Anda di halaman 1dari 9

CONTOH KONFLIK SOSIAL

KONFLIK SOSIAL DI AMBON

Kerusuhan di kota Ambon, Maluku yang terjadi pada hari Minggu 11 September 2011
dipicu oleh tewasnya seorang tukang ojek yang bernama Darkin Saimen. Salah seorang
warga kelurahan Waihaong, Kecamatan Sirimau. Malam itu Darkin Saimen mengendarai
motor berasal dari arah stasiun TVRI , Gunung Nona , menuju Pos Benteng. Dalam
perjalanan tersebut, diduga Darkin Saimen dalam keadaan mabuk berat dan melaju dengan
kecepatan tinggi. Menurut saksi dalam perjalanan Darkin Saimen hilang kendali dan
menabrak pohon Gadihu lalu terpelanting menabrak rumah seorang warga (Okto) yaitu lebih
tepatnya daerah sekitar pembuangan sampah.Peristiwa tersebut sempat disaksikan oleh
beberapa warga setempat, dan oleh mereka yang mengetahui hal tersebut lalu membawa
tukang ojek (Darkin Saimen) ke Rumah sakit. Namun luka yang diderita oleh Darkin Saimen
terlalu parah. Dalam perjalanan kerumah sakit Darkin Saimen telah meninggal dunia. Lalu
oleh pihak warga dan rumah sakit menyerahkan jenazah Darkin Saimen kepada keluarganya.
Bentrok dimulai seusai pemakaman tukang ojek bernama Darkin Saimen. Kabar
berkembang bahwa korban ditemukan telah tak bernyawa di kawasan Gunung Nona,
Kelurahan Kudamati. Kematian menyulut amarah keluarganya. Menurut pihak keluarganya
menemukan luka bekas tusukan pisau di punggungnya, bacokan di pundak dan kepalanya
pecah tapi helmnya utuh. Dengan ditemukannya luka tikam, Darkin Saimen
dikabarkan dibunuh oleh sejumlah kelompok agama tertentu yang sempat melakukan
penganiayaan, Hingga akhirnya nyawanya tak tertolong lagi saat dilarikan kerumah sakit. Hal
inilah yang menimbulkan dugaan bahwa Darkin sebenarnya dibunuh. Informasi sesat itu
meluas dalam waktu singkat, hingga terjadilah perang batu antarwarga yang terkonsentrasi di
3 (tiga) titik utama yakni, depan kampus PGSD Universitas Pattimura, Tugu Trikora, dan
Waringin. Dari arah yang tidak diketahui, sejumlah orang terkena tembakan senjata api. Lima
tewas, belasan luka-luka. Sejumlah korban luka memberikan kesaksian bahwa mereka tidak
mendengar letusan senjata api. Kuat dugaan, mereka ditembak oleh sniper dari posisi yang
tidak diketahui.
Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba – tiba. Kasus
tersebut tidak jauh berbeda dengan kasus – kasus yang terjadi di Indonesia. Diperkirakan ada
keterlibatan kelompok tertentu yang sengaja memicu keadaan menjadi semakin memanas.
Ambon adalah daun kering yang sangat mudah dibakar. Api kejadian kecil saja mudah ditiup
menjadi kerusuhan besar. Masyarakat sangat mudah termakan isu. Sedikit saja ada faktor
pemicu, masyarakat langsung meradang dan menerjang. Sepintas, masyarakat seperti tidak
punya kesetiakawanan. Tidak punya perasaan sebangsa dan setanah air. tidak punya rasa
kemanusiaan.
Pada saat itu aparat keamanan sudah mencoba untuk mengantisipasi meluasnya
kerusuhan tersebut. Namun, 4 (Empat) hari setelah Ambon rusuh, aparat tetap belum berhasil
mengungkap kejadian sebenarnya yang melatarbelakangi kerusuhan. Bahkan, belum ada
kabar para pelaku tersebut telah ditangkap oleh aparat. Media-media massa memberitakan,
kerusuhan tersebut dipicu oleh meninggalnya seorang tukang ojek. Namun jangan lupa,
potensi konflik di Ambon begitu besar. Sedikit saja api memercik, letupan besar bisa
terjadiSemula pihak kepolisian mengumumkan bahwa kematian itu murni kecelakaan motor.
Namun pihak keluarga diberitakan tak percaya dengan informasi tersebut. Apalagi mereka
mengaku menemukan bekas tusukan di punggung korban dan luka lebam akibat pukulan.
Berbagai pertanyaan berseliweran tanpa ada jawaban yang pasti. Sebagian masyarakat mulai
menebak-nebak jawabannya, lalu menyebarluaskannya. Keadaan ini membuat kian runyam
persoalan.Karena itu, seruan saja tak cukup. Masyarakat perlu diberi informasi yang jelas
agar tidak menyisakan banyak pertanyaan. Apalagi kita tahu, kerusuhan di Ambon bukan
sekali ini saja. Bahkan, pada tahun 1999, kerusuhan yang lebih besar pernah meledak di sini.
Ratusan orang meninggal, ribuan mengungsi.

PENYELESAIAN
Mengetahui tentang kerusuhan yang terjadi di ambon, Maluku Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan beberapa langkah untuk mengatasi pertikaian
antara dua kelompok agama tersebut. KomnasHAM bekerjasama dengan komnas pusat
segera mencari fakta – fakta yang terjadi di lapangan. Selain itu juga adanya kerjasama
antara Kapolri dan TNI. Gubernur Maluku juga meminta untuk mengumpulkan tokoh
masyarakat agar kericuhan tidak meluas.
Dalam pengumpulan data, sempat mengalami kesulitan karena saat ditanya penyebab
kericuhan itu ternyata hal itu masih simpang siur. Untuk memastikannya saat ini masih
diselidiki adanya pemanfaatan isu terjadi dengan mudah. Peristiwa ini kemudian meletupkan
kerusuhan massa yang menyebabkan lebih dari 4 ribu orang terpaksa mengungsi sampai
sekarang. Dalam kerusuhan tersebut terdapat korban tewas akibat tembakan. Lagi-lagi aparat
belum bisa mengungkap siapa pelaku penembakan? Senjata apa yang dipakai? Dari mana
mereka mendapatkan senjata itu?
Mabes Polri mulai mengusut dan menyelidiki penyebab kerusuhan di Ambon, Maluku
yang terjadi pada Ahad (11/9). Mabes Polri pun mengirimkan tim penyidik yang terdiri dari
13 orang yang dipimpin seorang komisaris besar (kombes) polisi ke Ambon pada Senin
(13/9). Saat ini polisi masih mencari pelaku yang menyebarkan pesan-pesan singkat yang
sengaja memprovokasi masyarakat Ambon. Ia pun mengimbau kepada masyarakat agar
melaporkan kepada polisi apabila menerima pesan singkat tersebut. Tim penyidik juga akan
menyelidiki mengenai penyebarluasan pesan singkat yang berisi SARA (Suku, Agama, Ras
dan Antar Golongan) terkait kerusuhan tersebut.
Demi mencari solusi masalah yang belakangan marak di Ambon, Maluku,
puluhan pemuda beserta tokoh-tokoh masyarakat daerah itu menggelar pertemuan di
Senayan, Jakarta, Senin (12/9) malam. pertemuan ini guna mencari solusi peristiwa
Ambon. Masalah yang ada bukan saja masalah yang harus ditanggung satu kelompok,
melainkan menjadi tanggung jawab semua kalangan.Oleh karena itu dalam pertemuan
itu para tokoh bermusyawarah bagaimana Maluku kedepannya dan menyikapi apa
yang terjadi disana yang membuat kesepakatan bersama antara kedua pihak.
Sementara itu Sekitar 30-an warga Ambon dari dua komunitas berbeda, Kerukunan
Warga Islam Maluku dan Maluku Utara (KWIMMU) dan warga Ambon di Makassar
menggelar pertemuan damai di Makassar, Senin (12/9/2011), di Warkop Cappo, Jl
Sultan Alauddin. Dalam pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bersama
antara kedua pihak. Lima poin kesepakatan mereka yaitu: ."KWIMMU dalam
menyikapi masalah kerusuhan di Ambon dengan melahirkan beberapa statement:
1. Memberikan penghargaan kepada masyarakat Ambon dan sekitarnya yang telah
mengikuti himbauan aparat sehingga situasi semakin kondusif.
2. Mengharapkan agar aparat untuk senantiasa proaktif melakukan tugas pengamanan
dan masyarakat diminta untuk membantu tugas-tugas aparat.
3. Menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Sulselbar yang dengan cepat
mendistribusi 200 aparat kepolisian untuk membantu aparat kepolisian yang ada di
Ambon.
4. Menghimbau kepada pemerintah untuk mendekati seluruh komponen masyarakat
pemangku-pemangku adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda untuk berkumpul,
berembuk untuk menyelesaikan persoalan kerusuhan secara bijak
5. Menghimbau seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh siapapun yang hendak
merusak hubungan persaudaraan antar sesama masyakarakat yanga ada di Kota
Ambon dan sekitarnya karena bagaimanapun Katong Semua Basudara".

Kesimpulan
Konflik antar agama yang terjadi di Ambon merupakan konflik yang awalnya
ditimbulkan oleh perkelahian antar preman dari dua daerah yang berbeda yang juga
merupakan daerah segregasi Islam dan Kristen. Hal ini kemudian menjadikan sebagian besar
umat Islam dan Kristen terprovokasi sehingga menimbulkan kerusuhan besar. Namun, di
balik konflik kerusuhan tersebut, yang menjadi penyebab utama konflik antar agama di
Ambon yaitu apa yang menjadi faktor pembentuk segregasi antara umat Islam dan Kristen di
Ambon sehingga terbagi-bagi menjadi dua daerah yang tersegregasi berdasarkan perbedaan
agama tersebut.
Sesuai dengan data temuan konflik antar agama di Ambon, ternyata yang menjadi
penyebab segregasi masyarakat di Ambon berdasarkan agamanya adalah pengaruh dari
pemerintahan pusat. Disebutkan bahwa segregasi yang terjadi antara Kristen dan Islam
awalnya dibentuk oleh pemerintahan masa penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan
Belanda, pemerintahan lebih memihak dan menganggap unggul kelompok yang beragama
Kristen. Hal ini mengakibatkan adanya ketimpangan yang dirasakan oleh kelompok
beragama Islam yang kemudian hanya bekerja menjadi pedagang. Seiring berjalannya masa
hingga sampai pada masa Orde Baru, kelompok beragama Islam menjadi lebih sukses dari
berdagang dengan kondisi yang lebih baik dari kelompok beragama Kristen, banyak juga
pendatang dari sekitar Maluku untuk berdagang di Ambon. Selain itu muncul intelektual-
intelektual ekonomi di mana pada masa Orde Baru, pemerintah mengangkat intelektual
ekonomi dari kelompok beragama Islam tersebut dalam pemerintahan sehingga lebih
dianggap unggul. Dalam hal ini, terjadi ketimpangan bagi kelompok beragama Kristen. Pada
dasarnya ketimpangan terjadi tidak membawa perbedaan agama, namun sebagian besar
adalah kelompok beragama sama.
Dengan analisa teori interaksionisme simbolik mengenai hubungan antar etnik,
perbedaan yang terjadi antara umat Islam dan Kristen di Ambon pada awalnya merupakan
hasil konstruksi pemerintah, baik pada masa penjajahan Belanda sampai pada masa
pemerintahan Orde Baru. Dalam hal ini, pemerintah merekonstruksi struktur yang ada pada
masyarakat di Ambon sampai menimbulkan ketimpangan yang dirasakan sebagian besar
kelompok agama yang berbeda. Kemudian ketimpangan tersebut diprovokasi sebagian orang
sehingga menimbulkan konflik antar umat beragama secara menyeluruh pada masyarakat di
Ambon
CONTOH INTEGRASI SOSIAL

Gambar ini merupakan contoh dari integrasi masyarakat yaitu kegiatan gotong-royong yang
dilakukan oleh warga. Kegiatan itu sendiri merupakan bentuk pengendali atas konflik yang
terjadi akibat pertentangan sosial dan menunujukan masih adanya integrasi dalam masyarakat
tersebut.
CONTOH KONFLIK SOSIAL
KONFLIK SOSIAL DI POSO

Konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama semakin meningkat pada era


reformasi pada tahun 1998. Hal itu dalam tinjauan psikologis merupakan hal yang wajar
karena merupakan akumulasi dari ketidakadilan dalam proses politik dan distribusi pada
masa Orde Baru. Ditambah lagi banyak daerah yang tidak menikmati hasil pembangunan
rakyat karena sistem yang sentralistik yang terpusat pada ibu kota Negara yakni, Jakarta.
Hal itulah yang menyebabkan masyarakat lebih mudah terprovokasi oleh isu-isu yang
dihembuskan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan dari keberlangsungan konflik.
Terlebih lagi isu-isu yang bergulir sengaja bernuansa etnis dan agama yang belum tentu
benar. Isu tersebut dijadikan senjata untuk menyulut konflik karena ampuh menyentuh lubuk
sanubari masyarakat menjadi sentimental sehingga mudah terpancing. Memang,
dibandingkan dengan kawasan Indonesia Barat, konflik di Indonesia Timur jauh lebih sering
karena kawasan Indonesia Timur terdiri dari 547 suku, sedangkan Indonesia bagian Barat
sebanyak 109 suku.
Asal mula meletusnya konflik Poso didasari oleh berbagai faktor, yakni pemuda
mabuk, sosial, ekonomi, hingga politik. Hal tersebut berujung pada konflik keagamaan. Isu
agama menjadi salah satu pendorong munculnya tragedi Poso karena ada berberapa daerah
yang dikotak-kotakkan berdasarkan basis massa. Ada Kelompok Putih yang merupakan
representasi dari kelompok Islam, terutama berada di daerah pesisir yakni, Toyado, Madale,
Parigi, dan Bungku. Sedangkan representasi dari Kelompok Merah terdapat di daerah
pedalaman seperti, Lage, Tokorando, Tentena, Taripa, dan Pamona.
Selain itu, konflik Poso juga disulut oleh adanya rentetan peristiwa-peristiwa besar di
Indonesia pada tahun 1998. Hal tersebut membuat terjadinya chaos sehingga mengubah
atmosfir bangsa Indonesia semakin memanas. Berawal dari krisis ekonomi dan keuangan
sejak pertengahan tahun 1997, kemudian berakhir pada penurunan Presiden Soeharto dari
tampuk kekuasaannya. Sistem sentralisme kekuasaan juga runtuh seketika. Padahal belum
ada kesiapan sosial dari daerah-daerah yang sudah lama termarjinalisasi. Sehingga terjadilah
kerusuhan di Sampit, Maluku, termasuk di Poso.
Konflik Poso yang muncul di permukaan pada akhirnya lebih terlihat mengandung isu SARA
(suku, agama, ras dan antar kelompok). Menurut Ketua Umum Forum Silaturahmi dan
Perjuangan Umat Islam (FSPUI) Poso, H. Muh. Adnan Arsal, konflik tersebut terus terjadi
dan bertujuan kembali mengadu domba antarumat beragama di Poso. Akan tetapi, bila
diperhatikan secara jeli, konflik Poso pada awalnya lebih didasarkan pada kesenjangan politik
pemerintahan yang dipicu oleh pergeseran tampuk pemerintahan daerah/lokal dan
kesenjangan sosial ekonomi.
Pergeseran kepemimpinan yang menyulut konflik dari etnis lokal (suku Pamona) ke etnis
pendatang. Hal ini berimplikasi juga terhadap proses rekrutmen pegawai negeri sipil daerah
setempat. Sementara itu, pergeresan lokasi kegiatan ekonomi dari Poso Kota (lama) ke Poso
Kota (baru) juga merupakan faktor meletusnya konflik Poso. Kedua hal tersebut memiliki
relasi karena merupakan konsekuensi logis dari bergesernya pusat pemerintahan akan
berimplikasi pada pergeseran pusat-pusat perekonomian pula. Penduduk pendatang pada
akhirnya yang menguasai sendi-sendi kehidupan di Poso.

Penyelesaian
Untuk menyelesaikan konflik di Poso, telah dilakukan Deklarasi Malino untuk Poso
(dikenal pula sebagai Deklarasi Malino I). Deklarasi itu ditandatangani pada 20 Desember
2001 oleh 24 anggota delegasi Kelompok Kristen (merah) dan 25 anggota dari delegasi
Kelompok Islam (putih). Terdapat 10 poin dalam kesepakatan tersebut yakni:
1. Menghentikan semua bentuk konflik dan perselisihan.
2. Menaati semua bentuk dan upaya penegakan hukum dan mendukung pemberian sanksi
hukum bagi siapa saja yang melanggar.
3. Meminta aparat negara bertindak tegas dan adil untuk menjaga keamanan.
4. Untuk menjaga terciptanya suasana damai menolak memberlakukan keadaan darurat sipil
serta campur tangan pihak asing.
5. Menghilangkan seluruh fitnah dan ketidakjujuran terhadap semua pihak dan menegakkan
sikap saling menghormati dan memaafkan satu sama lain demi terciptanya kerukunan
hidup bersama.
6. Tanah Poso adalah bagian integral dari Indonesia. Karena itu, setiap warga negara
memiliki hak untuk hidup, datang dan tinggal secara damai dan menghormati adat istiadat
setempat.
7. Semua hak-hak dan kepemilikan harus dikembalikan ke pemiliknya yang sah
sebagaimana adanya sebelum konflik dan perselisihan berlangsung.
8. Mengembalikan seluruh pengungsi ke tempat asal masing-masing.
9. Bersama pemerintah melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana ekonomi secara
menyeluruh.
10. Menjalankan syariat agama masing-masing dengan cara dan prinsip saling menghormati
dan menaati segala aturan yang telah disetujui baik dalam bentuk UU maupun dalam
peraturan pemerintah dan ketentuan lainnya.
Setelah Deklarasi Malino untuk Poso diberlakukan, konflik terbuka antarkelompok di
Poso berhasil dihentikan sementara. Namun dalam perjalanannya, kekerasan di Poso masih
kerap terjadi. Berbagai kasus bermunculan seperti terror, upaya mengadu domba yang dapat
dilihat melalui penembakan-penembakan misterius, pembunuhan, peledakan bom, bahkan
dengan tulisan-tulisan di dinding rumah penduduk yang sifatnya provokasi. Pada 2002 hingga
2005 telah terjadi setidaknya 10 kali terror bom yang merenggut puluhan nyawa.
Pengeboman di antaranya terjadi pada 28 Mei 2002 di Pasar Sentral Poso dan pada 5 Juni
2002 di sebuah bus umum, PO Antariksa jurusan Palu – Tentena. Peristiwa-peritiwa tersebut
kembali menimbulkan rasa trauma, saling curiga dan meningkatkan sensitivitas di tingkat
masyarakat.

Kesimpulan
Selama ini pendekatan keamanan selalu dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan
konflik horizontal yang terjadi di Tanah Air, termasuk dalam menyelesaikan konflik di Poso
yang mulai terjadi pada 1998. Pendekatan budaya dan mediasi sebagai wujud komunikasi
para pihak yang berkonflik kerap kali dipinggirkan. Padahal masyarakat Poso memiliki
kearifan lokal yang bermakna luhur untuk menciptakan keharmonisan dan perdamaian
masyarakatnya.
Untuk menciptakan perdamaian yang permanen di Poso, mediasi kedua pihak yang
berkonflik yakni masyarakat Poso beragama Islam dengan yang beragama Kristen perlu
dilakukan. Sebab mediasi bisa menjembatani kepentingan-kepentingan kedua pihak untuk
diwujudkan tanpa mencederai kepentingan manapun. Dengan mediasi maka akan ditemukan
jalan bersama bagi kedua pihak yang bertikai sehingga kesenjangan sosial dan ketidakadilan,
terutama terjadinya marjinalisasi politik antara penduduk asli dan para pendatang tidak terjadi
lagi di masa mendatang.
Selain itu perlu promosi dan penerapan nilai-nilai kearifan lokal sebagai pendekatan
budaya dalam menyelesaikan konflik di Poso merpakan pendekatan terbaik dan efektif. Nilai
kearifan lokal Poso adalah Sintuwu yang merupakan mufakat bersama untuk melakukan
suatu kegiatan secara bersama-sama. Selain itu juga memaksimalkan nilai kearifan lokal
lainnya yakni tradisi padungku yang merupakan bentuk kesyukuran atas nikmat dan rezeki
yang telah diberikan oleh Tuhan. Promosi nilai kearifan lokal ini bisa dilakukan melalui
pendidikan formal kepada anak-anak sejak dini dan melalui organisasi masyarakat setempat.
Kehidupan politik, sosial, dan ekonomi yang baik dan kuat, serta nilai-nilai luhur
budaya lokal yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sangat diperlukan di Poso. Sebab
kondisi itu akan membuat upaya pihak yang sengaja menghembuskan isu etnis dan agama
untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan tujuan membuat masyarakat
terprovokasi dan bersikap anarkis tidak akan tercapai. Dengan demikian perdamaian di Poso
akan bersifat permanen.

CONTOH INTEGRASI SOSIAL

Gambar ini merupakan contoh dari integrasi masyarakat yaitu kegiatan gotong-royong yang
dilakukan oleh warga. Kegiatan itu sendiri merupakan bentuk pengendali atas konflik yang
terjadi akibat pertentangan sosial dan menunujukan masih adanya integrasi dalam masyarakat
tersebut.