Anda di halaman 1dari 6

A.

ASAL-USUL SUNGAI

Sungai dapat terbentuk dalam beberapa cara, di antaranya yang paling umum adalah
karena adanya air hujan, gletser, salju yang mengalirinya.
Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah karena adanya gravitasi. Air
yang mengalir akan secara alami mengerosi lapisan batuan yang lebih lemah, sehingga
erosi terjadi di bagian tepi dan lapisan di bawah sungai. Kalau kita membuat
penampang sungai dari tepi hingga ke tengah, maka penampang sungai menyerupai
bentuk “huruf-V”. Berdasarkan pola alirannya, sungai diklasifikasikan menjadi:
dendritic, parallel, trellis, rectangular, radial, centrifugal, centripetal.

Di Indonesia, air sungai umumnya berasal dari mata air yang berada di pegunungan.
Kalau sungai mengalir sepanjang tahun, kita dapat menduga bahwa debit mata air di
hulunya pasti sangat besar. Jika air tersebut secara gravitasi jatuh dari tempat yang lebih
tinggi ke tempat lebih rendah, maka kita akan menjumpai air terjun. Pada musim
kemarau, mata air dapat mengering, sehingga debit atau alirannya sedikit dan air pun
tidak mengalir mengisi sungai.
Di beberapa daerah pegunungan kapur (karst), kita juga akan sering menjumpai sungai
bawah tanah. Air akan melarutkan batu kapur, sehingga akan terbentuk aliran sungai
baru di dalam goa.
Di daerah bersalju, air sungai berasal dari lelehan salju atau gletser. Gletser adalah
istilah dalam ilmu geologi untuk menyebut lapisan besar es yang bergerak turun
perlahan-lahan di lereng gunung atau di daratan. Pada musim dingin, umumnya sungai
akan terisi sedikit air, karena air membeku menjadi es. Ketika cuaca sudah mulai
hangat, salju akan mencair dan mengalir ke daerah yang lebih rendah, terakumulasi
menjadi sungai.
B. PENGERTIAN SUNGAI
Sungai merupakan bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah daripada
permukaan tanah di sekitarnya dan menjadi media alir air menuju laut, danau atau rawa.

Sungai menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Sungai tidak
hanya terdapat di pedesaan namun terdapat juga di area kota.
Secara umum, aliran sungai terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian hulu, bagian
tengah, dan bagian hilir. Masing-masing bagian sungai tersebut memiliki ciri tersendiri
yang membedakan ketiganya.

C. BAGIAN-BAGIAN SUNGAI
1. Bagian Hulu
Sungai pada bagian hulu biasanya memiliki arus yang kuat akibat lereng yang curam.
Karena arus yang kuat, pengikisan yang umum terjadi adalah pengikisan pada dasar
sungai.

2. Bagian Tengah
Di bagian tengah, kekuatan arus mulai berkurang karena kecuraman lereng mulai
berkurang pula. Badan sungai mulai melebar dan berkelok sehingga arus juga
melambat.

3. Bagian Hilir
Di bagian hilir, kekuatan arus sudah sangat pelan. Badan sungai juga semakin lebar
dibandingkan bagian-bagian sungai yang lainnya. Aliran sungai juga lemah dan
membuat bentuk sungai berbentuk berkelok-kelok. Kelokan sungai sering berpindah-
pindah sehingga terdapat aliran sungai yang terpotong dan membentuk cekungan air
yang berbentuk tapal kuda.

D. PROSES TERBENTUKNYA SUNGAI


Sungai merupakan bagian di permukaan bumi yang menjadi tempat berkumpulnya air
dan air tersebut kemudian mengalir ke tempat yang lebih rendah. Air tersebut mengalir
dan membentuk saluran. Awalnya, saluran tersebut hanya berukuran kecil. Akan tetapi,
setelah berjalan mengalir ke bagian lain, air tersebut akan mengikis area-area yang
dilewatinya. Saluran air tersebut akan menimbulkan dampak-dampak seperti
pengikisan, pengangkutan, penimbunan, dan pengendapan. Proses-proses tersebut
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kemiringan sungai, volume atau jumlah air dan
kecepatan alirnya. Kemiringan yang lebih curam mengakibatkan tingkat pengangkutan
dan pengikisan yang lebih tinggi.

E. MACAM – MACAM JENIS SUNGAI


1. Berdasarkan sumber air
 Sungai hujan, merupakan sungai yang berasal dari air hujan.
 Sungai gletser, merupakan sungai yang berasal dari mencairnya es.
 Sungai campuran, merupakan sungai yang berasal dari huja, sumber mata air,
dan pencairan es.
2. Berdasarkan debit air
 Sungai permanen, merupakan sungai yang debit airnya tetap sepanjang tahun.
 Sungai periodik, merupakan sungai yang banyak airnya ketika hujan dan sedikit
airnya di musim kemarau.
 Sungai episodik, merupakan sungai yang banyak airnya ketika hujan dan kering
di musim kemarau.
 Sungai ephemeral, merupakan sungai yang hanya berair pada musim hujan.
3. Berdasarkan asal kejadian
 Sungai konsekuen, merupakan sungai yang aliran airnya mengikuti lereng.
 Sungai subsekuen, merupakan sungai yang aliran airnya mengikuti bebatuan.
 Sungai obsekuen, merupakan sungai yang arah alirannya berlawanan dengan
arah lereng.
 Sungai resekuen, merupakan sungai yang arah alirannya mengikuti kemiringan
lapisan batuan dan bermuara di sungai sebsekuen.
 Sungai insekuen, merupakan sungai yang mengalir anpa mengikuti struktur
bebatuan.
4. Berdasarkan struktur geologi
 Sungai antesden, merupakan sungai yang arah alirannya tetap meskipun ada
struktur bebatuan yang melintang.
 Sungai superposed, merupakan sungai yang arahnya melintang dan prosesnya
dibimbing lapisan batu-batuan yang menutupi.
5. Berdasarkan pola alirannya
 Radial atau menjari, terbagi menjadi dua, yaitu: Radial sentrifugal, merupakan
aliran menyebar meninggalkan pusatnya; dan Radial sentripetal, merupakan
aliran mengumpul menuju ke arah pusat.
 Dendritik, merupakan pola aliran yang tidak teratur.
 Trellis, merupakan pola aliran yang menyirip.
 Rektangular, merupakan pola aliran yang membentuk sudut siku-siku atau
hampir siku-siku.
 Anular, merupakan pola aliran sungai yang membentuk lingkaran.

F. MANFAAT SUNGAI
Sungai sangat vital keberadaannya dalam kehidupan, baik bagi makhluk hidup maupun
bagi lingkungan. Berikut adalah beberapa fungsi atau manfaat sungai.
1. Tempat menampung hujan
Manfaat utama dari sungai yaitu menampung debit air yang turun ke permukaan bumi
(hujan). Air hujan akan berkumpul dan mengalir ke suatu tempat. Media utama yang
mampu menampung air hujan adalah sungai atau danau.

2. Mengalirkan air ke dataran rendah


Air bergerak dari tempat tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Maka, sungai bisa
mengalirkan air dari dataran tinggi ke dataran rendah.

3. Tempat hidup suatu ekosistem


Ekosistem adalah kumpulan tempat tinggal makhluk hidup dan pendukung-
pendukungnya. Sungai bisa menjadi rumah bagi makhluk hidup di ekosistemnya.

4. Ladang mata pencaharian penduduk


Sungai dapat menjadi sumber rezeki bagi masyarakat di sekitarnya dengan banyaknya
keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. Penduduk yang bermata
pencaharian sebagai nelayan bisa menangkap ikan yang ada di danau.
5. Pembangkit Listrik Tenaga Air
Sungai dapat menjadi salah satu energi yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit
listrik. Derasnya arus aliran air sungai dapat memutar kincir yang akan dihubungkan
dengan generator pembangkit listrik. Listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan listrik sehari-hari.

6. Tempat berolahraga dan rekreasi


Rekreasi wisata yang berbeda bisa dirasakan sesekali jika dilakukan di daerah sungai.
Udara di sekitar sungai biasanya sejuk dan jika air sungainya bersih juga mampu
melahirkan rasa tenang bagi sesiapa yang memandangnya. Sungai juga bisa dijadikan
sebagai sarana untuk berolahraga, seperti berenang dan arung jeram. Tentunya, jika
ingin berolahraga di sungai harus mempersiapkan peralatannya dengan sempurna dan
didampingi dengan orang yang berpengalaman.

7. Pemenuhan kebutuhan air sehari-hari


Penduduk di sekitar sungai juga lazim memanfaatkan sungai untuk kebutuhan sehari-
hari. Jika airnya bersih, sungai bisa digunakan untuk sumber air bersih rumah tangga
seperti kebutuhan mandi, mencuci, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

G. PEMELIHARAAN SUNGAI
Komponen Pemeliharaan Sungai
Komponen Pemeliharaan Sungai terdiri dari perlindungan sungai dan pengendalian
sungai.
1. Perlindungan Sungai
Perlindungan Sungai merupakan upaya pengamanan sungai terhadap ancaman bahaya
yang berasal dari lingkungan di luar sistem sungai, terdiri dari :
1. Ancaman bahaya yang berasal dari kekuatan alam, antara lain gempa bumi,
tanah longsor, atau galodo/banjir lumpur.
2. Ancaman bahaya yang berasal dari ulah manusia, antara lain pencemaran air
dari limbah industri, limbah pertanian/perkebunan, atau limbah rumah tangga,
pemanfaatan lahan di daerah manfaat sungai, bekas sungai, atau daerah rawan
banjir.
2. Pengendalian Sungai
Pengendalian Sungai merupakan upaya pengamanan sungai terhadap ancaman bahaya
yang berasal dari sistem sungai itu sendiri, terdiri dari :
1. Ancaman bahaya yang berasal dari sistem sungai akibat dari kekuatan alam
antara lain banjir, banjir lahar, erosi dan pendangkalan pada dasar palung
sungai, serta erosi tebing palung sungai yang mempengaruhi morfologi sungai,
atau gerusan lokal pada bangunan-bangunan sungai.
2. Ancaman bahaya yang berasal dari sistem sungai akibat dari ulah manusia,
antara lain penambangan secara berlebihan, kegiatan transportasi air di palung
sungai atau di daerah manfaat sungai.
3. Ancaman bahaya yang berasal dari kombinasi kekuatan alam dan ulah manusia,
akan berdampak jauh lebih parah.

Jenis-Jenis Pemeliharaan Sungai


1. Pemeliharan Preventif
Pemeliharaan preventif yaitu kegiatan pencegahan yang bertujuan untuk menjaga agar
bangunan sungai tetap berfungsi secara optimal sesuai dengan tingkat layanan yang
direncanakan. Kriteria umum dari pemeliharaan preventif adalah :
1. Dilakukan terhadap bangunan sungai yang kondisinya sudah mantap.
2. Pemeliharaan perlu dilakukan secara terus-menerus atau kontinyu.
3. Terdiri dari pekerjaan pemeliharaan yang sederhana sehingga ,tidak
memerlukan kelengkapan perhitungan desain maupun tim konsultan perencana.
4. Tidak dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan fungsi bangunan.
Agar tingkat layanan suatu bangunan sungai dapat dipertahankan, maka pemeliharaan
preventif ini perlu dilaksanakan secara tertib dan terprogram dari waktu ke waktu tanpa
menunggu gejala penurunan kondisi dan kestabilan stuktur bangunan yang mencolok.
Dengan demikian segala kebutuhan yang diperlukan untuk melaksanakannya dapat
diprogramkan secara pasti. Kegiatan-kegiatan preventif berupa:
1. Pemeliharaan rutin.
2. Pemeliharaan berkala, yaitu pemeliharaan yang dilaksanakan menurut tata
waktu tertentu (3 bulanan, 5 bulanan, 1 tahunan, 2 tahunan dsb).
3. Reparasi atau perbaikan ringan.
2. Pemeliharaan Korektif/Penyempurnaan
Pemeliharaan korektif yaitu pekerjaan perbaikan kerusakan bangunan sungai atau
pembetulan terhadap kekurangan yang ada pada suatu bangunan sungai tanpa
mengubah tujuan dan tingkat layanan bangunan yang bersangkutan.
Kriteria umum dari pemeliharaan korektif adalah :
1. Dilakukan pada bangunan sungai yang kondisi strukturnya mengalami
kerusakan berat sehingga nilai kinerjanya sudah kurang dari 70 %.
2. Dilakukan apabila pemeliharaan rutin dipandang sudah tidak efisien lagi.
3. Bertujuan mengembalikan dan menyempurnakan fungsi bangunan sungai pada
tingkat kemampuan layanan semula (tidak melampaui kemampuan layanan
rencana).
4. Kebutuhan pemeliharaan didasarkan pada perhitungan perencanaan struktur dan
analisa biaya secara khusus.
3. Pemeliharaan Darurat
Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan yang dikerjakan pada waktu yang sangat
mendesak dengan kualitas pekerjaan yang benar-benar darurat. Kriteria umum
pekerjaan pemeliharaan darurat adalah:
1. Dilaksanakan pada bagian-bagian bangunan sungai yang mengalami perubahan
atau gangguan yang bersifat mendadak.
2. Dilaksanakan pada kondisi darurat (bencana banjir, tanah longsor, dll.)
3. Mutu hasil kerjanya bersifat darurat dan tidak perlu didukung dengan analisis
perencanaan yang mendetail.

H. KERUGIAN SUNGAI
1. Sebagai media penyebaran bibit penyakit, seperti kolera, disentri, dan lain-lain.
Bibit penyakit disebarkan melalui air apabila air sungai digunakan untuk keperluan
hidup sehari-hari.
2. Dapat menyebabkan polusi air, terutama sungai-sungai yang penuh dengan sampah.
3. Dapat menimbulkan banjir dan mendatangkan kerugian yang cukup besar bagi
manusia.
Berbagai dampak negatif yang telah dikemukakan tadi, sebagian besar disebabkan oleh
tindakan manusia sendiri, di samping adanya perubahan kondisi fisik, seperti perubahan
curah hujan. Oleh karena itu, pencegahannya harus dilakukan terhadap faktor-faktor
fisik dan manusia secara terpadu.