Anda di halaman 1dari 19

MAKNA IBADAH

DALAM PERSPEKTIF AGAMA KATOLIK

Agama merupakan pengungkapan iman dalam arti yang luas. Dalam agama iman
mendapat bentuk yang khas, yang memampukan orang beriman mengkomunikasikan
imannya dengan orang lain, baik yang beriman maupun yang tidak. Dalam agama orang
memperlihatkan sikap hati dan batinnya di hadapan Allah. Sikap manusia dihadapan
Allah antara lain tampak jelas dalam sikap dan tanggung jawabnya terhadap sesama dan
alam sekitarnya.

Agama terjalin erat dengan kebudayaan. Untuk mengenal dan menyembah Allah,
manusia perlu mengembangkan pikiran dan kemampuan mengungkapkan imannya. Oleh
karena itu umat beriman “meminjam dari adat-istiadat dan tradisi-tradisi para bangsa,
dari kebijaksanaan dan ajaran mereka, dari kesenian dan ilmu pengetahuan mereka,
segala sesuatu merupakan sumbangan untuk mengakui kemuliaan Sang Pencipta,
memperjelas Rahmat Sang Penebus dan mengatur hidup Kristiani dengan seksama” (AG
22). Sikap orang beriman terhadap Allah, khususnya iman, pengharapan dan kasih
diuangkapkan dalam bahasa dan kebudayaan yang ada.

Iman dan Agama

Iman merupakan suatu sikap “penyerahan diri seutuhnya kepada Allah” (DV 5). Iman
adalah jawaban manusia kepada Allah yang mewahyukan Diri kepada manusia. Iman itu
sebagai jawaban, maka untuk beriman diperlukan sebuah keyakinan bahwa Allah itu ada
dan penting bagi hidup manusia, tidak hanya dengan pikiran tetapi juga dengan
kehendak dan perbuatan. Iman menyangkut hidup manusia seluruhnya, budi, hati dan
kehendaknya. Iman bukan hanya soal hati dan emosi atau moral dan kewajiban, tetapi
juga rasionalitas kehidupan manusia, oleh karena itu iman tidak terlepas dari
pengalaman hidup dan riligius manusia setiap hari. Iman adalah pengalaman
menyerahkan diri secara total kepada Allah. Dalam hidup manusia sikap batin itu harus
dinyatakan keluar, baik kepada sesama maupun dengan alam sekitarnya.

Agama adalah ungkapan hubungan antara manusia dengan Yang Ilahi, yaitu kekuasaan
yang kudus yang dianggap lebih tinggi dari keberadaan manusia itu sendiri. Terhadap
yang Ilahi tersebut manusia mengalami daya tarik, rasa takut dan ketergantungan,
manusia menyebut kepada Yang Ilahi tersebut dengan berbagai nama : Allah, Tuhan,
Dewa, Gusti dls.

Jelas sekali bahwa yang pokok dalam agama adalah sikap batin. Agama yang bersifat
lahiriah melulu dengan sendirinya menjadi formalisme dan sering kosong, tanpa isi.
Namun tanpa bentuk yang nyata komunikasi iman tidak akan mungkin terjadi. Biarpun
sikap batin paling penting, namun tanpa pengejawantahan yang jelas iman tidak
sungguh manusiawi. Penghayatan iman memerlukan agama. Perbedaan pokok
berhubungan dengan sikap batin sendiri dan gambaran Allah. Perbedaan pengalaman,
pemahaman dan perumusan menyebabkan perbedaan antara agama, dimana Allah
dipahami secara berbeda-beda, tidak hanya menurut perbedaan agama, tetapi juga
dalam satu agam itu sendiri. Perjumpaan dengan saudara-saudari yang beragama lain
akan memperkaya kehidupan beriman dan beragama. Inilah pluralisme pandangan
mengenai Allah dalam hidup beragama.

Apapun agamanya, agama harus berfungsi dalam hidup manusia. Agama dapat memberi
dukungan, hiburan dan rekonsiliasi bagi manusia. Agama juga dapat sebagai kontrol
sosial, berperan serta aktif untuk mengevaluasi dan memberi masukan dalam kehidupan
ini sehingga dapat berjalan sebagaimana mestinya dengan kata lain agama dapat
memberikan pedoman penilaian secara kritis terhadap norma-norma yang ada dalam
masyarakat. Agama juga harus berperan untuk pertumbuhan dan pendewasaan individu
dalam perkembangan kepribadian manusia. Dan lewat upacara dan ibadah, agama
memberi dasar bagi rasa aman dan identitas yang lebih mengena dan utuh ditengah-
tengah perubahan jaman yang tidak pasti ini.

Ibadah Dalam Agama Katolik

Walaupun ibadah ada di dalam setiap agama, namun dalam ibadahlah nampak
perbedaan antara agama. Dalam perspektif agama katolik, ibadah dipandang sebagai
pertemuan antara Allah dan manusia, sebagai ungkapan ketaqwaan dan saling
mengukuhkan dalam iman. Biasanya dalam ibadah Katolik dipakai simbol-simbol atau
tanda yang khusus, karena baik untuk pengungkapan iman maupun untuk tanda
kehadiran Allah, pemakaian bahasa atau ekspresi yang biasa dianggap kurang
memadahi. Karena misteri Allah dan penyelamatanNya hanya dapat ditunjuk dengan
tanda-tanda, tidak pernah dapat dirumuskan atau diungkapkan secara penuh oleh
manusia.

Ibadah adalah kegiatan manusia yang beragama, lalu pertanyaanya mengapa perlu
ibadah dalam hidup beragama? Yang pokok dalam agama adalah sikap batin, namun
untuk mewujudnyatakan iman perlu pengungkapan yang nyata lewat tata cara ibadah.
Gereja Katolik mengungkapkan imannya melalui perayaan-perayaan liturgi.Untuk
membentuk hidup yang saleh bagi umat, diperlukan berbagai bentuk ibadah. Tidak akan
ada agama tanpa iman dan tidak ada ibadah tanpa agama.

1. Macam-macam ibadah dalam Gereja Katolik

Secara garis besar dalam agama katolik ibadah digolongkan dalam 2 bagian besar.

a. Ibadah Rohani

Yang dimaksudkan dengan ibadah rohani adalah setiap ibadah yang dilakukan dalam
Roh oleh setiap orang Katolik. Dalam urapan Roh, seluruh hidup umat Katolik dapat
dijadikan satu ibadah rohani. Doa dan ibadat merupakan salah satu tugas Gereja untuk
menguduskan umatnya, oleh karena itu Gereja bertekun dalam doa, memuji Allah, dan
mempersembahkan diri sebagai kurban yang hidup, suci dan berkenan kepada Allah.
Itulah ibadah rohani yang sejati (bdk. Rm 12:1).

1) Doa

a) Arti Doa

 Berbicara dengan Tuhan secara pribadi.


 Ungkapan iman secara pribadi dan bersama-sama.

b) Fungsi Doa

 Mengkomunikasikan dan mempersatukan diri dengan Tuhan.


 Mengungkapkan cinta, kepercayaan dan harapan kita dengan Tuhan.

c) Macam-macam doa

 Doa permohonan
 Doa syukur
 Doa pujian
d) Syarat doa yang baik

 Berdoa dengan hati


 Doa yang berakar dan bertolak dari pengalaman hidup
 Diucapkan dengan rendah hati
 Dengan sederhana dan jujur

2) Perayaan Sakramen

a) Arti Sakramen

 Kata sakramen berasal dari bahasa Latin Sacramentum, yaitu hal-hal yang
berkaitan dengan yang kudus atau yang ilahi.
 Sakramen juga berarti tanda,lambang atau simbol keselamatan Allah yang
diberikan kepada Manusia
 Sakramen biasanya diungkapkan dengan kata-kata dan tindakan. Maka sakramen
dalam Gereja Katolik mengandung 2 (dua) unsur hakiki yaitu :

- Forma artinya kata-kata yang menjelaskan peristiwa ilahi

- Materia artinya barang atau tindakan tertentu yang kelihatan.

b) Fungsi/makna Sakramen

 Mengungkapkan karya Tuhan yang menyelamatkan


 Meningkatkan dan menjamin mutu hidup sebagai orang Kristiani

c) Jenis-jenis Sakramen, yaitu :

 Sakramen Baptis/permandian
 Sakramen Ekaristi
 Sakramen Tobat
 Sakramen Krisma
 Sakramen Perkawinan
 Sakramen Perminyakan suci
 Sakramen Imamat

3) Perayaan Sakramentali

a) Arti Sakramentali

Tindakan liturgi dengan mengadakan tanda-tanda suci yang diperoleh melalui doa-doa
permohonan.

b) Jenis perayaan sakramentali

Pemberkatan orang, benda/barang rohani, tempat, makanan dsb

4) Devosi

a) Arti Devosi

Devosi bukanlah liturgi. Devosi adalah suatu sikap bakti yang berupa penyerahan
seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih, atau
yang lebih lazim: devosi adalah kebaktian khusus kepada berbagai misteri iman yang
dikaitkan dengan pribadi tertentu.

b) Jenis devosi

 Devosi kepada sengsara Yesus,


 Devosi kepada Hati Yesus,
 Devosi kepada Sakramen Mahakudus,
 Devosi kepada Maria,
 Ziarah

c) Tujuan Devosi

 menggairahkan iman dan kasih kepada Allah;


 mengantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya
keselamatan Allah dalam Yesus Kristus;
 mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri
iman;
 memperoleh buah-buah rohani.

b. Ibadah Sosial

Ibadah sosial dapat diartikan sebagai semua kegiatan sebagai perwujudan nyata iman.
Dalam Agama Katolik ibadah sosial didasarkan pada ajaran Yesus Kristus sendiri yang
begitu solider dengan kehidupan manusia, sebagaimana tertulis dalam Injil Matius
25:35-36 dimana sebagai manusia kita dapat memberi makan minum yang lapar dan
haus, mengunjungi yang dipenjara, melawat yang sakit, memberi tumpangan bagi orang
asing dan memberikan pakaian bagi yang telanjang.

2. Simbol-simbol dalam ibadah agama Katolik.

a. Tanda Salib, dibuat ketika :

1) Memasuki gereja sambil menandai diri dengan air suci tanda peringatan
pembaptisan yang telah kita terima.

2) Mengawali dan Mengakhiri Perayaan ibadah

3) Memulai bacaan injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada.

4) Menerima berkat mengutusan pada bagian penutup.

b. Perarakan

Perarakan dilakukan oleh Pemimpin ibadah beserta pembantunya berjalan bersama


menuju altar, juga dilakukan oleh beberapa wakil umat untuk mengantarkan
persembahan berupa: roti, anggur, lilim, bunga dan kolekte ke altar.
c. Berjalan

Berjalan yang baik dilakukan dengan tegap dan khidmat serta pandangan kearah depan
merupakan tanda penghormatan dan kesungghuan niat kita bertemu dengan Tuhan
serta dengan tidak tergesa-gesa supaya suasana khidmat dan tenang terjaga, namun
tidak lambat juga supaya tidak memberi kesan lamban

d. Berdiri

Berdiri sebagai ungkapan rasa hormat dan syukur, dilakukan waktu menyambut imam,
pembacaan Injil, mengucapkan Syahadat, menyampaikan doa Umat, memulai Doa
Syukur Agung dan menyanyikan lagu Bapa Kami.

e. Duduk

Duduk dilakukan ketika Kitab Suci dibacakan (selain Injil) sebagai suatu ungkapan
kesediaan mendengar dan merenungkan sabda Tuhan. Persiapan persembahan sebagai
ungkapan kesediaan memberi diri kepada Tuhan dengan penuh penyerahan. Petugas
membacakan penguman sebagai tanda ungkapan kesediaan mendengarkan dan
melaksakan tugas kewajiban

f. Membungkuk

Membungkukan badan dan kepala merupakan tanda penghormatan terhadap Pemimpin


ibadah, altar Tuhan, salib dan sakramen Maha Kudus.

g. Berlutut

Berlutut merupakan sikap doa yang mengungkapkan kerendahan hati seseorang yang
ingin memohon kepada Tuhan atau bersembah sujud kepada-Nya.

h. Mengangkat Tangan

Sebagai sikap doa yang mengungkapkan permohonan dengan kebulatan hati yang
disertai pengharapan, dilakukan oleh imam ketika mengangkat patena dan piala berisi
roti dan anggur untuk dipersembahkan kepada Tuhan, serta mengangkat sibori atau
patena dan piala yang berisi Tubuh dan Darah Kristus untuk diperlihatkan kepada umat.

i. Mengatupkan Tangan

Mengatupkan tangan dibuat ketika sebelum dan setelah menerima komuni


(mengatupkan tangan didada waktu berjalan) sebagai ungkapan kesetiaan pada Tuhan,
juga dilakukan oleh umat ketika berdoa pribadi.

j. Tiarap/Menelungkup

Tiarap atau menelungkup merupakan ungkapan tidak pantas, merasa berdosa dihadapan
Allah, dilakukan oleh para calon Imam dan Uskup ketika ditahbiskan, serta oleh Umat
sebagai sikap Doa, merasa diri berdosa besar dan tidak layak dihadapan Tuhan.

k. Memerciki

Sebagai tanda penyucian dan peringatan akan pembatisan, memerciki dilakukan pada
permulaan Ekaristi dan juga dilakukan setelah pembaharuan janji naptis pada Malam
Paska, saat menerima daun Palma pada perarakan Minggu Palma. Mmemerciki juga
dilakukan untuk kepentingan pernikahan, pemakaman, pemberkatan tempat/gedung,
pemberkatan benda-benda devosi lainnya.

l. Mendupai

Untuk menciptakan suasana doa dan kurban bagi Allah. Pendupaan altar bergerak dari
bagian kiri ke kanan mengelilingi altar. Asap putih yang mengepul
keatas melambangkan persembahan kita diterima oleh Allah.

m. Bersalaman

Berjabat tangan atau bersalaman mengungkapkan wujud dari Kasih dan Persaudaraan.
Bersalaman dilakukan oleh umat ketika saling memberikan Salam Damai.

n. Memberkati

Memberkati adalah bentuk menguduskan umat yang dilakukan oleh seorang pemimpin
ibadah, memberkati adalah Doa, ungkapan permohonan pada Tuhan, semoga yang
diminta umat-Nya terkabulkan, terjadi, terlaksana. Memberkati disertai dengan gerakan
tangan yang "bertanda salib" dengan mengucapkan "Atas nama Bapa, Putra dan Roh
Kudus". Tiada berkat imam yang tidak diberikan dalam tanda salib.

Kesimpulan

Ibadah adalah kegiatan umat beragama. Cara umat mengambil bagian dalam ibadah,
petugas ibadah dan peraturan/tata caranya berbeda dari agama yang satu dengan yang
lainnnya. Dalam agama Katolik ibadah memiliki makna :

a. Mengungkapkan cinta, kepercayaan dan harapan manusia dengan Tuhan.

b. Mengungkapkan karya Tuhan yang menyelamatkan hidup manusia.

c. Meningkatkan dan menjamin mutu hidup sebagai orang beriman.

d. menggairahkan iman dan kasih kepada Allah.

e. mengantar umat pada penghayatan iman yang benar.

f. Untuk memperoleh buah-buah rohani.

Setiap bentuk kegiatan manusia baik yang rohani maupun jasmani adalah ibadah,
sehingga manusia perlu menata hidupnya dengan mempersembahkan diri sebagai
kurban yang hidup, suci dan berkenan kepada Tuhan.

*) Materi disampaikan dalam acara workshop Kerukunan Umat beragama bagi siswa
SMA/MAN se Jawa Timur
man pertama-tama dan terutama menyangkut hubungan manusia dengan Allah. Akan tetapi,
manusia tidak hidup sendirian melainkan di dalam masyarakat, dan khususnya bersama
dengan orang di kanan-kirinya. Maka, benar juga bahwa “Allah menyelamatkan orang-orang
bukannya satu persatu, tanpa hubungan satu dengan lainnya” (LG 9). Hidup sosial dan
kebudayaan menentukan hidup manusia yang konkret dan oleh karena itu juga menentukan
iman dan agamanya. Iman yang lepas dari kehidupan masyarakat dan kebudayaan, bukanlah
iman yang konkret dan sebetulnya bukan iman yang benar. Iman yang konkret selalu
menyangkut hidup yang konkret, dan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat serta
kebudayaan. Maka kebudayaan bukanlah sesuatu yang asing bagi iman. “Inkulturasi”
sebetulnya sesuatu yang aneh, seolah-olah ada iman di luar kebudayaan dahulu, yang
kemudian mencoba masuk ke dalam suatu kebudayaan tertentu dan “mengenakan”
kebudayaan itu bagaikan pakaian. Iman dari semula dihayati dalam suatu kebudayaan tertentu
dan senantiasa mendapat bentuk yang baru. Namun iman tidak pernah terikat pada satu
kebudayaan atau bahasa. Konsili Vatikan II malah berani berkata, bahwa Allah sendiri “telah
bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman” (GS 58). Tidak semua orang
akan setuju dengan pernyataan ini. Ada agama yang berpendapat bahwa wahyu Allah terikat
pada bahasa dan kebudayaan tertentu, dan bahwa “terjemahan” dalam kebudayaan lain,
bukan lagi wahyu Allah yang asli.

Dalam agama Kristen, khususnya dalam Gereja Katolik, ada pandangan yang lain. Wahyu
berarti Allah yang menyapa manusia, dan iman itu jawabannya. Maka, supaya wahyu itu
berarti bagi manusia, Allah berbicara dengan bahasa manusia, dan manusia menjawab dengan
bahasa serta kebudayaannya sendiri. Khususnya kalau orang mulai berpikir mengenai
imannya dan berbicara dengan orang lain, mau tidak mau, ia harus memakai bahasa dan
kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Kalau tidak, ia tidak dapat berpikir dan tidak
dapat berbicara. Maka di tempat yang sama Konsili Vatikan II juga berkata, “Gereja, di
sepanjang zaman dan dalam pelbagai situasi, telah memanfaatkan sumber-sumber aneka
kebudayaan, untuk menyebarluaskan dan menguraikan pewartaan Kristus kepada semua
bangsa, untuk menggali dan makin menyelaminya, serta untuk mengungkapkannya secara
lebih baik dalam perayaan liturgi dan dalam kehidupan jemaat beriman yang
beranekaragam”. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang sangat istimewa, sebab
“kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa adalah kenyataan kebudayaan yang hidup dan
dihayati oleh sebagian bangsa kita. Pada dasarnya, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa itu merupakan warisan dan kekayaan rohaniah rakyat kita” (Pidato Kenegaraan, 16
Agustus 1978). Semua agama besar yang sekarang diakui oleh pemerintah, datang dari luar
negeri: Hindu dan Budha datang dari India (abad ke-5 dan ke-6), Islam dari Arab melalui
India (abad ke-13), Kristen dari Palestina lewat Eropa (abad ke-12 dan ke-16). Semua
ditampung dan disambut dalam kebudayaan Indonesia dan mendapat bentuknya sesuai
dengan kebudayaan Indonesia. Supaya dapat dihayati secara konkret, semua agama
mengambil wujud kebudayaan masyarakat. Maka dari sudut kebudayaan dan bahasa tidak
ada perbedaan yang terlampau besar antara agama-agama di Indonesia. Sama-sama berbahasa
dan berkebudayaan Indonesia, dan sama-sama juga menghadapi masalah perubahan
kebudayaan Indonesia dalam zaman modernisasi dan globalisasi. Perubahan dalam cara
berpikir dan dalam cara bergaul serta dalam penghayatan hidup sendiri, tak dapat tidak
mempengaruhi penghayatan iman juga, dim terutama mengubah pengungkapan dan
komunikasi iman. Maka iman yang sama dihayati dalam bentuk agama yang berbeda atau
berubah.
Sering kali timbul kesulitan oleh karena orang kurang membedakan antara iman dan agama.
Bentuk penghayatan iman sebagaimana ada sekarang, dan yang sering kali diwarisi turun-
temurun, dialami dan dipandang sebagai kehendak dan perintah Allah sendiri. Padahal
banyak hal berkembang dalam sejarah dan berkaitan langsung dengan situasi dan kondisi-
umat pada waktu tertentu. Oleh karena itu agama perlu dikaji terus-menerus, apakah masih
merupakan wahana iman yang benar atau terlampau dipengaruhi oleh unsur-unsur lain dari
masyarakat dan kebudayaan, Sering kali kata-kata dan istilah dari satu agama masuk ke
dalam yang lain melalui bahasa dan kebudayaan. Itu tidak perlu ditakuti, tetapi harus disadari
dan diwaspadai. Orang menghayati iman kepada Allah bukan sendirian, tetapi dalam
hubungan dengan orang lain. Kendati demikian, iman tetap merupakan sikap pribadi, yang
menuntut tanggung jawab pribadi. Betapa pun terintegrasikan ke dalam masyarakat dan
kebudayaan, iman tidak pernah dapat menjadi sikap ikut-ikutan saja. Di dalam masyarakat
dan kebudayaan, orang beriman selalu berusaha menghayati hubungannya dengan Allah
secara pribadi dan bertanggung jawab.

Setiap agama juga mempunyai bahasa yang khusus, sebab bahasa agama ditentukan bukan
hanya oleh situasi aktual, tetapi (terutama) oleh sejarah dan tradisi. Di sini perlu ditemukan
suatu keseimbangan, jangan-jangan kata-kata yang khusus itu juga bagi para penganut agama
sendiri berbau asing dan sebetulnya tidak jelas. Hal itu berlaku lebih lagi bagi bahasa teologi,
yang tidak hanya tergantung pada tradisi agama dan situasi kebudayaan setempat, tetapi juga
pada tuntutan ilmiah. Sebagai suatu ilmu, teologi harus memakai bahasa ilmiah. Tetapi perlu
dihindarkan agar bahasa teologi tidak dipakai sebagai bahasa agama, supaya semua orang
yang bukan ahli teologi tidak merasa asing terhadap agamanya sendiri. Teologi bukan iman,
melainkan refleksi (ilmiah) atas iman, Oleh karena itu, bahasa teologi tidak sama dengan
bahasa iman dan juga tidak sama dengan agama.

Share this:

 Share

Like this:

Leave a comment

Iman dan Agama


April 10, 2013 Allah dan Agama, Makna Agama Agama, Allah, Gereja, Ibadat, Iman,
Indonesia, Jemaat, Katolik, Kristen, Tempat Ibadat, Tradisi

Iman, lebih-lebih kalau telah berkembang menjadi pengharapan dan kasih, merupakan suatu
sikap “penyerahan diri seutuhnya kepada Allah” (DV 5). Dalam hidup manusia sikap batin
itu harus dinyatakan keluar, pertama-tama dalam kasih kepada sesama. Tetapi tidak hanya
itu. Ketika Musa berhadapan dengan Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semak berduri,
didengarnya suara yang berkata, “Jangan datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasut dari
kakimu, sebab tempat engkau berdiri adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5). Tuhan adalah
kudus, dan tempat Tuhan berkenan bertemu dengan manusia, itu pun kudus. Bahkan segala
sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan, disebut kudus, Maka ada tempat yang kudus, juga
waktu yang kudus, bahasa yang kudus, pakaian kudus, alat kudus, bahkan orang yang kudus,
yakni orang yang secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Tuhan. Perjanjian Lama
mengenal peraturan rinci mengenai barang dan orang, yang dikhususkan bagi Tuhan dan
oleh karenanya disebut kudus (lih. Kel 25-31; Im 17-26). Ini bukan sesuatu yang hanya
terdapat pada Israel. Semua bangsa dan kebudayaan mempunyai bidang kudus ini, yang
biasanya disebut bidang agama atau juga bidang sakral.

Perlu dicatat bahwa garis pemisah antara yang sakral dan yang profan tidak selalu jelas.
Dalam agama Kristen, seperti juga dalam agama Yahudi dan Islam, garis pemisah itu cukup
tajam. Tetapi dalam agama-agama lain bidang keagamaan tidak terlampau terpisah dari
bidang hidup sehari-hari. Paham agama sebagai bidang yang khusus, terbedakan dari hidup
yang profan, berkaitan dengan paham Allah yang transenden. Di mana lebih ditekankan
imanensi Allah, di situ juga agama menjadi bagian yang lebih integral dari hidup, dan tidak
terlalu dibedakan antara profan dan sakral, Namun, agama-agama itu juga mengenal tempat,
waktu dan upacara, dan terutama orang yang “khusus”, guna menyatakan kebaktian kepada
Allah.

Jelas sekali, bahwa yang pokok dalam agama adalah sikap batin. Agama yang bersifat
lahiriah melulu, dengan sendirinya menjadi formalisme dan sering kosong, tanpa isi. Oleh
karena itu yang pokok bukanlah hal-hal yang lahiriah. Namun tanpa bentuk yang nyata
komunikasi iman tidak mungkin. Biarpun sikap batin paling penting, namun tanpa
pengejawantahan yang jelas iman tidak sungguh manusiawi. Penghayatan iman memerlukan
agama. Dalam praktik tidak ada iman tanpa agama, tetapi tentu saja bentuk agama berbeda-
beda.

Perbedaan pokok berhubungan dengan sikap batin sendiri dan gambaran Allah. Kalau
ditekankan keluhuran dan kedahsyatan Allah, maka agama akan mencari bentuk-bentuk yang
khusus dan istimewa. Sebaliknya, kalau lebih diperhatikan Tuhan yang hadir dalam ciptaan-
Nya, maka segala sesuatu dengan sendirinya sudah mempunyai warna agama. Oleh karena itu
amat sulit membuat suatu definisi agama yang berlaku umum. Iman dan agama kait-mengait,
dan iman tidak pernah bersifat umum.

Pada tahun 1952, dalam kerangka pembicaraan mengenai kedudukan aliran-aliran


kepercayaan dalam negara dan masyarakat Indonesia. Departemen Agama pernah
mengusulkan suatu definisi agama, dengan menyebut beberapa syarat-syarat mutlak, seperti:
adanya nabi atau rasul, kitab suci dan pengakuan sebagai agama di luar negeri. Agama
Hindu-Bali mengajukan keberatan terhadap definisi itu. Maka selanjutnya definisi itu ditarik
kembali dan tidak terpakai lagi. Dalam Penpres no. 1 thn 1965 ( Undang-Undang no. 5 thn
1969) Konfusianisme disebut sebagai agama juga; tetapi kemudian tidak pernah disebut-sebut
lagi. Agama “yang diakui pemerintah” ada lima: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik,
Hindu dan Budha. Aliran kepercayaan juga diakui, tetapi tidak sebagai agama (sehingga juga
tidak ada di bawah wewenang Departemen Agama, melainkan ditempatkan di bawah
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Tetapi ini tidak berarti bahwa agama-agama lain,
misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Tidak ada dua
golongan agama, yang satu diakui pemerintah dan yang lain tidak, Pengakuan oleh
pemerintah sebenarnya hanya berarti bahwa agama-agama itu mendapat pelayanan khusus
dari Departemen Agama.

Kendatipun tidak mungkin memberikan suatu definisi umum mengenai agama, dapat disebut
sejumlah gejala atau unsur yang pada umumnya didapati dalam agama-agama. Di bawah ini
disebutkan lima unsur: jemaat, tradisi, ibadat, tempat ibadat, dan petugas ibadat.
1. Jemaat

Yang pertama-tama harus disebut ialah umat beragama sendiri. Umat beragama bukanlah
suatu kumpulan umat yang biasa. Yang mengikat mereka bukan pertama-tama organisasi,
melainkan ikatan batin. Bagaimana ikatan batin itu diterangkan atau digambarkan, berbeda
pada masing-masing agama. Biasanya umat beragama merasa diri dipersatukan bukan hanya
atas inisiatif atau upaya para anggota. Tuhan sendirilah yang mempersatukan mereka. Pada
umumnya persatuan itu tidak untuk sesaat saja, walaupun juga dalam hal ini agama yang satu
berbeda dengan yang lain. Ada yang membatasi umat pada saat perayaan, ada yang
menghubungkan keanggotaan dengan seluruh hidup. Pada umumnya umat dan anggota-
anggotanya dikenal, tetapi juga ada kelompok agama rahasia. Bisa juga terjadi di dalam umat
sendiri ada kelompok-kelompok khusus, Semua itu berhubungan juga dengan unsur-unsur
yang lain.

2. Tradisi

Unsur kedua ini luas sekali, dan mencakup beberapa unsur yang’ lain. Yang umum ialah,
bahwa semua agama mempunyai sejarah. Khususnya sejarah awal, dengan tokoh-tokohnya,
mempunyai arti yang khusus. Banyak agama mengenal seorang nabi atau rasul atau pendiri
agama. Tetapi dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam agama-agama. Tidak semua
agama menghargai dan mengakui tokoh awal itu dengan cara yang sama. Bahkan, tidak
semua agama mempunyai paham sejarah yang sama. Sering kali dalam kisah awal tercampur
banyak unsur mitologi, yakni ungkapan simbolis kisah awal

Salah satu unsur tradisi yang amat penting adalah ajaran yang diteruskan secara turun-
temurun. Ajaran itu pada umumnya mengandung tiga bidang: ajaran keselamatan, ajaran
moral, dan ajaran ibadat. Ajaran keselamatan pertama-tama mengenai Allah dan hubungan-
Nya dengan manusia, kemudian juga mengenai sejarah dan organisasi agama itu sendiri, serta
bagaimana melalui agama orang dapat bertemu dengan Allah dan diselamatkan. Ini
merupakan bagian yang khusus untuk masing-masing agama. Ajaran moral sering bersifat
lebih umum, karena mengambil alih banyak unsur dari kebiasaan etis masyarakat.
Sebaliknya, ajaran mengenai ibadat hiasanya amat khusus dan kadang-kadang juga
dipandang sebagai yang paling pokok. Tradisi ajaran itu biasanya diteruskan tidak hanya
secara lisan, tetapi juga melalui buku-buku suci. Dalam hal ini juga ada perbedaan besar
dalam arti dan bobot yang diberikan kepada buku-buku itu.

3. Ibadat

Walaupun ibadat ada di dalam semua agama, namun khusus dalam ibadatlah nampak
perbedaan antara agama. Ada yang melihat ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan
manusia. Ada juga yang membatasi ibadat pada ungkapan ketakwaan dan saling
mengukuhkan dalam iman. Biasanya dalam hal ini juga ada perbedaan yang amat besar –
dipakai simbol-simbol atau tanda yang khusus dalam ibadat, karena baik untuk pengungkapan
iman maupun untuk tanda kehadiran Allah, pemakaian bahasa atau ekpresi yang biasa
dianggap kurang memadai. Misteri Allah dan penyelamatan-Nya hanya dapat ditunjuk
dengan tanda-tanda, tidak pernah dapat dirumuskan atau diungkapkan secara penuh oleh
manusia

Ibadat adalah kegiatan manusia. Cara umat mengambil bagian dalam ibadat itu, berbeda dari
satu agama ke agama yang lain. Biasanya ada petugas agama yang memimpin ibadat. Tetapi
baik peranan mereka maupun partisipasi umat yang lain, amat khusus bagi masing-masing
agama. Peraturan ibadat juga amat berbeda-beda. Ada ibadat yang lebih bercorak upacara
dengan peraturan yang ketat. Ada juga yang lebih bersifat perayaan dengan warna spontan
dan bahkan kharismatis. Semua itu tidak hanya berhubungan dengan sikap batin para peserta,
tetapi juga dengan “ajaran” mengenai keselamatan dan ibadat. Ada yang lebih menekankan
pengalaman ‘para peserta, ada yang lebih mementingkan pengabdian serta kewajiban.

4. Tempat Ibadat

Ada agama yang di dalamnya arti dan bobot ibadat langsung berhubungan dengan tempat,
misalnya pura dalam agama Hindu. Dalam agama Kristen atau Islam, tempat ibadat bersifat
sekunder. Orang dapat melakukan ibadat di mana-mana. Namun itu tidak berarti bahwa
dengan demikian tempat ibadat tidak dipandang sebagai tempat yang suci. Sebaliknya, karena
merupakan tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan, tempat ibadat dipandang
sebagai tempat yang suci. Juga kalau ibadat tidak langsung dikaitkan dengan tempat-tempat
tertentu, semua agama mempunyai tempat yang dipandang sebagai “bait Allah”, dalam arti
mana pun. Di samping atau di dalam tempat itu, ada banyak hal lain yang dikhususkan juga,
dan oleh karena itu dipandang sebagai barang suci pula.

5. Petugas Ibadat

Sebetulnya petugas ibadat itu suci, karena ibadat yang dilayani olehnya bersifat suci. Tetapi
cukup sering urut-urutannya dibalik: petugas dipandang sebagai orang yang mempunyai daya
kesucian (atau kesaktian), yang dalam ibadat dibagikan kepada yang lain. Amat kerap tugas
ibadat, yang sebetulnya hanya fungsi, dibuat menjadi status, sehingga orang itu diberi tempat
dan kehormatan yang istimewa. Oleh karena itu tidak jarang fungsi, dan terutama kuasa
petugas itu diperluas meliputi bidang-bidang lain, sehingga dari petugas ia menjadi pemimpin
agama dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam hal ini juga ada perbedaan-perbedaan besar
antara para petugas ibadat dari pelbagai agama.

Share this:

 Share

Like this:

Leave a comment

Iman, Pengharapan, dan Kasih


April 10, 2013 Allah dan Agama, Makna Agama Ajaran, Allah, Gereja, Iman, Kasih, Katolik,
Kristen, Pengharapan

Hampir semua agama mengajarkan dan melandasi diri dengan ajaran dan penghayatan akan
iman, harapan, dan kasih, Ketiganya merupakan kebajikan utama banyak agama. Demikian
pula dengan agama atau Gereja Katolik.
Gereja menyebut diri “persekutuan iman, harapan dan cinta kasih” (LG 8 dan 65), “yang oleh
Roh Kudus dicurahkan dalam hati semua anggota Gereja” (AA 3 dan 4). Ketiga keutamaan
ini, yang pada dasarnya satu, merupakan sikap dasar orang beriman. Iman yang
menggerakkan hidup, memberi dasar kepada harapan dan dinyatakan dalam kasih. Ketiganya
bersatu, tetapi tidak seluruhnya sama. Dalam Kitab Suci dibedakan antara iman yang
menyambut Sabda Allah, pengharapan yang terarah kepada karunia keselamatan, dan kasih
yang menerima sesama manusia (Kol 1:4-5; 1Tes 5:8; Ibr 10:22-24; 1Ptr 1:21). Kesatuan
antara iman dan pengharapan jelas, sebab “Allah adalah Allah yang setia, yang memegang
perjanjian dan kasih-setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada
perintah-Nya” (Ul 7:9). Tuhan tidak mengingkari janji. Percaya kepada Tuhan berarti
“percaya akan kasih-setia-Nya untuk seterusnya dan selamanya” (Mzm 52:10), sebab
terhadap setiap orang Allah itu setia pada janji-janji-Nya. “Allah yang memanggil kamu
adalah setia”, kata St. Paulus, “dan karena itu Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui
kekuatanmu” (1Kor 1:9; 10:13). Pengharapan berarti kepercayaan pada janji-janji Allah. Oleh
karena itu harapan adalah daya-gerak iman. Dengan iman orang menyambut Allah yang
datang kepadanya; dengan harapan orang mau mendatangi Allah sendiri. Tentu saja, dari
kekuatannya sendiri manusia tidak mampu mendatangi Allah. Akan tetapi, karena ia
mengetahui bahwa “Allah yang memanggil adalah setia”, ia berani mengandalkan panggilan
Allah dan mengarahkan diri kepada-Nya penuh gairah. Pengharapan adalah iman, yang
seolah-olah tidak sabar lagi mengejar rahmat Allah; kalau-kalau dapat menangkapnya, karena
dia sendiri sudah ditangkap oleh Allah (bdk. Flp 3:12). Iman disempurnakan dalam
pengharapan.

Tanda iman dan harapan adalah kasih. Dalam hal ini paling jelas ajaran St. Yohanes: “Jikalau
seorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah
pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin
mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). Titik pangkal adalah kasih kepada
Allah. Kalau manusia telah menyerahkan diri kepada Allah dalam iman dan pengharapan, itu
merupakan awal kasih kepada Allah. Bagi orang beriman, lebih-lebih dalam pengharapan,
Allah adalah tujuan dan pegangan hidup. Mudah sekali orang berkata bahwa ia mengasihi
Allah, namun toh ternyata hal itu tidak dapat dikontrol. Maka Yohanes berbicara mengenai
tanda-bukti bahwa kita benar-benar mengasihi Allah, ialah kasih kepada sesama. Allah jelas
mengasihi kita, Seluruh alam ciptaan dan terutama karya penyelamatan-Nya yang memuncak
dalam pengutusan Anak-Nya, menjadi bukti. Maka, “jikalau Allah sedemikian mengasihi
kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1Yoh 4: 11), “bukan dengan perkataan atau
dengan lidah, melainkan dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (3: 18). Kasih yang
dinyatakan dalam perbuatan adalah sikap pokok hidup orang beriman. Oleh karena itu Paulus
dapat berkata: “Tinggal tiga ini, iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di
antaranya ialah kasih” (1Kor 13:13). Kasih adalah “pengikat yang mempersatukan dan
menyempurnakan” (Kol 3:14).

Share this:

 Share

Like this:

Leave a comment
Makna Agama
April 10, 2013 Allah dan Agama, Makna Agama Agama, Ajaran, Allah, Gereja, Iman,
Katolik, Kristen

Agama merupakan pengungkapan iman dalam arti luas. Dalam agama iman mendapat bentuk
yang khas, yang memampukan orang beriman mengkomunikasikan imannya dengan orang
lain, baik yang beriman maupun yang tidak. Dalam agama orang memperlihatkan sikap
hatinya di hadapan Allah. Sikap manusia di hadapan Allah antara lain tampak dalam sikap
dan tanggung jawabnya terhadap alam semesta, yang dirumuskan oleh Konsili Vatikan II
sebagai berikut:

“Bila manusia dengan karya tangannya maupun melalui teknologi mengelola alam, supaya
menghasilkan buah dan menjadi kediaman yang layak bagi segenap keluarga manusia, dan
bila ia dengan sadar memainkan peranannya dalam kehidupan kelompok-kelompok sosial, ia
melaksanakan rencana Allah yang dimaklumkan pada awal mula, yakni menaklukkan dunia
serta menyempurnakan alam ciptaan, dan mengembangkan dirinya. Sekaligus ia mematuhi
perintah Kristus yang mulia untuk mengabdikan diri kepada sesama.”

Selanjutnya, Konsili menerangkan bahwa tugas pokok ini disempurnakan manusia dengan
mengembangkan kebudayaan:

“Bila manusia menekuni pelbagai ilmu, seperti filsafat, sejarah serta ilmu matematika dan
fisika, dan mengembangkan kesenian, ia dapat berjasa sungguh besar, sehingga keluarga
manusia terangkat kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan serta kepada suatu
visi yang bernilai universal dan dengan demikian disinari dengan lebih terang oleh
Kebijaksanaan yang mengagumkan, yang sejak kekal ada pada Allah.”

Dengan mengembangkan kebudayaan, manusia diangkat ke nilai-nilai kehidupan yang tinggi,


yakni kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Perkembangan ini juga merupakan langkah ke
arah kesempurnaan yang lebih besar lagi, yakni “beribadat kepada Sang Pencipta dan
berkontemplasi”.

“Dengan demikian jiwa manusia, yang semakin dibebaskan dari perbudakan harta-benda,
dapat dengan lebih leluasa diangkat kepada ibadat dan kontemplasi Sang Pencipta. Bahkan,
atas dorongan rahmat, ia dipersiapkan untuk mengenal Sabda Allah, yang sebelum menjadi
daging untuk menyelamatkan dan merangkum segala sesuatu dalam dirinya sebagai Kepala,
sudah berada di dunia sebagai ‘Terang sejati, yang menyinari setiap orang’ (Yoh 1:9)” (GS
57).

Tentu tidak dengan sendirinya manusia diangkat kepada ibadat, kontemplasi, dan “mengenal
sabda Allah”. Itu karya rahmat. Tetapi semua itu juga tidak lepas dari kebudayaan dan
perkembangan manusia. Agama terjalin erat dengan kebudayaan. Untuk mengenal dan
menyembah Allah, manusia perlu mengembangkan pikiran dan kemampuan mengungkapkan
imannya. Oleh karena itu umat beriman “meminjam dari adat-istiadat dan tradisi-tradisi para
bangsa, dari kebijaksanaan dan ajaran mereka, dari kesenian dan ilmu pengetahuan mereka,
segala sesuatu, yang dapat merupakan sumbangan untuk mengakui kemuliaan Sang Pencipta,
memperjelas rahmat Sang Penebus, dan mengatur hidup Kristiani dengan seksama” (AG 22).
Sikap orang beriman terhadap Allah, khususnya iman, pengharapan dan kasih, diungkapkan
dalam bahasa dan kebudayaan y

Dasar Firman Tuhan

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya membaca dulu tulisan yang sebelumnya pernah
dibuat, yaitu tentang Pacaran Sesuai dengan Firman Tuhan dan Mengapa Harus Pacaran yang
Kudus. Pertanyaan tentang pacaran beda iman atau pacaran beda agama sepertinya
merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan, dan jawabannya tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan karena walaupun sudah jelas apa yang tertulis di
Alkitab, masih banyak orang yang tidak setuju. Ada satu bagian dalam Alkitab yang
menjelaskan tentang hal ini, yaitu dalam 2 Korintus 6:14-15.

2 Korintus 6:14-15, Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan
kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah
yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya
dengan orang-orang tak percaya?

Pesan dari ayat ini jelas, bahwa dalam memilih pasangan hidup, kita harus memiliki pasangan
yang satu iman.

Apa artinya satu iman?

Satu iman yang dimaksudkan di sini adalah satu iman dalam Yesus Kristus. Setiap orang
yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya, bisa dikatakan sebagai
orang yang memiliki satu iman, selain daripada iman kepada Yesus Kristus berarti berbeda.

Alasan mengapa harus mempunyai pasangan yang satu iman

Selain memang kita menuruti apa kata alkitab tentang pasangan yang seiman, ternyata firman
ini mempunyai alasan yang jelas. Kalau kita lihat dari sejarah bangsa Israel, mereka
seringkali jatuh pada penyembahan berhala karena pasangan mereka yang tidak seiman, yaitu
pasangan dari bangsa lain. Padahal Tuhan sudah berfirman agar mereka tidak mengambil
pasangan dari bangsa lain selain bangsa Israel agar mereka tidak turut menyembah allah -
allah bangsa lain. Raja Salomo pun yang dikatakan sebagai orang yang paling bijak ternyata
jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala pada akhir hidupnya (1 Raja2 11:1-13). Kalau
Salomo yang begitu bijak saja bisa jatuh dalam dosa penyembahan berhala karena istri -
istrinya, bagaimana dengan kita?

Alasan lain adalah karena dalam suatu hubungan pernikahan, bukan hanya sekedar tentang
cinta antara seorang laki - laki dan seorang perempuan, tetapi juga tentang bagaimana
hubungan tersebut mempunyai dasar yang teguh, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti kapal
yang tidak boleh mempunyai dua orang Nakhoda, demikian juga hubungan pernikahan yang
tidak boleh berdasarkan dua iman yang berbeda karena nantinya tidak mempunyai arah yang
jelas. Lagipula saya yakin setiap dari kita pasti menginginkan pasangan kita, yang adalah
orang yang paling dekat dengan kita di dunia ini juga diselamatkan oleh Yesus Kristus.
Hubungan yang tidak dilandaskan oleh kasih kepada Yesus Kristus sangatlah berbahaya, oleh
karena itu baiklah kita mempunyai pasangan yang satu iman, iman dalam Yesus Kristus.

Kan Yesus mengasihi semua orang, kok hanya boleh sama yang satu iman?

Ya, benar sekali bahwa Yesus mengasihi semua orang dan ingin semua orang diselamatkan,
oleh karena itu kita harus mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Bertemanlah dengan siapa
saja agar kasih Kristus dalam diri kita dapat terpancar kepada semua orang, namun dalam
masalah memilih pasangan hidup firman Tuhan katakan mutlak harus satu iman.

Kalau hanya pacaran saja dan tidak untuk menikah bagaimana?

Sebagai orang Kristen, hubungan pacaran harus memiliki tujuan utama yaitu "pernikahan".
Pacaran merupakan proses pengenalan antara pria dan wanita yang berada dalam rangkaian
tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan keluarga yaitu pernikahan. Jadi jika tujuan
pacaran bukanlah pernikahan, ada baiknya hanya berteman saja daripada terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan nantinya.

Kalau sudah terlanjur pacaran dengan yang beda iman bagaimana?

Yang menjadi masalah tentu jika memang sudah terlanjur pacaran beda iman. Saya hanya
bisa bilang, break dulu hubungannya, buat dia satu iman dulu kalau benar - benar mau sama
dia, lalu pacaran lagi kalau memang sudah satu iman. Kalau memang tidak bisa menjadi satu
iman maka lebih baik ditinggalkan dan mencari yang satu iman. Memang terkesan seperti
memaksa, tetapi jika memang mau dengan orang tersebut ya memang harus seperti itu karena
kita mutlak harus mempunyai pasangan yang satu iman, ingat dalam amanat agung Tuhan
Yesus Kristus?

Matius 28:19, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

Dengan demikian selain kita mendapatkan pasangan yang seiman, kita juga turut memenuhi
amanat agung ini.

Jika dia mau ikut kita bagaimana?

Pada dasarnya adalah pastikan dia benar - benar percaya dan mengalami Yesus terlebih
dahulu, baru pacaran. Jangan sampai dia ikut agama Kristen karena mau bersama dengan kita
saja, karena menurut saya bukan status sebagai Kristen yang penting, yang penting adalah
bagaimana seseorang tersebut telah mengenal dan mengalami Yesus sehingga percaya bahwa
Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Percuma seseorang pindah agama Kristen
kalau tidak mengenal Yesus terlebih dahulu. Memang terdengar sedikit sulit, oleh karena itu
disarankan untuk memilih pasangan yang memang sudah mengenal dan mengalami Yesus.
Jangan hanya melihat dari rupa saja, tetapi juga bagaimana imannya terhadap Yesus Kristus.

Bagaimana dengan orang yang sudah menikah dan beda iman?

1 Korintus 7:12-13 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang
saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-
sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri
bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan
dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.

Matius 19:6, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang
telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Banyak orang yang memakai dua ayat di atas untuk “sengaja” menikah dengan yang orang
yang beda iman dan bilang kalau dia sudah terlanjur menikah dan berkata tidak apa – apa
karena pasangannya mau hidup dengan dia. Ini merupakan hal yang sangat ironis. Orang
yang sudah tahu kebenaran seharusnya tidak akan menikah dengan orang yang beda iman.
Ayat dia atas bukanlah untuk membenarkan untuk menikah dengan orang yang beda iman,
melainkan untuk pasangan orang yang sama – sama belum percaya lalu salah satunya
menjadi percaya kepada Kristus. Jadi beda iman di sini terjadi bukan sebelum menikah,
melainkan setelah menikah karena salah satunya menjadi percaya. Tapi sekali lagi, untuk
orang – orang yang mengalami masalah demikian, doakan dan bawalah pasanganmu agar
dapat bersama – sama hidup di dalam terang kasih Kristus.

Banyak yang berkata “Enak dong yang sudah terlanjur menikah beda iman, mereka jadi
boleh.” Pertanyaan yang sungguh ironis. Tidak ada pernikahan yang lebih indah daripada
pernikahan ilahi, pernikahan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Jika pernikahan kita tidak di
dalam Tuhan Yesus Kristus, maka pasti ada sesuatu yang kurang. Kita seharusnya kasihan
kepada mereka yang sudah terlanjur menikah beda iman karena mereka tidak bisa merasakan
pernikahan ilahi di dalam Tuhan Yesus Kristus, bukannya malah iri. “Tapi sepertinya mereka
terlihat bahagia.” Yang kelihatan dari luar bisa saja berbeda dengan apa yang terjadi
sebenarnya. Tidak ada yang lebih indah dan berbahagia dibandingkan dengan mereka yang
menikah di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Sepertinya sulit sekali untuk mendapatkan yang satu iman

Mungkin banyak yang mengalami sepertinya kok malah orang dari agama lain yang dekat
dengan kita, kalau itu ya jelas saja, karena kita bukanlah mayoritas di negara kita Indonesia
tercinta ini, oleh karena itu kemungkinan untuk dekat dengan yang satu iman dengan kita
mungkin kecil. Apakah tidak mungkin untuk orang yang selalu dekat dengan yang tidak
seiman untuk mendapatkan sangan yang seiman? Tenang saja, coba perluas pergaulan,
jangan pernah menghindar dari persekutuan, tetap percaya bahwa Tuhan pasti memberikan
pasangan yang terbaik untuk kita yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kehendak-Nya adalah
supaya kita mendapatkan pasangan hidup yang benar - benar seimbang dengan kita. Jangan
ada lagi kompromi, percaya pada janji Tuhan. Jesus Bless Us.
Terakhir, ini ada jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya sering diajukan, silakan baca
Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Sayang? Semoga Tuhan Yesus membukakan hati kita
semua agar senantiasa turut di dalam Firman-Nya.

Dasar Firman Tuhan

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya membaca dulu tulisan yang sebelumnya pernah
dibuat, yaitu tentang Pacaran Sesuai dengan Firman Tuhan dan Mengapa Harus Pacaran yang
Kudus. Pertanyaan tentang pacaran beda iman atau pacaran beda agama sepertinya
merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan, dan jawabannya tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan karena walaupun sudah jelas apa yang tertulis di
Alkitab, masih banyak orang yang tidak setuju. Ada satu bagian dalam Alkitab yang
menjelaskan tentang hal ini, yaitu dalam 2 Korintus 6:14-15.

2 Korintus 6:14-15, Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan
kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah
yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya
dengan orang-orang tak percaya?

Pesan dari ayat ini jelas, bahwa dalam memilih pasangan hidup, kita harus memiliki pasangan
yang satu iman.

Apa artinya satu iman?

Satu iman yang dimaksudkan di sini adalah satu iman dalam Yesus Kristus. Setiap orang
yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya, bisa dikatakan sebagai
orang yang memiliki satu iman, selain daripada iman kepada Yesus Kristus berarti berbeda.

Alasan mengapa harus mempunyai pasangan yang satu iman

Selain memang kita menuruti apa kata alkitab tentang pasangan yang seiman, ternyata firman
ini mempunyai alasan yang jelas. Kalau kita lihat dari sejarah bangsa Israel, mereka
seringkali jatuh pada penyembahan berhala karena pasangan mereka yang tidak seiman, yaitu
pasangan dari bangsa lain. Padahal Tuhan sudah berfirman agar mereka tidak mengambil
pasangan dari bangsa lain selain bangsa Israel agar mereka tidak turut menyembah allah -
allah bangsa lain. Raja Salomo pun yang dikatakan sebagai orang yang paling bijak ternyata
jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala pada akhir hidupnya (1 Raja2 11:1-13). Kalau
Salomo yang begitu bijak saja bisa jatuh dalam dosa penyembahan berhala karena istri -
istrinya, bagaimana dengan kita?

Alasan lain adalah karena dalam suatu hubungan pernikahan, bukan hanya sekedar tentang
cinta antara seorang laki - laki dan seorang perempuan, tetapi juga tentang bagaimana
hubungan tersebut mempunyai dasar yang teguh, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti kapal
yang tidak boleh mempunyai dua orang Nakhoda, demikian juga hubungan pernikahan yang
tidak boleh berdasarkan dua iman yang berbeda karena nantinya tidak mempunyai arah yang
jelas. Lagipula saya yakin setiap dari kita pasti menginginkan pasangan kita, yang adalah
orang yang paling dekat dengan kita di dunia ini juga diselamatkan oleh Yesus Kristus.
Hubungan yang tidak dilandaskan oleh kasih kepada Yesus Kristus sangatlah berbahaya, oleh
karena itu baiklah kita mempunyai pasangan yang satu iman, iman dalam Yesus Kristus.
Kan Yesus mengasihi semua orang, kok hanya boleh sama yang satu iman?

Ya, benar sekali bahwa Yesus mengasihi semua orang dan ingin semua orang diselamatkan,
oleh karena itu kita harus mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Bertemanlah dengan siapa
saja agar kasih Kristus dalam diri kita dapat terpancar kepada semua orang, namun dalam
masalah memilih pasangan hidup firman Tuhan katakan mutlak harus satu iman.

Kalau hanya pacaran saja dan tidak untuk menikah bagaimana?

Sebagai orang Kristen, hubungan pacaran harus memiliki tujuan utama yaitu "pernikahan".
Pacaran merupakan proses pengenalan antara pria dan wanita yang berada dalam rangkaian
tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan keluarga yaitu pernikahan. Jadi jika tujuan
pacaran bukanlah pernikahan, ada baiknya hanya berteman saja daripada terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan nantinya.

Kalau sudah terlanjur pacaran dengan yang beda iman bagaimana?

Yang menjadi masalah tentu jika memang sudah terlanjur pacaran beda iman. Saya hanya
bisa bilang, break dulu hubungannya, buat dia satu iman dulu kalau benar - benar mau sama
dia, lalu pacaran lagi kalau memang sudah satu iman. Kalau memang tidak bisa menjadi satu
iman maka lebih baik ditinggalkan dan mencari yang satu iman. Memang terkesan seperti
memaksa, tetapi jika memang mau dengan orang tersebut ya memang harus seperti itu karena
kita mutlak harus mempunyai pasangan yang satu iman, ingat dalam amanat agung Tuhan
Yesus Kristus?

Matius 28:19, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

Dengan demikian selain kita mendapatkan pasangan yang seiman, kita juga turut memenuhi
amanat agung ini.

Jika dia mau ikut kita bagaimana?

Pada dasarnya adalah pastikan dia benar - benar percaya dan mengalami Yesus terlebih
dahulu, baru pacaran. Jangan sampai dia ikut agama Kristen karena mau bersama dengan kita
saja, karena menurut saya bukan status sebagai Kristen yang penting, yang penting adalah
bagaimana seseorang tersebut telah mengenal dan mengalami Yesus sehingga percaya bahwa
Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Percuma seseorang pindah agama Kristen
kalau tidak mengenal Yesus terlebih dahulu. Memang terdengar sedikit sulit, oleh karena itu
disarankan untuk memilih pasangan yang memang sudah mengenal dan mengalami Yesus.
Jangan hanya melihat dari rupa saja, tetapi juga bagaimana imannya terhadap Yesus Kristus.

Bagaimana dengan orang yang sudah menikah dan beda iman?

1 Korintus 7:12-13 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang
saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-
sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri
bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan
dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
Matius 19:6, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang
telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Banyak orang yang memakai dua ayat di atas untuk “sengaja” menikah dengan yang orang
yang beda iman dan bilang kalau dia sudah terlanjur menikah dan berkata tidak apa – apa
karena pasangannya mau hidup dengan dia. Ini merupakan hal yang sangat ironis. Orang
yang sudah tahu kebenaran seharusnya tidak akan menikah dengan orang yang beda iman.
Ayat dia atas bukanlah untuk membenarkan untuk menikah dengan orang yang beda iman,
melainkan untuk pasangan orang yang sama – sama belum percaya lalu salah satunya
menjadi percaya kepada Kristus. Jadi beda iman di sini terjadi bukan sebelum menikah,
melainkan setelah menikah karena salah satunya menjadi percaya. Tapi sekali lagi, untuk
orang – orang yang mengalami masalah demikian, doakan dan bawalah pasanganmu agar
dapat bersama – sama hidup di dalam terang kasih Kristus.

Banyak yang berkata “Enak dong yang sudah terlanjur menikah beda iman, mereka jadi
boleh.” Pertanyaan yang sungguh ironis. Tidak ada pernikahan yang lebih indah daripada
pernikahan ilahi, pernikahan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Jika pernikahan kita tidak di
dalam Tuhan Yesus Kristus, maka pasti ada sesuatu yang kurang. Kita seharusnya kasihan
kepada mereka yang sudah terlanjur menikah beda iman karena mereka tidak bisa merasakan
pernikahan ilahi di dalam Tuhan Yesus Kristus, bukannya malah iri. “Tapi sepertinya mereka
terlihat bahagia.” Yang kelihatan dari luar bisa saja berbeda dengan apa yang terjadi
sebenarnya. Tidak ada yang lebih indah dan berbahagia dibandingkan dengan mereka yang
menikah di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Sepertinya sulit sekali untuk mendapatkan yang satu iman

Mungkin banyak yang mengalami sepertinya kok malah orang dari agama lain yang dekat
dengan kita, kalau itu ya jelas saja, karena kita bukanlah mayoritas di negara kita Indonesia
tercinta ini, oleh karena itu kemungkinan untuk dekat dengan yang satu iman dengan kita
mungkin kecil. Apakah tidak mungkin untuk orang yang selalu dekat dengan yang tidak
seiman untuk mendapatkan sangan yang seiman? Tenang saja, coba perluas pergaulan,
jangan pernah menghindar dari persekutuan, tetap percaya bahwa Tuhan pasti memberikan
pasangan yang terbaik untuk kita yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kehendak-Nya adalah
supaya kita mendapatkan pasangan hidup yang benar - benar seimbang dengan kita. Jangan
ada lagi kompromi, percaya pada janji Tuhan. Jesus Bless Us.

Terakhir, ini ada jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya sering diajukan, silakan baca
Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Sayang? Semoga Tuhan Yesus membukakan hati kita
semua agar senantiasa turut di dalam Firman-Nya.