Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dalam ilmu kesehatan kita sering mengenal obat penenang yang digunakan
untuk keperluan medis yang berfungsi mengurangi aktivitas kerja otak. Obat
penenang apabila digunakan dalam dosis yang wajar dan dalam pengawasan
dokter maka akan membantu dalam proses pengobatan. Jenis dari obat penenang
itu sangat banyak sekali di dalam makalah ini penulis akan membahas salah satu
jenis obat penenang yaitu barbiturat.

Obat penenang yang dalam hal ini barbiturat apabila di gunakan secara
bersamaan dengan alkohol akan menyebabkan efek yang fatal mulai dari
kecanduan sampai dengan kematian. Oleh karena itu kita sebagai seorang perawat
harus jeli dalam pemakaian obat ini, kita juga harus tahu asal dan cara kerja obat
ini didalam tubuh karena pengetahuan tentang barbiturat ini tidak hanya milik
para pakar farmokologi tapi juga kita sebagai perawat dan sebagai orang yang
dekat dengan masyarakat.

Pada saat ini sangat banyak ditemukan pengetahuan perawat yang minim
tentang barbiturat oleh karena itu didalam makalah ini penulis akan mencoba
mengungkit seluk beluk tentang barbiturat agar nantinya pengetahuan ini bisa kita
aplikasikan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat dengan melakukan promosi
kesehatan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian dari barbiturat ?
2. Dari mana sumber barbiturat ?
3. Bagaimana mekanisme kerja barbiturat dalam tubuh ?
4. Apa saja sasaran barbiturat dalam tubuh ?
5. Bagaimana respon tubuh terhadap barbiturat ?
6. Bagaimana gejala dari pemakaian barbiturat ?

1
7. Apa dampak barrbiturat bagi tubuh ?

1.3 TUJUAN

Dari Rumusan Masalah di atas maka Tujuan dari Penulisan Makalah ini adalah:
a. Bagi Penulis
Agar penulis dapat memahami seluk beluk mengenai salah satu
jenis obat - obatan yaitu barbiturat mulai dari defenisinya sampai
dampaknya terhadap tubuh.
b. Bagi Pembaca
Agar pembaca dapat mengetahui secara rinci dan secara jelas
mengenai salah satu jenisobat – obatan penenang yaitu barbiturat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Barbiturat

Barbiturat adalah sekelompok obat penenang yang mengurangi aktivitas


di otak; menimbulkan kecanduan dan kemungkinan fatal ketika diambil
bersamaan dengan alkohol. Barbiturat terutama digunakan untuk sedasi ringan,
anestesi umum, dan sebagai pengobatan untuk beberapa jenis epilepsi.

Asam barbiturat ( malonil urea ) adalah hasil kondensasi asam malonat


dan urea. Asam barbiturat ini ditemukan oleh adolph von baeyer (1864). Asam
barbiturat sendiri tidak menyebabkan depresi Susunan Sistem Pernapasan. Khasiat
depresi dimiliki oleh derivat-derivat yang didapat melalui:

1. Substitusi satu atau atom H pada C5


2. Subsitusi pada atom N dan inti asam barbiturat
3. Subsitusi atom O dan gugus karbonil dengan atom S yang menhasilkan
tiobarbiturat.

Barbiturat lazim dipakai oleh para dokter untuk menenangkan pasien dan
atau membuat tertidur. Jadi, fungsinya adalah depresan, yaitu memperlambat
kinerja sistem saraf pusat. Tak lama sesudah mengkonsumsi obat ini penderita
akan mengalami rasa rileks dimana segala ketegangan menghilang, diikuti dengan
rasa lelah secara fisik dan intelektual serta kecenderungan mengantuk dan
akhirnya tertidur.

2.2 Sumber barbiturat

Asam barbiturat pertama kali disintesis oleh peneliti Jerman Adolf Von Baeyer
pada tanggal 6 Desember 1864. Hal ini dilakukan dengan cara mengkondensasi urea dari
hewan produk limbah dengan dietil malonat (ester dari asam apel).
Turunan asam barbiturat seperti pentobarbital dan phenobarbital sudah lama
digunakan sebagai anxiolitik dan hipnotik. Barbiturat sebagian besar telah digantikan oleh

3
benzodiazepin dalam praktek medis rutin – misalnya dalam pengobatan kecemasan dan
insomnia – karena benzodiazepin secara signifikan kurang menyebabkan overdosis.
Namun barbiturat masih digunakan dalam anastesi umum, serta untuk epilepsi.
Barbiturat diklasifikasikan menjadi barbiturat aksi-sangat pendek
(ultrashort-acting), aksi-pendek (short-acting), aksi-menengah (intermediate-
acting), dan aksi-lama (long-acting) tergantung pada seberapa cepat barbiturat
beraksi dan berapa lama efek barbiturat berakhir. Barbiturat aksi sangat pendek
(ultrashort-acting) masih banyak digunakan untuk anestesi bedah, terutama untuk
menginduksi anestesi meskipun penggunaan barbiturat selama induksi anestesi
sebagian besar telah digantikan oleh propofol. Barbiturat ultrashort acting seperti
thiopental (pentothal) menghasilkan ketidaksadaran dalam waktu sekitar satu
menit intravena injeksi. Obat ini digunakan untuk menyiapkan pasien untuk
pembedahan; anestesi umum lain seperti sevofluran atau isofluran kemudian
digunakan untuk menjaga pasien dari bangun sebelum operasi selesai. Thiopental
dan barbiturat ultrashort-acting biasanya digunakan dalam pengaturan rumah
sakit dan sangat tidak mungkin untuk disalahgunakan.
Phenobarbital digunakan sebagai antikonvulsan untuk orang yang
menderita gangguan kejang seperti kejang demam, kejang tonik-klonik, status
epileptikus, dan eklampsia. Barbiturat long-acting berlaku hingga 12 jam atau
lebih. Thiopental, barbiturat ultrashort-acting yang dipasarkan dengan nama
Sodium Pentothal, kadang-kadang digunakan sebagai “serum kebenaran”. Bila
dilarutkan dalam air, dapat ditelan atau diberikan melalui suntikan intravena. Obat
sendiri tidak memaksa orang untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi
diperkirakan penurunan hambatan, membuat subjek lebih mungkin tertangkap
basah saat ditanyai.

2.3 Mekanisme zat dalam tubuh

Barbiturat cepat diabsorpsi dari lambung, usus kecil, rektum, jaringan


subkutan, dan otot. Selama absorbsi , barbiturat diikat oleh berbagai plasma
protein : tiopental diikat sampai 60-70%, pentobarbital kira- kira 50%, sedangkan
barbiturat kerja lama hanya sedikit yang terikat. Konsentrasinya tiopental atau
pentobarbital pada otak tidak banyak berbeda dari konsentrasinya pada jaringan

4
lemak. Penetrasi pada otak berbagai barbiturat tidak sama, ada yang lebih lama
daripada yang lain walaupun pemberiannya secara intravena.

Barbiturat kerja lama seperti fenobarbital, dimetabolisme dengan lambat


menjadi p-hidroksilenobarbital, sebagai akibatnya 30% jumlah dosis yang
diberikan, dikeluarkan melaui urine. Ekskresi fenobarbital bergantung pada pH
urine, yaitu pH basa. Keadaan basa meningkatkan persentase ionisasi fenobarbital.
Dalam bentuk ion, fenobarbital sedikit larut dalam lemak sehingga fenobarbital
tidak diabsorpsi pada tubulus dan hal ini meningkatkan ekskresinya.

Absorspi, distribusi, pengikatan oleh protein, kecepatan metabolisme,


pengikatan oleh jaringan, lama kerja, dan ekresinya berhubungan dengan sifat
kelarutannya dalam lipid. Barbiturat kerja sangat singkat, kelarutannya dalam
lipid yang rendah dibandingkan dengan sekobarbital atau tiopental. Fenobarbital
digolongkan dalam barbiturat kerja lama karena absorpsi dari saluran cerna dan
metabolismenya berjalan lambat.

Barbiturat diekskresi melalui renal sebanyak 30% dan dosis yang


diberikan ; hal ini merupakan akibat dari beberapa faktor, yaitu metabolismenya
lambat, sedikit terikat dengan protei, dan sedikit reabsorpsi pada tubulus. Barbital
lain, yang sedikit kelarutannya dalam lipid, diekskresikan sebanyak 65-90% dari
dosis yang diberikan dala bentuk yang tidak berubah.

Pengaruhnya terhadap SSP juga bergantung pada kelarutan dalam lipid.


Jika tiopental diberi IV pada tikus, 12 menit kemudian barulah terjadi anestesia.
Selain kelarutan dalam lipid, ionisasi barbiturat juga turut mempengaruhi
ekskresinya. Telah dibuktikan bahwa alkalinasasi urine akan membantu ekskresi
fenobarbital.

Dan juga barbiturat mudah diserap kedalam aliran darah melalui sistem
pencernaan dan kemudian memasuki otak dengan cepat dimana dia dapat
menyebarkan efek-efeknya. Tetapi setelah suatu jangka waktu yang singkat, obat
ini disebarkan lagi kedaerah-daerah tubuh yang mengandung lemak dan kemudian
secara perlahan-lahan dilepaskan dari sana. Karena pola penyerapan,
penyimpanan, dan pelepasan ini, barbiturat mencapai dengan cepat efek-efeknya

5
yang penting, tetapi kemudian efek-efeknya itu menurun dan tetap bertahan dalam
tingkat efek yang rendah untuk beberapa saat.

Kecepatan efek yang ditimbulkan oleh barbiturat berbeda dan perbedaan


itu menentukan penggunaan obat itu secara klinis. Barbiturat yang bereaksi
dengan cepat tetapi efek-efeknya singkat digunakan sebagai obat anestesi
(heksobarbital), sedangkan yang aksinya kurang cepat tetapi efeknya agak lama
digunakan sebagai pil tidur (pentobarbital), dan yang efeknya agak lama pernah
digunakan untuk merawat kecemasan dan epilepsi (penobarbital). Dalam
kebanyakan kasus, barbiturat digunakan melalui mulut (orally), tetapi menyuntik
obat ini secara langsung kedalam aliran darah akan mempercepat efeknya dan
mengakibatkan euforia yang sangat hebat dalam waktu yang singkat.

Barbiturat mereduksikan rangsangan dengan mereduksikan transmisi


neural. Ini dilakukan dalam dua cara :

- Barbiturat meningkatkan pengaruh- pengaruh GABA, yakni zat yang


berfungsi untuk menghambat transmisi neural.
- Barbiturat menghambat neurotransmiter excitatori, tetapi bagaimana
proses itu terjadi belum dipahami dengan baik. Obat ini bekerja secara
paradoks, yakni pada tingkat yang sangat tinggi barbiturat mempermudah
transmisi neural, dan efek tersebut menyebabkan individu giat dan
bersemanagat, tetapi ketika obat menurun, keadaan yang giat dan
bersemangat, tetapi ketika tingkat obat menurun, keadaan yang giat dan
bersemangat itu menimbulkan keadaan relaks.

2.4 Sasaran Barbiturat

1. Terhadap SSP

Barbiturat menimbulkan semua tingkat depresi mulai dari sedasi ringan


sampai koma,tingkat depresi tergantung pada :

- Jenis barbiturat
- Dosis yang sampai ke SSP

6
- Cara pemberiannya
- Tingkat kepekaan SSP pada waktu pemberian obat
- Ada tidaknya toleransi

Seluruh SSP dipengaruhi oleh barbiturat, tetapi yang paling peka adalah
korteks serebri dan sistem tetikular. Pada dosis sedatif sudah terjadi depresi
daerah motoris dan sensoris korteks. Yang relatif kebal terhadap barbiturat adalah
pusat vasomotor dan pusat pernapasan dimedula oblongata.

Cara kerja barbiturat belum diketahui seluruhnya. Yang jelas ialah:

a) Ambang rangsang neuron dipertinggi karena terjadinya stabilisasi


membran sel.
b) Masa pemulihan setelah perangsangan diperpanjang, tetapi mengapa
ini terjadi belum diketahui dengan jelas.

2. Efek hipnotik

Barbiturat menimbulkan tidur seperti tidur fisilogis karena pengaruh


langsung pada pusat pengatur tidur di hipotalamus. Menurut Jouvet secara
farmakologi dan neurofisiologi antara serotinin otak dan tidur ada hubungannya.
Pola tidur pada orang dewasa dimulai dengan periode laten, yaitu waktu yang
dibutuhkan untuk jatuh tidur. Setelah tidur secara progresif dilalui fase paling
dagkal sampai fase tidur paling dalam. Fase tersebut dikenal sebagai slow wave
non dreaming atau nin rapid eye movement sleep (NREM) 1.2.3, dan 4. Urutan
tersebut kemudian berbalk dan diikuti periode pertama fase tidur rapid eye
movement (REM) atau Paradoxical dreaming.

Lama tidur fase REM kira-kira 1,5 jam/malam dan pada fase ini dapat
timbul mimpi. Fase NREM berfungsi memulihkan kelelahan mental. Obat- obat
sedatif- hipnotik menghambat tidur REM sehingga menimbulkan berbagai efek
tambahan pada individu. Setelah bangun dari akibat barbiturat kadang-kadang
bisa timbul hang –over terutama setelah penggunaan barbiturat kerja lama.

3. Analgesia

7
Barbiturat tidak bisa mengurangi rasa nyeri tanpa disertai hilangnya
kesadaran yang nyata. Suatu dosis barbiturat yang hampir menyebabkan tidur
baru bisa meninggikan ambang rasa nyeri sebanyak 20%, sedangkan amang rasa
lain tidak dipengaruhi. Pemberian barbiturat bersama dengan analgetik
memperkuat efek analgetik karena obat ini mengadakan potensi efek dengan
derivat salsilat, pirazolon, dan para aminofenol.

4. Anestesi

Golongan tiobarbiturat dan beberapa oksibarbiturat dapat dipakai untuk


menimbulkan anestesi umum, dengan memberikannya secara IV. Namun, stadium
anestesi tidak dapat dibedakan seperti pada anestesi dengan eter.

5. Khasiat antikonvulsi

Menghambat konvulsi yang disebabkan keracunan strinknin, tetanus, dan


status epileptikus. Fenobarbital, mefobarbital, dan metabirtal memperlihatkan efek
antikonvulsi yang spesifik, artinya efek antikonvulsinya tidak terikat pada efek
sedatifnya karena dosis antikonvulsinya munkin lebih rendah daripada dosis
hipnotiknya dan terutama digunakan pada epilepsi Grand-mal.

6. Pernapasan

Dosis hipnotik barbiturat menyebabkan depresi yang ringan, dosis lebih


besar menekan pusat pernapsan dan mengurangi respons terhadap CO2. Kematian
pada keracunan akut barbiturat adalah karena depresi pernapasan. Selain pengaruh
langsung pada pusat pengatur pernapasan, respirasi bisa terganggu oleh :

a) Edema pulmonal terutama terjadi dengan barbiturat kerja singkat.


b) Pneumonia hipostatik terutama dengan barbiturat kerja lama.
c) Hiper-refleksia N. Vagus yang bisa menyebabkan singultus, batuk, spasme
bronkus dan laringopspasme. Ini seing terjadi pada anestesia bila tidak
diberikan pramedikasi sulfas atropin atau akopolamin.

8
7. Sistem Kardiovaskular

Dosis hipnotik tidak memberikan efek yang nyata. Frekuensi nadi dan
tensi sedikit berkurang sebagai akibat inaktivitas yang disebabkan oleh sedasi atau
tidur karena barbiturat. Efek kardiovaskular yang terlihat pada intoksikasi
barbiturat sebagian besar disebabkan oleh :

- Hipoksia sekunder sebagai akibat depresi pernapasan.


- Dosis yang terlalu tinggi menyebabkan depresi pusat vasomotor yang
diikuti vasodilatasi perifer sehingga terjadi hipotensi.
- Dosis yang sangat tinggi berpengaruh langsung pada kapiler sehingga
menyebabkan syok perifer (pelepasan histamin).
8. Saluran Cerna

Tonus dan amplitudo pergerkan otot usus berkurang sedikit karena


barbiturat. Sekresi lambung hanya sedikit berkurang, tiobarbiturat kadang-kadang
memberi efek yang berbeda, bahkan dapat menyebabkan tonus usus meningkat.

9. Ginjal

Barbiturat tidak mempunyai efek buruk terhadap ginjal yang sehat.


Namun, dosis anestesi dapat menimbulkan kelainan fungsi ginjal yang bersifat
sementara. Misalnya, pada anestesi dengan tiopental, produksi urine berkurang
disebabkan oleh:

- Hipotensi sistemik sekunder.


- Vasokonstriksi intrarenal.
- Sekresi ADH yang bertambah.

10. Saluran kemih dan uterus

Pemberian barbiturat IV untuk anestesi menekan otot polos ureter dan


vesika urinaria. Pada dosis hipnotik tidak menggangu aktivitas uterus selama
persalinan. Dosis anestesi menurunkan frekuensi kontraksi uterus. Yang penting
diperhatikan pada pemakaian barbiturat selama kehamilan ialah depresi espirasi
pada janin.

9
11. Hati

Pada dosis terapi, barbiturat tidak menganggu fungsi hepar yang


normal.pada penderita yang hipersensitif dengan barbiturat, kerusakan hepar yang
hebat dapat terjadi, biasanya disertai dengan dermatitis dan lain-lain gejala alergi.

12. Metabolisme dan suhu badan

Barbiturat dalam dosis hipnotik sedikit menurunkan BMR. Dosis


anestetik menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen sebanyak 20%. Suhu
badan menurun karena aktivitas berkurang dan depresi pusat pengatur suhu tubuh.

2.5 Respon tubuh terhadap barbiturat

Barbiturat dapat menimbulkan kecanduan (habituasi). Kecanduan ini


disebabkan oleh adanya beberapa individu yang menelan obat pada waktu ingin
tidur, mereka sukar memberhentikan kebiasaannya dan dapat berkembang
menjadi sangat membutukan obat itu (pemakaian yang berulang-ulang). Pada
pemakaian secara kronis, barbiturat dosis besar dapat mengakibatkan gejala putus
obat pada manusia dan binatang. Gejala putus obat dapat berupa kegelisahan
tremor, konvulsi, dan kebutuhan akan barbiturat. Kebutuhan barbiturat meningkat
karena adanya toleransi dan menimbulakan adiksi.

Pengobatan adiksi barbiturat dilakukan dengan mengurangi penggunaan


obat secara bengangsur-agsur. Penghentian obat dengan tiba-tiba akan
mengakibatkan terjadinya eksitasi yang hebat dan dapat terjadi konvulsi.
Toleransi pada barbiturat akibat pemakaian yang lama tidak sebesar toleransi pada
morfin dan narkotik lain. Mereka yang adiksi dengan barbiturat menelan dosis
kira-kira 10-15 kali dosis hipnotik atau 1-1,5 gr obat dalam 24 jam, sedangkan
adiksi morfin dapat digunakan 100x dosis terapi.

2.6 Gejala Pemakaian Barbiturat

Gejala intoksikasi kronis barbiturat mirip intoksikasi akut yang ringan,


yaitu terdiri atas:

10
- Kelainan psikiatrik dengan gejala yang sangat menyerupai intoksikasi
alkohol.
- Kelainan neurologis, yaitu gangguan bicara, nistagmus, diplopia,
ataksia, kelemahan otot rangka dan lain-lain
- Kelainan dermatologis, misalnya urtikaria, purpura, eksantem, dan
dermatitis eksfoliatif.
a. Keracunan Barbiturat

Penggunaan barbiturat dosis besar dapat terjadi pada percobaan bunuh


diri atau kecelakaan. Sebab kematian pada keadaan akut adalah depresi
pernapasan. Jika dimakan dalam dosis besar atau dalam dosis letal dengan absorsi
saluran cerna berlangsung lambat, orang tersebut mungkin masih dapat hidup
dalam beberapa jam atau beberapa hari dengan gejala koma, pernapasan lambat,
kulit dan membran mukosa mengalami sianosis, berbagai refleks menurun atau
negatif, suhu badan menurun, pupil mengecil, serta mungkin ada atau tidak ada
refleks cahaya.

Walaupun depresi respirasi merupakan faktor utama penyebab kematian


dalam keadaan akut, faktor lain juga dapat menyebabkan kematian jika pasien
tidak meninggal dalam beberapa jam pertama.

Faktor lain yang dapat menyebabkan kematian adalah gangguan sirkulasi,


pneumonia hipostatik, dan munkin ada mekanisme lain yang belum diketahui
yang dapat menyebabkan kematian walaupun oksigenisasinya cukup.

Intoksikasi berat umumnya terjadi bila menelan sekaligus barbiturat 10


kali dosis hipnotik. barbiturat kerja singkat, kelarutannya dalam lemak lebih tinggi
dan lebih toksik dibandingkan dengan barbiturat kerja lama. Dosis 6-10 gram
fenobarbital dan dosis 2-3 gram amobarbital, sekobarbital atau pentobarbital dapat
menmbulkan kematian. Kadar fenobarbital terendah dalam plasma yang pernah
dilaporkan bersifat letal kira-kira 60 mikrogram/ml, sedangkan untuk amobarbital
dan pentobarbital kira-kira 10 kirogram/ml.

b. Pengobatan keracunan barbiturat


1) Bilasan lambung dilakukan bila keracunan terjadi < 4 jam.

11
2) Jalan napas harus bebas, lendir dari trakea dan laring dihisap secara
perodik. Pernapasan diawasi, dan kalau perlu diberikan pernapasan buatan.
3) Tekanan darah diperbaiki.
4) Diuresis diperbaiki, bila ginjalnya masih baik diberikan diuretik dan
alkalinisasi urine dapat mempercepat ekskresi barbiturat, terutama
barbiturat kerja lama.
5) Dalam keadaan koma dapat diberikan analeptika, tetapi dijaga jangan
sampai terjadi konvulsi akibat dosis analeptika berlebih.

Pneumonia hipostatik harus dicegah dengan jalan membolak-balik badan


penderita dalam waktu-waktu tertentu. Sebagai pencegahan infeksi dapat
diberikan antibiotik

2.7 Dampak Barbiturat terhadap tubuh

Pemakaian barbiturat dalam jangka waktu yang lama menyebabkan


simtom-simtom putus barbiturat yang hebat. Simtom-simtom itu mulai antara 12
dan 36 jam sesudah obat itu digunakan dan tergantung apakah tipe obat itu
bereaksi dengan cepat atau lambat. Simtom-simtomnya sangat bervariasi, tetapi
simtom-simtom tersebut biasanya meliputi tegangan, tremor, kehilangan kontrol
motorik, mual, dan sering delirium yang dapat berupa halusinasi-halusinasi
penglihatan dan pendengaran.

Apabila individu menggunakan obat itu dalam dosis yang tinggi, putus
barbiturat bisa sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kematian bila putus
barbiturat dilakukan terlalu cepat. Dalam kasus-kasus tersebut, mungkin perlu
kalau mulai dengan memberikan individu obat depresan yang kurang keras
(misalnya penobarbital atau bahkan alkohol) yang tingkat dosisnya dapat
dikontrol dan secara perlahan-lahan direduksikan.

Dalam kasus-kasus yang kurang berat dimana penggantinya tidak perlu


diberikan, simtom-simtom putus barbiturat menghilang secara perlahan-lahan
selama jamgka waktu 2 minggu, tetapi dapat bertahan selama berbulan-bulan
dalam bentuk-bentuk yang ringan.

12
Suatu masalah berat yang berkaitan dengan penggunaan barbiturat adalah
kematian yang terjadi secara kebetulan karena dosis berlebihan. Kematian terjadi
karena barbiturat menyebabkan pernapasan berkurang dan pada dosis yang tinggi
barbiturat dapat menyebabkan individu benar-benar berhenti bernapas.

Kemungkinan terjadinya kematian secara kebetulan meningkat karena


barbiturat digunakan dalam jangka waktu yang lama dimana individu
mengembangkan toleransi terhadap barbiturat dan dengan demikian harus
menggunakan dosis barbiturat yang makin lama meningkat untuk mencapai efek
yang diinginkan. Kemungkinan dosis berlebihan dan kematian benar-benar
meningkat bila barbiturat digunakan bersama dengan obat-obat depresan lain,
seperti alkohol karena dua zat depresan itu akan bekerjasama untuk mereduksikan
pernapasan. Selain menyebabkan kematian secara kebetulan sebagai akibat dosis
berlebihan, barbiturat juga digunakan untuk bunuh diri.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Barbiturat adalah sekelompok obat penenang yang mengurangi
aktivitas di otak; menimbulkan kecanduan dan kemungkinan fatal ketika
diambil bersamaan dengan alkohol.Barbiturat lazim dipakai oleh para
dokter untuk menenangkan pasien dan atau membuat tertidur. Jadi,
fungsinya adalah depresan, yaitu memperlambat kinerja sistem saraf pusat.
Barbiturat cepat diabsorpsi dari lambung, usus kecil, rektum,
jaringan subkutan, dan otot. Selama absorbsi , barbiturat diikat oleh
berbagai plasma protein. Seluruh SSP dipengaruhi oleh barbiturat, tetapi
yang paling peka adalah korteks serebri dan sistem tetikular.Gejala
intoksikasi kronis barbiturat mirip intoksikasi akut yang ringan
Pemakaian barbiturat dalam jangka waktu yang lama menyebabkan
simtom-simtom putus barbiturat yang hebat.
3.2 Saran

Diharapkan agar para pembaca lebih mengetahui tentang barbiturat


dan lebih memahaminya serta tidak menggunakan barnturat dan zat
berbahaya lainnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 2. Kanisius : Yogyakarta. Diakses


pada tanggal 2 September 2013 dari

Supratiknya, A. (1999 ). Mengenal Prilaku Abnormal. Kanisius : Yogyakarta.

Staf Pengajar Departemen FK-UNSRI. (2004). Kumpulan Kuliah Farmakologi Ed.2. EG:
Jakarta. Diakses pada tangga 2 September 2013 dari

15