Anda di halaman 1dari 9

Asas dan Landasan Pendidikan

A. Asas Pendidikan

Pendidikan sebagai suatu sistem memunculkan suatu fenomena bahwa perencanaan, pelaksanaan,
dan pembinaan pendidikan sangat kompleks dan banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Landasan
dan asas-asas pendidikan sangat diperlukan sebagai suatu pijakan dalam rangka perencanaan dan
implementasi pendidikan. Faktor-faktor tersebut akan sangat memberi warna dan kontribusi terhadap
program perencanaan dan pelaksanaan pendidikan, baik secara makro maupun secara mikro.

Secara makro misalnya, pengaruh faktor filosofis dalam suatu Negara akan memberi pada arah
dan tujuan pendidikan nasional. Sebagai contoh, tujuan pendidikan nasional di tanah air akan berbeda
dengan tujuan pendidikan nasional di Negara lain. Demikian juga Indonesia pada masa penjajahan
Belanda atau penjajahan Jepang akan berbeda dalam menetapkan tujuan pendidikannya, bila
dibandingkan dengan tujuan pendidikan nasional pada masa pascakemerdekaan. Hal ini antara lain
karena perbedaan landasan Negara atau landasan filosofis pada negara yang bersangkutan.

Secara mikro, misalnya dapat diamati dari situasi atau proses belajar-mengajar di kelas yang
akan dipengaruhi oleh faktor sosiologis dan psikologis, yaitu prinsip tentang perkembangan para
peserta didik dalam berbagai aspek serta cara belajar agar bahan ajar yang dipersiapkan dapat dengan
mudah dicerna dan dikuasai mereka dengan tahap perkembangannya

Pengertian Asas-asas Pendidikan

Asas-asas pendidikan merupakan suatu kebenaran menjadi dasar atau tumpukan berpikir, baik pada
tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa
manusia itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri. Diantara asas-asas tersebut adalah Asas tut
wuri handayani, asas belajar sepanjang hidup, dan asas kemandirian dalam belajar.

Macam-macam Asas Pendidikan

1. Asas Tut Wuri Handayani


Sebagai asas pertama, Tut Wuri Handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang
dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P.
Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarsa Sung Sung Tulada dan Ing
Madya Mangun Karsa.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:

o Ing Ngarsa Sung Tulada ( jika di depan menjadi contoh).


o Ing Madya Mangun Karsa (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan membangkitkan
semangat).
o Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan/mengikuti dengan awas).

2. Asas Belajar Sepanjang Hayat


Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap
pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan
diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.

1. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan
persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
2. Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan pengalaman di luar sekolah.

3. Asas Kemandirian dalam Belajar


Baik asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat kaitannya dengan
asas kemandirian dalam belajar. Asas tut wuri handayani pada prinsipnya bertolak dari asumsi
kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri dalam belajar.
Selanjutnya, asas belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan apa bila didasarkan pada asumsi
bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang
belajar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari bantuan guru ataupun orang lain.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan mampu menempatkan guru dalam peran utama
sebagai fasilitator dan motivator, disamping peran-peran lain: informator, organisator dan sebagainya.
Sebagai fasilitator guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian
sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedangkan sebagai
motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar
itu
LANDASAN PENDIDIKAN

1. Pengertian Landasan Pendidikan


Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar atau alas, karena itu landasan merupakan tempat
bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan ini dapat bersifat material
(contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan).
Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi, adapun asumsi dapat dibedakan menjadi
tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.
Pendidikan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga
kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi
pendidikan

1. Macam-macam Landasan pendidikan


1. Landasan Filososfis

Sebelum membahas landasan atau asas filosofis dalam bidang pendidikan , akan di bahas
selintas pemahaman tentang filsafat, hubungan filsafat bangsa dengan tujuan pendidikan, serta
pengaruh filsafat dalam bidang pendidikan.
a. Pengertian filsafat

Seperti ditulis oleh Winecoff (1989) filsafat bisa didefinisikan sebagai suatu studi tentang hakikat
realitas, hakikat ilmu pengetahuan, hakikat system nilai, hakikat nilai kebaikan, hakikat keindahan,
dan hakikat pikiran.

b. Hubungan filsafat dengan tujuan pendidikan

Dalam bidang pendidikan, filsafat akan mengkaji persoalan yang berkaitan dengan apa yang ingin
diketahui, bagaimana cara mendapatkannya, serta apa nilai kegunaan pendidikan bagi
manusia.Dengan demikian, filsafat pendidikan merupakan pola pikir filsafat dalam menjawab
masalah-masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan implementasi pendidikan. Filsafat
pendidikan menentukan arah ke mana peserta didik akan dibawa. Filsafat pendidikan merupakan
perangkat nilai yang melandasi dan membimbing ke arah pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, filsafat
yang dianut suatu bangsa, atau filsafat kelompok masyarakat, akan mempengaruhi tujuan pendidikan
yang ingin dicapai.
Tujuan pendidikan pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensif tentang hasil apa yang
seharusnya dicapai dalam suatu program. Tujuan pendidikan berarti pernyataan yang memuat berbagai
kompetensi yang diharapkan bias dimiliki para peserta didik selaras dengan system nilai dan falsafah
yang dianut. Di sini berarti ada keterkaitan antara falsafah pendidikan dengan tujuan pendidikan.
Falsafah negara yang dianut bagaimanapun juga akan mewarnai tujuan pendidikan suatu Negara.

c. Manfaat filsafat pendidikan

Nasution (1982) menyebut manfaat filsafat pendidikan adalah sebagai berikut.

1. Filsafat pendidikan dapat menentukan arah ( direction ) akan ke mana anak didik dibawa.
Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk mendidik anak bangsa
sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat tersebut.
2. Dengan adanya tujuan pendidikan, yang diwarnai oleh filsafat pendidikan yang dianut , kita
mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil (output) yang harus dicapai dalam program
pendidikan. Pribadi anak didik yang bagaimanakah yang akan di tempa dalam garapan
pendidikan.
3. Filsafat pendidikan menentukan cara dan proses untuk mencapai tujuan pendidikan yang ingin
dicapai.
4. Filsafat dan tujuan pendidikan akan memberi kesatuan yang bulat (unity) tentang segala upaya
pendidikan yang dilakukan. Garapan pendidikan dilaksanakan secara sistematik,
berkesinambungan serta berhubungan erat satu sama lain.
5. Filsafat dan tujuan pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan melakukan penilaian
tentang segala upaya yang telah dilaksanakan dalam implementasi pendidikan.

Berdasarkan pemahaman di atas , bisa dikemukakan bahwa factor filosofis berkaitan erat
dengan pengkajian manusia ideal menurut kepribadian bangsanya. Pandangan manusia itu dirumuskan
kepada tujuan-tujuan pendidikan. Misalnya, tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan
kurikuler , tujuan instruksional umum, tujuan instruksional khusus, ini berarti garapan pendidikan
akan senantiasa mencerminkan falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa. Ke arah mana potret
kehidupan suatu bangsa, secara nyata tercermin dari rumusan tujuan pendidikan nasional yang di
tetapkan.
Falsafah yang berbeda-beda, misalnya saja : religious, sekuler, demokratis, sosialis, dsb. Akan
mempunyai tujuan tersendiri sesuai dengan falsafah yang dianutnya. Contohnya, pada saat Indonesia
masih berada di bawah kolonialisme Belanda tujuan pendidikan kolonial akan berbeda dengan tujuan
pendidikan nasional yang dianutnya dengan Indonesia pada zaman kemerdekaan. Hal ini terjadi
karena falsafah negaranya berbeda. Dengan kata lain, falsafah suatu Negara akan memberi warna dan
pengaruh kepada falsafah pendidikan nasionalnya.

Bagi bangsa Indonesia, Pancasila telah menjadi dasar Negara dan pandangan hidup segenap
bangsa Indonesia. Artinya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sepatutnya menjadi acuan dasar
dalam dalam kehidupan manusia Indonesia. Dengan demikian, pembangunan pendidikan nasional,
sebagai usaha sadar dan sistematis untuk membina manusia Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari
cara hidup dan pandangan hidup segenap bangsa yaitu Pancasila. Ini berarti, garapan pendidikan
nasional harus mampu membawa segenap bangsa Indonesia untuk menjadi manusia Pancasila, seperti
telah dirumuskan dalam GBHN (1993), yaitu : “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan
kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil,
berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan
rohani, menimbulkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat
kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai
jasa para pahlawan, serta berorientasi ke masa depan”.

a. Pengertian Landasan Filosofis

Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut


keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan
tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini
adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan
Ekstensialisme

1. Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau
bahan ajar esensial.
2. Perenialisme

Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni
kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.

3. Pragmatisme dan Progresifme

Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di
bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

4. Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga


pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional

Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan
UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa
Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup
bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

2. Landasan Sosiologis

a. Pengertian Landasan Sosiologis

Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik


masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola
interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan
meliputi empat bidang:

1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.

2. hubunan kemanusiaan.

3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.


4. Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok
sosial lain di dalam komunitasnya.

b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan
nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat
dan komplek.

Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan
masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui
kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan
lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)

3. Landasan Kultural

a. Pengertian Landasan Kultural

Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat
dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus
dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.

Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan


zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan
tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga
sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga
pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.

b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional

Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan
sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah
dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia
sebagai sisi ketunggal-ikaan.

4. Landasan Psikologis
a. Pengertian Landasan Filosofis

Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman
etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu
kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat
diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.

Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik,
sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan
jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian
bahan belajar yang digariskan.

b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis

Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami
peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses
tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.

5. Landasan Ilmiah dan Teknologis

a. Pengertian Landasan IPTEK

Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya
teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang
berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang
proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam
pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu.
Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan
iptek tersebut.

b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah

Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik,
yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur
sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar
seyogianya hasil perkembangan iptek mutakhir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan
informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat

SUMBER REFERENSI

WAHYUDIN, H.Dinn.2005. Materi Pokok Pengantar Pendidikan.Universtas Terbuka :