Anda di halaman 1dari 6

1. Jelaskan mengenai ujud kelainan kulit !

Berdasarkan kejadiannya, UKK dibagi atas UKK primer, sekunder, dan UKK khusus.
UKK primer adalah bentuk lesi awal, sebelum mengalami perubahan karena trauma,
manipulasi (garukan, gesekan), infeksi sekunder, atau perubahan alamiah. UKK khusus
merupakan UKK yang terjadi pada kondisi atau penyakit tertentu saja.2
1. Lesi primer: makula, papula, urtika, patch, plak, vesikel, bula, pustula, nodul, kista
2. Lesi sekunder: krusta, skuama, ulkus, erosi, fisura, ekskoriasi, skar, likenifikasi, atrofi
3. Lesi khusus: teleangiektasia, purpura, ptekie, komedo, burrow, lesi target.

2. Sifilis
a. Definisi
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang ditandai dengan adanya lesi primer
kemudian di ikuti dengan erupsi sekunder pada area kulit, selaput lendir dan juga organ
tubuh. Sifilis bersifat kronis dan sistemik dimana dapat ditularkan melalui hubungan
seksual. Sifilis secara umum dapat dibedakan menjadi dua: yaitu sifilis kongenital yaitu
sifilis yang ditularkan dari ibu ke janin selama dalam kandungan dan sifilis yang didapat
(acquired) yaitu sifilis yang ditularkan melalui hubungan seks atau jarum suntik dan
produk darah yang tercemar.

b. Etiologi
Penyebab sifilis adalah bakteri dari famili Spirochaetaceae, ordo Spirochaetales dan
genus Treponema spesies Treponema pallidum. Kuman ini bersifat anaerob dan
diantaranya bersifat patogen pada manusia.4

c. Epidemiologi
Asal penyakit ini tidak jelas. Pada abad ke – 15 terjadi wabah di eropa dan sesudah
tahun 1860 morbiditas Sifilis di Eropa menurun drastis karena terjadinya perbaikan ekonomi
masyarakat disana. Selama perang dunia kedua insidennya meningkat dan mencapai
puncaknya pada tahun 1946, setelah penemuan penisilin oleh Alexander Fleming dan mulai
di resepkannya penisilin tahun 1930 penyakit Sifilis menurun drastis.6
Pada tahun 2009, di Amerika Serikat dilaporkan terjadi kasus Sifilis sebanyak
44.828. sedang kan angka insiden di Indonsia pada tahun 2004 diperkirakan 0,026%.7
d. Klasifikasi
Pembagian penyakit sifilis menurut WHO terdiri dari sifilis dini dan sifilis lanjut dengan
waktu diantaranya 2-4 tahun. Sifilis dini dapat menularkan penyakit karena terdapat
Treponema pallidum pada lesi kulitnya, sedangkan sifilis lanjut tidak dapat menular
karena Treponema pallidum tidak ada.8
Sifilis dini dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
1. Sifilis primer (Stadium I)
2. Sifilis sekunder (Stadium II)
3. Sifilis laten dini
Sifilis lanjut dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
1. Sifilis laten lanjut
2. Sifilis tertier (Stadium III)
3. Sifilis kardiovaskuler
4. Neurosifilis

e. Patogenesis
Setelah bakteri masuk kedalam tubuh melalui mikro lesi ataupun selaput
lendir. Setelah mengeksposure permukaan epitel, bakteri akan berpenetrasi dan
menyerang lapisan sel endotel, yang merupakan tahap penting dalam virulensi
treponema. Bakteri kemudian akan hidup dan berkembangbiak pada pembuluh –
pembuluh darah kecil dan di kelenjar getah bening. Jaringan yang terinfeksi bakteri akan
bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri dari sel T limfosit, sel makrofag dan sel
plasma. Aktifitas dari makrofag akan merangsang pelepasan Interlleukin 2 (IL2)
interferon gamma (IFNγ), interferon 10 (IL10), dan interferon 12(IL12).9
Enarteritis (peradangan pada Tunika Intima (Arteri)dari pembuluh –
pembuluh darah darah kecil menyebabkan peruahan hipertrofik endotelium yang
menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Karena hilangnya aliran darah ke
jaringan akan menyebabkan terjadinya erosi (gambaran klinis Sifilis I/Sifilis primer).
Sebelum erosi terlihat, bakteri Treponema pallidum telah mencapai kelenjar getah bening
regional secara limfogen dan berkembangbiak. Pada saat itu terjadi pula hematogen dan
menyebar ke semua jaringan tubuh.6
Erosi akan sembuh perlahan – lahan karena kuman di tempat tersebut jumblahnya
berkurang, kemudian akan terbentuk fibroblas – fibroblas dan pada akhirnya akan
sembuh menjadi sikartiks. Setelah masa penyembuhan erosi Sifilis masuk stadium laten
yang tidak di sertai gejala, meskipun masih tetap terinfeksi. Pada saat inilah biasanya
terjadi penularan karena pasien sudah merasa sembuh dan juga bisa terjadi penularan dari
ibu kepada anak.6
Terkadang sistem imun gagal mengontrol infeksi sehingga bakteri Treponema
pallidum membiak lagi pada tempat erosi yang sama dan menimbulkan lesi berulang atau
dapat menyebar melalui jaringan dan menyebabkan lesi rekuren (Sifilis II/Sifilis
sekunder). Lesi yang berulang tersebut akan terus hilang timbul, tetapi umumnya tidak
lebih dari dua tahun.9

f. Faktor resiko
1) Umur
Umur merupakan salah satu variabel yang penting dalam mempengaruhi aktivitas
seksual seseorang sehingga dalam melakukan aktivitas seksual orang yang lebih
dewasa memiliki pertimbangan yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang
belum dewasa.
2) Tingkat Pendidikan
Penelitian lain memyebutkan bahwa pada orang yang tidak mengenyam pendidikan
tingkat dasar (noprimary education) berhubungan dengan risiko terjadinya sifilis.10
3) Status HIV
Terdapat korelasi
4) Konsumsi alkohol
Konsumsi alkohol dan napza dinilai telah memberikan kontribusi dalam peningkatan
risiko IMS dan HIV terutama meningkatkan risiko terhadap perilaku seks yang tidak
aman.
5) Konsumsi Napza suntik
6) Penggunaan Hormon Suntik Silikon
Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang dapat ditransmisikan melalui darah,
penggunaan hormon suntik yang dipakai bersama-sama dan tidak steril di kalangan
waria ditenggarai menjadi faktor risiko untuk infeksi sifilis.
banyak waria yang menggunakan hormon silikon untuk mengubah penampilan
mereka di daerah pantat, paha, payudara, bibir maupun wajah.
7) Lama menjajakan seks komersial dengan menerima imbalan
g. Manifestasi klinis
1) Sifilis Primer
Kelainan kulit dimulai sebagai papul lentikular yang permukaannya segera
menjadi erosi, umumnya kemudian menjadi ulkus. Ulkus tersebut biasanya bulat,
soliter, dasarnya ialah jaringan granulasi berwarna merah dan bersih, di atasnya
hanya tampak serum. Dindingnya tak bergaung, kulit di sekitarnya tidak
menunjukkan tanda-tanda radang akut. Yang khas ialah ulkus tersebut indolen
dan teraba indurasi karena itu disebut ulkus durum.
2) Sifilis sekunder
banyak papul, pustul, dan krusta yang berkonfluensi sehingga mirip impetigo,
karena itu disebut sifilis impetiginosa. Dapat pula timbul berbagai ulkus yang
tertutupi krusta yang disebut ektima sifilitikum. Bila krustanya tebal disebut
rupia sifilitika.
3) Sifilis tersier
Lesi pertama umumnya terlihat antara tiga sampai sepuluh tahun seteah S I.
Kelainan yang khas ialah guma, yakni infiltrat sirkumskrip, kronis, biasanya
melunak, dan destruktif.

h. Diagnosis
1) Anamnesis
Anamnesis dilakukan dengan mewawancarai pasien dengan menanyakan keluhan dan
gejala pasien.
2) A
3) A
4)

i. Komplikasi
Penyakit kardiovaskular
Penyakit CNS
Glomerulonefritis membranosa
Paroxysmal cold hemoglobinema
Irreversible organ damage
Jarish-Herxheimer reaction
Aborsi spontan
Congenital sifilis
j. Tatalaksana
 Obat: Penisillin prokain
Penisilin kerja lama seperti penisilin G benzatin
 Evaluasi
 Semua pasien dengan sifilis kardiovaskular dan neurosifilis dipantau selama
beberapa tahun. Tindak lanjut yang dilaksanakan meliputi hasil penilaian
klinis penyakit, serologis, cairan serebrospinal, dan radiologis.
k. Pencegahan
A (Abstinensia), tidak melakukan hubungan seks sebelum nikah. Pengaruh seks secara
bebas dan berganti-ganti pasangan.
B (Be Faithful), bersikap saling setia dengan pasangan, jika sudah menikah hanya
berhubungan seks dengan pasangannya saja.
C (Condom), cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten.
D (Drug), tidak menggunakan narkoba/napza.
E (Education), pemberian informasi kepada kelompok yang memiliki resiko tinggi untuk
tertular sifilis dengan memberikan leaflet,brosur, dan stiker.
3. Bisul (furunkel)
a. Definisi
b. Etiologi
c. Patogenesis
d. Manifestasi klinis
4. Apa hubungan penyakit yang diderita pasien tersebut dengan riwayat hubungan
seksual?
Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sebelumnya telah terjangkit
Penyakit Menular Seksual jelas sangat berbahaya.. Sifilis adalah penyakit kelamin
menular yang disebabkan oleh bakteri Troponema Pallidum. Penularan melalui kontak
seksual, melalui kontak langsung dan kongenital sifilis (melalui ibu ke anak dalam
uterus). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa penyakit sifilis yang
merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui kontak seksual.33