Anda di halaman 1dari 20

PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API

DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

BAB KONDISI EKSISTING TAPAK


04 PERENCANAAN

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 1


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

4.1. KONDISI EKSISTING TAPAK PERENCANAAN DI MAROS

Lokasi tapak perencanaan Depo di Kabupaten Maros terletak Kelurahan


.....Kecamatan......, tepatnya berada di titik koordinat..........

Luas area tapak yang disediakan dan disiapkan untuk pembangunan Depo di
Maros ini adalah m2, yang didapatkan dari hasil studi perhitungan awal
mengenai kebutuhan luas bangunan sarana dan prasarana Depo yang
direncanakan secara keseluruhan, dengan berbasis pada hasil studi preseden
terhadap bangunan dan fasilitas sejenis yang telah ada dan beroperasi di
dalam negeri. Luas tersebut termasuk pula area untuk jalur rel untuk perawatan
maupun pengujian.

Dari hasil survey lapangan dengan metode Pengukuran Topografi,


Penyelidikan Tanah (soil investigation), serta penggalian data – data
pengukuran dan pengamatan dari beberapa pihak selaku pemangku
kepentingan yang terkait, maka dijabarkan beberapa kondisi eksisting dari area
tapak untuk rencana Depo di Maros sebagai berikut :

4.1.1. Kondisi Topografi dan Batas Delienasi Area Tapak

Untuk mengetahui kondisi perbedaan ketinggian naik turunnya level


permukaan tanah di dalam area tapak, telah dilakukan survey
pengukuran topografi yang sekaligus mengukur dan menandai batas –
batas delienasi area tapak secara lebih akurat.

Dalam pelaksanaan survey topografi di lokasi Depo di Maros, digunakan


peralatan sebagai berikut :

 1 unit Total Station Topcon GTS

 1 unit GPS Handheld Garmin 62S

 1 unit Laptop Intel Core 2 Duo

 1 Set Safety Equipment

Pelaksanaan survey dilakukan dengan melibatkan Tim Surveyor yang


terdiri dari :

 1 orang Koordinator Surveyor

 1 orang Tenaga Ahli Geodesi

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 2


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

 1 orang Surveyor

 2 orang Asisten Surveyor

a. Tahapan Pelaksanaan Survey

a.1. Mobilisasi Personil Alat dan Orientasi Lapangan

Orientasi lapangan dilakukan pertama kali pada saat tiba di


lokasi tapak, untuk mengetahui secara pasti perkiraan batas –
batas delienasi yang sesuai dengan koordinat yang ada dalam
gambar rencana batas tapak yang nantinya akan diukur dan
dipetakan di lapangan. Untuk Depo Maros ini, lahan yang
direncanakan kondisinya relatif cukup rata dan datar, tidak
berkontur yang ekstrem. Kondisi lahan tapak masih berupa
bekas sawah dan kebun ladang milik warga setempat.
Pelaksanaan orientasi lapangan dimaksudkan pula untuk
berkoordinasi dengan pejabat wilayah setempat, tokoh
masyarakat yang representatif serta warga pemilik lahan,
sebagai uoaya sosialisasi mengenai rencana jalur kereta api
Trans Sulawesi sekaligus rencana pembangunan Depo sebagai
sarana penunjang yang utama.

Proses orientasi juga dipandu oleh perwakilan Satker setempat


beserta petugas instansi wilayah kecamatan maupun kelurahan
di lokasi.
a.2. Pembuatan Bencmark dan Control Point

Tahap utama yang pertama kali dilakukan dalam survey


Topografi/hidrografi adalah membangun Titik Benchmark dan
Titik Kontrol (Control Point) yang selanjutnya digunakan sebagai
titik acuan dalam menetapkan posisi dari setiap titik kontrol
maupun titik pengukuran. Di seluruh lokasi survey dibangun
benchmark utama dan benchmark Sekunder, yang kemudian
posisi tepatnya ditetapkan dengan pengukuran GPS.

Titik kontrol horisontal adalah suatu titik kontrol yang digunakan


sebagai referensi (acuan) dalam penentuan posisi horisontal.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 3


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Agar sistem koordinat hasil pengukuran atau penentuan posisi


terikat dalam sistem koordinat nasional, maka harus dibuat titik-
titik kontrol horisontal dan diikatkan pada jaring kerangka
horisontal nasional.

Lokasi titik kontrol horisontal dinyatakan oleh suatu pilar titik


kontrol yang dilengkapi dengan deskripsinya. Pembuatan titik
kontrol di darat harus mengikuti spesifikasi titik kontrol horisontal
yang telah ditetapkan (SNI No. 19-6724-2002).

Spesifikasi Titik Kontrol (BM) (menurut standar Pilar GPS orde-3)


adalah:

• Ukuran BM adalah : (30 x 30 x 60) cm

• Ukuran sayap bawah : (40 x 40 x 15) cm

• Bagian yang muncul di permukaan tanah 20 cm dan bagian


yang ditanam 55 cm.

• Rangka BM dibuat dari besi begel diameter 9 mm dan ring-


rangka dari besi begel dengan diameter 6 mm.

• BM dicor di tempat dengan perbandingan adukan


semen:pasir:batu adalah 1:2:3.

• Di bagian atas tengah BM dipasang Brass-tablet yang


memuat tanda silang posisi horisontal dan nomor tugu
penjelasan kepemilikan.

• BM dicat warna biru atau warna lain yang cukup menyolok.

Penyebaran BM yang dibuat dan dipasang seperti direncanakan


pada peta harus relatif cukup memenuhi syarat untuk :

• Geometri jaringan yang cukup bagus,


• Diletakkan pada lokasi yang mudah terjangkau, aman,
memenuhi syarat open space untuk pengamatan GPS.
• Diletakkan pada lokasi yang cukup jelas seperti
dipersimpangan jalan, dekat dengan jembatan, bangunan
kantor instansi, dsb.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 4


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

• Penempatan titik referensi juga dilakukan seoptimal mungkin


dekat dengan lokasi pengamatan pasang surut agar mudah
dalam kontrol vertikal (leveling).
• Pembuatan dan pemasangan BM yang direncanakan
berjumlah 1 buah BM dengan disain rencana penyebaran
BM tersebut berdasarkan informasi data sekunder yang ada
dan kenampakan secara geografis.

Dalam pekerjaan survey Depo ini dilakukan pembuatan


benchmark sebanyak 3 buah disertai dengan opsi dapat
ditambahkan satu buah Control Point. Lokasi pembuatan
Benchmark ditempatkan pada lokasi yang dianggap aman dari
berbagai gangguan seperti misalnya pembangunan lahan atau
pelebaran jalan. Benchmark yang dibangun berada pada lokasi
survey dimana telah mendapat persetujuan dari instansi
setempat. Dimensi benchmark yang dibuat sesuai dengan
kerangka kerja adalah 40x40x150 cm3 kemudian dibenamkan
sedalam 100 cm dibawah permukaan tanah.

Gambar 4.1. Detil Struktur Tugu Benchmark (BM) untuk di Lokasi Perencanaan

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 5


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 4.2. Desain Pembuatan Benchmark (BM) untuk di Lokasi Perencanaan

Gambar 4.3. Desain Pembuatan Patok Control Point untuk di Lokasi Perencanaan

Gambar 4.4. Salah satu patok BM di lokasi Tapak Depo Maros

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 6


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

a.3. Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal (KDH) dengan GPS

Pengukuran KDH dimaksudkan untuk mendapatkan posisi dari


setiap BM atau titik poligon dengan mengacu kepada titik-titik
BM baru yang telah dipasang yang dijadikan sebagai titik
referensi dimana posisi dari BM01, BM02 dan BM03 yang
diperoleh dari pengukuran GPS yang menggunakan datum
horisontal WGS 84. Tahapan pelaksanaan pengukuran KDH :

1) Tahapan Pelaksanaan Survey GPS

Proses pelaksanaan suatu survey GPS secara umum akan


meliputi tahapan seperti yang digambarkan secara
diagramatik pada gambar alur proses pelaksanaan berikut ini.

PERSIAPAN

PERENCANAAN
JARINGAN

PENENTUAN &
IDENTIFIKASI LOKASI

PENGUKURAN GPS

PENGOLAHAN DATA

EVALUASI AKURASI
POSISI

TITIK
KONTROL
HORISONTAL
(BM) Titik Kontrol Horisontal Dengan GPS
Gambar 4.5. Tahapan Pengukuran

a) Persiapan Pelaksanaan Survey GPS

Secara singkat, persiapan untuk pengukuran berbasis GPS


dapat dijelaskan sebagai berikut :

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 7


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

 Alat dan Prosedur pengukuran yang akan digunakan


harus dicheck terlebih dahulu dan dicatat sehingga :

 Kesalahan centring tidak melebihi ± 2 mm, kesalahan


centring ini meliputi GPS phase center offset dan
kesalahan centring optis sendiri.

 Prosedur Lapangan dan Pemrosesan data telah


dibuat dan pernah dicoba dilapangan oleh
pelaksanaan lapangan dan dibuktikan dengan hasil
pemrosesan terhadap suatu jaringan baseline
tertutup, untuk melihat salah penutup jaringan yang
dibuat.

 Seluruh pengamatan menggunakan receiver GPS


minimal 2 buah.

 Kemampuan antene disesuaikan dengan kemampuan


receiver. Kabel antene tidak akan diperpanjang melebihi
panjang standar pabrik.

 Antene-antene untuk pengamatan titik diorentasikan


kearah yang sama.

 Pada lokasi dimana pemantulan sinyal GPS mudah


terjadi (seperti di pantai, danau tebing, bangunan
bertingkat) antene dilengkapi dengan ground plane untuk
mereduksi pengaruh dari multipath.

 Komponen-komponen dari receiver (antene, kabel


ditambah peralatan lainnya) berasal dari merk dan jenis
yang sama, dan menggunakan centring optis.

 Untuk proses pengolahan data basaline dan peralatan


jaring digunakan peralatan komputer, printer dan
peralatan pendukung lainnya.

 Peralatan thermometer, barometer, hygrometer


dinometer disiapkan untuk masing-masing receiver.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 8


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

 Alat radio komunikasi yang digunakan mempunyai


kemampuan jangkauan yang lebih panjang dari baseline
terpanjang.

 Peralatan lainnya seperti generator, battery charge dan


alat clearing (gergaji dsb), dipersiapkan dalam tim.

Perangkat yang digunakan adalah :

 Theodolite atau T2 (untuk kondisi dan metode yang


lebih mutakhir saat ini, dapat digunakan Total Station
yang langsung dapat diperoleh titik koordinat
GPSnya)

 Electric Distance Meter (EDM)

 Statif

 Meteran

b) Pelaksanaan Pengukuran

Pengukuran kerangka dasar horisontal (KDH) dilakukan


dengan menggunakan metode pengukuran poligon dengan
menggunakan T-2. Metode poligon yang digunakan yaitu
metode poligon terikat. Pada metode ini awal dan akhir
pengukuran terikat pada BM yang sudah diketahui
koordinatnya sehingga untuk arah awal pengukuran bisa
menggunakan nilai sembarang dan nantinya arah awal
tersebut akan dikoreksi dengan sendirinya melalui proses
iterasi pada pengolahan datanya.

Pengukuran kerangka dasar horizontal dimulai dari BM01


backset ke CP01, frontset ke P1. Kemudian dari P1 backset
ke BM01 frontset ke BM02, selanjutnya maju ke BM02
begitu seterusnya dan berakhir di CP01 backset ke P5
frontset ke BM01. Sehingga terbentuk loop kerangka dasar
horizontal.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 9


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

c) Perhitungan Azimut

Perhitungan azimut dilakukan berdasarkan dua titik


koordinat BM dan CP. Pengamatan posisi BM dilakukan
dengan pengamatan static GPS di dua titik secara
bersamaan. Dimana salah satunya berperan sebagai base
dan ditempatkan di Benchmark acuan.

d) Pengukuran Situasi

Selanjutnya dilaksanakan pengukuran peta situasi dengan


menggunakan peralatan T-2. Pengukuran situasi
dilaksanakan dari suatu titik kontrol, sebagai titik ikat. Dari
titik kontrol dilakukan pengukuran terhadap titik-titik kontrol
sekunder. Pengukuran yang dilakukan adalah lingkaran
datar, lingkaran tegak, benang atas, benang tengah dan
benang bawah pada rambu. Posisi titik kontrol sekunder
ditetapkan berdasarkan jarak dan sudut ukur, dimana jarak
antara titik kontrol dan titik sekundernya ditetapkan
berdasarkan hasil pembacaan benang atas, tengah dan
bawah. Sedang beda tinggi antara titik kontrol dengan titik
sekunder ditetapkan berdasarkan pembacaan lingkaran
tegak.

b. Pemetaaan Koordinat Detil Kondisi Eksisting Tapak

Dengan menggunakan alat Total Station dan Handled GPS, dilakukan


“penembakan” ke setiap detil kondisi eksisting tapak yang ada, untuk
mendapatkan data koordinat dari masing-masing detil eksisting
tersebut.

Detil eksisting yang dimaksud meliputi :

a. Pagar atau penanda permanen batas area tapak, baik di sisi kiri,
kanan maupun belakang tapak, serta pagar depan yang dekat
dengan jalan di depan lokasi Depo
b. Bangunan-bangunan Eksisting
c. Tiang Listrik, PJU, Telepon maupun tiang billboard reklame
d. Jalan beserta pembatasnya
PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 10
PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

e. Saluran drainase ataupun sungai


f. Pohon-pohon besar tertentu

Gambar 4.6. Proses Pemetaan Detil Eksisting Site Maros dengan Total Station

4.1.2. Kondisi Geoteknik Lapisan Struktur Tanah di Dalam Area Tapak

Kondisi lapisan struktur tanah yang terdapat di dalam area tapak


perencanaan khususnya di lokasi Depo Maros hanya dapat diketahui
dengan melakukan penyelidikan tanah dengan metode Sondir maupun
Boring. Masing-masing untuk lokasi Depo dilakukan Sondir sebanyak 15
titik dan 1 titik Bor Dalam.

Berikut pelaksanaan penyelidikan tanah (soil investigation) yang telah


dilakukan di lokasi Depo Maros :

a.1. Penyelidikan di lapangan (insitu testing)


a.1.1. Sondir (Cone Penetration Test/CPT)

Test sondir dilakukan dengan menggunakan alat


sondir ringan kapasitas 2,50 ton yang dilengkapi dengan
“adhesion jacket cone” type Begemann yang lazim disebut
dengan bikonus, yaitu konus yang dapat mengukur nilai
perlawanan ujung konus (cone resistance) dan hambatan
lekat setempat (local friction) secara langsung di lapangan.

Penyondiran ini dilakukan hingga mencapai lapisan

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 11


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

tanah keras/hard layer, dimana nilai perlawanan ujung

konus (qc) telah mencapai ≥ 250 kg/cm2 atau telah


mencapai Jumlah Hambatan Pelekat (JHP) atau Total
Friction (TF) sebesar kurang lebih 2,50 ton (kapasitas
alat) mana yang tercapai terlebih dahulu, dengan
kedalaman penetrasi maksimum kurang lebih 30 m.

Hasil penyondiran disajikan dalam bentuk diagram sondir


yang memperlihatkan hubungan antara kedalaman sondir
(di bawah permukaan tanah) sebagai ordinat, dan muka
tanah dan besarnya nilai perlawanan konus (qc) serta
jumlah hambatan pelekat (TF) sebagai absisnya.

Peralatan sondir yang biasa digunakan dilapangan adalah


sebagai berikut :

• Alat sondir ringan kapasitas 2,5 ton.

• Pipa-pipa sondir yang didalamnya terdapat


batang/stang padat (inner rod). Pipa-pipa sondir
tersebut merupakan stang luar (outer rod) yang
sekaligus berfungsi sebagai casing. Stang dalam
dan stang luar merupakan satu kesatuan berupa
stang sondir yang masing-masing mempunyai
panjang 1 m.

• Manometer yang berjumlah dua buah masing -


masing dengan kapasitas 0 – 50 kg/cm2 dan 0 –
250 kg/cm2.

• Bikonus type Bagemann.

• Angkur tanah berjumlah empat buah.

• Kunci – kunci pipa dan alat kecil lainnya (tools).

Prosedur standard pelaksanaan sondir di lapangan


mengikuti Standard ASTM (American Standard for Testing

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 12


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Material) dengan urutan kerja sebagai berikut :

 Keempat angker dimasukkan kedalam tanah


dengan cara ditekan kedalam tanah sambil diputar
searah jarum jam.

 Lokasi titik keempat angkur pada posisi sudut


bujur sangkar ukuran kurang lebih 1 m.

 Alat sondir diletakkan ditengah keempat angkur


dalam posisi vertikal tegak lurus terhadap
permukaan tanah ditempat yang akan ditest.

 Minyak hidrolik diisi kedalam tabungnya secara


hati-hati sehingga terbebas dari gelembung udara.

 Bikonus dipasang pada ujung pipa sondir yang


pertama, kemudian pipa tersebut dipasang pada
alat sondir.

 Pipa sondir ditekan dengan alat sondir dengan


cara memutar handle searah jarum jam untuk
memasukkan bikonus sedalam 20 cm kedalam
tanah.

 Stang dalam ditekan dengan menggunakan piston


dengan cara yang sama yaitu memutar handle.
Pada penetrasi pertama 0 – 4 cm terbaca
perlawanan ujung konus terhadap tanah pada
manometer yang tersedia. Pada penetrasi kedua
4 – 8 cm terbaca perlawanan ujung konus dan
hambatan lekat pada manometer. Nilai-nilai
tekanan tersebut dibaca pada manometer dan
dicatat dalam formulir yang tersedia.

 Penekanan pipa dilanjutkan pada kedalaman 20


cm berikutnya untuk memulai pembacaan tekanan
pada manometer seperti sebelumnya.

 Pelaksanaan sondir terus dilakukan hingga

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 13


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

mencapai lapisan tanah keras dengan

pembacaan tahanan ujung sebesar 250 kg/cm2


atau telah sampai kapasitas alat dengan total

friction 2000 kg/cm2, mana yang lebih dahulu


tercapai dengan maksimum kedalaman kurang
lebih 30 m.

Jumlah Hambatan Pelekat (JHP) dihitung dengan formula


sebagai berikut :

i A
JHP = ∑ [( C + F ) – C ] x ---
0 B

Dimana :
A = Interval kedalaman penetrasi yang diukur = 20 cm.
B = Luas Friction Jacket dibagi luas piston.
C = Tahanan ujung konus (kg/cm2).
C+F = Tahanan ujung konus dan hambatan pelekat
(kg/cm2).

Hasil akhir berupa grafik sondir .

a.1.2. Boring Dalam (deep boring)

Deep boring dilaksanakan dengan mempergunakan mesin


bor hydraulic merek Tone type UD 5 sedalam 30.00 m.
Pemboran dilaksanakan dengan sistem rotary drilling.
Tabung inti (core barrel) yang dipergunakan adalah single
core barrel Ø 73 mm, panjang 1.50 m.

Bit yang dipergunakan adalah tungsten carbide bit untuk


mengangkut serbuk bor (sirkulasi) selama pemboran,
dipergunakan Pompa merek Nash II, dengan kapasitas 80
liter/menit atau tekanan maksimum 10 kg/cm2.

Dalam pekerjaan Deep Boring ini dilaksanakan pula


sampling (pengambilan sample tanah) dan pekerjaan
Standard Penetration Test.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 14


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

a.1.3. Pengambilan contoh tanah

Meliputi pengambilan contoh tanah asli (undisturbed


sample) dan contoh tanah terganggu (disturbed sample).

Pengambilan contoh tanah asli dilaksanakan dengan


mempergunakan thinwall tube Ø 65 mm pada setiap
interval 2.00 m.

Pengambilan contoh tanah asli ini dimaksudkan untuk


menjalani penyelidikan laboratoris guna penentuan sifat -
sifat pengenal maupun sifat – sifat teknis dari tanah.

Pengambilan contoh tanah terganggu (disturbed Sample)


dilaksanakan sepanjang kedalaman pemboran dan
dimaksudkan untuk penentuan klasifikasi tanah.

Hasilnya disajikan didalam bentuk log bor terlampir.

a.1.4. Standard Penetration Test (SPT)

Standard Penetration Test dilaksanakan didalam lubang


bor setelah pengambilan undisturbed sample pada setiap
interval 2.00 m.

Pengujian penetrasi standard ini dilaksanakan pada tanah


dalam keadaan asli dengan mempergunakan open
standard split barrel sampler. Hammer yang dipergunakan
mempunyai berat 63.50 kg dengan tinggi jatuh 75 cm.

Pengujian dilaksanakan dengan mempergunakan


automatic drop Hammer Device sehingga hammer dapat
jatuh dengan bebas tanpa gesekan.

Sampler dipukul hingga masuk ( menembus ) tanah


sedalam 45 cm, dimana jumlah pukulan sepanjang masuk
15 cm pertama tidak diperhitungkan hanya untuk
memantapkan posisi spoon sampler.

Nilai SPT = N adalah sama dengan jumlah pukulan


untuk penetrasi 30 cm berikutnya.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 15


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Hasil SPT ini disajikan dalam bentuk diagram pada


boring log terlampir.

a.1.5. Pengukuran Muka Air Tanah

Pengukuran muka air tanah dilaksanakan didalam


lubang bor setelah 24 jam pemboran selesai
dilaksanakan. Hasil pengukuran MAT dapat dilihat pada
boring log terlampir, namun yang perlu dipahami bahwa
MAT tersebut tidak dapat dipastikan (belum tentu)
merupakan MAT sesungguhnya.

a.1.6. Penelitian di laboratorium (laboratory testing)

Penelitian dilaboratorium dilaksanakan berdasarkan ASTM


(American Standard for Testing Materials) Methode.

Contoh tanah asli ( Undisturbed Sample ) yang diperoleh


sebagai hasil pemboran telah diteliti dilaboratorium untuk
mendapatkan parameter-parameter dari Index dan
Engineering Properties.

Test-test laboratorium yang telah dilaksanakan terdiri dari :

1) Sifat-sifat Pengenal ( Index Properties )

- Berat jenis butir / Specific Gravity (Gs)

- Berat Isi / Unit weigth volume ( δ m)

- Kadar air asli / Natural Water Content (Wn)

- Kadar pori / Void Ratio ( e)

- Porositas / Porocity ( n)

- Derajat kejenuhan / Degree of Saturation (Sr)

- Gradasi : melalui analisa tapis (sieve) dan analisa


Hydrometer

- Konsistensi : - Batas Cair / Liquid Limit (Wl)

- Batas Plastis / Plasticity Limit (Wp)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 16


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

2) Sifat - sifat Teknis ( Engineering Properties )

- Direct Shear Test

- Triaxial Compression Test

- Consolidation Test

Parameter
Konsistensi
konsistensi
No Kedalaman Jenis tanah / Kepadatan
Warna N-SPT Keterangan
lapisan (m) (Prediksi) relatif qc
(prediksi/
(kg/cm²)
korelasi)
LEMPUNG 6 – 12 3–6
Soft to
kelanauan atau Atau rata- Atau rata- Diprediksi mrp
1 0.00 - 3.00 - Medium
LANAU rata rata tanah Urugan
stiff
Kelempungan 8 4

LEMPUNG 15 – 30 8 – 15 atau
kelanauan atau atau rata- rata Diprediksi mrp
2 3.00 - 5.00 - Stiff
LANAU rata-rata 12 tanah asli
Kelempungan 22

LANAU
kepasiran
Diprediksi mrp
atau
Very stiff to tanah “lensa”
3 5.00 - 9.00 LEMPUNG - 60-120 25 - 40
Hard Very stiff to
kelanauan
Hard
sedikit
kepasiran
LEMPUNG
Kelanauan atau 25 – 35 12 – 17
LANAU Stiff – Very Atau rata- Atau rata- Diprediksi mrp
4 9.00 - 17.00 -
kelempungan stiff rata rata tanah asli
sedikit pasiran 30 15

Lanau/Lemp Diprediksi
5 17.00 – - Hard 50 - 80 30 -
ung kepasiran tanah keras
25.00

Diprediksi
Lanau/Lemp
6 ≥ 25.00 - Very Hard 80 - 150 ≥ 40 tanah sangat
ung kepasiran
keras

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 17


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 4.7. Dokumentasi Proses Pelaksanaan Test Sondir di lokasi Depo Maros

Gambar 4.8. Dokumentasi Proses Test Sondir Titik 5 di Lokasi Depo Maros

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 18


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Gambar 4.9. Dokumentasi Proses Test Sondir di Titik 7 di Lokasi Depo Maros

4.1.3. Kondisi Hidrologi di Area Tapak

Keadaan hidrologi wilayah Kabupaten Maros dibedakan menurut jenisnya


adalah air permukaan (sungai, rawa dan sebagainya) dan air dibawah
permukaan (air tanah). Air dibawah permukaan yang merupakan air tanah
merupakan sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari masyarakat,
sumur dangkal dapat diperoleh dengan tingkat kedalaman rata-rata 10
sampai 15 meter, sedangkan sumur dalam yang diperoleh melalui
pengeboran dengan kedalaman antara 75-100 meter.

Sumber air permukaan di wilayah Kabupaten Maros berupa beberapa


sungai yang tersebar di beberapa kecamatan, yang dimanfaatkan untuk
keperluan rumah tangga dan kegiatan pertanian. Sungai tersebut yakni
sungai Anak Sungai Maros, Parangpakku, Marusu, Pute, Borongkalu, Batu
Pute, Matturungeng, Marana, Campaya, Patunuengasue, Bontotanga dan
Tanralili. Jenis air ini sebagian di pergunakan untuk pertanian.

Khusus untuk lokasi site Depo KA di Maros, terletak dekat sungai .........
Pada saat musim hujan ketinggian permukaan air sungai dapat mencapai
level .... dari permukaan level jalan ......... yang merupakan akses masuk
menuju lokasi site Depo KA Maros.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 19


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

4.1.4. Kondisi Curah Hujan dan Peil Banjir di Area Tapak

Kabupaten Maros termasuk daerah yang beriklim tropis, karena letaknya


yang berada pada daerah khatulistiwa dengan kelembaban berkisar antara
60 – 82 % . Curah hujan tahunan rata – rata 347 mm/bulan dengan rata-
rata hari hujan sekitar 16 hari. Temperatur udara rata – rata 29 derajat
celsius. Kecepatan angin rata – rata 2 – 3 knot/ jam. Daerah Kabupaten
Maros pada dasarnya beriklim tropis dengan dua musim, berdasarkan
curah hujan yakni :

1. Musim hujan pada periode bulan Oktober sampai Maret

2. Musim kemarau pada bulan April sampai September

Menurut Oldement , tipe iklim di Kabupaten Maros adalah tipe C2 yaitu


bulan basah (200 mm) selama 2 – 3 bulan ber turut-turut.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA IV - 20