Anda di halaman 1dari 24

PERATURAN YAYASAN NURUL HUDA LAMPUNG

NOMOR 1 TAHUN 2016

TENTANG

PENGADAAN BARANG DAN JASA

YAYASAN NURUL HUDA LAMPUNG

LAMPUNG SELATAN

2016

PERATURAN YAYASAN NURUL HUDA LAMPUNG


NOMOR: 01 TAHUN 2013

PENGADAAN BARANG DAN JASA YAYASAN NURUL HUDA LAMPUNG

Bismillahirrohmanirrohim

Dengan Rahmat Allah SWT Pembina Yayasan Nurul Huda Lampung:

Menimbang : a. Bahwa pengadaan Barang/Jasa di lingkungan Yayasan Nurul


Huda Lampung yang efisien, terbuka dan kompetetif sangat
diperlukan bagi ketersediaan Barang/Jasa yang terjangkau dan
berkualitas, sehingga akan berdampak pada peningkatan
pelayanan pada siswa, orang tua, guru dan karyawan Yayasan
Nurul Huda Lampung dana tau masyarakat;
b. Bahwa untuk mewujudkan Pengadaan Barang/Jasa Yayasan
Nurul Huda Lampung sebagaimana dimaksud pada huruf a,
perlu pengaturan mengenai tatacara Pengadaan barang/Jasa
yang sederhana, jelas da komprehensif, sesuai dengan tata
kelola yang baik, sehingga dapat menjadi pengaturan yang
efektif bagi para pihak yang terkait dengan Pengadaan
Barang/Jasa Yayasan Nurul Huda Lampung;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Yayasan Nurul
Huda Lampung tentang Pengadaan Barang/Jasa Yayasan Nurul
Huda Lampung;
Mengingat : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 28 Tahun 2004
Tentang Peraturan atas Undang-Undang Nomor: 16 Tahun 2001
tentang Yayasan.
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 70 Tahun 2012 ke-2
atas Peraturan Presiden RI. No. 54 tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Nurul
Huda Lampung.
4. Statuta Yayasan Nurul Huda Lampung.
Memperhatikan : Rapat Pleno Yayasan Nurul Huda Lampung tentang pembahasan
Peraturan Pengadaan Barang dan Jasa Yayasan Nurul Huda Lampung
tanggal 27 Agustus 2016.

Memutuskan:

Menetapkan

Menetapan : Peraturan Yayasan Nurul Huda Lampung Nomor: 01 Tahun 2013


tentang Pengadaan Barang dan Jasa Yayasan Nurul Huda Lampung
dengan uraian sebagai berikut:
BAB I

KETENTUAN UMUM

Bagian Pertama

Pengertian dan Istilah

Pasal 1

Dalam Peraturan Yayasan ini, yang dimaksud dengan:

1. Pengadaan Barang/Jasa Yayasan Nurul Huda Lampung yang selanjutnya disebut


Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa yang
prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh
kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa.
2. Pengguna Barang/Jasa adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang/jasa
milik Yayasan Nurul Huda Lampung di masing-masing unit.
3. Pengguna Anggaran atau Ketua Yayasan Nurul Huda yang selanjutnya disebut
PA/Ketua Yayasan adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran
Yayasan Nurul Huda Lampung.
4. Kuasa Pengguna Annggaran yang selanjutnya disebut KPA adalah pejabat yang
ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBY.
5. Pejabat Pembuat Komitmen yang sselanjutnya disebut PPK adalah pejabat yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
6. Panitia pengadaan adalah panitia yang bertugas melaksanakan pengadaan barang/jasa.
7. Panitia Penerima Hasil pekerjaan adalah panitia yang ditetapkan oleh Pengurus
Yayasan Nurul Huda Lampung yang bertugas memeriksa dan menerima hasil
pekerjaan pengadaan barang/jasa.
8. Panitia pembangunan sarana dan prasarana adala panitia yang ditetapkan oleh
pengurus Yayasan Nurul Huda Lampung yang bertugas memberikan petunjuk dan
arahan, kepada unsur-unsur yang terkait dengan pelaksanaan perencanaan dan
pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
9. Penyedia barang/jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan
barang/jasa pekerjaan.
10. Pakta integritas adalah surat pernyataan yang berisi ikrar untuk mencegah dan tidak
melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme dalam pengadaan barang/jasa.
11. Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun
tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, dan dimanfaatkan
oleh pengguna barang.
12. Pekerjaan konstruksi adalah seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksanaan
konstruksi bangunan atau pembuatan wujud fisik lainnya.
13. Jasa konsultasi adalah jasa layanan professional yang membutuhkan keahlian tertentu
di berbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olah pikir (brainware).
14. Jasa lainnya adalah meliputi jasa boga, jasa layanan kebersihan, jasa penyedia tenaga
kerja, jasa asuransi perbankan dan keuangan, jasa layanan kesehatan, jasa
pengembangan SDM, jasa periklanan, jasa percetakan, jasa penjahitan konveksi, jasa
penyewaan alat, jasa akomodasi, jasa angkutan, jasa penyelenggaraan acara, jasa
pengamanan, jasa pengelolaan asset, dan jasa layanan internet.
15. Swakelola adalah pengadaan barang/jasa dimana pekerjaannya direncanakan,
dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh pejabat pembuat komitmen (PPK).
16. Dokumen pengadaan adalah dokumen yang ditetapka oleh panitia pengadaan yang
memuat informasi dan ketentuan yang harus ditaati oleh para pihak dalam proses
pengadaan barang/jasa.
17. Kontrak pengadaan barang/jasa yang selanjutnya disebut kontrak adalah perjanjian
tertulis antara PPK dengan penyedia barang/jasa.
18. Pelelangan terbatas adalah metode pelelangan penyedia barang/jasa untuk pekerjaan
yang nilainya lebih tinggi dari Rp 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah) atau barang
dan jasa yang memiliki kompleksitas atau memiliki teknologi tinggi.
19. Penunjukan langsung adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa untuk pekerjaan
yang nolainya paling tinggi Rp 50.000.000.- (Lima puluh juta rupiah) dengan cara
menunjuk langsung 1 (satu) penyedia barang/jasa.
20. Surat jaminan yang selanjutnya disebut jaminan, adalah jaminan tertulis yang bersifat
mudah dicairkan dan tidak bersyarat (uncoditioanal), yang dikeluarkan bank umum/
perusahaan penjamin/perusahaan asuransi yang diserahkan oleh penyedia barang/jasa
kepada PPK untuk mejamin terpenuhinya kewajiban penyedia barang/jasa.
21. Hari kerja adalah hari kerja yang berlaku pada Yayasan Nurul Huda Lampung.

Bagian Kedua

Ruang Lingkup

Pasal 2

Ruang lingkup Peraturan Yayasan ini meliputi:

a. Pengadaan barang/jasa Yayasan Nurul Huda Lampung yang pembiayaan baik


sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBY Nurul Huda Lampung.
b. Pengadaan barang/jasa di lingkungan Yayasan Nurul Huda Lampung yang bersumber
dari bantuan oihak lain.

Apabila terdapat berbedaan antara peraturan ini dengan ketentuan pengadaan barang/jasa
yang berlaku bagi pemberi bantuan, para pihak dapat menyepakati tatacara pengadaan
yang dipergunakan.

Pasal 3
Pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilakukan melalui:

a. Swakelola;
b. Pelelangan terbatas;
c. Penunjukan langsung’

Pasal 4

Pengadaan barang/jasa Yayasan Nurul Huda Lampung dalam peraturan ini meliputi :

a. Efisien;
b. Efektif;
c. Transparan;
d. Bersaing
e. Adil/tidak diskriminatif; dan
f. Akuntabel.

Bagaian Kedua

Etika Pengadaan

Pasal 6

Para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika
sebagai berikt:

a. Melakasanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai
sasaran, kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang dan jasa.
b. Bekertja secara profeissional dan mandiri, serta menjaga kerahasiaan dokumen
pengadaan barang/jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa.
c. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung yang berakinbat
terjadinya persaingan tidak sehat.
d. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai
dengan kesepakatan tertulis para pihak.
e. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak terkait,
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa;
f. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan Yayasan
Nurul Huda Lampung dalam proses pengadaan barang/jasa;
g. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan
tujuan untuk keuntunga peribadi, kelompok/golongan atau pihak lain yang secara
langsung atau tidak langsung merugikan Yayasan Nurul Huda Lampung.
BAB III

PARA PIHAK DALAM PENGADAAN BARANG/JASA

Bagian Pertama

Organisasi Pengadaan

Pasal 7

1) Organisasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pengadaan melalui Penyedia Barang/Jasa terdiri


atas:
a) Pengguna Anggaran (PA)
b) Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)
c) Pejabat Pembuat Barang dan Jasa (PPK)
d) Panitia Pengadaan Barang dan Jasa; dan
e) Panitia Penerima Hasil Pekerjaan.

2) Organisasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pengadaan melalui Swakelola terdiri atas:


a) PA;
b) KPA;
c) PPK;
d) Panitia Penerima Hasil Pekerjaan.

3) PPK dapat dibantu oleh tim pendukung yang diperlukan untuk pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa.
4) Perangkat panitia pengadaan ditetapkan sesuai dengan kebutuhan yang paling kurang
terdiri atas:
a) Ketua;
b) Sekretaris;
c) Anggota panitia.
5) Bila diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana, PA
dapat membentuk Panitia Pembangunan Sarana dan Prasana, yang terdiri dari unsur-unsur
yang terkait.

Bagian Kedua
Pengguna Anggaran

Pasal 8

PA memiliki tugas dan kewenangan sebagai berikut:


a. Menetapkan Rencana Umum Pengadaan;
b. Menetapkan KPA;
c. Menetapkan PPK;
PPK sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (1) huruf c, untuk Pengadaan
Barang sejenis yang yang alokasi biayanya pada APBY berada pada beberapa
unit, dapat ditunjuk salah satu orang PPK berdasarkan kelompok pemaketan.
d. Menetapkan Panitia Pengadaan;
e. Menetapakan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan;
f. Atas usul PPK menetapkan pemenang penyedia pada Pemilihan Langsung untuk
paket Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai diatas Rp 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah);
g. Mengetahui dan menandatangani seluruh perjanjian kontrak.
h. Mengawasi pelaksaan anggaran; penyampaian laporan keuangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
i. Menyelesaikan perselisihan antara PPK dengan Panitia Pengadaan, dalam hal
terjadi perbedaan pendapat; dan
j. Mengawasi penyimpanan dan pemeliharaan seluruh Dokumen Pengadaan
Barang/Jasa.

Pasal 9

Atas dasar pertimbangan besaran beban pekerjaan atau rentang kendali organisasi, PA/Ketua
Yayasan dapat menetapkan seorang atau beberapa orang KPA;

Bagian Ketiga

Kuasa Pengguna Anggaran

Pasal 10

1) PA dapat menunjuk sekretaris Yayasan Nurul Huda Lampung, Kepala Sekolah atau
Kepala unit atau pejabat lain di lingkungan Yayasan Nurul Huda Lampung untuk
ditetapkan sebagai KPA.
2) KPA memiliki kewenangan menetapkan penyedia pada Penunjukan Langsung untuk
paket Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai paling tinggi Rp 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah).
3) Melanjutkan usulan penetapan penyedia hasil pelelangan terbatas dari panitia pengadaan,
kepada PA/Ketua Yayasan.

Bagian Keempat

Pejabat Pembuat Komitmen.

Pasal 11

1) PPK memiliki tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut:


a) Menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang meliputi:
i) Spesifiksi teknis Barang/Jasa;
ii) Harga Perkiraan Sendiri (HPS); dan
iii) Rencana Kontrak.
b) Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa;
c) Menandatangani kontrak untuk selanjutnya diketahui dan ditandatangani oleh
PA/KPA;
d) Melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa;
e) Mengendalikan pelaksanaan kontrak ;
f) Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA;
g) Menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA dengan Berita
Acara Penyerahan;
h) Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan
pelasanaan pekerjaan kepada PA/KPA sekurang-kurangnya setiap triwulan; dan
i) Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa.
2) Selain tugas pokok dan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam hal
diperlukan,PPK dapat:
a) Mengusulkan kepada PA/KPA:
i) Perubahan paket pekerjaan; dan/atau
ii) Perubahan jadwal kegiatan pengadaan;
b) Menetapkan tim pendukung;
c) Menetapkan tim atau tenaga ahli pemberi penjelasan teknis (aanwijer) untuk
membantu pelaksanaan tugas panitia pengadaan; dan
d) Menetapkan besaran Uang Muka yang akan dibayarkan kepada Penyedia Barang/Jasa.

Pasal 12

1) PPK merupakan pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA untuk meaksanakan Pengadaan
Barang/Jasa.
2) Untuk ditetapkan sebagai PPK harus memenuhi persyaratan berikut:
a) Memiliki intregitas, bersikap, dan berprilaku yang islami;
b) Memiliki disiplin tinggi;
c) Memiliki tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan
tugas;
d) Mampu mengambil keputusan, bertindak tegas dan memiliki keteladanan dalam sikap
perilaku serta tidak pernah terlibat KKN;
e) Menandatangani Pakta Integritas;
f) Tidak menjabat sebagai pengelola keuangan.

Pasal 13
PPK dilarang mengadakan ikatan perjanjian atau menandatangani Kontrak dengan Penyedia
Barang/Jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang dapat
mengakibatkan dilampauinya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan yang dibiayai dari
APBY.

Bagian Kelima

Panitia Pengadaan

Pasal 14

1) Panitia pengadaan barang /jasa terdiri unsur-unsur yang memahami tentang perencanaan,
keuangan dan unsur pengguna barang.
2) Panitai pengadaan barang jasa dibentuk dan ditetapan oleh PA/KPA.

Pasal 15

1) Panitia pengadaan barang jasa melaksanakan seluruh proses pemilian penyedia


Barang/Jasa.
2) Anggota Panitia pengadaan barang jasa berjumlah gasal beranggotakan paling kurang 3
(tiga) orang dan dapat ditambah sesuai dengan kompleksitas pekerjaan

Pasal 16

1) Anggota Panitia Pengadaan barang jasa harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) Memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam dalam melaksanakan tugas.
b) Memahami pekerjaan yang akan diadakan;
c) Memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas Panitia Pengadaan yang
bersangkutan ;
d) Memahami isi dokumen, metode dan prosedur Pengadaan;
e) Tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Pejabat yang menetapkannya sebagai
anggota Panitia Pengadaan;
f) Menandatangani Pakta Integritas;
2) Tugas pokok dan kewenganan Panitia pengadaan barang jasa meliputi:
a) Menyusun rencana pemilihan Penyedia Barang/Jasa;
b) Menetapkan Dokumen Pengadaan;
c) Mengundang calon penyedia Barang/Jasa untuk mengikuti pemilihan penydia
Barang/Jasa;
d) Menilai kualifikasi Penyedia Barang/Jasa untuk memperoleh penyediaan barang dan
jasa yang memenuhi syarat;
e) Melakukan evaluasi administrasi, teknis dan harga terhadap penawaran yang masuk;
f) Khusus untuk panitia:
i) Menyampaikan usulan penetapan penyedia barang/jasa:
(1) Kepad PA malalui PPK/ dan KPA, utuk pelelangan terbatas;
(2) Kapada KPA malalui PPK untuk penunjuan langsung
ii) Menyerahkan salina dokumen pemilihan Penyedia barang Jasa kepada PPK dan
selanjutnya akan di arsipkan oleh pengurus Yayasan N setelah pekerjaan selesai
iii) Menyimpan dokumen asli penyedia Barang jasa
g) Membuat laoran mengenai proses dan hasil pemilihan penyedia barang jasa kepada
PA/Ketu Yayasaan dan
h) Memberika pertanggung jawaban atas pelaksanaan kegiatan pemiihan penyedia
barang/jasa kepada PA /KPA melalui PPK.
3) Selain tugas pokok atau kewenangan Panitia Pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat
2, dalam hal diperlukan panitia pengadaan dapat mengusulkan kepada PPK :
a) Perubahan HPS; dan/atau
b) Perubahan spesifikasi teknis pekerjaan.
4) Panitia Penerima Hasil Pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mempunyai tugas
pokok dan kewenangan untuk:
a) Melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan
ketentuan yang tercantum dalam kontrak;
b) Menerima hasil pengadaan barang.jasa setelah melalui pemeriksaan/pengujian;dan
c) Membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.
5) Dalam hal pemeriksaan barang/jasa memerlukan keahlian teknis khusus, dapat dibentuk
tim/tenaga ahli utnuk membantu pelaksanaan tugas Panitia Penerima Hasil Pekerjaan.
6) Tim/tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh PA/KPA.
7) Dalam hal pengadaan Jasa Konsultasi, pemeriksaan pekerjaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) huruf a, dilakukan setelah berkoordinasi dengan Pengguna Jasa Konsultasi
yang bersangkutan.

Bagian Ketujuh

Penyedia Barang/Jasa

Pasal 18

1) Penyedia Barang/Jasa dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa wajib memenuhi


persyaratan sebagai berikut:
a) Memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan unruk menjalankan
kegiatan/usaha;
b) Memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan managerial untuk untuk
menyediakan barang/jasa;
c) Memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan
dalam pengadaan Barang/Jasa;
d) Dalam hal Penyedia Barang/Jasa akan melakukan kemitraan, Penyedia Barang/Jasa
harus mempunyai perjanjian kerja sama oerasi/kemitraan yang emuat persentase
kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut;
e) Tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang
dihentikan dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atass nama perusahaan tidak
sedang dalam menjalani sanksi pidana;
f) Secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengikatkan diri pada Kontrak;
g) Tidak masuk dalam aftar hitam;
h) Memiliki alamat tetap di Lampung dan memiliki perwakilan resmi dari produsen
barang dan jasa serta dapat dijangkau dengan jasa pengiriman;dan
i) Menandatangani Pakta Integritas;
2) Pembina, Pengawas, Pengurus, dan Pegawai Yayasan serta keluarganya dilarang menjadi
Penyedia Barang/Jasa.
3) Penyedia Barang/Jasa yag keikutsertaannya menimbulkan pertentangan kepentingan
dilarang menjadi Penyedia Barang/Jasa.

Bagian Kedelapan

Panitia Pembangunan Sarana dan Prasarana

Pasal 19

Panitia pembangunan sarana dan Prasarana terhadap pembangunan sarana dan prasarana
mempunyai tugas dan kewenangan meliputi:

a. Melakukan koordianasi persiapan dan pelaksanaan


b. Memberi masukan dan arahan kepada unsur-unsur yang terkait dengan perencanaan
dan pellaksanaan pengadaaan barang dan jasa;
c. Mengadakan pertemuan secara berkala untuk melakukan evaluasi.

BAB IV
RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA

Pasal 20

1) PA menyusun Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan kebutuhan Yayasan


dan unit-unit.
2) Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi:
a) Kegiatan dan anggaran Pengadaan Barang/Jasa yang akan dibiayai oleh Yayasan
Nurul Huda Lampung sendiri; dan/atau
b) Kegiatan dan anggaran Pengadaan Barang/Jasa yang akan dibiayai dari unit-unit.
3) Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi kebutuhan Barang/Jasa yang diperlukan Yayasan Nurul Huda
Lampung dan unit-unit:
b) Menyusun dan menetapkan rencana penganggaran untuk pengadaan Barang/Jasa
sebbagaimana dimaksud pada ayat 2;
c) Menetapkan kebijakan umum tentang:
i) Pemaketan pekerjaan;
ii) Cara Pengadaan Barang/Jasa; dan
iii) Pengorganisasian Pengadaan Barang/Jasa;
d) Menyusun Kerangka Acuan Kerja (KAK)
4) KAK sebagaimana diamksud pada ayat 3 huruf d paing sedikit memuat:
a) Uraian kegiatan yang akan dilaksanakan
b) Waktu pelaksanaan yang diperlukan
c) Spesifikasi teknis Barang/Jasa yang akan diadakan;dan
d) Besarnya total perkiraan biaya pekerjaan

Pasal 21

1) Penyusunan Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa pada Yayasan Nurul untuk Tahun
Anggaran berikutnya atau tahun Anggaran yang akan datang, harus diselesaikan pada
Tahun Anggaran yang berjalan.
2) Yayasan menyediakan biaya untuk pelaksanaan pemilihan Penyedia Barang/Jasa yang
dibiayai dari APBY, yang meliputi:
a) Honorarium personil organisasi Pengadaan Barang/Jasa termasuk tim teknis, tim
pendukung dan staf proyek;
b) Biaya pengadaan dokumen pengadaan barang/jasa; dan
c) Biaya lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa.
3) Yayasan menyediakan biaya untuk persiapan (perencanaan teknis, penyusunan
spesifikasi, dan penyusunan perhitungananggaran/HPS) pelaksanaan pemilihan Penyedia
Barang/Jasa.
4) Penyediaan biaya persiapan sebagaiman dimaksud dalam Ayat 3 di atas, dianggarkan 1
(satu) tahun sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai.

Pasal 22

1) PA melakukan pemaketan Barang/Jasa dalam Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa


kegiatan dan anggaran Yayasan dan Unit-unit.
2) Pemaketan dilakukan dengan mempertimbangkan :
a) Jenis Barang/Jasa
b) Nilai kegiatan dan anggaran
c) Untuk pengadaan barang yang sejenisnya sama dai unit-unit dapat dikelompokkan
dalam satu paket.
3) Pemaketan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, pembayarannya akan diatur
tersendiri sesuai dengan mekanisme dan prosedur keuangan pada Yayasan.
4) Tidak mengabaikan prinsip efisiensi, persaingan sehat, kesatuan sistem dan kualitas
kemampuan teknis.
5) Dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA dilarang menentukan kriteria, persyaratan
atau prosedur pengadaan yang diskriminatif dan/atau dengan pertimbangan yang tidak
obyektif.

Pasal 23

1) PA memberitahukan Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa di Yayasan dan Unit-unit


secara terbuka kepada seluruh unit-unit dan unsur terkait di Yayasan setelah rencana kerja
APBY disetujui oleh Pembina Yayasan.
2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling kurang berisi:
a) Paket pekerjaan yang akan dilaksanakan;
b) PPK;
c) Panitia penerima pekerjaan; dan
d) Panitia penerima pekerjaan; dan
e) Plafon anggaran.

BAB V

SWAKELOLA

Bagian Pertama

Ketentuan Umum Swakelola

Pasal 24

1) Swakelola merupakan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa dimana pekerjaannya


direncanakan, dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh Yayasan atau Unit-unit sebagai
penanggung jawab anggaran.
2) Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan Swakelola meliputi:
a) Pekerjaan yang bertujuan untuk menghemat penggunaan anggaran melalui
pemanfaatan kemampuan teknis sumber daya yang tersedia
b) Penyelenggaraan diklat, kursus, penataran, seminar, lokakarya atau penyuluhan;
c) Pekerjaan yang bersifat rahasia bagi Yayasan atau unit-unit; dan/atau,
d) Penelitian dan pengembangan Yayasan dan Unit-Unit.
3) Prosedur Swakelola meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
penyerahan, pelaporan dan pertanggung jawaban pekerjaan.
4) Pengadaan melaui Swakelola dapat dilakukan oleh Tim Kerja yang dibentuk oleh
Yayasan.
5) Pada Pengadaan jasa Konstruksi, pengadaannya dapat dilakukan melalui swakelola untuk
seluruh jenis pekerjaan atau bagian-bagian tertentu dari pekerjaan konstruksi.
6) PA/KPA menetapkan jenis pekerjaan serta pihak yang akan melaksanakan Pengadaan
Barang/Jasa secara Swakelola setelah mendapat pertimbangan dari Panitia Pembangunan
Sarana dan Prasarana.

Pasal 25

Pengadaan Swakelola oleh Pengurus Yayasan dan Unit-unit Penanggung jawab Anggaran
direncanakan, dikerjakan dan diawasi sendiri oleh Yayasan dan Unit-unit Penanggung Jawab
Anggaran.

Pasal 26

1) Kegiatan perencanaan Swakelola meliputi:


a) Penetapan sasaran, rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan;
b) Penyusunan jadwal pelaksanaan dengan mempertimbangkan waktu yang cukup bagi
pelaksanaan pekerjaan/kegiatan;
c) Perencanaan teknis dan penyiapan metode pelaksanaan yang tepat agar diperoleh
rencana keperluan tenaga, bahan dan perlatan yang sesuai;
d) Penyusunan rencana keperluan tenaga, bahan dan peralatan secara rinci serta
dijabarkan dalam rencana kerja bulanan, rencana kerja mingguan dan/atau rencana
kerja harian; dan
e) Penyusunan rencana total biaya secara rinci dalam rencana biaya bulanan dan/atau
biaya mingguan yang tidak melampaui Pagu anggaran yang telah ditetapkan dalam
dokumen anggaran.
2) Perencanaan kegiatan Swakelola dapat dilakukan dengan memperhitungkan tenaga
ahli/peralatan/bahan tertentu yang dilaksanakan dengan kontrak/sewa tersendiri.
3) Kegiatan perencanaan Swakelola dimuat dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK).
4) Penyusunan jadwal kegiatan Swakelola dilakukan dengan mengalokasikan waktu untuk
proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, penyerahan dan pelaporan pekerjaan.
5) Swakelola dapat dilaksanakanmelebihi 1 (satu) Tahun Anggaran setelah mendapat
persetujuan Pembina Yayasan.

Bagian Kedua

Pelaksanaan Swakelola

Pasal 27
Pengadaan Barang/Jasa melalui Swakelola oleh Pengurus Yayasan selaku Penanggung Jawab
Anggaran dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pengadaan bagian tertentu pekerjaan sebagaiman disebut pada pasal 25 yang tidak
dikerjakan dengan swakelola, pengadaannya dilakukan oleh Panitia Pengadaan;
b. Pengadaan sebagaimana dimaksud pada huruf a berpedoman pada ketentuan dalam
Peraturan Yayasan ini;
c. Pembayaran upah tenaga kerja yang diperlukan dilakukan secara berkala berdasarkan
daftar hadir pekerja atau dengan cara upah borongan;
d. Pembayaran gaji tenaga ahli yang diperlukan dilakukan berdasarkan kontrak;
e. Penggunaan tenaga kerja, bahan dan/atau peralatan dicatat setiap hari dalam laporan
harian;
f. Pelaksaan Pengadaan Barang/Jasa yang menggunakan Uang Persediaan (UP)/Uang Muka
kerja atau istilah lain yang disamakan dilakukan oleh Pengurus Yayasan pelaksana
Swakelola;
g. UP/Uang Muka kerja atau istilah lain yang disamakan, dipertanggungjawabkan secara
berkala maksimal secara bulanan;
h. Kemajuan fisik dicatat setiap hari dan dievaluasi setiap minggu yang disesuaikan dengan
penyerapan dana;
i. Kemajuan non fisik atau perangkat lunak dicatat dan dievaluasi setiap bulan yang
disesuaikan dengan penyerapan dana; dan
j. Pengawasan pekerjaan fisik di lapangan dilakukan oleh pelaksana yang ditunjuk oleh
PPK, berdasarakan rencana yang telah ditetapkan.

Bagian Ketiga

Pelaporan, Pengawasan dan Perrtanggungjawaban Swakelola

Pasal 28

1) Pelaksana Swakelola/Tm Kerja bertanggungjawab kepada PPK.


2) Kemajuan pelaksanaan pekerjaan dan penggunaan keuangan dilaporkan oleh Tim Kerja
kepada PPK secara berkala.
3) Laporan kemajuan realisasi fisik dan keuangan dilaporkan setiap bulan secara berjenjang
oleh Pelakasana Swakelola sampai kepada PA/KPA.
4) Pengawas Yayasan melakukan audit terhadap pelaksanaan Swakelola.

BAB VI

PENGADAAN BARANG/JASA MELALUI PENYEDIA BARANG/JASA

Bagian Pertama

Persiapan Pengadaan
Pasal 29

Persiapan pemilihan Penyedia Barang/Jasa terdiri atas kegiatan:

a. Perencanaan pemilihan Penyedia Barang/Jasa;


b. Pemilihan sistem pengadaan;
c. Penyusunan daftar penyedia barang dan jasa melalui pra kualifikasi sederhana;
d. Penyusunan jadwal pemilihan Penyedia Barang/Jasa;
e. Penyusunan dokumen Peengadaan Barang/Jasa yang meliputi rencana detail,
spesifikasi, kerangka acuan kerja dan dokumen penawaran lainnya; dan
f. Penetapan HPS.

Bagian Kedua

Perencanaan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa

Pasal 30

1) Perencanaan pemilihan Penyedia Barang/Jasa terdiri atas kegiatan:


a) Pengkajian ulang paket pekerjaan; dan
b) Pengkajian ulang jadwal kegiatan pengadaan.
2) Perencanaan pemilihan penyedia Barang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dapat dilakukan oleh:
a) PPK;dan/atau
b) Panitia Pengadaan.
3) Perencanaan pemilihan Penyedia Barang/Jasa dilakukan dengan:
a) Menyesuaikan dengan kondisi nyata di lokasi/lapangan pada saat akan melaksanakan
pemilihan Penyedia Barang/Jasa;
b) Mempertimbangkan kepentingan pelaksanaan kegiatan pendidikan/kegiatan belajar
mengajar;
c) Mempertimbangkan jenis, sifat dan nilai Barang/Jasa serrta jumlah penyedia
Barang/Jasa yang ada; dan
d) Memperhatikan ketentuan tentang pemaketan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
4) Apabila terjadi perubahan paket pekerjaan maka:
a) PPK mengusulkan perubahan paket pekerjaan kepada PA/KPA untuk ditetapkan; atau
b) Panitia pengadaan mengusulkan perubahan paket pekerjaan melalui PPK untuk
ditetapkan oleh PA/KPA.

Bagian Ketiga

Pemilihan Sistem Pengadaan

Paragraf Pertama
Penetapan Metode Pemilihaan

Penyedia Barang/Jasa

Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dilakukan dengan :

a. Pelelangan Terbatas
b. Penunjukan Langsung

Pasal 32
1) Pengadaan Barang/Jasa yang bernilai lebih tinggi dari Rp 50.000.000,- ( lima puluh juta
rupiah) dlakukan dengan Pelelangan terbatas.
2) Pelelangan terbatas dilakukan melalui proses penilaian atas kemampuan penyedia
barang/jasa.
3) Pelelangan terbatas mengundang sekurang-kurangnya 3 (tiga) Penyedia Barang/Jasa oleh
panitia dengan berita acara.
4) Dalam Pelelangan Terbatas dapat dilakukan klarifikasi tanpa ada perubahan aspek teknis
dan harga. Hasil klarifikasi dituangkan dalam berita acara klarifikasi.

Pasal 33

1) Pengadaan Barang/Jasa yang bernlai paling tinggi Rp 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah) dilakukan dengan Penunjukan Langsung terhadap 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa.
2) Penunjukan Langsung dilakukan dengan mengundang 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa
yang dinilai mampu melaksanakan pekerjaan dan/atau meemnuhi kualifikasi.
3) Penujukan langsung dilakukan dengan negosiasi harga sehingga diperoleh harga yang
sesuai dengan harga di pasar yang berlaku.

Pasal 34

1) Pengadaan Barang/Jasa yang bernilai lebih tinggi Rp 50.000.000,- ( lima puluh juta
rupiah) dengan kriteria keadaan tertentu yang memungkinkan dilakukan Penunjukan
Langsung sebagaiman dimaksud pada pasal 31 butir b, terhadap Penyedia Barang/Jasa
memliputi:
a) Penanganan darurat yang tidak bisa direncanakan sebelumnya dan waktu
penyelesaian pekerjaannya harus segera/tidak dapat diitunda unyuk:
i) Kelangsungan Yayasan termasuk kelangsungan kegaiatab belajar mengajar pada
Yayasan Nurul Huda Lampung;
ii) Keamanan dan ketertiban masyarakat
iii) Keselamatan/perlindungan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat
ditunda/harus dilakukan segera, termasuk:
(1) Akibat bencana alamdan/atau bencana non alam dan/atau bencana sosial;
(2) Dalam rangka pencegahan bencana;
b) Barang/Jasa yang spesifik dan hanya dapat dilaksanakan oleh 1 (satu) Penyedia
Barang/Jasa lainnya karena 1 (satu) pabrikan, 1(satu) pemegang hak paten, atau pihak
yang telah mendapat izin dari pemegang hak paten.
c) Barang/Jasa lainnya berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah;
d) Pekerjaan Konstruksi bangunan yang merupakan satu kesatuan sistem konstruksi dan
satu kesatuan tanggung jawab atas resiko kegagalan bangunan yang keseluruhan tidak
dapat direncanakan/diperhitungkan sebelumnya (unforeseen condition);
e) Barang/Jasa yang bersifat kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan pengguna
teknologi khusus dan hanya ada 1 (satu) Penyedia yang mampu.
f) Sewa penginapan/hotel/ruang rapat yang tarifnya terbuka dan dapat diakses oleh
msyarakat; atau
g) Lanjutan sewa gedung/kantor dan lanjutan sewa ruang terbuka atau tertutup lainnya
dengan dan tatacara pembayaran serta penyesuaian harga yang dapat dipertnggung
jawabkan.
h) Pengadaan kendaraan bermotor dengan harga yang telah dipublikasikan secara luas
kepada masyarakat;

Paragraf Kedua

Penetapan Metode Penyampaian Dokumen

Pasal 35

1) Panitia pengadaan menyusun dan menetapkan metode pemasukan Dokumen Penawaran;


2) Metode pemasukan dokumen penawaran dapat dilakukan dengan metode satu sampul,
atau dua sampul sesuai dengan karakteristik barang/jasa yang akan diadakan.

Paragraf Ketiga
Penetapan Metode Evaluasi
Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/jasa Lainnya

Pasal 36
1) Metode evaluasi penawaran untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya
menggunakan penilaian sistem gugur.
2) Dalam melakukan evaluasi panitia pengadaan dilarang merubah, menambah dan/atau
mengurangi kriteria setelah batas akhir pemasukan Dokumen Penawaran.

Paragraf Keempat

Metode Evaluasi Penawaran dalam Pengadaan Jasa Konsultasi

Pasal 37
1) Metode evaluasi penawaran dalam pemilihan Penyedia Jasa Konsultasi dapat dilakukan
dengan menggunakan :
a) Metode evaluasi berdasarkan kualitas;
b) Metode evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya;
c) Metode evaluasi berdasarkan Pagu Anggaran; atau
d) Metode evaluasi berdasarkan biaya terendah.
2) Metode evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf
b, digunakan untuk pekerjaan yang :
a) Mengutamakan kualitas penawaran teknis sebagai faktor yang menentukan terhadap
hasil/manfaat (outcome) secara keseluruhan; dan/atau
b) Lingkup pekerjaan yang sulit ditetapkan dalam KAK.
3) Metode evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf
b, digunakan untuk pekerjaan:
a) Lingkup, keluaran (output), waktu penugasan dan hal-hal lain dapat diperkirakan
dengan baik dalam KAK; dan/atau
b) Besarnya biaya dapat ditentukan dengan mudah, jelas dan tepat.
4) Metode evaluasi berdasarkan Pagu Anggaran sebagaimana dimaksud pada pada ayat 1
huruf c, digunakan untuk pekerjaan yang:
a) Sudah ada aturan yang mengatur (standar);
b) Dapat dirinci dengan tepat; atau
c) Anggarannya tidak melampaui pagu tertentu.
5) Metode evaluasi berdasarkan biaya terendah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf d,
digunakan untuk pekerjaan yang bersifat sederhana dan standar.
6) Dalam evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya, pembobotan nilai teknis dan biaya diatur
dengan ketentuan :
a) Bobot penawaran teknis antara 0,60 sampai 0,80;
b) Bobot penawaran biaya antara 0,20 sampai 0,40.
7) Semua evaluasi penawaran Pekerjaan Jasa Konsultasi haris diikuti dengan klarifikasi dan
negosiasi, dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Harga satuan yang dapat dinegosiasikan yaitu biaya langsung non-personil yang
dapat diganti (reimbursable cost) dan/atau biaya langsung personil yang dinilai tidak
wajar;
b) Aspek biaya yang perlu diklarifikasi atau negosiasi terutama:
i) Kesesuaian rencana kerja dengan jenis pengeluaran biaya;
ii) Volume biaya dan jenis pengeluaran; dan
iii) Biaya satuan dibandingkan dengan biaya yang berlaku di pasaran/kewajaran
biaya;
c) Klarifikasi dan/atau negosiasi terhadap unit biaya langsung personil dilakukan
berdasarkan daftar gaji yang telah diaudit dan/atau bukti setor Pajak Penghasilan
tenaga ahli konsultan yang bersangkutan;
d) Biaya satuan dari biaya langsung personil paling tinggi 3,2 (tiga koma dua) kali gaji
dasar yang diterima tenaga ahli tetap dan paling tinggi 2,5 (dua koma lima) kali
penghasilan gaji yang diterima tenaga ahli tidak tetap; ;dan
e) Unit biaya langsung personil dihitung berdasarkan satuan waktu yang telah
ditetapkan.

Paragraf Kelima

Penetapan Jenis Kontrak

Pasal 38

1) Panitia pengadaan mengusulkan kepada PPK untuk menetapkan jenis Kontrak Pengadaan
Barang/Jasa.
2) Kontrak Pangadaan Barang/Jasa meliputi :
a) Kontrak berdasarkan cara pembayaran;
b) Kontrak berdasarkan pembebanan Tahun Anggaran;
c) Kontrak berdasarkan sumber pendanaan; dan
d) Kontrak berdasarkan jenis pekerejaan.
3) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa bedasarkan cara pembayaran sebagaimana dimaksud
pada ayat 2 huruf a, terdiri atas:
a) Kontrak Lump Sum;
b) Kontrak Harga Satuan;
c) Kontrak Gabungan Lump Sum dan Harga Satuan;
d) Kontrak Presentase; dan
e) Kontrak Terima Jadi (Turnkey).
4) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan pembebanan Tahun Anggaran sebagaimana
dimaksud pada ayat 2 huruf b, terdiri atas:
5) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan sumber pendanaan sebagaimana dimaksud
pada ayat 2 huruf c, terdiri atas:
a) Kontrak Pengadaan Tunggal;
b) Kontrak Pengadaan Bersama;
c) Kontrak Payung (Framework Contact).
6) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan jenis pekerjaan sebagaimana dimaksud pada
ayat 2 huruf d, terdiri atas:
a) Kontrak Pengadaan Pekerjan Tunggal; dan
b) Kontrak Pengadaan Pekerjaan Terintegrasi.

Pasal 39

1) Kontrak Lump Sum merupakan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas penyelesaian selurh
pekerjaan dalam batas waktu tertentu sebagaimana ditetapkan dalam kontrak, dengan
ketentuan sebagai berikut:
a) Jumlah harga pasti dan tetap serta tidak dimungkinkan penyesuaian harga ;
b) Semua resiko sepenuhnya ditanggung oleh Penyedia Barang/Jasa;
c) Pembayaran didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai dengan
isi Kontrak;
d) Sifat pekerjaan berorientasi pada keluaran (output based)
e) Total harga penawaran bersifat mengikat; dan
f) Tidak diperbolehkan adanya pekerjaan tambah/kurang.
2) Kontrak Harga Satuan merupakan kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas penyelesaian
seluruh pekerjaan dalam batas waktu yang telah ditetapkan dengan ketentuan sebagai
berikut:
a) Harga satuan pasti dan tetap untuk setiap satuan atau unsur pekerjaan dengan
spesifikasi teknis tertentu;
b) Volume atau kuantitas pekerjaannya masih bersifat perkiraan pada saat kontrak
ditandatangani;
c) Pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan
yang benar-benar telah dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa; dan
d) Dimungkinkan adanya pekerjaan tambah/kurang berdasarkan hasil pengukuran
bersama atas pekerjaan yang diperlukan.
3) Kontrak Gabung Lump Sum dan Harga Satuan adalah Kontrak yang merupakan
gabungan Lump Sum dan Harga Satuan dalam 1 (satu) pekerjaan yang diperjanjikan.
4) Kontrak Presentase merupakan Kontrak Pengadaan Jasa Konsultasi /Jasa lainnya, dengan
ketentuan sebagai berikut:
a) Penyedia Jasa Konsultasi/Jasa Lainnya menerima imbalan berdasarkan presentase dari
nilai pekerjaan tertentu; dan
b) Pembayarannya didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai
dengan isi Kontrak.
5) Kontrak Terima Jadi (Turnkey) merupakan Kontrak Pengadaan Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu
dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh pekerjaan selesai dilaksanakan; dan
b) Pembayaran dilakukan berdasarkan hasil penilaian bersama yang menunjukkan bahwa
pekerjaan telah dilaksanakan sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan.

Pasal 40

1) Kontrak Tahun tunggal merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya mengikat


dana anggaran selma masa 1 (satu) Tahun Anggaran;
2) Kontrak Tahun Jamak merupakan Kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya untuk masa
lebih dari 1 (satu) Tahun Anggaran atas beban anggaran, yang dilakukan setelah
mendapatkan persetujuan Pembina Yayasan;
3) Dalam pelaksanaannya kontrak tahun jamak harus dijabarkan dengana kontrak tahunan
sesuai dengan alokasi dana yang tersedia.

Pasal 41

1) Kontrak Pengadaan Tunggal merupakan kontrak yang dibuat oelh 1 (satu) PPK dengan 1
(saatu) Penyedia Barang/Jasa tertentu untuk menyelesaikanpekerjaan tertentu dalam
waktu tertentu.
2) Kontrak Pengadaan Bersama merupakan Kontrak antara beberapa PPK dengan 1 (satu)
Penyedia Barang/Jasa untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu tertentu, sesuai
dengan kebutuhan masingmasing PPK yang menandatangani kontrak.
3) Kontrak Payung ( Framework Contract) merupakan Kontrak Harga Satuan antara
Yayasan dengan Penyedia Barang/Jasa yang dapat dimanfaatkan oleh unit-unit, dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. Diadakan untuk menjamin harga barang/jasa yang lebih efisien, ketersediaan
barang/jasa terjamin dan sifatnya dibutuhkan secara berulang dengan volume atau
kuantitas pekerjaan yang belum dapat ditentukan pada saat kontrak
ditandatangani; dan
b. Pembayaran dilakukan oleh setiap PPK/Satuan Kerja yang didasarkan pada hasil
penilaian/pengukuran bersama terhadap volume/kuantitas pekerjaan yang telah
dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa secara nyata.
4) Pembebanan anggaran untuk Kontrak Pengadaan Bersama sebagaimana dimaksud pada
ayat 2 (dua), diatur dalam keepakatan pendanaan bersama.

Pasal 42

1) Kontrak Pengadaan Pekerjaan Tunggal merpakan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang


hanya terdiri dari 1 (satu) pekerjaan perencanaan, pelakasanaan atau pengawasan.
2) Kontrak Pengadaan Pekerjaan Terintegrasi merupakan Kontrak Pengadaan Pekrjaan
Konstruksi yang bersifat kompleks dengan menggabungkan kegiatan perencanaan,
pelaksanaa dan/atau pengawasan.

Paragraf Keenam

Tanda Bukti Perjanjian

Pasal 43

1) Tanda bukti perjanjian terdiri atas:


a. Bukti pembelian/faktur;
b. Kuitansi;
c. Surat Peritah Kerja (SPK); dan
d. Surat Perjanjian.
2) Bukti Pembelian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) huruf a, digunakan untuk
Pengadaan Barang/Jasa yang nilainya sampai dengan Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).
3) Kuitansi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) huruf c, digunakan untuk Pengadaan
Barang/Jasa dengan nilai sampai dengan Rp 20.000.000,-(dua puluh juta rupiah).
4) Surat Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, digunakan untuk
Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dengan nilai diatas Rp
50.000.000,- (lma puluh juta rupiah) dan untuk Jasa Konsultasi dengan nilai diatas Rp
20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).

Bagian Keempat

Penyusunan Jadwal Pemilihan Penyedia Barang/Jasa


Paragraf Pertama

Tahapan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa

Pasal 44

1) Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan metode Pelelangan Terbatas, meliputi tahapan


sebagai berikut:
a. Menyuun daftar penyedia barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada pasal 29
huruf c;
b. Mengundang sekurang-kurangnya 3 (tiga) Penyedia Barang/jasa
c. Pendaftaran dan Pengambilan Dokumen Pengadaan;
d. Pemberian Penjelasan
e. Pemasukan dokumen penawaran;
f. Pembukaan dokumen penawaran
g. Evaluasi penawaran, membandingkan harga seluruh penawaran termasuk dengan
HPS;
h. Pegumuman pemenang;
i. Penunjukan penyedia Barang/Jasa.
2) Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan Metode Penunjukan Langsung meliputi tahapan
sebagai berikut:
a. Undangan kepada peserta terpilih dilampiri Dokumen Pengadaan;
b. Pemberian penjelasan;
c. Pemasukan dokumen penawaran;
d. Evaluasi penawaran serta klarifikasi dan negosiasi teknis dan harga;
e. Penetapan penyedia jasa oleh KPA;
f. Penunjukan Penyedia Barang/Jasa oleh PPK.

Paragraf kedua
Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa
Pasal 45
1) Sebelum pelaksanaan Pasal 44 tersebut di atas Panitia pengadaan harus menyusun dan
mentpkan jadwal pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang ditembuskan kepada PA,
KPA, PPK, dan Pengawas Yayasan;
2) Penyusunan jadwal pelaksanaan Pengadaan sebagaiman dimaksud pada ayat 1 (satu)
harus memberikan alokasi waktu yang cukup untuk semua tahapan proses Pengadaan,
termasuk waktu untuk:
a. Pendaftaan dan pengambilan Dokumen Pengadaan;
b. Pemberian penjelasan;
c. Pemasukan dokumen penawaran; dan
d. Penetepan pemenang

Pasal 46
Pelelangan Terbatas dillakukan dengan ketetapan waktu sebagai berikut:

a. Penyampaian undangan kepada semua calon penyedia yang diundang paling lama
3 (tiga) hari kerja sejak tanggal yang tertera dalam undangan;
b. Pendaftaran dan pengambilan dokumen pengadaan dimulai sejak undangan
diterima oleh penyedia sampai dengan 1 (satu) hari kerja sebelum pemberian
penjelasan;
c. Pemberian penjelasan dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal
yang tertera dalam undangan;
d. Pemasukan dokumen penawaran dilakukan paling kurang 3 (tiga) hari kerja dan
paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah ditandatangani berita acara pemberian
penjelasan, dokumen penawaran dalam amplop tertutup dimaksukan dalam kotak
yang telah disediakan oleh panitia pengadaan;