Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin
pesat yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan hidup manusia sehingga
menuntut seseorang untuk beraktivitas dengan cepat guna memenuhi
kebutuhannya tanpa memikirkan resiko-resiko yang akan dihadapinya. Penyebab
trauma pada tulang belakang yang banyak terjadi salah satunya pada pekerja yaitu
di kalangan pekerja kasar yang tidak memperhatikan keselamatan kerja, prosedur
atau cara kerja yang salah, serta kelalaian dan kurangnya kewaspadaan terhadap
pekerjaan cedera sehingga menyebabkan jatuh dari ketinggian atau tertimpa
benda-benda keras pada tulang yang mengakibatkan susunan tulang belakang
mengalami kompresi dan menyebabkan fraktur. Fraktur kompresi terjadi karena
adanya tenaga muatan aksial yang cukup besar sehingga mengurangi daya
protektif dari diskus intervertebralis dan adanya dispersi fragmen-fragmen tulang
serta akan menimbulkan gangguan neurologi.
Cedera medula spinalis adalah cedera mengenai cervicalis, vertebralis dan
lumbalis akibat trauma; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas, kecelakakan,
olah raga. ( Sjamsuhidayat, 2004). Sebuah studi menyebutkan bahwa 10% kasus
patah tulang belakang terjadi pada segmen thorakal, 4% pada segmen thorako-
lumbal, dan 3% pada lumbal yang disertai dengan kerusakan neurologis. Tingkat
insiden medulla spinalis di Amerika Serikat diperkirakan mencapai lebih kurang
30 hingga 32 kasus setiap satu juta penduduk atau 3000 hingga 9000 kasus baru
tiap tahunnya. Ini tidak termasuk orang yang meninggal dalam 24 jam setelah
cedera. Prevalensi diperkirakan mencapai 700 hingga 900 kasus tiap satu juta
penduduk (200.000hingga 250.000 orang). Enam puluh persen yang cedera berusia
antara 16 sampai 30 tahun dan 80% berusia antara 16 sampai 45 tahun. Laki-laki
mengalami cedera empat kali lebih banyak daripada perempuan. Faktor etiologi
yang paling sering adalah kecelakaan kendaraan bermotor (45%), terjatuh (21,5%),
luka tembak atau kekerasan (15,4%), dan kecelakaan olah raga, biasanya

1
menyelam (13,4%). Lebih kurang 53% dari cedera itu adalah kuadriplegi. Tingkat
neurologi yang paling sering adalah C4, C5, dan C6 pada spina servikalis, dan T-
12 atau L-1 pada sambungan torakolumbalis. (Ardiatmi, 2008,
www.ums.ac.id/939/1/J100050023.pdf, diperoleh tanggal 29 Juni 2012).
Cedera pada kolumna vetebralis, dengan atau tanpa deficit neurologis,
harus selalu dicari dan disingkirkan pada penderita dengan cedera multiple.
Daerah thorakolumbal merupakan daerah paling sering mengalami cedera.
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 133)
Gejala yang timbul akibat fraktur lumbalis adalah hilangnya sensibilitas
yang bersifat sementara (dalam beberapa menit sampai 48 jam), paralisis yang
bersifat layu, ileus paralitik, kencing yang tertahan (retensi urine), hilangnya
refleks-refleks yang bersifat sementara, hilangnya reflek anus yang bersifat
sementara (Rasjad, 2003, hlm. 478).
Berbagai permasalahan yang timbul akibat fraktur kompresi vertebra
lumbal antara lain: gangguan motoris yang berupa kelemahan kedua tungkai,
gangguan sensorik, potensial terjadi komplikasi seperti syok spinal, dekubitus,
gangguan pernapasan, keterbatasan lingkup gerak sendi dan kontraktur otot, nyeri,
keterbatasan untuk melakukan transfer dan ambulasi seperti berdiri dan berjalan
selain itu terdapat penurunan kemampuan aktivitas fisik, dan lingkungan social
seperti aktivitas produktif dan rekreasi.
(Ardiatmi, 2008, www.ums.ac.id/939/1/J100050023.pdf, diperoleh tanggal 29 Juni
2012).
Rasjad dalam Muttaqin (2005, hlm. 98) mengatakan bahwa seluruh trauma
tulang belakang harus dianggap sebagai trauma yang hebat sehingga harus
diperlakukan secara hati-hati. Karena trauma pada tulang belakang dapat mengenai
jaringan lunak pada tulang belakang (ligamen dan diskus), tulang belakang, dan
sumsum tulang belakang yang bisa berakibat fatal jika terjadi gerakan atau
perlakuan yang salah pada penderita trauma tulang belakang. Perawat dituntut
harus kritis dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita trauma tulang
belakang agar tidak terjadi komplikasi - komplikasi yang memperburuk kondisi
klien.

2
Peran perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang paling banyak
kontak dengan klien dan anggota keluarga harus mengerti betul tentang trauma
pada tulang belakang. Dengan demikian perawat harus mampu berpikir kritis serta
mampu mengidentifikasi masalah-masalah klien yang dirumuskan sebagai
diagnosa keperawatan, mampu mengambil keputusan mengenai masalah tersebut
dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga serta mampu
berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memberi asuhan keperawatan yang
optimal.Berdasarkan data di atas penulis merasa tertarik untuk mengangkat
permasalahan fraktur lumbal dan menyusun laporan kasus tentang asuhan
keperawatan pada Tn. S dengan gangguan sistem muskuloskeletal : fraktur lumbal
di ruang penyakit bedah umum pria (C) RSUD Dr. soedarso pontianak.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk :
1. Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
fraktur lumbal.
2. Memberikan gambaran dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada
klien dengan fraktur lumbal.
3. Membandingkan antara konsep teoritis dengan fakta yang ada di lapangan
tentang penatalaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur
lumbal khususnya di ruang penyakit bedah umum pria (C) RSUD Dr.
Soedarso Pontianak.
4. Mengetahui gambaran, faktor penghambat dan penunjang dalam asuhan
keperawatan pada klien dengan fraktur lumbal khususnya di ruang
penyakit bedah umum pria (C) RSUD Dr. Soedarso Pontianak.
5. Mencoba memberi saran serta alternatif untuk mencegah masalah dalam
asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal :
fraktur lumbal khususnya di ruang bedah umum pria (C) RSUD Dr.
Soedarso Pontianak.

3
1.3 Ruang Lingkup Penulisan
Pada laporan kasus ini penulis hanya membatasi pada asuhan keperawatan
pada Tn. M dengan gangguan sistem muskuloskeletal : fraktur lumbal di ruang
penyakit bedah umum pria (C) RSUD Dr. Soedarso Pontianak, dengan lama
perawatan selama tiga hari dari tanggal 14 Juni 2012 sampai dengan 16 Juni 2012.

1.4 Metode Penulisan


Dalam penyusunan laporan kasus ini penulis menggunakan metode
deskriptif yaitu metode yang menggambarkan situasi tertentu yang ada pada saat
ini berdasarkan masalah yang ada. Adapun cara-cara pengumpulan data yang
digunakan adalah sebagai berikut :
1. Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku-buku dan sumber-sumber lainnya
untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan
permasalahan dalam laporan kasus ini.
2. Studi kasus yaitu wawancara dengan klien beserta keluarga serta pemeriksaan
fisik yang dilakukan melalui inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dan
mempelajari sumber yang diperoleh dari catatan medis, catatan keperawatan,
melakukan observasi partisipatif yaitu melakukan pengamatan, merawat
langsung klien serta bekerja sama dengan tim kesehatan lain dalam
memberikan keperawatan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisisologi


1. Medula Spinalis
Menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 3) medula spinalis adalah
bagian dari susunan saraf pusat yang seluruhnya terletak dalam kanalis
vertebralis, dikelilingi oleh tiga lapis selaput pembungkus yang disebut
meningen. Lihat pada gambar 2.1 dibawah ini:

gambar 2.1 Anatomi Medula Spinalis


(Mahadewa, 2009, hlm. 136)

Lapisan-lapisan dan struktur yang mengelilingi medula spinalis dari luar


ke dalam antara lain : Dinding kanalis vertebralis (terdiri atas vertebrae dan
ligamen), Lapisan jaringan lemak (ekstradura) yang mengandung anyaman
pembuluh-pembuluh darah vena, Duramater, Arachnoid, Ruangan subaraknoid
(cavitas subarachnoidealis) yang berisi liquor cerebrospinalis, Piamater, yang
kaya dengan pembuluh-pembuluh darah dan yang Iangsung membungkus
permukaan sebelah luar medula spinalis

5
Berikut ini dijelaskan segmen-segmen medula spinalis menurut Mahadewa dan
Maliawan (2009, hlm. 4) seperti pada gambar 2.2 dibawah ini:

Gambar 2.2 Segmen-segmen Medula Spinalis


(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 4)

Medula spinalis terbagi menjadi sedikitnya 30 segmen, yaitu 8 segmen


servikal (C), 12 segmen thorax (T), 5 segmen lumbar (L), 5 segmen sacral (S),
dan beberapa segmen coccygeal (Co). Dari tiap segmen akan keluar beberapa
serabut saraf. Medula spinalis Iebih pendek daripada kolumna vertebralis
sehingga segmen medula spinalis yang sesuai dengan segmen kolumna
vertebralis terletak diatas segmen kolumna vertebralis tersebut (Mahadewa dan
Maliawan, 2009, hlm. 6)
Dibawah ini dijelaskan mengenai penampang melintang medula spinalis
menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 7), lihat pada gambar 2.3 dibawah
ini:

6
Gambar 2.3 Penampang melintang medula spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 7)

2.Kolumna Vetebralis
Menurut Syaifuddin (2006, hlm. 46) anatomi fisiologi kolumna vetebralis
di klasifikasikan menjadi ruas tulang belakang, bagian – bagian tulang belakang
dan lengkung kolumna vetebralis yang di paparkan sebagai berikut:
a. Ruas tulang belakang
Bentuk dari tiap-tiap ruas tulang belakang pada umumnya sama hanya ada
perbedaannya sedikit bergantung pada kerja yang ditanganinya. Ruas-ruas ini
terdiri atas beberapa bagian:
1) Badan ruas merupakan bagian yang terbesar, bentuknya tebal dan kuat terletak
di sebelah depan
2) Lengkung ruas, bagian yang melingkari dan melindungi lubang ruas tulang
belakang, teletak di sebelah belakang dan pada bagian ini terdapat tonjolan yaitu:
a) Prosesus spinosus/taju duri, terdapat di tengah Iengkung ruas, menonjol
kebelakang
b) Prosesus transversum/taju sayap, terdapat di samping kiri dan kanan lengkung
ruas
c) Prosesus artikularis/taju penyendi, membentuk persendian dengan ruas tulang
belakang (vertebralis)

7
Ruas-ruas tulang belakang ini tersusun dari atas ke bawah dan di antara masing-
masing ruas dihubungkan oleh tulang rawan yang disebut cakram antar-ruas sehingga
tulang belakang bisa tegak dan membungkuk. Di samping itu di sebelah depan dan
belakangnya terdapat kumpulan serabut-serabut kenyal yang memperkuat kedudukan ruas
tulang belakang.
Di tengah bagian dalam ruas-ruas tulang belakang terdapat pula suatu saluran
yang disebut saluran sumsum belakang (kanalis medula spinalis) yang di dalamnya
terdapat sumsum tulang belakang (Syaifuddin, 2006, hlm. 46).
Fungsi ruas tulang belakang menurut Syaifuddin (2006, hlm. 52) yaitu:
1) Menahan kepala dari alat – alat tubuh yang lain
2) Melindungi alat halus yang ada didalamnya (sumsum tulang belakang)
3) Tempat melekatnya tulang iga dan tulang panggul
4) Menetukan sikap tubuh
b. Bagian-bagian tulang belakang
Bagian-bagian tulang belakang menurut Syaifuddin 2006, hlm. 53 adalah
sebagai berikut:
1) Vertebra servikalis (tulang leher) 7 ruas,
2) Vertebra torakalis (tulang punggung) terdiri dari 12 ruas.
3) Vertebra lumbalis (tulang pinggang)-terdiri dari 5 ruas.
4) Vertebra sakralis (tulang kelangkang) terdiri dari 5 ruas.
5) Vertebra koksigialis (tulang ekor) terdiri dari 4 ruas. Ruas-ruasnya kecil
dan menjadi sebuah tulang yang disebut juga os koksigialis.
C. Lengkung Kolumna Vertebralis
Dilihat dari samping kolumna vertebralis terlihat ada empat kurva.atau lengkung.
Lengkung vertikal, daerah leher melengkung ke depan, daerah torakal
melengkung ke belakang, daerah lumbal melengkung ke depan dan daerah pelvis
melengkung ke belakang. Sendi kolumna vertebralis dibentuk oleh bantalan tulang
rawan yang terletak di antara tiap dua vertebra yang dikuatkan oleh ligamentum yang
berjalan di depan dan di belakang vertebra sepanjang kolumna vertebralis
(Syaifuddin, 2006, hlm. 53).

8
Cakram antar-badan vertebra adalah bantalan tebal dari tulang rawan fibrosa yang
terdapat di antara badan vertebra yang dapat bergerak. Gerakan sendi dibentuk antara
cakram dan vertebra dengan gerakan yang terbatas dan gerakannya fleksi, ekstensi,
lateral, samping kiri, dan samping kanan (Syaifuddin, 2006, hlm. 53).
Fungsi kolumna vertebralis sebagai penopang badan yang kokoh sekaligus
bekerja sebagai penyangga dengan perantaraan tulang rawan cakram intervertebralis
yang Iengkungnya memberi fleksibilitas untuk membengkok tanpa patah. Cakram juga
berguna untuk meredam goncangan yang terjadi bila menggerakkan badan seperti
waktu berlari dan meloncat, dengan demikian otak dan sumsum belakang terlindung
terhadap goncangan (Syaifuddin, 2006, hlm. 53).

3. Persarafan Medula Spinalis


Perjalanan serabut saraf dalam medula spinalis terbagi menjadi dua, jalur
desenden dan jalur asenden. Jalur desenden terdiri dari traktus kortikospinalis
lateralis, traktus kortikospinalis anterior, traktus vetibulopsinalis, traktus
rubrospinalis, traktus retikulospinalis, traktus tektospinalis, fasikulus
longitudinalis medianus (Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm.7).
Jalur asenden antara lain sistem kolumna dorsalis, traktus spinothalamikus,
traktus spinocerebellaris dorsalis, traktus spinocerebellar ventralis, dan
traktus spinoretikularis.
Terdapat banyak jalur saraf (traktus) di dalam medula spinalis. Jalur
saraf tersebut dapat dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini :

9
Gambar 2.5 Jalur persyarafan dalam medula spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 8)

4. Peredaran darah di medula spinalis


Menurut Mahadewa & Maliawan (2009, hlm. 11) medula
spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteria yang mempunyai
hubungan istimewa. Arteri - arteri spinal terdiri dari arteri spinalis
anterior dan posterior serta arteri radikularis. Dapat lihat pada
gambar 2.6 dibawah ini:

10
Gambar 2.6 Vaskularisasi medula spinalis servikalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 11)

a. Arteri spinalis anterior dibentuk oleh cabang kanan dan dari segmen intrakranial
kedua arteri vertebralis.
b. Arteri spinalis posterior kanan dan kiri juga berasal dari kedua arteri vertebralis.
c. Arteria radikularis dibedakan menjadi arteria radikularis posterior dan
anterior.
d. Sistem anastomosis anterior adalah cabang terminal arteria radikularis anterior.
Cabang terminal tersebut berjumlah dua, satu menuju rostra dan yang lain menuju
ke caudal dan kedua-duanya berjalan di berjalan di garis tengah permukaan ventral
medula spinalis.
5. Proses Penyembuhan Tulang
Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endo- kendral. Ketika
tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan
parut. Namun tulang mengalami regenerasi sendiri (Smeltzer, 2002, hlm. 2266).
Menurut Smeltzer, (2002, hlm. 2266), proses terjadinya penyembuhan tulang
terbagi menjadi 10 yang akan dijelaskan seperti dibawah ini:
a) Inflamasi.'Dengan adanya patah tulang Terjadi inflamasi, pernbengkakan
dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dari hilang dengan
berkurangnya pembengkakan dan nyeri.

11
b) Proliferasi Sel. Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami. organisasi
Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan
untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.

c) Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, kolagen dan


mengontrol) akam menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks
kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan
(osteoid).

d) Pembentukan Kalus. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk


menghubungkan defek secara langsung berhabungan dengan jumlah
kerusakan dan pergeseran tulang. Perin waktu 3 sampai 4 minggu agar
fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara
klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan.

e) Osifikasi. Pembentukan calus mulai mengalami penulangan dalam 2 sampai 3


minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus
menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras,
pemulangan memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

f) Remodeling. Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan


jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural
sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai
bertahun- tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan,
fungsi tulang, dani pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus
stres fungsional pada tulang.

12
2.2 Konsep Dasar Cedera Medula Spinalis
Definisi
Trauma pada medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis,
vertebra, dan lumbal akibat trauma, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan olahraga, dan sebagainya. (Arif Muttaqin, 2005, hal. 98)
Trauma medula spinalis adalah trauma yang bersifat kompresi akibat
trauma indirek dari atas dan dari bawah.. (Nugroho,2011, hlm 71)

Gambar 2.8 . A, ilustrasi dislokasi pada servikal B, foto Rontgen servikal


(Arif Mutaqim, 2005, hal. 110)
2.3 Etiologi
Menurut Arif muttaqin (2005, hal. 98) penyebab dari cedera medula spinalis
adalah :
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Kecelakaan olahraga
3. Kecelakaan industri
4. Kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau bangunan
5. Luka tusuk, luka tembak
6. Trauma karena tali pengaman (Fraktur Chance)
7. Kejatuhan benda kera

13
A. Mekanisme Terjadinya Cedera Medula Spinalis
Menurut Arif Muttaqin (2005, hal. 98-99) terdapat enam mekanisme
terjadinya Cedera Medula Spinalis yaitu : fleksi, fleksi dan rotasi, kompresi
vertikal, hiperekstensi, fleksi lateral, dan fraktur dislokasi. Lebih jelasnya akan
dijelaskan dibawaha ini:
a) Fleksi.
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada
vertebra.

b) Fleksi dan rotasi.


Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama
dengan rotasi.
c) Kompresi vertikal (aksial).
Trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra akan
menyebabkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahkan
permukaan serta badan vertebra secara vertikal.
d) Hiperekstensi atau retrofleksi.
Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan
ekstensi
e) Fleksi lateral.
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan
menyebabkan fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen
vertebra, dan sendi faset.
f) Fraktur dislokasi.
Trauma yang menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang dan
dislokasi pada tulang belakang.

2.4 Jenis-jenis Trauma Pada Sumsum Dan Saraf Tulang Belakang


Menurut Arif Mutaqim, (2005, hal. 99) jenis-jenis trauma pada
sumsum tulang belakang dan saraf tulang belakang adalah:

14
1) Transeksi tidak total.Transeksi tidak total disebabkan oleh trauma fleksi atau
ekstensi karena terjadi pergeseran lamina di atap dan pinggir vertebra yang
mengatami fraktur di sebelah bawah. Selain itu, dapat terjadi perdarahan
pada sumsum tulang yang disebut hematomielia.
2.Transeksi total.
Transeksi total terjadi akibat suatu trauma yang menyebabkan fraktur
dislokasi. Fraktur tersebut disebabkan oleh fleksi atau rotasi yang dapat
menyebabkan hilangnya fungsi segmen di bawah trauma.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien fraktur lumbal
menurut Mahadewa dan Maliawan, (2009, hlm148) adalah :
A Foto Polos
Pemeriksaan foto polos terpenting adalah AP Lateral dan Oblique
view. Posisi lateral dalam keadaan fleksi dan ekstensi mungkin berguna untuk
melihat instabilitas ligament. Penilaian foto polos, dimulai dengan melihat
kesegarisan pada AP dan lateral, dengan identifikasi tepi korpus vertebrae,
garis spinolamina, artikulasi sendi facet, jarak interspinosus. Posisi oblique
berguna untuk menilai fraktur interartikularis, dan subluksasi facet.
b. C T S c a n
CT scan baik untuk melihat fraktur yang kompleks, dan terutama yang
mengenai elemen posterior dari medulla spinalis. Fraktur dengan garis
fraktur sesuai bidang horizontal, seperti Chane fraktur, dan fraktur kompresif
kurang baik dilihat dengan CT scan aksial. Rekonstruksi tridimensi dapat
digunakan untuk melihat pendesakan kanal oleh fragmen tulang, dan melihat
fraktur elemen posterior.
c. MRI
MRI memberikan visualisasi yang lebih baik terhadap kelainan medula
spinalis dan struktur ligamen. Identifikasi ligamen yang robek seringkali lebih
mudah dibandingkan yang utuh. Kelemahan pemakaian MRI adalah terhadap
penderita yang menggunakan fiksasi metal, dimana akan memberikan

15
artifact yang mengganggu penilaian.
Kombinasi antara foto polos, CT Scan dan MRI, memungkinkan kita
bisa melihat kelainan pada tulang dan struktur jaringan lunak (ligamen, diskus
dan medula spinalis). Informasi ini sangat penting untuk menetukan klasifikasi
trauma, identifikasi keadaan instabilitas yang berguna untuk memilih
instrumentasi yang tepat untuk stabilisasi tulang.
d. Elektromiografi dan Pemeriksaan Hantaran Saraf
Kedua prosedur ini biasanya dikerjakan bersama-sama 1-2 minggu
setelah terjadinya trauma. Elektromiografi dapat menunjukkan adanya denervasi
pada ekstremitas bawah. Pemeriksaan pada otot paraspinal dapat membedakan
lesi pada medula spinalis atau cauda equina, dengan lesi pada pleksus lumbal
atau sacral.
Sedangkan menurut Arif Mutaqim, (2005, hal. 110) pemeriksaan
radiologi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Rontgen. Pada pemeriksaan Rontgen, rnanipulasi penderita
harus dilakukan secara hati-hati. Pada fraktur C-2, pemeriksaan posisi
AP dilakukan secara khusus dengan membuka mulut. Pemeriksaan
posisi AP secara lateral dan kadang-kadang oblik dilakukan untuk
menilai hal-hal sebagai berikut.
2. Diameter anteroposterior kanal spinal.
3. Kontur, bentuk, dan kesejajaran vertebra.
4. Pergerakan fragmen tulang dalam kanal spinal.
5. Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus Ketinggian
ruangan diskus
6. intervertebralis Pembengkakanjaringan lunak.
7. Pemeriksaan CT-scan terutama untuk melihat fragmentasi dan per-
geseran fraktur dalam kanal spinal.
8. Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi.
9. Pemeriksaan MRI terutama untuk melihat jaringan lunak, yaitu diskus
intervertebralis dan ligamentum flavum serta lesi dalam sumsum
medulla spinalis.

16
2.6 Penatalaksanaan
Menurut Muttaqim, (2008 hlm.111) penatalaksanaan pada trauma tulang belakang
yaitu :
1. Pemeriksaan klinik secara teliti:
a) Pemeriksaan neurologis secara teliti tentang fungsi motorik, sensorik,
dan refleks.
b) Pemeriksaan nyeri lokal dan nyeri tekan serta kifosis yang
menandakan adanya fraktur dislokasi.
c) Keadaan umum penderita.

2) Penatalaksanaan fraktur tulang belakang:


a) Resusitasi klien.
b) Pertahankan pemberian cairan dan nutrisi.
c) Perawatan kandung kemih dan usus.
d) Mencegah dekubitus.
e) Mencegah kontraktur pada anggota gerak serta rangkaian rehabiIitasi
lainnya.

17
18
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
A. Indetitas Klien
Nama : Tn. S
Umur : 35 tahun
Jenis Kelamin : Laki –Laki
Agama : Islam
Alamat : Ds. Nanga Menarin, Mentabah Kapuas Hulu
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Penambang Emas
Diagnosa Medis : Fraktur Lumbal
Tanggal MRS : 06 Juni 2012
No. RM : 757759

B. RIWAYAT SAKIT DAN KESEHATAN


a. Kesehatan Masa Lalu
Klien mengatakan ia belum pernah masuk Rumah Sakit, klien
hanya menderita sakit seperti flu dan batuk saja dan hanya membeli obat
di warung.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Alasan Masuk Rumah Sakit
Dua puluh hari sebelum masuk rumah sakit RSDS
Pontianak klien mengalami kecelakaan di tempat kerjanya. Saat
bekerja klien tertimpa runtuhan tanah dengan posisi jongkok, dan
beberapa saat setelah itu pada kedua kakinya terasa dingin dan
tidak bisa di gerakkan, kondisinya klien saat itu lemah sehingga
klien langsung dibawa ke rumah sakit putusibau dan mendapat
perawatan, karena fasilitas yang belum memadai di rumah sakit
putusibau pada tanggal 06 Juni 2012 klien dirujuk kerumah sakit
RSDS pontianak dalam keadaan sadar penuh ,nyeri pada daerah

19
punggung, tampak jejas pada punggung bagian lumbalis dan klien
mengatakan bagian kaki terasa dingin.
2) Keluhan Waktu Didata
Pada waktu didata klien mengatakan nyeri pada saat klien:
bergerak & diam, dengan kualitas nyeri terasa ditusuk-tusuk, klien
mengatakan bagian belakangnya (lumbalis) terasa nyeri dengan
skala 4-6 (sedang), dan nyeri nya terjadi secara terus menerus
sehingga membuat klien sulit untuk tidur. Klien juga mengatakan
hanya terbaring, aktivitasnya dibantu perawat dan keluarga, sudah
2 hari belum mandi dikarenakan keluarga klien tidak berani untuk
menggerakan klien.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan didalam keluarganya tidak terdapat
penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes melitus, atau asma
serta tidak ada pula yang menderita penyakit menular seperti
hepatitis, tbc, dan lain-lain.
C. Pemeriksaan Fisik
a.Keadaan umum
Saat dilakukan pemeriksaan fisik, keadaan umum klien tampak
lemah, tampak mengatuk, hanya bisa beraktifitas di tempat tidur dan
hanya miring kiri dan miring kanan. Saat dikaji kesadaran klien dalam
keadaan kompos mentis, tekanan darah 100/60 mmHg dengan frekuensi
nadi 89x/ menit dan frekuensi pernapasan 23x/menit sedangkan suhu
tubuhnya 36,3c
b. Kepala leher dan axila
Kepala klien tampak simetris, rambut klien hitam dan agak
panjang, leher tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening, tidak
adanya lesi, di axilla tidak tampak lesi, tidak ada nyeri tekan dan tidak
teraba masa.

20
c. Mata
Mata klien tampak simetris, pupil klien isokor, konjungtiva tidak
pucat, terdapat lingkaran hitam disekitar mata, klien tidak menggunakan
alat bantu penglihatan,
d. Telinga
Telinga klien tampak simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak teraba
masa dan tidak ada lesi, tidak ada gangguan pada fungsi pendengaran
klien
e. Hidung
Hidung tampak simetris, mukosa hidung lembab, tidak tampak
sekret, tidak ada gangguan pada fungsi penciuman klien
f. Mulut dan pharing
Mulut tampak simetris, mukosa bibir lembab, gigi klien masih
lengkap, tidak ada gangguan reflek menelan, tidak ada pembesaran tonsil,
ovula terlihat kemerahan.
g. Dada
1) Thorak
Saat dilakukan pengkajian Inspeksi bentuk thorak klien simetris,
tidak terdapat lesi, tidak terdapat retraksi interkosta, pergerakan dada
simetris, irama pergerakan reguler,dan ketika di raba tidak terdapat masa,
tidak terdapat nyeri, ekspansi paru simetris, kemudian saat di auskultasi
terdengar vesikuler di permukaan paru, tidak terdengar whezing dan
ronchi.
2) Paru paru
Saat di lakukan perkusi terdengar bunyi rensonan pada lapang
paru dan ketika di auskultasi terdengar vesikuler di permukaan paru, tidak
terdengar whezing dan ronchi.
3) Jantung
Saat dilakukan inspeksi pada jantung tidak terlihat adanya iktus
kordis pada ics 4 dan 5 dan teraba iktus kordis saat di palpasi, dsan ketika

21
di perkusi terdengar dullnes pada daerah jantung, Pada pemeriksaan
auskultasi terdengar bunyi S1 lub dan S2 dup, dan tidak terdengar bunyi
tambahan.
4) Payudara
Bentuk simetris, tidak tampak pembengkakan, tidak ada lesi,
aerola berwarna kecoklatan.
h. Abdomen
Saat di inspeksi bentuk abdomen klien simetris tidak terdapat ascites,
tidak terlihat lesi, terdengar bising usus 6x/menit saat di auskultasi, saat di perkusi
terdengar dullnes didaerah hati tidak ada hepatomegali dan splenomegali dan saat
dipalpasi tidak teraba ginjal, tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas.
i. punggung.
Saat diinspeksi pada tulang belakang daerah lumbalis tampak bengkok
atau terjadi deformitas kearah luar pada lumbalis 4-5, terdapart pula massa atau
benjolan, kemerahan. Saat di palpasi terdapat nyeri tekan, teraba benjolan kearah
luar. Saat di tekan pada daerah fraktur klien tampak meringis.
j. genetalia dan rectum
Saat di kaji klien terpasang kateter dengan ukuran 16 G, dengan urine
yang tertampung di urine bag sebanyak 200 cc.
k. Ekstremitas
atas : kekuatan otot pada tangan kanan 5, di tandai dengan klien mampu
melawan tahanan yang diberikan, begitu pula untuk tangan kiri klien kekuatan
ototnya 5 walaupun pada tangan kiri klien terpasang infuse klien masih mampu
melawan tahanan.
bawah : kekuatan otot kaki kiri 5 yaitu dapat melawan tahanan yang
diberikan,tonus otot padat, klien dapat merasakan nyeri di kaki kiri., sedangkan
untuk kaki kanan,kekuatan ototnya 0 karena kaki kanan klien tak bisa digerakan
dan tidak terdapat kontraksi otot, dan kaki kanan klien juga tidak bisa merasakan
sensasi nyeri yang diberikan

22
11. Data Penunjang
a. Hasil lab tanggal 14 juni 2012:
GDS 99 Hexokinase mg/dl 55-150
Ureum 39,7 UV test mg/dl 10-50
Kreatinin 0,7 IFFE mg/dl 0,6-1,3
b Hasil pemeriksaan Radiologi
Rontgen: dari hasil foto vertebra tampak deformitas pada lumba 4-5.

12. Pengobatan
infus RL : 20 tpm
Intravena :
a. Ranitidine 2x 50mg
b. Ondansentron 3x4 gram
c. Kalnex 3×250 mg
d. Ketorolac 3×30mg
e. Methyi prednisolon 2x12mg

D. ANALISA DATA
NO. DATA PENUNJANG ETIOLOGI PROBLEM
1 DS : Reaksi peradangan Nyeri
 klien mengatakan nyeri pada saat
bergerak & diam dengan kualitas Agen-agen peradangan :
nyeri terasa ditusuk-tusuk, bradikilin
 Klien mengatakan bagian
belakangnya (lumbalis) terasa Sensai nyeri
nyeri dengan skala 4-6 (sedang),
dan nyeri nya terjadi secara terus Nyeri akut
menerus sehingga membuat klien
sulit untuk tidur.
DO :
 Klien tampak meringis saat

23
bergerak dan diam, dan saat
di tekan tulang belakangnya,
 TTV :
 TD : 100/60 mm/Hg
 N: 89x/menit
 RR : 23x/menit
 S : 36,3 0C
 Ada reaksi penolakan saat di
tekan pada tulang belakang
2DS : Torakumbal Hambatan
 Klien mengatakan hanya mobilitas fisik
terbaring Blok saraf motorik
 Klien mengatakan aktivitasnya Ekstermitas
dibantu perawat dan keluarga
DO : Kelumpuhan otot-otot
 Klien terlihat lemah ekstermitas
 Kaki kanan klien tidak dapat
di gerakkan Hambatan mobilitas fisik
 Kebutuhan klien di bantu oleh
keluarga dan perawat
 Klien hanya beraktifitas di
tempat tidur dan itu pun hanya
berbaring
 Kekuatan otot
5 4
0 5
3 Ds: Sakralis Inkontinensia
 Klien mengatakan tidak defekasi
bisa mengatur BAB nya S2-S3
 Klien mengatakan pada
saat BAB tinjanya keluar Keusakan saraf motorik

24
sendiri tanpa ada rasa bawah
mengeluarkanya.
 Klien mengatakan dirinya Tidak menunda defekasi
tidak menyadari pada saat
BAB. Inkontinesia defekasi

Do:
 Terlihat klien BAB
dicelana dan klien tidak
menyadarinya,
 pada tulang belakang
daerah lumbalis tampak
bengkok atau terjadi
deformitas kearah luar
pada lumbalis 4-5,
terdapat pula massa atau
benjolan, kemerahan.
 Klien mengalami
kelumpuhan di bagian
ekstremitas bawah.
 Klien tidak menyadari
bahwa dirinya BAB

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut b/d terputusnya kontinuitas jaringan tulang.
2. Hambatan mobilitas fisik b/d fraktur lumbalis
3. Inkontinensia defekasi b/d kerusakan saraf motorik bawah.

25
3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN
NO. Dx. Keperawatan Intervensi Rasional
1 Nyeri akut b/d 1. Kaji nyeri yang 1. perubahan nyeri pada klien akan menetukan
terputusnya kontinuitas dialami klien rencana lebih lanjut.

jaringan tulang. 2. kaji faktor yang 2. ketakutan,keletihan,ketidaktahuan,monoton,dan


ketidakpercayaan orang lain sering
TUJUAN : menurunkan
menyebabkan penurunan toleransi
Setelah dilakukan toleransi nyeri
terhadap nyeri,sehingga persepsi terhadap
tindakan keperawatan 3. Pantau tanda-
nyeri akan meningkat.
selama 3x24 jam nyeri tanda vital
3. Peningktan tanda-tanda vital seperti
klien berkurang . 4. Ajarkan tekanan darah, nadi menandakan peningkatan
KH ; tekhnik nyeri
 Klien distraksi dan 4. relaksasi dan distraksi merupakan metode
mengatakan relaksasi nonfarmakologis yang mengubah proses fikir
nyerinya sudah 5. Berikan obat terhadap nyeri
berkurang Analgetik 5. Analgetik berfungsi dalam menghambat
skala (1-3) ketorolac impuls nyeri

 klien tidak
meringis
kesakitan lagi
- TTV dalam batas
normal
 TD: 120/ 80
mmHg
 N: 80x/ menit
 RR: 20x/ menit
 S: 36,50 C

2. Hambatan mobilitas 1. Kaji pola 1. dengan mengetahui pola aktifitas klien


fisik b/d fraktur aktifitas klien akan mengetahui seberapa mampu klien unt
lumbalis 2. Tingkatkan beraktifitas.

26
TUJUAN : mobilitas 2. Mobilitas rentang gerak yang optimal
setelah dilakukan ekstremitas mencegah kekakuan pada sendi klien
tindakan keperawatan atau Latih 3. Mempermudah pasien untuk memenuhi
selama 3x 24 jam rentang kebutuhannya secara mandiri
hambatan mobilitas pergerakan 4. Air hangat akan memperlancar sirkulasi
fisik teratasi kriteria sendi pasif sehingga mencegah iskemi
hasil: 3. Posisikan 5. Mengawasi aktifitas klien agar klien tidak
o Klien tubuh sejajar melakukan aktifitas yang dapat
mengatakan untuk memperparah keadaannya.
bertambahny mencegah 6. Kemerahan dan teraba panas pada kulit
a kekuatan komplikasi menandakan area tesebut mengalami tekanan
dan daya 4. Anjurkan yang dapat menjadi dekubitus

tahan keluarga untuk


ekstremitas memandikan
o Klien klien dengan
mampu air hangat.
melakukan 5. Awasi seluruh
aktivitas upaya
secara mobilitas dan
bertahap bantu pasien
sesuai jika di
toleransi perlukan.
6. Inspeksi kulit
terutama yang
bersentuhan
dengan tempat
tidur
3 Inkontinensia defekasi 1. Kaji adanya 1. Gangguan pola eliminasi BAB biasanya
b/d kerusakan saraf gangguan pola ditandai dengan ketidak tahuan klien kalau
motorik bawah. eliminasi dirinya sedang BAB
TUJUAN : (BAB) 2. feses yang terlalu lama di pampers atau

27
Setelah dilakukan 2. .observasi pengalas klien akan meningkatkan resiko
tindakan keperawatan adanya feses di lesi
selama 3x24 jam pampers klien 3. Agar perawat atau keluarga mengetahui
gangguan pola 3. Anjurkan dan segera mengganti pempers atau celana
eliminasi (BAB) dapat kepada klien klien
ditoleransi klien untuk memberi 4. Agar bisa mengontrol adanya peses yang
kriteria hasil tahu perawat tidak disadari klien
 Klien memberi tahu atau keluarga 5. Agar klien dan keluarga mengetahui
perawat atau kalau terasa tentang adanya gangguan pola eliminasi
keluarga kalau BAB yang dialami klien
sedang BAB 4. Anjurkan
 Pampers atau celana kepada keluarga
klien diganti apabila untuk sering
klien BAB mengawasi
klien
5. Jelaskan kepada
klien tentang
adanya
gangguan pola
eliminasi

3.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

NO. IMPLEMENTASI PARAF


1. 1. Mengkaji nyeri yang dialami klien
2. Mengkaji faktor yang menurunkan toleransi nyeri
3. Mengurangi atau hilangkan faktor yang meningkatkan nyeri
4. Memantau tanda- tanda vital
5. Mengajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi
6. Memberikan obat Analgetik ketorolac

28
2. 1. Mengkaji pola aktifitas klien
2. Meningkatkan mobilitas ekstremitas atau Latih rentang pergerakan
sendi pasif
3. Memposisikan tubuh sejajar untuk mencegah komplikasi
4. Menganjurkan keluarga untuk memandikan klien dengan air hangat.
5. Mengawasi seluruh upaya mobilitas dan bantu pasien jika di perlukan.
6. Menginspeksi kulit terutama yang bersentuhan dengan tempat tidur
3. 1. Mengkaji adanya gangguan pola eliminasi (BAB)
2. Mengobservasi adanya feses di pampers klien
3. Menganjurkan kepada klien untuk memberi tahu perawat atau keluarga
kalau terasa BAB
4. Menganjurkan kepada keluarga untuk sering mengawasi klien
5. Menjelaskan kepada klien tentang adanya gangguan pola eliminasi

3.5 EVALUASI KEPERAWATAN

NO EVALUASI PARAF

1. S : Klien mengatakan bagian belakangnya nyeri


O : Klien tampak meringgis saat bergerak dan diam
TTV:
 TD : 100/60 mmHg
 N : 89 x/m
 S : 36,30C
 RR : 23 x/m
A : Masalah belum teratasi

29
P : Lanjutkan tindakan keperawatan
-

2. S : Klien mengatakan hanya beraktifitas di tempat tidur


O : Klien tampak hanya beraktifitas di tempat tidur
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
-

3. S: klien mengatakan tidak bisa mengontrol BAB nya


O: tampak feses di pempers klien
A: masalah pola eliminasi belum teratasi
P: lanjutkan intevensi
-

30
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Setelah diberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan fraktur spinalis maka
dapat disimpulkan Cedera medula spinalis adalah cedera mengenai cervicalis,
vertebralis dan lumbalis akibat trauma; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu
lintas, kecelakakan, olah raga.

31
DAFTAR PUSTAKA

Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott
company, Philadelpia.
Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan
Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien,
EGC, Jakarta.
Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.
Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition,
JB Lippincott Company, Philadelphia.
Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta

32