Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Perkembangan ilmu geologi semakin berpengaruh dikalangan masyarakat

terutama proses – proses geologi yang berkembang di suatu daerah sehingga

menyebabkan informasi mengenai kondisi geologi sangat penting untuk diketahui.

Perkembangan ilmu geologi tersebut menjadi dasar dilakukannya penelitian oleh

para ahli geologi yang berskalakan regional. Namun masih diperlukan penelitian

yang lebih detail untuk melengkapi data geologi yang mencakup kondisi

geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi serta aspek geologi lainnya.

Pemetaan geologi merupakan suatu penelitian lapangan yang menerapkan

aspek – aspek ilmu geologi yang mencakup geomorfologi, petrologi,

sedimentologi, stratigrafi, geologi struktur, tektonik, dan petrografi pada kondisi

geologi suatu daerah. Pemetaan geologi dilakukan di daerah Lamu dan sekitarnya

Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo. Daerah ini

sebelumnya belum pernah dilakukan penelitian tentang kondisi geologi dengan

pembuatan peta geologi dengan skala 1:25.000.

Daerah ini memiliki tatanan geologi yang menarik untuk diteliti karena

tersusun oleh batuan Tersier hingga Kuarter serta pola struktur berupa sesar yang

melengkapi proses geologi daerah tersebut. Berdasarkan peta geologi lembar

Tilamuta 1 : 250.000 ( Bachri dan Sukido dan Ratman, 1993), daerah penelitian

tersususn atas beberapa formasi batuan diantaranya; Aluvium (Qal), Batuan

1
2

Gunungapi Pinogu (TQpv), Batuan Gunungapi Pani (Tppv), Diorit Boliohuto

(Tmbo) dan Formasi Tinombo (Teot).

1.2.Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan geologi di

daerah penelitian dengan menggunakan metode geologi lapangan yang telah

diperoleh selama perkuliahan. Serta sebagai salah satu persyaratan kelulusan

dalam kurikulum S1 Teknik Geologi, Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian,

Fakultas Matematika dan IPA, Universitas Negeri Gorontalo.

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui tatanan geologi di daerah penelitian meliputi geomorfologi,

stratigrafi, struktur geologi dan sejarah geologi daerah penelitian.

1.3.Batasan Masalah

Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian lebih terfokus dan terarah.

Adapun masalah yang diteliti antara lain:

a. Geomorfologi, berupa membagi satuan geomorfologi berdasarkan ciri

morfologi.

b. Stratigrafi, jenis dan ciri litologi, sebaran dan hubungan antar satuan

batuan serta lingkungan pengendapan.

c. Struktur berupa analisa struktur geologi yang berkembang di daerah

penelitian.

d. Sejarah geologi, merupakan urutan – urutan kejadian geomorfologi,

stratigrafi dan struktur yang terjadi di daerah penelitian.


3

1.4.Gambaran Umum Daerah Penelitian

1.4.1.Lokasi dan Kesampaian Daerah

Secara administratif daerah penelitian berada di desa Lamu dan sekitarnya

Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo. Posisi geografis daerah ini terletak pada

0° 32’ 51” LU - 0° 28’ 56” LU, 122° 17’ 49” BT - 122° 22’ 21” dengan luas ± 50

km2 dan sisanya merupakan lautan Teluk Tomini yang berada di sebelah selatan

lokasi penelitian.

Posisi geografis lokasi pemetaan sebagian di kecamatan Tilamuta dan

sebagian kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Untuk

menuju lokasi penelitian dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda

empat atau roda dua dengan waku tempuh ± 3 jam perjalanan dari kampus

Universitas Negeri Gorontalo.

Gambar 1.1. Lokasi daerah penelitian (Sumber Bakosurtanal, 1991)


4

1.4.2. Kondisi geografis

Kabupaten Boalemo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi

Gorontalo yang terletak antara 0o23’ 55’’ - 0o 55’ 38’’ LU dan 122o 01’12’’ - 122o

39’17’’ BT. Secara geografis, Kabupaten Boalemo berbatasan dengan Kabupaten

Gorontalo Utara di sebelah Utara, Kabupaten Gorontalo di sebelah timur, Teluk

Tomini di sebelah selatan, dan Kabupaten Pohuwato di sebelah barat. Kabupaten

Boalemo memiliki luas sebesar 1.829,44 km2. (Badan Pusat Statistik Boalemo,

2016)

Kecamatan Tilamuta merupakan salah satu dari 7 Kecamatan yang ada di

Kabupaten Boalemo. Kecamatan ini merupakan ibukota Kabupaten Boalemo.

Secara geografis Kecamatan Tilamuta mempunyai luas wilayah 187,43 km2,

sebelah utara dan timur berbatasan dengan Kecamatan Dulupi, berbatasan dengan

Teluk Tomini di sebelah selatan serta Kecamatan Botumoito di sebelah barat.

(Badan Pusat Statistik, 2016)

1.4.3. Iklim

Suhu udara di Provinsi Gorontalo selama tahun 2015 mencapai 33,93ºC yang

terjadi pada bulan Oktober, namun rata – rata suhu udara yang paling tinggi

mencapai 28,39ºC yang terjadi di bulan Desember. Serta, dengan nilai

kelembaban udara 84,77% - 78,28%.

Adapun curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Mei, sedangkan dengan curah

hujan terendah terjadi antara bulan Juli, Agustus dan September. Hari hujan

terbanyak terjadi di bulan Juni yaitu selama 19 hari. (Badan Pusat Statistik, 2016)
5

1.4.4. Topografi

Sebagian besar topografi wilayah Kabupaten Boalemo merupakan

perbukitan yang terletak pada ketinggian 0 – 2000 meter di atas permukaan laut,

sedangkan wilayah kecamatan Tilamuta memiliki ketinggian 14,17 meter dari

permukaan laut. Desa – desa yang ada di kecamatan Tilamuta sebagian besar

merupakan daerah pantai. (Badan Pusat Statistik, 2016).

1.5.Metode dan Hasil yang Diharapkan

Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengamatan geologi

secara langsung di lapangan dan laboratorium, meliputi pengambilan data – data

geologi seperti deskripsi singkapan dan litologi, pengukuran struktur geologi di

lapangan, pengamatan hubungan stratigrafi, serta analisis data yang mencakup

analisis geomorfologi, analisis struktur geologi, analisis hubungan stratirafi, serta

merekonstruksi sejarah geologi. Adapun tahapan – tahapan penelitian yang

dilakukan antara lain:

1.5.1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap yang dilakukan sebelum melakukan

pengamatan di lapangan. Adapun yang dilakukan pada tahap ini meliputi

persiapan administrasi, penyusunan proposal penelitian dan pembuatan peta awal

lokasi pemetaan, serta persiapan peralatan geologi lapangan.

Persiapan administrasi dilakukan untuk melengkapi syarat – syarat yang

harus dipenuhi sebelum melakukan penelitian seperti persetujuan dari dosen

pembimbing Tugas Akhir dan penyusunan proposal penelitian. Adapun persiapan


6

peralatan geologi lapangan dilakukan untuk mempersiapkan alat dan bahan yang

digunakan dalam pemetaan geologi diantaranya:

- Peta dasar topografi

- Kompas geologi jenis azimuth

- Palu geologi

- GPS (Global Positioning System)

- Kantong sampel

- Lensa pembesar (Loupe), perbesaran 10x dan 20x

- Buku catatan lapangan dan alat-alat tulis

- Mistar dan busur

- Larutan asam hidroklorida (HCl)

- Clipboard

- Komperator

- Kamera

1.5.2. Tahap Studi Pendahuluan

Tahap studi pendahuluan ini dilakukan untuk mempelajari hal – hal yang

berkaitan dengan daerah penelitian berupa peta geologi regional lembar tilamuta

1:250.000 untuk mengetahui secara umum kondisi geologi di daerah penelitian.

Sumber – sumber pustaka lainnya diambil dari buku, jurnal, proceeding dan

makalah geologi serta tulisan ilmiah yang terkait dengan penelitian. Selain itu

perencanaan lintasan dan interpretasi geomorfologi menggunakan peta topografi

skala 1:25.000 guna mempermudah pengambilan data di lapangan, serta


7

melakukan bimbingan proposal dengan pembimbing sehingga didapat gambaran

sementara mengenai kondisi geologi daerah penelitian.

1.5.3. Tahap Penelitian Lapangan

Tahap ini disebut juga dengan tahap pemetaan geologi. Adapun yang akan

dilakukan pada tahap ini meliputi: pengamatan morfologi, deskripsi singkapan,

deskripsi liologi, pengukuran struktur geologi, pengambilan sampel batuan

dengan menuliskan pada buku lapangan dan sketsa atau dokumentasi dengan

tujuan untuk mengumpulkan data sebaran litologi, data struktur dan hubungan

stratigrafi di daerah penelitian.

- Observasi geomorfologi untuk mengetahui kondisi geomorfologi daerah

penelitian seperti kemiringan lereng, bentuk lembah, bentuk punggungan,

bentuk muka bumi, dan proses geomorfologi sehingga dapat ditentukan satuan

geomorfologi menurut Van Zuidam (1985)

- Observasi litologi dilakukan untuk mengamati batuan secara megaskopis,

penyebaran batuan, hubungan dan jenis batuan menurut Travis (1955), Fisher

(1961) dan klasifikasi lainnya.

- Observasi struktur geologi dilakukan untuk mendapatkan data – data struktur

geologi (struktur bidang dan struktur garis) yang terdapat pada singkapan.

- Sampling merupakan pengambilan contoh batuan dengan ukuran hand

specimen yang selanjutnya diperlukan dalam analisis petrografi dan

sedimentologi.

- Dokumentasi berupa sketsa dan foto.


8

1.5.4. Tahap Analisis dan Pengolahan Data

Pada tahap ini dilakukan analisis dan pengolahan data yang diperoleh dari

hasil penelitian lapangan yang dilakukan di laboratorium disertai diskusi bersama

dosen pembimbing dengan konsep – konsep geologi dari literatur.

Adapun tahap analisis dan pengolahan data pada tahapan ini antara lain:

- Analisis Petrografi

Analisis petrografi dilakukan untuk mengetahui jenis batuan yang ada di

daerah penelitian dengan cara mengamati tekstur, struktur, dan komposisi mineral

yang berukuran kasar – halus dengan menggunakan mikroskop berdasarkan IUGS

IUGS (International Union of Geological Sciences) yang dikembangkan oleh Le

Bas dan Streckeisen (1991). Analisis petrografi ini dilakukan di laboratorium

teknik geologi Universitas Negeri Gorontalo menggunakan mikroskop polarisasi

Olympus.

- Analisis Struktur

Berdasarkan pendekatan geometri, analisis ini meliputi analisis deskriptif,

kinematika dan dinamika (Sapiie dan Harsolumakso, 2006). Klasifikasi sesar

menurut Anderson (1905) dan klasifikasi lipatan menurut Rickard (1971).

Kemudian dibuat suatu Model Pola Struktur berdasarkan pemodelan menurut

Moody dan Hill (1956).

1.5.5. Tahap Penulisan Skripsi

Tahap ini merupakan tahap pembuatan laporan penelitian yang dituangkan

dalam bentuk skripsi. Skripsi tersebut berisi informasi mengenai tatanan geologi

daerah penelitian yang telah dianalisis. Pada tahap ini diharapkan dapat
9

menghasilkan beberapa lampiran berupa peta lintasan, peta geomorfologi, peta

geologi, penampang geologi, dan kolom stratigrafi.


10

Penentuan Lokasi, Penyusunan Proposal


Tahap Persiapan

Persiapan administrasi (Surat izin yang diperlukan,


persiapan peralatan lapangan)

Studi literatur (buku dan data sekunder)


Tahap Studi
Pendahuluan
Melakukan interpretasi peta topografi

Tahap Penelitian Observasi Observasi litologi dan Observasi


Lapangan Geomorfologi pengambilan sampel Struktur Geologi

Pembagian satuan, peta Penentuan lokasi singkapan, Pengukuran struktur


aliran, tipe genetik mencatat dimensi dan warna bidang (strike/dip)
sungai, stadia sungai singkapan, pengambilan dan pengukuran
serta tahapan stadia sampel dan memberikan struktur garis (trend,
daerah. Klasifikasi yang nomor (sampel yang plunge, dan pitch)
digunakan Van Zuidam diambil), deskripsi litologi, menggunakan
(1985), Howard (1967). pengukuran kedudukan kompas geologi.
batuan, dan membuat sketsa.

Tahap Analisis dan Analisis Analisis Petrologi


Pengolahan Data Geomorfologi dan petrografi

Analisis Analisis Struktur


Strarigrafi Geologi

- Peta Geomorfologi
- Peta Pola dan Genetik Aliran
Sungai
- Peta Lintasan Geologi
- Peta dan Penampang Geologi
- Kolom Stratigrafi

Tahap Penulisan Penulisan laporan skripsi pemetaan geologi


Skripsi beserta lampiran analisis data dan lampiran peta.

Gambar 1.2 Diagram alir penelitian


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Geomorfologi

Kata geomorfologi (Geomorphology) berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari

tiga kata yaitu, geos yang berarti bumi, morphos berarti bentuk, dan logos berarti

ilmu. Dari kata – kata tersebut, maka dapat diartikan geomorfologi merupakan ilmu

tentang bentuk – bentuk muka bumi (Noor, 2012).

Noor (2010) menguraikan definisi geomorfologi menurut Worcester dan

Lobeck. Geomorfologi merupakan deskripsi dan tafsiran dari bentuk roman muka

bumi yang dikemukakan oleh Worcester, menurutnya lebih luas dari sekedar ilmu

pengetahuan tentang bentangalam (the science of landforms). Sedangkan Lobeck

mengemukakan geomorfologi merupakan studi tentang landscape atau bentangalam

yang didasarkan pada unsur – unsur struktur, proses, dan stadia.

Van Zuidam (1985) menyatakan geomorfologi adalah studi tentang

pembagian bentuk lahan dan proses yang mempengaruhi pembentukannya serta

menyelidiki hubungan bentuk lahan dan proses tersebut dalam tatanan keruangan.

Menurut Thornbury(1969) geomorfologi merupakan studi yang mendeskripsikan

bentuk lahan dan proses – proses yang menghasilkan bentuk lahan serta menyelidiki

hubungan tumbal – balik antara bentuk lahan dan prosesnya dalam susunan

keruangan.

11
12

Van Zuidam mengemukakan empat aspek penting dalam mengkaji

geomorfologi, yaitu :

1. Morfologi yang merupakan tampilan relief terbagi menjadi:

- Morfografi, merupakan Morfografi merupakan bentuk permukaan atau

aspek yang digambarkan dari morfologi suatu daerah, seperti dataran,

perbukitan dan pegunungan, lembah, dan lain – lain.

- Morfometri, yang bersifat kuantitatif dari suatu aspek bentuk lahan,

antara lain kelerengan, bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, beda

tinggi, bentuk lembah, dan pola pengaliran.

2. Morfogenesa, merupakan asal pembentukan dan perkembangan

bentuklahan dan proses geomorfologi yang terjadi. Morfogenesa terdiri

dari:

- Morfostruktur pasif, bentuklahan yang diklasifikasikan dari tipe batuan

yang berhubungan dengan resistensi batuan dan pelapukan.

- Morfostruktur aktif, ada kaitannya dengan tenaga endogen seperti

pengankatan, pensesaran, perlipatan, intrusi, contoh gunungapi,

punggungan antiklin, gawir, sesar dll.

- Morfodinamik, yaitu yang berhubungan dengan tenaga eksogen seperti

fluvial, es, gerakan masa dan gunungapi, contoh gumuk pasir, undak

sungai, lahan kritis, dan pematang pantai.

3. Morfokronologi merupakan urutan bentuklahan atau jenis – jenis

bentuklahan dan proses – proses di permukaan bumi yang merupakan hasil

proses geomorfologi.
13

4. Morfoaransemen yaitu hubungan antara bentuklahan dan lingkungan atau

berdasarkan parameter bentuk lahan, misalnya hubungan antara

bentuklahan dengan batuan, tanah, air, vegetasi, dan penggunaan lahan

serta struktur geologi.

Topografi suatu daerah digambarkan dengan pola kontur sehingga dapat

membantu dalam melakukan analisis morfologi. Van Zuidam (1985)

mengemukakan persamaan untuk menghitung sudut atau persen kelerangan yaitu:

ΔH
S= x100 %
D

S = Kemiringan lereng (%)

ΔH= Perbedaan Ketinggian (m)

D = Jarak titik tertinggi dengan terendah (m)

Tabel 2.1. Klasifikasi kemiringan lereng dan karakteristiknya (Van Zuidam, 1985)

Kelas
Sifat-sifat Proses dan Kondisi Alamiah Warna
Lereng

0 – 2º Datar hingga hampir datar; tidak ada proses denudasi yang Hijau
(0 – 2 %) berarti

3 – 4º Agak miring; Gerakan tanah kecepatan rendah, erosi lembar Hijau Muda
(3 – 7 %) dan erosi alur (sheet and rill erosion). rawan erosi.

5 – 8º Miring; sama dengan di atas, tetapi dengan besaran yang Kuning


(8 – 13 %) lebih tinggi. Sangat rawan erosi tanah.

9 – 16º Agak curam; Banyak terjadi gerakan tanah, dan erosi, Orange
(14 -20 %) terutama longsoran yang bersifat nendatan.

17 – 35º Curam; Proses denudasional intensif, erosi dan gerakan


tanah sering terjadi. Merah
(21 – 55 %) Muda
14

36 – 55º Sangat curam; Batuan umumnya mulai tersingkap, proses


denudasional sangat intensif, sudah mulai menghasilkan Merah
(56 – 140 %) endapan rombakan (koluvial)
>55º Curam sekali, batuan tersingkap; proses denudasional Ungu
(>140 %) sangat kuat, rawan jatuhan batu, tanaman jarang tumbuh.

Proses erosi di permukaan bumi menyebabkan terbentuknya lembah.

Lembah menunjukkan respon batuan terhadap proses erosi dan menggambarkan

kondisi struktur geologi terhadap bentukan lembah. Lembah yang benbentuk V

lebih berkaitan dengan struktur dibandingkan dengan lembah yang bentuknya U.

Jenis lembah dibedakan menjadi empat yaitu:

- Jenis lembah U tumpul

- Jenis lembah U tajam

- Jenis lembah V tumpul

- Jenis lembah V tajam


15

Gambar 2.1 Bentuk – bentuk lembah (Van Zuidam, 1985)

Pola pengaliran sungai merupakan bentuk – bentuk aliran sungai pada

lembah yang merupakan tempat erosi yang diklasifikasikan dalam bentuk dan

teksturnya, bentuk atau pola dalam merespon terhadap topografi dan struktur

geologi bawah permukaannya. Menurut Howard (1967), pola pengaliran sungai

dasar dan ubahannya dapat memberikan informasi tentang bentuklahan, kelerengan,

litologi dan resistensinya, dan struktur geologi.

- Pola aliran dendritik merupakan pola aliran yang bentuk cabang – cabangnya

menyerupai bentuk pohon yang umumnya pola aliran ini dikontrol oleh

litologi yang homogen.

- Pola aliran radial adalah pola aliran yang mencirikan gunungapi atau batuan

intrusi. Arah aliran pola radial yaitu menyebar secara radial dari suatu titik

ketinggian tertentu.

- Pola aliran rectangular merupakan pola aliran yang dikendalikan oleh

struktur geologi, seperti struktur rekahan dan patahan yang dicirikan dengan

saluran saluran air mengikuti pola dari struktur rekahan dan patahan.

- Pola aliran trellis dicirikan oleh cabang – cabang sungainya berpola sejajar,

mengalir searah kemiringan lereng dan tegak lurus dengan sungai utamanya.

Pola aliran trellis berbentuk seperti pagar dan dikontrol oleh struktur geologi

berupa berupa perlipatan.

- Pola aliran sentripetal merupakan pola aliran yang berlawanan dengan pola

radial, dimana aliran sungai mengalir ke tempat yang berupa cekungan.

- Pola aliran annular merupakan pola aliran sungai yang arah alirannya

menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu dan ke arah hilir
16

aliran kembali bersatu. Umumnya dijumpai di daerah morfologi kubah atau

intrusi lakolit.

- Pola aliran parallel merupakan aliran yang terbentuk oleh lereng yang terjal.

Bentuk aliran sungai lurus – lurus mengikuti arah lereng dengan cabang –

cabang sungai yang sangat sedikit.

Gambar 2.2 Berbagai macam pola aliran sungai (Howard, 1967)

Budi Brahmantyo dan Bandono (2006) membagi klasifikasi geomorfologi

berdasarkan kriteria sebagai berikut:

- Umumnya dibagi berdasarkan satuan bentang alam yang dibentuk akibat

dari proses – proses endogen atau struktur geologi, dan proses – proses
17

eksogen yang kemudian dibagi kedalam satuan bentuk muka bumi yang

lebih detail yang dipengaruhi oleh proses – proses eksogen.

- Dalam satuan pegunungan yang dipengaruhi oleh proses endogen,

termasuk didalamnya lembah dan dataran yang bias dibentuk oleh proses

endogen maupun eksogen

- Dalam pembagian lembah dan bukit, batas atau titik belok dari bentuk

gelombang sinusoidal ideal di alam, batas lembah dicirikan oleh tekuk

lereng yang umumnya yang merupakan titik tertinggi endapan alluvial.

- Cara menamakan satuan paling sedikit tiga kata meliputi bentuk

geometri/morfologi, genesa morfologi (proses – proses endogen/eksogen),

dan nama geografis


18

Tabel 2.2. Klasifikasi BMB untuk peta geomorfologi skala 1 : 25.000


19

2.1.2. Stratigrafi

Statigrafi tersusun dari dua kata yaitu “strati” berasal dari kata “stratos”

(perlapisan) dan “grafi” yang berasal dari kata “graphic/graphos”

(gambaran/lukisan). Dengan demikian statigrafi dapat didefinisikan sebagai ilmu

yang mempelajari tentang aturanaturan, hubungan, dan pembentukan (genesa)

macam – macam batuan dalam ruang dan waktu (Noor, 2008)

Menurut Sandi Stratigrafi Indonesia (IAGI, 1996) stratigrafi dalam artian

luas merupakan ilmu yang membahas aturan, hubungan serta kejadian macam –

macam batuan didalam ruang dan waktu, sedangkan dalam artian sempit ialah

ilmu yang mempelajari pemerian pada lapisan – lapisan batuan. Batuan adalah

material penyusun kerak bumi yang tersusun atas satu atau banyak jenis mineral,

klasifikasi batuan umumnya digolongkan keadalam tiga golongan besar, yaitu

batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf.

1. Batuan beku

Batuan beku juga dikenal dengan igneous rock adalah jenis batuan yang

terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses

kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun

di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik) (Noor, 2012).

Penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada berbagai hal, seperti genesanya,

senyawa kimia, mineraloginya maupun tempat terbentuknya.

a. Batuan beku ekstrusif dalah batuan beku yang proses pembekuannya

berlangsung dipermukaan bumi baik di darat maupun di laut. Batuan beku


20

ekstrusi merupakan lava yang memiliki berbagai struktur yang member

informasi mengenai proses yang terjadi pada saat pembentukan lava tersebut.

Menurut Sukandarrumidi (2017), struktur batuan beku ekstrusi diantanya:

- Masif, struktur batuan beku yang memperlihatkan suatu massa batuan

yang terlihat seragam.

- Sheeting joint atau kekar berlembar, struktur batuan beku yang terlihat

sebagai lapisan.

- Columnar joint atau kekar kolom, struktur batuan beku yang

memperlihatkan batuan terpisah polygonal seperti batang pensil.

- Pillow lava atau lava bantal, struktur batuan beku yang menyerupai bantal

yang bergumpal – gumpal, yang diakibatkan oleh proses pembekuan yang

terjadi pada lingkungan air.

- Vesikuler, struktur yang memperlihatkan adanya lubang – lubang pada

permukaan batuan beku, yang diakibatkan akibat pelepasan gas pada saat

pembekuan magma.

- Struktur skoria, kenampakkan seperti pada struktur vesikuler, namun

kedudukan lubang – lubang posisinya acak (tak teratur). Struktur ini

umum dijumpai pada batuapung atau pumice.

- Struktur amigdaloidal, merupakan struktur vesikuler yang kemudian terisi

oleh mineral lain, biasanya mineral kalsit, kuarsa atau zeolit.

- Struktur aliran, struktur yang memperlihatkan adanya penjajaran mineral –

mineral yang memanjang pada arah tertentu akibat proses aliran magma.
21

b. Batuan beku intrusi merupakan batuan yang terbentuk di bawah permukaan

bumi, yang mengalami suatu proses terobosan oleh magma pada perlapisan

bumi ,dimana magma tersebut tidak sampai kepermukaan (membeku dibawah

permukaan bumi). Contohnya berupa siil, laccolith, lapolith, dike, batholit dan

lainnya.

Gambar 2.3 Bentuk tubuh batuan intrusi dan ekstrusi

(Flint and Skinner dalam Noor 2012)

Deret Bowen menggambarkan secara umum urutan kristalisasi suatu

mineral sesuai dengan penurunan suhu dan perbedaan kandungan magma, dengan

asumsi dasar bahwa semua magma berasal dari magma induk yang bersifat basa.

Bagan serial ini kemudian dibagi menjadi dua cabang yaitu kontiyu dan

diskontinyu.

Menurut sukandarrumidi (2017), deret kontinu (continous series)

menhasilkan mineral secara bertahap sesuai dengan urutan temperature. Pada

awalnya terbentuk Ca-plagioklas, berlanjut dengan Ca/Na-Plagioklas dan berakhir


22

terbentuk Na-plagioklas. Sedangkan deret tidak kontinyu (discontinuous series),

mineral yang sudah terbentuk terlebih dahulu kemudian bereaksi dengan sisa

magma, dan menghasilkan mineral baru, hingga pada saat suhu magma berkurang

terbentuk terlebih dahulu olivine, sebagian mineral bereaksi dengan sisa magma

yang kemudian membentuk piroksen dan seterusnya.

Gambar 2.4 Diagram reaksi deret bowen (Sukandarrumi,2017)

Penamaan batuan beku didasasrkan pada komposisi mineral dan teksturnya

dengan menggunakan dasar klasifikasi yang dikeluarkan oleh IUGS, 1973 dan

Travis 1955.

Menurut Travis (1955), klasifikasi penamaan batuan beku berdasarkan

tekstur batuan beku, indeks warna dan mineral utama yakni mineral kuarsa

plagioklas, ortoklas. Secara mineral utama semakin kekanan semakin berkurang

kadar karsa (SiO2), sementara kadar Fe dan Mg bertambah, dan kadar Ca pada

mineral Felspare bertambah kekanan, kadar Na pada feldspare bertambah kekiri


23

(Ca – Na plagiolas), dan kadar K dalam feldspare (ortoklas) bertambah kekiri.

Sedangkan Secara indeks warna lebih kekiri warna terang (putih) karena tersusun

atas mineral – mineral yang bersifat asam (Si-Al), dan lebih kekanan warna gelap

(hitam) sebab tersusun oleh mineral mineral mafic – ultramafic (Mg – Fe).

Tabel 2.3 Klasifikasi batuan beku (Travis, 1955).

Klasifikasi IUGS dikemukakan oleh Le Bass dan Streckeins (1991)

merupakan klasifikasi untuk penamaan batuan beku baik intrusi maupun ekstrusi.

Klasifikasi ini pembagiannya berdasarkan kadungan mineral utama yang terbagi

atas empat mineral yaitu kuarsa, plagioklas, alkali feldspar dan felspatoid dan

klasifikasi dalam penamaan batuan beku ekstrusi pembagiannya berdasarkan

mineral total alkali dan silika.


24

Gambar 2.5 Klasifikasi batuan beku IUGS (Le Bas dan Streckeisen, 1991).

2. Batuan sedimen

Menurut Tucker (1985), terdapat beberapa aspek batuan sedimen yang

perlu dipertimbangkan yaitu, litologi yang memiliki komposisi/mineral penyusun,

tekstur sedimen, ukuran butir atau grain size, struktur sedimen, dan kandungan

fosil dalam batuan. Batuan sedimen adalah hasil akumulasi yang terjadi, baik

yang berasal dari rombakan batuan yang telah ada (yang lebih tua umurnya)

maupun akumulasi hasil aktivitas organisme baik hewan maupun tumbuhan, serta

akumulasi hasil proses kimia yang terjadi secara alamiah yang kemudian

mengalami kompaksi sehingga membentuk masa yang padat (Sukandarrumidi,

2017).

Ciri khas batuan sedimen ditunjukkan oleh adanya perlapisan batuan yang

jelas, dimana perlapisan tersebut pada dasarnya menunjukkan perbedaan ukuran


25

partikel sedimen dan komposisi mineral. Batuan sedimen sendiri dibedakan

menjadi dua yaitu batuan sedimen klastik dan batuan sedimen nonklastik (Surjono

dan Amijaya, 2017).

Batuan sedimen siliklastik sebagian besar terdiri dari mineral silikat,

seperti kuarsa dan feldspar yang berasal dari pelapukan batuan beku, metamorf

maupun batuan sedimen yang lebih tua (Boggs, 2006). Sedangkan batuan

nonklastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan larutan yang

ada secara kimiawi maupun biokimia dan diendapkan pada lingkungan sedimen

yang sama. Batuan sedimen yang terbentuk oleh proses pengendapan atau

pengawetan organisme termasuk dalam kelompok batuan sedimen nonklastik.

Tekstur batuan sedimen berhubungan dengan ukuran, bentuk, dan

hubungan antar butir. Hal tersebut menggambarkan tingkat pemilahan atau kemas

antar butir pada batuan dan mencerminkan proses yang terjadi (proses fisika) pada

saat transportasi hingga terendapkan di tempat yang relatif ideal (Pettijohn 1975).

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan batuan sedimen yaitu ukuran

butir, bentuk butir (derajat kebundaran), kemas, dan derajat pemilahan, serta

tingkat porositas dan permeabilitas.


26

a. Klasifikasi besar butir menurut Wentworth 1922

Tabel 2.4 Skala Wentworth (1922)

Ukuran (mm) Nama Butir

> 256 Boulder / bongkah

64 – 256 Couble / berangkal

4 – 64 Pebble / kerakal

2–4 Granule / kerikil

1–2 Very coarse sand / pasir sangat kasar

1/2 – 1 Coarse sand / pasir kasar

1/4 – 1/2 Medium sand / pasir sedang

1/8 – 1/4 Fine sand / pasir halus

1/16 – 1/8 Very fine sand / pasir sangat halus

1/256 – 1/16 Silt / lanau

< 1/256 Clay / lempung

b. Bentuk butir (roundness atau angularity), mencerminkan tingkat abrasi

selama pengangkutan atau transportasi secara alamiah dan juga

menceritakan laju transportasi butiran tersebut.


27

Gambar 2.6 Tingkat kebundaran fragmen atau butir pada batuan sedimen

(Pough, 1976)

c. Kemas atau fabric adalah orientasi pola persinggungan dan penumpukan

butiran (grain packing) yang terjadi akibat proses sedimentasi (Tucker,

1991). Menggambarkan sifat hubungan antarbutir di dalam suatu massa

dasar atau di antara semennya yang berfungsi sebagai dan tampak pada

orientasi butir dan kemampatan (packing). Istilah yang sering dipakai

dalam menyatakan kemas dalam batuan sedimen yaitu kemas terbuka dan

kemas tertutup. Kemas terbuka mencirikan bila butiran tidak saling

bersentuhan sedangkan kemas tertutup bila butiran saling bersentuhan.

d. Derajat pemilahan atau sortasi, menggambarkan tingkat keseragaman

ukuran butir. Semakin bertambah tingkat keseragaman ukuran butir, akan

mencerminkan pemilahan yang semakin bagus. Menurunnya kehadiran

matriks dan bertambahnya tingkat keseragaman ukuran butir akan

berpengaruh terhadap meningkatnya porositas dan permeabilitas batuan.


28

e. Porositas dan permeabilitas, porositas didefinisikan sebagai rongga (pori)

yang terdapat di dalam batuan sedangkan permeabilitas didefinisikan

sebagai kemampuan media (batuan) untuk meloloskan atau mengalirkan

fluida (Tucker, 1991). Dua sifat ini merupakan sifat fisik pada batuan

sedimen yang mencirikan kualitas batuan, misal batupasir yang berfungsi

sebagai reservoir maupun akuifer.

2.1.3. Geologi struktur

Geologi struktur merupakan bagian dari ilmu geologi yang mempelajari

tentang bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Deformasi

batuan merupakan perubahan bentuk dan ukuran pada batuan yang diakibatkan

dari gaya yang berkerja di dalam bumi. Secara umum pengertian geologi struktur

adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk – bentuk kerak bumi yang

diakibatkan oleh adanya proses gerak pada bumi sehingga menghasilkan struktur

geologi berupa patahan, kekar dan sebagainya.

Sesar merupakan struktur rekahan yang mengalami perpindahan atau

pergeseran. Berdasarkan geometris sesar adalah struktur bidang, yang

kenampakan dilapangan berupa bidang maupun jalur sesar. Pada jalur sesar

(faultzone), akan terdiri dari lebih dari satu sesar, dimana jalur sesar biasanya

memiliki dimensi panjang dan lebar yang beragam dari skala minor hingga

puluhan kilometer.

Menurut Anderson (1942), ada tiga kategori utama sesar, yaitu sesar

normal atau sesar turun (normal fault), sesar sungkup atau sesar naik (thrust fault)

dan sesar mendatar (wrench fault atau strike-slip fault). Hubungan antara jenis
29

sesar dan stressyang bekerja, dimana jika gaya utama yang bekerja pada bidang

horizontal (σ1 dan σ3) akan membentuk sesar mendatar dengan jenis tipe

stresshear.

Gaya utama bekerja pada bidang vertikal σ1 dan pada bidang horizontal

σ3 maka yang akan terbentuk adalah sesar normal dengan jenis tipe

strestensional. Jika gaya utama bekerja pada bidang horizontal σ1 dan pada

bidang vertikal σ3 maka yang akan terbentuk adalah sesar naik dengan jenis tipe

strescompresional.

Gambar 2.7 Hubungan antara jenis sesar dan tegasan (stress)


(Anderson, 1905).

Kekar adalah struktur rekahan pada blok batuan yang saling terpisahdan

tidak sama sekali memperlihatkan gejala pergeseran, sedangkan rekahan yang

memperlihatkanpergeseran blok batuan dapat pula dikatakan sebagai sesar (Sapiie


30

dan Harsolumakso, 2006). Secara umum kekar berdasarkan genetiknya dapat

dibagi menjadi shear joint, extension dan release joint.

Shear joint atau sering dikenal dengan kekar gerus merupakan rekahan

yang membentuk pola saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan arah

gaya utama. Tension joint, rekahan yang berpola sejajar dengan arah gaya utama.

Adapun extension joint merupakan rekahan yang berpola tegak lurus dengan arah

gaya utama.

Gambar 2.8 Hubungan antara tegasan yang bekerja dan pola kekar terbentuk.
( Sudarno dkk 2008)
2.2. Geologi Regional

2.2.1. Fisiografi Regional

Gorontalo berada di bagian tengan Lengan Utara Sulawesi. Menurut Van

Bemmelen, 1949, secara fisiografis Gorontalo dibagi ke dalam empat zona

fisiografis utama, yaitu Zona Pegunungan Utara, Zona Depresi Limboto, Zona

Pegunungan Selatan, Zona Perbukitan Bergelombang dan Zona Dataran Pantai.


31

Gambar 2.9 Peta pembagian zona fisiografi gorontalo (Van Bemmelen, 1949)

Zona Pegunungan Utara umumnya terdiri dari formasi-formasi batuan

gunungapi Tersier dan batuan plutonik. Zona ini dicirikan dengan pegunungan

berlereng terjal dengan beberapa puncaknya antara lain Gunung Tentolomatinan

(2207 m), Gunung Pentolo (2051 m), dan Gunung Boliohuto (2065 m).

Zona kedua merupakan cekungan di tengah-tengah Provinsi Gorontalo,

yaitu Median Depression. Cekungan ini dibentuk oleh Sungai Paguat, Sungai

Randangan, Sungai Paguyaman, Danau Limboto, Sungai Bone, Sungai Ongkang

Dumoga. Depresi memanjang ini disebut sebagai Zona Limboto.

Zona Pegunungan Selatan terdiri dari formasi-formasi batuan sedimenter

gunungapi berumur sangat tua di Gorontalo, yaitu Eosen-Oligosen (kira-kira 50

juta hingga 30 juta tahun yang lalu) dan intrusi-intrusi diorit, granodiorit, dan

granit berumur Pliosen. Zona ini terbentang dari Bone Bolango, Bone Pantai,

Tilamuta, dan Gunung Pani.

Zona Perbukitan Bergelombang terutama dijumpai di daerah selatan dan di

sekitar Tolotio. Satuan ini umumnya menunjukkan bentuk puncak membulat


32

dengan lereng relative landai dan berjulang kurang dari 200 m. Zona ini terdiri

dari batuan gunungapi dan batuan sedimen Tersier hingga Kuarter.

Zona terakhir adalah zona yang relatif terbatas di Dataran Pantai

Pohuwato. Dataran yang terbentang dari Marisas di bagian timur hingga Torosiaje

dan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di bagian barat, merupakan

alluvial pantai yang sebagian besar merupakan rawa dan zona pasang-surut.

Lokasi penelitian berada di Zona Pegunungan Utara.

Daerah penelitian termasuk dalam Zona Pegunungan Selatan, tepatnya

berada di daerah Tilamuta. Terdiri dari formasi batuan sedimen dan batuan

gunung api yang berumur Eosen-Oligosen (kira-kira 50 juta hingga 30 juta tahun

yang lalu) dan intrusi-intrusi diorit, granodiorit, dan granit berumur Pliosen.

2.2.2. Stratigrafi Regional

Stratigrafi regional daerah penelitian mengacu pada peta geologi Lembar

Tilamuta skala 1 : 250.000 (Bachri et all, 1993), yang terdiri dari formasi –

formasi batuan yang bila diurutkan dari tua ke muda yaitu Formasi Tinombo

(Teot), Diorit Boliyohuto (Tmbo), Batuan Gunungapi Pani (Tppv), Batuan

Gunungapi Pinogu (TQpv), dan Aluvium (Qal).

Formasi Tinombo (Teot), merupakan satuan batuan tertua di lembar

Tilamuta dengan penyusun utama berupa batuan gunungapi berselingan dengan

batuan sedimen dan sedikit batuan malihan lemah. Batuan gunungapi lerdiri dari

lava basal, lava spilitan, lava andesit dan breksi gunungapi, sedangkan batuan

sedimen terdiri dari batupasir wake, batu lanau, batupasir hijau, batugamping
33

merah dan batu gamping abu – abu. Umur Formasi Tinombo diperkirakan Eosen

hingga Oligosen.

Diorit Boliohuto (Tmbo) terdiri dari batuan diorite sampai granodiorit

yang mengandung kuarsa sampai 20%, dengan kandungan feldspar dan biotit

cukup menonjol. Beberapa tempat dijumpai senolit bersusunan basa,

menunjukkan kemungkinan batuan dioritan tersebut berasosiasi (menerobos)

batuan basa jauh di bawah permukaan. Batuan ini menerobos Formasi Dolokapa.

Singkapan baik satuan ini dijumpai di G.Boliohuto, membentuk pegunungan terjal

dengan ketinggian mencapai 1.800m diatas permukaan laut, diperkirakan

berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir.

Batuan Gunungapi Pani (Tppv) terdiri dari dasit, lava andesit, tuf,

aglomerat, dan breksi gunungapi. Lava andesit merupakan penyususun utama

dalam batuan gunungapi ini dengan struktur massif, warna abu – abu muda,

bertekstur porfiritik. Tuf dengan warna abu – abu muda bersusunan dasit,

sedangkan aglomerat dengan warna abu – abu dengan komponen andesit dan

basal yang berukuran 2 – 6 cm hingga 30 cm. Breksi gunungapi pada satuan ini

berwarna abu – abu kecoklatan, tersusun oleh kepingan batuan bersifat andesitan

dan dasitan yang berukuran 2 – 10 cm. Batuan Gunungapi Pani ini diperkirakan

berumur Pliosen Awal.

Batuan Gunungapi Pinogu (TQpv) terdiri dari perselingan aglomerat, tuf dan

lava. Batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Akhir - Pliosen Awal dengan

ketebalan mencapai 250 meter, sedangkan sebarannya terdapat di sebelah selatan


34

wilayah Cekungan Limboto dan daerah Teluk Kwandang serta di beberapa tempat

yang membentuk bukit - bukit terpisah.

Aluvium (Qal) terdiri dari pasir, lempung, lanau, lumpur, kerikil dan kerakal

yang bersifat lepas. Satuan batuan ini menempati daerah dataran rendah, terutama

di daerah dataran, lembah sungai dan daerah rawa-rawa. Pelamparan dari satuan

batuan ini terbatas pada daerah aliran sungai (DAS) seperti yang terdapat di

sebelah barat Danau Limboto.

Gambar 2.10 Peta Geologi Regional daerah penelitian

2.2.3. Struktur Geologi

Pulau Sulawesi termasuk dalam kawasan Timur Indonesia yang terletak

di persimpangan tiga wilayah lempeng utama: lempeng Laut Eurasia, India-

Australia dan Pasifik-Filipina. Pertemuan tiga lempeng itu sendiri, di kawasan


35

timur Indonesia, bahkan lebih kompleks lagi. Hal ini menyebabkan terbentuknya

zona subduksi dengan lebar 2000 km, dan deformasi kontraktional terus berlanjut

saat ini yang terdiri dari kompleks metamorf, terannes opiolit, busur vulkanik,

granitoid belts dan Cekungan sedimen. (Hall. R, Wilson. M.E.J, 2000).

Gambar 2.11 Tiga lempeng besar yang membentuk Pulau Sulawesi

(Hall. R, Wilson. M.E.J, 2000)

Menurut Bachri. S, (2011), Daerah Sulawesi dan sekitarnya dapat dibagi

menjadi 4 provinsi megatektonik utama yaitu Sabuk Magmatik Sulawesi Barat,

Sabuk Metamorf Sulawesi Tengah, Sabuk Ophiolite Sulawesi Timur, dan

Platform Bangai-Sula dan Buton Tukangbesi. Sedangkan Sompotan (2012),

membagi Sulawesi dan pulau – pulau sektarnya menjadi empat Mandala

berdasarkan struktur litotektoniknya.

Mandala barat (West & North Sulawesi Volcano-Plutonic Arc) sebagai

jalur magmatik yang merupakan bagian ujung timur Paparan Sunda, Mandala
36

tengah (Central Sulawesi Metamorphic Belt) berupa batuan malihan yang

ditumpangi batuan bancuh sebagai bagian dari blok Australia, Mandala timur

(East Sulawesi Ophiolite Belt) berupa ofiolit yang merupakan segmen dari kerak

samudera berimbrikasi dan batuan sedimen berumur Trias-Miosen dan yang

keempat adalah Fragmen Benua Banggai-Sula-Tukang Besi, kepulauan paling

timur dan tenggara Sulawesi yang merupakan pecahan benua yang berpindah ke

arah barat karena strike-slip faults dari New Guinea.

Daerah Gorontalo merupakan bagian dari lajur volkano-plutonik Sulawesi

Utara yang dikuasai oleh batuan gunung api Eosen - Pliosen dan batuan

terobosan. Pembentukan batuan gunung api dan sedimen berlangsung relatif

menerus sejak Eosen – Miosen Awal sampai Kuarter, denganS lingkungan laut

dalam sampai darat. Pada batuan gunung api umumnya dijumpai selingan batuan

sedimen, dan sebaliknya pada satuan batuan sedimen dijumpai selingan batuan

gunung api, sehingga kedua batuan tersebut menunjukkan hubungan superposisi

yang jelas. Fasies gunung api Formasi Tinombo diduga merupakan batuan ofiolit,

sedangkan batuan gunung api yang lebih muda merupakan batuan busur

kepulauan.
37
38