Anda di halaman 1dari 17

Kasus

Seorang apoteker yang mempunyai IOT akan melakukan uji klinik fase 1 produk kapsul
ekstrak etanol kunyit putih sebagai supportif antikanker.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker adalah proses pertumbuhan sel yang tidak terkontrol yang diikuti oleh
invasi sel ke jaringan disekitarnya serta penyebaran (metastasis) ke bagian tubuh lain. Sifat
utama sel kanker adalah proliferasi terus menerus sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan antara sel hidup dengan sel mati (Parton et al, 2001). Data
GLOBOCAN, International Agency for Research on Cancer (IARC) diketahui bahwa pada
tahun 2012 terdapat 14.067.894 kasus baru kanker dan 8.201.575 kematian akibat kanker
di seluruh dunia. Penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya antara lain
disebabkan oleh kanker paru, hati, perut, kolorektal, dan kanker payudara. Berdasarkan
Data GLOBOCAN, International Agency for Research on Cancer (IARC), diketahui
bahwa pada tahun 2012 terdapat 14.067.894 kasus baru kanker dan 8.201.575 kematian
akibat kanker di seluruh dunia. (Anonim, 2015).
Oleh karena itu, diperlukan pengobatan yang tepat untuk meningkatkan kualitas
hidup penderita kanker. Pengobatan kanker pada umumnya didasarkan pada upaya
pengambilan jaringan kanker atau dengan mematikan sel kanker dan meminimalkan efek
pengobatan terhadap sel normal disekitarnya. Saat ini pengambilan kanker yang paling
utama adalah operasi, radioterapi dan kemoterapi, namun ketiga jenis pengobatan tersebut
memiliki kekurangan. Operasi akan berhasil pada beberapa tumor yang telah berkembang,
tetapi sulit mengobati pada stadium awal metastasis. Pengobatan dengan radiasi mampu
membunuh tumor lokal namun radiasi juga akan membunuh sel normal disekitarnya.
(Mathivadani, 2007).
Dewasa ini penggunaan bahan alami sebagai obat untuk mengendalikan kanker
banyak dikembangkan, karena bahan alami dianggap tidak memiliki efek samping yang
membahayakan apabila dibandingkan dengan kemoterapi yang memiliki toksisitas dan
efek samping tinggi. Penelitian dan penemuan senyawa alami sebagai obat antikanker
telah banyak dilakukan. Demikian pula penelitian tentang penggunaan senyawa bahan
alami sebagai terapi kombinasi yang bersifat kemopreventif juga telah berkembang,
namun 9 sampai saat ini belum ditemukan obat yang benar-benar efektif terhadap kanker
(Mathivadani, 2007; Hantz, H.L ,2005).
Famili tumbuhan Zingiberaceae tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terdiri
dari 47 genus dan sekitar 1000 spesies. Beberapa spesies tumbuhan dari famili ini banyak
digunakan dan terdapat dalam semua ramuan obat tradisionil, seperti jamu. Tumbuhan ini
selain sebagai rempah-rempah juga digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit,
seperti deman, diare, menstruasi tidak teratur, tuberkolusis, radang gusi, penyakit kulit,
radang hati, tumor, malaria, maupun gatal-gatal (Dalimarta, 2003).
Kunyit Putih (Kaempferia rotunda L.), termasuk famili tumbuhan Zingiberaceae
yang banyak digunakan sebagai rempah-rempah. Beberapa khasiat yang dilaporkan antara
lain sebagai peluruh dahak, obat cacing, dan penambah nafsu makan. Pengujian secara in
vitro menunjukkan kunci pepet dapat meningkatkan jumlah limfosit, antibodi spesifik, dan
dapat membunuh sel kanker (Dalimarta, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh
Leardkamolkarnn V. 2009) terhadap ekstrak metanol Kaempferia parviflora menunjukkan
aktivitas sitotoksik yang tinggi terhadap human cholangiocarcinoma (HuCCA-1 and
RMCCA-1). Hasil penelusuran pustaka dan komunikasi langsung diketahui bahwa
ternyata ada 3 jenis tanaman obat yang secara umum dikenal sebagai kunir putih, yaitu
Curcuma zedoria, Curcuma magae, dan Kampferia rotunda. Bagian tanaman yang
dimanfaatkan adalah umbi/rimpang. Selain pengaruh utamanya sebagai anti kanker
rajangan rimpang dikeringkan, digunakan untuk merangsang keluarnya gas perut,
mengurangi rasa sakit waktu haid, serta ramuan kosmetika tradisional. Rimpang tanaman
ini dilaporkan memiliki potensi kuat sebagai anti asma. Sebagai obat luar digunakan untuk
mematangkan bisul dan memar, abunya yang masih hangat bersifat antiseptik. ()
Kunyit putih dapat diolah menjadi suatu bentuk sediaan Obat herbal tradisional, di
mana Obat Herbal Tradisional memiliki bukti dukung empiris (dalam hal ini Jamu), dapat
dikembangkan menjadi OHT ataupun fitofarmaka dengan dilengkapi bukti dari data
nonklinik dan data klinik (untuk fitofarmaka). OHT berasal dari jamu, oleh karenanya
harus memenuhi riwayat tradisionalnya dan didukung oleh adanya bukti empiris serta
dilengkapi dengan data nonklinik. Selanjutnya bila diinginkan dapat dikembangkan
menjadi fitofarmaka yang dilengkapi dengan data dari uji klinik. (PKBPOM, No 13 Tahun
2014)
Obat herbal yang akan diuji klinik memerlukan adanya data uji toksisitas dan
minimal diperlukan data LD50. Fase uji lengkap dalam rangka pembuktian khasiat produk
dimulai dari fase uji nonklinik hingga fase I, II, III dan IV pada manusia. Uji nonklinik
dan uji fase I, II, III dan IV pada manusia memiliki fungsi masing-masing yang harus
diperhatikan dan dipenuhi, karenanya harus dilaksanakan secara berurutan. Untuk itu perlu
diperhatikan data-data yang ada pada uji fase-fase sebelumnya. Sebelum suatu obat dapat
digunakan secara luas perlu dilakukan pengujian melalui berbagai tahap. Tahap-tahap uji
klinik yang harus dilalui oleh setiap obat atau intervensi salah satunya adalah uji klinik
fase I.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui klasifikasi dan morfologi tanaman kunyit putih (Kaempferia
rotunda L.)
2. Untuk mengetahui manfaat serta khasiat tanaman kunyit putih (Kaempferia rotunda
L.)
3. Untuk menambah ilmu mengenai dosis terapi penggunaan tanaman kunyit putih
(Kaempferia rotunda L.)
4. Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan uji klinik fase I, meliputi tahapan
apa saja yang dilakukan.

C. Manfaat
Dengan di buatnya makalah ini maka diharapkan mahasiswa nantinya dapat lebih
mengerti dan paham mengenai manfaat kunyit putih yang digunakan sebagai terapi paliatif
kanker dan bagaimana tahapan melakukan uji fase klinik I, khsususnya untuk sediaan ekstrak
etanol kayu putih (Kaempferia rotunda L.).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Patofisiologi kanker
Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak
terkendali. Sel kanker memiliki kemampuan untuk menyerang jaringan biologis
lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau
dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak
terkendali tersebut disebabkan adanya kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen
vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi dibutuhkan untuk
mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi tersebut dapat diakibatkan oleh agen
kimia maupun agen fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan
ataupun diwariskan (mutasi germline) (Kumar dan Robin, 1995).
Kanker disebabkan adanya genom abnormal, terjadi karena adanya kerusakan
gen yang mengatur pertumbuhan diferensiasi sel. Gen yang mengatur pertumbuhan dan
diferensiasi sel disebut protooncogen dan tumor suppressor genes, dan terdapat pada
semua kromosom dengan jumlah yang banyak. Protooncogen yang telah mengalami
perubahan hingga dapat menimbulkan kanker disebut onkogen. Suatu pertumbuhan
normal diatur oleh kelompok gen, yaitu growth promoting protooncogenes, growth
inhibiting cancer supresor genes (antioncogenes) dan gen yang berperan pada kematian
sel terprogram (apoptosis). Selain ketiga kelompok gen tersebut, terdapat juga kelompok
gen yang berperan pada DNA repair yang berpengaruh pada proliferasi sel.
Ketidakmampuan dalam memperbaiki DNA yang rusak menyebabkan terjadinya
mutasi pada genom dan menyebabkan terjadinya keganasan. Proses karsinogenesis
merupakan suatu proses multi tahapan dan terjadi baik secara fenotip dan genetik. Pada
tingkat molekuler, suatu progresi merupakan hasil dari sekumpulan lesi genetic
(Maramis, 2005)
B. Kunyit Putih (Kaempferia rotunda L.)
1. Klasifikasi Kunyit Putih (Kaempferia rotunda L.)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Subfamili : Zingiberoideae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia rotunda
Sinonim : Kaempferia longa Jacq.
2. Deskripsi tanaman
Nama daerah kunyit putih antara lain temu putrid, kunci pepet, temu pepet, koneng
bodas, konce pet, kunyit kunot, ardong. Bagian yang digunakan adalah rimpang.
Tanaman herba tinggi sampai 0,65 m. Batang berupa rimpang bercabang, pendek
sangat kuat, aromatik, berwarna putih kekuningan, batang semu kokoh, merah
kecoklatan minimal 25 cm. Umbi berbentuk bulat, akar tunggang sangat kecil, rasanya
wangi, cabang rhizome berbentuk kepala, mengandung banyak air. Daun kelihatan
menempel pada permukaan tanah, mirip kencur. Bunga terdiri dari beberapa kuntum
yang satu atau dua diantaranya mekar bersama. Kelompok bunga berwarna putih
dengan mahkota bergaris-garis, bau harum, rimpangnya pendek, menggerombol,
berbau aromatis. Akarnya berdaging membentuk umbi sebesar telur puyuh. Berikut
gambar tanaman kunyit putih (Kaempferia rotunda L.).

(a) (b)
Gambar 1. Gambar (a) menunjukkan tanaman kunyit putih, gambar (b) rimpang
kunyit putih (PMK No 6, 2016, BOPM, 2007)
3. Kandungan kimia :
Sebagai inhibitor COX 2, kurkumin yang terdapat dalam temu putih, mampu
menghambat produksi prostaglandin yang berperan dalam peningkatan proliferasi,
seperti yang terjadi pada kanker kolon maupun adenokarsinoma paru, sehingga dapat
menghambat proliferasi sel kanker (Plummer et al, 2001). Kurkumin juga diketahui
mampu menghambat aktivasi Protein Kinase C (PKC) yang berperan pada proses awal
pembelahan sel (Meiyanto, 1999). Senyawa diarilheptanoid dalam ekstrak etanol
rimpang temu putih mampu menekan proliferasi sel melalui mekanisme menginduksi
apoptosis (Surh, 1999), antara lain dengan memacu pengeluaran cytochrom c untuk
keluar menuju sitoplasma dan kemudian berikatan dengan protein Bax sehingga
selanjutnya terjadi aktivasi berantai terhadap caspase 9 dan caspsese 3 hingga apoptosis
terjadi (Meiyanto, 1999). Tanaman herbal ini mengandung senyawa kimia seperti
kurkuminoid, minyak atsiri, astringensia, flavonoid, sulfur, gum, resin, tepung, sedikit
lemak. Selain itu Curcuma zedoaria mengandung alkaloid, phenol, saponin, glikosida,
steroid, terpenoid. (Shirwaikarb A., 2009, Sumanthi, 2013)
Ribosom inaktif protein (RIP) yang terkandung dalam temu putih mampu
menonaktifkan perkembangan sel kanker, merontokkan sel-sel kanker tanpa merusak
sel-sel disekitanya, memblokir pertumbuhan sel kanker. Kurkumin, demetosikurkumin,
bisdemetoksi kurkumin dan zerumin B memberikan efek sitotoksik untuk mencegah
tumor dan menghambat pertumbuhan sel kanker pada manusia. (PMK No 06, 2016).
Gambar 2. Struktur Kimia Bahan Aktif Sebagai Antitumor
OH

Isocurcumenol (Lakshmi et al, 2011)


O

HO OH

O O

Kurkumin (Murwanti dkk., 2004)


4. Mekanisme Zat Aktif Sebagai Antitumor

Paparan
Sel
radiasi,
kimiawi dan
Mitocondria stress
virus

Pelepasan Sitokrom C

Apaf-1
Kurkumin
Sitoplasma

Caspase 9

Caspase 3

APOPTOSIS

Gambar 3. Mekanisme Kerja Zat Aktif Kaemferia rotunda L.

Kunyit putih mengandung kurkumin yang diketahui mampu menghambat aktifasi


Protein Kinase C (PKC) yang berperan pada proses awal pembelahan sel, selain itu
senyawa diarilheptanoid dalam ekstrak etanol rimpang dapat menginduksi apoptosis
dengan mengacu pengeluaran sitokrom C untuk keluar menuju sitoplasma dan kemudian
berikatan dengan protein Bax sehingga selanjutnya terjadi aktivasi berantai terhadap
caspase 9 dan caspase 3 hingga apoptosis terjadi (Murwanti dkk., 2004). Kandungan
isocurcumenol yang terdapat pada rimpang tumbuhan ini dapat digunakan sebagai
antitumor pada paru–paru, menghambat sel karsinoma nasofaring, sel leukemia, dan sel
limfoma (Syu et al, 1998; Lakshmi et al, 2011).

5. Manfaat
Tanaman kunyit putih dapat digunakan sebagai antimikroba, antifungal, antikanker,
antialergi, antioksidan, dan analgesik. Di China dan Jepang, tanaman ini digunakan secara
tradisional untuk mengatasi perut kembung, batuk, ganggguan menstruasi, dispepsia,
penghangat tubuh, demam, dan muntah. Sedangkan bagian rimpang dapat digunakan
sebagai ekspektoran, penawar rasa sakit, dan diuretik. (Shirwaikarb A., 2009, Sumanthi,
2013)

6. Aktivitas antikanker
Dilakukan penelitian tentang efek crotepoxide terhadap NF-kappaB-mediated
cellular response pada sel Ca human. Ditemukan bahwa crotepoxide mempotensiasi tumor
necrosis factor (TNF), dan apoptosis yang diinduksi obat kemoterapi serta menginhibisi
ekspresi NF-kappaB-regulated gene products yang melibatkan antiapoptosis (Bcl-2, Bcl-
xL, IAP1, MCl-1, survivin, dan TRAF1), apoptosis (Bax, Bid), inflamasi (COX-2),
proliferasi (cyclin D1 and c-myc), invasi (ICAM-1 and MMP-9), dan angiogenesis
(VEGF). Crotepoxide juga menginhibisi aktivasi inducible dan constitutive NF-kappaB.
Inhibisi NF-kappaB tidak inducerspecific, crotepoxide menginhibisi aktivasi NF-kappaB
yang diinduksi oleh TNF, phorbol 12-myristate 13-acetate, lipopolysaccharide, dan asap
rokok. Crotepoxide juga menginhibisi aktivasi TAK1, sehingga timbul supresi IkappaB
alpha kinase, penghentian fosforilasi dan degradasi IkappaB alpha, translokasi nuclear
p65, dan suppresi NF-kappaB-dependent reporter gene expression.
7. Kontraindikasi, Efek Samping, Toksisitas, Interaksi Obat Dan Dosis
Kontraindikasi
Temu putih tidak aman dikonsumsi oleh wanita hamil karena dapat menyebabkan
keguguran (Natural Medicine Comprehensive Database, 2009). Senyawa kurkumin
dapat menyebabkan peningkatan resorpsi embrio pascaimplantasi dan penurunan berat
badan fetus (Chen, 2012).
Efek Samping
Kurkumin penggunaan jangka panjang selama 24 bulan pada tikus putih menyebabkan
adenoma dan lymphoma. Kurkumin menyebabkan nausea dan dyspepsia. Temu putih
memiliki kandungan kimia senyawa kurkumin yang dapat menghambat proliferasi sel
kanker dan juga mempengaruhi sel normal (Lobo, 2009; Siswandono dan Sukardjo,
2000).
Interaksi Obat (Kocher, 2015)
Curcumin dapat meningkatkan kadar obat losartan dalam darah. Dosis tinggi dapat
meningkatkan kecepatan absorpsi dan konsentrasi obat warfarin dan losartan dalam
darah tanpa merubah farmakodinamik. Curcumin mengurangi kecepatan absorpsi obat
dan kadar talinolol dalam darah. Curcumin dapat meningkatkan absorpsi obat
midazolam. Curcumin dapat meningkatkan absorpsi dan konsentrasi obat celiprolol
dalam darah Curcumin dapat meningkatkan absorpsi dan konsentrasi glibenklamid
dalam darah dan menyebabkan rendahnya konsentrasi lipid darah dan konsentrasi
glukosa darah jika diberikan glibenklamid tanpa kombinasi.

8. Dosis
- LD50 per oral 2375 mg/kg BB tidak menimbulkan efek toksik. LD50 oral pada
tikus: > 5 g/kg BB. sumber (PMK RI No 6 Tahun. 2016).
- Ekstrak etanol rimpang temu putih mampu menghambat proses karsinogenesis
pada mencit betina yang diinduksi benzo[a]piren secara signifikan pada dosis
750 mg/kgBB (p<0,05). (murwati, retno, 2004)

C. Sifat Fisiko kimia zat aktif dari ekstrak etanol kunyit putih (Kaempferia rotunda
L.)
Kurkumin atau diferuloimetana pertama kali diisolasi pada tahun 1815.
Kemudian tahun 1910, kurkumin didapatkan berbentuk kristal dan bisa dilarutkan
tahun 1913. Kurkumin tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam etanol dan aseton
(Joe dkk., 2004; Chattopadhyay dkk., 2004; Araujo dan Leon, 2001).
Sedangkan menurut Kiso (1985) kurkumin merupakan senyawa yang sedikit
pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glasial dan alkali hidroksida, serta tidak
larut dalam air dan dietileter.Kurkumin mempunyai rumus molekul C21H20O6 (BM =
368). Sifat kimia kurkumin yang menarik adalah sifat perubahan warna akibat
perubahan pH lingkungan. Kurkumin berwarna kuning atau kuning jingga pada suasana
asam, sedangkan dalam suasana basa berwarna merah. (Tonnesen, 1985; Van der Good,
1997).
Sifat Kimia Dan Fisika Kurkumin
Sifat Kimia
Rumus Molekul : C21H20O6
Melting Point : 183°C
Molar Mass : 368.38 g/mol
Tidak larut di dalam air dan eter tetapi larut di dalam alkohol. Di dalam alkali warnanya
akan menjadi merah kecoklatan dan di dalam asam akan berwarna kuning terang.
Sifat Fisika
Bentuk : serbuk
Warna : kuning terang atau kuning kemerahan
Tidak larut dalam air. (Adinda, Saputra et al,2010)

D. Preformulasi

Preformulasi terdiri dari kata pre yang artinya sebelum, dan formulasi yang
artinya perumusan atau penyusunan. dibidang farmasi preformulasi dapat diartikan
sebagai langkah awal yang dilakukan ketika akan membuat formula suatu obat.
Preformulasi meliputi pengkajian tentang karakteristik atau sifat-sifat dari bahan obat
dan bahan tambahan obat yang akan diformulasi. Salah satu aspek yang harus di
pertimbangkan adalah bentuk sediaan. Karena bentuk sediaan merupakan hal yang
nantinya akan mempengaruhi hasil akhir serta minat konsumen terhadap produk. Bentuk
sediaan obat (BSO) diperlukan agar penggunaan senyawa obat/zat berkhasiat dalam
farmakoterapi dapat digunakan secara aman, efisien dan atau memberikan efek yang
optimal. Umumnya BSO mengandung satu atau lebih senyawa obat / zat berkhasiat dan
bahan dasar/vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu (Murini, 2016).
Bentuk sediaan obat dipilih agar dapat melindungi dari kerusakan baik dari luar
maupun dalam tubuh, dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat, dapat
melengkapi kerja obat yang optimum (topikal, inhalasi), dapat dikemas/dibentuk lebih
menarik dan menyenangkan. Dalam memilih bentuk sediaan obat ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan yaitu sifat bahan obat, sifat sediaan obat, kondisi penderita, kondisi
penyakit dan harga. Terdapat beberapa bentuk sediaan obat, yaitu :
1) Bentuk Sediaan Padat : pulvis, pulveres, tablet, kapsul
2) Bentuk Sediaan Cair : solusio/mikstura, suspensi, emulsi, linimentum. Losio
3) Bentuk Sediaan Setengah Padat : unguentum, him, jeli,
4) Bentuk sediaan khusus : injeksi , supositoria, ovula, spray, inhalasi,

E. Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati atau
bahan lain yang cocok (Depkes RI, 1995). Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatinyang
terdiri dari cangkang kapsul bagian badan dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian ini saling
menutupi bila dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi bagian badan kapsul
(Ansel, 2005). Formulasi kapsul yang mengandung ekstrak kental dengan kadar air cukup
tinggi memerlukan perlakuan khusus untuk menghasilkan kapsul yang baik. Oleh karena itu
perlu adanya eksipien yang mampu mengadopsi serta eksipien yang dapat meningkatkan sifat
alirnya. Vivapur 101 adalah eksipien yang dapat digunakan sebagai adsorben. Penambahan
aerosil pada formulasi diharapkan dapat menjaga higroskopitas sediaan kapsul (Agoes, 2007).
Untuk mendapatkan massa kapsul dengan laju ali yang baik maka dapat ditambahakan pengisi
yang sesuai dan dapat meningkatkan laju alirnya, seperti vivapur 101. Vivapur luar digunakan
dalam farmasetik terutama sebagai pengisi pada formulasi kapsul dan tablet. Vivapur juga
memiliki sifat lubrika dan disintegran (Wade dan Waller, 1994).

F. Uji Klinik Fase I


Uji Klinik adalah kegiatan penelitian dengan mengikutsertakan subjek manusia
disertai adanya intervensi Produk Uji, untuk menemukan atau memastikan efek klinik,
farmakologik dan/atau farmakodinamik lainnya, dan/atau mengidentifikasi setiap reaksi
yang tidak diinginkan, dan/atau mempelajari absorbsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi dengan tujuan untuk memastikan keamanan dan/atau efektifitas produk yang
diteliti (BPOM, 2015)
Pada uji klinik fase I untuk pertama kalinya obat yang diujikan diberikan pada
manusia (sukarelawan sehat), baik untuk melihat efek farmakologik maupun efek
samping. Secara singkat tujuan uji klinik pada fase ini adalah:
a. melihat kemungkinan adanya efek samping dan toleransi subjek terhadap obat yang
diujikan

b. menilai hubungan dosis dan efek obat

c. melihat sifat kinetika obat yang meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi.
Dengan melakukan uji klinik fase I ini kita akan memperoleh informasi mengenai dosis,
frekuensi, cara dan berapa lama suatu obat harus diberikan pada pasien agar diperoleh efek
terapetik yang optimal dengan risiko efek samping yang sekecil-kecilnya. Informasi yang
diperoleh dari uji klinik fase I ini diperlukan sebagai dasar untuk melakukan uji klinik fase
berikutnya (fase II).

G. KOMPONEN UJI KLINIK


Bukti ilmiah adanya kemanfaatan klinik suatu obat tidak saja didasarkan pada hasil
yang diperoleh dari uji klinik, tetapi juga perlu mengingat faktor - faktor lain yang secara
objektif dapat mempengaruhi pelaksanaan suatu uji klinik. Idealnya, suatu uji klinik
hendaknya mencakup beberapa komponen berikut :
1. Seleksi/pemilihan subjek
2. Rancangan
3. Perlakuan pengobatan yang diteliti dan pembandingnya
4. Pengacakan perlakuan
5. Besar sampel
6. Penyamaran (blinding)
7. Penilaian respons
8. Analisis data
9. Protokol uji klinik
10. Etika uji klinik
BAB III
PEMBAHASAN
Isolasi ekstrak kunyit dilakukan proses ekstraksi soxhlet yaitu mengekstrak senyawa
kurkumin dan turunannya dalam sampel kunyit kering, Ekstraksi ini menggunakan pelarut
etanol 96% yang bersifat polar karena kurkumin yang akan diisolasi bersifat nonpolar, sehingga
senyawa yang polar akan larut dalam etanol sedangkan senyawa lain tidak larut dalam etanol
tersebut.
dosis blm dpattt.
Caranya pembuatan serbuk ekstrak : ekstrak kental kunyit putih ditimbang ± 5 gram
dan vivipur 101 sebanyak..
Ekstrak kental digerus dengan cara dditekan-tekan dan dibuka ekstraknya yang
kemudian dimasukkan sedikit demi sedikit adsorben vivapur 101 dan digerus hingga ekstrak
dan vivapur 101 bercampur homogen. Pengerjaan ini dilakukan sampai dengan vivapur 101
habis dicampurkan dengan ekstrak kental. Setalah pencampuran selesai ekstrak kering yang
diperoleh diukur kadar airnya dengan moisture balance dan sisanya dioven pada suhu 50
selama sejam. Kemudian ekstrak kering dikeluarkan dari oven dan didinginkan di dalam
desikator selama ±10 menit. Ekstrak kering diambil 2 gram dan dihitung kadar airnya dengan
moisture balance lalu catat kadar air yang di dapat.
Formulasi kapsul ekstrak etanol rimpang kunyit putih :
Serbuk ekstrak kunyit putih......mg
Vivapur 102 44,6 mg
Amilum jagung -
Aerosil 3%
Talk 2%
Mg stearat 1%

Sehingga bobot kapsul jadi..... mg

Alur melakukan tahapan uji fase I


Uji klinik adalah suatu pengujian khasiat obat baru pada manusia, dimana sebelumnya diawali
oleh pengujian pada binatang atau uji pra klinik. Pada dasarnya uji klinik memastikan
efektivitas, keamanan dan gambaran efek samping yang sering timbul pada manusia akibat
pemberian suatu obat. Uji klinik terdiri dari 4 fase, yaitu uji klinik fase I.Uji klinik fase II, uji
klinik fase III dan uji klinik fase IV. Uji klinik fase I dilakukan pada manusia sehat, bertujuan
untuk menentukan dosis tunggal yang dapat diterima, Uji klinik fase II, dilakukan pada 100-
200 orang penderita untuk melihat apakah efek farmakologik yang tampak pada fase I berguna
atau tidak untuk pengobatan. Uji klinik fase III dilakukan pada sekitar 500 penderita yang
bertujuan untuk memastikan bahwa suatu obat baru benar-benar berkhasiat. Uji klinik fase IV
merupakan pengamatan terhadap obat yang telah dipasarkan. Fase ini bertujuan menentukan
pola penggunaan obat di masyarakat serta pola efektifitas dan keamanannya pada penggunaan
yang sebenarnya.

TAHAP UJI KLINIK


UJI KLINIK FASE I:
Fase ini merupakan pengujian suatu obat baru untuk pertama kalinya pada manusia. Pada fase
ini yang diteliti ialah keamanan obat, bukan efetifitasnya dan dilakukan pada sukarelawan
sehat. Tujuan utama pada uji klinik fase 1 adalah untuk mengetahui adanya efek samping yang
tidak muncul pada hewan coba. Tujuan lain adalah untuk mengetahui apakah obat tersebut
dapat diterima atau tidak oleh tubuh (tolerated). Di samping itu, juga untuk mengetahui
bagaimana proses metabolisme dan bioavailability obat tersebut pada manusia. Hal yang harus
diketahui misalnya adalah di mana absorbsinya dan berapa kecepatannya, bagaimana
metabolismenya, ke mana distribusinya, lewat apa ekskresinya dan berapa kecepatannya.
Dengan demikian pada uji coba klinis fase I yang penting adalah keamanan (safety) suatu obat
baru dan bukan keampuhannya (efficacy) atau kemanjuran (effectiveness). Subjek biasanya
adalah relawan yang diberi obat dengan dosis bertingkat untuk mengetahui sejauh mana dosis
obat tersebut dapat diterima. Biasanya, dosis yang diberikan pertama kali adalah 1/50 dosis
minimal pada hewan coba yang masih memberikan efek, kemudian dinaikkan dengan kelipatan
1,5 atau 2 kalinya, sehingga muncul adanya efek farmakologik atau efek samping. Uji klinis
fase I biasanya membutuhkan paling banyak 80 relawan.
. Tergantung dari data yang diperoleh pada hewan, dosis berikutnya ditingkatkan sedikit -
sedikit atau dengan kelipatan dua sampai diperoleh efek farmakologik atau sampai timbul
mencari efek toksik yang mungkin terjadi dilakukan pemeriksaan hemato-logi, faal hati, urin
rutin dan bila perlu pemeriksaan lain yang lebih spesifik. Pada fase ini diteliti juga sifat
farmakodinamika dan farmako-kinetikanya pada manusia. Hasil penelitian farmakokinetika
ini digunakan untuk meningkatkan pemilihan dosis pada penelitian selanjutnya. Selain itu,
hasil ini dibandingkan dengan hasil uji pada hewan coba sehingga diketahui pada spesies
hewan mana obat tersebut mengalami proses farmakokinetika seperti pada manusia. Bila
spesies ini dapat ditemukan maka dilakukan penelitian toksisitas jangka panjang pada hewan
tersebut. Uji klinik fase I ini dilaksana-kan secara terbuka, artinya tanpa pembanding dan tidak
tersamar, pada sejumlah kecil subjek dengan pengamatan intensif oleh orang-orang ahli
dibidangnya, dan dikerjakan di tempat yang sarananya cukup lengkap.
Daftar pustaka

Daftar pustaka
1. Anonim. 2015. Buletin Jendela dan Data Informasi Kesehatan Situasi Penyakit
Kanker Indonesia. Kementerian Kesehatan RI.
2. BPOM, 2007. Acuan Sediaan Herbal, Volume Ketiga, Edisi Pertama. Badan
Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.
3. PMK No 06, 2016. Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.
4. Ahmed, syakil. Amin, Ruhul. Hasan, Imtiaj. Asaduzzaman, M, K, A. Kabir,
Rashel. 2017. Antitumor Properties of a methyl β- D-galactopyranoside
specific lectin from Kaemprefia rotunda againts Erhlic ascites carcinoma cells.
International Journal of Biological Macromolecules.
5. Parton, Martina., Dowsett, Mitchel., and Smith, I., (2001), Studies of Apoptosis
in Breast Cancer, BMJ, 322: 1528-153.
6. Mathivadani, P., Shanthi, P., and Sachdanandam, P., (2007), Apoptotic Effect
of Semecarpus anacardium nut Extract on T47D Cancer Cell Line., Cell.Biol.
Int., 31, 1198-1206
7. Hondermarck Hubert, (2003), Breast cancer: when proteomics challenges
biological complexity. Molecular & cellular proteomics : MCP 2003;2(5):281-
91
8. Dalimarta, S. (2003), Atlas tumbuhan obat Indonesia, jilid 2, Trubus Agriwidya
9. Leardkamolkarn V., Tiamyuyen S., Sripanidkulchai B.O., (2009),
Pharmacological Activity of Kaempferia parviflora against Human Bile Duct
Cancer Cell Lines, Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, Vol 10, 2009
697
10. BPOM, RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama. Bdan
Pengawasan Obat dan Makananan Republik Indonesia.
11.
Shirwaikarb A. Curcuma zedoaria rosc. (white turmeric): a review of its chemical,
pharmacological and ethnomedicinal properties. Journal of Pharmacy and Pharmacology.
2009; 61: 13–21.

Sumathi S, Iswariya GT, Sivaprabha B, Dharani B, Radha P, Padma PR. Comparative


study of radical scavenging activity and phytochemical analysis of fresh and dry rhizomes of
Curcuma zedoaria. IJPSR. 2013; 4(3): 1069–73.
Murwati, retno, meiyanto, Edy, Nurrochmad, Arief, Kristina, Ari, susi. 2004. Efek
ekstrak etanol rimpang temu putih (Curcuma zedoaria Rosc.) terhadap pertumbuhan tumor
paru fase post inisiasi pada mencit betina diinduksi Benzo[a]piren. Farmasi UGM.