Anda di halaman 1dari 13

TEKNOLOGI ATSIRI, REMPAH DAN FITOFARMAKA

SIFAT FISIK DAN SIFAT KIMIA MINYAK ATSIRI

Oleh:
Kelompok 5
NOVITA SARI E1F112012
HENDRA RIANSYAH E1F114031
MUHAMMAD AMRULLAH E1F114039
NUR KHOLIS E1F114046
SYAHMINAN RIDHANI E1F114204
EKO PRASETYA SUKOCO E1F114211
MISDAR E1F114214

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2017
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sereh wangi (Cymbopogon winterianus jowitt) bisa disebut juga dengan


sere, sereh, sarae arun ini sangat berkhasiat dan mengandung kimia yaitu alkaloid,
flavonoid, polifenol, dan minyak asiri. Anggota famili Gramineae itu bersifat
antipiretik, antidemam, dan antimuntah (anti-emetik) (Ghifary, 2007). Sereh ada
dua macam, satu Sereh biasa untuk menyayur dan yang kedua sereh wangi yang
sangat berguna untuk kesehatan. Sereh wangi bisa dijadikan minyak urut. Untuk
tanaman sereh wangi dalam dunia perdagangan dikenal dua tipe minyak sereh
wangi, yaitu tipe Ceylon dan tipe Jawa (Indonesia). Tipe Ceylon kebanyakan
diproduksi di Srilanka, sedangkan tipe Jawa diproduksi selain di jawa juga
dibeberapa negara lain seperti Cina, Honduras dan Guatemala (Guenther, 1987).
Minyak atsiri saat ini sudah dikembangkan dan menjadi komoditas ekspor
Indonesia yang meliputi minyak atsiri dari nilam, akar wangi, pala, cengkeh, serai
wangi, kenanga, kayu putih, cendana, lada, dan kayu manis (Cassel dan R. Vargas,
2006). Menurut Richards (1944), minyak atsiri bisa didapatkan dari bahan-bahan
diatas yang meliputi pada bagian daun, bunga, batang dan akar. Dari sekian bahan
atsiri diatas yang selama ini mulai tidak dikembangkan adalah minyak atsiri dari
serai wangi, karena untuk mendapatkan minyak atsiri tersebut menggunakan
hydro distillation dan steam distillation membutuhkan waktu yang relatif lama
yaitu sekitar 4 – 7 jam. Tanaman serai dibagi menjadi tiga jenis yaitu serai wangi
(Cymbopogon winterianus), serai dapur (Cymbopogon flexuosus) dan rumput
palmarosa (Cymbopogon martini). Pada penelitian ini digunakan serai wangi
karena sudah umum digunakan oleh peneliti – peneliti terdahulu.
Mutu Minyak sereh wangi tipe Ceylon tidak dapat menyaingi mutu tipe
Jawa. Daerah penanaman dan produksi minyak sereh wangi di Indonesia terutama
di Jawa, khususnya di Jabar dan Jateng. Menurut data Stastistik, daerah yang
mengembangkan sereh wangi hanya di Riau, Jabar, Jateng, Kalbar dan Sulsel
(Arswendiyumna, 2010). Pangsa produksi minyak sereh wangi Jabar & Jateng
mencapai 95 % dari total produksi Indonesia. Daerah sentra produksi di Jawa
Barat adalah : Pandeglang, Bandung, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Lebak, Garut
dan Tasikmalaya. Untuk wilayah di Jawa Tengah adalah Cilacap dan Pemalang
(Armando, 2009).
Serai wangi selama ini masih mendominasi dan lebih umum diambil
minyaknya dibanding golongan serai lainnya. Dalam penelitian ini dilakukan
pengambilan minyak atsiri dari bahan diatas dengan peningkatan teknologi yang
sebelumnya umum digunakan, sehingga waktu pengambilan menjadi lebih singkat
dan rendemen yang dihasilkan lebih bagus dan meningkat (Ginting, 2004). Dalam
hal ini perlu ditemukan metode baru untuk mencapai target tersebut sehingga
digunakan microwave, dimana microwave efektif dalam distribusi panas dan
efisien karena waktu yang diperlukan relatif lebih singkat untuk mendapatkan
rendemen yang sama untuk cara seperti metode hydro distillation dan steam
distillation (Backer dan Vandenbrink, 1968).
Berdasarkan hal itu maka diperlukan penelitian mengenai distilasi dari
daun dan batang serai wangi dengan metode modifikasi dari penelitian terdahulu
yaitu steam and hydro distillation dengan bantuan microwave dan penelitian
bertujuan mempelajari pengaruhnya terhadap kualitas minyak serai wangi yang
dihasilkan untuk setiap kondisi yang telah ditentukan (Barbour dkk, 1980).

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah:


1. Memahami parameter mutu fisik dan kimia minyak atsiri.
2. Melaksanakan pengamatan fisik dan analisis kimia minyak atsiri
3. Menentukan kategori minyak atsiri yang diamati
4. Memahami faktor-faktor yang dapat dikendalikan untuk mendapatkan
minyak atsiri bermutu baik
METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 16 November 2017 pada


pukul 14.50 – selesai. Bertempat di Laboratorium Kimia dan Lingkungan Industri,
Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat - Banjarbaru.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas beaker,


erlenmeyer, pemanas, distilator, labu ukur dan neraca analitik Sedangkan bahan-
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah minyak atsiri serai wangi,
NaOH, etanol 70%, KOH, etanol 95%, HCl 0.5 N,

Metode Kerja

Sifat Fisik: Aroma dan Warna

Digunakan minyak atsiri hasil ekstraksi Praktikum sebelumnya

Diamati secara bergantian oleh beberapa orang praktikan aroma minyak atsiri

Diamati secara bergantian oleh beberapa orang praktikan warna minyak atsiri

Diamati

Hasil
Sifat Fisik: Densitas dan Bobot Jenis (Specific Gravity)

Dikondisikan agar suhu minyak atsiri adalah sekitar 20 0C

Ditempatkan minyak atsiri ke dalam labu takar 10 mL hingga tera. Dipastikan berat
labu takar kosong telah dicatat.

Ditimbang minyak atsiri sebanyak 10 ml

Dilakukan pengukuran densitas minyak atsiri

Dilakukan perhitungan bobot jenis

Diamati

Hasil

Rumus :
Sifat Fisik: Index Bias (Refractive Index)

Dikondisikan agar suhu minyak atsiri adalah sekitar 20 0C

Diteteskan minyak atsiri secukupnya di bidang sampel alat refraktometer

Diamati indeks bias minyak atsiri pada skala

Diamati

Hasil

Sifat Fisik: Putaran Optik (Optical Rotation)

Dikondisikan agar suhu minyak atsiri adalah sekitar 20 0C

Dimasukkan minyak atsiri secukupnya ke dalam tabung sampel polarimeter.


Dipastikan tidak ada gelembung udara di dalam cairan sampel dan bukaan (celah)
pada kedua ujung tabung dalam keadaan bersih.

Di setting skala pada tera sebelum tabung dipasang

Dilakukan pembacaan pada skala setelah knob skala disesuaikan hingga cahaya
terlihat.

Diamati

Hasil
Sifat Fisik: Kelarutan dalam Alkohol

Ditempatkan kedalam tabung sebanyak 1 mL minyak atsiri

Ditambahkan 1 mL etanol 70%, kemudian diamati kelarutan minyak atsiri

dilakukan penambahan etanol 70% hingga minyak atsiri larut dengan sempurna.

Dicatat volume etanol yang digunakan dan diperbandingkan dengan volume minyak
atsiri.

Diamati

Hasil

Sifat Kimia: Bilangan Asam (Acid Value)

Dilakukan persiapan KOH-beralkohol dengan cara:

a. KOH sebanyak 1.2 g ditempatkan di dalam labu 250 mL

b. Ditambahkan etanol 95% sekitar 250 mL

c. Disiapkan perangkat destilasi. Campuran didestilasi selama 30-60 menit.

d. Destilat alkohol sebanyak 200 mL ditambah dengan 1.2 g KOH

e. KOH-beralkohol (normalitas = 0.1 N) ini disimpan dalam botol berwarna gelap

Ditimbang 5 g minyak atsiri

Ditambahkan 50 mL campuran etanol 95%:eter (1:1), panaskan jika perlu kemudian


didinginkan

A
:
A

Ditambahkan beberapa tetes indikator phenolphtalein (PP).

Dititrasi dengan KOH-beralkohol hingga warna pink bertahan minimal 30 detik.

Dihitung bilangan asam dengan menggunakan rumus

Diamati

Hasil

Rumus:
Sifat Kimia: Bilangan Penyabunan (Saponification Value) dan Bilangan
Ester (Ester Value)

Dilakukan penimbangan minyak atsiri 1 g kedalam 300 ml elenmeyer

Ditambahkan 40 mL etanol 95%, panaskan jika perlu agar tercampur.

Ditambahkan 20 mL KOH-beralkohol (0.1 N)

Disiapkan kondensor. Campuran direflux sekitar 1 jam kemudian didinginkan.

Ditambahkan 1 mL indikator phenolphtalein (PP)

Dilakukan titrasi dengan HCl 0.5 N sebagai titran sampai warna merah jambu hilang

Dilakukan pula dengan prosedur yang sama, tanpa sampel, untuk blanko.

Dilakukan perhitungan bilangan penyabunan

Dilakukan perhitungan bilangan ester

Diamati

Hasil

Rumus :
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Pembahasan
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Armando, Rochim. 2009. Memproduksi 15 minyak asiri berkualitas. Penebar


Swadaya. Jakarta.

Barbour, MG, JA Burk and WD Pitts. 1980. Terrestrial plant ecology.


The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. California. (P.191 –
192).

C.A. Backer, D. Sc. And R. C. Backhuizen VandenbrinkJr, Ph.D. 1968. Flora Of


Java: Vol. III. Netherland: The Auspices Of The Rijksherbarium.

E. Cassel dan R. Vargas. 2006. Experiments and Modelling of the


Cymbopogon Winterianus Essential Oil Extraction By Steam
Distillation. J. Mex. Chem. Soc., Vol. 50, No.3 126-129.

E. Guenther. 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Penerjemah Ketaren S. Jakarta :


Universitas Indonesia Press.

Ginting, Sentosa. 2004. Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Rendamen dan


Mutu Minyak Atsiri Daun Sereh Wangi. Universitas Sumatera Utara.

Hilman Ghifary. 2007. Analisa Proses Penyulingan Minyak Atsiri Daun Serai
Wangi (Citronella) Menggunakan Metode Uap Langsung.
Laboratorium Teknik Prosesing Hasil Pertanian Jurusan Teknik
Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

R. Arswendiyumna. 2010. Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Tanaman


Dua Spesies Genus Cymbopogon, Famili Gramineae Sebagai
Insektisida Alami dan Antibakteri. Surabaya : Jurusan Kimia Institut
Teknologi Sepuluh Nopember.

Richards, W. F. 1944. Perfumer's Hand Book and Catalog, New York:


Fritzsche Brother Inc.