Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN OSTEOARTRITIS

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok Bahasan : Osteoartritis
Tema : Latihan Fisik pada Osteoartritis
Sasaran : Ny.A dan Keluarga
Hari/Tanggal : Jum’at, 01 Januari 2014
Jam : 14.00 WIB
Waktu : 50 menit
Tempat : Rumah Ny.A

A. LATAR BELAKANG
Osteoartritis lutut adalah gangguan muskuloskeletal yang paling umum terjadi di
masyarakat yang mempengaruhi 30-40% dari populasi pada usia 65 tahun. Satu dari
empat pasien berusia lebih dari 55 tahun telah mengeluh nyeri lutut, dan pada usia 65
tahun, 30% laki-laki dan 40% wanita memiliki kelainan radiograpi lutut. Sekitar 56,75
pasien di klinik rawat jalan Reumatologi Departemen, di RSCM telah didiagnosa
dengan salah satu varian OA. Pada pasien OA lutut, ada beberapa perubahan, tidak
hanya dalam jaringan intracapsular tetapi juga dalam periarticular jaringan seperti
ligamen, kapsul sendi, tendon, dan otot. Individu dengan OA lutut juga dikenal dengan
gangguan proprioseptif dibandingkan dengan individu normal pada usia yang sama,
dan berdasarkan histologi fitur jaringan ligamen ada penurunan yang signifikandari
mechanoreceptor. OA lutut juga berhubungan dengan 50-60% pengurangan dalam
kekuatan quadriceps yang mungkin disebabkan oleh tidak digunakan atrofi dan
inhibition artrogenic. (Tri Juli Edi Tarigan,dkk,2009. The Degree of Radiographic
Abnormalities and Postural Instability in Patients with Knee Osteoarthritis, Acta Med
Indones-Indones J Intern Med. Vol 41 , Number 1,January 2009)
Osteoartritis ditemukan oleh American College of Rheumatology sebagai
sekelompok kondisi heterogen yang mengarah kepada tanda dan gejala sendi.
Osteoarthritis merupakan penyakit degeneratif dan progresif yang mengenai dua per
tiga orang yang berumur lebih dari 65 tahun, dengan prevalensi 60,5% pada pria dan
70,5% pada wanita. Di seluruh dunia, osteoartritis (OA) diperkirakan menjadi
penyebab utama keempat kecacatan. Osteoartritis terjadi pada lebih dari 27 juta
penduduk amerika (Helmick et al, 2008). Di Inggris dan Wales sekitar 1,3 hingga 1,75
juta orang menderita simptom osteoartritis. Di Amerika, 1 dari 7 penduduk menderita
osteoartritis. Dimana, Badan Kesehatan Dunia (WHO), penduduk yang mengalami
Osteoartritis tercatat 8,1% dari penduduk total. Pravelansi mencapai 5% pada usia <40
tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia 61 tahun.
Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini ditandai
oleh adanya abrasi rawan sendi dan adanya pembentukantulang baru yang irreguler
pada permukaan persendian. Nyeri menjadi gejala utama terbesar pada sendi yang
mengalami osteoarthritis. Rasa nyeri diakibatkan setelah melakukan aktivitas dengan
penggunaan sendi dan rasa nyeri dapat diringankan dengan istirahat. Trauma dan
obesitas dapat meningkatkan resiko osteoarthritis. Namun penyeban maupun
pengobatannya belum sepenuhnya diketahui. (Angela Sarah S,dkk.2013.Pengaruh
Berat Badan Terhadap Gaya Gesek Dan Timbulnya Osteoarthritis Pada Orang Diatas
45 Tahun. Jurnal e-Biomedik,Vol 1, No 1, Maret 2013)

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan selama 50 menit diharapkan Ny.A dapat
mengetahui tentang osteoarthritis, pencegahan dan cara mengatasinya di
rumah.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan, Ny.A mampu:
a) Ny.A dapat menyebutkan pengertian osteoartritis
b) Ny.A dapat menyebutkan penyebab osteoartritis
c) Ny.A dapat menyebutkan tanda dan gejala osteoarthritis
d) Ny.A dapat menyebutkan cara pencegahan pada osteoartritis
e) Ny.A dapat menyebutkan dan mempraktekan cara latihan fisik dirumah

C. MATERI
Terlampir
D. METODE
1. Ceramah
2. Simulasi
3. Tanya jawab
E. MEDIA
1. Leaflet
2. Alat peraga (latihan fisik: matras atau kasur)

F. KEGIATAN PENYULUHAN
KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN
No. WAKTU PESERTA
1. 5 Menit Pembukaan : Menjawab salam
1. Membuka kegiatan
dengan mengucapkan Mendengarkan
salam
2. Memperkenalkan diri Memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan Memperhatikan
4. Menyebutkan materi
yang akan diberikan
2. 30 menit Pelaksanaan :
1. Menjelaskan tentang :
a. Pengertian
Osteoartritis
b. Penyebab
Osteoartritis
c. Manifistasi klinis
Osteoartritis
d. Pencegahan
Osteoartritis
2. Memberi kesempatan
kepada peserta untuk
bertanya
3. Menjelaskan dan
mendemonstrasikan
latihan fisik pada
osteoartritis
4. Memberi kesempatan
kepada peserta untuk
bertanya dan
mempraktekan perawatan
osteoarthritis
3 10 menit Evaluasi :
Menanyakan kepada peserta
tentang materi yang telah
diberikan, dan reinforcement
kepada pengunjung yang dapat
menjawab pertanyaan.
4 5 menit Terminasi :
1. Mengucapkan terima
kasih atas peran serta
peserta.
2. Mengucapkan salam
penutup

G. EVALUASI
Metode evaluasi : Diskusi tanya jawab
Jenis pertanyaan : Lisan
Jumlah soal : 3 soal
LAMPIRAN MATERI
OSTEOARTRITIS
A. Definisi
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis
(sekalipun terdapat inflamasi ) merupakan kelainan sendi yang paling sering
ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer , C
Suzanne, 2002 hal 1087)
Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang
menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia, penyakit
ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering dijumpai pada usia
di atas 60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan
frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).
Sedangkan menurut Harry Isbagio & A. Zainal Efendi (1995) osteoartritis
merupakan kelainan sendi non inflamasi yang mengenai sendi yang dapat digerakkan,
terutama sendi penumpu badan, dengan gambaran patologis yang karakteristik berupa
buruknya tulang rawan sendi serta terbentuknya tulang-tulang baru pada sub kondrial
dan tepi-tepi tulang yang membentuk sendi, sebagai hasil akhir terjadi perubahan
biokimia, metabolisme, fisiologis dan patologis secara serentak pada jaringan hialin
rawan, jaringan subkondrial dan jaringan tulang yang membentuk persendian.( R.
Boedhi Darmojo & Martono Hadi ,1999)

B. Klasifikasi
Osteoartritis diklasifikasikan menjadi :
a. Tipe primer ( idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya yang
berhubungan dengan osteoarthritis
b. Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur
(Long, C Barbara, 1996 hal 336)

C. Penyebab

Beberapa penyebab dan faktor predisposisi adalah sebagai berikut:

1. Umur
Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan
bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan
endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2. Pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan
sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena
bahan yang harus dikandungnya.
3. Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat
badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis
mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif dan dapat menambah
kegemukan.
4. Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma
yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi
tersebut.
5. Keturunan
Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang
biasanya ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena osteoartritis,
sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena.
6. Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan
reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh
membran sinovial dan sel-sel radang.
7. Joint Mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, maka rawan
sendi akan membal dan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil/seimbang
sehingga mempercepat proses degenerasi.
8. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan
yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik
rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit.
Pada diabetes melitus, glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan
menurun.
9. Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat
mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal
monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.

D. Gambaran Klinis

1. Rasa nyeri pada sendi


Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah
apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.

2. Kekakuan dan keterbatasan gerak


Biasanya akan berlangsung 15 – 30 menit dan timbul setelah istirahat
atau saat memulai kegiatan fisik.

3. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam
ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi
yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.

4. Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama
dan akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan
keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat.
Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar,
misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong
sebelah lateril, dan tungkai atas.
Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat
diketahui penyebabnya.

5. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena
pengumpulan cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya
pemerahan.
6. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.

7. Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi

E. Penatalaksanaan

a. Tindakan preventif
 Penurunan berat badan
 Pencegahan cedera
 Screening sendi paha
 Pendekatan ergonomik untuk memodifikasi stres akibat kerja
 Menghindari setiap faktor resiko osteoartritis, seperti mencegah
obesitas /
 kegemukan
 Berdiri, berjalan, mengangkat barang harus pada posisi yang benar
 Berhati-hati agar terhindar dari berbagai kecelakaan yang dapat
 mengakibatkan sendi rusak
 Berolah raga harus dengan cara yang benar, sesuai petunjuk
 Olah raga yang tepat (termasuk peregangan dan penguatan) sebetulnya
dapat membantu mempertahankan kesehatan tulang rawan,
meningkatkan daya gerak sendi, dan kekuatan otot-otot di sekitarnya,
sehingga otot dapat menyerap benturan dengan lebih baik.
 Dianjurkan pula untuk menggunakan kursi dengan sandaran keras,
kasur yang
 tidak terlalu lembek, dan tempat tidur yang dialas dengan papan.
 Menjaga nutrisi agar selalu baik dan seimbang, agar pertumbuhan
sendi dan tulang rawan sempurna dan normal
 Menjaga berat badan agar ideal
b. Farmakologi : obat NSAID bila nyeri muncul
c. Irigasi tidal ( pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen
artroscopik,
d. Pembedahan; artroplasti
e. Terapi konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi,
latihan gerak sendi
LATIHAN FISIK OSTEOARTRITIS
Hal yang harus diperhatikan dalam mendesain program latihan fisik
untuk osteoartritis adalah memahami masalah fungsional yang paling
menggangu pasien. Pada tahap awal program diarahkan pada latihan untuk
mengatasi keluhan yang menimbulkan masalah fungsional seperti nyeri,
keterbatasan ruang gerak sendi, atau kelemahan otot. Latihan fisik disesauikan
dengan kondisi pasien. Apabila ada gejala-gejala seperti nyeri sendi selama
aktivitas, nyeri masih terasa 1-2 jam sesudah latihan, bengkak dan rasa lelah
yang berlebihan, program latihan harus dievaluasi lagi (American geriatric
society,2001:810). Tujuan latihan fisik yaitu memperbaiki fungsi sendi,
proteksi sendi dari kerusakan dengan mengurangi stres pada sendi,
meningkatkan kekuatan sendi, mencegah disabilitas, mengurangi nyeri dan
meningkatkan kebugaran jasmani.

JENIS LATIHAN FISIK


A. Terapi Manual
Terapi manual adalah gerakan pasif yang dilakukan oleh fisioterapis
dengan tujuan meningkatkan gerakan sendi dan mengurangi kekakuan sendi.
Teknik yang dipakai adalah melatih ROM secara pasif, melatih jaringan-
jaringan sekitar sendi secara pasif, meregangkan otot atau mobilisasi jaringan
lunak, dan massage (Fitzgerald,2004:143)
B. Latihan Fleksibilitas (ROM)
Mobilitas sendi sangat penting untuk memaksimalkan ruang gerak
sendi, meningkatkan kinerja otot, mengurangi cidera dan memperbaii nutrisi
kartilago. Latihan fleksibilitas yang dilakukan pada latihan fisik tahap pertama
dapat bmeningkatkan panjang dan elastisitas otot dan jaringan sekitar sendi.
Untuk pasien osteoartritis, latihan fleksibiitas ditujuakan untuk mengurangi
kekakuan, meningkatkan mobilitas sendi, dan mencegah kontraktur jaringan
lunak latihan fleksibilitas sering dilakukan selama periode pemanasan atau
tergabung dalam latihan ketahanan atau aktivitas aerobik (Lee dkk2005:11).
Teknik peregangan dilakukan untuk memperbaiki ruang gerak sendi.
Latihan peregangan ini dilakukan dengan menggunakan otot-otot, sendi-sendi,
dan jaringan sekitar sendi. Semua gerakan sebaiknya menjangkau ruang gerak
sendi yang tidak menimbulkan rasa nyeri aplikasi terapi panas sebelum
peregangan dapat mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan gerakan.
Latihan fleksibilitas dapat dimulai dari latihan peregangan tiap
kelompok otot, setidaknya tiga kali seminggu. Apabila sudah terbiasa, latihan
ditingkatkan repetisinya per kelompok otot secara bertahap. Latihan harus
melibatkan kelompok otot dan tendon utama pada ekstremitas atas dan bawah
(American society geriatrics, 2001:815).

C. Latihan Kekuatan
Latihan kekuatan mempunyai efek yang sama dengan latihan aerobik
dalam memperbaiki disabilitas, nyeri dan kinerja. Latihan kekuatan ada tiga
macam, yaitu: latihan isometrik, latihan isotonik, dan isokinetik yang
ketiganya dapat mengurangi nyeri dan disabilitas serta memperbaiki kecepatan
berjalan pada pasien osteoartritis.
Latihan isotonik memberikan perbaikan lebih besar dalam
menghilangkan nyeri. Latihan ini dianjurkan untuk latihan kekuatan awal pada
pasien OA dengan nyeri lutut saat latihan. Latihan isokinetik menghasilkan
peningkatan kecepatan berjalan paling besar dan pengurangan disabilitas
sesudah terapi dan saat evaluasi, sehingga latihan ini disarankan untuk
memperbaiki stabilitas sendi atau ketahanan berjalan (Lee dkk,2005:12).
Latihan isometrik diindikasikan apabila sendi mengalami peradangan
akut atau sendi tidak stabil. Kontraksi isometrik memberikan tekanan ringan
pada sendi dan ditoleransikan baik oleh penderita osteoatritis dengan
pembengkakan dan nyeri sendi latihan ini dapat memperbaiki kekuatan otot da
ketahanan ststis (static endurance) dengan cara menyiapkan sendi untuk
gerakan yang lebih dinamis dan merupakan titik awal program penguatan.
Peningkatan kekuatan terjadi saat kontraksi isometrik dikenakan pada otot
saat panjang otot sama dengan kondisi istirahat. Perbaikan kekuatan terutama
pada sudut otot yang dilatih apabila instabilitas sendi dan nyeri berkurang
program latihan secara bertahap diubah kelatihan yang dinamis (isotonik).
Latihan kekuatan isometrik harus memperhatikan tipe
latihan,intensitas, volume,dan frekuensi. Latihan sebaiknya melibatkan
kelompok otot utama. Kontraksi isometrik dimulai pada intensitas rendah.
Untuk menetapkan intensitas latihan,diberitahukan pada pasien untuk
memaksimalkan kontraksi otot yang menjadi target penguatan. Intensitas
latihan dimulai sekitar 30% usaha maksimal(maximal effort). Jika bisa
ditoleransi oleh pasien intensitas ditingkatkan secara bertahap sampai 75%
kontraksi maksimal.
Kontraksi dipertahankan tidak lebih dari enam detik. Pada awalnya
satu kontraksi untuk tiap kelompok otot, kemudian jumlah pengulangan
ditingkatkan 8-10, sesuai toleransi pasien.
Pasien diinstuksikan untuk bernapas selama masing-masing kontraksi.
Jarak antar kontraksi dianjurkan 20 detik.latihan dilakukan dua kali sehari
pada periode peradanagan akut. Selanjutnya jumlah latihan secara bertahap
ditingkatkan menjadi 5-10 kali per hari, disesuaikan dengan kondisi pasien.
Hal yang harus diperhatikan adalah adanya resiko peningkatan tekanan darah
bial kontraksi dilakukan lebih dari 10 detik.
Kontraksi isotonik digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Latihan
kekutan isotonik memperlihatkan efek positif pada metabolisme energi kerja
insulin, kepadatan tulang dan status fungsional pada orang sehat. Jika tidak
terdapat peradangan akut maupun instabilitas sendi, bentuk latihan ini
ditoleransi baik oleh pasien osteoatritis (American geriatics society,2001:817)
DAFTAR PUSTAKA
Americans geriatrics society.2001. Exercise prescipition for older adults with
osteoartritis pain: consensusu practice recommendation. JAGS;49:808-23
Angela Sarah S,dkk.2013.Pengaruh Berat Badan Terhadap Gaya Gesek Dan
Timbulnya Osteoarthritis Pada Orang Diatas 45 Tahun. Jurnal e-
Biomedik,Vol 1, No 1, Maret 2013
Depkes, RI (1995), Penerapan Proses Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Maskuloskeletal, Jakarta, Pusdiknakes
Dita Arundhati, Dkk. 2013. Pengaruh Senam Tai Chi Dan Senam Biasa Terhadap
Reduksi Nyeri Osteoartritis Lutut Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha
“Gau Mabaji” Gowa Tahun 2013. Jurnal Masyarakat Epidemiologi Indonesia,
Volume 2, Nomor 2, Januari- Juni 2014
Fitzgerald, G.K.2004. Role of physical therapy in management of knee osteoarthritis.
Cur Opin Rhematol; 16:143-7
Lee, A., Wong, W., & Wong, S.2005. Clinical guidelines for managing lower-limb
osteoarthritis in Hongkong primary care setting, Guidlines:1-30
Long C Barbara, Perawatan Medikal Bedah (Suatu pendekatan proses Keperawatan),
Yayasan Ikatan alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, Bandung, 1996
Price, S.A. R. Wilson CL (1991), Pathophisiology Clinical Concept of Disease
Process, Alih Bahasa Adji Dharma (1995), Patofisiologi Konsep Klinik
Proses-Proses Penyakit, Jakarta, EGC

Rachmah L,Peran Latihan Fisik Dalam Manajemen Terpadu Osteoartritis. FIK


UNY. Yogyakarta, diakses pada 25 desember 2013, filetype:pdf

Smeltzer C. Suzannne, (2002 ), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa
Andry Hartono, dkk., Jakarta, EGC.

Soeparman (1995), Ilmu Penyakit Dalam, Edisi Kedua, Jakarta, Balai Penerbit FKUI.

Tri Juli Edi Tarigan,dkk,2009. The Degree of Radiographic Abnormalities and


Postural Instability in Patients with Knee Osteoarthritis, Acta Med Indones-
Indones J Intern Med. Vol 41 , Number 1,January 2009
Van baar.1999. Effectiveness of exercise therapy in patiens with osteoarthritis of the
hip or knee: a systematic review of randomized controlled study. Accupunct
Med; 22:14-22
Yohanita P.2010. Pengaruh Latihan Gerak Kaki (Streching) Terhadap Penururnan
Nyeri Sendi Ekstremitas Bawah Pada Lansia Di Posyandu Lansia Sejahtera
GBI SETIA BAKTI KEDIRI. Jurnal STIKES RS. Baptis Volume 3, Edisi 1,
Juli 2010
Diposkan oleh PSIK STIKes Mahardika di 07.2