Anda di halaman 1dari 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Geomorfologi Geomorfologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari tentang muka bumi. Kata geomorfologi pada dasarnya berasal dari bahasa Yunani yang di bagi dalam tiga kata, yaitu : Geos (bumi), morphos (bentuk), dan logos (ilmu pengetahuan). Maka geomorfologi merupakan pengetahuan tentang bentuk bentuk permukaan bumi.

Worcester (1939) mendefinisikan geomorfologi sebagai diskripsi dan tafsiran dari bentuk roman muka bumi. Definisi Worcester ini lebih luas dari sekedar ilmu pengetahuan tentang bentangalam (the science of landforms), sebab termasuk pembahasan tentang kejadian bumi secara umum, seperti pembentukan cekungan lautan (ocean basin) dan paparan benua (continental platform), serta bentuk-bentuk struktur yang lebih kecil dari yang disebut diatas, seperti plain, plateau, mountain dan sebagainya. Secara umum geomorfologi mempelajari tentang bentang alam (landscape), bentuk lahan (landform), serta proses yang berkerja dan hasil dibagian permukaan bumi, ada tiga faktor yang patut diperhatikan dalam mempelajari geomorfologi yaitu struktur, proses, dan stadia. Struktur geologi merupakan salah satu faktor penting dalam evolusi bentangalam yang tercerminkan pada muka bumi, jadi sangat jelas bahwa bentangalam suatu daerah telah dikontrol/dikendalikan oleh struktur geologinya. Proses geomorfologi adalah semua gaya yang berdampak terhadap penghancuran (perombakan) bentuk bentangalam yang terjadi akibat gaya endogen sehingga memungkinkan bentangalam mengalami stadia muda, stadia dewasa, dan stadia muda. Stadia/tingkatan bentangalam dinyatakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat kerusakan yang telah terjadi dan dalam tahapan apa kondisi bentangalam saat ini. Untuk menyatakan tingkatan bentangalam digunakan istilah stadia muda,dewasa,dan tua. Stadia muda dicirikan oleh lembah berbentuk V, serta tidak

dijumpai dataran banjir, banyak dijumpai air terjun, aliran air deras, erosi vertikal lebih dominan dibandingkan dengan erosi lateral. Stadia dewasa dicirikan oleh lembah yang cenderung berbentuk U, dimana erosi vertikal sudah seimbang dengan erosi lateral dan terdapat cabang sungai yang bermeandering. Staida tua dicirikan dengan lembah dan sungai meander yang sudah lebar, erosi lateral lebih dominan dibandingkan dengan erosi vertikal karena permukaan erosi sudah mendekati ketingkat dasar muka air. Pola pengaliran sungai dapat diklasifikasikan dalam bentuk dan teksturnya, bentuk atau pola dalam merespon terhadap topografi dan struktur geologi bawah permukaannya. Saluran saluran sungai berkembang ketika air permukaan meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten terhadap erosi. Menurut Monroe J.S dan Wicander R (2006), ada beberapa jenis pola pengaliran antara lain:

dijumpai dataran banjir, banyak dijumpai air terjun, aliran air deras, erosi vertikal lebih dominan dibandingkan dengan

Gambar 2.1. Pola aliran sungai. (a) Pola aliran dendritik, (b) Pola aliran rektangular, (c) Pola aliran trelis, (d) Pola aliran radial, (e) Pola aliran Paralel. (Menurut Monroe J.S dan Wicander R, 2006) a. Pola aliran dendritik merupakan pola aliran yang memiliki cabang cabang sungai menyerupai struktur pohon. Pada umumnya pola aliran sungai dendritik ini dikontrol oleh litologi batuan yang homogen dan dapat memiliki tekstur atau kerapatan sungai yang di kontrol oleh jenis batuannya.

  • b. Pola aliran rektangular merupakan pola aliran sungai yang dikendalikan oleh struktur geologi. Pada umumnya pola aliran ini berkembang pada batuan yang resistensi terhadap erosinya mendekati seragam namun dikontrol oleh kekar yang mempunyai dua arah dengan sudut yang saling tegak lurus, sungai rektangular dicirikan oleh saluran saluran air yang mengikuti pola dari struktur kekar dan patahan.

  • c. Pola aliran trelis adalah pola aliran sungai yang berbentuk seperti pagar, dan dikontrol oleh struktur geologi berupa perlipatan sinklin dan antiklin. Serta dicirikan oleh saluran saluran air yang berpola sejajar, mengalir searah kemiringan lereng dan tegak lurus dengan saluran utamanya, saluran utamanya searah dengan sumbu lipatan.

  • d. Pola aliran radial merupakan pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian, seperti puncak gunung api. Pola aliran radial biasa dijumpai pada bentuk bentuk bentangalam kubah dan laccolith.

  • e. Pola aliran paralel atau pola aliran sejajar adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang curam, pola aliran paralel ini terbentuk pada morfologi lereng dengan kemeringan lereng yang seragam. Pola aliran paralel kadangkala menunjukan adanya suatu patahan besar yang memotong daerah yang batuan dasarnya terlipat dan kemiringan yang curam. Peta geomorfologi didefinisikan sebagai peta yang menggambarkan bentuk lahan, genesa serta proses yang mempengaruhinya dalam berbagai skala. Dalam menginterpretasi geomorfologi digunakan peta topografi untuk melihat kenampakan struktur geologi yang ada pada peta. Di Indonesia peta topografi umumnya tersedia dalam skala 1 : 20.000, 1:1.000.000, 1:500.000, 1:250.000, 1:100.000, dan 1:50.000. Sedangkan untuk penelitian, sesuai dengan RTUR dianjurkan menggunakan peta 1:250.000, 1:100.000 untuk regional upraisal, 1:50.000 1: 25.000 untuk survey dan 1:10.000 dan yang lebih bersar untuk investigasi.

Dalam interpretasi peta topografi, prosedur umum yang biasa dilakukan dan cukup efektif adalah dengan :

  • 1. Menarik semua kontur yang menunjukan adanya lineament atau kelurusan.

  • 2. Mempertegas (biasanya dengan cara mewarnai) sungai sungai yang mengalir pada peta.

  • 3. Mengelompokan pola kerapatan kontur yang sejenis. Hal terpenting yang perlu diamati dalam interpretasi batuan dari peta

topografi adalah pola kontur dan aliran sungai.

  • 1. Pola kontur rapat menunjukan batuan keras, dan pola kontur jarang menunjukkan batuan lunak atau lepas.

  • 2. Pola kontur yang menutup (melingkar) diantara pola kontur lainnya, menunjukan lebih keras dari batuan di sekitarnya.

  • 3. Aliran sungai yang membelok tiba tiba dapat diakibatkan oleh adanya batuan keras.

  • 4. Kerapatan sungai yang besar, menunjukan bahwa sungai sungai itu berada

pada batuan yang lebih mudah tererosi (lunak). (kerapatan sungai adalah perbandingan antara total panjang sungai sungai yang berada pada cekungan pengaliran terhadap luas cekungan pengaliran sungai sungai itu sendiri). Banyak pengelompokan kelas lereng yang telah dilakukan, misalnya oleh Mabbery (1972)untuk keperluan lingkungan binaan, Desaunettes (1977) untuk pengembangan pertanian, dan ITC (1985) yang bersifat lebih kearah umum dan melihat proses proses yang biasa terjadi pada kelas lereng tertentu. (lihat tabel

2.1)

Kelas Lereng

Sifat sifat proses dan kondisi alamiah

warna

0

2

Datar hingga hampir datar, tidak ada proses

 

(0 2%)

denudasi yang berarti

Hijau

2

4

Agak miring, gerakan tanah kecepatan rendah, erosi

Hijau

(2 7%)

lembar dan erosi alur (sheet and rill erosion). Rawan erosi

Mudah

4

8

Miring, sama dengan diatas, tetapi dengan besaran

Kuning

(7 15%)

yang lebih tinggi. Sangat rawan erosi tanah.

   

8 16(15 30%)

Agak curam, banyak terjadi gerakan tanah, dan erosi, terutama longsoran yang bersifat nendatan

Jingga

16

35

Curam, proses denudasional intensif, erosi dan

Merah

(30 70%)

gerakan tanah sering terjadi

Muda

35

55

Sangat curam, batuan umumnya mulai tersingkap,

Merah

(70 140%)

proses denudasional sangat intesif, sudah mulai menghasilkan endapan rombakan (koluvial)

 

Curam

sekali,

batuan

tersingkap, proses

 

>55

(>140 %)

denudasional sangat kuat, rawan jatuhan batu, tanaman jarang tumbuh (terbatas)

Ungu

 

Curam

sekali,

batuan

terisngkap,

proses

 
 

>55

denudasional sangat kuat, rawan jatuhan batu,

Ungu

(>140 %)

tanaman jarang tumbuh (terbatas)

 

Tabel 2.1. Kelas lereng, dengan sifat sifat proses dan kondisi alamiah yang kemungkinan terjadi dan usulan warna untuk peta relief secara umum (Van Zuidam, 1985). Didalam penentuan satuan geomorfologi, ada beberapa klasifikasi yang digunakan dalam menentukan satuan ini salah satunya adalah bentuk muka bumi (BMB) oleh Brahmantyo dan Bandono (2006). Klasifikasi BMB membagi bentang alam kedalam 9 kelas utama, yaitu (1) Pegunungan lipatan, (2) pegunungan plateau/ lapisan datar, (3) Pegunungan sesar, (4) Pegunungan gunungapi, (5) Pegunungan karst, (6) Dataran sungai dan danau, (7) Dataran pantai, delta dan laut, (8) Gurun, dan (9) Glasial.

Gambar 2.2. Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Brahmantyo dan Bandono, 2006)
Gambar 2.2. Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Brahmantyo dan Bandono, 2006)

Gambar 2.2. Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Brahmantyo dan Bandono, 2006)

2.1.2. Stratigrafi Menurut Sandi Stratigrafi Indonesia (IAGI, 1996) stratigrafi dalam artian luas merupakan ilmu yang membahas aturan, hubungan serta kejadian macam macam batuan didalam ruang dan waktu, sedangkan dalam artian sempit ialah ilmu yang mempelajari pemerian pada lapisan lapisan batuan. Secara umum stratigrafi menyangkut semua macam batuan, baik batuan sedimen, batuan beku maupun batuan metamorf, mempelajari dan menguasai stratigrafi ini sangatlah penting bagi geologist karena dapat membantu dalam merangkum komposisi sedimen, struktur, tekstur dan kenampakan lainnya untuk diinterpretasikan kedalam aspek yang lebih luas. Batuan adalah material penyusun kerak bumi yang tersusun atas satu atau banyak jenis mineral, klasifikasi batuan umumnya digolongkan keadalam tiga golongan besar, yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. a. Batuan Beku Batuan beku adalah batuan yang berasal dari magma yang mendingin dan kemudian mengeras dengan atau tanpa proses kristalisasi, biasanya terbentuk di bawah permukaan bumi yang kita kenal sebagai batuan intrusif (plutonik) dan terbentuk di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik) (Noor, 2011). Batuan beku intrusif merupakan batuan beku yang proses pembekuannya terjadi di bawah permukaan bumi, batuan beku intrusif dibagi menjadi dua struktur yaitu konkordan dan diskordan. Konkordan merupakan batuan beku yang sejajar dengan perlapisan yang ada disekitarnya, batuan ini terbagi dalam beberapa jenis antara lain:

Sill yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan yang ada di sekitarnya. Laccolith dengan tubuh batuan yang berbentuk seperti kubah, lapisan batuan ini asalnya datar lalu menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Lopolith yang tubuh batuannya cenderung cembung ke bawah, lopolith memliki diameter yang lebih besar di banding laccolith.

Paccolith yang tubuh batuannya menempati sinklin ataupun antiklin yang telah terbentuk sebelumnya. Diskordan merupakan batuan beku yang memotong perlapisan batuan yang ada disekitarnya, jenis jenis dari batuan ini antara lain:

Dyke memiliki bentuk tabular/ memanjang, serta batuan ini memotong perlapisan yang ada disekitarnya. Batolith memiliki ukuran yang sangat besar, dan batuan ini membeku pada kedalaman yang besar pula. Stock memiliki ukuran yang lebih kecil, tubuh batuannya mirip dengan tubuh batuan batolith.

 Paccolith yang tubuh batuannya menempati sinklin ataupun antiklin yang telah terbentuk sebelumnya. Diskordan merupakan batuan

Gambar 2.3. Struktur tubuh batuan beku intrusif (Monroe J.S dan Wicander R,

2006)

Batuan beku ekstrusif ini biasanya terbentuk dipermukaan bumi, batuan ini memiliki berbagai struktur yang memberikan pentujuk untuk proses yang terjadi pada saat pembekuan magma, seperti sheeting joint yang terlihat sebagai lapisan, columnar joint yang terlihat seperti sebuah batang pensil, pillow lava yang menyerupai bantal, serta vesikuler struktur batuan beku yang memperlihatkan lubang lubang.

Magma yang membentuk batuan biasanya berasal dari batuan yang sudah ada sebelumnya yang mengalami pencairan akibat adanya kenaikan temparatur, atau penurunan tekanan ataupun perubahan komposisi. Kombinasi yang berbeda pada saat pembekuan magma, mengakibatkan batuan memiliki tekstur yang berbeda beda, seperti :

Tingkat kristalisasi yang meliputi holokristalin, hipokristalin dan holohyalin.

Ukuran butir yang meliputi afanitik dan faneritik,

Bentuk kristal yang terdiri dari euhedral, subhedral dan anhedral.

Keseragaman antar butir yang meliputi equigranular dan inequigranular. Selain batuan beku intrusif dan batuan beku ekstrusif terdapat juga istilah batuan piroklastik. Batuan piroklastik merupakan batuan beku ekstrusif yang disusun oleh material material yang dihasilkan oleh letusan gunungapi, material ini terdiri dari fragmen fragmen pijar berukuran halus sampai berukurang bongkah yang disemburkan pada saat terjadi letusan. Dilihat dari ukurannya, material piroklastik dibagi menjadi tiga (Maitre, dkk., 2002):

Bom vulkanik yaitu fragmen yang berukuran lebih besar dari 64 mm, membundar dan memadat serta membentuk sekelompok batuan yang dinamakan aglomerat, sedangkan untuk fragmen yang berukuran bongkah berbentuk menyudut dan memadat membentuk batuan sebagai breksi vulkanik. Lapili yaitu fragmen yang berukuran antara 64 dan 2 mm, apabila mengalami pemadatan akan membentuk batuan yang dinamakan lapili aglomerat atau lapili breksia, tergantung dari bentuk fragmennya.

Debu vulkanik yaitu fragmen yang mempunyai ukuran kurang dari 2 mm , apabila terjadi pemadatan dan membatu dinamakan tufa. Tuf dapat juga mengandung beberapa fragmen berukuran besar yang dikenal dengan istilah tuf lapili dan tuf breksi. b. Batuan Sedimen Batuan sedimen merupakan batuan yang terbentuk dari hasil rombakan batuan yang ada sebelumnya melalui proses pelapukan, erosi, pengangkutan dan pengendapan yang pada akhirnya mengalami proses litifikasi atau pembatuan. Pettijohn membagi struktur sedimen kedalam tiga golongan, yaitu struktur

sedimen primer yang terjadi pada batuan sedimen dengan proses sedimentasi yang digunakan untuk mengidentifikasi mekanisme pengendapan, struktur sedimen sekunder merupakan proses sedimentasi yang dapat merefleksikan lingukangan pengendapan, keadaan dasar permukaan, lereng dan kondisi permukaan, dan struktur sedimen organik yang terjadi akibat adanya proses organisme pada dan sesudah terjadinya proses sedimentasi. Struktur sedimen primer terdiri atas :

Graded bedding (struktur lapisan bersusun) merupakan perlapisan dari butir yang kasar lalu berangsur menjadi butir halus pada suatu perlapisan sedimen. Cross bedding (struktur lapisan silangsiur) yaitu perlapisan yang terpotong oleh lapisan berikutnya dengan sudut yang berlainan, biasanya lapisan cenderung miring kearah dimana angin atau air mengalir pada saat terjadinya pengendapan. Paralel lamination ( struktur laminasi sejajar) merupakan perlapisan yang sejajar, Ripple mark (struktur riak gelombang) merupakan perlapisan dengan bentuk yang bergelombang, disebabkan oleh gelombang atau angin. Convolute laminations :

Mudcracks meurpakan struktur sedimen dari pengeringan pada batuan sedimen yang basah di permukaan bumi, rekahannya terbentuk oleh pengkerutan pada sedimen ketika sudah mengering. Batuan sedimen terbagi menjadi dua kelompok, yaitu sedimen klastik dan sedimen non klastik. Batuan sedimen klastik dikelompokkan berdasarkan ukuran dan butirnya, Klasifikasi ukuran butir yang dipakai untuk pengelompokan batuan sedimen klastik menggunakan klasifikasi dari Wentworth.

 

SKALA WENWORTH

Ukuran Butir

Nama (Inggris)

Nama (Indonesia)

>256

Boulder

Bongkah

64 256

Cobble

Kerakal

4 64

Pebble

Kerikil

2 4

Granule

Pasir kasar

1/16 2

Sand

Pasir

1/256 1/16

Silt

Lanau

1/256 <

Clay

Lempung

Tabel 2.1. Skala Wenworth Batuan sedimen non klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari proses kmiawi, selain itu terdapat juga batuan sedimen hasil endapan organik seperti batugamping terumbu yang berasal dari organisme yang telah mati. Klasifikasi batuan karbonat yang digunakan dalam penelitian mengacu pada klasifikasi menurut Embry & Klovan (1971) dalam Suwanda, A (2012).

ada
ada

c. Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari batuan asal yang mengalami perubahan temperatur dan tekanan yang mengakibatkan adanya pembentukan mineral mineral dengan tekstur batuan yang baru. Jenis jenis metamorfisme terbagai dalam beberapa jenis, antara lain:

Metamorfisme thermal (Kontak) merupakan metamorfosa yang terjadi karena aktifitas intrusi magma, metamorfosa kontak dikenal juga sebagai metamorfosa

yang bertekanan rendah dan temperatur yang tinggi serta menghasilkan batuan berbutir halus tanpa foliasi yang dikenal sebagai hornfels. Metamorfisme dinamis merupakan metamorfosa yang diakibatkan oleh deformasi mekanis, terjadi disepanjang zona patahan/ sesar. Metamorfosa regional adalah metamorfosa yang terjadi pada wilayah dengan tingkat deformasi yang tinggi dibawah tekanan diferensial, proses yang berperan dalam metamorfosa ini adalah kenaikan tekanan dan temperatur. Metamorfosa burial merupakan metamorfosa yang terjadi apabila batuan sedimen yang berada pada kedalaman tertentu yang memiliki temperatur lebih dari 300C serta tidak adanya tekanan diferensial, metamorfosa burial umumnya overlap dengan diagenesa dan akan berubah menjadi metamorfosa regional seiring meningkatnya tekanan dan temperatur.

Salah satu struktur yang terpenting pada batuan metamorf adalah foliasi, foliasi merupakan hubungan tekstur yang memperlihatkan orientasi kesejajaran, jenis jenis foliasi diantaranya adalah:

  • a. Gneissic merupakan perlapisan dari mineral mineral yang membentuk jalur putus putus dan terdiri dari tekstur lepidoblastik dan granoblastik.

  • b. Schistosity merupakan

  • c. Phylitic

  • d. Slaty

2.1.3. Struktur Geologi Geologi struktur merupakan bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk batuan sebagai hasil deformasi serta menjelaskan proses pembentukannya. Deformasi batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya yang bekerja di dalam bumi, ketika batuan terdeformasi maka batuan akan mengalami tarikan sehingga gaya tarikan tersebut akan mengalami perubahan bentuk, ukuran atau volume dari suatu batuan. Dalam dunia geologi ada tiga jenis struktur yang dijumpai pada batuan sebagai produk dari gaya gaya yang bekerja pada batuan, yaitu kekar (fracture) dan rekahan (cracks), perlipatan (folding), dan patahan/ sesar (faulting). 1. Kekar (Fracture)

Kekar adalah struktur retakan/ rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Kekar dapat terbentuk baik secara primer (bersamaan dengan pembentukan batuan, misalnya kekar kolom dan kekar melembar pada batuan beku) maupun secara sekunder (setelah proses pembentukan batuan), berdasarkan genesanya, kekar di bagi menjadi :

  • a. Shear joint (kekar gerus) yaitu kekar yang terjadi akibat tegasan kompresif (compressive stress). Rekahan yang membentuk pola saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan arah gaya utama, umumnya bersifat tertutup.

  • b. Tension joint (kekar tarik) yaitu kekar yang terjadi akibat tegasan tarikan (tension stress), biasanya rekahan berpola sejajar dengan arah gaya utama, dan umumnya bentuk rekahan bersifat terbuka.

  • c. Extension joint (realease joint )yang terjadi akibat peregangan/ tarikan, rekahan berpola tegak lurus dengan arah gaya utama dan rekahan umumnya terbuka. 2. Lipatan (Folds) Lipatan merupakan deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya

tegasan sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Pada umumnya unsur yang terlibat didalam lipatan adalah bidang perlipatan,

foliasi, dan liniasi, jenis jenis lipatan dibagi menjadi :

  • a. Antiklin yaitu struktur lipatan dengan bentuk convex (cembung) dimana lapisan batuan yang tua berada dibagian inti antiklin.

  • b. Sinklin yaitu struktur lipatan dengan bentuk concave (cekung) dimana lapisan batuan yang muda berada di bagian inti sinklin.

  • c. Antiform yaitu struktur lipatan seperti antiklin namun umur batuan tidak diketahui.

  • d. Sinform yaitu struktur lipatan seperti sinklin namun umur batuan tidak diketahui.

  • e. Sinklin antiformal yaitu struktur lipatan seperti antiklin dengan lapisan batuan yang tua dibagian atas dan batuan yang muda dibagian bawah.

  • f. Antiklin sinformal yaitu struktur lipatan seperti sinklin dengan lapisan batuan yang tua dibagian atas dan lapisan batuan yang muda di bawah.

g. Struktur kubah (dome) yaitu suatu jenis tertentu antiklin dimana lapisan batuan mempunyai kemiringan ke segala arah yang menyebar dari satu titik. h. Struktur depresi (basinal) yaitu suatu jenis unik sinklin dimana kemiringan lapisan batuan menuju ke satu titik. 3. Patahan/ sesar (Faults) Patahan/ sesar adalah suatu rekahan yang memperlihatkan pergeseran cukup besar dan sejajar terhadap bidang rekahan yang terbentuk dan umumnya disertai oleh struktur lain seperti lipatan, rekahan dan sebagainya. Pergeseran pada sesar dapat terjadi sepanjang garis lurus (translasi) atau terputar (rotasi), pada umumnya indikasi adanya sesar pada suatu wilayah dapat dikenali oleh beberapa gejala sesar misalnya kelurusan sungai, kelurusan gawir, kelurusan punggungan, keberadaan zona hancuran, dan keberadaan kekar, serta gejala gejala struktur minor seperti cermin sesar, gores garisan dan lipatan. Secara umum, sesar dibagi menjadi tiga jenis yaitu sesar mendatar, sesar turun dan sesar naik. Sesar mendatar (strike slip fault) yaitu sesar yang pergerakannya sejajar, blok bagian kiri relatif bergeser kearah yang berlawanan dengan blok bagian kanannya. Berdasarkan arah pergerakannya sesar mendatar dibagi menjadi dua bagian, yaitu sesar mendatar dextral (sesar menganan) yang merupakan sesar dengan arah pergerakannya searah dengan perputaran jarum jam. Dan sesar sinistral (sesar mengiri) yang merupakan sesar dengan arah pergeserannya berlawanan arah dengan perputaran jarum jam. Sesar turun (normal faults) yaitu patahan yang terjadi karena gaya tegasan tensional horizontal pada batuan yang bersifat retas dimana hanging wallnya relatif kearah bawah terhadap foot wallnya. Sesar naik (thrust fault) yaitu sesar yang pergerakan hanging wallnya relatif naik terhadap foot wallnya.

Gambar 2.3. Contoh sesar: (a) sesar normal , (b) sesar naik, (c) sesar mendatar menganan, (d)

Gambar 2.3. Contoh sesar: (a) sesar normal , (b) sesar naik, (c) sesar mendatar menganan, (d) sesar mendatar mengiri. (Allmendinger R.W, 2015) 2.2. Geologi regional 2.2.1. Fisiografi Regional Seksi gorontalo dilalui oleh jalur depresi memanjang, membentang dari pegunungan dibagian utara sampai di pesisir pantai bagian selatan. Gorontalo merupakan bagian tengah lengan utara sulawesi, dimana sebagian besar daerah ini ditempati oleh gunungapi terseier yang aktifitas vulkanisnya sudah padam. Gorontalo dibagi kedalam empat zona utama, yaitu Zona Pegunungan Utara yang dicirikan oleh pegunungan yang berlereng terjal seperti Gunung Tentolomatinan yang memiliki ketinggian 2207 m, dan Gunung Boliohuto dengan ketinggian 2065 m, serta zona ini memiliki formasi formasi batuan gunungapi Tersier dan batuan Plutonik. Zona Depresi Limboto merupakan cekungan yang terbentuk oleh sungai Paguat, sungai Randangan, sungai Paguyaman, dan Danau Limboto, sungan Bone dan sungai Ongkang Dumoga. Zona Pegunungan Selatan terbentang dari Bone Bolango, Bone Pantai, Tilamuta, Marisa dan Popayato, zona dicirikan dengan batuan gunungapi sedimenter yang berumur tua sampai muda pada Eosen Pliosen.

Zona Perbukitan Begelombang umumnya dicirikan dengan bentuk puncak yang membulat dan lereng yang relatif landai dengan batuan gunungapi dan

batuan sedimen yang berumur Tersier hingga kuarter. Zona Dataran Pantai Pohuwato tersusun oleh aluvial pantai yang sebagian besar adalah daerah rawa dan zona pasang surut, zona ini terbentang dari Marisa hingga Torsiaje yang merupakan perbatasan antara Gorontalo dan Sulawesi Tengah. 2.2.2. Stritigrafi Regional Berdasarkan peta geologi regional lembar Tilamuta dengan skala 1 :

250.00 (Bachri, Sukido dan N.Ratman, 1993), stratigrafi regional daerah penelitian diurutkan dari tua ke muda, yaitu :

  • 1. Diorit Bolihuto (Tmbo)

Satuan Diorit Boliohuto (Tmbo) terdiri dari batuan diorit sampai granodiorit yang mengandung kuarsa sampai 20 %, dengan kandungan feldspar dan biotit yang cukup menonjol. Dibeberpa tempat dijumpai senolit bersusun basa, kemungkinan batuan dioritan tersebut berasosiasi (menerobos) batuan basah jauh dipermukaan. Batuan ini menerobos sampai ke Formasi Dolokapa. Singkapan baik satuan ini dijumpai di gunung Boliohuto dan membentuk pegunungan terjal dengan ketinggian mencapai 1.800 m diatas permukaan laut.

  • 2. Formasi Dolokapa (Tmd)

Satuan Formasi Dolokapa (Tmd) adalah satuan dengan umur kisaran Miosen awal Miosen Akhir, satuan ini disusun oleh batuan sedimen yaitu, batupasir wake, batulanau, batulumpur, konglomerat, tuf, aglomerat, dan breksi gunungapi. Batupasir memiliki ciri berwarna abu abu, setempat gampingan, belapis baik sangat kompak dan dijumpai struktur sedimen konvult laminasi. Sedangkan pada konglomerat berwarna abu abu dengan pemilahan burul, kemas tertutup, kompak dijumpai perlapisan bersusun. Breksi memiliki ciri dengan warna abu abu gelap, tersusun oleh kepingan batuan andesitan hingga basalah yang

berukuran 2 -8 cm, sedangkan lava pada umumnya berwarna abu abu tua dengan sifat andesitan hingga basalan, bertekstur afanitik, massif, dan kompak.

  • 3. Breksi Wobudu (Tpwv)

Breksi Wobudu (Tpwv) terdiri dari breksi gunungapi, aglomerat, tuf, tuf lapili, lav andesitan dan basalan. Breksi gunungapi memiliki ciri berwarna abu abu dan tersusun oleh kepingan batuan andesitan dan basal yang berukuran kerikil sampai bongkah, mempunyai susunan batuan dan kenampakan fisik yang sama dengan breksi gunungapi.