Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER

PADA GERONTIK DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI

Di susun oleh :

1. Adhe Irawan (C1014035)


2. Deasi Amalina (C1014041)
3. Nita Yuliana (C1014054)
4. Siska Utami A (C1014060)
5. Yeni Sulistyaningsih (C1014066)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jln. Cut Nyak Dhien No. 16 Kalisapu – Slawi
2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem organ yang bertugas untuk
menyampaikan nutrien(seperti asam amino dan elektrolit), hormon, sel darah dll dari dan
menuju sel-sel tubuh manusia,yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan homeostasis.
Sistem ini terdiri atas organ jantungdan pembuluh-pembuluh darah.
Penyakit jantung merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah
penderita penyakit ini terus bertambah. Ketiga kategori penyakit ini tidak lepas dari gaya
hidup yang kurang sehat yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.
Angka harapan hidup yang semakin meningkat ditambah peningkatan golongan usia tua
semakin memperbesar jumlah penderita penyakit jantung yang sebagian besar diderita oleh
orang tua. (Wikipedia, 2008).
Sekitar 83 persen penderita gagal jantung merupakan lansia. Gagal jantung diastolik
merupakan masalah utama disfungsi pendarahan pada orang gaek. Dari para lansia berusia
di atas 80 tahun yang menderita gagal jantung, 70 persen di antaranya memiliki fungsi
sistolik yang normal. Sedangkan para penderita gagal jantung yang berusia di bawah 60
tahun hanya kurang dari 10 persen yang fungsi sistoliknya masih bagus. Artinya, sebagian
besar penderita lansia tidak memiliki kelainan pada fungsi sistolik, namun mengalami
kelainan diastole. Sementara itu, hampir 75 persen pasien geriatri menderita gagal jantung,
hipertensi dan atau penyakit arteri koroner.
Sedangkan para lansia penderita gagal jantung diastolik akan mengalami gagal
jantung dekompensasi karena biasanya tekanan darahnya relatif tinggi dan tidak terkontrol.
Selain itu, sulit membedakan secara klinis antara gagal jantung diastol atau sistol karena
keduanya sering bercampur pada orang tua. Gejala yang mendadak merupakan tanda umum
gagal jantung akibat kelainan fungsi diastol.
Gejala dan tanda gagal jantung akibat penuaan relatif sama pada gagal jantung orang
muda, namun biasanya gejala klinis dan keluhan utama pasien tua seringkali berbeda dan
sangat tersembunyi. Biasanya pasien tidak sadar dengan penyakitnya, yang dia alami ialah
sebuah perasaan yang tidak berharga, tidak berguna, dan relatif menerima keadaan apa
adanya seiring dengan bertambahnya usia. Namun biasanya, karena gagal jantung orang tua
cenderung berupa kegagalan diastol, maka gejalanya akan timbul tiba – tiba dan membuat
orang tua jadi uring – uringan.

1.2 Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan gerontik.
2. Agar mahasiswa mampu memahami sistem kardiovaskuler yang terjadi pada lansia.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui proses penuaan
2. Mengetahui pengeian system kardiovaskuler
3. Mengetahui fisiologis system kardiovaskuler
4. Mengetahui perubahan fisiologis kardiovaskuler

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Mahasiswa dapat mengenal masalah kesehatan khususnya masalah yang berkaitan dengan
sistem kardiovaskuler pada lansia.
b. Mahasiswa dapat memberikan tindakan perawatan yang tepat terhadap lansia yang
mengalami gangguan pada sistem kardiovaskuler.
c. Mahasiswa memiliki gambaran tentang proses perawatan terhadap lansia yang mengalami
gangguan pada sistem kardiovaskuler.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Gerontik


Gerontik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan lanjut usia dengan segala
permasalahannya, baik dalam keadaan keadaan sehat maupun sakit (nugroho, 2006)
Menjadi tua merupakan kodrat yang harus dijalani oleh semua insan di dunia. Namun,
seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, proses penuaan dapat diperlambat
atau dicegah (Smith, 2001).
Menjadi tua atau aging adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan
secara perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan struktur,
serta fungsi normalnya. Akibatnya tubuh tidak dapat bertahan terhadap kerusakan atau
memperbaiki kerusakan tersebut (Cunnningham, 2003).
Proses penuaan ini akan terjadi pada seluruh organ tubuh meliputi organ dalam tubuh,
seperti jantung, paru-paru, ginjal, indung telur, otak, dan lain-lain, juga organ terluar dan
terluas tubuh, yaitu kulit (Cunnningham, 2003; Yaar & Gilchrest, 2007).

2.2 Sistem Kardiovaskuler


a. Pengertian Sistem Kardiovaskuler
System kardiovaskuler terdiri dari jantung dan pembuluh darah, mengandung 5,5
L darah laki-laki dengan berat 70 kg. Fungsi utama system kardiovaskuler adalah
mendistribusi O2 dan nutrisi ke jaringan, mentransfer metabolit dan CO2 ke organ
ekskresi dan paru, serta mentransport hormone dan komponen system imun. System
kardiovaskuler juga berperan penting pada termoregulasi. Sebagian besar system
kardiovaskuler tersusun peralel, yaitu setiap jaringan mendapat darah langsung dari aorta.
Keadaan ini memungkinkan semua jaringan mendapat darah yang teroksigenasi penuh
dan aliran bisa dikontrol secara independen pada setiap jaringan melawan tekanan
konstan yang diatur dengan mengubah resistensi arteri kecil (yaitu kontriksi atau dilatasi
arteriol). Jantung kanan, paru , dan jantung kiri tersusun seri. Sistem porta juga tersusun
seri dimana darah digunakan untuk mentranspor zat langsung dari satu jaringan ke
jaringan lainnya, seperti pada system porta hepatica di antara organ pencernaan dan hati.
Fungsi system kardiovaskuler dimodulasi oleh system saraf otonom.

b. Fisiologi Sistem kardiovaskuler


Darah dipompa sebanyak 5 liter permenit, 100.000 pompaan perjam dan sekitar
35 juta pompaan per tahun. Darah dari seluruh tubuh melalui vena cava superior yang
membawa darah dari ekstermitas atas dan vena cava inferior yang membawa darah
dari ekstermitas bawah menuju ke atrium dekster kemudian menuju ke ventrikel
dekster melalui katup trikuspidalis. Pada saat darah masuk ke dalam ventrikel terjadi
kontraksi ventrikel disebut sistol. Dan saat relaksasi di sebut diastole. Saat terjadi
kontraksi di ventrikel katup trikuspidalis menutup agar darah tidak masuk ke dalam
atrium dekster. Sehingga menyebabkan darah masuk ke paru-paru melalui arteri
pulmonalis. Saat tekanan ventrikel itu juga menyebabkan katup pulmonary membuka.
Di dalam paru-paru pertukaran gas pada darah terjadi di kapiler yang mengelilingi
alveoli pada paru-paru.
Kapiler-kapiler ini bergabung membentuk venula dan darah yang teroksigenasi
dibawa kembali melalui vena pulmonalis ke atrium sinister kemudian masuk ke
dalam ventrikel sinister melalui katup bikuspidalis. Seperti di ventrikel dekster,
ventrikel sinister juga berkontraksai dan berelaksasi bersamaan dengan ventrikel
dekster. Saat ventrikel sinister berkontraksi katup bikuspidalis menutup dan katup
aorta membuka sehingga darah mengalir melalui aorta dan dihantar keseluruh tubuh.

2.3 Anatomi System Kardiovaskuler


Anatomi system kardio vaskuler terdiri dari :
1. Jantung

Jantung merupakan organ pemompa besar yang memelihara peredaran melalui


seluruh tubuh. Jantung berbentuk menyerupai jantung pisang yang ukurannya hampir
sebesar sekepalan tangan orang dewasa. Bagian atas jantung tumpul disebut basis kordis
dan bagian bawahnya runcing disebut apeks kordis.
Jantung memiliki 3 lapisan, yaitu :
a. Endokardium
Merupakan lapisan jantung yang terdapat di sebelah dalam yang terdiri dari jaringan
endotel atau selaput lender yang melapisi permukaan rongga jantung.
b. Miokardium
Merupakan lapisan inti dari jantung yang terdiri dari otot-otot jantung.
c. Pericardium
Lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput pembungkus jantung.
Jantung terdiri dari 4 ruangan, yaitu :
1. Atrium dekster
Merupakan ruang jantung sebelah kanan atas. Didalam atrium dekster terdapat:
a) Aurichula dekstra : bangunan pada jantung sebelah kanan yang menyerupai
daun telinga.
b) Septum interatrial : dinding yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri.
c) Vena cava superior : pembuluh darah yang membawa darah dari ekstermitas
atas ke jantung.
d) Vena cava inferior : pembuluh darah yang membawa darah dari ekstermitas
bawah ke jantung.

2. Ventriculus dekstrum
Merupakan ruang jantung sebelah kanan bawah. Didalam ventriculus dekster
terdapat :
a) Valvula atrioventrikularis dekstrum atau valva trikuspidalis : terdapat pada
atrium dekster dan ventrikulus dekster yang terdiri dari 3 katup.
b) Musculi papilares : merupakan otot didalam jantung kanan yang mengatur
gerakan katup.
c) Chordaetendineae : serabut otot jantung.
d) Valva trunci pulmonalis : katup pada arteri pulmonalis.
e) Septum interventrikulare : dinding atau sekat yang memisahkan antara
ventrikulus dekster dan ventrikulus sisnister.
f) Arteri pulmonalis : pembuluh darah yang membawa darah dari ventrikel
dekstra masuk ke pulmo.
3. Atrium sinister
a) Merupakan ruang jantung sebelah kiri atas, terdapat :
b) Vena pulminalis : pembuluh darah yang membawa darah dari paru-paru
masuk ke atrium sinistra.
c) Auricul sinistra : bangunan pada jantung sebelah kiri yang menyerupai daun
telinga.
4. Ventrikulus sinistra
Merupakan ruangan jantung sebelah kiri bawah
a) Valvula atrioventrikularis sisnistra/ valve bikuspidalis : terdapat pada atrium
sinister dan ventrikulus sinister yang terdiri dari 2 katup.
b) Musculi papilares : merupakan otot didalam jantung kiri yang mengatur
gerakan katup.
c) Chordaetendineae : serabut otot jantung.
d) Valve aorta :
e) Septum interventrikulare : dinding atau sekat yang memisahkan antara
ventrikulus dekster dan ventrikulus sisnister

2. Pembuluh darah
a. Arteri
Merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung yang membawa darah
keseluruh bagian dan alat tubuh. Arteri mempunyai diding berlapis 3, yaitu :
1. Tunika intima/eksterna : lapisan yang paling dalam sekali yang berhubugan
dengan darah dan terdiri dari jaringan endotel.
2. Tunika media : lapisan tengah yang terdiri dari jaringan otot yang sifatnya elastic
dan termasuk otot polos.
3. Tunika eksterna/ adventisia : lapisan yang paling luar sekali terdiri dari jaringan
ikat gembur yang berguna menguatkan dinding arteri
Arteri yang paling besar di dalam tubuh yaitu :
a) Aorta
Merupakan pembuluh darah arteri besar yang keluar dari jantung bagian
ventrikel sinistra melalui aorta asendens lalu membelok kebelakang melalui
radiks pulmonalis sinistra, turun sepanjang kolumna vertebralis menembus
diafragma lalu menurun ke bagian perut
Ada 5 bagian aorta :
1. Aorta asendens
Aorta yang naik ke atasdengan panjangnya ±5 cm, cabangnya arteri
koronariamasuk ke jantung.
2. Arkus aorta
Bagian aorta yang melengkung arah ke kiri, di depan trakea sedikit ke
bawah sampai vena torakalis IV
Cabang–cabangnya : arteri brakia sefalika atau arteri Anomia, arteri
subklavia sinistra dan arteri koratis komunis sinistra.
3. Aorta Desendens
Bagian aorta yang menurun mulai dari vertebra torakalis IV sampai vertebra
lumbalis IV.
4. Aorta torakalis : dimulai dari vertebra torakalis IV sampai menembus
diafragma.
5. Aorta abdominalis : pada vertebra torakalis XII terbagi 2 : arteri iliaka
komunis dekstra dan arteri iliaka komunis sinistra.
b) Truncus pulmonari :
1. Arteri pulmonaris dekster merupakan pembuluh darah yang keluar dari
ventrikel dekstra menuju ke paru-paru kanan
2. Arteri pulmonaris sinister merupakan pembuluh darah yang keluar dari
ventrikel dekstra menuju ke paru-paru kiri
c) Vena
Merupakan pembuluh darah yang membawa darah dari bagian/ alat-alat tubuh
masuk kedalam jantung. Vena yang masuk ke jantung yaitu:
1. Vena cava superior
Pembuluh darah yang mengalirkan darah ke atrium dekstra yang datang dari
tubuh bagian atas.
2. Vena cava inferior
Pembuluh darah yang mengalirkan darah ke atrium dekstra yang datang dari
tubuh bagian bawah.
3. Vena pulmonalis
Pembuluh darah yang membawa darah dari paru-paru masuk ke atrium
sinistra

2.4 Perubahan Fisiologis Kardiovaskuler


A. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Jantung
1. Pada miokardium terjadi brown atrophy disertai akumulasi lipofusin (aging
pigment) pada serat-serat miokardium.
2. Terdapat fibrosis dan kalsifikasi dari jaringan fibrosa yang menjadi rangka dari
jantung. Selain itu pada katup juga terjadi kalsifikasi dan perubahan sirkumferens
menjadi lebih besar sehingga katup menebal. Bising jantung (murmur) yang
disebabkan dari kekakuan katup sering ditemukan pada lansia.
3. Terdapat penurunan daya kerja dari nodus sino-atrial yang merupakan pengatur
irama jantung. Sel-sel dari nodus SA juga akan berkurang sebanyak 50%-75% sejak
manusia berusia 50 tahun. Jumlah sel dari nodus AV tidak berkurang, tapi akan
terjadi fibrosis. Sedangkan pada berkas His juga akan ditemukan kehilangan pada
tingkat selular. Perubahan ini akan mengakibatkan penurunan denyut jantung.
4. Terjadi penebalan dari dinding jantung, terutama pada ventrikel kiri. Ini
menyebabkan jumlah darah yang dapat ditampung menjadi lebih sedikit walaupun
terdapat pembesaran jantung secara keseluruhan. Pengisian darah ke jantung juga
melambat.
5. Terjadi iskemia subendokardial dan fibrosis jaringan interstisial. Hal ini disebabkan
karena menurunnya perfusi jaringan akibat tekanan diastolik menurun.

B. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Pembuluh darah


1. Hilangnya elastisitas dari aorta dan arteri-arteri besar lainnya. Ini menyebabkan
meningkatnya resistensi ketika ventrikel kiri memompa sehingga tekanan sistolik
dan afterload meningkat. Keadaan ini akan berakhir dengan yang disebut “Isolated
aortic incompetence”. Selain itu akan terjadi juga penurunan dalam tekanan
diastolik.
2. Menurunnya respons jantung terhadap stimulasi reseptor ß-adrenergik. Selain itu
reaksi terhadap perubahan-perubahan baroreseptor dan kemoreseptor juga menurun.
Perubahan respons terhadap baroreseptor dapat menjelaskan terjadinya Hipotensi
Ortostatik pada lansia.
3. Dinding kapiler menebal sehingga pertukaran nutrisi dan pembuangan melambat.
C. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Darah
1. Terdapat penurunan dari Total Body Water sehingga volume darah pun menurun.
2. Jumlah Sel Darah Merah (Hemoglobin dan Hematokrit) menurun. Juga terjadi
penurunan jumlah Leukosit yang sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh. Hal
ini menyebabkan resistensi tubuh terhadap infeksi menurun.

2.5 Asuhan Keperawatan Hipertensi Pada Lansia

A. Pengkajian
1. Biodata
Kaji biodata mulai dari nama, alamat, usia, pendidikan, agama.

2. Riwayat Penyakit Dahulu


Tanyakan pada klien. Apakah klien pernah atau sedang menderita suatu penyakit lainnya
dan pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Dan tanyakan juga tindakan apa
saja yang telah dilakukan serta obat apa saja yang telah dikonsumsi.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien pada umumnya mengeluh sering batuk, demam, suara serak dan kadang nyeri
dada.

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Kaji adakah keluarga klien yang sedang atau pernah mengalami penyakit yang sama
dengan penyakit klien. Dan tanyakan apakah ada anggota keluarga klien yang
mempunyai penyakit berat lainnya.

5. Aktivitas sehari-hari di rumah


Kaji pola makan, minum, eliminasi BAB, eiminasi BAK, istirahat tidur dan kebiasaan
klien.
6. Riwayat Psikososial-Spiritual
- Psikologis : apakah klien menerima penyakit yang dideritanya atau menarik diri ?
- Sosial : bagaimana interaksi klien terhadap lingkungan sekitar sebelum dan selama
sakit dan apakah klien dapat beradaptasi dengan lingkungan baru (rumah sakit) ?
- Spiritual : apakah dan bagaimana klien mengerjakan ibadahnya saat sakit ?

- Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum
– Tingkat keamanan
– GCS
– Tanda-tanda vital
- Tekanan darah :
- Suhu :
- Nadi :
- Repsirasi rate :

2. Pengkajian per sistem

a. Kepala dan leher


Kepala : Kaji bentuk danada tidaknya benjolan.
Mata : Kaji warna sklera dan konjungtiva.
Hidung : Kaji ada tidaknya pernafasan cuping hidung.
Telinga : Kaji
Mulut : Kaji mukosa dan kebersihannya.
Leher : Ada tidaknya pembesaran vena jugularis.
b. Sistem Integumen
Rambut : Kaji warna dan kebersihannya.
Kulit : Kaji warna dan ada tidaknya lesi.
Kuku : Kaji bentuk dan kebersihannya.

c. Sistem Pernafasan
- Inspeksi : biasanya pada klien bronkhitis terjadi sesak, bentuk dada barrel chest, kifosis.
- Palpasi : Iga lebih horizontal.
- Auskultasi : Adakah kemungkinan terdapat bunyi napas tembahan, biasanya terdengar
ronchi.

d. Sistem Kardiovaskuler

- Inspeksi : Kaji apakah ada pembesaran vena ingularis.


- Palpasi : Kaji apakah nadi teraba jelas dan frekwensi nadi.
- Auskultasi : Kaji suara s1, s2 apakah ada suara tambahan.

e. Sistem Pencernaan

- Inspeksi : Kaji bentuk abdomen, ada tidaknya lesi.


- Palpasi : Kaji apakah ada nyeri tekan
- Perkusi : Kaji apakah terdengar bunyi thympani
- Auskultasi : Kaji bunyi peristaltik usus.

f. Sistem Reproduksi

Kaji apa jenis kelamin klien dan apakah klien sudah menikah.
g. Sistem Pergerakan Tubuh
Kaji kekuatan otot klien.
h. Sistem Persyaratan
Kaji tingkat kesadaran klien dan GCS.
i. Sistem Perkemihan
Kaji apakah ada gangguan eliminasi urin.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga
atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual
atau potensial. (Aziz Alimul, 2009 : h 92)

Nanda menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang


respon individu. Keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial.
Sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan
sesuai dengan kewenangan perawat. Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data.
Dimana menurut Nanda diartikan sebagai defensial arakteristik definisi karakteristik tersebut
dinamakan tanda dan gejala suatu yang dapat diobservasi dan gejala sesuai yang dirasakan
oleh klien.

Diagnosa keperawatan yang mungkin ditemukan pada pasien lansia dengan hipertensi
menurut Nanda 2015 – 2017 adalah :

1. Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan afterload,


vasokontriksi, iskemia miokardia, hipertrofi d/d tidak dapat diterapkan adanya tanda-
tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis aktual
2. Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d melaporkan
tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regiu suboksipital. Terjadi pada saat bangun
dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu
3. Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum d/d laporan verbal tentang kelebihan atau
kelemahan
4. Cemas b.d kriss situasional sekunder.
5. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi tentang proses penyakit/

C. Intervensi
Perencanaan adalah proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang
dibutuhkan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi masalah pasien (Aziz Alimul.
2009 : h 106)

Perencanaan keperawatan pada pasien dengan hipertensi menurut dongoes et al


(2000) adalah :

1. Diagnosa keperawatan I
resiko tinggi terhadap penurunan Curah jantung, , b/d peningkatan afterload,
vasokontruksi, iskemia miorkadia, hipertrofi b/d tidak dapat diterapkan adanya tanda-
tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis actual.

Intervensi :

a) Pantau TTV
b) Monitor saat pasien berbaring ,duduk atau berdiri
c) Monitor bunyi jantung
d) Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
e) Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac input
f) Monitor status kardiovakuler
g) Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi
h) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
i) Anjurkan untuk menurunkan stress
j) Atur periode aktivitas dan istirahat untuk menghindari kelelahan

2. Diagnosa Keperawatan II
Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral Terjadi pada
saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu.

Intervensi :

a) Kaji lokasi , durasi, frekuensi, karakteristik, dan kualitas nyeri


b) Ajarkan pasien tekik nafas dalam dan relaksasi distraksi untuk mengontrol nyeri
c) Pantau tanda-tanda vital
d) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
e) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
f) Observasi reaksi non verbal dari ketidak nyamanan
g) Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
h) Tingkatkan istirahat
i) Berikan analgesic untuk mengurangi nyeri
j) Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri yang belum berhasil

3. Diagnosa keperawatan III


Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum

Intervensi :

a) Kaji respon pasien terhadap aktivitas


b) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas
c) Instruksikan pasien terhadap teknik penghematan energy
d) Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
e) Monitor nutrisi dan sumber energy yang adekuat
f) Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
g) Monitor respon kardiovaskuler terhadap aktivitas
h) Monitor pola tidur dan lamanya tidur atau istirahat pasien
i) Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik
psikologi dan social
j) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien

D. Implementasi
Implementasi adalah proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategis
keperawatan (tindakan keperawatan) yaitu telah direncanakan (Aziz Alimuml. 2001 : h 11)
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan pencegahan penyakit. Pemulihan
kesehatan dan mempasilitas koping perencanaan tindakan keperawatan akan dapat
dilaksanakan dengan baik. Jika klien mempunyai keinginan untuk berpatisipasi dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan selama tahap pelaksanaan perawat terus melakukan
pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan
klien tindakan.

E. Evaluasi
1. Diagnosa 1 (resiko tinggi terhadap penurunan Curah jantung b/d peningkatan afterload,
vasokontruksi, iskemia miorkadia )
S : 1. Pasien mengatakan sudah tidak terlalu pusing
2. Pasien mengatakan nafasnya sudah tidak bunyi mengi
O : 1. TD : 130/80 mmHg
2. Pasien terlihat tidak bunyi wezzing
A : masalah teratasi
P : lanjutkan intervensi

2. Diagnosa 2 (nyeri akut , sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral)
S : 1. P : pasien mengatakan nyeri karena pusing
Q : pasien mengatakan nyeri seperti berdenyut-denyut
R : pasien mengatakan nyeri di sekitar kepala menjalar ke leher
S : pasien mengatakan nyeri berkurang
T : pasien mengatakan nyeri hilang timbul
2. Pasien mengatakan merasa lebih baik setelah melakukan terapi nafas dalam ketika
nyeri muncul
O : 1. Pasien terlihat relax
Td : 130/80 mmHg
N : 80 x/mnt
RR : 20 x/mnt
S : 36,6 C
2. Pasien terlihat lebih baik
A : masalah teratasi
P : lanjutkan intervensi
3. Diagnosa keperawatan (Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum)
S : 1. Pasien mengatakan tidak lelah saat beraktivitas
2. Pasien mengatakan sudah bisa melakukan aktivitas biasa seperti bak di kamar
mandi
3. Pasien mengatakan istirahat cukup
O :1. Pasien terlihat tidak pucat
2. Pasien terlihat sudah lebih baik, tekanan darah 130/80 mmHg
3. Pasien terlihat tidak lemas lagi
A : masalah teratasi
P : lanjutkan intervensi

BAB III
LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

1. Pengertian
Menurut WHO Hipertensi merupakan peningkatan sistem sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar 95 mmHg (kodim nasrin, 2003)
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan arah sistolik 140 mmHg
atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. (Barbara Hearrison 1997)
Hipertensi pada lansia di definisikan dengan tekanan sistolik di atas 160 mmHg atau tekanan
diastolik di atas 90 mmHg. (fatimah 2010)

2. Etiologi
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi
sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.Namun ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah
meningkat.
c. Stress Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh
darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika,
lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, systemrennin angiotensin, efek dari
eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
2. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

3. Patofisiologi
Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel jugularis.
Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Danapabila diteruskan pada ginjal,
maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen.
Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi
pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat
meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkanretensi natrium. Hal tersebut akan
berakibat pada peningkatan tekanandarah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan
menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung.

4. Phatways

Umur jenis kelamin gaya hidup obesitas

Hipertensi

Kerusakan vaskler pembuluh darah


Perubahan struktur

Penyumbatan pembuluh darah

Vasokontriksi

Gnguan sirkulasi

Otak Ginjal Pembuluh darah Retina

Resistensi suplai O2

pembuluh otak Sistemik Koroner

darah otak Vasokontriksi iskemi miocard

sinkop

nyeri akut gangguan pola gangguan perfusi


tidur jaringan perifer
Afterload
Meningkat
Fatique Nutrisi
Nutrisi kurang
kurang dari dari
kebutuhan
kebeutuhan tubuh
tubuh
Penurunan curah jantung intolerransi aktifitas

5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :
a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
b. Sakit kepala
c. Epistaksis
d. Pusing / migraine
e. Rasa berat ditengkuk
f. Sukar tidur
g. Mata berkunang kunang
h. Lemah dan lelah
i. Muka pucat
j. Suhu tubuh rendah

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laborat
b. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan
dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
c. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
d. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh
pengeluaran kadar ketokolamin.
e. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
f. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
g. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah
salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
h. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal.
i. Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung.

7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis
1. Diet Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan
tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar
adosteron dalam plasma.
2. Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan denganbatasan
medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang.
b. PenatalaksanaanFarmakologis
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau
pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
a. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
b. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d. Tidak menimbulakn intoleransi.
e. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
f. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.Golongan obat - obatan yang diberikan
pada klien dengan hipertensi sepertigolongan diuretic, golongan betabloker, golongan
antagonis kalsium,golongan penghambat konversi rennin angitensin.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan
kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.
Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem organ yang bertugas untuk
menyampaikan nutrien(seperti asam amino dan elektrolit), hormon, sel darah dll
dari dan menuju sel-sel tubuh manusia,yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan
homeostasis. Sistem ini terdiri atas organ jantungdan pembuluh-pembuluh darah.
Jantung merupakan organ pemompa besar yang memelihara peredaran
melalui seluruh tubuh. Jantung berbentuk menyerupai jantung pisang yang
ukurannya hampir sebesar sekepalan tangan orang dewasa. Bagian atas jantung
tumpul disebut basis kordis dan bagian bawahnya runcing disebut apeks kordis
Perubahan Fisiologis Kardiovaskuler diantaranya :

1. Pada miokardium terjadi brown atrophy disertai akumulasi lipofusin (aging


pigment) pada serat-serat miokardium.
2. Terdapat fibrosis dan kalsifikasi dari jaringan fibrosa yang menjadi rangka dari
jantung. Selain itu pada katup juga terjadi kalsifikasi dan perubahan
sirkumferens menjadi lebih besar sehingga katup menebal. Bising jantung
(murmur) yang disebabkan dari kekakuan katup sering ditemukan pada lansia.
3. Terdapat penurunan daya kerja dari nodus sino-atrial yang merupakan pengatur
irama jantung. Sel-sel dari nodus SA juga akan berkurang sebanyak 50%-75%
sejak manusia berusia 50 tahun. Jumlah sel dari nodus AV tidak berkurang, tapi
akan terjadi fibrosis. Sedangkan pada berkas His juga akan ditemukan
kehilangan pada tingkat selular. Perubahan ini akan mengakibatkan penurunan
denyut jantung.

4. Terjadi penebalan dari dinding jantung, terutama pada ventrikel kiri. Ini
menyebabkan jumlah darah yang dapat ditampung menjadi lebih sedikit
walaupun terdapat pembesaran jantung secara keseluruhan. Pengisian darah ke
jantung juga melambat.
5. Terjadi iskemia subendokardial dan fibrosis jaringan interstisial. Hal ini
disebabkan karena menurunnya perfusi jaringan akibat tekanan diastolik
menurun.
4.2 Saran
Setelah menyelesaikan tugas makalah Gangguan Sistem Kardiovaskuler pada
Lansia maka adapun hal/saran yang ingin penulis sampaikan pada mahasiswa yaitu :
Dalam membuat makalah, kelompok diharapkan dapat menjelaskan Gangguan
sistem kardiovaskuler pada lansia, dan diharapkan dapat menjadi bahan dalam
pembuatan Asuhan keperawatan sistem kardiovaskuler.
Proses penuaan niscaya disertai dengan perubahan fisik dan psikologis yang
semakin menurun, maka diharapkan kepada teman-teman calon perawat agar
memahami materi gangguan sistem kardiovaskular, sehingga ketika berkomuniskasi
langsung dengan pasien, teman-teman tidak akan kaku lagi, selain dibekali tentang
ilmu sistem kardiovaskuler, komunikasi traupetik akan menciptakan suasana
komunikasi yang sangat akrab pada pasien lansia.