Anda di halaman 1dari 3

BAB II Tinjauan Pustaka

1. Eritrosist

Eritrosit adalah sel khusus dengan fungsi primer untuk transpor O2, dalam
darah. Bentuknyayang bikonkaf menyebabkan luas permukaan untuk difusi O2, ke
dalam sel menjadi maksimal untuk volume ini. Eritrosit tidak mengandung nukleus,
organel, atau ribosom tetapi dipenuhi oleh hemoglobin, suatu molekul yang
mengandung besi yang dapat secara longgar dan reversibel mengikat O2. Karena O2,
kurang larut dalam darah maka hemoglobin tidak tergantikan untuk transport O2.
Hemoglobin juga ikut berperan dalam transpor CO2. (Sherwood, 2014)

Karena tidak dapat mengganti komponenkomponennya, eritrosit memiliki usia


pendek sekitar 120 hari. Sel punca multipoten tak berdiferensiasi di sumsum tulang
menghasilkan semua elemen selular darah. Produksi eritrosit (eritropoiesis) oleh
sumsum tulang dalam keadaan normal menyamai laju pengurangan eritrosit sehingga
jumlah eritrosit konstan. Eritropoiesis dirangsang oleh eritropoietin, suatu hormon
yang dikeluarkan oleh ginjal sebagai respons terhadap penurunan penyaluran O2.
(Sherwood, 2014)

Sel darah merah/eritrosit mempunyai membran sel yang bersifat semi


permiabel terhadap lingkungan sekelilingnya yang berada diluar eritrosit, dan
mempunyai batas-batas fisiologi terhadap tekanan dari luar eritrosit.Tekanan
membran eritrosit dikenal dengan tonisitas yang berhubungan dengan tekanan
osmosis membran itu sendiri. Kekuatan maksimum membran eritrosit menahan
tekanan dari luar sampai terjadinya hemolisis dikenal dengan kerapuhan atau
fragilitas(Dwi Aries Saputro 1, 2014)
2. Hemolisis
Hemolisis yaitu terjadinya lisis pada membran eritrosit yang menyebabkan
hemoglobin terbebas dan pada akhirnya menyebabkan kadar hemoglobin
mengalami penurunan karena keluar ke jaringan di sekelilinya(Siswanto et al, 2014).
. Seperti sel-sel lain, eritrosit dibatasi oleh suatu membran yang bersifat
semipermeabel atau selektif permeabel, artinya membran dapat ditembus oleh air dan
zat terlarut tertentu, tetapi tidak dapat ditembus oleh zat tertentu yang lain. Membran
eritrosit umumnya mudah dilalui oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO42-, HCO3- dan oleh
zat-zat seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya membran
eritrosit tidak mudah ditembus oleh Na+ , K+, Ca2+ , Mg2+ , fosfat organik dan zat-zat
lain seperti hemoglobin dan protein plasma (Hanifa et al, 2014).
Sel darah merah dalam berbagai kondisi larutan memiliki karakteristik yang
berbeda pada kondisi larutan yang berbeda. Kondisi yang berbeda bergantung pada
permeabilitas membran sel terhadap lingkungannya. Pada kondisi larutan yang
hipotonis seperti larutan NaCl dengan konsentrasi NaCl 0.4%sel umumnya akan
mengalami lisis. Pada kondisi larutan NaCl 0.9%, larutan dikatakan isotonis dengan
eritrosit. Sedangkan pada larutan dengan kondisi hipertonik seperti pada NaCl 1.8%,
eritrosit akan mengalami krenasi pada selnya(Ernawati, 2015)

Keseimbangan osmotik merupakan kekuatan yang besar untuk memindahkan


air agar dapat melintasi membran sel. Bila cairan interseluler dan ekstraseluler dalam
keseimbangan osmotik, maka perubahan yang relatif kecil pada konsentrasi zat
terlarut impermeabel dalam cairan ekstraseluler dapat menyebabkan perubahan luar
biasa dalam volume sel (Hanifa et al, 2014).
a. Cairan isotonik. Jika suatu sel diletakkan pada suatu larutan dengan zat terlarut
impermeabel (tidak dapat dilewati) maka sel tidak akan mengerut atau membengkak
karena konsentrasi air dalam cairan intraseluler tidak dapat masuk atau keluar dari sel
sehingga terdapat keseimbangan antara cairan intraseluler dan ekstraseluler.
b. Cairan hipotonik. Jika suatu sel diletakkan dalam larutan yang mempunyai
konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih rendah, air akan berdifusi ke dalam sel
menyebabkan sel membengkak karena mengencerkan cairan intraseluler sampai
kedua larutan mempunyai osmolaritas yang sama.
c. Cairan hipertonik. Jika suatu sel diletakkan dalam larutan yang mempunyai
konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih tinggi, air akan mengalir keluar dari sel ke
dalam cairan ekstraseluler. Pada keadaan ini sel akan mengerut sampai kedua
konsentrasi menjadi sama (Hanifa et al, 2014).
3. Hemolisis ada 2 jenis :
a. Hemolisis osmotik : terjadi karena adanya perbedaan tekanan osmotik cairan sel
didalam seldarah merah dengan cairan di sekeliling sel darah merah. Tekanan
osmtik di dalam sel darah merah jauh ebih besar daripada tekanan osmotik di luar
sel. Bila sel darah yang dimasukan ke dalam larutan NaCl 0,8% belum terlihat
hemolisis, jika dimasukan NaCl 0,4% hanya sebagian saja yang lisis, dan jika
dimasukan NaCl 0,3% semua sel darah merah akan mengalami lisis
sempurna(Joko, 2017)
b. Hemolisis Kimiawi : Hemolisis akibat dari berbagai macam substansi kimia.
Dinding sel darah merah tersusun atas lipid dan protein yang akan membentuk
lipoprotein. Jadi substansi yang dapat melarutkan lemak dapat melisiskan sel
darah merah diantaranya seperti kloroform, aseton, alkohol, benzene dan eter.(
Joko, 2017)

Dapus

Hanifa et al. 2014. Toleransi Osmotik Eritrosit. Malang : Universitas Negeri Malang Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi.
Dwi Aries Saputro 1, S. J. 2 (2012) ‘Pemberian Vitamin C Pada Latihan Fisik Maksimal Dan
Perubahan Kadar Hemoglobin Dan Jumlah Eritrosit’, Journal of Sport Sciences and
Fitness, 1(1), pp. 56–61.
Siswanto, Sulabda, I. N. and Soma, I. G. (2014) ‘Kerapuhan Sel Darah Merah Sapi Bali’,
Jurnal Veteriner, 15(1), pp. 64–67.
sherwood L. 2014. Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC.
Ernawati et al. 2015. Respon Sel Darah Merah terhadap Perubahan Kondisi Osmotik
Lingkungan dan Penambahan Larutan Deterjen: Bandung. Program Studi Mikrobiologi,
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung.

Joko et al. 2017. Buku Panduan Praktikum Biokimia kedokteran Blok Basic Science of Blood,
Support, And Movement System. Purwkerto: Laboratorium Biokima Kedokteran
Jurusan kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jendral
Sedirman.