Anda di halaman 1dari 8

KARAKTERISTIK PROACTIVE ROUTING DAN REACTIVE ROUTING

Disusun oleh :
Made Rio Efendi NIM : 2015-81-111

FAKULTAS ILMU KOMPUTER


TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Karakteristik
Proactive Routing dan Reactive Routing ini. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih
banyak atas doa dari orang tua, dan peran dari rekan-rekan yang membantu proses penyusunan
makalah ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Karakteristik Proactive Routing dan Reactive Routing. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan datang.

Jakarta , 15 November 2017

Made Rio Efendi

2
BAB I
PEMBAHASAN

1.1 Routing Proactive


Protokol routing proactive merupakan protokol routing yang berdasarkan informasi
pada routing table yang terus di-update dalam waktu berkala. Semua informasi
mengenai perubahan akan dikirim sesuai dengan periodik pengiriman update dari
routing table. Sehingga, pada protokol routing ini akan terjaga routing table yang terus
update tanpa menghilangkan fungsinya untuk memilih jalur terbaik untuk mengirimkan
data. Sifat protokol ini memungkinkan delay yang lebih rendah dalam mengirimkan
data melalui jaringan karena jalur data sudah dikenal. Beberapa contoh algoritma
proactive routing adalah :
- Babel
- B.A.T.M.A.N – Better Approach to Mobile Ad hoc Network
- DSDV – Highly Dynamic Destination Sequenced Distance Vector routing protocol
- HSR – Hierarchial State Routing Protocol
- IARP – Intrazone Routing Protocol
- LCA – Linked Cluster Architecture
- WAR – Witness Aided Routing
- OLSR – Optimized Link State Routing Protocol

1.1.1 Destination Sequenced Distance Vector Routing Algorithm (DSDV)


Destination Sequenced Distance Vector Protokol routing adalah protokol routing
proaktif unicast. DSDV didasarkan pada traditional Bellman Ford algorithm. Pada
DSDV, setiap node memelihara tabel routing. Setiap entri dalam tabel routing
memiliki semua tujuan mungkin dalam jaringan dan jumlah hop ketujuan masing-
masing. Nomor urut yang digunakan dalam DSDV untuk menghindari loop. Setiap
node secara berkala mengirimkan update routing table termasuk informasi routing
ke node tetangga yang berdekatan. Pada DSDV, dua jenis updating yang terjadi.
Yang pertama adalah Full Dump. Full Dump membawa semua informasi routing
yang tersedia dan dapat tidak memerlukan Network Protocol Data Unit (NPDU).
Pendekatan lain update Incremental Update. Pendekatan ini hanya berisi entri yang
dengan metrik telah berubah sejak update terakhir dikirim.

3
1.1.2 Optimized Link State Protokol Routing
Optimized Link State Protokol routing adalah algoritma proactive routing.
Dalam algoritma ini, setiap node menyiarkan informasi link untuk semua node
lainnya dalam jaringan. Jadi semua node dapat mengetahui node yang bersebelahan.
OLSR menggunakan pesan hello untuk informasi link state. Multi Point Relay
(MPR) merupakan aspek penting dari protokol OLSR. Sebuah MPR untuk node N
adalah bagian dari tetangga N yang menyiarkan paket selama proses flooding, bukan
setiap tetangga N flooding network. Ketika sebuah node menyebarkan pesan, semua
tetangga yang menerima pesan. MPR Hanya yang belum melihat pesan sebelum lagi
menyebarkan pesan. Oleh karena itu biaya overhead flooding dapat dikurangi.
OLSR menggunakan dua jenis pesan kontrol yaitu Hello massage dan Topologi
Control (TC). Hello massage yang digunakan untuk mencari informasi tentang link
state dan tetangga host. Pesan TC yang disiarkan secara berkala dan hanya host MPR
dapat meneruskan pesan TC. Keuntungan utama dari OLSR atas Protokol Proaktif
lainnya adalah bahwa hal itu menyiarkan hubungan informasi daripada tabel routing.
Secara umum langkah-langka kerja dalam OLSR dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Link Sensing (Pendeteksian hubungan).
Link Sensing dilakukan dengan mengirimkan pesan HELLO secara periodik
dan berkesinambungan. Hasil dari link sensing adalah local link set yang
menyimpan informasi hubungan antara interface yang ada pada node tersebut
dengan node-node tetangga.
2. Neighbour detection (pendeteksian node tetangga).
Node pengirim pesan HELLO akan menerima informasi alamat-alamat dari
node-node tetangganya beserta link status-nya.
3. MPR selection (pemilihan MPR).
Melalui pesan HELLO node utama akan menentukan sejumlah node tetangga
untuk dipilih sebagai multipoint relay (MPR) yang bertugas meneruskan paket-
paket kontrol ke dalam jaringan.
4. Pengiriman TC (Topology Control) Messages.
TC Messages dikirimkan untuk memberikan informasi routing kepada setiap
node yang ada pada jaringan yang akan digunakan untuk penentuan jalur.
5. Route calculation (penghitungan jalur).
Berdasarkan informasi rute yang didapat dari paket-paket kontrol seperti

4
HELLO dan TC maka setiap node akan memiliki routing table yang berisi informasi
rute yang dapat dilalui untuk dipakai mengirimkan data ke node lainnya yang ada pada
jaringan.

1.2 Routing Reactive


Protokol routing reactive merupakan protokol routing yang memilih jalur maupun
melakukan update jalur hanya ketika terdapat rute baru atau ketika suatu rute terputus.
Pada protokol routing ini, perhitungan jalur dilakukan sekali saja, kemudian di-update
hanya ketika ada perubahan. Informasi yang dimiliki setiap router pada protokol routing
ini sangat terbatas dan akan dihapus ketika tidak lagi dibutuhkan dalam jangka waktu
tertentu. Pada beberapa protokol routing reactive, setiap router bahkan hanya memiliki
informasi tentang nexthop saja. Oleh karena karakteristiknya, protokol routing reactive
sering juga disebut dengan On Demand Routing Protocol.. Beberapa contoh algoritma
reactive routing adalah :
- SENCAST
- Reliable Ad Hoh On Demand Distance Vector Routing Protocol
- Ant-Based Routing Algorithm for Mobile Ad Hoc Network
- Admission Control Enabled On Demand Routing (ACOR)
- Ariadne
- Associativity Based Routing
- Ad Hoc On Demand Distance Vector (AODV)
- Ad Hoc On Demand Multipath Distance Vector
- Backup Source Routing
- Dynamic Source Routing (DSR)
- Flow State in the Dynamic Source Routing
- Dynamic MANET On Demand Routing (DYMO)

1.2.1 Dynamic Source Routing (DSR)


DSR adalah protokol routing reaktif unicast. Ini menyebarkan source routing, yang
berarti setiap paket data berisi informasi routing yang lengkap. DSR protokol
terdiri dari dua fase: fase penemuan rute dan rute fase pemeliharaan. Tahap pertama
adalah rute penemuan fase, melainkan diprakarsai oleh node sumber. Node sumber
broadcast paket data dengan header. Header termasuk alamat sumber, alamat
tujuan dan nomor urut yang unik. Paket ini disebut Route Request (RREQ). Ketika

5
sebuah node menerima paket RREQ, pertama memeriksa route, jika bukan node
tujuan, menambahkan alamat dengan di header dan mengirim paket RREQ ke node
tetangga sebelah. Ketika paket mencapai ke tujuan, sehingga header memiliki
semua alamat node di jalan. Pada fase kedua, ketika node sumber ingin mengirim
data, periksa dulu cache rute. Jika cache rute yang tersedia, node sumber
meletakkan semua alamat node untuk jalan ketujuan diheader. Dalam DSR,
pemutusan link adalah saat selama transmisi diidentifikasi Route Error (RERR)
paket yang dihasilkan dan dikirim untuk kembali ke sumbernya. Ketika paket
mencapai sumber RERR, proses penemuan rute dimulai lagi.

1.2.2 Ad-hoc On-Demand Distance Vector Routing Algorithm (AODV)


AODV adalah protokol routing yang didisain untuk mobile ad-hoc networks. AODV
memiliki kemampuan routing unicast dan multicast. Algoritma routing ini berdasarkan
permintaan (on-demand) artinya rute dibentuk hanya saat terjadinya permintaan dari
node yang membutuhkannya. AODV dikembangkan oleh C.E.Perkins, E.M. Belding-
Royer dan S.Das pada RFC 3561. AODV sangat simpel, efisien, dan protokol routing
yang efektif untuk Modile Adhoc network (MANET). AODV menggunakan sequence
number untuk menjamin rute terbaik. AODV membangun rute menggunakan route
request dan route reply. Saat node sumber melakukan permintaan rute dimana node
tersebut tidak memiliki rute, ia akan melakukan broadcast RREQ ke seluruh jaringan
yang terhubung dengannya. AODV memiliki route discovery dan route maintenance.
Route discovery berupa route request (RREQ) dan route reply (RREP). Route
maintenance berupa data dan Route Error (RRER) . RREQ berjalan dari satu node ke
node yang lain, secara otomatis membentuk jalur untuk kembali dari semua node yang
di lalui ke sumber node yang meminta RREQ. Setiap node yang menerima paket RREQ
mencatat alamat node yang akan menerima RREQ (destination), ini biasa disebut
Reverse Path Setup. Node menjaga info selama beberapa saat, untuk RREQ melintasi
network sampai membuat balasan (reply) ke pengirim tergantung dari besarnya
network.

6
a. Karakteristik AODV :
1. Minimal space complexity: Hanya node tertentu yang menjaga informasi rute, Node
yang tidak aktif (bukan jalur yang dilalui) tidak menjaga informasi rute. Setelah
menerima RREQ dan membentuk jalur kembali dalam routing table dan
menyebarkan kembali ke tetangga terdekatnya, jika tidak menerima RREP node
akan menghapus informasi routing yang telah dicatat.
2. Memiliki bandwidth yang besar: Semua intermediate node pada jalur yang aktif
mengupdate routing table dan memaksimalkan penggunaan bandwidth, walaupun
routing tabel digunakan berulang, dan intermediate node menerima RREQ dari
sumber yang lain untuk tujuan yang sama.
3. Simple: Setiap node bertindak sebagai router dan, menjaga routing table.
4. Informasi routing yang efektif: Setelah mengirimkan RREP, jika node menerima
RREP dengan hop-count yang lebih kecil, node akan mengupdate informasi routing
dengan jalur yang terbaik dan mengirimkannya.
5. Loop-free routes: Algoritma menjaga agar tidak terjadi loop, dengan cara
membuang jalur yang buruk dari broadcast-id yang sama.
6. Topologi dinamis: Saat node yang berada didalam network bergerak atau terjadi
kerusakan, topologi jaringan akan berubah, intermediate node yang mengetahui
terjadinya kerusakan (link breakage) mengirimkan paket RERR.

b. Kekurangan AODV
Adapun kekurangan dari AODV diantaranya :
1. Overhead pada bandwidth: Overhead pada bandwidth akan terjadi saat RREQ
melintasi dari node satu ke node yang lain dalam proses menemukan informasi
rute terbaik dan mengirimkan jalur untuk kembali, node yang dilewati akan
membawa semua informasi dalam perjalananya.
2. Informasi routing hanya dapat dipakai sekali: AODV kurang efisien dalam
melakukan routing, informasi rute diperoleh berdasarkan permintaan
(ondemand).
3. Pencarian rute yang cukup lama, latency yang tinggi.
4. Ukuran routing tabel yang besar.

7
BAB II

PENUTUP

2.1 Kesimpulan
Router merupakan sebuah alat yang berfungsi menghubungkan jaringan yang berbeda
agar bisa melakukan komunikasi antar device di dalam jaringan tersebut. Router
bekerja dengan cara menentukan jalur yang akan dipilih untuk mengirim paket-paket
data dari sumber ke tujuan. Proses pencarian dan penentuan jalur inilah yang disebut
routing sedangkan sekumpulan aturan yang berkerja untuk menentukan dan
menjalankan proses routing disebut routing protokol. Protokol routing adalah
komponen penting dari komunikasi dalam Jaringan Wireless