Anda di halaman 1dari 15

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA

“MENDIRIKAN RANGKA ATAP SISTEM KUDA-KUDA“

A. STANDAR KOMPETENSI
Mendirikan rangka atap sistem kuda-kuda.

B. KOMPETENSI DASAR
1. Mempersiapkan pekerjaan mendirikan rangka atap.
2. Mendirikan rangka atap sistem kuda-kuda.
3. Memasang gording dan nok.

C. MATERI PEMBELAJARAN
1. Mempersiapkan pekerjaan mendirikan rangka atap.
2. Mendirikan kuda-kuda.
3. Memasang gording dan nok.

D. STRUKTUR PEMBELAJARAN
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------

E. INDIKATOR
1. Menjelaskan persyaratan kesehatan dan resiko-resiko kecelakaan kerja pada
pekerjaan pembangunan atau pemasangan konstruksi atap.
2. Menentukan dan menggunakan alat-alat pengaman pribadi secara benar.
3. Menyiapkan dan memasang alat bantu kerja.
4. Menjelaskan tata cara persiapan pekerjaan atap.
5. Mempersiapkan tempat meletakkan dan jalur pengangkutan kuda-kuda dari
bengkel ke tempat pemasangan.
6. Membaca gambar kerja dan mencocokkan dengan jumlah, ukuran, ketinggian
juga kemiringan kaki kuda-kuda dan kelengkapannya yang dibuat di bengkel
kerja.
7. Menentukan/memastikan posisi dan keadaan tumpuan kuda-kuda sesuai
dengan gambar kerja.
8. Mengetahui cara- cara pemasangan kuda-kuda sesuai dengan ketersediaan
alat dan jumlah tenaga kerja.
9. Mengatur posisi tenaga dan alat pengangkat kuda-kuda.
10. Meletakan kuda-kuda di atas tumpuan dan menyetel posisi perletakan sesuai
dengan gambar kerja.
11. Mengunci kuda-kuda dengan tumpuannya sehingga tetap stabil dan tetap
tegak dan lurus sesuai dengan gambar kerja.
12. Memasang balok angin-angin sesuai dengan gambar kerja.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 1 / 15


13. Mempersiapkan bahan, panjang ukuran dan penyambungan balok
gording/nok sesuai dengan jarak yang ditentukan.
14. Memasang gording di atas tumpuan kolom gunung-gunung atau kuda-kuda
sesuai gambar kerja.
15. Mengontrol posisi gording atau balok dan Nok sehingga tetap lurus atau sama
ketinggiaannya.
16. Memasang dan mengunci gording, balok tembok atau nok dengan paku atau
baut yang sesuai sehingga terikat kuat, aman dan stabil di atas tumpuannya.
17. Menyiapkan panjang gording sebagai gimbal atau peletakan usuk paling tepi
supaya tidak harus memotong bahan penutup atapnya.
18. Menjelaskan arti pemasangan simbul-simbul kepercayaan pada
nok/mustaka/molo (kepala).

F. PENILAIAN
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------

G. ALOKASI WAKTU
1. Tatap muka (Teori) : Jam
2. Praktek sekolah : 44 (88) Jam
3. Praktek industri : Jam

H. SUMBER PEMBELAJARAN
1. Buku Ilmu Bangunan Gedung. 3
2. Buku konstruksi kayu
3. Buku keselamatan kerja

I. INFORMASI LATAR BELAKANG


1. Pendahuluan
Pekerjaan atap bangunan merupakan pekerjaan akhir dari serangkaian
pekerjaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hasil akhir pekerjaan suatu
bangunan akan ditunjukkan oleh penyelesaian pekerjaan atap.

Masyarakat menilai pekerjaan atap merupakan pekerjaan yang menarik,


menyenangkan, dan bahkan dinilai sebagai pekerjaan yang membanggakan,
sehingga dibuat banyak upacara atau pesta. Pemasangan nok atau munggah
molo, yaitu memasang kepala bangunan, dipercayai sebagai pekerjaan
sakral, yang diartikan sebagai menghidupkan bangunan. Dalam kepercayaan
Jawa, MOLO, selain memiliki arti kepala, diartikan pula sebagai petinggi atau
perujudan yang tunggal. Di bawah naungan molo ketentraman dan keamanan
pemilik atau pengguna bangunan terlindungi. Upacara munggah molo,
dengan menempatkan barang-barang sesaji atau barang-barang yang bernilai
pada balok kayu yang terletak paling tinggi itu, merupakan suatu pengharapan
supaya peran molo di masa mendatang dapat memberikan ketentraman dan
nasib baik bagi pemilik atau segala yang ada di bawahnya. Upacara slametan
itu dilaksakan sebagai usaha untuk mengingatkan diri dan memohon agar
pelaksanaan pekerjaan dapat lancar dan aman, tidak mendapat halangan
sampai akhir pekerjaan.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 2 / 15


2. Keselamatan kerja
Atap bangunan merupakan bagian bangunan yang berada dibagian paling
atas, yang berfungsi melindungi penghuni dan ruangan di bawahnya dari
pengaruh iklim di luar: hujan, panas, angin.

Pekerjaan pemasangan penutup atap merupakan pekerjaan yang memiliki


resiko kecelakaan paling banyak. Sejak awal, persiapan dan pemahaman
terhadap bahaya kecelakaan perlu ditekankan, disadari, dan dipatuhi oleh
semua yang akan terlibat dalam pekerjaan pembangunan penutup atap. Jatuh
dari ketinggian atau kejatuhan benda merupakan resiko kerja pembangunan
atap yang paling banyak terjadi. Usaha untuk mengurangi resiko kecelakaan
dari kemungkinan jatuh atau kejatuhan benda dilakukan dengan jalan
mengikuti aturan dan prosedur perlindungan diri secara benar. Helm kepala,
dan tali pengaman, merupakan kelengkapan minimal yang harus dikenakan
secara benar dalam pengerjaan atap.

Pekerjaan pemasangan atap boleh jadi akan melibatkan banyak orang atau
pekerja, sementara tempat yang ada relatif sempit atau terbatas. Penyiapan
tempat kerja untuk memasang konstruksi penutup atap menjadi hal yang
penting untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja. Banyak barang dan alat,
yang tidak terkait dengan pekerjaan pemasangan atap, perlu disingkirkan,
dijauhkan, atau diamankan dari jalan atau jalur untuk mengangkat kuda-kuda
dan balok, atau penempatannya sementara.

Pemasangan alat bantu kerja secara benar, kuat dan aman menjadi hal yang
perlu diperhatikan, karena besarnya beban kuda-kuda. Peralatan pembantu
seperti tangga BI atau skafolding diperlukan untuk memudahkan pekerja dan
sebagai tumpuan sementara kuda-kuda dan balok-balok kayu.

3. Pemasangan kuda-kuda
Sebelum konstruksi kuda-kuda mulai dipasang, perlu dipastikan
kesesuaiannya dengan gambar rancangan ataupun keadaan posisi calon
tumpuan kaki kuda-kuda di lapangan. Hal ini diperlukan supaya kesalahan
atau ketidak sesuaian dapat diketahui sebelum kuda-kuda, yang bebannya
sangat besar, diangkat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkatan dan


pemasangan kuda-kuda:
a. Ketersediaan alat angkut dan jumlah orang atau pekerja
b. Dimensi kuda-kuda dan
c. Keadaan tempat kerja.

Dari situasi di atas, ada tiga kemungkinan yang dapat dilakukan untuk
mengangkat atau memasang kuda-kuda:
a. Pemasangan dengan menggunakan alat angkut atau kran
Diperlukan penyiapan tiang penggantung katrol atau derek. Hal yang
pertama perlu diperhatikan adalah:

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 3 / 15


1) Daya angkut katrol (misalnya 3 ton atau 5 ton) harus disesuaikan
dengan beban kuda-kuda ( pada umumnya kurang dari 2 ton) yang
akan diangkat.
2) Keadaan tiang penyangga, baik bahan, kekuatan, ataupun
ketinggiannya, sangat perlu diperhatikan.
3) Penempatan kran secara benar: Selain kemudahan dalam mengangkat
atau menurunkan, juga perlu dipikirkan kemungkinan menggesernya ke
tempat pengerjaan kuda-kuda lainnya, setelah selesai pemasangan.
4) Penempatan tali ikat pengangkat pada bagian konstruksi kuda-kuda
pada ujung atas, yaitu pada tiga batang, dengan memperhatikan
kekuatan dan stabilitas kuda-kuda, supaya tidak mengalami kerusakan
saat diangkat.

Gambar 1. Urutan pemasangan kuda-kuda dengan kran

b. Menggunakan banyak pekerja tanpa kran


Tidak semua pelaksana pekerjaan memiliki alat angkut atau kran.
Sejumlah orang atau pekerja, minimal 8 orang, dapat menggantikan peran
kran untuk mengangkat kuda-kuda seberat kurang lebih 2 ton. Alat bantu
yang dibutuhkan: Tali tambang, tangga BI atau Skafolding ketinggian 1
meter dan 2 meter, tiang-tiang bambu pengarah atau penyangga
sementara berbentuk H (terdiri atas 2 bambu yang diikat atau di baut
longgar), dengan panjang kurang-lebih 3 meter.

Langkah pengerjaan:
1) Kuda-kuda disiapkan di bawah tempat yang akan didudukinya.
2) Dua orang berdiri diatas tanggga tinggi dengan tali yang diikatkan pada
salah satu ujung kaki kuda-kuda; dua orang pada tangga rendah, dua
orang mengangkat kaki kuda-kuda, satu orang mengontrol ujung kuda-
kuda dengan bambu H, dan satu orang lainnya membantu mendorong
dan mengontrol posisi kuda-kuda.
3) Satu kaki kuda-kuda diangkat secara bertahap dan diletakkan pada
tangga rendah, tangga tinggi, dan akhirnya pada tempat dudukannya.
4) Kaki kuda-kuda diikatkan sementara di atas dudukan.
5) Kaki kuda-kuda satunya mulai diangkat, ujung kuda-kuda harus selalu
dikontrol dalam posisi tetap horizontal dengan bambu H.
6) Setelah kedua kaki kuda-kuda terletak pada tumpuannya, ujung kepala
kuda-kuda mulai diberdirikan dengan bantuan Bambu H.
7) Posisi dan kedudukan kuda-kuda mulai distel dan diikat atau dipasang
pengaku.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 4 / 15


Gambar 2. Urutan pemasangan kuda-kuda manual

c. Merangkai kuda-kuda di atas tumpuan


Jika kuda-kuda berukuran besar, dengan bentang lebih besar dari 6
meter, jumlah tenaga kurang dari 8 orang dan tidak ada kran, tempat kerja
yang sempit, maka cara pengangkatan kuda-kuda tidak dapat dikerjakan.
Salah satu cara yang memungkinkan pengangkatannya adalah dengan
merangkai kuda-kuda di atas, di tempat dudukannya.

Kuda-kuda yang sudah dirangkai atau dikonstruksi dibongkar kembali dari


rankaiannya. Baut pengunci dilepas, batang-batang ditandai dan ditata
untuk disiapkan dirangkai kembali.

Urutan pekerjaan merangkai kembali kuda-kuda di atas tumpuan adalah,


sebagai berikut:
1) Balok tarik pertama dipasang pada tumpuan. Bentangan balok yang
panjang akan memungkinkan terjadinya lendutan, untuk itu diperlukan
tiang bantu untuk menyangga balok tarik, sehingga lendutan di tengah
batang terkurangi.
2) Batang tegak atau Ander dipasang, dengan bantuan tangga BI atau
Skafolding, sehingga batang tarik tidak banyak terbebani. Perkuatan
batang tegak hingga stabil, dan aman, sangat diperlukan.
3) Kaki kuda-kuda satu per-satu dipasang, dirakit, dan dikunci dengan
begel pengikatnya.

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pekerjaan dengan cara


perakitan di atas adalah banyaknya tiang-tiang bantu yang diperlukan
untuk penguat atau pengaku sementara.

Gambar 3. Urutan perakitan kuda-kuda diatas tumpuan

Secara teoritis, kedudukan kuda-kuda pada tumpuannya, baik yang


diangkat dengan atau tanpa kran, akan sesuai dengan posisi yang telah

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 5 / 15


dipersiapkan sebelumnya. Pada prakteknya posisi kuda-kuda harus
dikontrol ulang, dalam segala arah harus lurus dan tegak, ketinggian atau
kemiringannya satu dengan lainnya harus membentuk bidang datar.
Penguncian kuda-kuda dengan tumpuan dapat dilakukan dengan cara
baut/angkur dan cara ikat. Cara baut dilaksanakan dengan menyiapkan
lubang pada kaki kuda-kuda dengan menggunakan bor, yang selanjutnya
digunakan untuk memasukkan baut yang telah ditanam/diangkur dalam
kolom atau ringbalk.
Sedangkan cara ikat, dilaksanakan dengan cara mempersiapkan stek
tulangan memanjang kolom yang disisakan ±50 cm, ataupun stek tulangan
yang ditanam dalam ringbalk dengan panjang penyaluran yang mencukupi.
Selanjutnya komponen kuda-kuda ditakik dan stek tulangan
diikatkan/dipuntir di atasnya.

Gambar 4. Penguncian kuda-kuda pada tumpu

15.0 cm

a a

15.0 cm

angkur Ø 12mm
begel plat 8.0 cm
balok ring 15x20cm

15.0 cm

Gambar 5. Tumpuan kuda-kuda cara baut/angkur

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 6 / 15


Gambar 6. Tumpuan kuda-kuda cara ikat

Hal yang perlu diperhatikan adalah: ikatan pada kaki kuda-kuda berfungsi
untuk menjaga gaya geser, gaya tarik dari hisapan angin, dan lebih
penting lagi gaya dorong ke arah horizontal, akibat adanya gempa bumi.
Oleh karena itu, pada setiap kuda-kuda, harus diikat/diangkur dengan kuat
pada tumpuannya. Jika digunakan angkur, posisi angkur pada tumpuan
kuda-kuda dipasang selang-seling (zig-zag) antara satu kuda-kuda
dengan kuda-kuda lainnya. Misalnya: apabila kuda-kuda pertama
diangkurkan pada tumpuan sisi kiri, maka kuda-kuda kedua diangkur pada
tumpuan sisi kanan, dan kuda-kuda ketiga pada tumpuan sebelah kiri,
demikian seterusnya. Sedangkan apabila digunakan cara ikat, maka
kedua kaki harus diikatkan pada tumpuan.

Sebelum pemasangan gording dan nok di atas kuda-kuda, perlu


diperhatikan rancangan penyambungan dan peletakan sambungan
terhadap kuda-kudanya. Perlu diperhatikan bahwa posisi sambungan tidak
melebihi ¼ L (seperempat bentang) atau jarak antar tumpuan (antar kuda-
kuda). Diusahakan agar sambungan tidak ditempatkan tepat di atas
tumpuan atau kuda-kuda, karena lendutan balok akan menarik
sambungan di atas tumpuan bebas sehingga sambungan akan terbuka.

Pemasangan Gording diawali dari bagian bawah, kemudian ke Nok. Posisi


gording dan nok harus sejajar, lurus, dan memiliki sudut kemiringan atau
ketinggian yang sama, dari ujung balok satu ke ujung lain. Gording atau
balok diikat dengan paku atau angkur gording secara kuat, sehingga tidak
akan lepas jika diangkat angin ataupun gempa.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 7 / 15


Gording dibagian tengah kuda-kuda dipasang paling akhir. Ketinggiannya
mengikuti bidang datar yang dibentuk oleh balok bawah dan balok atas
atau Nok. Posisi kemiringan, ketinggian, kelurusan dan sejajar, harus
selalu dikontrol, sehingga permukaan atasnya berada dalam satu bidang
datar.

Gambar 7. Urutan pemasangan gording

Pemasangan usuk di atas gording harus selalu dikontrol, jarak antar usuk
satu dengan lain harus sejajar dan tegak lurus dengan balok atau gording
penyangganya. Penyambungan usuk dengan usuk dapat bersilangan atau
lurus. Hal yang perlu diperhatikan pada cara penyambungan lurus, selain
panjang tumpuannya, juga perkuatan ikatannya dengan 2 paku usuk. Perlu
diingat, sambungan di atas tumpuan bebas akan menarik batang usuk dan
dapat mengakibatkan terbukanya sambungan.

Harus diperhatikan bahwa pengerjaan konstruksi atap akan memakan


waktu yang cukup lama. Posisi kuda-kuda dan gording harus tetap stabil,
aman, tidak bergeser atau runtuh, saat ditinggal istirahat pekerja.
Perkuatan arah memanjang dan melintang penutup atap sangat diperlukan
dan ditekankan.

Perkuatan konstruksi penyangga atau penutup atap dapat dilakukan


dengan menambahkan ikatan antara kuda-kuda satu dengan lainnya. Ada
beberapa alternatif penambahan perkuatan arah memanjang, yang
penggunaannya sangat bergantung pada pertimbangan keindahan selain
kekuatannya. Berikut adalah beberapa contoh perkuatan arah memanjang:

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 8 / 15


1) pengikatan antara ander atau balok tengah kuda-kuda dengan balok
memanjang seperti nok atau gording. Ada tiga macam perkuatan:
perkuatan bagian kepala, perkuatan berbentuk v, dan perkuatan bagian
kaki.

p e rk u a ta n b a g ia n k e p a la

p e rk u a ta n b e n tu k V

p e rk u a ta n b a g ia n k a k i

Gambar 8. Perkuatan memanjang pada konstruksi penyangga atap

2) Perkuatan antar kuda-kuda dengan balok bersilangan atau dikenal


balok angin-angin. Perkuatan ini lebih ditujukan pada pengikatan antar
kuda-kuda. Kekakuan penutup atap mengikuti kekakuan kuda-kuda.
Untuk konstruksi atap yang dirancang menggunakan plafon horizontal
atau gantung, konstrusi balok angin-angin tidak terlihat.

papan reuter
balok nok

balok angin-angin
balok angin-angin

kuda-kuda

balok angin-angin balok angin-angin

gording

tumpuan kuda-kuda

Gambar 9. Perkuatan memanjang antar kuda-kuda

3) Perkuatan terhadap bahaya hembusan atau hisapan angin dan getaran


gempa. Perkuatan ini dilakukan dengan meletakan balok atau batang
angin-angin pada rangkaian usuk, bisa diletakkan di bawah atau di atas
usuk. Ikatan dibentangkan di atas rangkaian usuk-usuk arah diagonal,
dari ujung bawah ke tengah ujung atas, dan sebaliknya. Penggunaan
batang baja pipih 2mm x 40 mm memungkinkan untuk menahan
geseran angin dan tidak akan banyak mengganggu kedudukan reng.
Ikatan antara plat baja dengan usuk-usuk diperkuat dengan paku atau
angkur 5 mm.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 9 / 15


Papan kayu atau bidang plat, seperti tripleks atau papan anyaman,
dapat difungsikan sebagai penguat arah bidang memanjang, sebagai
perkuatan terhadap hempasan atau hisapan angin maupun getaran
gempa. Hal yang perlu diperhatikan ialah bidang yang digelar harus
mencakup setidaknya 3 usuk dan tidak membentuk sambungan yang
segaris, dan harus bersilangan atau membentuk garis zig-zag. Ikatan
paku pada bidang plat dengan usuk harus benar-benar kuat. Ada dua
hal yang diuntungkan dengan cara ini: selain perkuatan bidang atap
memanjang dan melintang, lembaran tersebut dapat berfungsi
mengurangi panas dan rembesan air dari luar.

Plat ikatan angin pada usuk

Papan kayu ikatan angin pada usuk

Papan kayu lapis ikatan angin pada usuk

Gambar 10. Perkuatan memanjang pada penutup atap

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 10 / 15


Dalam praktek pelaksanaan, diperlukan batang-batang penyangga pada
gording, supaya tidak terjadi lendutan atau perubahan bentuk
permukaan atap. Kekuatan dan posisi permukaan atap akan dapat tetap
rata atau sebidang, setelah semua batang dan bidang dipaku dan diikat
dengan kuat dan kencang.

4. Penutup atap
Penutup atap berfungsi melindungi bangunan dari hujan dan panas ataupun
tiupan angin. Macam penutup atap dapat dibedakan menurut bahan dan
jenisnya: Penutup atap dari tanah bakar yang dikenal dengan nama genteng
tanah, genteng beton, genteng dari serat dan semen, plat bergelombang dari
serat dan semen atau dari bahan seng.

Hal yang perlu diperhatikan ialah bahwa setiap macam bahan penutup atap
mempunyai persyaratan kemiringan atap yang berbeda-beda dalam
kemampuannya menahan terobosan air hujan. Prinsip kerja penutup atap
pada dasarnya adalah meneruskan air ke bawah secepatnya.
a. Genteng tanah bakar
Genteng tanah bakar sudah banyak dikenal dan dipergunakan sebagai
penutup atap. Genteng ini dibuat dari tanah liat yang dilembekkan, dicetak,
dikeringkan, dan dibakar. Jenis tanah liat, pengepresan dan
pembakarannya akan menentukan kualitas dan kemampuannya dalam
menahan rembesan air hujan. Genteng yang baik akan ditunjukkan oleh
warna yang merah matang, suara nyaring kalau dipukul, tidak mudah
patah atau pecah, dan tidak tembus air.

Ada beberapa bentuk genteng yang dikenali di perdagangan: Model


Genteng lengkung, Genteng Datar, Genteng Kodok, dan sebagainya.
Genteng model Kodok dapat dipergunakan sebagai penutup atap dengan
sudut kemiringan minimum 22o sedang Model Lengkung dan Datar
menuntut persyaratan kemiringan atap minimum 30o.

Gambar 11. Macam-macam bentuk genteng

Genteng tanah bakar pada umumnya mempunyai ukuran lebar 25 cm dan


panjang 42 cm. Rata-rata dalam satu meter persegi ada sekitar 22 buah.
Jarak antar reng (berkisar antara 23 sampai dengan 30 cm) ditentukan
oleh posisi hidung atau kait genteng dan tumpukan ujung gentengnya.
Model Genteng Kodok menuntut jarak reng yang tetap dan sama, atau
paralel untuk semua permukaan. Jarak reng, pada model genteng
lengkung dan datar, masih dapat diperpendek, sehingga tumpukannya
semakin rapat dan semakin kedap terhadap terobosan air hujan. Namun

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 11 / 15


demikian, jarak reng sebaiknya, untuk ke semua permukaan adalah sama.
Kontrol terhadap posisi reng: kelurusan, keparalelan dan kesamaan tinggi,
perlu mendapat perhatian, sehingga permukaan penutup atap akan terlihat
datar, tidak bergelombang.

b. Genteng beton
Bahan genteng beton terbuat dari campuran antara pasir dan semen.
Proses pembuatannya setelah dicetak dan dipres, dianginkan, dan
direndam dalam air dalam waktu sekitar 14 hari lalu dikeringkan. Genteng
beton yang baik bersifat kedap air, dan tidak mudah patah atau retak.
Genteng beton tidak banyak menawarkan model, dan pada umunya
berbentuk datar. Ukuran Genteng Beton sekitar 33 cm x 42 cm. Berat
bahan genteng beton (≥50kg/m2) lebih besar dibanding dengan genteng
tanah bakar (≥32kg/m2).

Genteng beton dirancang dengan sistem kuncian ke arah melintang


ataupun memanjang, sambungan rapat, dan lebih kedap terhadap
terobosan air hujan. Besar panjang tumpukannya sekitar 7 cm, jarak antar
reng sekitar 30 cm dan ukuran reng yang digunakan adalah 4/6 cm lebih
besar dibandingkan dengan reng (2/3 cm) pada genteng tanah bakar.
Sudut kemiringan untuk genteng beton minimum 22o.

Genteng Beton Bergelombang Genteng Beton Datar


Ukuran 33,3 x 42 cm Ukuran 33,3 x 42 cm

Gambar 12. Genteng beton

c. Lembar serat semen bergelombang


Lembaran Semen Serat Bergelombang dibuat dari bahan semen dan
serat, sudah banyak dikenal dan dipergunakan. Hal yang perlu menjadi
perhatian adalah bahwa lembaran semen dengan serat asbes tidak
menguntungkan untuk kesehatan. Oleh sebab itu, sebaiknya tidak
dipergunakan. Bahan serat bebas asbes dan semen jauh lebih aman bagi
kesehatan dan tidak merusak lingkungan.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 12 / 15


Ada dua model lembar gelombang yang dikenal, lembar gelombang kecil
dan lembar gelombang besar. Lembar gelombang kecil pada setiap
lembarnya memiliki 8 gelombang, sedangkan pada model gelombang
besar terdapat 5 gelombang.

Ukuran lebarnya berkisat antara 90 sampai dengan 100 cm, sedangkan


panjangnya 180 sampai dengan 300 cm. Panjang tumpukan arah
memanjang sekitar 10 sampai dengan 20 cm, sedangkan arah melebar
minimum 5 sampai dengan 9 cm. Jarak antar penyangga maksimum 110
cm.

177

51

lebar pakai 873

130

30

lebar pakai 920

Gambar 13. Penutup atap dan konstruksi serat semen bergelombang

d. Kerpus, bubungan
Di lapangan setidaknya dikenal dua jenis penutup Nok: Model Kerpus dan
Bubungan.

Model kerpus terbuat dari bahan tanah bakar atau beton. Sifat dan
karakter bahan tidak beda dengan model gentengnya. Kerpus dipasang
diatas Nok sebagai penutup sudut atas genteng. Bahan perekat yang
digunakan adalah semen dan pasir. Pada prinsipnya, kerpus berfungsi
sebagai pelindung akhir dari sudut lipatan penutup atap. Namun demikian,
harus diingat bahwa, kerpus yang berada di ujung atap bangunan akan

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 13 / 15


banyak menerima beban angin atau gempa, sehingga perlu lentur dan
kedap terhadap rembesan air.

Gambar 14. Bumbungan serat semen bergelombang

Gambar 15. Kerpus tanah bakar dan beton

Konstruksi Kerpus dipasang di atas Nok yang diberi papan reuter atau
yang dikenal sebagai papan sisir. Papan ini berfungsi membantu nok
menahan beban tekan dari perekat Kerpus dan gaya tekan dari samping
oleh angin. Posisi papan reuter perlu mendapat perhatian: letak titik
sambungan harus dekat dengan kuda-kuda atau tumpuan Noknya. Papan
reuter pada konstruksi kerpus akan menjadikan Kerpus lebih lentur, selain
dapat mengurangi volume perekat atau mengurangi berat bahan. Bila ada
goyangan angin atau gempa, papan reuter akan dapat meredam dan
menetralisir gaya horizontal, sehingga perekat tidak retak atau pecah dan
dapat diterobos air.

Bubungan, yang terbuat dari seng plat yang dibentuk menyudut dan
menaungi genteng yang bertemu diujung atas atap. Bubungan seng ini
diikatkan dengan balok Nok untuk menjaga pengaruh hempasan angin.
Konstruksi bubungan ini sangat ringan dan praktis, tidak membebani nok
ataupun konstruksi atapnya. Keuntungan lain adalah dengan penggunaan
bubungan seng ini, ujung atap bubungan tidak terlalu rapat udara,
sehingga dapat difungsikan sebagai area pertukaran udara panas keluar
ruangan.

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 14 / 15


e. Papan lisplang dan talang gantung

Papan lispalank, selain mempercantik penampilan atap, juga berfungsi


sebagai pelindung bangunan dari panas matahari atau air hujan. Papan
lisplank dipasangkan pada sekeliling tepian penutup atap.

Ada dua macam papan lisplank, yaitu: miring dan lisplank datar.
Perbedaan prinsipnya, pada listplank miring (20 sampai dengan 30
cm),ukuran papannya lebih lebar dibandingkan dengan papan lisplank
datar (10 sampai dengan 20 cm). Pada papan lisplank miring masih
membutuhkan penutup hujan. Selain untuk melindungi ruang dibawahnya
dari air hujan, juga diperlukan untuk melindungi papan listplanknya dari
pembusukan oleh jamur. Listpank, sebaiknya terbuat dari bahan kayu yang
tahan terhadap cuaca, misalnya Kayu Jati atau Kayu Bangkirai.

Gambar 16. Lisplank mendatar pada usuk

Talang gantung pada tritisan rumah dapat mengurangi percikan air hujan
dan mengontrol arah aliran dari atap bangunan. Karakter bangunan akan
diperkuat kehadirannya oleh talang gantung. Diameter talang gantung
sekitar 20 sampai dengan 25 cm, bentuk dan modelnya dapat disesuaikan.
Konstruksi talang gantung disatukan dengan usuk tritisan. Hal yang perlu
diperhatikan ialah bahwa posisi talang tidak menghalangi atau menutup
usuk dan konstruksi penutup atapnya, agar kelembaban yang dapat
mengakibatkan pembusukan, tidak tersimpan lama dalam penutup atap.

Gambar 17. Konstruksi talang gantung

MODUL III – TEKNIK BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA 15 / 15