan difteri yang
dialami, kemudian diberikan harus habis dalam waktu 4-6 jam.

 Bila mendapat ADS 20.000 bisa langsung diberikan secara IM, asal pasien tidak panas
atau nadi stabil/baik.
 Bila terjadi alergi selama pemberian melalui infus/dripp maka tetesan diperlambat dan
bila masih alergi pemberian diganti dengan cara BESREDKA.

2. Antibiotik

 Penicillin procain 50.000-100.000 IU/kgBB/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari berturut-


turut
 Eritromycin 40-50 mg/kg/hari dibagi 4 dosis selama 10 hari

3. Kortikosteroid

Prednisone 2 mg/kgBB

 Pengobatan penyulit

Tracheostomi dilakukan jika terjadi sumbatan jalan napas.

Pencegahan

Pencegahan secara umum dengan menjaga kebersihan dan memberikan pengetahuan tentang
bahaya difteria bagi anak. Pada umumnya setelah seseorang anak menderita difteria, kekebalan
terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi DPT dan pengobatan karier.
Seorang anak yang telah mendapat imunisasi difteria lengkap, mempunyai antibodi terhadap
toksin difteria tetapi tidak mempunyai antibody terhadap organismenya. Keadaan demikian
memungkinkan seseorang menjadi pengidap difteria dalam nasofaringnya (karier) atau menderita
difteri ringan.

Toksoid difteri dipersiapkan dengan pengobatan formaldehid toksin, kekuatannya dibakukan,


dan diserap pada garam alumunium, yang memperbesar imunogenitas. Dua preparat toksoid
difteri dirumuskan sesuai dengan kandungan batas flokulasi (Bf) suatu pengukuran kuantitas
toksoid. Preparat pediatric (yaitu DPT,DT,DTaP) mengandung 6,7-12,5 Bf unit toksoid difteri
per dosis 0,5mL; preparat dewasa (yaitu Td) mengandung tidak lebih dari 2 Bf unit toksoid per
0,5 mL dosis. Formulasi toksoid potensi yang lebih tinggi (yaitu D) digunakan untuk dosis seri
primer dan booster untuk anak umur 6 tahun karena imunogenitasnya superior dan
reaktogenisitasnya minimal. Untuk individu umur 7 tahun dan yang lebih tua, Td dianjurkan
untuk seri primer dan dosis booster, karena kadar toksoid difteri yang lebih rendah cukup
imunogenik dan karena semakin kadar toksoid difteri makin tinggi reaktogenitas pada umur yang
semakin tinggi. Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada umur 6 minggu. Dapat
diberikan vaksin DTwP atau DTaP atau kombinasi dengan vaksin lain. Untuk anak umur lebih
dari 7 tahun diberikan vaksin Td, dibooster setiap 10 tahun.

Jadwal vaksinasi difteri :

 Untuk anak umur 6 minggu sampai 7 tahun , beri 0,5 mL dosis vaksin mengandung-
difteri (D). seri pertama adalah dosis pada sekitar 2,4, dan 6 bulan. Dosis ke empat adalah
bagian intergral seri pertama dan diberikan sekitar 6-12 bulan sesudah dosis ke tiga.
Dosis booster siberikan umur 4-6 tahun (kecuali kalau dosis primer ke empat diberikan
pada umur 4 tahun).
 Untuk anak-anak yang berumur 7 tahun atau lebih, gunakan tiga dosis 0,5 mL yang
mengandung vaksin (D). Seri primer meliputi dua dosis yang berjarak 4-8 minggu dan
dosis ketiga 6-12 bulan sesudah dosis kedua.
 Untuk anak yang imunisasi pertusisnya terindikasi digunakan DT atau Td. Mereka yang
mulai dengan DTP atau DT pada sebelum usia 1 tahun harus mengalami lima dosis
vaksin yang mengandung difteri (D) 0,5 mL pada usia 6 tahun. Untuk mereka yang mulai
pada atau sesudah umur 1 tahun, seri pertama adalah tiga dosis 0,5 mL vaksin
mengandung difteri, dengan booster yang diberikan pada usia 4-6 tahun, kecuali kalau
dosis ketiga diberikan sesudah umur 4 tahun.

Referensi :

1. Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ. 2014. Manson’s Tropical
Diseases, Twenty-Third Edition. Elsevier, Philadelphia.
2. Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA. 2013. Medical Microbiology, Seventh Edition.
Elsevier, Philadelphia.
3. Brooks GF, Caroll KC, Butel JS, Morse, SA, Mietzner, TA. 2013. Jawetz, Melnick
&Adelberg’s Medical Microbiology International Edition, Twenty Sixth. ed. McGraw-
Hill Companies, New York.
4. Levinson, Warren. 2014. Review of Medical Microbiology and Immunology, Thirteenth
Edition. McGraw-Hill Companies, New York.
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun. 2014.