Anda di halaman 1dari 30

Proposal Penelitian

VERIFIKASI METODE UJI ASTM D7582


MENGGUNAKAN ALAT TGA 701 DENGAN
STANDAR ROW MATERIAL

Oleh :

Fajri Adrinal Gusrianto

1415009

AKADEMI KIMIA ANALISIS

CARAKA NUSANTARA

JAKARTA

2017
VERIFIKASI METODE UJI ASTM D7582
MENGGUNAKAN ALAT TGA 701 DENGAN
STANDAR ROW MATERIAL

Proposal PKL diajukan sebagai salah satu syarat

untuk mengikuti seminarTugasAkhir

Oleh :

FAJRI ADRINAL GUSRIANTO

1415009

AKADEMI KIMIA ANALISIS

CARAKA NUSANTARA

JAKARTA

2017
AKADEMI KIMIA ANALISIS
CARAKA NUSANTARA
JAKARTA
ABSTRAK
JUDUL : Verifikasi metode uji ASTM D7582 menggunakan alat TGA 701 dengan
Certificate Row Material ( CRM )
NAMA : Fajri Adrinal Gusrianto
NIM : 1415009

Batu bara adalah mineral organik yang mudah terbakar, terbentuk dari sisa
tumbuhan purba yang mengendap di dalam tanah selama jutaan tahun. Kualitas
batubara dapat ditentukan dengan cara analisa parameter tertentu baik secara
fisika maupun secara kimia. Untuk penelitian kualitas batubara secara analisa
kimia menggunakan metode uji dilakukan verifikasi untuk mengetahui apakah
metode tersebut masih sesuai dalam menghasilkan hasil uji yang valid yang
mengacu pada standar tertentu. Metode pengujian di dalam penelitian ini
menggunakan metode uji proksimate TGA 701 dengan menggunakan ASTM D
7582 , dengan parameter uji moisture (kandungan air) ash content (kandungan
abu) fixed carbon (kandungan karbon tetap) volatile metter (kandungan zat
terbang). Pengujian dilakukan pada 18 sampel dengan kode 502-681 dan 502-682.
Moisture Relatif standar Deviasinya (RSD) = 0,03% (CRM 682) dan 0,04%
(CRM 681) artinya nilai tersebut berada dibawah 5% kategori ketelitian sedang.
Volatile Relatif standar Deviasinya (RSD) = 0,01% (CRM 681 & CRM 682)
artinya nilai tersebut berada dibawah RSD =1% kategori Teliti. Ash Relatif standar
Deviasinya (RSD) = 0,01% (CRM 681 & CRM 682) artinya nilai tersebut berada
dibawah RSD=1% kategori Teliti. Fixed Carbon Relatif standar Deviasinya
(RSD) = 0,01% (CRM 681 & CRM 682) artinya nilai tersebut berada dibawah
=1% kategori Teliti
Kata kunci : Verifikasi, uji proksimate, batubara, moisture, volatile, ash, fixed
carbon

iii
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji kita


panjatkan kepada Allah SWT Tuhan semesta alam karena berkat rahmat dan
pertolongan-Nya, saya dapat menyelesaikan proposal tugas akhir ini tepat waktu.
Tanpa kehendak-Nya barangkali penyusun proposal tugas akhir ini akan banyak
mengalami kendala. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan
kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW.

Proposal tugas akhir ini disusun untuk memenuhi syarat pengujian sidang
tugas akhir Diploma III Akademi Kimia Analisis Caraka Nusantara. Proposal ini
disusun oleh penyusun dengan berbagai kendala. Baik itu yang berasal dari diri
penyusun maupun yang datang dari luar. Namun, dengan penuh istiqomah,
kesabaran, dan tanggung jawab akhirnya proposal tugas akhir ini dapat
diselesaikan dengan baik.

Proposal ini memuat tentang “Verifikasi Metode Uji ASTM D7582


Menggunakan Alat TGA 701 Dengan Standar Row Material”. Tujuannya untuk
memahami tentang metode uji ASTM D7582 menggunakan alat TGA 701 dengan
Certifikat row material (CRM).

Tidak lupa penyusun mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya


kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Bambang Widarsono, M.Sc. selaku Kepala Pusat PPPTMGB
Lemigas yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk
melaksanakan PKL di PPPTMGB Lemigas.
2. Ibu Ir. Nurul Asni, M.Si selaku direktur AKA Caraka Nusantara.
3. Bapak Dahrul Effendi, S.T., M.T selaku pembimbing saya di PPPTMGB
Lemigas yang telah membimbing saya selama melaksanakan PKL di sana.
4. Bapak Djonaedi Saleh selaku dosen pembimbing saya di AKA Caraka
Nusantara yang telah membimbing dan membantu saya dalam penyusunan
tugas akhir.

iv
5. Orang tua dan keluarga saya yang telah mendo’akan dan men-support saya
disegala kegiatan yang saya jalani.
6. Bu Tati, Pak Panjaitan, Pak Djonaedi, Bu Nurul, Bu yuyun, Bu dian, Pak
Yanto, Kak Abu, dan dosen-dosen terbaik lainnya yang tidak bisa saya
sebutkan satu per satu karna telah mengajar, mendidik, dan membimbing saya
selama kuliah di AKA Caraka Nusantara.
7. Pak Biyan, Pak kosasi, Pak jasmun dan Staf Laboratorium CBM.
8. Taupan Riski Dimas B.A. sebagai rekan kerja PKL yang saling membantu
dan mendukung satu sama lain ketika melaksanakan PKL.
9. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2014 yang sudah berjuang bersama
selama kuliah 3 tahun di AKA Caraka Nusantara. Semoga kita semua bisa
meraih sukses di masa depan, Aamiin.
10. Kawan-kawan dari tim Musyawarah (ka Umi, Dinda, Arif, Dimas, Amir,
Wahab), The Pundungers (Irene, Krisna, Rama), Brouses (Eko, Yegi, Rion,
Vegy) sebagai sahabat-sahabat yang telah men-support saya dalam
penyusunan tugas akhir ini.

Penyusun menyadari bahwa penyusunan proposal ini masih jauh dari


sempurna, maka penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk memperbaiki kualitas proposal tugas akhir yang akan disusun selanjutnya.

Akhir kata, semoga proposal tugas akhir ini bermanfaat bagi penyusun
secara khusus dan pembaca secara umum. Sekali lagi penyusun mengucapkan
terima kasih pada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan proposal
tugas akhir ini.

Jakarta, 6 mei 2017

Penyusun

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK ............................................................................................................. iii


KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
BAB I: PENDAHULUAN .......................................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tema kerja praktek ................................................................................... 2
1.3 Tujuan Kerja Praktek ................................................................................ 2
1.4 Manfaat Kerja Praktek .............................................................................. 3
1.4.1 Manfaat Bagi Perusahaan .................................................................. 3
1.4.2 Manfaat Bagi Akademik ................................................................... 3
1.4.3 Manfaat Bagi Mahasiswa .................................................................. 3
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ............................................................... 3
BAB II: PROFIL PERUSAHAAN ..........................................................................4
2.1 Sejarah Perusahaan ................................................................................... 4
2.1.1 Visi .................................................................................................... 6
2.1.2 Misi ................................................................................................... 6
2.1.3 Tugas ................................................................................................. 6
2.1.1 Fungsi ................................................................................................ 7
2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah ............................................................... 8
2.3 Fasilitas Instansi ....................................................................................... 8
BAB III: TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................9
3.1 Batu Bara .................................................................................................. 9
3.1.1 Pembentukan Batu Bara .................................................................... 9
3.1.2 Klasifikasi Batu Bara ...................................................................... 10
3.1.3 Parameter Kualitas Batu Bara ......................................................... 11
3.2 Thermogravimetric Analyzer (TGA) 701 .............................................. 13
3.3 Verifikasi ................................................................................................ 14
BAB IV:METODOLOGI ......................................................................................15
4.1 Waktu dan Tempat PKL ......................................................................... 15

vi
4.2 Diagram Alir ........................................................................................... 15
4.3 Alat dan Bahan ....................................................................................... 16
4.3.1 Alat .................................................................................................. 16
4.3.2 Bahan............................................................................................... 16
4.4 Prosedur Penelitian ................................................................................. 16
4.4.1 Pengukuran Moisture ...................................................................... 16
4.4.2 Pengukuran Ash Content ................................................................. 17
4.4.3 Pengukuran Volatile Matter ............................................................ 19
4.4.4 Pengukuran Fixced Carbon............................................................. 20
4.5 Rencana Kerja ........................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................22

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Verifikasi berasal dari kata verification yang artinya memverifikasi, yaitu


menetapkan ketepatan atau kebenaran dengan pengujian. Selain itu verifikasi
didefinisikan sebagai pengaplikasian metode, prosedur, tes, dan evaluasi –
evaluasi lainnya sebagai tambahan atas kegiatan pemantauan yang dilakukan
secara periodik oleh perusahaan maupun auditor indenpenden untuk memastikan
efektifittas pelaksanaan kontrol proses.
Verifikasi merupakan suatu uji kinerja metode standar. Dilakukan
terhadap suatu metode standar sebelum diterapkan di laboratorium. Verifikasi
sebuah metode bermaksud untuk membuktikan bahwa laboratorium yang
bersangkutan mampu melakukan pengujian metode tersebut dengan hasil yang
valid. Disamping itu verifikasi bertujuan untuk membuktikan bahwa laboratorium
memiliki data kinerja. Hal ini dikarenakan laboratorium yang berbeda memiliki
kondisi dan kompetensi personil serta kemampuan peralatan yang berbeda.
Sehingga, kinerjaantara satu laboratorium dengan laboratorium lainnya tidaklah
sama.
Didalam verifikasi metode, kinerja yang akan diuji adalah keselektifan
seperti uji akurasi (ketepatan) dan presisi (kecermatan). Dua hal ini merupakan
hal yang paling minimal harus dilakukan dalam verifikasi sebuah metode. Metode
yang presisi (cermat) belum bisa menjadi jaminan bahwa metode tersebut
dikatakan tepat (akurat), begitu juga sebaliknya metode yang tepat (akurat) belum
tentu presisi.
Hubungan antara akurasi dan presisi dalam uji metode dapat terjadi
dalam empat hal:
1. Akurasi dan presisi sama-sama rendah
2. Presisi tinggi, akurasi rendah
3. Presisi rendah, akurasi tinggi

1
4. Akurasi dan presisi tinggi.
Jika diimajinasikan kedalam dunia nyata, akurasi dan presisi
digambarkan dengan anak-anak panah yang dilepaskan dari busur dan sasaran
tembak. Dikatakan akurat dan presisi atau cermat dan tepat, jika anak panah yang
dilepaskan dari busur tepat mengenai pusat sasaran panah yang dituju. Ketika
anak panah kedua dilepaskan, maka harus tepat mengenai pusat sasaran, dan
seterusnya. Artinya, setiap kali pengulangan berada pada sasaran yang hendak
dituju.
Meskipun demikian, akurasi tidaklah sama dengan presisi dan tidak sama
dengan reliabilitas / data keandalan. Akurasi diartikan sebagai kedekatan hasil
temuan analisa terhadap nilai yang sebenarnya. Presisi diartikan sebagai
kedekatan antara sekumpulan hasil temuan analisa. Sedangkan reliabilitas data
adalah gabungan antara presisi dan akurasi. Dengan kata lain, akurasi bertujuan
untuk mendapatkan suatu nilai yang benar. Presisi bertujuan untuk mendapatkan
nilai yang sama. Sedangkan reliabilitas data adalah untuk mendapatkan nilai yang
benar dan sama.
Dalam tugas akhir ini maka penulis mencoba untuk melakukan verifikasi
terhadap metode uji proksimate TGA 701 dengan menggunakan ASTM D 7582
Dengan parameter uji Moisture (kandungan air) Ash Content (kandungan abu)
Fixed Carbon (kandungan karbon tetap) Volatile Matter (kandungan zat terbang).

1.2 TEMA KERJA PRAKTEK

Tema yang akan diambil dari kegiatan Kerja Praktek ini adalah
“memverifikasi metode uji ASTM D7582 menggunakan alat TGA 701 dengan
standar row material (CRM 801/802)”.

1.3 TUJUAN KERJA PRAKTEK


Memenuhi salah satu persyaratan kampus untuk melaksanakan Kerja
Praktek serta memahami tentang metode uji ASTM D7582 menggunakan alat
TGA 701 dengan standar row material.

2
1.4 MANFAAT KERJA PRAKTEK
1.4.1 Manfaat Bagi Perusahaan
1. Dapat diperoleh informasi mengenai Tugas Akhir dan dapat dipergunakan
untuk pengambilan langkah selanjutnya.
2. Menciptakan kerja sama yang saling menguntungkan dan bermanfaat
antara perusahaan tempat tugas akhir dengan Akademi Kimia Analisis
Caraka Nusantara.
1.4.2 Manfaat Bagi Aka Caraka Nusantara
1. Sebagai sarana pemantapan keilmuan bagi mahasiswa dengan
mempraktekkan didunia kerja.
2. Sebagai sarana untuk membina kerjasama dengan perusahaan di bidang
kimia analisis.
1.4.3 Manfaat Bagi Mahasiswa
1. Dapat memahami metode uji ASTM D7582
2. Dapat memahami cara kerja alat TGA 701
3. Mengetahui Standar Row Material untuk alat TGA 701.
4. Memahami parameter yang berkaitan dengan penentuan Standar Row
Material untuk alat TGA 701
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Sehubungan dengan jadwal kerja praktek yang diadakan pada
perkuliahan semester VI, maka penulis mengajukan kerja praktek yang
dilaksanakan pada bulan maret sampai dengan bulan mei yang bertempat di
PPPTMGB”LEMIGAS”.

3
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Perusahaan

Lembaga Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” berdiri sesuai dengan


usulan suatu panitia terdiri dari para ahli minyak dan gas bumi yang dikoordinir
oleh Biro Minyak dan Gas Bumi (Deperdatam) pada tahun 1992. Panitia bertugas
meneliti dan membuat rumusan untuk adanya suatu laboratorium perminyakan di
Jakarta. Pada saat itu dikalangan pemerintah sangat merasa kekurangan akan
pengetahuan mengenai teknik dan kumpulan data tentang segi usaha perminyakan
di Indonesia, baik mengenai cadangan minyak di lapangan, kualitas minyak
mentah dan hasil pengolahan minyak Indonesia yang pada hakekatnya selalu
menjadi monopoli perusahaan-perusahaan asing.
Latar belakang berdirinya Lembaga Minyak dan Gas Bumi adalah karena
hampir semua pengetahuan, data dan tenaga kerja ahli di bidang perminyakan
dikuasai atau menjadi monopoli perusahaan-perusahaan asing, sedangkan
lapangan maupun cadangan minyak dan gas bumi merupakan milik negara.
Kelahiran Lembaga Minyak dan Gas Bumi, atau disingkat “LEMIGAS”,
merupakan perwujudan dari keinginan pemerintah untuk memiliki suatu badan
yang menghimpun pengetahuan teknik tentang perminyakan dan dapat
menyediakan data serta informasi yang diperlukan untuk menjadi bahan
pertimbangan bagi para pegambil keputusan. Kebutuhan muncul sebagai
konsekuensi langsung dari Undang-Undang Migas yang pertama di Republik
Indonesia, yaitu Undang-Undang No. 44 Prp Tahun 1960 tentang pertambangan
minyak dan gas bumi yang berlandaskan Undang-Undang Dasar 1945, khusus
Pasal 33 ayat (3).
Sementara itu pembangunan fasilitas dan infrastuktur lembaga berlanjut
terus, sehingga pada tahun 1964 dengan memperhatikan usulan Panitia Persiapan
Penelitian Laboratorium Minyak dan Gas Bumi, pemerintah memutuskan
pembentukan Proyek Persiapan Lembaga Minyak dan Gas Bumi dengan tugas
mendirikan dan membentuk Lembaga Minyak dan Gas Bumi dalam waktu

4
sesingkat-singkatnya, yaitu dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Dasar
dan Pertambangan No. 478/Perdatam/64 tanggal 20 Agustus 1964. Proyek ini
dengan giat melanjutkan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana di Cipulir
yang dimulai sejak 1963 dan mempersiapkan tenaga-tenaga kerja untuk
mengelolanya.
Proyek persiapan ini pada tahun 1965 telah ditingkatkan menjadi
Lembaga Minyak dan Gas Bumi, yang secara historis memiliki nama awal
Indonesia Petroleum Institute. Pada tanggal 22 Mei 1974 namaIndonesia
Petroleum Institute diubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”.
Pertumbuhan PPPTMGB “LEMIGAS” bertambah pesat pada tahun 1966
dengan dibebankan dan diserahkannya daerah administratif Cepu kepada
PPPTMGB “LEMIGAS”, yang kemudian dijadikan Pusat Pendidikan dan Latihan
Lapangan Perindustrian Minyak dan Gas Bumi.Badan inilah yang bertugas
sebagai pusat riset dan latihan, yang mempunyai fasilitas serta melakukan
dokumentasi publikasi untuk menjadi pusat keahlian dalam bidang perminyakan
Nasional. Pada tanggal 31 Desember 1992 PPTMGB “LEMIGAS” dipisahkan
dari pusat pelatihan dan pendidikan Cepu untuk ditingkatkan sebagai pelaksana
teknis penelitian dan pengembangan, dokumentasi dan informasi, pelayanan jasa,
serta pengawas teknologi minyak dan gas bumi.
PPTMGB “LEMIGAS” menjamin bahwa dalam menghasilkan jasa,
litbang selalu memenuhi persyaratan standar dan kepuasan pelanggan,
melaksanakan perbaikan berkelanjutan terhadap keefektifan sistem manegemen
mutu, serta memastikan bahwa seluruh personil berperan aktif dan bertanggung
jawab terhadap pencapaian mutu sesuai fungsinya.Tugas pokok dan fungsi
manegemen mutu Pusat Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi
“LEMIGAS” berdasarkan ISO 9001:2001.Sedangkan untuk sistem mutu peralatan
saat ini PPPTMGB “LEMIGAS” telah terakreditasi dengan ISO 17025:1999.
Dalam perjalanannya PPPTMGB “LEMIGAS”, mulai dari berdiri sampai
dengan saat ini memiliki visi dan misi yang menunjang kinerja lembaga sesuai
dengan fungsinya yaitu :

5
2.1.1 Visi

Terwujudnya PPPTMGB “LEMIGAS” sebagai lembaga litbang yang


profesional dan bertaraf internasional dalam bidang minyak dan gas bumi.

2.1.2 Misi

a) Memberikan masukan kepada pemerintah dalam perumusan kebijakan.


b) Meningkatkan nilai tambah bagi perkembangn industri migas.
c) Mengembangkan teknologi di subsektor migas.
d) Mengembangkan kapasitas dan kompetensi lembaga.
e) Meningkatkan kualitas jasa penelitian dan pengembangan untuk
memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
f) Menciptakan produk andalan dan mengembangkan produk andalan.
g) Meningkatkan iklim kerja kondusif melalui sinergi, koordinasi serta
penerapan sistem menejemen mutu.

2.1.3 Tugas

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi


“LEMIGAS” mempunyai tugas menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
teknologi kegiatan hulu dan hilir bidang minyak dan gas bumi, tugas tersebut
antara lain yaitu :
a) Penelitian peningkatan cadangan untuk meningkatkan penemuan cadangan
migas.
b) Penelitian peningkatan pengurasan untuk meningkatkan produksi dan
pengurasan lapangan migas.
c) Penelitian nilai tambah migas untuk meningkatkan nilai setiap barel
minyak dan setiap meter kubik gas yang dihasilkan.
d) Penelitian konversi untuk mengupayakan konversi sumber daya migas
yang tidak dapat diperbarui.
e) Penelitian energi pengganti untuk mendapatkan energi pengganti yang
dapat mengurangi beban migas, sehingga sumber daya migas dapat
disalurkan kearah yang paling optimal bagi pembangunan.

6
f) Penelitian lingkungan untuk menunjang dampak industri migas, baik
dampak fisis maupun dampak sosial, sehingga dapat memelihara
kelestarian lingkungan.
g) Penelitian teknologi material untuk menggalakkan penggunaan material,
bahan dan alat produksi dalam negeri di industri migas, sehingga dapat
menunjang pembangunan dan ketahanan nasional.

2.1.4 Fungsi

Dalam melaksanakan tugas sebagai mana yang tercantum di atas, Pusat


Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”
menyelenggarakan fungsi :
a) Perumusan pedoman dan prosedur kerja.
b) Perumusan rencana dan program penelitian dan pengembangan teknologi
berbasis kinerja.
c) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan teknologi kegiatan hulu
dan hilir minyak dan gas bumi, serta pengelolaan sarana dan prasarana
penalitian dan pengembangan teknologi.
d) Pengelolaan kerja sama kemitraan penerapan hasil penelitian dan
pelayanan jasa teknologi serta kerja sama penggunaan sarana dan
prasarana penelitian dan pengembangan teknologi.
e) Pengelolaan sistem informasi dan layanan informasi, serta sosialisasi dan
dokumentasi hasil penelitian dan pengembangan teknologi.
f) Penanganan masalah hukum dan hak atas kekayaan intelektual, serta
pengembangan sistem mutu kelembagaan penelitian dan pengembangan
teknologi.
g) Pembinaan kelompok jabatan fungsional pusat.
h) Pengelolaan ketata usahaan, rumah tangga, administratif keuangan dan
kepegawaian pusat.
i) Evaluasi penyelenggaraan penelitian dan pengembangan teknologi di
bidang minyak dan gas bumi.

7
2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Pusat Penelitian dan Pengembang Teknologi Minyak dan Gas Bumi


“LEMIGAS” merupakan Lembaga Minyak dan Gas Bumi yang berada di bawah
Badan Penelitian dan Pengembangan (balitbang) Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral yang terletak di Jl. Ciledug Raya Kav. 109 Cipulir, Kebayoran
Lama, Jakarta Selatan. Wilayah kerja PPPTMGB “LEMIGAS” berada di atas
tanah 12,4 Hektar dengan total luas gedung laboratorium dan gedung penunjang
54,534 m2.

2.3 Fasilitas Instansi

PPPTMGB “LEMIGAS” telah berkiprah dalam penelitian dan


pengembangan teknologi minyak dan gas bumi lebih dari 40 tahun.Hingga saat ini
PPPTMGB “LEMIGAS” memiliki lebih dari 60 laboratorium untuk menunjang
penelitian di sektor hulu maupun hilir. Sarana dan fasilitas yang terdapat pada
PPPTMGB “LEMIGAS” adalah :
1. Laboratorium Eksplorasi
2. Laboratorium Akreditasi.
3. Laboratorium Proses
4. Laboratorium Ekploitasi
5. Laboratorium Aplikasi
6. Laboratorium Gas
7. Laboratorium Lingkungan
8. Perpustakaan terdiri dari :

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Batu bara

Batu bara adalah mineral organik yang mudah terbakar, terbentuk dari
sisa tumbuhan purba yang mengendap di dalam tanah selama jutaan tahun.
Endapan tersebut telah mengalami berbagai perubahan bentuk/komposisi sebagai
akibat dari adanya proses fisika dan kimia yang berlangsung selama waktu
pengendapannya. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam katagori bahan bakar
fosil. Batubara merupakan salah satu energi fosil alternatif dengan cadangan
cukup besar didunia.

3.1.1 Pembentukan batubara


Proses terbentuknya batubara dimulai dari 300 juta tahun lalu ketika
sebagian besar bagian bumi tertutup oleh rawa karena perubahan iklim serta
terjadi pergeseran kerak bumi (pergeseran tektonik) sehingga rawa yang berisi
sisa-sisa tanaman tersebut terendapkan didalam lapisan sedimen, kemudian
mengalami proses pembatubaraan.
Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia
(penggambutan) dan tahap geokimia ( pembatubaraan).

Tahap penggambutan (peatification) dimulai sekitar 300 juta tahun lalu


ketika sisa-sisa tanaman yang berada didalam rawa-rawa tertimbun didalam
lapisan sedimen dan selalu tergenang di air pada kedalaman 0,5 – 10 meter.
Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan C, H, N dan O dalam bentuk
senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya, oleh bakteri
anaerobik dan diubah menjadi gambut.

Tahap selanjutnya merupakan tahap geokimia, lapisan sedimen akan


semakin tertekan oleh lapisan sedimen diatasnya. Semakin bertambahnya
kedalaman maka kandungan karbon semakin bertambah pula. karena terjadi
pengurangan kandungan air. Proses pembebanan material sedimen tersebut juga
menyebabkan peningkatan tempertur dan tekanan akibatnya terjadi penurunan
porositas sehingga menjadi batuan lignit .Apabila terjadi dalam waktu lama

9
batuan lignit tersebut berubah menjadi batubara sub-bituminus, bituminus dan
antrasit.

Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses


biologi, kimia dan fisika terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang
menutupi, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari
gambut. Pada tahap ini persentase karbon akan meningkat, sedangkan persentase
hidrogen dan oksegen akan berkurang. Proses ini akan menghasilkan batubara
dalam berbagai tingkat kematangan material organik mulai dari lignit, sub-
bituminus, bituminus dan antrasit.

3.1.2 Klasifikasi batubara


S ecara umum batubara digolongkan menjadi lima tingkatan, yaitu:
1. Peat (Gambut).
Peat ditandai dengan kondisi fisik berwarna kecoklatan dan struktur
berpori, memiliki kadar air 75%, nilai kalori sangat rendah, kandungn sulfur yang
sangat tiggi.
2. Lignit.
Lignit adalah batubara sangat lunak ditandai dengan kondisi fisik
berwarna hitam dan sangat rapuh, mengandung air 35% - 75% berat, memiliki
kandungan karbon terendah 25% - 35%, dengan nilai kalor/panas berkisaran
antara 4.000 – 8.300 BTU per pon kandungan abu tinggi , dan kandungan sulfur
tinggi.

3. Sub-Bituminus
Sub-Bituminus memiliki ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-
hitaman. Mengandung 35% - 45% karbon (C) menghasilkan panas antara (8.300 –
13.000 BTU per ton, dan mengadung banyak air. Meskipun nilai panasnya
rendah, batubara ini umumnya memiliki kandungn balerang yang lebih dari pada
jenis lainya, yang membuat disukai untuk dipakai karna hasil pembakaran yang
lebih bersih

10
4. Bituminus
Bituminus ditandai dengan warna hitam mengkilat, struktur kurang
kompak, mengandung 68% - 86% unsur karbon (C), dengan kandungan air 8% -
10% berat, nilai kalor/panas yang dihasilkan antara 10.500 – 15.500 BTU per
pon, kandungan abu sedikit, dan kandungan sulfur sedikit.

5. Antrasit
Antrasit ditandai dengan warna hitam sangat mengkilat (luster), struktur
kompak dengan kuat, mengandung antara 86% - 98% unsu karbon (C), nilai
kalor/panas yang dihasilkan hampir 15.000 BTU per pon, dengan kadungan air
kurang dari 86% kandungan abu sangat sedikit, dan kandungan sulfur sangat
sedikit, dan kandungan sulfur sangat sedikit. Nilai kalor

3.1.3 Parameter Kualitas Batubara


Kualitas batubara adalah sifat fisik dan kimia didalam batubara. Adapun
komposisi batubara dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

1. Kadar kelembaban (Moisture)


Moisture merupakan kadar air dalam batubara. Kandungan air ini berasal
hasil dekomposisi oleh bakteri yang mengubah oksigen dalam selulosa menjadi
air. Moisture dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Free Moisture
Free Moisture merupakan kadar air dalam batubara yang dapat terlepas
ke udara apabila batubara didiamkan dalam suatu ruang pada suhu kamar, sampai
terjadi kesetimbangan dengan kondisi udara disekitarnya. Kehilangan berat
selama sampel ditempatkan pada suhu kamar tersebut dicatat sebagai Free
Moisture (dalam satuan persen).
b. Inherent Moisture
Inherent Moisture merupakan air yang secara fisik terikatdidalam
rongga-rongga kapiler dan tidak dapat dihilangkan dengan cara didiamkan pada
suhu kamar. Hal itu dipengaruhi oleh pori-pori yang relatif dan mempunyai
tekanan uap air yang lebih kecil dibandingkan dengan tekanan uap air pada

11
permukaan. Karena air yang berada didalam pori-pori terlindungi sehingga
tekanan uap airnya kecil dibanding air yang berada di permukaan. Inherent
Moisture diperoleh dari kehilangan berat yang diukur setelah sampel batubara
diketahui Free Moisture, caranya dengan dipanaskan dalam Furnace pada suhu
105°C - 110°C. Semakin besar Inherent Moisture maka semakin rendah peringkat
batubara.
c. Total Moisture
Total Moisture merupakan total kehilangan berat setelah sampel
batubara digerus sampai berukuran 3 mm dan langsung dipanaskan dalam
Furnace pada suhu 105°C - 110°C.
2. Kadar Abu (Ash Content)
Kadar abu atau Ash Content didenifisikan sebagai residu anorganik
setelah batubara dibakar. Residu tersebut dipengruhi oleh mineral matter. Kadar
abu sangat mempengruhi tingkat pengotoran, keausan (menipisnya lapisan
permukaan), dan korosi pada peralatan yang dilaluinya. Semakin banyak mineral
yang terkandung dalam batubara maka semakin tinggi kadar abu yang diperoleh.
3. Zat Terbang (Volatile Matter)
Volatile Matter merupakan bagian dari batubara yang menguap pada saat
batubara dipanaskan tanpa udara pada 900°C selama 7 menit. Bagian-bagian
tersebut seperti metana dari hasil penguraian senyawa kimia dan campuran
kompleks yang membentuk batubara. Kandungan Volatile Matter ini
mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas nyala api. Hal itu
didasarkan pada perbandingan antara kandungan karbon dengan zat terbang yang
disebut dengan fuel ratio. Semakin tinggi nilai fuel ratio maka jumlah karbon
didalam batubara yang tidak terbakar juga semakin banyak. Jika perbandingan
tersebut nilainya lebih dari 1,2 maka pengapian akan kurang bagus sehingga
mengakibatkan kecepatan pembakaran menurun.
4. Kadar Karbon (Fixed Carbon)
Nilai kadar karbon bertambah seiring dengan meningkatnya kualitas
batubara. Kadar karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan
untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio.

12
3.2 Thermogravimetric Analyzer (TGA) 701

Gambar 3.2 skema alat TGA 701


Analisis Termogravimetri (TGA) adalah salah satu teknik analisis termal
suatu material berdasarkan perubahan massa. TGA menyediakan informasi
karakterisasi bebas dan tambahan untuk teknik termal. TGA mengukur jumlah dan
laju (kecepatan) perubahan massa sebuah sampel sebagai fungsi temperatur atau
waktu dalam suasana yang dikendalikan. Pengukuran digunakan terutama untuk
menentukan panas dan/atau kestabilan bahan oksidatif serta sifat komposisi
bahan. Teknik ini dapat menganalisis bahan baik kekurangan atau kelebihan
massa karena dekomposisi, oksidasi atau hilangnya bahan mudah menguap
(seperti kelembaban). Komponen utama dari TGA 701 terdiri dari balance
control, furnace, pengukur dan kontrol temperatur,recorder, kurva TG dan
interpretasi kurva TG
Prinsip penggunaan TGA ialah mengukur kecepatan rata-rata perubahan
massa suatu bahan/cuplikan sebagai fungsi dari suhu atau waktu pada atmosfir
yang terkontrol (dalam keadaan suhu yang telah ditentukan). Pengukuran
digunakan khususnya untuk menentukan komposisi dari suatu bahan atau
cuplikan dan untuk memperkirakan stabilitas termal pada suhu diatas 1000°C.
Metode ini dapat mengkarakterisasi suatu bahan atau cuplikan dilihat dari
kehilangan massa atau terjadinya dekomposisi, oksidasi atau dehidrasi.
Mekanisme perubahan massa pada TGA ialah bahan akan mengalami kehilangan
maupun kanaikan massa. Proses kehilangan massa terjadi karena adanya proses
dekomposi yaitu pemutusan ikatan kimia, evaporasi yaitu perubahan molekul
dalam kondisi cair pada peningkatan suhu, reduksi yaitu reaksi pelepasan oksigen

13
dari suatu senyawa. Sedangkan kenaikan massa disebabkan oleh proses oksidasi
yaitu interaksi bahan dengan suasana pengoksidasi, dan absorpsi.

3.3 Verifikasi
Verifikasi merupakan suatu uji kinerja metode standar.Verifikasi ini
dilakukan terhadap suatu metode standar sebelum diterapkan di
laboratorium.Verifikasi sebuah metode bermaksud untuk membuktikan bahwa
laboratorium yang bersangkutan mampu melakukan pengujian dengan hasil yang
valid.Disamping itu verifikasi juga bertujuan untuk membuktikan bahwa
laboratorium memiliki data kinerja.Hal ini dikarenakan laboratorium yang
berbeda memiliki kondisi dan kompetensi personil serta kemampuan peralatan
yang berbeda sehingga, kinerja antara satu laboratorium dengan laboratorium
lainnya tidak sama.
Didalam metode verifikasi metode, kinerja yang akan diuji adalah
keselektifan, seperti uji akurasi (ketepatan) dan presisi (kecermatan). Dua hal ini
merupakan hal yang paling minimal harus dilakukan dalam verifikasi sebuah
metode.Suatu metode yang presisi (cermat) belum menjadi jaminan bahwa
metode tersebut dikatakan tepat (akurat).Begitu juga sebaliknya, suatu metode
yang tepat (akurat) belum tentu presisi.
Akurasi adalah kedekatan nilai diukur dan nilai sebenarnya. Sedangkan
presisi adalah kedekatan nilai tiap pengukuran independen di bawah kondisi yang
sama

14
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

Metode pengujian di dalam penelitian disini menggunakan metode uji


proksimate TGA 701 dengan menggunakan ASTM D 7582 , dengan parameter uji
moisture (kandungan air) ash content (kandungan abu) fixed carbon (kandungan
karbon tetap) volatile metter (kandungan zat terbang).

4.1 Waktu dan Tempat PKL


Praktik kerja lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2017 – 31
Mei 2017 di gedung Eksploitasi 1&2 (Laboratorium CBM) PPPTMGB
“LEMIGAS” yang berlokasi di Jalan Ciledug Raya Kavling 109, Cipulir,
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230.

4.2 Diagram Alir

CRM

DATA LABORATORIUM

Proximate Analysis

1. Inherent moisture
2. Volatile Matter
3. Ash Content
4. Fixed Carbon

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN

15
4.3 Alat dan Bahan
4.3.1 Alat
1. TGA 701
2. Krusibel dengan tutup
4.3.2 Bahan
1. CRM-1
2. CRM-2
3. gas kering-nitrogen (99,5%pure), argon (99,5%pure) atau udara,
dikeringkan untuk penguapan kandungan 1,9 mg/L Atau lebih sedikit (titik
embun - 10°C atau lebih sedikit)
4. gas inert-nitrogen (99,5%pure) atau argon (99,5%pure)
5. gas oksidasi-oksigen (99,5%pure) atau udara

4.4 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu pengukuran


proximate ( untuk klasifikasi CRM ) diantaranya adalah moisture, ash content,
volatile matter, dan fixed carbon.
4.4.1 Pengukuran Moisture
Moisture (air) ada dalam batubara sebagai Inherent Moisture, Surface
atau free moisture, air terikat dimineral matter dan dekomposisi moisture.
Pengukuran secara analisa yaitu Moisture Holding Capacity, Total Moisture, Air
Dry Loss, Residual Moisture dan Moisture In Analysis Sample. Sample batubara
dipanaskan pada temperatur 104°C - 110°C selama ± 1 jam (menurut ASTM
D3173) untuk menguapkan air dan dialirkan gas nitrogen untuk menghindari
oksidasi. Moisture pada batubara dapat menempel di permukaan partikel atau
didalam partikel batubara. Moisture dapat dibagi menjadi 3 yaitu, Free Moisture,
Inherent Moisture, dan Total Moisture.
Parameter yang digunakan untuk menentukan nilai Inherent Moisure:
1. Berat sample kering.
Berat sample dalam keadaan kering / belum dipanaskan.
2. Berat sample setelah dipanaskan (dry weight)

16
Berat sample yang telah dipanaskan pada temperatur 104°C - 110°C
(menurut ASTM D3173)
3. Tray weight + sample
Berat cawan ditambah berat sample.
4. Loss weight
Selisih antara berat sample sebelum dipanaskan dengan berat sample yang
sudah dipanaskan pada temperatur 110°C.
5. Moisture
Persentase dari perbandingan antara loss weight dengan sample weight

loss weight
Moisture (%) = × 100%
sample weight

Prosedur kerja untuk menetukan nilai Moisture.


1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Menimbang masing – masing krusibel/cawan
3. Menimbang sample yang akan dihitung nilai moisturenya sebanyak ± 1
gram.
4. Setelah itu memasukan krusibel/cawan yang telah berisi sample ke dalam
furnace pada temperatur 110°C selama 1 jam
5. Mengeluarkan sample yang telah dipanaskan lalu didiamkan ± 30 menit
pada suhu ruang.
6. Memasukkan sample yang telah didiamkan pada suhu ruang ke dalam
desikator selama ± 1 jam.
7. Setelah 1 jam kemudian menimbang masing – masing sample dan catat
hasilnya.
8. Menghitung nilai Moisture dari data – data yang telah diperoleh.

4.4.2 Pengukuran Ash Content


Ash di definisikan sebagai residu organik yang terjadi setelah batubara
dibakar (complete incerenation) hingga temperatur 700°C - 750°C selama ± 3 jam
dan deng an mengalirkan udara secara lambat di dalam tungku pembakar. Makin
banyak mineral yang terdapat di dalam batubara maka ash juga makin tinggi.

17
Tetapi di laboratorium Coalbed methane (CBM) di PPPTMGB Lemigas ini
menggunakan Ash Content yang dipanaskan pada suhu 500°C selama ± 30 menit,
kemudian 815°C selama ± 2 jam hal ini agar terjadi pembakaran yang sempurna
sehingga mineral organic akan menguap hanya meninggalkan senyawa metal dan
membentuk abu.
Parameter yang digunakan untuk menentukan Ash content :
1. Berat sample kering.
Berat sample dalam keadaan kering / belum dipanaskan.
2. Berat sample setelah dipanaskan (dry weight)
Berat sample yang telah dipanaskan pada temperatur 800°C
3. Ash Content
Persentase dari perbandingan berat sample yang sudah dipanaskan dengan
berat sebelum dipanaskan.

ash weight
Ash Content = × 100%
sample weight

Prosedur kerja yang digunakan untuk menentukan Ash Content :

1. Menyiapkan alat dan bahan.


2. Menimbang masing – masing krusibel / cawan.
3. Menimbang sample yang akan dihitung nilai Ash Content nya sebanyak ±
1 gram.
4. Memasukkan krusibel / cawan berisi sample ke dalam furnace
(dipanaskan) dengan temperatur 500°C selama 30 menit lalu dengan
temperatur 850°C selama 2 jam.
5. Mengeluarkan sample yang telah dipanaskan lalu didiamkan ± 30 menit
pada suhu ruang.
6. Memasukkan sample yang telah didiamkan pada suhu ruang ke dalam
desikator selama ± 1 jam.
7. Setelah 1 jam kemudian menimbang masing – masing sample dan catat
hasilnya.
8. Menghitung Ash Content dari data yang telah diperoleh.

18
4.4.3 Pengukuran Volatile Matter
Volatile adalah bagian dari batubara yang menguap pada saat batubara
dipanaskan tanpa udara didalam tungku tertutup pada suhu 900°C selama 7 menit
(Menurut ASTM D3175). Volatile adalah bagian dari batubara yang mudah
menguap, seperti CH4 atau dari hasil penguraian senyawa kimia dan campuran
kompleks yang membentuk batubara. Tetapi di laboratorium Coalbed methane
(CBM) di PPPTMGB Lemigas ini menggunakan suhu 950°C selama 7 menit.
Parameter yang digunakan untuk menentukan Volatile Matter:
1. Berat sample kering
Berat sample dalam keadaan kering / belum dipanaskan.
2. Berat sample setelah dipanaskan (dry weight)
Berat sample yang telah dipanaskan pada temperatur 815°C.
3. Cup weight + sample.
Berat cawan ditambah berat sample.
4. Loss weiht
Selisih antara berat sample sebelum dipanaskan dengan berat sample yang
sudah di panaskan pada temperatur 815°C.
5. Volatile Matter
6. Selisih antara loss weight dengan nilai Moisture

ash weight
Ash Content = × 100%
sample weight

Prosedur kerja yang digunakan untuk menentukan Volatile Matter:

1. Menyiapkan alat dan bahan.


2. Menimbang masing – masing krusibel / cawan petri dan tutupnya.
3. Menimbang sample yang akan dihitung nilai Volatile Matter sebanyak ± 1
gram.
4. Setelah itu masukan krusibel / cawan tertutup yang telah berisi sample
kedalam furnace pada temperature 950°C selama 7 menit.
5. Mengeluarkan sample yang telah dipanaskan lalu didiamkan ± 30 menit
pada suhu ruang.

19
6. Memasukkan ample yang telah didiamkan pada suhu ruang ke dalam
desikator selama 1 jam
7. Setelah 1 jam kemudian menimbang masing – masing sample dan catat
hasilnya.
8. Menghitung nilai Volatile Matter dari data yang telah diperoleh.

4.4.4 Pengukuran Fixed Carbon.


Fixed Carbon adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis
melainkan merupakan 100% dengan jumlah kadar Moisture, Ash Content dan
Volatile Matter. Fixed Carbon merupakan karbon yang pada temperatur penetapan
Volatile Matter tidak menguap. Jadi yang dihidrokarbon yang termasuk ke dalam
Volatile Matter atau Fixed Carbon termasuk didalamnya. Penggunaan nilai
parameter penentuan dalam klasifikasi batubara dalam ASTM standar. Serta untuk
keperluan tertentu Fixed Carbon bersama Volatile Matter di buat sebagai suatu
ratio yang dinamakan fuel ratio.
Parameter yang digunakan untuk menentukan Fixed Carbon.
1. Moisture.
2. Kadar air yang terkandung dalam CRM
3. Ash Content
4. Kadar abu yang terkandung dlam CRM
5. Volatile Matter.
6. Zat terbang yang terkandung di dalam CRM
7. Fixed Carbon
8. Selisih persen total dengan jumlah persen Moisture, Ash Content, dan
Volatile Matter.

20
4.5 Rencana kerja

Maret April Mei


Kegiatan Minggu
I II III IV I II III IV I II III IV
Orientasi Perusahaan
Orientasi Laboratorium
Penentuan Judul
Pencarian materi
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Penyusunan Laporan

21
DAFTAR PUSTAKA

Kantasubrata, julia. 2006.”Dasar Statistik Kimia”. Bandung:Pusat Penelitian


Kimia LIPI.
Mufthi M. 2009. Metode analisis thermal.
http://www.banemo.wordpress.com/2009/12/27/metode-analisis-thermal/
(1 Mei 2017).
Sanjaya, Muchamad Harrys. 2016.”Pengaruh Jenis Batubara Terhadap
Kandungan Gas Metana Batubara”. Jakarta: PPPTMGB Lemigas

22