Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Fraktur

2.1.1 Pengertian Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan

luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar daripada yang dapat

diabsorpsinya (fraktur stress). Tulang yang patah ini dapat memberikan dampak pada

jaringan disekitarnya seperti mengakibatkan edema pada jaringan lunak, perdarahan

ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf, dan kerusakan

pembuluh darah (Smeltzer & Bare, 2001).

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.

Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang dan jaringan di sekitar tulang akan

menentukan apakah fraktur tersebut lengkap atau tidak. Fraktur lengkap terjadi

apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap tidak melibatkan

seluruh tulang (Price & Wilson, 2005).

Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar.

Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit dimana

potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat & Jong, 2010).

Jadi kesimpulannya, fraktur adalah suatu cedera yang mengenai tulang yang

disebabkan oleh trauma benda keras.

7
8

2.1.2 Etiologi Fraktur

Menurut Muttaqin (2008), etiologi fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1) Fraktur Traumatik

Fraktur traumatik dapat disebabkan oleh cedera langsung seperti pukulan terhadap

tulang yang menyebabkan tulang patah secara spontan, cedera tidak langsung

yang berarti pukulan jauh berada dari lokasi benturan, dan disebabkan oleh

kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.

2) Fraktur Patologik

Kerusakan tulang akibat dari tumor atau proses patologik dimana dengan trauma

minor dapat juga mengakibatkan fraktur.

3) Fraktur Stress

Disebabkan oleh adanya trauma yang terus menerus misalnya pada penyakit polio

dan orang yang bertugas di kemiliteran.

2.1.3 Manifestasi Klinis

Manifestasi klines menurut Smeltzer & Bare (2001) sebagai berikut:

1) Nyeri yang terus - menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang

diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai

alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.

2) Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan cenderung

bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti

normalnya.

3) Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas

(terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan


9

ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi

normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.

4) Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena

kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering

salinf melingkupi satu sama lain 2,5 cm – 5 cm.

5) Saat ekstremitas dipalpasi, teraba deriknya tulang dinamakn krepitus yang teraba

akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.

6) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat

trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasanya muncul

beberapa jam atau beberapa hari setelah terjadinya cedera.

2.1.4 Klasifikasi Fraktur

Menurut Smeltzer & Bare (2001), berdasarkan hubungan dengan dunia luar,

fraktur dibagi menjadi dua yaitu:

1) Fraktur Tertutup (Close atau Simple Fracture)

Fraktur tertutup tidak menyebabkan robeknya kulit tetapi terjadi patahan tulang

didalamnya.

2) Fraktur Terbuka (Open atau Complex Fracture)

Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa

sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka memungkinkan masuknya kuman dari

luar ke dalam luka (Sjamsuhidajat & Jong, 2010). Derajat fraktur terbuka dapat

dijelaskan pada tabel 2.1.


10

Tabel 2.1 Derajat Fraktur Terbuka


Derajat Luka Fraktur
I a. Laserasi < 1 cm Sederhana, dislokasi
b. Kerusakan jaringan tidak berarti fragmen
c. Relative bersih
II a. Laserasi > 1cm Dislokasi fragmen jelas
b. Tidak ada kerusakan jaringan yang hebat
atau avulasi
c. Ada kontaminasi
III a. Luka hebat dan rusak hebat Kominutif, segmental,
b. Hilangnya jaringan disekitarnya fragmen tulang ada yang
c. Kontaminasi hebat hilang.
Sumber: Smeltzer& Bare 2001

Fraktur berdasarkan derajat kerusakan tulang menurut Smeltzer & Bare (2001)

dibagi meliputi:

1) Inkompleta (parsial)

Fraktur yang terjadi dimana kontinuitas tulang belum sepenuhnya terputus,

meliputi:

a. Green Stick: fraktur dimana satu sisi tulang patah dan sisi lainnya bengkok.

b. Hairline Fracture: patahan tulang terlihat tipis membentuk seperti rambut.

c. Buckle Fracture: sering terjadi pada metafisis radius distal. Biasanya akibat

jatuh dengan bertumpu pada pergelangan tangan dalam posisi dorsofleksi.

2) Komplet (total)

Fraktur yang terjadi dimana kontinuitas tulang belum sepenuhnya terputus.

Menurut Smeltzer & Bare (2001) berdasarkan jumlah garis frakturnya, patah

tulang dibagi menjadi:

1) Fraktur Simpel : Fraktur yang tetap utuh dan tidak merusak kulit.
11

2) Fraktur Segmental : Fraktur yang terjadi pada dua daerah yang berdekatan dengan

segmen sentral yang terpisah.

3) Fraktur Multipel : Garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan

tempatnya, misalnya fraktur humerus, fraktur femur dan lain – lain.

Menurut Smeltzer & Bare (2001), fraktur berdasarkan hubungannya dengan

fragmen dibagi menjadi:

1) Ada Dislokasi : Kedua patahan tulang masih mempertahankan kelurusan

tulang yang pada dasarnya masih normal.

2) Tak Ada Dislokasi: Fragmen fraktur saling terpisah dan menimbulkan deformitas,

dibagi menjadi:

a) Angulasi : kedua fragmen fraktur berada pada posisi yang membentuk

sudut terhadap yang lain

b) Impaksi : salah satu fragmen fraktur terdorong masuk ke dalam fragmen yang

lain.

c) Komunutiva : tulang pecah menjadi potongan – potongan kecil.

d) Overriding : fraktur yang saling menumpuk sehingga keseluruhan panjang

tulang memendek.

e) Avulusi : fragmen fraktur tertarik dari posisi normal karena kontraksi otot.

2.1.5 Tahap Penyembuhan Fraktur

Ketika tulang mengalami cedera, jaringan parut akan menambal fragmen tulang.

Tulang juga akan melakukan regenerasi sendiri sebagai respon tubuh. Ada beberapa

fase menurut Smeltzer & Bare (2001) terkait proses penyembuhan tulang, yaitu:
12

1) Fase Inflamasi

Terjadi respon tubuh terhadap cedera yang ditandai oleh adanya perdarahan dan

pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang

mengalami divitalisasi karena terputusnya aliran darah sehingga pembengkakan

dan nyeri terjadi. Fase inflamasi ini berlangsung beberapa hari.

2) Fase Proliferasi Sel

Sekitar  5 hari, hematoma akan berorganisasi dengan membentuk benang-

benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi

darah dan invasi fibroblast dan osteoblast yang berkembang dari osteosit, sel

endostel, dan sel periosteum akan menghasilkan kolagen dan peoteoglikan

sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Jaringan ikat fibrus dan tulang

rawan (osteosid) mulai terbentuk.

3) Fase Pembentukan Kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi

lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang telah

digabungkan dengan jarigan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat imatur. Bentuk

kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung

berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Waktu yang

dibutuhkan agar fragmen tulang bergabung selitar 3 – 4 minggu.


13

4) Fase Penulangan (Osifikasi)

Membutuhkan 2 – 3 minggu dalam pembentukkan kalus melalui proses

endokondral. Tubuh akan menimbun mineral terus- menerus hingga tulang benar

– benar bersatu dengan keras.

5) Fase Remodeling

Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan

reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Fase ini memerlukan

waktu berbulan – bulan hingga bertahun – tahun tergantung beratnya modifikasi

tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan stress fungsional pada tulang.

1.1.6 Faktor Penyembuhan Fraktur

Menurut Helmi (2012), dalam proses penyembuhan fraktur ada beberapa faktor

yang mempengaruhi proses penyembuhan fraktur antara lain:

1) Usia

Lamanya proses penyembuhan fraktur sehubungan dengan umur lebih bervariasi

pada tulang dbandingkan dengan jaringan – jaringan lain pada tubuh. Cepatnya

proses penyembuhan ini sangat berhubungan erat dengan aktivitas osteogenesis

dari periosteu dan endosteum. Sebagai contoh adalah diafisis femur yang akan

bersatu sempurna (konsolidasi sempurna) sesudah 12 minggu pada usia 12 tahun,

20 minggu pada usia 20 tahun sampai dengan usia lansia.

2) Tempat dan Lokasi Fraktur

Fraktur pada tulang yang dikelilingi otot akan sembuh lebih cepat dari pada

tulang yang berada di subkutan atau di daerah persendian. Fraktur pada tulang

berongga (cancecllous bone) sembuh lebih cepat dari pada tulang kompakta.
14

Fraktur dengan garis fraktur yang oblik dan spiral sembuh lebih cepat dari pada

garis fraktur transversal.

3) Dislokasi Fraktur

Fraktur tanpa dislokasi, periosteumnya intake, maka lama penyembuhannya dua

kali lebih cepat dari pada yang mengalami dislokasi. Makin besar dislokasi maka

semakin lama penyembuhannya.

4) Aliran Darah ke Fragmen Tulang

Bila fragmen tulang mendapatkan aliran darah yang baik, maka penyembuhan

lebih cepat dan tanpa komplikasi. Bila terjadi gangguan berkurangnya aliran

darah atau kerusakan jaringan lunak yang berat maka proses penyembuhan

menjadi lama atau terhenti.

2.1.7 Komplikasi

Menurut Sjamsuhidajat (2010), komplikasi dari fraktur adalah:

1) Komplikasi Segera

a) Lokal : kulit dan otot (berbagai vulnus (abrasi, laserasi, sayatan, dll),

kontusio, avulsi), vascular (terputus, kontusio, perdarahan), dan organ dalam

(jantung, paru-paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), buli – buli (pada fraktur

pelvis)).

b) Umum : trauma mutipel, syok.

2) Komplikasi Dini

a) Lokal : nekrosis kulit otot, sindrom kompartemen, thrombosis, infeksi sendi,

osteomielitis.

b) Umum : ARDS, emboli paru, tetanus.


15

3) Komplikasi Lanjut

a) Lokal : terjadi pada tulang (malunion (salah taut), non-union (kegagalan

pertautan), delayed union (terlambat bertaut), osteomielitis, gangguan

pertumbuhan, patah tulang rekuren karena pembebanan terlalu dini), sendi

(ankilosis, penyakit degenerative sendi pasca trauma), miositis osifikan

(penulangan otot), distrofi refleks, dan kerusakan saraf.

b) Umum : batu ginjal (akibat imobilisasi di tempat tidur dan hiperkalsemia) dan

neurosis pasca trauma.

2.1.8 Penatalaksanaan Fraktur

Penanganan fraktur pada ekstremitas bawah dapat dilakukan secara konservatif

dan operasi sesuai dengan tingkat keparahan fraktur dan sikap mental pasien

(Smeltzer & Bare, 2001). Operasi adalah tindakan pengobatan yang menggunakan

cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani

(Sjamsuhidajat & Jong, 2010). Menurut Smeltzer & Bare (2001), prosedur

pembedahan yang sering dilakukan pada pasien fraktur meliputi:

1) Reduksi terbuka dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation atau

ORIF). Fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi

fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukkan paku, sekrup atau pin

ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian – bagian tulang yang fraktur

secara bersamaan. Sasaran pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki

fungsi dengan mengembalikan gerakan, stabilitas, mengurangi nyeri, dan

disabilitas.
16

2) Fiksasi eksterna digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan

jaringan lunak. Alat ini dapat memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur

comminuted (hancur & remuk) sementara jaringan lunak yang hancur dapat

ditangani dengan aktif.

3) Graft Tulang yaitu penggantian jaringan tulang untuk stabilisasi sendi, mengisi

defek atau pemasangan untuk penyembuhan. Tipe graft yang digunakan

tergantung pada lokasi fraktur, kondisi tulang dan jumlah tulang yang hilang

karena injuri. Graft tulang mungkin dari tulang pasien sendiri (autograft) atau

tulang dari tissue bank (allograft).

2.2 Konsep Nyeri

2.2.1 Definisi Nyeri

Menurut Smeltzer & Bare (2002), nyeri adalah pengalaman sensori dan

emosional yang tidak menyenangkan akibat keruaskan jaringan yang aktual dan

potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan

kesehatan. Sedangkan Tamsuri (2007) menjelaskan nyeri sebagai suatu keadaan yang

mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah

mengalaminya.

Menurut Hidayat (2006), nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak

menyenangkan bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap

orang dalam skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat

menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.


17

Definisi keperawatan tentang nyeri adalah “Apapun yang menyakitkan tubuh

yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu

mengatakannya” (Smeltzer & Bare, 2001).

2.2.2 Etiologi Nyeri

Menurut Smeltzer & Bare (2001), nyeri dapat disebabkan oleh trauma, yaitu

mekanik, thermos, elektrik, neoplasma (jinak dan ganas), peradangan, gangguan

sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah serta trauma psikologis.

2.2.3 Fisiologi Nyeri

Nyeri merupakan campuran reaksi fisik, emosi, dan perilaku. Proses fisiologi

terkait nyeri dapat disebut nosiresepsi. Perry & Potter (2004) menjelaskan proses

tersebut sebagai berikut:

1) Resepsi

Semua kerusakan yang disebabkan oleh stimulus termal, mekanik, kimiawi atau

stimulus listrik menyebabkan substansi yang menghasilkan nyeri. Stimulus

tersebutlah yang kemudian memicu pelepasan reseptor biokimia (misalnya

prostaglandin, bradikinin, histamine, subtansi P) yang mengaktifkan respons nyeri

dan mensensitisasi nosiseptor. Nosiseptor berfungsi untuk memulai transmisi

neural yang dikaitkan dengan nyeri.

2) Transmisi

Fase transmisi nyeri terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama nyeri merambat dari

bagian serabut saraf perifer ke medulla spinalis. Bagian kedua adalah transmisi

nyeri dari medulla spinalis menuju batang otak dan thalamus diteruskan ke

korteks sensori somatik tempat nyeri dipersepsikan.


18

3) Persepsi

Persepsi merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri. Persepsi akan

menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga individu dapat

bereaksi.

4) Reaksi

Fase ini dapat disebut juga sistem desenden. Reaksi terhadap nyeri merupakan

respon fisiologis dan perilaku yang terjadi setelah mempersepsikan nyeri. Apabila

nyeri berlangsung terus menerus akan melibatkan organ visceral, sistem saraf

parasimpatis menghasilkan suatu aksi. Respon fisiologis terhadap nyeri dapat

sangat membahayakan individu, pada kasus traumatik berat, yang menyebabkan

individu mengalami syok.

1.2.4 Teori – teori Nyeri

Menurut Long (1989) dalam Hidayat (2014), terdapat beberapa teori terkait

tentang proses terjadinya rangsangan nyeri, diantaranya sebagai berikut:

1) Teori Pemisahan (Specificity Theory)

Rangsangan sakit yang masuk ke medulla spinalis (spinal cord) melalui kornu

dorsalis yang bersinaps di daerah posterior kemudian naik ke tractus lissur dan

menyilang di garis median ke sisi lainnya dan berakhir di korteks sensoris tempat

rangsangan nyeri tersebut diteruskan.

2) Teori Pola (Pattern Theory)

Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke medulla spinalis dan

merangssang aktivitas sel T. Hal ini mengakibatkan suatu respons yang

merangsang ke bagian yang lebih tinggi yaitu korteks serebri, serta kontraksi
19

menimbulkan persepsi dan otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri.

Persepsi dipengaruhi oleh modalitas respons reaksi sel T.

3) Teori Pengotrolan Nyeri (Gate Control Theory)

Teori dari Melzack dan Wall (1965) dalam Potter & Perry (2004), menjelaskan

bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme

pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Mekanisme pertahanan dapat

ditemukan di sel – sel gelatinosa substansia di dalam kornu dorsalis pada medulla

spinalis, thalamus, dan sistem limbik. Jadi impuls nyeri akan dihantarkan saat

sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat pertahanan tertutup. Upaya

menutup pertahanan tersebut merupakan dasar terapi menghilangkan nyeri.

4) Teori Transmisi dan Inhibisi

Adanya stimulus pada nosiseptor yang memulai transmisi impuls – impuls

sehingga transmisi impuls nyeri menjadi efektifoleh neurotransmitter yang

spesifik. Kemudian, inhibisi impuls nyeri menjadi efektif oleh impuls – impuls

pada serabut – serabut besar yang memblok impuls – impuls pada serabut lamban

dan endogen opiate sistem supresif.

1.2.5 Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri menurut Hidayat (2014) secara umum dibagi menjadi dua,

yaitu nyeri akut dan nyeri kronik. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara

mendadak dan cepat menghilang, yang tidak melebihi enam bulan dan ditandai

dengan adanya peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul

secara perlahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu lebih dari
20

enam bulan. Hal yang termasuk dalam kategori nyeri kronis adalah nyeri terminal,

sindrom nyeri kronis, dan nyeri psikosomatis.

Berdasarkan lokasi nyeri, nyeri dapat dibedakan menjadi enam jenis menurut

Tamsuri (2007) sebagai berikut:

1) Nyeri somatik dalam (deep somatic pain) adalah nyeri yang terjadi pada otot

tulang serta struktur penyokong lainnya, umumnya nyeri bersifat tumpul dan

distimulasi dengan adanya perenggangan dan iskemia.

2) Nyeri viseral adalah nyeri yang disebabkan oleh kerusakan organ interna.

3) Nyeri sebar (radiasi) adalah sensasi nyeri yang meluas dari sensasi asal ke

jaringan sekitar.

4) Nyeri fantom adalah nyeri khusus yang dirasakan klien yang mengalami

amputasi.

5) Nyeri alih (reffered pain) adalah nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral

yang menjalar ke organ lain, sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat dan

lokasi.

1.2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri

Potter & Perry (2004) menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi

persepsi tentang nyeri pada individu meliputi:

1) Usia

Usia merupakan variabel yang penting dan sangat mempengaruhi timbulnya

nyeri, khususnya pada anak – anak dan lansia. Perbedaan perkembangan yang

ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan

lansia bereaksi terhadap nyeri.


21

2) Jenis Kelamin

Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam merespon

nyeri. Toleransi nyeri sejak lama menjadi subjek penelitian yang melibatkan pria

dan wanita. Akan tetapi, toleransi terhadap nyeri dipengaruhi oleh faktor – faktor

biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu, tanpa

memperhatikan jenis kelamin.

3) Kebudayaan

Keyakian nilai dan budaya mempengaruhi gaya individu mengatasi nyeri.

Individu mempelajari apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini

meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri. Ada perbedaan makna dan sikap

yang dikaitkan dengan nyeri di berbagai kelompok budaya. Suatu pemahaman

tentang nyeri dari segi makna budaya akan membantu perawat dalam merancang

asuhan keperawatan yang relevan untuk klien yang mengalami nyeri.

4) Makna Nyeri

Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri

dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Hal ini juga dikaitkan secara dekat

dengan latar belakang budaya individu tersebut. Individu akan mempersepsikan

nyeri dengan cara yang berbeda – beda, apabila nyeri tersebut memberi kesan

ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan tantangan.

5) Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat

mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan

nyeri yang meningkat, sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan


22

dengan respon nyeri yang menurun. Konsep ini merupakan salah satu konsep

yang perawat tetapkan diberbagai terapi untuk menghilangakan nyeri seperti

relaksasi, teknik imajinasi terbimbing (guided imajinary), dan masase. Dengan

memfokuskan perhatian dan konsentrasi klien pada stimulus yang lain, maka

perawat bisa menempatkan nyeri pada kesadaran yang perifer.

6) Ansietas

Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansietas seringkali

meningkatkan persepsi nyeri tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu persepsi

ansietas. Klien yang mengalami cedera atau mengalami penyakit kritis, seringkali

mengalami kesulitan mengontrol lingkungannya dan perawatan diri dapat

menimbulkan ansietas yang tinggi.

7) Keletihan

Rasa keletihan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan

kemampuan kopping. Hal ini dapat menjadi masalah umum pada setiap individu

yang menderita penyakit dalam jangka lama. Apabila keletihan disertai dengan

kesulitan tidur, maka persepsi nyeri bahkan dapat terasa lebih berat lagi. Nyeri

semakin sering kali berkurang setelah individu mengalami suatu periode tidur

yang lelap.

8) Pengalaman Sebelumnya

Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri. Pengalaman nyeri sebelumnya

tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih

mudah pada masa yang akan datang. Apabila individu sejak lama akan

mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sempbuh atau menderita nyeri
23

yang berat, maka ansietas atau rasa takut dapat muncul. Sebaliknya, apabila

individu mengalami nyeri, dengan jenis sama yang berulang – ulang, tetapi

kemudian nyeri tersebut dengan berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi

indiviu tersebut untuk menginterpretasikan sensasi nyeri. Akibatnya, klien akan

lebih siap untuk melakukan tindakan – tindakan yang diperlukan untuk

menghilangkan nyeri.

9) Gaya Koping

Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalamn yang membuat anda merasa

kesepian. Apabila klien mengalami nyeri di keadaan keperawatan kesehatan,

seperti di rumah sakit, klien merasa tidak berdaya dengan rasa sepi itu. Hal yang

sering terjadi adalah klien merasa kehilangan control terhadap lingkungan atau

kehilangan control terhadap hasil akhir dari peristiwa – peristiwa yang terjadi.

Dengan demikian, gaya koping mempengaruhi kemampuan individu tersebut

untuk mengatasi nyeri.

10) Dukungan Keluarga dan Sosial

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung pada anggota keluarga atau

teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan atau perlidungan. Walaupun

nyeri tetap klien rasaka, kehadiran orang yang dicintai klien akan meminimalkan

kesepian dan ketakutan. Apabila tidak ada keluarga atau teman, seringkali

pengalaman nyeri membuat klien semakin tertekan.


24

1.2.7 Penilaian Klinis Nyeri

2.2.7.1 Pengkajian Nyeri

Smeltzer & Bare (2001) menyatakan bahwa pengkajian nyeri meliputi:

1. Deskripsi Verbal tentang Nyeri

Individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya

harus diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi yang

diperlukan harus menggambarkan nyeri individual dalam beberapa cara berikut:

a. Intensitas Nyeri

Individu diminta untuk membuat tingkatan nyeri pada skala verbal (misalnya:

tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat, atau nyeri sangat hebat; atau 0 sampai

10: 0 = tidak ada nyeri, 10 = nyeri sangat hebat).

b. Karakteristik Nyeri

Termasuk letak nyeri untuk area dimana nyeri pada berbagai organ, durasi

(menit, jam, hari, bulan dan sebagainya), irama (misalnya terus – menerus,

hilang timbul, periode bertambah dan berkurangnya intensitas atau

keberadaan dari nyeri) dan kualitas (misalnya yeri seperti ditusuk – tusuk,

seperti terbakar, sakit, nyeri seperti digencet).

c. Faktor – faktor yang Meredakan Nyeri

Banyak orang yang mempunyai ide – ide tertentu tentang hal – hal yang dapat

menghilangkan nyeri. Perilaku ini didasarkan pada pengalamannya.

d. Efek Nyeri Terhadap Aktivitas Kehidupan Sehari – hari

Nyeri akut sering berkaitan dengn ansietas dan nyeri kronis dengan depresi.
25

e. Kekhawatiran Individu Terhadap Nyeri

Dapat memliputi berbagai masalah yang luas seperti beban ekonomi,

prognosis, pengaruh terhadap peran dan perubahan citra diri.

2. Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri yang dirasakan

oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, dan

kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua

orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling

mungkin adalah mengguanakan respon fisiologi tubuh terhadap nyeri itu sendiri.

Namun, pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran

pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Potter & Perry (2004) mengungkapkan terdapat beberapa skala untuk melakukan

pengkajian intensitas nyeri sebagai berikut:

a. Verbal Descriptor Scale (VDS) atau Skala Nyeri Deskriptif

Berbentuk garis horizontal yang terdiri dari satu garis lurus dengan 5 kata

pendeskripsian nyeri yang tersusun atas jarak yang sama disetiap

pendeskripsiannya.

Gambar 2.1. Verbal Descriptor Scale (VDS) atau Skala Nyeri Deskriptif
26

b. Numerical Rating Scale (NRS) atau Skala Penilaian Numeric

Berupa garis horizontal yang panjangnya 10 cm dan terdapat angka 0 – 10

untuk menunjukkan intensitas nyeri.

Gambar 2.2. Numerical Rating Scale (NRS) atau Skala Penilaian Numeric

c. Visual Analog Scale (VAS) atau Skala Analog Visual

Menurut Potter & Perry (2004), VAS merupakan suatu garis lurus, yang

mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat

pendeskripsian verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi memberikan

kebebasan penuh kepada klien untuk mengidentifikasi tingkat keparahan

nyeri.

Gambar 2.3. Visual Analog Scale (VAS) atau Skala Analog Visual
27

2.2.7.2 Manajemen Nyeri

Menurut Smeltzer & Bare (2001), manajemen penatalaksanaan nyeri terdapat

dua macam yaitu secara farmakologis dan non – farmakologis. Pendekatan tersebut

didasarkan pada kebutuhan klieb secara individu. Semua intervensi akan berhasil jika

dilakukan sebelum keadaan menjadi parah.

1. Penatalaksanaan Nyeri secara Farmakologis

Menurut Smeltzer & Bare (2001), intervensi yang sering digunakan untuk

mengatasi nyeri adalah jenis agen anestesi lokal, analgesik opioid (narkotik) dan

jenis Nonsteroidal Anti Inflamatory Drugs (NSAID). Penggunaan obat – obatan

ini tentunya menimbulkan efek samping, contohnya menggunakan opioid efek

samping yang bisa terjadi pada pasien adalah depresi pernafasan dan sedasi, mual,

muntah dan konstipasi.

Terdapat 4 kelompok obat nyeri, yaitu:

a. Analgetik Nonopioid (Obat Anti Inflamasi Non Steroid/OAINS)

OAINS sangat efektif untuk penatalaksanaan nyeri ringan sampai dengan efek

antipiretik, analgesik dan anti inflamasi. Asam asetilsalisilat (Aspirin) dan

ibuprofen (Morfin, advil) merupakan OAINS yang sering digunakan untuk

mengatasi nyeri akut derajat ringan. OAINS menghasilkan analgetik dengan

bekerja ditempat cedera melalui inhibisi sintesis prostaglandin dan prekorsor

asam araddonat. Prostaglandin mensintesis nosiseptor dan bekerja secara

sinergis dengan produk inflamatorik lain ditempat cedera, misalnya

bradykinin dan histamin untuk menimbulkan hiperanalgetik. Dengan

demikian OAINS mengganggumekanisme transduksi di nosiseptor aferen


28

primer dengan menghambat sintisis prostaglandin. OAINS memiliki beberapa

sediaan dalam bentuk pil, sirup, obat suntik, suposituria (obat yang

dimasukkan lewat anus), tetes mata, bahkan dalam bentuk salep kulit.

b. Analgetik Opioid

Analgetik yang kuat yang tersedia dan digunakan dalam penatalaksanaan

nyeri dengan skala sedang sampai dengan berat. Obat – obatan ini merupakan

patokan dalam pengobatan nyeri pada pasien post operasi terkait kanker.

Morfin merupakan salah satu jenis obat golongan analgetik opioid yang

digunakan untuk mengobati nyeri berat. Morfin menimbulkan efek analgetik

di daerah sentral.

c. Antagonis dan Agonis – Antagonis Opioid

Merupakan obat yang melawan obat opioid dan menghambat pengaktifannya.

Nalakson merupakan salah satu contoh obat jenis ini yang efektif jika

diberikan tersendiri dan lebih kecil kemungkinannya menimbulkan efek

samping yang tidak diinginkan dengan opioid murni.

d. Adjuvan atau Koanalgetik

Merupakan obat yang memiliki efek analgetik atau efek komplementer dalam

penatalaksanaan nyeri yang semula dukembangkan untuk kepentingan lain.

Contoh obat ini adalah karbamazopin (tegretol) atau fenitolin (dilantin) (Price

& Wilson, 2006).

2. Penatalaksanaan Nyeri secara Non – Farmakologis

Merunut Pellino, dkk (2005), penatalaksanaan nyeri non – farmakologis dapat

digunakan untuk kombinasi dengan farmakologis dalam mengatasi nyeri. Hasil


29

penelitian menunjukkan bahwa kombinasi farmakologis dan non – farmakologis

mempunyai efek lebih baik dari pada hanya menggunakan analgesik opioid saja.

Penatalaksanaan nyeri non – farmakologis dapat dilakukan dengan dua stimulasi,

yaitu:

a. Stimulasi Kulit

Tindakan ini mengalihkan perhatian klien sehingga terfokus pada stimulasi

takstik dan mengabaikan sensasi nyeri yang pada akhirnya menurunkan

persepsi nyeri (Tamsuri, 2007). Bentuk stimulasi kulit antarat lain massase

kulit, terapi kompres panas dan dingin, akupuntur, stimulasi kontralateral, dan

hanscutaneous electrical nerve stimulations (TENS).

b. Stimulasi Perilaku Kognitif

Menurut Tamsuri (2007), stimulasi perilaku kognitif dilakukan dengan tujuan

agar perhatian klien teralih dari nyeri yang dialaminya. Teknik ini

memungkinkan modulasi impuls nyeri sehingga tidak sampai pada thalamus

dan korteks serebri. Teknik ini meliputi distraksi (distraksi audio, distraksi

visual, distraksi pernafasan, distraksi intelektual dan distraksi sentuhan),

Imajinasi terbimbing (guided imagery), umpan balik tubuh (biofeedback),

hipnosis, dan sentuhan terapeutik (therapeutic touch).

2.2.8 Konsep Nyeri Post Operasi

Pembedahan merupakan suatu kekerasan atau trauma bagi penderita. Anastesi

maupun tindakan pembedahan menyebabkan kelainan yang dapat menimbulkan

berbagai keluhan dan gejala. Keluhan dan gejala yang sering dikemukakan adalah

nyeri, demam, takikardia, sesak nafas, mual, muntah dan memburuknya keadaan
30

umum (Sjamsuhidayat & Jong, 2010). Para dokter dalam pengalamannya sering kali

terkejut akan beratnya nyeri yang dialami pasien setelah pembedahan. Obat – obatan

yang efektif pun sudah tersedia, namun nyeri pasca bedah tidak dapat diatasi dengan

baik (Walsh, 1992 dalam Potter & Perry, 2004).

Menurut Benetti (1990) dalam Smeltzer & Bare (2001), nyeri yang hebat

menstimulasi reaksi stress yang secara merugikan mempengaruhi sistem jantung dan

imun. Ketika impuls nyeri ditransmisikan. Tegangan otot meningkat, seperti halnya

pada vasokontriksi lokal. Iskemia pada tempat yang sakit menyebabkan stimulasi

lebih jauh dari reseptor nyeri. Bila impuls yang menyakitkan ini menjalar secara

sentral, aktivitas simpatis diperberat, yang meningkatkan kebutuhan miokardium dan

konsumsi oksigen. Penelitian telah menunjukkan bahwa insufisiensi kardiovaskuler

terjadi tiga kali lebih sering dan insiden infeksi lima kali ebih besar pada individu

dengan kontrol neri yang buruk.

2.2.9 Nyeri Post Operasi Fraktur

Tindakan pembedahan adalah suatu tindakan yang dapat mengancam integritas

seseorang, baik bio – psiko – sosial maupun spiritual, yang bersifat potensial ataupun

aktual. Setiap tindakan pembedahan dapat menimbulkan respon ketidaknyamanan

berupa rasa nyeri. Nyeri pasca operasi akan meningkatkan stress pasca operasi dan

memiliki pengaruh negatif pada penyembuhan nyeri. Kontrol nyeri sangat penting

sesudah pembedahan, nyeri yang dibebaskan dapat mengurangi kecemasan, bernafas

lebih mudah dan dalam, dapat mentoleransi mobilisasi yang cepat. Pengkajian nyeri

dan kesesuaian analgesik harus digunakan untuk memastikan bahwa nyeri pasien post

operasi dapat dibebaskan.


31

2.3 Konsep Teknik Distraksi

2.3.1 Definisi Teknik Distraksi

Menurut Tamsuri (2007), distraksi adalah mengalihkan perhatian klien ke hal

yang lain sehingga dapat menurunkan kewaspadaan terhadap nyeri, bahkan

meningkatka toleransi terhadap nyeri. Teknik distraksi dapat mengatasi nyeri

berdasarkan teori aktivitas retikuler, yaitu menghambat stimulus nyeri ketika

seseorang menerima masukan sensori yang cukup atau berlebih, sehingga

menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak

dirasakan oleh klien). Stimulus sensori yang menyenagkan akan merangsang sekresi

endorphin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh klien menjadi berkurang.

Distraksi bekerja memberi pengaruh paling baik untuk jangka waktu yang singkat,

untuk mengatasi nyeri intensif hanya berlangsung beberapa menit, misalnya selama

pelaksanaan prosedur invasif atau saat menunggu kerja analgesik.

Perawat dapat mengkaji aktivitas – aktivitas yang dinikmati klien sehingga

dapat dimanfaatkan sebagai distraksi. Aktivitas tersebut dapat meliputi kegiatan

menyanyi, berdoa, menceritakan foto atau gambar dengan suara keras, mendengarkan

musik, dan bermain. Sebagian besar distraksi dapat digunakan di rumah sakit, di

rumah, atau pada fasilitas perawatan jangka panjang.

2.3.2 Tujuan Teknik Distraksi

Menurut Tulaar (2010), tujuan penggunaan teknik distraksi dalam intervensi

keperawatan adalah untuk pengalihan atau menjauhi perhatian terhadap sesuatu yang

sedang dihadapi, misalnya rasa sakit (nyeri). Sedangkan manfaat dari penggunaan
32

teknik ini, yaitu agar seseorang yang menerima teknik ini merasa lebih nyaman,

santai, dan merasa berada pada situasi yang lebih menyenangkan.

2.3.3 Jenis – jenis Teknik Distraksi

Menurut Tamsuri (2007), jenis – jenis distraksi dibedakan menurut

prosedurnya, sebagai berikut:

1. Distraksi Visual (Penglihatan)

Distraksi visual dapat dilakukan dengan melihat pertandingan, menonton televisi,

membaca koran, melihat pemandangan, dan gambar.

2. Distraksi Audio (Pendengaran)

Distraksi audio dapat dilakukan dengan mendengarkan musik yang disukai, suara

burung, atau gemercik air.

3. Distraksi Pernafasan

Sama halnya dengan relaksasi nafas dalam, klien diminta untuk menarik nafas

melalui hidung dan melepaskan udara melalui mulut.

4. Distraksi Intelektual

Distraksi intelektual dapat dilakukan dengan mengisi teka-teki silang, bermain

kartu, melakukan kegemaran (di tempat tidur), seperti mengumpulkan perangko.

5. Distarksi Sentuhan

Pada prinsipnya rangsangan berupa usapan pada saraf berdiameter besar yang

banyak pada kulit harus dilakukan awal rasa sakit atau sebelum impuls rasa sakit

yang dibawa oleh saraf berdiameter kecil mencapai korteks serebral (Potter dan

Perry, 2004).
33

2.4 Konsep Teknik Distraksi Audio

2.4.1 Definisi Teknik Distraksi Audio

Salah satu cara teknik distraksi audio adalah dengan terapi musik. Terapi musik

didefinisikan sebagai sebuah aktivitas terapeutik yang menggunakan musik sebagai

media untuk memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental, fisik, dan kesehatan

emosi. Pada tahap selanjutnya, terapi musik difungsikan untuk memperbaiki

kesehatan fisik, interaksi sosial, hubungan interpersonal, ekspresi emosi, dan

meningkatkan kesadaran diri. Potter mendefinisikan terapi musik sebagai teknik yang

digunakan untuk penyembuhan suatu penyakitdengan menggunakan bunyi atau irama

tertentu. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan dengan

keinginan, seperti musik klasik, instrumentalia, slow musik, orkestra, dan musik

modern lainnya (Potter & Perry, 2004).

Salah satu jenis musik yang banyak digunakan adalah musik klasik, seperti

musik Mozart. Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya ciptaan milik

Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian

sudah membuktikan menurut penelitian Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell,

musik mozart dapat mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik. Mereka

mengistilahkan sebagai “Efek Mozart”. Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan

frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan

memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah

kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Namun, tidak berarti karya

komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan (Andreana, 2006). Sebenarnya bukan

hanya musik karya Mozart saja yang mempunyai efek mengagumkan, tetapi semua
34

musik yang berirama lembut serta mampu menenangkan suasana juga diidentifikasi

memiliki efek Mozart (Alatas, 2007).

2.4.2 Patofisiologi Teknik Distraksi Audio

Musik merupakan salah satu teknik distraksi yang efektif. Secara fisiologis,

musik dapat merangsang pelepasan hormon endorphin yang merupakan substansi

sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh sehingga pada saat reseptor nyeri di saraf

perifer mengirimkan sinyal ke sinaps. Kemudian terjadi transmisi antara neuron saraf

perifer dan neuron yang menuju ke tempat yang seharusnya substansi P akan

menghasilkan impuls. Pada saat tersebut endorphin akan memblokir lepasnya

substansi P dari neuron sensorik sehingga sensasi nyeri menjadi berkurang (Potter &

Perry, 2004).

2.4.3 Tujuan Teknik Distraksi Audio

Adapun tujuan dari terapi musik sebagai berikut:

1. Mengurangi atau menghilangkan nyeri,

2. Menurunkan ketegangan otot, dan

3. Menimbulkan perasaan aman dan damai.

2.4.4 Manfaat Teknik Distraksi Audio

Menurut Spawne Anthony (2003), musik mempunyai manfaat sebagai berikut:

1. Efek Mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah

musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang.

2. Refreshing, pada saat pikiran seseorang sedang kacau atau jenuh dengan

mendengarkan musik walaupun sejenak terbukti dapat menenangkan dan

menyegarkan pikiran kembali.


35

3. Motivasi, adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan feeling tertentu. Apabila

ada motivasi, semangatpun akan muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan.

4. Perkembangan kepribadian.

Kepribadian seseorang diketahui mempengaruhi dan dipengaruhi oleh jenis musik

yangdidengarnya selama masa perkembangan.

5. Terapi

Berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk

kesehatan fisik maupun mental. Beberapa gangguan atau penyakit yang dapat

ditangani dengan musik antara lain kanker, stroke, demensia, dan bentuk

gangguan intelegensia lain, penyakit jantung dan hipertensi, nyeri, gangguan

kemampuan belajar, dan bayi prematur.

6. Komunikasi, musik mampu menyampaikan berbagai pesan keseluruh bangsa

tanpa harus memahami bahasanya. Pada kesehatan mental, terapi musik diketahui

dapat memberi kekuatan komunikasi dan ketrampilan fisik pada penggunanya.

2.4.5 Prosedur Pelaksanaan Terapi Musik

Terapi musik tidak selalu membutuhkan kehadiran ahli terapi, walau mungkin

membutuhkan bantuannya saat mengawali terapi musik. Untuk mendorong peneliti

menciptakan sesi terapi musik sendiri, berikut ini standart operasional porsedur

teknik distraksi audio menurut Potter & Perry (2004), yaitu:

1. Perawat mencuci tangan,

2. Memberikan penjelasan tujuan dan alasan tindakan atau informed consent,

3. Pasangkan headphone/headset agar tidak mengganggu klien lain,

4. Putar musik yang menenangkan (musik instrumental) dengan media MP3,


36

5. Atur volume pada ukuran sedang (senyaman klien),

6. Minta klien berkonsentrasi pada musik dan mengikuti irama dengan mengetuk –

ngetukkan jari atau menepuk – nepuk paha,

7. Instruksikan pasien untuk menikmati musik selama  15 menit,

8. Instruksikan klien untuk tidak menganalisa musik: “Nikmati musik ke manapun

musik membawa anda”,

9. Tinggalkan klien sendirian ketika sedang mendengarkan musik,

10. Lepaskan headphone/headset dan matikan MP3,

11. Lakukan pendokumentasian jam pelaksanaan, kemampuan pasien, dan reaksi

pasien, dan

12. Mencuci tangan.

2.5 Konsep Teknik Distraksi Intelektual

2.5.1 Definisi Teknik Distraksi Intelektual

Teknik Disraksi Intelektual merupakan pengalihan terhadap nyeri dengan

memanfaatkan permainan otak. Teknik distraksi intelektual dapat dilakukan dengan

cara mengisi teka – teki silang, bermain kartu ataupun menulis cerita (Tamsuri,

2007). Kegiatan tersebut dapat merangsang keluarnya hormon dopamin yang

berfungsi meningkatkan kemampuan kognitif, motivasi dan perasaan senang pada

seseorang.

2.5.2 Definisi Teka – Teki Silang

Salah satu permainan otak tersebut adalah teka – teki silang atau crossword

puzzle yaitu suatu permainan teka – teki (puzzle) silang atau sejenisnya yang berguna
37

untuk mempelajari pola pikir, pemikiran, sistem pendekatan serta pemecahan masalah

secara umum (Silberman, 2009). Teka teki silang crossword puzzle ditemukan

pertama kali oleh Athur Wyne pada tanggal 2 Desember 1913 yang kemudian dimuat

dalam majalah “New York Work” dengan format yang seperti saat ini. Teka teki

silang kemudian menjadi fitur mingguan dimajalah tersebut. Buku kumpulan TTS

pertama terbit pada tahun 1924 diterbitkan oleh Simon dan Scuster. Pada tahun 1970-

an di Jakarta terbit “Asah otak” sebuah majalah TTS dan berbagai teka-teki lain.

Berikut pengertian pendapat tentang Teka teki silang crossword puzzle antara

lain:

a. Teka teki silang adalah isian pada TTS yang harus merupakan jawaban atas

pertanyaan atau soal yang disertakan pada teka-teki tersebut (Soeparno, 1998).

b. Teka teki silang adalah teka-teki yang dilakukan dengan cara mengisi huruf ke

dalam petak-petak gambar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa, 1994).

c. Teka teki silang (Crossword Puzzle) adalah suatu permainan dimana kita harus

mengisi ruang-ruang kosong (berbentuk kotak putih) dengan huruf – huruf yang

membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa strategi teka teki silang

merupakan salah satu bentuk permainan dimana kita mengisi ruang – ruang kosong

yang merupakan jawaban dari pertanyaan. Keistimewaan dari strategi ini adanya

unsur-unsur kegembiraan dan melatih kemampuan berpikir dalam menanyakan tiap –

tiap kata yang dibentuk baik itu vertikal dan horizontal yang saling berhubungan.
38

2.5.3 Tujuan dan Manfaat Teka – Teki Silang

Manfaat dari diberikan teka – teki silang ini adalah untuk merangsang kinerja

otak sehingga dapat mengurangi intensitas nyyeri yang dirasakan klien. Selain itu,

teka – teki silang dapat menambah perbendaharaan kata dengan mencari tahu apa

perbedaan makna kata saat mencoba menyelesaikan sebuah soal dengan begitu maka

kemampuan verbal semakin meningkat. Teka – teki silang juga mampu menguji daya

ingat. Semua pertanyaan yang ada menuntut anda untuk mengingat nama, tempat,

peristiwa, kata – kata asing dan hal lain yang bhakan tidak terpikirkan oleh anda.

2.5.4 Prosedur Pelaksanaan Teknik Distraksi Intelektual

Prosedur pelaksanaan teknik distraksi intelektual dapat dilihat pada lampiran 7.