Anda di halaman 1dari 32

Kematian Akibat Kekerasan Benda Tumpul dan Penjeratan yang

Menyebabkan Asfiksia Mekanik

Maria Rosario Angelina Mella

102014154 / A4

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl.Arjuna Utara no.6, Jakarta 11510

Angelmella.2607@yahoo.com

Abstract
Every day criminal cases occur among people, all these things need to be followed, one of
which is the case of violence that can lead to death. Generally, it can be known if the
authorities sent a letter requesting the victim to the post mortem autopsy. The party entitled
to the autopsy report was sent a letter requesting the investigator (with terms and conditions
apply). From the examination results can be known whether the death of the victim is
something that he wanted himself or was killed by someone else. At autopsy examination
which should only be carried out by forensic experts, will be examined outside and inside, as
well as laboratories. After completion of all the results will be summarized in a vise and
handed over to investigators.
Keywords: homicides, autopsies, post mortem, forensic experts and investigators.
Abstrak
Setiap harinya terjadi kasus-kasus kriminal diantara masyarakat, semua hal tersebut perlu
ditindak lanjuti, salah satu diantaranya ialah kasus kekerasan yang dapat menyebabkan
kematian. Umumnya hal ini dapat diketahui jika pihak yang berwajib melayangkan surat
permintaan visum korban untuk diautopsi. Pihak yang berhak melayangkan surat permintaan
visum adalah pihak penyidik (dengan syarat dan ketentuan yang berlaku). Dari hasil visum
tersebut dapat diketahui apakah meninggalnya korban merupakan suatu hal yang ia inginkan
sendiri atau dibunuh oleh orang lain. Pada pemeriksaan autopsi yang hanya boleh dilakukan
oleh ahli forensik ini, akan dilakukan pemeriksaan luar dan dalam, juga laboratorium. Setelah
selesai semuanya hasil-hasil tersebut akan dirangkum dalam sebuah visum dan diserahkan
kepada penyidik.

1
Kata kunci: kasus pembunuhan, autopsi, visum, ahli forensik, dan penyidik.
Pendahuluan
Dalam tinjauan pustaka ini akan membahas sesosok mayat yang dikirimkan ke Bagian
Kedokteran Forensik FKUI / RSCM oleh sebuah Polsek di Jakarta. Ia adalah tersangka
pelaku pemerkosaan terhadap seorang remaja putri yang kebetulan anak dari seorang pejabat
kepolisian. Berita yang dituliskan di dalam surat permintaan visum et repertum adalah bahwa
laki-laki ini mati karena gantung diri di dalam sel tahanan Polsek.

Pemeriksaan yang dilakukan keesokan harinya menemukan bahwa pada wajah mayat
terdapat pembengkakan dan memar, pada punggungnya terdapat beberapa memar berbentuk
dua garis sejajar (railway hematome) dan di daerah paha di sekitar kemaluannya terdapat
beberapa luka bakar berbentuk bundar berukuran diameter kira-kira satu sentimeter. Di ujung
penisnya terdapar luka bakar yang sesuai dengan jejas listrik. Sementara itu terdapat pula
jejas jerat yang melingkari leher dengan simpul di daerah kiri belakang yang membentuk
sudut ke atas.pemeriksaan bedah jenazah menemukan resapan darah yang kuas di kulit
kepala, perdarahan yang tipis di bawah selaput keras otak, sembab otak besar, tidak terdapat
resapan darah di kulit leher tetapi sedikit resapan darah di otot leher sisi kiri dan patah ujung
rawan gondok sisi kiri, sedikit busa halus di dalam saluran napas, dan sedikit bintik-bintik
perdarahan di permukaan kedua paru dan jantung. Tidak terdapat patah tulang. Dokter
mengambil beberapa contoh jaringan untuk pemeriksaan laboratorium.

Keluarga korban datang ke dokter dan menanyakan tentang sebab-sebab kematian


korban karena mereka mencurigai adanya tindakan kekerasan selama di tahanan Polsek.
Mereka melihat sendiri adanya memar-memar di tubuh korban.

Pembahasan

Autopsi
Autopsi berasal dari kata auto = sendiri dan opsis = melihat. Sehingga autopsi adalah
pemeriksaan terhadap tubuh mayat meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun
bagian dalam dengan tujuan untuk menemukan proses penyakit dan atau cedera, melakukan
interpretasi atas penemuan-penemuan tesebut, menrangkan penyebabnya serta mencari
hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.
Jika pada pemeriksaan ditemukan beberapa jenis kelainan bersama-sama maka dilakukan
penentuan kelainan mana yang merupakan penyebab kematian, serta apakah kelainan yang

2
lain juga memiliki andil dalam terjadinya kematian tersebut. Berdasarkan tujuannya, dikenal
dua jenis autopsi yaitu autopsi klinik dan autopsi forensik atau medikolegal.1,2
Autopsi klinik dilakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, dirawat di
rumah sakit tetapi kemudian meninggal. Pada autopsi klinik mutlak diperlukan izin dari
keluarga terdekat mayat yang bersangkutan.2
Autopsi forensik atau autopsi medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang
berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan tujuan membantu dalam hal penentuan
identitas mayat, menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian, serta
memperkirakan saat kematian, mengumpulkan serta menggali benda-benda bukti untuk
penentuan identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan, membuat laporan
tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum, dan melindungi
orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta penuntutan
terhadap orang yang bersalah.2
Dalam melakukan autopsi forensik, diperlukan suatu surat permintaan pemeriksaan /
pembuatan visum et repertum dari yang berwenang, dalam hal ini pihak penyidik. Izin
keluarga tidak diperlukan, bahkan apabila ada seseorang yang menghalang-halangi
dilakukannya autopsi forensik, yang bersangkutan dapat dituntut berdasarkan undang-undang
yang berlaku.2
Selain itu, dalam melakukan autopsi forensik, mutlak diperlukan pemeriksaan yang
lengkap meliputi pemeriksaan tubuh bagian luar, pembukaan rongga tengkorak, rongga dada,
dan rongga perut / panggul serta pemeriksaan seluruh organ. Seringkali perlu pula dilakukan
pemeriksaan penunjang lainnya antara lain pemeriksaan toksikologi forensik, histopatologi
forensik, serologi forensik, dan sebagainya. Pemeriksaan yang tidak lengkap seperti autopsi
parsial atau needle necropsy dalam rangka pemeriksaan ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan karena tidak akan mencapai tujuan dari autopsi forensik.2
Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter dan tidak dapat diwakilkan pada mantri
atau perawat. Dalam autopsi diperlukan ketelitian yang maksimal sehingga kelainan yang
sekecil apapun harus tetap dicatat. Autopsi juga harus dilakukan sedini mungkin karena
dengan berjalannya waktu, tubuh mayat akan mengalami perubahan yang dapat menyulitkan
dalam interpretasi kelainan yang ditemukan.2
Sebelum memulai autopsi, perlu diperhatikan apakah surat-surat yang berkaitan dengan
autopsi yang akan dilakukan sudah lengkap. Surat yang dimaksud adalah Surat Permintaan
Pemeriksaan / Pembuatan Visum et Repertum yang telah ditandatangani oleh pihak penyidik

3
yang berwenang. Kemudaian apakah mayat yang akan diautopsi benar-benar adalah mayat
yang dimaksud dalam surat yang bersangkutan. Dalam autopsi forensik, maka diperhatikan
apakah terhadap mayat yang akan diperiksa telah dilakukan identifikasi oleh pihak yang
berwenang berupa penyegelan dengan label polisi yang diikatkan pada ibu jari kaki mayat.
Hal ini untuk memenuhi ketentuan mengenai penyegelan barang bukti. Label dari polisi ini
memuat nama, alamat, tanggal kematian, tempat kematian, dan sebagainya yang harus diteliti
apakah sesuai dengan data yang tertera dalam surat permintaan pemeriksaan. Setelah itu,
kumpulkanlah keterangna yang ebrhubungan dengan terjadinya kematian selengkap
mungkin. Pada kasus autopsi forensik, informasi mengenai kejadian yang mendahului
kematian, keadaan pada tempat kejadian perkara dapat memberi petunjuk pemeriksaan dan
membantu menentukan jenis pemeriksan khusus yang diperlukan. Persiapan terakhir adalah
memastikan bahwa alat-alat yang diperlukan telah tersedia. Contohnya, apakah botol berisi
larutan formalin yang diperlukan untuk pengawetan jaringan bagi pemeriksaan histopatologi
telah tersedia, atau tabung reaksi untuk pengambilan darah dan isi lambung telah tersedia.2

Visum et Repertum
Visum et repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter, berisi temuan
dan pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia
atau bagian dari tubuh manusia baik yang hidup maupun mati atas permintaan tertulis (resmi)
dari penyidik yang berwenang yang dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah untuk
kepentingan peradilan. Hal ini sesuai dengan KUHAP pasal 133 ayat 1 dan 2 serta pasal 184.
Visum et repertum tergolong ke dalam alat bukti surat. Visum et repertum ini dibutuhkan
dalam kasus luka, keracunan, dan mati, sehingga penyidik akan mencantumkan dalam surat
permintaan visumnya, visum apa yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan atas keterangan
yang mereka perlukan.3,4
Visum et repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap. Pertama adalah kata Pro justitia
yang diletakkan di bagian atas. Kata ini menjelaskan bahwa visum et repertum khusus dibuat
untuk tujuan peradilan. Visum et reprtum tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan
sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum. Kedua,
adalah bagian pendahuluan. Bagian ini tidak diberi kudul “Pendahuluan”. Pendahuluan
merupakan uraian tentang identitas dokter pemeriksa, instansi pemeriksa, tempat dan waktu
pemerikaan, isntansi peminta visum, nomor dna tanggal surat permintaan, serta indentitas
korban yang diperiksa sesuai dengan permintaan visum et repertum tersebut. Ketiga adalah

4
hasil pemeriksaan. Bagian ini diberi judul “Hasil Pemeriksaan”. Pada bagian ini dijelaskan
semua hasil pemeriksaan terhadap “barang bukti” yang dituliskan secara sistematis, jelas, dan
dapat dimengerti oleh orang yang tidak memiliki latar belakang kedokteran. Keempat adalah
bagian kesimpulan. Bagian ini diberi judul “Kesimpulan”. Kesimpulan berisi kesimpulan
pemeriksa atas hasil pemeriksaan dengan berasarkan keilmuan / keahliannya mengenai jenis
perlukaan / cedera yan ditemukan dan jenis kekerasan atau zat penyebabnya serta derajat
perlukaan atau sebab kematiannya. Pada kejahtan susial, diterangkan juga apakah telah
terjadi persetubuhan dna kapan perkiraan kejadiannya, serta usia korban atau kepantasan
korban untuk dikawin. Terakhir adalah bagian penutup. Bagian ini tidak diberi judul dan
berisi uraian kalimat penutup yang menaytakan bahwa visum et repertum dibuat dengan
sebenarnya berdasarkan keilmuan serta mengingat sumpah dan sesuai dengan KUHAP.
Contoh bagian penutup berisi tulisan sebagai berikut “Demikianlah visum et repertum ini
saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan menginat sumpah
sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana”.3,4
Tatacara penulisan visum et repertum adalah selayaknya dokumen legal. Tujuan adanya
tatacara ini adalah untuk menghindari manipulasi. Tatacara penulisannya antara lain, diketik
di atas kertas dengan kepala surat sesuai instansi pemeriksa, diberi nomor sesuai dengan
tatacara penomoran di instansi pemeriksa, diberi tanggal sesuai pembuatan visum, diketik
satu spasi, rata kiri dan kanan, huruf yang digunakan adalah huruf yang resmi dnegan ukuran
normal (umumnya menggunakan Times New Roman, 12pt), angka ditulis dengna huruf dan
bila kalimat yang dibuat tidak sampai pada ujung batas baris, maka dibuat garis penutup, dan
bila terdapat lebih dari satu halaman maka dicantumkan tiga kata pertama dari halaman
berikutnya di bagian bawah kanan, setiap lembar diberi nomor visum (umumnya di sisi kanan
atas), dan dicantumkan nomor halaman serta jumlah total halaman (umumnya di sisi kanan
atas di bawah nomor visum).3,4
Visum et Repertum Jenasah
Jenasah yang akan dimintakan visum et reprtumnya harus diberi label yang memuat
identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan,yang diikatkan pada ibu jari kaki atau
bagian tubuh lainnya. Pada surat permintaan visum et reprtumnya harus jelas tertulis jenis
pemeriksaan yang diminta apakah hanya pemeriksaan luar jenasah ataukah pemeriksaan
autopsi (pasal 133 KUHAP). Bila akan dilakukan autopsi, maka penyidik wajib memberitahu
keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuan pemeriksaan. Autopsi dilakukan
setelah keluarga korban tidak keberatan atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan apapun

5
dari keluarga korban (pasal 134 KUHAP). Jenasah yang diperiksa dapat juga berupa jenasah
yang didapat dari penggalian kuburan (pasal 135 KUHAP).3
Jenasah hanya boleh dibawa keluar institusi kesehatan dan diberi surat keterangan
kematian bila seluruh pemeriksaan yang diminta penyidik telah dilakukan. Bila jenasah
dibawa pulang paksa, maka tidak ada surat keterangan kematian baginya.3
Pemeriksaan forensik terhadap jenasah meliputi pemeriksaan luar jenasah tanpa
melakukan tindakan yang merusak keutuhan jaringan jenasah. Pemeriksaan dilakukan dengan
teliti dan sistematis serta dicatat secara rinci mulai dari bungkus atau tutup jenasah, pakaian,
benda-benda di sekitar jenasah, perhiasan, ciri-ciri umum identitas, tanda-tanda tanatologis,
gigi-geligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang ditemukan di seluruh bagian luar. Bila
penyidik hanya meminta pemeriksaan luar saja, maka kesimpulan visum et repertum
menyebutkan jenis luka, atau kelainan yang idtemukan dan jenis kekerasan penyebabnya,
sedangkan sebab matinya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan bedah
jenasah. Lama mati sebelum pemeriksaan apabila dapat diperkirakan, dapat dicantumkan
dalam kesimpulan.3
Kemudian dilakukan pemerikaan bedah jenasah menyeluruh dengan membuka rongga
tengkorak, leher, dada, perut, penggul. Kadang diperlukan juga pemeriksaan penunjang
seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dan lainnya. Dari pemeriksaan ini
dapat disimpulkan sebab kematian korabn selain jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan
penyebabnya, dan saat kematian.3
Deskripsi luka
Pada pendeskripsian luka secara umum, disebutkan regio tempat luka berada.
Kemudian ditentukan koordinat “X” luka dnegna mengukur jarak pusat luka dari garis
pertengahan badan, koordinat “Y” luka dnegan mengukur jarak pusat luka di atas atau di
bawah dari suatu patokan organ tubuh, koordinat “Z” luka (luka tembak dan kekerasan tajam)
dengan mengukur jarak pusat luka di atas dari tumit. Setelah itu disebutkan juga jenis
lukanya apakah memar atau lecet atau terbuka atau patah tulang atau lainnya.4
Untuk luka memar, disebutkan warna memar, bentuk (bila memberi gambaran khas),
ukuran memar dengan mengukur panjang kali lebar luka atau diameter luka, ada tidaknya
bengkak, dan ada tidaknya nyeri tekan. Contohnya “pada ... terdapat memar berbentuk tidak
beraturan, warna ungu, berukuran lima sentimeter kali lima sentimeter”.4
Pada luka lecet tekan, diraba konsistensi luka dan menyebutkan warna luka. Pada luka
lecet geser, diperiksa arah kekerasan dari tepi yang relatif rata ke ujung luka yang tidak rata

6
dan terdapat penumpukan epitel kulit. Kemudian laporkan jug ukuran luka lecet dengan
mengukur panjang kali lebar luka. Pada luka lecet gores tentukan ukuran panjang luka saja.
Contohnya “pada ... terdapat luka lecet tekan dengan perabaan keras, berwarna coklat,
berukuran empat sentimeter kali nol koma lima sentimeter. Pada ... terdapat luka lecet geser
dengan arah dari bawah ke atas, berukuran empat sentimeter kali tiga sentimeter. Pada ...
terdapat luka lecet gores sepanjang dua koma lima sentimeter”.4
Untuk deskripsi luka robek akibat kekerasan tumpul, dijelaskan tepi luka, dasar luka,
dan menyebutkan apakah sampai jaringan bawah kulit, otot, tulang, atau menembus rongga
tubuh. Jelaskan juga ada/tidaknya jembatan jaringan. Untuk daerah yang berambut dapat
dilihat adanya akar rambut yang tercabut. Nyatakan ukuran luka dengan merapatkan kedua
tepinya dan ukurlah panjang luka. Bila terdapat kehilangan jaringan maka ukuran luka
ditentukan dengna mengukur panjang kali lebar luka, termasuk memar atau luka lecet
disekitarnya. Contoh : “Pada ... terdapat luka teruka tepi tidak rata, dasar otot, terdapat
jembatan jaringan, yang bila dirapatkan membentuk garis sepanjang lima sentimeter”.4
Untuk deskripsi luka terbuka akibat kekerasan tajam, dimulai dengan memeriksa tepi
luka, kemudian dasar luka dan disebutkan apakah sampai jaringan bawah kulit, otot, tulang,
atau menembus rongga tubuh. Kemudian diperiksa kedua ujung luka apakah lancip/tumpul.
Pada daerah yagn berambut dpat dilihat adanya akar rambut yang terpotong. Terakhir
tentukan ukuran luka terbuka tepi tidak rata dengan merapatkan kedua tepinya dan mengukur
panjang luka. Contohnya “Pada ... terdapat luka terbuka tepi rata, kedua sudur lancip, dasar
otot, yang bila dirapatkan membentuk garis sepanjang lima sentimeter”.4
Untuk deskripsi luka tembak masuk, nyatakan bentuk luka. Kemudian jelaskan garis
tengah luka dan sebutkan 4 koordinat kelim lecet di sekeliling luka dengan menentukan
terlebih dahulu sumbu terpanjang dan sumbu pendek yang tegak lurus sumbu terpanjang.
Kemudian nyatakan ukuran 4 koordinat kelim lecet tersebut. Jelaskan ada tidaknya kelim
mesiu, kelim jelaga di sekeliling lubang luka. Contoh : “Pada ... terdapat luka yang berbentuk
lubang dasar rongga dada, dengan garis tengah tujuh milimeter, disekitarnya terdapat luka
lecet dengan lebar sebagai berikut : a. pada arah kiri dengna lebar tiga milimeter. b. Pada arah
kanan dengan lebar satu milimeter. c. pada arah atas dnegna lebar satu milimeter. d. Pada
arah bawah dengan lebar satu milimeter”.4
Untuk deskripsi luka bakar, sebutkan bentuk kelainan pada kulit, disertai warna,
ada/tidaknya jaringan kulit ari, ada/tidaknya gelembung kulir ari, warna kulit ari disekitar
luka dan tentukan ukuran luka dengan mengukur panjang kali lebar luka. Contoh : “pada ...

7
terdapat kulit yang berwarna kemerahan, dan diatasnya terdapat gelembung-gelembung berisi
cairan, berukuran delapan sentimeter kali empat sentimeter”.4
Pemeriksaan Medis Pada Bidang Tanatologi
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan
logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari
kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi
perubahan tersebut.

Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, antara lain :

1. Mati somatis disebut juga mati klinis yang terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem
penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem
pernapasan, yang menetap (irreversible). Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks,
EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak
pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi.
2. Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem
kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan
kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi.
Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan
tenggelam.
3. Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul
beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau
jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan
tidak bersamaan. Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ.
4. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak
dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan
kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat.
5. Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neronal
intrakranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya
mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak
dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut
dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung

8
dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata
menghilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan
pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda
tersebut dikenal sebagai tanda pasti kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau lividitas
pascamati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mummifikasi dan
adiposera.
Tanda kematian tidak pasti, antara lain :
1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).
2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi
spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda.
Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan
pendataran daerah-daerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat
yang terlentang.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmen-
segmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.2
Tanda pasti kematian, antara lain :
1. Lebam mayat (livor mortis)
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya
tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak berwarna merah ungu
(livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras.
Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh
darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama
intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu
ini, lebam mayat masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi
mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan sempurna apabila penekanan atau
perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi,
walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat
mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang-kadang

9
dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah.
Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup
banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu, kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah
ikut mempersulit perpindahan tersebut.
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab
kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna
kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat
yang dilakukan setelah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat
kematian.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap
dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk
lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih
hilang pada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat
pemeriksaan.
Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka
keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma
(ekstravasasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air,
maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan
darah tidak menghilang.
2. Kaku mayat (rigor mortis)
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat
seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi.
Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka
serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi
tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak
kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah
dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal.
Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan
kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai
pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi
teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot.

10
Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik
sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu
lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian
dan memperkirakan saat kematian.
Terdapat kekakuan pada mayatyang menyerupai kaku mayat, antara lain :
a) Cadaveric spasm (instantaneous rigor), adalah bentuk kekauan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang
timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya
adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati
klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric spasm
ini jarang dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang. Kepentingan medikolegalnya
adalah menunjukkkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang
menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang
menggenggam senjata pada kasus bunuh diri.
b) Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot
berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai
pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek
sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju.
Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas,
penyebab atau cara kematian.
c) Cold stiffening, yaitu kekauan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi
pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan
otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.

3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)


Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke
benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.
Grafik penurunan suhu tubuh ini hamper berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf
S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara,
bentuk tubuh, posisi tubuh dan pakaian. Selain itu, suhu saat mati perlu diketahui untuk
perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu
keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus,

11
posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta
anak kecil.
Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui
pengukuran suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rectal dengan interval waktu yang
sama (minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan karena faktor-faktor
lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37oC bila tidak ada penyakit
demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 oC tidak
mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-angka di atas, dengan menggunakan
rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dengan saat pemeriksaan. Saat ini
telah tersedia program komputer guna penghitungan saat mati melalui cara ini.

4. Pembusukan (decomposition, putrefaction)


Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja
bakteri. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan
steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan
hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.2
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk
ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh.
Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii.
Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta asam amino
dan asam lemak.
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada
perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri
serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-
met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan
dada, dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti
melebar dan berwarna hijau kehitaman.
Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan
kemerahan berbau busuk. Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung
dan usus, akan mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari
mulut dan hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan
terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh,

12
tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longgar, seperti skrotum dan
payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti petinju (pugilistic attitude), yaitu kedua
lengan dan tungkai dalam sikap setengah fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di
dalam rongga sendi.
Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah
mengembung dan warna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembam, bibir
tebal, lidah membengkak dan sering terjulur di antara gigi. Keadaan seperti ini sangat
berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga.
Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati,
terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang
pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi.
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-
kira 36-48 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca
mati, di alis mata, sudut mata, lubang hidung dan di antara bibir. Telur lalat tersebut
kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies, lalat
dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya
secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal (dan tidak lagi dapat mengusir lalat
yang hinggap).
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda.
Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu
kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh
darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu
mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi
berongga seperti spons, limpa melunak dan mudah robek. Kemudian alat dalam akan
mengerut. Prostat dan uterus non-gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan
terhadap perubahan pembusukan.
Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5 oC hingga
sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk,
tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga
berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan
yang terdapat dalam air atau dalam tanah. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk,

13
karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat
dan bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.

5. Adiposera atau lilin mayat.


Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau
berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu
disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena penunjukan sifat-
sifat di antara lemak dan lilin.
Adiposera terutama terdiridari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh
hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca
mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi
dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan
mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut dalam alkohol dan eter.
Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi
lemak superficial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat
terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak
tubuh berubah menjadi adiposera.
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan.
Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan
lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang meghambat adalah air yang mengalir yang
membuang elektrolit.
Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan
mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat
pembentukannya.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan
dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0.5% asam lemak
bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan setelah 12
minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini, adiposera menjadi jelas secara makroskopik
sebagai bahan berwana putih kelabu yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian
lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera
paling baik dideteksi dengan analisis asam palmitat.

14
6. Mummifikasi
Mummifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup
cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan
pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan
tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering.
Mummifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh
yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu). Mummifikasi jarang dijumpai pada
cuaca yang normal.
Perkiraan saat kematian

Beberapa perubahan yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati adalah:

1. Perubahaan pada mata

Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri kanan kornea akan
berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea.
Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis, kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat
dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih
dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi
sejak kira-kira 6 jam pasca mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka,
kornea menjadi keruh kira-kira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus
tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi
pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan
lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam
pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya
diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak
tajam lagi. Selama dua jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus
menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi lebih gelap.
Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar
belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati
menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat. Pada kira-kira 6 jam
pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-pembuluh besar yang mengalami
segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning kelabu. Dalam waktu 7-10
jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. Pada 12 jam
pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen

15
pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran
pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna coklat
gelap.9

2. Perubahan dalam lambung


Kecepatan pengososngan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat digunakan
untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. Namun
keadaan lambung dan isinya mungkin membuat keputusan. Ditemukannya makanan
tertentu ( pisang, kulit, tomat, biji-bijian ) dalam isi lambung dapat digunakan untuk
menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan tersebut.9
3. Perubahan rambut
Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari, panjang
rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. Cara
ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau
jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur.9
4. Pertumbuhan kuku
Sejalan dengan hal rambut tersebut diatas, pertumbuhan kuku yang diperkirakan
sekitar 0,1 mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila dapat
diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku.9
5. Perubahan dalam cairan serebrospinal
Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat
10 jam, kadar nitrogen non protein kurang dari 80% menunjukkan kematian belum 24 jam,
kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian
belum mencapai 10 jam dan 30 jam.
6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk
memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati.
7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah pasca
mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya.
Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan
permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses
kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu terjadi.
Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat mati dengan lebih cepat.9
8. Reaksi supravital

16
Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan
tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji daoat dilakukan terhadap mayat yang
masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan kontraksi otot mayat
hingga 90-120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-
90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit
sampai 1 jam pasca mati.9

LUKA AKIBAT SUHU / TEMPERATURE

Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion primer. Temperature


kulit yang tinggi dan rendahnya penglepasan panas dapat menimbulkan kolaps pada
seseorang karena ketidakseimbangan antara darah sirkulasi dengan lumen pembuluh darah.
Hal ini sering terjadi pada pemaparan terhadap panas, kerja jasmani berlebihan dan pakaian
yang terlalu tebal. Dapat pula terjadi heat exhaustion sekunder akibat kehilangan cairan tubuh
yang berlebihan (dehidrasi). Heat stroke adalah kegagalan kerja pusat pengatur suhu akibat
terlalu tingginya temperature pusat tubuh. Suhu lethal eksogen adalah 43 derajat celcius.
Penglepasan panas tubuh secara konduksi dan radiasi sudah mulai berlangsung saat suhu
eksogen mencapai 30 derajat celcius. Sedangkan di atas 35 derajat celcius panas tubuh harus
dilepas melalui penguapan keringat. Sun stroke dapat terjadi akibat panas sinar matahari
yang menyebabkan hipertermia sedangkan Heat cramps terjadi akibat menghilangnya NaCl
darah dengan cepat akibat suhu tinggi.5

Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan benda bersuhu tinggi. Kerusakan kulit
yang terjadi bergantung pada tinggi suhu dan lama kontak. Kontak kulit dengan upa air panas
selama 2 detik mengakibatkan suhu kulit pada kedalaman 1mm dapat mencapai 66 derajat
celcius, sedangkan pada ledakan bensin dalam waktu singkat mencapai suhu 47 derajat
celcius. Luka bakar sudah dapat terjadi pada suhu 43-44 derajat celcius bila kontak cukup
lama.5

Pelebaran kapiler dibawah kulit mulai terjadi pada saat suhu tubuh mencapai 35
derajat celcius selama 120 detik, vesikel terjadi pada suhu 53-57 derajat celcius selama
kontak 30-120 detik.

Luka bakar yang terjadi dapat dikategorikan ke dalam 4 derajat luka bakar:

I. Eritema

17
II. Vesikel dan bullae
III. Nekrosis koagulatif
IV. Karbonisasi

Kematian pada luka bakar dapat terjadi melalui pelbagai mekanisme:

 Syok neurogen; commotion neuro-vascularis


 Gangguan permeabilitas akibat penglepasan histamine dan kehilangan NaCL
kulit yang cepat (dehidrasi)

Pemaparan terhadap suhu rendah misalnya di puncak gunung yang tinggi, dapat
menyebabkan kematian mendadak. Mekanisme kematian dapat diakibatkan oleh kegagalan
pusat pengatur suhu maupun akibat rendahnya disosiasi oxy-Hb. Bayi dan orang tua secara
fisiologis kurang tanggap terhadap dingin, demikian juga pada kelelahan, alcoholism,
hipopituitarism, myoedema dan steatorrhoea. Pada kulit dapat terjadi luka yang terbagi
menjadi beberapa derajat kelainan:

I. Hyperemia
II. Edema dan vesikel
III. Nekrosis
IV. Pembekuan disertai kerusakan jaringan.

LUKA AKIBAT TRAUMA LISTRIK

Factor yang berperan pada cedera listrik ialah tegangan (volt), kuat arus (ampere),
tahanan kulit (ohm) luas dan lama kontak. Tegangan rendah (<65 V) biasanya tidak
berbahaya bagi manusia, tetapi tegangan sedang (65-1000V) dapat mematikan.

Banyaknya arus listrik yang mengalir menuju tubuh manusia menentukan juga
fatalitas seseorang. Makin besar arus, makin berbahaya bagi kelangsungan hidup.

Selain factor –faktor kuat arus, tahanan dan lama kontak, hal lain yang penting
diperhatikan adalah luas permukaan kontak. Suatu permukaan kontak seluas 50 cm persegi
(kurang lebih selebar telapak tangan) dapat mematikan tanpa menimbulkan jejas listrik,
karena pada kuat arus letal (100 mA), kepadatan arus pada daerah selebar telapak tangan
tersebut hanya 2 mA/cm persegi, yang tidak cukup besar untuk menimbulkan jejas listrik.

18
Kuat arus yang masih memungkinkan bagi tangan yang memegangnya untuk
melepaskan diri disebut let go current yang besarnya berbeda-beda untuk setiap individu.

Gambaran makroskopis jejas listrik pada daerah kontak berupaka kerusakan lapisan
tanduk kulit sebagai luka bakar dengan tepi yang menonjol, di sekitarnya terdapat daerah
yang pucat dikelilingi oleh kulit yang hiperemi. Bentuknya sering sesuai dengan benda
penyebabnya. Metalisasi dapat juga ditemukan pada jejas listrik.5

Sesuai dengan mekanisme terjadinya, gambaran serupa jejas listrik secara


makroskopik juga bisa timbul akibat persentuhan kulit dengan benda/logam panas
(membara). Walaupun demikian keduanya dapat dibedakan dengan pemeriksaan
mikroskopis.

Jejas listrik bukanlah tanda intravital karena dapat juga ditimbulkan pada kulit
mayat/pasca mati (namun tanpa daerah hiperemi).

Kematian dapat terjadi karena fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernapasan dan
kelumpuhan pusat pernapasan.5

LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TUMPUL

Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya
kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekrasan benda tumpul. Luka memar kadangkala
memberi petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang sebenarnya
adalah suatu perdarahan tepi (marginal haemorrhage).6

Letak, bentuk dan luas memar dipengaruhi oleh berbagai factor seperti besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat
longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh
darah, penyakit (hipertensi, penyakit kardio vascular, diathesis hemoragik).6

Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan, misalnya
kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra atau kekerasan benda
tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom pada sisi luar tungkai
bawah.

Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada
saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4

19
sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7
sampai 10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna tersebut
berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai
faktor yang mempengaruhinya.6

Dari sudut panjang medikolegal, interprestasi luka memar dapat merupakan hal yang
penting, apalagi bila luka memar tersebut disertai luka lecet aau laserasi. Dengan perjalanan
waktu, baik pada orang hidup maupun mati, luka memar akan memberi gambaran yang
makin jelas.

Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan
dari lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat (hypostasis
pascamati) darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga bila
dialiri air, penampang sayatan tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat bahwa
pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini.

Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing., misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas,
tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan
dengan kulit.6

Manfaat interprestasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali


diremehkan, padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat
mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang semula
diperkirakan sebagai akibat jatuh dan terbentur aspal jalanan atau tanah, seharusnya dijumpai
pula aspal atau debu yang menempel di luka tersebut. Bila sesudah dilakukan pemeriksaan
yang teliti ternyata tidak dijumpai benda asing tersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa
luka tersebut bukan terjadi akibat jatuh ke aspal/tanah, tapi mungkin akibat tindak kekerasan.

Sesuai dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai luka
lecet gores (scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression, impact abrasion)
dan luka lecet geser (friction abrasion).

20
Luka lecet gores diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores
kulit) yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di depannya dan menyebabkan
lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.

Luka lecet serut adalah variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya
dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak
tumpukan epitel.

Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit
adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk
permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan identifikasi benda penyebab
yang mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan dan
sebagainya.

Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku
dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang
tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati.

Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser,
misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi
semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.

Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang menyebabkan
kulit teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi
robekan pada kulit. Luka ini mempunyai ciri bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi
atau dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka
tidak beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.6

Kekerasan tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang. Bila terdapat
lebih dari satu garis patah tulang yang saling bersinggungan maka garis patah yang terjadi
belakangan akan berhenti pada garis patah yang telah terjadi sebelumnya.

Pada cedera kepala, tulang tengkorak yang tidak terlindung oleh kulit hanya mampu
menahan benturan sampai 40 pound/inch2. Tetapi bila terlindungi oleh kulit maka dapat
menahan sampai 425 900 pound/inch2. Selain kelainan pada kulit kepala dan patah tulang
tengkorak, cedera kepala dapat pula mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak

21
berupa perdarahan epidural, subdural dan subarachnoid, kerusakan selaput otak dan jaringan
otak.6

Perdarahan epidural sering terjadi pada usia dewasa sampai usia pertengahan, dan
sering dijumpai pada kekerasan benda tumpul di daerah pelipis (kurang lebih 50%) dan
belakang kepala (10-15%) akibat garis patah yang melewati sulcus arteria meningea, tetapi
perdarahan epidural tidak selalu disertai patah tulang.6

Perdarahan subdural terjadi karena robeknya sinus, vena jembatan (brudging vein),
arteri basilaris atau berasal dari perdarahan subarachnoid.

Perdarahan subarachnoid biasanya berasal dari focus kontusio/ laserasi jaringan otak.
Perlu diingat bahwa perdarahan ini juga bias terjadi spontan pada sengatan matahari (heat
stroke), leukemia, tumor, keracunan CO dan penyakit infeksi tertentu.

Lesi otak tidak selalu terjadi hanya pada daerah benturan (coup) tetapi dapat terjadi di
seberang titik benturan (contre coup) atau di antara keduanya (intermediate lesion). Lesi
contre coup terjadi karena adanya liquor yang mengakibatkan terjadinya pergerakan otak saat
terjadinya benturan, sehingga pada sisi kontra lateral terjadi gaya positif akibat akselerasi,
dorongan liquor dan tekanan oleh tulang yang mengalami deformitas. Penelitian lain contre
coup terjadi karena adanya deformitas tulang tengkorak yang dapat menimbulkan tekanan
negative pada siisi kontralateral. Cedera kontralateral terjadi bila tekanan negative yang
terjadi minimal 1 ata (atmosfir absolut). Kontusio biasanya terjadi bila ada kekerasan paling
tidak sebesar 250 g gaya gravitasi (1 g = 9,81 m/detik2), sedangkan komosio kira-kira 60-
100g.6

Kasus kematian akibat kekerasan tumpul terbanyak ditemukan pada kecelakaan lalu
lintas, sedangkan pada pembunuhan hanya 15,6% (1984), 17,5% (1983), dan 17,2% (1982).6

LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TAJAM

Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah
benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-
alat seperti golok dan sebagainya hingga keping kaca, gelas, logam, sembilu, bahkan tepi
kertas atau rumput.6

22
Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata
berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik.
Luka kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat, luka tusuk dan luka bacok.
selain gambaran umum luka tersebut diatas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai
kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi dalam luka. Sudut luka yang lancip
dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik
atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak memutar, dapat menghasilkan luka
yang tidak selalu berupa garis.

Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukan perkiraan benda penyebabnya, apakah
berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila sudut luka lancip dan yang lain tumpul,
berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip,
luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua. Benda tajam bermata satu
dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung
benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dbentuk oleh ujung dan sisi tajamnya.6

Kulit disekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukan adanya
luka lecet atau memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit. Pada luka tusuk
panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demekian pula
panjang saluran luka biasanya tidak menunjukan panjang benda tajam tersebut. Hal ini
disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban.

Umumnya luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri
atau kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut:

Ciri-ciri pembunuhan diatas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai
perkelahian. Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan
dapat tunggal.6

23
Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya
ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan
tungkai. Pemeriksaan pada baju (kain) yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi
antara pisau-kain-tubuh, yaitu melihat letak/lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel
besi (reaksi biru berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spekroskopi), serat kain dan
pemeriksaan terhadap bercak darahnya.

Bunuh diri menggunakan benda tajam biasanya diarahkan pada teampat yang cepat
mematikan biasanya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut (harakiri) dan lipat paha.
Bunuh diri dengan senjata tajam tentu saja akan menghasilkan luka-luka pada tempat yang
terjangkau oleh tangan korban serta biasanya tidak menembus pakaian karena umumnya
korban menyingkap pakaian terlebih dahulu.

Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata
tajam, sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban. Luka percobaan tersebut dapat berupa
luka sayat atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar.

Yang dimaksud dengan kecelakaan pada tabel diatas adalah kekerasan tajam yang
terjadi tanpa unsur kesengajaan misalnya kecelakaan industri, kecelakaan pada kegiatan
sehari-hari, sedangkan cidera sekunder adalah ciddera yang terjadi bukan akibat benda tajam
penyebabnya, misalnya luka yang terjadi akbat terjatuh.6

DESKRIPSI LUKA TERBUKA AKIBAT KEKERASAN TAJAM

 Memeriksa tepi luka


 Memeriksa dasar luka, dan menyebutkan sampai jaringan bawah kulit, otot, tulang
atau menembus rongga tubuh
 Memeriksa kedua ujung luka, apakah lancip atau tumpul
 Pada daerah berambut, dapat dilihat adanya akar rambut yang terpotong
 Menenentukan ukuran luka terbuka tepi tidak rata dengan meratakan kedua tepinya
dan mengukur panjang luka6

AFIKSIA

Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran
udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan
peningkatan karbon dioksida (hiperkapnia). Dengan demikian organ tubuh mengalami

24
kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. Berdasarkan penyebabnya,
asfiksia dapat dibagi menjadi asfiksia yang alamiah, trauma mekanik, dan keracunan. Pada
pembahasan pada kasus kali ini akan dibahas secara lanjut untuk asfiksia yang merupakan
trauma mekanik.8

Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan yang
terhalang ketika memasuki saluran napas oleh berbagai macam kekerasan seperti kekerasan
yang menyebabkan penutupan saluran pernapasan bagian atas, penekanan dinding saluran
napas, penekanan dinding dada dari luar maupun pada beberapa kasus seperti tenggelam
yang menyebabkan saluran pernapasan yang terisi air.8

Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh asfiksia dibagi menjadi 4 tahap yakni:1

1. Fase dispneu.
Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam plasma akan
merangsang pusat pernapasan di medula oblongata, sehingga amplitudo dan frekuensi
pernapasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai nampak
tanda-tanda sianosis terutama pada muka dan tangan.
2. Fase konvulsi.
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf
pusat sehingga terjadi peristiwa kejang, yang mula-mula berupa kejang klonik tetapi
kemudian berubah menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul spasme opistotonik.
Pupil berdilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah menurun merupakan efek
yang timbul karena terjadinya paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat
kekurangan O2.
3. Fase apnea.
Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat, pernapasan melemah dan dapat
berhenti. Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran
cairan sperma, urin, dan tinja.
4. Fase akhir.
Terjadi paralisis pusat pernapasan lengkap. Pernapasan berhenti setelah kontraksi
otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa saat
setelah pernapasan berhenti.

25
Masa dari asfiksia timbul sampai terjadinya kematian sangat bervariasi. Umumnya,
kisarannya adalah 4-5 menit. Fase 1 dan 2 berlangsung kurang dari 3-4 menit, tergantung dari
tingkat kadar oksigen yang terhalang. Apabila oksigen yang terhalang kurang dari 100%
maka waktu kematian dapat tertunda lebih lama sehingga tanda-tanda asfiksia akan terlihat
lebih jelas.8

Pada kasus, ditemukan adanya busa, busa disini merupakan hasil dari peningkatan
akitifitas pernapasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran napas bagian
atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan menimbulkan busa yang
kadang-kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.8

Aspek Hukum dan Prosedur Medikolegal 1,8


Kewajiban dokter membantu peradilan
Pasal 133 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana,
ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 179 KUHAP


(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

26
Pasal 180 KUHAP
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).
(4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh
instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang
mempunyai wewenang untuk itu.

Pasal 120 KUHAP


(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.
(2) AhIi tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia
akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia
menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Pasal 224 KUHP


Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan
sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya,
diancam:
1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;
2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan.

Pasal 522 KUHP


Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak

27
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus
rupiah.

Autopsi
Pasal 134 KUHAP
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada
keluarga korban.
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya
tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak
yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 135 KUHAP


Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (2) dan pasal
134 ayat (1) undang-undang ini.

Pasal 216 KUHP


(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang-
undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda puling banyak
sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat

28
ditambah sepertiga.

Pasal 222 KUHP


Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 117 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem jantung sirkulasi dan sistem pernafasan
terbukti telah berhenti secara permanen, atau apabila kematian batang otak telah dapat
dibuktikan.
Pasal 118 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
(1) Mayat yang tidak dikenal harus dilakukan upaya identifikasi.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat bertanggung jawab atas upaya
identifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya identifikasi mayat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 121 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
(1) Bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis hanya dapat dilakukan oleh dokter
sesuai dengan keahlian dan kewenangannya.
(2) Dalam hal pada saat melakukan bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis
ditemukan adanya dugaan tindak pidana, tenaga kesehatan wajib melaporkan kepada
penyidik sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 122 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
(1) Untuk kepentingan penegakan hukum dapat dilakukan bedah mayat forensik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Bedah mayat forensik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter ahli
forensik, atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter ahli forensik dan perujukan ke
tempat yang ada dokter ahli forensiknya tidak dimungkinkan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas tersedianya pelayanan
bedah mayat forensik di wilayahnya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan bedah mayat forensik diatur dengan
Peraturan Menteri.

29
Visum et Repertum
Pasal 184 KUHAP
(1) Alat bukti yang sah ialah:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Pasal 187 KUHAP
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau
dikuatkan dengan sumpah, adalah:
a. berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan
alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
b. surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi
tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan;
c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya;
d. surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.
Pasal 267 KUHP
(1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang ada atau
tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun
(2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang ke dalam rumah
sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan
tahun enam bulan.
(3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.

30
KESIMPULAN
Pada mayat laki-laki ini ditemukan pembengkakan dan memar pada wajah, beberapa
memar berbentuk dua garis sejajar (railway hematome) pada punggung akibat kekerasan
benda tumpul.
Terdapat sedikit busa halus di dalam saluran nafas dan sedikit bintik-bintik
perdarahan pada permukaan jantung dan paru akibat asfiksia.
Sebab mati orang ini adalah kekerasan benda tumpul pada kepala yang menyebabkan
pendarahan dibawah selaput keras otak dan sembab otak.
Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang
sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.

Daftar Pustaka
1. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Jakarta:
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2014.h.14-23.
2. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Teknik autopsi forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2000.h.1-6.
3. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu kedokteran
forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1997.h.5-16.
4. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Jakarta: Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2014.h.1-41.
5. Bagian kedokteran forensic FKUI. Ilmu kedokteran forensic. Jakarta: FKUI; 1997.h. 48-
51
6. Bagian kedokteran forensic FKUI. Ilmu kedokteran forensic. Jakarta: FKUI; 1997.h. 37-
44.
7. Budiyanto A, Widiatmaka A, Sudiono S, et al. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. h. 55-56

31
8. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Jakarta:
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2014.h.25-36.

32