Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein,
penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi
dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia).
Insidens lebih tinggi pada laki-laki dari pada perempuan. Mortalitas dan prognosis
anak dengan sindrom nefrotik bervariasi berdasarkan etiologi, berat, luas kerusakan ginjal,
usia anak, kondisi yang mendasari, dan responnya trerhadap pengobatan. Sindrom nefrotik
jarang menyerang anak dibawah usia 1 tahun. Sindrom nefrotik perubahan minimal ( SNPM )
menacakup 60 – 90 % dari semua kasus sindrom nefrotik pada anak. Angka mortalitas dari
SNPM telah menurun dari 50 % menjadi 5 % dengan majunya terapi dan pemberian steroid.
Bayi dengan sindrom nefrotik tipe finlandia adalah calon untuk nefrektomi bilateral dan
transplantasi ginjal.
Berdasarkan hasil penelitian univariat terhadap 46 pasien, didapatkan insiden
terbanyak sindrom nefrotik berada pada kelompok umur 2 – 6 tahun sebanyak 25 pasien
(54,3%), dan terbanyak pada laki-laki dengan jumlah 29 pasien dengan rasio 1,71 : 1. Insiden
sindrom nefrotik pada anak di Hongkong dilaporkan 2 - 4 kasus per 100.000 anak per tahun (
Chiu and Yap, 2005 ). Insiden sindrom nefrotik pada anak dalam kepustakaan di Amerika
Serikat dan Inggris adalah 2 - 4 kasus baru per 100.000 anak per tahun. Di negara
berkembang, insidennya lebih tinggi. Dilaporkan, insiden sindrom nefrotik pada anak di
Indonesia adalah 6 kasus per 100.000 anak per tahun. (Tika Putri, http://one.indoskripsi.com
).Dengan adanya insiden ini, diharapkan perawat lebih mengenali tentang penyakit nefrotik
dan mengaplikasikan rencana keperawatan terhadap pasien nefrotik.

II. Rumusan Masalah


1. Bagaimana tinjauan pustaka pada penyakit Sindrom Nefrotik?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada penyakit Sindrom Nefrotik?

III.Tujuan Masalah
1. Mengetahui tinjauan pustaka pada penyakit Sindrom Nefrotik
2. Mengetahui asuhan keperawatan pada penyakit Sindrom Nefrotik
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP
I. Pengertian

Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan klinis, meliputi hal-hal:
Proteinuria massif >3,5 gr/hr, Hipoalbuminemia, Edema, Hiperlipidemia. Manifestasi dari
keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran kapiler glomelurus dan
menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus. (Muttaqin,2011).
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein,
penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi
dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinis yang ditandai dengan proteinuria,
hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolmia. (Baughman, 2000).

II. Anatomi dan Fisiologi

Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal
dengan panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan vertebra. Pada umumnya, ginjal
kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan lebih dekat ke garis tengah
tubuh. Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal
setinggi batas bawah vertebra lumbalis III.
Parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri atas piramid-piramid
yang berjumlah kira-kira 8-18 buah, rata-rata 12 buah. Tiap-tiap piramid dipisahkan oleh
kolumna bertini. Dasar piramid ini ditutup oleh korteks, sedang puncaknya (papilla
marginalis) menonjol ke dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks
mayor yang berjumlah 2 atau 3 ditiap ginjal. Kaliks mayor/minor ini bersatu menjadi pelvis
renalis dan di pelvis renalis inilah keluar ureter.
Korteks sendiri terdiri atas glomeruli dan tubuli, sedangkan pada medula hanya
terdapat tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk Nefron. Satu unit nefron terdiri
dari glomerolus, tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal (kadang-kadang dimasukkan
pula duktus koligentes). Tiap ginjal mempunyai lebih kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula
lebih kurang 1,5-2 juta glomeruli.
Ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat penting melalui
ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi
oleh sirkulasi ginjal yang mendapat darah 20% dari seluruh cardiac output.
1. Faal glomerolus
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke
tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra
kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh
disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas
pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh
anak.
2. Tubulus
Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-
zat yang ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus.
a) Tubulus Proksimal
Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan
reabsorbsi yaitu ± 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat yang
direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi sempurna.
Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic ion (citrat,
malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan basa organik.
b) Loop of henle
Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending
thick limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik.
c) Tubulus distalis
Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara
reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hidrogen.
d) Duktus koligentis
Mereabsorbsi dan menyekresi kalium. Ekskresi aktif kalium dilakukan pada
duktus koligen kortikal dan dikendalikan oleh aldosteron.
III. Etiologi

Penyebab nefrotik sindrom dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut.

1. Primer, berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal, seperti berikut ini:


a. Glomerulonefritis
b. Nefrotik sindrom perubahan minimal
2. Sekunder, akibat infeksi, penggunaan obat, dan penyakitsistemik lain, seperti
berikut ini:
a. Dibetes militus
b. Sistema lupus eritematosus
c. Amyloidosis

IV. Patofisiologi

Glomeruli adalah bagian dari ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah. Pada
nefrotik sindrom, glomeruli mengalami kerusakan sehingga terjadi perubahan permeabilitas
karena inflamasi dan hialinisasi sehingga hilangnya plasma protein, terutama albumin ke
dalam urine. Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin, namun organ ini tidak
mampu untuk terus mempertahankannya. Jika albumin terus menerus hilang maka akan
terjadi hipoalbuminemia.
Hilangnya protein menyebabkan penurunan tekanan onkotik yang menyebabkan
edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler ke dalam ruang cairan
ekstraseluler. Penurunan volume cairan vaskuler menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang
mengakibatkan disekresinya hormon anti diuretik (ADH) dan aldosteron menyebabkan
reabsorbsi natrium (Na) dan air sehingga mengalami peningkatan dan akhirnya menambah
volume intravaskuler.
Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis LDL ( Low Density
Lipoprotein) dalam hati dan peningkatan kosentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).
Adanya hiperlipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipoprotein dalam hati yang
timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak dalam urin (
lipiduria ). (Toto Suharyanto, 2009).
Menurunya respon immun karena sel immun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh
karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng. Penyebab mencakup
glomerulosklerosis interkapiler, amiloidosis ginjal, penyakit lupus erythematosus sistemik,
dan trombosis vena renal

V. Pathway (terlampiran)

VI. Kalsifikasi

Whaley dan Wong (1999 : 1385) membagi tipe-tipe sindrom nefrotik:


1. Sindrom Nefrotik Lesi Minimal ( MCNS : minimal change nephrotic syndrome)
Kondisi yang sering menyebabkan sindrom nefrotik pada anak usia sekolah.
Anak dengan sindrom nefrotik ini, pada biopsi ginjalnya terlihat hampir normal bila
dilihat dengan mikroskop cahaya.
2. Sindrom Nefrotik Sekunder
Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler seperti lupus eritematosus
sistemik, purpura anafilaktik, glomerulonefritis, infeksi system endokarditis,
bakterialis dan neoplasma limfoproliferatif.
3. Sindrom Nefrotik Kongenital
Faktor herediter sindrom nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal. Bayi
yang terkena sindrom nefrotik, usia gestasinya pendek dan gejala awalnya adalah
edema dan proteinuria.
4. Sindrom Nefrotik menurut terjadinya
a. Sindrom Nefrotik Kongenital
Pertama kali dilaporkan di Finlandia, sehingga disebut juga SN tipe
Finlandia. Kelainan ini diturunkan melalui gen resesif. Biasanya anak lahir
premature (90%), plasenta besar (beratnya kira-kira 40% dari berat badan). Gejala
asfiksia dijumpai pada 75% kasus. Gejala pertama berupa edema, asites, biasanya
tampak pada waktu lahir atau dalam minggu pertama. Pada pemeriksaan
laboratorium dijumpai hipoproteinemia, proteinuria massif dan
hipercolestrolemia.
b. Sindrom Nefrotik yang didapat:
Termasuk disini sindrom nefrotik primer yang idiopatik dan sekunder.
VII. Manifestasi Klinis
1. Tanda paling umum adalah peningkatan cairan di dalam tubuh, diantaranya adalah:
a. Edema periorbital, yang tampak pada pagi hari.
b. Pitting, yaitu edema (penumpukan cairan) pada kaki bagian atas.
c. Penumpukan cairan pada rongga pleura yang menyebabkan efusi pleura.
d. Penumpukan cairan pada rongga peritoneal yang menyebabkan asites.
2. Hipertensi (jarang terjadi), karena penurunan voulume intravaskuler yang
mengakibatkan menurunnya tekanan perfusi renal yang mengaktifkan sistem renin
angiotensin yang akan meningkatkan konstriksi pembuluh darah.
3. Beberapa pasien mungkin mengalami dimana urin berbusa, akibat penumpukan
tekanan permukaan akibat proteinuria.
4. Hematuri
5. Oliguri (tidak umum terjadi pada nefrotik sindrom), terjadi karena penurunan volume
cairan vaskuler yang menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang mengakibatkan
disekresinya hormon anti diuretik (ADH)
6. Malaise
7. Sakit kepala
8. Mual, anoreksia
9. Irritabilitas
10. Keletihan

VIII. Komplikasi
1. Trombosis vena, akibat kehilangan anti-thrombin 3, yang berfungsi untuk mencegah
terjadinya trombosis vena ini sering terjadi pada vena renalis. Tindakan yang dilakukan
untuk mengatasinya adalah dengan pemberian heparin.
2. Infeksi (seperti haemophilus influenzae and streptococcus pneumonia), akibat kehilangan
immunoglobulin.
3. Gagal ginjal akut akibat hipovolemia. Disamping terjadinya penumpukan cairan di dalam
jaringan, terjadi juga kehilangan cairan di dalam intravaskuler.
4. Edema pulmonal, akibat kebocoran cairan, kadang-kadang masuk kedalam paru-paru
yang menyebabkan hipoksia dan dispnea.
IX. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan sampel urin
Pemeriksaan sampel urin menunjukkan adanya proteinuri (adanya protein di
dalam urin).
b. Pemeriksaan darah
 Hipoalbuminemia dimana kadar albumin kurang dari 30 gram/liter.
 Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol darah meningkat), khususnya
peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), yang secara umum bersamaan
dengan peningkatan VLDL.
 Pemeriksaan elektrolit, ureum dan kreatinin, yang berguna untuk mengetahui
fungsi ginjal
2. Pemeriksaan lain
Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan apabila penyebabnya belum diketahui secara
jelas, yaitu:
a. Biopsi ginjal (jarang dilakukan pada anak-anak ).
b. Pemeriksaan penanda Auto-immune (ANA, ASOT, C3, cryoglobulins, serum
electrophoresis).

X. Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut dan menurunkan
risiko komplikasi.
1. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan sindroma nefrotik hanya bersifat simptomatik, untuk mengurangi atau
menghilangkan proteinuria dan memperbaiki keadaan hipoalbuminemia, mencegah
dan mengatasi komplikasinya, yaitu:
a. Istirahat sampai edema tinggal sedikit. Batasi asupan natrium sampai kurang lebih
1 gram/hari secara praktis dengan menggunakan garam secukupnya dan
menghindari makanan yang diasinkan. Diet protein 2-3 gram/kgBB/hari.
b. Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam, dapat digunakan diuretik,
biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari. Bergantung pada beratnya edema dan respon
pengobatan. Bila edema refrakter, dapat digunakan hididroklortiazid (25-50
mg/hari) selama pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemi,
alkalosis metabolik dan kehilangan cairan intravaskuler berat.
c. Dengan antibiotik bila ada infeksi harus diperiksa kemungkinan adanya TBC
d. Diuretikum
Boleh diberikan diuretic jenis saluretik seperti hidroklorotiasid, klortahidon,
furosemid atau asam ektarinat. Dapat juga diberikan antagonis aldosteron seperti
spironolakton (alkadon) atau kombinasi saluretik dan antagonis aldosteron.
e. Kortikosteroid
International Cooperative Study of Kidney Disease in Children (ISKDC)
mengajukan cara pengobatan sebagai berikut :
 Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60 mg/hari/luas
permukaan badan (lpb) dengan maksimum 80 mg/hari.
 Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari dengan dosis
40 mg/hari/lpb, setiap 3 hari dalam satu minggu dengan dosis maksimum 60
mg/hari. Bila terdapat respons, maka pengobatan ini dilanjutkan secara
intermitten selama 4 minggu.
 Tapering-off: prednison berangsur-angsur diturunkan, tiap minggu: 30 mg, 20
mg, 10 mg sampai akhirnya dihentikan.
f. Lain-lain
Pungsi asites, pungsi hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital. Bila ada gagal
jantung, diberikan digitalis. (Behrman, 2000)
g. Diet
Diet rendah garam (0,5 – 1 gr sehari) membantu menghilangkan edema.
Minum tidak perlu dibatasi karena akan mengganggu fungsi ginjal kecuali bila
terdapat hiponatremia. Diet tinggi protein teutama protein dengan ilai biologik
tinggi untuk mengimbangi pengeluaran protein melalui urine, jumlah kalori harus
diberikan cukup banyak.
Pada beberapa unit masukan cairan dikurangi menjadi 900 sampai 1200 ml/
hari dan masukan natrium dibatasi menjadi 2 gram/ hari. Jika telah terjadi diuresis
dan edema menghilang, pembatasan ini dapat dihilangkan. Usahakan masukan
protein yang seimbang dalam usaha memperkecil keseimbangan negatif nitrogen
yang persisten dan kehabisan jaringan yang timbul akibat kehilangan protein. Diit
harus mengandung 2-3 gram protein/ kg berat badan/ hari. Anak yang mengalami
anoreksia akan memerlukan bujukan untuk menjamin masukan yang adekuat.
Makanan yang mengandung protein tinggi sebanyak 3 – 4 gram/kgBB/hari,
dengan garam minimal bila edema masih berat. Bila edema berkurang dapat diberi
garam sedikit. Diet rendah natrium tinggi protein. Masukan protein ditingkatkan
untuk menggantikan protein di tubuh. Jika edema berat, pasien diberikan diet
rendah natrium.
h. Kemoterapi
Prednisolon digunakan secra luas. Merupakan kortokisteroid yang mempunyai
efek samping minimal. Dosis dikurangi setiap 10 hari hingga dosis pemeliharaan
sebesar 5 mg diberikan dua kali sehari. Diuresis umumnya sering terjadi dengan
cepat dan obat dihentikan setelah 6-10 minggu. Jika obat dilanjutkan atau
diperpanjang, efek samping dapat terjadi meliputi terhentinya pertumbuhan,
osteoporosis, ulkus peptikum, diabeters mellitus, konvulsi dan hipertensi.j
Jika terjadi resisten steroid dapat diterapi dengan diuretika untuk mengangkat
cairan berlebihan, misalnya obat-abatan spironolakton dan sitotoksik (
imunosupresif ). Pemilihan obat-obatan ini didasarkan pada dugaan imunologis
dari keadaan penyakit. Ini termasuk obat-obatan seperti 6-merkaptopurin dan
siklofosfamid.

2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Tirah baring
Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama beberapa hari mungkin
diperlukan untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi edema. Baringkan pasien
setengah duduk, karena adanya cairan di rongga thoraks akan menyebabkan sesak
nafas. Berikan alas bantal pada kedua kakinya sampai pada tumit (bantal diletakkan
memanjang, karena jika bantal melintang maka ujung kaki akan lebih rendah dan
akan menyebabkan edema hebat).
b. Terapi cairan
Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan output diukur secara cermat
da dicatat. Cairan diberikan untuk mengatasi kehilangan cairan dan berat badan
harian.
c. Perawatan kulit
Edema masif merupakan masalah dalam perawatan kulit. Trauma terhadap
kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering, plester atau verban harus dikurangi
sampai minimum. Kantong urin dan plester harus diangkat dengan lembut,
menggunakan pelarut dan bukan dengan cara mengelupaskan. Daerah popok harus
dijaga tetap bersih dan kering dan scrotum harus disokong dengan popok yang tidak
menimbulkan kontriksi, hindarkan menggosok kulit.
d. Perawatan mata
Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema kelopak mata dan untuk
mencegah alis mata yang melekat, mereka harus diswab dengan air hangat.
e. Penatalaksanaan krisis hipovolemik
Anak akan mengeluh nyeri abdomen dan mungkin juga muntah dan pingsan.
Terapinya dengan memberikan infus plasma intravena. Monitor nadi dan tekanan
darah.
f. Pencegahan infeksi
Anak yang mengalami sindrom nefrotik cenderung mengalami infeksi dengan
pneumokokus kendatipun infeksi virus juga merupakan hal yang menganggu pada
anak dengan steroid dan siklofosfamid.
B. KONSEP KEPERAWATAN
I. Pengkajian
1. Identitas
1) Riwayat penyakit
1. Keluhan Utama (keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian)
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi,
diare, urine menurun.
2) Riwayat kesehatan Keluarga
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan
terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah
kelahiran
3) Riwayat Kesehatan Lingkungan
Daerah endemik malaria sering dilaporkan terjadinya kasus sindrom nefrotik
sebagai komplikasi dari penyakit malaria.
4) Riwayat Nutrisi
 Nafsu makan menurun, berat badan meningkat akibat adanya edema.
 Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8
 Tinggi badan = 2 kali tinggi badan lahir.
 Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB
standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi
sedang) dan > 80 % (gizi baik).

2. Pengkajian Kebutuhan Dasar


1) Kebutuhan Oksigenasi
Dispnea terjadi karena telah terjadi adanya efusi pleura. Tekanan darah normal
atau sedikit menurun. Nadi 70 – 110 X/mnt.
2) Kebutuhan Nutrisi dan Cairan
Nafsu makan menurun, berat badan meningkat akibat adanya edema, nyeri
daerah perut, malnutrisi berat.
3) Kebutuhan Eliminasi
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuria, proteinuria, oliguri. Perubahan urin
seperti penurunan volume dan urin berbuih.
4) Kebutuhan Aktivitas dan Latihan
Mudah letih dalam beraktivitas. Edema pada area ekstrimitas (sakrum, tumit,
dan tangan). Pembengkakan pergelangan kaki / tungkai.
5) Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Kesulitan tidur karena mungkin terdapat nyeri, cemas akan hospitalisasi.
6) Kebutuhan Persepsi dan Sensori
Perkembangan kognitif anak usia pra sekolah sampai pada tahap pemikiran
prakonseptual ditandai dengan anak-anak menilai orang, benda, dan kejadian di luar
penampilan luar mereka.
7) Kebutuhan Kenyamanan
Sakit kepala, pusing, malaise, nyeri pada area abdomen, adanya asites.
8) Kebutuhan Personal Hygiene
Kebutuhan untuk perawatan diri pada anak usia pra sekolah selama di rumah
sakit mungkin dibantu oleh keluarga. Kaji perubahan aktifitas perawatan diri sebelum
dan selama dirawat di rumah sakit.
9) Kebutuhan Informasi
Pengetahuan keluarga tentang diet pada anak dengan sindrom nefrotik,
pertumbuhan dan perkembangan anak, serta proses penyakit dan penatalakasanaan.
10) Kebutuhan Komunikasi
Anak usia pra sekolah dapat mengungkapkan apa yang dirasakan. Kosakata
sudah mulai meluas, kalimat kompleks sederhana tapi dipahami. Untuk usia 3 tahun,
komunikasi lebih sering berbentuk simbolis.
11) Kebutuhan Seksualitas
Anak usia pra sekolah mulai membedakan perilaku sesuai jender. Anak mulai
menirukan tindakan orangtua yang berjenis kelamin sama. Eksplorasi tubuh
mencakup mengelus diri sendiri, manipulasi genital, memeluk boneka.
12) Kebutuhan Konsep Diri
Konsep diri pada anak usia pra sekolah sudah mulai terbentuk dengan anak
mengetahui tentang identitas dirinya.
13) Kebutuhan Rekreasi
Anak yang mengalami hospitalisasid alam waktu lama akan mengalami
kejenuhan. Kebiasaan yang sering dilakukan mungkin berubah pada saat anak
hospitalisasi.
14) Kebutuhan Spiritual
Kebutuhan spiritual pada anak mengikuti orangtua.

3. Pengkajian Fisik
a. Pemeriksaan Kepala
Bentuk kepala mesochepal, wajah tampak sembab karena ada edema fascialis.
b. Pemeriksaan Mata
Edema periorbital, mata tampak sayu karena malnutrisi.
c. Pemeriksaan Hidung
Adanya pernapasan cuping hidung jika klien sesak napas.
d. Pemeriksaan Telinga
Fungsi pendengaran, kebersihan telinga, ada tidaknya keluaran.
e. Pemeriksaan Gigi dan Mulut
Kebersihan gigi, pertumbuhan gigi, jumlah gigi yang tanggal, mukosa bibir
biasanya kering, pucat.
f. Pemeriksaan Leher
Adanya distensi vena jugularis karena edema seluruh tubuh dan peningkatann
kerja jantung.
g. Pemeriksaan Jantung
Mungkin ditemukan adanya bunyi jantung abnormal, kardiomegali.
h. Pemeriksaan Paru
Suara paru saat bernapas mungkin ditemukan ronkhi karena efusi pleura,
pengembangan ekspansi paru sama atau tidak.
i. Pemeriksaan Abdomen
Adanya asites, nyeri tekan, hepatomegali.
j. Pemeriksaan Genitalia
Pembengkakan pada labia atau skrotum.
k. Pemeriksaan Ekstremitasjm
Adanya edema di ekstrimitas atas maupun bawah seperti di area sakrum,
tumit, dan tangan.

B. Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan akumulasi cairan di dalam jaringan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu
makan (anoreksia).
3. Resiko kehilangan volume cairan intravaskuler berhubungan dengan kehilangan protein,
cairan dan edema.
C. Intervensi
Diagnosa
No keperawatan NOC NIC RASIONAL
(NANDA)
1. Kelebihan Tujuan: 1. Pantau 1. Pemantauan
volume cairan Setelah dilakukan asupan dan membantu
berhubungan tindakan selama haluaran cairan menentukan status
dengan 3x24 jam setiap pergantian cairan pasien.
akumulasi cairan diharapkan 2. Timbang 2. Penimbangan
di dalam Kelebihan volume berat badan tiap berat badan harian
jaringan. cairan terkontrol hari adalah pengawasan
dengan 3. Programkan status cairan
Kriteria Hasil: pasien pada diet terbaik.
a. Pasien tidak rendah natrium Peningkatan berat
menunjukan selama fase badan lebih dari 0,5
tanda-tanda edema kg/hari diduga ada
akumulasi cairan. 4. Kaji kulit, retensi cairan.
b. Pasien wajah, area 3. Suatu diet
mendapatkan tergantung untuk rendah natrium
volume cairan edema. Evaluasi dapat mencegah
yang tepat. derajat edema retensi cairan
a. . (pada skala +1 4. Edema terjadi
sampai +4). terutama pada
5. Awasi jaringan yang
pemerikasaan tergantung pada
laboratorium, tubuh.
contoh: BUN, 5. Mengkaji
kreatinin, berlanjutnya dan
natrium, kalium, penanganan
Hb/ht, foto dada disfungsi/gagal
6. Berikan obat ginjal. Meskipun
sesuai indikasi kedua nilai
Diuretik, contoh mungkin
furosemid (lasix), meningkat,
mannitol (Os- kreatinin adalah
mitol; indikator yang
lebih baik untuk
fungsi ginjal karena
tidak dipengaruhi
oleh hidrasi, diet,
dan katabolisme
jaringan.
6. Diberikan dini
pada fase
oliguria untuk men
gubah ke fase
nonoliguria, untuk
melebarkan lumen
tubular dari
debris, menurunkan
hiperkalimea, dan
meningkatkan
volume urine
adekuat
2 Perubahan nutrisi Tujuan : 1. Kaji / catat 1. Membantu dan
kurang dari Setelah dilakukan pemasukan diet. mengidentifikasi
kebutuhan tubuh tindakan selama 2. Timbang BB defisiensii dan
berhubungan 3x24 jam tiap hari. kebutuhan diet.
dengan diharapkan 3. Tawarkan 2. Perubahan
kehilangan nafsu kebutuhan nutrisi perawatan mulut kelebihan 0,5 kg
makan terpenuhi dengan sebelum dan dapat menunjukkan
(anoreksia) Kriteria hasil: sesudah makan . perpindahan
Klien dapat 4. Berikan keseimbangan
Mempertahankan makanan sedikit cairan.
berat badan yang tapi sering. 3. Meningkatkan
diharapkan 5. Berikan diet nafsu makan
tinggi protein dan 4. meminimalkan
rendah garam. anoreksia dan mual
6. Berikan sehubungan dengan
makanan yang status uremik
disukai dan 5. Memenuhi
menarik kebutuhan protein,
7. Awasi yang hilang
pemeriksaan bersama urine.
laboratorium, 6. Pasien
contoh: BUN, cenderung
albumin serum, mengonsumsi lebih
transferin, banyak porsi
natrium, dan makan jika ia diberi
kalium. beberapa makanan
kesukanannya.
7. Indikator
kebutuhan nutrisi,
pembatasan, dan
efektivitas terapi.

3 Resiko Tujuan : 1. . Awasi TTV 1. Hipotensi


kehilangan Setelah dilakukan 2. Kaji masukan ortostatik dan
volume cairan tindakan selama dan haluaran takikardi indikasi
intravaskuler 3x24 jam cairan. Hitung hipovolemia.
berhubungan diharapkan Resiko kehilangan tak 2. Membantu
dengan kehilangan cairan kasat mata. memperkirakan
kehilangan tidak terjadi 3. Kaji kebutuhan
protein, cairan dengan Kriteria membran mukosa penggantian cairan.
dan edema. Hasil: Tidak mulut dan 3. Membran
ditemukannya elastisitas turgor mukosa kering,
atau tanda- kulit turgor kulit buruk,
tandanya kehilan 4. Berikan dan penurunan nadi
gan cairan cairan sesuai dalah indikator
intravaskuler indikasi ; dehidrasi
seperti: misalnya albumin 4. penggantian
a. Masukan dan 5. Berikan cairan tergantung
keluaran cairan parenteral dari berapa
seimbang sesuai dengan banyaknya cairan
b. Tanda vital petunjuk yang hilang atau
yang stabil 6. Awasi dikeluarkan.
c. Elektrolit pemerikasaan 5. Pemberian
dalam batas laboratorium, cairan parenteral
normal contoh protein diperlukan, dengan
d. Hidrasi (albumin) tujuan
adekuat yang mempertahankann
ditunjukkan hidrasi yang
dengan adekuat.
turgor kulit yang 6. Mengkaji untuk
normal penanganan medis
berikutnya

D. Implementasi
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang
dilakukan dan diselesaikan. Implementasi mencakup : melakukan, membantu dan
mengarahkan kinerja aktivitas sehari - hari, memberikan arahan keperawatan untuk mencapai
tujuan yang berpusat pada klien dan mengevaluasi kinerja anggota staf dan mencatat serta
melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawat kesehatan berkelanjutan dari
klien. Selain itu juga implementasi bersifat berkesinambungan dan interaktif dengan
komponen lain dari proses keperawatan. Komponen implementasi dari proses keperawatan
mempunyai lima tahap yaitu : mengkaji ulang klien, menelaah dan memodifikasi rencana
asuhan yang sudah ada, mengidentifikasi area bantuan, mengimplementasikan intervensi
keperawatan dan mengkomunikasikan intervensi perawat menjalankan asuhan keperawatan
dengan menggunakan beberapa metode implementasi mencakup supervise, konseling, dan
evaluasi dari anggota tim perawat kesehatan lainnya.
Setelah implementasi, perawat menuliskan dalam catatan klien deskriptif singkat dari
pengkajian keperawatan. Prosedur spesifik dan respon dari klien terhadap asuhan
keperawatan. Dalam implementasi dari asuhan keperawatan mungkin membutuhkan
pengetahuan tambahan keterampilan keperawatan dan personal.
E. EVALUASI
Evaluasi merupakan proses keperawatan yang mengukur respon klien terhadap tindakan
keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Perawat mengevaluasi apakah
prilaku atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnosa
keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat. Selama evaluasi perawatan memutuskan
apakah langkah proses keperawatan sebelumnya telah efektif dengan menelaah respon klien
dan membandingkannya dengan prilaku yang disebutkan dalam hasil yang diharapkan.
Selama evaluasi perawat secara kontinyu perawat mengarahkan kembali asuhan keperawatan
kearah terbaik untuk memenuhi kebutuhan klien.
Evaluasi positif terjadi ketika hasil yang dinginkan terpenuhi menemukan perawat untuk
menyimpulkan bahwa dosis medikasi dan intervensi keperawatan secara efektif memenuhi
tujuan klien untuk meningkatkan kenyamanan. Evaluasi negative atau tidak di inginkan
menandakan bahwa masalah tidak terpecahkan atau terdapat masalah potensial yang belum
diketahui. Perawat harus menyadari bahwa evaluasi itu dinamis dan berubah terus tergantung
pada diagnosa keperawatan dan kondisi klien. Hal yang lebih utama evaluasi harus spesifik
terhadap klien. Evaluasi yang akurat mengarah pada kesesuaian revisi dan rencana asuhan
yang tidak efektif dan penghentian terapi yang telah menunjukan keberhasilan