Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan


Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia tentunya
tidak terlepas dari tingkat kualitas pendidikan sumber daya manusia itu sendiri.
Hal ini disebabkan kemajuan teknologi tidak hanya membutuhkan modal tetapi
juga harus didukung manusia yang berpotensi dalam hal bakat dan ilmu
pengetahuan. Kemudian untuk pembangunan yang lebih lanjut, di dalam era
pembangunan modern ini, tentunya masalah pendidikan dan pengajaran tidak
dapat diabaikan lagi. Suatu rencana pembangunan negara ini tidak dapat
dilaksanakan tanpa rakyat yang berpendidikan.Maka dari itu mengingat
pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas maka pemerintah
mengeluarkan kebijakan diantaranya yaitu dalam ketetapan No. II/MPR/1998
yang sudah ditegaskan, bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, dan
berlangsung seumur hidup dan dilakukan dalam lingkungan rumah tangga,
sekolah dan masyarakat.
Dari ketetapan ini dapat kita ketahui bahwa masalah pendidikan di
Indonesia, tidak saja merupakan tanggung jawab pemerintah tetapi juga
merupakan tanggung jawab masyarakat dan lingkungan. Maka dalam hal ini,
untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan sesuai dengan prioritas
pembangunan diharapkan perlu adanya kerjasama antara pihak kantor terkait dan
lembaga-lembaga pendidikan dalam arti pihak kantor terkait perlu diikut sertakan
dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia seperti misalnya rencana
program penambahan di perkuliahan yaitu Program Kuliah Kerja Lapangan.
Tujuan program ini adalah untuk pengembangan bakat dan kemampuan yang
didapat dalam berbagai mata kuliah dan kemudian merealisasikan dasar teori
keilmuan ke dalam bentuk kerja praktek nyata, yang tentunya program ini
tujuannya untuk menciptakan bibit-bibit tenaga profesional serta terampil dalam
bidang kerja yang tentunya berguna untuk kemajuan teknologi.

1
2

1.2 Tujuan Kuliah Kerja Lapangan


Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah:
1. Meningkatkan pengetahuan terhadap industri-industri yang ada di
Indonesia.
2. Menambahkan wawasan bagi mahasiswa tentang dunia kerja yang
sebenarnya.
3. Meningkatkan motivasi,daya kreasi dan inovasi serta pemahaman
profesi mahasiswa khususnya mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Prodi
DIII Teknik Kimia.
4. Meningkatkan kerjasama dalam tim serta mampu meningkatkan
pemahaman mahasiswa terhadap kebutuhan tenaga kerja industri.
5. Mengenalkan Jurusan Teknik Kimia Program studi Diploma DIII
Teknik Kimia kepada industri yang ada diwilayah Sumatera.

1.3 Manfaat Kuliah Kerja Lapangan


Ada pun manfaat Kuliah Kerja Lapangan tersebut adalah untuk:
1. Menambah wawasan mahasiswa tentang proses pengolahan batubara
dari penambangan sampai pemanfaatannyadan proses konversi listrik
dengan tenaga uap.
2. Sarana dalam melatih keterampilan mahasiswa sesuai dengan
pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan.
3. Mendapatkan penegetahuan tentang persaingan dalam dunia usaha
dan dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru.

1.4 Tempat, Waktu, dan Peserta Kuliah Kerja Lapangan


Tempat : PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan
dan PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU
Sebalang
Waktu : Senin, 18 September 2017
Peserta : 85 Orang
BAB II
PELAKSANAAN KULIAH KERJA LAPANGAN

2.1 PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan


2.1.1 Pendahuluan
2.1.1.1 Sejarah Perkembangan PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit
Pelabuhan Tarahan
PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, didirikan pada tanggal
02 maret 1981. Berdasarkan PP No.42/1980 yang sebelumnya merupakan
Perusahaan Negara. Pada tahun 1950 pengawasan tambang termasuk batubara
dibawah Direktorat Pertambangan, kemudian pada tahun 1958, tambang batubara
di Indonesia dikelola oleh Biro Urusan Perusahaan Perusahaan Tambang Negara
(BUPTAN), dilanjutkan oleh Badan Perusahaan Umum (BPU) dan PN Tambang
Batubara yang kemudian beralih status menjadi Perum Tambang Batubara dan
sekarang menjadi PTBA. Perusahaan ini sekarang adalah merupakan Perusahaan
Publik yaitu sejak November 2002. PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero)
Tbk berkantor pusat di Tanjung Enim Sumatra Selatan, yang memiliki tiga
pelabuhan batubara yaitu:
 Pelabuhan batubara Tarahan di Bandar Lampung Prov.Lampung
 Pelabuhan batubara Kertapati di Palembang Sumatra Selatan
 Pelabuhan batubara Teluk Bayur di Padang Sumatra Barat
Pelabuhan batubara Tarahan Bandar Lampung merupakan pelabuhan atau
dermaga khusus batubara yang terbesar yang dimiliki oleh PTBA dengan luas
areal 42,5 ha terletak ± 15 Km dari Kota Madya Bandar Lampung atau ± 6 Km
disebelah selatan Pelabuhan Panjang .
Dermaga Pelabuhan Tarahan memiliki sandar kapasitas 40.000 Dwt dengan
kedalaman 12 m dan merupakan pelabuhan yang disiapkan untuk pengapalan
batubara hasil produksi tambang di Tanjung Enim dengan tujuan PLTU
(pembangkit listrik tenaga uap) unit 1 dan unit 2 di Suralaya Propinsi Banten,
untuk keperluan export, untuk keperluan domistik, dan mulai beroperasi sejak
tahun 1989 dengan kapasitas stockpile tahap I sebesar 60.000 ton.

3
4

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan, 2017


Gambar 1. PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan

Tahap pertama pembangunan pelabuhan ini dilaksanakan pada bulan Mei


1983 oleh kontraktor DBBB (Dominion Bridge Balfour Beaty). Kontraktor DBBB
ini hanya dapat menyelesaikan pembangunan dermaga saja. Sedangkan
pembangunan pekerjaan sipil di darat mengalami kegagalan. Maka pihak PTBA
di bulan april 1986 menggantikan kontraktor DBBB dengan kontraktor BNG
(Balast Nedam Group NV) dari Belanda untuk meneruskan sisa pembangunannya.
Pada bulan November 1989 Pelabuhan Batubara Tarahan tahap satu ini selesai
dan dapat dioperasikan. Dengan berdirinya unit 3, 4, 5, 6 dan 7 PLTU Suralaya,
maka pelabuhan batubara memperluas kapasitas stoknya dengan dibangunnya
tahap II dan tahap III sebagaimana yang ada sekarang ini yaitu stock pile tahap II
berkapasitas 250.000 ton dan stock pile tahap III berkapasitas 250.000 ton.
Angkutan batubara dari Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan menggunakan
Kereta Api Rangkaian Panjang (KA Babaranjang), dengan jarak tempuh kurang
lebih 420 km. Rata-rata setiap harinya sembilan rangkai babaranjang dan setiap
rangkaiannya terdiri dari 46 gerbong batubara dengan volume 50 ton pergerbong.
Pada saat ini PTBA menambah kedalaman dermaga menjadi 17m sehingga kapal
yang bermuatan 70.000-80.000 Dwt dapat bersandar di pelabuhan tarahan.
Peralatan utama yang dipergunakan untuk aktivitas bongkar muat batubara
antaralain adalah: RCD (Rotary Car Dumper), Ban Berjalan (Belt Conveyor),
Crusher (mesin peremuk), Stacker Reclamer (SR) dan pencurah batubara ke kapal
(Ship Loader). Batubara yang diterima maupun yang akan dikapalkan melalui
Pelabuhan Tarahan dilakukan pengujian kualitas di laboratorium penguji
5

batubara, untuk memastikan bahwa batubara yang dikirim kepada konsumen


sudah sesuai spesipikasi yang di minta.

2.1.1.2 Lokasi PT Bukit Asam (Persero) Unit Pelabuhan Tarahan

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan, 2017


Gambar 2. Peta Lokasi PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan

PT Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan merupakan pelabuhan/dermaga


terbesar yang dimiliki PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Dengan luas areal 42,5 Ha.
PT Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan terletak ±15 Km dari kota Bandar
Lampung dan ± 6 km di sebelah selatan Pelabuhan Panjang. PT Bukit Asam
(Persero) Tbk unit pelabuhan Tarahan yang berlokasi di Jl. Raya Soekarno Hatta
Km. 15 Tarahan, Bandar Lampung merupakan anak cabang dari perusahaan
tambang batu bara yang berkantor pusat di Tanjung Enim, Sumatera
Selatan.Pelabuhan Tarahan berbatasan dengan:
Sebelah Utara : PLTD Tarahan
Sebelah Barat : Laut Teluk Betung
Sebelah Selatan : PT Lampung Andalas
Sebelah Timur : Jalan Raya Lintas Sumatra
Topografi pelabuhan Tarahan PT Bukit Asam didominasi dataran rendah di
kaki bukit tepian laut.
6

2.1.1.3 Struktur Organisasi dan Managemen Perusahaan


Aspek Manajemen di PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan
Tarahan berkomitmen kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja Keselamatan
dan kesehatan kerja adalah tanggung jawab semua pihak oleh sebab itu PT Bukit
Asam (Persero) Tbk, bersama pihak terkait bertekad menciptakan lingkungan
kerja yang sehat, bebas cidera dan melakukan kegiatan operasional sesuai kaidah
yang berlaku. Untuk mewujudkan hal tersebut diatas PT Bukit Asam (Persero),
Tbk Unit Pelabuhan Tarahan berkomitmen untuk:
1. Menciptakan keteladanan dalam penerapan disiplin yang dimulai dari diri
sendiri,membudayakan perilaku aman dan mengembangkan kompetensi
melalui pembinaan sikap kerja yang efektif.
2. Mencegah insiden melalui identifikasi, analisis, dan eliminasi bahaya
maupun terencana.
3. Mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku baik nasional
maupun internasional.
4. Melakukan pengukuran kinerja K3 dan perbaikan secara berkesinambungan.

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan, 2017


Gambar 3. Struktur Organisasi
7

2.1.1.4 Pemasaran PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan


Batubara yang telah dihancurkan, siap di distribusikan melalui pelabuhan
Tarahan dengan 80% hasil produksi di distribusikan untuk kepentingan industri
lokal dan untuk memenuhi kebutuhan batubara PLTU Suralaya di propinsi
Banten. Sisanya 20% dari hasil produksi di ekspor ke beberapa negara Asia
seperti India, China, Jepang, Taiwan, Pakistan, Vietnam, serta beberapa negara di
Eropa seperti Spanyol, Jerman, Inggris, Kroasia, Belanda dan Italia.
Produk yang dipasarkan meliputi batubara jenis BA 58 dan BA 59 yang
dipasarkan ke PLTU Suralaya. Selain itu juga menjual Batubara jenis BA 63, dan
BA 70 ke berbagai Negara lain seperti China, Korea, Switzerland, Taiwan, Delta
Holding PTE, Ltd India, Eropa, Pakistan, Jepang dan beberapa wilayah Eropa
lainnya. Sistem transportasi batubara PT Bukit Asam dengan jalur laut
Pengangkutan batubara PT Bukit Asam (Tbk) unit Pelabuhan Tarahan
bekerjasama dengan berbagai instansi swasta maupun pemerintah. Kerjasama
tersebut diantaranya dengan:
 PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), di mana pengangkutan batubara dari
Tanjung Enim ke pelabuhan Tarahan menggunakan jalur kereta dan
lokomotif milik PT KAI.
 PT Bahtera Adi Guna dan PT Arpeni, di mana pengangkutan batubara dari
pelabuhan Tarahan melalui jalur laut menggunakan kapal laut milik
perusahaan tersebut.

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan, 2017


Gambar 4. Dermaga Tarahan
8

2.1.2 Uraian Proses PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan
2.1.2.1 Bahan Baku
PT Bukit Asam (Persero) Tbk unit pelabuhan Tarahan Lampung tidak
melakukan kegiatan penambangan batubara, perusahaan ini hanya bertugas
menghancurkan bongkahan batu bara ukuran besar yang diangkut dengan Kereta
Api Batubara Rangkaian Panjang (KA Babaranjang) dari Tanjung Enim,
Sumatera Selatan untuk kemudian dihancurkan.
Batubara yang diterima dari Tanjung Enim, sebelum dikapalkan terlebih
dahulu melewati pengujian kualitas, kalori, kadar air, dan kadar abu. Pengujian
dilakukan di labolatorium pengujian batubara milik PT Bukit Asam Unit
Pelabuhan Tarahan. Pengujian ini dilaksanakan guna memastikan bahwa batubara
yang akan dikirim ke konsumen sesuai spesifikasi yang diminta. Demi
meningkatkan reputasi dan citra perusahaan, laboratorium penguji batubara PT
Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan sudah terakreditasi oleh KAN (Komite
Akreditasi Nasional) dan ISO 17025 atas kepedulian perusahaan terhadap mutu.

2.1.2.2 Proses Produksi


A. Unit Peralatan Produksi
a). Unit Peralatan Pembongkaran 1
 Rotary Car Dumper 1 (RCT 001)

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan


Gambar 5. Rotary Car Dumper 1
Rotary Car Dumper 1 (RCD-1) ini adalah peralatan yang pertama
kali menerima datangnya kereta api Babaranjang yang membawa batubara
9

dari Tanjung Enim. RCD-1 ini terdiri dari bagian-bagian yang utama antara
lain:
1. Indexer : yaitu alat penarik gerbong yang akan dibalikkan. Indexer ini
digerakkan oleh suatu motor DC 230 V dengan daya 100 HP.
2. Whell Clamp: yaitu alat penjepit roda gerbong pada saat gerbong akan
dibalik, alat ini beroperasi secara hidrolik yang digerakkan oleh
sebuah motor listrik daya motor 30 HP/380V.
3. Dumper: yaitu alat untuk membalikkan gerbong satu demi satu yang
dapat berputar sampai 140 derajat. Menggunakan 2 buah motor listrik
yang terletak disebelah kiri dan kanan motor, masing-masing daya 25
HP/6,25 HP dengan tegangan 380V.
4. Car Clamp: yaitu alat untuk menjepit gerbong dari atas agar pada saat
Dumpermembalik posisi roda gerbong tidak lepas dari dudukan
relnya. Car Clamp ini menggunakan system hidrolik yang digerakkan
oleh sebuah motor listrik mempunyai daya 25 HP/380V.
 Apron Feeder 1 (AFT 001)
AF-1 ini terdiri dari rangkaian Afron plates yang diperkuat dengan
dua rangkaian rantai (Chain) yang bergerak di atas suport Roller. AF-1 ini
adalah alat yang menerima Batubara yang ditumpahkan oleh Dumper
lewat Hopper yang terletak di atas AF-1. Kapasitas tampung atau angkut
dari Afron Feeder 1 ini 2600 ton/Jam, yang digerakkan dengan sistem
hidrolik (motor hidrolik) sistem hidrolik ini digerakkan oleh motor listrik
yang terdiri dari dua motor Feed pump masing-masing berdaya 7,83 KW/
380V dan 2 motor High pressure masing-masing berdaya 117,5 KW/
380V.
 Conveyor 2 (CRT 002)
Conveyor 2 (C-2) ini adalah suatu ban berjalan yang menerima
curahan Batubara dari AF-1 untuk diteruskan ke alat peremuk Batubara.
Conveyor ini mempunyai kapasitas angkut 2600 ton /Jam yang digerakkan
oleh satu buah motor listrik dengan daya 400 HP/6KV. Di ujung atau
bagian Head Pulley dari Conveyor ini dipasang suatu alat train iron
magnet yang berfungsi untuk menarik besi-besi/ plat-plat yang terikut di
10

batubara, sehingga batubara yang akan dihancurkan sudah bersih dari


benda-benda keras yang dapat merusak alat peremuk batubaranya.
 Primary Crusher (PCT 001)
Alat peremuk ini terdiri dari dua buah roll bergigi yang berputar
kedalam saling berlawanan arah. Digerakkan oleh 2 (dua) buah motor
listrik bertenaga masing-masing 234,99 KW/6000 Volt dengan kapasitas
remuk 2600 Ton/Jam. batubara yang dihancurkan disini menjadi
berukuran rata-rata lebih kecil dari 100 mm. Setelah melalui Primary
Crusher ini batubara dapat dikirim dua posisi yaitu dapat ke Conveyor 3
dan juga ke Conveyor 11 dengan menggunakan pengatur posisi yang
disebut Ploper Gate.
 Conveyor 3 (CRT 003)

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan


Gambar 6. Conveyer 3
Setelah batubara di remuk di Primary Crusher batubara tercurah ke
Conveyor 3 melalui suatu chute C-3 conveyor ini adalah ban yang akan
melakukan pencurahan batubara ketempat penimbunan Stock Pile 1 yang
berkapasitas timbun 60.000 Ton. Conveyor-3 ini digerakan oleh motor
listrik berdaya 234,99 KW/6000 Volt dengan kapasitas angkut 2600
ton/jam.
 Conveyor 11 (CLT 011)
Seperti halnya conveyor-3, conveyor-11 ini menerima batubara
yang sudah diperkecil dari Primary Crusher, dari mulai C-11 inilah yang
disebut Fase kedua dari pembangunan terminal batubara tarahan sampai ke
stacker/reklaimer. Conveyor-11 ini digerakan oleh sebuah motor berdaya
11

132 KW/6KV dengan kapasitas angkut 2600 ton/jam, seperti halnya


Primary Crusher dari Conveyor-11 ini batubara akan dilanjutkan ke 2
posisi apabila batubara akan dikirim ke stock -2 maka dari conveyor ini
akan dilanjutkan ke conveyor-12, akan tetapi apabila operasi
pembongkaran batubara akan dikirimkan langsung ke kapal maka dari
Conveyor 11 ini akan dilanjutkan ke Conveyor 6A, melalui suatu alat yang
dapat menutup dan membuka chute dari masing-masing conveyor yang
ada didepannya yaitu yang disebut Ploper Gate.
 Conveyor 12 (CLT 012)
Conveyor-12 (C-12) ini dapat berfungsi ganda, dia dapat berfungsi
sebagai penerima batubara dari Conveyor-11 untuk ditransportasikan ke
penimbunan stock pile 2 atau disebut Operasional Stock Piling juga dapat
berfungsi sebagai alat transportasi pemuatan batubara ke kapal atau
disebut Operasional Recleaming. Dengan kata lain conveyor 12 ini dapat
berputar dua arah sesuai dengan yang diinginkan.
Pada saat digunakan untuk penimbunan maka disebut Conveyor 12
berfungsi sebagai stocking dan pada saat digunakan sebagai pemuatan
batubara ke kapal maka conveyer 12 disebut sebagai Recleaming.
Conveyor-12 ini digerakan oleh 2 buah motor Listrik masing-masing
berdaya 132 KW/6 KV dengan kapasitas angkut conveyor 2600 Ton/jam
sampai 3900 Ton/Jam.
 Stacker/Reclaimer (SRT 001)
Stacker/ Reclaimer ini adalah alat yang dapat berfungsi ganda yaitu
dapat digunakan sebagai penyuplai Batubara ke stock 2 dan juga dapat
sebagai alat pemuatan Batubara ke kapal. Alat ini dapat bergerak maju dan
mundur (Forward dan Reverse), dan kontrol listrik yang sudah
menggunakan kontrol PLC (Programable Logic Control). S/R ini terdiri
dari beberapa bagian alat:
1. Struktur bagian bawah atau lantai: yaitu bagian yang dapat
bergerak Forward dan Reverse dimana berdiri diatas 14 roda dikiri
dan dikanan yang berjalan di atas dua buah rell kiri dan kanan di
12

gerakakn oleh motor listrik dengan masing-masing daya 7,5 KW/


380V.
2. Bucket wheel: yaitu alat yang terdiri dari beberapa skop yang dapat
berputar untuk pengambilan Batubara yang sudah di stock.
Digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan daya motor 160 KW/
380V.
3. Boom: yaitu dimana roda boom ini terpasang sebuah conveyor yang di
sebut conveyor slewingboom. Boom ini dapat berputar kekiri dan
kekanan (slewing) serta naik dan turun. Untuk melakukan slewing
digerakkan oleh dua buah motor listrik dengan masing-masing daya
54 HP/380V. Dan untuk naik dan turun boom hoist digerakkan oleh
satu buah motor listrik daya 4,5 KW/380V.
4. Conveyor Boom yaitu sebagai alat transportasi batubara yang berada
di boom S/R. Conveyor ini dapat berputar dua arah dapat sebagai
Stacking maupun Reclaiming. Digerakkan oleh sebuah motor listrik
dengan daya 132 KW/380V.
5. Conecting Conveyor: yaitu Conveyor penghubung antara conveyor 12
dan Conveyor Boom digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan
daya motor 132 KW/380V.
6. E House: yaitu ruangan dimana terdapat semua kontrol-kontrol listrik.
E House ada dua yang terletak dilantai dasar dan atas.
7. Ruang Operator: Yaitu suatu ruangan dimana tempat Operator
mengoperasikan S/R. Diruangan ini terdapat sebuah layar komputer
dimana terlihat semua indikasi yang diperlukan oleh operator untuk
melaksanakan segala aktifitasnya.
13

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan


Gambar 7. Stacker/Reclaimer
b). Unit Peralatan Pembongkaran 2
 Rotary Car Dumper 2 (RD 301)
Sama halnya dengan RCD-1, RCD-2 ini adalah tempat dimana
pertama sekali kereta babaranjang diterima didaerah bongkaran.
RCD-2 ini terdiri dari bagian-bagian antara lain:
1. Indexer: Yaitu alat penarik gerbong KKBW digerakkan oleh motor
100
HP/220VDC.
2. Whell Chock: yaitu alat penjepit roda KKBW digerakan secara
hidrolik dengan menggunakan dua buah motor listrik masing-masing
daya 0,333HP/380V. Whell Chock ini terletak di depan dan
dibelakang Dumper.
3. Dumper: yaitu alat pembalik gerbong hingga mencapai 140°
digerakan oleh dua buah motor listrik masing-masing 30/15 HP/380V.
4. Car Clamp: yaitu alat penjepit gerbong pada saat gerbong dibalikkan.
Digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan daya 30 HP/380V.
Berbeda dengan Car Clamp RCD 1 untuk Car Clamp RCD 2 semua
operasionalnya digerakkan secara mekanis.
 Chain Feeder (FE 301)
Chain feeder adalah alat yang pertama kali menampung batubara
yang di tumpahkan oleh dumper yang ber kapasitas 1650 ton/jam, dimana
chain feeder ini menggunakan sistem hidrolik yang di gerakkan oleh 2
14

buah motor listrik untuk menggerakkan hidrolik chain A dan B dimana


masing-masing motor mempunyai daya 75 KW/380V. Dari chain feeder A
dan B ini batubara di teruskan ke conveyor 301(C-301) melalui suatu
chute.
 Conveyor 301 (CV 301)
Conveyor 301 ini adalah alat untuk meneruskan pembongkaran
batubara dari chain feeder menuju ke suatu alat peremuk yang di sebut
primary sizer. C-301 ini mempunyai kapasitas angkut 1650 ton/jam
dimana di gerakakn oleh 1 buah motor listrik dengan daya 185 KW/380V
di ujung Belt conveyor 301 di pasang suatu alat tram iron magnet yang
berfungsi untuk mengambil besi-besi yang tercampur di batubara.
 Primary Sizer (CR 301)
Sebelum batubara di stock, Batubara harus di perkecil diameter
yang sesuai dengan keinginan konsumen. Dari batubara yang berukuran
tidak menentu di primary sizer ini Batubara di remuk menjadi berukuran
rata-rata 50mm. Primary sizer terdiri dari 2 buah roll bergigi yang ber
putar berlawanan arah di mana setiap Batubara masuk kedalamnya akan
dihancurkan dengan ukuran tertentu. Primary sizer digerakakan oleh 2
buah motor listrik masing masing mempunyai daya 185 KW/380V dengan
kapasitas remuk 1650 ton/jam.
 Conveyor 302 (CV 302)
Setelah Mengalami peremukan dengan ukuran tertentu batubara
dengan lewat suatu chute akan di terima oleh conveyor 302 yang akan
meneruskannya ke bagian peremuk ke 2 yang di sebut secendary sizer.
Conveyor 2 ini mempunyai kapasitas angkut 1650 ton/jam yang di
gerakkan oleh sebuah motor listrik dengan daya 150 KW/380V.
 Secondary Sizer (CR 302 & 303)
Dari conveyor C-302 Batubara tercurah ke vibrating fan feeder
untuk di sebarkan merata, ke alat penyaring (screen), dari screen ini
batubara halus jatuh ke corong Belt Conveyor 303 dan yang berukuran di
atas 32mm akan masuk kedalam secondary sizer untuk di perkecil
sehingga butirannya menjadi minus 32mm. Secondary sizer ini di
15

gerakkan oleh 2 buah motor listrik masing-masing dengan daya 185


KW/380V, sedangkan motor listrik untuk vibrating fan feederdigerakkan
oleh 2 buah motor listrik dengan daya masing-masing 4,50 KW/240V,
sedangkan vibrating screen di gerakkan oleh sebuah motor dengan daya
45 Kw/380V.
 Conveyor 303 (CV 303)
Setelah selasai di saring dan dihancurkan kedua kalinya dengan
ukuran lebih kecil dengan rata-rata minus 32mm. Maka batubara di
teruskan oleh conveyor C-303 untuk menuju suatu chute, dimana chute
dapat berfungsi ganda dengan melalui suatu gate apakah batubara akan di
stock ataukah akan di kapalkan langsung, apabila akan langsung di
kapalkan maka di sebut by passoperation. Conveyor C-303 ini digerakan
oleh sebuah motor listrik bertegangan 380 V dengan daya 150 KW dan
daya angkut conveyor 1650 ton/jam.
 Conveyor 304 (CV 304)
Apabila Batubara yang di bawa oleh conveyor 303 akan di stock,
maka dari sana gate akan membuka posisi ke conveyor C-304 dan akan
menutup posisi conveyor C-306. Disepanjang conveyor 304 ini
mempunyai 5 buah Belt plough dimana Belt plough tersebut adalah tempat
pencurahan batubara yang dibawa oleh conveyor 304 ke stock yang akan
di inginkan sesuai dengan jenis batubaranya. Belt plough ini digerakkan
secara hidrolik dengan sebuah motor penggerak dengan daya 11KW/
380V.

Sumber: PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan


Gambar 8. Conveyer 304
16

c). Unit Peralatan Pengapalan Stock Pile 1


 Afron Feeder 4A dan 4B (AFT 004A & 004B)
Sama halnya dengan AF-1, Afron Feeder 4A dan 4B adalah
peralatan yang pertama sekali menerima batubara yang berasal dari stock 1
yang sudah berukuran minus 100 mm. AF-4A dan AF-4B ini posisi
tempatnya berada di bawah tanah di tengah-tengah stock 1.Pada saat gate
penutup dari Afron dibuka maka batubara yang berada di atasnya akan
tercurah ke dalam Chute, agar batubara di stock 1 selalu tercurah ke AF-
4A dan AF-4B maka di stock 1 ini dibantu oleh suatu alat berat Bulldozer
yang selalu mendorong batubara kemulut AF-4A atau pun AF-4B. AF-4A
ini digerakkan oleh sebuah motor bertegangan 380 V yang mempunyai
daya 39,17 KW, sama halnya dengan penggerak AF-4B.
 Conveyor 5 (CLT 005)
Conveyor 5 (C-5) adalah conveyor yang melanjutkan perjalanan
batubara yang berasal dari AF-4A ataupun AF-4B. Dengan melalui 1
Chute (corong) batubara dari AF-4A atau AF-4B jatuh ke posisi ban C-5
untuk dibawa dan diteruskan ke posisi ban berikutnya. C-5 ini digerakkan
oleh sebuah motor listrik bertegangan 6 KV dan berdaya 274,16 KW dan
mempunyai kapasitas angkut 3.300 ton/jam.

d). Unit Peralatan Pengapalan Stock Pile 2


 Conveyor 12 (CLT 012)
Conveyor-12 (C-12) ini dapat berfungsi ganda, dia dapat berfungsi
sebagai penerima batubara dari Conveyor-11 untuk ditransportasikan ke
penimbunan stock pile 2 atau disebut Operasional Stock Piling juga dapat
berfungsi sebagai alat transportasi pemuatan batubara ke kapal atau
disebut Operasional Recleaming. Dengan kata lain conveyor 12 ini dapat
berputar dua arah sesuai dengan yang diinginkan.
Pada saat digunakan untuk penimbunan maka disebut Conveyor 12
berfungsi sebagai stocking dan pada saat digunakan sebagai pemuatan
batubara ke kapal maka conveyer 12 disebut sebagai Recleaming.
Conveyor-12 ini digerakan oleh 2 buah motor Listrik masing-masing
17

berdaya 132 KW atau 6KV dengan kapasitas angkut conveyor 2600


Ton/Jam sampai 3900 Ton/Jam.
 Conveyor 6A (CLT 006A)
Conveyor 6A (C-6A) ini suatu ban berjalan yang cukup besar
ukuran dan kapasitas angkutnya, karena C-6A dapat menerima kiriman
batubara dari 2 Conveyor yaitu dapat menerima kiriman batubara yamg
berasal dari Conveyor 11 (phase) juga dapat menerima kiriman batubara
yang berasal dari Conveyor 612 (C-12) ini posisi kemiringan yang cukup
tinggi sehingga memerlukan penggerak yang besar, maka digerakkan oleh
2 buah motor listrik bertegangan 6 KV yang masing-masing motor
mempunyai daya 195,83 KW, dan kemampuan daya angkut ban atau
kapasitas angkutnya adalah 5.000 ton/jam. Di atas ban C-6 ini dipasang
suatu alat perangkap besi yang bercampur batubara yang disebut magnet
Detector, agar batubara yang akan diperkecil oleh alat peremuk kedua
tidak lagi bercampur dengan material yang keras dan yang untuk menjaga
mutu dan kualitas batubara yang akan di kirimkan ke konsumen.

e). Unit Peralatan Pengapalan Stock Pile 3


 Coal Valve (FV 301-306)
Berbeda dari sistem stock I dan stock II pada stock III ini di
bawahnya terdapat 6 buah Coal Valve dimana Coal Valve ini dapat dibuka
dan ditutup dari kiri dan kanan. Saat Coal Valve dibuka berarti membuka
lubang bawah stock III maka batubara akan tercurah ke dalam Chute yang
akan ditampung oleh Conveyor 305. Dari Coal Valve ini digerakkan secara
mekanis oleh masing-masing 2 motor dengan daya 1,5KW/380V. Coal
Valve ini dapat dioperasikan satu persatu maupun berbarsamaan.
Mengenai berapa besar Coal Valve itu mau dibuka dapat diatur oleh
Operatornya.
 Conveyor 305 (CV 305)
Conveyor ini cukup panjang, alat pengangkut pertama yang
menerima Batubara yang berasal dari stock 3. Conveyor ini terletak di
bawah stock 3 yang berkapasitas angkut sebesar 5.000 ton /jam
18

yangdigerakkan oleh sebuah motor listrik bertegangan 380 V dengan daya


185 KW.
 Conveyor 306 (CV 306)
Sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu bahwa Conveyor 306 ini
dapat menerima batubara berasal dari 2 tempat yaitu yang berasal CV303
dan juga yang berasal dari Conveyor 305. Conveyor 306 ini berkapasitas
angkut 5000 ton/jam di gerakkan oleh sebuah motor listrik 380 V dengan
daya motor 185 KW.
 Conveyor 307 (CV 307)
Conveyor 307 ini adalah conveyor APW ban berjalan yang terakhir
yang di miliki oleh phase III. Conveyor ini menerima batubara dari CV
307 dan mentransfernya kembali ke ban berjalan C-8A yang akan
bercampur dengan batubara yang berasal dari stock 1 ataupun stock 2, di
gerakkan oleh sebuah motor listrik bertegangan 380 V dengan daya motor
75 KW dan kapasitas angkut conveyor adalah 5000 ton/jam.

B. Uraian Proses
Pengakapalan batubara pada PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan
Tarahan, melalui beberapa proses, yaitu:
1. Batubara diambil di Tanjung Enim kemudian dibawa oleh kereta api PT
KAI ke PT BUKIT ASAM (Persero) Tbk, Unit Pelabuhan Tarahan.
Biasanya PT Bukit Asam hanya membawa lebih kurang 50 sampai 60
gerbong. Pada satu rangkaian kereta api yang tiap satu gerbong biasanya
berisi ± 50 ton.
2. Gerbong yang sudah terisi batu bara akan dibawa ke RCD (Rotary Car
Dumper) disini batu bara akan didumper ke Apron Feeder, pada Apron
Feeder ini mempunyai kapasitas sebesar 3000 T/h. Kemudian conveyor
yaitu sebuah ban berjalan akan membawa curahan batubara dari apron
feeder ke alat peremuk batubara atau bisa disebut Primary Crusher.
3. Batu bara yang telah dihancurkan akan diteruskan ke conveyor 3 atau
conveyor 11 dengan menggunakan Floper Gate yang terdapat pada Primary
19

Crusher, apabila batubara akan disimpan di Stock Pile 1 maka yang akan
bekerja adalah conveyor 3 berarti floper gate terarah ke conveyor 3.
4. Jika batubara ingin di simpan di stock pile 2 maka floper gate akan terarah
ke conveyor C11 dimana pengubahan bisa dilakukan dengan membuka atau
menutup cut dari masing masing conveyor yang terletak di depan conveyor
C11 (flooper gate) lalu akan dilanjutkan ke conveyor C12 yang akan menuju
ke SR (posisi stacking) untuk meyalurkan batubara ke stock pile 2.

2.1.2.3 Produk yang Dihasilkan


Batubara yang telah dihancurkan, di distribusikan melalui pelabuhan
Tarahan dengan 80% hasil produksi di distribusikan untuk kepentingan industri
lokal dan untuk memenuhi kebutuhan batubara PLTU Suralaya di Provinsi
Banten. Sisanya 20% dari hasil produksi di ekspor ke beberapa negara Asia
seperti India, Cina, Jepang, Taiwan, Pakistan, Vietman, serta beberapa negara di
Eropa seperti Spanyol, Jerman, Inggris, Kroasia, Belanda dan Italia.

2.1.2.4 Utilitas
Utilitas yang mendukung operasional penambangan di PT Bukit Asam
(Persero) Tbk. Unit Pelabuhan Tarahan:
A. Penyediaan Kebutuhan Air
Mengingat kebutuhan air sangat penting, maka PT Bukit Asam (Persero)
Tbk. Unit Pelabuhan Tarahan mendirikan tempat pengolahan air bersih yang
sangat baik dan sangat mencukupi kebutuhan perkantoran, rumah sakit
(kesehatan), perumahan, dan fasilitas umum lainnya.Sumber air bersih PT
batubara Bukit Asam (Persero) Tbk berasal dari sungai enim yang diolah instansi
air bersih. Tempat pengolahan air bersih ini terletak ditepi sungai enim, yang
diberi nama Water Treatment Plant (WPT). Sistem pengolahan air bersih di Water
Treatment Plant Kramat secara besar dimulai dengan menghisap air sungai
sebagai bahan baku dengan pompa intake dan dialirkan menuju ke bak
prasedimentasi dan disini terjadi pengendapan awal . Air dari bak prasedimentasi
akan masuk kedalam bak pengaduk cepat dan ditambahkan tawas untuk proses
koagulasi agar tewas bentuk koagulan bak pengaduk cepat, air akan terus
20

mengalir ke bak pengaduk lambat agar koagulan yang terbentuk semakin banyak
dan pada flokulator ini ditambahkan larutan kapur tohor untuk menaikkan pH air
agar menjadi netral.
Dari flokulator air akan masuk ke bak sedimentasi dan pada bak
sedimentasi ini akan terjadi pemisahan air yang jernih dan sisa koagulan yang
terbentuk. Air yang jernih akan masukn ke filter kemudian kan mengalir menuju
bak penampung air bersih dan ditambahkan kaporit untuk membunuh bakteri yang
terdapat dalam air. Dari bak penampungan air kan dialirkan ke Water tank 1 dan
water tank 2. Adapun sistem pendistribusi sebagai berikut:
1. Dari Water Treatment Plant air dipompakan menuju Water Tank 1 untuk
daerah perkantoran dan pertambangan
2. Dari Water Treatment Palnt air dipompakan menuju Water Tank 2 untuk
daerah perumahan, rumah sakit, dan fasilitas lainnnya.

B. Penyediaan Kebutuhan Listrik


Sumber listrik yang digunakan oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk berasal
dari PT PLN Bukit Asam (Persero) dengan kapasitas sebesar 5.500 KVA (Kilo
volt ampere), tegangan 3 phasa, 20.000 volt, 50 HZ. Sumber listrik digunakan
untuk perkantoran Bukit Asam, Perumahan Bukit Asam, Rumah Sakit Bukit
Asam dan fasilitas lainnya.
Sumber listrik ini disuplai melalui Gardu Induk Sentral Bukit Asam dengan
tegangan listrik yang digunakan Laboratorium Tanjung Enim (Analisa Batubara
dan AMDAL (Analisis Mengenai dampak lingkungan)) PT Bukit Asam (Persero)
sebesar 3 phasa, 380 volt, 50 bHz digunakan untuk instalansi penerangan dengan
total kapasitas 197 KVA.
Selain menggunakan sumber listrik dari PT PLN Bukit Asam (Persero) juga
menggunakan sumber listrik cadangan dengan mengoperasikan generator yang
kapasitasnya 875 KVA, tegangan 3 phasa, 380 volt, 50 Hz. Generator digunakan
apabila sumber listrik dari PT PLN Bukit Asam (Persero) mengalami gangguan
atau mati lampu.
21

2.1.2.5 Pengelolaan Lingkungan


Upaya pemantauan lingkungan di Unit Pelabuhan Tarahan meliputi
kegiatan sebagai berikut:
1) Pemantauan kualitas air di seluruh outlet Kolam Pengendapan Lumpur
(KPL).
2) Pemantauan biota laut untuk mengetahui keanekaragaman hayati yang
hidup di laut sekitar pelabuhan.
3) Pemantauan kualitas udara berkaitan dengan kadar debu di area pelabuhan
dan diluar area pelabuhan.
4) Mengukur tingkat kebisingan akibat mobilisasi peralatan.
5) Pemantauan keselamatan kerja dan tingkat kecelakaan kerja.
6) Pemantauan kebersihan lingkungan dan pembuangan sampah.
7) Pemantauan tenaga kerja lokal yang diserap oleh kegiatan penerangan
batubara di Unit Pelabuhan Tarahan.
PT Bukit Asam (Persero), Tbk telah melakukan kebijakan dalam
pengelolaan dan pematauan lingkungan demi tercapainya tujuan agar dapat
menambang batubara dengan cara ramah lingkungan serta tidak merugikan
masyarakat sekitar daerah penambangan. PTBA sangat serius dalam menangani
berbagai masalah lingkungan di sekitar wilayah pertambangan maka dari itu
PTBA telah menerapkan sistem pemantauan yang terdiri dari beberapa bidang
seperti:
A. Kualitas Air
Baku mutu air yang telah ditetapkan untuk sungai berdasarkan SK
Gubernur Sumatera Selatan No.16 tahun 2005 terdiri dari berbagai parameter
yaitu:
a. pH = 6 – 9
b. TDS= 50 mg/l
c. Mn = 0.1 mg/l
d. Fe = 0.3 mg/l
Kualitas air di PT Bukit Asam (Persero), Tbk. Berdasarkan PP No. 82
tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air, SK Menteri Negara Lingkungan
Hidup No.2 tahun 1988 tentang Baku Mutu Air dan No.37 tahun 2003 tentang
22

metode pengujian kualitas air permukaan dan contoh air permukaan dan peraturan
Perundang-undangan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan
No.18 tahun 2005.
Dalam proses penambangan Batubara akan menghasilkan air asam yang
akan dialirkan kembali ke sungai Air Laya, namun air asam memiliki kandungan
asam yang tinggi dan mengandung material yang berbahaya bagi lingkungan
seperti (Fe dan Mn) maka dari itu sebelum air tersebut dibuang harus diolah di
Kolam Pengendap. Kolam pengendap berupa kolam yang dibuat diatas tanah
langsung dan dirancang sedemikian rupa sehingga ketika air asam dilewatkan
akan mengendapkan bahan-bahan terlarut secara bertahap dari kolam awal
(depan) ke kolam selanjutnya.
Selain berfungsi sebagai kolam pengendap bahan terlarut kolam ini
berfungsi menetralkan nilai kandungan asam dengan mencampurkan kapur
(CaCO3) ke kolam yang ke-2 atau ke-3 (pilihan operator), dan keluaran air di
kolam ujung akan diuji parameter-parameter kualitasnya di Laboratorium PTBA
dalam jangka waktu dua minggu sekali dan dalam jangka waktu 3 bulan juga di
uji oleh pihak ketiga yaitu Baristand propinsi Sumatera Selatan.

B. Kualitas Udara
Udara yang bersih sangat dibutuhkan bagi para pekerja tambang juga bagi
makhluk hidup lainnya telah mengeluarkan SK Menteri KLH No. Kep.
13/MENKLH/3/1995 yang salah satunya berisi kadar debu yang masih diizinkan
yaitu 230 mg/m3 dengan kadar zat-zat seperti:
- CO = 3 x 105 mg/m3
- NOx = 1000 mg/m3
- NO2 = 400 mg/m3
- SOx = 800 mg/m3
Debu banyak berasal dari proses spreading di stockpile yaitu ketika
debunya dengan menyemprotkan air dari atas spreader ke batubara yang
berjatuhan. PTBA juga telah bekerjasama dengan pihak Bappeda untuk menguji
kadar debu di sekitar daerah tambang.
23

C. Kualitas Tanah
Pada proses penggalian batubara yang terdapat didalam tanah, tanahnya
harus dikeruk terlebih dahulu lalu dihamparkan di suatu lokasi dan terus ditumpuk
selama proses penggalian berlangsung. Suatu daerah tambang yang telah habis
batubaranya selalu meninggalkan lokasi (area) bekas penambangan. Hal ini
merupakan suatu permasalahan tersendiri yang dihadapi oleh PTBA. Oleh karena
itu, PTBA telah bekerjasama dengan UNSRI untuk melakukan pengujian atas
kualitas tanah setelah penambangan dan telah menyiapkan beberapa cara yang
dapat dilakukan guna mengelola lokasi bekas penambangan. Cara-cara tersebut
antara lain:
a. Menimbun daerah bekas tambang menggunakan tanah penutup
b. Memadatkan tanah penutup menggunakan buldozer
c. Membuat dam dari batu pecah untuk pengendalian erosi
d. Membuat kolam pengendap lumpur
e. Melakukan revegetasi atau penanaman kembali pada daerah bekas
penambangan

D. Vegetasi dan Satwa Liar


Sebelum digali lokasi penambangan merupakan daerah perhutanan yang
banyak hidup berbagai jenis vegetasi dan satwa liar. Untuk tetap melestarikan
vegetasi telah di lakukan reklamasi atau pembangunan wilayah hutan kembali dan
secara tidak langsung akan secara bertahap mengembalikan satwa-satwa liar yang
telah lari ke hutan lain. Selain menjaga hewan dan vegetasi darat PTBA juga
memperhatikan biota air dengan bekerjasama dengan Bappeda untuk melestarikan
biota air.

E. Revegetasi
Revegetasi bertujuan memulihkan lahan yang sudah final akibat
penambangan. Manfaatnya, antara lain, merehabilitas lahan yang rusak/gundul,
menghindari kelongsoran pada lereng-lereng bekas galian atau timbunan,
mencegah erosi oleh air permukaan, mengembalikan fungsi lahan daerah yang
24

telah terganggu, dan menampilkan bukti bahwa kegiatan penambangan ramah


dengan alam.
Ada sejumlah lokasi bekas aktivitas penambangan yang harus dilakukan
kegiatan revegetasi. Lokasi-lokasi itu meliputi daerah galian (mined out pit) yang
sudah final, daerah timbunan yang belum final tapi ditinggalkan sampai dua tahun
berpotensi terjadi erosi, serta area kegiatan penunjang yang ditinggalkan. Agar
proses revegetasi berjalan dengan baik, maka harus disediakan bibit yang baik
melalui proses pembibitan. Penanaman dilakukan pada daerah yang sudah ditata
dan dihamparkan dengan tanah pucuk yang terdiri atas tanah humus dan tanah
merah yang merupakan hasil pelapukan tanah induk.
Sebelum penanaman, dilakukan kajian tentang kriteria tanaman yang cocok
untuk lahan yang akan direvegetasi dengan memperhatikan rekomendasi pihak-
pihak yang berkepentingan (stakeholders) atau sesuai dengan dokumen amdal.
Jenis-jenis tanaman harus memenuhi persyaratan untuk reklamasi. Persyaratan itu
adalah sesuai dengan kegunaan reklamasi, mudah diperbanyak secara generatif,
toleran terhadap pemangkasan, mampu memberikan unsur-unsur kesuburan tanah,
tahan terhadap kekeringan dan perawatan minim, mempunyai daya adaptasi yang
tinggi, tahan terhadap hama, mampu mengendalikan gulma, dan tidak mempunyai
sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau banyak sulur yang membelit.

2.2 PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang


2.2.1 Pendahuluan
2.2.1 Sejarah Perkembangan PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit
PLTU Sebalang
PLTU sebalang merupakan salah satu pembangkit dengan tipe
CFB(Circulating Fluidized Bed) di KITSBS dengan kapasitas 2 x 100 MW.
PLTU sebalang baru diresmikan pada 19 Mei 2016, dengan jargon “Bangkit,
Bersih, Aman, Nyaman, Green, Kinerja unggul,Integritas, dan tangguh”. PLTU
Sebalang Pembangkit unit pertama sedang memasuki fase low test, yaitu uji
ketahanan termasuk unsur safety. Pada fase ini, perseroan menguji kemampuan
pembangkit mencapai kapasitas maksimal. Investasi proyek ini terdiri dari dua
jenis mata uang, yaitu 154,27 juta dollar AS dan 595,1 miliar rupiah.
25

Proyek pembangunan PLTU Sebalang merupakan sinergi antar-BUMN


lantaran PLN memercayakan pekerjaan engineering, procurement, and
construction (EPC) pada PT Adhi Karya Tbk. Effective date kontrak
ditandatangani pada Oktober 2007 silam. Sejatinya, tenggat pengoperasian unit
pertama PLTU Sebalang ini dipatok pada November tahun 2011 alias mundur
satu tahun menjadi akhir 2012. Begitu juga dengan unit kedua yang dijadwalkan
beroperasi pada Februari 2012, keterlambatan karena faktor teknis karena
memastikan instalasi dan kualitas dapat bekerja optimal,hal itu tidak mengganggu
sistem kelistrikan PLN wilayah Lampung.
PLN juga memperhitungkan sebagian besar tambahan aliran listrik PLTU
Sebalang sebanyak 100 MW itu bakal langsung terserap oleh para pelanggan,
terutama kalangan industri yang telah mengajukan permintaan listrik hingga total
83,4 MW. Dari cabang Tanjung Karang,ada permintaan 60 MW dari pelanggan
besar. Angka itu berasal dari 27 industri dan belum termasuk dari dua cabang di
bawah tanggung jawab PLN Wilayah Lampung. Permintaan juga datang dari dua
cabang lainnya, yaitu Metro sebanyak 20 perusahaan yang membutuhkan 21 MW
dan beberapa industri di Kota Bumi yang menunggu pasokan listrik 2,4 MW.
PLTU Sebalang memasok 2 x 100 MW yang dihasilkan dari dua unit
penghasil listriknya yangdiberi nama unit 1 dan unit 2. Total 200 MW listrik
tersebut dipasok untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik di wilayah provinsi
Lampung.
Pembangunan PLTU sebalang merupakan pelaksanaan Perpres No.71
tahun 2006 tentang penugasan kepada PT PLN untuk melakukan percepatan
pembangunan proyek pembangkit listrik menggunakan batubara. Kontrak
ditandatangani pada 30 Oktober 2007 dengan memerlukan waktu 49 bulan
membangun unit 1 dan 52 bulan untuk membangun unit 2. PLTU Sebalang
beroperasi sejak November 2011 untuk unit 1 dan Febuari 2012 untuk unit 2.
PLTU ini menjadikan batubara sebagai bahan bakar utama. Batubara yang
dipakai berkalori rendah dengan bahan tambahan batu kapur. Batukapur
mengontrol emisi gas buang sehingga udara pembakaran PLTU ini ramah
lingkungan. Total kebutuhan mencapai 1.000.800 ton batubara per tahun. Dengan
dua pemasok batubara yakni PT Hanson Energy dan PT PLN Batubara. Energi
26

listrik dari pembangkit ini disalurkan ke jaringan tranmisi melalui gardu induk
(GI) Kalianda, GI Sribawono, dan GI Sutami.

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 9. PT PLN Sektor Pembangkit PLTU Sebalang

2.2.1.2 Lokasi PT. PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 10. Lokasi PT. PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang

PLTU sebalang terletak di Jl. Lintas Sumatera KM 15, Dusun Sebalang,


Desa tarahan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, dengan luas
area ± 66 HA.
27

2.2.1.3 Struktur Organisasi dan Managemen Perusahaan

MANAJER SEKTOR

ASMAN ASMAN ASMAN


ASMAN CAH ASMAN KSA KINERJA
OPERASI ENJINIRING PEMELIHARAAN

SPV RENDAL SPV MANAJEMEN


SPV RENDAL HAR SPV HAR CAH SPV SDM & UMUM
OP ENJINIRING RESIKO

SPV OPERASI
SPV HAR MEKANIK SPV OPCAH SPV LOGISTIK SPV LAKDAN
A,B,C,D

SPV K3L SPV HAR LISTRIK SPV BBM SPV AKUNTANSI

SPV ANALIS SPV HAR


KIMIA INSTRUMENT

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 11. Struktur Organisasi dan Managemen Perusahaan

PLTU Sebalang dipimpin oleh Manager Sektor yang memiliki tugas


mengelola pembangkit listrik dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang
ada, serta memastikan kinerja unit yang handal, efisiensi, dan dikelola menurut
manajemen operasi. Manager sektor dinatu oleh beberapa asisten manajer seperti
asisten manajer operasi, asisten manajer engineering, pemeliharaan, asisten
manajer CAH, asisten manajer KSA, dan kinerja, yang didalamnya telah terlihat
batsan-batasan pertanggung jawaban dari setiap bidang pekerjaan
tersebut.Disamping itu, adanya hubungan antara satu seksi dengan seksilainnya
melalui fungsi masing-masing.
Pengenalan sistem manajemen PLTU Sebalang dilakukan pada tanggal2
Agustus sampai tanggal 4 Agustus 2017. Sistem Manajemen yang didiskusikan
adalah: ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu; ISO 14001:2015 Sistem
Manajemen Lingkungan; ISO/DIS 45001:2016 Sistem Manajemen K3; ISO
55001:2014 Sistem Manajemen Aset; ISO 31000:2009 Manajemen Risiko; PP 50
TH 2012: Penerapan Sistem Manajemen K3; Perkap 24 TH 2007 Sistem
Manajemen Pengamanan; Criteria for Performance Excellence 2017 – 2018; PAS
28

99:2012 Specification of Common Management System Requirement as a


Framework for Integration.Tercatat dalam draf Surat Keputusan Tim Perancang
sebagai berikut.

Tabel 1. Pengolahan Sistem Manajemen Sebalang Integrated Management System

PENGELOLA SISTEM MANAJEMEN SEBALANG INTEGRATED


MANAGEMENT SYSTEM
Felicia Martua
SMM ISO 9001 Muis Mora
Anggraini Haposan
Nadia Citra Benignus Putri
SML ISO 14001
Kirana Setyo Adi Rahmayannti
Rahmat Benignus
SMK3 ISO 45001 Chandra Arif
Sujarwadi Setyo Adi
SMP PERKAP
Moch. Yusuf M.Nasir Rafi Bayu
24/2007
Vicent
EAM ISO 55000 Saputra DN Litrama Wijaya
Vidianto
RISK
Adi
MANAGEMENT IS0 M. Sayuti
Kurniawan
31000
KRITERIA Annisa Mirza Winasis
Lathif
BALDRIDGE Istikawati P.
Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017

2.1.1.4 Pemasaran PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU


Sebalang
Distribusi Listrik dari PLTU sebalang menggunakan sistem interkoneksi.
Sistem Interkoneksi adalah sebuah sistem tenaga listrik yang terdiri dari
beberapa pusat listrik dan gardu induk (GI) yang dihubungkan satu sama
lain melalui sebuah saluran transmisi dan melayani beban yang ada pada
seluruh gardu induk. Saluran transimisi PLTU Sebalang antara lain saluran GI
Sribawono, dan GI Sutami.
29

2.2.2 Uraian Proses PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU


Sebalang
2.2.2.1 Bahan Baku
A. Bahan Baku Utama
Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam kegiatan produksi
dan memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan bahan-bahan lainnya.
Oleh karena itu bahan baku yang digunakan adalah air demin yang harus
memenuhi standar mutu yang telah ditentukan oleh PLTU.
Bahan utama penghasil uap ini adalah air laut yang tentu saja memiliki
kandungan kimia yang masih harus diolah dengan baik sehingga dapat
menghasilkan uap yang tidak merusak logam-logam, khususnya kandungan garam
yang sangat konduktif dan bersifat korosif. Oleh karena itu, sangat diperlukan
suatu metode pengolahan air laut menjadi airdemineral yang layak dijadikan uap
bagi turbin yaitu metode pentreatmenan air (watertreatment) serta chlorination
plant.
 Siklus Air Laut

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 12. Siklus Air PLTU
a. Air Umpan Boiler
Adalah Air yang digunakan untuk kebutuhan operasi unit pembangkit.
Bersumber dari Sea Water yang telah melalui Proses Pengolahan Air
hingga menjadi air umpan Boiler (Air Demin).
30

b. Air Pendingin
Air yang digunakan sebagai media pendingin pada kondensor dan HE.
Bersumber dari air laut.Standar air pendingin memiliki kandungan Free
Res.Chlorine 0,4-0,6 ppm.
Peralatan utama:
 CWP (Circulating Water Pump)
 Stand Pipe
 Close Cooling Water Pump (CCWP)
 Primary Cooling Water Booster Pump
 Closed Cooling Water Heat Exchanger
c. Air Limbah
Adalah Air sisa proses produksi.Pengolahan air limbah dilakukan pada
Waste Water Treatment Plant dengan prinsip penetralan pH dan
sedimentasi.
 Standar Kualitas Bahan Baku (Air)
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan bahan baku
air laut yang mengandung garam yang diproses menjadi air tawar yang
layak digunakan untuk proses penguapan yang selanjutnya digunakan
untuk memutar turbin. Adapun standar dari kualitas air menurut Dokumen
Kontrak PLTU Lampung 2 x 100 MW. 2007. Instrument andControl
System. PLTU Sebalang. LampungSelatan4. adalah sebagai berikut :
1. Konduktiviti atau daya hantar listrik air < 0,5 mikro-mho.
2. Kandungan silica < 0,015 ppm.
3. pH antara 6.5- 7
4. Dissolved Oxygent (DO2) < 0,3ppm.
a. Standar Air Kondensat
Untuk ketel bertekanan 170 kg/cm2
pH = 9,2-9,5
Conductivity,SC = < 10 mikro mho/cm
Conductivity,CC = < 0,3 mikro mho/cm
Silika (SiO2) = < 0,02 ppm
Oksigen Terlarut = < 0,015 ppm
31

Tembaga (Cu) = < 0,01


Besi = < 0,02
b. Standar Air Pengisi Ketel
Tabel 2. ketel dengan tekanan 40,60,dan 80 atm
Tekanan Kerja
40 atm 60 atm 80 atm
(atm)
Oksigen Terlarut
< 0,02 < 0,02 < 0,02
(ppm)
Total Besi (ppm) < 0,05 < 0,05 < 0,001
Total Tembaga
< 0,01 < 0,01 < 0,05
(ppm)
pH pada 25°C
8-9 8-9 8-9
(ppm)
Silica (ppm) < 0,02 < 0,02 < 0,02
Conductivity
< 1,0 < 0,5 < 0,3
(mikro s/cm)
Chlorida (Cl-)
- - -
ppm
Hydrazine(N2H4)
0,01-0,03 0,01-0,03 0,01-0,03
ppm
Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017

- Untuk ketel dengan tekanan 170 kkg/cm2


pH = 9,2-9,5
Conductivity,SC = < 10 mikro mho/cm
Silika (SiO2) = < 0,02 ppm
Oksigen Terlarut = < 0,07 ppm
Hydrazine (N2H4) = < 0,03-0,05
c. Standar Air Ketel
Tabel 3. ketel dengan tekanan 40,60,dan 80 atm
Tekanan Kerja
40 atm 60 atm 80 atm
(atm)
pH 9-10 9-10 9-10
Silica (ppm) - < 10 <4
Conductivity
- < 2250 < 1150
(mikro s/cm)
Phospat (ppm) < 10 < 10 <3
Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017
32

- Untuk ketel dengan tekanan 170 kkg/cm2


 Air ketel:
pH = 9,2-9,5
Conductivity,SC = < 20 mikro mho/cm
Silika (SiO2) = < 0,185 ppm
Phospat (PO4) = < 0,07 ppm
Chlorida (Cl) = < 0,5
 Main steam
pH = 9,2-9,5
Conductivity,SC = <00 mikro mho/cm
Silika (SiO2) = < 0,015 ppm
 Pengolahan Bahan Baku
a. Water Treatment Plant (WTP)
Untuk menghasilkan sistem uap yang baik pada suatu
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) maka diperlukan suatu sistem
atau treatment untuk memproses air laut (Sea Water) yang memiliki
unsur-unsur yangdapat merusak logam (peralatan pembangkit) menjadi
air demineral (air murni) yang uapnya layak digunakan untuk
menggerakkan Turbin Pembangkit. Dalam bahasa pembangkit disebut
sebagai proses Water Treatment Plant (WTP). Adapunkomponen
Water Treatment Plant (WTP) dapat dilihat dari blok diagram berikut:

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 13. Komponen Pemrosesan Water Treatment Plant (WTP)
33

b. Chlorination Plant

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 14.Chlorination Plant
Menggunakan prinsip elektrolisa pada sel - sel anoda dan
katoda.Peralatan utama cell Generator yang di aliri listrik 1200 - 3800
Ampere.Sodium Hypochloride untuk injeksi pada air pendingin dan gas
Hydrogen.

B. Bahan Tambahan
Bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan dalam proses produksi
dan bercampur dengan bahan baku yang membentuk produk akhir dan diharapkan
dapat meningkatkan mutu produk. Oleh karena itu bahan tambahan yang
digunakan adalah HSD, oli atau minyak residu, dan batu bara yang harus
memenuhi standar mutu yang telah ditentukan oleh PLTU.

C. Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan-bahan yang diperlukan dalam
memperlancar penyelesaian suatu produk dimana keberadaan bahan penolong ini
tidak mengurangi nilai tambah produk yang dihasilkan tersebut, dan bahan
penolong ini tidak terdapat pada produk akhir. Dalam hal ini bahan penolong pada
proses PLTU Sebalang merupakan limestone sebagai bed material.
34

2.2.2.2 Proses Produksi


A. Unit Peralatan Produksi

Sumber : PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 15. Proses Diagram Flow PLTU Sebalang
Keterangan Gambar:
1. Coal Conveyor 14. Boiler Feed Pump
2. Coal Sila 15. High Pressure Heater
3. Coal Crusher 16. Economiser
4. Coal Bunker 17. Steam Drum
5. Furnace Boiler 18. Furnace Superheater
6. Cyclone Separator 19. Final Superheater
7. Back Pass 20. Steam Turbine
8. Bag Filter 21. Electrical Generator
9. ID FAN 22. Transformer
10. Chimey 23. HV Cable
11. Condensat Pump 24. Man Hole
12. Low Pressure Heater 25. HV Switchyard
13. Deaerator 26. Transmission Tower
35

27. CWP Pit 40. Make Up Water


28. CWP 41. Chlorination
29. Condensar 42. Aux Transformer
30. Discharge Pipe 43. PDC Transformer
31. PA FAN 44. MCC
32. SA FAN 45. Conection Pit
33. Air Heater 46. Intake Tower
34. Ash Dump Truck 47. Outlet Discharge
35. Ash Disposal Area 48. Coal Truck hoppe
36. Desalination 49. Plant Area Silo
37. Raw Water tank 50. Disposal Area Silo
38. Water Treatment Plant 51. Limestone Silo
39. Water Treatment Tank 52. LimestoneBoiler

Ada beberapa tahapan uraian produksi pada PLTU Sebalang, Adapun


tahapan uraian proses produksi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Batubara yang dibeli dari Kalimantan diangkut melalu jalur transportasi air
dengan menggunakan kapal. Batubara yang diangkut tersebut kemudian
diletakkan di areal terbuka (Coal Yard). Batubara yang ditumpuk
kemudian diangkut menuju Coal Silo dengan menggunakan Coal
Conveyor menuju Coal Silo.
2) Dari Coal Silo, batubara diangkut kembali dengan menggunakan Coal
Conveyor menuju Coal Crusher. Pada Coal Crusher ini, batubara
dihancurkan untuk diperkecil ukurannya menjadi ± 6 mm dan diangkut
menuju Coal Bunker.
3) Dari Coal Bunker, batubara masuk ke dalam CFB Boiler (Circulating
Fluidized Bed). Pada CFB Boiler, batubara dari coal bunker akan dialirkan
masuk ke dalam furnace. Pada furnace itu sendiri, terdapat bed material
berupa limestone dan bottom ash yang digunakan sebagai media awal
transfer panas pada pembakaran.
4) Primer Air Fan dan Secondary Air Fan menyuplai udara ke Furnace yang
sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu menuju Turbular Air Heater yang
36

terletak pada Backpass. Udara yang telah dipanaskan tersebut kemudian


masuk ke dalam Furnace sebagai udara pada proses pembakaran.
5) Air kondensat dari kondenser dipompakan menuju Low Pressure Heater
untuk dipanaskan yang kemudian masuk ke dalam Deaerator. Pada
Deaerator air dikabutkan dengan perantaraan nozzle-nozzle menjadi
bentuk butir yang halus dan kemudian bercampur secara langsung dengan
uap dan dipompakan menuju High Pressure Heater untuk dipanaskan
kembali dan masuk ke dalam Ekonomizer.
6) Pada Economizer terdapat sekelompok pipa-pipa kecil yang disusun
berlapis-lapis. Di bagian dalam pipa mengalir air pengisi yang dipompakan
oleh Boiler Feed Pump dan dibagian luar pipa mengalir gas panas hasil
pembakaran yang terjadi di ruang bakar. Gas panas memiliki temperatur
yang lebih tinggi dari temperatur air pengisi sehingga kalor berpindah dari
gas panas menuju air pengisi yang menyebabkan temperatur air pengisi
menjadi naik hingga mendekati titik didihnya. Air dari Ekonomizer
ditampung di dalam Steam Drum.
7) Coal dibakar di dalam Furnace pada bagian bed of hot material yang
mengambang dan mengalami sirkulasi dalam furnace dengan kecepatan
udara yang tinggi sehingga menyebabkan fluidisasi pada bed material.
Material yang telah terbakar semakin lama naik ke bagian atas furnace
karena massanya berkurang kemudian masuk cyclone separator melalui
transition piece, sehingga flue gas dan fly ash terpisah dari material.
8) Material solid berputar menuju cyclone outlet cone dengan bantuan udara
dari fuidizing air blower menuju seal pot dan diinjeksikan kembali ke
furnace melalui seal pot return duct. Flue Gas hasil pembakaran masuk ke
dalam Backpass yang berfungsi sebagai ruang pemanfaatan kalor yang
terdapat dalam flue gas.
9) Pada Steam Drum tersebut, terdiri dari air hasil proses dan uap hasil
penguapan dari Tube Wall (Riser). Uap dari Steam Drum kemudian
mengalir menuju Low Temperature Superheater dan menghasilkan uap
saturated yang kemudian dialirkan menuju Final Superheater.
37

10) Pada Final Superheater, uap saturated kembali dipanaskan hingga


menghasilkan uap superheated yang digunakan untuk menggerakkan
turbin.
11) Uap Superheated menabrak sudu-sudu turbin hingga turbin berputar.
Kecepatan putaran turbin yang dipakai pada PLTU Sebalang sebesar 3000
rpm yang dihubungkan ke generator yang dapat menghasilkan listrik
sebesar 110.000 kW.
12) Energi listrik dari pembangkit ini disalurkan ke jaringan tranmisi melalui
gardu induk (GI) Kalianda, GI Sribawono, dan GI Sutami.

2.2.2.3 Produk yang Dihasilkan


Produk yang dihasilkan pada pembangkit ini berupa listrik dengan
tegangan 13,8 kV yang dihasilkan dari putaran sudu turbin 3000 rpm dan
frekuensi 50 Hz sehingga didapatkan beban dengan besar 100 MW per unit.
Setelah menghasilkan energy listrik, listrik akan di salurkan ke jaringan
tranmisi.Energi listrik dari pembangkit ini disalurkan ke jaringan tranmisi melalui
gardu induk (GI) Kalianda, GI Sribawono, dan GI Sutami.

2.2.2.4 Utilitas
Utilitas yang mendukung operasional pembangkitan listrik di PT PLN
Sektor Pembangkitan Sebalang adalah:
A. Penyediaan Kebutuhan Air
Kebutuhan air yang sangat penting untuk kebutuhan produksi dan
konsumsi, menjadikan PT PLN Sektor Pembangkitan Sebalang mendirikan
tempat pengolahan air bersih yang baik dan mencukupi kebutuhan operasi unit,
perkantoran, air hydrant, dan fasilitas umum lainnya.
Sumber air bersih PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Sebalang Tbk
berasal dari air laut yang diolah oleh instansi air bersih dengan nama Water
Treatment Plant (WTP).
Dari flowchart diatas, dapat dlihat bahwa Plant Pengolahan air dilakukan
untuk mengolah air laut menjadi air tawar, dan selanjutnya air tawar menjadi air
demin. Proses pengolahan dimulai pada proses Klorinasi dengan penghisapan oleh
38

CWP (Circulating Water Pump) atau sering dikenal dengan condenser tube dan
pompa pendingin menuju tube-tube condenser untuk selanjutnya memasuki ECP
(Electro Chlorination Plant ). Electrochlorination adalah suatu metode produksi
senyawa klorin yaitu NaOCl (sodium hypochlorite) dengan cara elektrolisis pada
air laut. Pada instalasi pembangkit listrik yang memerlukan air laut untuk
pendingin condenser, zat NaOCl ini berfungsi untuk melumpuhkan (desinfektan)
mikroorganisme laut agar tidak bersarang dan merusak (biofouling) pada instalasi-
instalasi yang menggunakan air laut. Karena air laut mengandung berbagai
mikroorganisme, bakteri, protozoa, yang akan memberikan kontribusi untuk
pembentukan biofouling pada permukaan benda. Tujuan jangka panjang
penggunaan sodium hypochlorite adalah menekan biaya perawatan,
mempertahankan biaya operasional dan memperpanjang usia peralatan. Sodium
Hypochlorite yang telah terbentuk disimpan dalam Chlorin Tank, dan
didistribusikan ke Sea Water WTP untuk proses prasedimentasi dan disini terjadi
pengendapan awal . Air dari bak prasedimentasi ini akan masuk kedalam bak
pengaduk cepat (Coagulant) dan air akan terus mengalir ke bak pengaduk lambat
(floculant).

Sumber: PT PLN (Persero) Tbk Sektor Pembangkit PLTU Sebalang, 2017


Gambar 16. Flow chart plant Pengolahan Air PT PLN (persero)
Sektor Pembangkitan Sebalang
39

Dari flokulator air akan masuk ke bak sedimentasi dan pada bak
sedimentasi ini akan terjadi pemisahan air yang jernih dan sisa koagulan yang
terbentuk. Air yang jernih akan masuk ke Multi Grade Filter (MGF A,B,C,D, dan
E). Multi Grade Filter terdiri dari saringan pasir tekanan vertikal atau horizontal
yang mengandung banyak lapisan pasir kasar dan pasir halus dalam proporsi
tetap. Jenis saringan ini memiliki bagian dalam dengan dimensi pori-pori yang
mampu mempertahankan padatan tersuspensi besar dan kecil dan kotoran yang
tidak larut seperti partikel debu. Pada MGF terdapat Vent dan BW Out (Brackish
Water) atau saluran pengeluaran air payau. Vent berfungsi untuk mengeluarkan
udara dari dalam instalasi pipa, sehingga dalam instalasi tersebut benar-benar
hanya air (fluida) yang dialirkan dan. Proses Filtrasi selanjutnya dilakukan dalam
MCF (Micron Catridge Filter) untuk menyaring partikel-partikel sedimen padat
yang masih terdapat dalam air setelah proses MGF, seperti pasir, lumpur, lumut,
kerak, karat, dsb. Pada proses ini ditambahkan Anti scalant dan Bahan Kimia
SMBS (Sodium Metabisulphite) yang berfungsi untuk menangkap free residual
chlorine yang tersisa dari injeksi klorin. Sehingga membrane RO menjadi aman.
Anti Scalant adalah Chemical yang digunakan untuk mencegah terjadinya scale
pada boiler. Scale biasa terjadi karena adanya hardness atau kesadahan yang
disebabkan adanya Ca atau Mg. Anti scalant berfungsi mengikat Ca dan Mg.
Sehingga kedua zat ini tidak akan membentuk scale tetapi malah membentuk
senyawa kompleks yang larut dalam air sehingga nantinnya akan keluar pada saat
blow down.
Air yang keluar dari MCF menjadi umpan SWRO (Sea Water Reverse
Osmosis) dengan Q = 170 m3/hr. Teknologi pengolahan air laut/Sea Water
Reverse Osmosis ini menggunakan proses membran. Pemisahan air dari
kandungan mineral dan mikro organisme yang tidak dikehendaki didasarkan pada
proses penyaringan dengan skala molekul. Untuk menghasilkan air tawar (air
murni), pemompaan dilakukan dengan tekanan tinggi ke modul membrane yang
mempunyai dua outlet yaitu outlet yang menghasilkan air tawar (air bersih) dan
outlet yang menghasilkan air garam/mineral yang telah dipekatkan. Air bersih
akan masuk kedalam Raw Water Tank dalam bentuk air tawar. Sedangkan air
40

garam/mineral pekat akan dipompakan menuju Back Wash Tank untuk diolah
kembali pada tahap penambahan anti scalant dan SMBS (Sodium Metabisulphite).
Air tawar/raw water akan di alirkan sebagian ke dalam Service Water
Tank untuk kebutuhan sehari-hari diluar operasi unit, sebagian akan masuk
kedalam Hydrant Tank, sebagian akan masuk ke Drink Tank dengan penambahan
Na2CO3 dan melalui proses desinfeksi menggunakan sinar Ultra Violet yang
mampu membunuh bakteri dalam air sehingga dapat dikonsumsi untuk kebutuhan
air minum. Sedangkan sebagian lainnya akan masuk ke BWRO stage 1 (Brackish
Water Reverse Osmosis) dengan Q = 63 m3/jam, kemudian air masuk kedalam
BWRO stage 2 dan dialirkan menuju Degasifier. Degasifier berfungsi untuk
menghilangkan gas CO2 yang terbentuk dari asam karbonat pada proses
sebelumnya. Reaksi yang terjadi adalah:
H2CO3 H2O + CO2
Proses degasifier ini berlangsung pada tekanan vakum 740 mmHg dengan
menggunakan steam ejector, didalam tangki ini terdapat nettsing ring untuk
memperluas bidang kontak, sehingga air yang masuk terlebih dahulu diinjeksikan
dengan steam. Sedangkan outlet steam injector, dikondensasikan dengan
menginjeksikan air dari bagian atas yang selanjutnya ditampung di dalam seal
pot sebagai umpan recovery tank, maka CO2 akan terlepas sebagai fraksi ringan
dan air akan turun ke bawah sebagai fraksi berat.
Air kemudian mengalir menuju mixed bed untuk dihilangkan kandungan
silica nya. Silica harus dihilangkan karena dapat menyebabkan kerak.
Dalam mixed bed terjadi proses Ion Exchanger dengan resin kation
(HCl) dan resin anion (NaOH). Resin tersebut berfungsi untuk
menyerap/menyaring kandungan silica pada air. Pada mixed bed, apabila resin
kation dan resin anion gagal mencapai/memenuhi karakteristik air yang
diinginkan, maka proses regenerasi akan terjadi pada mixed bed sampai
karekteristik yang diinginkan tercapai. Bahan kimia untuk
proses regenerasi berasal dari acid storage tank dan alkali storage tank. Setelah
proses di mixed bed, air kemudian diteruskan menuju demin tank. Air dari demin
tank merupakan umpan yangditeruskan ke boiler. Sebelum sampai di boiler, air
41

terlebih dahulu dilarutkan dengan amonia yang berfungsi untuk


menaikkan pH yang semula netral 7 menjadi 9.

B. Listrik Pemakaian Sendiri (PS)


Sumber listrik yang digunakan oleh PT PLN (Persero) Tbk Sektor
Pembagkitan Sebalang berasal dari produksi sendiri (PLTU) dengan kapasitas
sebesar 2 X 100 MW, data design yang digunakan untuk keperluan main trafo
adalah:
Rated Power : 130 MVA/150MVA
Rated Voltage & Tap Range : 160±8x1.25% / 13.6 kV
Rated Frequency : 50 Hz
Cooling : ONAN/ONAF
Suatu peralatan pada instalasi pembangkit tenaga listrik yang berfungsi
menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik TET, TT, TM dan TR sebagai
pasokan daya pada peralatan penunjang (auxiliary) untuk pengoperasian mesin
pembangkit dan menyalurkan daya listrik yang dihasilkan dari sistem
pembangkitan ke sistem penyaluran.

2.2.2.5 Pengolahan Lingkungan


PT PLN (Persero)sektor pembangkitan sebalang yang notabene nya belum
terbentuk ini sudah sangat serius dalam menangani berbagai masalah lingkungan
di sekitar wilayah prouksksidengan telah menerapkan sistem pengolahan sebagai
berikut:
1. Limbah Cair
Dilakukan pengolahan di WWTP (Waste Water Treatment Plant) dengan
dengan prinsip penetralan pH dan sedimentasi.
kapasitas pengolahan adalah 40 m3/hr. hasil pengolahan akan langsung
dibuang ke laut karena telah memenuhi Baku Mutu Air yang ditetapkan.
2. Limbah Kemasan Bahan Kimia
Dilakukan penampungan di gudang limbah B3 dan disalurkan ke pihak
ketiga/eksternal yang berwenang mengelola limbah B3.
3. Limbah Gas
42

Partikel-partikel sisa gas buang ditangkap dalam ESP


4. Limbah Padat
Ditampung di TPS limbah B3. Saat ini dalam proses permohonan izi untuk
memanfaatkan limbah padat ini menjadi Paving Block.
Upaya pemantauan lingkungan di Sektor Pembangkitan Sebalang meliputi
kegiatan sebagai berikut:
1. Pemantauan biota laut untuk mengetahui keanekaragaman hayati yang
hidup di laut sekitar pelabuhan.
2. Pemantauan kualitas udara berkaitan dengan kadar debu di area pelabuhan
dan diluar area pelabuhan.
3. Mengukur tingkat kebisingan akibat mobilisasi peralatan.
4. Pemantauan keselamatan kerja dan tingkat kecelakaan kerja.
5. Pemantauan kebersihan lingkungan dan pembuangan sampah.
6. Pemantauan tenaga kerja lokal yang diserap oleh kegiatan penerangan
batubara di Sektor Pembangkitan Sebalang.
43