Anda di halaman 1dari 32

BLOK BIOMEDIK 2 LAPORAN PBL

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER (13 Desember 2011)

UNIVERSITAS PATTIMURA

NERVUS FACIALIS

DISUSUN OLEH:

SARIBAH LATUPONO

Tutor:

dr. Marliyati Sanaky

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2011
Skenario ke -2 neuropsikiatri:

Seorang laki – laki, 25 tahun datang ke dokter spesialis saraf dengan kebingungan karena tiba – tiba
mulutnya mencong ke kiri dan lagoftalmus kanan. Sewaktu bercermin, ia melihat sudut kanan mulutnya
turun dan kelopak mata sebelah kanan sepertinya lebih rendah dari yang kiri. Pada waktu makan pagi, ia
memperhatikan bahwa makanannya cenderung berkumpul pada sisi kanan pipinya. Pada waktu membawa
anjingnya berjalan, ia mendapatkan keanehan bahwa dia tidak dapat bersiul memanggil anjingnya;
bibirnya tidak dapat mengerut. Keluhan ini dialaminya sejak kemarin. Riwayat trauma kepala (-), trauma
wajah (-). Pasien sering mengendarai motor pada malam hari.

STEP I

Kata sukar:

1. Lagoftalmus = keadaan di mana mata tidak dapat menutup secara sempurna secara volunter
akibat turunnya palpebra inferior.

Kata kunci:

1. Kebingungan
2. Mulut mencong ke kiri dan lagoftalmus kanan
3. Sudut kanan mulut tutun dan kelopak sebelah mata kanan lebih rendah dari yang kiri.
4. Waktu makan, makanan berkumpul di pipi kanan.
5. Ia tidak dapat bersiul, mulut tidak dapat mengerut
6. Trauma kepala (-), trauma wajah (-)
7. Sering mengendarai motor pada malam hari.

STEP II

Identifikasi masalah:

1. Apa yang menyebabkan mulut mencong dan lagoftalmus kanan?


2. Apa hubungan pasien sering mengendarai motor malam hari dan gejala – gejala di atas?
3. Apa yang menyebabkan ia tidak dapat bersiul?
4. Bagian apa yang terganggu sehingga wajahnya kaku?
5. Apa yang menyebabkan makanan berkumpul di pipi kanan?
6. Mengapa sudut yang kanan mulut turun dan kelopak mata sebelah kanan turun?
STEP III

7. M. Levator Anguli Oris = hiper relaksasi


M. Depressor Anguli Oris = kontraksi
M. Orbicularis Oris pars marginalis = kontraksi
M. Orbicularis Oris pars Labialis = relaksasi
M. Levator Labi Superioris = relaksasi
M. Orbicularis Oculi pars Palpebralis

4. Terganggu pada N. Facialis bagian Ramus Buccales

5. Otot – otot ekspresi wajah dipengaruhi oleh Lower Motor Neuron (LMN)

3. Ramus Zygomatici rusak di M. Orbicularis Oculi N. Facialis terganggu

3. N. Facialis terdiri dari:

- Serabut somatomotorik

- Serabut visceromotorik

- Serabut viscerosensorik

- Serabut somatosensorik = suhu (yang berpengaruh terhadap kasus) dan raba


STEP IV

MIND MAPPING :

Gejala :

1. Mulutnya mencong ke kiri.


2. Lagoftalmus kanan.
3. Bibir tidak dapat berkerut.
4. Makanan cenderung ke pipi
kanan.

Histologi :
Biokimia : 1. Termoreseptor
N. Facialis 2. Motor end plate
1. Neurotransmiter
3. Serabut otot
skelet

Anatomi : Fisiologi:

1. N. Facialis 1. Mekanisme Kontraksi dan


2. M. Levator anguli oris relaksasi otot
3. M. Depresor anguli oris 2. Mekanisme pengantar impuls
4. M. Orbicularis oris Pars pada serabut saraf
Marjinalis
5. M. Orbicularis oris Pars Labialis
6. M. Orbicularis oculi pars
palpebralis
7. M. Levator labis superior
STEP 5

Learning Objective :

1. Bagian mana yang terganggu sehingga menyebabkan wajahnya kaku ?


2. Apa hubungan pasien mengendarai sepeda motor pada malam hari dengan gejala – gejala
yang dialaminya ?
3. Anatomi, histologi (termoreseptor) dan fisiologi ?
4. Jalan impuls pada nervus facialis (secara normal) ?

STEP VI

Belajar mandiri

STEP VII

Jawaban learning object:

1. Menurut saya penyebab wajah pasien menjadi lumpuh sebelah adalah akibat adanya ngangguan
pada nucleus motorik utama, nuclei Nervus Facialis. Karena bagian nucleus ini yang
mempersarafi wajah, lebih tepatnya mengalami Lesi. Lesi adalah jaringan yang mengalami
kerusakan struktur atau fungsi baik secara keseluruhan atau sebagian. Lesi yang terjadi adalah
Lesi Lower Motor Neuron - semua otot wajah pada sisi Lesi akan lumpuh.
kerusakan seisi pada upper motor neuron dari nervus VII (lesi pada traktus piramidalis atau
korteks motorik) akan mengakibatkan kelumpuhan pda otot-otot wajah bagian bawah, sedangkan
bagian atasnya tidak. Penderitanya masih dapat megangkat alis, megerutkan dahi dan meutup
mata ( persarafan bilateral ). Tetapi, ia kurang dapat mengangkat sudut mulut (menyeringai,
memperlihatkan gigi ). Pada sisi yang lumpuh bila disuruh . kontraksi involunter masih dapat
terjadi bila penderita tertawa secara spontan, maka sudut mulut dapat terangkat.

Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme umpan balik saraf, dan hampir semua
mekanisme ini bekerja melalui pusat pengaturan suhu tubuh yang terletak pada Hypotalamus.
Akan tetapi, agar mekanisme umpan balik bekerja, diperlukannya reseptor suhu untuk
menentukan apa suhu terlalu panas atau terlalu dingin. Reseptor suhu yang paling penting untuk
mengatur suhu tubuh adalah pada neuron peka panas khusus yang terletak pada area preoptika
hipotalamus. Neuron ini meningkatkan pengeluaran impuls bila suhu meningkat dan mengurangi
impuls yang keluar bila suhu turun.

2. Hubungan antara mengendarai sepeda motor di malam hari dengan gejala tersebut yaitu
terjadinya bell palsy yang merupakan suatu penyakit kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah.
Dalam arti, terjadi kelainan pada saraf wajah. Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes sehingga
membuat saraf menjadi bengkak karena infeksi. Hal ini juga disebabkan karena terpaan angin
pada cuaca dingin yang terjadi secara terus menerus. Siapa saja berpotensi terkena penyakit ini
terutama pada usia 20 – 50 tahun. Lelaki dewasa yang terkena penyakit ini mungkin dikarenakan
banyak beraktifitas di luar saat udara dingin dan pada malam hari.
Bell spalsy terjadi ketika angin yang masuk ke dalam tengkorak atau foramen stylomastoideum,
membuat saraf sekitar wajah sembap lalu membesar. Nervus facialis terjepit sehingga akhirnya
kelumpuhan terjadi. Posisinya yang terjepit, mengganggu fungsinya penghantaran impuls.
Pasokan darah berhenti sehingga akhirnya terjadi kematian sel. Akibatnya perintah otak untuk
menggerakan otot-otot wajah tidak dapat diteruskan.
Berikut tanda-tanda dan gejala bell palsy yang harus diwaspadai :
- Terjadi asimetri pada wajah.
- Bicara tidak jelas karena fungsi lidah terganggu.
- Air mata tidak dapat dikendalikan.
- Sudut mulut turun
- Tidak bias meniup
- Susah mengunyah makanan pada salah satu bagian mulut yang terasa sakit.

Akibat bila tidak cepat melakukan penangan pada si penderita, akan mengalami kecacatan berupa
bentuk dan posisi wajah yang tidak seimbang. Jika dibiarkan, penyakit ini semakin lama semakin
parah terutama pada bagian mata karena akan terjadi iritasi pada mata, dan otomatis penglihatan
pun terganggu.

3. A. ANATOMI

Nuclei (kualitas serabut) : nucleus nervi facialis


Nucleus salivatorius superior
- Ganglion pterygopalatinum
- Ganglion submandibulare

Nucleus salivatorius

Keluar dari otak : sudut serebellopontin


Lokasi di ruang subarachnoid : cistern basalis, cistern pontocerebellaris
Tempat masuk ke basic cranii : porus - meatus acusticus internus
Jalan ke duramater : fundus meatus acustici interni
Perjalanan di dalam basic crania : canalis nervi facialis
Keluar dari basic cranii : foramen stylomastoideum
Daerah persarafan : motorik : otot wajah, Mm. auriculares, M.
digastricus
( venter posterior ), M.
stylohyoideus,
M . stapedius
Sensorik : 2/3 anterior lidah (via chorda tympani
ke
N. lingualis)
Parasimpatik : glandula lakrimalis, glandula nasales,
Glandulae palatinae, glandula
submandibularis, dan glandula
sublingualis.
Tambahan dari saraf lain : serabut sensible dari N. Trigeminus ke cabang-
cabang
wajah N. facialis

b. Histologi

Termoreseptor ( peka terhadap perubahan suhu ) dan ujung akhir saraf bebas.

Ujung saraf bebas

Serat saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas pada banyak jaringan tubuh dan
merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit. Serat saraf akhir yang bebas ini merupakan serat saraf tak
bermyelin, atau serat bermyelin berdiameter kecil, yang semua telah kehilangan pembungkusnya sebelum
berakhir, dilanjutkan oleh serat saraf terbuka yang berjalan diantara sel epidermis. Sebuah serat saraf
seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke permukaan, hingga hampir mencapai
stratum korneum. Serat yang berbeda mungkin menerima perasaan raba, nyeri, dan suhu. Sehubungan
dengan folikel rambut (ujung akhir peritrikial), banyak cabang serat saraf yang berjalan longitudinal dan
melingkari folikel rambut dalam dermis, sebagian besar ujung akhir yang terbuka berakhir dalam
membran glasial folikel. Akhir saraf ini terangsang pada pergerakan rambut, dan satu saraf mungkin
bercabang banyak dan mensuply banyak folikel.

c. fisiologi

MEKANISME KONTRAKSI OTOT

Mekanisme Pergeseran Filamen

Sewaktu kontraksi, filamen tipis di kedua sisi sarkomer bergeser ke arah dalam terhadap filamen
tebal yang diam menuju ke pusat pita A. Sewaktu bergeser ke dalam, filamen tipis menarik garis –
garis Z tempat filamen tersebut melekat saling mendekat sehingga sarkomer memendek. Karena
semua sarkomer di keseluruhan panjang otot memendek bersamaan maka seluruh serat otot
memendek. Hal ini disebut mekanisme pergeseran filamen pada kontraksi otot. Zona H di bagian
tengah pita A yang tidak dicapai oleh filamen tipis, menjadi lebih kecil karena filamen-filamen tipis
saling mendekati ketika mereka bergeser semakin ke arah dalam. Pita I, yang terdiri dari bagian
filamen tipis yang tidak bertumpang tindih dengan filamen tebal sewaktu pergeseran tersebut.
Filamen tipios itu sendiri tidak mengalami perubahan panjang sewaktu serat otot memendek. Lebar
Pita A tidak berubah selama kontraksi, karena lebarnya ditentukan oleh panjang filamen tebal, dan
filamen tebal tidak mengalami perubahan panjang selama proses pemendekan otot. Kontraksi dicapai
oleh pergeseran saling mendekat filamen-filamen tipis di sisi sarkomer yang berlawanan dengan
filamen tebal.
Kayuhan Bertenaga

Aktifitas jembatan silang menarik masuk filamen tipis relatif terhadap fuilamen tebal yang diam.
Sewaktu kontraksi, tropomiosin dan troponin digeser oleh Ca2+ , jembatan silang miosin dari filamen
tebal dapat berikatan dengan molekul aktin di filamen tipis sekitarnya. Ketika miosin dan aktin
berkontak di jembatan silang, jembatan mengalami perubahan bentuk, menekuk ke dalam seolah-olah
memiliki engsel, “mengayuh” ke arah bagian tengah sarkomer seperti mendayung perahu. Inilah yang
disebut sebagai kayuhan bertenaga. Jembatan silang ini menarik masuk filamen-filamen tipis yang
melekat ke jembatan silang tersebut. Satu kayuhan bertenaga menarik filamen tipis hanya sepersekian
dari jarak pemendekan total. Siklus pengikatan dan penekukan berulang jembatan silang menuntaskan
pemendekan.

Pada akhir satu siklus jembatan silang, ikatan antara jembatan silang miosin dan molekul aktin
terputus. Jembatan silang kembali ke bentuk semula dan berikatan dengan molekul aktin berikutnya
di belakang mitra aktin pertama. Jembatan silang kembali menekuk untuk menarik filamen tipis lebih
jauh, kemudian terlepas dan mengulangi siklus. Siklus berulang kayuhan bertenaga jembatan silang
secara suksesif mebnarik masuk filamen tipis, mirip dengan menarik tambang dengan tangan. Karena
cara molekul-molekul miosin berorientasi di dalam filamen tebal maka semua jembatan silang
mendayung ke arah bagian tengah sarkomer sehingga keenam filamen tipis sekitar di masing-masing
ujung sarkomer tertarik ke arah dalam secara bersamaan. Akan tetapi jembatan silang yang berikatan
dengan suatu filamen tipis tidak mendayung dalam satu kesatuan. Pada saat berkontraksi, sebagian
jembatan silang melekat ke filamen tipis smnentara yang lainnya kembali ke konformasinya semula
dalam persiapan untuk mengikat molekul aktin lain. Karena itu, sebagian jembatan silang sedang
“menahan” filamen aktin sementara yang lain “melepaskan” filamen aktin untuk mengikat filamen
aktin lainnya. Jika siklus jembatan silang ini tidak asinkron maka filamen tipis akan bergeser balik ke
posisi istirahatnya.

Otot rangka dirangsang untuk berkontraksi melalui pelepasan ACh di taut neuromuskular antara
terminal neuron motorik dan serat otot. Pengikatan ACh dengan motor –end plate suatu serat otot
menyebabkan perubaha permeabilitas di serat otot, menghasilkan potensial aksi yang dihantarkan ke
seluruh permukaan membran sel otot. Dua struktur membranosa di dalam serat otot berperan penting
dalam menghubungkan eksitasi ke kontraksi ini – Tubulus transversus dan retikulum sarkoplasma

Peran kalsium dalam jembatan silang


Penyebaran Potensial Aksi Menuruni Tubulus T

Di setiap pertemuan antara pita A dan pita I, membran permukaan masuk ke dalam serat otot untuk
membentuk tubulus transversus, yang berjalan tegak lurus dari permukaan membarn sel otot ke dalam
bagian tengah serat otot. Karena menbran tubulus T bersambung dengan membran permukaan, maka
potensial aksi di membran permukaan juga menyebar turun menelusuri tubulus T, dengan cepat
menyalurkan aktifitas listrik permukaan ke bagian tengah serat. Adanya potensial aksi lokal di
tubulus T memicu perubahan permeabilitas di anyaman membranosa tersendiri di dalam serat otot,
retikulum sarkoplasma.

Pelepasan Kalsium dari Retikulum Sarkoplasma

Retikulum Sarkoplasma adalah retikulum endoplasma yang dimodifikasi yang terdiri dari anyaman
halus kompartemen-kompartemen yang saling berhubungan mengelilingi setiap miofibril seperti
sarung / selubung saringan. Anyaman membranosa ini mengelilingi miofibril di seluruh panjangnya
tetapi tidak kontinyu. Setiap pita A dan pita I dibungkus oleh segmen-segmen terpisah retikulum
sarkoplasma. Ujung dari masing-masing segmen membesar untuk membentuk bagian sperti kantung,
saccus lateralis yang dipisahkan dari tubulus T di dekatnya oleh suatu celah sempit. Kntung lateral
retiku;lum sarkoplasma ini mengandung Ca2+ . Penyebaran potensial aksi menurruni tubulus T
memicu pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasma ke dalam sitosol. Perubahan potensial di tubulus
T berkaitan dengan pelepasn Ca2+ di kantung lateral terdapat protein kaki yang tersusun teratur
menonjol dari retikulum sarkoplasma dan terbentang di celah antara kantung lateral dan tubulus T.
Protein kaki ini tidak saja menjembatani celah tetapi juga berfungsi sebagai saluran pengeluaran Ca2+

Separuh dari protein kaki retikulum sarkoplasma berikatan dengan reseptor komplementer di tubulus
T. Reseptor-reseptor tubulus T dikenal sebagai reseptor dihidropiridin karenA dihambat oleh obat
dihidropiridin. Reseptor-reseptor dihidropiridin ini adlah sensor bergerbang voltase. Ketika potensial
aksi merambat turun ke tubulus T, depolarisasi lokal mengaktifkan reseptor dihidropiridin yang
bergerbang voltase tersebut. Reseptor tubulus T yang aktif tersebut, selanjutnya memicu pembukaann
saluran Ca2+ di kantung lateral retikulum sarkoplasma sekitar. Pembukaan separuh saluran pelepas
Ca2+ lainnya yang tidak berkaitan langsung dengan reseptor tubulus T.

Kalsium dibebaskan ke dalam sitosol dari kantung lateral melalui semua saluran pelepasan Ca2+ yang
terbuka tersebut. Dengan sedikit reposisi molekul tropinin dan tropomiosin, Ca2+ yang dibnebaskan
tersebut menyebabkan tempatv pengikatan di molekul aktin terpanjang sehingga dapat berikatan
dengan jembatan silang miosin di tempat pengikatan komplementernya.
Siklus Jembatan Silang yang Dijalankan Oleh ATP

Tempat enzim yang dapat mengikat pembawa energi ATP dan memecah menjadi ADP dan Pi yang
dalam prosesnya menghasilkan energi. Penguraian ATP terjadi di jembatan silang miosin sebelum
jembatan berikatan dengan molekul aktin. ADP dan Pi tetap terikat erat ke miosin, dan energi yang
dihasilkan disimpan di dalam jemnbatan silang untuk menghasilkan miosin berenergi tinggi. Ketika
serat otot mengalami eksitasi, Ca2+ menarik kompleks troponin – tropomiosin menjauhi posisinya
yang menyumbat sehingga jembatan silang miosin yang telah berenergi dapat berikatan dengan
molekul aktin.

Jika otot tidak terangsang dan tidak terjadi pembebasan Ca2+ maka troponin dan tropomiosin tetap
berada pada posisinya yang menghambat sehingga aktin dan jembatan silang miosin tidak saling
berikatan dan tidak terjadi kayuhan bertenaga. Ketika Pi dan ADP dibibaskan dari miosin setelah
kontak dengan aktin dan terjadi kayuhan bertenaga, tempat ATPase miosin bebas untuk mengikat
molekul ATP lain. Aktin dan miosin tetap berikatan di jembatan silang sampai molekul ATP baru
melekat ke miosin pada akhirnya terjadi kayuhan bertenaga. Perlekatan molekul ATP baru
memungkinkan jembatan silang terlepas, yang mengembalikannnya ke bentuk semula, siap untuk
melakukan siklus baru. ATP yang baru melekat tersebut kemudian diuraikan oleh ATPase miosin dan
kembali menggerakan jembatan silang miosin. Pada pengikatan dengan molekul aktin lain, jembatan
silang yang baru mendapat energi kembali menekuk, demikian seterusnya secara suksesif menarik
masuk filamen tipis untuk menuntaskan kontraksi.

Mekanisme umum kontraksi otot


• Suatu potensial aksi berjalan disepanjang sebuah saraf motorik
sampai ke ujungnya pada serabut saraf otot.
• Disetiap ujung, saraf menyekresi substansi neurotransmitter,
yaitu asetilkolin dalam jumlah sedikit.
• Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut
otot untuk membuka banyak kanal”bergerbang asetilkolin”
melalui molekul-molekul protein yang terapung pada membran.
• Terbukanya kanal bergerrbang Asetilkolin memungkinkan
sejumlah besar ion Natrium untuk berdifusi kebagian dalam
membran serabut otot. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu
potensial aksi pada membran.
• Potensial aksi akan berjalan disepanjang membran serabut otot
dengan cara yang sama seperti potensial aksi berjalan
disepanjang membran serabut saraf.
• Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran otot
dan banyak aliran listrik potensial aksi mengalir melalui pusat
serabut otot. Disini potensial aksi menyebabkan retikulum
sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion kalsium, yang telah
tersimpan di dalam retikulum ini.
• Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen
aktin dan meiosin yang menyebabkan kedua filamen tersebut
bergeser satu sama lain dan menghasilkan proses kontraksi.
• Setelah kurang dari satu detik ion kalsium dipompa kembali
++
kedalam retikulum sakroplasma oleh pompa membran Ca , dan
ion ini tetap disimpan dalam retikulum sampai potensial aksi
otot yang baru datang lagi;pengeluaran ion Kalsium dari
miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti.
MEKANISME RELAKSASI OTOT

Potensial aksi di serat otot mengaktifkan proses kontraksi dengan memicu pelepasan Ca 2+ dari kantung
lateral kedalam sitosol, proses kontraksi dihentikan ketika Ca2+ dihentikan. Retikulum sakroplasma
memiliki molekul pembawa, pompa Ca2+ - ATPase, yang memerlukan energi dan secara aktif mengangkut
Ca2+ dari sitosol untuk memekatkannya didalam kantung lateral. Ketika astil kolinesterase menyingkirkan
ACh dari taut neuromuskular, potensial aksi serat otot terhenti. Ketika potensial aksi lokal tidak lagi
terdapat di tubulus T untuk memicu pelepasan Ca2+ , aktifitas pompa Ca2+ yang dilepaskan kekantung
lateral. Hilangnya Ca2+ dari sitosol memungkinkan kompleks troponin-tropomiosin bergeser kembali ke
posisinya yang menghambat, sehingga aktin dan miosin tidak lagi berikat di jembatan silang. Filamen
tipis setelah dibebaskan dari siklus perlekatan dari penarikan jembatan silang, kembali secara pasif ke
posisi istirahatnya dan serat otot kembali melemas.
4. Jalannya impuls pada nervus facialis

Nervus facialis memiliki radiks sensorik dan motoris


Serabut radiks motorik mula-mula berjalan ke posterior mengelilingi sisi medial nucleus abdusen
selanjutnya serabut ini mengelilingi nucleus dibawah coliculus facialis di lantai ventrikculus
quartus. Akhirnya berjalan ke anterior dan muncul di batang otak.
Radiks sensoris dibentuk oleh prosesus sentralis sel-sel unipolar ganglion geniculatum. Radiks ini
juga mengandung serabut efferent parasimpatis post ganglionik dari nuclei parasimpathic.

Kedua radiks nervus facialis muncul di permukaan anterior otak antara pons dan medulla
oblongata. Radiks tsb berjalan ke lateral di dalam fosa cranii posterior bersama nervus
festibulocochlearis. Kemudian masuk ke meatus acusticus internus di pars petrosa ossis
temporalis. Dibawah meatus, nervus memasuki canalis facialis dan berjalan ke lateral melalui
telinga dalam. Ketika mencapai dinding medial cavum tympani, nervus melebar membentuk
ganglion sensorium geniculatum dan membelok tajam kea rah belakang di atas promotorium. Di
dinding posterior cavum tympani, nervus facialis membelok ke bawah pada sisi medial
aditusantrum mastoideum, turun di belakang pyramis, dan keluar dari foramen stylomastoideum.

PENJELASAN DARI MAIN MAPPING


A. ANATOMI

Nervus facialis berjalan ke depan di dalam substansi glandula parotidea.saraf ini terbagi atas lima
cabang terminal.

1. Ramus temporalis. muncul dari pinggir atas glandula dan mempersarafi m. Auricularis anterior
dan superior, venter frontaris m. Occipitofrontalis, m. Orbicularis oculi, dan m.corrugator
supercilii.
2. Ramus zygomaticus. muncul dari pinggir anterior glanula dan mempersarafi m. Orbicularis
oculi.
3. Ramus buccalis. muncul dari pinggir anterior glandula di bawah ductus parotideus dan
mempersarafi m. Buccinator dan otot – otot bibir atas serta nares.
4. Ramus mandibularis. Muncul dari pinggir anterior glandula dan mempersarafi otot – otot bibir
bawah.
5. Ramus cervicalis. Muncul dari pinggir bawah glandula dan berjalan ke depan di leher di bawah
mandibula untuk mempersarafi m. Platysma. Saraf ini dapat menyilang pinggir bawah mandibula
untuk mempersarafi m. Depressor anguli oris.

N. facialis merupakan saraf untuk arcus pharyngeus kedua dan mempersarafi semua otot - otot ekspresi
wajah. Saraf ini tidak mempersarafi kulit, tetapi cabang-cabangnya berhubungan dengan cabang-cabang
n. Trigeminus. Diyakini serabut-serabut proprioseptif otot-otot wajah meninggalkan n. Facialis melalui
cabang-cabang communicans ini dan berjalan ke susunan saraf pusat melalui n. Trigeminus. Ringkasan
dari asal distribusi n. Facialis.

5. Aspek anatomi:
a. M. Levator anguli oris
Origo: Fossa canina maxillae
Insersio: Sudut mulut
Fungsi: Menarik sudut mulut ke arah medial dan atas.
b. M. Depressor anguli oris
Origo: Basis mandibulae, tepat di bawah foramen mentale
Insersio: Bibir bawah, pipi di sebelah lateral sudut mulut, bibir atas
Fungsi: Menarik sudut mulut ke bawah

c. M. Orbicularis oris pars marginalis dan M. Orbicularis oris pars labialis


Origo: Sebelah lateral Angulus oris
Insersio: Kulit bibir
Fungsi: Menutup bibir, sehingga juta menggerakkan cuping hidung, pipi dan juga kulit dagu
d. M. Levator labii superioris alaeque nasi
Origo: Proc. frontalis maxillae; berasal dari massa otot M. Orbicularis oculi
Insersio: Cuping hidung, sudut mulut, bibir atas, serabut dalam: bagian lateral dan posterior
cuping hidung
Fungsi: Menggerakkan bibir, alae nasi, pipi dan kulit dagu

e. M. Orbicularis oculi pars palpebralis


Origo: Ligamentum palpebrae mediale, Saccus lacrimalis
Insersio: Ligamnetum palpebrae laterale
Fungsi: Menutup kelopak mata
f. M. Buccinator
Origo: Bagian posterior Proc. Alveolaris maxillae, Raphe pterygomandibularis, bagian
posterior Proc. Alveolaris mandibulae
Insersio: Angulus oris, bibir atas dan bawah
Fungsi: Menegakan bibir, meningkatkan tekanan intraoral (ketika meniup dan mengunyah).

g. N. Facialis (VII)
Nuclei (kualitas serabut):
 Nucleus nervi facialis (EVS)
 Nucleus salivatorius superior (EVU)
 Ganglion pterygopalatinum
 Ganglion submandibulare
 Nucleus solitarius (AVS)

Keluar dari otak: Sudut serebellopontin


Lokasi di ruang subarakhnoid: Cisterna basalis, Cisterna pontocerebellaris

Tempat masuk ke basis cranii: Porus – Meatus acusticus internus

Jalan ke dura mater: Fundus meatus acustici interni

Perjalanan di dalam basis cranii: Canalis nervi facialis

Keluar dari basis cranii: Formaen stylomastoideum

Daerah persarafan:

 Motorik: otot wajah, Mm. Auriculares, M. Digastricus (Venter posterior), M.


Stylohyoideus, M. Stapedius
 Sensorik: 2 /3 anterior lidah (via Chorda tympani ke N. Lingualis)
 Parasimpatik: Glandula lacrimalis, Glandulae nasales, Glandulae palatinae (via
Ganglion pterygopalatinum), Glandula submandibularis, Glandula sublingualis (via
Ganglion submandibulare)

Tambahan dari saraf lain: Serabut sensibel dari N. Trigeminus ke cabang – cabang wajah N.
Facialis

Jalan nukleus motorik utama adalah:

Terletak di formatio reticularis pond bagian bawah.

Bagian nukleus yang mempersarafi otot – otot wajah bagian bawah hanya menerima serabut
kortikonuklear dari hemispherium cerebri sisi yang berlawanan. Jaras – jaras ini menjelaskan
pengendalian volunter otot – otot wajah. Akan tetapi, dapat jaras involunter lain; jaras ini
memisahkan dan mengendalikan perubahan mimik atau emosional pada ekspresi wajah pada
formatio reticularis.

Radiks Motoris. Posteriornya mengelilingi sisi medial nukleus abducens, kemudian


mengelilingi nucleus di bawah colliculus facialis di lantai ventriculus quartus, lalu ke
anterior dan muncul dari batang otak muncul, muncul dari permukaan anterior otak otak
antara pons dan medula oblongata. Jalan lateral di dalam fossa cranii posterior sama – sama
N. Vestibulocochlearis, masuk ke meatus acusticus internus di pars petrosa ossis temporalis.
Di bawah meatus, nervus memasuki canalis facialis dan berjalan ke lateral melalui telinga
dalam. Ketika sampai dinding medial cavum tympani, nervus melebar membentuk ganglion
sensorium geniculatum dan membelok tajam ke arah belakang di atas promontorium. Di
dinding posterior cavum tympani, n. Facialis ini membelok ke bawah pada sisi medial aditus
antrum mastoideum, turun di belakang pyramis dan keluar dari foramen stylomastoideum.
Nervus cranialis
Perjalanan nervus cranialis
Serabut saraf nervus facialis
Percabangan dan jalur nervus VII

Persarafan Nervus VII pada Mandibula


HISTOLOGI

MOTOR END PLATE

MOTOR-END PLATE DAN CARA KERJANYA

Tiap serat otot mempunyai satu motor end plate. Motor-end plate atau neuromuscular atau
mioneural junction yaitu tempa tberakhirnya suatu saraf (nerve terminal / aksona ending) dan
berhubungan erat dengan serat otot. Mendekati otot, akson itu tidak lagi berselubung myelin tetapi tetap
ditutupi selubung sel Schwann. Ujung sarafbercabang-cabang membentuk suatu massa berbentuk
lempeng, atau bercabang-cabang halus dengan ujung-ujung yang berakhir sebagai benjolan mirip
setangkai anggur yang terletak pada suatu alur pada pemukaan serat otot.

Pada pelebaran terminalnya terlihat banyak vesikel-vesikel sinaptik kecil yang berisi asetilkolin,
sejumlah mitokondria, tidak ada filament atau mikrotubul. Pada tautan ini, sarkolema membentuk suatu
alur dangkal (celah sinaptik) dan di dalamnya terdapat ujung akson. Diantara ujung saraf dan sarkolema
terdapat suatu lamina basal tunggal yang dibentuk oleh persatuan lapisan yang berasal dari sarkolema,
akson dan sel Schwannnya. Pada motor-end plate, serat itu mengandung banyak inti dan sarkosom, pada
daerah yang disebut sarkoplasma tautan.

Secara fungsional ,motor-end plate berhubungan dengan lamina basal dan celah sinaps. Celah
sinaps mengandung enzim Asetilkolinnesterase, yaitu enzim yang menawarkan neurontransmitter
asetilkolin. Asetilkolin di lepaskan dari vesikel sinaptik melalui eksositosis, melintasi celah sinaps
sampai pada tempat-tempat reseptor pada sarkolema yang terutama terdapat pada puncak lipat tautan, dan
mengakibatkan depolarisasi sarkolema. Setelah pelepasan asetilkolin, membrane vesikel dikembalikan
pada akson melalui endositosis. Setelah dilepas, asetilkolin itu segera dipecahkan oleh asetilkolinesterase,
sehingga memungkinkan adanya rangsangan. Motor-end plate bertugas mengatur kontraksi otot, tetapi
mengkoordinasi kontraksi otot melibatkan ujung-ujung sensoris.

Rangkaian kerja motor-end plate yang berhubungan dengan cara kerja neurotransmitter.
BIOKIMIA

NEURONTRANSMITTER

Rangkaian kerja motor-end plate yang berhubungan dengan cara kerja neurotransmitter. Langkah-
langkahnya sebagai berikut:

1. Potensial di neuron motorik merambat keterminal akson (terminal button)


2. Terbentuknya potensial aksi di terminal button memicu pembukaan saluran Ca 2+ bergerbang
voltase dan masuknya Ca2+kedalam terminal button.
3. Ca2+ memicu pelepasan asetilkolin melalui eksositosis sebagian vesikel.
4. Asetilkolin berdifusi melintasi ruang yang memisahkan sel saraf dan sel otot lalu berikatan dan
sekitaran reseptor spesifiknya di motor end plate membrane otot.
5. Pengikatan ini menyebabkan terbukanya saluran kation, yang kemudian menyebabkan
perpindahan Na+ masuk ke dalam sel otot dalam jumlah yang lebih besardari pada perpindahan
K+ keluar sel.
6. Hasilnya adalah potensial aski yang terjadi pada Motor end plate. Terjadi aliran arus lokal antara
motor end plate yang mengalami depolarisasi dan membrane sekitar.
7. Aliran arus local ini membuka saluran Na+ berpintu tegangan di membrane sekitar.
8. Na+ masuk ke dalam sel dan menurunkan potensial keambang, memicu potensial aksi, yang
kemudian merambat keseluruh serat otot.
Asetilkolin kemudian diuraikan oleh asetilkolinesterase, yaitu suatu enzim yang terletak di membrane
motor end plate dan mengakhiri respon tersebut.

HISTOLOGI

SERABUT OTOT SKELET

Otot rangka disebut juga otot skelet (skeletal muscle tissue), otot lurik (striated muscle tissue)
atau otot yang kerjanya di bawah kemauan sadar (voluntary muscle tissue).
Otot rangka terdiri atas berkas-berkas sel silindrik sangat panjang (sampai 4 cm) dan setiap sel
atau serabut mengandung banyak inti. Diameter serabut otot rangka berkisar 10 – 100 mm. inti
yang banyak disebabkan oleh fusi mioblas (muscle stem cell) yang berinti tunggal. Inti terletak
pada bagian perifer, di bawah membrane sel. Massa serabut otot rangka tersusun dalam berkas-
berkas teratur yang dikelilingi oleh suatu sarung eksternal jaringan. Peyambung padat yang
disebut epimisium. Dari epimisium terbentuk septum tipis jaringan penyambung yang berjalan
ke dalam dan mengelilingi berkas-berkas serabut di dalam suatu otot. Septum tersebut
dinamakan perimisium. Berkas serabut yang dibungkus oleh 60 perimisium disebtu fasikulus.
Setiap serabut otot dikelilingi oleh suatu lapisan jaringan penyambung longgar.
PENUTUP

Kesimpulan :

Dari pembahasan dalam kasus ini, saya dapat menyimpulkan bahwa :

1. Nervus facialis merupakan salah satu nervus dari system saraf manusia yang sangat penting.
Nervus ini berfungsi untuk mengatur serta mempersarafi otot-otot ekspresi wajah serta membawa
serabut sensoris yang menghantarkan persepsi pengecapan terutama sensasi rasa pada bagian
anterior lidah.
2. Dalam pembahasan kasus ini, kita akan mengkajinya dari berbagai aspek seperti:
Dari aspek histologi, anatomi, fisiologi dan bikimia serta penyakit atau gangguan yang
ditimbulkan oleh nervus facialis.
DAFTAR PUSTAKA

www. Google. Co.id

ppt. nervus facialis. Co.id

sumber buku :

1. PATOFISIOLOGI ; Konsep Klinis Proses-proses Penyakit,Silvia A. Price&Lorraine M.


Wilson,Ed. 6
2. HISTOLOGI ; Buku ajar, C. roland Leeson, M.D.,Ph.D ,Thomas S. Leeson , M.D.,Ph.D,Antony
A. Paparo, Ph.D, Ed. 5
3. ANATOMI KLINIK ; untuk mahasiswa kedokteran, Richard S. Snell,Ed.6
4. NEUROANATOMI KLINIK ; Untuk mahasiswa kedokteran, Richard S. Snell,Ed.5
5. ILMU BEDAH SARAF, Prof. Dr. Satyanegara, SpBS,Ed.4
6. PATOFISIOLOGI, Silvia A. Price&Lorraine M. Wilson,Ed. 6
7. LECTURE NOTES NEUROLOGI, Lionel Ginsberg,Ed. 8
8. ATLAS ANATOMI SUBOTTA, R. Putz & R. Pabst, Ed. 22
9. FISIOLOGI MANUSIA , Lauralle Sherwood,Ed.6
10. BIOKIMIA HARPER, Robert.K Murray,Ed. 27