Anda di halaman 1dari 4

Ooh … alangkah indahnya ya, jika mereka yang merendahkanmu, kemudian karena keahlianmu – mereka membutuhkanmu,

dan memohon-mohon bantuanmu.

Ooh … alangkah manisnya ya, jika mereka yang menghinamu, karena kejujuran dan kerja kerasmu – mereka menjadi
bawahanmu, yang kebaikan karirnya berada dalam kewenanganmu.

Ooh … alangkah mulianya ya, jika walau dengan terbaliknya jaman, engkau tetap berlaku ramah dan anggun terhadap mereka
yang pernah menjahatimu, saat engkau sebetulnya mampu untuk membalas.

Sahabatku yang baik hatinya,

Tuhan tidak akan menjadikanmu orang besar, jika engkau akan berlaku kejam dengan kebesaranmu.

Sesungguhnya, kasih sayang di hatimu adalah tanda kebesaran masa depanmu.

Maka, setialah kepada hati baikmu.

Kata-kata Hinaan dan Makian Tak Akan


Membuat Aku Terhina atau Termaki. Begitu
Juga, Sebuah Kata Anjing Tak Akan Segera
Merubah Aku Menjadi Anjing. Namun Saat
Aku Mencoba Membalas, Dengan Berkata
Kamu Anjing, Maka Pada Saat Itu Tak
Ubahnya Aku Sudah Seperti Anjing!
Judul tulisan ini adalah Kata-kata kekuatan yang selalu saya katakan pada diri sendiri, istri, atau
teman-teman yang merasa dihina , diremehkan atau direndahkan orang lain karena

kesombongannya. Memang menyakitkan dan menimbulkan rasa marah bahkan mungkin dendam

yang berkepanjangan. Akan tetapi semua itu tak perlu untuk disimpan menjadi sampah yang

terpendam . Sakit dan marah cukup dirasakan saat itu saja, kalau dendam sampai dipendam

justru akan semakin menyakitkan, merugikan kesehatan dan beban yang menyesakan dada.

Prinsipnya adalah, orang lain mau menghina atau memaki itu hak mereka, namun kitapun punya

hak untuk tidak merasa terhina dan termaki.

Kata-kata anjing, bukan manusia, bahkan air ludah sudah pernah saya rasakan atas sebuah

penghinaan dan penghakiman.

Tapi kata-kata dan penghinaan itu justru untuk mengingatkan dan menyadarkan seketika, bahwa

saya tidak boleh melakukan hal yang demikian kepada orang lain. Karena saya sendiri sudah

merasakan kejadian ini sungguh menyakitkan. Jangan rasa sakit hati yang saya dapatkan lantas

diberikan kepada orang lain sebagai pelampiasan. Biarkan saja rasa sakit hati itu diolah menjadi

hati yang pengertian dan mengasihi.


Adakah saya akan merugi kalau demikian? Ya, mungkin merugi dalam pemikiran dalam kepintaran

saya, namun akan menjadi kaya dalam penilaian hati nurani yang selalu waspada.

Hinaan dan caci maki tidak akan sampai menyakitkan kalau kita bisa mengganggap itu bukan caci

maki dan hinaan, tapi sebagai mutiara yang indah dan berharga. Yang kita perlukan saat

menghadapi permasalahan hidup hanyalah bagaimana merubah sudut pandang. Teorinya

gampang pelaksanaannya yang perlu perjuangan. Itulah gunanya kita selalu menjadikan setiap

peristiwa hidup, apapun itu sebagai pembelajaran. Sehingga setiap peristiwa kehidupan itu

bagaikan permata yang akan membuat kita menjadi kaya raya.

Yang seringkali kita lakukan saat menghadapi caci maki dan penghinaan adalah selain membela

diri kita secara langsung atau tak langsung akan melakukan serangan balik berupa hinaan atau

caci maki juga. Kalau tidak bisa atau merasa takut untuk membalas, kita akan jadikan sebagai

dendam. Tapi coba sejenak kita pikirkan dan renungkan, dengan cara demikian bukankah tanpa

kita sadari telah meremehkan dan menghina atau merendahkan diri sendiri?

Saat orang lain menghina kita dengan kata anjing, monyet, babi atau csnya yang lain, lalu kita

membalas dengan kata-kata binatang seperti itu , bukankah kita telah menunjukkan bahwa kita

juga tak ubahnya sepeti seekor binatang?

Mungkin saja saya salah, oleh sebab itu saya hanya bisa bilang, coba renungkan! Kalau kita

memang masih manusia pasti masih bisa merenung, tapi kalau sudah jadi binatang, wah, masih

bisakah merenung?

Mau merenung atau marah?

Semoga pada saat merenungi, kita tidak menemukan bahwa kita pernah menjadi seekor binatang?

Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini

Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Suka tulisan ini

14 Responses to “Orang LAin Boleh Menghinaku, Namun Aku


Tak Boleh Menghina Diriku Sendiri!”
Feed for this Entry Trackback Address
1. eva18 Oktober 2011 at 18:50
Penghinaan itu sungguh menyakitkan sangat menyakitkan,….

mndengar kata2 hinaan itu aq hanya diam, gemetar, sesak, dn nangis, kesedihan dn penyesalan

dri kehidupan ini,….

jangankan aq bisa melawannya dg hinaan,…utk handle diripun uda ga tau, watak insan trnyata

kejam bwt aq.

Dengan mmbaca artikel ini sungguh sedikit bisa melegakan hati ini.

Kenapa aq terlahir tapi hanya utk menerima hinaan ini ???

Sungguh hinaan yg trtuju padaku ini sangat mmbuat aq tdk mengenal diriku lgi….

Semoga Allah YME memberi kekuatan pada jiwa dn ragaku ini.

Amieeeen

2. arabicandy1 Maret 2012 at 16:19


luar biasa, motivasi banget..

trimakasih sahabat utk artikelnya, seperti obat hati bagi yg terluka

subhanallah

Regards,

arabicandy

3. katedrarajawen16 Maret 2012 at 09:15

terimakasih apresiasinya Bung Arab

Salam

4. lia25 April 2012 at 14:26


terimakasih atas tulisan ini.

tulisan ini sangat membantuku… dalam buku harianku yang aku tulis hanya kepedihan dan kadang

dendam juga kesakit hatian atas hinaan seseorang padaku… tapi aku hanya bisa diam, aku tidak

kuasa untuk membalas karena aku bukan tipe orang memberontak. sehingga makin sering dy

menghina dan menjatuhkan aku di depan orang…

kadang aku berpikir buat apa aku hidup di dunia ini hanya untuk dihina begini… kadang aku jd

putus asa sendiri karena diriku hina… ternyata tidak hanya aku.. masih banyak orang yg
mengalami sama seperti aku… aku harus sabar dan siap menerima apapun yg dia katakan tentang

aku..:)

keep smile untuk semuanya