Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA MODERN

Judul Praktikum :
PERCOBAAN FRANCK HERTZ

Oleh
Nama : Isnindar Tandya Asri
NIM : 130322615514
Off : N1
Kelompok :B-4
Pembimbing : Pak Hari Wisodo

LABORATORIUM ELEKTROMAGNETIK
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG

JUMAT, 20 NOVEMBER 2015


PERCOBAAN 2
PERCOBAAN FRANCK HERTZ

A. TUJUAN
1. Mempelajari model-model atom.
2. Menunjukkan adanya tingkat-tingkat energi pada atom.

B. DASAR TEORI
Menurut model atom Bohr, elektron-elektron mengitari inti tidak pada lintasan-
h
lintasan sebarang tetapi pada lintasan-lintasan tertentu dengan momentum sudut n .
2
Lintasan-lintasan tersebut disebut dengan orbit yang juga merupakan tingkat-tingkat
energi. Selama berada pada orbitnya, elektron tidak memancarkan atau menyerap energi.
Apabila mengalami transisi dari orbit yang satu ke orbit lainnya, elektron akan
memancarkan atau menyerap energi berupa gelombang elektromagnetik. Besarnya
energi tersebut adalah hv . Elektron yang berada pada orbit tertentu mempunyai tingkat
energi tertentu. Untuk membuktikan adanya tingkat-tingkat energi, Frank-Hertz telah
melakukan percobaan yang dikenal dengan percobaan Frank-Hertz.
Susunan rangkaian alat ini dapat dilihat pada Gambar 1. Elektron dipancarkan
dari katode K dengan cara dipanasi kemudian dipercepat dengan menggunakan tegangan
V. Sebagian dari elektron tersbut dapat melewati grid (Anoda/kisi pemanasan) G2 dan
diperlambat dengan tegangan v. lonisasi di perjalanan oleh elektron tidak akan terjadi
bila V>v dan bila terjadi keadaan demikian grafik hubungan antara i dan v akan terlihat
seperti pada Gambar 2. Apabila terjadi ionisasi di perjalanan oleh elektron maka arus i
akan turun. Bila terjadi keadaan demikian grafik hubungan i dan V akan terlihat seperti
Gambar 3.

Gambar 1. Susunan rangkaian alat


Gambar 2. Grafik hubungan I dan v Gambar 3. Grafik hubungan I dan v
Bila tidak terjadi Ionisasi Bila terjadi Ionisasi

C. DESAIN EKSPERIMEN

Gambar 4. Panel pada alat Frank-Hertz

D. LANGKAH KERJA
1. Mengatur switch power (1) pada posisi off, switch (9) pada posisi manu, switch (10)
pada posisi internal, dan switch (11) pada posisi meter. Memutar semua tombol pada
posisi minimum, yaitu dengan cara memutar berlawanan arah dengan perputaran
jarum jam.
2. Menghubungkan input dengan sumber tegangan 220 V, kemudian mengatur jarum
ammeter pada posisi nol dengan menggunakan tombol zero (7). Mengatur tombol
gain pada posisi garis penunjuk mengarah ke atas.
3. Memutar tombol G2-K (5) searah jarum jam sampai voltmeter menunjuk kira-kira 30
volt.
4. Memutar tombol pemanas (2) sampai garis penunjuk mengarah ke atas dan
menunggu kira-kira 2-3 menit.
5. Memutar tombol G1-K (3) sampai ammeter menunjukkan adanya arus dan memutar
tombol G2-P (4) sampai menunjukkan adanya pengaruh pada jarum ammeter.
Mengatur G1-K (3) dan G2-P (4) sedemikian sehingga bila G2-K (5) diputar ke arah
maksimum ammeter tidak melebihi batas maksimum.
6. Mengatur tombol zero (7) agar menunjuk nol pada saat G2-K minimum (nol). Dari
harga nol perbesar V dengan memutar G2-K (5) sedikit demi sedikit yang akan diikuti
oleh bertambah besarnya arus yang ditunjukkan oleh jarum ammeter. Pada posisi
harga V tertentu harga i akan turun drastis kemudian bertambah besar lagi. Cari
keadaan penurunan i ini sebanyak 3-4 kali untuk satu proses perubahan V dari harga
nol sampai maksimum.
7. Apabila keadaan di atas sudah didapat, meminimumkan tombol G2-K (5), kemudian
mengubah switch (9) pada posisi auto. Selanjutnya maksimumkan tombol G2-K (5),
akan terlihat secara otomatis jarum voltmeter bertambah tetapi jarum ammeter naik-
turun-naik-turun dan seterusnya.
8. Meminimumkan tombol G2-K (5) dan mengubah kembali switch (9) pada posisi
manu kembali.
9. Melakukan secara manual pengukuran V dan i dengan memutar tombol G2-K (5)
sedikit demi sedikit.
10. Melakukan pelaksanaan 5-9 pada kondisi yang lain dengan mangatur tombol G1-K
(3) dan G2-P (4) yang berbeda.

E. DATA PENGAMATAN

No. V (Volt) I1 (mA) Ket. I2 (mA) Ket. I3 (mA) Ket.


1. 0 0 0 0
2. 4 4 4 4
3. 8 8 8 14
4. 12 16 12 22
5. 16 22 16 30
6. 20 26 ** 18 32 **
7. 24 22 * 22 28 *
8. 28 28 26 44
9. 32 38 34 52
10. 36 42 ** 36 ** 58 **
11. 40 36 * 34 * 50 *
12. 44 38 40 66
13. 48 50 46 ** 74
14. 52 58 50 * 82 **
15. 56 58 ** 48 76 *
16. 60 54 * 52 82
17. 64 58 64 92
18. 68 68 66 -
19. 72 76 76 ** -
20. 76 76 ** 70 * -
21. 80 74 * - -

Keterangan:
** : maksimum
* : minimum

Nst V = 2 Volt
Nst I = 2 Ampere

F. ANALISIS DATA
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dihitung energi elastisitasnya. Karena energi
elastisitasi sama dengan energi elektron maka energi dan panjang gelombang elastisitasi
dapat dihitung dengan tegangan pemercepat ketika arus menurun.
ℎ𝑐 ℎ𝑐
E = eV, 𝜆 = 𝑒𝑉 atau 𝜆 = 𝐸
1
 Pada titik minimum pertama (∆𝑉 = 2 𝑛𝑠𝑡 = 1 𝑉𝑜𝑙𝑡)

24 + 40 + 24
𝑉1 = = 29,33 𝑉𝑜𝑙𝑡
3

𝐸1 = 1,6 . 10−19 𝑐 . 29,33 𝑉𝑜𝑙𝑡 = 4,69 . 10−18 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒

6,626 . 10−34 𝐽𝑠 . 3 . 108 𝑚𝑠 −2


𝜆1 = = 4,24 . 10−8 𝑚
1,6 . 10−19 𝑐 . 29,33 𝑉𝑜𝑙𝑡

2
𝛿𝜆 2
𝑆𝜆1 = √| . . ∆𝑉|
𝛿𝑉 3
2
−ℎ𝑐 2
= √| . . ∆𝑉|
𝑒𝑉 2 3
2
−6,626 . 10−34 𝐽𝑠 . 3 . 108 𝑚𝑠 −2 . 2
= √| |
1,6 . 10−19 𝑐 . (29,33 𝑉𝑜𝑙𝑡)2 . 3
= 9,63 . 10−10 𝑚
𝑆𝜆1 9,63 . 10−10 𝑚
Ralat relatif 𝜆1 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 2,27 % (3𝐴𝑃)
𝜆1 4,24 . 10−8 𝑚

Jadi 𝜆1 = (4,24 ± 0,10). 10−8 𝑚 dengan ralat relatif 2,27 %.

1
 Pada titik minimum Kedua (∆𝑉 = 2 𝑛𝑠𝑡 = 1 𝑉𝑜𝑙𝑡)

40 + 52 + 40
𝑉2 = = 44 𝑉𝑜𝑙𝑡
3

𝐸2 = 1,6 . 10−19 𝑐 . 44 𝑉𝑜𝑙𝑡 = 7,04. 10−18 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒

6,626 . 10−34 𝐽𝑠 . 3 . 108 𝑚𝑠 −2


𝜆2 = = 2,82 . 10−8 𝑚
1,6 . 10−19 𝑐 . 44 𝑉𝑜𝑙𝑡

2
𝛿𝜆 2
𝑆𝜆2 = √| . . ∆𝑉|
𝛿𝑉 3
2
−ℎ𝑐 2
= √| . . ∆𝑉|
𝑒𝑉 2 3
2
−6,626 . 10−34 𝐽𝑠 . 3 . 108 𝑚𝑠 −2 . 2
= √| |
1,6 . 10−19 𝑐 . (45,33 𝑉𝑜𝑙𝑡)2 . 3
= 4,28 . 10−10 𝑚

𝑆𝜆2 4,28 . 10−10 𝑚


Ralat relatif 𝜆2 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 1,52 % (3𝐴𝑃)
𝜆2 2,82 . 10−8 𝑚

Jadi 𝜆2 = (2,82 ± 0,04). 10−8 𝑚 dengan ralat relatif 1,52 %.

1
 Pada titik minimum Ketiga (∆𝑉 = 2 𝑛𝑠𝑡 = 1 𝑉𝑜𝑙𝑡)

60 + 76 + 56
𝑉3 = = 64 𝑉𝑜𝑙𝑡
3

𝐸3 = 1,6 . 10−19 𝑐 . 64 𝑉𝑜𝑙𝑡 = 1,024 . 10−17 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒

6,626 . 10−34 𝐽𝑠 . 3 . 108 𝑚𝑠 −2


𝜆3 = = 1,94 . 10−8 𝑚
1,6 . 10−19 𝑐 . 64 𝑉𝑜𝑙𝑡

2
𝛿𝜆 2
𝑆𝜆3 = √| . . ∆𝑉|
𝛿𝑉 3
2
−ℎ𝑐 2
= √| . . ∆𝑉|
𝑒𝑉 2 3
2
−6,626 . 10−34 𝐽𝑠 . 3 . 108 𝑚𝑠 −2 . 2
= √| |
1,6 . 10−19 𝑐 . (64 𝑉𝑜𝑙𝑡)2 . 3
= 2,02. 10−10 𝑚

𝑆𝜆3 2,02 . 10−10 𝑚


Ralat relatif 𝜆3 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 1,04 % (3𝐴𝑃)
𝜆3 1,94 . 10−8 𝑚

Jadi 𝜆3 = (1,94 ± 2,02). 10−8 𝑚 dengan ralat relatif 1,04 %.

G. PEMBAHASAN
Elektron dari suatu atom bergerak mengelilingi inti sesuai dengan lintasan orbit
yang dimilikinya, dimana orbit tersebut memiliki suatu tingkatan energi tertentu. Pada
saat elektron terkuantisasi (berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah) maka
elektron tersebut akan memancarkan energi berupa foton dengan panjang gelombang
tertentu. Panjang gelombang dari foton tersebut bergantung dari nilai energi eksitasi
dari atom tersebut. Besar energi eksitasi dan panjang gelombang foton yang diemisikan
dapat dihitung menggunakan percobaan Franck – Hertz. Eksitasi elektron atom dari
keadaan dasar ke keadaan tereksitasi dapat terjadi karena adanya serapan tenaga kinetik
elektron yang menumbuk atom gas Neon yang ada di dalam tabung Franck – Hertz.
Bila tenaga kinetik elektron sama dengan tenaga ionisasi atom Neon, maka elektron-
elektron dapat mengionkan atom-atom gas tersebut, gejala ionisasi ditandai dengan
meningkatnya kuat arus anoda (Sarasati, dkk: Tanpa Tahun).

Sebuah atom dapat mengeksitasi ke tingkat energi di atas tingkat energi dasar
yang menyebabkan atom tersebut memancarkan radiasi. Salah satu caranya adalah
dengan tumbukan dengan partikel lain seperti yang dilakukan pada praktikum ini. Pada
saat tumbukan, sebagian dari energi kinetik partikel akan diserap oleh atom. Atom yang
tereksitasi akan kembali ke tingkat dasarnya dengan memancarkan satu foton atau lebih.
Pada praktikum ini, akan ditentukan besarnya energi eksitasi dan panjang gelombang
yang juga menginterpretasikan grafik arus sebagai fungsi tegangan (Sarasati, dkk:
Tanpa Tahun).

Ketika tegangan dinaikkan dari nol semakin banyak elektron yang mencapai plat
anoda. Dalam perjalanannya elektron menumbuk atom yang terdapat dalam tabung.
Namun tidak ada energi yang dilepaskan pada tumbukan ini. Jadi tumbukan yang terjadi
bersifat lenting sempurna. Adanya tumbukan lenting sempurna ini diikuti dengan
naiknya arus elektriknya. Saat elektron memiliki energi yang cukup untuk mengeksitasi
atom yang ditumbuk maka elektron dapat melepaskan energinya dalam suatu tumbukan
tidak lenting sama sekali dengan atom. Peristiwa ini ditandai dengan adanya penurunan
arus elektrik yang drastis.

Energi eksitasi dapat diperoleh dengan mengalikan e dan V, dengan V adalah


tegangan saat arus (I) minimum. Sedangkan panjang gelombang λ dapat dihitung
ℎ𝑐
berdasarkan persamaan 𝑒𝑉, dengan h adalah konstanta Planck dan c adalah cepat rambat

cahaya. Dari data pengamatan dapat dihitung energi eksitasi dan panjang
gelombangnya yaitu pada energi eksitasi didapat E1 = 4,69 . 10−18 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒, E2 =
7,04. 10−18 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒, E3 = 1,024 . 10−17 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒 dan untuk panjang gelombangnya didapat
−8 −8
𝜆1 = (4,24 ± 0,10). 10 𝑚 dengan ralat relatif 2,27 %, 𝜆2 = (2,82 ± 0,04). 10 𝑚

dengan ralat relatif 1,52 %, 𝜆3 = (1,94 ± 2,02). 10−8 𝑚 dengan ralat relatif 1,04 %.

Ralat yang didapat dari percobaan ini belum mendekati nol. Hal ini dikarenakan
beberapa faktor, yaitu:

1. Kesalahan paralaks oleh praktikan, yakni ketika membaca skala, mata tidak sejajar
dengan skala yang ditunjuk oleh jarum penunjuk.
2. Set peralatan terlalu panas sehingga hasilnya kurang akurat.
H. TUGAS
1. Gambar grafik hubungan I terhadap V

Grafik Hubungan Antara Tegangan dan Arus pada Percobaan 1


90

60
I (Ampere)

30
I
Linear Fit of I
Equation y = a + b*x
Adj. R-Square 0,96854
Value Standard Error
I Intercept 2,83117 1,77645
0
I Slope 0,94351 0,03799

0 30 60 90
v (Volt)

Grafik Hubungan Antara Tegangan dan Arus pada Percobaan 2


90

60
I (mA)

30 I
Linear Fit of I
Equation y = a + b*x
Adj. R-Square 0,98225
Value Standard Error
I Intercept -0,17143 1,30785
0
I Slope 0,95451 0,02942

0 30 60
v (Volt)
Grafik Hubungan Antara Tegangan dan Arus pada Percobaan 3
100

80

60
I (mA)

40
I
Linear Fit of I
20 Equation y = a + b*x
Adj. R-Square 0,97086
Value Standard Error
I Intercept 2,5098 2,27813
0
I Slope 1,40319 0,06071

-10 0 10 20 30 40 50 60 70
v (Volt)

2. Menentukan besar tegangan eksitasi, energi eksitasi dan panjang gelombang yang
dihasilkan.
Tegangan
Penurunan Percobaan E eksitasi Panjang Gelombang
eksitasi ℎ𝑐
ke- ke- (E = eV) Joule (𝜆 =
𝑒𝑉
) meter
(Volt)
1 1 22 3,52 x 10-18 5,65 x 10-8
2 34 5,44 x 10-18 3,65 x 10-8
3 28 4,48 x 10-18 4,44 x 10-8
2 1 36 5.76 x 10-18 3,45 x 10-8
2 50 8,00 x 10-18 2,48 x 10-8
3 50 8,00 x 10-18 2,48 x 10-8
3 1 54 8,64 x 10-18 2,30 x 10-8
2 70 1,12 x 10-17 1,77 x 10-8
3 76 1,22 x 10-17 1,63 x 10-8

3. Penjelasan secara fisis terjadinya grafik hubungan I-V.


Secara fisis terjadinya grafik hubungan V dan I adalah akibat penurunan arus
secara drastis ketika atom berada dalam suatu keadaan tereksitasi. Elektron-elektron
yang dipanasi dengan filamen (H) bergerak dari Katoda ke Anoda, dalam perjalanannya
elektron-elektron tersebut melewati kisi dalam tabung hampa. Arus elektriknya dapat
diukur melalui A yang dipasang seri dengan plat Anoda.
Dalam perjalanannya elektron-elektron bertumbukan dengan atom-atom suatu
unsur gas atau uap dalam kisi dan tumbukan yang terjadi adalah tumbukan tidak lenting
sama sekali, dengan anggapan bahwa elektron yang bertumbukan memberikan
sebagian atau seluruh energinya pada atom. Pada suatu keadaan tertentu energi yang
diberikan oleh elektron-elektron tersebut akan sama dengan energi yang dibutuhkan
oleh olektron-elektron untuk menaikkan atom ke tingkat eksitasi terendahnya, maka
atom kembali bereksitasi pada tingkat energi berikutnya.
Efeknya adalah terjadi penurunan arus secara drastis. Karena elektron-elektron
yang bergerak setelah terjadi tumbukan bergerak dengan energi rendah menuju Anoda.
Elektron-elektron kembali dan dipercepat dengan potensial V dengan memutar tombol
(5) maka kembali terjadi kenaikan arus. Begitu seterusnya.

4. Model-model atom dan kelemahannya.


1. Model Atom Dalton (1766-1844)
 Konsep yang dikemukakan:
 Atom adalah partikel terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.
 Atom adalah suatu unsur, sehingga tidak dapat menjadi atom unsur lain.
 Dua atom atau lebih dapat membentuk suatu unsur.
 Atom suatu unsur semuanya serupa.
 Dalam suatu reaksi kimia atom-atom terpisah kemudian dapat bergabung
lagi dengan membentuk susunan yang berbeda dari semula serta
mempunyai perbandingan tertentu mengikuti kekekalan massa.
 Kelemahannya:
Dalam perkembangan atom, ternyata atom terdiri dalam suatu struktur tertentu
yang tidak dapat dijelaskan oleh Dalton yakni tentang kelistrikan.

2. Model Atom Thomson (1859-1940) Muatan positif yang


menyebar merata
Pada tahun 1819 Thomson mengusulkan bahwa Elektron
atom merupakan bola bermuatan positif bersama
yang mengandung elektron. Thomson orang pertama
yang mengusulkan “Struktur atom” dengan
keberhasilannya mencirikan elektron dan
menentukan e/m elektron. Struktur yang
dikemukakan Thomson adalah berbentuk bola
Gambar 5. Model Atom
Thomson
dengan diameter + 1Aº yang bermuatan listrik positif. Dan pada tempat-tempat
tertentu di dalam bola itu terdapat elektron yang sama banyaknya, (seperti kismis
dalam roti. Jumlah muatan positif sama dengan muatan negatif.
Kelemahan model Atom Thomson:
 Tidak mampu menerangkan penyerapan elektron pada frekuensi yang sama.
 Hamburan partikel alfa yang ditembakkan pada atom dengan sudut hambur
yang besar bahkan mampu membalikkan partikel tersebut yang menunjukkan
bahwa muatan positif tidak tersebar merata melainkan berkonsentrasi pada
sebuah inti yang kecil pada pusat atom.

3. Model Atom Rutherford


Pada tahun 1911 E. Rutherford dengan dua pembantunya Hans Geiger dan
E. Marsden melakukan serangkaian percobaan penghamburan sinar alfa pada
lempeng tipis emas, seperti gambar berikut.

Gambar 6. Eksperimen hamburan Rutherford

Sinar α yang bermuatan positif dihasilkan radioaktif radium diarahkan ke


lempeng tipis emas. Pada layar seng sulfida terlihat bahwa sebagian besar sinar α
iti diteruskan, dan sebagian kecil sinar α itu dipantulkan dengan sudut yang besar
dan sebagian lagi dibelokkan.
Gambar 7. Penghamburan sinar α pada atom-atom emas

Dari percobaan tersebut Rutherford menerangkan, bahwa:


1. Sinar α yang diteruskan oleh lempeng tipis emas menyatakan bahwa dalam
atom-atom emas sebagian besar merupakan ruangan kosong.
2. Sinar α yang dipantulkan menyatakan dalam atom-atom emas terdapat
partikel yang bermuatan positif.
3. Sinar α dibelokkan, bila sinar itu mendekati partikel bermuatan positif.

Maka Rutherford menyimpulkan hasil percobaannya yaihi sebagai berikut:

1. Atom terdiri dari inti atom dan elektron. Massa dan muatan positifnya
terpusat pada inti atom, sedangkan elektron beredar mengelilingi inti pada
kulitnya.
2. Jumlah muatan positif sama dengan jumlah elektron. Model atom Rutherford
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 8. Model atom Rutherford


Sebuah atom ukurannya sekitar 10-8 cm dan inti atom sekitar 10-13 cm, jika
kita bandingkan ukuran atom dengan intinya = 105 : 1. Dapat kita bayangkan jika
inti atom 1 cm, maka atomnya adalah 1 km. Sehingga dapat diperoleh gambaran
bahwa sebagian besar dalam atom adalah ruangan kosong. Pada suatu reaksi kimia
yang berpengaruh hanya elektron-elektron bagian luar saja. Atom yang kekurangan
atau kelebihan elektron disebut dengan ion.

Kelemahannya:

 Rumus hamburan Rutherford masih


merupakan hampiran karena gaya yang
mempengaruhi hamburan tersebut bukan
hanya dari sati inti sehingga perhitungan
jari-jari inti masih merupakan hampiran.
 Belum dapat menjelaskan kemantapan
atom, jika elektron mengorbit berputar
mengelilingi inti, maka elektron harus terus Gambar 9. Kesetimbangan gaya
dalam atom
menerus meradiasikan energinya.
Dikarenakan energi pada atom berkurang yang diikuti oleh jari-jari maka
akhirnya jatuh pada inti.

Gambar 10. Menurut klasik, elektron atomik harus secara spiral menuju inti dengan
cepat ketika elektron itu memancarkan energi karena adanya percepatan

4. Model Atom Bohr


Struktur atom yang diperkenalkan oleh Bohr adalah penyempurnaan model
atom Rutherford dengan menggemukakan dua postulat:
a. Elektron mengelilingi inti melalui lintasan yang tetap (stationer) dan tidak
mengurangi yang dimiliki oleh elektron dengan
nh
momentum sudut Mvr  .
2
b. Elektron akan mengalami perubahan energi jika
terjadi perpindahan elektron pada lintasan lain
dengan menyerap energi hν jika pindah ke lintasan
yang lebih luas dan memancarkan energi hν jika
pindah ke lintasan yang lebih rendah. Gambar 11. Perpindahan e ke
lintasan lain

Kelemahannya:
 Hanya sesuai untuk atom-atom berelektron tunggal atau disebut atom
Hidrogenitik yaitu He+, Li2+, Be2+ dan lainnya. Namun tidak untuk atom
berelektron 2 atau lebih.
 Tidak dapat menjelaskan spektrum atomik yang terdiri dari banyak garis
spektrum.
 Tidak dapat menghitung intensitas garis spektrum.
 Melanggar azas ketidakpastian 2x.p   berlaku semua arah dalam ruang
untuk sebuah elektron yang bergerak dalam sebuah orbit lingkaran jika jari-jari
tetap maka r  0 sehingga 2r.p   tidak terpenuhi.
I. KESIMPULAN
Dari hasil analisis percobaan Frank-Hertz dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Perkembangan model-model atom hasil eksperimen para ilmuan terdahulu tidak akan
pernah terputus sampai di sini, terus berkembang seiring dengan keingin tahuan
manusia yang terus ingin semakin tahu. Diharapkan kita mampu mengembangkan
ekperimen-ekperiman terdahulu untuk menemukan gejala baru dalam ilmu
pengetahuan.
2. Eksperimen Frank-Hertz membuktikan secara langsung bahwa tingkat energi atomik
memang ada dan tingkat-tingkat ini sama dengan tingkat-tingkat yang terdapat pada
spektrum garis.
3. Terjadinya tingkatan-tingkatan energi dalam atom terlihat dari adanya penurunan arus
secara drastis pada tegangan tertentu. Hal ini disebabkan elektron yang bertumbukan
dengan atom memberikan sebagian atau seluruh energi kinetiknya.
4. Dari tingkatan-tingkatan energi yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa jenis atom
yang sesuai adalah jenis atom Bohr.

J. DAFTAR PUSTAKA
Istiqomah, Sarasati; Lutvia, Hanu; Wahyuni, Ika; Kamelia; dan Ayu, Muthia. 2014.
Eksperimen Franck Hertz: Pengukuran Energi Eksitasi dan Panjang Gelombang
Foton Menggunakan Percobaan Franck - Hertz. Surabaya : Universitas Airlangga.
Beiser Arthur. 1982. Fisika Modern. Jakarta : Erlangga.
Ronald Gantreau dan William Savin. 1995. Fisika Modern. Jakarta : Erlangga.
Team Pembina Mata Kuliah Fisika Modern. 2015. Petunjuk Eksperimen Fisika Modern.
Malang : Jurusan Fisika FMIPA UM.
LAMPIRAN