Anda di halaman 1dari 499

THE LISTERDALE MYSTERY AND

OTHER STORIES
1934

by Agatha Christie

MISTERI LISTERDALE DAN KISAH KISAH LAINNYA

Alih bahasa: Lanny Murtiharjana


Penerbit: PT Gramedia Jakarta, Juni 2005

Epub: clickers
http://epublover.wordpress.com

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


MISTERI LISTERDALE

MRS. ST VINCENT sedang menjumlahkan angka-


angka. Sekali-sekali ia menghela napas,
tangannya meraba kepalanya yang berdenyut-
denyut. Sejak dulu ia tidak suka aritmetika.
Sayang sekali belakangan ini hidupnya seakan
hanya terdiri atas angka-angka, penjumlahan
tak habis-habisnya atas pengeluaran-
pengeluaran kecil namun perlu, dengan total
akhir yang selalu membuatnya ketakutan.
Jumlahnya pasti tidak sebesar itu! Ia kembali
berkutat dengan angka-angka tersebut.
Memang ada kesalahan kecil saat ia menghitung
angka sen, tapi di luar itu angka-angkanya
benar.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mrs. St Vincent menghela napas sekali lagi.
Sekarang sakit kepalanya benar-benar tak
tertahankan. Ia menoleh saat pintu terbuka dan
Barbara, putrinya, melangkah masuk. Barbara St
Vincent gadis yang sangat cantik; ia mewarisi
roman elok ibunya yang halus, dan gerak
menoleh yang sama anggunnya, tapi warna
matanya hitam, bukannya biru, dan bentuk
mulutnya pun berbeda, dengan bibir merah
yang merajuk namun menarik.
"Oh! Ibu," serunya. "Masih saja bergulat dengan
rekening-rekening lama yang menyebalkan itu?
Buang saja ke dalam api."
"Kita harus tahu posisi kita," ujar Mrs. St
Vincent ragu. Gadis itu angkat bahu.
"Dari dulu posisi kita begini-begini saja,"
sahutnya acuh tak acuh. "Selalu saja kekurangan
uang. Sampai sen terakhir seperti biasanya."
Mrs. St Vincent menghela napas. "Seandainya
saja...," keluhnya, lalu berhenti.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku harus mendapatkan pekerjaan," sergah
Barbara getir. "Segera. Lagi pula, aku sudah ikut
kursus steno dan mengetik. Tapi sejuta gadis
lain juga mengambil kursus yang sama! 'Punya
pengalaman apa?' 'Tidak ada, tapi...' 'Oh!
Terima kasih, selamat pagi. Kami akan
mengabari Anda.' Tapi mereka tidak pernah
mengabari apa-apa! Aku harus menemukan
pekerjaan lain-pekerjaan apa saja."
"Jangan dulu, Sayang," pinta ibunya. "Tunggulah
beberapa waktu lagi."
Barbara menuju jendela dan menatap kosong
ke luar, tanpa melihat deretan rumah suram di
seberang jalan.
"Kadang-kadang," ujarnya perlahan, "aku
menyesal mengapa Sepupu Amy mengajakku ke
Mesir musim dingin yang lalu. Oh! Aku memang
menikmatinya-satu-satunya kesenangan yang
pernah kurasakan dalam hidupku, yang
mungkin takkan pernah terulang kembali. Aku
memang menikmatinya-amat sangat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menikmatinya. Tapi aku juga jadi gelisah.
Maksudku... karena kembali ke kehidupan
seperti ini. "
Ia menyapukan lengan keliling ruangan. Mrs. St
Vincent mengikuti gerakan itu dengan matanya,
lalu mengernyit. Ruangan itu berisi perabotan
khas pondokan murah. Tanaman aspidistra
berdebu, perabotan dengan ornamen
mencolok, dan kertas dinding bercorak norak
yang sudah luntur di sana-sini. Tampak tanda-
tanda bahwa kepribadian penyewa bertabrakan
dengan selera sang induk semang; ada satu-dua
benda porselen yang sudah retak-retak dan
diperbaiki, hingga tak bernilai sama sekali kalau
ingin dijual, sehelai kain bersulam yang
disampirkan di sandaran sofa, sketsa cat air
yang menggambarkan gadis muda dengan gaya
dua puluh tahun silam, cukup mirip dengan
sosok Mrs. St Vincent.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tak mengapa," lanjut Barbara, "seandainya kita
tidak pernah tinggal di tempat lain. Tapi kalau
mengingat Ansteys..."
Ia terdiam, tidak berani melanjutkan bicara
tentang rumah tercinta yang pernah berabad-
abad menjadi milik keluarga St Vincent, dan
yang sekarang sudah menjadi milik orang-orang
asing. "Kalau saja Ayah... tidak berspekulasi...
dan meminjam..."
"Sayangku," ujar Mrs. St Vincent, "sejak dulu
ayahmu tidak berbakat menjadi pengusaha."
Ia mengucapkannya dengan ketegasan anggun,
dan Barbara menghampiri serta memberinya
kecupan sekilas, sambil bergumam, "Mama
yang malang, aku takkan berkata apa-apa lagi."
Mrs. St Vincent mengambil penanya kembali,
lalu membungkuk di atas mejanya. Barbara
melangkah ke jendela lagi. Ia berkata,
"Ibu, aku mendengar dari... dari Jim Masterton
pagi ini. Dia ingin kemari dan mengunjungiku."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mrs. St Vincent meletakkan penanya dan
menatap tajam. "Di sini?" serunya.
"Hm, kita kan tak mungkin mengundangnya
makan malam di Ritz," ejek Barbara.
Ibunya tampak sedih. Lagi-lagi ia memandang
keliling ruangan itu dengan rasa kurang suka.
"Ibu benar," kata Barbara. "Ini memang tempat
yang menyebalkan. Kemiskinan terselubungi
Kedengarannya cukup lumayan-pondok bercat
putih di pedesaan, kain katun warna-warni
bercorak indah yang sudah lusuh, vas dengan
bunga-bunga mawar, peralatan minum teh
Derby yang dicuci sendiri. Mirip kisah di buku-
buku. Padahal sebenarnya, dengan anak laki-laki
yang baru mulai bekerja di kantor dari jenjang
paling bawah, ini berarti London. Induk-induk
semang jorok, anak-anak kotor yang bermain di
tangga, sesama penyewa yang sepertinya selalu
dari golongan bawah, ikan laut yang tidak
begitu... tidak begitu dan seterusnya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Kalau saja...," ujar Mrs. St Vincent lagi. "Tapi,
sungguh, aku mulai khawatir kalau-kalau kita
bahkan tidak mampu lagi menyewa ruangan
ini."
"Itu berarti kamar tidur merangkap ruang
duduk-betapa mengerikan!-untuk Ibu dan aku,"
sahut Barbara. "Dan lemari di bawah tegel
untuk Rupert. Dan bila Jim datang berkunjung,
aku harus menemuinya di ruangan bawah,
dengan kucing-kucing betina yang merajut di
sepanjang dinding, memelototi kami, dan
terbatuk-batuk menjijikkan!"
Hening sejenak.
"Barbara," ujar Mrs. St Vincent akhirnya. "Apa
kau... maksudku... apa kau...?" Ia terdiam,
wajahnya memerah.
"Tidak usah malu-malu, Bu," kata Barbara.
"Zaman sekarang tak ada lagi yang malu-malu.
Kurasa maksud Ibu, menikah dengan Jim? Aku
mau sekali kalau dia memintaku. Tapi aku

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


begitu khawatir dia takkan melakukannya." "Oh,
Barbara, sayangku."
"Hm, beda sekali saat aku bepergian bersama
Sepupu Amy, bergaul (seperti sering kita baca di
cerpen) dengan kalangan atas. Jim benar-benar
suka padaku. Sekarang dia akan kemari dan
melihatku dalam lingkungan seperti ini! Dan dia
orang yang sangat aneh, cerewet, dan kuno.
Aku... aku justru agak menyukainya karena
sifatnya itu. Ini mengingatkanku pada Ansteys
dan kampung halaman kita-segalanya
ketinggalan seratus tahun, tapi begitu...
begitu... oh! Entahlah-begitu harum. Bagaikan
bunga lavender!"
Ia tertawa, setengah tersipu karena hasratnya
itu. Mrs. St Vincent berbicara dengan lugu.
"Aku suka bila kau menikah dengan Jim
Masterton," ujarnya. "Dia... salah seorang dari
kita. Dia juga kaya, tapi aku tidak begitu
memedulikan ini."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku peduli," sahut Barbara. "Aku sudah bosan
kekurangan uang terus." "Tapi, Barbara, ini
bukan..."
"Semata-mata karena itu? Tidak. Aku benar-
benar peduli. Aku... oh! Ibu, tidakkah Ibu
melihat bahwa aku ingin kaya?"
Mrs. St Vincent tampak sangat sedih.
"Andai dia bisa melihatmu dalam keadaan
pantas, Sayang," ujarnya prihatin.
"Oh, sudahlah!" sahut Barbara. "Kenapa harus
bingung? Kita sebaiknya mencoba bersikap
ceria. Maaf kalau aku tadi menggerutu seperti
itu. Senyumlah, Sayang."
Barbara membungkuk mengecup kening ibunya,
lalu melangkah keluar. Mrs. St Vincent
meninggalkan sejenak masalah keuangan, lalu
duduk di sofa yang tidak nyaman. Pikirannya
terus berputar-putar, bagaikan tupai di dalam
sangkar.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Orang boleh mengatakan apa saja, tapi
penampilan memang mampu membuat pria
mundur teratur. Faktor itu tidak penting
seandainya mereka sudah benar-benar
bertunangan. Ketika itu dia akan tahu betapa
manisnya putriku. Tapi kaum muda begitu
mudah menyerap nuansa lingkungan sekitar
mereka. Rupert, misalnya, sudah berubah.
Bukannya aku ingin anak-anakku jadi pongah.
Sama sekali tidak. Tapi aku benci kalau sampai
Rupert bertunangan dengan gadis menyebalkan
dari toko pedagang tembakau itu. Aku yakin
gadis itu mungkin sangat baik. Tapi dia bukan
dari kalangan kami. Sulit sekali semua ini.
Kasihan Babs-ku yang malang. Kalau saja aku
bisa berbuat sesuatu-apa saja. Tapi dari mana
uang untuk itu? Kami sudah menjual segalanya
untuk modal awal Rupert. Meski kami
sebenarnya tidak mampu melakukannya."
Untuk mengalihkan perhatiannya, Mrs. St
Vincent meraih koran Morning Post, dan melirik
halaman depan yang memuat iklan. Mereka

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


yang menginginkan modal, mereka yang punya
modal dan ingin melepaskannya cukup dengan
tanda tangan saja, orang-orang yang ingin
membeli gigi (sejak dulu ia selalu bertanya-
tanya untuk apa), mereka yang ingin menjual
mantel bulu dan gaun-gaun, dan yang punya
bayangan optimis mengenai harganya.
Tiba-tiba perhatiannya tersentak. Dibacanya
iklan yang satu ini berulang-ulang. "Rumah kecil
di Westminster, lengkap dengan perabotan
indah, ditawarkan pada mereka yang mau
merawatnya dengan baik. Ongkos sewa rendah.
Tanpa perantara."
Iklan yang sangat umum. Ia sudah sering
membaca iklan serupa-atau hampir serupa.
Ongkos sewa rendah, di situlah letak
jebakannya.
Meski demikian, mengingat ia merasa gelisah
dan ingin sekali melarikan diri dari pikirannya, ia
langsung mengenakan topi, dan naik bus

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menuju alamat yang tercantum dalam iklan
tadi.
Ternyata itu alamat agen perumahan. Bukan
perusahaan baru yang sedang berkembang-tapi
tempat bergaya kuno yang agak tua. Dengan
malu-malu Mrs. St Vincent mengeluarkan iklan
yang telah disobeknya dari koran, dan meminta
beberapa keterangan khusus.
Pria tua berambut putih yang melayaninya
membelai dagunya sambil merenung.
"Tepat. Ya, tepat, Madam. Rumah yang
disebutkan dalam iklan itu terletak di No. 7
Cheviot Place. Apa Anda mau menyewanya?"
"Saya ingin tahu ongkos sewanya terlebih dulu,"
ujar Mrs. St Vincent.
"Ah! Ongkos sewanya. Jumlahnya belum
ditetapkan, tapi saya bisa memastikan angkanya
benar-benar rendah." "Bayangan orang
mengenai apa yang benar-benar rendah bisa

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


berbeda-beda," sahut Mrs. St Vincent. Pria tua
itu tertawa kecil.
"Ya, itu tipu muslihat lama-akal bulus lama. Tapi
Anda boleh memegang perkataan saya, ini
bukan muslihat. Mungkin sewanya dua atau tiga
guinea saja (sekitar 40 atau 60 shilling) per
minggu, tidak lebih."
Mrs. St Vincent memutuskan untuk
menyewanya. Tentu saja bukan karena ada
kemungkinan ia mampu menempatinya. Namun
setidaknya ia ingin melihat rumah itu. Pasti ada
sebabnya, mengapa rumah itu disewakan begitu
murah.
Namun hatinya terlonjak saat memandang
bagian luar 7 Cheviot Place. Rumah itu benar-
benar cantik. Model Queen Anne, dan dalam
kondisi sempurna! Seorang kepala pelayan
membukakan pintu. Rambut dan cambangnya
sudah beruban, dan sikap tenangnya mirip
Uskup Kepala. Uskup Kepala yang ramah, Mrs.
St Vincent membatin.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia menjalankan perintah dengan sikap siap
membantu.
"Tentu saja, Madam. Saya akan mengantar
Anda melihat-lihat. Rumah ini sudah siap
ditempati."
Ia berjalan mendahului Mrs. St Vincent sambil
membukakan pintu-pintu dan menyebut setiap
ruangan.
"Ini ruang tamu, ruang kerja putih, dan ruang
penyimpanan di sebelah sini, Madam."
Benar-benar sempurna-seperti mimpi. Seluruh
perabotan mengikuti zaman, tampak sudah
digunakan, namun terawat sangat baik.
Permadaninya yang cantik bernuansa redup.
Dalam setiap ruangan terlihat bunga-bunga
segar dalam jambangan. Bagian belakang rumah
itu menghadap Green Park. Seluruh tempat itu
memancarkan pesona hangat.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mata Mrs. St Vincent berkaca-kaca, dan ia
berusaha keras menahan air matanya. Seperti
inilah Ansteys dulu- Ansteys...
Ia bertanya-tanya apakah kepala pelayan itu
memerhatikan gejolak emosinya. Bila demikian,
kepala pelayan itu pasti sudah amat sangat
terlatih, sehingga tidak menunjukkannya. Mrs.
St Vincent menyukai pelayan-pelayan tua
seperti ini; orang akan merasa aman dan
tenteram bersama mereka. Mereka bagaikan
teman saja.
"Rumah ini indah sekali," ujarnya perlahan.
"Sangat cantik. Saya senang bisa melihatnya."
"Apakah ini untuk Anda sendiri, Madam?"
"Untuk saya dan putra serta putri saya. Tapi
saya khawatir..."
Ia terhenti. Ia begitu menginginkannya-teramat
menginginkannya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Secara naluriah ia merasa kepala pelayan itu
memahaminya. Kepala pelayan itu tidak melihat
ke arahnya saat berbicara dengan gaya tak
acuh,
"Saya kebetulan tahu, Madam, bahwa pemilik
rumah ini lebih mementingkan penyewa yang
cocok. Baginya, ongkos sewa tidaklah penting.
Dia ingin rumah ini disewakan pada orang yang
benar-benar mau merawat dan
menghargainya."
"Saya sangat menghargainya," ujar Mrs. St
Vincent lirih.
Ia membalikkan badan dan bersiap-siap pergi.
"Terima kasih sudah mengantar saya melihat-
lihat," ujarnya sopan.
"Sama-sama, Madam."
Pria itu berdiri tegak di pintu, sementara Mrs. St
Vincent menyusuri jalan. Ia membatin, "Dia
tahu. Dia merasa kasihan padaku. Dia juga

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


termasuk generasi lama. Dia ingin aku
menempatinya-bukan orang dari kalangan
buruh atau pengusaha kancing! Jenis kami
sudah semakin langka, tapi kami bersatu."
Ujung-ujungnya ia memutuskan untuk tidak
kembali ke agen perumahan itu. Apa gunanya?
Ia memang mampu membayar ongkos sewanya-
tapi masih ada para pelayan yang harus
dipertimbangkan. Dalam rumah seperti itu
diperlukan pelayan.
Keesokan paginya ia menemukan surat di atas
piringnya. Dari agen perumahan yang
menawarkan penyewaan 7 Cheviot Place
selama enam bulan dengan ongkos dua guinea
seminggu, ditambah keterangan: "Kami
beranggapan Anda telah memahami bahwa
para pelayan tetap menjadi tanggungan
pemiliknya? Ini benar-benar penawaran yang
unik."
Memang. Mrs. St Vincent begitu terkejut,
sampai-sampai membaca surat itu keras-keras.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Berbagai pertanyaan menyerangnya bertubi-
tubi, dan ia pun menjelaskan kunjungannya
kemarin.
"Mama yang penuh rahasia!" seru Barbara.
"Apa rumah itu benar-benar seindah itu?"
Rupert berdeham dan mulai melancarkan
berbagai pertanyaan menyelidik.
"Pasti ada udang di balik batu. Menurutku ini
mencurigakan. Jelas-jelas mencurigakan."
"Benarkah begitu?" sahut Barbara sambil
mengernyitkan hidung. "Huh! Mengapa pula
harus ada udang di baliknya? Memang khas
gayamu, Rupert, selalu saja mereka-reka
misteri. Ini pasti gara-gara kisah-kisah detektif
yang selalu kaubaca itu."
"Penyewaan rumah itu cuma alasan saja," sahut
Rupert. "Di kota," tambahnya sok tahu, "orang
terbiasa dengan segala macam kejadian aneh.
Percayalah, ini benar-benar mencurigakan."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Omong kosong," sergah Barbara. "Rumah itu
milik orang kaya-raya, dia sangat menyukainya,
dan dia mau rumahnya ditempati orang-orang
yang pantas selama dia pergi. Semacam itulah.
Uang mungkin tidak jadi masalah baginya."
"Alamatnya di mana tadi?" tanya Rupert pada
ibunya. "Cheviot Place No. 7."
"Wah!" Ia mendorong kursinya. "Menurutku ini
baru seru. Itu rumah tempat Lord Listerdale
menghilang." "Apa kau yakin?" tanya Mrs. St
Vincent ragu.
"Yakin sekali. Dia memiliki beberapa rumah
yang tersebar di seluruh London, tapi rumah
itulah yang ditempatinya. Suatu malam dia
keluar rumah dan mengatakan akan pergi ke
klub, tapi sejak itu tak ada yang pernah
melihatnya kembali. Kata orang, dia pergi
mendadak ke Afrika Timur atau semacamnya,
tapi tidak ada yang tahu mengapa. Ada
kemungkinan dia dibunuh di rumah itu. Kata Ibu
di rumah itu banyak papannya?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Be... betul," jawab Mrs. St Vincent ragu,
"tapi..."
Rupert tidak memberinya kesempatan lagi.
Dengan penuh semangat ia melanjutkan.
"Papan! Nah, pasti ada ceruk di dinding entah di
mana. Tubuh korban dijejalkan di situ, dan sejak
itu tetap berada di sana. Mungkin mayatnya
sudah dibalsem terlebih dulu." "Rupert, Sayang,
jangan meracau," tegur ibunya.
"Jangan berlagak tolol seperti idiot," sembur
Barbara. "Kau sudah terlalu sering mengajak si
pirang itu ke bioskop."
Rupert bangkit dengan penuh gengsi-sejauh
yang dimungkinkan sosoknya yang kurus tinggi
dan usianya yang tanggung itu; ia memberikan
ultimatum terakhir.
"Sewalah rumah itu, Ma. Aku akan membongkar
misterinya. Lihat saja nanti." Rupert bergegas
meninggalkan ruangan, khawatir terlambat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sampai ke kantor. Kedua wanita itu saling
pandang.
"Bisakah kita, Ibu?" gumam Barbara gemetar.
"Oh! Seandainya saja kita bisa."
"Para pelayan," ujar Mrs. St Vincent sedih,
"harus makan, kau tahu. Maksudku, tentu saja
mereka harus makan- tapi justru di situlah letak
kekurangannya. Orang bisa begitu mudah-hidup
tanpa hal-hal tertentu-bila cuma seorang diri."
Ia menatap iba pada Barbara, dan gadis itu
mengangguk. "Kita harus memikirkannya
kembali," kata sang ibu.
Namun di benaknya ia sudah membuat
keputusan. Ia telah melihat binar di mata gadis
itu. Ia berkata dalam hati, "Jim Masterton harus
melihatnya dalam lingkungan yang pantas.
Inilah kesempatannya-kesempatan bagus sekali.
Aku harus meraihnya."
Mrs. St Vincent duduk dan menulis pada agen
untuk menerima penawaran mereka.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


***

"Quentin, dari mana datangnya bunga-bunga lili


ini? Aku tidak mampu membeli bunga-bunga
mahal." "Bunga-bunga ini dikirim dari King's
Cheviot, Madam. Ini kebiasaan di sini sejak
dulu."
Kepala pelayan itu mengundurkan diri. Mrs. St
Vincent menarik napas lega. Apa yang harus
diperbuatnya tanpa Quentin? Ia membuat
segala hal begitu mudah. Ia berpikir dalam hati,
"Ini terlalu indah untuk bisa bertahan. Aku akan
segera terbangun, aku tahu itu, dan menyadari
bahwa semua ini ternyata cuma mimpi. Aku
begitu bahagia di sini- sudah dua bulan, dan
rasanya begitu singkat."
Kehidupan memang sangat menyenangkan.
Quentin, sang kepala pelayan, telah
menyatakan diri sebagai otokrat 7 Cheviot

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Place. "Bila Anda mau menyerahkan segala
sesuatu pada saya, Madam," ujarnya penuh
hormat, "Anda akan mendapatkan yang
terbaik."
Setiap minggu Quentin membawakan
pembukuan rumah tangga dengan angka-angka
sangat rendah. Di rumah itu hanya ada dua
pelayan lain, yakni juru masak dan pembantu
rumah tangga. Tutur kata mereka
menyenangkan, dan mereka efisien dalam
mengerjakan tugas, tapi Quentin-lah yang
mengendalikan pengaturan rumah. Ada kalanya
daging binatang buruan dan unggas terhidang di
meja, yang menyebabkan Mrs. St Vincent
khawatir. Quentin lalu akan menenangkannya.
Alasannya, daging itu dikirim dari King's Cheviot,
vila Lord Listerdale, atau dari tambatan
perahunya di Yorkshire. "Ini sudah jadi
kebiasaan sejak dulu, Madam."
Diam-diam Mrs. St Vincent meragukan apakah
Lord Listerdale yang tidak berada di tempat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


setuju dengan kata-kata itu. Ia cenderung
mencurigai Quentin melangkahi otoritas
majikannya. Sudah jelas ia menyukai mereka,
dan di matanya tak ada yang terlampau baik
buat mereka.
Berhubung rasa ingin tahunya tergugah karena
komentar Rupert, Mrs. St Vincent sekilas
menyinggung soal Lord Listerdale ketika ia
berbincang lagi dengan agen perumahan. Pria
tua berambut putih itu langsung menanggapi.
Ya, Lord Listerdale berada di Afrika Timur sejak
delapan belas bulan yang lalu.
"Klien kami ini agak eksentrik," ujarnya sambil
tersenyum lebar. "Mungkin Anda masih ingat
bagaimana dia meninggalkan London dengan
cara yang sama sekali di luar kebiasaan? Dia
tidak meninggalkan pesan pada siapa pun.
Koran-koran mencium berita ini. Orang bahkan
menanyakannya ke Scotland Yard. Untung saja
Lord Listerdale sendiri mengirim berita dari
Afrika Timur. Dia menetapkan Kolonel Carfax,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sepupunya, sebagai penggantinya dengan kuasa
hukum pengacara. Yang disebut belakangan
inilah yang mengatur semua urusan Lord
Listerdale. Ya, agak eksentrik memang. Sejak
dulu dia senang berkelana di alam bebas-
sepertinya sudah ditentukan bahwa dia takkan
kembali ke London selama bertahun-tahun,
meskipun usianya semakin bertambah."
"Umurnya pasti belum begitu tua," ujar Mrs. St
Vincent, sambil membayangkan wajah sangar
berjenggot mirip pelaut dari zaman Elizabeth,
yang pernah dilihatnya di majalah bergambar.
"Usia pertengahan," ujar pria berambut putih
itu. "Menurut Debrett, lima puluh tiga."
Mrs. St Vincent mengulangi percakapan ini pada
Rupert, dengan tujuan menegur anak muda itu.
Tapi Rupert tidak mau mundur.
"Urusan ini tampak semakin mencurigakan
saja," ucapnya. "Siapa pula si Kolonel Carfax ini?
Kalau terjadi sesuatu dengan Listerdale, dia

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mungkin akan memperoleh gelar. Surat dari
Afrika Timur itu mungkin saja dipalsukan. Dalam
waktu tiga tahun, atau kapan pun, si Carfax ini
akan mengumumkan kematian Listerdale dan
meraih gelarnya. Sementara itu, dialah yang
mengurus seluruh estat. Aku menyebutnya
sangat mencurigakan."
Ia telah mengakui dengan rendah hati bahwa ia
menyukai rumah itu. Di waktu senggangnya, ia
cenderung ingin mengetuk bilah-bilah papan,
dan mengukur dengan teliti untuk mencari
kemungkinan adanya ruangan rahasia, namun
sedikit demi sedikit minatnya pada misteri Lord
Listerdale semakin pupus. Ia juga tidak begitu
tertarik lagi pada putri pedagang tembakau itu.
Ini terasa sekali.
Bagi Barbara, rumah ini sangat memuaskan. Jim
Masterton sudah datang berkunjung dan sering
bertandang. Ia dan Mrs. St Vincent semakin
akrab saja, dan suatu hari ia mengutarakan
sesuatu yang mengejutkan Barbara.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Rumah ini lingkungan yang cocok sekali untuk
ibumu."
"Untuk Ibu?"
"Ya. Rumah ini memang disediakan untuknya!
Dia begitu serasi dengan tempat ini. Kau bisa
merasakan sesuatu yang ganjil dengan rumah
ini, sesuatu yang aneh dan menghantui."
"Jangan seperti Rupert," Barbara memohon
padanya. "Dia yakin Kolonel Carfax yang jahat
itu telah membunuh Lord Listerdale dan
menyembunyikan mayatnya di bawah lantai."
Masterton tertawa.
"Aku mengagumi semangat detektif Rupert.
Tidak, yang kumaksud bukan itu. Tapi ada
sesuatu di udara, suatu atmosfer yang sulit
dipahami."
Mereka sudah menempati Cheviot Place tiga
bulan lamanya ketika Barbara menghampiri
ibunya dengan wajah berseri-seri.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Jim dan aku... sudah bertunangan. Ya-
semalam. Oh, Ibu! Ini bagaikan dongeng yang
jadi kenyataan." "Oh, sayangku! Aku begitu
senang-sangat senang." Ibu dan anak itu saling
berpelukan.
"Ibu tahu, Jim hampir sama jatuh cintanya pada
Ibu seperti padaku," ujar Barbara akhirnya,
sambil tertawa nakal. Mrs. St Vincent tersipu
hingga tampak sangat cantik.
"Sungguh," gadis itu bersikeras. "Ibu menyangka
rumah ini akan menjadi lingkungan yang bagus
untukku, padahal selama ini justru menjadi
lingkungan yang cocok bagi Ibu. Rupert dan aku
tidak begitu serasi dengan tempat ini. Tapi Ibu
serasi sekali."
"Jangan bicara ngawur, Sayang."
"Ini bukan ngawur. Ada suasana kastil yang
terkena pesona sihir di sini, dan Ibu-lah putri
yang kena sihir, sedangkan Quentin adalah...
adalah... oh! Sang penyihir yang baik." Mrs. St

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Vincent tergelak, dan mengakui hal terakhir
tadi. Rupert menanggapi pertunangan saudara
perempuannya dengan tenang. "Aku sudah
menduga ada sesuatu yang mengarah ke sana,"
ujarnya bijaksana. Rupert dan ibunya sedang
makan malam berdua; Barbara sedang keluar
bersama Jim. Quentin meletakkan botol anggur
di depannya, dan mengundurkan diri tanpa
bicara.
"Dia aneh sekali," ujar Rupert sambil
mengangguk ke arah pintu yang tertutup itu.
"Ada yang ganjil dengan dirinya, sesuatu..."
"Yang tidak mencurigakan?" sela Mrs. St
Vincent sambil tersenyum simpul.
"Wah, Ibu, bagaimana Ibu bisa menebak apa
yang akan kukatakan?" ia bertanya serius.
"Itu kan cuma istilah yang sering kaugunakan,
Sayang. Kau menganggap segala hal
mencurigakan. Kurasa kau beranggapan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Quentin-lah yang menghabisi Lord Listerdale
dan menyembunyikannya di bawah lantai?"
"Di balik papan," Rupert memperbaiki. "Ibu
selalu saja keliru. Tidak, aku sudah menyelidiki
hal itu. Ketika itu Quentin sedang berada di
King's Cheviot."
Mrs. St Vincent tersenyum padanya sambil
bangkit dari meja, dan melangkah ke ruang
tamu. Dalam beberapa hal, Rupert tampak
begitu cepat dewasa.
Namun untuk pertama kalinya ia bertanya-
tanya, apa alasan Lord Listerdale meninggalkan
London dengan tiba-tiba seperti itu. Pasti ada
sesuatu di baliknya, mengingat keputusan
mendadak itu. Ia masih memikirkan hal tersebut
saat Quentin masuk membawa nampan kopi,
dan Mrs. St Vincent pun berkata dengan
impulsif.
"Kau sudah cukup lama bersama Lord
Listerdale, bukan, Quentin?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Betul, Madam; sejak saya berusia dua puluh
satu. Di masa Lord yang sudah almarhum. Saya
mengawali sebagai pelayan biasa."
"Kau tentunya sangat mengenal Lord Listerdale.
Orang seperti apakah dia?"
Kepala pelayan itu memutar nampannya sedikit,
agar Mrs. St Vincent bisa lebih mudah
menyendok gulanya, sementara Quentin
menjawab datar,
"Dulu Lord Listerdale orang yang sangat egois,
Madam. Dia tidak pernah memedulikan orang
lain."
Ia menyingkirkan nampan, lalu membawanya
keluar. Mrs. St Vincent duduk sambil
memegangi cangkir kopinya dan mengerutkan
kening. Terlepas dari pandangannya, ucapan
Quentin terasa aneh. Dalam sekejap ia pun
sadar.
Quentin menggunakan istilah "dulu", bukannya
"sekarang". Bagaimanapun, Quentin tentunya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


berpikir-tentunya percaya... Mrs. St Vincent
bangkit berdiri. Dirinya sama payahnya dengan
Rupert! Tapi perasaan tidak enak merayapi
benaknya. Sejak itu ia mulai curiga terhadap
sang pelayan.
Setelah kebahagiaan dan masa depan Barbara
terjamin, Mrs. St Vincent punya waktu untuk
memikirkan dirinya sendiri, dan berlawanan
dengan kehendaknya, pikirannya mulai terpusat
pada misteri Lord Listerdale. Seperti apakah
kisah sebenarnya? Apa pun itu, Quentin pasti
tahu sesuatu tentang hal tersebut. Kata-katanya
sungguh aneh-"orang yang sangat egois-tidak
pernah memedulikan orang lain." Apa yang ada
di balik kata-kata itu? Ia bicara seperti hakim
saja, tidak memihak dan netral.
Apakah Quentin terlibat peristiwa
menghilangnya Lord Listerdale? Apakah ia turut
ambil bagian dalam tragedi apa pun yang
mungkin terjadi? Lagi pula, sekonyol apa pun
asumsi Rupert ketika itu, surat tunggal dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kuasa hukum yang dikirim dari Afrika Timur itu
memang layak dicurigai.
Namun sebesar apa pun usahanya, ia tak
percaya ada sesuatu yang jahat dalam diri
Quentin. Berulang kali ia mengatakan pada diri
sendiri bahwa Quentin orang yang baik-ia
menggunakan istilah ini sesederhana anak kecil.
Quentin orang yang baik. Tapi ia mengetahui
sesuatu!
Sejak itu Mrs. St Vincent tidak pernah lagi
membicarakan majikan Quentin dengannya.
Subjek itu sepertinya terlupakan. Rupert dan
Barbara memikirkan hal-hal lain, dan mereka
tidak mendiskusikannya lagi.
Sudah mendekati akhir bulan Agustus ketika
dugaannya yang samar-samar mengkristal
menjadi kenyataan. Rupert pergi berlibur
selama dua minggu bersama temannya yang
memiliki sepeda motor dan karavan. Pada hari
kesepuluh sejak kepergiannya, Mrs. St Vincent

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


terkejut melihatnya bergegas memasuki
ruangan tempat ia sedang menulis.
"Rupert!" serunya.
"Aku tahu, Bu. Ibu tidak menyangka aku akan
datang tiga hari lebih awal. Tapi sesuatu telah
terjadi. Anderson- temanku, Ibu tahu kan-tidak
peduli ke mana kami akan pergi, jadi aku
mengusulkan kami melihat-lihat ke King's
Cheviot..."
"King's Cheviot? Tapi untuk apa?"
"Ibu tahu betul bahwa sejak dulu aku merasa di
sini ada sesuatu yang mencurigakan. Nah, aku
mengunjungi tempat tua itu-dan ternyata... tak
ada apa pun di situ. Bukannya aku menduga
akan menemukan sesuatu-aku sekadar
menyelidiki saja."
Betul, pikir Mrs. St Vincent. Saat ini Rupert
sangat mirip anjing. Berputar-putar menyelidiki
sesuatu yang samar dan tidak jelas, didorong
oleh naluri, sangat asyik dan senang.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saat kami melewati desa sekitar sepuluh atau
sebelas kilometer, terjadilah hal itu-saat aku
melihatnya, maksudku."
"Melihat siapa?"
"Quentin-tepat ketika dia memasuki pondok
kecil. Aku berkata dalam hati, ini mencurigakan.
Kami menghentikan bus dan aku berjalan
kembali. Aku mengetuk pintu pondok itu, dan
dia sendiri yang membukakan pintu."
"Tapi aku tidak mengerti. Quentin tidak pernah
pergi..."
"Aku baru mau menjelaskannya, Bu. Tolong
dengarkan saja dan jangan menyela. Orang itu
Quentin, tapi bukan Quentin, kalau Ibu paham
maksudku."
Mrs. St Vincent jelas-jelas tidak paham, jadi
Rupert menguraikannya lebih lanjut. "Orang itu
memang Quentin, tapi bukan Quentin kita. Ini
Quentin yang asli." "Rupert!"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Dengarkan. Tadinya aku sendiri pun terkecoh
dan berkata, 'Anda Quentin, bukan?' Dan orang
tua itu menjawab, 'Betul, Sir, itu memang
namaku. Bisa kubantu?' Kemudian aku
menyadari dia bukan pelayan kita, meskipun
sangat mirip, termasuk suaranya. Aku
mengajukan beberapa pertanyaan, dan kisah
sebenarnya pun keluar semua. Laki-laki tua itu
tidak tahu sama sekali ada sesuatu yang tidak
beres sedang terjadi. Dia memang pernah jadi
kepala pelayan Lord Listerdale, dan menjalani
pensiun dengan mendapat pesangon serta
pondok ini kurang-lebih bersamaan dengan
kepergian Lord Listerdale ke Afrika. Ibu lihat ke
mana arahnya. Orang ini penipu-dia memainkan
peran Quentin untuk tujuannya sendiri. Teoriku
adalah, malam itu dia ke kota, menyamar
sebagai kepala pelayan dari King's Cheviot,
diwawancarai Lord Listerdale yang dibunuhnya,
lalu menyembunyikan mayatnya di balik papan.
Ini rumah tua, pasti ada ceruk rahasia..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Oh, jangan kita ulangi lagi masalah itu," sela
Mrs. St Vincent gusar. "Aku tidak tahan. Kenapa
dia harus-itulah yang ingin kuketahui-kenapa?
Seandainya dia benar melakukan hal seperti itu-
yang sama sekali tidak kupercayai, ingat itu-apa
alasannya untuk semua ini?"
"Ibu benar," ujar Rupert. "Motif-itulah yang
penting. Sekarang aku sudah menyelidiki. Lord
Listerdale memiliki banyak properti rumah.
Dalam dua hari terakhir ini aku menemukan
bahwa selama delapan belas bulan terakhir ini,
praktis setiap rumah miliknya telah disewakan
pada orang-orang seperti kita, dengan ongkos
sewa sangat murah- dengan ketentuan bahwa
para pelayannya tetap tinggal. Dan dalam setiap
kasus, Quentin sendiri-maksudku orang yang
menyebut dirinya Quentin-sudah berperan
sebagai kepala pelayan untuk beberapa waktu.
Sepertinya ada sesuatu-perhiasan, atau surat-
surat berharga-yang disembunyikan di salah
satu rumah Lord Listerdale, dan kelompok itu
tidak tahu rumah yang mana. Aku berasumsi

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


bahwa ini ulah sebuah kelompok, tapi tentu saja
si Quentin ini mungkin bekerja seorang diri. Ada
suatu..."
Mrs. St Vincent menyela tegas,
"Rupert! Hentikan omonganmu sebentar. Kau
membuat kepalaku pusing. Lagi pula, apa yang
kaukatakan itu omong kosong-soal kelompok
dan kertas-kertas berharga yang disembunyikan
itu."
"Masih ada teori lainnya lagi," Rupert mengakui.
"Si Quentin ini mungkin saja orang yang pernah
disakiti Lord Listerdale. Kepala pelayan yang asli
bercerita banyak tentang orang bernama
Samuel Lowe-pembantu tukang kebun dengan
perawakan kurang-lebih sama dengan Quentin
sendiri. Dia sakit hati terhadap Listerdale..."
Mrs. St Vincent tersentak.
"Yang tidak pernah memedulikan orang lain."
Kata-kata itu terngiang kembali, berikut aksen
datar dan tenang orang yang mengucapkannya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kata-kata yang tidak memadai, tapi apa makna
di baliknya?
Karena begitu tenggelam dalam lamunannya
sendiri, ia nyaris tidak mendengarkan Rupert.
Putranya menjelaskan sesuatu dengan cepat
yang tidak diserap oleh sang ibu, dan bergegas
meninggalkan ruangan.
Kemudian Mrs. St Vincent pun tersadar. Ke
mana perginya Rupert tadi? Apa yang akan
dilakukannya? Mrs. St Vincent tidak menangkap
kata-katanya yang terakhir. Mungkin ia hendak
melapor pada polisi. Kalau begitu...
Mrs. St Vincent bangkit dan membunyikan
lonceng. Seperti biasanya, Quentin langsung
datang.
"Anda membunyikan lonceng, Madam?"
"Ya. Silakan masuk dan tolong tutup pintunya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kepala pelayan itu menurut, dan untuk sesaat
Mrs. St Vincent diam saja sambil mengamatinya
dengan pandangan serius.
Pikirnya, "Dia sudah begitu baik padaku-tak
seorang pun tahu sebaik apa. Anak-anak takkan
mengerti. Kisah Rupert yang gila-gilaan ini
mungkin saja omong kosong belaka-tapi di lain
pihak, mungkin saja-ya, mungkin saja -ada
benarnya juga. Mengapa orang harus
menghakimi? Orang tidak bisa tahu. Maksudku,
kebenaran maupun ketidakbenarannya... Dan
aku akan mempertaruhkan hidupku-ya, akan
kulakukan itu!-bahwa dia orang yang baik."
Dengan wajah memerah dan suara gemetar,
Mrs. St Vincent berbicara.
"Quentin, Mr. Rupert baru saja kembali. Dia
telah mengunjungi King's Cheviot-ke sebuah
desa kecil di dekat situ..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia terhenti melihat sentakan yang tak mampu
disembunyikan Quentin. "Dia telah melihat...
seseorang," lanjutnya dengan tenang.
Dalam hati ia berpikir, "Nah-dia sudah
diperingatkan. Bagaimanapun, dia sudah
diperingatkan."
Sesudah tersentak sesaat, Quentin berhasil
memulihkan sikap tenangnya, namun
pandangannya melekat di wajah Mrs. St
Vincent, siaga dan tajam, ditambah sesuatu
yang belum pernah dilihat olehnya. Untuk
pertama kalinya, sorot mata itu bukan lagi milik
seorang pelayan, tapi seorang laki-laki.
Quentin ragu sesaat, lalu berbicara dengan
suara yang juga sudah berubah,
"Mengapa Anda menceritakan hal ini padaku,
Mrs. St Vincent?"
Sebelum Mrs. St Vincent sempat menjawab,
pintu terbuka lebar dan Rupert melangkah
masuk. Bersamanya ada seorang laki-laki di usia

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pertengahan dengan cambang dan sikap Uskup
Kepala yang murah hati, Quentin!
"Ini dia," kata Rupert. "Quentin yang asli. Aku
menyuruhnya menunggu di taksi. Nah, Quentin,
pandanglah laki-laki ini dan katakan padaku...
apakah dia Samuel Lowe?"
Bagi Rupert ini saat penuh kemenangan. Namun
hanya untuk sesaat, karena pada saat hampir
bersamaan ia merasa ada yang tidak beres.
Sebab sementara Quentin yang asli tampak
tersipu dan sangat salah tingkah, Quentin palsu
tersenyum-senyum lebar penuh kenikmatan
yang tidak dibuat-buat.
Ia menepuk punggung kembarannya.
"Tidak mengapa, Quentin. Kurasa akhirnya
rahasia ini harus dibongkar juga. Kau bisa
mengatakan pada mereka siapa aku."
Orang asing yang bermartabat itu menegakkan
diri.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ini, Sir," ia mengumumkan dengan nada
mencela, "adalah majikanku, Lord Listerdale."

***

Saat berikutnya terjadilah banyak hal. Pertama,


keruntuhan Rupert yang penuh percaya diri.
Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, dengan
mulut masih ternganga karena kaget, ia
mendapati dirinya dituntun dengan lembut
menuju pintu, dan suara ramah yang tidak biasa
didengarnya pun berkata,
"Tidak mengapa, Nak. Tak ada yang celaka. Tapi
aku ingin bicara dengan ibumu. Kerjamu bagus
sekali, menyelidiki aku seperti ini."
Rupert terpaku di luar, sambil menatap pintu
yang tertutup. Quentin yang asli berdiri di
sampingnya, dan serangkaian penjelasan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mengalir dari bibirnya. Di dalam ruangan, Lord
Listerdale berhadapan dengan Mrs. St Vincent.
"Biar kujelaskan-kalau bisa! Sepanjang umurku
aku seperti setan egois-aku menyadari fakta ini
pada suatu hari. Pikirku, untuk selingan aku
ingin mencoba jadi orang yang sedikit
mementingkan orang lain. Dan karena aku ini
sangat bodoh, aku mengawali karierku dengan
gemilang. Aku menyumbang ke sana-sini, tapi
aku merasa harus melakukan sesuatu-sesuatu
yang bersifat pribadi. Sejak dulu aku iba pada
golongan yang tidak sanggup mengemis, yang
menderita dalam diam-orang-orang yang
malang. Aku memiliki banyak rumah. Timbul
gagasanku untuk menyewakannya pada orang-
orang yang... hm, membutuhkan dan
menghargai rumah-rumah itu. Pasangan-
pasangan muda yang baru meniti kehidupan,
para janda dengan putra-putri yang baru belajar
melangkah di dunia. Bagiku, Quentin lebih dari
sekadar kepala pelayan, dia sahabatku. Dengan
izin dan bantuannya, aku meminjam

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kepribadiannya. Sejak dulu aku memang
berbakat dalam seni peran. Ide ini muncul
dalam perjalanan pulang dari klub pada suatu
malam, dan aku langsung membicarakannya
dengan Quentin. Waktu aku mendengar orang
meributkan menghilangnya diriku, aku
mengatur surat yang seakan berasal dariku di
Afrika Timur. Di dalamnya, aku memberikan
instruksi penuh pada Maurice Carfax, sepupuku.
Dan... itulah kurang-lebih kisahnya."
Ia memutus pembicaraannya dengan agak
tertegun, sambil melirik penuh rasa tertarik ke
arah Mrs. St Vincent. Wanita ini berdiri tegak,
dan menatap lurus lawan bicaranya.
"Ini rencana yang baik," ujarnya. "Rencana yang
sangat tidak biasa, dan yang menguntungkan
Anda. Saya... sangat berterima kasih. Tapi...
tentu saja, Anda paham bahwa kami tidak bisa
tinggal?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku sudah menduganya," ujar Lord Listerdale.
"Harga dirimu tidak mengizinkanmu menerima
sesuatu yang mungkin kauanggap 'derma'."
"Bukankah memang demikian?" tanya Mrs. St
Vincent tegar.
"Bukan," jawab Lord Listerdale. "Sebab sebagai
gantinya, aku meminta sesuatu."
"Sesuatu?"
"Semuanya," serunya lantang, dengan suara
orang yang terbiasa menguasai.
"Waktu aku berumur dua puluh tiga," lanjutnya,
"aku menikahi gadis yang kucintai. Dia
meninggal setahun kemudian. Sejak itu aku
merasa sangat kesepian. Aku sangat berharap
bisa menemukan seorang wanita-wanita
impianku..."
"Akukah wanita itu?" tanya Mrs. St Vincent lirih.
"Aku sudah begitu tua-begitu pudar." Lord
Listerdale terbahak.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tua? Kau lebih muda daripada kedua anakmu.
Akulah yang tua, kalau kau mau menyebutnya
demikian."
Kali ini ganti Mrs. St Vincent-lah yang tergelak.
Gelak tawa lembut karena geli.
"Kau? Kau masih anak-anak. Anak laki-laki yang
gemar menyamar."
Ia mengulurkan kedua tangannya, dan Lord
Listerdale menyambutnya dengan tangannya.

PHILOMEL COTTAGE

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"SAMPAI nanti, Darling." "Selamat jalan,
Sweetheart."
Alix Martin bersandar di pintu pagar yang sudah
berkarat, sambil menatap sosok suaminya yang
semakin menjauh ke arah desa.
Tak lama kemudian suaminya menghilang di
balik tikungan, tapi Alix masih tetap berdiri di
tempat dengan pandangan kosong, sambil
menyibakkan seberkas rambut cokelat ikal yang
diterbangkan angin ke wajahnya.
Alix Martin tidak jelita atau cantik. Namun
wajahnya-wajah wanita yang sudah tidak belia
lagi-bersinar dan lembut, hingga para mantan
rekan sekerjanya di kantor nyaris takkan
mengenalinya. Dulu Miss Alex King wanita
karier yang ramping, efisien, tegas, jelas-jelas
cakap, dan selalu langsung ke sasaran.
Alix terbiasa dengan kehidupan keras. Selama
lima belas tahun, sejak usia delapan belas
sampai tiga puluh tiga, ia menghidupi diri (dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


selama tujuh tahun menghidupi ibunya yang
sakit-sakitan) dengan bekerja sebagai juru
steno. Perjuangan berat ini telah menorehkan
garis-garis keras di wajahnya yang belia.
Memang, pernah terjalin asmara-atau
semacamnya-antara dia dengan Dick
Windyford, rekan sesama juru tulis. Sebagai
wanita berperasaan peka, diam-diam Alix sudah
lama tahu bahwa Dick menaruh hati padanya.
Dilihat dari luar, mereka sekadar teman biasa,
tidak lebih. Dengan gajinya yang kecil, Dick
kesulitan menanggung biaya sekolah adiknya.
Saat itu ia tidak bisa berpikir tentang
perkawinan.
Kemudian dengan tiba-tiba Alix mendapat
durian runtuh. Seorang sepupu jauh meninggal
dan mewariskan uangnya pada Alix-beberapa
ribu pound, cukup banyak untuk mendatangkan
beberapa ratus pound setahun. Bagi Alix, ini
berarti kebebasan, hidup, kemandirian.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sekarang ia dan Dick tak perlu menunggu lebih
lama lagi.
Namun reaksi Dick ternyata di luar dugaan. Ia
belum pernah menyatakan cintanya secara
langsung pada Alix; sekarang ia bahkan
cenderung semakin tidak berhasrat
mengutarakannya. Ia menghindari Alix, menjadi
murung dan bermuram durja. Alix segera
menyadari masalah sebenarnya. Ia telah
menjadi wanita kaya. Perasaan Dick yang halus
dan harga diri yang tinggi menghalangi Dick
memperistrinya.
Namun Alix tetap menyukainya, dan
menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia saja
yang lebih dulu mengambil langkah; namun lagi-
lagi terjadi hal tak terduga.
Alix berjumpa dengan Gerald Martin di rumah
seorang teman. Gerald jatuh cinta setengah
mati padanya, dan dalam seminggu mereka
telah bertunangan. Alix yang selama ini

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menganggap dirinya "bukan jenis yang gampang
jatuh cinta", langsung lupa daratan.
Tanpa disadari, keputusannya membuat marah
mantan kekasihnya. Dick Windyford datang
menjumpainya dengan sangat berang.
"Laki-laki itu masih asing buatmu! Kau tidak
tahu apa-apa tentang dia!" "Aku tahu aku
mencintainya."
"Bagaimana kau bisa tahu-hanya dalam
seminggu?"
"Tidak semua orang butuh waktu sebelas tahun
untuk menyadari dia mencintai seorang gadis,"
teriak Alix marah. Wajah Dick pucat pasi.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali
mengenalmu. Kusangka kau juga mencintaiku."
Alix berkata sejujurnya.
"Aku juga menyangka begitu," ia mengakui.
"Tapi itu karena aku tidak tahu arti cinta."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Amarah Dick meledak kembali. Imbauan,
permohonan, bahkan ancaman-ancaman
terhadap laki-laki yang telah menggantikan
dirinya. Alix terpana melihat gunung berapi
yang tersembunyi di bawah penampilan
pendiam pria yang disangkanya sangat ia kenal
itu.
Sekarang, di hari Minggu pagi, saat bersandar di
pagar pondok, ingatan Alix kembali pada
percakapan itu. Ia sudah menikah sebulan, dan
bahagia seperti dalam syair puisi. Namun saat
ini, saat suami yang sangat dicintainya sedang
tidak ada di sampingnya, sekelumit kecemasan
menerobos kebahagiaannya yang sempurna.
Penyebabnya Dick Windyford.
Tiga kali sejak menikah, ia mendapat mimpi
yang sama. Lingkungannya memang berbeda,
tapi intinya selalu sama. Ia melihat suaminya
terbujur tak bernyawa, dan Dick Windyford
berdiri mengawasinya. Alix tahu betul tangan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Dick-lah yang telah melancarkan pukulan fatal
itu.
Namun ada yang lebih mengerikan lagi-
maksudnya mengerikan saat terbangun, sebab
kalau hanya dalam mimpi, semua itu seakan
sangat wajar dan tak terelakkan. Dia, Alix
Martin, senang suaminya sudah mati, ia
mengulurkan tangan penuh syukur pada
pembunuhnya, bahkan mengucapkan terima
kasih. Mimpi itu selalu berakhir dengan cara
yang sama, ia berada dalam pelukan Dick
Windyford.

***

Alix tidak menceritakan mimpi itu pada


suaminya, tapi diam-diam ia sangat terganggu.
Apakah ini suatu peringatan -peringatan
terhadap Dick Windyford?

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix tersentak dari lamunannya mendengar
dering telepon dari dalam rumah. Ia masuk dan
mengangkat gagangnya. Mendadak ia
terhuyung-huyung dan berpegangan pada
dinding.
"Siapa ini?"
"Alix, ada apa dengan suaramu? Aku hampir
tidak mengenalimu. Ini Dick." "Oh!" ujar Alix.
"Oh! Di mana... di mana kau?"
"Di Traveller's Arms-namanya tidak salah, kan?
Atau kau bahkan tidak tahu kedai minum
desamu sendiri? Aku sedang berlibur-sedikit
memancing ikan di sini. Apa kau keberatan bila
malam ini aku mengunjungi kalian berdua
sesudah makan malam?"
"Tidak," sahut Alix tajam. "Kau tidak boleh
datang."
Hening sejenak, setelah itu Dick berbicara lagi,
nadanya sedikit berubah. "Maaf," ujarnya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


formal. "Tentu saja aku tidak akan mengganggu
kalian..."
Alix segera menyela. Dick pasti menganggap
sikapnya keterlaluan. Memang keterlaluan.
Saraf Alix pasti sudah berantakan tidak keruan.
"Aku cuma bermaksud mengatakan... malam
ini... kami punya kesibukan," jelasnya sambil
berusaha agar suaranya terdengar sewajar
mungkin. "Bagaimana kalau kau... kalau kau
datang makan malam besok?" Namun rupanya
Dick menyadari tidak ada keramahan sedikit
pun dalam nada bicara Alix.
"Banyak terima kasih," ujarnya dengan nada
sama formalnya, "tapi aku akan meneruskan
perjalananku setiap saat. Tergantung temanku
muncul atau tidak. Sampai jumpa, Alix." Ia
terdiam sesaat, lalu cepat-cepat menambahkan
dengan nada berbeda, "Semoga kau bahagia,
Sayang."
Alix meletakkan telepon dengan lega.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Dia tidak boleh kemari," Alix berkata berulang
kali pada diri sendiri. "Dia tidak boleh kemari.
Oh, alangkah bodohnya aku! Membayangkan
yang tidak-tidak, sampai cemas begini.
Bagaimanapun, aku senang dia tidak jadi
datang."
Ia menyambar topi anyaman dari meja, dan
keluar lagi ke kebun, lalu berhenti dan
menengadah melihat nama yang terukir di atas
beranda: Philomel Cottage.
"Nama yang keren, bukan?" ia pernah berkata
pada Gerald sebelum mereka menikah. Ketika
itu Gerald tertawa.
"Dasar orang London," ujarnya mesra. "Aku
tidak percaya kau pernah mendengar kicau
burung bulbul. Aku senang kau belum pernah
mengalaminya. Burung bulbul hanya patut
bernyanyi untuk para kekasih. Kita akan
menikmati kicaunya bersama-sama di malam
musim panas, di luar rumah kita sendiri."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Saat teringat bagaimana mereka benar-benar
mendengarnya, Alix yang sedang berdiri di pintu
masuk rumahnya tersipu bahagia.
Gerald-lah yang menemukan Philomel Cottage.
Ia mendatangi Alix dengan semangat
menggebu. Ia telah menemukan tempat yang
tepat bagi mereka-unik, sangat istimewa,
kesempatan sekali seumur hidup. Dan ketika
Alix melihat rumah itu, ia pun terpesona.
Memang benar suasananya agak sepi-letaknya
tiga kilometer dari desa terdekat -namun
pondok itu begitu elok, dengan tampilan kuno,
kamar-kamar mandi nyaman, sistem air panas,
listrik, dan telepon, hingga ia langsung terpikat.
Namun ada satu kendala. Pemiliknya, seorang
pria kaya, mulai bertingkah dan tidak bersedia
menyewakannya. Ia hanya mau menjualnya.
Meski punya penghasilan bagus, Gerald Martin
tidak mampu menutup harga yang diminta.
Paling banyak ia hanya mampu mengumpulkan
seribu pound. Pemiliknya meminta tiga ribu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Namun Alix, yang sudah menetapkan pilihan
pada tempat itu, menjadi penyelamat.
Berhubung warisannya berbentuk surat obligasi,
uangnya mudah dicairkan. Ia akan memberikan
separonya guna membeli rumah itu.
Demikianlah Philomel Cottage menjadi milik
mereka, dan Alix tidak menyesali pilihannya
sedikit pun. Memang para pelayan tidak
menyukai suasana sunyi pedesaannya-saat ini
mereka tidak punya pelayan sama sekali-tetapi
Alix, yang begitu mendambakan kehidupan
domestik, benar-benar menikmati kegiatan
memasak dan merawat rumah.
Kebunnya, yang sarat dengan berbagai macam
bunga, diurus laki-laki tua dari desa yang datang
dua kali seminggu.
Saat berbelok di sudut rumah, Alix heran
melihat tukang kebun tua itu sedang sibuk
bekerja di tengah bunga-bunga. Biasanya ia
bekerja hari Senin dan Jumat, padahal ini hari
Rabu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Wah, George, sedang apa kau di sini?" tanya
Alix sambil berjalan mendekatinya.
Laki-laki tua itu berdiri sambil terkekeh dan
menyentuh topinya yang usang.
"Saya tahu Anda bakal terkejut, Ma'am. Tapi
ceritanya begini. Jumat nanti ada pesta di
Squire, dan saya bilang dalam hati, Mr. Martin
dan istrinya yang baik itu tidak bakal keberatan
kalau kali ini saya datang hari Rabu, bukannya
Jumat."
"Tidak mengapa," ujar Alix. "Kuharap kau
menikmati pesta itu."
"Begitulah pendapat saya," kata George.
"Sungguh senang bisa makan sepuasnya dan
tidak perlu bayar. Squire selalu menyediakan
meja minum teh yang pantas bagi para
penyewanya. Selain itu, Ma'am, saya sekalian
ingin bertemu Anda sebelum Anda berangkat,
supaya tahu hendak diapakan tanaman

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pagarnya. Saya rasa Anda belum tahu kapan
Anda akan kembali, Ma'am?"
"Tapi aku tidak akan pergi ke mana-mana."
George melongo.
"Tapi bukankah besok Anda mau ke Lunnon?"
"Tidak. Mengapa kaupikir aku akan pergi?"
George menunjuk dengan gerakan kepalanya.
"Kemarin saya bertemu Mister di desa. Dia
bilang Anda berdua akan pergi ke Lunnon
besok, dan belum dipastikan kapan akan
kembali."
"Omong kosong," ujar Alix tergelak. "Kau pasti
salah paham."
Tapi ia bertanya-tanya, apa gerangan yang
dikatakan Gerald hingga membuat laki-laki tua
itu salah paham. Pergi ke London? Ia takkan
pernah mau ke London lagi. "Aku benci
London," semburnya mendadak.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ah!" ujar George tenang. "Saya pasti salah
dengar, padahal sepertinya dia mengatakannya
cukup jelas. Saya senang Anda tinggal di sini.
Saya tidak setuju dengan kegemaran
mengembara, dan saya juga tidak peduli dengan
Lunnon. Saya tidak pernah perlu pergi ke sana.
Terlalu banyak mobil-inilah masalahnya di
zaman sekarang. Sekali orang punya mobil,
masih untung kalau mereka bisa menetap. Mr.
Ames, pemilik rumah sebelum ini-dia laki-laki
yang tenang, sampai dia membeli mobil. Tidak
sampai sebulan kemudian dia pun menjual
pondok ini. Cukup banyak yang dikeluarkannya
untuk memperbaikinya, dengan keran di setiap
kamar tidur, lampu-lampu listrik, dan
sebagainya. 'Anda takkan mendapatkan kembali
uang Anda,' kata saya padanya. 'Tapi,' katanya
pada saya, 'seluruh pengeluaranku sudah
kembali lewat dua ribu pound yang kudapat dari
hasil penjualan rumah ini.' Dan ternyata
memang begitu."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Dia mendapat tiga ribu," ujar Alix sambil
tersenyum.
"Dua ribu," ulang George. "Dia menyebutkan
angka yang dimintanya ketika itu." "Tapi
jumlahnya betul tiga ribu," sahut Alix.
"Perempuan tidak pernah memahami angka,"
ujar George tak percaya. "Maksud Anda, Mr.
Ames berani-beraninya menghadapi Anda dan
menyebut angka tiga ribu dengan lantang?"
"Dia bukan mengatakannya padaku," jawab Alix,
"dia mengatakannya pada suamiku." George
membungkuk kembali ke atas petak-petak
bunganya. "Harganya dua ribu," ujarnya
bersikeras.

***

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix tidak mau repot-repot berargumentasi
dengannya. Ia melangkah menuju petak bunga
lain, lalu mulai memetik bunga.
Sementara berjalan dengan buketnya yang
harum menuju rumah, Alix melihat benda kecil
berwarna hijau tua menyembul di antara
dedaunan di salah satu petak bunga. Ia
membungkuk dan memungutnya, lalu
mengenali buku harian saku suaminya.
Ia membukanya sambil memeriksa catatan-
catatan di dalamnya dengan rasa geli. Hampir
sejak hari pertama hidup perkawinan mereka, ia
menyadari bahwa Gerald yang impulsif dan
emosional memiliki sifat baik yang tidak umum,
yaitu kerapian dan metode. Ia sangat rewel soal
waktu makan yang selalu harus tepat waktu,
dan selalu merencanakan kegiatannya dengan
saksama.
Sambil melihat-lihat catatan dalam buku harian
itu, Alix geli melihat tulisan pada tanggal 14
Mei: "Menikahi Alix St Peter's 14.30."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Si Konyol," gumam Alix sambil membalik
halaman. Tiba-tiba ia terhenti. " 'Rabu, 18 Juni'-
lho, itu kan hari ini."
Di halaman itu tertera tulisan tangan Gerald
yang rapi: "pk 21.00". Hanya itu. Apa gerangan
yang direncanakan Gerald pada jam 21.00? Alix
bertanya-tanya. Ia tersenyum sendiri saat
menyadari seandainya ini sebuah kisah, seperti
sering dibacanya, buku harian ini pasti akan
melengkapinya dengan pengungkapan rahasia
yang sensasional. Di dalamnya pasti tercantum
nama wanita lain. Ia membalik-balik halaman
dengan asal-asalan. Ada berbagai tanggal,
perjanjian, referensi samar soal kesepakatan
bisnis, tapi hanya satu nama wanita-namanya
sendiri.
Namun saat ia memasukkan buku itu ke
sakunya dan membawa bunga-bunga itu ke
dalam rumah, samar-samar ia merasa tidak
enak. Kata-kata Dick Windyford terngiang
kembali, seakan Dick berada tepat di

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sampingnya, sambil mengulang, "Laki-laki itu
masih asing buatmu. Kau tidak tahu apa-apa
tentang dia."
Benar juga. Apa yang diketahuinya tentang
Gerald? Lagi pula, umur Gerald sudah empat
puluh. Selama empat puluh tahun ini pasti
pernah ada wanita lain dalam hidupnya...
Alix berusaha menyadarkan dirinya dengan tak
sabar. Ia tidak boleh termakan oleh pikiran-
pikiran ini. Ada urusan lain yang lebih penting.
Haruskah ia menceritakan pada suaminya
bahwa Dick Windyford meneleponnya?
Ada kemungkinan Gerald sudah berjumpa
dengan Dick di desa. Bila demikian, ia pasti akan
mengatakannya begitu kembali, dan
masalahnya selesai tanpa Alix perlu campur
tangan. Bila tidak... lalu bagaimana? Alix sangat
ingin menyimpan sendiri hal itu.
Bila ia menceritakannya pada Gerald, Gerald
pasti akan mengusulkan agar Dick Windyford

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


diundang datang ke Philomel Cottage.
Kemudian Alix terpaksa menjelaskan bahwa
Dick sendiri telah meminta diperbolehkan
datang, dan bahwa ia telah mereka-reka dalih
untuk mencegahnya. Dan bila Gerald
menanyakan alasan ia berbuat demikian, apa
yang harus dikatakannya? Menceritakan mimpi
itu padanya? Gerald pasti hanya tertawa-atau
lebih parah lagi, menganggap Alix terlalu
menganggap penting mimpi itu.
Akhirnya, dengan agak malu, Alix memutuskan
untuk tidak berkata apa pun. Ini rahasia
pertama yang disembunyikannya dari suaminya,
dan ia merasa tidak enak.

***

Waktu mendengar Gerald kembali dari desa


menjelang jam makan siang, ia bergegas ke

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dapur dan berpura-pura sibuk memasak untuk
menyembunyikan kebingungannya.
Langsung terlihat bahwa Gerald tidak berjumpa
dengan Dick Windyford. Alix merasa lega
sekaligus malu. Sekarang ia sudah bertekad
untuk tidak bercerita apa-apa pada suaminya.
Sesudah makan malam yang sederhana, mereka
duduk-duduk di bangku kayu ek di ruang
keluarga; jendela dibiarkan terbuka untuk
membiarkan udara malam masuk, membawa
aroma manis bunga-bunga di luar. Saat itu
barulah Alix teringat buku harian suaminya.
"Ini barang yang kaupakai untuk menyirami
bunga," katanya sambil menjatuhkan buku
harian itu di pangkuan Gerald.
"Terjatuh di petak bunga, ya?"
"Ya. Aku tahu semua rahasiamu sekarang."
"Tidak bersalah," sahut Gerald sambil
menggeleng.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Bagaimana dengan urusanmu jam sembilan
malam nanti?"
"Oh, itu..." Sesaat Gerald tampak terperanjat,
lalu ia tersenyum, seakan ada sesuatu yang
membuatnya geli. "Aku ada janji dengan gadis
yang sangat manis, Alix. Rambutnya cokelat,
matanya biru, dan dia mirip sekali denganmu."
"Aku tidak paham," sahut Alix, pura-pura
marah. "Kau menghindar dari pokok
pembicaraan."
"Tidak, sungguh. Catatan itu untuk
mengingatkanku bahwa malam ini aku akan
mencuci film, dan aku ingin kau membantuku."
Gerald Martin menyukai fotografi. Ia memiliki
kamera yang agak kuno, dengan lensa sangat
bagus, dan ia mencuci sendiri filmnya di ruang
sempit bawah tanah yang diubahnya menjadi
kamar gelap. "Dan ini harus dikerjakan tepat
jam sembilan," goda Alix. Gerald tampak agak
jengkel.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Gadis manisku," katanya sedikit tak sabar,
"orang perlu merencanakan kegiatannya
dengan saksama. Dengan begitu, dia bisa
menyelesaikan tugasnya dengan benar."
Alix terdiam beberapa saat, memerhatikan
suaminya yang duduk merokok di kursinya
dengan kepala tengadah, profil wajahnya yang
dicukur bersih tampak jelas di latar belakang
yang suram. Dan tiba-tiba saja, entah dari
mana, gelombang kepanikan menyerbunya
hingga ia memekik sebelum sempat menahan
diri, "Oh, Gerald, andai aku tahu lebih banyak
tentang dirimu!"
Suaminya menoleh terperanjat.
"Tapi, Alix-ku sayang, kau memang tahu semua
tentang diriku. Aku sudah menceritakan masa
kecilku di Northumberland, kehidupanku di
Afrika Selatan, dan sepuluh tahun terakhir di
Kanada yang membuatku sukses." "Oh, itu kan
tentang bisnis!" sergah Alix mencemooh.
Mendadak Gerald tertawa.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku tahu maksudmu-hubungan asmara. Kalian
perempuan sama saja. Tak ada yang menarik
bagi kalian selain unsur pribadi."
Alix merasa tenggorokannya kering saat ia
bergumam tak jelas, "Hmm, pasti pernah ada...
hubungan asmara. Maksudku... seandainya aku
tahu..."
Hening kembali beberapa saat. Gerald Martin
mengerutkan kening dengan pandangan ragu.
Saat berbicara suaranya terdengar muram, jauh
dari sikap berkelakarnya tadi.
"Apa menurutmu bijaksana, Alix-mengungkit-
ungkit masalah ini? Ya, dalam kehidupanku
memang pernah ada beberapa wanita, aku
tidak menyangkal. Kau pasti takkan percaya bila
aku menyangkal. Tapi aku berani sumpah, tak
seorang pun dari mereka berarti bagiku."
Nadanya terdengar sungguh-sungguh.
Mendengarnya, Alix jadi lebih terhibur.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sudah puas, Alix?" tanya Gerald sambil
tersenyum. Kemudian ia menatap Alix dengan
rasa ingin tahu. "Apa yang membuatmu
memikirkan hal-hal tidak menyenangkan ini,
khususnya malam ini?" Alix bangkit berdiri dan
mulai mondar-mandir gelisah. "Oh, entahlah,"
ujarnya. "Seharian ini aku merasa gugup."
"Aneh sekali," sahut Gerald lirih, seakan
berbicara pada diri sendiri. "Ini sungguh aneh."
"Apanya yang aneh?"
"Oh, gadis manisku, jangan marah-marah begitu
padaku. Aku cuma mengatakan ini aneh, sebab
biasanya kau begitu manis dan tenang."
Alix memaksakan diri tersenyum.
"Hari ini banyak hal membuatku kesal," akunya.
"Bahkan si George tua pun punya ide gila. Dia
bilang kita akan pergi ke London. Katanya kau
yang mengatakan padanya." "Di mana kau
melihatnya?" tanya Gerald tajam. "Dia masuk

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kerja hari ini, bukannya Jumat." "Orang goblok
sialan," umpat Gerald marah.
Alix menatapnya terperanjat. Wajah suaminya
penuh amarah. Ia belum pernah melihat Gerald
semarah ini. Melihat keheranan istrinya, Gerald
berusaha mengendalikan diri. "Hmm, dia
memang orang tua yang goblok," sanggahnya.
"Kau bilang apa padanya, sehingga dia mengira
kita akan pergi?"
"Aku? Aku tidak pernah bilang apa-apa.
Setidaknya... oh ya, aku ingat; aku bercanda
mengatakan, 'Akan ke London pagi-pagi,' dan
kurasa dia menanggapinya dengan serius. Atau
dia salah dengar. Kau tentu membantahnya,
kan?"
Gerald menanti jawaban Alix dengan harap-
harap cemas.
"Tentu saja, tapi dia jenis orang kepala batu.
Kalau sudah meyakini sesuatu, sulit diubah
pendiriannya." Kemudian ia menceritakan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kegigihan George mengenai jumlah yang
diminta untuk pondok mereka. Gerald terdiam
beberapa saat, lalu berkata lambat-lambat,
"Ames bersedia menerima uang tunai sebesar
dua ribu, dan sisanya yang seribu dalam bentuk
hipotek. Kurasa dari sinilah asalnya salah paham
itu."
"Mungkin sekali," sahut Alix setuju.
Setelah itu ia menoleh kejam dan menunjuk
dengan nakal.
"Kita harus segera bekerja, Gerald. Ini sudah
terlambat lima menit."
Senyuman yang sangat aneh mengembang di
wajah Gerald Martin.
"Aku berubah rencana," ujarnya tenang,
"malam ini aku tidakjadi mengerjakan
fotografi."
Pikiran wanita memang mengherankan.
Sewaktu pergi tidur pada Rabu malam itu,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pikiran Alix puas dan tenang. Kebahagiaannya
yang sempat terganggu telah pulih kembali,
penuh kemenangan seperti dulu.
Namun malam berikutnya ia menyadari ada
kekuatan tak kentara sedang bekerja untuk
meruntuhkannya. Dick Windyford tidak
menelepon lagi, namun Alix merasa
pengaruhnyalah yang sedang bekerja. Berulang
kali kata-kata itu terngiang di benaknya: "Laki-
laki itu masih asing buatmu. Kau tidak tahu apa-
apa tentang dia. " Bersamaan dengan itu
muncul wajah suaminya, terpateri jelas di
angan-angannya, saat Gerald berkata, "Apa
menurutmu bijaksana, Alix -mengungkit-ungkit
masalah ini?" Mengapa Gerald berkata begitu?
Di dalamnya terbersit peringatan-semacam
ancaman. Seakan ia mengatakan, "Sebaiknya
kau jangan mencampuri urusanku, Alix. Kau
akan mendapat kejutan tak menyenangkan
nanti."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Hari Jumat pagi, Alix meyakinkan diri bahwa
pernah ada wanita dalam kehidupan Gerald-
rahasia yang mati-matian disembunyikan Gerald
darinya. Kecemburuannya yang tadinya tidak
mudah tersulut, sekarang semakin menjadi-jadi.
Apakah yang hendak dijumpai Gerald pada
pukul 9 malam itu seorang wanita? Apakah
alasannya tentang mencuci film itu sekadar
dusta yang direka mendadak?
Tiga hari yang lalu Alix berani bersumpah ia
mengenal suaminya luar-dalam. Sekarang
Gerald seakan orang asing yang tidak
dikenalnya sama sekali. Ia teringat ledakan
amarah suaminya terhadap George, begitu
berbeda dengan perilakunya yang biasanya
ramah. Mungkin ini hal kecil, tapi menunjukkan
padanya bahwa ia tidak begitu mengenal laki-
laki yang sekarang menjadi suaminya itu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Hari Jumat itu ada beberapa hal kecil yang perlu
dibeli di desa. Sorenya Alix menawarkan diri
berbelanja, sementara Gerald tetap di kebun;
tapi ia terkejut ketika suaminya menentang
keras rencana ini, dan bersikeras melakukannya
sendiri sementara Alix tetap tinggal di rumah.
Alix terpaksa mengalah, tapi sikap keras
suaminya mengejutkan sekaligus membuatnya
takut. Mengapa Gerald begitu bersikukuh
mencegahnya pergi ke desa?

Tiba-tiba muncul penjelasan yang menjawab


semua pertanyaan Alix. Mungkinkah Gerald
telah berjumpa dengan Dick Windyford dan
tidak bercerita apa-apa padanya? Alix tidak
pernah merasa cemburu ketika menikah dengan
Gerald; rasa cemburunya baru muncul
kemudian. Mungkinkah hal yang sama terjadi
pada Gerald? Apakah tak mungkin ia bermaksud
mencegah istrinya bertemu Dick Windyford
lagi? Penjelasan ini begitu cocok dengan fakta,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dan begitu menenteramkan pikiran Alix yang
gelisah, hingga ia menerimanya dengan senang
hati.

Namun ketika jam minum teh tiba dan berlalu,


Alix kembali gelisah dan cemas. Ia bergumul
melawan godaan yang terus menyerangnya
sejak Gerald meninggalkan rumah. Akhirnya ia
naik ke kamar ganti suaminya di lantai atas,
sambil menenteramkan nuraninya dengan
keyakinan bahwa ruangan itu memang perlu
dibereskan. Ia membawa kemoceng untuk
melanjutkan perannya sebagai ibu rumah
tangga.

"Seandainya aku yakin," ulangnya pada diri


sendiri. "Seandainya aku bisa yakin. "
Sia-sia ia mengatakan pada dirinya bahwa apa
pun yang bisa menimbulkan kecurigaan pasti
sudah dimusnahkan berabad-abad lalu. Namun

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


ia membantah, sebab adakalanya kaum pria
menyimpan bukti yang paling menjatuhkan
gara-gara sentimentalitas berlebihan.

Akhirnya Alix menyerah. Dengan napas


tersengal dan pipi terbakar rasa malu karena
tindakannya, ia memeriksa tumpukan surat dan
dokumen, mengaduk-aduk isi laci-laci, bahkan
memeriksa saku pakaian suaminya. Hanya dua
laci yang tidak dibukanya; laci paling bawah
lemari dan laci kanan meja tulis sama-sama
terkunci. Sementara itu rasa malu Alix sudah
lenyap. Ia yakin dalam salah satu laci itu ia akan
menemukan bukti tentang wanita dari masa lalu
yang mengobsesi dirinya.

Ia teringat Gerald telah ceroboh meninggalkan


rencengan kuncinya di atas buffet lantai bawah.
Ia mengambilnya, lalu mencobanya satu per
satu. Kunci ketiga cocok dengan laci meja tulis.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Dengan bernafsu Alix menariknya. Di dalamnya
tersimpan buku cek dan dompet yang sarat
uang kertas, dan di bagian belakang laci
setumpuk surat yang diikat pita.

Dengan terengah-engah Alix membuka simpul


pita itu. Kemudian wajahnya memerah, dan ia
pun memasukkan tumpukan surat itu ke dalam
laci, menutup, lalu menguncinya kembali. Sebab
surat-surat itu ternyata berasal dari dirinya
sendiri, ditujukan pada Gerald Martin sebelum
mereka menikah.

Sekarang Alix beranjak ke lemari laci, lebih


karena ia ingin bekerja tuntas, bukan karena
ingin menemukan apa yang dicarinya.

Ia kesal ketika mendapati tak satu pun kunci itu


cocok dengan laci tersebut. Tanpa putus asa,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix memasuki kamar-kamar lain dan membawa
sejumlah kunci lain. Ia puas ketika kunci lemari
pakaian kamar cadangan ternyata cocok dengan
laci lemari tadi. Ia memutar kuncinya dan
menarik laci itu. Namun di dalamnya cuma ada
segulung guntingan koran yang sudah kotor dan
menguning karena tua.

Alix menghela napas lega. Tapi ia melihat sekilas


guntingan-guntingan itu, ingin tahu subjek apa
yang begitu menarik perhatian Gerald, sampai
rela bersusah payah menyimpan gulungan
berdebu itu. Hampir semuanya berasal dari
surat kabar Amerika, bertanggal sekitar tujuh
tahun lalu, dan memuat berita tentang perkara
pengadilan menyangkut Charles Lemaitre,
penipu ulung dan bigamis terkenal. Lemaitre
dicurigai melenyapkan korban-korban
wanitanya. Di bawah lantai salah satu rumah
yang pernah disewanya, telah ditemukan
kerangka manusia, dan sebagian besar wanita

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


yang " dinikahi"-nya tidak pernah terdengar
kabar beritanya lagi.

Ia membela diri dari semua tuduhan dengan


keahlian sempurna, dibantu beberapa ahli
hukum paling piawai di seluruh Amerika Serikat.
Putusan "Tidak Terbukti" yang dikeluarkan
pengadilan Skotlandia mungkin merupakan
pernyataan terbaik dari kasusnya. Karena
tiadanya bukti, ia diputuskan Tidak Bersalah
menyangkut tuduhan utama, meskipun ia
dijatuhi hukuman penjara cukup lama atas
tuduhan-, tuduhan lain yang dikenakan
padanya.

Alix masih ingat kegemparan yang ditimbulkan


kasus itu, juga karena kaburnya Lemaitre tiga
tahun kemudian. Ia tidak pernah berhasil
ditangkap kembali. Ketika itu kepribadian laki-
laki itu dan daya pikatnya yang luar biasa

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


terhadap kaum wanita telah dibahas panjang-
lebar di koran-koran Inggris, termasuk sikap
mudah marahnya di pengadilan, pernyataan-
pernyataannya yang penuh semangat, dan
beberapa kejadian ketika ia jatuh pingsan
mendadak karena jantungnya lemah, meski
beberapa orang menganggap itu sekadar aksi
dramatisnya saja.

Di salah satu guntingan yang dipegang Alix ada


foto laki-laki itu, dan Alix memerhatikannya
dengan saksama- pria berjanggut panjang yang
tampak intelek.

Wajah itu mengingatkannya pada seseorang,


tapi siapa? Mendadak, dengan terkejut ia
menyadari bahwa pria itu Gerald. Mata maupun
alisnya sangat mirip. Mungkin Gerald
menyimpan guntingan itu karena suatu alasan.
Mata Alix menelusuri keterangan di samping

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


gambar itu. Rupa-rupanya ada tanggal-tanggal
tertentu yang telah dicatat dalam buku harian
saku si tertuduh, dan ada pendapat yang
mengatakan inilah tanggal-tanggal ia
melenyapkan para korbannya. Kemudian
seorang wanita memberikan bukti dan
mengenali narapidana itu dengan pasti melalui
fakta bahwa laki-laki itu mempunyai tahi lalat di
pergelangan tangan kirinya, tepat di bawah
telapak tangan.

Alix langsung menjatuhkan kertas-kertas itu dan


berdiri terhuyung. Di pergelangan tangan
kirinya, tepat di bawah telapak tangan,
suaminya punya bekas luka kecil...

***

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ruangan itu seakan berputar-putar. Setelah itu
ia merasa aneh karena menarik kesimpulan
dengan begitu pasti. Gerald Martin adalah
Charles Lemaitre! Ia tahu itu, dan ia
menerimanya dalam sekejap.
Kepingan-kepingan yang berserak berputar-
putar di benaknya bagaikan kepingan-kepingan
teka-teki yang sedang membentuk gambar.
Uang yang dibayarkan untuk membeli rumah
ini-uangnya sepenuhnya; ia telah
memercayakan lembar-lembar obligasi itu
untuk disimpan Gerald. Bahkan mimpinya pun
jadi terasa sangat penting. Jauh di lubuk
hatinya, pikiran bawah sadarnya sejak dulu
merasa takut pada Gerald Martin dan ingin
melarikan diri darinya. Dan kepada Dick
Windyford-lah pikiran bawah sadarnya mencari
pertolongan. Hal ini jugalah yang membuatnya
menangkap kebenaran begitu mudah, tanpa
ragu sedikit pun. Ia akan menjadi korban
Lemaitre yang berikut. Mungkin sebentar lagi...

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia terpekik saat teringat sesuatu. Rabu, pukul
21.00. Ruang bawah tanah, dengan batu-batu
ubin yang mudah diangkat! Gerald pernah
mengubur salah seorang korbannya di ruang
bawah tanah. Semua ini sudah direncanakan
pada hari Rabu malam. Tetapi mencatatnya
terlebih dulu dengan cara metodis seperti itu-
benar-benar gila! Tidak, ini justru logis. Gerald
selalu membuat catatan tentang urusan-
urusannya; baginya pembunuhan adalah
rencana bisnis yang tak beda dengan kegiatan
lainnya.
Namun apa gerangan yang telah
menyelamatkan Alix? Apakah Gerald jatuh
kasihan pada saat terakhir? Tidak. Jawaban itu
berkelebat di benaknya-si George tua.
Sekarang Alix memahami ledakan amarah
suaminya yang tak terkendali itu. Tak pelak lagi
ia telah mempersiapkan diri dengan
menyebarkan berita pada setiap orang yang
dijumpainya bahwa mereka berdua akan pergi

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


ke London keesokan harinya. Kemudian tanpa
diduga-duga George masuk kerja, menyebut-
nyebut London padanya, dan Alix
membantahnya. Jadi, terlampau riskan
mengenyahkan Alix malam itu, gara-gara
George mengulang pembicaraan itu. Nyaris
saja! Seandainya ia kebetulan tidak menyebut-
nyebut kejadian sepele itu-Alix bergidik.
Lalu ia tertegun seakan membeku jadi batu. Ia
mendengar derit pintu pagar. Suaminya sudah
kembali.
Sesaat Alix seakan mati ketakutan, kemudian ia
berjingkat ke arah jendela, mengintip dari balik
tirai.
Benar, itu suaminya. Gerald sedang tersenyum-
senyum sendiri sambil bersenandung. Di
tangannya ada benda yang nyaris membuat
jantung Alix berhenti. Benda itu sekop yang
masih baru.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix tiba-tiba menarik kesimpulan yang lahir dari
naluri. Rencana itu akan dilaksanakan malam
ini...
Namun masih ada satu kesempatan. Gerald
yang masih asyik bersenandung, berjalan ke
belakang rumah.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Alix berlari
menuruni tangga, keluar dari pondok. Tapi
tepat ketika ia keluar dari pintu, suaminya
muncul dari samping rumah.
"Halo," sapanya, "mau ke mana kau, bergegas
seperti itu?"
Alix berusaha mati-matian agar tampak tenang
seperti biasa. Untuk saat itu kesempatannya
telah hilang, tapi bila ia berhati-hati agar tidak
membangkitkan rasa curiga suaminya,
kesempatan itu akan datang lagi. Bahkan
sekarang, siapa tahu...

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku baru saja mau jalan-jalan ke ujung sana,
lalu kembali," katanya dengan suara yang di
telinganya sendiri terdengar lemah dan ragu.
"Begitu," sahut Gerald. "Aku akan
menemanimu."
"Tidak-tolong, Gerald. Aku... sedang gugup,
pusing-aku lebih suka berjalan sendiri." Gerald
menatapnya penuh perhatian. Alix merasa
sekilas kecurigaan berkelebat di mata Gerald.
"Ada apa denganmu, Alix? Kau pucat sekali-dan
gemetar."
"Tidak apa-apa." Alix memaksa diri bersikap
tegar-sambil tersenyum. "Kepalaku sakit, itu
saja. Berjalan-jalan sebentar baik untukku."
"Nah, tak ada gunanya kau mengatakan tidak
mau kutemani," ujar Gerald sambil tertawa
santai. "Aku tetap akan ikut, entah kau mau
atau tidak."
Alix tidak berani menolak lagi. Kalau sampai
Gerald curiga bahwa ia tahu...

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Dengan usaha keras ia berhasil bersikap agak
lebih wajar. Namun ia merasa tidak enak juga
karena sebentar-sebentar Gerald melirik ke
arahnya, seakan tidak begitu puas. Alix merasa
kecurigaan Gerald belum sepenuhnya lenyap.
Waktu mereka tiba kembali di rumah, Gerald
bersikeras agar Alix berbaring, lalu
membawakan kolonye untuk membasahi
pelipisnya. Seperti biasa, ia bersikap bagaikan
suami yang penuh pengabdian. Alix merasa tak
berdaya, seakan terkurung dalam jebakan,
dengan kaki dan tangan terikat.
Gerald tidak mau meninggalkannya sekejap
pun. Ia ikut bersama Alix ke dapur dan
membantu membawakan lauk-pauk dingin yang
sudah disiapkannya terlebih dulu. Makan
malam itu seakan mencekik Alix, namun ia
memaksa diri untuk makan, bersikap ceria, dan
wajar. Ia tahu sekarang bahwa ia sedang
berjuang untuk hidupnya. Ia seorang diri
bersama laki-laki ini, jauh dari bala bantuan, dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sepenuhnya dalam kekuasaan Gerald. Satu-
satunya peluang adalah meredakan rasa curiga
Gerald agar ia mau meninggalkan istrinya
beberapa saat-agar Alix sempat memakai
telepon di ruang depan dan mendatangkan
bantuan. Sekarang ini satu-satunya harapan.
Secercah harapan terbersit saat ia teringat
sebelum ini Gerald telah mengurungkan
niatnya. Bagaimana kalau ia menyampaikan
bahwa malam ini Dick Windyford akan datang
berkunjung?
Bibirnya bergetar-kemudian ia cepat-cepat
membatalkannya. Orang ini tidak mungkin
terhambat untuk kedua kali. Di bawah sikapnya
yang tenang tersembunyi tekad dan
kegembiraan yang membuat Alix muak. Kalau ia
mengatakan Dick akan datang, ia hanya akan
mempercepat kejahatan itu. Gerald akan
langsung membunuhnya di tempat, dan dengan
tenang menelepon Dick Windyford dengan dalih
bahwa mendadak Alix harus pergi. Oh!

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Seandainya Dick Windyford datang malam ini!
Kalau saja Dick...
Mendadak sebuah ide berkelebat di benak Alix.
Ia melirik tajam ke arah suaminya, seolah takut
pikirannya terbaca. Dengan terbentuknya
rencana itu, keberaniannya timbul kembali.
Sikapnya berubah sangat wajar, hingga ia
sendiri terkagum-kagum.
Ia menyeduh kopi, lalu membawanya ke
beranda tempat mereka sering duduk-duduk di
malam-malam cerah. "Omong-omong," kata
Gerald tiba-tiba, "kita akan mengerjakan foto-
foto itu nanti malam." Alix menggigil, tapi ia
menjawab santai, "Apa kau tidak bisa
melakukannya sendiri? Malam ini aku agak
letih." "Takkan lama." Ia lalu tersenyum sendiri.
"Dan aku janji setelah itu kau tidak akan letih
lagi."
Kata-kata itu seakan menyenangkan hatinya.
Alix bergidik. Hanya sekaranglah
kesempatannya menjalankan rencananya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia bangkit berdiri.
"Aku mau menelepon tukang daging," ujarnya
santai. "Kau tidak perlu mengikutiku." "Tukang
daging? Selarut ini?"
"Tokonya tentu saja sudah tutup, Sayang. Tapi
dia ada di rumah. Besok hari Sabtu, dan aku
mau dia membawakan daging anak lembu pagi-
pagi, sebelum orang lain sempat
menyambarnya. Si tua yang baik itu mau
melakukan apa saja untukku."
Alix bergegas masuk rumah, lalu menutup pintu.
Ia mendengar Gerald berkata, "Jangan tutup
pintunya," dan ia segera menjawab, "Biar
ngengatnya tidak masuk. Aku benci ngengat.
Apa kau takut aku akan mesra-mesraan dengan
tukang daging?"
Begitu berada di dalam, ia mengangkat gagang
telepon dan memberikan nomor telepon kedai
minum Traveller's Arms. Ia langsung mendapat
sambungan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mr. Windyford? Apa dia masih di situ? Bisa
bicara dengannya?"
Kemudian jantungnya tersentak. Pintu dibuka
dan suaminya masuk ke ruang depan.
"Pergi sana, Gerald," ujarnya marah. "Aku benci
ada yang menguping saat aku menelepon."
Gerald cuma tertawa dan menjatuhkan diri di
kursi.
"Apa benar kau sedang menelepon tukang
daging?" ia menebak.
Alix putus asa. Rencananya gagal. Sebentar lagi
Dick Windyford akan datang ke pesawat
telepon. Haruskah ia mengambil risiko dan
berteriak minta tolong?
Dengan gugup Alix menekan dan melepaskan
tombol kecil di gagang telepon yang sedang
dipegangnya. Tombol itu bisa membuat suara si
pembicara terdengar atau tidak di ujung

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


satunya; mendadak muncul rencana lain di
kepalanya.
"Ini takkan mudah," pikir Alix. "Ini berarti aku
harus tetap tenang, memilih kata-kata yang
tepat, dan tidak bimbang sedetik pun. Tapi aku
percaya mampu melakukannya. Aku harus
melakukannya." Saat itulah ia mendengar suara
Dick Windyford di ujung seberang. Alix menarik
napas dalam-dalam. Ia lalu menekan tombol
kuat-kuat dan berbicara.
"Ini Mrs. Martin-dari Philomel Cottage. Tolong
datang ke sini (ia melepaskan tombol) besok
pagi membawa enam iris daging anak lembu (ia
menekan tombol lagi). Ini sangat penting (ia
melepaskan tombol). Banyak terima kasih, Mr.
Hexworthy, maaf saya menelepon malam-
malam begini. Tapi daging anak lembu itu
benar-benar menyangkut (ia menekan tombol
lagi) hidup atau mati (ia melepaskan tombol).
Baiklah-besok pagi (ia menekan tombol) secepat
mungkin. "

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix menaruh gagang telepon dan berpaling ke
suaminya dengan napas memburu.
"Jadi, begitukah caramu berbicara dengan
tukang daging?" tanya Gerald.
"Itu namanya sentuhan feminin," sahut Alix
enteng.
Hatinya meluap-luap. Gerald tidak curiga sedikit
pun. Dick, kalaupun tidak mengerti, pasti akan
datang. Alix melangkah ke ruang duduk dan
menyalakan lampu. Gerald mengikutinya.
"Sepertinya kau sekarang sudah bersemangat,"
ia berkomentar sambil memerhatikan Alix
penuh rasa ingin tahu. "Ya," ujar Alix. "Sakit
kepalaku sudah hilang."
Ia duduk di kursi yang biasa digunakannya, dan
tersenyum pada suaminya yang juga duduk di
kursinya sendiri di depannya. Alix selamat. Ini
baru pukul delapan lebih dua puluh lima menit.
Jauh sebelum jam sembilan, Dick pasti sudah
tiba.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku tidak begitu suka kopi yang kauberikan
tadi," keluh Gerald. "Rasanya pahit sekali." "Aku
mencoba kopi jenis baru. Lain kali tidak akan
kugunakan lagi kalau kau tidak menyukainya,
Sayang." Alix mengambil jahitannya dan mulai
menjahit. Gerald membaca beberapa halaman
bukunya. Kemudian ia memandang jam dan
melemparkan bukunya.
"Setengah sembilan. Sudah waktunya ke ruang
bawah tanah dan mulai bekerja." Jahitan Alix
terjatuh dari tangannya.
"Oh, belum waktunya. Kita tunggu saja sampai
jam sembilan."
"Tidak, gadis manisku-setengah sembilan. Itu
waktu yang kutentukan. Supaya kau bisa
semakin cepat tidur." "Tapi aku lebih suka
menunggu sampai jam sembilan."
"Kau sudah tahu, sekali aku menetapkan waktu,
aku akan berpegang padanya. Ayo, Alix, aku
takkan menunggu lebih lama semenit pun."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix menengadah, mau tak mau merasakan
gelombang teror melingkupinya. Topeng sudah
tersingkap. Tangan Gerald sudah gatal, matanya
berpendar penuh gairah, dan ia terus-menerus
menjilat bibirnya yang kering. Ia tidak terpikir
untuk menyembunyikan gairahnya.
Alix berpikir, "Benar-dia tidak bisa menunggu-
dia gila."
Gerald melangkah ke arahnya, dan sambil
mencengkeram bahunya, ia menarik Alix supaya
berdiri. "Cepatlah, gadis manis-atau aku akan
menggotongmu ke sana."
Suaranya terdengar ceria, tapi di balik itu terasa
keganasan yang mengerikan. Dengan sekuat
tenaga Alix melepaskan diri dan meringkuk di
dinding. Ia tak berdaya. Ia tidak bisa melarikan
diri-ia tidak mampu berbuat apa pun-dan
Gerald sedang menghampirinya.
"Ayolah, Alix..."
"Tidak-tidak."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Alix menjerit sambil menjulurkan kedua
lengannya tanpa daya untuk melindungi diri.
"Gerald-berhenti-ada yang ingin kusampaikan
padamu, suatu pengakuan..." Gerald berhenti
melangkah. "Pengakuan?" ia bertanya ingin
tahu.
"Ya, pengakuan." Alix menggunakan kata-kata
itu sekenanya, tapi ia melanjutkan dengan
putus asa untuk menangkap perhatian Gerald.
"Mantan kekasih, kurasa," ejek Gerald.
"Bukan," sahut Alix. "Ada hal lain. Kurasa kau
akan menyebutnya... ya, kau akan menyebutnya
kejahatan." Alix langsung melihat bahwa kata-
katanya tepat mengenai sasaran. Gerald
seketika memerhatikannya. Melihat ini,
semangatnya bangkit kembali. Ia kembali
menguasai keadaan. "Sebaiknya kau duduk
lagi," ujarnya tenang.
Alix melintasi ruangan dan duduk di kursinya
kembali. Ia bahkan membungkuk dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


memungut jahitannya. Namun di balik sikap
tenangnya itu ia berpikir keras, sebab kisah yang
sedang direkanya ini harus mampu menarik
perhatian Gerald sampai bantuan tiba.
"Sudah kukatakan padamu," ujarnya perlahan,
"bahwa aku dulu bekerja sebagai juru steno
selama lima belas tahun. Sebenarnya tidak
sepenuhnya begitu. Ada dua selingan di
antaranya. Yang pertama terjadi ketika umurku
dua puluh dua. Aku bertemu pria tua yang
cukup kaya. Dia jatuh cinta padaku dan
memintaku menikah dengannya. Aku menerima
lamarannya, dan kami pun menikah." Alix
berhenti sejenak. "Aku membujuknya untuk
mengasuransikan diri demi aku."
Alix melihat wajah suaminya tiba-tiba penuh
minat, dan ia melanjutkan dengan semangat
baru. "Di zaman perang, aku pernah bekerja di
apotek rumah sakit. Di sana aku menangani
segala macam obat-obatan dan racun."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia berhenti sambil termenung. Sekarang Gerald
benar-benar terpikat, tak diragukan lagi.
Pembunuh tentunya tertarik dengan
pembunuhan. Alix berspekulasi dengan hal ini,
dan berhasil. Ia melirik ke arah jam. Pukul
setengah sembilan lebih lima menit.
"Ada satu macam racun-berupa serbuk putih.
Digunakan sejumput saja bisa menyebabkan
kematian. Kau barangkali paham soal racun?"
Ia mengajukan pertanyaan itu dengan waswas.
Kalau Gerald paham, ia harus berhati-hati.
"Tidak," sahut Gerald, "aku tidak tahu banyak
mengenai racun." Alix menarik napas lega.
"Kau tentunya pernah mendengar tentang
hyoscine? Ini obat yang bereaksi sama, tapi
sama sekali tak terdeteksi. Dokter mana pun
akan menulis gagal jantung di surat kematian.
Aku mencuri sedikit obat itu dan
menyimpannya." Alix berhenti, menyusun
kekuatan. "Teruskan," kata Gerald.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tidak. Aku takut. Aku tidak bisa
mengatakannya. Lain kali saja." "Sekarang!"
bentak Gerald tak sabar. "Aku ingin
mendengar."
"Kami sudah menikah sebulan, dan aku bersikap
baik sekali terhadap suamiku yang sudah tua
itu, sangat ramah dan penuh pengabdian. Di
depan semua tetangga dia memuji-mujiku
setinggi langit. Semua orang tahu betapa
baiknya aku sebagai istri. Tiap malam aku
sendiri membuatkan kopi untuknya. Suatu
malam, saat kami hanya berdua, aku
memasukkan sejumput serbuk alkaloid
mematikan itu ke dalam cangkirnya..."
Alix berhenti, dan menyelipkan benang dengan
cermat ke lubang jarumnya. Dia, yang seumur
hidup belum pernah berakting, saat itu
menandingi aktris paling hebat sedunia. Ia
benar-benar menghayati peran sang pembunuh
berdarah dingin.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Suasananya sangat tenteram. Aku duduk
memerhatikannya. Suatu saat dia terengah
sedikit dan minta udara segar. Aku membuka
jendela. Kemudian dia berkata bahwa dia tak
mampu bergerak dari kursinya. Sebentar
kemudian dia mati. "
Alix berhenti, lalu tersenyum. Jam menunjukkan
pukul sembilan kurang seperempat. Sebentar
lagi bantuan pasti tiba.
"Berapa banyak uang asuransi itu?" ujar Gerald.
"Sekitar dua ribu pound. Aku berjudi dengan
uang itu dan kalah. Aku lalu kembali bekerja di
kantor. Tapi aku tidak pernah berniat berlama-
lama di situ. Kemudian aku berjumpa laki-laki
lain. Di kantor, aku tetap menggunakan nama
gadisku. Dia tidak tahu aku pernah menikah.
Usianya lebih muda, lumayan tampan dan kaya.
Kami menikah diam-diam di Sussex. Dia tidak
mau mengasuransikan hidupnya, tapi sudah
tentu dia membuat surat wasiat yang
menguntungkanku. Sama seperti suami

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pertamaku, dia ingin akulah yang membuatkan
kopinya."
Alix tersenyum menerawang, dan
menambahkan dengan sederhana, "Aku
memang ahli menyeduh kopi."
Kemudian ia melanjutkan,
"Aku punya beberapa teman di desa tempat
kami tinggal. Mereka sangat iba padaku ketika
suamiku tiba-tiba meninggal karena gagal
jantung sesudah makan malam. Aku tidak
begitu suka dengan dokternya. Rasanya dia
tidak mencurigaiku, tapi yang jelas, dia sangat
terkejut dengan kematian mendadak suamiku.
Entah mengapa aku lalu kembali bekerja di
kantor. Sudah kebiasaan, kurasa. Suami
keduaku meninggalkan sekitar empat ribu
pound. Kali ini aku tidak menggunakannya
untuk berjudi; aku menginvestasikannya.
Kemudian, kaulihat..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Tetapi kalimatnya dipotong. Dengan wajah
merah padam, setengah tercekik, Gerald Martin
menudingnya dengan jari gemetar.
"Kopi itu-ya Tuhan! Kopinya!"
Alix menatapnya.
"Sekarang aku mengerti mengapa rasanya
pahit. Dasar iblis! Kau menjalankan siasatmu
lagi." Kedua tangannya mencengkeram
sandaran lengan kursinya. Ia sudah siap
menerkam Alix. "Kau telah meracuniku."
Alix menjauh darinya sampai ke perapian.
Dengan ketakutan ia membuka mulut untuk
menyangkal-lalu terhenti. Sesaat lagi Gerald
akan menerkamnya. Alix mengumpulkan
seluruh kekuatannya. Ia menatap lurus-lurus ke
mata suaminya.
"Ya," ujarnya. "Aku telah meracunimu.
Racunnya sedang bekerja. Saat ini kau tidak bisa
bergerak dari kursimu- kau tidak bisa
bergerak..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kalau saja ia mampu menahan laki-laki itu di
situ-beberapa menit saja...
Ah! Bunyi apa itu? Langkah-langkah kaki di
jalan. Derit pintu pagar. Kemudian langkah-
langkah kaki di jalan setapak di luar. Pintu
depan terbuka.
"Kau tidak bisa bergerak, " katanya lagi.
Kemudian ia melintas di depan suaminya,
berlari pontang-panting ke luar ruangan, dan
jatuh pingsan dalam pelukan Dick Windyford.
"Ya Tuhan! Alix!" seru Dick.
Kemudian ia berpaling ke arah pria yang datang
bersamanya, sosok tegap yang mengenakan
seragam polisi. "Tolong lihat apa yang terjadi di
ruangan itu."
Ia merebahkan Alix dengan hati-hati di sofa, lalu
membungkuk di atasnya.
"Gadis kecilku," gumamnya. "Gadis kecilku yang
malang. Apa yang telah mereka lakukan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


terhadapmu?" Kelopak mata Alix bergerak-
gerak, dan bibirnya hanya membisikkan nama
Dick. Dick dikejutkan polisi yang menggamit
lengannya.
"Di dalam tidak ada siapa pun, Sir, kecuali
seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi.
Tampaknya dia sangat ketakutan, dan..."
"Ya?"
"Hmm, Sir, dia sudah... mati."
Mereka berdua terkejut mendengar suara Alix.
Ia seolah bicara dalam mimpi, dengan mata
masih terpejam. "Dan sebentar kemudian "
katanya, seakan mengutip dari bacaan, "dia
mati.... "

GADIS DI KERETA API

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"HABIS perkara!" ujar George Rowland sedih,
sambil mengamati bagian depan bangunan
mengagumkan namun kotor yang baru saja
ditinggalkannya.
Tempat ini boleh dikata cocok sekali untuk
mewakili kuasa Uang-Uang dalam bentuk
William Rowland, paman George yang disebut-
sebut tadi, baru saja menyampaikan pesannya
dengan sangat terbuka. Dalam waktu sepuluh
menit, posisi George sebagai kesayangan sang
paman, ahli waris kekayaannya, dan orang
muda dengan karier menjanjikan, mendadak
berubah menjadi salah satu pengangguran.
"Dalam pakaian ini mereka bahkan takkan
memberiku sedekah," ujar Mr. Rowland muram.
"Kalau mencari uang dengan menulis sajak dan
menjualnya dari rumah ke rumah seharga dua

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pence (atau 'berapa saja yang mau Anda bayar,
Nyonya'), aku sama sekali tidak berbakat."
Memang benar, George merupakan bukti
kepiawaian penjahit yang membuat setelannya.
Penampilannya sangat perlente dan
mengesankan. Bahkan Raja Salomo dan bunga-
bunga bakung di padang takkan mampu
menandingi George. Namun manusia tidak bisa
hidup dari pakaian saja-kecuali ia sudah cukup
terlatih dalam seni tersebut-dan Mr. Rowland
sangat menyadari hal itu.
"Dan semua ini gara-gara pertunjukan brengsek
semalam," keluhnya sedih.
Pertunjukan brengsek semalam adalah Pesta
Covent Garden. Mr. Rowland pulang agak
malam-atau lebih tepat agak pagi-alias subuh-
yang jelas, ia tidak begitu ingat apakah ia pulang
atau tidak. Rogers, kepala pelayan pamannya,
senang membantu dan pasti mampu
memberikan keterangan lebih rinci tentang hal
itu. Kepala yang mau pecah, secangkir teh

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kental, masuk kantor jam dua belas kurang lima
menit dan bukannya setengah sepuluh, telah
memicu bencana itu. Mr. Rowland senior, yang
selama dua puluh empat tahun telah
memaafkan dan membiayai kerabatnya
sebagaimana seharusnya dilakukan sanak
keluarga yang bijaksana, tiba-tiba saja
membuang semua taktik itu dan menampilkan
dirinya yang baru. Jawaban-jawaban ngawur
George (kepala anak muda ini masih terbuka
dan tertutup bagaikan instrumen abad
pertengahan Pengadilan Agama) membuatnya
semakin kesal. William Rowland benar-benar
tidak tanggung-tanggung. Ia mengusir keluar
keponakannya dengan beberapa kata ringkas,
lalu melanjutkan penelitiannya yang sempat
terganggu tentang beberapa ladang minyak di
Peru.
George Rowland keluar dengan marah dari
kantor pamannya, lalu melangkah ke pusat kota
London. George orang yang praktis. Pikirnya,
makan siang lezat sangat penting untuk

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


meninjau kembali situasi. Maka ia makan.
Kemudian ia melangkah kembali ke puri
keluarga itu. Rogers membukakan pintu.
Wajahnya yang terlatih tidak menampakkan
rasa heran saat melihat George muncul di saat
yang tidak biasa ini.
"Selamat sore, Rogers. Tolong siapkan barang-
barangku. Aku mau pergi."
"Baik, Sir. Untuk kunjungan singkat, Sir?"
"Untuk selamanya, Rogers. Sore ini aku mau
berangkat menuju koloni." "Sungguh, Sir?"
"Ya. Itu kalau ada kapal yang cocok. Apa kau
tahu tentang kapalnya, Rogers?" "Koloni mana
yang akan Anda kunjungi, Sir?"
"Aku tidak terlalu pilih-pilih. Yang mana saja
bolehlah. Misalnya saja Australia. Bagaimana
menurutmu, Rogers?" Rogers berdeham hati-
hati.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Begini, Sir, saya pernah mendengar di sana
pasti ada lowongan bagi siapa saja yang benar-
benar ingin bekerja." Mr. Rowland menatapnya
dengan penuh perhatian dan rasa kagum.
"Kau menyampaikannya dengan tepat, Rogers.
Memang itulah yang sedang kupikirkan. Aku
tidak akan ke Australia-setidaknya bukan hari
ini. Tolong ambilkan aku buku A.B.C. Kita akan
memilih tujuan yang lebih dekat."
Rogers membawakan buku yang diminta.
George membukanya asal-asalan dan
membalik-balik halamannya dengan cepat.
"Perth... terlalu jauh. Putney Bridge... terlalu
dekat. Ramsgate? Kurasa tidak. Reigate juga
sama saja. Wah-luar biasa sekali! Ada tempat
bernama Rowland's Castle. Pernah mendengar
tentang tempat ini, Rogers?" "Saya kira Anda
bisa ke sana dari Waterloo, Sir."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Kau benar-benar luar biasa, Rogers. Kau tahu
segalanya. Wah, wah, Rowland's Castle! Seperti
apa ya tempat itu?"
"Menurut saya tidak begitu istimewa, Sir."
"Kebetulan; jadi semakin sedikit saingan.
Dusun-dusun kecil dan tenang seperti itu
menyimpan banyak semangat feodal kuno.
Keturunan tulen keluarga Rowland yang
terakhir pasti mendapat penghormatan
langsung. Aku takkan heran bila dalam
seminggu mereka sudah mengangkatku jadi
wali kota."
Ia lalu menutup buku itu dengan sekali empas.
"Batu dadu sudah dilempar. Tolong siapkan satu
koper kecil untukku, Rogers. Sampaikan
pujianku untuk koki, dan tanyakan apakah dia
mau meminjamkan kucing padaku. Dick
Whittington, kau tahu, kan? Bila kau punya
tujuan jadi wali kota London, kucing diperlukan
sekali."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Maaf, Sir, tapi saat ini kucing itu takkan bisa
dibawa."
"Kenapa tidak?"
"Dia baru melahirkan delapan ekor anak, Sir.
Tadi pagi." "Yang benar saja. Kusangka namanya
Peter." "Memang, Sir. Kami sendiri kaget."
"Salah menentukan jenis kelaminnya, ya? Nah,
kalau begitu aku terpaksa harus pergi tanpa
kucing. Tolong segera siapkan keperluanku."
"Baik, Sir."
Rogers ragu sejenak, lalu melangkah ke dalam.
"Maafkan kelancangan saya, Sir, tapi
seandainya saya jadi Anda, saya takkan terlalu
merisaukan ucapan Mr. Rowland pagi tadi.
Semalam beliau menghadiri acara makan
malam di kota, dan..." "Cukup," sahut George.
"Aku mengerti." "Dan mengingat sakit
encoknya..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku tahu, aku tahu. Malam yang cukup sibuk
untukmu, Rogers, menghadapi kami berdua,
betul? Tapi aku sudah bertekad membuat diriku
terkenal di Rowland's Castle-tempat lahir
leluhurku yang bersejarah-ungkapan yang cocok
untuk pidato, kan? Telegram yang dialamatkan
padaku di sana, atau iklan terselubung di koran
pagi, bisa mengingatkanku kapan saja hidangan
ayam saus sedang disiapkan. Dan sekarang... ke
Waterloo!-seperti dikatakan Wellington pada
malam sebelum pertempuran bersejarah itu."
Di malam hari, Stasiun Waterloo tidak tampak
semarak. Mr. Rowland akhirnya mendapatkan
kereta api yang akan membawanya ke tujuan,
namun bukan kereta api yang bagus atau
mengesankan-kereta yang sangat diinginkan
orang untuk mengadakan perjalanan. Mr.
Rowland menempati sendiri gerbong kelas satu
yang berada di awal rangkaian. Kabut melayang-
layang turun tak menentu ke atas kota,
sebentar menyingsing, sebentar turun kembali.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Peron tampak sepi, dan hanya desah lokomotif
yang memecah kesunyian.
Mendadak terjadi sesuatu yang
menggemparkan.
Mula-mula muncul seorang gadis. Ia membuka
pintu dan melompat masuk, menyadarkan Mr.
Rowland yang sedang terkantuk-kantuk, dan
berseru, "Oh! Sembunyikan aku-oh! Tolong
sembunyikan aku."
Pada dasarnya, George termasuk orang impulsif
yang langsung bertindak-tidak menanyakan
alasan, tapi langsung beraksi, lalu mati bila
perlu. Hanya ada satu tempat persembunyian di
gerbong kereta api-di bawah bangku. Dalam
waktu tujuh detik gadis itu sudah meringkuk di
situ, tubuhnya tertutup koper George yang
ditegakkan sembarangan. Tepat pada waktunya.
Seraut wajah penuh amarah melongok di
jendela gerbong.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Keponakanku! Anda menyembunyikannya di
sini. Aku menginginkan keponakanku."
George yang sedikit terengah, bersandar di
pojok, membenamkan diri di balik koran
terbitan malam edisi pukul 01.30, seakan asyik
membaca kolom olah raga. Ia menaruh
korannya dengan lagak orang yang baru
tersadar dari lamunannya.
"Maaf, Sir?" ujarnya sopan.
"Keponakanku-apa yang Anda lakukan
dengannya?"
Bertindak atas paham bahwa menyerang selalu
lebih baik daripada bertahan, George langsung
beraksi. "Apa gerangan maksud Anda?"
teriaknya menirukan gaya pamannya.
Orang tadi terdiam sejenak, tercengang melihat
kegarangan mendadak itu. Ia berperawakan
gemuk, masih terengah-engah seakan baru
berlari cukup jauh. Rambutnya dipangkas gaya
en brosse, dan ia memiliki kumis ala

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kepercayaan Hohenzollern. Suaranya parau, dan
sikap kakunya menunjukkan ia lebih terbiasa
mengenakan seragam. George memiliki
prasangka khas Britania Raya terhadap orang
asing-terutama yang berpenampilan Jerman.
"Apa gerangan maksud Anda, Sir?" ulangnya
marah.
"Keponakanku masuk ke sini," jawab laki-laki
itu. "Aku melihatnya sendiri. Apa yang telah
Anda lakukan dengannya?"
George melempar korannya, lalu melongokkan
kepala dan kedua bahunya ke luar jendela.
"Begitu?" ia mengaum. "Ini pemerasan. Tapi
Anda salah alamat. Pagi ini aku sudah membaca
tentang Anda di koran Daily Mail. Penjaga,
kemari!"
Petugas yang dari jauh sudah tertarik pada
keributan itu bergegas mendekat.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ini," kata Mr. Rowland dengan gaya berwibawa
yang sangat dikagumi masyarakat golongan
lebih rendah. "Orang ini membuatku kesal. Bila
perlu, aku akan mengadukannya karena usaha
pemerasan. Dia menuduh aku
menyembunyikan keponakannya di sini.
Sekarang banyak orang asing sering mencoba
memeras dengan cara ini. Kebiasaan ini harus
dihentikan. Tolong bawa pergi dia. Ini kartu
namaku bila Anda mau."
Penjaga itu silih berganti menatap kedua pria di
depannya. Ia segera membuat keputusan.
Pelatihan yang diterimanya membuatnya tidak
menyukai orang asing, dan menghormati
sekaligus mengagumi para pria yang
mengadakan perjalanan dengan gerbong kelas
satu.
Ia lalu memegang bahu sang pengganggu.
"Ayo," ujarnya, "jangan ganggu dia."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Menghadapi saat krisis ini, kemampuan
berbahasa Inggris orang asing tadi pun sirna,
dan ia langsung mencaci-maki dalam bahasa
ibunya.
"Cukup," kata si penjaga. "Minggir, kereta sudah
siap berangkat."
Bendera isyarat dilambaikan dan peluit
berbunyi. Dengan sentakan malas kereta pun
meninggalkan stasiun. George tetap di pos
pengintaiannya sampai kereta sudah benar-
benar meninggalkan peron. Setelah itu ia
menarik kepalanya kembali dari luar jendela,
mengangkat kopernya, lalu menjatuhkannya di
rak bagasi. "Sudah aman sekarang. Kau boleh
keluar," katanya menenangkan. Gadis itu
merangkak keluar dari bawah bangku.
"Oh!" ujarnya terengah. "Bagaimana aku bisa
menyampaikan terima kasihku?" "Tidak
mengapa. Percayalah, aku tadi cukup terhibur,"
jawab George santai.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


George tersenyum untuk membuat gadis itu
tenang. Mata gadis itu menatap agak bingung.
Sepertinya ia kehilangan sesuatu yang biasa
dimilikinya. Saat itulah ia menangkap bayangan
dirinya di kaca sempit di depannya, dan ia pun
tersedak.
Perlu dipertanyakan apakah para petugas
pembersih gerbong menyapu bagian bawah
tempat duduk atau tidak. Namun kenyataan
menunjukkan bahwa mereka tidak
melakukannya, sebab kotoran dan asap
berkumpul di situ bagaikan burung bermigrasi.
George nyaris tak sempat memerhatikan
penampilan gadis itu. Kedatangannya begitu
mendadak, dan waktu yang dibutuhkan untuk
menyembunyikan dirinya begitu singkat. Tapi
wanita muda yang menghilang di bawah tempat
duduk tadi jelas-jelas langsing dan berpakaian
bagus. Sekarang topi merahnya yang kecil itu
sudah kusut dan penyok, sedangkan wajahnya
coreng-moreng terkena kotoran.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Oh!" pekik gadis itu tertahan.
Dengan gugup ia meraih tasnya. George,
dengan sikap pria terhormat sejati, menatap ke
luar jendela sambil mengagumi jalan-jalan kota
London di sebelah selatan Sungai Thames.
"Bagaimana aku bisa menyampaikan terima
kasihku?" ujar gadis itu lagi.
Menganggap pertanyaan itu sebagai isyarat
bahwa percakapan sudah boleh dilanjutkan
kembali, George mengalihkan pandangan, dan
menolak dengan sopan, namun kali ini dengan
sikap jauh lebih hangat.
Gadis itu benar-benar cantik! George berkata
pada diri sendiri bahwa ia belum pernah melihat
gadis secantik ini. Hasrat yang terlihat melalui
sikapnya semakin nyata.
"Menurutku Anda baik sekali," ujar gadis itu
bersemangat.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sama sekali tidak. Kejadian tadi keciiil. Senang
sekali bisa membantu," gumam George. "Baik
sekali," ulang gadis itu tegas.
Memang sangat menyenangkan bila gadis
tercantik yang pernah Anda lihat menatap lekat-
lekat sambil mengutarakan betapa baiknya
Anda. George menikmati hal ini semaksimal
mungkin.
Mereka terdiam sejenak. Sepertinya gadis itu
menyadari bahwa ia diharapkan memberikan
penjelasan lebih lanjut. Ia agak tersipu.
"Bagian yang memalukan adalah," ujarnya
gugup, "aku khawatir tak dapat
menjelaskannya." Ia mendongak pada George
dengan keraguan memilukan. "Kau tidak dapat
menjelaskan?" "Tidak."
"Benar-benar sempurna!" kata Mr. Rowland
bersemangat. "Maaf?"
"Kataku, betapa sempurnanya. Persis seperti
buku-buku yang membuatmu tidak bisa tidur

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sepanjang malam. Tokoh wanitanya selalu
berkata, 'Aku tidak bisa menjelaskan' di bab
pertama. Di bab terakhir dia tentu saja mau
menjelaskannya, dan sebenarnya tidak ada
alasan mengapa dia tidak melakukannya sejak
awal-kecuali bahwa ini akan membuat kisahnya
tidak seru lagi. Aku tidak bisa menggambarkan
betapa senangnya hatiku bisa terlibat dalam
misteri nyata-aku tidak tahu ada hal semacam
itu. Kuharap ini ada kaitannya dengan
dokumen-dokumen rahasia yang sangat
penting, dan dengan Balkan Express. Aku sangat
suka bepergian dengan kereta api itu."
Gadis itu terbelalak curiga.
"Apa yang membuat Anda menyebut Balkan
Express?" tanya gadis itu tajam.
"Kuharap sikapku tidak lancang," George buru-
buru menambahkan. "Pamanmu mungkin
bepergian dengan kereta api ini."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Pamanku..." Ia terdiam, lalu berkata lagi.
"Pamanku..."
"Benar," sahut George simpatik. "Aku juga
punya paman. Tak ada yang harus bertanggung
jawab atas paman mereka. Paman adalah batu
sandungan di alam ini-begitulah anggapanku."
Tiba-tiba gadis itu mulai tertawa. Saat ia
berbicara, George menyadari logat asing yang
sedikit membayang dalam suaranya. Awalnya ia
menyangka gadis itu orang Inggris.
"Alangkah menyegarkan dan luar biasanya
Anda, Mr...."
"Rowland. Teman-temanku memanggilku
George."
"Namaku Elizabeth..."
Mendadak ia terdiam.
"Aku menyukai nama Elizabeth," ujar George
untuk menutupi kecanggungan gadis itu. "Orang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tidak memanggilmu Bessie atau nama jelek
semacam itu, kan?" Gadis itu menggeleng.
"Nah," kata George, "mengingat kita sudah
saling berkenalan, sebaiknya kita mulai serius.
Bila kau mau berdiri, Elizabeth, aku akan
membersihkan bagian belakang mantelmu."
Dengan patuh gadis itu berdiri, dan George
menepati janjinya. "Terima kasih, Mr. Rowland."
"George. Teman-temanku memanggilku
George, ingat? Dan kau tidak bisa masuk ke
gerbongku yang indah dan kosong ini,
meringkuk di bawah tempat duduk,
menyebabkan aku berbohong pada pamanmu,
lalu menolak berteman denganku, kan?"
"Terima kasih, George."
"Itu lebih baik."
"Apa sekarang aku sudah terlihat beres?" tanya
Elizabeth sambil berusaha melihat ke belakang
dari pundak kirinya. "Kau terlihat... oh! Kau
terlihat... kau terlihat beres," sahut George

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tergagap sambil mengekang lidahnya mati-
matian.
"Semua ini begitu mendadak," jelas gadis itu.
"Pasti."
"Dia melihat kami di dalam taksi, dan begitu
sampai di stasiun aku langsung melompat
masuk ke sini, karena tahu dia tepat di
belakangku. Omong-omong, ke mana tujuan
kereta ini?" "Rowland's Castle," sahut George
mantap. Gadis itu tampak bingung. "Rowland's
Castle?"
"Tidak langsung, tentu saja. Nanti sesudah
berhenti berkali-kali dan berlambat-lambat.
Tapi aku yakin sudah bisa tiba di situ sebelum
tengah malam. Kereta South-Western yang
lama sangat bisa diandalkan-lambat tapi pasti-
dan aku yakin Jawatan Kereta Api Southern
mempertahankan tradisi lamanya."
"Aku tidak yakin ingin pergi ke Rowland's
Castle," ujar Elizabeth ragu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Kau menyakiti hatiku. Itu tempat yang sangat
menyenangkan."
"Apa Anda pernah ke sana?"
"Tidak juga. Tapi ada banyak tempat lain yang
bisa kaukunjungi, bila kau tidak ingin ke
Rowland's Castle. Seperti misalnya Woking,
Weybridge, dan Wimbledon. Kereta ini pasti
akan berhenti di salah satu kota."
"Aku mengerti," ujar gadis itu. "Ya, aku bisa
turun di situ, kemudian kembali ke London.
Kurasa inilah yang terbaik."
Bahkan saat ia masih berbicara, kereta api itu
mulai mengurangi kecepatan. Mr. Rowland
menatapnya dengan pandangan memohon.
"Mungkin aku bisa melakukan sesuatu..."
"Tidak, sungguh. Anda sudah berbuat banyak."
Hening sejenak, dan tiba-tiba gadis itu berkata,
"Seandainya saja... seandainya saja aku bisa
menjelaskan. Aku..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Astaga, jangan lakukan! Ceritanya takkan seru
lagi. Tapi dengar, apa benar tak ada yang bisa
kulakukan untukmu? Membawakan surat-surat
rahasia ke Wina-atau semacamnya? Pasti ada
surat-surat rahasia. Beri aku kesempatan."
Kereta api sudah berhenti. Dengan cepat
Elizabeth melompat turun ke peron. Ia berbalik
dan bercakap pada George melalui jendela.
"Apa Anda bersungguh-sungguh? Apa Anda
benar-benar mau melakukan sesuatu untuk
kami-untukku?"
"Aku mau melakukan apa pun untukmu,
Elizabeth."
"Meskipun aku tidak bisa memberikan alasan?"
"Persetan dengan alasan!"
"Meskipun hal itu... berbahaya?"
"Semakin berbahaya, semakin baik."
Gadis itu ragu sejenak, kemudian seakan
membuat keputusan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Condongkan badan ke luar jendela.
Pandanglah peron seakan tidak benar-benar
memandang." Rowland berusaha keras
mematuhi permintaan yang agak sulit itu. "Apa
Anda melihat pria yang baru naik itu-pria
berjanggut hitam dan bermantel warna pucat
itu? Ikuti dia, perhatikan apa yang dilakukannya
dan ke mana dia pergi."
"Cuma itu saja?" tanya Mr. Rowland. "Apa yang
ku..."
Gadis itu memotong kalimatnya.
"Instruksi selanjutnya akan diberikan pada
Anda. Perhatikan dia-dan jagalah ini." Ia
menyodorkan bungkusan kecil ke tangan
George. "Jagalah dengan nyawa Anda. Ini kunci
dari semuanya."
Kereta api melanjutkan perjalanan. Mr.
Rowland tetap menatap ke luar jendela, sambil
memerhatikan sosok jangkung Elizabeth yang
anggun itu berjalan menuruni peron. Di

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tangannya ia menggenggam bungkusan kecil
yang disegel itu.
Sisa perjalanannya terasa membosankan dan
tanpa kejadian istimewa. Kereta ini bukan
kereta api cepat, dan berhenti di mana-mana. Di
setiap stasiun, George menjulurkan kepalanya
ke luar jendela, khawatir kalau-kalau buruannya
turun. Sekali waktu ia berjalan-jalan di peron
bila kereta berhenti agak lama, dan memastikan
orang itu masih ada di tempat.
Tujuan akhir kereta adalah Portsmouth, dan di
situlah pelancong berjanggut hitam itu turun. Ia
berjalan menuju hotel kecil kelas dua dan
memesan kamar. Mr. Rowland melakukan hal
sama.
Kedua kamar itu berada di gang yang sama, dan
berjarak dua pintu. Bagi George, pengaturan ini
cukup memuaskan. Ia sama sekali belum
berpengalaman dalam seni menguntit, tapi
ingin sekali menjalankan tugasnya dengan baik,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan
Elizabeth terhadapnya.
Saat makan malam, George memperoleh meja
tidak jauh dari buruannya. Ruang makan tidak
penuh, dan George menduga sebagian besar
orang yang makan di situ adalah pelancong
komersial, orang-orang terhormat pendiam
yang menyantap makanan mereka dengan
lahap. Cuma seorang pria yang menarik
perhatiannya, laki-laki kecil dengan rambut dan
kumis cokelat kemerah-merahan dengan
penampilan mirip kuda. Tampaknya ia juga
tertarik pada George, lalu mengajaknya minum
dan bermain biliar seusai makan malam. Namun
George baru saja melihat dari kejauhan pria
berjanggut hitam tadi mengenakan topi dan
mantelnya, jadi ia menolak ajakan itu dengan
sopan. Saat berikutnya ia sudah berada di jalan,
menambah wawasan baru dalam seni
menguntit yang cukup sulit itu. Pengejaran itu
terasa panjang dan meletihkan-dan pada
akhirnya seakan tidak membawanya ke mana

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pun. Setelah berputar-putar dan berbelok
menyusuri jalan-jalan di Portsmouth sejauh
kurang-lebih enam kilometer, pria itu kembali
ke hotel, diikuti George dengan ketat. Rasa ragu
menyerang George. Mungkinkah orang itu
menyadari kehadirannya? Saat ia
mempertanyakan hal ini sambil berdiri di ruang
depan, pintu depan pun terbuka dan pria kecil
berambut cokelat kemerah-merahan itu masuk.
Rupanya ia juga baru jalan-jalan keluar.
George tiba-tiba menyadari bahwa gadis cantik
di kantor hotel itu berbicara padanya.
"Anda Mr. Rowland, bukan? Ada dua pria
datang dan ingin bertemu Anda. Dua pria asing.
Mereka menunggu di ruangan kecil di ujung
gang."
Agak heran, George mencari ruangan itu. Di situ
duduk dua laki-laki yang langsung bangkit
berdiri dan membungkuk dalam-dalam.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mr. Rowland? Saya yakin, Sir, Anda bisa
menebak identitas kami."
George memandang mereka silih berganti. Yang
berbicara tadi yang lebih tua, pria beruban dan
angkuh yang berbahasa Inggris sempurna. Pria
yang satu berperawakan jangkung, berjerawat,
masih muda, dan berambut pirang, dengan raut
wajah Jerman yang tidak semakin tampan
karena air muka cemberutnya itu.
Sedikit lega karena tamunya bukanlah pria tua
yang dijumpainya di Waterloo, George
mengambil sikap seceria mungkin.
"Silakan duduk, Tuan-Tuan. Saya senang
berkenalan dengan Anda. Bagaimana kalau kita
minum?" Pria yang lebih tua mengangkat
tangannya, menolak ajakan itu.
"Terima kasih, Lord Rowland-tidak perlu. Kami
hanya punya waktu sedikit-cukup bagi Anda
untuk menjawab satu pertanyaan."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Anda baik sekali memberiku gelar bangsawan
tadi," ujar George. "Sayang sekali Anda tidak
bersedia minum bersamaku. Dan apakah
pertanyaan penting itu?"
"Lord Rowland, Anda meninggalkan London
bersama seorang wanita. Anda tiba di sini
seorang diri. Di manakah wanita itu?"
George bangkit berdiri.
"Saya tidak memahami pertanyaan itu," ujarnya
dingin, semirip mungkin dengan pahlawan
dalam cerita novel. "Saya mendapat
kehormatan mengucapkan selamat malam pada
Anda, Tuan-Tuan."
"Tapi Anda memahaminya. Anda sangat
memahaminya," seru pria muda itu tiba-tiba.
"Apa yang telah Anda lakukan terhadap Alexa?"
"Tenanglah, Sir," gumam rekannya. "Aku
mohon, tenanglah."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya bisa memastikan pada Anda," ujar
George, "bahwa saya tidak mengenal wanita
dengan nama itu. Pasti ada kekeliruan."
Pria tua itu memerhatikannya dengan saksama.
"Mana mungkin," ujarnya acuh tak acuh. "Saya
telah memberanikan diri memeriksa daftar
nama tamu hotel. Anda telah mencatatkan diri
sebagai Mr. G. Rowland dari Rowland's Castle."
Mau tak mau George tersipu.
"Itu... itu cuma lelucon kecil saja," jawabnya
lemah.
"Itu dalih yang tak berarti. Ayolah, jangan kita
mengulur-ulur waktu. Di manakah Yang Mulia?"
"Bila yang Anda maksud adalah Elizabeth..."
Sambil melolong marah orang muda tadi
melompat kembali ke arah George. "Babi
kurang ajar-anjing! Berani-beraninya kau
menyebutnya seperti itu."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Pria satunya berkata lambat-lambat, "Yang saya
maksud adalah Grand Duchess Anastasia Sophia
Alexandra Marie Helena Olga Elizabeth dari
Catonia." "Oh!" kata Mr. Rowland tak berdaya.
Ia berusaha mengingat-ingat semua hal yang
pernah diketahuinya tentang Catonia.
Seingatnya, ini sebuah kerajaan kecil di Balkan,
dan ia teringat sesuatu tentang revolusi yang
pernah terjadi di sana. Ia memulihkan diri
sebisa-bisanya. "Rupanya kita membicarakan
orang yang sama," ujarnya ceria, "hanya saja
saya memanggilnya Elizabeth." "Baiklah kalau
begitu," gertak pria yang lebih muda. "Kita akan
berkelahi." "Berkelahi?" "Duel."
"Saya tidak pernah berduel," sahut Mr. Rowland
tegas. "Mengapa tidak?" tanya lawannya kesal.
"Saya terlalu takut terluka."
"Aha! Begitu? Kalau begitu, paling tidak aku
akan menarik hidung Anda."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Laki-laki muda itu menyerang dengan garang.
Apa persisnya yang terjadi, sulit dilihat, tapi
mendadak ia melambung ke udara dan jatuh ke
lantai dengan berdebam. Ia bangkit berdiri
dengan kebingungan. Mr. Rowland tersenyum
senang.
"Seperti saya katakan tadi," komentarnya, "saya
selalu takut terluka. Itu sebabnya saya pikir ada
baiknya belajar jujitsu."
Hening sejenak. Dengan ragu kedua orang asing
itu menatap pria muda yang tampak ramah itu,
seakan mereka baru menyadari bahwa di balik
sikap santainya yang menyenangkan
tersembunyi sifat berbahaya. Wajah pemuda
Jerman itu pucat pasi karena amarah.
"Anda akan menyesalinya," desisnya.
Pria yang lebih tua mempertahankan gengsinya.
"Apa ini keputusan akhir Anda, Mr. Rowland?
Anda menolak memberitahukan keberadaan
Yang Mulia pada kami?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya sendiri juga tidak tahu."
"Anda tentunya tidak berharap saya
memercayainya."
"Saya khawatir Anda memang punya watak sulit
percaya, Sir."
Laki-laki satunya hanya menggeleng, dan sambil
bergumam, "Persoalan kita belum selesai. Anda
akan mendengar dari kami lagi," kedua pria itu
beranjak pergi.
George mengusap kening. Kejadian demi
kejadian berlangsung begitu cepat. Ia jelas-jelas
sedang terlibat skandal Eropa kelas satu.
"Mungkin ini bahkan berarti perang," kata
George penuh harap, sambil memandang
berkeliling untuk melihat di mana gerangan pria
berjanggut hitam itu.
George sangat lega ketika melihatnya duduk di
sudut ruang niaga. George duduk di sudut lain.
Sekitar tiga menit kemudian, laki-laki berjanggut

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


hitam itu pun bangkit berdiri dan masuk tidur.
George mengikuti, dan melihatnya masuk ke
kamarnya, lalu menutup pintunya. George
menarik napas lega.
"Aku butuh istirahat," gumamnya. "Sangat
membutuhkan."
Tiba-tiba muncul pikiran menakutkan.
Bagaimana kalau orang berjanggut hitam itu
menyadari bahwa George sedang
membuntutinya? Bagaimana kalau ia
menyelinap di tengah malam sementara George
tidur nyenyak? Setelah berpikir sejenak, Mr.
Rowland menemukan jalan untuk mengatasi
kesulitan ini. Ia membongkar rajutan salah satu
kaus kakinya sampai mendapatkan benang wol
berwarna netral yang cukup panjang. Ia
menyelinap keluar dari kamarnya, merekatkan
ujung benang itu di bagian tepi pintu orang
asing itu dengan kertas prangko, lalu mengulur
benang wol itu sampai ke kamarnya sendiri. Di
situ ia mengikatkan ujungnya pada lonceng

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


perak kecil-peninggalan pesta malam
sebelumnya. Ia mengamati taktiknya ini dengan
puas. Seandainya orang berjanggut hitam itu
meninggalkan kamarnya, George akan langsung
diperingatkan oleh denting lonceng itu.
Setelah membereskan masalah ini, George
langsung menuju tempat tidurnya. Ia telah
menyembunyikan bungkusan kecil itu dengan
cermat di bawah bantalnya. Sementara
berbaring, ia merenung kurang-lebih begini:
"Anastasia Sophia Marie Alexandra Olga
Elizabeth. Tunggu dulu, ada satu nama yang
ketinggalan. Sekarang aku bertanya-tanya..."
Karena terganggu dengan kegagalannya
memahami situasi sebenarnya, ia tidak bisa
langsung tertidur. Apa arti semua ini? Apa
hubungan kaburnya sang Grand Duchess
dengan bungkusan bersegel dan orang
berjanggut hitam itu? Apa gerangan yang
membuat Grand Duchess melarikan diri?
Tahukah kedua orang asing tadi bahwa

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


bungkusan itu ada padanya? Apa kira-kira
isinya?
Sementara memikirkan hal-hal tadi dan kesal
karena tidak mampu memecahkan teka-teki itu,
Mr. Rowland akhirnya tertidur juga.
Ia terbangun karena bunyi samar-samar denting
lonceng. Karena bukan termasuk orang yang
bisa langsung bertindak begitu terjaga, ia
membutuhkan satu setengah menit untuk
menyadari situasi. Ia lalu melompat berdiri,
mengenakan sandal, dan setelah membuka
pintu dengan sangat hati-hati, ia menyelinap di
gang. Sesosok bayangan bergerak di ujung gang,
menunjukkan arah yang diambil buruannya.
Sambil sedapat mungkin tidak menimbulkan
bunyi, Mr. Rowland menguntit. Ia sempat
melihat orang berjanggut hitam itu menghilang
ke dalam kamar mandi. Ini membingungkan,
terutama karena tepat di depan kamarnya
sendiri ada kamar mandi. Sambil mendekati
pintu yang terbuka lebar, George mengintip

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


melalui celah. Orang itu sedang berlutut di
samping bak mandi, melakukan sesuatu dengan
papan pinggiran di belakangnya. Ia berada di
sana selama kurang-lebih lima menit, kemudian
bangkit berdiri. George langsung mundur
dengan hati-hati. Terlindung di bayang-bayang
pintunya sendiri, ia memerhatikan orang itu
lewat dan masuk ke kamarnya sendiri.
"Bagus," ujar George dalam hati. "Misteri kamar
mandi akan kuperiksa besok pagi."
Ia berbaring kembali di tempat tidurnya, lalu
menyelipkan tangannya ke bawah bantal, untuk
memastikan bungkusan berharga itu masih
berada di situ. Saat berikutnya ia sudah
menarik-narik seprai dengan panik hingga
berantakan. Bungkusan itu sudah hilang!
Keesokan paginya George sarapan telur dan
ham dengan murung. Ia telah melalaikan pesan
Elizabeth. Ia telah membiarkan bungkusan
berharga yang dipercayakan padanya diambil
darinya, dan "Misteri Kamar Mandi" itu sama

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sekali tidak sepadan dengan kehilangan itu. Ya,
tak pelak lagi, George telah membuat dirinya
benar-benar dungu.
Selesai sarapan, ia kembali ke lantai atas.
Seorang pelayan kamar sedang berdiri
kebingungan di gang.
"Ada masalah, Nona?" tanya George ramah.
"Tamu yang menginap di kamar ini, Sir. Dia
minta dibangunkan pukul setengah sembilan,
tapi dia tidak menjawab ketukanku, dan
pintunya terkunci." "Yang benar saja," ujar
George.
Hatinya tidak enak. Ia lalu bergegas masuk
kamarnya sendiri. Rencana apa pun yang tadi
terbentuk di benaknya langsung terhapus
karena pemandangan yang sama sekali tak
terduga. Di atas meja riasnya tergeletak
bungkusan yang dicuri malam sebelumnya!
George memungut dan memeriksanya. Benar,
tak diragukan lagi ini bungkusan yang sama.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Namun segelnya sudah dirusak. Setelah ragu
sejenak, ia membuka bungkusan itu. Bila orang
lain telah melihat isinya, tak ada alasan
mengapa ia tidak boleh melihatnya juga. Lagi
pula, mungkin saja isinya telah diambil. Setelah
kertas pembungkusnya dibuka, tampaklah kotak
karton kecil, seperti biasa digunakan tukang
emas. George membukanya. Di dalamnya
tampak cincin emas kawin polos di atas
segumpal kapas.
George memegang dan memeriksanya. Di
bagian dalamnya tidak ada tulisan apa pun-apa
saja yang dapat membedakannya dari cincin
kawin lain. George menopang kepalanya
dengan mengerang.
"Ini gila-gilaan," gumamnya. "Betul, benar-
benar gila. Sungguh tidak masuk akal."
Tiba-tiba ia teringat pernyataan pelayan kamar
tadi, dan pada saat yang sama ia juga melihat
ada sandaran lebar di bagian luar jendela. Ini
bukanlah tindakan yang dalam keadaan biasa

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


akan dilakukannya, tapi ia sudah begitu terbakar
oleh rasa ingin tahu dan amarah, hingga ia
cenderung menganggap ringan kesulitan. Ia
melompat ke ambang jendela. Beberapa detik
kemudian, ia sudah mengintip lewat jendela
kamar yang ditempati orang berjanggut hitam
itu. Jendela itu terbuka dan kamarnya kosong.
Tak jauh dari situ tampak tangga darurat.
Jelaslah lewat mana buruannya telah
meninggalkan tempat.
George melompat masuk kamar lewat jendela.
Barang-barang orang yang menghilang itu masih
berserakan. Di antaranya mungkin masih ada
beberapa petunjuk yang bisa menyingkap
kebingungan George. Ia mulai mencari-cari,
dimulai dengan mengaduk-aduk isi tas barang
perlengkapan yang sudah usang.
Suatu bunyi menghentikan pencariannya-bunyi
sangat halus yang pasti berasal dari kamar itu.
Pandangan George melayang ke lemari pakaian
yang besar. Ia melompat dan membuka

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pintunya dengan keras. Begitu terbuka, seorang
laki-laki melompat keluar dan berguling-guling
di lantai, terkunci dalam pelukan keras George.
Ia bukan lawan yang bengis. Semua siasat
istimewa George tidak banyak gunanya.
Akhirnya kedua orang itu terpisah karena
kelelahan, dan untuk pertama kalinya George
melihat siapa lawannya tadi. Ternyata laki-laki
kecil dengan kumis cokelat kemerah-merahan
itu.
"Siapa Anda?" bentak George.
Sebagai jawaban, orang itu mengeluarkan
sehelai kartu nama dan menyodorkannya pada
George, yang lalu membacanya dengan suara
keras.
"Detektif Inspektur Jarrold, Scotland Yard."
"Betul, Sir. Dan sebaiknya Anda katakan pada
saya segala sesuatu yang Anda ketahui tentang
masalah ini."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Begitukah?" sahut George sambil merenung.
"Anda tahu, Inspektur, saya percaya Anda
benar. Bagaimana kalau kita mencari tempat
yang lebih nyaman?"
Di sudut bar yang tenang, George
mengungkapkan seluruh pengalamannya.
Inspektur Jarrold mendengarkan penuh simpati.
"Seperti Anda katakan, ini sungguh
membingungkan, Sir," komentarnya ketika
George selesai. "Banyak hal yang tidak saya
pahami juga, tapi ada satu-dua hal yang bisa
saya jelaskan pada Anda. Saya berada di sini
membuntuti Mardenberg (teman Anda yang
berjanggut hitam itu), dan kemunculan Anda
yang terus memerhatikannya membuat saya
curiga. Saya tidak kenal Anda. Semalam saya
menyelinap ke dalam kamar Anda saat Anda
keluar, dan sayalah yang mengambil bungkusan
kecil itu dari bawah bantal Anda. Ketika saya
membuka dan mendapati bukan ini barang yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


saya cari, saya mengambil kesempatan pertama
untuk mengembalikannya ke kamar Anda."
"Pantas saja," ujar George merenung.
"Sepertinya saya sudah bertindak bodoh sekali."
"Saya takkan berkata begitu, Sir. Bagi seorang
pemula, apa yang Anda lakukan itu sudah bagus
sekali. Anda berkata pagi tadi Anda memeriksa
kamar mandi dan mengambil benda yang
tersembunyi di balik papan pinggirannya?"
"Ya. Ternyata cuma surat cinta brengsek," ujar
George murung. "Saya tidak bermaksud
mengorek-ngorek kehidupan pribadi orang itu."
"Bolehkah saya melihatnya, Sir?"
George mengeluarkan surat yang terlipat itu
dari dalam sakunya dan memberikannya pada
sang inspektur, yang lalu membukanya.
"Tepat seperti Anda katakan tadi, Sir. Tapi saya
kira bila Anda menarik garis dari satu huruf i ke
huruf i berikutnya. Anda akan mendapatkan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


hasil berbeda. Wah, Sir, ini rencana pertahanan
pelabuhan Portsmouth."
"Apa?"
"Betul. Sudah beberapa waktu ini kami
memantau orang ini. Tapi dia terlalu licin bagi
kami. Sebagian besar tugas kotornya diserahkan
pada wanita."
"Wanita?" tanya George lirih. "Siapa namanya?"
"Dia memiliki banyak nama samaran, Sir. Tapi
dia lebih dikenal dengan julukan Betty
Brighteyes. Wanita itu sangat cantik."
"Betty-Brighteyes," ulang George. "Terima
kasih, Inspektur." "Maaf, Sir, tapi Anda kelihatan
kurang sehat."
"Saya memang sedang kurang sehat. Saya sakit
keras. Yang pasti, sebaiknya saya naik kereta api
pertama dan kembali ke kota."
Inspektur itu melihat arlojinya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya rasa kereta apinya jenis yang lambat, Sir.
Sebaiknya Anda menunggu kereta ekspres saja."
"Tidak apa-apa," ujar George murung. "Tak ada
kereta yang lebih lambat daripada yang saya
naiki kemarin."
Duduk sekali lagi dalam gerbong kelas satu,
George membaca berita-berita hari itu dengan
santai. Mendadak ia terlonjak dan menatap
halaman di depannya.
"Kemarin dilangsungkan acara pernikahan
romantis di London ketika Lord Roland Gaigh,
putra kedua Marquis of Axminster, menikah
dengan Grand Duchess Anastasia dari Catonia.
Upacara ini dirahasiakan. Sang Grand Duchess
tinggal di Paris bersama pamannya sejak
pergolakan yang terjadi di Catonia. Dia
berjumpa dengan Lord Roland ketika yang
disebut belakangan ini menjabat sebagai
sekretaris Kedutaan Inggris di Catonia, dan
hubungan mereka diawali sejak itu."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Astaga, aku..."
Mr. Rowland tidak mampu mencari kata yang
tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Ia
menatap kosong ke langit. Kereta itu berhenti di
sebuah stasiun kecil, dan seorang wanita muda
naik. Ia duduk di seberang George. "Selamat
pagi, George," sapanya manis. "Ya ampun!" seru
George. "Elizabeth!" Perempuan itu tersenyum
padanya. Ia tampak lebih cantik.
"Dengar," seru George sambil memegangi
kepalanya. "Demi Tuhan, katakan padaku. Kau
ini Grand Duchess Anastasia atau Betty
Brighteyes?" Wanita itu menatap George.
"Bukan kedua-duanya. Aku Elizabeth Gaigh.
Sekarang aku bisa menceritakan semuanya
padamu. Dan aku harus minta maaf juga. Begini,
Roland (kakakku) sejak dulu mencintai Alexa..."
"Maksudmu Grand Duchess?"
"Ya, keluarganya memanggilnya demikian. Nah,
seperti kukatakan tadi, Roland mencintainya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sejak dulu, demikian pula sebaliknya. Kemudian
pecah revolusi, dan Alexa berada di Paris.
Mereka baru saja hendak meresmikan
hubungan ketika Sturm, pimpinan kedutaan itu,
muncul dan bersikeras membawa pergi Alexa
dan memaksanya menikah dengan Pangeran
Cari, sepupu Alexa, laki-laki mengerikan penuh
jerawat..."
"Rasanya aku pernah berjumpa dengannya,"
ujar George.
"Yang sangat dibenci Alexa. Pangeran Usric,
pamannya, melarangnya bertemu Roland lagi.
Karena itu dia kabur ke Inggris, dan aku ke kota
untuk menemuinya; kami mengirim telegram ke
Roland yang ketika itu berada di Skotlandia.
Pada saat terakhir, ketika kami sedang dalam
perjalanan menuju Kantor Catatan Sipil dengan
taksi, siapa lagi yang kami jumpai dalam taksi
lain, kalau bukan Pangeran Usric sendiri. Sudah
tentu dia membuntuti kami, dan kami
kehilangan akal harus berbuat apa, karena si tua

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


itu pasti akan membuat keributan besar. Lagi
pula, dia wali Alexa. Aku lalu mendapat ide
untuk bertukar tempat dengannya. Zaman ini
orang nyaris tidak bisa melihat wajah seorang
gadis kecuali ujung hidungnya. Aku mengenakan
topi merah dan mantel cokelat Alexa,
sedangkan dia mengenakan mantel kelabu
milikku. Kemudian kami menyuruh sopir taksi ke
Waterloo, dan aku melompat keluar di situ, dan
berlari ke stasiun. Si tua Usric tentu saja
mengejar si topi merah tanpa memikirkan
penumpang taksi yang satu lagi, yang sedang
meringkuk di dalam. Dia tak mau repot-repot
melihat wajahku. Jadi, aku melompat begitu
saja ke dalam gerbongmu dan menyerahkan diri
pada belas kasihanmu."
"Aku sudah paham," sahut George. "Itu
kelanjutannya."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku harus meminta
maaf. Kuharap kau tidak marah sekali. Begini,
sepertinya kau begitu berharap kejadian itu

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


adalah misteri-seperti di buku-buku, hingga aku
tidak mampu melawan godaan. Aku lalu asal
main tunjuk, dan memilih pria yang kelihatan
agak seram di peron, dan menyuruhmu
mengikutinya. Setelah itu aku menyodorkan
bungkusan itu padamu." "Yang berisi cincin
kawin."
"Ya. Alexa dan aku membelinya, sebab Roland
mungkin baru bisa tiba dari Skotlandia tepat
sebelum upacara pernikahan. Dan tentu saja
aku tahu bahwa pada saat aku tiba kembali di
London, mereka berdua sudah tidak
membutuhkannya lagi-mereka tentu terpaksa
menggunakan cincin tirai atau semacamnya."
"Aku mengerti," ujar George. "Sama seperti
semua hal-begitu sederhana bila kau sudah
tahu! Izinkan aku, Elizabeth."
George menanggalkan sarung tangan kiri
Elizabeth, dan menarik napas lega saat melihat
jari manisnya yang masih kosong.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tak mengapa," komentarnya. "Lagi pula, cincin
itu takkan terbuang percuma." "Oh!" seru
Elizabeth, "tapi aku belum mengenalmu sama
sekali."
"Kau sudah tahu betapa baiknya aku," sahut
George. "Omong-omong, baru terpikir olehku,
kau tentunya Lady Elizabeth Gaigh."
"Oh! George, apa kau suka membanggakan
diri?"
"Terus terang saja, memang betul, sedikit.
Impianku adalah, Raja George meminjam uang
setengah crown dariku untuk mengunjunginya
pada akhir minggu. Tapi aku sedang memikirkan
pamanku-yang sekarang sudah berpisah
denganku. Dialah yang benar-benar suka
menyombongkan diri. Kalau dia tahu aku akan
menikah denganmu, dan bahwa kami akan
memperoleh gelar bangsawan dalam keluarga,
dia akan langsung menjadikanku mitranya!"
"Oh! George, apa dia kaya-raya?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Elizabeth, apa kau mata duitan?"
"Sangat. Aku suka sekali menghambur-
hamburkan uang. Tapi aku sedang berpikir
tentang ayahku. Lima anak perempuan, sarat
dengan kecantikan dan darah biru. Dia
mendambakan menantu kaya-raya."
"Hm," kata George. "Ini akan menjadi
perkawinan impian. Bagaimana kalau kita
tinggal di Rowland's Castle? Mereka pasti akan
mengangkatku jadi wali kota London bila kau
jadi istriku. Oh! Elizabeth, Darling, ini mungkin
bertentangan dengan peraturan perusahaan,
tapi aku benar-benar harus menciummu!"

NYANYIKAN LAGU ENAM PENCE

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sir EDWARD PALLISER, K.C, tinggal di Queen
Anne's Close No. 9. Queen Anne's Close adalah
perumahan tipe cul-de-sac. Berlokasi di jantung
Westminster, suasananya tenteram, jauh dari
kebisingan abad dua puluh. Keadaan ini sangat
cocok bagi Sir Edward Palliser.
Sir Edward pernah menjadi salah seorang
pengacara kriminal paling ternama di
zamannya. Mengingat ia sekarang sudah tidak
membuka praktek di kantor pengacara, ia
menghibur diri dengan menghimpun
perpustakaan kriminologi yang sangat lengkap.
Selain itu, ia penulis buku Reminiscences of
Eminent Criminals yang mengenang para
penjahat terkenal.
Malam itu Sir Edward sedang duduk-duduk di
depan perapian perpustakaannya sambil
menghirup kopi pahit bermutu tinggi. Ia
membaca buku karangan Lombroso dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menggeleng. Benar-benar teori yang kreatif,
sekaligus ketinggalan zaman.
Pintu perpustakaan dibuka nyaris tanpa bunyi,
dan pelayannya yang terlatih melintasi
permadani tebal, lalu bergumam dengan hati-
hati,
"Seorang wanita muda ingin bertemu Anda,
Sir." "Wanita muda?"
Sir Edward terheran-heran. Ini kejadian yang
tidak biasa. Kemudian ia teringat bahwa
mungkin Ethel, keponakannyalah yang datang-
tapi tidak, kalau memang Ethel, Armour pasti
akan berkata demikian. Ia bertanya hati-hati.
"Wanita itu tidak menyebutkan namanya?"
"Tidak, Sir, tapi katanya dia yakin Anda mau
bertemu dengannya." "Suruh dia masuk," ujar
Sir Edward Palliser. Rasa ingin tahunya
tergugah.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Seorang gadis jangkung berkulit gelap
mendekati usia tiga puluh, mengenakan mantel
dan rok hitam berpotongan bagus, serta topi
kecil berwarna hitam, menghampiri Sir Edward
sambil mengulurkan tangan dengan wajah
berseri. Armour mengundurkan diri sambil
menutup pintu tanpa suara.
"Sir Edward-Anda masih ingat saya, bukan? Saya
Magdalen Vaughan."
"Wah, tentu saja." Sir Edward menjabat tangan
yang terulur itu dengan hangat.
Sekarang ia ingat gadis ini dengan jelas.
Perjalanan pulang dari Amerika di kapal Siluric!
Anak yang memesona- sebab ketika itu ia masih
belia sekali. Dengan gaya hati-hati orang tua
yang luas pergaulannya, Sir Edward ingat
pernah menjalin hubungan mesra dengannya.
Ketika itu gadis ini masih begitu belia-begitu
menggebu-begitu penuh kekaguman dan
pemujaan-cocok sekali untuk mencuri hati pria

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mendekati usia enam puluhan. Kenangan itu
meningkatkan kehangatan jabat tangannya.
"Ini sungguh menyenangkan. Silakan duduk." Ia
menarik kursi untuk gadis itu, bicara santai
sambil terus bertanya-tanya, apa gerangan yang
menyebabkan ia datang. Waktu ia akhirnya
selesai berbasa-basi, suasana hening.
Tangan gadis itu memegangi sandaran lengan
kursi dengan gelisah, dan ia membasahi
bibirnya. Mendadak ia berbicara-langsung ke
tujuan.
"Sir Edward-saya ingin Anda membantu saya."
Sir Edward heran dan bergumam, "Ya?"
Gadis itu melanjutkan dengan nada lebih
mendesak.
"Anda pernah berkata bila saya membutuhkan
bantuan-bila ada sesuatu yang bisa Anda
lakukan untuk saya- Anda akan melakukannya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ya, ia memang pernah mengatakannya. Orang
sudah biasa mengucapkan basa-basi semacam
ini-terutama saat hendak berpisah. Ia teringat
suaranya sendiri yang tercekat-ketika
mengangkat tangan gadis itu ke bibirnya.
"Kalau ada yang bisa kulakukan untukmu-ingat,
aku bersungguh-sungguh... "
Ya, orang biasa berjanji demikian... Tapi sangat,
sangat jarang orang harus menepati janjinya!
Yang pasti bukan setelah-berapa lama?-
sembilan atau sepuluh tahun. Sir Edward melirik
ke arahnya-dia masih sangat cantik, tapi ia telah
kehilangan sesuatu yang pernah membuat Sir
Edward terpesona-paras belia yang belum
tersentuh. Mungkin wajahnya sekarang lebih
menarik-laki-laki yang lebih muda boleh jadi
akan berpikir demikian-tapi Sir Edward sama
sekali tidak merasakan gelora kehangatan dan
emosi seperti yang dialaminya di akhir
perjalanannya mengarungi Samudra Atlantik.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Wajahnya berubah resmi dan hati-hati. Dengan
agak tegas ia berkata,
"Tentu, Nona. Aku akan senang membantu
semampuku-meskipun hari-hari ini aku tidak
yakin bisa membantu siapa pun."
Entah Sir Edward sedang bersiap-siap mundur,
yang jelas gadis itu tidak menyadarinya. Ia jenis
orang yang hanya bisa melihat satu hal pada
satu saat, dan yang dilihatnya saat ini adalah
kebutuhannya sendiri. Ia menganggap
kesediaan Sir Edward membantu sebagai sudah
seharusnya.
"Kami berada dalam kesulitan besar, Sir
Edward."
"Kami? Apa Anda sudah menikah?"
"Tidak-maksud saya, kakak saya dan saya
sendiri. Oh! William dan Emily juga, sebenarnya.
Tapi saya harus menjelaskan. Saya punya-saya
pernah punya bibi-Miss Crabtree. Anda mungkin

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pernah membacanya di surat kabar. Sungguh
mengerikan. Dia tewas-dibunuh."
"Ah!" Rasa tertarik terbersit di wajah Sir
Edward. "Sekitar satu bulan lalu, bukan?"
Gadis itu mengangguk.
"Kurang dari itu-tiga minggu."
"Ya, aku ingat. Kepalanya dihantam di
rumahnya sendiri. Mereka tidak berhasil
menangkap pelakunya." Lagi-lagi Magdalen
Vaughan mengangguk.
"Mereka tidak berhasil menangkapnya-saya
tidak percaya mereka akan bisa menangkapnya.
Mungkin tidak ada orang yang bisa ditangkap."
"Apa?"
"Ya-sungguh mengerikan. Di koran hal ini tidak
diberitakan. Tapi itulah yang diduga polisi.
Mereka tahu malam itu tidak ada orang datang
ke rumah itu." "Maksud Anda...?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Pelakunya salah seorang dari kami berempat.
Pasti begitu. Mereka tidak tahu siapa-dan kami
tidak tahu siapa... kami tidak tahu. Setiap hari
kami duduk saling memperhatikan dengan curi-
curi pandang, sambil bertanya-tanya. Oh!
Seandainya saja pelakunya orang luar-tapi saya
tidak tahu bagaimana ini mungkin..."
Sir Edward menatapnya, rasa tertariknya
semakin besar.
"Maksud Anda anggota keluarga dicurigai?"
"Ya, itulah maksud saya. Sudah tentu polisi tidak
berkata demikian. Sikap mereka cukup sopan
dan ramah. Tapi mereka telah menggeledah
seluruh rumah, menanyai kami semua,
termasuk Martha, berulang kali... Dan
berhubung tidak tahu siapa pelakunya, mereka
belum berbuat apa-apa. Saya takut-amat sangat
takut..."
"Anakku, ayolah, Anda pasti hanya membesar-
besarkan."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya tidak membesar-besarkan. Pelakunya
salah satu dari kami berempat-pasti." "Siapa
saja keempat orang yang Anda bicarakan ini?"
Magdalen duduk tegak dan berbicara dengan
lebih tenang.
"Pertama, saya dan Matthew. Bibi Lily saudara
perempuan Nenek. Kami tinggal bersamanya
sejak kami berusia empat belas (kami berdua
saudara kembar). Kemudian ada William
Crabtree. Dia keponakan Bibi Lily-anak saudara
laki-lakinya. Dia juga tinggal di situ bersama
Emily, istrinya."
"Apakah dia menyokong mereka?"
"Lebih-kurang. William punya sedikit uang, tapi
fisiknya lemah dan terpaksa tinggal di rumah.
Dia laki-laki pendiam dan suka melamun. Saya
yakin dia takkan mungkin-oh!-alangkah
jahatnya saya, meskipun cuma berpikir begitu!"
"Aku masih belum bisa memahami posisinya.
Mungkin Anda tidak keberatan menceritakan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


fakta-faktanya-bila ini tidak terlalu membuat
Anda tertekan."
"Oh, tidak! Saya ingin menceritakannya pada
Anda. Semuanya masih jelas sekali dalam
ingatan saya-jelas dan mengerikan. Begini,
ketika itu kami baru selesai minum teh, dan
kami masing-masing sibuk sendiri. Saya
menjahit baju. Matthew mengetik karangan-
tugas jurnalistik; sedangkan William asyik
dengan prangkonya. Emily tidak turun untuk
minum teh. Dia baru minum obat sakit kepala
dan sedang berbaring. Itulah kami, sibuk
dengan kegiatan masing-masing. Ketika Martha
masuk untuk menata meja pada pukul setengah
delapan, Bibi Lily sudah terkapar-mati.
Kepalanya-oh! Sangat mengerikan-hancur."
"Kurasa senjatanya ditemukan?"
"Ya. Pelakunya menggunakan penindih kertas
berat yang selalu terletak di meja dekat pintu.
Polisi memeriksa apakah ada sidik jari di

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


atasnya, tapi ternyata tidak ada. Sudah
dibersihkan." "Dan apa dugaan awal kalian?"
"Kami tentu saja menyangka ada pencuri
masuk. Ada dua atau tiga laci bufet yang ditarik,
seakan pencurinya telah mencari-cari sesuatu.
Tentu saja kami mengira ini perbuatan pencuri!
Kemudian polisi datang-dan mereka bilang Bibi
sudah meninggal sekitar satu jam sebelumnya.
Mereka bertanya pada Martha, siapa yang
datang ke rumah, dan Martha menjawab tidak
ada. Semua jendela terkunci dari dalam, tidak
ada tanda-tanda dirusak. Kemudian mereka
mulai mengajukan berbagai pertanyaan pada
kami..."
Magdalen berhenti. Dadanya terangkat. Kedua
matanya yang ketakutan dan memohon,
menatap mata Sir Edward mencari
penenteraman hati.
"Begini, siapa yang akan mendapat keuntungan
lewat kematian Bibi Lily?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sederhana sekali. Kami berempat sama-sama
mendapat keuntungan. Dia mewariskan
kekayaannya untuk dibagi rata di antara kami
berempat." "Dan berapa nilai estatnya?"
"Pengacaranya berkata pada kami jumlahnya
sekitar delapan puluh ribu pound setelah
dikurangi pajak warisan." Mata Sir Edward agak
terbelalak karena heran.
"Jumlah yang lumayan besar. Kurasa Anda
sudah tahu jumlah kekayaan Bibi?" Magdalen
menggeleng.
"Tidak-kami sendiri cukup kaget. Sejak dulu Bibi
Lily selalu sangat berhati-hati dengan uangnya.
Dia hanya mempekerjakan seorang pembantu,
dan sering berbicara tentang ekonomi."
Sir Edward mengangguk sambil merenung.
Magdalen duduk sambil mencondongkan
badannya ke depan. "Anda mau membantu
saya, bukan?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kata-katanya mengejutkan Sir Edward tepat
ketika ia mulai tertarik dengan kisah itu sendiri.
"Nona-apa gerangan yang bisa kulakukan? Bila
Anda membutuhkan saran hukum yang baik,
aku bisa memberikan nama..."
Gadis itu memotong kata-katanya.
"Oh! Saya tidak menginginkannya! Saya ingin
Anda sendiri yang membantu-sebagai teman."
"Sungguh menarik, tapi..."
"Saya ingin Anda datang ke rumah kami. Saya
ingin Anda mengajukan pertanyaan. Saya ingin
Anda melihat dan menilainya sendiri." "Tapi,
Nona..."
"Ingat, Anda pernah berjanji. Anda berkata di
mana saja-kapan saja-bila saya membutuhkan
bantuan..." Mata Magdalen yang memohon
sekaligus yakin menatapnya lurus-lurus. Sir
Edward merasa malu dan terharu. Kesungguhan
hati gadis yang luar biasa itu, rasa percaya yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


teguh akan janji basa-basi yang diucapkan
sepuluh
tahun lalu, yang dianggapnya ikatan keramat.
Sudah berapa banyak laki-laki pernah
mengucapkan kata-kata yang sama itu-nyaris
merupakan kata-kata klise!-dan betapa sedikit
yang ditepati.
Sir Edward berkata lemah, "Aku yakin banyak
orang mampu memberikan saran lebih baik
daripada aku."
"Saya punya banyak teman-sudah tentu." (Sir
Edward geli mendengar keluguan rasa percaya
dirinya.) "Tapi masalahnya tak seorang pun dari
mereka yang pandai. Tidak seperti Anda. Anda
sudah terbiasa menanyai orang. Dan dengan
semua pengalaman itu, Anda tentunya tahu. "
"Tahu apa?"
"Apakah mereka tidak bersalah atau
sebaliknya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sir Edward tersenyum kecut. Ia memuji diri
bahwa secara umum ia biasanya memang tahu!
Meski sering kali pendapat pribadinya berbeda
dengan para juri.
Magdalen menggeser topi yang menutupi
dahinya dengan gelisah, memandang sekeliling,
lalu berkata,
"Betapa sunyinya suasana di sini. Apakah Anda
kadang-kadang tidak merindukan sedikit
keramaian?"
Cul-de-sac! Tanpa sengaja kata-kata yang
diucapkan asal-asalan itu mengena dengan
telak. Cul-de-sac, lingkungan perumahan yang
tertutup. Ya, tapi selalu ada jalan untuk keluar-
lewat jalan masuk-jalan menuju dunia luar...
Sesuatu yang bergolak dan berjiwa muda
menggerakkan hatinya. Rasa percaya lugu yang
ditunjukkan gadis itu telah menggugah sisi
terbaik wataknya-sedangkan kondisi
masalahnya menggugah hal lain-pembawaan
kriminolog yang ada dalam dirinya. Ia ingin

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menemui orang-orang yang dibicarakan
Magdalen tadi. Ia ingin membuat penilaian
sendiri.
Katanya, "Bila Anda benar-benar yakin aku bisa
membantu... Tapi ingat, aku tidak menjamin
apa-apa."
Sir Edward menyangka gadis itu akan girang
sekali, tapi ternyata ia menerimanya dengan
sangat tenang.
"Saya tahu Anda akan melakukannya. Sejak dulu
saya menganggap Anda sahabat sejati. Maukah
Anda ikut bersama saya sekarang?"
"Tidak. Kurasa lebih baik aku datang besok.
Maukah Anda memberikan nama dan alamat
pengacara Miss Crab tree padaku? Mungkin aku
perlu menanyakan beberapa hal padanya."
Magdalen mencatat dan memberikannya pada
Sir Edward. Setelah itu ia bangkit berdiri dan
berkata agak tersipu, "Saya... saya amat sangat
berterima kasih. Sampai jumpa." "Bagaimana

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dengan alamat Anda sendiri?" "Betapa
bodohnya saya. 18 Palatine Walk, Chelsea."

***

Keesokan harinya pukul tiga sore, Sir Edward


Palliser berjalan menuju 18 Palatine Walk
dengan tenang. Ia telah menemukan beberapa
hal. Pagi itu ia berkunjung ke Scotland Yard,
menemui teman lamanya, Asisten Komisaris
Polisi. Selain itu ia juga berbincang dengan
pengacara mendiang Miss Crabtree. Hasilnya, ia
lebih memahami situasinya. Pengaturan Miss
Crabtree menyangkut keuangan agak ganjil. Ia
tidak pernah memanfaatkan buku cek. Ia lebih
suka menulis surat pada pengacaranya dan
memintanya menyediakan jumlah tertentu
dalam bentuk lembaran lima pound. Jumlahnya
hampir selalu sama. Tiga ratus pound, empat
kali setahun. Ia datang sendiri naik mobil untuk

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mengambilnya, dan menganggap inilah satu-
satunya kendaraan yang paling aman. Selain
untuk keperluan ini, ia tidak pernah
meninggalkan rumah.
Di Scotland Yard, Sir Edward mendengar bahwa
soal finansial itu telah diselidiki dengan cermat.
Tak lama lagi akan tiba waktunya Miss Crabtree
mengambil uangnya. Rupanya pengambilan tiga
ratus pound sebelum itu sudah habis-atau
hampir habis digunakan. Tapi justru hal inilah
yang tidak mudah dipastikan. Dengan mengecek
pengeluaran rumah tangga, nyatalah bahwa
pengeluaran Miss Crabtree per kuartal jauh
lebih sedikit daripada tiga ratus pound. Selain
itu, ia punya kebiasaan mendermakan lembaran
lima pound pada teman-teman maupun sanak
keluarga yang berkekurangan. Apakah saat
kematiannya di rumah terdapat banyak atau
sedikit uang, memunculkan perdebatan.
Ternyata tak ditemukan sepeser pun.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Hal inilah yang dipertanyakan Sir Edward saat ia
melangkah menuju Palatine Walk.
Pintu rumah (yang tidak memiliki ruang bawah
tanah) dibukakan seorang wanita tua bertubuh
kecil dengan sorot mata tajam. Sir Edward
diantar masuk ruangan luas di sebelah kiri ruang
depan, dan Magdalen menemuinya di situ. Sir
Edward melihat garis-garis ketegangan yang
lebih jelas di wajahnya.
"Anda memintaku mengajukan pertanyaan, dan
aku datang untuk melaksanakannya," ujar Sir
Edward sambil tersenyum saat berjabat tangan.
"Pertama-tama, aku ingin tahu siapa yang
terakhir melihat Bibi dan pukul berapa."
"Sekitar pukul lima-sesudah minum teh. Martha
orang terakhir yang ada bersamanya. Sore itu
dia baru membayar buku-buku, dan
mengantarkan uang kembalian berikut
rekeningnya pada Bibi Lily."
"Apa Anda memercayai Martha?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Oh, sepenuhnya. Dia sudah mendampingi Bibi
Lily selama... oh! Tiga puluh tahun, saya rasa.
Dia sangat jujur." Sir Edward mengangguk.
"Pertanyaan lain. Mengapa sepupu Anda, Mrs.
Crabtree, minum obat sakit kepala?" "Hm,
karena dia sakit kepala."
"Sudah pasti, tapi apa ada alasan tertentu
mengapa dia harus sakit kepala?"
"Hm, ya, begitulah. Saat makan malam terjadi
kericuhan kecil. Emily mudah gusar dan tegang.
Dia dan Bibi Lily adakalanya bertengkar."
"Dan mereka bertengkar saat makan malam?"
"Ya. Bibi Lily memang agak rewel soal hal-hal
kecil. Semuanya diawali dengan hal sepele-
setelah itu mereka bertengkar hebat-Emily
melontarkan kata-kata yang pasti tidak
dimaksudkannya-bahwa dia akan meninggalkan
rumah dan takkan pernah kembali-bahwa dia
menyimpan dendam dengan setiap suap yang
dikunyahnya-oh! Segala macam perkataan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


konyol. Dan Bibi Lily membalas berkata bahwa
semakin cepat Emily dan suaminya berkemas
dan pergi, semakin baik. Tapi pertengkaran
mereka tak ada artinya, sungguh."
"Sebab Mr. dan Mrs. Crabtree takkan sanggup
berkemas dan pergi?"
"Oh, bukan hanya itu. William menyayangi Bibi
Emily. Sungguh."
"Mungkinkah hari itu memang hari penuh
pertengkaran?" Wajah Magdalen memerah.
"Anda maksud saya? Pertengkaran soal
keinginan saya menjadi model?"
"Bibi Lily tidak setuju?"
"Tidak."
"Mengapa Anda ingin menjadi model, Miss
Magdalen? Apakah kehidupan itu sangat
menarik bagi Anda?"
"Tidak, tapi apa pun pasti lebih baik daripada
tinggal di sini terus."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ya, ketika itu. Tapi sekarang Anda akan punya
pemasukan lumayan banyak, bukan?"
"Oh! Ya, sekarang keadaan memang berbeda."
Ia mengucapkan pengakuan itu dengan teramat
lugu.
Sir Edward hanya tersenyum dan tidak
mengejar masalah itu lebih lanjut. Ia lalu
bertanya, "Dan bagaimana dengan saudara
Anda? Apa dia juga bertengkar?" "Matthew?
Oh, tidak."
"Kalau begitu, tak ada yang bisa mengatakan
bahwa dia punya alasan menyingkirkan Bibi
Lily."
Sir Edward langsung menangkap sekilas rasa tak
senang yang membayang di wajah Magdalen.
"Oh ya, saya lupa," ujar Sir Edward santai. "Dia
punya utang lumayan besar, bukan?"
"Ya. Matthew yang malang."
"Tapi kesulitannya akan teratasi sekarang."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ya..." Ia menghela napas. "Memang
melegakan."
Magdalen tetap saja belum menyadari apa pun!
Sir Edward buru-buru mengubah pokok
pembicaraan. "Apakah sepupu dan saudara
Anda ada di rumah?"
"Ya, saya sudah menyampaikan pada mereka
bahwa Anda akan datang. Mereka semua begitu
ingin membantu. Oh, Sir Edward-
bagaimanapun, saya merasa Anda akan
menemukan semuanya baik-baik saja-bahwa
tak seorang pun dari kami tersangkut di
dalamnya-bahwa ternyata pelakunya memang
orang luar."
"Aku tidak bisa melakukan mukjizat. Aku
mungkin mampu mengungkap kebenaran, tapi
aku tidak mampu membuat kebenaran itu
sesuai dengan yang Anda inginkan."
"Anda tidak mampu? Saya rasa Anda mampu
melakukan apa pun-apa pun."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Gadis itu meninggalkan ruangan. Dengan risau
Sir Edward berpikir, "Apa maksudnya? Apakah
dia ingin aku memberikan pembelaan? Untuk
siapa?"
Lamunannya buyar ketika seorang pria berusia
lima puluhan melangkah masuk. Perawakannya
kekar, namun agak bungkuk. Pakaiannya tidak
rapi dan rambutnya sedikit acak-acakan. Ia
tampak ramah, namun tidak tegas.
"Sir Edward Palliser? Oh, apa kabar? Magdalen
menyuruh saya kemari. Saya yakin Anda begitu
baik mau menolong kami. Meskipun saya rasa
masalah ini takkan pernah bisa tersingkap.
Maksud saya, mereka takkan mampu
menangkap pelakunya."
"Jadi, Anda berpendapat pembunuhnya seorang
pencuri-orang luar?"
"Hm, sepertinya begitu. Tidak mungkin yang
melakukan itu salah seorang dari keluarga.
Zaman ini para penjahat begitu pintar, mereka

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mampu memanjat bagaikan kucing dan keluar-
masuk sesukanya." "Ketika tragedi itu terjadi,
Anda sedang di mana, Mr. Crabtree?" "Saya
sedang sibuk dengan koleksi prangko saya-di
ruang duduk kecil di lantai atas." "Anda tidak
mendengar apa-apa?"
"Tidak-tapi saya memang tidak pernah
mendengar apa pun bila sedang asyik. Sungguh
bodoh memang, tapi itulah sifat saya."
"Apakah letak ruang duduk yang Anda sebut
tadi di atas ruangan ini?" "Tidak, letaknya di
belakang."
Pintu terbuka lagi. Seorang wanita kecil berkulit
putih masuk. Ia meremas-remas kedua
tangannya dengan gugup. Ia tampak gelisah dan
risau.
"William, mengapa kau tidak menungguku? Tadi
aku kan bilang 'tunggu'." "Maaf, Sayang, aku
lupa. Sir Edward Palliser-kenalkan, ini istri saya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Apa kabar, Mrs. Crabtree? Saya harap Anda
tidak keberatan saya datang kemari untuk
mengajukan beberapa pertanyaan. Saya tahu
kalian sangat ingin masalah ini dibereskan."
"Sudah pasti. Tapi saya tidak bisa mengatakan
apa pun-betul kan, William? Ketika itu saya
sedang tidur-di tempat tidur-saya baru
terbangun ketika Martha menjerit."
Ia terus saja meremas-remas tangan.
"Di mana letak kamar Anda, Mrs. Crabtree?"
"Di atas ruangan ini. Tapi saya tidak mendengar
apa pun-bagaimana mungkin saya bisa
mendengar? Saya sedang tidur."
Sir Edward tidak bisa mengorek keterangan apa
pun kecuali pernyataan tadi. Ia tidak tahu apa
pun-ia sedang tidur. Ia mengulang-ulang
pernyataan itu dengan ngotot, seperti
ketakutan. Namun Sir Edward tahu betul bahwa
besar kemungkinan apa yang dikatakannya itu
memang benar.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Akhirnya ia meminta izin mengajukan beberapa
pertanyaan pada Martha. William menawarkan
diri untuk mengantarnya ke dapur. Di ruang
depan, Sir Edward nyaris bertabrakan dengan
pemuda jangkung berkulit gelap yang sedang
melangkah ke pintu depan.
"Mr. Matthew Vaughan?"
"Ya-tapi begini, saya tidak bisa menunggu. Saya
sudah ada janji."
"Matthew!" terdengar suara saudara
perempuannya dari arah tangga. "Oh, Matthew,
kau sudah berjanji..." "Aku tahu, Kak. Tapi aku
tidak bisa. Harus menjumpai seseorang. Lagi
pula, apa gunanya membicarakan hal itu
berulang-ulang. Kita sudah cukup
membahasnya dengan polisi. Aku sudah muak
dengan semuanya itu." Pintu depan terempas.
Mr. Matthew Vaughan telah keluar rumah.
Sir Edward diantar ke dapur. Martha sedang
menyetrika. Ia berhenti sambil tetap

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


memegangi setrika. Sir Edward menutup pintu
dapur di belakangnya.
"Miss Vaughan memintaku membantunya,"
ujarnya. "Kuharap Anda tidak keberatan aku
mengajukan beberapa pertanyaan."
Martha menatapnya, lalu menggeleng.
"Tak seorang pun dari mereka yang
melakukannya, Sir. Saya tahu apa yang Anda
pikirkan, tapi itu tidak benar. Mereka wanita
dan pria terhormat yang sangat baik."
"Aku tidak meragukannya. Tapi kebaikan
mereka tidak bisa kita sebut bukti."
"Mungkin tidak, Sir. Hukum memang aneh. Tapi
bukti itu ada-seperti Anda sebutkan, Sir. Tak
seorang pun dari mereka bisa melakukannya
tanpa sepengetahuan saya. " "Tapi sudah
tentu..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya tahu apa yang saya katakan, Sir. Nah,
coba dengarkan itu..." 'Itu' adalah bunyi
berderak di atas kepala mereka.
"Anak tangga, Sir. Setiap kali ada yang naik atau
turun, anak tangga itu berderak, sehati-hati apa
pun orang melangkah. Mrs. Crabtree sedang
berbaring di tempat tidurnya, dan Mr. Crabtree
sedang sibuk dengan prangko-prangkonya yang
jelek itu. Miss Magdalen sudah naik lagi dan
asyik dengan mesin jahitnya. Seandainya salah
seorang dari mereka turun lewat tangga, saya
pasti tahu. Dan mereka tidak melakukannya!"
Martha berbicara dengan keyakinan yang
mampu membuat terkesan sang pengacara
kriminal. Pikirnya, "Saksi yang bagus.
Kesaksiannya pasti berbobot."
"Mungkin saja Anda tidak memerhatikan."
"Ya, boleh dikatakan saya pasti akan
memerhatikan tanpa melihatnya. Seperti kalau
Anda memerhatikan saat pintu tertutup dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


seseorang pergi keluar." Sir Edward mengubah
pendapatnya.
"Itu tadi penjelasan tentang tiga orang, tapi
masih ada orang keempat. Apakah Mr.
Matthew Vaughan juga berada di atas?"
"Tidak, dia berada di ruangan kecil di lantai
bawah. Di sebelah. Dan dia sedang mengetik.
Anda bisa mendengarnya dengan jelas dari sini.
Mesin tiknya tidak pernah berhenti sesaat pun.
Tidak sesaat pun, Sir, saya berani bersumpah.
Benar-benar bunyi tik-tik yang menyebalkan."
Sir Edward terdiam sejenak.
"Anda-lah yang menemukan tubuhnya, bukan?"
"Ya, Sir, betul. Terbaring dengan kepala
berdarah. Dan tak seorang pun mendengar
bunyi apa pun selain ketukan mesin tik Mr.
Matthew."
"Sejauh yang Anda ketahui, tidak ada yang
masuk ke dalam rumah?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Bagaimana bisa, Sir, tanpa sepengetahuan
saya? Bel pintu akan berdering di dalam sini.
Dan hanya ada satu pintu masuk."
Sir Edward menatapnya lurus-lurus. "Anda
sangat dekat dengan Miss Crabtree?"
Cahaya hangat-dan tidak dibuat-buat-terpancar
di wajah Martha.
"Ya, benar, Sir. Kalau bukan karena Miss
Crabtree-saya sudah tua dan sekarang saya
tidak keberatan berbicara mengenai hal ini.
Ketika masih gadis, saya mendapat masalah, Sir,
dan Miss Crabtree membela saya-dia menerima
saya kembali bekerja-setelah semua urusan
beres. Saya rela mati untuknya-sungguh."
Sir Edward bisa mendengar kesungguhan dalam
kata-kata Martha.
"Sejauh Anda ketahui, tidak ada yang datang
berkunjung?"
"Tidak mungkin ada yang datang."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya berkata sejauh yang Anda ketahui. Tapi
seandainya Miss Crabtree menunggu
seseorang-bila dia sendiri membukakan pintu
bagi orang tersebut..." "Oh!" Martha tampak
terperanjat.
"Menurutku ini mungkin saja, bukan?" desak Sir
Edward.
"Memang mungkin-ya-tapi rasanya kecil
kemungkinannya. Maksud saya..."
Martha jelas-jelas terkejut. Ia tidak bisa
menyangkal, meskipun ingin. Mengapa? Sebab
ia tahu kebenarannya terletak di segi lain. Yang
mana? Keempat orang di dalam rumah itu-
apakah salah seorang memang bersalah?
Apakah Martha ingin melindungi yang bersalah?
Apakah anak tangga memang berderak? Apakah
ada yang turun diam-diam dan Martha tahu
siapa orang tersebut?
Ia sendiri jujur-Sir Edward yakin akan hal itu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sir Edward terus menekan, sambil
memerhatikan Martha.
"Kurasa Miss Crabtree bisa saja melakukannya.
Jendela kamar itu menghadap ke jalan. Dia
mungkin melihat orang yang ditunggu-
tunggunya itu dari jendela, lalu berjalan ke
ruang depan untuk membiarkannya masuk. Dia
bahkan mungkin tak ingin ada yang melihat
orang tersebut."
Martha tampak risau. Akhirnya ia berkata
enggan,
"Ya, Anda mungkin benar, Sir. Saya belum
pernah memikirkan hal itu. Bahwa Miss
Crabtree menantikan seseorang-ya, mungkin
saja."
Ia seakan mulai menyadari keuntungan sudut
pandang itu. "Anda orang terakhir yang
melihatnya, bukan?"
"Ya, Sir, sesudah saya membereskan cangkir-
cangkir teh. Saya mengantarkan buku-buku

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kepadanya, termasuk kembalian uang yang
diberikannya pada saya."
"Apakah dia memberikan uang dalam lembaran-
lembaran lima pound?"
"Selembar lima pound, Sir," sahut Martha
terkejut. "Harga buku tidak pernah sampai lima
pound. Saya sangat berhati-hati."
"Di mana dia biasanya menyimpan uangnya?"
"Saya tidak begitu tahu, Sir. Menurut saya dia
membawa-bawanya-dalam tas beludru
hitamnya. Tapi dia mungkin saja menyimpannya
dalam salah satu laci di kamar tidurnya yang
selalu terkunci. Dia senang sekali mengunci
barang miliknya, meskipun cenderung
kehilangan anak kuncinya."
Sir Edward mengangguk.
"Anda tidak tahu berapa banyak uang yang
dimilikinya-maksud saya dalam lembaran lima

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pound?" "Tidak, Sir, saya tidak tahu persis
jumlahnya."
"Dan dia tidak berkata apa pun yang
menyiratkan dia sedang menanti seseorang?"
"Tidak, Sir."
"Anda yakin? Apa yang dikatakannya?"
"Hm," ujar Martha, "katanya tukang daging itu
tidak lebih dari bangsat dan penipu, dan dia
juga berkata bahwa saya memesan teh
seperempat pon lebih banyak daripada
seharusnya. Dia berkata Mrs. Crabtree bodoh
sekali karena tidak suka margarin, dan dia tidak
menyukai mata uang kembalian enam pence
yang saya bawakan-mata uang baru dengan
gambar daun ek-dia bilang mata uang itu jelek,
dan saya terpaksa bersusah payah mencoba
meyakinkan dirinya. Dan dia berkata-oh, si
penjual ikan telah mengirimkan ikan haddock
dan bukannya whiting, dan bertanya apakah
saya sudah menyampaikan hal ini padanya; saya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


jawab sudah-dan, sungguh, saya rasa hanya
itulah yang disampaikannya, Sir."
Pernyataan Martha membuat sosok mendiang
tampak jelas bagi Sir Edward, dan takkan
tertandingi oleh uraian mendetail mana pun.
Dengan santai ia berkata, "Majikan yang agak
rewel, ya?"
"Memang agak cerewet, tapi wanita malang itu
jarang keluar, dan karena terkurung seperti itu
dia tentunya harus menghibur diri sendiri. Dia
rewel, tapi baik hati-tidak pernah ada pengemis
yang pergi tanpa mendapat sesuatu. Memang
dia cerewet, tapi dermawan."
"Aku senang masih ada orang yang merasa
kehilangan dia, Martha."
Pelayan tua itu terkesiap.
"Maksud Anda-oh, tapi mereka semua
menyayanginya-sungguh-dalam hati. Memang
kadang-kadang mereka bertengkar dengannya,
tapi tidak serius."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sir Edward mendongak. Terdengar derak di atas
mereka. "Itu Miss Magdalen sedang turun."
"Bagaimana Anda tahu?" sergah Sir Edward.
Wajah perempuan tua itu memerah. "Saya
mengenal langkahnya," gumamnya.
Sir Edward cepat-cepat meninggalkan dapur.
Ternyata Martha benar. Magdalen baru saja
menginjak anak tangga paling bawah. Ia
menatap Sir Edward penuh harap.
"Belum banyak kemajuan," ujar Sir Edward
menanggapi tatapannya, lalu menambahkan,
"Barangkali Anda tahu surat-surat apa saja yang
diterima Bibi Lily pada hari kematiannya?"
"Semua surat sudah dikumpulkan. Polisi sudah
memeriksanya, tentu saja."
Gadis itu menunjukkan jalan menuju ruang
tamu luas, dan setelah membuka laci ia
mengeluarkan tas beludru hitam besar dengan
gesper perak model kuno.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ini tas Bibi. Seluruh isinya masih lengkap
seperti pada hari dia tewas. Saya
mempertahankannya tetap seperti itu."
Sir Edward mengucapkan terima kasih padanya,
lalu menuang isi tas itu ke atas meja.
Menurutnya, isinya pernak-pernik khas wanita
tua eksentrik.
Ada beberapa koin perak, dua butir permen
jahe, tiga guntingan koran tentang kotak Joanna
Southcott, sajak murahan tentang para
pengangguran, sebuah Old Moore's Almanack,
segumpal kapur barus, sepasang kacamata, dan
tiga pucuk surat. Yang satu surat dari "Sepupu
Lucy" dengan tulisan cakar ayam, selembar bon
untuk memperbaiki arloji, dan sehelai surat
permohonan dari institusi amal.
Sir Edward memeriksa setiap benda dengan
cermat, mengembalikan semuanya ke dalam
tas, dan menyerahkannya pada Magdalen
sambil menghela napas.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Terima kasih, Miss Magdalen. Aku khawatir
tidak banyak yang bisa kutemukan."
Ia bangkit berdiri dan menyadari bahwa melalui
jendela, orang bisa melihat anak tangga di pintu
depan dengan jelas, lalu ia menjabat tangan
Magdalen. "Anda akan pergi?" "Ya."
"Tapi apa... apakah semuanya akan beres?"
"Tak seorang pun yang terkait dengan hukum
akan membuat pernyataan terburu-buru seperti
itu," sahut Sir Edward khidmat, lalu melangkah
keluar.
Ia menyusuri jalan dan tenggelam dalam
pikiran. Teka-teki itu tepat di depan mata-dan ia
belum berhasil memecahkannya. Masih
dibutuhkan sesuatu-sedikit saja. Cukup untuk
menunjukkan arah.
Seseorang menepuk pundaknya dan ia pun
terlonjak. Ternyata Matthew Vaughan yang
agak terengah.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya tadi mengejar-ngejar Anda, Sir Edward.
Saya ingin meminta maaf untuk sikap buruk
yang saya perlihatkan setengah jam lalu. Tapi
saya khawatir sikap saya memang bukan yang
terbaik. Anda sangat baik, mau bersusah payah
mengurus peristiwa ini. Silakan bertanya apa
saja pada saya. Kalau ada yang bisa saya
bantu..."
Mendadak Sir Edward tersentak. Pandangannya
tertuju-bukan pada Matthew-tapi ke seberang
jalan. Agak kebingungan, Matthew mengulangi,
"Kalau ada yang bisa saya bantu..."
"Anda sudah melakukannya, anak muda," sahut
Sir Edward. "Dengan jalan menghentikanku di
tempat ini, hingga aku memusatkan perhatian
pada sesuatu yang tadinya pasti terlewatkan."
Ia menunjuk ke restoran kecil di seberang jalan.
"The Four and Twenty Blackbirds?"' tanya
Matthew bingung.
"Tepat."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Dua Puluh Empat Burung Hitam memang nama
yang ganjil-tapi makanan di situ enak."
"Aku tidak mau mengambil risiko dengan
bereksperimen," sahut Sir Edward. "Berhubung
aku lebih tua daripada Anda, Kawan, boleh jadi
aku lebih kenal pantun-pantun di masa kecilku.
Ada pantun klasik yang berbunyi: Nyanyikan
lagu enam pence, sekantong gandum hitam,
dua puluh empat burung hitam, dipanggang
dengan kue pai-dan seterusnya. Sisanya tak
perlu kita pedulikan."
Sir Edward langsung berbalik.
"Anda mau ke mana?" tanya Matthew Vaughan.
"Kembali ke rumah Anda, Kawan."
Mereka berjalan tanpa berkata-kata, dan
Matthew melirik keheranan pada teman
seperjalanannya. Sir Edward masuk, melangkah
ke laci tadi, mengeluarkan tas beludru, dan
membukanya. Ia menatap Matthew, dan anak

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


muda itu pun meninggalkan ruangan dengan
enggan.
Sir Edward menuang seluruh koin perak ke atas
meja. Ia lalu mengangguk. Ingatannya tidak
keliru.
Ia bangkit dan menekan bel sambil menyelipkan
sesuatu ke telapak tangannya.
Mendengar dering bel, Martha datang.
"Kalau aku tidak salah ingat, Martha, Anda
sedikit berdebat dengan mendiang mengenai
salah satu koin enam pence yang baru itu."
"Betul, Sir."
"Ah! Tapi anehnya, Martha, di antara seluruh
uang kecil yang ada ini, tidak ada koin enam
pence yang baru. Di sini ada dua koin enam
pence, tapi keduanya keluaran lama." Martha
menatapnya bingung.
"Anda lihat apa artinya? Malam itu seseorang
benar-benar datang ke rumah-seseorang yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


diberi koin enam pence oleh majikan Anda...
Kurasa dia memberikannya pada orang itu
sebagai ganti ini..."
Dengan sigap, Sir Edward mengulurkan tangan
ke depan dan menyodorkan sajak murahan
mengenai para pengangguran itu.
Sekali pandang ke wajah Martha sudah cukup.
"Petualangan sudah berakhir, Martha-karena
aku sudah tahu. Sebaiknya Anda akui saja
semuanya padaku." Martha terduduk di kursi-
air matanya mengalir deras.
"Memang benar-memang benar-bel tidak
berbunyi sebagaimana mestinya-saya tidak
begitu yakin, jadi saya pikir sebaiknya saya pergi
melihat. Saya sampai di pintu tepat saat dia
menghantam Miss Crabtree. Gulungan uang
kertas lima pound berada di atas meja di
depannya. Itulah sebabnya dia berbuat
demikian, selain itu dia mengira korbannya
sendirian saja di rumah ketika membukakan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pintu. Saya tidak mampu menjerit. Saya seakan
lumpuh, dan ketika dia berbalik... dan saya
melihat dia ternyata putra saya sendiri...
"Oh, sejak dulu dia memang nakal. Saya
memberikan seluruh uang saya. Dia sudah
pernah dipenjara dua kali. Dia tentunya datang
untuk menemui saya, dan karena melihat saya
tidak membukakan pintu, Miss Crabtree
membukakannya sendiri. Putra saya
terperanjat, lalu mengeluarkan salah satu
lembaran sajak tentang pengangguran itu.
Mengingat majikan saya baik dan murah hati,
dia mengajak anak saya masuk dan mengambil
koin enam pence. Selama itu gulungan uang
kertasnya masih tergeletak di meja, seperti saat
saya memberikan uang kembalian itu. Setan
merasuki Ben anak saya, yang lalu
menghantamnya dari belakang."
"Setelah itu?" tanya Sir Edward.
"Oh, Sir, saya bisa apa? Dia darah daging saya
sendiri. Ayahnya memang jahat, dan Ben

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mewarisi sifatnya-tapi dia anak saya sendiri.
Saya mendorongnya keluar, dan kembali ke
dapur, menyiapkan makan malam seperti
biasanya. Apakah menurut Anda saya sangat
jahat, Sir? Saya berusaha tidak berbohong
waktu Anda mengajukan pertanyaan."
Sir Edward bangkit berdiri.
"Perempuan malang," ujarnya penuh perasaan,
"aku sangat prihatin. Tapi hukum tetap harus
ditegakkan." "Dia telah melarikan diri ke luar
negeri, Sir. Saya tidak tahu di mana dia berada."
"Kalau begitu, ada kemungkinan dia bisa
menghindar dari tiang gantungan, tapi jangan
terlalu berharap. Tolong panggilkan Miss
Magdalen."
"Oh, Sir Edward. Betapa baiknya Anda-Anda
begitu baik," ujar Magdalen ketika Sir Edward
selesai berkata-kata. "Anda telah
menyelamatkan kami semua. Dengan cara apa
saya bisa menyampaikan terima kasih?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sir Edward tersenyum padanya sambil menepuk
tangan gadis itu dengan lembut. Ia memang pria
yang luar biasa. Magdalen kecil begitu
memesona di kapal Siluric. Sekuntum bunga
berusia tujuh belas-luar biasa! Tentu saja ia
sekarang sudah kehilangan pesona itu.
"Lain kali Anda membutuhkan teman...," ujar Sir
Edward.
"Saya akan langsung datang pada Anda."
"Tidak, tidak," seru Sir Edward panik. "Justru
itulah yang aku tidak mau Anda lakukan.
Datanglah pada pria yang lebih muda."
Ia lalu meninggalkan seluruh penghuni rumah
yang bersyukur itu dengan gesit, dan masuk
taksi dengan lega. Bahkan pesona gadis belia
berumur tujuh belas pun rasanya tidak terlalu
menarik lagi. Tak dapat menandingi
perpustakaan yang sarat dengan buku-buku
kriminologi. Taksi itu berbelok ke Queen Anne's
Close. Cul-de-sac-nya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


KEJANTANAN EDWARD ROBINSON

"DENGAN sekali ayun, Bill mengangkatnya


dengan kedua lengannya yang kekar dan
mendekapnya erat. Sambil menghela napas
dalam-dalam, perempuan itu menyerahkan
bibirnya dengan ciuman yang belum pernah
diimpikan Bill... "
Sambil menarik napas, Mr. Edward Robinson
meletakkan buku When Love is King dan
memandang ke luar jendela kereta api bawah
tanah. Mereka sedang melaju melintasi
Stamford Brook. Edward Robinson sedang
berpikir tentang Bill. Bill tokoh super jantan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kesayangan para novelis wanita. Edward iri
pada otot-otot, ketampanan, dan gairahnya
yang luar biasa. Ia membuka buku itu lagi dan
membaca deskripsi si angkuh Marchesa Bianca
(yang telah menyerahkan bibirnya).
Kecantikannya begitu menggairahkan, begitu
memabukkan, hingga pria-pria kekar roboh di
hadapannya bagaikan deretan pin yang
diterjang bola boling, lemah tanpa daya karena
cinta.
"Tentu saja," kata Edward dalam hati, "semua
ini cuma omong kosong. Kisah-kisah seperti ini
omong kosong. Tapi aku penasaran..."
Matanya menerawang. Benarkah nun di sana
ada yang namanya dunia asmara dan
petualangan? Apa memang ada wanita-wanita
yang kecantikannya menggairahkan? Apa ada
cinta yang mampu melalap orang bagaikan api?
"Ini kehidupan nyata," ujar Edward. "Aku harus
menjalaninya seperti orang-orang lain."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia berpendapat bahwa secara keseluruhan, ia
patut menganggap dirinya beruntung. Ia punya
jabatan cukup bagus- sebagai juru tulis
perusahaan yang maju. Ia berbadan sehat, tidak
punya tanggungan, dan sudah bertunangan
dengan Maud.
Namun begitu teringat Maud, wajahnya
langsung muram. Meski ia takkan pernah
mengakuinya, ia takut pada Maud. Ia mencintai
Maud-ya-ia masih ingat betapa hatinya tergetar
saat melihat dan mengagumi tengkuk putih
Maud dari balik blus murahnya yang berharga
empat pound sebelas penny ketika pertama kali
berjumpa. Waktu itu Edward duduk di belakang
Maud, menonton bioskop bersama temannya
yang kenal dengan Maud dan memperkenalkan
mereka berdua. Tak dapat disangkal bahwa
Maud sangat superior. Ia cantik, pandai, sangat
feminin dan anggun, dan selalu benar dalam
segala hal. Jenis gadis yang, menurut semua
orang, akan menjadi istri yang sangat cakap.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Edward bertanya-tanya apakah Marchesa
Bianca bisa menjadi istri yang cakap. Ia
meragukannya. Ia tak bisa membayangkan
Bianca yang menggairahkan itu, dengan
bibirnya yang merah merekah dan tubuh
aduhai, menjahit kancing dengan manis untuk,
katakan saja, Bill yang jantan itu. Tidak, Bianca
adalah Asmara, sedangkan ini kehidupan nyata.
Edward dan Maud akan sangat bahagia. Maud
begitu penuh akal sehat....
Tapi bagaimanapun, Edward berharap
seandainya saja sikap Maud tidak terlalu... ya,
tajam. Begitu cepat mengkritik.
Sudah tentu sifat bijaksana dan akal sehat itulah
yang membuatnya bersikap demikian. Maud
memang sangat berpikiran sehat. Dan biasanya
Edward juga sangat berpikiran sehat, tapi sekali-
sekali saja-contohnya, ia ingin menikah pada
Hari Natal ini. Maud lalu menjelaskan alangkah
lebih bijaksana kalau mereka menundanya dulu-
mungkin satu-dua tahun. Gaji Edward tidak

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


besar. Ia ingin memberi Maud cincin mahal-
Maud kaget setengah mati, dan memaksa
Edward mengembalikan dan menukar cincin itu
dengan yang lebih murah. Semua standar yang
dianutnya sangat tinggi, tapi adakalanya Edward
berharap Maud memiliki lebih banyak
kekurangan dibanding kelebihan. Kelebihannya
itulah yang membuat Edward melakukan hal-hal
nekat.
Misalnya saja...
Rasa bersalah merona di wajahnya. Ia harus
mengakuinya pada Maud-segera. Rasa bersalah
di hatinya membuatnya bersikap ganjil. Besok
hari pertama dari tiga hari libur. Malam Natal,
Hari Natal, dan Hari Natal Kedua. Maud telah
menyarankan agar Edward datang berkunjung
dan melewatkan waktu bersama keluarganya.
Dengan cara kikuk, yang pasti membangkitkan
rasa curiga Maud, Edward berhasil menghindar-
ia berbohong panjang-lebar bahwa ia sudah

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


berjanji akan melewatkan waktu bersama
seorang teman di daerah pedesaan.
Padahal ia tidak punya teman di pedesaan. Ia
hanya punya rasa bersalah itu.
Tiga bulan lalu, Edward Robinson, bersama
beberapa ratus ribu pemuda lain, mengikuti
lomba yang diadakan salah satu koran
mingguan. Nama dua belas gadis harus diurut
sesuai popularitas masing-masing. Edward
mendapat ide bagus. Pilihannya pasti keliru-ia
telah menyadarinya dalam lomba-lomba sejenis
sebelum itu. Ia mencatat kedua belas nama itu
dengan urutan sesuai pertimbangannya sendiri.
Kemudian ia menuliskan nama-nama itu lagi,
kali ini urutannya ditukar, yang paling atas
menjadi yang paling bawah, kedua dari atas
menjadi kedua dari bawah, dan seterusnya.
Waktu hasil lomba diumumkan, delapan dari
dua belas nama yang disusun Edward ternyata
benar, dan ia memenangkan hadiah pertama
sebesar £500. Oleh Edward, keberuntungan ini

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dianggap sebagai hasil langsung dari "sistem"-
nya. Ia bangga bukan main pada diri sendiri.
Berikutnya, apa yang harus ia lakukan dengan
hadiah £500 itu? Ia tahu betul apa yang akan
dikatakan Maud. Investasikan saja. Sebagai
persediaan bagus untuk masa depan. Dan, tentu
saja, Maud pasti benar, ia tahu itu. Namun
memenangkan uang sebagai hasil suatu lomba
terasa sangat berbeda dengan semua hal lain.
Seandainya uang itu diberikan padanya sebagai
warisan, Edward akan menginvestasikannya di
Conversion Loan atau Savings Certificates
seperti selayaknya dilakukan. Namun uang yang
diperoleh dengan sekadar mencoretkan pena,
dan peluang keberuntungan yang luar biasa,
bisa dikategorikan seperti uang jajan anak kecil-
"untukmu sendiri -untuk dibelanjakan sesuka
hati."
Dan di sebuah toko mewah yang setiap hari
dilintasinya dalam perjalanan menuju kantor,
tampak impian yang luar biasa itu, mobil mungil

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


untuk dua orang dengan moncong panjang
mengilat, dan harganya tercantum jelas-£465.
Setiap hari Edward berkata pada mobil itu,
"Kalau aku kaya, aku akan membelimu."
Dan sekarang ia kaya-meski belum benar-benar
kaya-setidaknya ia punya cukup uang untuk
membuat impiannya jadi kenyataan. Mobil itu,
benda cantik mengilat yang memikat itu, akan
jadi miliknya bila ia mau membayar harganya.
Tadinya ia bermaksud memberitahu Maud soal
uang itu. Setelah memberitahu, ia akan
terlindung dari godaan. Menghadapi kekagetan
dan ketidaksetujuan Maud, ia takkan pernah
berani menjalankan ide gilanya itu. Tapi
ternyata Maud sendiri yang membereskan
persoalan itu. Edward mengajaknya ke bioskop-
dan membeli karcis kelas utama. Dengan ramah
namun tegas, Maud menunjukkan betapa
bodohnya tindakan Edward-menghambur-
hamburkan uang yang berharga-tiga pound
enam penny, bukannya dua pound empat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


penny, padahal orang bisa menonton sama
jelasnya dari kelas yang lebih murah.
Edward menerima omelannya dengan diam dan
kesal. Maud merasa puas karena menyangka
telah menanamkan pengaruhnya. Edward tidak
boleh dibiarkan menghambur-hamburkan uang
seperti itu. Ia mencintai Edward, tapi ia sadar
tunangannya ini lemah-tugasnyalah untuk selalu
siap mempengaruhinya ke arah seharusnya.
Maud mengamati sikapnya yang seperti cacing
itu dengan puas.
Edward memang seperti cacing. Dan sama
seperti cacing, ia berbalik. Hatinya hancur
karena kata-kata Maud, tapi justru saat itulah ia
memutuskan untuk membeli mobil itu.
"Sialan," umpat Edward dalam hati. "Kali ini aku
akan melakukan apa yang kusuka. Persetan
dengan Maud!"
Keesokan harinya ia melangkah masuk ke istana
kaca dengan seluruh isinya yang mewah dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


terdiri atas email serta logam berkilauan.
Dengan sikap riang dan bebas dari rasa cemas,
ia pun membeli mobil itu. Tindakan paling
mudah di dunia, membeli mobil!
Sudah empat hari kendaraan itu jadi miliknya.
Dari luar, sikapnya tenang-tenang saja, namun
di dalam, kegembiraannya meluap-luap. Dan ia
belum menceritakannya sama sekali pada
Maud. Selama empat hari, saat istirahat makan
siang, ia mendapat instruksi tentang cara
menjalankan benda cantik itu. Ia murid yang
cekatan.
Besok, pada Malam Natal, Edward akan
membawanya ke pedesaan. Ia telah berbohong
pada Maud, dan ia akan berbohong lagi bila
perlu. Ia sudah diperbudak lahir-batin oleh
harta barunya ini. Baginya, mobil ini mewakili
Asmara, Petualangan, dan segala sesuatu yang
didambakan namun tidak pernah dimilikinya.
Besok ia dan mobil ini akan merambah jalanan.
Mereka akan melesat membelah udara dingin,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


meninggalkan hiruk-pikuk London-menuju
daerah-daerah lapang yang segar...
Saat ini Edward, meski tidak menyadarinya,
sudah sangat mirip penyair.
Besok...
Ia menatap buku di tangannya-When Love is
King. Ia tertawa dan memasukkannya ke saku.
Mobilnya, bibir merah Marchesa Bianca, dan
kejantanan Bill yang mengagumkan itu seakan
berbaur jadi satu. Besok...
Cuaca yang biasanya payah, kali ini bersahabat
terhadap Edward. Hari yang didambakan
Edward, kristal es berkilauan, langit biru cerah,
dan matahari yang bersinar kekuningan.
Dengan semangat petualangan yang tinggi dan
berani mati, Edward mengendarai mobilnya ke
luar kota London. Ada sedikit hambatan di Hyde
Park Corner dan pengalaman sial menyedihkan
di Putney Bridge, ia sering harus memindahkan
persneling dengan berisik dan menginjak rem

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dengan mendadak, hingga dihujani caci-maki
yang dilontarkan para pengemudi lain. Tapi
sebagai pemula, ia menilai dirinya menjalankan
tugas dengan baik. Akhirnya ia sampai juga ke
salah satu jalan lebar yang sangat nyaman bagi
pengendara mobil. Hari ini di bagian jalan ini
tidak banyak kemacetan. Mabuk dengan
kepemilikannya atas kendaraan berkilauan ini,
Edward terus ngebut membelah dinginnya
dunia yang terbungkus salju putih, bangga
seperti dewa.
Benar-benar hari yang bahagia. Ia berhenti
untuk makan siang di penginapan bergaya kuno,
dan kembali lagi saat minum teh. Setelah itu ia
akan pulang dengan rasa enggan-kembali ke
London, ke Maud, ke penjelasan yang mau tak
mau harus diberikannya, tuduhan-tuduhan...
Ia menepiskan pikiran ini sambil mendesah.
Terserah bagaimana esok. Ia masih memiliki
hari ini. Dan apa yang lebih memukau daripada
ini? Melesat membelah kegelapan malam

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dengan lampu mencari jalan di depan. Wah,
inilah bagian yang paling seru!
Ia memutuskan takkan sempat berhenti untuk
makan malam di mana pun. Mengemudikan
mobil di kegelapan seperti ini tidaklah mudah.
Waktu yang dibutuhkannya untuk kembali ke
London ternyata lebih lama daripada
perkiraannya. Sudah pukul delapan saat ia
melintasi Hindhead dan tiba di tepi lembah
Devil's Punch Bowl. Bulan bersinar, dan salju
yang turun dua hari lalu masih belum meleleh.
Ia menghentikan mobilnya dan menatap
kosong. Memangnya kenapa kalau ia tidak
sampai di London sebelum tengah malam? Ia
tidak mau merenggutkan dirinya dari
kesenangan ini sekarang juga.
Ia keluar dari mobil dan menghampiri tepi
lembah. Di dekatnya tampak jalan setapak
berkelok-kelok yang menurun dan menggoda.
Edward menyerah pada pesonanya. Selama
setengah jam berikutnya ia berjalan keliling

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menikmati pemandangan dengan salju
terhampar luas. Ia belum pernah
membayangkan pengalaman seperti ini.
Pengalamannya sendiri, yang diberikan kekasih
mengilat yang setia menantinya dijalan atas
sana.
Ia mendaki kembali, masuk ke mobil, dan
melanjutkan perjalanan, masih agak pusing
karena menemukan keindahan luar biasa yang
sesekali menghampiri orang yang paling biasa.
Kemudian, sambil menghela napas, ia tersadar
dari lamunannya, lalu merogoh kantong mobil
tempat ia meletakkan syal pagi tadi.
Tapi syalnya ternyata tidak ada lagi. Kantong itu
kosong. Tidak, tidak sepenuhnya kosong-ada
sesuatu yang kasar dan keras di dalamnya-mirip
batu kerikil.
Edward merogoh dalam-dalam. Detik
berikutnya ia termangu bagaikan orang hilang
ingatan. Benda yang dipegangnya dan berjuntai

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


di sela jari-jarinya, diterpa cahaya bulan dan
memantulkan cahaya gemerlapan itu, ternyata
seuntai kalung berlian.
Edward menatap dan menatap. Tak pelak lagi.
Kalung berlian yang mungkin bernilai seribu
pound (karena batu-batu berliannya besar) ini
tergeletak begitu saja di kantong samping
mobil.
Tapi siapa yang telah meletakkannya di situ?
Saat berangkat dari kota tadi, benda ini jelas-
jelas tidak ada di situ. Pasti ada orang yang
datang ketika ia berjalan-jalan di tengah salju,
dan sengaja memasukkannya ke situ. Tapi
mengapa? Mengapa memilih mobilnya? Apakah
pemilik kalung itu keliru? Atau apakah benda
itu... mungkinkah ini kalung curian?
Kemudian, sementara semua pikiran itu
berkecamuk di benaknya, Edward mendadak
terenyak dan merasa dingin. Ini bukan
mobilnya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mobil ini memang sangat mirip, betul. Warna
merahnya sama-merah seperti bibir Marchesa
Bianca- moncongnya sama panjang dan
mengilat, tapi melalui berbagai ciri lain, Edward
menyadari bahwa ini bukan mobilnya. Kilau
catnya yang baru sudah tergores di sana-sini,
menandakan mobil ini sudah sering digunakan.
Dalam hal ini...
Tanpa berpikir lebih panjang, Edward cepat-
cepat memutar mobil itu. Ia memang belum
mahir melakukannya. Dengan persneling
mundur, ia kebingungan dan berkali-kali
memutar setir ke arah yang salah. Selain itu, ia
juga keliru menginjak pedal gas dan rem yang
berakibat cukup fatal. Bagaimanapun, akhirnya
ia berhasil juga dan mobil itu kembali bergerak
mendaki bukit.
Edward teringat bahwa tidak jauh dari
mobilnya, tadi ada mobil lain yang diparkir.
Ketika itu ia tidak begitu memerhatikannya. Ia
kembali dari berjalan-jalan melalui jalan lain. Ia

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menyangka jalan kedua ini membawanya tepat
ke belakang mobilnya sendiri. Rupanya jalan
setapak itu berakhir di belakang mobil lain.
Dalam sepuluh menit ia sudah tiba kembali di
tempat ia berhenti tadi. Namun sekarang di tepi
jalan tidak terlihat mobil sama sekali. Siapa pun
pemilik mobil ini sekarang pasti sudah pergi
dengan mobil Edward-ia sendiri mungkin keliru
karena kemiripan kedua mobil tersebut.
Edward mengeluarkan kalung berlian itu dari
sakunya, dan memegang-megangnya dengan
bingung.
Apa yang harus dilakukannya? Bergegas ke
kantor polisi terdekat? Menjelaskan situasi,
menyerahkan kalung itu, dan memberikan
nomor mobilnya sendiri.
Omong-omong, berapa nomor mobilnya?
Edward memeras otak, tapi tetap saja tak
mampu mengingatnya. Ia tertegun. Ia akan
seperti orang paling dungu di kantor polisi. Ia

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


hanya bisa mengingat ada angka delapan di
dalamnya. Tentu saja ia tidak perlu terlalu
mempersoalkannya-setidaknya... Ia menatap
kalung berlian itu dengan perasaan tidak enak.
Bagaimana kalau mereka berpikir-oh, tapi tak
akan-meskipun mereka bisa saja-berpikir bahwa
ia telah mencuri mobil dan kalung berlian itu?
Sebab, bila dipikir-pikir, apakah orang yang
waras pikirannya akan meletakkan kalung
berlian berharga dengan sembarangan di dalam
kantong mobil yang terbuka?
Edward keluar dari mobil dan berjalan ke bagian
belakangnya. Nomor pelatnya XR 10061. Kecuali
fakta yang mengatakan bahwa ini jelas-jelas
bukan nomor mobilnya, nomor itu tidak
menyampaikan apa pun padanya. Ia lalu
memeriksa seluruh isi kantong mobil secara
sistematis. Di dalam kantong tempat ia
menemukan kalung tadi, ia mendapatkan
secarik kertas dengan tulisan pensil di atasnya.
Di bawah penerangan lampu besar mobil,
Edward bisa membacanya dengan mudah.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Temui aku di Greane, di sudut Salter's Lane,
jam sepuluh. "
Edward teringat nama Greane itu. Tadi pagi ia
melihatnya di sebuah papan penunjuk jalan.
Dalam sekejap ia membuat keputusan. Ia akan
pergi ke desa Greane ini, mencari Salter's Lane,
menemui orang yang menulis pesan itu, dan
menjelaskan keadaannya. Ini jauh lebih baik
daripada terlihat bagaikan orang dungu di
kantor polisi.
Edward berangkat dengan hati nyaris gembira.
Lagi pula, ini petualangan. Ini peristiwa yang
tidak terjadi setiap hari. Kalung berlian itu
membuatnya seru sekaligus misterius.
Ia agak kesulitan menemukan Greane, dan lebih
sulit lagi menemukan Salter's Lane, namun
sesudah mengetuk pintu dua pondok, ia
berhasil.
Meski demikian, sudah beberapa menit lewat
waktu yang ditentukan saat ia menjalankan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mobil dengan hati-hati melintasi jalan sempit,
sambil memerhatikan sebelah kiri jalan tempat
Salter's Lane bercabang, seperti diberitahu
orang padanya.
Ia tiba di tempat yang tiba-tiba menikung, dan
bahkan sebelum ia sampai, ada sosok yang
muncul dari kegelapan. "Akhirnya!" seru
seorang gadis. "Lama sekali kau, Gerald!"
Sementara berbicara, gadis itu melangkah tepat
ke tengah sorot lampu besar, dan Edward
tersentak. Dia makhluk paling cantik yang
pernah dilihatnya.
Ia masih muda, dengan rambut hitam pekat dan
bibir merah menggairahkan. Mantel tebal yang
dikenakannya tersingkap, dan Edward melihat ia
mengenakan gaun malam-gaun berwarna
merah padam yang memamerkan bentuk
tubuhnya yang sempurna. Di sekeliling lehernya
melingkar kalung mutiara yang sangat indah.
Mendadak gadis itu tersentak.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Wah," serunya, "Anda bukan Gerald."
"Bukan," sahut Edward cepat-cepat. "Saya harus
menjelaskan." Ia mengeluarkan kalung berlian
itu dari sakunya dan menyodorkannya pada
gadis itu. "Nama saya Edward..." Ia terhenti,
sebab gadis itu bertepuk tangan dan menyela,
"Edward, tentu saja! Aku senang sekali. Tapi si
idiot Jimmy itu berkata padaku di telepon
bahwa dia mengirim Gerald dengan mobilnya.
Anda baik sekali mau datang kemari. Aku sudah
rindu sekali melihat Anda. Ingat, aku tidak
berjumpa dengan Anda sejak aku berumur
enam tahun. Aku lihat Anda membawa
kalungnya. Masukkan ke saku Anda kembali.
Polisi desa mungkin saja lewat dan melihatnya.
Brrr, menunggu di sini rasanya sedingin es!
Biarkan aku masuk."
Bagaikan dalam mimpi, Edward membukakan
pintu, dan gadis itu melompat masuk dengan
ringan ke sisinya. Mantel bulunya menyapu pipi

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Edward, dan aroma mirip bunga violet dibasahi
hujan, menyerbu hidungnya.
Edward tidak punya rencana atau pikiran apa
pun. Dalam sekejap, di luar kemauannya sendiri,
ia telah menceburkan diri ke dalam
petualangan. Gadis itu memanggilnya Edward-
peduli apa kalau ia Edward yang salah? Gadis itu
akan segera menyadarinya. Sementara itu,
biarkan permainan ini berjalan terus. Ia
memasukkan gigi persneling, dan mereka pun
meluncur maju.
Sesaat kemudian gadis itu tertawa. Gelak
tawanya sama indah dengan sosoknya.
"Mudah dilihat bahwa Anda tidak tahu banyak
tentang mobil. Aku rasa tidak banyak mobil di
sana?"
"Di mana gerangan 'di sana' itu?" Edward
membatin. Dengan suara keras ia hanya
berkata, "Tidak banyak."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Lebih baik aku saja yang mengemudi," ujar
gadis itu. "Tidak gampang menemukan jalan di
sekitar sini, sampai kita tiba dijalan besar
kembali."
Edward melepaskan tempatnya dengan senang
hati. Tak lama kemudian, mereka sudah
menembus malam dengan cepat dan nekat.
Diam-diam Edward kagum. Gadis itu menoleh
padanya.
"Aku suka ngebut. Anda juga? Anda tahu... Anda
sama sekali tidak mirip Gerald. Orang takkan
pernah menyangka kalian bersaudara. Anda
juga tidak mirip sama sekali dengan yang
kubayangkan."
"Saya rasa," ujar Edward, "saya biasa-biasa saja.
Benar, bukan?"
"Bukan biasa-biasa saja-tapi berbeda. Aku tidak
bisa menggambarkan diri Anda. Bagaimana
kabar Jimmy? Sangat jemu, kurasa?"
"Oh, Jimmy baik-baik saja," sahut Edward.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mudah bagi Anda untuk mengatakannya-tapi
sial baginya karena kakinya terkilir. Apakah dia
menceritakan seluruh kisahnya pada Anda?"
"Sama sekali tidak. Saya tidak tahu apa-apa.
Saya harap Anda mau menjelaskannya pada
saya."
"Oh, kejadiannya seperti mimpi saja. Jimmy
masuk dari pintu depan, menyamar seperti
perempuan. Aku menunggu semenit-dua menit,
lalu memanjat jendela. Pelayan Agnes Larella
ada di dalam, sibuk menyiapkan gaun dan
perhiasan Agnes, termasuk pernak-pernik
lainnya. Tiba-tiba terdengar jeritan dari bawah,
keadaan jadi kacau dan semua orang berteriak-
teriak. Pelayan itu berlari keluar kamar, dan aku
melompat masuk, menyambar kalung itu,
keluar jendela dan meluncur turun, lalu lari
lewat jalan belakang melintasi Punch Bowl. Aku
menyelipkan kalung dan catatan itu ke dalam
kantong samping mobil. Setelah itu aku
bergabung dengan Louise di hotel, setelah

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


melepaskan sepatu botku tentu saja. Alibi yang
sempurna buatku. Dia sama sekali tidak tahu
aku keluar."
"Dan bagaimana dengan Jimmy?"
"Soal itu, Anda tentu tahu lebih banyak
daripada aku."
"Dia tidak mengatakan apa pun pada saya," ujar
Edward santai.
"Hm, kakinya tersangkut roknya dan terkilir.
Mereka terpaksa menggotongnya ke mobil, dan
sopir keluarga Larella mengantarnya pulang.
Bayangkan seandainya sopir itu kebetulan
merogoh ke dalam kantong mobil!"
Edward tertawa bersamanya, tapi memutar
otak. Sekarang ia lebih memahami situasinya.
Sepertinya ia pernah mendengar nama Larella-
nama yang berkaitan dengan kekayaan. Gadis
ini, dan pria tak dikenal bernama Jimmy itu,
telah berkomplot mencuri kalung itu, dan
berhasil. Gara-gara kakinya terkilir dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kehadiran sopir keluarga Larella, Jimmy tidak
sempat melongok kantong samping mobil
sebelum menelepon gadis ini-mungkin juga ia
tidak ingin melakukannya. Tapi hampir bisa
dipastikan bahwa "Gerald" yang tidak
dikenalnya itu akan melakukannya begitu ia
sempat. Dan di dalam kantong mobil, ia akan
menemukan syal Edward!
"Lancar semua," ujar gadis itu.
Sebuah trem melintas. Mereka berada di
pinggiran kota London. Mobil mereka melesat
di sela-sela kesibukan lalu lintas. Edward nyaris
tercekat. Gadis ini memang pengemudi andal,
tapi benar-benar nekat!
Seperempat jam kemudian, mereka berhenti di
depan rumah menakjubkan dengan halaman
luas. "Kita bisa ganti pakaian di sini," ujar gadis
itu, "sebelum pergi ke Ritson's."
"Ritson's?" tanya Edward. Ia mengucapkan
nama kelab malam terkenal itu dengan nada

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


nyaris penuh hormat. "Bagaimana dengan
pakaianku?" Gadis itu mengerutkan kening.
"Mereka tidak mengatakan apa pun pada Anda?
Kalau begitu Anda perlu didandani. Kita harus
melaksanakannya sampai tuntas."
Seorang kepala pelayan yang gagah
membukakan pintu dan menepi untuk
mempersilakan mereka masuk. "Mr. Gerald
Champneys menelepon, Tuan Putri. Dia sangat
ingin berbicara pada Anda, tapi tidak mau
meninggalkan pesan."
"Aku yakin dia sangat ingin bicara," kata Edward
dalam hati. "Bagaimanapun, sekarang aku tahu
nama lengkapku. Edward Champneys. Tapi
siapa sebenarnya gadis ini? Mereka
menyebutnya Tuan Putri. Untuk apa dia
mencuri kalung itu? Untuk membayar utang
main bridge?"
Dalam feuilleton atau cerita bersambung yang
kadangkala dibacanya, peran utamanya yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


cantik dan berdarah biru biasanya bertindak
nekat karena terjepit utang dalam permainan
kartu.
Edward diantar kepala pelayan itu, untuk
selanjutnya diurus oleh seorang pelayan pria.
Seperempat jam kemudian ia kembali
bergabung dengan gadis itu di ruang depan,
lengkap dengan setelan malam buatan Saville
Row yang sangat pas di badannya.
Astaga! Malam yang benar-benar luar biasa!
Mereka mengendarai mobil tadi menuju
Ritson's yang terkenal itu. Sama seperti orang
lain, Edward telah membaca berita-berita
skandal yang menyangkut Ritson's. Cepat atau
lambat, siapa saja pasti akan masuk juga ke
Ritson's. Edward hanya khawatir kalau-kalau
muncul seseorang yang mengenal Edward
Champneys yang asli. Ia menghibur diri dengan
pemikiran bahwa orang yang sesungguhnya itu
telah beberapa tahun berada di luar Inggris.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sambil duduk di depan meja kecil dekat dinding,
mereka menghirup koktail. Koktail! Bagi Edward
yang sederhana itu, minuman ini
melambangkan inti kehidupan mapan. Gadis itu,
dalam balutan selendang penuh berbordir
cantik, menghirup minumannya dengan santai.
Tiba-tiba ia menanggalkan selendang itu dari
bahunya, lalu bangkit berdiri.
"Mari kita berdansa."
Satu-satunya hal yang mampu dilakukan
Edward dengan sempurna adalah berdansa.
Ketika ia dan Maud melantai di Palais de Danse,
orang-orang memerhatikan mereka dengan
terkagum-kagum. "Aku hampir lupa," ujar gadis
itu tiba-tiba. "Kalungnya?"
Ia mengulurkan tangan. Edward yang masih
terbingung-bingung, mengeluarkan kalung itu
dari sakunya dan menyerahkannya pada gadis
itu. Dengan terpana ia melihat gadis itu
melingkarkan kalung itu ke lehernya dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tenang. Setelah itu ia tersenyum menawan pada
Edward.
"Sekarang," bisiknya lembut, "kita akan
berdansa."
Mereka pun berdansa. Dan di seluruh ruangan
Ritson's tak ada yang lebih sempurna daripada
mereka berdua.
Setelah keduanya kembali ke meja mereka,
seorang pria tua lumayan gagah menyapa
pasangan dansa Edward.
"Ah! Lady Noreen, selalu berdansa! Ya, ya.
Apakah malam ini Kapten Folliot hadir di sini?"
"Jimmy terjatuh-pergelangan kakinya terkilir."
"Yang benar saja. Bagaimana kejadiannya?"
"Saya belum mendengar detailnya."
Gadis itu tertawa dan terus melangkah.
Edward mengikutinya sambil memutar otak.
Sekarang ia sudah tahu. Lady Noreen Eliot yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


terkenal itu, boleh jadi yang paling banyak
dibicarakan orang di London. Ternama karena
kecantikannya, karena keberaniannya-
pemimpin kelompok bernama Bright Young
People. Pertunangannya dengan Kapten James
Folliot, wakil konsul Household Calvalry, baru
saja diumumkan belum lama ini.
Tapi kalung itu? Edward masih belum
memahami soal kalung itu. Ia terpaksa
mengambil risiko ketahuan jati dirinya, tapi ia
tahu ia harus mencobanya.
Saat mereka sudah duduk kembali, Edward
menunjuk kalung itu.
"Mengapa Anda lakukan itu, Noreen?" ujar
Edward. "Katakan pada saya, mengapa?"
Lady Noreen cuma tersenyum, matanya
menerawang jauh, masih terpesona oleh dansa
tadi.
"Kurasa Anda sulit memahaminya. Orang akan
jenuh dengan suasana yang sama-selalu sama.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Berburu harta karun memang menyenangkan
untuk sementara waktu, tapi akhirnya orang
jadi terbiasa pada semua hal. 'Pencurian' adalah
gagasanku. Uang pendaftarannya lima puluh
pound, dan ada undiannya. Ini yang ketiga.
Jimmy dan aku menarik undian dengan nama
Agnes Larella. Anda sudah tahu aturan
mainnya? Pencurian itu harus dilakukan dalam
waktu tiga hari, dan hasil curian harus
dikenakan selama paling tidak satu jam di
tempat umum. Bila tidak, Anda akan kehilangan
taruhan dan terkena denda sebesar seratus
pound. Jimmy tidak beruntung karena terkilir,
tapi kami akan memenangkannya."
"Begitu," ujar Edward sambil menarik napas
dalam-dalam. "Begitu."
Mendadak Noreen bangkit berdiri sambil
menyelempangkan selendangnya.
"Antar aku dengan mobil ke dermaga. Ke
tempat yang jelek tapi seru. Sebentar..." Ia
menanggalkan kalung berlian itu dari leher.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sebaiknya Anda simpan lagi kalung ini. Aku
tidak mau terbunuh gara-gara benda ini."
Mereka melangkah keluar dari Ritson's
bersama-sama. Mobil itu berada di lorong
sempit dan gelap. Ketika mereka berbelok di
tikungan, sebuah mobil lain mendekat dan
seorang laki-laki muda melompat keluar.
"Syukur pada Tuhan, Noreen, akhirnya aku
bertemu juga denganmu," serunya. "Ada
masalah gawat. Si goblok Jimmy pergi dengan
mobil yang salah. Hanya Tuhan yang tahu di
mana kalung berlian itu saat ini. Kita benar-
benar mendapat masalah."
Lady Noreen menatapnya melongo.
"Apa maksudmu? Kalung berlian itu sudah ada
pada kita-paling tidak Edward." "Edward?"
"Ya." Ia menunjuk sosok yang berdiri di
sampingnya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sekarang akulah yang dapat masalah besar,"
pikir Edward. "Berani bertaruh sepuluh lawan
satu, inilah saudara Edward yang
sesungguhnya." Orang muda itu menatapnya.
"Apa maksudmu?" ujarnya perlahan. "Edward
sedang berada di Skotlandia."
"Oh!" seru gadis itu. Ia menatap Edward. "Oh!"
Wajahnya sebentar pucat sebentar merona.
"Jadi Anda," katanya lirih, "benar-benar
pencuri?"
Edward hanya membutuhkan sesaat untuk
memahami situasi.
Ada sorot terpesona di mata gadis itu-
mungkinkah itu-kekaguman? Apakah ia
sebaiknya menjelaskan? Tidak perlu! Ia akan
memainkan perannya sampai tuntas. Ia
membungkuk takzim.
"Saya harus berterima kasih pada Anda, Lady
Noreen," ujarnya, semirip mungkin dengan gaya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


penyamun, "untuk malam yang sangat
menyenangkan ini."
Ia melihat sekilas ke arah mobil yang dikendarai
pria tadi. Mobil merah manyala dengan kap
mengilat. Mobilnya! "Dan saya akan
mengucapkan selamat malam pada Anda."
Dengan satu lompatan ia sudah berada di dalam
mobilnya sendiri, dengan kaki siap menginjak
kopling. Mobilnya melonjak maju. Gerald
terpaku, namun gadis itu lebih cepat
daripadanya. Sementara mobil itu meluncur, ia
melompat ke arahnya dan mendarat di
pijakannya.
Mobil itu melenceng, menikung tajam dan
menambah kecepatan. Noreen yang masih
terengah sehabis melompat, memegangi lengan
Edward.
"Anda harus menyerahkan kalung itu padaku-
oh, Anda harus menyerahkannya padaku. Aku
harus mengembalikannya pada Agnes Larella.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Bersikaplah yang baik-kita sudah bersama-sama
melewatkan malam yang menyenangkan-kita
sudah berdansa-kita sudah-berteman. Maukah
Anda memberikannya padaku? Pada saya?"
Benar-benar wanita yang mampu membuat
mabuk dengan kecantikannya. Memang ada
juga wanita-wanita seperti itu...
Lagi pula, Edward memang sudah sangat ingin
melepaskan diri dari kalung itu. Benda itu
adalah kesempatan dari langit untuk
mendapatkan beau geste.
Edward mengeluarkan kalung itu dari sakunya
dan menjatuhkannya di telapak tangan gadis
itu.
"Kita sudah... berteman," ujarnya.
"Ah!" Mata gadis itu membara-berpendar.
Mendadak ia menundukkan kepala ke arah
Edward. Untuk sesaat Edward memeluknya,
bibir gadis itu merapat di bibirnya...

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Setelah itu Lady Noreen melompat turun. Dan
mobil merah itu melesat maju.
Asmara!
Petualangan!

***

Pukul dua belas siang pada Hari Natal, Edward


Robinson melangkah masuk ke ruang tamu
sempit sebuah rumah kecil di Clapham sambil
mengucapkan, "Selamat Natal" seperti
biasanya.
Maud yang ketika itu sedang memasang hiasan
daun holly, menyapanya dengan dingin. "Sudah
bersenang-senang dengan temanmu di
pedesaan?" ia bertanya.
"Dengar," sahut Edward. "Aku sudah berbohong
padamu. Sebenarnya aku baru menang
sayembara-sebesar £500, dan membeli mobil

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dengan uang itu. Aku sengaja tidak
menceritakannya padamu, karena tahu kau
pasti meributkannya. Itu hal pertama. Aku
sudah membeli mobil itu, dan tak ada lagi yang
perlu dibicarakan. Kedua-aku takkan mau
menunggu bertahun-tahun lagi. Prospekku
cukup bagus, dan aku ingin menikahimu bulan
depan. Paham?"
"Oh!" pekik Maud lemah.
Apakah ini-mungkinkah ini-Edward yang bicara
dengan gaya mengagumkan seperti itu? "Kau
bersedia?" tanya Edward. "Ya atau tidak?"
Maud menatapnya terperangah. Ada rasa
terpesona dan kagum di matanya, dan
pemandangan ini memabukkan Edward. Hilang
sudah sikap keibuan penuh kesabaran yang
justru membuatnya gusar itu.
Semalam tatapan Lady Noreen tepat seperti ini.
Namun Lady Noreen sudah menghilang, masuk
ke daerah Asmara, berdampingan dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Marchesa Bianca. Inilah Kenyataan. Inilah
wanita miliknya.
"Ya atau tidak?" ulangnya sambil mendekat
selangkah.
"Y-ya-a," jawab Maud tergagap. "Tapi, oh,
Edward, apa yang telah terjadi padamu? Hari ini
kau begitu lain." "Ya," sahut Edward. "Sudah
dua puluh empat jam ini aku jadi pria dewasa
dan bukannya cacing-dan, astaga, aku tidak
rugi!"
Ia memeluk Maud erat-erat, mirip apa yang
mungkin akan dilakukan Bill, sang superman.
"Apa kau mencintaiku, Maud? Katakan, apa kau
mencintaiku?" "Oh, Edward!" desah Maud. "Aku
memujamu..."

KECELAKAAN

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"...DENGAR ya... itu wanita yang sama-tak
diragukan lagi!"
Kapten Haydock menatap wajah sahabatnya
yang berapi-api dan penuh harap, lalu menghela
napas. Betapa ia berharap Evans tidak bersikap
sepositif dan segembira ini. Sepanjang kariernya
di laut, kapten tua ini telah belajar tidak
mencampuri hal-hal yang bukan urusannya.
Evans, sahabatnya, mantan Inspektur C.I.D.,
punya falsafah hidup berbeda. "Bertindak
berdasarkan informasi yang diterima" sudah
menjadi mottonya sejak dulu, dan ia telah
meningkatkannya dengan mencari sendiri
informasinya. Dulu Inspektur Evans perwira
yang sangat cerdas dan sigap, dan ia menerima
kenaikan pangkat yang memang patut
diterimanya. Sekarang pun, setelah pensiun dari

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


angkatan dan menetap di pondok pedesaan
impiannya, naluri profesionalnya masih tetap
aktif.
"Jangan sering melupakan wajah orang," ia
mengulangi pernyataannya dengan puas. "Mrs.
Anthony-ya, itu pasti Mrs. Anthony. Waktu kau
menyebut nama Mrs. Merrowdene... aku
langsung mengenalinya."
Kapten Haydock gelisah. Selain Evans sendiri,
keluarga Merrowdene adalah tetangga
terdekatnya, dan mengidentifikasi Mrs.
Merrowdene sebagai perempuan yang menjadi
terkenal karena suatu kasus menggemparkan,
membuatnya susah.
"Kejadiannya sudah lama," ujarnya lemah.
"Sembilan tahun," kata Evans, akurat seperti
biasanya. "Sembilan tahun tiga bulan. Kau
masih ingat kasus itu?" "Samar-samar."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Anthony ternyata pemakan arsenik," ujar
Evans, "karena itu mereka membebaskan
wanita itu." "Nah, mengapa tidak?"
"Tidak ada alasan. Satu-satunya putusan yang
mampu mereka berikan atas bukti itu. Benar
sepenuhnya." "Kalau begitu tak ada masalah,"
sahut Haydock. "Dan aku tidak mengerti apa
yang kita permasalahkan." "Siapa yang
mempermasalahkan?" "Kusangka kau." "Sama
sekali tidak."
"Perkara itu sudah selesai," kapten itu
menyimpulkan. "Kalau Mrs. Merrowdene
pernah kurang beruntung diperkarakan dan
dibebaskan dari tuduhan pembunuhan..."
"Biasanya dibebaskan dari tuduhan tidak
disebut kurang beruntung," sela Evans.
"Kau tahu maksudku," ujar Kapten Haydock
kesal. "Wanita malang itu telah melalui
pengalaman mengerikan, dan bukan urusan kita

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


untuk mengungkitnya kembali, ya kan?" Evans
tidak menjawab.
"Ayolah, Evans. Wanita itu tidak bersalah-kau
baru saja mengatakannya." "Aku tidak bilang dia
tidak bersalah. Aku bilang dia dibebaskan." "Itu
sama saja." "Tidak selalu."
Kapten Haydock, yang baru mulai mengetukkan
pipanya di sisi kursinya, berhenti dan duduk
tegak dengan waspada.
"Halo-alo-alo," ujarnya. "Angin bertiup ke arah
itu, kan? Apa menurutmu dia bersalah?"
"Aku takkan berkata begitu. Aku cuma... tidak
tahu. Anthony memang punya kebiasaan
menelan arsenik. Istrinyalah yang mendapatkan
racun itu untuknya. Suatu hari dia keliru
menelan dosis terlalu besar. Apakah itu
kekeliruannya sendiri atau kesalahan istrinya?
Tidak ada yang bisa mengatakan, dan dengan
keraguan itu, tim juri dengan sendirinya
membebaskan istrinya. Ini sah-sah saja, dan aku

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tidak menyalahkan mereka. Tapi tetap saja...
aku ingin tahu. "
Kapten Haydock memerhatikan pipa
tembakaunya kembali. "Nah," katanya santai.
"Ini sama sekali bukan urusan kita." "Aku tidak
begitu yakin..." "Tapi tentunya..."
"Dengarkan sebentar. Orang ini, Merrowdene...
malam ini mengadakan percobaan di
laboratoriumnya- kauingat..."
"Ya. Dia menyebut-nyebut soal tes Marsh untuk
arsenik. Dia bilang kau tahu semua tentang tes
itu-bahwa ini bidangmu-lalu tertawa kecil. Dia
takkan berkata begitu seandainya dia mau
berpikir sejenak..." Evans menyelanya.
"Maksudmu dia takkan berkata begitu
seandainya dia tahu. Pasangan itu sudah
menikah berapa lama-enam tahun katamu? Aku
berani bertaruh dia sama sekali tidak tahu
istrinya adalah Mrs. Anthony yang sangat
terkenal itu." "Dan dia pasti takkan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mengetahuinya dari mulutku," sahut Kapten
Haydock kaku. Evans tidak memedulikannya
dan melanjutkan,
"Kau baru saja menyelaku. Sesudah tes Marsh
itu, Merrowdene memanaskan zat kimia itu
dalam tabung percobaan. Residu logamnya
dilarutkan dalam air yang lalu diendapkan
dengan cara membubuhkan perak nitrat. Ini tes
untuk unsur khlorat. Tes kecil yang rapi dan
sederhana. Tapi kebetulan aku membaca tulisan
ini di buku yang terbuka di atas meja: 'H2S04
mengurai khlorat dengan evolusi CL402- Bila
dipanaskan akan terjadi ledakan keras;
karena itu campuran ini harus disimpan di
tempat sejuk dan digunakan dalam jumlah
sangat kecil. Haydock menatap lurus ke
sahabatnya. "Nah, bagaimana menurutmu?"
"Cuma ini. Dalam profesiku, kami juga punya
beberapa tes-tes untuk melacak pembunuhan.
Misalnya menggabungkan fakta-fakta-
menimbangnya, memecah-mecah sisanya saat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kau membiarkan prasangka muncul, juga
ketidaktepatan para saksi. Tapi ada satu tes lagi
dalam menghadapi kasus pembunuhan-tes yang
cukup akurat, tapi
agak... berbahaya! Pembunuh jarang merasa
puas dengan satu kejahatan. Berikan waktu dan
tidak adanya kecurigaan, maka dia akan
melakukan kejahatan lagi. Kau menangkap
seseorang-apakah dia membunuh istrinya atau
tidak?- boleh jadi kasusnya tidak terlalu
memberatkan dirinya. Periksalah masa lalunya-
bila kau mendapati dia pernah punya beberapa
istri-dan kita katakan saja mereka semua
meninggal... dengan cara tidak biasa?-maka
barulah kau tahu! Aku tidak bicara dari segi
hukum. Aku bicara tentang kepastian secara
moral. Sekali kau tahu, kau bisa melanjutkan
dengan mencari bukti." "Lalu?"
"Aku sudah hampir sampai ke tujuan. Itu bagus-
bagus saja kalau memang ada masa lalu yang
bisa ditelusuri. Tapi bagaimana seandainya kau

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menangkap si pembunuh pada kejahatan
pertamanya? Maka dari tes itu kau takkan
mendapatkan reaksi. Tapi misalnya tahanan itu
dibebaskan-dan dia memulai hidup baru dengan
menggunakan nama lain. Apakah si pembunuh
ini akan mengulangi kejahatannya?"
"Ini gagasan yang mengerikan!"
"Apa kau masih berani bilang ini bukan urusan
kita?"
"Betul. Kau tidak punya alasan untuk
menganggap Mrs. Merrowdene bukan wanita
yang sama sekali tak bersalah." Mantan
inspektur itu terdiam sesaat. Setelah itu ia
berkata perlahan,
"Sudah kukatakan kita menelusuri masa lalunya
dan tidak menemukan apa pun. Ini tidak
sepenuhnya benar. Dia pernah punya ayah tiri.
Ketika masih berusia delapan belas tahun, dia
tertarik pada seorang laki-laki muda-dan ayah
tirinya memanfaatkan wewenangnya untuk

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


memisahkan mereka. Dia berjalan-jalan
bersama ayah tirinya melintasi tebing
berbahaya. Kemudian terjadilah kecelakaan-
sang ayah tiri berjalan terlampau dekat dengan
tepi jurang... yang longsor hingga laki-laki itu
terjerumus dan tewas."
"Kau tidak menganggap..."
"Itu kecelakaan. Kecelakaan! Arsenik melebihi
takaran yang ditelan Anthony adalah
kecelakaan. Perempuan itu takkan pernah
diadili kalau saja tidak ada orang lain waktu itu-
tapi dia mengubah pernyataannya. Tampaknya
dia tidak puas seperti tim juri. Dengar, Haydock,
selama wanita itu terkait, aku khawatir akan
terjadi... kecelakaan lagi!"
Kapten tua itu angkat bahu.
"Sudah berlalu sembilan tahun sejak perkara
itu. Mengapa sekarang harus terjadi
'kecelakaan' lain seperti katamu tadi?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku tidak bilang sekarang. Aku bilang suatu
hari nanti. Bila timbul motif yang diperlukan."
Kapten Haydock angkat bahu lagi.
"Hm, aku tidak tahu bagaimana kau bisa
mencegah hal itu terjadi." "Aku juga tidak tahu,"
ujar Evans sedih.
"Aku tidak akan turut campur," ujar Kapten
Haydock. "Tak ada gunanya mencampuri urusan
orang lain."
Namun nasihat ini tidak cocok bagi mantan
inspektur itu. Dia orang yang sabar tapi
bertekad kuat. Ia meninggalkan rumah
sahabatnya, melangkah menuju desa, dan
memikirkan bagaimana bisa bertindak dengan
sukses.
Ketika berbelok ke kantor pos untuk membeli
prangko, ia berpapasan dengan objek
perhatiannya, George Merrowdene. Mantan
profesor kimia ini laki-laki kecil dengan
pandangan menerawang, sikapnya lembut dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


ramah, dan biasanya linglung. Ia mengenali
orang yang bersenggolan dengannya tadi dan
menyapanya dengan ramah, sambil
membungkuk untuk memungut surat-surat
yang terjatuh. Evans juga membungkuk, dan
dengan gerakan lebih sigap ia merapikan dulu
tumpukan surat yang dipungutnya, lalu
mengembalikannya pada si empunya sambil
meminta maaf.
Sementara melakukan itu, ia melirik amplop-
amplop yang dipegangnya. Mendadak rasa
curiganya tergugah kembali saat melihat alamat
yang tertera di amplop paling atas. Di situ
tertera nama perusahaan asuransi ternama.
Tekadnya sudah bulat. George Merrowdene
yang lugu itu nyaris tidak menyadari sama sekali
bagaimana bisa sampai terjadi ia dan mantan
inspektur itu sama-sama berjalan ke desa, lebih-
lebih bagaimana percakapan mereka bisa
berkisar soal asuransi jiwa.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Evans tidak kesulitan mencapai tujuannya. Atas
kemauan sendiri, Merrowdene memberikan
informasi bahwa ia baru saja mengasuransikan
jiwanya untuk kepentingan istrinya, dan
menanyakan pendapat Evans tentang
perusahaan bersangkutan.
"Saya sudah melakukan beberapa investasi yang
agak bodoh," jelasnya. "Akibatnya, penghasilan
saya berkurang. Seandainya terjadi sesuatu
pada diri saya, nasib istri saya akan buruk sekali.
Asuransi ini akan membereskan segalanya."
"Istri Anda tidak keberatan dengan ide ini?"
tanya Evans santai. "Ada beberapa wanita yang
tidak menyukainya. Mereka merasa seperti
mengundang kesialan-atau semacamnya."
"Oh, Margaret orang yang sangat praktis," ujar
Merrowdene sambil tersenyum. "Dia sama
sekali tidak percaya takhayul. Bahkan
sebenarnya ide ini datang darinya. Dia tidak
suka melihat saya cemas."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Evans sudah mendapatkan apa yang
diinginkannya. Tak lama kemudian ia
meninggalkan sang profesor dengan bibir
terkatup rapat. Mr. Anthony telah
mengasuransikan diri untuk kepentingan
istrinya beberapa minggu sebelum
kematiannya.
Karena terbiasa mengandalkan nalurinya, Evans
merasa sangat yakin. Tapi bagaimana akan
bertindak, itu soal lain. Ia tidak ingin menangkap
basah si pelaku kejahatan, ia hanya ingin
mencegah terjadinya kejahatan, dan ini tugas
yang sangat berbeda dan jauh lebih sulit.
Sepanjang hari itu ia banyak merenung. Sore itu
akan diadakan pesta Primrose League Fete di
lahan tuan tanah setempat, dan Evans
menghadirinya. Ia menikmati permainan
dengan koin, menebak berat badan babi,
melempar kelapa, dan semua ini dilakukannya
dengan wajah penuh konsentrasi. Ia bahkan
menghabiskan uang sebanyak setengah crown

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


atau dua setengah shilling di Zara, ahli nujum
Crystal Gazer, sambil tersenyum sendiri saat
teringat aktivitasnya melawan para ahli nujum
ketika masih bekerja.
Evans tidak begitu memerhatikan alunan suara
ahli nujum yang naik-turun itu-sampai akhir
kalimatnya menarik perhatiannya.
"...Dan tak lama lagi-sungguh tak lama lagi-Anda
akan terlibat masalah antara hidup dan mati...
Hidup atau matinya seseorang."
"Eh... apa kata Anda tadi?" Evans langsung
bertanya.
"Suatu keputusan-Anda harus membuat
keputusan. Anda harus sangat berhati-hati-
sangat, sangat berhati-hati... Bila Anda
melakukan kesalahan-kesalahan terkecil
sekalipun..."
"Ya?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ahli nujum itu bergidik. Inspektur Evans tahu
semua ini omong kosong belaka, tapi
bagaimanapun juga ia merasa terkesan.
"Aku peringatkan Anda-jangan sampai
melakukan kesalahan. Kalau Anda sampai
melakukannya, aku melihat akibatnya dengan
sangat jelas-kematian..."
Aneh, luar biasa aneh. Bayangkan, dia bisa
meramalkan hal itu! "Bila aku melakukan
kesalahan, akibatnya kematian? Betul?" "Ya."
"Kalau begitu," ujar Evans sambil bangkit berdiri
dan menyerahkan uang setengah crown, "aku
tidak boleh melakukan kesalahan, eh?"
Ia mengucapkannya dengan santai, tapi saat
melangkah keluar dari tenda peramal,
rahangnya terkatup dengan tekad bulat. Mudah
dikatakan-tapi tidak semudah itu
melakukannya. Ia tidak boleh terpeleset sedikit
pun. Hidup orang yang sangat rentan
bergantung padanya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Dan tak seorang pun bisa membantunya. Ia
memandang sosok Haydock sahabatnya dari
kejauhan. Dia pun tidak bisa membantu.
"Jangan turut campur," adalah motto Haydock.
Dan motto itu tidak berlaku di sini.
Haydock sedang berbincang dengan seorang
wanita. Perempuan itu meninggalkan Haydock
dan melangkah ke arah Evans yang langsung
mengenalinya. Wanita itu Mrs. Merrowdene.
Evans sengaja menempatkan diri di jalur yang
akan dilewati wanita itu.
Mrs. Merrowdene lumayan cantik. Alisnya
lebar, mata cokelatnya sangat indah, dan
ekspresi wajahnya tenang. Penampilannya mirip
madona Itali, lebih-lebih karena ia membelah
rambutnya di tengah dan menyangkutkannya di
belakang telinga. Suaranya berat mendayu.
Ia tersenyum pada Evans, senyuman puas yang
mengundang.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya sudah mengira itu Anda, Mrs. Anthony-
maksud saya, Mrs. Merrowdene," sapa Evans
lancar. Ia memang sengaja "keseleo lidah",
sambil memerhatikan wanita itu dengan tidak
kentara. Mata wanita itu melebar dan napasnya
sedikit tersengal. Tetapi tatapannya tetap
tajam. Ia menatap Evans dengan angkuh. "Saya
sedang mencari-cari suami saya," ujarnya
tenang. "Apa Anda melihatnya?" "Terakhir kali
saya melihatnya, dia sedang berada di sebelah
sana."
Mereka berjalan berdampingan menuju arah
yang ditunjuk Evans, sambil mengobrol dengan
santai. Sang inspektur semakin kagum. Benar-
benar wanita yang luar biasa! Begitu menguasai
diri. Sikapnya begitu anggun. Wanita yang
mengagumkan-dan sangat berbahaya.
Evans masih sangat gelisah, meskipun ia puas
dengan langkah awalnya. Ia telah menunjukkan
pada wanita itu bahwa ia mengenalinya. Ini
akan membuatnya waspada. Ia takkan berani

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


bertindak gegabah. Masalahnya adalah
Merrowdene. Bila ia bisa diperingatkan...
Mereka menjumpai laki-laki kecil itu sedang
memandang linglung boneka yang didapatnya
dari permainan dengan koin. Sang istri
mengajaknya pulang, dan ia menerima ajakan
itu dengan senang hati. Mrs. Merrowdene
berpaling pada sang inspektur.
"Bagaimana kalau Anda ikut bersama kami dan
minum-minum teh, Mr. Evans?"
Benarkah ada nada menantang samar-samar
dalam suara wanita itu? Evans merasa memang
ada.
"Terima kasih, Mrs. Merrowdene. Saya senang
sekali."
Mereka berjalan bertiga sambil mengobrol
santai tentang hal-hal umum. Matahari bersinar
cerah, angin bertiup sepoi-sepoi, pemandangan
di sekeliling mereka menyenangkan dan biasa-
biasa saja.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Pelayan mereka sedang berada di pesta, Mrs.
Merrowdene menjelaskan ketika mereka tiba di
pondok bergaya kuno yang memesona itu. Mrs.
Merrowdene masuk kamar untuk
menanggalkan topinya, lalu kembali untuk
menyiapkan teh dan merebus air dalam ceret di
atas lampu perak kecil. Ia mengambil tiga
mangkuk kecil dan cawan dari rak dekat
perapian.
"Kami punya teh Cina yang sangat istimewa,"
jelasnya. "Dan kami selalu meminumnya dengan
gaya Cina-dari mangkuk, bukan cangkir."
Ia berhenti bicara, melihat ke bagian dalam
salah satu mangkuk, dan menukarnya dengan
mangkuk lain sambil berseru kesal.
"George-kau ini keterlaluan. Kau sudah
menggunakan mangkuk-mangkuk ini lagi."
"Maafkan aku, Sayang," sahut sang profesor.
"Ukurannya pas sekali. Mangkuk-mangkuk yang
kupesan belum tiba."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Suatu hari nanti kau bisa meracuni kita
semua," ujar istrinya sambil tertawa kecil.
"Mary menemukan mangkuk-mangkuk ini di
laboratorium dan membawanya kemari. Dia
tidak pernah mau repot-repot mencucinya,
kecuali ada sesuatu yang terlihat jelas di
dalamnya. Waktu itu kau bahkan menggunakan
salah satunya untuk kalium sianida. Sungguh,
George, ini benar-benar berbahaya."
Merrowdene tampak agak kesal.
"Mary tidak punya urusan untuk memindahkan
barang-barang dari laboratorium. Dia tidak
boleh menyentuh apa pun di situ."
"Tapi kita sering meninggalkan cangkir teh kita
di situ. Bagaimana dia bisa tahu? Bersikaplah
masuk akal, Sayang."
Profesor itu masuk ke laboratorium sambil
bergumam sendiri, dan sambil tersenyum Mrs.
Merrowdene menuangkan air mendidih ke atas

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


daun teh, dan meniup nyala api lampu perak
kecil itu.
Evans menjadi bingung. Namun mendadak ia
mengerti. Karena alasan tertentu, Mrs.
Merrowdene sedang menunjukkan niatnya.
Apakah ini yang akan dijadikannya
"kecelakaan"? Apakah ia sengaja membicarakan
semua ini untuk mempersiapkan alibinya? Agar
suatu hari nanti, saat "kecelakaan" itu terjadi,
Evans terpaksa menunjukkan bukti yang
menguntungkan wanita itu. Bila memang
demikian, dia sungguh bodoh, sebab sebelum
itu...
Tiba-tiba Evans tersentak. Perempuan itu telah
menuangkan teh ke dalam ketiga mangkuk itu.
Sebuah diletakkan di depan Evans, sebuah di
depan dirinya sendiri, dan yang sebuah
diletakkan di meja kecil di samping perapian,
dekat kursi yang biasanya ditempati sang suami.
Saat meletakkan mangkuk terakhir ini, bibirnya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


seakan tersenyum aneh. Senyuman inilah yang
memastikan.
Evans tahu!
Wanita yang luar biasa-wanita yang berbahaya.
Tidak perlu menunggu lagi-tidak butuh
persiapan. Sore ini- sore ini juga-dengan dirinya
sebagai saksi. Kenekatan tindakan itu
membuatnya terperangah.
Benar-benar pintar-sangat pintar. Ia takkan
dapat membuktikan apa pun. Perempuan itu
memperhitungkan bahwa Evans takkan curiga-
semata-mata karena kejadiannya "secepat itu".
Wanita dengan kecepatan seperti kilat dalam
berpikir dan bertindak.
Evans menghela napas dalam-dalam sambil
mencondongkan badan ke depan.
"Mrs. Merrowdene, saya orang yang punya
gagasan-gagasan agak ganjil. Maukah Anda
berbaik hati mengabulkan salah satu darinya?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Pandangan wanita itu penuh tanda tanya, tapi
tidak curiga.
Evans bangkit berdiri, mengambil mangkuk teh
di depan wanita itu, melangkah menuju meja
kecil tadi, lalu menukar mangkuk di atasnya
dengan yang dipegangnya. Ia membawa
mangkuk ini, lalu meletakkannya di depan
perempuan itu.
"Saya ingin melihat Anda meminum teh ini."
Mata wanita itu menatap mata Evans lurus-
lurus dengan pandangan tak bisa ditebak.
Perlahan-lahan wajahnya berubah pucat pasi.
Ia mengulurkan tangan dan mengangkat
mangkuk itu. Evans menahan napas. Bagaimana
seandainya selama ini ia keliru?
Wanita itu membawa mangkuknya ke bibir-dan
pada saat terakhir tubuhnya menggigil, condong
ke depan, dan dengan cepat ia menuang isi
mangkuk itu ke pot bunga berisi tanaman pakis.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Setelah itu ia duduk bersandar dan menatap
Evans dengan sikap menantang.
Evans menghela napas panjang dengan lega,
dan duduk kembali.
"Bagaimana?" ujar perempuan itu.
Suaranya sudah berubah. Sedikit mengejek-
menantang.
Dengan tenang dan muram Evans menjawab,
"Anda wanita yang sangat pintar, Mrs.
Merrowdene. Saya rasa Anda memahami saya.
Jangan sampai... terulang kembali. Anda paham
maksud saya?" "Saya tahu maksud Anda."
Suaranya terdengar datar, tanpa ekspresi. Evans
mengangguk puas. Dia wanita yang cerdas, dan
ia tidak mau dihukum gantung.
"Demi umur panjang Anda dan suami Anda,"
ujar Evans tegas, dan mengangkat mangkuk
tehnya ke bibir.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kemudian wajahnya berubah. Parasnya
menyeringai mengerikan... ia berusaha bangkit-
untuk berteriak... Tubuhnya kaku-wajahnya
berubah ungu. Ia terjengkang di kursinya-
anggota badannya kejang-kejang.
Mrs. Merrowdene membungkuk ke depan
sambil memerhatikan korbannya. Senyuman
kecil mengembang di wajahnya. Ia berbisik pada
Evans-sangat lirih dan lembut.
"Anda melakukan kesalahan, Mr. Evans. Anda
menyangka saya ingin membunuh George...
Betapa bodohnya Anda -betapa sangat
bodohnya."
Ia tetap duduk beberapa saat sambil menatap
laki-laki yang tak bernyawa itu, laki-laki ketiga
yang telah menjadi ancaman baginya dan bisa
memisahkan dirinya dari laki-laki yang
dicintainya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Senyumannya melebar. Wajahnya semakin
mirip dengan madona. Setelah itu ia
mengeraskan suara dan memanggil-manggil,
"George, George! ...Oh, cepat ke sini! Aku takut
telah terjadi kecelakaan mengerikan... Mr.
Evans yang malang..."

JANE MENCARI PEKERJAAN

JANE CLEVELAND membalik-balik halaman


koran Daily Leader, lalu menghela napas. Desah
yang keluar dari relung hati paling dalam.
Dengan kesal ia menatap meja pualam, telur
rebus, roti panggang di atasnya, dan teko teh

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kecil itu. Bukannya ia tidak lapar. Sebaliknya,
Jane sangat lapar. Saat itu ia merasa sanggup
melahap satu setengah pon daging panggang
lengkap dengan keripik kentang, dan mungkin
juga buncis Prancis. Lalu ditutup dengan minum
anggur yang lebih menggairahkan daripada teh.
Tapi para wanita muda yang kondisi
keuangannya payah memang tidak bisa rewel.
Jane masih cukup beruntung sanggup memesan
telur rebus dan seteko teh. Besok ia mungkin
sudah tidak mampu melakukannya lagi.
Kecuali...
Ia kembali membuka halaman iklan di Daily
Leader. Jelasnya, Jane sedang menganggur, dan
kondisinya semakin gawat saja. Induk semang di
pondokannya yang kumuh sudah
memandangnya tak senang.
"Padahal," kata Jane dalam hati, sambil
mengangkat dagu dengan dongkol, seperti
kebiasaannya, "padahal aku cerdas, cantik, dan
terpelajar. Apa lagi yang kurang?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Menurut Daily Leader, orang sepertinya
menginginkan juru tulis steno berpengalaman,
manajer perusahaan yang punya modal untuk
diinvestasikan, kaum wanita yang bisa berbagi
keuntungan dalam usaha peternakan ayam
(lagi-lagi diperlukan sedikit modal di sini), dan
sejumlah besar juru masak, pelayan rumah
tangga, dan pramuwisma- terutama
pramuwisma.
"Aku tidak keberatan menjadi pramuwisma,"
ujar Jane dalam hati. "Tapi lagi-lagi takkan ada
yang mau. menerimaku tanpa pengalaman. Aku
bisa saja pergi ke suatu tempat, sebagai Gadis
Muda Penurut-tapi mereka tidak menggaji para
gadis muda penurut."
Ia menghela napas lagi, meletakkan surat kabar
itu di depannya, dan melahap telur rebusnya
dengan semangat orang muda yang sehat.
Selesai menelan suap terakhir, ia membalik
koran itu, lalu membaca kolom Derita dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Pribadi sambil menghirup tehnya. Kolom Derita
selalu jadi pengharapan terakhir.
Andai ia memiliki beberapa ribu pound,
masalahnya akan terpecahkan dengan mudah.
Setidaknya ada tujuh peluang unik-semuanya
menjanjikan paling sedikit tiga ribu pound
setahun. Jane mengerutkan bibir.
"Kalau aku punya dua ribu pound, " gumamnya,
"takkan mudah mengambilnya dariku."
Ia mengamati iklan-iklan kolom itu dengan
cepat sampai ke baris paling bawah, lalu
mengangkat mata kembali dengan kepiawaian
yang lahir dari latihan cukup lama.
Ada wanita yang menjual pakaian bekas dengan
harga sangat rendah. "Gaun-gaun wanita yang
sudah diteliti". Kemudian ada para pria yang
bersedia membeli APA PUN-terutama GIGI. Lalu
ada beberapa wanita bangsawan yang akan ke
luar negeri dan ingin melepas mantel-mantel
bulu mereka dengan harga tidak masuk akal.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ada juga pendeta yang sedang kesulitan, janda
yang hidupnya susah, serta perwira cacat, yang
semuanya membutuhkan sejumlah uang, mulai
dari lima puluh sampai dua ribu pound. Dan
mendadak Jane tersentak. Ia meletakkan
cangkir tehnya dan membaca iklan itu berkali-
kali.
"Di dalamnya pasti ada udang di balik batu,"
gumamnya. "Selalu ada udang di balik batu
dalam hal-hal semacam ini. Aku harus berhati-
hati. Tapi..."
Iklan yang sangat menggugah rasa ingin tahu
Jane Cleveland itu berbunyi sebagai berikut:
Dicari wanita muda berusia antara 25 sampai 30
tahun, memiliki mata biru tua, rambut pirang,
alis dan bulu mata hitam, hidung lurus,
potongan tubuh langsing, tinggi badan 167,5
cm, kemampuan meniru mimik dan berbahasa
Prancis, bersedia datang ke 7 Endersleigh
Street, antara pukul 17.00 sampai 18.00. Ada
pekerjaan menarik untuknya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Iklan berbahaya untuk perempuan-perempuan
lugu," gumam Jane. "Aku harus sangat berhati-
hati. Tapi untuk profesi semacam itu,
persyaratan yang ditentukan terlalu banyak.
Aku jadi bertanya-tanya sekarang... Biar kuteliti
daftar persyaratan tadi."
Jane menelitinya.
"Antara dua puluh lima sampai tiga puluh
tahun-umurku dua puluh enam. Mata biru tua,
cocok. Rambut pirang- alis dan bulu mata
hitam-semua oke. Hidung lurus? Y-ya-
setidaknya cukup lurus. Hidungku tidak bengkok
atau menjungkit. Dan potongan badanku
langsing-bahkan untuk zaman susah seperti
sekarang. Tinggi badanku cuma 165 cm-tapi aku
bisa saja memakai sepatu hak tinggi. Aku
memang pandai menirukan mimik-tidak
istimewa, tapi aku bisa menirukan suara orang,
dan aku mampu berbahasa Prancis dengan
fasih, atau seperti wanita Prancis tulen. Yang
jelas, aku pasti yang terbaik. Mereka akan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


melonjak kegirangan bila aku muncul. Jane
Cleveland, maju dan menanglah."
Dengan tegas Jane merobek iklan itu dan
menyimpannya di tasnya. Setelah itu ia
meminta bon dengan kelincahan baru dalam
suaranya.
Pukul lima kurang sepuluh menit, Jane
mengintai di lingkungan Endersleigh Street,
jalan sempit yang diapit dua jalan lebih lebar di
lingkungan Oxford Circus. Memang kurang
menarik, tapi cukup terhormat.
Rumah No. 7 sepertinya tidak berbeda dengan
tetangga-tetangga lainnya. Bentuk
bangunannya mirip perkantoran. Namun saat
mendongak, Jane menyadari untuk pertama kali
bahwa ia bukan satu-satunya gadis dengan
mata biru, rambut pirang, hidung lurus, tubuh
langsing, dan berusia antara dua puluh lima
sampai tiga puluh tahun. Ternyata London
penuh dengan gadis-gadis seperti itu, dan
setidaknya empat puluh sampai lima puluh dari

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mereka berkumpul di luar Endersleigh Street
No. 7.
"Persaingan ketat," ujar Jane. "Sebaiknya aku
segera bergabung dalam antrean."
Jane ikut antre tepat ketika tiga gadis lain
muncul di sudut jalan. Di belakang mereka
beberapa gadis mengikut. Jane menghibur diri
dengan memerhatikan para gadis yang berdiri
paling dekat dengannya. Pada setiap gadis ia
berhasil menemukan kekurangan-bulu mata
pirang dan bukannya hitam, mata yang lebih
mirip kelabu daripada biru,
rambut pirang buatan dan bukannya alami,
berbagai variasi bentuk hidung, dan bentuk
tubuh yang hanya bisa disebut langsing oleh
mereka yang cukup bermurah hati. Semangat
Jane melambung.
"Aku percaya peluangku sama besarnya dengan
siapa saja," gumamnya sendiri. "Aku penasaran,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


apa artinya semua ini? Membentuk paduan
suara yang anggotanya cantik-cantik?"
Antrean berjalan maju dengan lambat namun
pasti. Tak lama kemudian mengalirlah
serangkaian gadis dari dalam rumah. Ada yang
membuang muka dengan angkuh, ada juga yang
tersenyum sinis.
"Ditolak," ujar Jane senang. "Semoga tempatnya
tidak terisi penuh sebelum aku masuk."
Barisan maju terus. Ada yang melirik cemas ke
cermin kecil dan membedaki hidung sebisa-
bisanya. Belum lagi lipstik yang dioleskan
dengan royal.
"Andai aku punya topi yang lebih keren," pikir
Jane sedih.
Akhirnya tiba juga gilirannya. Di dalam rumah
tampak pintu kaca di satu sisi dengan tulisan
Messrs. Cuthbertsons tertera di atasnya.
Melalui pintu kaca inilah para pelamar lewat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


satu per satu. Giliran Jane tiba. Ia menarik napas
dalam-dalam dan melangkah masuk.
Di dalam terdapat kantor bagian luar yang
rupanya disediakan bagi para juru tulis. Di
ujungnya terdapat pintu kaca lain. Jane
dipersilakan memasuki pintu ini. Sekarang ia
berada di ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya
ada meja tulis besar, dan di balik meja duduk
pria berusia pertengahan dengan mata tajam
dan kumis tebal yang tampak agak asing. Ia
memandang Jane, lalu menunjuk pintu sebelah
kiri.
"Silakan menunggu di situ," ujarnya singkat.
Jane menurut. Ruangan itu ternyata sudah ada
yang menempati. Lima gadis duduk tegak di
situ, saling memelototi pesaingnya. Jelas bagi
Jane bahwa ia telah dimasukkan golongan
kandidat yang paling berpeluang, dan
semangatnya semakin melambung.
Bagaimanapun, ia terpaksa mengakui bahwa
kelima gadis ini memiliki peluang sama dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dirinya, sejauh persyaratan yang tercantum
dalam iklan itu.
Waktu berjalan terus. Sudah jelas para gadis
yang mengalir melintasi kantor bagian dalam itu
cukup banyak. Sebagian besar dipersilakan
keluar lewat pintu lain yang menuju koridor,
tapi sesekali masuk calon lain yang membuat
kelompok ini semakin banyak saja. Pukul
setengah tujuh sudah terkumpul empat belas
gadis di ruangan itu.
Jane mendengar suara-suara orang dari kantor
bagian dalam, setelah itu pria berwajah asing
yang diam-diam dijulukinya "Sang Kolonel"
berkat kumis khas militer itu pun muncul di
pintu.
"Saya akan menemui Anda sekalian satu per
satu," ia menyampaikan. "Silakan masuk sesuai
urutan."
Jane mendapat urutan keenam. Dua puluh
menit berlalu sebelum ia dipanggil masuk. "Sang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kolonel" berdiri dengan kedua tangan di balik
punggung. Ia menguji Jane dengan cepat,
termasuk kemampuannya berbahasa Prancis,
lalu mengukur tinggi tubuhnya.
"Ada kemungkinan, Mademoiselle," ujarnya
dalam bahasa Prancis, "bahwa Anda memang
cocok. Saya tidak tahu. Tapi mungkin saja."
"Apa tugas saya, kalau saya boleh bertanya?"
tanya Jane terus terang.
Laki-laki itu hanya angkat bahu.
"Saya belum bisa menyampaikannya sekarang.
Bila Anda terpilih, barulah Anda bisa tahu."
"Kelihatannya misterius sekali," Jane
menyatakan keberatan. "Saya tidak mungkin
menerima sesuatu tanpa mengetahui
perinciannya. Kalau saya boleh bertanya,
apakah ini ada hubungannya dengan
panggung?" "Panggung? Tentu saja tidak."
"Oh!" sahut Jane tercengang. Pria itu
menatapnya tajam.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Anda memiliki kecerdasan, bukan? Dan
kebijaksanaan?" "Tentu saja," ujar Jane tenang.
"Bagaimana dengan bayarannya?" "Bayarannya
akan mencapai dua ribu pound-untuk bekerja
selama dua minggu." "Oh!" ujar Jane lirih.
Ia sangat tercengang mendengar besarnya
jumlah tadi, hingga sulit mencernanya dalam
sekejap. Kolonel itu melanjutkan
pembicaraannya.
"Saya sudah memilih wanita muda lain. Anda
dan dia sama-sama sesuai untuk tugas ini.
Mungkin saja ada beberapa lagi yang belum
saya lihat. Saya akan memberikan instruksi
selanjutnya pada Anda. Anda tahu Harridge's
Hotel?"
Jane tersentak. Di Inggris ini siapa pula yang
tidak tahu Harridge's Hotel? Penginapan
terkenal yang berlokasi di jalan samping
Mayfair, tempat para tokoh terkemuka dan
bangsawan biasa datang dan pergi. Baru pagi
tadi Jane membaca berita tentang kedatangan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Grand Duchess Pauline dari Ostrova. Beliau
datang untuk meresmikan bazar guna
membantu para pengungsi Rusia, dan tentu saja
menginap di Harridge's.
"Ya," sahut Jane, menjawab pertanyaan sang
Kolonel.
"Bagus sekali. Pergilah ke sana. Mintalah
berjumpa dengan Count Streptitch. Berikan
kartu nama Anda-Anda punya kartu nama?"
Jane mengeluarkan sehelai. Kolonel itu
menerimanya, lalu mencoretkan huruf P kecil di
sudutnya. Ia mengembalikan kartu itu pada
Jane.
"Tanda itu menjamin bahwa Count Streptitch
akan menjumpai Anda. Dia akan tahu sayalah
yang mengirim Anda. Keputusan terakhir ada di
tangannya-dan tangan satu orang lagi. Bila dia
menganggap Anda cocok, dia akan menjelaskan
semuanya pada Anda, dan Anda bisa menerima

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


atau menolak tawarannya. Cukup
memuaskan?"
"Sangat memuaskan," jawab Jane.
"Sejauh ini," gumamnya saat berada dijalan
kembali, "aku tidak melihat udang di balik batu.
Tapi bagaimanapun, pasti ada. Tidak ada yang
namanya mendapat uang dengan cuma-cuma.
Ini pasti kejahatan! Tidak bisa tidak."
Semangatnya melambung. Secara umum Jane
tidak begitu menentang kejahatan. Belakangan
ini koran-koran penuh dengan berita tentang
para bandit perempuan. Jane bahkan sudah
mempertimbangkan dengan serius untuk
menjadi bandit seandainya tak ada jalan lain
lagi.
Ia memasuki gerbang eksklusif Harridge's
dengan agak ragu bercampur takut. Ia semakin
berharap punya topi baru.
Tapi dengan tabah ia melangkah menuju meja,
mengeluarkan kartu namanya, dan menanyakan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Count Streptitch dengan sikap percaya diri. Ia
merasa juru tulis itu menatapnya ingin tahu.
Namun ia menerima kartu itu dan
memberikannya pada seorang pesuruh, berikut
beberapa instruksi yang tidak tertangkap oleh
Jane. Sebentar kemudian pesuruh itu kembali,
dan Jane diminta mengikutinya. Mereka naik
lift, dan menyusuri koridor menuju pintu besar
yang lalu diketuk oleh pesuruh tadi. Sesaat
kemudian Jane sudah berada di ruangan luas,
berhadapan dengan pria jangkung kurus dengan
janggut pirang; pria itu memegang kartu nama
Jane di tangannya yang putih dan tampak tak
bertenaga.
"Miss Jane Cleveland," ia membaca perlahan-
lahan. "Saya Count Streptitch."
Bibirnya tiba-tiba terbuka seakan tersenyum,
memamerkan dua baris gigi putih dan rapi.
Namun senyumannya tidak mengandung
keceriaan sedikit pun.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya mengerti Anda melamar pekerjaan
sebagai tanggapan atas iklan kami," lanjut
Count Streptitch. "Kolonel Kranin yang baik
mengirim Anda kemari."
"Ternyata dia memang kolonel," Jane
membatin, merasa senang dengan
kecerdasannya, tapi ia cuma mengangguk.
"Anda mau memaafkan bila saya mengajukan
beberapa pertanyaan?"
Ia tidak menunggu jawaban Jane, tapi
melanjutkan dengan memberikan uraian yang
mirip sekali dengan yang diberikan Kolonel
Kranin. Jawaban-jawaban Jane tampaknya
cukup memuaskan. Ia mengangguk sekali-dua
kali.
"Sekarang, Mademoiselle, saya minta Anda
berjalan ke pintu dan kembali lagi perlahan-
lahan."
"Mungkin mereka ingin aku jadi peragawati,"
pikir Jane sambil menuruti permintaan tadi.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tapi peragawati takkan dibayar dua ribu
pound. Biarpun begitu, mungkin sebaiknya aku
tidak bertanya dulu."
Count Streptitch mengerutkan dahi. Jari-jarinya
yang putih mengetuk-ngetuk meja. Mendadak
ia bangkit berdiri, dan setelah membuka pintu
penghubung dengan ruangan sebelah, ia
berbicara pada seseorang di dalamnya.
Setelah itu ia kembali ke kursinya, dan seorang
wanita pendek setengah baya masuk dari pintu
itu, lalu menutupnya kembali. Perawakannya
gemuk dan wajahnya luar biasa jelek, namun
sikapnya seperti orang yang sangat penting.
"Nah, Anna Michaelovna," ujar count itu.
"Bagaimana pendapat Anda mengenai nona
ini?"
Wanita itu memandangi Jane dari ujung rambut
sampai ujung kaki, seakan gadis itu patung lilin
di pameran. Ia sama sekali tidak menyapa Jane.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mungkin dia cocok," akhirnya ia berkata.
"Memang tidak persis sama. Tapi bentuk tubuh
maupun warnanya sangat bagus, lebih bagus
daripada yang lain. Menurut Anda bagaimana,
Feodor Alexandrovitch?"
"Saya sependapat dengan Anda, Anna
Michaelovna."
"Bisakah dia berbahasa Prancis?"
"Bahasa Prancis-nya bagus sekali."
Jane semakin merasa seperti patung. Kedua
orang ini seakan tidak ingat bahwa ia manusia.
"Tapi apakah dia mampu menyimpan rahasia?"
tanya wanita itu sambil mengerutkan kening.
"Ini Putri Poporensky," ujar Count Streptitch
pada Jane dalam bahasa Prancis. "Dia
menanyakan apakah Anda mampu menyimpan
rahasia?"
Jane menyampaikan jawabannya pada sang
putri.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sebelum posisi saya dijelaskan, saya tidak bisa
berjanji apa pun."
"Apa yang dikatakan gadis ini benar," komentar
wanita itu. "Saya rasa dia cerdas, Feodor
Alexandrovitch-lebih cerdas daripada yang lain.
Katakan padaku, gadis kecil, apa Anda juga
punya keberanian?"
"Entahlah," jawab Jane bingung. "Saya memang
tidak suka disakiti, tapi saya bisa
menanggungnya." "Ah! Maksud saya bukan
begitu. Anda tidak keberatan menghadapi
bahaya, bukan?" "Oh!" sahut Jane. "Bahaya!
Tidak mengapa. Saya suka bahaya." "Dan Anda
miskin? Anda ingin dapat banyak uang?"
"Silakan coba," jawab Jane bersemangat.
Count Streptitch dan Putri Poporensky bertukar
pandang. Kemudian mereka mengangguk
serempak.
"Apakah saya sebaiknya menjelaskan
semuanya, Anna Michaelovna?" tanya count itu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Putri itu menggeleng.
"Tuan Putri ingin melakukannya sendiri."
"Itu tidak perlu-dan tidak bijaksana."
"Bagaimanapun, itulah perintahnya. Saya harus
mengantar gadis ini begitu Anda selesai
dengannya." Count Streptitch angkat bahu. Ia
jelas tidak senang, tapi juga jelas tidak berniat
melanggar perintah. Ia berpaling pada Jane.
"Putri Poporensky akan mengantar Anda pada
Tuan Putri Grand Duchess Pauline. Jangan
takut."
Jane sama sekali tidak takut. Ia justru senang
akan diperkenalkan pada grand duchess
sungguhan. Tidak ada sikap Sosialis dalam diri
Jane. Saat itu ia bahkan telah melupakan soal
topinya.
Putri Poporensky berjalan di depan dengan
langkah-langkah gontai berwibawa. Mereka
melintasi ruangan penghubung tadi yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


merupakan semacam ruang tamu, dan putri itu
mengetuk pintu di seberang ruangan. Terdengar
jawaban dari dalam. Putri itu membuka pintu,
lalu masuk, diikuti Jane tepat di belakangnya.
"Izinkan saya memperkenalkan pada Anda,
Madame," ujar putri itu dengan khidmat, "Miss
Jane Cleveland."
Wanita muda yang tadinya duduk di kursi besar
di seberang ruangan melompat berdiri dan
berlari menghampiri. Ia menatap Jane lurus-
lurus untuk beberapa saat, lalu tertawa riang.
"Ini benar-benar luar biasa, Anna," sahutnya.
"Aku tidak menyangka kita akan berhasil. Ayo,
mari kita bercermin bersama-sama."
Sambil menggandeng Jane, ia mengajak gadis
itu berdiri di depan cermin besar yang
tergantung di dinding. "Kaulihat?" serunya
gembira. "Benar-benar cocok!"
Setelah memandang Grand Duchess Pauline
sekilas, Jane mulai paham. Sang Grand Duchess

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mungkin lebih tua satu-dua tahun daripada
Jane. Warna rambutnya sama, demikian juga
potongan tubuhnya yang langsing. Boleh jadi ia
sedikit lebih tinggi. Setelah berdiri
berdampingan, kemiripan mereka sangat jelas.
Warna setiap detail pun nyaris sama.
Grand Duchess bertepuk tangan. Sepertinya ia
wanita muda yang sangat ceria.
"Tidak bisa lebih baik lagi," ujarnya. "Kau harus
mengucapkan selamat pada Feodor
Alexandrovitch untukku, Anna. Dia melakukan
tugasnya dengan sangat baik."
"Sampai saat ini, Madame," gumam putri itu
lirih, "gadis ini tidak tahu apa yang diharapkan
darinya."
"Betul," ujar sang Grand Duchess yang sudah
agak lebih tenang. "Aku lupa. Hm, aku akan
menjelaskan padanya. Tinggalkan kami, Anna
Michaelovna."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tapi, Madame..."
"Tinggalkan kami, kataku."
Ia mengentakkan kaki dengan marah. Dengan
enggan Anna Michaelovna meninggalkan
ruangan. Grand Duchess itu duduk dan
mempersilakan Jane berbuat sama.
"Perempuan-perempuan tua ini membuat saya
kesal," komentar Pauline. "Tapi mereka
dibutuhkan. Anna Michaelovna lebih baik
daripada yang lain. Baiklah, Miss-ah, ya, Miss
Jane Cleveland. Saya suka nama itu. Anda
tampak simpatik. Saya bisa langsung tahu bila
melihat orang simpatik."
"Anda cerdas sekali, Ma'am," ujar Jane,
bercakap untuk pertama kalinya.
"Saya memang cerdas," sahut Pauline tenang.
"Baiklah, saya akan menjelaskan semuanya
pada Anda. Bukan berarti banyak yang perlu
dijelaskan. Anda tentunya tahu sejarah Ostrova.
Nyaris seluruh sanak keluarga saya sudah tiada-

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dibantai Komunis. Boleh jadi sayalah satu-
satunya keturunan terakhir. Saya wanita, jadi
tidak mungkin menduduki takhta. Anda
mungkin menyangka mereka takkan
mengganggu saya. Tapi tidak, ke mana pun saya
pergi, selalu saja ada usaha untuk membunuh
saya. Gila, bukan? Para bedebah vodka ini tidak
pernah tahu batas-batas."
"Saya mengerti," ujar Jane, merasa ada yang
diharapkan darinya.
"Saya lebih banyak menjalani hidup tanpa
tugas-hingga saya bisa berjaga-jaga, tapi
adakalanya saya harus ambil bagian dalam
upacara-upacara di depan umum. Contohnya,
sementara berada di sini, saya harus menghadiri
beberapa upacara semipublik. Begitu pula di
Paris dalam perjalanan pulang nanti. Saya
memiliki estat di Hongaria. Olahraga di sana
benar-benar luar biasa."
"Sungguh?" ujar Jane.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Istimewa. Saya sangat menyukai olahraga.
Selain itu-sebenarnya saya tidak boleh
menyampaikannya pada Anda, tapi tetap akan
saya lakukan, sebab wajah Anda begitu
simpatik-di situ sedang dibuat rencana-dengan
diam-diam tentu saja. Secara keseluruhan,
penting sekali saya jangan sampai terbunuh
dalam waktu dua minggu mendatang ini."
"Tapi tentunya polisi...," kata Jane.
"Polisi? Oh, ya, saya percaya mereka sangat
andal. Dan kami pun demikian-kami punya
mata-mata. Ada kemungkinan saya akan
diperingatkan bila usaha pembunuhan akan
dilaksanakan. Tapi mungkin juga tidak." Ia
angkat bahu.
"Saya mulai paham," ujar Jane perlahan. "Anda
ingin saya menggantikan Anda?"
"Hanya dalam kesempatan tertentu," ujar
Grand Duchess itu bersemangat. "Anda harus
siap di suatu tempat, paham? Saya mungkin

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


akan membutuhkan Anda dua, tiga, atau empat
kali dalam dua minggu mendatang ini. Setiap
kali dalam kesempatan upacara di depan
umum. Dengan sendirinya Anda tidak bisa
menggantikan tempat saya dalam pertemuan-
pertemuan pribadi."
"Tentu saja," Jane menyetujui.
"Anda benar-benar cocok. Pintar juga Feodor
Alexandrovitch karena terpikir memasang iklan,
bukan?" "Bagaimana seandainya saya
terbunuh?" tanya Jane. Sang Grand Duchess
angkat bahu.
"Sudah tentu risiko itu ada, tapi menurut
informasi dari pihak kami, mereka ingin
menculik saya, bukan langsung membunuh
saya. Tapi saya akan berterus terang-tidak
tertutup kemungkinan mereka akan
melemparkan bom." "Saya mengerti," ujar Jane.
Ia mencoba menirukan sikap santai Pauline. Ia
sangat ingin membicarakan soal bayarannya,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


namun tidak tahu cara terbaik untuk
mengungkapkannya. Tapi Pauline yang lebih
dulu menyinggung hal itu.
"Kami akan membayar Anda dengan pantas,
tentu saja," ujarnya santai. "Saya tidak ingat
persis berapa jumlah yang disarankan Feodor
Alexandrovitch. Ketika itu kami
membicarakannya dalam mata uang franc atau
kronen. "
"Kolonel Kranin," ujar Jane, "menyebutkan dua
ribu pound. "
"Itu dia," sahut Pauline gembira. "Sekarang saya
ingat. Saya harap jumlah itu cukup memadai?
Atau Anda lebih senang menerima tiga ribu?"
"Hm," ujar Jane, "bila tak ada bedanya bagi
Anda, saya lebih suka menerima tiga ribu."
"Saya lihat Anda berjiwa bisnis," ujar Grand
Duchess itu ramah. "Seandainya saya juga
begitu. Tapi saya sama sekali tidak paham soal
nilai uang. Apa yang saya inginkan akan saya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dapatkan. Itu saja." Bagi Jane ini sikap berpikir
yang sederhana sekaligus mengagumkan.
"Dan sudah tentu, seperti Anda katakan tadi,
tugas ini mengandung bahaya," Pauline
melanjutkan dengan prihatin. "Meskipun
menurut saya, Anda tidak takut bahaya. Saya
sendiri seperti itu. Saya harap Anda tidak
menganggap saya pengecut karena
menginginkan Anda menggantikan saya. Begini,
bagi Ostrova, sangatlah penting saya harus
menikah dan melahirkan setidaknya dua anak
laki-laki. Setelah itu, tak jadi soal apa yang
terjadi dengan saya."
"Saya mengerti," sahut Jane.
"Dan Anda menerimanya?"
"Ya," kata Jane tegas. "Saya menerimanya."
Pauline bertepuk tangan penuh semangat. Putri
Poporensky langsung muncul.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku sudah menceritakan semua padanya,
Anna," ujar Grand Duchess. "Dia akan
melakukan apa yang kita inginkan, dan dia akan
mendapat tiga ribu pound. Sampaikan pada
Feodor untuk mencatat hal ini. Dia sangat mirip
denganku, bukan? Tapi kurasa dia lebih cantik
dariku."
Putri Poporensky melangkah gontai keluar
ruangan, dan kembali bersama Count
Streptitch. "Kami sudah mengatur segalanya,
Feodor Alexandrovitch," kata sang Grand
Duchess. Count Streptitch membungkuk.
"Saya penasaran, apakah dia sanggup
memainkan perannya?" ia bertanya sambil
menatap Jane ragu. "Akan saya tunjukkan pada
Anda," sahut gadis itu tiba-tiba. "Bila Anda
mengizinkannya, Ma'am?" ujarnya pada Grand
Duchess.
Yang disebut belakangan ini mengangguk
senang. Jane bangkit berdiri.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tapi ini benar-benar luar biasa, Anna," ujarnya.
"Aku tidak menyangka kita akan berhasil. Ayo,
mari kita bercermin bersama-sama."
Dan, sama seperti yang tadi dilakukan Pauline,
Jane menggandeng dan menarik Grand Duchess
itu ke cermin. "Kaulihat? Benar-benar cocok!"
Kata-kata, gaya, maupun sikap Jane sangat
mirip dengan sambutan Pauline. Putri
Poporensky mengangguk dan mendengus tanda
setuju.
"Bagus," komentarnya. "Itu akan mengecoh
kebanyakan orang."
"Anda pintar sekali," ujar Pauline kagum. "Saya
takkan mampu menirukan siapa pun demi
menyelamatkan nyawa."
Jane memercayainya. Ia sendiri kagum melihat
Pauline begitu mirip dengannya.
"Anna akan mengurus detail-detailnya dengan
Anda," ujar Grand Duchess. "Ajak dia ke kamar

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tidurku, Anna, dan minta dia mencoba
beberapa pakaianku."
Ia berpamitan dengan mengangguk anggun, dan
Jane diantar Putri Poporensky.
"Gaun ini akan dikenakan Tuan Putri ke bazar
terbuka nanti," jelas wanita tua itu sambil
memegang sehelai gaun terbuka berwarna
hitam-putih. "Acaranya berlangsung selama tiga
hari. Boleh jadi Anda perlu menggantikan
tempatnya di situ. Kami tidak tahu. Kami belum
menerima informasi."
Sesuai permintaan Anna, Jane menanggalkan
pakaiannya sendiri yang kumal dan mencoba
gaun tadi. Ternyata pas sekali. Wanita itu
mengangguk puas.
"Nyaris sempurna-hanya sedikit terlalu panjang
untuk Anda, sebab Anda lebih pendek satu inci
daripada Tuan Putri."
"Itu mudah diatasi," sahut Jane cepat. "Saya
lihat Grand Duchess mengenakan sepatu

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


bertumit rendah. Bila saya mengenakan sepatu
serupa tapi bertumit tinggi, takkan ada
masalah."
Anna Michaelovna menunjukkan sepatu yang
biasanya dipakai Grand Duchess dengan gaun
itu. Sepatu kulit biawak dengan tali melintang.
Jane mengingat-ingat modelnya, dan akan
mengusahakan sepasang dengan model sama,
tapi dengan tumit lebih tinggi.
"Akan lebih baik bila Anda mengenakan gaun
dengan warna dan bahan khusus yang berbeda
dari gaun Tuan Putri," ujar Anna Michaelovna.
"Jadi, saat Anda harus segera menggantikan
tempatnya, hal ini takkan mudah diketahui."
Jane berpikir sejenak.
"Bagaimana dengan gaun crepe merah
manyala? Dan mungkin saya akan mengenakan
kacamata biasa. Ini akan sangat mengubah
penampilan."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kedua saran itu disetujui, dan mereka
membicarakan detail-detail selanjutnya.
Jane meninggalkan hotel itu dengan lembaran-
lembaran uang seratus pound di dompetnya,
berikut instruksi untuk membeli pakaian yang
diperlukan dan memesan kamar di Blitz Hotel
atas nama Miss Montresor dari New York. Dua
hari setelah itu, Count Streptitch
mengunjunginya. "Sungguh transformasi yang
bagus," katanya sambil membungkuk.
Jane membalasnya dengan membungkuk juga.
Ia sangat menikmati pakaian-pakaian baru dan
kehidupan mewah yang dijalaninya.
"Semua ini sangat menyenangkan," desahnya.
"Tapi saya rasa kedatangan Anda ini berarti saya
harus bekerja untuk mendapatkan uang saya."
"Benar. Kami sudah mendapat informasi.
Kemungkinan akan ada usaha penculikan atas
Tuan Putri dalam perjalanan pulang dari bazar,
yang seperti Anda ketahui akan diadakan di

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Orion House, lima belas kilometer dari London.
Tuan Putri terpaksa menghadiri bazar itu secara
pribadi, mengingat Countess Anchester yang
menyelenggarakan acara itu mengenalnya
secara pribadi juga. Tapi berikut ini rencana
yang sudah saya atur."
Jane menyimak dengan cermat saat ia
menjelaskan.
Jane mengajukan beberapa pertanyaan, dan
akhirnya menyatakan ia sudah memahami
perannya.
Cuaca keesokan harinya sangat cerah-hari yang
sempurna untuk salah satu acara besar dalam
London Season, bazar di Orion House, yang
diselenggarakan oleh Countess Anchester untuk
membantu para pengungsi Ostrovia di negeri
ini.
Mengingat iklim Inggris yang tidak menentu,
bazar itu akan diadakan di ruangan-ruangan
luas Orion House, yang sudah dimiliki para Earl

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Anchester selama lima ratus tahun. Berbagai
koleksi telah dipinjamkan, dan ada ide menarik
berupa pemberian dari seratus tokoh wanita
yang menyumbangkan sebutir mutiara dari
kalung masing-masing. Setiap butir akan
dilelang pada hari kedua. Selain itu juga ada
berbagai tontonan dan atraksi di lahan
sekelilingnya.
Jane tiba lebih awal dengan menyamar sebagai
Miss Montresor. Ia mengenakan gaun merah
manyala dari bahan crepe, dan topi kecil
berwarna merah.
Sepatunya terbuat dari kulit biawak, dan
bertumit tinggi.
Kedatangan Grand Duchess Pauline disambut
meriah. Ia dikawal menuju panggung dan
menerima buket bunga mawar yang diserahkan
seorang anak kecil. Ia memberikan sambutan
singkat namun menawan, lalu meresmikan
pembukaan bazar. Count Streptitch dan Putri
Poporensky mendampinginya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Grand Duchess mengenakan gaun yang telah
dilihat Jane, dengan corak hitam-putih yang
jelas, topi kecil berwarna hitam dengan
sejumlah besar bunga osprey putih yang
menjuntai dari tepinya, serta sehelai cadar
renda yang menutupi separo wajahnya. Jane
tersenyum sendiri.
Grand Duchess berkeliling mengunjungi setiap
stan, membeli beberapa benda, dan bersikap
ramah terhadap semuanya. Setelah itu ia
bersiap-siap meninggalkan tempat.
Jane langsung menangkap isyaratnya. Ia
meminta izin bertemu dengan Putri Poporensky
dan diperkenalkan pada Grand Duchess.
"Ah, ya!" ujar Pauline merdu. "Miss Montresor,
saya ingat namanya. Dia wartawati Amerika. Dia
sudah banyak membantu kita. Saya akan senang
sekali memberinya waktu untuk wawancara
bagi surat kabarnya. Apa ada tempat di mana
kami tidak akan diganggu?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sebuah ruang tamu kecil langsung disiapkan
bagi Grand Duchess, dan Count Streptitch
disuruh membawa masuk Miss Montresor.
Setelah melaksanakan tugas itu, ia
meninggalkan ruangan, Putri Poporensky tetap
di dalam untuk membantu. Kedua wanita muda
itu cepat-cepat bertukar pakaian.
Tiga menit kemudian, pintu terbuka kembali
dan sang Grand Duchess pun muncul dengan
memegang buket mawar di depan wajahnya.
Sambil membungkuk anggun dan berpamitan
kepada Lady Anchester dalam bahasa Prancis, ia
melangkah keluar dan masuk ke mobil yang
sudah menanti. Putri Poporensky mengambil
tempat di sampingnya, dan mobil itu pun
meluncur pergi.
"Nah," ujar Jane, "habis perkara. Saya ingin tahu
bagaimana keadaan Miss Montresor." "Takkan
ada yang memerhatikannya. Dia bisa
menyelinap pergi diam-diam." "Betul," ujar
Jane. "Akting saya cukup bagus, bukan?" "Anda

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menjalankan peran Anda dengan sangat
meyakinkan." "Mengapa Count Streptitch tidak
bersama kita?"
"Dia terpaksa tetap tinggal. Harus ada yang
menjaga keselamatan Tuan Putri."
"Saya harap takkan ada yang melemparkan
bom," ujar Jane khawatir. "Hei! Kita
meninggalkan jalan utama. Untuk apa?"
Sambil menambah kecepatan, mobil itu melesat
memasuki jalan kecil.
Jane terlonjak dan melongokkan kepala ke luar
jendela, memprotes sang sopir yang hanya
tertawa sambil menambah kecepatan. Jane
bersandar di tempat duduknya kembali.
"Mata-mata Anda benar," katanya sambil
tergelak. "Kita memang diperlukan. Saya rasa,
semakin lama kita mengulur waktu, semakin
aman bagi Grand Duchess. Bagaimanapun, kita
harus memberinya cukup waktu untuk kembali
ke London dengan selamat."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mengingat prospek adanya bahaya, semangat
Jane melambung. Ia tidak menyukai bom, tapi
petualangan semacam ini cocok bagi nalurinya.
Mendadak mobil itu berhenti dengan rem
berderit. Seorang laki-laki melompat ke pijakan.
Di tangannya tampak sepucuk pistol.
"Angkat tangan," gertaknya.
Putri Poporensky langsung mengangkat tangan,
tapi Jane hanya melontarkan pandangan
meremehkan padanya, dan tetap berpangku
tangan.
"Tanyakan apa maksudnya dengan
kekonyolannya itu," ujarnya dalam bahasa
Prancis kepada teman seperjalanannya.
Namun sebelum Putri Poporensky sempat
membuka mulut, orang tadi menyela. Ia
memuntahkan serangkaian kata dalam bahasa
asing.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Karena tidak mengerti sepatah kata pun, Jane
cuma angkat bahu sambil berdiam diri. Sang
sopir turun dari tempat duduknya dan
bergabung dengan laki-laki tadi.
"Apakah Nona yang mulia berkenan turun?"
pinta pria itu sambil tersenyum lebar.
Sambil mengangkat buket bunganya ke wajah,
Jane melangkah keluar dari mobil, diikuti Putri
Poporensky. "Apakah Nona yang mulia mau
berjalan kemari?"
Jane tidak mengindahkan sikap melecehkan
orang itu, tapi atas kemauannya sendiri ia
berjalan menuju rumah beratap rendah, sekitar
sembilan puluh meter dari tempat mobil itu
berhenti. Jalan itu merupakan cul-de-sac yang
berakhir di gerbang dan jalan masuk yang
menuju bangunan yang sepertinya tidak
berpenghuni itu.
Orang yang masih juga menodongkan pistolnya,
mendekati kedua wanita itu. Saat mereka

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menapaki anak tangga, ia mendahului dan
membuka lebar pintu di sebelah kiri. Ruangan
itu ternyata kosong, dan hanya berisi meja
dengan dua kursi yang rupa-rupanya baru saja
dibawa ke situ.
Jane masuk, lalu duduk. Anna Michaelovna
mengikutinya. Pria itu mengempaskan pintu
dan menguncinya.
Jane berjalan menuju jendela dan melihat ke
luar.
"Saya bisa saja melompat ke luar,"
komentarnya. "Tapi saya takkan bisa pergi jauh-
jauh. Tidak, sementara ini kita harus tetap di sini
dan berusaha memanfaatkan situasi sebaik-
baiknya. Saya ingin tahu, apakah mereka akan
membawakan makanan untuk kita?"
Sekitar setengah jam kemudian, pertanyaannya
terjawab.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Semangkuk besar sup mengepul dibawa masuk
dan diletakkan di meja tepat di hadapannya.
Selain itu ada dua potong roti kering.
"Sepertinya bukan makanan mewah bagi
bangsawan," komentar Jane riang saat pintu
ditutup dan dikunci kembali. "Anda mau
memulainya, atau saya saja?"
Dengan rasa jijik Putri Poporensky menolaknya.
"Bagaimana mungkin saya bisa makan? Siapa
tahu bahaya apa yang mengintai majikan saya?"
"Dia pasti baik-baik saja," ujar Jane. "Diri
sayalah yang sedang saya khawatirkan. Orang-
orang ini takkan senang saat mengetahui
mereka telah menculik orang yang salah.
Mereka akan sangat tidak senang. Saya akan
mempertahankan peran anggun Grand Duchess
selama mungkin, dan langsung kabur begitu ada
kesempatan."
Putri Poporensky diam saja.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Jane yang memang lapar, langsung melahap
habis sup itu. Rasanya sedikit aneh, tetapi
hangat dan lezat. Setelah itu ia merasa
mengantuk. Putri Poporensky seakan menangis
diam-diam. Jane berusaha duduk senyaman
mungkin di kursinya yang tidak nyaman itu, dan
membiarkan kepalanya terkulai. Ia pun tertidur.

***

Mendadak Jane terbangun. Rasanya ia telah


tidur sangat lama. Kepalanya terasa berat dan
pusing. Dan tiba-tiba ia melihat sesuatu yang
membuatnya tersentak. Ia sudah mengenakan
gaun crepe merahnya kembali.
Ia duduk tegak dan memandang berkeliling. Ya,
ia masih berada di ruangan dalam rumah
kosong itu. Semuanya masih sama seperti saat
ia jatuh tertidur tadi, kecuali dua hal. Pertama,
Putri Poporensky sudah tidak duduk di kursi

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


satunya. Kedua, pergantian kostum yang tak
dapat dijelaskan.
"Aku tidak mungkin bermimpi," gumam Jane.
"Seandainya bermimpi, aku takkan berada di
sini."
Ia menoleh ke arah jendela, dan menyadari
fakta lain yang mencolok. Ketika ia jatuh
tertidur, matahari bersinar masuk melalui
jendela. Sekarang rumah ini melemparkan
bayang-bayang tajam di jalan masuk yang
bermandikan cahaya matahari.
"Rumah ini menghadap ke barat," ia mengingat-
ingat. "Hari menjelang sore saat aku tertidur.
Berarti sekarang keesokan paginya. Sup itu pasti
telah diberi obat tidur. Karena itu... oh,
entahlah. Semua ini begitu gila."
Ia bangkit, lalu melangkah ke pintu yang
ternyata tidak terkunci. Ia menyelidiki rumah
itu. Sunyi dan kosong.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Jane memegangi kepalanya yang berdenyut dan
mencoba berpikir. Tiba-tiba ia melihat sehelai
koran robek tergeletak di dekat pintu. Judul
berita utamanya tercetak dengan huruf besar
dan menarik perhatiannya.
"Bandit Perempuan dari Amerika di Inggris," ia
membaca. "Gadis Bergaun Merah. Perampokan
Sensasional di Bazar Orion House."
Jane melangkah tergopoh-gopoh menuju
cahaya matahari di luar. Duduk di anak tangga
sambil membaca, matanya semakin terbelalak
lebar. Fakta-faktanya singkat dan ringkas.
Tepat setelah Grand Duchess Pauline
meninggalkan tempat, tiga pria dan seorang
gadis bergaun merah mengeluarkan pistol
masing-masing dan merampok pengunjung
dengan sukses. Mereka merampas keseratus
butir mutiara itu dan kabur dengan mobil balap
besar. Sampai saat ini, mereka belum berhasil
ditangkap.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Di rubrik stop press (koran itu edisi malam)
tercantum bahwa "gadis bergaun merah" itu
menginap di Blitz dengan nama Miss Montresor
dari New York.
"Aku tertipu," ujar Jane. "Tertipu mentah-
mentah. Sejak awal aku sudah tahu ada udang
di baliknya."
Kemudian ia tersentak. Terdengar bunyi aneh.
Suara pria yang mengutarakan satu perkataan
berulang kali.
"Sialan," katanya. "Sialan." Dan sekali lagi,
"Sialan!"
Mendengar suara itu, Jane tergetar. Suara itu
begitu mengekspresikan perasaannya sendiri. Ia
berlari menuruni anak tangga. Di sudutnya
tergeletak seorang laki-laki muda. Ia berusaha
keras mengangkat kepalanya dari tanah. Di
mata Jane, wajah pria itu salah satu wajah
paling tampan yang pernah dilihatnya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Wajahnya berbintik-bintik dan ekspresinya agak
kebingungan.
"Sialan kepalaku," keluhnya. "Sialan. Aku..."
Ia terhenti dan menatap Jane.
"Aku pasti sedang bermimpi," katanya lirih.
"Itu juga yang kukatakan tadi," sahut Jane. "Tapi
kita tidak bermimpi. Ada apa dengan kepala
Anda?" "Seseorang memukul kepalaku. Untung
saja batok kepalaku tebal." Dengan susah payah
ia duduk sambil menyeringai kesakitan.
"Kurasa otakku sebentar lagi akan mulai
berfungsi. Rupanya aku masih berada di tempat
yang sama." "Bagaimana Anda bisa sampai
kemari?" tanya Jane penuh rasa ingin tahu.
"Ceritanya panjang. Omong-omong, Anda
bukan Grand Duchess itu, kan?" "Bukan. Aku
Jane Cleveland saja."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Setidaknya Anda bukan gadis ala kadarnya,"
sahut laki-laki muda itu sambil menatapnya
kagum. Jane tersipu.
"Seharusnya aku mengambilkan air atau
sesuatu, bukan?" tanya Jane ragu.
"Biasanya begitulah," orang itu mengiyakan.
"Bagaimanapun, aku lebih suka wiski kalau Anda
bisa menemukannya."
Jane tidak berhasil menemukan wiski. Pria
muda itu meneguk air dengan lahap, lalu
menyatakan keadaannya sudah membaik.
"Apakah aku akan menceritakan petualanganku,
atau Anda lebih dulu?" "Anda dulu."
"Pengalamanku tidak begitu berarti. Aku
kebetulan melihat sang Grand Duchess masuk
ke ruangan itu mengenakan sepatu bertumit
rendah, dan keluar lagi dengan sepatu bertumit
tinggi. Bagiku ini agak janggal. Aku tidak suka
hal-hal janggal.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Jadi, aku mengikuti mobil dengan sepeda
motorku, dan melihat Anda dibawa masuk ke
dalam rumah. Sekitar sepuluh menit kemudian,
sebuah mobil balap besar melesat masuk.
Seorang gadis bergaun merah melompat keluar,
diikuti tiga pria. Gadis itu mengenakan sepatu
berhak rendah. Mereka masuk ke rumah. Tak
lama kemudian, si tumit rendah keluar lagi
mengenakan gaun hitam-putih dan pergi
mengendarai mobil pertama bersama
perempuan tua dan laki-laki jangkung
berjanggut pirang. Yang lain pergi dengan mobil
balap tadi. Aku menyangka mereka sudah pergi
semua, dan baru saja hendak masuk lewat
jendela untuk menyelamatkan Anda ketika
seseorang memukul kepalaku dari belakang. Itu
saja. Sekarang giliran Anda." Jane menceritakan
pengalamannya.
"Dan aku sungguh beruntung karena Anda
menguntit," ia mengakhiri kisahnya. "Sadarkah
Anda seburuk apa keadaanku seandainya Anda

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tidak mengikuti? Grand Duchess itu akan
mendapatkan alibi sempurna. Dia meninggalkan
bazar sebelum perampokan itu terjadi, dan tiba
di London dengan mobilnya sendiri. Siapa pula
yang akan memercayai kisah fantastisku yang
mustahil ini?"
"Tidak ada," sahut orang muda itu yakin.
Mereka begitu tenggelam dalam kisah masing-
masing, hingga tidak memerhatikan keadaan
sekitar. Dengan terkejut mereka mendongak ke
arah pria jangkung berwajah muram yang
bersandar di dinding rumah. Pria itu
mengangguk ke arah mereka.
"Sangat menarik," komentarnya.
"Siapa Anda?" gertak Jane.
Kedua mata pria berwajah muram itu berbinar
sedikit.
"Detektif Inspektur Farrel," jawabnya lembut.
"Saya sangat tertarik mendengar kisah Anda

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dan wanita muda ini. Kita mungkin akan sedikit
sulit memercayai kisahnya, kalau bukan karena
satu-dua hal." "Seperti misalnya?"
"Hm, begini. Pagi ini kami mendengar Grand
Duchess yang asli telah kabur bersama sopirnya
ke Paris." Jane ternganga.
"Kemudian kami tahu bahwa 'bandit
perempuan' Amerika itu telah datang ke negeri
ini, dan kami menyangka akan terjadi kudeta
atau semacamnya. Kami akan segera
menangkap mereka, itu bisa saya janjikan.
Permisi sebentar." Pria itu berlari masuk ke
rumah. "Well!" seru Jane penuh semangat.
"Kurasa Anda cerdas sekali karena
memerhatikan sepatu itu," katanya tiba-tiba.
"Sama sekali tidak," sahut laki-laki muda itu.
"Aku dibesarkan di perusahaan sepatu. Ayahku
semacam raja sepatu bot. Dia ingin aku juga
terjun ke dalamnya-menikah dan menetap, dan
seterusnya. Tepatnya, orang biasa-biasa saja -

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sekadar mengikuti prinsip. Tapi sebetulnya aku
ingin jadi seniman." Ia menghela napas.
"Aku ikut prihatin," ujar Jane ramah.
"Aku sudah mencobanya selama enam tahun.
Tak pelak lagi. Aku bukan pelukis hebat. Aku
berniat meninggalkan profesi ini dan pulang
seperti anak yang hilang itu. Jabatan bagus
sudah menantiku."
"Senang ya kalau punya pekerjaan," Jane
mengiyakan dengan pandangan menerawang.
"Bisakah Anda mencarikan aku pekerjaan,
misalnya mencoba sepatu bot?"
"Aku bisa menawarkan yang lebih baik-kalau
Anda mau menerimanya."
"Oh, apa itu?"
"Jangan pikirkan sekarang. Akan kusampaikan
nanti. Anda tahu, sampai kemarin aku belum
juga menemukan gadis yang ingin kunikahi."
"Kemarin?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Di bazar. Kemudian aku melihatnya-satu-
satunya si Dia!" Ia menatap Jane lurus-lurus.
"Alangkah cantiknya bunga-bunga delphinum
ini," ujar Jane tergesa dengan pipi merah
padam. "Ini bunga lupin, " kata orang muda itu.
"Tidak jadi soal," bisik Jane.
"Sama sekali tidak," orang muda itu
mengiyakan. Dan ia pun bergeser mendekat.

BUAH BERLIMPAH DI HARI MINGGU

"WAH, sungguh, menurutku ini menyenangkan


sekali," kata Miss Dorothy Pratt untuk keempat

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kalinya. "Andai kucing tua itu bisa melihatku
sekarang. Dia dan James-nya!"
Julukan "kucing tua" yang disinggung dengan
pedas tadi ditujukan pada Mrs. Mackenzie
Jones, majikan Miss Pratt yang terhormat, yang
punya pendirian keras tentang nama kecil mana
saja yang sesuai bagi para pramuwisma; ia
memilih memanggil Miss Pratt dengan nama
Jane-nama kedua yang tidak disukai Miss Pratt.
Teman Miss Pratt tidak segera menanggapi-
alasannya sangat masuk akal. Bila Anda baru
saja membeli mobil Baby Austin, tangan
keempat, seharga dua puluh pound, dan baru
dua kali mengendarainya dijalan, seluruh
perhatian Anda harus terpusat pada tugas sulit
menggunakan kedua tangan maupun kaki
dalam keadaan darurat.
"Hra-ah!" kata Mr. Edward Palgrove sambil
mengerem, hingga menimbulkan bunyi derit
mengerikan yang bisa membuat ngilu gigi para
pengemudi sejati.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Hm, kau tidak banyak bicara, ya," keluh
Dorothy.
Mr. Palgrove tidak perlu memberikan jawaban,
karena saat itu ia dihujani sumpah serapah oleh
pengemudi bus. "Wah, kasar sekali," ujar Miss
Pratt sambil membuang muka. "Coba kalau dia
punya rem seperti ini," ujar sang pacar kesal.
"Apa rem mobilmu bermasalah?"
"Kau bisa injak pedal ini sampai tua," sahut Mr.
Palgrove. "Tapi tidak akan bekerja."
"Oh, Ted, kau tidak bisa mengharapkan barang
bagus untuk dua puluh pound. Bagaimanapun,
kita sudah punya mobil betulan, jalan-jalan
keluar kota pada Minggu sore, sama seperti
orang-orang lain." Terdengar lagi bunyi derit
dan derak memekakkan telinga.
"Ah," ujar Ted dengan wajah merah penuh
kemenangan. "Kedengarannya lebih bagus."
"Kau benar-benar pandai mengemudi," ujar
Dorothy kagum.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Merasa disemangati oleh pujian itu, Mr.
Palgrove mengebut melintasi Hammersmith
Broadway, dan mendapat teguran keras dari
polisi.
"Ya ampun," kata Dorothy, saat mereka
meneruskan perjalanan menuju Hammersmith
Bridge dengan terpukul. "Apa sih maunya para
polisi itu. Mestinya mereka lebih ramah, apalagi
mereka banyak mendapat sorotan belakangan
ini."
"Lagi pula, aku tidak ingin lewat jalan ini," sahut
Edward sedih. "Aku ingin lewat Great West
Road dan kabur dari situ."
"Lalu langsung masuk perangkap," ujar Dorothy.
"Itulah yang terjadi pada majikanku kemarin.
Kena denda lima pound, ditambah ongkos."
"Sebenarnya polisi tidak sejelek itu," bela
Edward. "Mereka memang menyerang orang-
orang kaya. Bukannya membela. Aku kesal
memikirkan orang-orang kaya yang bisa begitu

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


saja membeli beberapa Rolls-Royce tanpa
berkedip. Sungguh tidak masuk akal. Aku sama
baiknya dengan mereka."
"Dan perhiasan mereka," keluh Dorothy. "Lihat
saja toko-toko perhiasan di Bond Street itu.
Berlian, mutiara, dan entah apa lagi! Sedangkan
aku cuma punya kalung mutiara Woolworth."
Dengan sedih Miss Pratt merenungkan
nasibnya. Edward bisa kembali memusatkan
perhatian pada kegiatan mengemudi. Mereka
berhasil melintasi Richmond dengan aman.
Perdebatan dengan polisi tadi telah menciutkan
nyali Edward. Sekarang ia mengambil taktik
yang paling tidak berisiko, yaitu mengikuti saja
setiap mobil di depannya, setiap kali muncul
kesempatan di tengah ramainya lalu lintas.
Demikianlah, ia tiba dijalan pedesaan yang
sangat didambakan banyak pengendara mobil.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ternyata aku cukup cerdas juga bisa
menemukan jalan ini," Edward memuji dirinya
sendiri.
"Bagus sekali jalanan ini," sahut Miss Pratt. "Dan
astaga, di sana ada penjual buah juga."
Benar saja, di sebuah sudut terlihat meja kecil
dengan keranjang buah di atasnya, dan spanduk
bertulisan MAKANLAH LEBIH BANYAK BUAH.
"Berapa?" tanya Edward khawatir, setelah
menarik rem tangan berkali-kali agar mobilnya
berhenti. "Buah arbeinya cantik," ujar si
penjual.
Orang itu penampilannya tidak menyenangkan,
dan suka mengerling.
"Cocok sekali untuk Madam. Buah masak, baru
dipetik. Ada buah ceri juga. Asli Inggris. Anda
mau sekeranjang ceri, Madam?"
"Kelihatannya cukup menarik," ujar Dorothy.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tepatnya, sangat cantik," sahut laki-laki itu
dengan suara parau. "Keranjang itu membawa
keberuntungan, Madam." Akhirnya ia mau
menjawab pertanyaan Edward. "Dua shilling,
Sir, sangat murah. Anda pasti akan berkata
begitu bila tahu isi keranjang ini."
"Kelihatannya menarik sekali," kata Dorothy.
Edward menghela napas dan membayar dua
shilling. Benaknya sibuk menghitung. Sesudah
ini minum teh, beli bensin-kegiatan bermobil
hari Minggu ini tidak bisa dikatakan murah, ini
bagian terburuk dalam mengajak pergi gadis-
gadis! Mereka selalu menginginkan apa pun
yang mereka lihat.
"Terima kasih, Sir," ujar laki-laki dengan
penampilan tidak menawan tadi. "Di dalam
keranjang ceri itu ada sesuatu yang nilainya
melebihi harga yang Anda bayar."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Edward menginjak pedal dengan keras, dan
sang Baby Austin melonjak ke arah penjual ceri,
bagaikan anjing marah.
"Maaf," kata Edward. "Saya lupa persnelingnya
masuk."
"Kau harus lebih hati-hati, Sayang," ujar
Dorothy. "Kau bisa mencelakai dia."
Edward tidak menjawab. Sekitar tujuh ratus
meter kemudian, mereka tiba di lokasi ideal di
tepi sungai kecil. Austin itu ditinggalkan di tepi
jalan, sedangkan Edward dan Dorothy duduk-
duduk di tepi sungai sambil mengunyah ceri. Di
kaki mereka tergeletak koran Minggu.
"Ada berita apa?" kata Edward akhirnya, sambil
meregangkan tubuh dan berbaring telentang,
serta menutupi matanya dengan topi.
Dorothy membaca sekilas judul-judul berita
utama.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Istri yang Malang. Kisah Luar Biasa. Minggu
Lalu Dua Puluh Delapan Orang Tenggelam.
Laporan Kematian Pilot. Perampokan Perhiasan
yang Menggemparkan. Kehilangan Kalung Batu
Delima Senilai Lima Puluh Ribu Pound. Oh, Ted!
Lima puluh ribu pound. Bayangkan saja!"
Dorothy terus membaca. "Kalung tersebut
terbuat dari dua puluh satu butir batu delima
dengan ikatan platina, dan dikirim dengan pos
tercatat dari Paris. Setiba di alamat, bingkisan
itu ternyata hanya berisi beberapa butir batu
kerikil, sedangkan kalung itu sendiri raib."
"Dicuri di pos," ujar Edward. "Aku percaya pos
di Prancis memang brengsek."
"Aku ingin bisa melihat kalung seperti itu," kata
Dorothy. "Berkilau bagai tetes-tetes darah-
darah merpati, mereka menamakannya begitu.
Aku penasaran, seperti apa rasanya punya
benda seperti itu melingkar di leher." "Hm, kau
sepertinya takkan pernah tahu, gadisku," canda
Edward. Dorothy membuang muka.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mengapa tidak? Hebat ya, gadis-gadis yang
bisa berhasil dalam hidup. Aku mungkin akan
jadi bintang panggung."
"Gadis-gadis yang tahu menjaga sikap takkan
pernah bisa sukses," kata Edward mengecilkan
hati. Dorothy sudah membuka mulut untuk
menjawab, tapi menahan diri, lalu bergumam,
"Tolong cerinya." "Aku sudah makan lebih
banyak daripadamu," komentar Dorothy. "Aku
akan membagi yang tersisa dan... wah, apa itu
di dasar keranjang?"
Sementara berbicara, ia mengeluarkannya-
seuntai kalung batu delima merah darah.
Mereka berdua menatap takjub.
"Katamu tadi di dalam keranjang?" Edward
akhirnya berkata.
Dorothy mengangguk.
"Di dasarnya-di bawah buah ceri."
Lagi-lagi mereka saling menatap.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Menurutmu bagaimana kalung ini bisa berada
di situ?"
"Tak bisa kubayangkan. Sungguh aneh, Ted,
tepat sesudah membaca beritanya di koran-
tentang batu-batu delima itu."
Edward tertawa.
"Kau tidak membayangkan sedang memegang
lima puluh ribu pound, bukan?"
"Aku cuma bilang sungguh aneh. Batu delima
dengan ikatan platina. Platina adalah logam
berwarna keperakan- seperti ini. Alangkah
gemerlapnya, dan warnanya sangat cantik, kan?
Ada berapa butir batu delima di kalung ini, ya?"
Dorothy menghitung. "Aduh, Ted, ternyata
tepat dua puluh satu butir."
"Tidak!"
"Ya! Jumlah yang sama dengan yang ditulis di
koran. Oh, Ted, apa menurutmu..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mungkin saja." Tapi ia mengucapkannya
dengan ragu. "Ada satu cara untuk
mengetahuinya-dengan menggoreskannya di
kaca."
"Itu kan untuk menguji berlian. Tapi, Ted, pria
tadi terlihat aneh-si penjual buah-kelihatannya
jahat. Dan anehnya, dia bilang di dalam
keranjang ini ada sesuatu yang nilainya melebihi
harga yang kita bayar." "Ya, tapi, Dorothy, untuk
apa dia memberi kita lima puluh ribu pound
lebih?" Miss Pratt menggeleng dengan kecil
hati.
"Sepertinya memang tidak masuk akal," akunya.
"Kecuali bila polisi sedang mengejarnya."
"Polisi?" Wajah Edward langsung pucat.
"Ya. Di koran tertulis 'polisi menemukan
petunjuk'."
Edward berkeringat dingin.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku tidak menyukai urusan ini, Dorothy.
Bagaimana kalau polisi menangkap kita. "
Dorothy menatapnya melongo.
"Tapi kita tidak melakukan apa-apa, Ted. Kita
menemukannya di dalam keranjang." "Dan
kisah itu akan terdengar konyol! Tidak
mungkin."
"Memang agak tidak mungkin," Dorothy
mengakui. "Oh, Ted, apa menurutmu kalung ini
benar yang ITU? Seperti dongeng saja!"
"Menurutku ini bukan dongeng," sergah
Edward. "Bagiku, ini lebih mirip cerita tentang
pahlawan yang dijebloskan ke penjara Dartmoor
selama empat belas tahun karena tuduhan yang
tidak adil."
Tapi Dorothy tidak mendengarkan. Ia telah
memasang kalung itu di lehernya dan
mengagumi penampilannya di cermin kecil yang
diambilnya dari tas.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sama seperti yang dikenakan seorang duchess,
" gumamnya bahagia.
"Aku tidak mau percaya," ujar Edward keras.
"Batu-batu itu cuma imitasi. Pasti imitasi."
"Benar, Sayang," kata Dorothy, masih terkagum-
kagum pada pantulan dirinya di cermin.
"Mungkin sekali."
"Kemungkinan lain akan terlalu kebetulan."
"Darah merpati," gumam Dorothy.
"Ini benar-benar gila. Gila. Dengar, Dorothy, kau
mendengarkan kata-kataku atau tidak?"
Dorothy menyingkirkan cerminnya. Ia menoleh
pada Edward, salah satu tangannya membelai
batu-batu delima yang melingkari lehernya.
"Bagaimana penampilanku?"
Edward menatapnya, kegalauannya terlupakan.
Ia belum pernah melihat Dorothy seperti ini.
Ada aura kemenangan yang melingkupinya,
semacam kecantikan agung yang baru pertama

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kali ini dilihatnya. Keyakinan bahwa dirinya
mengenakan kalung senilai lima puluh ribu
pound telah menyulap Dorothy Pratt menjadi
wanita baru. Ia tampak tenang sekaligus
angkuh, semacam gabungan Cleopatra,
Semiramis, dan Zenobia.
"Kau tampak... kau tampak... memesona," ujar
Edward khidmat.
Dorothy tertawa, gelaknya pun sangat berbeda.
"Dengar," kata Edward. "Kita harus bertindak.
Kita harus membawa kalung itu ke kantor
polisi." "Omong kosong," sergah Dorothy. "Kau
sendiri tadi bilang mereka takkan
memercayaimu. Kau mungkin akan dipenjara
atas tuduhan mencurinya."
"Tapi... tapi apa lagi yang bisa kita lakukan?"
"Menyimpannya," ujar Dorothy Pratt yang baru.
Edward menatapnya nanar. "Menyimpannya?
Kau sudah gila."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Kita menemukannya, kan? Jadi, mengapa kita
harus menganggap kalung ini berharga? Kita
akan menyimpannya, dan aku akan
mengenakannya." "Dan polisi akan
menangkapmu. " Dorothy mempertimbangkan
kemungkinan ini sejenak.
"Baiklah," katanya. "Kita akan menjualnya. Dan
kau bisa membeli satu mobil Rolls-Royce, atau
dua, aku akan membeli perhiasan berlian dan
beberapa cincin."
Edward masih saja melotot. Dorothy tidak sabar
lagi.
"Ini kesempatan-terserah kau mau
mengambilnya atau tidak. Kita tidak
mencurinya-aku takkan mau mencuri. Kalung ini
datang sendiri pada kita, dan boleh jadi inilah
satu-satunya kesempatan kita memperoleh
semua hal yang kita dambakan. Apa kau tidak
punya nyali sedikit pun, Edward Palgrove?"
Edward akhirnya mampu berbicara kembali.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Menjualnya, katamu? Tidak semudah yang
kausangka. Setiap tukang emas pasti ingin tahu
dari mana aku mendapatkan benda mewah ini."
"Kau tidak perlu membawanya ke tukang emas.
Apa kau tidak pernah membaca cerita detektif,
Ted? Kau harus membawanya ke 'tukang tadah',
tentu saja."
"Dan bagaimana aku bisa kenal tukang tadah?
Aku dibesarkan dalam keluarga baik-baik."
"Laki-laki harus tahu segalanya," ujar Dorothy.
"Untuk itulah mereka ada."
Edward menatap Dorothy. Gadis ini tetap
tenang dan tidak mau menyerah.
"Aku tidak percaya kau bisa berkata begitu,"
ujar Edward lesu.
"Kusangka kau punya lebih banyak keberanian."
Hening sejenak. Kemudian Dorothy bangkit
berdiri.
"Nah," ujarnya ringan. "Sebaiknya kita pulang."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sambil mengenakan kalung itu di lehermu?"
Dorothy melepaskan kalung itu, menatapnya
khidmat, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Sini," kata Edward. "Berikan kalung itu
padaku."
"Tidak."
"Ya, harus. Aku dibesarkan sebagai orang jujur,
gadis manisku."
"Silakan melanjutkan sikap jujurmu. Kau tidak
perlu berurusan dengan kalung ini."
"Ayolah, berikan padaku," kata Edward
serampangan. "Biar aku saja yang
melakukannya. Aku akan menemukan tukang
tadah. Seperti katamu tadi, inilah satu-satunya
kesempatan kita. Kita mendapatkannya dengan
jujur- membelinya seharga dua shilling. Sama
seperti orang-orang terhormat yang
membanggakan perolehan mereka dari belanja
di toko antik."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Itu dia!" seru Dorothy. "Oh, Edward, kau
benar-benar hebat!"
Dorothy menyerahkan kalung itu, dan Edward
memasukkannya ke sakunya. Edward merasa
bergelora, agung, dan sangat jantan! Dalam
suasana seperti inilah ia menstarter Austin-nya.
Keduanya terlampau tegang untuk mengingat
teh. Mereka kembali ke London dalam diam. Di
salah satu persimpangan jalan, seorang polisi
melangkah menuju mobil mereka, dan jantung
Edward berdegup keras. Sungguh ajaib mereka
bisa sampai dengan selamat.
Kata-kata perpisahan Edward pada Dorothy
masih diilhami semangat petualangan.
"Kita akan membereskannya. Lima puluh ribu
pound! Memang sepadan!"
Malam itu ia bermimpi tentang panah-panah
besar dan penjara Dartmoor, terbangun di pagi
buta dengan mata cekung dan lesu. Ia harus

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


keluar mencari tukang tadah-dan ia sama sekali
tidak tahu caranya!
Ia melaksanakan tugas di kantor dengan
teledor, dan sebelum makan siang ia sudah
kena teguran keras dua kali.
Bagaimana cara menemukan tukang tadah?
Edward berpendapat Whitechapel lingkungan
yang tepat-atau mungkin Stepney?
Setiba kembali di kantor, ada panggilan telepon
untuknya. Terdengar suara Dorothy-tragis dan
penuh air mata. "Kaukah itu, Ted? Aku
menggunakan telepon majikanku, dan dia bisa
masuk setiap saat. Aku harus berhenti bicara.
Ted, kau belum melakukan apa pun, kan?"
Edward menjawab belum.
"Nah, dengarkan, Ted, jangan lakukan.
Sepanjang malam tadi aku tidak bisa tidur.
Benar-benar menyedihkan. Aku terus
memikirkan ayat di Alkitab yang mengatakan
kita tidak boleh mencuri. Aku pasti sudah gila

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


kemarin-pasti. Kau takkan melakukan apa pun,
benar kan, Ted, Sayang?"
Apakah Mr. Palgrove merasa lega? Mungkin
saja-tapi ia takkan mau mengakuinya begitu
saja.
"Kalau aku bilang akan membereskan sesuatu,
aku akan melakukannya," ujarnya dengan nada
seperti Superman perkasa dan tatapan mata
sekeras baja.
"Oh, tapi, Ted, Sayang, jangan lakukan. Oh,
Tuhan, dia datang. Dengar, Ted, nanti dia akan
makan malam di luar. Aku bisa menyelinap
keluar dan menemuimu. Jangan lakukan apa
pun sampai kau berjumpa denganku. Jam
delapan malam. Tunggu aku di sudut jalan."
Suara Dorothy berubah lembut. "Ya, Ma'am,
saya rasa teleponnya salah sambung. Yang
diinginkan, adalah Bloomsbury 0234."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ketika Edward meninggalkan kantor pada pukul
enam sore, sebuah judul berita utama menarik
perhatiannya.

PERAMPOKAN PERHIASAN. PERKEMBANGAN


TERAKHIR

Dengan tergesa ia menyodorkan uang satu


penny. Terlindung aman dalam kereta api Tube,
setelah berhasil mendapatkan tempat duduk
dengan gesit, ia membaca korannya dengan
teliti. Dengan mudah ia mendapatkan apa yang
dicarinya.
Sebuah siulan tertahan lolos dari bibirnya.
"Ya... ampun..."
Kemudian alinea lain yang berdekatan menarik
perhatiannya. Selesai membaca berita itu, ia
menjatuhkan korannya ke lantai.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Tepat pukul delapan malam, Edward sudah
menanti di tempat sesuai janji. Dorothy yang
terengah-engah, tampak pucat namun cantik,
bergegas menemuinya. "Kau belum melakukan
apa-apa, Ted?"
"Aku belum melakukan apa pun." Ia
mengeluarkan kalung batu delima itu dari
sakunya. "Kau boleh mengenakannya." "Tapi,
Ted..."
"Polisi sudah menemukan batu-batu delima itu-
termasuk orang yang mencurinya. Sekarang
bacalah ini!" Edward menyodorkan sehelai
guntingan koran ke bawah hidung Dorothy yang
lalu membacanya,

TRIK PERIKLANAN GAYA BARU

Sebuah siasat periklanan baru yang cerdik telah


dijalankan oleh All-English Fivepenny Fair yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


berniat menantang perusahaan Woolworth
yang terkenal itu. Kemarin telah dijual sejumlah
keranjang buah yang selanjutnya akan dijual
setiap hari Minggu. Dalam setiap lima puluh
keranjang, salah satunya berisi kalung terbuat
dari berbagai batu permata imitasi. Untuk harga
yang dipungut, kalung-kalung ini sangat indah.
Kemarin sambutan yang diperoleh sungguh
sangat meriah, dan hari Minggu depan,
semboyan MAKANLAH LEBIH BANYAK BUAH
akan menjadi mode yang digemari. Kami
mengucapkan selamat pada Fivepenny Fair atas
ide mereka, dan mendoakan sukses besar bagi
kampanye mereka untuk Membeli Barang-
Barang Asli Inggris.
"Well... " ujar Dorothy. Dan sesaat kemudian,
"Well!" "Ya," kata Edward. "Aku merasakan hal
yang sama." Seorang pria yang melintas
memberikan sehelai kertas pada Edward.
"Ambillah selembar, saudaraku," ujarnya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Perempuan yang saleh lebih berharga daripada
permata batu delima. "
"Nah!" kata Edward. "Kuharap ini bisa
membangkitkan semangatmu."
"Entahlah," sahut Dorothy ragu. "Aku tidak
begitu ingin tampak seperti perempuan saleh."
"Memang tidak," ujar Edward. "Itu sebabnya
laki-laki itu memberikan kertas ini padaku.
Dengan rentetan batu delima yang melingkari
lehermu itu, kau sama sekali tidak tampak
seperti perempuan saleh." Dorothy tertawa.
"Kau memang manis, Ted," ujarnya. "Ayo, mari
kita pergi menonton bioskop."

PETUALANGAN MR. EASTWOOD

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mr. EASTWOOD menatap langit-langit. Setelah
itu ia menunduk menatap lantai. Dari situ
matanya perlahan-lahan beralih ke dinding
kanan. Kemudian dengan mendadak ia kembali
memusatkan perhatian pada mesin tik di
hadapannya.
Lembaran kertas putih bersih itu hanya dinodai
sebuah judul dengan huruf-huruf besar.
MISTERI MENTIMUN KEDUA. Judul yang
menarik. Anthony Eastwood merasa siapa pun
yang membaca judul itu pasti tergugah rasa
ingin tahunya dan terpukau. "Misteri Mentimun
Kedua," mereka akan berkata. "Tentang apa
gerangan isi ceritanya? Sebuah mentimun?
Mentimun kedua? Aku harus membaca cerita
ini." Mereka akan tergetar dan terpukau pada
keahlian sempurna pakar kisah fiksi detektif ini

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dalam merajut alur cerita yang seru seputar
buah yang sederhana ini.
Bagus sekali. Anthony Eastwood tahu seperti
apa kisah itu seharusnya-masalahnya, ia tidak
mampu meneruskannya. Dua unsur penting
dalam cerita adalah judul dan alurnya-sisanya
sekadar pekerjaan persiapan. Adakalanya
judulnya sendiri akan membawa penulis pada
alurnya, dan selanjutnya semua berjalan lancar-
tapi dalam kasus ini, judul tadi tetap saja
menghiasi bagian atas lembaran kertas,
sedangkan sisanya tetap kosong tanpa alur
cerita.
Lagi-lagi tatapan mata Anthony Eastwood
terarah pada langit-langit, lantai, dan kertas
pelapis dinding, mencari ilham, namun tetap
saja tidak ada hasilnya.
"Aku akan memberi nama Sonia pada tokoh
wanitanya," gumam Anthony untuk
menyemangati dirinya. "Sonia atau mungkin
Dolores-dengan kulit putih bersih bagaikan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


gading-bukan pucat karena kesehatan yang
buruk, dan mata sedalam telaga yang tak
terukur. Tokoh prianya kunamai George, atau
mungkin John-nama singkat dan khas Inggris.
Kemudian ada si tukang kebun-kurasa dalam
kisah ini harus ada tukang kebunnya, karena
bagaimanapun, alurnya tentang mentimun-
tukang kebun itu bisa saja orang Skotlandia, dan
kelewat pesimis memikirkan datangnya es yang
terlalu dini."
Adakalanya metode seperti ini membawa hasil,
tapi pagi ini, cara itu sepertinya sia-sia saja.
Meskipun Anthony bisa melihat tokoh-tokoh
Sonia, George, dan tukang kebun yang
menggelikan itu dengan cukup jelas, mereka
tidak menunjukkan minat sedikit pun untuk
bergerak aktif dan melakukan berbagai hal.
"Aku bisa saja menggantinya dengan pisang,"
pikir Anthony putus asa. "Atau selada, atau toge
Brussel-toge Brussel, bagaimana kira-kira? Kode

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


rahasia yang cocok untuk Brussels-surat obligasi
curian-Baron dari Belgia yang menakutkan."
Untuk sesaat secercah cahaya seakan
menampakkan diri, tapi setelah itu padam
kembali. Baron Belgia itu tak mau terwujud, dan
tiba-tiba Anthony teringat bahwa es yang
datang terlalu dini dan mentimun adalah dua
hal yang bertentangan, tidak bakal cocok
dengan komentar-komentar lucu yang
diucapkan si tukang kebun Skotlandia itu.
"Oh! Sialan!" umpat Mr. Eastwood.
Ia bangkit berdiri dan menyambar koran Daily
Mail. Mungkin saja ada yang terbunuh dengan
cara begitu rupa, hingga mampu memberikan
inspirasi pada penulis yang setengah mati
membutuhkan inspirasi. Tapi berita hari ini
ternyata hanya berkisar soal politik dan
kejadian-kejadian di luar negeri. Mr. Eastwood
melemparkan korannya dengan kesal.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Berikutnya, sambil menyambar sebuah novel
dari meja, ia memejamkan mata dan
menudingkan jari ke salah satu halamannya.
Kata yang kena tunjuk oleh jarinya adalah
"domba". Saat itu juga dengan kecemerlangan
menakjubkan seluruh kisah pun terbentang di
benak Mr. Eastwood. Gadis cantik-kekasihnya
tewas di medan perang, dengan linglung
menggembalakan domba di pegunungan
Skotlandia-pertemuan mistis dengan arwah
kekasihnya, efek akhir dengan domba dan
cahaya bulan seperti dalam film pemenang
Oscar dan sang gadis tergeletak mati di salju,
serta sepasang jejak kaki menuju...
Ini akan menjadi kisah yang indah. Anthony
keluar dari lamunan itu sambil menghela napas
dan menggeleng sedih. Ia tahu betul editornya
takkan mau menerima kisah semacam itu-
seindah apa pun jadinya. Jenis kisah yang
diinginkannya dan bersikeras harus diterimanya
(dan rela dibayarnya cukup mahal), harus
bercerita tentang wanita-wanita berkulit gelap

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


yang misterius, ditikam tepat di jantung, tokoh
muda yang salah dituduh, misteri yang
terbongkar mendadak dan menetapkan
kesalahan pada orang yang paling tak terduga,
melalui petunjuk-petunjuk yang sangat tidak
memadai-jelasnya, MISTERI MENTIMUN KEDUA.
"Meskipun," renung Anthony, "taruhan sepuluh
lawan satu, dia akan mengubah judulnya
dengan sesuatu yang jelek, misalnya
Pembunuhan Paling Keji, tanpa meminta
pendapatku! Oh, terkutuklah telepon itu."
Dengan marah ia melangkah menuju pesawat
itu dan mengangkat gagangnya. Dalam satu jam
terakhir ini sudah dua kali ia harus menerima
panggilan telepon-sekali salah sambung, dan
sekali undangan makan malam dari wanita
tokoh masyarakat yang sangat dibencinya, tapi
terlampau keras kepala untuk dikalahkan.
"Halo!" bentaknya kasar.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Suara seorang wanita menjawabnya dengan
aksen asing yang lembut. "Kaukah ini,
sayangku?" ujarnya lembut.
"Hm-anu-saya tidak tahu," jawab Mr. Eastwood
hati-hati. "Siapa ini?"
"Ini aku. Carmen. Dengar, Sayang. Aku sedang
dikejar-kejar-dalam bahaya-kau harus segera
datang. Ini soal hidup dan mati."
"Maaf," sahut Mr. Eastwood sopan. "Saya
khawatir Anda salah..." Wanita itu memotong
pembicaraannya sebelum ia sempat
mengakhirinya.
"Madre de Dios! Mereka sudah datang. Kalau
mereka tahu apa yang kukerjakan, mereka akan
membunuhku. Jangan kecewakan aku.
Datanglah segera. Aku akan mati bila kau tidak
datang. Kau tahu kan, 320 Kirk Street. Kata
sandinya adalah mentimun... Sst..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mr. Eastwood mendengar bunyi klik saat wanita
itu meletakkan gagang teleponnya. "Celaka,"
ujar Mr. Eastwood terheran-heran.
Ia melangkah ke kaleng tembakaunya, lalu
mengisi pipanya dengan hati-hati.
Ia merenung. "Kurasa itu efek bawah sadarku.
Dia tak mungkin berkata mentimun. Seluruh
urusan ini luar biasa. Apa dia tadi berkata
mentimun, atau tidak?" Ia berjalan mondar-
mandir dengan ragu.
"320 Kirk Street. Apa artinya semua ini? Wanita
itu menunggu kedatangan laki-laki lain. Kata
sandinya adalah mentimun-oh, tidak mungkin,
benar-benar gila-ini pasti halusinasi otakku yang
sibuk." Dengan kesal ia menatap mesin tiknya.
"Aku ingin tahu, apa manfaatmu? Aku sudah
memelototimu sepanjang pagi, dan tidak
mendapat apa-apa. Penulis harus mendapatkan
alur cerita dari kehidupan nyata-kehidupan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


nyata, kaudengar? Sekarang aku akan keluar
untuk mendapatkannya."
Ia mengenakan topi, menatap penuh sayang
pada koleksi porselen antiknya, dan keluar
meninggalkan apartemen.
Kirk Street, seperti diketahui kebanyakan
penduduk London, adalah jalan yang panjang
dan berkelok-kelok, sarat dengan toko-toko
barang antik, tempat segala macam barang
tiruan ditawarkan dengan harga tinggi. Selain
itu ada juga toko-toko kuningan tua, toko-toko
gelas, toko barang bekas, dan pedagang pakaian
bekas.
Bangunan No. 320 digunakan untuk menjual
gelas-gelas kuno. Segala macam pecah-belah
dipajang berlimpah di situ. Anthony terpaksa
bergerak dengan sangat hati-hati saat
melangkah di lorong yang diapit rak-rak penuh
gelas anggur dan berbagai tempat lilin gantung
yang berayun-ayun berkilauan di atas
kepalanya. Seorang wanita tua renta sedang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


duduk di bagian belakang toko itu. Ia memiliki
kumis tipis yang bisa membuat iri banyak
pemuda, dan perilaku kasar.
Ia menatap Anthony, lalu berkata,
"Bagaimana?" dengan suara menakutkan.
Anthony termasuk orang muda yang agak
mudah dibuat gugup. Ia langsung menanyakan
harga beberapa gelas yang digadaikan.
"Empat puluh lima shilling untuk setengah
lusin."
"Oh, begitu," ujar Anthony. "Lumayan bagus.
Kalau yang ini berapa?"
"Itu gelas-gelas cantik, keluaran Waterford. Aku
akan melepas sepasang dengan harga delapan
belas guinea. " Mr. Eastwood merasa ia mencari
masalah saja. Sebentar lagi ia akan membeli
sesuatu karena terhipnotis oleh mata tajam
perempuan tua yang menakutkan itu. Namun ia
tidak mampu meninggalkan toko itu.
"Bagaimana dengan yang itu?" ia bertanya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sambil menunjuk sebuah tempat lilin gantung.
"Tiga puluh lima guinea. "
"Ah!" ujar Mr. Eastwood dengan menyesal. "Itu
sedikit di atas kemampuanku."
"Apa yang Anda inginkan?" tanya perempuan
tua itu. "Sesuatu untuk hadiah pernikahan?"
"Tepat sekali," Anthony menyambar alasan itu.
"Tapi barang-barang ini tidak begitu cocok."
"Ah, begitu," kata wanita tua itu sambil bangkit
dengan tekad bulat. "Pecah-belah kuno yang
cantik pasti cocok untuk siapa pun. Di sini ada
beberapa karaf anggur antik-dan itu perangkat
liqueur mungil manis yang pasti cocok bagi
pengantin..."
Selama sepuluh menit berikutnya Anthony
merasa tersiksa. Perempuan tua itu seolah
menguasainya. Setiap hasil karya seni pembuat
gelas berjajar di depan matanya. Ia merasa
putus asa.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Indah sekali, sangat indah," pujinya asal-asalan
sambil meletakkan gelas anggur besar yang
disodorkan di depan hidungnya. Akhirnya ia
cepat-cepat bertanya, "Maaf, apa di sini ada
telepon?"
"Tidak ada. Anda bisa menelepon dari kantor
pos di seberang. Nah, Anda mau yang mana,
gelas anggur yang besar ini-atau gelas minum
antik ini?"
Karena ia bukan perempuan, Anthony tidak
tahu cara meninggalkan toko secara halus tanpa
membeli apa pun.
"Lebih baik saya ambil perangkat liqueur itu,"
jawabnya muram.
Sepertinya itulah barang terkecil. Ia sudah
sangat ketakutan bila sampai harus membeli
tempat lilin itu.
Dengan sedih ia membayar barang
belanjaannya. Kemudian, saat wanita tua itu
sedang membungkusnya, mendadak

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


keberaniannya muncul kembali. Lagi pula,
wanita itu paling-paling akan menganggapnya
eksentrik saja; selain itu, peduli amat apa yang
dipikirkannya.
"Mentimun," kata Anthony, jelas dan tegas.
Perempuan tua itu langsung berhenti
membungkus.
"Eh? Apa kata Anda tadi?"
"Tidak ada," Anthony berdusta.
"Oh! Kusangka Anda tadi berkata mentimun."
"Memang benar," sahut Anthony menantang.
"Nah," ujar perempuan itu. "Mengapa tidak
Anda katakan sejak tadi? Membuang-buang
waktuku saja. Lewat pintu di sana itu dan
langsung naik. Dia sedang menunggu Anda."
Bagaikan dalam mimpi, Anthony masuk lewat
pintu yang ditunjuk, dan naik melalui tangga
yang luar biasa kotor. Di ujung tangga ada pintu
yang terbuka lebar menuju ruang duduk sempit.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Seorang gadis duduk di kursi sambil menatap
pintu, wajahnya menyiratkan penantian penuh
harap.
Gadis yang sangat luar biasa! Kulitnya mulus
bagaikan gading yang telah begitu sering
digambarkan Anthony dalam karya tulisnya. Dan
matanya! Mata yang sangat luar biasa! Sekilas
lihat saja langsung tampak ia bukan gadis
Inggris. Ia memiliki penampilan eksotis asing
yang bahkan terlihat dari kesederhanaan
gaunnya.
Anthony berdiri terpaku di pintu, sedikit malu-
malu. Saat untuk menjelaskan duduk perkara
sepertinya sudah tiba. Tapi dengan pekik
gembira gadis itu bangkit berdiri dan
menghambur ke dalam pelukan Anthony.
"Kau sudah datang," isaknya. "Kau sudah
datang. Oh, syukurlah. Syukurlah."
Anthony, yang tidak pernah mau kehilangan
kesempatan, mengulang pernyataan itu dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sungguh-sungguh. Akhirnya gadis itu
melepaskan diri dan menatap wajah Anthony
dengan sikap malu-malu yang memesona.
"Aku tidak bakal bisa mengenali Anda," kata
gadis itu. "Sungguh." "Begitu?" ujar Anthony
lemah.
"Tidak, bahkan mata Anda tampak berbeda-dan
Anda sepuluh kali lebih tampan daripada yang
kubayangkan." "Benar?"
Namun dalam hatinya Anthony berkata,
"Tenang, Bung, tenang. Situasinya berkembang
dengan bagus, tapi jangan sampai lupa
daratan."
"Bolehkah aku mencium Anda lagi?"
"Tentu saja," jawab Anthony bersemangat.
"Sesering yang Anda mau." Terjadilah selingan
yang sangat menyenangkan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Siapa gerangan aku ini?" pikir Anthony.
"Mudah-mudahan saja orang yang sebenarnya
tidak muncul. Alangkah cantiknya gadis ini."
Mendadak gadis itu menjauh, dan di wajahnya
terbayang ketakutan. "Anda tidak diikuti
kemari?" "Astaga, tidak."
"Ah, tapi mereka sangat licik. Aku kenal betul
mereka. Boris benar-benar iblis." "Aku akan
segera membereskan Boris untuk Anda."
"Anda sangat berani-ya, seperti singa.
Sedangkan mereka busuk semuanya-mereka
semua. Dengar, celakalah aku! Mereka pasti
akan membunuhku kalau tahu. Aku takut-aku
tidak tahu harus berbuat apa, kemudian aku
teringat Anda... Ssst, bunyi apa itu?"
Bunyi itu berasal dari toko di bawah. Sambil
memberi isyarat agar Anthony tetap di tempat,
ia berjingkat keluar menuju tangga. Ia kembali
dengan wajah pucat dan mata terbelalak.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Madre de Dios! Polisi. Mereka sedang menuju
kemari. Anda punya pisau? Atau pistol? Yang
mana?"
"Nona manis, Anda tidak benar-benar berharap
aku membunuh polisi, kan?"
"Oh, tapi Anda gila-gila! Mereka akan
membawa dan menggantung Anda sampai
mati."
"Mereka akan apa?" ujar Mr. Eastwood
merinding.
Terdengar langkah-langkah kaki di tangga.
"Mereka datang," bisik gadis itu. "Sangkal
semuanya. Ini satu-satunya harapan kita." "Itu
cukup mudah," Mr. Eastwood mengakui, sotto
voce.
Sesaat kemudian masuklah dua pria. Mereka
mengenakan pakaian biasa, tapi memiliki sikap
resmi yang menunjukkan hasil pelatihan
panjang. Pria yang lebih kecil berkulit gelap dan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


memiliki mata kelabu tenang, dan ia bertindak
sebagai juru bicara.
"Saya menahan Anda, Conrad Fleckman,"
katanya, "atas tuduhan membunuh Anna
Rosenburg. Apa pun yang Anda katakan akan
digunakan sebagai bukti melawan Anda. Ini
surat perintah saya, dan sebaiknya Anda ikut
dengan tenang."
Gadis itu terpekik. Anthony melangkah maju
sambil tersenyum tenang. "Anda keliru, Opsir,"
ujarnya ramah. "Nama saya Anthony
Eastwood." Kedua detektif itu sama sekali tidak
terpengaruh oleh pernyataan tersebut.
"Conrad," tangis gadis itu. "Conrad, jangan
biarkan mereka membawamu." Anthony
menatap kedua detektif itu.
"Saya yakin Anda mengizinkan saya berpamitan
pada nona ini?"
Dengan sikap lebih sopan daripada yang
diharapkan Anthony, kedua pria itu beranjak ke

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pintu. Anthony menarik gadis itu ke sudut
ruangan dekat jendela, dan berbisik cepat
padanya.
"Dengar. Apa yang saya katakan tadi memang
benar. Saya bukan Conrad Fleckman. Waktu
Anda menelepon tadi pagi, mereka pasti salah
menyambungkan. Nama saya Anthony
Eastwood. Saya datang menanggapi permintaan
Anda -nah, jadi saya datang."
Gadis itu menatapnya tak percaya.
"Jadi, Anda bukan Conrad Fleckman?"
"Bukan."
"Oh!" tangisnya putus asa. "Padahal aku telah
mencium Anda!"
"Tidak mengapa," Mr. Eastwood
menenangkannya. "Kebiasaan itu sudah ada
sejak zaman dulu. Cukup masuk akal. Sekarang
dengarkan, saya akan mengurus kedua orang
itu. Saya akan segera membuka identitas saya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sementara itu, mereka takkan mengganggu
Anda, dan Anda bisa memperingatkan Conrad
Anda. Setelah itu..."
"Ya?"
"Hm-cuma ini. Nomor telepon saya
Northwestern 1743-dan perhatikan, jangan
sampai mereka menyambungkan ke nomor
yang keliru."
Gadis itu menatapnya dengan pandangan
memikat, setengah menangis, setengah
tersenyum. "Aku takkan lupa-sungguh, aku
takkan lupa." "Baiklah kalau begitu. Selamat
tinggal. Begini..."
"Ya?"
"Omong-omong tentang kebiasaan mencium...
cium sekali lagi boleh juga, kan?" Gadis itu
melingkarkan kedua lengannya di leher
Anthony. Bibirnya sekadar menyentuh bibir
Anthony. "Aku benar-benar menyukai Anda-ya,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


aku benar-benar menyukai Anda. Apa pun yang
terjadi, Anda akan mengingatnya, bukan?"
Dengan enggan Anthony melepaskan diri dari
pelukannya dan melangkah ke arah kedua orang
yang menahannya
itu.
"Saya siap ikut dengan Anda. Saya rasa Anda
tidak akan menahan nona ini, bukan?" "Tidak,
Sir, tidak perlu," jawab pria kecil itu sopan.
"Para petugas Scotland Yard ini memang sopan
santun," pikir Anthony, sambil mengikuti
mereka menuruni tangga sempit itu.
Perempuan tua itu tidak tampak di toko, tapi
Anthony mendengar bunyi napas tersengal di
balik pintu belakang, dan menebak bahwa
wanita itu berdiri di baliknya sambil mengamati
kejadian itu dengan hati-hati.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Begitu berada di Kirk Street yang jorok, Anthony
menghela napas dalam-dalam, lalu berbicara
pada pria yang lebih kecil.
"Begini, Inspektur-Anda seorang inspektur,
bukan?"
"Betul, Sir. Detektif Inspektur Verrall. Dan ini
Detektif Sersan Carter."
"Nah, Inspektur Verrall, sudah tiba saatnya
bicara masuk akal-sekaligus mendengarkan.
Saya bukan Conrad. Nama saya Anthony
Eastwood seperti sudah saya katakan tadi, dan
saya berprofesi sebagai penulis. Bila Anda
bersedia ikut ke apartemen, saya rasa saya bisa
mengungkapkan identitas saya pada Anda."
Gaya bicara Anthony yang apa adanya
sepertinya membuat terkesan kedua detektif
itu. Untuk pertama kalinya terbayang ekspresi
ragu di wajah Verrall.
Ternyata Carter lebih sulit diyakinkan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya yakin itu," ejeknya. "Tapi Anda tentunya
ingat nona tadi memanggil Anda 'Conrad'."
"Ah! Itu soal lain. Saya tidak keberatan
mengakui pada Anda berdua bahwa karena...
mm... alasan pribadi, di hadapan nona itu saya
menyamar sebagai orang bernama Conrad. Ini
persoalan pribadi."
"Mungkin saja kisah Anda benar," Carter
menimpali. "Tidak, Sir, silakan Anda ikut kami.
Panggil taksi itu, Joe."
Sebuah taksi yang kebetulan lewat dihentikan,
dan ketiga laki-laki itu pun naik. Anthony
mencoba sekali lagi, kali ini ia berbicara pada
Verrall yang tampaknya lebih mudah
diyakinkan.
"Dengar, Inspektur yang baik, apa salahnya
Anda ikut ke apartemen saya dan membuktikan
bahwa saya tidak berbohong? Anda boleh
menggunakan taksinya kalau mau-nah, ini

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


penawaran yang cukup murah hati, kan? Selisih
waktunya takkan sampai lima menit."
Verrall melemparkan pandangan menyelidik.
"Baiklah," ujarnya tiba-tiba. "Meskipun aneh,
saya percaya Anda tidak berbohong. Kami juga
tidak mau tampak dungu di kantor polisi karena
salah menahan orang. Di mana alamat Anda?"
"Brandenburg Mansions nomor empat puluh
delapan."
Verrall melongokkan kepala ke luar jendela dan
meneriakkan alamat itu pada sopir taksi.
Ketiganya duduk dalam diam sampai mereka
tiba di tujuan. Carter melompat keluar, dan
Verrall memberi isyarat agar Anthony
mengikutinya.
"Tidak perlu canggung," jelasnya sambil turun
dari taksi. "Kita akan masuk dengan bersahabat,
seakan Mr. Eastwood sedang mengajak teman-
temannya ke rumah."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Anthony sangat bersyukur atas usul ini, dan
pendapatnya tentang Departemen Investigasi
Kriminal semakin positif saja.
Di ruang depan, mereka cukup beruntung
menjumpai Rogers, sang portir. Anthony
menghentikan langkah.
"Ah! Selamat malam, Rogers," sapanya santai.
"Selamat malam, Mr. Eastwood," jawab portir
itu dengan hormat.
Laki-laki ini suka pada Anthony yang selalu
bersikap ramah, tidak seperti para tetangganya.
Anthony berhenti dengan satu kaki di anak
tangga paling bawah.
"Omong-omong, Rogers," ujarnya santai.
"Sudah berapa lama aku tinggal di sini? Aku
baru saja mengobrol soal itu dengan kedua
temanku ini."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Biar kuingat-ingat, Sir. Kalau tidak salah sudah
hampir empat tahun." "Tepat seperti
dugaanku."
Anthony melemparkan pandangan penuh
kemenangan ke arah kedua detektif tadi. Carter
mendengus, tapi Verrall tersenyum lebar.
"Bagus, tapi belum cukup bagus, Sir,"
komentarnya. "Bagaimana kalau kita ke atas?"
Anthony membuka pintu apartemen dengan
kuncinya. Ia bersyukur saat teringat bahwa
Seaman, asistennya, sedang keluar. Semakin
sedikit saksi yang melihat peristiwa memalukan
ini, semakin baik.
Mesin tiknya masih dalam keadaan sama seperti
semula. Carter melangkah ke meja, dan
membaca judul di lembaran kertasnya.
"MISTERI MENTIMUN KEDUA," bacanya dengan
suara muram.
"Cerita yang sedang saya tulis," jelas Anthony
santai.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Satu poin bagus lagi, Sir," ujar Verrall sambil
mengangguk dengan mata berbinar. "Omong-
omong, kisahnya mengenai apa, Sir? Apa
sebenarnya misteri dari mentimun kedua itu?"
"Ah, tepat sekali," ujar Anthony. "Mentimun
kedua itulah yang menjadi sumber semua
masalah ini." Carter menatapnya tajam. Tiba-
tiba ia menggeleng dan menepuk dahi. "Gila,
pemuda yang malang," gumamnya berbisik.
"Nah, Tuan-Tuan," ujar Mr. Eastwood tegas.
"Mari kita mulai. Ini surat-surat yang ditujukan
pada saya, buku tabungan saya, dan surat-surat
pemberitahuan dari para editor. Apa lagi yang
Anda inginkan?" Verrall memeriksa kertas-
kertas yang disodorkan Anthony padanya.
"Secara pribadi, Sir," ujarnya penuh hormat,
"saya tidak menginginkan apa-apa lagi. Saya
cukup yakin. Tapi saya tidak bisa memikul
tanggung jawab dengan melepaskan Anda
sendiri. Begini, meskipun tampaknya Anda
benar-benar sudah tinggal di sini selama

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


beberapa tahun sebagai Mr. Eastwood, tidak
tertutup kemungkinan Conrad Fleckman dan
Anthony Eastwood adalah orang yang sama.
Saya terpaksa memeriksa apartemen ini dengan
teliti, mengambil sidik jari Anda, dan menelepon
ke kantor pusat."
"Kelihatannya cukup mendetail," komentar
Anthony. "Saya bisa memastikan Anda bebas
memeriksa setiap rahasia saya."
Inspektur itu tersenyum lebar. Bagi seorang
detektif, ia termasuk pribadi yang sangat
manusiawi. "Sementara saya sibuk, bisakah
Anda pergi ke ruangan kecil di ujung itu
bersama Carter, Sir?" "Baiklah," sahut Anthony
segan. "Saya rasa tidak ada cara lain, bukan?"
"Maksud Anda?"
"Bagaimana kalau Anda dan saya yang
menempati ruangan itu sambil minum wiski dan
soda sementara Sersan, teman kita,
melaksanakan pemeriksaan berat ini?" "Kalau

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Anda lebih menyukainya, Sir." "Saya benar-
benar lebih menyukainya."
Mereka berdua meninggalkan Carter yang
memeriksa isi meja tulisnya dengan sangat
teliti. Saat meninggalkan ruangan, mereka
mendengarnya mengangkat gagang telepon
untuk menghubungi Scotland Yard.
"Ternyata tidak begitu buruk," ujar Anthony,
sambil duduk nyaman di samping botol-botol
wiski dan soda, setelah memenuhi beberapa
permintaan Inspektur Verrall. "Apakah
sebaiknya saya minum lebih dulu, untuk
menunjukkan pada Anda bahwa wiski ini tidak
mengandung racun?"
Inspektur itu tersenyum.
"Semua ini memang sangat tidak umum,"
komentarnya. "Tapi kami cukup mengenal
profesi kami. Sejak awal saya sudah menyadari
bahwa kami berbuat kekeliruan. Tapi sudah
tentu orang harus mengamati semua hal yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


umum. Anda tidak bisa menghindari birokrasi,
bukan?"
"Saya rasa tidak," sahut Anthony menyesal.
"Tapi Sersan sepertinya tidak begitu ramah,
betul?"
"Ah, Detektif Sersan Carter sebenarnya orang
baik. Dia memang tidak mudah dipengaruhi."
"Saya sudah melihat itu," kata Anthony.
"Omong-omong, Inspektur," tambahnya,
"apakah Anda keberatan bila saya mendengar
sedikit tentang diri saya?" "Dengan cara apa,
Sir?"
"Ayolah, tidakkah Anda menyadari bahwa saya
sangat ingin tahu? Siapa Anna Rosenburg, dan
mengapa saya membunuhnya?"
"Besok Anda akan membaca beritanya di koran,
Sir."
"Besok saya mungkin kembali jadi Diri Saya
Sendiri, sama seperti Kemarin," ujar Anthony.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya yakin Anda bisa memuaskan rasa ingin
tahu saya yang sangat sah-sah saja, Inspektur.
Singkirkan sikap tutup mulut Anda yang resmi
itu, dan ceritakan semuanya pada saya."
"Ini agak tidak biasa, Sir."
"Inspektur yang baik, bahkan saat kita sudah
berteman seperti ini?"
"Begini, Sir, Anna Rosenburg adalah wanita
Jerman keturunan Yahudi yang tinggal di
Hampstead. Tanpa mata pencaharian jelas,
setiap tahun dia semakin kaya saja."
"Kebalikan dengan diri saya," komentar
Anthony. "Saya punya mata pencaharian jelas,
dan setiap tahun saya semakin miskin saja.
Mungkin lebih baik saya tinggal di Hampstead.
Sejak dulu saya dengar Hampstead sangat
menyegarkan."
"Selama beberapa waktu," Verrall melanjutkan,
"dia berdagang pakaian bekas..."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sekarang jelas bagi saya," sela Anthony. "Saya
ingat pernah menjual seragam saya setelah
perang usai-bukan yang terbuat dari kain khaki,
tapi bahan satunya. Seluruh apartemen sarat
dengan celana-celana panjang merah dan renda
keemasan, terbentang di mana-mana.
Kemudian datang pria gemuk bersetelan kotak-
kotak naik mobil Rolls-Royce, bersama pekerja
serabutan lengkap dengan tasnya. Dia menawar
seluruhnya seharga satu pound sepuluh shilling.
Akhirnya saya menambahkan sehelai jaket
berburu dan beberapa pasang kacamata Zeiss
agar jumlah harganya genap dua pound. Setelah
mendapat isyarat, pekerja serabutan itu
membuka tasnya dan memasukkan barang-
barang itu ke dalamnya, dan pria gemuk itu
menyerahkan lembaran sepuluh pound pada
saya dan meminta kembaliannya."
"Sekitar sepuluh tahun yang lalu," lanjut sang
inspektur, "datang beberapa pengungsi politik
Spanyol ke London- di antara mereka adalah
Don Fernando Ferrarez bersama istrinya yang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


masih muda, dan seorang anak. Mereka sangat
miskin, dan sang istri sedang sakit. Anna
Rosenburg mengunjungi tempat mereka
menginap, dan menanyakan apakah ada
sesuatu yang ingin mereka jual. Don Fernando
sedang keluar, dan istrinya memutuskan
berpisah dengan sehelai selendang Spanyol
yang sangat indah, penuh bordiran, salah satu
hadiah terakhir dari suaminya sebelum mereka
meninggalkan Spanyol. Ketika Don Fernando
pulang, dia marah besar mendengar selendang
itu sudah dijual, dan dengan sia-sia berusaha
mendapatkannya kembali. Ketika dia akhirnya
berhasil menemukan wanita pedagang pakaian
bekas itu, wanita tadi menyampaikan dia telah
menjual selendang itu pada seorang wanita tak
dikenal. Don Fernando putus asa. Dua bulan
kemudian, dia ditikam di jalanan dan tewas
karena luka-lukanya. Sejak itu Anna Rosenburg
menimbulkan kecurigaan karena berlimpah
uang. Dalam kurun waktu sepuluh tahun
berikutnya, rumahnya sudah dimasuki pencuri

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tak kurang dari delapan kali. Empat kali di
antaranya tidak berhasil dan tak ada barang
yang diambil, tapi dalam pencurian keempat,
sehelai selendang bordir termasuk yang berhasil
dibawa kabur."
Inspektur itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan
atas desakan Anthony.
"Seminggu yang lalu, Carmen Ferrarez, putri
belia Don Fernando, tiba di negeri ini dari
sebuah biara di Prancis. Yang pertama
dilakukannya adalah mencari Anna Rosenburg
di Hampstead. Di sana dilaporkan dia
bertengkar hebat dengan perempuan tua itu,
dan kata-katanya saat meninggalkan tempat itu
terdengar oleh salah seorang pelayan.
"Tunggu saja,' teriaknya. 'Selama bertahun-
tahun ini Anda kaya-raya karena selendang itu-
tapi benda itu akan membawa nasib sial bagi
Anda. Anda tidak punya hak atasnya, dan suatu
saat nanti Anda akan menyesal pernah melihat
Selendang Seribu Bunga itu.'

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tiga hari kemudian, Carmen Ferrarez
menghilang dengan misterius dari hotel
tempatnya menginap. Di kamarnya ditemukan
nama dan alamat-nama Conrad Fleckman,
berikut catatan dari seorang laki-laki yang
mengaku pedagang barang antik, yang
menanyakan apakah gadis itu ingin melepaskan
sehelai selendang bordir yang dipercayai
pedagang itu ada padanya. Alamat dalam
catatan itu palsu.
"Sudah jelas selendang ini merupakan inti dari
seluruh misteri. Kemarin pagi Conrad Fleckman
mengunjungi Anna Rosenburg. Mereka
berbicara di ruangan tertutup selama satu jam
atau lebih, dan saat pria itu pergi, wanita itu
terpaksa berbaring di tempat tidur, pucat pasi
dan terguncang oleh pembicaraan mereka.
Namun dia memberikan perintah agar Fleckman
dibiarkan masuk setiap kali dia datang
berkunjung. Semalam dia bangun dan pergi
keluar pada

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pukul sembilan, dan tidak kembali. Pagi ini dia
ditemukan di rumah yang pernah ditempati
Conrad Fleckman, dengan tusukan tepat di
jantungnya. Di lantai di sampingnya ada... apa
menurut Anda?" "Selendang itu?" desah
Anthony. "Selendang Seribu Bunga."
"Sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada
itu. Sesuatu yang mengungkap seluruh misteri
selendang yang membuat jelas nilainya yang
tersembunyi itu... Permisi, saya rasa itu
kepala..."
Memang terdengar dering lonceng. Anthony
menahan rasa tak sabarnya sedapat mungkin
dan menanti inspektur itu kembali. Sekarang ia
sudah merasa cukup tenang soal posisinya
sendiri. Setelah mengambil sidik jarinya, mereka
akan menyadari kekeliruan mereka.
Dan setelah itu, barangkali Carmen akan
meneleponnya...

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Selendang Seribu Bunga! Kisah yang sangat
aneh-cocok sekali menjadi latar belakang
kecantikan gadis yang elok
itu.
Carmen Ferrarez...
Anthony terlonjak dari lamunannya. Alangkah
lamanya si inspektur. Ia bangkit dan membuka
pintu. Apartemen itu sunyi. Mungkinkah
mereka telah pergi? Tak mungkin tanpa
berpamitan terlebih dulu.
Anthony melangkah ke ruangan berikutnya.
Ruangan ini kosong-begitu juga ruang
duduknya. Kosong dan janggal! Begitu kosong-
melompong. Ya ampun! Koleksi porselennya-
barang-barang peraknya!
Dengan kalut ia berlarian memeriksa
apartemennya. Ternyata setiap ruangan sama
saja. Tempat itu telah dijarah habis-habisan.
Setiap barang berharga telah dijarah, padahal

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Anthony memiliki selera tinggi seorang kolektor
dalam mengumpulkan benda-benda mungil.
Sambil mengerang Anthony terhuyung-huyung
dan duduk di kursi, dengan tangan menopang
kepala. Ia tersentak mendengar dering bel pintu
depan. Saat membukanya, ia bertatap muka
dengan Rogers.
"Maaf, Sir," ujar Rogers. "Tapi tuan-tuan itu
berpendapat Anda mungkin membutuhkan
sesuatu."
"Tuan-tuan itu?"
"Kedua teman Anda itu, Sir. Saya membantu
mereka mengepak barang sebisa-bisanya.
Untung sekali saya menyimpan dua peti bagus
di ruang bawah tanah." Ia lalu menatap lantai.
"Saya juga sudah menyapu jeraminya sebersih
mungkin, Sir."
"Kau mengepak barang-barang di dalam sini?"
Anthony mengerang.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ya, Sir. Bukankah itu permintaan Anda sendiri?
Tuan yang lebih jangkung itu yang menyuruh
saya melakukannya, Sir. Dan melihat Anda
masih sibuk berbicara dengan tuan satunya di
ruangan kecil di ujung itu, saya putuskan untuk
tidak mengganggu Anda."
"Aku tidak bicara padanya," ujar Anthony.
"Dialah yang bicara padaku-terkutuklah dia."
Rogers terbatuk.
"Saya sangat menyesal atas keperluan itu, Sir,"
gumamnya. "Keperluan?"
"Hingga terpaksa berpisah dengan harta milik
Anda yang kecil-kecil itu, Sir."
"Eh? Oh, ya. Ha, ha!" Ia tertawa getir. "Kurasa
mereka sekarang sudah pergi. Mereka-
maksudku teman-temanku itu?"
"Oh, ya, Sir, beberapa saat yang lalu. Saya
memasukkan kedua peti itu ke taksi, dan tuan
yang jangkung itu kembali ke atas lagi, setelah

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


itu mereka berdua berlarian turun dan langsung
pergi... Maaf, Sir, apa ada yang salah?"
Sudah sepantasnya Rogers bertanya. Erangan
yang diperdengarkan Anthony bisa saja
menimbulkan dugaan macam-macam.
"Semuanya salah, terima kasih, Rogers. Tapi
kulihat kau tidak bisa disalahkan. Tinggalkan
aku, aku mau menelepon."
Lima menit kemudian Anthony sudah
mencurahkan kisahnya pada Inspektur Driver
yang duduk di hadapannya sambil memegang
notes. Inspektur Driver bukan pria simpatik, dan
tidak mirip inspektur betulan, menurut
Anthony. Penampilannya seperti dibuat-buat
malah. Lagi-lagi sebuah contoh jitu tentang
superioritas Seni melawan Alam.
Anthony sampai di akhir kisahnya. Sang
inspektur menutup notesnya.
"Bagaimana?" ujar Anthony harap-harap cemas.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Jelas sekali," jawab sang inspektur. "Ini pasti
geng Patterson. Belakangan ini mereka banyak
beraksi dan sangat cerdik. Laki-laki pirang
jangkung, laki-laki kecil berambut hitam, dan
gadis itu." "Gadis itu?"
"Ya, berkulit gelap dan sangat cantik. Biasanya
dijadikan umpan."
"Seorang... seorang gadis Spanyol?"
"Dia bisa saja mengaku begitu. Dia lahir di
Hampstead."
"Sudah kukatakan itu tempat yang
menyegarkan," gumam Anthony.
"Ya, sudah cukup jelas," ujar sang inspektur
sambil bangkit berdiri. "Dia menelepon Anda
dan mengarang cerita- dia menebak Anda pasti
datang. Kemudian dia mendatangi Ibu Gibson
tua yang mau saja dibayar untuk menyewakan
kamarnya sebagai tempat bertemu-untuk para
kekasih. Itu bukan tindakan kriminal. Anda
sudah masuk perangkap, mereka berhasil

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


membawa Anda kemari, dan sementara salah
seorang dari mereka menyuguhkan cerita pada
Anda, yang seorang lagi membereskan barang
curian. Mereka pasti geng Patterson-ini ciri khas
mereka."
"Dan bagaimana dengan barang-barang saya?"
sahut Anthony cemas.
"Kami akan berusaha sedapat mungkin, Sir. Tapi
kelompok Patterson ini luar biasa licin."
"Sepertinya begitu," kata Anthony getir.
Inspektur itu beranjak, dan ia baru saja pergi
saat bel pintu berdering. Anthony membuka
pintu. Seorang bocah laki-laki berdiri sambil
memegang bingkisan. "Paket untuk Anda, Sir."
Anthony menerimanya dengan heran. Ia tidak
sedang menantikan paket apa pun. Setelah
kembali ke ruang duduknya, ia memotong tali
pengikatnya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Isinya ternyata perangkat liqueur yang dibelinya
itu! "Sialan!" umpat Anthony.
Kemudian ia melihat di dasar salah satu gelas
ada setangkai mawar artifisial mungil.
Ingatannya kembali ke ruang atas di Kirk Street
itu.
"Aku benar-benar menyukai Anda-ya, aku
benar-benar menyukai Anda. Apa pun yang
terjadi, Anda akan mengingatnya, bukan?"
Itulah yang dikatakan gadis itu. Apa pun yang
terjadi... Apakah maksudnya... Anthony
mengendalikan diri dengan keras. "Tidak bisa
begini," ia menegur diri.
Pandangannya jatuh ke mesin tik, dan ia pun
duduk dengan wajah tegas.
MISTERI MENTIMUN KEDUA
Wajahnya menerawang kembali. Selendang
Seribu Bunga. Apa gerangan yang ditemukan di

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


lantai di samping mayat itu? Benda mengerikan
yang bisa mengungkap seluruh misteri?
Tidak ada, tentu saja, mengingat itu sekadar
kisah isapan jempol untuk menyita
perhatiannya, dan pembawa ceritanya telah
menggunakan siasat lama dari kisah Seribu Satu
Malam dengan memutus kisah di bagian yang
paling memikat. Tapi apa benar tidak ada benda
mengerikan yang bisa mengungkap seluruh
misteri? Bagaimana? Kalau ia mau berpikir
keras...
Anthony mencabut lembaran kertas dari mesin
tiknya, lalu menukarnya dengan lembaran lain.
Ia mengetik sebuah judul:

MISTERI SELENDANG SPANYOL

Ia mengamatinya beberapa saat dengan diam.


Kemudian ia mulai mengetik dengan cepat....

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


BOLA EMAS

GEORGE DUNDAS berdiri di City of London


sambil merenung.
Di sekelilingnya para pekerja dan pencari uang
datang dan pergi, mengalir bagaikan air pasang.
Namun George yang berpakaian rapi, dengan
celana panjang tersetrika lurus, tidak
memedulikan mereka. Ia sibuk memikirkan apa
yang harus ia lakukan selanjutnya.
Ada masalah! Di antara George dan pamannya
yang kaya (Ephraim Leadbetter dari perusahaan
Leadbetter and Gilling) telah terjadi

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pertengkaran. Yang lebih banyak bicara adalah
Mr. Leadbetter. Dari bibirnya tak henti-henti
mengalir kejengkelan, semuanya kebanyakan
berupa pengulangan, tapi tampaknya itu tidak
jadi masalah baginya. Menyampaikan sesuatu
satu kali saja bukanlah motto Mr. Leadbetter.
Temanya sederhana saja-kebodohan orang
muda yang suka bertindak seenaknya,
membolos sehari penuh di pertengahan minggu
tanpa meminta izin. Setelah selesai
menyampaikan segala uneg-unegnya dan
mengulang berbagai hal sampai dua kali, Mr.
Leadbetter berhenti sesaat untuk menarik
napas, lalu bertanya apa maksud George
berbuat demikian.
George cuma menjawab bahwa ia ingin tidak
masuk sehari. Jelasnya, berlibur.
Mr. Leadbetter bertanya, bagaimana dengan
hari Sabtu sore dan Minggu? Belum lagi hari
Pentakosta yang baru lalu, dan August Bank
Holiday mendatang?

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


George menjawab bahwa ia tidak peduli pada
hari-hari Sabtu sore, Minggu, atau Bank Holiday.
Ia ingin berlibur pada hari kerja, saat orang bisa
mencari tempat yang tidak ramai dipenuhi
separo penduduk London.
Mr. Leadbetter lalu berkata bahwa ia telah
berusaha semaksimal mungkin membimbing
putra mendiang kakak perempuannya ini-tak
ada yang bisa berkata bahwa ia belum
memberikan kesempatan pada George. Tapi
sudah jelas usahanya sia-sia saja. Untuk
selanjutnya, George boleh berlibur pada lima
hari kerja ditambah hari Sabtu dan Minggu, dan
berbuat sesukanya dengan hari-hari itu.
"Bola emas kesempatan telah dilemparkan
padamu, Nak," ujar Mr. Leadbetter dengan gaya
penyair. "Dan kau telah gagal menangkapnya."
George berkata bahwa menurutnya, justru
itulah yang telah dilakukannya. Mr. Leadbetter
menjadi sangat murka, lalu mengusirnya keluar.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Demikianlah kisahnya mengapa George...
merenung. Apakah pamannya akan mengalah
atau tidak? Apakah ia diam-diam memendam
rasa sayang terhadap George, atau sekadar rasa
tidak suka?
Tepat pada saat itulah terdengar suara-yang
sama sekali tak terduga-menyapa, "Halo!"
Sebuah mobil tamasya merah manyala dengan
kap superpanjang menepi di sampingnya. Di
belakang kemudi duduklah Mary Montresor,
gadis cantik tokoh masyarakat terkenal.
(Deskripsi ini diberikan oleh koran-koran yang
memuat fotonya paling sedikit empat kali
sebulan.) Ia tersenyum pada George dengan
gaya penuh pengalaman.
"Belum pernah aku melihat orang yang
kelihatan begitu kesepian," ujar Mary
Montresor. "Mau menumpang?"
"Mau sekali," ujar George tanpa ragu, lalu
masuk dan duduk di samping gadis itu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Mereka maju perlahan-lahan karena lalu lintas
yang padat.
"Aku sudah bosan dengan kota ini," kata Mary
Montresor. "Aku kemari untuk melihat seperti
apa tempat ini. Aku akan kembali ke London."
Tanpa maksud memperbaiki pengetahuan
geografis gadis itu, George berkata itu ide yang
bagus. Adakalanya mereka maju perlahan-
lahan, adakalanya dengan kecepatan meledak-
ledak saat Mary Montresor melihat kesempatan
untuk memotong jalan. Menurut George, gadis
itu agak terlalu nekat dalam hal satu ini, tapi
orang toh cuma mati satu kali, pikir George.
Bagaimanapun, ia menganggap lebih baik tidak
menggalang percakapan. Ia lebih suka
pengemudi cantik ini hanya memerhatikan
tugas mengemudinya.
Ternyata gadis itulah yang membuka
percakapan kembali, saat mereka menikung
tajam di Hyde Park Corner.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Bagaimana kalau kau menikah denganku?" ia
bertanya santai.
George tersentak, tapi ini bisa saja gara-gara
bus besar yang sepertinya membawa
malapetaka. Ia bangga dengan kelincahannya
memberikan tanggapan.
"Aku akan senang sekali," sahutnya ringan.
"Nah," kata Mary Montresor, samar-samar.
"Mungkin suatu hari nanti."
Mobil mereka kembali berjalan lurus tanpa
celaka, dan saat itulah George melihat poster-
poster besar yang baru di stasiun kereta api
Hyde Park Corner. Diapit poster berbunyi
SITUASI POLITIK YANG SURAM dan KOLONEL
MASUK DOK, terlihat poster berbunyi GADIS
TOKOH MASYARAKAT AKAN MENIKAH DENGAN
DUKE, dan satu lagi berbunyi DUKE DARI
EDGEHILL DENGAN MISS MONTRESOR.
"Lalu bagaimana dengan Duke dari Edgehill
itu?" tanya George tajam.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku dan Bingo? Kami bertunangan."
"Tapi kalau begitu... ucapanmu tadi..."
"Oh, itu, " sahut Mary Montresor. "Begini, aku
belum memutuskan dengan siapa aku akan
benar-benar menikah. " "Lalu untuk apa kau
bertunangan dengannya?"
"Cuma untuk melihat apa aku bisa. Sepertinya
semua orang beranggapan itu akan sangat sulit
terjadi, ternyata sama sekali tidak!"
"Benar-benar nasib sial bagi... mm... Bingo,"
kata George, mengatasi rasa jengahnya karena
menyebut seorang duke betulan dengan nama
julukan.
"Sama sekali tidak," ujar Mary Montresor. "Itu
pelajaran bagus bagi Bingo-tapi aku
meragukannya." George menemukan hal lain-
lagi-lagi berkat sebuah poster.
"Wah, tentu saja, hari ini di Ascot sedang
diselenggarakan acara minum teh. Seharusnya

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


aku tahu itulah tempat yang akan kautuju hari
ini."
Mary Montresor menghela napas. "Aku ingin
berlibur," katanya sayu.
"Wah, sama denganku," sahut George senang.
"Dan akibatnya, aku diusir pamanku supaya
mati kelaparan." "Kalau begitu, seandainya kita
jadi menikah," kata Mary, "pendapatanku
sebesar dua puluh ribu setahun akan
bermanfaat?"
"Uang itu pasti bisa dibelikan beberapa
perangkat rumah tangga," jawab George.
"Omong-omong tentang rumah tangga," ujar
Mary, "mari kita tinggal di pedesaan dan
mencari rumah yang kita sukai."
Rencana ini tampak sederhana dan sangat
menarik. Mereka melintasi Putney Bridge,
mencapai jalan raya Kingston, dan Mary
menginjak pedal gasnya dalam-dalam sambil
mendesah puas. Mereka tiba di daerah

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


pedesaan dalam waktu singkat. Setengah jam
kemudian, Mary menunjuk penuh semangat.
Di lereng bukit di depan mereka tampak rumah
yang oleh para agen perumahan sering
digambarkan (namun jarang sesuai kenyataan)
sebagai daya tarik "antik". Cobalah
membayangkan keadaan kebanyakan rumah
pedesaan, dan Anda akan mendapat gambaran
tentang rumah ini.
Mary menghentikan mobilnya di depan pintu
pagar berwarna putih.
"Kita tinggalkan mobil di sini, lalu berjalan ke
atas dan melihat rumah itu. Itu rumah kita!"
"Pasti, itu rumah kita," George mengiyakan.
"Tapi saat ini kelihatannya sudah ada
penghuninya." Mary mengabaikan para
penghuninya dengan kibasan tangan. Berdua
mereka melangkah menyusuri jalan masuk. Dari
dekat, rumah itu tampak semakin menarik.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Kita akan mengintip ke dalam dari semua
jendela," ujar Mary. George keberatan.
"Apa menurutmu para penghuninya..."
"Aku tidak akan memedulikan mereka. Itu
rumah kita-mereka cuma kebetulan saja
menempatinya. Lagi pula, ini hari yang cerah,
dan mereka pasti sedang keluar menikmatinya.
Seandainya ada yang memergoki kita, aku akan
berkata... aku akan berkata... kusangka ini
rumah... rumah Mrs. Pardonstenger, dan aku
benar-benar menyesal telah salah sangka."
"Hm, sepertinya alasan yang cukup aman," ujar
George.
Mereka melihat ke dalam melalui beberapa
jendela. Rumah itu berisi perabotan indah.
Mereka baru saja mengintip ke dalam ruang
kerja ketika dari arah belakang terdengar
langkah-langkah kaki di kerikil. Mereka menoleh
dan berhadapan dengan seorang kepala
pelayan tulen tanpa cela.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Oh!" ujar Mary. Ia lalu tersenyum sangat
memukau dan berkata, "apakah Mrs.
Pardonstenger ada? Saya tadi melongok ke
ruang kerja untuk melihat kalau-kalau dia ada di
situ."
"Mrs. Pardonstenger ada di rumah, Madam,"
sahut sang kepala pelayan. "Silakan lewat sini."
Mereka terpaksa mengikutinya. George sedang
menerka-nerka kemungkinan apa yang ada di
balik kejadian ini. Ia menarik kesimpulan bahwa
dengan nama Pardonstenger, kemungkinannya
satu di antara dua puluh ribu. Mary berbisik,
"Serahkan padaku. Semuanya pasti beres."
Dengan senang hati George menyerahkan
urusan itu padanya. Menurut pendapatnya,
situasi ini membutuhkan siasat perempuan.
Mereka dipersilakan masuk ke ruang tamu.
Setelah kepala pelayan itu meninggalkan
ruangan, pintu terbuka kembali dan seorang
wanita tinggi besar dengan wajah kemerah-

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


merahan dan rambut putih bersih masuk
dengan penuh harapan.
Mary Montresor beranjak ke arahnya, dan
berhenti mendadak seakan tertegun. "Wah!"
serunya. "Ternyata bukan Amy! Luar biasa
sekali!" "Ini memangXxnax biasa," sahut
seseorang dengan bengis.
Seorang laki-laki masuk mengikuti Mrs.
Pardonstenger. Pria tambun dengan wajah
mirip anjing buldog dan seringai menakutkan.
George belum pernah melihat makhluk sekasar
dan seseram ini. Laki-laki itu menutup pintu dan
berdiri di depannya.
"Luar biasa sekali," ulangnya mengejek. "Tapi
kurasa kami mengerti permainan kalian!" Tiba-
tiba ia mengeluarkan sepucuk pistol besar.
"Angkat tangan! Angkat tangan, kataku.
Geledah mereka, Belia."
Kalau sedang membaca kisah-kisah detektif,
George sering bertanya-tanya seperti apa

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


rasanya digeledah. Sekarang ia tahu. Belia (alias
Mrs. P.) merasa puas karena George maupun
Mary tidak menyembunyikan senjata
berbahaya.
"Kalian pikir kalian sangat pintar, ya?" ejek pria
itu. "Datang kemari begitu saja dan berpura-
pura tidak bersalah. Kali ini kalian keliru-sangat
keliru. Aku bahkan sangat ragu apakah teman-
teman dan sanak keluarga kalian akan bisa
berjumpa kalian lagi. Ah! Kau mau coba-coba,
ya?" bentaknya saat George bergerak. "Jangan
berani main-main. Aku akan langsung
menembakmu."
"Hati-hati, George," bisik Mary gemetar.
"Akan kulakukan," kata George penuh perasaan.
"Dengan sangat hati-hati."
"Sekarang, jalan," perintah laki-laki itu. "Buka
pintunya, Belia. Dan kalian berdua, letakkan
tangan di atas kepala. Madam dulu-betul

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


begitu. Aku akan menyusul tepat di belakang
kalian. Lewat ruang depan. Naik..."
Mereka menurut. Apa lagi yang bisa mereka
lakukan? Mary menaiki tangga dengan tangan
terangkat tinggi-tinggi. George mengikuti. Di
belakang mereka menyusul bajingan tambun itu
dengan menodongkan pistolnya.
Mary sampai di ujung anak tangga dan
berbelok. Tepat pada saat itulah tanpa diduga-
duga George menyerang dengan tendangan ke
belakang. Pria itu terkena tepat di pinggangnya,
dan terjengkang berguling-guling ke bawah
tangga. Saat berikutnya George berbalik dan
melompat menuruni tangga, lalu berlutut di
atas dada pria itu. Dengan tangan kanannya ia
memungut pistol yang terjatuh saat pria tadi
berguling-guling.
Belia menjerit dan mundur teratur melalui
pintu. Mary berlarian menuruni tangga dengan
wajah pucat pasi.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"George, apa kau membunuhnya?"
Laki-laki itu tergeletak tak bergerak. George
membungkuk di atasnya.
"Kurasa tidak," ujarnya menyesal. "Tapi yang
jelas, dia pingsan." "Puji Tuhan." Napas Mary
terengah-engah.
"Lumayan juga," ujar George mengagumi diri.
"Banyak pelajaran bisa ditarik dari keledai tua
ini. Eh, apa?" Mary menarik tangannya.
"Ayo kita pergi," serunya tegang. "Ayo kita
cepat pergi."
"Kalau saja kita punya sesuatu untuk mengikat
orang ini," ujar George, sibuk dengan
rencananya sendiri. "Apa kau tidak bisa mencari
sepotong tali atau sejenisnya?"
"Tidak, aku tidak bisa," jawab Mary. "Ayolah,
kita pergi saja-ayolah-aku takut sekali." "Kau
tidak perlu takut," ujar George, berlagak jantan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Aku ada di sini." "George, Darling, ayolah-demi
aku. Aku tidak mau terlibat. Ayolah kita pergi."
Caranya membisikkan kata-kata "demi aku"
menggoyahkan tekad George. Ia membiarkan
dirinya ditarik meninggalkan rumah itu, lalu
bergegas melintasi jalan masuk, menuju mobil
yang sudah menunggu. Mary berkata lemah,
"Kau saja yang mengemudi. Rasanya aku tidak
mampu." George pun duduk di belakang
kemudi.
"Tapi kita harus menyelesaikan persoalan ini,"
ujar George. "Mana kita tahu, kejahatan apa
yang direncanakan laki-laki seram itu. Kalau kau
keberatan, aku tidak akan menghubungi polisi-
tapi aku akan berusaha mengatasinya sendiri.
Aku pasti mampu menyelidiki mereka."
"Jangan, George, aku tidak mau kau
melakukannya."
"Kita mendapatkan petualangan kelas satu
seperti ini, dan kau ingin aku mundur teratur?

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Jangan harap." "Tak kuduga kau ternyata haus
darah seperti ini," ujar Mary berlinang air mata.
"Aku tidak haus darah. Bukan aku yang
memulainya. Bedebah terkutuk itu mengancam
kita seenaknya dengan pistol besar. Omong-
omong, mengapa pistol itu tidak meletus saat
aku menendangnya ke bawah?"
George menghentikan mobil dan mengeluarkan
senjata itu dari kantong samping mobil. Setelah
memeriksanya, ia bersiul.
"Wah, sialan! Pistol ini tak ada pelurunya.
Seandainya aku tahu sejak awal..." Ia terdiam,
sibuk berpikir. "Mary, masalah ini sangat aneh."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku memohonmu
untuk membiarkannya." "Takkan pernah," ujar
George tegas. Mary menghela napas dengan
pilu.
"Kurasa aku harus mengatakannya padamu,"
ujar Mary. "Masalahnya, aku sama sekali tidak

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tahu bagaimana tanggapanmu nanti." "Apa
maksudmu...?"
"Begini, awalnya seperti ini." Mary diam
sejenak. "Kurasa, dewasa ini kaum wanita harus
bersatu-mereka harus bertekad lebih mengenal
para pria yang mereka temui." "Lalu?" ujar
George tidak mengerti.
"Penting sekali bagi seorang gadis untuk tahu
bagaimana seorang laki-laki akan bertindak
dalam keadaan darurat- apakah dia berkepala
dingin, punya keberanian, kecerdasan? Hal-hal
ini nyaris tidak bisa diketahui-sampai sudah
terlambat. Keadaan darurat mungkin saja
takkan muncul sampai bertahun-tahun setelah
menikah. Paling-paling yang bisa diketahui
tentang seorang pria adalah cara dia berdansa,
dan apakah dia cekatan mencari taksi di tengah
hujan."
"Dua-duanya prestasi yang sangat berguna,"
George menunjukkan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Betul, tapi orang ingin merasakan bahwa laki-
laki adalah laki-laki."
"Daerah luas membentang, tempat laki-laki
adalah laki-laki," George mengutip ungkapan,
setengah melamun. "Tepat sekali. Tapi di Inggris
tidak ada daerah luas membentang. Jadi, orang
harus menciptakan sendiri situasi tiruan. Itulah
yang telah kulakukan." "Apa maksudmu..."
"Itulah maksudku. Rumah tadi kebetulan
memang rumahku. Kita datang ke situ sesuai
rencana-bukan secara kebetulan. Dan laki-laki
itu-yang hampir terbunuh olehmu..."
"Ya?"
"Adalah Rube Wallace-aktor film. Dia petinju
bayaran. Laki-laki paling baik dan lembut. Aku
menyewanya. Belia adalah istrinya. Itu
sebabnya aku begitu cemas kalau-kalau kau
telah membunuhnya. Tentu saja pistol itu tidak
ada pelurunya. Itu pistol-pistolan properti
panggung. Oh, George, apa kau marah sekali?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Apakah aku pria pertama yang telah... kauuji?"
"Oh, tidak. Sudah ada-tunggu sebentar-
sembilan setengah orang!"
"Siapa laki-laki yang setengahnya?" tanya
George ingin tahu.
"Bingo," jawab Mary dingin.
"Adakah di antara mereka yang terpikir untuk
menendang seperti keledai?"
"Tidak-tidak ada. Ada beberapa yang mencoba
menggertak, dan ada yang langsung menyerah,
tapi mereka semua membiarkan diri digiring ke
atas, diikat, dan disumpal mulutnya. Setelah itu,
tentu saja aku berhasil melepaskan diri dari
ikatan-seperti dalam buku-melepaskan ikatan
mereka juga, dan kabur-dan menemukan rumah
sudah kosong."
"Dan tak seorang pun terpikir akan siasat
keledai atau semacamnya?" "Tidak."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Kalau begitu," sahut George sangat ramah,
"aku memaafkanmu." "Terima kasih, George,"
ujar Mary tanpa perlawanan.
"Sesungguhnya," George menambahkan, "satu-
satunya pertanyaan yang muncul adalah: ke
mana kita pergi sekarang? Aku tidak yakin
apakah tempatnya Lambeth Palace atau
Doctor's Commons, di mana pun itu." "Kau ini
bicara apa?"
"Tentang surat nikah. Kurasa kita perlu surat
nikah khusus. Kau terlalu gemar bertunangan
dengan seseorang, tapi meminta orang lain
menikah denganmu."
"Aku tidak memintamu menikah denganku!"
"Kau memintanya. Di Hyde Park Corner.
Memang bukan tempat yang akan kupilih untuk
melamar, tapi dalam hal ini setiap orang punya
ciri khas masing-masing."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sama sekali tidak. Aku cuma bertanya, dengan
bercanda, apakah kau berminat menikah
denganku? Aku tidak serius."
"Seandainya aku meminta pendapat pengacara,
aku yakin dia akan berkata ungkapan itu
merupakan pinangan murni. Lagi pula, kau tahu
kau ingin menikah denganku." "Tidak."
"Bahkan setelah gagal sembilan setengah kali?
Bayangkan betapa amannya perasaanmu bisa
menjalani hidup bersama pria yang mampu
mengeluarkanmu dari situasi berbahaya."
Mary tampak agak mengendur mendengar
argumentasi ini. Tapi dengan tegas ia berkata,
"Aku takkan mau menikah dengan seorang pria,
kecuali dia bersedia berlutut di hadapanku."
George menatapnya. Perempuan ini sangat
memesona. Tapi selain bisa menendang, George
masih memiliki perangai lain yang khas keledai.
Dengan sikap tidak kalah tegas ia berkata,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Berlutut di hadapan wanita sungguh
merendahkan martabat. Aku takkan
melakukannya."
Dengan wajah prihatin yang memikat, Mary
berkata, "Sayang sekali."
Mereka kembali ke London. George mengemudi
dengan diam dan pantang menyerah. Wajah
Mary terlindung di balik tepi topinya. Saat
melintasi Hyde Park Corner, ia bergumam
lembut, "Tidak bisakah kau berlutut di
hadapanku?" Dengan tegas George berkata,
"Tidak."
Ia merasa bagaikan Superman. Mary
mengagumi sikapnya ini. Tapi sayangnya,
George juga melihat kecenderungan keras
kepala dalam diri gadis itu. Mendadak ia
menepi. "Permisi sebentar," ujarnya.
Ia melompat keluar dari mobil, melangkah
menuju gerobak dorong berisi buah-buahan
yang baru saja mereka lewati, dan kembali

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


begitu cepat hingga polisi yang menghampiri
mereka untuk menanyakan maksud mereka
tidak sempat mencapai mobil.
George melanjutkan perjalanan, lalu
melemparkan sebutir apel ke pangkuan Mary.
"Makanlah lebih banyak buah," katanya. "Selain
itu, ini juga punya arti simbolis."
"Simbolis?"
"Ya. Mula-mula Hawa-lah yang memberikan
apel pada Adam. Zaman sekarang Adam-lah
yang memberikannya pada Hawa. Paham?"
"Ya," jawab Mary ragu.
"Ke mana aku harus mengantarmu?" tanya
George resmi. "Ke rumah saja."
George mengarahkan mobil menuju Grosvenor
Square. Wajahnya sama sekali tanpa ekspresi. Ia
melompat keluar dan mengitari mobil untuk
membantu Mary turun. Gadis itu meminta
sekali lagi. "George, Darling-tidak bisakah kau?

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sekadar menyenangkan hatiku?" "Takkan
pernah," jawab George.
Tiba-tiba terjadilah hal itu. George terpeleset,
berusaha mencari keseimbangan, tapi gagal. Ia
sudah berlutut di lumpur tepat di hadapan
Mary. Gadis itu memekik bahagia sambil
bertepuk tangan.
"George darling! Sekarang aku mau menikah
denganmu. Kau boleh langsung ke Lambeth
Palace dan mengaturnya dengan Uskup Besar
Canterbury."
"Aku tidak bermaksud melakukannya," sembur
George sengit. "Itu tadi cuma gara-gara kulit
pisang yang dib... saja." Dengan kesal ia
mengangkat benda yang telah menjadi gara-
gara tadi.
"Tidak mengapa," sahut Mary. "Pokoknya sudah
terjadi. Waktu kita bertengkar dan kau
bersikeras aku melamarmu, aku bisa menuntut
agar kau berlutut di hadapanku dulu sebelum

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


aku bersedia menikah denganmu. Dan semua
ini terjadi karena kulit pisang yang diberkati itu!
Kau tadi memang hendak berkata kulit pisang
yang diberkati, kan?"
"Semacam itulah," ujar George.

***

Pukul setengah enam sore, Mr. Leadbetter


diberitahu bahwa keponakannya datang untuk
menemuinya. "Datang untuk meminta maaf,"
kata Mr. Leadbetter dalam hati. "Aku memang
agak terlalu keras pada anak itu, tapi itu untuk
kebaikannya sendiri."
Dan ia memberi perintah agar George
dipersilakan masuk. George masuk dengan
langkah-langkah ringan.
"Aku ingin bicara sebentar, Paman," katanya.
"Pagi tadi Paman berlaku sangat tidak adil

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


padaku. Aku ingin tahu apakah ada orang
seusiaku yang diusir oleh sanak keluarganya,
tapi antara jam sebelas lewat seperempat dan
setengah enam sore bisa mendapatkan
penghasilan sebesar dua puluh ribu pound
setahun. Inilah yang baru kulakukan!"
"Kau pasti sudah gila, Nak."
"Bukan gila, tapi banyak akal! Aku akan
menikahi wanita muda tokoh masyarakat kaya
raya yang cantik jelita. Wanita yang rela
meninggalkan seorang duke demi diriku."
"Menikahi seorang gadis demi uangnya? Aku
tak menyangka kau bisa berbuat begitu."
"Paman memang benar. Aku sendiri takkan
pernah berani memintanya seandainya dia
tidak-untung saja- memintaku. Belakangan dia
menarik kembali kata-katanya, tapi aku
membuatnya berubah pikiran. Dan tahukah
Paman bagaimana semuanya ini terjadi?

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Melalui pengeluaran bijaksana sebesar dua
pence dan menangkap bola emas kesempatan."
"Mengapa dua pence?" tanya Mr. Leadbetter,
tertarik secara finansial.
"Untuk mengambil pisang-dari kereta dorong.
Tidak semua orang akan terpikir menggunakan
pisang itu. Di mana aku bisa mendapatkan surat
nikah? Di Doctor's Commons atau Lambeth
Palace?"

BATU ZAMRUD SANG RAJAH

DENGAN upaya keras James Bond kembali


memusatkan perhatian pada buku kuning kecil

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


di tangannya. Di sampul luarnya terbaca tulisan
sederhana namun menyenangkan, "Anda ingin
meningkatkan penghasilan Anda sampai £300
per tahun?" Harga buku itu cuma satu shilling.
James baru selesai membaca dua halaman yang
memuat alinea-alinea segar berisi tips agar ia
menatap atasannya lurus-lurus, menunjukkan
kepribadian dinamis, dan menebarkan kesan
efisien. Ia sudah sampai pada masalah yang
lebih pelik. "Ada waktu untuk jujur, ada waktu
untuk bijaksana," demikian menurut buku
kuning kecil itu. "Pria perkasa tidak selalu
memuntahkan semua hal yang diketahuinya."
James menutup bukunya, mendongak, lalu
menatap lautan biru yang terbentang di
depannya. Ia curiga jangan-jangan ia bukan pria
perkasa. Pria perkasa bisa menguasai keadaan,
bukan menjadi korban. Untuk keenam puluh
kalinya sepanjang pagi itu, James mengingat-
ingat semua kesalahannya.
Ini adalah liburannya. Liburannya? Ha ha! Ia
tertawa sinis. Siapa yang membujuknya datang

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


ke Kimpton-on-Sea, resor pantai terkemuka ini?
Grace. Siapa yang mendorongnya untuk
mengeluarkan biaya melebihi kemampuannya?
Grace. Ia bahkan telah menyambut rencana itu
dengan semangat. Gadis itu telah berhasil
mengajaknya kemari, dan apa akibatnya?
Sementara James tinggal di penginapan kumuh
sekitar dua setengah kilometer dari tepi pantai,
Grace yang seharusnya juga tinggal di tempat
serupa (bukan yang sama-tata krama
lingkungan James sangat ketat), telah
meninggalkannya dengan terang-terangan, dan
tinggal di tempat yang tidak tanggung-
tanggung, yaitu Esplanade Hotel di dekat pantai.
Sepertinya ia punya teman-teman di sana.
Teman-teman! Lagi-lagi James tertawa sinis.
Ingatannya melayang kembali merenungi masa
pacaran santai dengan Grace selama tiga tahun
terakhir ini. Ketika pertama kali mendapat
perhatian khusus dari James, Grace sangat
senang. Itu sebelum ia melambung di
lingkungan salon-salon topi wanita Messrs

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Bartles di High Street. Di awal masa pacaran
mereka, James-lah yang bersikap angkuh,
sekarang boro-boro! Posisi mereka sudah
berbalik. Secara teknis, Grace bisa dikatakan
"punya penghasilan bagus". Ini membuatnya
tinggi hati. Ya, tinggi hati luar-dalam. James
teringat kembali sepenggal sajak dari buku
kumpulan puisi, yang berbicara tentang
"bersyukur pada langit sambil berpuasa, atas
kasih sayang pria yang mulia". Tetapi pada diri
Grace tidak tampak sikap seperti ini. Dengan
perut kenyang oleh sarapan Esplanade Hotel, ia
mengabaikan sepenuhnya kasih sayang pria
yang mulia. Ia bahkan menyambut perhatian
yang dilimpahkan idiot licik bernama Claud
Sopworth, laki-laki yang diyakini James tak
berharga sama sekali.
James membenamkan tumit ke dalam pasir, dan
menatap kaki langit dengan geram. Kimpton-on-
Sea. Apa yang telah merasuki dirinya hingga
mau datang ke tempat seperti ini? Ini tempat
peristirahatan unggul orang kaya dan ternama,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dengan dua hotel dan beberapa mil pantai
dihiasi bungalo-bungalo cantik milik para aktris
terkenal, orang-orang Yahudi kaya, dan para
bangsawan Inggris yang menikahi istri-istri kaya-
raya. Ongkos menginap di bungalo terkecil dua
puluh lima guinea seminggu. Bisa dibayangkan
berapa uang sewa bungalo yang besar. Tepat di
belakang tempat duduk James berdiri salah satu
istana itu. Bangunan ini milik Lord Edward
Campion, olahragawan terkenal itu, dan saat ini
mereka yang sedang menginap di situ adalah
tamu-tamu terhormat, termasuk Rajah dari
Maraputna yang sangat kaya. Pagi itu James
membaca berita tentang dirinya di koran
mingguan lokal; tentang jumlah kekayaannya di
India, istana-istananya, koleksi perhiasannya
yang luar biasa, dengan pemberitaan khusus
perihal batu zamrud yang terkenal dan ramai
dibicarakan, berukuran sebesar telur burung
merpati. James yang dibesarkan di kota, tidak
begitu tahu soal ukuran telur merpati, tapi ia
sangat terkesan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Seandainya aku punya batu zamrud seperti
itu," ujar James sambil menatap kaki langit
kembali, "akan kutunjukkan pada Grace."
Perasaan itu cuma samar-samar, tapi ucapan
tadi membuat James merasa lebih nyaman. Dari
belakang terdengar gelak tawa ceria, dan ketika
menoleh ia langsung berhadapan dengan Grace.
Bersamanya terlihat Clara Sopworth, Alice
Sopworth, Dorothy Sopworth dan... aduh! Claud
Sopworth. Gadis-gadis itu bergandengan tangan
sambil mengikik.
"Wah, kau ini seperti orang asing saja," seru
Grace genit. "Ya," sahut James.
Sebenarnya ia bisa saja menemukan gertakan
yang lebih tajam. Orang tidak bisa
menyampaikan kesan kepribadian dinamis
hanya dengan menggunakan sepatah kata "ya".
Dengan hati mendidih ia menatap Claud
Sopworth. Pakaian pemuda ini nyaris sama
meriahnya dengan pemeran utama pertunjukan
musik komedi. Saat itu James berharap sepenuh

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


hati ada anjing pantai lincah yang menapakkan
kaki depannya yang basah dan penuh pasir ke
atas pipa celana flanel Claud yang putih bersih
itu. James sendiri mengenakan celana panjang
flanel kelabu tua yang sudah usang.
"Udaranya segaa...aar, bukan?" ujar Clara
sambil menarik napas dalam-dalam.
"Membuatmu bersemangat, betul?"
Ia mengikik.
"Itu namanya ozon," kata Alice Sopworth.
"Khasiatnya sebagus tonikum." Dan ia juga
mengikik. Pikir James, "Aku ingin sekali
membenturkan kepala dungu mereka. Apa
gunanya tertawa sepanjang waktu seperti itu?
Padahal tidak ada yang lucu."
Claude yang sangat rapi itu bergumam lesu,
"Bagaimana kalau kita mandi-mandi? Atau ini
terlalu meletihkan?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ide untuk mandi-mandi itu disambut meriah.
James ikut bergabung dengan mereka. Dengan
cerdik ia bahkan berhasil menarik Grace agak
terpisah dari yang lain.
"Dengar!" keluhnya. "Aku nyaris tidak pernah
melihatmu."
"Hm, kan kita sekarang sudah bersama-sama,"
sahut Grace, "dan kau bisa bergabung dan
makan siang bersama kami di hotel,
setidaknya..."
Ia menatap kedua kaki James dengan ragu.
"Ada apa?" bentak James sengit. "Penampilanku
kurang pantas bagimu?"
"Sayangku, kau perlu menjaga penampilanmu,"
kata Grace. "Semua orang di sini berpenampilan
begitu keren. Lihat saja Claud Sopworth!"
"Aku sudah melihatnya," ujar James muram.
"Aku belum pernah melihat pria sedungu dia."
Grace berdiri tegak dengan marah.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Tidak perlu mengkritik teman-temanku, James,
itu tidak sopan. Pakaiannya sama dengan semua
pria terhormat di hotel."
"Bah!" sembur James. "Tahukah kau apa yang
kubaca di Society Snippets waktu itu? Nah,
Duke dari... Duke dari, aku lupa, tapi ada
dukeyang dinobatkan sebagai pria
berpenampilan terburuk di Inggris!" "Huh,"
sahut Grace, "tapi setidaknya dia seorang duke,
tahu!"
"Jadi?" bentak James. "Siapa tahu suatu hari
nanti aku jadi seorang duke? Paling tidak, hm...
mungkin bukan duke, tapi yang sebanding."
James menepuk buku kuning di sakunya, dan
menyebutkan sederetan panjang nama orang
yang mengawali kehidupan dalam situasi lebih
parah daripada James Bond. Grace cuma
mengikik.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Jangan konyol, James," ujarnya. "Yang benar
saja, masa kau menjadi Earl dari Kimpton-on-
Sea!"
James menatapnya dengan rasa marah
bercampur putus asa. Udara Kimpton-on-Sea
pasti sudah merasuki kepala Grace.
Pantai pasir Kimpton-on-Sea terbentang
panjang. Sejauh dua setengah kilometer
berderet pondok-pondok dan bilik-bilik untuk
bertukar pakaian. Rombongan mereka baru saja
berhenti di depan sebaris kamar ganti yang
berjumlah enam buah, masing-masing diberi
tanda "Khusus untuk tamu Esplanade Hotel".
"Kita sudah sampai," ujar Grace ceria, "tapi kau
tidak bisa masuk bersama kami, James, kau
terpaksa ke tenda-tenda umum di sebelah sana
untuk bertukar pakaian. Kami akan menemuimu
di laut. Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!" kata James, dan ia melangkah
menuju arah yang ditunjuk tadi.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Dua belas tenda bobrok berdiri menghadap
laut. Seorang pelaut tua menjaga tenda-tenda
itu dengan segulung kertas biru di tangannya. Ia
menerima koin yang diberikan James,
menyobek sehelai karcis biru dari gulungan tadi,
melemparkan handuk ke arahnya, lalu
mengayunkan jempol ke belakang pundaknya.
"Silakan antre," ujarnya serak.
Saat itulah James tersadar adanya persaingan.
Selain dirinya, orang-orang lain juga berminat
masuk ke laut. Selain semua tenda sudah ada
orangnya, di luar setiap tenda sudah menunggu
sekelompok orang yang saling memelototi
dengan galak. James bergabung di kelompok
yang paling kecil, dan menunggu. Kelepak tenda
terbuka, dan dari dalamnya muncul wanita
muda cantik dengan pakaian mandi minim
sambil mengenakan topi mandinya dengan
sangat santai. Ia melangkah menuju bibir
pantai, lalu duduk di pasir sambil melamun.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Percuma saja," kata James dalam hati, lalu
bergabung dengan kelompok lain.
Setelah menunggu lima menit, terdengar
aktivitas dalam tenda kedua. Setelah terdorong
ke sana kemari, kelepak tenda terbuka lebar
dan muncullah empat anak bersama ayah-ibu
mereka. Mengingat ukuran tenda kecil itu,
pemandangan ini mirip permainan sulap. Pada
saat yang sama, dua wanita melompat maju dan
masing-masing menyambar kelepak tenda yang
sama.
"Saya duluan," ujar wanita muda pertama
sedikit terengah.
"Saya yang lebih dulu," balas wanita muda
kedua sambil mendelik.
"Anda harus tahu, saya sudah berada di sini
sepuluh menit sebelum Anda tiba," kata wanita
muda pertama dengan cepat.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya sudah berada di sini seperempat jam yang
lalu, dan semua orang juga tahu itu," balas
wanita kedua menantang.
"Sudah, sudah," ujar pelaut tua itu sambil
mendekat.
Kedua wanita muda itu bicara dengan suara
melengking padanya. Setelah mereka selesai
mengadu, pelaut itu mengayunkan jempolnya
ke arah wanita kedua, lalu berkata singkat,
"Silakan masuk."
Setelah itu ia beranjak pergi dengan tenang,
seakan tidak mendengar protes yang
dilontarkan padanya. Ia tidak tahu dan tidak
peduli siapa yang tiba lebih dulu, tapi
keputusannya, seperti tertulis di koran tentang
kompetisi, adalah final. James yang resah
menangkap lengan pelaut itu.
"Coba dengar kataku!"
"Ada apa, Mister?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Berapa lama lagi aku bisa masuk tenda?"
Dengan acuh tak acuh pelaut tua itu melihat
sekilas ke arah kerumunan orang yang
menunggu giliran. "Mungkin sejam, mungkin
satu setengah jam, entahlah."
Saat itulah James melihat Grace dan gadis-gadis
Sopworth itu berlarian di pasir, menuju laut.
"Sialan!" umpat James dalam hati. "Oh, sialan!"
Ia kembali menyambar lengan pelaut tua itu.
"Apa aku tidak bisa mendapat tenda di tempat
lain? Bagaimana dengan salah satu kamar ganti
di sana itu? Kelihatannya semua pondok
kosong."
"Pondok-pondok itu," ujar pelaut tua itu dengan
sombong, "adalah kamar ganti PRIBADI."
Selesai mengomel, ia melangkah pergi. Dengan
hati getir karena merasa tertipu, James
meninggalkan kerumunan orang yang
menunggu giliran itu, lalu melangkah geram
menuju pantai. Ini luar biasa! Ini benar-benar

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


luar biasa! Dengan geram ia memelototi
deretan rapi kamar ganti yang dilewatinya. Saat
itu juga ia berubah dari pengikut partai Liberal
Independen menjadi Sosialis tulen. Mengapa
orang kaya memiliki kamar-kamar ganti pribadi
dan bisa mandi kapan saja mereka mau tanpa
harus menunggu giliran di tengah kerumunan?
"Sistem kita," ujar James samar, "sama sekali
salah. "
Dari arah laut terdengar jeritan-jeritan genit
gadis yang terkena percikan air. Suara Grace!
Dan meningkahi pekikannya, terdengar gelak
tawa "Ha ha ha" si tolol Claud Sopworth.
"Sialan!" maki James sambil mengertakkan gigi,
hal yang belum pernah dicobanya dan hanya
dibacanya dalam kisah-kisah fiksi.
Ia menghentikan langkah, dan sambil memutar-
mutar ranting dengan geram, ia berdiri
membelakangi laut. Dengan kebencian meluap-
luap ia menatap Eagle's Nest, Buena Vista, dan
Mon Desir. Sudah menjadi kebiasaan penghuni

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kimpton-on-Sea untuk menandai kamar ganti
mereka dengan nama-nama keren. Bagi James,
Eagle's Nest terdengar konyol, dan Buena Vista
tidak ada dalam perbendaharaan kata-katanya.
Tapi pengetahuan bahasa Prancis-nya cukup
memadai untuk menyadari keserasian nama
ketiga.
"Mon Desir, " ujar James. "Aku harus
mengakuinya."
Ia melihat bahwa sementara pintu-pintu kamar
ganti yang lain tertutup rapat, pintu Mon Desir
terbuka lebar. James mengamati pantai, dan
menyadari bagian ini terutama digunakan para
ibu dengan keluarga besar, masing-masing sibuk
mengurus anak-anak mereka. Hari baru pukul
sepuluh, masih terlampau pagi bagi kaum
bangsawan Kimpton-on-Sea untuk turun kemari
dan mandi.
"Menikmati daging burung puyuh dan jamur di
tempat tidur, dilayani bujang berbedak, bah!

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Takkan ada yang turun kemari sebelum jam dua
belas," pikir James.
Ia melihat ke arah laut lagi. Dengan kepatuhan
penyanyi opera terlatih, jeritan melengking
Grace berkumandang di udara. Diikuti "Ha ha
ha" Claud Sopworth.
"Akan kulakukan," desis James.
Ia mendorong pintu Mon Desir dan masuk ke
dalam. Untuk sesaat ia ketakutan melihat
berbagai macam pakaian bergantungan dari
pasak, tapi segera tenang kembali. Pondok itu
dibagi menjadi dua. Di sebelah kanan terlihat
sweater gadis berwarna kuning, topi jerami
yang sudah penyok, dan sepasang sepatu pantai
yang tergantung di pasak. Di sebelah kiri, celana
panjang flanel kelabu yang sudah tua, sehelai
pullover, dan topi pelaut anti air menunjukkan
pemisahan ruang sesuai jenis kelamin. James
bergegas ke bagian laki-laki dalam pondok itu,
dan cepat-cepat menanggalkan pakaiannya.
Tiga menit kemudian, ia sudah berada di laut,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


asyik menyembur dan mendengus dengan
sombong, sambil memamerkan beberapa gaya
renang profesional-dengan kepala di bawah air,
lengan mengayuh kuat-penuh gaya.
"Oh, di situ kau rupanya!" seru Grace. "Aku
khawatir kau tidak bisa segera masuk ke air,
melihat kerumunan orang yang menunggu
giliran di sana." "Begitu?" ujar James.
Dengan setia ia berpikir tentang buku
kuningnya. "Adakalanya pria perkasa bisa
bersikap bijaksana." Untuk sementara
amarahnya sudah reda. Ia bisa berbicara
dengan ramah namun tegas pada Claud
Sopworth, yang sedang mengajarkan gaya
overarm pada Grace.
"Bukan, bukan begitu, Bung, kau keliru. Aku
akan menunjukkan caranya padanya."
Nada bicaranya begitu yakin, hingga Claud
mengundurkan diri dengan tersipu. Sayangnya,
kemenangan ini singkat saja. Suhu perairan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Inggris menyebabkan para perenang tidak tahan
berlama-lama di dalamnya. Grace dan gadis-
gadis Sopworth itu sudah menampakkan dagu
kebiru-biruan dan gigi gemeletuk kedinginan.
Mereka bergegas menuju pantai, dan James
melangkah seorang diri menuju Mon Desir.
Sementara menggosok badannya dengan
handuk, lalu mengenakan kemejanya, ia merasa
puas terhadap diri sendiri. Menurutnya, ia telah
menunjukkan kepribadian dinamis.
Tiba-tiba ia terpaku, nyaris lumpuh ketakutan.
Dari luar terdengar celoteh beberapa gadis,
suara mereka berbeda dengan suara Grace dan
teman-temannya. Sesaat kemudian ia
menyadari kenyataan, pemilik Mon Desir yang
sesungguhnya telah tiba. Seandainya James
sudah berpakaian lengkap, ia bisa saja
menunggu kedatangan mereka dengan sikap
bergengsi, lalu mencoba memberikan
penjelasan. Tapi ia kalang kabut. Jendela-
jendela Mon Desir hanya tertutup tirai-tirai
hijau tua. James menahan pintu dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


badannya dan menggenggam tombol pintu
sekuat tenaga. Dari luar, beberapa tangan
mencoba memutarnya dengan sia-sia.
"Pintu ini ternyata terkunci," kata seorang gadis.
"Sial betul, sekarang kita harus mengambil
kuncinya."
James mendengar langkah-langkah mereka
menjauh. Ia menarik napas lega dalam-dalam.
Dengan tergesa ia mengenakan sisa pakaiannya.
Dua menit kemudian ia sudah melangkah
sembarangan di pantai, seakan tidak bersalah
sedikit pun. Seperempat jam kemudian, Grace
dan gadis-gadis Sopworth itu bergabung
dengannya. Sisa pagi itu mereka lewatkan
dengan cukup menyenangkan sambil melempar
batu, menulis di pasir, dan bercanda. Kemudian
Claud melirik arlojinya.
"Sudah waktunya makan siang," ujarnya.
"Sebaiknya kita pulang."
"Aku lapar sekali," ujar Alice Sopworth.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Gadis-gadis yang lain juga berkata mereka
kelaparan.
"Kau mau ikut, James?" tanya Grace.
Tak diragukan lagi, James terlalu mudah
tersinggung. Ia memilih untuk merasa terhina
oleh nada bicara Grace. "Tidak, bila pakaianku
tidak cukup baik bagimu," ujarnya getir.
"Mungkin, mengingat kau begitu kritis,
sebaiknya aku tidak ikut."
Ini merupakan petunjuk bagi Grace bahwa
James menyampaikan protes, tapi udara laut
telah membawa dampak buruk atas dirinya. Ia
cuma menjawab,
"Baiklah. Terserah kau saja, kalau begitu,
sampai jumpa sore nanti." James tercengang.
"Wah!" katanya sambil menatap kelompok yang
berjalan meninggalkannya. "Wah, ya ampun..."
Dengan murung ia melangkah ke kota. Di
Kimpton-on-Sea ada dua kafe, keduanya panas,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


berisik, dan penuh sesak. Kejadian di tenda-
tenda ganti pakaian terulang kembali, James
harus menunggu giliran. Ia terpaksa menunggu
lebih lama daripada giliran sebenarnya, karena
seorang wanita tak tahu aturan yang baru saja
tiba menyerobot tempat duduk yang baru saja
kosong. Akhirnya ia mendapat tempat juga di
sebuah meja kecil. Tidak jauh dari telinga
kirinya, tiga gadis berambut cepak acak-acakan
sedang asyik menirukan opera Itali dengan
kacau. Untung saja James tidak berbakat musik.
Dengan lesu ia memerhatikan daftar menu,
dengan kedua tangan di kantong celana.
Pikirnya, "Apa pun yang kupesan pasti akan
dijawab 'habis'. Memang begitulah nasibku."
Tangan kanannya yang dibenamkan sampai ke
dasar kantong, menyentuh benda yang tidak
dikenalnya. Sepertinya ini sebutir kerikil, batu
kerikil bulat yang besar.
"Untuk apa pula aku memasukkan batu ke
dalam kantong celanaku?" pikir James.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia menggenggam benda itu. Seorang pelayan
perempuan menghampirinya.
"Tolong minta ikan goreng dan keripik kentang,"
kata James.
"Ikan gorengnya habis," gumam si pelayan
sambil menerawang ke langit-langit.
"Kalau begitu, saya minta gulai daging sapi,"
ujar James.
"Gulai daging sapinya habis."
"Apa ada sesuatu di menu sialan ini yang tidak
habis?" bentak James.
Pelayan itu tampak sakit hati, dan menunjuk
tulisan sup daging domba + kacang merah
dengan jarinya yang pucat. James menerima
nasibnya yang tak terelakkan dan memesan sup
daging domba dengan kacang merah. Masih
dengan hati mendidih mengingat cara kafe-kafe
menjalankan usaha, ia mengeluarkan tangan
dari kantong celananya, masih juga

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menggenggam batu itu. Setelah membuka
genggamannya, ia melihat benda di telapak
tangannya dengan linglung. Kemudian
mendadak semua hal lain tersingkir dari
benaknya, dan ia menatap benda itu dengan
mata melotot. Benda di tangannya itu bukanlah
sebutir kerikil, melainkan-ia sangat yakin-sebutir
batu zamrud, batu zamrud hijau yang sangat
besar. James menatap dengan sangat
ketakutan. Tidak, ini tak mungkin batu zamrud,
ini pasti kaca berwarna biasa. Mana ada batu
zamrud sebesar ini, kecuali... Tulisan di koran
menari-nari di depan mata James, "Rajah dari
Maraputna-batu zamrud terkenal sebesar telur
burung merpati." Apakah ini-mungkinkah ini-
batu zamrud itu yang saat ini sedang
dipandangnya? Pelayan itu datang kembali
membawa pesanan supnya, dan James
mengatupkan jarinya dengan kejang. Badannya
panas-dingin. Ia merasa lelah terjebak dalam
dilema serius. Seandainya ini memang batu
zamrud-tapi apa memang demikian? Apa ini

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


mungkin? Ia membuka genggamannya lagi dan
mengintip cemas. James bukan ahli batu-batu
berharga, tapi kilau cemerlang permata itu
meyakinkan dirinya bahwa ini batu permata asli.
Ia menaruh kedua sikunya di meja dan
mencondongkan badan ke depan, sambil
melamun menatap lemak di sup daging
dombanya yang perlahan-lahan membeku. Ia
harus mencari pemecahannya. Bila ini memang
batu zamrud milik sang Rajah apa yang akan
dilakukannya? Perkataan "polisi" berkelebat di
benaknya. Bila orang menemukan barang
berharga, ia harus membawanya ke kantor
polisi. Dengan aksioma inilah ia telah dididik.
Ya, tapi... bagaimana batu zamrud ini bisa
berada di kantong celananya? Dengan putus asa
ia memandang kedua kakinya, dan tiba-tiba
perasaan takut menyergapnya. Ia menatap lebih
cermat. Celana panjang tua berwarna kelabu ini
sangat mirip dengan celana panjang kelabu
lainnya, tapi secara naluriah James merasa ini
bukan celana panjang miliknya. Ia bersandar

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tertegun saat menyadari kemungkinan ini.
Sekarang ia mengerti apa yang sesungguhnya
telah terjadi. Karena terburu-buru ingin segera
keluar dari kamar ganti itu, ia telah salah
mengambil celana. Ia ingat telah menggantung
celananya di pasak yang berdampingan dengan
celana yang sudah tergantung di situ. Ya, sejauh
ini masalahnya sudah jelas, ia telah salah
mengambil celana. Tapi bagaimana batu
zamrud senilai ratusan ribu pound ini bisa
sampai ke situ? Semakin dipikirkan, semakin
aneh saja persoalan itu. Ia tentu saja bisa
menjelaskannya pada polisi...
Tak diragukan lagi, masalah ini memang
memalukan, amat sangat memalukan. Ia
terpaksa harus menjelaskan bahwa ia telah
sengaja masuk ke kamar ganti milik orang lain.
Ini tentu saja bukan pelanggaran serius, tapi
tetap saja salah.
"Bisa saya bawakan yang lainnya, Sir?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Pelayan tadi kembali lagi. Ia menatap sup
daging domba yang tak tersentuh itu. James
buru-buru menuang sebagian di piringnya, lalu
meminta bon. Setelah melunasinya, ia keluar.
Sementara ia berdiri bimbang di jalan, poster di
seberang jalan menarik perhatiannya. Kota
Harchester yang bersebelahan dengan resor ini
memiliki koran sore, dan James menatap
sebuah judul berita. Judul sederhana sekaligus
sensasional: BATU ZAMRUD RAJAH DICURI.
"Astaga," ujar James lemas sambil bersandar di
tiang. Sambil menenangkan diri, ia
mengeluarkan koin satu penny dan membeli
koran. Ia langsung menemukan berita yang
dicarinya. Berita-berita sensasional lokal
memang tidak banyak dan jarang terjadi. Judul-
judul utama menghiasi halaman depan.
"Pencurian Sensasional di Kediaman Lord
Edward Campion. Pencurian Batu Zamrud
Bersejarah yang Terkenal. Kerugian Besar Rajah
dari Maraputna." Fakta-faktanya tidak banyak
dan sederhana. Malam sebelumnya, Lord

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Edward Campion telah menjamu beberapa
teman. Karena ingin menunjukkan batu itu pada
salah seorang tamu wanita, sang Rajah masuk
untuk mengambilnya, dan mendapati batu
permata itu sudah raib. Polisi telah dipanggil.
Sejauh ini belum ada petunjuk yang berhasil
didapat. James menjatuhkan koran itu ke lantai.
Ia masih belum paham, bagaimana batu zamrud
itu bisa berada di kantong celana flanel tua di
kamar ganti, tapi ia semakin menyadari polisi
pasti akan menganggap ceritanya
mencurigakan. Jadi, apa yang harus
dilakukannya? Di sinilah dia, berdiri di jalan
utama Kimpton-on-Sea dengan harta curian
senilai uang tebusan raja beristirahat nyaman di
dalam kantong celananya, sementara seluruh
pasukan polisi distrik sedang sibuk mencari
benda curian yang sama. Ada dua tindakan yang
bisa dilakukannya. Tindakan pertama, langsung
ke kantor polisi dan menyampaikan kisahnya-
tapi harus diakui, James sangat takut
melakukannya. Tindakan kedua, bagaimanapun,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


ia harus menyingkirkan batu zamrud itu. Ia
terpikir untuk membungkus permata itu di
dalam kotak kecil dan mengirimnya lewat pos
kepada sang Rajah. Ia lalu menggeleng. Ia telah
banyak membaca kisah detektif. Ia tahu cara
kerja detektif ulung yang beraksi dengan kaca
pembesar dan semua jenis peralatan canggih
lainnya. Setiap detektif tulen akan sibuk
memeriksa paket James, dan dalam setengah
jam akan berhasil menemukan profesi, usia,
kebiasaan, dan penampilan pribadi
pengirimnya. Sesudah itu hanya dibutuhkan
beberapa jam untuk menelusuri jejaknya.
Tiba-tiba muncul rencana yang sangat
sederhana di benak James. Ini jam makan siang.
Pantai relatif sepi, ia akan kembali ke Mon
Desir, menggantung kembali celana itu di
tempat semula, dan mengenakan celananya
sendiri. Dengan cepat ia melangkah menuju
pantai.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Bagaimanapun, nuraninya mulai berbicara. Batu
zamrud itu harus dikembalikan pada sang Rajah.
Mungkin ada baiknya ia melakukan sedikit
pekerjaan detektif-tentunya sesudah ia
mendapatkan kembali celananya sendiri dan
mengembalikan yang satu. Guna melaksanakan
ide ini, ia mengarahkan langkah-langkahnya
menuju pelaut tua itu, yang dianggapnya
sumber informasi Kimpton-on-Sea yang tiada
habis-habisnya.
"Permisi!" ujar James sopan. "Saya rasa teman
saya yang bernama Mr. Charles Lampton punya
pondok kamar ganti di pantai ini. Pondok itu
diberi nama Mon Desir, saya kira."
Pelaut tua itu sedang duduk santai di kursinya,
mengisap pipa tembakau sambil memandang ke
arah laut. Ia menggeser pipanya sedikit, dan
menjawab tanpa mengalihkan pandangannya
dari kaki langit.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Mon Desir adalah kepunyaan Paduka Lord
Edward Campion, semua orang tahu itu. Aku
belum pernah mendengar nama Charles
Lampton, dia tentunya pendatang baru."
"Terima kasih." kata James sambil
mengundurkan diri.
Informasi ini sangat mengejutkannya. Sang
Rajah pasti tak mungkin menyelipkan batu itu
ke dalam kantong celana dan melupakannya.
James menggeleng, teori ini tidak memuaskan,
tapi sudah jelas salah satu penghuni rumah
itulah pencurinya. Situasi ini mengingatkan
James akan beberapa kisah fiksi favoritnya.
Bagaimanapun, tujuannya belum berubah.
Segala sesuatu berjalan lancar. Seperti yang
diharapkannya, pantai tampak sepi. Yang lebih
menguntungkan lagi, pintu Mon Desir masih
tetap terbuka lebar. Menyelinap masuk hanya
butuh waktu sekejap. James baru saja
mengambil celananya sendiri dari pasak, ketika

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


suara di belakangnya membuatnya berbalik
secepat kilat.
"Nah, kena kau, Bung!" kata suara tadi.
James memandang dengan mulut ternganga. Di
pintu Mon Desir berdiri seorang asing: seorang
pria berpakaian bagus berusia sekitar empat
puluhan, dengan wajah tajam bagaikan burung
elang. "Kena kau sekarang!" ulang orang asing
itu. "Siapa... siapa Anda?" James tergagap.
"Detektif Inspektur Merrilees dari Scotland
Yard," jawab orang itu tegas. "Dan silakan
menyerahkan batu zamrud itu."
"Batu zamrud?"
James berusaha mengulur waktu.
"Itulah yang kukatakan tadi, bukan?" sahut
Inspektur Merrilees. Ucapannya tegas dan
praktis. James berusaha menenangkan diri.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya tidak paham maksud Anda," ujarnya
dengan gaya yang dianggapnya penuh gengsi.
"Oh, ya, Nak, kurasa kau paham."
"Semuanya ini," ujar James, "adalah kekeliruan.
Saya bisa menjelaskannya dengan mudah..." Ia
terhenti. Wajah pria itu tampak bosan.
"Mereka selalu berkata begitu," gumam petugas
Scotland Yard itu jemu. "Kurasa kau mencurinya
saat sedang berjalan-jalan di pantai, kan? Itulah
penjelasan yang benar."
James menyadari bahwa kenyataannya
memang mirip, tapi ia masih harus mengulur
waktu. "Bagaimana saya bisa tahu Anda benar-
benar detektif?" ia bertanya lesu.
Merrilees menyingkapkan jaketnya sesaat,
menunjukkan lencananya. James menatapnya
terbelalak. "Dan sekarang," ujar pria itu riang,
"kaulihat kesulitan apa yang sedang kauhadapi!
Kau orang baru-bisa kulihat. Ini pengalaman
pertamamu, bukan?" James mengangguk.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sudah kuduga. Sekarang, Nak, apa kau akan
menyerahkan batu zamrud itu, atau haruskah
aku menggeledahmu?" James menemukan
kembali suaranya. "Saya... saya tidak
membawanya," katanya. Ia memutar otak.
"Apa kau meninggalkannya di penginapan?"
tanya Merrilees. James mengangguk.
"Baiklah kalau begitu," ujar sang detektif, "kita
akan ke sana bersama-sama." Ia menyelipkan
lengannya di bawah lengan James.
"Aku tidak mau mengambil risiko kau kabur
dariku," katanya lembut. "Kita akan pergi ke
penginapanmu, dan kau harus menyerahkan
batu itu padaku."
James berkata ragu, "Bila saya melakukannya,
apa Anda akan melepaskan saya?" Merrilees
tampak malu.
"Kami tahu bagaimana batu itu dicuri," jelasnya,
"dan tentang wanita yang terlibat, dan tentu
saja, sejauh ini sang Rajah ingin hal ini

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


dirahasiakan. Anda tahu tentang para penguasa
pribumi?"
James, yang tidak tahu apa-apa tentang
penguasa pribumi, kecuali seorang cause
celebre, mengangguk seakan mengerti
sepenuhnya.
"Tentu saja ini tidak biasa," kata sang detektif,
"tapi kau mungkin akan dibebaskan tanpa
hukuman."
Lagi-lagi James mengangguk. Mereka sudah
berjalan sepanjang Esplanade, dan sekarang
melangkah menuju kota. James menunjukkan
arahnya, tapi pria itu tidak mengendurkan
cengkeramannya di lengan James.
Tiba-tiba James terhenti dan bergumam.
Merrilees mendongak ke atas, lalu tertawa.
Mereka baru saja melintasi kantor polisi, dan ia
melihat lirikan cemas James ke arah tempat itu.
"Aku akan memberimu kesempatan dahulu,"
ujarnya riang.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Saat itulah terjadi sesuatu. James berteriak
keras-keras. Sambil mencekal lengan pria itu, ia
berteriak sekuat tenaga, "Tolong! Maling!
Tolong! Maling!"
Dalam waktu kurang dari semenit, orang-orang
berkerumun di sekeliling mereka. Merrilees
berusaha melepaskan lengannya dari
cengkeraman James.
"Aku akan menuntut orang ini!" seru James.
"Aku akan menuntut orang ini, dia
mencopetku." "Kau ini bicara apa, tolol?" seru
pria itu.
Seorang polisi mengambil alih situasi. Mr.
Merrilees dan James digiring ke dalam kantor
polisi. James mengulangi pengaduannya.
"Orang ini baru saja mencopet saya," ujarnya
penuh emosi. "Dia menyembunyikan dompet
saya di saku kanannya, di situ!"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Orang muda ini gila," gerutu pria itu. "Anda
bisa memeriksa sendiri, Inspektur, dan lihatlah
apa dia berkata benar."
Atas isyarat sang inspektur, polisi tadi
menyelipkan tangan dengan sikap hormat ke
dalam saku Merrilees. Ia mengeluarkan sesuatu
dan ternganga keheranan.
"Ya Tuhan!" seru sang inspektur, lupa akan
sikap profesionalnya. "Itu pasti batu zamrud
milik Rajah. " Merrilees tampak lebih
terperangah daripada yang lain.
"Ini mengerikan," ia tergagap, "mengerikan.
Orang ini pasti telah memasukkannya ke dalam
saku saya sementara kami berjalan bersama. Ini
perangkap."
Kepribadian Merrilees yang penuh semangat
membuat inspektur itu agak ragu.
Kecurigaannya beralih ke James. Ia
membisikkan sesuatu pada polisi tadi, yang lalu
pergi keluar.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Baiklah, Tuan-tuan," ujar inspektur itu, "izinkan
saya mendengar penjelasan Anda, satu per
satu."
"Tentu saja," ujar James. "Saya sedang berjalan-
jalan di pantai ketika berjumpa dengan tuan ini,
dan dia berpura-pura mengenal saya. Saya tidak
ingat pernah bertemu dengannya, tapi saya
terlalu sopan untuk mengatakannya. Kami lalu
berjalan bersama-sama. Saya merasa curiga
padanya, dan tepat ketika kami melintas di
depan kantor polisi, tangannya sudah berada di
dalam saku saya. Saya langsung mencekalnya
dan berteriak minta tolong."
Inspektur itu mengalihkan pandangannya pada
Merrilees.
"Sekarang giliran Anda, Sir."
Merrilees tampak agak malu.
"Kisah itu nyaris betul," ujarnya perlahan, "tapi
tidak sepenuhnya benar. Bukan saya, tapi dialah
yang berpura-pura kenal. Tak diragukan lagi, dia

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sedang berusaha mengenyahkan batu zamrud
itu, dan menyelipkannya ke dalam saku saya
saat kami berbincang-bincang."
Inspektur itu berhenti menulis.
"Ah!" katanya tanpa memihak. "Nah, sebentar
lagi akan tiba seorang tuan yang akan
membantu kita membereskan masalah ini."
Merrilees mengerutkan dahi.
"Saya tidak mungkin menunggu," gumamnya
sambil mengeluarkan arlojinya. "Saya sudah ada
janji. Inspektur, Anda tentunya tidak sekonyol
itu, mengira saya mencuri batu zamrud dan
berjalan-jalan sambil mengantonginya?"
"Saya setuju itu tidak mungkin, Sir," jawab sang
inspektur. "Tapi Anda terpaksa menunggu lima
atau sepuluh menit sampai kita membereskan
persoalan ini. Ah! Paduka sudah tiba."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Seorang pria jangkung melangkah masuk
ruangan. Ia mengenakan celana panjang lusuh
dan sweater lama.
"Baik, Inspektur, ada apa ini?" ujarnya. "Anda
berkata batu zamrud itu sudah ditemukan? Itu
hebat, kerja yang sangat bagus. Siapa orang-
orang yang bersama Anda ini?"
Matanya memandang James, dan berhenti saat
melihat Merrilees. Kepribadian laki-laki yang
tadi penuh semangat itu sepertinya merosot
dan menyusut.
"Wah-Jones!" seru Lord Edward Campion.
"Anda mengenal orang ini, Lord Edward?" tanya
inspektur itu tajam.
"Tentu saja," jawab Lord Edward dingin. "Dia
pelayanku, datang kepadaku sebulan yang lalu.
Orang yang diutus dari London langsung
memeriksanya, tapi jejak batu zamrud itu tidak
ditemukan di antara barang-barangnya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Dia membawa batu itu di dalam saku
jaketnya," sahut inspektur itu. "Tuan inilah yang
mempertemukan kami dengannya." Ia
menunjuk James.
Saat berikutnya, James diberi ucapan selamat
dan jabat tangan hangat.
"Anak muda yang baik," ujar Lord Edward
Campion. "Jadi, Anda sudah mencurigainya
sejak awal, kata Anda?" "Ya," jawab James.
"Saya terpaksa mengarang cerita tentang
kecopetan, agar bisa membawanya ke kantor
polisi." "Nah, itu hebat sekali," kata Lord
Edward, "amat sangat hebat. Anda harus ikut
dan makan siang bersama kami, itu kalau Anda
belum makan siang. Aku tahu ini sudah siang,
hampir jam dua." "Tidak," ujar James, "saya
belum makan siang-tapi..."
"Cukup, cukup," ujar Lord Edward. "Rajah pasti
ingin menyampaikan terima kasih pada Anda
karena mendapatkan kembali batu zamrud itu
baginya. Meski aku belum memahami cerita

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sesungguhnya." Sementara itu mereka sudah
berada di luar kantor polisi, berdiri di anak
tangga. "Sebenarnya," kata James, "saya ingin
menyampaikan kejadian sesungguhnya." Dan ia
menceritakannya. Paduka sangat senang
mendengarnya.
"Kisah paling bagus yang pernah kudengar
seumur hidupku," ujarnya. "Sekarang jelaslah
bagiku. Jones tentunya bergegas ke kamar ganti
begitu dia berhasil mencuri batu itu, karena
tahu polisi pasti akan menggeledah rumah
dengan cermat. Celana tua yang terkadang
kupakai saat memancing tak mungkin disentuh
siapa pun, dan dia bisa mengambil kembali
permata itu dengan santai. Dia tentunya
terkaget-kaget saat kembali dan mendapati
batu itu sudah lenyap. Begitu Anda muncul, dia
menyadari Anda-lah yang telah memindahkan
batu itu. Tapi aku masih belum mengerti,
bagaimana Anda berhasil membuka kedok
detektifnya itu."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Pria perkasa," pikir James diam-diam, "tahu
kapan harus terus terang dan kapan harus
bijaksana."
Ia tersenyum mencemooh, sementara jari-
jarinya meraba bagian dalam kelepak jaket dan
membelai lencana perak kecil Merton Park
Super Cycling Club, perkumpulan penggemar
sepeda yang tidak terkenal itu. Benar-benar
kebetulan yang mengherankan bila laki-laki
bernama Jones itu juga salah satu anggotanya,
tapi memang itulah kenyataannya!
"Halo, James!"
Ia menoleh. Grace dan gadis-gadis Sopworth itu
memanggilnya dari seberang jalan. Ia menoleh
pada Lord Edward. "Permisi sebentar."
Ia menyeberangi jalan, menemui mereka.
"Kami mau pergi menonton bioskop," kata
Grace. "Mungkin kau mau ikut?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Maaf," ujar James. "Aku akan makan siang
bersama Lord Edward Campion. Ya, pria di sana
yang mengenakan pakaian tua yang nyaman itu.
Dia ingin aku bertemu Rajah dari Maraputna."
Ia mengangkat topinya dengan sopan, lalu
bergabung kembali dengan Lord Edward.

NYANYIAN TERAKHIR

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


SUATU pagi di bulan Mei, pukul sebelas di
London. Mr. Cowan sedang memandang ke luar
jendela, di belakangnya tampak semarak ruang
duduk kamar suite Ritz Hotel. Kamar ini telah
dipesan untuk Madame Paula Nazarkoff,
bintang opera terkenal itu, yang baru tiba di
London. Mr. Cowan, manajer bisnis Madame,
sedang menunggu bertemu dengannya. Ia
langsung menoleh begitu pintu terbuka, tapi
ternyata yang masuk itu Miss Read, sekretaris
Madame Nazarkoff, gadis pucat dengan sikap
efisien.
"Oh, ternyata kau," ujar Mr. Cowan. "Madame
belum bangun?"
Miss Read menggeleng.
"Dia memintaku datang sekitar jam sepuluh,"
kata Mr. Cowan. "Aku sudah menunggu satu
jam."
Ia tidak menampakkan rasa kesal maupun
heran. Mr. Cowan sudah terbiasa dengan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tingkah laku aneh dan temperamen seniman. Ia
pria jangkung dengan wajah dicukur bersih,
sosoknya agak terlalu perlente, dan pakaiannya
sedikit terlalu sempurna. Rambutnya hitam
legam dan mengilat, giginya sangat putih
berkilau. Saat bicara, ia mengucapkan huruf "s"
agak cadel. Tidak perlu imajinasi berlebihan
untuk menyadari bahwa nama ayahnya
mungkin Cohen. Saat itu pintu di seberang
ruangan terbuka, dan seorang gadis Prancis
yang ramping bergegas melintasi ruangan.
"Madame sudah bangun?" tanya Cowan penuh
harap. "Katakan pada kami, Elise." Elise
langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-
tinggi.
"Pagi ini Madame uring-uringan, tak ada yang
menyenangkan hatinya! Katanya mawar-mawar
kuning cantik yang dikirimkan Monsieur
semalam memang bagus sekali untuk di New
York, tapi sungguh imbecile untuk
mengirimkannya di London. Menurut Madame,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


di London hanya mawar merahlah yang pantas,
dan dia langsung membuka pintu, membuang
mawar-mawar kuning itu ke lorong hingga
menimpa seorang tuan, tres comme il faut, saya
rasa seorang perwira militer, dan tuan ini tentu
saja marah!"
Cowan mengangkat alis, tapi tidak
menampakkan tanda-tanda emosi lainnya. Ia
lalu mengeluarkan buku catatan kecil dari
sakunya dan menulis kata-kata "mawar merah"
di dalamnya.
Elise bergegas keluar lewat pintu lain, dan
Cowan kembali menghadap jendela. Vera Read
duduk di meja, mulai membuka surat-surat
serta memilah-milahnya. Sepuluh menit berlalu
dalam keheningan, dan tiba-tiba pintu kamar
tidur terpentang. Paula Nazarkoff melangkah
masuk ke ruangan itu. Kehadirannya langsung
membuat ruangan itu tampak lebih sempit dan
Vera Read tampak lebih pucat, sedangkan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Cowan jadi sekadar seperti sosok di latar
belakang.
"Ah ha! Anak-anakku," ujar sang primadona,
"bukankah aku tepat waktu?"
Wanita ini bertubuh tinggi besar, dan untuk
ukuran penyanyi, ia tidak terlalu gemuk. Lengan
dan kakinya masih cukup langsing, sedangkan
lehernya tegak bagaikan tiang yang indah.
Rambutnya yang disanggul berupa gelungan
memanjang sampai ke tengkuk, berwarna
merah tua. Warna ini antara lain disebabkan
oleh henna. Ia tidak muda lagi, usianya paling
tidak empat puluh tahun, namun raut wajahnya
masih tampak cantik, meskipun kulit di seputar
mata hitamnya yang berkilat itu sudah agak
kendur dan keriput. Ia memiliki gelak tawa anak
kecil, pencernaan burung unta, dan
temperamen iblis. Selain itu, ia diakui sebagai
penyanyi soprano dramatis terbesar di
zamannya. Ia berpaling ke Cowan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Sudah kaulakukan instruksiku? Apa kau sudah
menyingkirkan piano Inggris jelek itu dan
membuangnya ke Sungai Thames?"
"Saya sudah mendapatkan yang lain untuk
Anda," ujar Cowan sambil menunjuk ke arah
piano yang tegak di sudut. Nazarkoff bergegas
menghampiri, lalu membuka tutupnya. "Piano
Erard," katanya, "itu lebih bagus. Sekarang mari
kita coba."
Suara soprano yang merdu itu mengalunkan
nada yang bergantian cepat, kemudian dua kali
naik-turun oktaf dengan ringan, melambung
mencapai nada tinggi, bertahan di situ dengan
volume semakin keras, lalu melembut kembali
sampai lenyap.
"Ah!" kata Paula Nazarkoff, puas dan lugu.
"Alangkah merdunya suaraku! Bahkan di
London pun suaraku tetap merdu."
"Betul," Cowan mengiyakan sambil memberikan
ucapan selamat dengan hangat. "Berani

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


bertaruh London akan tergila-gila pada Anda,
sama seperti New York." "Kaupikir begitu?"
tanya sang penyanyi.
Senyuman tipis membayang di bibirnya, dan
sangat jelas bahwa pertanyaan tadi sekadar
basa-basi lumrah belaka. "Sudah tentu," jawab
Cowan.
Paula Nazarkoff menutup piano itu kembali, lalu
berjalan menuju meja dengan langkah-langkah
lambat bergelombang yang terbukti efektif di
atas panggung.
"Well, well, " ujarnya, "sekarang mari kita
bekerja. Kau sudah mengatur semuanya,
Kawan?" Cowan mengeluarkan beberapa surat
dari map yang tadi diletakkan di atas kursi.
"Tidak banyak perubahan," komentarnya. "Anda
akan menyanyi lima kali di Covent Garden,
membawakan Tosca liga kali, dan Aida dua kali."
"Aida! Bah," keluh sang primadona,
"membosankan sekali. Tosca, itu baru beda."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Ah, ya," sahut Cowan. "Tosca memang keahlian
Anda. " Paula Nazarkoff berdiri tegak.
"Akulah penyanyi Tosca terbesar di seluruh
dunia," ujarnya tenang.
"Betul sekali," Cowan mengiyakan. "Tak seorang
pun mampu menandingi Anda."
"Kurasa Roscari akan menyanyikan 'Scarpia'?"
Cowan mengangguk.
"Dan Emile Lippi."
"Apa?!" jerit Nazarkoff. "Lippi, si katak kerdil
menggonggong itu, kung-kung-kung. Aku takkan
menyanyi dengannya, aku akan menggigitnya,
aku akan mencakar wajahnya." "Sudah, sudah,"
ujar Cowan menenangkan.
"Dengar kataku, dia bukan menyanyi, dia anjing
kampung yang menggonggong."
"Hm, kita lihat nanti, kita lihat nanti," kata
Cowan.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Ia terlalu bijak untuk berdebat dengan penyanyi
temperamental.
"Bagaimana dengan Cavaradossi?" bentak
Nazarkoff.
"Hensdale, penyanyi tenor Amerika itu yang
akan membawakannya."
Nazarkoff mengangguk.
"Dia pemuda yang baik, suaranya merdu."
"Dan saya percaya Barrere akan
menyanyikannya satu kali."
"Dia seniman," puji Madame. "Tapi membiarkan
si kodok Lippi itu memerankan Scarpia! Bah-aku
takkan menyanyi bersamanya."
"Serahkan saja pada saya," ujar Cowan
menghibur. Ia berdeham, lalu mengeluarkan
setumpuk kertas lain. "Saya sedang mengatur
konser istimewa di Albert Hall." Nazarkoff
menyeringai.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Saya tahu, saya tahu," ujar Cowan, "tapi semua
orang melakukannya."
"Aku akan menyanyi dengan bagus," ujar
Nazarkoff, "gedung itu akan penuh sesak
sampai ke langit-langit, dan aku akan
mendapatkan banyak uang. Ecco!" Lagi-lagi
Cowan mengambil surat-surat.
"Berikut ini ada usul yang agak berbeda,"
katanya, "dari Lady Rustonbury. Dia ingin Anda
datang untuk menyanyi."
"Rustonbury?"
Sang primadona mengerutkan kening, seakan
berusaha mengingat sesuatu. "Aku pernah
mendengar nama itu-baru saja. Itu nama kota-
atau desa, kan?"
"Betul, desa kecil yang permai di Hertfordshire.
Mengenai kediaman Lord Rustonbury sendiri,
yaitu Rustonbury Castle, tempat ini bergaya
anggun, antik, dan feodal, lengkap dengan
hantu-hantu, potret-potret keluarga, tangga-

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


tangga rahasia, dan teater pribadi bermutu
tinggi. Mereka kaya-raya, dan selalu
mengadakan pertunjukan pribadi. Dia
menyarankan kita membawakan opera lengkap,
kalau bisa Butterfly. "
"Butterfly?"
Cowan mengangguk.
"Dan mereka bersedia membayar. Kita tentu
saja harus menyelesaikan pertunjukan di Covent
Garden dulu, tapi sesudah itu pun secara
finansial usul itu sangat memadai. Hampir bisa
dipastikan akan ada bonusnya juga. Ini akan
menjadi iklan yang sangat bermutu."
Madame mengangkat dagunya yang masih
indah itu.
"Memangnya aku masih membutuhkan iklan?"
sergahnya bangga.
"Kalau ada kesempatan, mengapa tidak?" ujar
Cowan tanpa malu.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Rustonbury," gumam penyanyi itu, "di mana
aku pernah membacanya...?"
Mendadak ia melompat berdiri, dan sambil
berlari ke meja tengah, ia mulai membalik-balik
halaman koran yang tergeletak di atasnya. Tiba-
tiba tangannya terhenti dan melayang di atas
salah satu halaman. Setelah itu ia menjatuhkan
koran itu ke lantai dan melangkah perlahan
kembali ke tempat duduknya. Suasana hatinya
cepat berubah, dan sekarang kepribadiannya
tampak sangat berbeda. Sikapnya sangat
tenang, nyaris sederhana.
"Atur semuanya untuk Rustonbury, aku mau
menyanyi di situ, tapi dengan satu syarat-
operanya harus Tosca. "
Cowan tampak ragu.
"Itu takkan mudah-untuk pertunjukan pribadi,
Anda tahu bukan, dekor pemandangan dan
sebagainya." "Tosca atau tidak sama sekali."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Cowan memerhatikannya dengan cermat. Apa
yang dilihatnya seakan meyakinkan dirinya. Ia
mengangguk singkat, lalu bangkit berdiri.
"Akan saya coba," ujarnya tenang.
Nazarkoff juga bangkit berdiri. Ia tampak lebih
bersemangat daripada biasanya untuk
menjelaskan keputusannya. "Ini peranku yang
terbesar, Cowan. Aku mampu membawakan
bagian itu lebih baik daripada perempuan mana
pun."
"Itu memang bagian yang indah," ujar Cowan.
"Tahun lalu Jeritza mendapat sambutan meriah
saat membawakannya."
"Jeritza!" pekik Nazarkoff dengan wajah
memerah. Dengan panjang-lebar ia
memuntahkan pendapatnya tentang Jeritza.
Cowan, yang sudah terbiasa mendengar
pendapat para penyanyi tentang penyanyi lain,
mengalihkan perhatiannya sampai semburan itu
reda. Setelah itu ia berkata dengan nekat,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Bagaimanapun, dia menyanyikan Vissi D'arte
sambil berbaring tertelungkup."
"Mengapa tidak?" bentak Nazarkoff. "Apa
susahnya? Aku akan menyanyikannya sambil
berbaring telentang dengan menendang-
nendangkan kedua kakiku ke atas." Cowan
menggeleng serius.
"Saya tidak percaya gaya itu akan mengalahkan
siapa pun," komentarnya. "Namun, hal seperti
itu memang menantang."
"Tak seorang pun mampu menyanyikan Vissi
D'Arte sehebat aku," kata Nazarkoff yakin. "Aku
membawakannya dengan suara biara-seperti
diajarkan para biarawati bertahun-tahun lalu.
Dengan suara bening bocah paduan suara laki-
laki atau malaikat, tanpa perasaan, tanpa
gairah."
"Saya tahu," sahut Cowan riang. "Saya sudah
mendengarnya, Anda memang hebat sekali."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Itu yang namanya seni," kata sang primadona,
"membayar harganya, menderita, bertahan, dan
akhirnya bukan saja menguasai ilmunya, tapi
juga kemampuan untuk mundur ke awal, dan
menangkap kembali keindahan hati anak kecil
yang sudah terhilang."
Cowan menatapnya heran. Nazarkoff menatap
kosong dengan janggal, dan ada sesuatu dalam
pandangan itu yang membuat Cowan
merinding. Bibir Nazarkoff terbuka sedikit, dan
ia membisikkan beberapa kata dengan lirih.
Cowan nyaris tak mampu mendengarnya.
"Akhirnya," gumam wanita itu. "Akhirnya-
setelah sekian tahun. "

II

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Lady Rustonbury wanita yang ambisius sekaligus
artistik. Ia menggabungkan kedua hal itu
dengan sangat sukses. Ia beruntung memiliki
suami yang tidak peduli pada ambisi maupun
seni, dan karenanya tidak merintanginya dalam
bentuk apa pun. Earl Rustonbury pria bertubuh
besar dan kekar yang hanya tertarik pada kuda.
Ia mengagumi istrinya dan bangga terhadapnya,
dan senang kekayaannya yang luar biasa itu bisa
memuaskan semua rencana istrinya. Teater
pribadi itu dibangun kurang dari seabad yang
lalu oleh kakeknya. Ini merupakan mainan
utama Lady Rustonbury-ia sudah
menyelenggarakan drama Ibsen di situ, dan
sandiwara sekolah yang baru, mengenai
perceraian dan obat-obat terlarang, selain
fantasi puitis dengan dekor abstrak. Pagelaran
Tosca mendatang telah menggugah minat luas.
Lady Rustonbury akan mengadakan pesta
rumah bagi kalangan yang sangat ternama, dan
para undangan dari London akan datang dengan
mobil masing-masing untuk menghadirinya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Madame Nazarkoff beserta rombongan tiba
tepat sebelum acara makan siang. Hensdale,
penyanyi tenor muda dari Amerika, akan
menyanyikan Cavaradossi, sedangkan Roscari,
penyanyi bariton terkenal dari Itali, akan
memerankan Scarpia. Pengeluaran untuk
pertunjukan ini sangat besar, tapi tak ada yang
peduli. Suasana hati Paula Nazarkoff sangat
cerah. Sikapnya memikat, ramah tamah, dan
sangat internasional. Cowan heran sekaligus
senang, dan berharap keadaan ini terus
bertahan.
Selesai makan siang, rombongan ini beranjak
menuju teater, dan memeriksa dekor serta
berbagai hal lainnya. Orkestra akan dipimpin
oleh Mr. Samuel Ridge, salah seorang dirigen
paling ternama. Segala sesuatu sepertinya
berjalan mulus tanpa cela, dan anehnya, fakta
ini justru membuat khawatir Mr. Cowan. Ia
lebih terbiasa dengan suasana penuh kesibukan,
dan suasana tenteram yang tidak biasa ini
mengganggunya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Semua ini agak terlalu mulus," gumam Mr.
Cowan. "Madame bagaikan kucing
kekenyangan. Ini terlalu bagus dan tak mungkin
bertahan, sesuatu pasti terjadi."
Boleh jadi karena telah begitu lama
berkecimpung di dunia opera, Mr. Cowan telah
mengembangkan indra keenam, dan
ramalannya menjadi kenyataan. Malam itu baru
pukul tujuh saat Elise, si pelayan Prancis, berlari
menemuinya dengan panik.
"Ah, Mr. Cowan, cepat ikut, saya mohon,
cepatlah ikut saya."
"Ada apa?" tanya Cowan cemas. "Madame
marah-marah lagi tentang sesuatu-bertengkar
lagi, begitu?" "Bukan, ini bukan soal Madame,
ini soal Signor Roscari. Dia sakit parah, dia
sedang sekarat!" "Sekarat? Yang benar saja."
Cowan bergegas mengikuti pelayan yang
mengantarnya ke kamar tidur penyanyi Itali
yang sedang terkapar itu. Pria bertubuh kecil itu

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


berbaring di tempat tidur, atau tepatnya,
kejang-kejang di atasnya, pemandangan yang
mungkin akan dianggap lucu seandainya situasi
tidak gawat. Paula Nazarkoff sedang
membungkuk di atasnya; ia menyambut Cowan
dengan angkuh.
"Ah! Akhirnya kau datang juga! Roscari yang
malang, dia sangat menderita. Dia pasti telah
memakan sesuatu."
"Aku akan mati," erang pria kecil itu. "Sakitnya-
sakitnya luar biasa. Aduh!"
Ia kejang lagi, dan sambil menekan perutnya
dengan kedua tangan, ia berputar-putar di atas
ranjang.
"Kita harus memanggil dokter," kata Cowan.
Paula menangkap tangannya saat ia hendak
beranjak ke pintu.
"Dokter sudah dalam perjalanan kemari, dia
akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


orang malang ini. Itu sudah diatur, tapi Roscari
tak mungkin bisa menyanyi malam ini."
"Aku takkan pernah menyanyi lagi, aku akan
mati," erang penyanyi Itali itu.
"Tidak, tidak, Anda takkan mati," ujar Paula. "Ini
cuma gangguan pencernaan, namun Anda tidak
mungkin menyanyi malam ini." "Aku telah
diracuni."
"Ya, ini pasti racun ptomaine, " ujar Paula.
"Tetap tinggal bersamanya, Elise, sampai dokter
tiba." Penyanyi sopran itu menarik Cowan
keluar kamar. "Apa yang harus kita lakukan?" ia
bertanya.
Cowan menggeleng putus asa. Hari sudah
terlalu malam untuk menjemput orang lain dari
London untuk menggantikan Roscari. Lady
Rustonbury, yang baru saja diberitahu tentang
tamunya yang sakit itu, bergegas sepanjang
koridor dan bergabung dengan mereka.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Keprihatinannya yang terbesar, sama seperti
Paula Nazarkoff, adalah kesuksesan Tosca.
"Seandainya ada orang yang bisa
menggantikannya," keluh sang primadona.
"Ah!" seru Lady Rustonbury tiba-tiba. "Tentu
saja! Breon."
"Breon?"
"Betul, Edouard Breon. Anda tahu bukan,
penyanyi bariton terkenal dari Prancis itu. Dia
tinggal tak jauh dari sini, ada foto rumahnya
yang dimuat di Country Homes edisi minggu ini.
Dialah orang yang paling tepat."
"Ini benar-benar jawaban dari langit," seru
Nazarkoff. "Breon sebagai Scarpia, aku ingat
padanya, ini salah satu peran yang sangat cocok
untuknya. Tapi dia sudah pensiun, bukan?"
"Aku akan menjemputnya," ujar Lady
Rustonbury. "Serahkan saja padaku."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Dan mengingat ia wanita yang biasa membuat
keputusan, ia langsung berangkat menjemput
sang Hispano Suiza. Sepuluh menit kemudian,
rumah peristirahatan pedesaan M. Edouard
Breon itu diserbu sang countess yang gelisah.
Lady Rustonbury wanita yang penuh tekad kalau
sudah memutuskan sesuatu, dan tak pelak lagi
M. Breon menyadari bahwa tak ada jalan lain
kecuali mengalah. Sebagai orang yang berasal
dari kalangan rendahan, ia telah meniti karier
sampai ke puncak, dan bergaul akrab dengan
para duke maupun pangeran. Fakta ini selalu
memberinya kepuasan. Namun sejak pensiun
dan mengundurkan diri ke tempat kuno Inggris
ini, ia merasa tidak bahagia. Ia kehilangan gaya
hidup yang penuh sanjungan dan aplaus, dan
menurut pendapatnya, wilayah Inggris tidak
langsung mengenalinya seperti seharusnya.
Karena itu ia sangat tersanjung dan bahagia
oleh ajakan Lady Rustonbury.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin," ujarnya
tersenyum. "Seperti Anda ketahui, sudah lama

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


saya tidak bernyanyi di depan umum. Saya
bahkan tidak punya murid-murid, kecuali satu-
dua orang untuk kesenangan saja. Namun
berhubung Signor Roscari sayang sekali
berhalangan..."
"Ini pukulan yang amat keras," sela Lady
Rustonbury.
"Tapi sebenarnya dia bukan penyanyi sejati,"
ujar Breon.
Akhirnya ia menjelaskan mengapa bisa begitu.
Sepertinya tidak ada lagi penyanyi bariton yang
berkelas sejak Edouard Breon pensiun.
"Madame Nazarkoff akan menyanyikan Tosca, "
ujar Lady Rustonbury. "Saya yakin Anda
mengenalnya?"
"Saya belum pernah bertemu dengannya," ujar
Breon. "Saya pernah satu kali mendengarnya
menyanyi di New York. Seniwati hebat-dia
memiliki bakat drama."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Lady Rustonbury merasa lega-orang tidak
pernah bisa menduga perangai para penyanyi
ini-mereka memiliki kecemburuan dan antipati
yang begitu aneh.
Dua puluh menit kemudian, ia memasuki
kembali ruang depan kastilnya sambil
melambaikan tangan penuh kemenangan.
"Sudah kudapat dia," serunya sambil tertawa.
"M. Breon yang baik itu benar-benar sangat
baik, aku takkan pernah melupakannya."
Semua orang berkerumun di sekitar orang
Prancis itu, dan baginya, rasa terima kasih dan
penghargaan mereka bagaikan dupa yang
membubung. Edouard Breon, meskipun sudah
hampir berusia enam puluh tahun, masih
tampak tampan, tinggi besar, dan berkulit
gelap, dengan kepribadian amat menarik.
"Sebentar," ujar Lady Rustonbury. "Di mana
Madame? Oh! Itu dia."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Paula Nazarkoff tidak turut menyambut laki-laki
Prancis itu. Ia tetap duduk diam di kursi kayu ek,
di kegelapan dekat perapian. Di dalamnya
sudah tentu tak ada api, sebab malam itu
hangat, dan penyanyi sopran itu sedang
mengipasi diri perlahan-lahan dengan kipas
daun palem yang besar. Ia tampak begitu
menyendiri dan terpisah, hingga Lady
Rustonbury khawatir ia sedang tersinggung.
"M. Breon." Ia mengajak penyanyi bariton itu
menghampiri Paula. "Anda berkata belum
pernah berjumpa dengan Madame Nazarkoff."
Dengan lambaian terakhir yang nyaris gemulai,
Paula Nazarkoff meletakkan kipas, dan
mengulurkan tangannya pada orang Prancis itu.
Pria itu menyambut tangannya, lalu
membungkuk dalam-dalam, dan sang
primadona menghela napas lembut.
"Madame," ujar Breon, "kita belum pernah
menyanyi bersama-sama. Itu akibat umur saya!

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Namun Nasib sudah berbaik hati dan datang
menyelamatkan saya." Paula tertawa lembut.
"Anda terlalu baik, M. Breon. Ketika saya baru
jadi penyanyi kecil yang tidak terkenal, saya
pernah duduk di bawah kaki Anda. Peran
Rigoletto Anda-betapa berseni, betapa
sempurna! Tidak ada yang bisa menyamai
Anda."
"Aah!" ujar Breon, pura-pura menghela napas.
"Masa jaya saya sudah berakhir. Scarpia,
Rigoletto, Radames, Sharpless, sudah berapa
kali saya menyanyikan semua itu, dan
sekarang... tidak lagi!"
"Ya-malam nanti."
"Benar, Madame-saya lupa. Malam nanti."
"Anda sudah sering menyanyi bersama para
'Tosca' lain," ujar Nazarkoff arogan. "Tapi belum
pernah dengan
saya!"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Laki-laki Prancis itu membungkuk.
"Ini akan menjadi kehormatan bagi saya,"
ujarnya lembut. "Ini bagian yang sangat bagus,
Madame."
"Bagian yang bukan saja membutuhkan seorang
penyanyi, tapi seorang aktris," Lady Rustonbury
menimpali.
"Benar," Breon setuju. "Saya teringat, ketika
saya masih muda di Itali, saya mengunjungi
sebuah teater kecil di Milan. Saya hanya
mengeluarkan beberapa lira untuk tempat
duduk saya, tapi malam itu saya mendengar
nyanyian yang sama merdunya dengan yang
saya dengar di Metropolitan Opera House di
New York. Seorang gadis belia menyanyikan
Tosca, dan dia menyanyi bagaikan malaikat.
Saya takkan pernah melupakan suaranya saat
membawakan Vissi D'Arte, sangat bening dan
murni. Namun kekuatan dramatisnya tidak
ada."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Nazarkoff mengangguk.
"Itu akan terdengar kemudian," ujarnya tenang.
"Betul. Gadis muda ini-namanya Bianca Capelli-
saya tertarik dengan kariernya. Melalui saya, dia
memperoleh peluang mendapatkan kontrak-
kontrak penting. Tapi dia bodoh-amat sangat
bodoh." Breon angkat bahu. "Bodoh
bagaimana?"
Yang mengatakan ini adalah Blanche Amery,
putri Lady Rustonbury yang berusia dua puluh
empat tahun. Gadis ramping dengan mata biru
lebar.
Dengan sopan pria Prancis itu langsung
menoleh padanya.
"Aah! Mademoiselle, dia melibatkan diri dengan
laki-laki rendahan, seorang bandit, anggota
kelompok Camorra. Dia berurusan dengan
polisi, dan dijatuhi hukuman mati. Gadis itu
datang pada saya, memohon agar saya
menolong kekasihnya."

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Blanche Amery menatap Breon dengan mata
terbelalak.
"Dan Anda melakukannya?" ia bertanya sambil
menahan napas.
"Saya, Mademoiselle, apa yang bisa saya
lakukan? Saya orang asing di negeri itu."
"Barangkali Anda punya pengaruh?" pancing
Nazarkoff dengan suara lirih bergetar.
"Seandainya saya punya, saya ragu apakah saya
mau menggunakannya. Laki-laki itu tidak pantas
menerimanya. Saya berbuat sebisanya untuk
gadis itu."
Ia tersenyum tipis, dan tiba-tiba gadis Inggris itu
sadar bahwa senyuman itu terasa agak janggal.
Saat itu ia merasa kata-katanya tidak cukup
mewakili jalan pikirannya.
"Anda berbuat sebisanya," ujar Nazarkoff.
"Anda baik sekali, dan gadis itu tentunya
berterima kasih, bukan?"

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Pria Prancis itu angkat bahu.
"Laki-laki itu dieksekusi," ucapnya, "dan gadis
itu masuk biara. Eh, voila! Dunia telah
kehilangan seorang penyanyi."
Nazarkoff tertawa kecil.
"Kami orang Rusia lebih plin-plan," ujarnya
ringan.
Blanche Amery kebetulan sedang
memerhatikan Cowan ketika penyanyi sopran
itu berbicara, dan ia melihat pandangan terkejut
sesaat. Bibir Cowan setengah terbuka,
kemudian terkatup rapat kembali setelah
mendapat tatapan tajam dari Paula.
Kepala pelayan muncul di pintu.
"Makan malam," kata Lady Rustonbury sambil
bangkit berdiri. "Orang-orang malang, saya
kasihan pada kalian. Pasti tidak enak karena
kalian terpaksa kelaparan sebelum menyanyi.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Tapi sesudah itu akan ada makan malam yang
sangat lezat."
"Kami sangat mengharapkannya," ujar Paula
Nazarkoff. Ia tertawa lembut. "Sesudah itu!"

III

Di dalam teater, babak pertama Tosca baru saja


berakhir. Para penonton saling berbicara. Para
bangsawan, memukau dan anggun, menempati
tiga kursi beludru di baris terdepan. Semua
orang asyik berbisik dan bergumam. Semua
orang merasa bahwa di bagian pertama,
Nazarkoff belum berperan sesuai reputasinya.
Sebagian besar penonton tidak menyadari
bahwa justru di sinilah sang penyanyi
menunjukkan jiwa seninya. Di babak pertama

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


itu ia menghemat suara maupun dirinya sendiri.
Ia menjadikan La Tosca tokoh yang remeh dan
sembrono, bermain-main dengan cinta,
cemburu sekaligus genit dan menggairahkan.
Breon, meski suaranya sudah melewati masa
jayanya, masih mampu memerankan tokoh
yang luar biasa sebagai Scarpia yang sinis. Tak
ada sekelumit pun kesan jompo pada dirinya
dalam memainkan perannya. Ia membuat
Scarpia tokoh yang tampan dan nyaris lembut,
dengan setitik dendam yang bersembunyi di
balik penampilan luarnya. Dalam bagian
terakhir, diiringi alunan organ dan prosesi, saat
Scarpia tenggelam dalam pikirannya, senang
dengan rencananya untuk menguasai Tosca,
Breon memperlihatkan jiwa seni yang luar
biasa. Sekarang tirai diangkat memasuki babak
kedua, sebuah adegan di apartemen Scarpia.
Kali ini, waktu Tosca masuk, jiwa seni Nazarkoff
tiba-tiba tampak jelas. Inilah wanita yang
dicekam ketakutan dan sedang memainkan
perannya dengan kepiawaian aktris sejati.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Sapaannya yang ringan pada Scarpia, sikap
santainya, dan jawaban penuh senyum yang
diberikannya pada laki-laki itu! Dalam adegan
ini, Paula Nazarkoff berperan dengan matanya,
ia membawa diri dengan ketenangan mutlak,
dengan wajah tersenyum tanpa perasaan.
Hanya matanya yang terus mencuri pandang ke
arah Scarpia mengungkapkan perasaan
sesungguhnya. Kisah terus berlanjut sampai ke
adegan penyiksaan, runtuhnya ketenangan
Tosca, penyerahan total saat ia tersungkur di
kaki Scarpia, memohon belas kasihan dengan
sia-sia. Lord Leconmere, pakar penilai musik,
mengangguk kagum, dan seorang duta besar
asing di sampingnya berbisik,
"Malam ini Nazarkoff bahkan melampaui dirinya
sendiri. Tak ada wanita lain di panggung yang
mampu memainkan peran habis-habisan seperti
dia." Leconmere mengangguk.
Sekarang Scarpia menyebutkan syaratnya, dan
dengan ketakutan Tosca berlari ke jendela. Dari

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


jauh terdengar bunyi genderang, dan dengan
lemas Tosca mengempaskan dirinya ke atas
sofa. Scarpia yang sedang berdiri
mengawasinya, menyampaikan bagaimana
orang-orangnya mendirikan tiang gantungan-
kemudian hening, dan bunyi genderang kembali
terdengar dari kejauhan. Nazarkoff berbaring
telungkup di atas sofa, kepalanya terkulai nyaris
menyentuh lantai, tertutup rambutnya.
Kemudian, sangat kontras dengan gairah dan
tekanan dua puluh menit terakhir, suaranya
berkumandang, melengking dan jernih, suara
bocah paduan suara atau malaikat, seperti yang
tadi dijelaskannya pada Cowan.
" Vissi d 'arte, vissi d 'arte, no feci mai male ad
anima viva.
Con man furtiya quante miserie conobbi, aiutai.
"
Ini suara seorang anak bingung yang sedang
bertanya-tanya. Kemudian ia sekali lagi berlutut
dan memohon, sampai Spoletta masuk.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Kehabisan tenaga, Tosca menyerah, dan Scarpia
mengutarakan kata-katanya yang menentukan
dan bermakna ganda. Poletta mengundurkan
diri. Kemudian tibalah saat yang dramatis,
ketika Tosca, sambil mengangkat segelas anggur
dengan tangan gemetar, melihat pisau di meja,
lalu menyembunyikannya di balik punggungnya.
Breon berdiri tegak, tampan, pendiam, dan
terbakar gairah. "Tosca, finalmente mia!" Pisau
menyambar bagaikan kilat, dan Tosca mendesis
penuh dendam,
"Questo e il bacio di Tosca!" ("Seperti inilah
Tosca mencium.")
Belum pernah Nazarkoff menunjukkan apresiasi
setinggi ini atas adegan pembalasan dendam
Tosca. Bisikan garang terakhir "Muori dannato,
" yang disusul suara tenang sekaligus aneh yang
berkumandang memenuhi teater,
"Or gli perdono!" ("Sekarang aku
mengampuninya!")

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Lagu kematian mengalun lembut sementara
Tosca memulai upacaranya, meletakkan
sebatang lilin di kedua sisi kepala Scarpia, salib
di atas dadanya, menoleh untuk terakhir kali
sebelum lenyap di balik pintu, deru genderang
di kejauhan, dan tirai diturunkan.
Kali ini meledaklah antusiasme penonton, tapi
hanya sejenak. Seseorang bergegas keluar dari
samping panggung dan berbicara pada Lord
Rustonbury. Ia bangkit berdiri, dan sesudah
berunding sejenak, ia menoleh dan memberi
isyarat pada Sir Donald Calthrop, seorang
dokter terkenal. Hampir seketika itu juga berita
itu menyebar di antara hadirin. Sesuatu telah
terjadi, kecelakaan, dan ada yang terluka parah.
Salah seorang penyanyi muncul di depan tirai
dan menjelaskan bahwa sayang sekali M. Breon
mendapat kecelakaan-jadi operanya tidak bisa
dilanjutkan. Sekali lagi kabar burung itu
menyebar, Breon telah ditikam, Nazarkoff
kehilangan akal sehatnya, ia begitu menjiwai
perannya hingga ia benar-benar menikam pria

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


lawan mainnya. Lord Leconmere, yang sedang
berbincang dengan duta besar, temannya itu,
merasa ada yang menyentuh lengannya. Ia
menoleh dan melihat Blanche Amery di
sampingnya.
"Ini bukan kecelakaan," ujar gadis itu. "Saya
yakin ini bukan kecelakaan. Tidakkah Anda
mendengar, tepat sebelum makan malam, kisah
yang diceritakan Breon tentang gadis Itali itu?
Gadis itu Paula Nazarkoff. Setelah itu dia
menyebut-nyebut tentang dirinya sebagai orang
Rusia, dan saya melihat Mr. Cowan terkejut. Dia
mungkin saja menggunakan nama Rusia, tapi
Mr. Cowan tahu sebenarnya Madame Nazarkoff
orang Itali."
"Blanche, sayangku," ujar Lord Leconmere.
"Saya yakin itu. Di kamar tidurnya ada koran
yang terbuka di halaman yang menunjukkan M.
Breon di rumah pedesaan Inggris miliknya.
Madame Nazarkoff sudah tahu sebelum dia
datang kemari. Saya percaya dia memberikan

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


sesuatu kepada pria Itali yang malang itu agar
dia sakit."
"Tapi mengapa?" seru Lord Leconmere.
"Mengapa?"
"Apa Anda tidak memahaminya? Kisah Tosca
terulang kembali. Breon menginginkan gadis itu
di Itali, tapi gadis itu setia pada kekasihnya, dan
dia datang pada Breon dan memintanya
menyelamatkan kekasihnya itu. Breon berpura-
pura menyanggupi, tapi ternyata dia
membiarkan kekasih gadis itu mati. Dan
sekarang saat untuk membalas dendam telah
tiba. Tidakkah Anda mendengar cara dia
mendesis 'Akulah Tosca'? Dan saya melihat
wajah Breon saat Madame Nazarkoff
mengucapkannya, saat itulah dia tahu-Breon
mengenalinya!"
Di kamar gantinya, Paula Nazarkoff duduk tak
bergerak, terbungkus mantel bulu putih.
Terdengar ketukan di pintunya.

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


"Silakan masuk," kata sang primadona. Elise
masuk. Ia menangis terisak-isak. "Madame,
Madame, pria itu mati! Dan..."
"Ya?"
"Madame, bagaimana saya harus
mengatakannya? Ada dua polisi di luar. Mereka
ingin bicara pada Anda." Paula Nazarkoff berdiri
tegak.
"Aku akan pergi menemui mereka," sahutnya
tenang.
Ia menanggalkan seuntai kalung mutiara dari
lehernya, dan meletakkannya di tangan gadis
Prancis itu.
"Kalung ini untukmu, Elise, kau gadis baik. Di
tempat yang akan kutuju, aku tidak
membutuhkannya lagi. Kau mengerti, Elise? Aku
takkan pernah menyanyikan Tosca lagi. "
Ia berdiri sesaat di pintu, matanya menyapu isi
kamar ganti itu, seakan menoleh ke belakang,

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


menatap kariernya sepanjang tiga puluh tahun
terakhir.
Kemudian ia bergumam lirih, mengucapkan
baris terakhir sebuah opera lain, "La commedia
e finita!"

Sumber buku: I-
Scan, Konversi, Edit, Spell & Grammar Check:
clickers
http://facebook.com/DuniaAbuKeisel
http://facebook.com/epub.lover
http://epublover.wordpress.com

Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi