Anda di halaman 1dari 4

ALUR TATALAKSANA DAN RUJUKAN PASIEN DIFTERI

No. Dokumen No Revisi Halaman

003/SPO/YANMED/KD/2018 00 1/4

Ditetapkan,
Direktur RSUD Kalideres
STANDAR
Tanggal Terbit
PROSEDUR
OPERASIONAL
01 Januari 208
(SPO)
dr.Fify Mulyani, MARS
NIP.196904112002122003
Difteri merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh
Corynebacterium diphteriae, pada tonsil atau laring, dan hidung. Kadang-
kadang pada selaput mukosa dan kulit. difteri dapat menyerang orang
yang tidak memiliki kekebalan.
Kasus difteri adalah penyakit yang ditandai dengan laringitis atau faringitis
atau tonsilitis, dan membran adheren (tidak mudah lepas) pada tonsil,
PENGERTIAN faring dan/atau hidung.

Definisi kasus difteri


Kasus probable difteri adalah kasus yang memenuhi deskripsi klinis difteri
Kasus konfirmasi difteri adalah kasus probable difteri yang dipastikan
melalui pemeriksaan laboratorium atau berhubungan secara epidemiologi
dengan kasus terkonfirmasi laboratorium.

TUJUAN Melakukan penatalaksanaan yang tepat untuk kasus difteri


A. PMK 1501 tahun 2010 tentang jenis penyakit menular tertentu yang
dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangan
B. PMK 1 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan
perorangan
KEBIJAKAN
C. KMK 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktik Layanan Klinis
D. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan kejadian luar
biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan
E. Rekomendasi Diagnosis dan tata laksana difteri IDAI
A. Pasien datang dengan keluhan demam lebih atau sama dengan
38ºC, nyeri menelan, pada pemeriksaan hidung atau tenggorokan
terlihat lapisan warna keabuan (Psudomembran) yang sulit
dilepaskan namun mudah berdarah, leher membengkak seperti leher
sapi (Bull Neck), nafas disertai bunyi (Stridor).(Probable Difteri).
PROSEDUR
B. Pasien dirujuk ke RSUD dengan Fasilitas Ruang Isolasi dan dirujuk
seperti kasus emergensi ke IGD RS
C. Dilakukan pemeriksaan/assesment oleh dokter IGD (Second Opinion)
D. Setelah dilakukan konfirmasi oleh dokter IGD bahwa pasien probable
Difteri, pasien segera dimasukan kedalam ruang Isolasi RS dan
ALUR TATALAKSANA DAN RUJUKAN PASIEN DIFTERI

No. Dokumen No Revisi Halaman

003/SPO/YANMED/KD/2018 00 2/4

dilakukan tata laksana difteri sebagai berikut:


a. Isolasi Pasien
Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan
hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut-turut dengan jarak 24
jam. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu.
Istirahat tirah baring selama kurang lebih 2-3 minggu,
pemberian cairan serta diet yang adekuat. Swab diambil ketika
masuk ruang isolasi dan 24 jam berikutnya. Selama
pengambilan spesimen swab, antibiotik tidak boleh diberikan.
Swab dikemas sesuai SOP untuk selanjutnya dikirim ke lab
rujukan (Litbang).
b. Pemberian Antibiotik
Antibiotik diberikan untuk membunuh bakteri dan menghentikan
produksi toksin. Penisilin prokain 25.000 - 50.000 U/kgBB/hari
(maksimum 1,2 juta U/hari) selama 14 hari. Bila terdapat
riwayat hipersensitivitas penisilin diberikan eritromisin 40
mg/kgBB/hari (maksimum 2 g/hari) dibagi 4 dosis, interval 6 jam
selama 14 hari.
c. Pemberian Anti Difteri Serum (ADS
Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit terlebih
dahulu, oleh karena pada pemberian ADS dapat terjadi reaksi
anafilaktik, sehingga harus disediakan larutan adrenalin 1:1000
dalam semprit. Uji kulit dilakukan dengan penyuntikkan 0,1 ml
ADS dalam larutan garam fisiologis 1:1.000 secara intrakutan.
Hasil positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm. Bila
uji kulit positif, ADS diberikan dengan cara desensitisasi
(Besredka). Bila uji hipersensitivitas tersebut diatas negatif,
ADS harus diberikan sekaligus secara intravena. Dosis ADS
ditentukan secara empiris berdasarkan berat penyakit dan lama
sakit, tidak tergantung pada berat badan pasien, berkisar
antara 20.000-100.000 KI seperti tertera pada tabel 5.
Pemberian ADS intravena dalam larutan garam fisiologis atau
100 ml glukosa 5% dalam 1-2 jam. Pengamatan terhadap
kemungkinan efek samping obat dilakukan selama pemberian
antitoksin dan selama 2 jam berikutnya. Demikian pula perlu
dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum
sickness). ADS dapat diperoleh dengan cara menghubungi
suku dinas kesehatan wilayah yang kemudian secara
berjenjang ke Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan
ALUR TATALAKSANA DAN RUJUKAN PASIEN DIFTERI

No. Dokumen No Revisi Halaman

003/SPO/YANMED/KD/2018 00 3/4

Kementrian Kesehatan. Faskes mengisi form W1 (Laporan


Kejadian luar biasa/wabah)
d. Kortikosteroid
Kortikosteroid diberikan untuk kasus difteri yang disertai dengan
gejala obstruksi saluran napas bagian atas (dapat disertai atau
tidak bullneck) dan bila terdapat penyulit miokarditis. Prednison 2
mg/kgBB/hari selama 2 minggu kemudian diturunkan bertahap
e. Tracheostomi
Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernapasan
yang progresif merupakan indikasi tindakan trakeostomi
.
E. Bila hasil Swab tenggorokan/hidung menunjukan hasil positif, dan
terjadi perburukan kondisi pasien, maka pasien dirujuk ke RS Sulianti
Saroso, bila pasien stabil tetap ditangani di RSUD.
F. Bila hasil Swab negatif, pasien diobservasi selama 2 minggu
G. Inform Consent wajib dilakukan pada setiap tindakan medis, tanpa
terkecuali untuk tindakan imunisasi dan pemberian ADS
H. H. FKTP/FKTL yang menemukan kasus probable difteri wajib
melaporkan ke suku dinas kesehatan wilayah untuk mendapatkan
serum ADS.

DOKUMEN
1. Formulir W1 (Laporam Kejadian Luar Biasa/Wabah)
TERKAIT
ALUR TATALAKSANA DAN RUJUKAN PASIEN DIFTERI

No. Dokumen No Revisi Halaman

003/SPO/YANMED/KD/2018 00 4/4