Anda di halaman 1dari 17

INSPEKSI LAPANGAN CALON LOKASI

BENDUNGAN GONGSENG KABUPATEN BOJONEGORO


DAN BENDUNGAN PIDEKSO KABUPATEN WONOGIRI
TANGGAL 16 - 18 JANUARI 2013

Sesuai dengan surat permintan inspeksi dari Kepala BBWS Bengawan Solo No. : UM.01.11-
An/249 tentang Permohonan Sertifikasi Persetujuan Desain Bendungan Gongseng dan Pidekso,
pada tanggal 16 sampai dengan 18 Januari 2013 Tim Balai Bendungan telah melakukan
inspeksi ke calon lokasi Bendungan Gongseng Kabupaten Bojonegoro dan calon lokasi
Bendungan Pidekso Kabupaten Wonogori.
Inspeksi dilakukan oleh Tim inspeksi Balai Bendungan yang terdiri dari :
1. Ir. Achmad Zubaidi, M.Tech
2. Ir. Zainuddin, ME
3. Ir. Soedaryanto, M.Sc
4. Anissa Mayangsari, ST, M.PSDA
5. Cristina Dwi Yuliningtyas, ST

Dalam melaksanakan inspeksi, Tim Balai Bendungan didampingi oleh Petugas dari BBWS
Bengawan Solo serta Tim Konsultan Bendungan Gongseng yaitu PT. Ika Adya Perkasa dan Tim
Konsultan Bendungan Pidekso yaitu PT. Mettana :
Jasa konsultansi yang dilaksanakan oleh PT. Ika Adya Perkasa adalah : Review FS (Studi
Kelayakan) dan DD (Desain Rinci) Bendungan Gongseng, sedang untuk PT. Mettana adalah:
Review FS (Studi Kelayakan) dan DD (Desain Rinci) Bendungan Pidekso.

Setelah dilakukan peninjauan ke lapangan, pada tanggal 18 Januari 2013, dilakukan diskusi
hasil inspeksi lapangan. Pada kesempatan tersebut juga dibahas konsep desian Bendungan
Gondang yang dilaksankan oleh PT. Gracia Widyakarsa dan konsep desain Bendungan Tukul
yang dilaksnakan oleh PT. Global Parasindo.

KESIMPULAN DAN SARAN


I. UMUM
Dalam pelaksanaan pekerjaan Review Studi Kelayakan dan penyiapan Desain Rinci
bendungan, hendaknya memperhatikan hal-hal sbb:

A. Penggunaan istilah waduk


Menurut PP 37 Tahun 2010 tentang Bendungan, waduk adalah wadah buatan yang
terbentuk sebagai akibat dibangunnya bendungan.
Oleh karenanya penamaan pekerjaan “Detil Desain Waduk Gongseng dan Waduk Pidekso”
adalah tidak tepat, karena yang didesain dan dibangun bukan waduknya tetapi
bendungannya.

B. Maksud dan tujuan pekerjaan studi.


Sampai saat ini masih sering dijumpai laporan pekerjaan studi yang tidak spesifik/jelas
maksud dan tujuan pekerjaan dilakukan, sehingga sasaran akhir studi sering menjadi kabur.
Disarankan, maksud dan tujuan pekerjaan studi dibuat lebih jelas/spesifik. Berikut disajikan
satu contoh maksud dan tujuan pekerjaan yang lebih spesifik:
- Maksud : (1). Melakukan Review Studi kelayakan; (2). Menyiapkan Desain Rinci
Bendungan …………………; (2). Membantu proses sertifikasi persetujuan desain
bendungan.
- Tujuan : (1). Memperoleh pilihan alternatif pembangunan bendungan yang terbaik
yang layak ditinjau dari aspek teknik, lingkungan dan ekonomi; (2). Memperoleh
desain bendungan yang aman, selaras dengan lingkungan dengan tetap
memperhatikan kelayakan ekonomi; (3). Memperoleh sertifikat “Persetujuan Desain”
dari Menteri Pekerjaan Umum.

C. Sertifikat Keahlian Bendungan


Sesuai PP no 37 th 2010 tentang Bendungan (psl 6) dan PP 28 th 2000 tentang Usaha dan
Peran Masyarakat Jasa Konstruksi (lihat psl: 11; 15; 32), tenaga ahli konstruksi/konsultan
untuk penyiapan desain bendungan, harus memilki Sertifikat Keahlian Bendungan
Besar.

D. Review Studi Kelayakan


1. Didalam laporan pekerjaan review, seharusnya disajikan hasil kaji ulang terhadap studi
kelayakan yang ada dan usulan penyempurnaannya.
2. Kaji ulang studi kelayakan, semestinya paling tidak dilakukan terhadap:
- Data yang digunakan, bandingkan dengan data terkini;
- Asumsi-asumsi yang digunakan, bandingkan dengan kondisi sekarang;
- Kecukupan lingkup pekerjaan survai dan investigasi;
- Kecukupan dalam studi pemilihan alternatif dan pemilihan terakhir
- Hasil analisis dan evaluasi kelayakan proyek
- Kemantapan desain pendahuluan (basic design) ditinjau berdasar NSPM terbaru
- Kelengkapan lingkup laporan studi kelayakan
- Dan lain-lain
3. Isi laporan (utama) studi kelayakan, paling tidak mencakup :
- Informasi kondisi umum daerah proyek, termasuk latar belakang proyek, seperti
data situasi ekonomi nasional, target sektoral yang didukung, informasi lokasi dan
daerah sekitarnya,
- Sasaran proyek,
- Analisis urgensi proyek,
- Perumusan alternatif dan pemilihan akhir, termasuk perbandingan secara rinci
berbagai macam alternatif yang potensial,
- Klas bahaya bendungan,
- Desain teknis pendahuluan (basic design) dan analisis kelayakan teknis,
- Perkiraan biaya proyek,
- Rencana implementasi
- Instansi pelaksana dan pengaturan kelembagaan
- Evaluasi kemantapan teknis, kehandalan ekonomi dan keuangan, serta dampak
sosial dan lingkungan.
- Risiko proyek yang mungkin timbul
- Identifikasi keterkaitan dengan pengembangan sumber daya air lainnya
- Kesimpulan dan saran.
4. Akurasi hasi studi: menurut KP Irigasi 1986. tingkat akurasi studi kelayakan: untuk
biaya 90%, rekayasa teknik 70%.
5. Sebagai referensi lihat bahan tayang mata ajar “Studi Kelayakan Bendungan” untuk
Diklat Perencanaan Bendungan Tkt Lanjutan di Batam th 2012

E. Tahapan survai dan investigasi


1. Tahapan survai dan investigasi dalam perencanaan bendungan, seharusnya melalui
tahap:
a. Survai dan investigasi pemilihan lokasi bendungan, dilakukan pada masing-masing
alternatif lokasi bendungan;
b. Survai dan investigasi awal, dilakukan secara tipikal berdasar peta geologi umum
dan rencana tata letak bendungan, untuk menunjang penyiapan basic design (saat
studi kelayakan);
c. Survai dan investigasi rinci, dilakukan berdasar evaluasi hasil survai
investigasi awal, untuk menunjang penyiapan desain rinci.

F. Investigasi Geoteknik.
1. Investigasi fondasi
a. Secara umum investigasi fondasi pada lokasi bendungan dilakukan untuk
mengetahui:
- Sifat fisik dan teknik pondasi utamannya kuat dukung, permeabilitas/ angka
Lugeon, dll.
- Keberadaan struktur geologi
- Batas galian fondasi,
- Rencana perbaikan pondasi,
b. Investigasi pada cekungan waduk/daerah genangan, dilakukan untuk:
- Kemungkinan adanya potensi bocoran di dasar calon waduk
- Kemungkinan adanya potensi bocoran dan ketidakstabilan di bukit/lereng
sekeliling waduk
Oleh karenanya lingkup investigasi termasuk uji lapangan dan laboratorium harus
mencukupi untuk menunjang kebutuhan tersebut diatas pada huruf a dan b, sesuai
tahap investigasi.

2. Investigasi material
a. Tujuan investigasi untuk mengetahui dan menentukan:
- Kualitas material timbunan dan agregat beton, yang mencakup klasifikasi
teknik, sifat fisik, sifat teknik, termasuk tanah ekspansif, dispersif,dll.
- Ketersediaan cadangan matrial yang memenuhi syarat.
- Kondisi yang berkaitan dengan: penggalian, lokasi, jalan masuk, jarak, status,
perlunya konservasi, dll.
b. Pemetaan daerah sumber galian (quarry & borrow area).
Daerah sumber galian perlu dipetakan dengan skala detil kemudian dilakukan
investigasi dengan bor mesin/sumuran uji/bor tangan dan pengambilan contoh
uji/sample.
c. Kerapatan titik investigasi:
- Tahap studi kelayakan: titik investigasi dengan interval grid 150~200m; 1
sampel uji untuk setiap 25.000 m3 material timbunan;
- Tahap desain rinci: titik investigasi dengan interval grid 50~100m; 1 sampel uji
setiap 10.000~25.000 m3 material timbunan; minimal 3 titik investigasi dan 3
sampel untuk setiap lokasi sumber galian.
d. Pada prinsipnya setiap sumber material timbunan (lempung, pasir, random, batu)
harus diambil sampelnya dan dilakukan uji sifat fisik dan sifat tekniknya.
e. Material inti: Uji kuat geser dilakukan dengan metode Triaxial BP (back pressure)
untuk memperoleh parameter kuat geser c dan φ pada kondisi uu dan cu. Tekanan
yang diterapkan saat uji harus sesuai dengan tinggi rencana bendungan. Selain uji
sifat fisik dan sifat teknik, lakukan pula uji dispersif (minimal 2 metode) dan
swelling.
f. Pasir: untuk memperoleh nilai kepadatan relatif, sampel pasir harus diuji dengan
meja getar.
g. Material random: uji kuat geser dilakukan sesuai dengan ukuran butiran (berbutir
halus/kasar) dan sifat material random (bersifat non kohesif/kohesif).
h. Parameter desain tidak dibenarkan diambail dari nilai rata-rata atau nilai tengah
hasil uji, tetapi digunakan nilai terkecil (untuk desain konservatif) atau maksimal
sebesar nilai 80% yang terpenuhi.
i. Bagi material batu yang saat desain rinci belum dapat uji, parameter desain yang
digunakan hendaknya diambil nilai yang konserfatif.

G. Survai Topografi.
1. Persyaratan teknis untuk pekerjaan pengukuran, hendaknya mengacu pada Standar
Perencanaan Irigasi bagian Pengukuran Topografi PT-02.
2. Referensi koordinat pengukuran sebaiknya menggunakan sistem koordinat
nasional/Bakosurtanal.
3. Patok BM hendaknya dipasang pada tanah yang keras dan pada lokasi yang aman dari
gangguan pelaksanaan pembangunan dan vandalisme, dilengkapi dengan deskripsi BM
sebagaimana disyaratkan pada PT-02 diatas.
4. Daerah yang diukur, antara lain: lokasi bendungan, sumber galian, jalan akses, daerah
genangan, penyimpanan material, tempat pembuangan material, dll.
5. Pengukuran as/poros bendungan, hendaknya juga dilengkapi dengan pengukuran
beberapa potongan melintang sungai dihulu dan dihilir as bendungan.
6. Pada ujung as bendungan hendaknya dipasang patok-patok semi permanen yang tidak
mudah rusak.

H. Hidrologi
1. Pada tahun 2012, Balai Bendungan telah mengeluarkan Peta Isohit Curah Hujan
Wilayah Indonesia Bagian Barat. Hasil analisis curah hujan desain, hendaknya dikontrol
dengan peta tersebut; bila hasil analisis lebih kecil dari curah hujan dari peta isohit,
gunakan nilai curah hujan dari peta isohit.
2. Durasi hujan kritis, hendaknya dicari dengan coba-coba yang menghasilkan durasi yang
menghasilkan muka air banjir tertinggi di waduk.
3. Untuk menyusun ERH (Effectif Rainfall Hyetograph), hendaknya lebih dulu distribusi
hujan disusun dalam bentuk genta (bell shape). Lihat Panduan Perencanaan
Bendungan Urugan volume II bagian Analisis Hidrologi.
4. Bila dalam analisis banjir desain menggunakan metode UH (Unit Hdrograph) sintetis,
lakukan kalibrasi terhadap parameter yang digunakan untuk analasis, dengan
menggunakan data debit sungai. Bila kalibrasi tidak dapat dilakukan, lakukan analisis
banjir desain dengan menggunakan beberapa metode UH. Kemudian bandingkan nilai
banjir desian yang diperoleh dengan banjir desain bendungan-bendungan lain dalam
grafik Creager.
I. Klas bahaya bendungan
Dalam laporan desain harus dijelaskan klas bahaya bendungan berdasar jumlah penduduk
terkena risiko apabila terjadi keruntuhan bendungan (lihat Pedoman penentuan klasifikasi
bahaya bendungan)

J. Desain Tubuh Bendungan


Desain rinci tubuh bendungan harus didesain berdasar hasil survai investigasi rinci dan
parameter desain hasil uji lapangan dan atau laboratorium. Bagi parameter desain yang
ujinya belum dapat dilakukan (seperti uji large scale test), harus diambil nilai parameter
yang konservatif dan pada awal pelaksanaan konstruksi harus segera dilakukan uji.

K. Bangunan pelimpah pelimpah


1. Sebelum dilakukan uji model, pastikan perhitungan banjir desain dan desain pelimpah
telah dilakukan dengan benar.
2. Untuk penggunaan kolam olak USBR tipe III, agar diperhatikan kecepatan aliran air
masuk kolam olak (incoming velocity) tidak boleh > 50 feet/s atau 16 m/dt. Bila
ternyata lebih besar, gunakan USBR tipe II yang akan memerlukan kolam olak yang
lebih panjang.
3. Elevasi lantai kolam olak, harus dibawah elevasi tailwater dikurang tinggi loncat air d2.
4. Desain struktur dinding kolam olak, hendaknya memperhitungkan gaya dinamis
air/pulsating force (lihat Hydraulic Design of Spillways EM 1110-2-1603 USARMY).
5. Agar peredaman energi di kolam olak lebih efektif, pertimbangkan membuat kolam
olak lebih lebar dari pada saluran luncur.

L. Uji model hidraulik.


1. Bila kecepatan aliran air disaluran luncur >25 m/dt, periksa kemungkinan terjadinya
kavitasi dan perlunya system airasi.
2. Uji model dilakukan untuk mengetahui pola aliran (dasar tetap), pola gerusan (dasar
gerak) dan penyempurnaan desain.
3. Skala model, tidak boleh lebih kecil dari 1:50 (sangat disarankan <1:40), tanpa distorsi.
4. Penyempurnaan desain di dalam model, harus tetap berpegang pada
pedoman/guidelines desain sesuai tipe pelimpah dan kolam olak yang bersangkuatan,
dan sedapat mungkin diawali dengan memanfaatkan sifat hidrolis aliran air sendiri
seperti: merubah sifat aliran dari super krtis menjadi kritis (pasang control section)
untuk menciptakan bantalan air yang dapat menimbulkan efek peredaman,
memperlebar/memperdalam/memperpanjang kolam olak, pemasangan dinding
pengarah pada bagian saluran yang lebar, lengkung atau aliran terlalu cepat, membuat
aliran lebih streamline dan lain sebagainya.

M. Sarana pengeluaran darurat (emergency release)


Setiap bendungan sebaiknya dilengkapi dengan fasilitas pengeluaran darurat, untuk
keperluan pengosongan/penurunan muka air waduk saat terjadi kondisi darurat. Sarana
pengeluaran darurat dapat berupa bangunan khusus atau memanfaatkan sarana
pengeluaran yang ada seperti sarana pengeluaran irigasi yang kapasitasnya diperbesar.
Kapsitas saran pengeluaran darurat dihitung berdasar kebutuhan waktu pengosongan
(evakuasi) waduk pada kondisi darurat. Sebagai acuan untuk menentukan lama waktu
pengosongan dapat digunakan kreteria dari ASCE seperti table berikut:
H= Ketinggian muka air diwaduk dari dasar sungai s/d mercu pelimpah.

N. Saluran/konduit pengelak
1. Untuk menghitung kapasitas saluran pengelak, lebih dulu harus diketahui sifat aliran
didalam pipa konduit, aliran bebas (free flow) atau tenggelam. Untuk mengetahui sifat
aliran tersebut, harus dibuat rating curve dihilir conduit untuk mengetahui ketinggian
muka air di outlet konduit.
2. Dalam perhitungan kebutuhan panjang plug/sumbat, faktor keamanan terhadap geser
harus >4, dengan asumsi friction hanya terjadi dibagian bawah plug.

O. Kelengkapan dokumen desain


Menurut PP No. 37 tentang Bendungan, dalam pengajuan permohonan Persetujuan Desain,
ada beberapa persyaratan baru yang harus dilampirkan dalam permohonan, yaitu:
- Metode Pelaksanaan (pasal 25).
- Laporan “Evaluasi Keamanan Bendungan” (pasal 144).
1. Metode pelaksanaan, paling tidak berisi mengenai cara:
- Pengelakan aliran sungai,
- Penggalian dan perbaikan fondasi
- Penimbunan tubuh bendungan
- Pemasangan peralatan hidromekanikal, termasuk keterkaitannya dengan rencana
pelaksanaan “plugging”.
2. Laporan “Evaluasi Keamanan Bendungan”
Sebelum dikeluarkannya peraturan/pedoman mengenai hal tersebut, laporan
evaluasi dapat berupa Ringkasan Desain + evaluasinya, yang isinya menjelaskan
secara ringkas mengenai: pekerjaan survai investigasi dan desain, lengkap dengan
parameter desain yang digunakan dan cara memperolehnya, serta
evaluasi/perbandingan hasil perhitungan desain dengan SNI dan Pedoman yang
berlaku. Contoh daftar isi Laporan Ringkas desain, disajikan pada lampiran2.
3. Laporan final (Final Report) desain rinci, diserahkan ke Balai Bendungan dalam bentuk
hard copy dan soft cppy , paling tidak terdiri laporan-laporan sbb:
a. Laporan utama (Main report): menjelaskan seluruh lingkup pekerjaan mencakup
aspek teknik dan non teknik; nota desain (design note ) dapat dimasukkan dalam
laporan ini atau bila laporan terlalu tebal sebiknya dipisahkan; lengkapi laporan ini
dengan gambar sket dan gambar desain bangunan/komponen pokok bendungan.
b. Laporan Ringkas : berisi ringkasan desain dan evaluasi keamanannya;
c. Kreteria desain;
d. Investigasi geologi teknik (dan mekanika tanah);
e. Laporan penunjang: Survai Topografi;
f. Analisis Hidrologi;
g. Nota perhitungan (design calculation): lengkapi dengan gambar sket untuk setiap
bagian/komponen yang dihitung;
h. Gambar desain: gambar yang diperkecil dalam kertas ukuran A3 harus dapat
dibaca dengan jelas. perhatikan ketebalan garis dan ukuran huruf, ikuti standar
penggambaran KP-07 dan B0 KP Irigasi 1986;
i. Spesifikasi teknik;
j. Metode pelaksanaan;
k. Rencana anggaran biaya pelaksanaan konstruksi;
l. Dan lain-lain.

P. Izin pelalaksanaan konstruksi bendungan


Pelaksanaan konstruksi bendungan baru dapat dimulai setelah Pembangun
Bendungan/BBWS memperolah “Persetujuan Desain” dan “Izin Pelaksanaan Konstruksi
Bendungan”. Permohonan Izin pelaksanaan konstruksi bendungan dapat diajukan
bersamaan dengan permohonan Persetujuan Desain, dengan persyaratan tambahan
berupa:
(1). Laporan studi pembebasan tanah dan pemukiman kembali/LARAP.
(2). Bukti telah dibebaskannya areal tanah/lahan di lokasi pembangunan bendungan dan
sumber material (quarry dan borrow area)

II. BENDUNGAN GONGSENG


Perhatikan Saran Umum angka I

A. GEOLOGI TEKNIK
1. Laporan Geologi dan Peta Geologi/Geoteknik
Pengamatan secara visual di lapangan menunjukkan bahwa litologi maupun
geomorfologi rencana lokasi Bendungan Gongseng secara umum cukup memadai untuk
bendungan tipe urugan. Namun demikian, berdasarkan laporan dan peninjauan
lapangan disarankan beberapa hal sebagai berikut:
a. Evaluasi teknis dan non-teknis terkait dengan pemilihan lokasi bendungan
seyogyanya ditampilkan dalam bentuk Tabel (Matriks).
b. Keberadaan “knob-knob” pada bukit tumpuan kanan disarankan agar dikaji lebih
rinci mengenai genesanya, akibat struktural ataukah erosional. Demikian pula
mengenai kelandaian lerengnya yang kemungkinan ditempati oleh koluvial atau
material longsoran yang tidak stabil.
c. Orientasi struktur perlapisan di lokasi bendungan tidak/belum tercermin di dalam
peta geologi. Disamping untuk evaluasi dan klarifikasi butir b) di atas, orientasi
perlapisan ini penting untuk diketahui mengingat peta geologi regional
mengindikasikan bahwa lokasi bendungan berada pada sayap hilir dari antiklin
Kalimati.
d. Periksa kembali apakah laporan hasil evaluasi dan kajian geologi/geologi teknik di
lokasi bendungan dan cekungan waduk telah mengadopsi dan memperhatikan
ketentuan-ketentuan sbb:
(1). Pada tahap desain rinci, peta geoteknik di lokasi bendungan digambarkan
dengan skala 1 : (1.000 – 5.000) dan di cekungan waduk 1 : (5.000 – 10.000)
tergantung kompleksitas kondisi geotekniknya.
(2). Di lokasi bendungan, cakupan areal investigasi geoteknik rinci minimal
mencakup areal sebagai berikut: 8 H x (4 H + L), dimana L = panjang
bendungan dan H = tinggi bendungan.

4H 4H
L
2H 2H

4H 4H

(3). Peta Geoteknik hendaknya mengakomodasikan data-data sebagai berikut:


-- Dileniasi keaneka-ragaman jenis batuan dan tanah berdasarkan kesamaan
sifat fisik dan/atau mekaniknya yang diperoleh dari uji lapangan (in situ)
maupun uji laboratorium, antara lain mengenai kuat massa batuan
(rockmass strength), dll.
-- Sedangkan keragaman tanah penutup (overburden) digambarkan sesuai
dengan genesanya seperti alluvial, koluvial, residual soil, talus, scree, dll.
disertai data-data teknis spt. C, Ø, γn, ωn, SG, dll. Data-data geoteknik tsb.
hendaknya digambarkan/dicantumkan di dalam peta dan penampangnya.
-- Kondisi geohidrologi seperti rembesan, mata air, sumur/sumur artetis (kalau
ada) gully erosion, saluran, batas genangan waduk, konfigurasi muka air
tanah, batas galian fondasi, dll.
-- Kondisi geodinamik seperti ketidak stabilan lereng, longsoran, rayapan
(creep), rock fall, dll.
(4). Penampang geologi/geoteknik hendaknya digambarkan dengan “natural scale”
serta mengikuti garis-garis penampang baku sepanjang dan memotong
(longitudinal dan transversal) as-bendungan, sepanjang saluran pelimpah dan
saluran/terowongan pengelak. Selain itu, penampang geologi/geoteknik
hendaknya juga menginformasikan data stratigrafi dan struktur geologi berikut
sifat-sifat fisik-mekaniknya, penampang Lugeon, batas-batas galian fondasi,
konfigurasi muka air-tanah, dll.
(5). Koluvial yang memotong “nose” didalam peta-geologi lokasi bendungan (Gbr. 3-
4), bila ditinjau berdasarkan genesanya dinilai kurang rasional sehingga perlu
diperiksa kembali keberadaannya. Demikian pula keberadaan koluvial-koluvial
lainnya.
2. Material Konstruksi
a. Terdapat ketidak cocokan lokasi borrow area yang dilaporkan berada di daerah hilir
bendungan, sementara di dalam Tabel berada di kolam waduk. Periksa mana yang
benar?
b. Ketersediaan material konstruksi sesuai peruntukannya merupakan hal yang krusial,
namun belum tercermin kepastiannya di dalam laporan. Oleh karena itu perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Laporan tentang material konstruksi seyogyanya terpisah dengan laporan
lainnya.
- Laporan hendaknya menginformasikan/dilengkapi dengan data-data mencakup
a.l: status kepemilikan lahan (quarry dan borrow area) dan kepastian
pembebasannya, jarak angkut dan aksesibilitasnya, hasil uji laboratorium
maupun in situ serta analisa dan evaluasi mengenai kualitas dan kuantitas (QQ)
sesuai peruntukannya, dll.
- Segera dikirimkan ke Balai Bendungan.
c. Khusus untuk borrow area disarankan agar kuantitasnya dievaluasi dengan sistem
“grid” antara bor-tangan dengan sejumlah test pit. Kualitas material untuk inti
bendungan hendaknya juga mencakup uji swelling dan dispersivitas minimal
menggunakan 2(dua) metoda. Berhubung belum adanya waktu untuk peninjauan
ke lokasi borrow area, Proyek/Konsultan agar mengisi/melengkapi Tabel Data
Borrow Area, terlampir (Lampiran 2).
3. Pemboran, antara lain mencakup hal-hal sbb.:
a. Segmen kotak pemboran (core box) yang kosong hendaknya diisi dengan potongan
bambu atau kayu dan dibubuhi keterangan apakah “loose” (tidak terambil) atau
diambil sebagai sampel untuk uji laboratorium, dll.
b. Perlu klarifikasi atau check ulang mengenai log pemboran yang nilai “RQD”-nya
dinilai “terlalu kecil” dibandingkan yang tampak pada foto-nya (contoh Hole No.
GBT-10).
c. Tidak dilaporkan mengenai besarnya tekanan maksimum yang diijinkan pada setiap
kedalaman uji Lugeon. Agar dijelaskan dalam laporan desain.

B. REVIEW FS
1. Perhatikan Saran Umum diatas khususnya angka I. D.
2. Material batu akan diambil dari sumber galian yang lokasinya cukup jauh dari
bendungan. Dalam review FS, kaji dampak transportasi material lewat jalanan umum,
dari sumber galian ke lokasi bendungan. Hitung berapa frekwensi penganngkutan/rit per
hari, bagaimana dampaknya terhadap lalulintas umum dan penduduk yang tinggal di
sepanjang jalan.
3. Untuk lahan quarry area yang berupa tanah hutan/milik Kementerian Kehutanan, agar
segera diselesaikan izin pinjam pakainya. Kepastian akan proses ini harus sudah selesai
sebelum sidang pleno
4. Pembangunan bendungan hendaknya terintegrasi dengan rencana pengembangan
wilayah jangka panjang dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang saling
mendukung dengan master plan pola pengelolaan SDA. Hal ini terkait juga dengan
sumber material yang akan digunakan untuk pembangunan bendungan.

C. DESAIN
1. Perhatikan Saran Umum (I.A sampai dengan P)
2. Klas bahaya bendungan, agar dijelaskan dalam laporan desain.
3. Laju sedimentasi waduk= 1,48 mm/th, nilai ini terlalu kecil dibanding nilai laju
sedimentasi waduk-waduk di P.Jawa. Periksa kembali metode dan parameter
perhitungannya.
4. Periksa kembali rencana pemasangan dinding bata merah sementara pada dinding
pembatas di dalam konduit, utamanya kekuatannya menahan beban kerja selama
pengelakan.
5. Zonasi bendungan agar disesuaikan dengan ketersediaan dan sifat material, apakah
material random bersifat free drain atau cenderung berubah seperti sifat tanah (kedap
air).
6. Lakukan uji gradasi material random, dapatkah berfungsi sebagai filter untuk untuk
material zona inti.
7. Sarana pengeluaran darurat, lihat saran umum I.M.

III. BENDUNGAN PIDEKSO


Perhatikan Saran Umum diatas (angka I) dan saran untuk bendungan Gongseng yang masih
relevan.
A. GEOLOGI TEKNIK
1. Umum
Investigasi geologi teknik yang dilakukan belum cukup rinci untuk menunjang desain
rinci bendungan dan “Laporan Penunjang Geologi Teknik dan Mekanika Tanah” untuk
pekerjaan “Review FS dan DD Waduk Pidekso, Kab. Wonogiri” yang dikirimkan ke Balai
Bendungan belum layak/dapat digunakan sebagai bahan kajian.
Masih diperlukan investigasi geologi teknik rinci dan perbaikan laporan.
2. Investigasi Geologi/Geologi Teknik: idem saran yang sama untuk bendungan Gongseng
huruf A.1.d angka (1) s/d (5).

3. Material Konstruksi
Didalam pembangunan bendungan, ketersediaan material konstruksi sesuai
peruntukannya merupakan hal yang krusial, namun belum tercermin di dalam laporan
Oleh karena itu disarankan hal-hal sebagai berikut:
- Laporan tentang material konstruksi seyogyanya terpisah dengan laporan lainnya.
- Laporan hendaknya menginformasikan/dilengkapi dengan data-data mencakup a.l:
status kepemilikan lahan (quarry dan borrow area) dan kepastian pembebasannya,
jarak angkut dan aksesibilitasnya, hasil uji laboratorium maupun in situ serta
analisa dan evaluasi mengenai kualitas dan kuantitas (QQ) sesuai peruntukannya,
dll.
- Kuantitas borrow area hendaknya dievaluasi dengan sistem “grid” antara bor-
tangan dengan sejumlah test pit. Kualitas material untuk inti bendungan hendaknya
juga mencakup uji swelling dan dispersivitas minimal menggunakan 2(dua) metoda.
Berhubung belum adanya waktu untuk tinjauan ke lokasi borrow area,
Proyek/Konsultan agar mengisi/melengkapi Tabel Data Borrow Area, terlampir (L2).
- Kuantitas quarry area hendaknya dievaluasi secara cermat dengan menambahkan
beberapa titik pemboran. Walaupun kualitasnya secara megaskopik dinilai baik,
namun perlu uji laboratorium sesuai peruntukannya, termasuk uji petrografi untuk
mengetahui mineraloginya.
4. Pemboran
a. Lokasi titik-titik pemboran hendaknya ditentukan berdasarkan tata-letak bendungan
dan kondisi geologinya. Oleh karena itu, seyogyanya pemboran dilakukan setelah
pemetaan geologi rinci.
b. Lokasi di dalam Log Pemboran untuk pembangunan bendungan hendaknya ditulis
sesuai dengan tata letak bendungan atau bagian-bagian bendungan seperti bukit
tumpuan kanan, as-bendungan, spillway, tunnel, dll; atau sesuai dengan
peruntukannya seperti borrow area, quarry area, dll.
c. Nilai RQD pada setiap core pemboran hendaknya dievaluasi dan dicantumkan pada
Log-Pemboran untuk mengetahui gambaran kualitas batuannya, terutama untuk
batuan fondasi dan quarry area.
d. Segmen kotak pemboran (core box) yang kosong hendaknya diisi dengan potongan
bambu atau kayu dan dibubuhi keterangan apakah “loose” (tidak terambil) atau
diambil sebagai sampel untuk uji laboratorium, dll.
e. Perlu diingatkan bahwa uji SPT sebenarnya hanya cocok untuk material tak
terkonsolidasi (kecuali yang mengandung bongkah-bongkah batuan), terutama
cocok untuk material pasir/pasiran. Itupun juga tergantung peruntukannya. Oleh
karena itu, SPT yang dilakukan pada batuan keras perlu dipertanyakan.
f. Evaluasi kembali hasil pemboran TP1 s/d TP6.
5 Tinjauan Lapangan
a. Pengamatan secara visual di lapangan menunjukkan bahwa litologi maupun
geomorfologi rencana lokasi bendungan Pidekso secara umum cukup memadai
untuk bendungan tipe urugan. Namun untuk bahan kajian, evaluasi teknis dan non-
teknis terkait dengan pemilihan lokasi bendungan hendaknya dicantumkan di dalam
laporan dan seyogyanya disarikan dalam bentuk Tabel (Matriks).
b. Struktur sesar yang dilaporkan memotong as-bendungan disarankan untuk dikaji lagi
keberadaannya. Selain tidak ditopang oleh kondisi geomorfologi dan topografinya,
metode pemboran dan log-bornya juga diragukan.

B. REVIEW FS
Perhatiakan Saran Umum diatas diatas khususnya angka I.D dan saran untuk Bendungan
Gongseng.

C. DESAIN
1. Perhatiakan Saran Umum I A s/d P.
2. Laporan desain, secara umum masih perlu banyak perbaikan.
3. Klas bahaya bendungan, agar dijelaskan dalam laporan desain.
4. Tubuh bendungan, direncanakan memiliki tinggi 35,0 m, dengan material timbunan inti
berupa tanah lempung, bahu (shoulder) berupa material random tanah, kemiringan
lereng hulu 1:2,2 hilir 1:2,0.
Disarankan:
a. Untuk bendungan urugan tanah, lazimnya diiperlukan kemiringan lereng yang lebih
landai dari 1:2,0. Mengingat bendungan ini cukup tinggi dan di lapangan tersedia cukup
material batu, sebaiknya dipertimbangkan timbunan material random pada shoulder
dikombinasi dengan zona timbunan batu.
b. Tebal zona inti sebaiknya tidak kurang dari 40% tinggi bendungan.
c. Material filter dan transisi akan diambil dari endapan sungai.
Pastian volume ketersediaan mencukupi, lakukan anlisis gradasi, periksa kesesuaiannya
dengan kreteria desain filter sesuai material yang dilindungi, periksa kandungan
lumpurnya, lakukan uji kepadatan relative serta uji sifat fisik dan sifat teknik lain yang
terkait dengan persyaratan material filter dan agregat beton..
5. Desain Bendungan Pidekso direncanakan dilengkapi dengan emergency spillway.
a. Gunakan istilah yang benar, pelimpah darurat (emergency spillway) atau pelimpah
tambahan (auxiliary spillway), untuk memahami istilah ini lihat Design of Small Dam
halaman 354, 355.
b. Bila memang pelimpah darurat, beri penjelasan apa dasar pertimbangannya.
c. Bila digunakan konstruksi fuse plug, harus didesain dapat runtuh saat terjadi banjir
besar.
6. Pemasangan blankit untuk pengendalian rembesan di fondasi, penetapan kebutuhan
panjangnya dan tebalnya agar mengacu pada standar dari USBR, dan perhatikan
rembesan yang melewati samping blanket.
7. Blankit yang diletakkan di dasar bendungan merupakan lapisan lemah. Periksa stabilitas
lereng bendungan dengan bidang longsor berbentuk baji melewati lapisan blanket.
Bidang longsoran tubuh bendungan supaya dicek kembali dengan bentuk baji, bidang
longsoran adalah melalui titik terlemah yaitu melewati blanket.
8. Kondisi dan kombinasi pembebanan yang ditinjau harus mengacu pada Pedoman Analisis
Dinamik Bendungan Urugan.
9. Konduit harus diletakkan diatas fondasi batuan yang kuat dan stabil. Penetapan lokasi
konduit agar harus didasarkan pada hasil penyelidikan geoteknik.
10. Sarana pengeluaran darurat, lihat saran umum I.M.
11. Desain dan uji model hidraulik pelimpah, perhatikan Saran Umum diatas pada huruf J
dan K.
12. Dihulu lokasi rencana bendungan, terdapat 2 bendung yang areal irigasi berada dihilir
bendungan.
Desain bendungan agar memfasilitasi kebutuhan air untuk kedua daerah irigasi tersebut.

IV. Diskusi Desain Bendungan Gondang, 18 Januari 2013


1. Perhatikan saran Tim Balai Bendungan pada inspeksi lapangan tanggal 8 Juni 2012..
2. Perhatikan Saran Umum diatas (angka I) dan saran untuk bendungan Gongseng yang
masih relevan.
3. Klas bahaya bendungan, agar dijelaskan dalam laporan desain.
4. Geologi teknik: perhatikan saran II A.
5. Material:
- Material inti/random memiliki nilai IP dan LL yang cukup tinggi, lakukan uji kembang
susut (swelling test) dan uji dispersif (minimal 2 metode).
- Klasifikasi material agar dikoreksi, kategori MH tertulis masuk dalam golongan clay,
seharusnya lanau
- Perlu diklarifikasi apa yang dimaksud dengan material “tanah” terkait dengan klasifikasi
tanah berdasar ukuran butiran.
- Untuk klasifikasi material, gunakan klasifikasi menurut standar USCS.
- Hasil uji plastisitas agar diplot kedalam grafik A-line USCS.
- Material inti agar diseleksi kembali, untuk setiap sumber galian paling tidak harus
terdapat 3 titik penyelidikan dan uji proctor.
- Agar dibuat spesifikasi teknis gradasi filter dan transisi sesuai material yang dilindungi.
- Lakukan uji meja getar untuk mengetahui kepadatan relative material pasir.
6. Hidrologi: perhatikan saran umum angka I H.
7. Tinggi jagaan agar dihitung dengan mempertimbangkan elevasi muka air normal, banjir
dan PMF.
8. Perhatikan agar material inti tidak terbawa aliran rembesan (erosi internal) masuk ke
lapisan fondasi. Untuk fondasi, yang perlu diperhatikan bukan sekedar nilai daya dukung
dan permeabilitasnya saja, tetapi juga fracture yang dapat mengakibatkan terhanyutnya
material inti.
9. Periksa kembali lebar zona filter. Zona filter yang lebar biasanya digunakan untuk
melindungi material inti yang bersifat dispersive. Tetapi bila material inti tidak bersifat
dispersive zona filter tidak perlu terlalu lebar, karena dapat menjadi zona lemah dan
mahal.
10. Analisis rembesan agar diperiksa kembali, khususnya perhitungan keamanan terhadap
piping dengan metode exit gradient . Cari bidang terlemah untuk mendapatkan exit
gradient tertinggi.
11. Kondisi dan kombinasi pembebanan yang ditinjau harus mengacu pada Pedoman Analisis
Dinamik Bendungan Urugan.
12. Beban gempa yang harus diperhitungkan dalam desain bendungan adalah OBE dan
MDE/MCE serta RIE untuk bendungan tinggi > 100 m dan tampungan > 500 juta m3.
Untuk beban MDE, bila dalam perhitungan stabilitas lereng dengan metode pseudo static
diperoleh factor keamanan < 1, keamanan bendungan perlu diperiksa ulang dengan
menggunakan metode analisis dinamik.
13. Sarana pengeluaran darurat, lihat saran umum I.M.
14. Saluran irigasi yang terpotong tubuh bendungan agar difasilitasi sehingga berfungsi
seperti semula. Disarankan bila mungkin dengan percabangan pada pipa pembawa
sebelum oulet irigasi karena elevasi sawahnya yang lebih tinggi dari pada oulet irigasi.

V. Diskusi Desain Bendungan Tukul 18 Januari 2013


1. Perhatikan saran umum huruf I dan saran untuk bendungan Gongseng, bendungan
Pidekso dan Bendungan Gonggang yang masih relevan.
2. Bendungan Tukul didesain cukup tinggi, perlu kecermatan ekstra dalam penyiapan
desainnya.
3. Perhatikan saran Tim Balai Bendungan pada saat inspeksi lapangan sebelumnya.
4. Desain dan uji model hidraulik pelimpah, perhatikan Saran Umum diatas pada huruf J
dan K.
Lampiran 1:
Daftar isi Laporan Ringkas dan evaluasinya.
Paling tidak mencakup hal-hal sbb:

I. PENDAHULUAN
1.1. Umum: nama bendungan; lokasi (sungai, wil administrasi, bujur+lintang);
tipe dan ukuran; manfaat utama;
1.2. Pembangun/pemrakarsa pembangunan
1.3. Konsultan perencana
1.4. Maksud dan tujuan pekerjaan
1.5. Studi yang pernah dilakukan dan laporan yang ada
1.6. Izin dan persetujuan yang sudah diperoleh
1.7. Klas bahaya bendungan
1.8. Data teknis: Isi sesuai format dari Balai Bendungan dan lengkapi dengan
peta lokasi. peta situasi bendungan dan pot melintang bendungan.

II. KRETERIA DESAIN, STANDAR DAN PEDOMAN


2.1. BEBAN: (khususnya banjir desain (Q1000/ 1/2PMF/PMF), beban gempa
(OBE, MDE/MCE, RIE) dan periode ulangnya.
2.2. SNI dan Pedoman yang digunakan: sajikan yang terkait langsung/pokok
2.3. Standard an Pedoman asing

III. SURVAI TOPOGRAFI


3.1. Patok referensi koordinat pengukuran
3.2. Lokasi dan jenis pengukuran yang pernah dilakukan
3.3. Lokasi dan jenis pengukuran yang dilakukan sekarang
3.4. Gambaran umum kondisi topografi proyek.
3.5. Evaluasi: kecukupan (properly) pekerjaan survai topografi.

IV. INVESTIGASI GEOLOGI TEKNIK DAN GEMPA


4.1. Investigasi yang pernah dilakukan
4.2. Investigasi yang dilakukan saat ini
4.3. Geologi regional: Fisiografi, Stratigrafi, Struktur geologi,dll.
a. Geologi teknik fondasi Tapak bendungan
b. Bangunan pelimpah dan pengambilan
c. Waduk dan lereng sekelilingnya
d. Saluran Pengelak
(lengkapi dengan peta geologi teknik, profil melintang dan memanjang, dll)
4.4. Material konstruksi
a. Lempung
b. Pasir
c. Kerikil
d. Material random
e. Agregat beton
(ket: sesuaikan dengan tipe bendungan dan kondisi lapangan; masing-
masing material jelaskan: lokasi sumber galian, status lahan, jarak, volume
cadangan dan kebutuhan, prasarana transportasi, diperlukan/tidak restorasi
bekas galian; investigasi yang dilakukan dan hasilnya; buat table-tabel
ringkasan).
4.5. Beban gempa: beban gempa yang diperhitungkan (OBE, MDE, RIE), cara
memperoleh/menetapkan parameter/koefisien gempa, koef gempa
termodifikasi (sesuai posisi titik yang ditinjau).
4.6. Evaluasi: kecukupan investigasi geologi teknik dan evaluasinya.

V. ANALISIS HIDROLOGI
5.1. Data yang tersedia dan metode analisis yang digunakan
5.2. Curah hujan desain
5.3. Banjir desain
5.4. Tinggi jagaan: berdasar kondisi muka air normal, Q1000, PMF.
5.5. Laju sedimentasi waduk: metode yang digunakan, hasilnya.
5.6. Evaluasi: ketepatan metode dan prosudur analisis serta kewajaran hasilnya

VI. TUBUH BENDUNGAN


6.1. Zonasi tubuh bendungan: termasuk lebar masing-masing zona, lebar
puncak bendungan, beri gambar pot melintang.
6.2. Penentuan tinggi puncak bendungan: berdasar
6.3. Parameter desain: cara penetapan nilai parameter, besaran nilai parameter
yang digunakan dalam analisis.
6.4. Analisis stabilitas lereng
6.5. Analisis rembesan
6.6. Analisis deformasi
6.7. Perbaikan fondasi
6.8. Instrumentasi
6.9. Evaluasi: kewajaran zonasi dan parameter desain, ketepatan metode dan
prosudur analisis serta kewajaran hasilnya yang dapat langsung
membandingkan masing-masing hasil analisis dengan angka keamanan yang
disyaratkan oleh SNI dan pedoman

VII. BANGUNAN PELENGKAP


7.1. Bangunan pelimpah (desain dan model test)
7.2. Bangunan pengambilan
7.3. Sarana pengeluaran darurat
7.4. Evaluasi: ketepatan metode dan prosudur analisis serta kewajaran hasilnya
yang dapat langsung membandingkan masing-masing hasil analisis dengan
angka keamanan yang disyaratkan oleh SNI dan pedoman.
(ket: desain hidrolis, rembesan, structural serta operasional)

VIII. PERALATAN HIDROMEKANIK-ELEKTRIK (dapat dibahas dalam bab tersendiri


atau langsung disatukan dengan masing-masing jenis bangunan pelengkap dalam
bab VI)

IX. SISTEM PENGELAKAN SUNGAI


7.1. Banjir desain
7.2. Cofferdam (sementara, hulu, hilir)
7.3. Saluran pengelak (conduit/terowong/bukaan semetara)
7.4. Konsep plugging
9.1. Evaluasi: ketepatan metode dan prosudur analisis serta kewajaran hasilnya
yang dapat langsung membandingkan masing-masing hasil analisis dengan
angka keamanan yang disyaratkan oleh SNI dan pedoman.

X. PERKIRAAN BIAYA
XI. METODE DAN JADWAL PELAKSANAAN KONSTRUKSI
XII. KESIMPULAN DAN SARAN: simpulkan sudah amankah desain bendungan untuk
dikonstruksi atau masih perlu analisis lanjutan dan investigasi tambahan yang lebih
rinci
LAMPIRAN (lampirkan gambar bagian-bagian pokok bendungan)
Lampiran 2:
DESKRIPSI BORROW AREA
LOKASI: . . . . . . . . . . . . STATUS: . . . . . . . . . . . . .. PROYEK : . . . . . . . . .
JARAK DARI LOKASI BENDUNGAN dan AKSESIBILITAS: . . . . . . . . . . . (Peta Lokasi Terlampir)
PENGAMAT: . . . . . . . . . . . . . . . TGL/BLN/THN: . . . . . . . . . . . . . . .
PEMBORAN: . . . . . . . . . . . . . . . . . . TEST PIT: . . . . . . . . . . . . . . . . LAIN-LAIN: . . . . . . .

Observasi Lapangan:
1. Lebar singkapan/Penyebaran/Ketebalan : . . . . . m / . . . . . . m /. . . . . . m
2. Posisi topografi : lembah, palung, teras sungai; kaki, lereng, puncak bukit, LL
3. Kemiringan lereng: datar / landai (….o)/ curam (….o)
4. Vegetasi : lebat / jarang / gundul
5. Jenis Tanah : alluvial, koluvial (longsoran, scree, slope wash), residual
6. Warna / Kedalaman zona akar : . . . . . . . . . . . . . . / . . . . . . . . . . .
7. Perlapisan : tak, samar, jelas, tebal, tipis, sedang
8. Sementasi/Reaksi dengan HCl : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . / . . . . . . . . . . . . . . . . . .
9. Moisture : kering / lembab / basah / jenuh
10. Permeabilitas / Kedalaman Air Tanah : kedap , rendah , sedang , tinggi /. . . . . . . . . .
11. Partikel kasar : bundar / tanggung / runcing / lunak / medium / keras
12. Gradasi : baik / gap / buruk

Estimasi Fraksi Butiran (volume)


1. Bolder ( > 30 cm) :......%
2. Kobel ( 7,5 – 30 cm) :......% Nama : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3. Gravel (4,75 – 7,5 cm) :......%
Simbol (USCS): . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4. Pasir (0,075 – 4,75 cm) : . . . . . . %
5. Lanau/Lempung :......% SAMPEL No.: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
 Dry Density : lemah, sdg, kuat. Disturbed . . . . . . . / Undisturbed . . . . . .
 Dilatancy : tak, pelan, cepat
 Toughness : lemah, sdg, kuat FOTO No.: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .