Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Gangguan telinga
yang paling sering adalah infeksi eksterna dan media. Sering terjadi pada
anak-anak dan juga pada orang dewasa (Soepardi, 1998). Otitis media juga
merupakan salah satu penyakit langganan anak. Prevalensi terjadinya otitis
media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak
berusia 3 tahun sekitar 83 %. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75 % anak
mengalami minimal 1 episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir
setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya
25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun ( Abidin,
2009. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.
Otitis media kronik adalah keradangan kronik yang mengenai mukosa
dan struktur tulang di dalam kavum timpani. Otitis media kronik dalam
masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah ini merupakan penyakit yang
biasa yang nantinya akan sembuh sendiri. Penyakit ini pada umumnya tidak
memberikan rasa sakit kecuali apabila sudah terjadi komplikasi congek,
teleran atau telinga berair.
Prevalensi OMK di dunia berkisar antara 1 sampai 46 % pada
komunitas masyarakat kelas menengah ke bawah di negara-negara
berkembang. Adanya prevalensi OMK lebih dari 1% pada anak-anak di suatu
komunitas menunjukkan adanya suatu lonjakan penyakit, namun hal ini dapat
diatasi dengan adanya pelayanan kesehatan masyarakat. Otitis media kronik
terjadi secara perlahan-lahan namun dalam jangka waktu yang lama. Dengan
demikian, dalam penanganannya memerlukan suatu kecermatan dan ketepatan
agar dapat dicapai penyembuhan yang maksimal.

1
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah,
terdiri dari:
1. Apa definisi dari Otitis Media Kronik (OMK)?
2. Bagaimana anatomi telinga tengah?
3. Apa etiologi Otitis Media Kronik?
4. Bagaimana patofisiologi dan WOC Otitis Media Kronik?
5. Apa saja klasifikasi Otitis Media Kronik?
6. Apa saja manifestasi klinik Otitis Media Kronik?
7. Apa saja komplikasi Otitis Media Kronik?
8. Apa saja penatalaksaan Otitis Media Kronik?
9. Apa saja pemeriksaan diagnostic Otitis Media Kronik?

1.3 Tujuan Penulisan


Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa tujuan. Adapun tujuan
umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana
penyakit Otitis Media Kronik secara menyeluruh.
Selain itu, terdapat juga tujuan khusus, diantaranya:
1. Agar dapat mengetahui definisi Otitis Media Kronik.
2. Agar dapat memahami anatomi telinga tengah.
3. Agar dapat memahami etiologi Otitis Media Kronik.
4. Agar dapat memahami patofisiologi dan WOC Otitis Media Kronik.
5. Agar dapat mengetahui klasifikasi Otitis Media Kronik.
6. Agar dapat memahami manifestasi klinik Otitis Media Kronik.
7. Agar dapat mengetahui komplikasi Otitis Media Kronik.
8. Agar dapat mengetahui penatalaksanaan Otitis Media Kronik.
9. Agar dapat mengetahui pemeriksaan diagnostic Otitis Media Kronik.

2
1.4 Manfaat Penulisan
Penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas
Keperawatan Universitas Andalas dalam memahami salah satu penyakit pada
system sensori persepsi, yaitu Otitis Media Kronik, yang sudah tak jarang lagi
terjadi di kalangan masyarakat.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Otitis Media Akut (OMK)

Otitis media kronik adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan


perforasi membran timpani dan secret yang keluar dari telinga tengah secara
terus –menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening
atau berupa nanah (Syamsuhidajat,1997).

Otitis Media Akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh


periosteum telinga tengah (Arif Mansjoer, 2001).

Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi


jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis
media akut (Brunner & Sudarth, 2002).

Jadi, otitis media kronik merupakan infeksi kronis atau ifeksi berulang
dari otits media akut (OMA) yang terjadi pada bagian telinga tengah daengan
perforasi membaran timpani dan secret yang keluar dari telinga terus
menerus.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Telinga Tengah

Aurikula

Kanalis auditorius eksterna

4
Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di
sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak
di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius
eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan
selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga
tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang
telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring
berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang
temporal.
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus,
inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan
ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval
dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan
telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara
dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara.
Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes
ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela
bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan
dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini
dinamakan fistula perilimfe.
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm,
menghubungkan telinga ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup,
namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan
manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai
drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah
dengan tekanan atmosfer. Selain itu guna saluran ini adalah:
 Menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan
menyesuaikannya dengan tekanan udara di dunia luar.
 Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga
tengah ke bagian belakang hidung.
 Sebagai sawar kuman yang mungkin akan masuk ke dalam telinga tengah

5
2.3 Etiologi
Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga
(perforasi). Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh otitis media akut
penyumbatan tuba eustacius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam
telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka
bakar karena panas atau zat kimia. Bisa juga disebabkan, antara lain:
1. Stapilococcus
2. Diplococcus pneumonie
3. Hemopilus influens
4. Gram Positif : S. Pyogenes, S. Albus
5. Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp, E. Coli.
6. Kuman anaerob : alergi, diabetes mellitus, TBC paru.
Sedangkan penyebab lain, yaitu:
1. Lingkungan
Kelompok sosial ekonomi rendah memiliki insiden OMK lebih tinggi.
2. Genetik
Luasnya sel mastoid yang dapat dikaitkan dengan faktor genetik.
Sistem-sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media.
3. Riwayat otitis media sebelumnya
Otitis media kronik merupakan kelanjutan dari otitis media akut atau
otitis media dengan efusi, tapi tidak diketahui
4. Infeksi
Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe
usus, dan beberapa organisme lainnya.
5. Infeksi saluran nafas atas
Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah
menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yangs ecara
normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan
bakteri.
6. Autoimun
Memiliki insiden lebih besar terhadap OMK.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih

6
tinggi dibanding yang bukan alergi.
8. Gangguan fungsi tuba eustacius
Pada telinga yang inaktif berbagai metoda telah digunakan untuk
mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tidak
mungkin mengembalikan tekanan menjadi negatif.
Otitis media kronik bisa juga disebabkan karena pengobatan otitis
media akut yang tidak adekuat atau perawatan yang kurang memadai
sehingga otitis media akut bisa berlanjut otitis media kronik.

2.4 Patofisiologi dan WOC

Otitis media kronik merupakan kelanjutan dari otitis media akut sering
diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA) yang disebabkan oleh
bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati tubaeustachius.
Ketika bakteri memasuki tuba eustachius maka dapat menyebabkaninfeksi
dan terjadi pembengkakan, peradangan pada saluran tersebut.

Proses peradangan yang terjadi pada tuba eustachius menyebabkan


stimulasi kelenjarminyak untuk menghasilkan sekret yang terkumpul di
belakang membran timpani. Jika sekret bertambah banyak maka akan
menyumbat saluran eustachius,sehingga pendengaran dapat terganggu karena
membran timpani dan tulang osikel (maleus, incus, stapes) yang
menghubungkan telinga bagian dalam tidak dapatbergerak bebas.

Selain mengalami gangguan pendengaran, klien juga akan mengalami


nyeri pada telinga. Otitis media akut (OMA) yang berlangsung selama lebih
dari dua bulandapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila
faktor hygiene kurang diperhatikan, terapi yang terlambat, pengobatan tidak
adekuat, dan adanya daya tahan tubuh yang kurang baik.

Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien


yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami
infeksi telinga yang tidak ditangani. Mastoiditis kronik lebih sering dan
beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukan

7
kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam (epitel skuamosa
dari lapisan luar membrane timpani ke telinga tengah. Kulit dari membrane
timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan berisi kulit rusak dan
bahan sebasesus. Kantong dapat melekat ke struktur telinga tengah dan
mastoid. Bila tidak ditangani, kolesteatoma dapat terus tumbuh dan
menyebabkan paralisis nervus fasialis, kehilangan pendengaran sensorineural
dan/atau gangguan keseimbangan (akibat erosi telinga dalam) dan abses otak.
(Brunner & Sudarth, 2002).

WOC (Terlampir)

2.5 Klasifikasi Otitis Media Kronik


1. Otitis Media Kronik Benigna
Otitis media kronik benigna dapat hilang timbul, di mana dalam
perjalanan penyakitnya ada masa sembuh. Biasanya kambuh lagi bila ada
infeksi hidung atau infeksi dari luar melalui perforasi pada membran
timpani (misalnya sehabis berenang). Komplikasi yang serius jarang
terjadi. Kecuali apabila tidak mendapat pengobatan yang adekuat, maka
proses peradangan akan meuas dan keluhan akan bertambah
(Syamsuhidajat, 1997).
2. Otitis Media Kronik Maligna
Otitis media kronik maligna timbul secara progresif dan
berlangsung lebih cepat dimana dalam perjalanan penyakitnya tidak ada
masa sembuh. Komplikasi yang serius sering terjadi apabila tidak
mendapat pengobatan yang adekuat sehingga proses peradangan akan
meuas dan keluhan akan bertambah (Syamsuhidajat, 1997).
3. Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)
Infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani
dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang
timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa
nanah (Syamsuhidajat, 1997)

8
2.6 Manifestasi Klinik
Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran
dan terdapat otorrhea intermitten atau persisten yang berbau busuk. Biasanya
tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut, dimana daerah post
aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Kolesteatoma,
sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik membrane
timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat
sebagai masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis
eksterna melalui lubang perforasi. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada
pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil audiometric pada kasus kolesteatoma
sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran.
(Brunner & Sudarth, 2002)

2.7 Komplikasi

1. Peradangan telinga tengah (otitis media) yang tidak diberi terapi


secarabenar dan adekuat dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga
tengahtermasuk ke otak, namun ini jarang terjadi setelah adanya
pemberianantibiotik.
2. Mastoiditis
3. Kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak ditangani
4. Keseimbangan tubuh terganggu
5. Peradangan otak kejang

2.8 Penatalaksanaan
Penanganan local meliputi pembersihan hati-hati telinga menggunakan
mikroskop dan alat pengisap. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian
bubuk antibiotika sering membantu bila ada cairan purulen. Antibiotika
sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut. (Brunner
& Sudarth, 2002).
Selain itu, penatalaksanaannya bisa juga dengan melakukan
pembedahan telinga, seperti:
1. Timpanoplasti-rekonstruksi

9
Timpanoplasti-rekosntruksi adalah pembedahan pada membrane timpani
dan osikulus. Tujuan timpanoplasti adalah mengembalikan fungsi telinga
tengah, menutup lubang perforasi telinga tengah, mencegah infeksi
berulang dan memperbaiki pendengaran.
2. Mastoidektomi
Tujuan pembedahan mastoid adalah untuk mengangkat kolesteatoma,
mencapai struktur yang sakit, dan menciptakan telinga yang aman,
kering, dan sehat.
(Brunner & Sudarth, 2002)

2.9 Pemeriksaan Diagnostik


Untuk memastikan diagnosa Otitis Media Kronik (OMK) terhadap klien
atau pasien maka diperlukan beberapa pemeriksaan diagnostik, seperti:
1. Otoskop pneumatik untuk melihat membran timpani yang penuh, bengkak
dan tidak tembus cahaya dengan kerusakan mogilitas.
2. Kultur cairan melalui mambran timpani yang pecah untuk mengetahui
organisme penyebab.
3. Rongen mastoid atau CT scan kepala untuk mengetahui adanya
penyebaran infeksi ke struktur disekeliling telinga.
4. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui adanya
penurunan pendengaran.
5. X-ray dikukan terhadap kalestatoma dan kekaburan mastoid.

10
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN OTITS MEDIA
KRONIK

3.1 Pengkajian
1. Identitas
Kaji nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Kaji apa alasan klien membutuhkan pelayanan kesehatan

b. Riwayat Kesehatan Sekarang


Kaji bagaimana kondisi klien saat dilakukan pengkajian. Klien
dengan otitis media kronis biasanya mengeluh nyeri pada telinga,
gangguan pendengaran, demam tinggi.

c. Riwayat Kesehatan Dahulu


Kaji riwayat alergi makanan klien, riwayat konsumsi obat-
obatan dahulu, riwayat penyakit yang sebelumnya dialami klien.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga


Kaji apakah di dalam keluarga klien, ada yang mengalami
penyakit yang sama, riwayat penyakit keturunan.

e. Riwayat Psikososial
Kaji bagaimana hubungan klien dengan keluarganya dan
interaksi sosial.

3. Pola Fungsional Gordon

a. Pola persepsi kesehatan - manajemen kesehatan


Pada pola ini kita mengkaji:
a) Bagaimanakah pandangan klien terhadap penyakitnya?

11
b) Apakah klien klien memiliki riwayat merokok, alkohol, dan
konsumsi obat-obatan tertentu?
c) Bagaimakah pandangan klien terhadap pentingnya kesehatan?
Biasanya klien tidak mengetahui tentang penyakit yang
dideritanya dan bagaimana penyakit ini terjadi. Klien akan
menganggap biasa gejala penyakit yang dirasakan.
b. Pola nutrisi – metabolic
Pada pola ini kita mengkaji:
a) Bagaimanakah pola makan dan minum klien sebelum dan selama
dirawat di rumah sakit?
b) Kaji apakah klien alergi terhadap makanan tertentu?
c) Apakah klien menghabiskan makanan yang diberikan oleh rumah
sakit?
d) Kaji makanan dan minuman kesukaan klien?
e) Apakah klien mengalami mual dan muntah?
f) Bagaimana dengan BB klien, apakah mengalami penurunan atau
sebaliknya?
Biasanya klien mengalami susah menelan, anoreksia, mual,
muntah, stomatitis, mukolitis, dyspepsia atau disfagia, BB menurun.
c. Pola eliminasi
Pada pola ini kita mengkaji:
a) Bagaimanakah pola BAB dan BAK klien ?
b) Apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi?
c) Kaji konsistensi BAB dan BAK klien
d) Apakah klien merasakan nyeri saat BAB dan BAK?
Kebanyakan klien tidak mengalami gangguan dalam pola
eliminasi. Gangguan biasanya pada ketergantungan klien pada
bantuan keluarga untuk melakukan eliminasi.
d. Pola aktivitas – latihan
Pada pola ini kita mengkaji:
a) Bagaimanakah perubahan pola aktivitas klien ketika dirawat di
rumah sakit?

12
b) Kaji aktivitas yang dapat dilakukan klien secara mandiri
c) Kaji tingkat ketergantungan klien

0 = mandiri
1 = membutuhkan alat bantu
2 = membutuhkan pengawasan
3= membutuhkan bantuan dari orang lain
4= ketergantungan
d) Apakah klien mengeluh mudah lelah?
Biasanya klien akan mengalami Dispnea, suara nafas
menurun/menghilang & adanya suara tambahan seperti rale (krekels),
mengi, ronki dengan auskultasi. Nadi cepat dan tekanan darah
menurun.

e. Pola istirahat – tidur


Pada pola ini kita mengkaji:
a) Apakah klien mengalami gangguang tidur?
b) Apakah klien mengkonsumsi obat tidur/penenang?
c) Apakah klien memiliki kebiasaan tertentu sebelum tidur?

Biasanya klien akan mengalami gangguan tidur karena nyeri


yang dirasakan di telinga.

f. Pola kognitif – persepsi


Pada pola ini kita mengkaji:

a) Kaji tingkat kesadaran klien


b) Bagaimanakah fungsi penglihatan dan pendengaran klien, apakah
mengalami perubahan?
c) Bagaimanakah kondisi kenyamanan klien?
d) Bagaimanakah fungsi kognitif dan komunikasi klien?
Fungsi indra pendengaran klien akan terganggu, ada yang
terasa berdenging atau sudah tuli. Fungsi indra lain biasanya tidak
mengalami gangguan.

13
g. Pola persepsi diri - konsep diri
Pada pola ini kita mengkaji:

a) Bagaimanakah klien memandang dirinya terhadap penyakit yang


dialaminya?
b) Apakah klien mengalami perubahan citra pada diri klien?
c) Apakah klien merasa rendah diri?

Gangguan konsep diri yang dialami klien akan terjadi bila


klien sudah mengalami gangguan atau kehilangan fungsi
pendengarannya.

h. Pola peran – hubungan


Pada pola ini kita mengkaji:
a) Bagaimanakah peran klien di dalam keluarganya?
b) Apakah terjadi perubahan peran dalam keluarga klien?
c) Bagaimanakah hubungan sosial klien terhadap masyarakat
sekitarnya?

Biasanya klien akan terganggu dalam berhubungan dengan


pasangan serta akan sulit berperan dengan baik dalam keluarga,
khususnya.

i. Pola reproduksi dan seksualitas

Pada pola ini kita mengkaji:

a) Bagaimanakah status reproduksi klien?


b) Apakah klien masih mengalami siklus menstrusi (jika wanita)?

Klien tidak mengalami gangguan dalam reproduksi dan


seksualitasnya

j. Pola koping dan toleransi stress


Pada pola ini kita mengkaji:
a) Apakah klien mengalami stress terhadap kondisinya saat ini?
b) Bagaimanakah cara klien menghilangkan stress yang dialaminya?

14
c) Apakah klien mengkonsumsi obat penenang?

Biasanya klien akan mengalami cemas dengan penyakit yang


dideritanya.

k. Pola nilai dan kepercayaan


Pada pola ini kita mengakaji:
a) Kaji agama dan kepercayaan yang dianut klien
b) Apakah terjadi perubahan pola dalam beribadah klien?

15
3.2 Aplikasi NANDA, NOC, dan NIC pada Kasus Otitis Media Kronik

No NANDA NOC NIC


1 Ggn persepsi sensori a. Kontrol cemas a. Peningkatan komunikasi : deficit
pendengaran Indikator : pendengaran
Aktivitas:
 Pantau intensitas kecemasan  Janjikan untuk mempermudah pemeriksaan
Batasan karakteristik:  Menyingkirkan tanda kecemasan pendengaran sebagaimana mestinya
 Berubahnya pola prilaku  Mencari informasi untuk  Beritahu pasien bahwa suara akan terdengar
 Berubahnya ketajaman menurunkan cemas berbeda dengan memakai alat bantu
panca indra  Mempertahankan konsentrasi  Jaga kebersihan alat bantu
 Gagal penyesuaian  Laporankan durasi dari episode  Mendengar dengan penuh perhatian
 Distorsi pancaindera cemas  Menahan diri dari berteriak pada pasien
 Pengintegrasian yang mengalami gangguan komunikasi
b. Kompensasi Tingkah Laku
pancaindera yang  Dapatkan perhatian pasien melalui sentuhan
terganggu Pendengaran
 Pancaindera yang Indicator: b. Dukungan emosi
terganggu  Pantau gejala kerusakan Aktivitas:
pendengaran
 Posisi tubuh untuk menguntungkan  Berdiskusi dengan pasien tentang emosi
pendengaran yang dirasakan
 Menghilangkan gangguan  Bantu pasien dalam mengenali perasaan
 Memperoleh alat bantu pendengaran seperti cemas, marah, atau sedih
 Menggunakan layananan pendukung  Dorong pasien untuk mengunkapkan
untuk pendegaran yang lemah perasaan cemas, marah, atau sedih
 Memperoleh intervensi yang  Perhatikan pengungkapan perasaan dan
berhubungan dengan pembedahan keyakinan
 Sediakan identifikasi pasien terhadap pola
tanggapan yang umum terhadap ketakutan

16
 Beri dukungan selama fase penolakan,
marah, tawar menawar, dan fase penerimaan
terhadap duka cita
 Sediakan bantuan dalam membuat
keputusan
 Rujuk ke konselor sebagaimana mestinya

c. Pencegahan jatuh
Aktivitas:

 Identifikasi kelemahan kognisi dan fisik


pada pasien yang barangkali meningkatkan
potensi untuk jatuh pada lingkungan tertentu
 Identifikasi karakteristik lingkungan yang
mungkin meningkatkan potensi untuk jatuh
(misal ,lantai licin dan jenjang yang terbuka)
 Sediakan alat bantu (misal, tongkat dan alat
bantu berjalan) untuk gaya berjalan yang
kokoh
 Pelihara alat bantu supaya berfungsi dengan
baik
 Ajarkan pasien bagaimana cara jatuh untuk
meminimalkan cedera
2 Resiko Cedera Perilaku keamanan: lingkungan fisik Manajemen keamanan
rumah Aktifitas :
Indikator :
 Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi
 Perlengkapan pencahayaan klien
 Penggunaan system alarm pribadi  Identifikasi kebutuhan keamanan klien

17
 Kelengkapan alat bantuan pada  Pindahkan benda-benda berbahaya dari
lokasi yang mudah dicapai sekitar klien
 Penyusunan perabotan untuk  Pindahkan benda-benda berisiko dari
mengurangi resiko lingkungan klien
 Sediakan tempat tidur yang nyaman dan
Pengetahuan: keamanan pribadi bersih
Indikator :  Posisikan tempat tidur agar mudah
terjangkau
 Gambaran untuk mencegah jatuh  Kurangi stimulus lingkungan
 Gambaran resiko keamanan khusus
berdasarkan usia Pencegahan jatuh
 Gambaran perilaku individu yang Aktifitas :
berisiko tinggi
 Gambaran resiko keamanan  Identifikasi deficit fisik yang berpotensi
bekerja untuk jatuh
 Identifikasi karakteristik lingkungan yang
meningkatkan potensi jatuh ( seperti lantai
yang licin)
 Berikan peralatan yang menunjang untuk
mengokohkan jalan
 Ajarkan klien bagaimana berpindah untuk
meminimalisir trauma
 Hindari barang-barang berserakan di lantai
 Ajarkan keluarga tentang faktor resiko yang
berkontribusi pada jatuh dan bagaimana
mengurangi resiko jatuh
 Kaji keluarga dalam mengidentifikasi
bahaya di rumah dan bagaimana

18
memodifikasikannya

3. Nyeri Tingkat Kenyamanan Manajemen Nyeri :


Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang o Lakukan pengkajian nyeri secara
Kriteria hasil : komprehensif termasuk lokasi,
- Mampu mengontrol nyeri (tahu karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
penyebab nyeri, mampu menggunakan faktor presipitasi
teknik nonfarmakologi untuk o Observasi reaksi nonverbal dari
mengurangi nyeri, mencari bantuan) ketidaknyamanan
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang o Gunakan teknik komunikasi terapeutik
dengan menggunakan manajemen untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
nyeri o Kaji kultur yang mempengaruhi respon
- Mampu mengenali nyeri (skala, nyeri
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) o Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
- Menyatakan rasa nyaman setelah o Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan
nyeri berkurang lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
- Tanda vital dalam rentang normal masa lampau
o Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan
o Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
o Kurangi faktor presipitasi nyeri
o Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
o Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi

19
o Ajarkan tentang teknik non farmakologi
o Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
o Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
o Tingkatkan istirahat
o Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasilMonitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

4 Kurang pengetahuan Knowledge : Health Behavior Teaching : Health Behavior


. Tujuan : Klien mengetahui tentang o Berikan penilaian tentang tingkat
kondisi,prognosis dan pengobatannya. pengetahuan pasien tentang proses penyakit
Kriteria Hasil: yang spesifik
o Pasien dan keluarga menyatakan o Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
pemahaman tentang penyakit, bagaimana hal ini berhubungan dengan
kondisi, prognosis dan program anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
pengobatan tepat.
o Pasien dan keluarga mampu o Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
melaksanakan prosedur yang muncul pada penyakit, dengan cara yang
dijelaskan secara benar tepat
o Pasien dan keluarga mampu o Gambarkan proses penyakit, dengan cara
menjelaskan kembali apa yang yang tepat
dijelaskan perawat/tim kesehatan o Identifikasi kemungkinan penyebab,
lainnya. dengna cara yang tepat
o Sediakan informasi pada pasien tentang
kondisi, dengan cara yang tepat
o Hindari jaminan yang kosong
o Sediakan bagi keluarga atau SO informasi

20
tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
o Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan
atau proses pengontrolan penyakit
o Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
o Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara
yang tepat atau diindikasikan
o Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
o Rujuk pasien pada grup atau agensi di
komunitas lokal, dengan cara yang tepat
o Instruksikan pasien mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara yang
tepat.
5. Resiko Infeksi Kontrol infeksi 1.kontrol infeksi intra operasi
Selama dilakukan tindakan operasi  gunakan pakaian khusus ruang
tidak terjadi transmisi agent infeksi. operasi
Indikator:
 Pertahankan prinsip aseptic dan
Alat dan bahan yang dipakai tidak antiseptik
terkontaminasi  Ciptakan lingkungan ( alat-alat,
berbeden dan lainnya) yang nyaman
dan bersih terutama setelah digunakan
oleh pasien
 Gunakan alat-alat yang baru dan

21
berbeda setiap akan melakukan
tindakan keperawatan ke pasien
2.Manajemen Lingkungan
 Pindahkan pasien dari lingkungan
yang berbahaya
 Pindahkan benda yang berbahaya dari
lingkungan pasien
 Gunakan peralatan yang streril
 Kontrol lingkungan pasien

3.Monitor Nutrisi
 Kontrol penyerapan makanan/cairan
dan menghitung intake kalori harian,
jika diperlukan
 Pantau ketepatan urutan makanan
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
harian
 Tentukan jimlah kalori dan jenis zat
makanan yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi, ketika
berkolaborasi dengan ahli makanan,
jika diperlukan
 Pastikan bahwa makanan berupa
makanan yang tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
 Beri pasien makanan dan minuman
tinggi protein, tinggi kalori, dan
bernutrisi yang siap dikonsumsi, jika

22
diperlukan
 Atur pemasukan makanan, jika
diperlukan

6. Gangguan body image Body image Body image enhancement


Self esteem o Kaji secara verbal dan
Setelah dilakukan nonverbal respon klien
tindakan keperawatan terhadap tubuhnya
selama …. gangguan o Monitor frekuensi mengkritik
body image dirinya
pasien teratasi dengan o Jelaskan tentang pengobatan,
kriteria hasil: perawatan, kemajuan dan
Body image positif prognosis penyakit
Mampu o Dorong klien mengungkapkan
mengidentifikasi perasaannya
kekuatan personal o Identifikasi arti pengurangan
Mendiskripsikan melalui pemakaian alat bantu
secara faktual o Fasilitasi kontak dengan
perubahan fungsi individu lain dalam kelompok
tubuh kecil
Mempertahankan
interaksi sosial

23
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Otitis media kronik adalah peradangan kronik pada telinga tengah yang
mengenai mukosa dan struktur tulang di dalam kavum timpani. Otitis Media
Kronis ( OMK ) adalah radang atau infeksi telinga tengah yang berlangsung dua
bulan atau lebih, dapat berlangsung secara terus-menerus atau kumat-kumatan.
Penyebabnya beragam, dimulai dari disebabkan oleh infeksi bakteri dan
virus sampai pengobatan dan perawatan terhadap otitis media akut yang tidak
adekuat menyebabkan terjadinya Otitis Media Kronik. Akibatnya adalah
seseorang akan mengalami gangguan pendengaran.
Adapun pengobatannya dengan memberikan antibiotik. Selain itu,
penatalaksanaannya juga bisa dengan pembedahan seperti timpanoplasti dan
mastoidektomi.

4.2 Saran
Sebagai perawat kita harus lebih banyak lagi memahami Otitis Media
Kronik sehingga kita bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
dengan benar baik itu berupa pendidikan kesehatan atau promosi kesehatan
maupun tindakan keperawatannya.

24