Anda di halaman 1dari 7

Kebudayaan Nusa Tenggara Barat

A. Suku :
Suku dan marga yang terdapat di daerah Nusa Tenggara Barat adalah :
1) Sasak
2) Bali
3) Sumbawa
4) Bima.

Suku BIMA NTB


B. Bahasa Daerah
Bahsa daerah
1) Sumbawa
2) Sasak, dan lain lain.

C. Lagu daerah
Lagu Daerah di NTB antar lain :
1) Orlen orlen
2) Halele U Ala De Teang
3) Pai Mura Rame
4) Tebeb O Nana
5) Tutu Koda
Lirik Lagu Daerah Nusa Tenggara Barat - Halele U Ala De Teang

Helele u ala de teang


Die jarang aming plaju
Jarang aming gebah humang
Udi keda benu miju
Helele u ala de teang
Die jarang aming plaju
Jarang aming gebah humang
Udi keda benu miju
Helele u ala de teang
Die jarang aming plaju
Jarang aming gebah humang
Udi keda benu miju

D. Tarian
Tari tarian Daerah Nusa Tenggara Barat antara lain:
1) Tari Mpaa Lenggogo, sebuah tarian guna menyambut kehadiran Maulid
Nabi Besar Muhammad SAW. Tari ini juga sering dipertunjukkan pada
upacara upacara perkawinan atau upacara khinatan keluarga raja.
2) Tari Batu Nganga, adalah sebuah tari berlatar belakang cerita rakyat.
Mengisahkan tentang kecintaan rakyat terhadap putri raja yang mesuk
kedalam batu. Mereka memohon agar sang putri dapat keluar dari dalam
batu itu.
3) Tari Gora (Gogo Rancah), adlah tarian yang menggambarkan keceriaan
dan kegembiraan para petani yang dengan semangat menanam padi. Tari
ini merupakan tari garapan yang diolah dari sumber tari tradisi suku Sasak,
suku Sumbawa, dan suku Bima.
Tari Mpaa Lenggogo

E. Rumah adat
Salah satu contoh rumah adat Nusa Tenggara Barat disebut Istana
Sultan Sambawa. Istana tersebut bertingkat tiga. Lantai bawah atau pertama
merupakan tempat pengawalan. Bila ada upacara, maka para pengawal
berbaris didepan tangga, sesuai urutan pangkatnya. Anak tangga menandakan
urutan pangkat tersebut.
Lantai kedua adalah tempat kediaman Sultan dan Permaisuri.
Disebalah kana berhapan dengan kamar Sultan alah tempat pangeran
pangeran. Sedangkan lantai tiga disediakan untuk para putri dan keluarga
lainnya dari Sultan.

Rumah Adat Nusa Tenggara Barat (NTB)


F. Unsur-unsur kebudayaan
1) Senjata Tradisional
Di NTB, senjata tradisional adalah keris. Ada berbagai jenis keris,
misalnya sampari dan sondi. Di Lombok, sondi bernama grantin.
Keris merupakan benda pusaka yang diperoleh secara turun temurun.
Dipakai pada saat upara upara adat, juga pada waktu upacara keagaaman,
seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Idut Fitri, Idul Adha dan pada
waktu menerima tamu negara.

Keris NTB

2) Pakaian Adat
Pakaian adat pria Lombok berupa tutup kepala dengan baju
berlengan panjang, kain sarung sebatas dengkul dan kain sarung yang
ditenun. Sedangakan wanitanya memakai kebaya panjang dengan kain
songket. Perhiasannya yang dipakai adalah hiasan bunga dikepala, anting
anting, kalung bersusun, pending, dan gelang.
Pakaian adat pria Sumbawa berupa tutup kepala,baju jas tutup,
kain songket dan kain tenun yang melingkar dipinggang. Wanitanya
memakai model baju bodo, dan kain songket. Perhiasan yang dipakai
berupa hiasan bunga dikepala, kalung bersusun, pending, dan gelang
tangan.

3) Upacara Adat
Ada beberapa upacara adat yang biasa di lakukan oleh masyarakat
NTB untuk memperingati hari-hari tertentu seperti : Upacara U’a Pua dan
Upacara Perang Topat.
Upacara U’a Pua merupakan sebuah tradisi masyarakat Lombok
yang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Upacara U’a Pua dilaksanakan
bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang juga
dirangkai dengan penampilan atraksi Seni Budaya masyarakat Suku
Mbojo (Bima) yang berlangsung selama 7 hari.Prosesi U’a Pua diawali
dengan Pawai dari Istana Bima yang diikuti oleh semua Laskar
Kesultanan, Keluarga Istana, Group Kesenian Tradisional Bima dengan
dua Penari Lenggo yang dilengkapi dengan Upacara Ua Pua. Selama
proses pawai berlangsung Group Kesenian terus memainkan Genda
Mbojo, Silu dan Genda Lenggo. Ketika memasuki Istana, Penunggang
Kuda menari dengan suka ria (Jara Sara’u), Sere, Soka dan lain-lain
sampai Ketua Rombongan bertemu dengan Sultan yang diiringi dengan
Penari Lenggo. Pada sa’at itu diserahkan ”Sere Pua” dan Al-Qur’an
kepada Sultan.

Upacara Sere Pua


4) Sistem Religi Di Suku Bima NTB (Kepercayaan)
Saat ini, mayoritas suku Bima menganut agama Islam yang kini
mencapai 95% lebih, di samping sebagian kecil juga menganut agama
Kristen dan Hindu. Tetapi, ada satu kepercayaan yang masih dianut oleh
suku Bima yang disebut dengan Pare No Bongi, yaitu kepercayaan
terhadap roh nenek moyang. Pare No Bongi merupakan kepercayaan asli
orang Bima. Dunia roh yang ditakuti adalah Batara Gangga sebagai dewa
yang memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai penguasa.

5) Mata Pencaharian
Mata pencaharian utamanya masyarakat suku Bima adalah bertani
dan sempat menjadi segitiga emas pertanian bersama Makassar dan
Ternate pada zaman Kesultanan. Oleh karena itu, hubungan Bima dan
Makassar sangatlah dekat, karena pada zaman Kesultanan, kedua kerajaan
ini saling menikahkan putra dan putri kerajaannya masing.
Mereka juga berladang, berburu dan berternak kuda yang
berukuran kecil tapi kuat. Orang menyebut kuda tersebut dengan Kuda
Liar. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah diekspor ke Pulau Jawa. Tahun
1920 daerah Bima telah menjadi tempat pengembangbiakkan kuda yang
penting. Mereka memiliki sistem irigasi yang disebut Ponggawa. Para
wanita Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga
kain tenunan "tembe nggoli" yang terkenal.