Anda di halaman 1dari 18

Manajemen Nutrisi dan Penatalaksanan Obesitas

Devi Lexvia Sita Purba

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 1150

No. Telp (021) 5694-206

Pendahuluan
Semua manusia yang hidup pasti membutuhkan energi dalam beraktivitas, energi yang
dibutuhkan adalah terutama karbohidrat, protein, dan lemak serta komponen-komponen lain yang
berperan serta. Bila energi yang masuk tidak seimbang dengan yang dikeluarkan dalam tubuh,
maka energi tersebut terakumulasi dan akan menjadi suatu lemak yang menumpuk di tubuh, yang
biasa akan menumpuk pada abdomen pada laki-laki atau panggul pada wanita. Penumpukan lemak
ini disebut juga obesitas.1
Terdapat juga obesitas yang disertai peningkatan gula darah (resistensi insulin), tekanan
darah yang tinggi, LDL yang tinggi, HDL yang rendah dan trigliserida yang tinggi (dislipidemia),
yang disebut sebagai sindroma metabolik. Etiologi dari sindroma metabolik ini sendiri bermacam-
macam diantaranya adalah pola hidup yang tidak sehat dan juga dari genetik dari orang tua.
Sindroma metabolik atau juga disebut sindroma X ini juga bertanggung jawab atas peningkatan
kematian akibat penyakit-penyakit kardiovaskular, sehingga memerlukan intervensi modifikasi
gaya hidup yang ketat dan intensif. Modifikasi gaya hidup ini pun meliputi aktivitas fisik yang
teratur, pola makan yang sehat serta terjaga, dan juga terdapat obat-obatan yang dipakai pada
obesitas yang berat. 1
Anamnesis

Anamnesis sendiri merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien,
dimana riwayat pasien ini merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya. Dan
pada kasus ini, tindakan anamnesis yang dapat kita lakukan harus memperhatikan kondisi pasien
secara keseluruhan terlebih dahulu. Kita harus melihat kondisi pasien apakah sadar sepenuhnya,
atau kondisinya tidak sadarkan diri dan sebagainya. Kalau dalam kondisi yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan anamnesis, maka langsung dilakukan tindakan, untuk kemudian
proses anamnesisnya dapat dilakukan setelahnya, atau kepada orang lain yang dekat dengan
pasien. Hal-hal yang perlu ditanyakan diantaranya:

- Apakah pasien memiliki penyakit diabetes?


- Apakah pasien memiliki tekanan darah tinggi?
- Apakah sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu?
- Apakah pasien sedang mengkonsumsi obat hormon tiroid?
- Apakah ada kenaikan 20 kg sejak berusia 20 tahun?
- Apakah pasien olahraga teratur?
- Apakah sekarang sedang stress atau banyak tekanan?
- Apakah pasien menstruasi secara teratur?
- Apakah ada anggota keluarga yang obesitas?
Apakah ada riwayat keluarga dengan diabetes?
Dari pertanyaan diatas sudah bisa mengarahkan perkembangan obesitas dari pasien, apa
yang telah terjadi pada pasien, dan bagaimana keberhasilan dan kegagalan usaha mereka. Riwayat
keluarga penting untuk mengidentifikasi tipe dari obesitas dan kemungkinan ditemukannya
kelainan genetic yang langka. Untuk informasi kenaikan berat badan berguna untuk menetukan
resiko komplikasi kedepannya. 1,2

Pemeriksaan Fisik
Untuk pemeriksaan fisik, ada beberapa pemeriksaan yang penting dalam menetukan derajat
keparahan maupun menetukan resiko-resiko obesitas kedepannya.
1. Tanda-tanda vital
Para perawat dan dokter seharusnya dapat memeriksa tanda-tanda vital, dalam hal ini
diantaranya tinggi badan, berat badan, tekanan darah, denyut nadi, dan suhu.2
2. Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi; tinggi badan, berat badan, lingkar perut, lingkar
pinggang dan lingkar panggul.2
3. Menentukan Berat Badan Ideal
Salah satu parameter untuk mengetahui keseimbangan energi seseorang adalah
melalui penentuan berat badan ideal dan indeks massa tubuh. Rumus Brocca adalah
cara untuk mengetahui berat badan ideal, yaitu sebagai berikut:3
Usia < 40 tahun, BBI = tinggi badan (cm) – 100 – 10%
Usia ≥ 40 tahun, BBI = tinggi badan (cm) – 100
4. Indeks Massa Tubuh (IMT) / Body Mass Index (BMI)
IMT dihitung dengan pembagian berat badan (kg) oleh tinggi badan (m) pangkat
dua. Kini IMT banyak digunakan di rumah sakit untuk mengukur status gizi pasien
karena IMT dapat memperkirakan ukuran lemak tubuh yang sekalipun hanya estimasi
tetapi lebih akurat daripada pengukuran berat badan saja. Di samping itu, pengukuran
IMT lebih banyak dilakukan saat ini karena orang yang kelebihan berat badan atau
yang gemuk lebih berisiko untuk menderita penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke,
hipertensi, osteoarthritis dan beberapa bentuk penyakit kanker. Namun, The National
Institute of Diabetes and Digestive and kidney Diseases mengingkatkan bahwa orang
yang berotot dan bertulang besar dapat memiliki IMT yang tinggi tetapi tetap sehat.
Begitu pula orang berusia lanjut, orang dengan massa otot yang rendah dan pasien
malnutrisi bisa memiliki IMT yang normal tetapi tidak tepat. Berikut ini adalah rumus
untuk menghitung IMT. Penghitungan IMT dapat dicari melalui rumus berikut:4

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)


IMT=𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑚)2

Tabel 1: Klasifikasi berdasarkan IMT

Berat Badan IMT


Berat badan kurang < 18,5
Berat badan normal 18,5 – 22,9
Berat badan lebih ≥ 23
 Pre-obesitas 23 – 24,9
 Obesitas I 25 – 29,9
 Obesitas II ≥ 30
5. Rasio Pinggang : Panggul / Waist to Hip Ratio (WHR)
Rasio pi-pa diukur dengan mula-mula mengukur lingkar pinggang (perut) pada
lingkaran terkecil di atas panggul. Kemudian, lingkaran panggul diukur lewat tonjolan
gluteus yang paling maksimal. Hasil kedua pengukuran ini kemudian digambar pada
nomogram dan letakkan hasil pengukuran lingkaran pinggang pada skala di sebelah
kiri, sementara hasil pengukuran lingkaran panggul pada skala di sebelah kanan.
Hubungkan kedua hasil pada skala tersebut dengan garis lurus yang akan memotong
garis AGR/ WHR (abdominal-gluteal ratio atau waist to hip ratio) yang terletak di
antara kedua skala. Rasio pi-pa (WHR) yang sebesar 1,0 atau kurang bagi laki-laki dan
0,8 atau kurang bagi wanita merupakan nilai normal.3
Pengukuran lingkar perut (waist circumference) kini menjadi metode paling
populer kedua (sesudah IMT) untuk menentukan status gizi. Cara pengukuran
lingkaran perut ini dapat dapat membedakan obesitas menjadi jenis abdominal
(obesitas tipe android) dan perifer (obesitas tipe ginoid). Pasien dengan obesitas
abdominal yang merupakan faktor risiko untuk berbagai penyakit metabolik, vaskuler
dan degeneratif memiliki lingkaran perut yang lebih besar dari normal. Untuk diagnosis
obesitas abdominal, lingkaran perut bagi wanita Asia adalah ≥ 80 cm dan bagi pria Asia
adalah ≥ 90 cm.3

Tabel 2. Rasio Lingkar perut dan pinggul


Jenis kelamin Ukuran WHR Normal

Laki – laki < 0,85

Perempuan < 0,90

Pemeriksaan Penunjang

Berdasarkan kriteria sindrom metabolik, maka pemeriksaan laboratorium yang perlu


dilakukan antara lain:
1. Glukosa darah puasa (normal < 110 mg/ dl)
2. Mikroalbuminuria (rasio albumin / kreatinin)
3. Profil Lipid :
- Kolesterol total (normal <270 mg/ dl)
- Kolesterol HDL (normal > 45 mg/ dl)
- Kolesterol LDL (normal < 100 mg/ dl)
- Trigliserida (normal < 150 mg/ dl)
Pemeriksaan lain juga bisa dilakukan seperti pemeriksaan TSH, PSA, mamografi, USG
pada kandung empedu.5

Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik (sering juga disebut syndrome X atau insulin resistance syndrome)
merupakan istilah yang digunakan ketika seorang pengidap obesitas telah memiliki 3 dari 5 faktor
risiko. Kelima faktor risiko ini dapat dilihat pada Tabel 3 Kriteria sindrom metabolik.6

Meskipun banyak faktor diyakini terlibat, penyebab sindrom metabolik belum sepenuhnya
terkuak. Fakotr-faktor yang terbukti berpengaruh pada resistensi insulin ini, meliputi faktor
genetik, penggunaan karbohidrat dan gula secara berlebihan, penggunaan asam lemak jenuh yang
berlebihan, sementara asam lemak esensial terlalu sedikit, ketidakseimbangan antara kalsium dan
magnesium, penggunaan stimulant dan obat tertentu, serta stres.7

Bukti campur tangan komponen genetik diperoleh berdasarkan hasil kajian keluarga yang
menunjukkan bahwa komponen sindrom metabolik sangat memungkin dimiliki seorang pengidap
obesitas jika orang tuanya merupakan penyandang diabetes, hipertensi, atau keduanya.7

Karbohidrat adalah penyumbang kelimpahan insulin, teruatama akibat penggunaan refined


sugar secara berlebihan dalam jangka panjang. Kelimpahan asam lemak jenuh, khususnya
ketakselarasan perbandingan antara asam-asam lemak bebas (omega 3 dna omega 6),
mengakibatkan ketidaknormalan membrane sel yang pada akhirnya menghambat masuknya
molekul glukosa ke dalam sel.7

Magnesium adalah mineral yang banyak berperan dalam berbagai kegiatan metabolik,
seperti relaksasi otot dan saraf, pencernaan lemak, aktivitas normal kelenjar tiroid, penurunan
kadar kolesterol, dan lain-lain. Terkikisnya magnesium langsung memicu konstriksi pembuluh
darah, mengakibatkan peninggian tekanan darah serta perangsangan sistem saraf secara
berlebihan. Magnesium juga merupakan komponen penting dalam pembentukan insulin, di
samping insulin itu sendiri berperan aktif dalam proses ambilan (uptake) mineral ini ke dalam sel.
Resistensi insulin mengurangi penyerapan magnesium yang ikut memicu hiperaktivitas sel yang
pada gilirannya kelak akan menambah beban resistensi insulin. Kelebihan glukosa dalam darah
menyebabkan pertambahan ambilan kalsium ke dalam sel. Pertambahan ambilan kalsium yang
dibarengi pengurangan ambilan magnesium akan mengganggu keseimbangan kalsium-
magnesium. Dampak dari dominasi ion kalsium ialah perangsangan sel secara berlebihan oleh
kalsium, mengakibatkan hipersentivitas sel.7

Stimulan, seperti kopi, teh, minuman ringan, alkohol, dan rokok, mampu meningkatkan
kadar gula darah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Alkohol memang mengandung
gula sehingga konsumsi minuman ini akan cepat sekali meningkatkan kadar gula darah.
Kandungan gula dalam minuman ringan akan segera meningkatkan sekresi insulin. Kopi dan rokok
akan merangsang kelenjar adrenal untuk menyekresikan adrenalinyang selanjutnya tentu saja
meningkatkan tekanan darah.7

Selain itu masih ada obat lain yang mampu memperberat resistensi insulin. Preparat yang
dimaksud adalah NSAID (nonsteroid anti-inflamation drug), steroid, diuretik, dan β-blocker.
NSAID mengacaukan keseimbangan prostaglandin dalam tubuh sehingga mengganggu
permeabilitas sel. Steroid mengganggu keseimbangan hormon-hormon alami tubuh dan membuat
orang menjadi agresif, si samping menggiatkan sistem saraf simpatis. β-blocker meningkatkan
defisiensi magnesium yang telah ada karena obat ini akan meningkatkan ekskresi magnesium.
Sementara itu, diuretik memperparah keadaan karena perangainya, yaitu memicu ekskresi banyak
mineral, salah satunya ialah magnesium, ketidakseimbangan kalsium-magnesium merupakan
salah satu dampak yang selalu dicemaskan.

Respon tubuh terhadap stress juga berupa peningkatan tekanan darh dengan begitu cepat,
respons ini sesungguhnya mempunyai tujuan yang sangat alami, yaitu berupa fight atau flight. Jika
stres berlangsung kronis, tekanan darah yang telah tinggi itu pun akan terus bertahan tinggi selama
stres tersebut belum teratasi.7
Tabel 3. Kriteria sindrom metabolik

NCEP/ATP III WHO

Tiga dari kriteria berikut Disglisemia [DM tipe 2, gula darah puasa
terganggu, TGT (toleransi glukosa
ternganggu), atau resistensi insulin] + 2
kriteria berikut

Lingkar perut ≥ 80 cm (perempuan) dan ≥ BMI > 30 dan/ atau rasio pi-pa > 0,9 (laki-
90 cm (laki-laki) laki) dan > 0,85 (perempuan)

Trigliserida ≥ 150 mg/dL Trigliserida ≥ 150 mg/dL

HDL <40 mg/dL (laki-laki), <50 mg/dL HDL <35 mg/dL (laki-laki), <39 mg/dL
(perempuan) (perempuan)

Tekanan darah ≥ 130/85 mmHg Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg

Gula darah puasa ≥ 110 mg/dL Mikroalbuminuria (ekskresi albumin urin


>20 ug/menit) dan rasio albumin /kreantinin
≥30 mg/g

Meskipun obesitas bukanlah penyebab resistensi insulin (obesitas hanyalah salah satu
kontributor bagi resistensi insulin), penanganan sindrom metabolik diarahkan pada penurunan
berat badan. Beberapa zat suplementer (vitamin dan mineral) terbukti berkhasiat menekan insulin,
yaitu vitamin E, biotin, kalsium, kalium, kromium, magnesium, vanadium, dan seng. Di samping
itu, ada pula lemak tertentu yang dapat memperbaiki permeabilitas membran sel terhadap insulin
serta zat-zat gizi yang mengoptimalkan metabolisme glukoas, asam amino lain yang masih terkait
ialah glutathione dan L-arginin.8

Konsep penanganan sindrom metabolik adalah eliminasi faktor yang menyebabkan atau
melatarbelakangi sindrom ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian,
tahapan penanganan sindrom metabolik boleh diterjemahkan ke dalam lima tahap pereduksian
pengaruh resistensi insulin: (1) mengurangi asupan karbohidrat dan gula, (2) metabolic typing, (3)
mengembalikan keseimbangan asam lemak esensial, (4) mereduksi stress, dan (5) mulai
menggunakan suplemen.8

Pengurangan asupan gula berarti menyantap gula olahan (refined sugar), alkohol,
minuman ringan, stimulan, dan karbohidrat berindeks glikemis tinggi. Seluruh bahan berbasis
karbohidrat hendaknya diganti dengan sayur dan buah berindeks glikemik rendah. Diet yang
mengandung 50-60% kalori dari karbohidrat merupakan anjuran baku bagi diabetes tipe 2 dan
pengidap sindrom metabolik.8

Penyeimbangan asam lemak esensial terbukti meningkatkan asupan omega 3 secara


bermakna, sementara metabolic typing berguna untuk menakar kemampuan genetik diabetes
dalam memproses glukosa. Pemberian suplemen berguan untuk menggenapkan kekurangan
elemen kelumit utamanya, berperan dalam pemekaan insulin.8

Dosis suplementasi kalsium ditakar sebanyak 600 mg/hari, kromium dibatasi sekitar 400-
800 ug/hari, magnesium ditetapkan sebesar 200-400 mg/hari, vanadium hanya 5 mg/hari, dan seng
cukup 30 mg/hari. Sementara itu, suplementasi asam eikosapentanoat (eicosapentanoic acid, EPA)
dianjurkan sebanyak 3-6 g/hari dalam dosis terbagi, konjugat asam linoleat sebesar 2 g tiga kali
sehari yang diminum saat makan, asam lipoat 300-1200 mg/hari dalam dosis terbagi, koenzim Q10
100 mg/hari, L-karnitin dan taurin masing-masing 500 mg 2 kali sehari. Vanadil sulfat juga
merupakan elemen kelumit yang terkait dengan pengaturan gula darah.8

Kebutuhan Kalori/ Energi

Kebutuhan kalori total ditentukan oleh basal metabolisme rate (BMR), aktivitas fisik, dan
specific dynamic action (SDA)/ efek termis makanan. Sebelum menentukan jumlah kebutuhan
kalori total, maka harus ditentukan BMR terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa cara untuk
mengukur BMR, yaitu:9

1. Rumus Harris Benedict yang dikenal dengan rumus REE (Resting Energy Expenditure)

BMR (laki-laki) = 66,4 + [13,7 x BB] + [5 x TB] - [6,8 x Umur]

BMR (perempuan) = 655 + [9,6 x BB] + [1,8 x TB] - [4,7 x Umur]


2. Metode faktorial

BMR (laki-laki) = BBI (kg) x 1 kKal x 24 jam

BMR (perempuan) = BBI (kg) x 0,9 kKal x 24 jam

Langkah selanjutnya menentukan berat/ ringan jenis aktivitas yang dilakukan sehari-hari
oleh pasien. Berikut ini adalah penggolongan aktivitas:9

Aktivitas Jenis kelamin

Laki – laki Perempuan

Sangat ringan 1,30 1,30

Ringan 1,65 1,55

Sedang 1,76 1,70

Berat 2,10 2,00

Contoh aktivitas yang termasuk dalam golongan ringan adalah pegawai kantor, ahli hukum,
dokter, guru. Aktivitas sedang adalah pekerja industri ringan, mahasiswa, pekerjaan rumah tangga.
Aktivitas berat adalah buruh kasar, penari balet, olahragawan.

Karbohidrat10

Karbohidrat adalah sakarida yang tergabung dalam berbagai tingkat kompleksitas untuk
membentuk gula sederhana, serta unit yang lebih besar seperti oligosakarida dan polisakarida.
Fungsi utamanya adalah sebagai sumber energi dalam bentuk glukosa. Beberapa karbohidrat tidak
dapat dicerna (disebut non-glikemik) dan terdiri atas polisakarida nonpati yang merupakan bagian
dari serat makanan dan berperan dalam fungsi usus.

Jika energi yang dibutuhkan sangat tinggi, sedangkan intake ataupun cadangan karbohidrat
berkurang, maka mekanisme tubuh adalah mengubah sumber-sumber nonkarbohidrat seperti
lemak menjadi glukosa. Kebutuhan tubuh terhadap karbohidrat sekitar 55-65% total kalori/ hari.
Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori.

Lemak10

Lemak meliputi beraneka ragam zat yang larut dalam lipid, sebagian besar merupakan
trigliserida atau triasilgliserol (TAG). Produk turunannya, seperti fosfolipid dan sterol (yang paling
terkenal adalah kolesterol) juga termasuk dalam kelompok ini. TAG dipecah untuk menghasilkan
energi dan menyusun cadangan energi utama bagi tubuh dalam jaringan adiposa. Asam lemak
spesifik yang terdapat dalam TAG penting bagi struktur dan fungsi membrane sel, dan harus
diperoleh dari diet. Asam lemak ini disebut asam lemak esensial.

Fungsi lemak adalah sebagai sumber cadangan energi, komponen dari membrane sel,
insulator suhu tubuh, pelarut vitamin A, D, E, dan K. kebutuhan lemak oleh tubuh sekitar 20-30%
total kalori/ hari. Satu gram lemak menghasilkan 9 kalori.

Protein10

Protein terdiri atas berbagai rantai dari asam amino tunggal yang tergabung membentuk
beraneka ragam protein. Saat dicerna, masing-masing asam amino digunakan untuk sintesis asam
amino serta protein lainnya yang diperlukan oleh tubuh, dengan melibatkan cukup banyak daur
ulang dari komponen-komponen tersebut.

Ada delapan asam amino esensial (untuk anak, ada lebih dari delapan) yang harus diperoleh
dari diet. Selain itu, beberapa asam amino mungkin menjadi esensial karena keadaan
(conditionally essential) dalam kondisi stres fisiologis tertentu. Jika aasam amino tidak dibutuhkan
lebih lanjut, barulah asam amino tersebut dipecah dan digunakan sebagai energy dan bagian
nitrogennya terekskresi sebagai urea. Konsumsi protein oleh tubuh kita sekitar 15-20% total kalori/
hari. Satu gram protein menghasilkan 4 kalori.
Tabel 4. Komposisi zat gizi makro

Zat gizi Komposisi (%)

Karbohidrat 55-65

Protein 15-20

Lemak total 20-30

Asam lemak jenuh (saturated) 8-10

Asam lemak monosaturated ≤ 15

Asam lemak polysaturated ≤ 10

Kolesterol < 300 mg/hari

Serat 20-30 g

Penatalaksanaan Obesitas

Penanganan pasien obesitas diawali dengan penilaian derajat obesitas, distribusi berat
badan, penentuan faktor risiko, evaluasi kesiapan pasien, dan ketersediaan sumber/ peralatan untuk
menurunkan berat badan. Tujuan pengobatan penderita obesitas ialah mengembalikan fungsi
normal proses metabolik dan organ tubuh. Telah terbukti pula bahwa penurunan berat badan
terbukti berhasil menurunkan tekanan darah pengidap obesitas, memperbaiki profil lipid,
memperbaiki toleransi glukosa dan kadar gula darah puasa.11

Secara umum, pengobatan obesitas terbagi atas modifikasi gaya hidup, pemberian obat,
dan intervensi bedah. Perubahan gaya hidup mencakup perubahan komposisi pangan, modifikasi
kegiatan fisik, dan pengobatan perilaku. Perubahan gaya hidup jelas sangat bermanfaat. Inti
pengobatan perilaku adalah perbaikan kebiasaan makan. 11

Pengobatan gizi medis (PGM)

Edukasi gizi dan kebiasaan makan yang baik untuk pengendalian berat badan pasien
obesitas merupakan inti strategi penanganan. Intervensi ini dimaksudkan untuk menormalkan
kadar lemak, menstabilkan kadar gula darah, menurunkan tekanan darah, serta mengurangi atau
memelihara berat badan. Pengobatan gizi medis untuk pasien obesitas yang didasarkan pada
pengurangan asupan kalori, setidaknya terbagi ke dalam empat pilihan, yaitu11

1. Diet kalori sangat rendah (DKSR)


DKSR (400-800 kkal/hari) ditujukan bagi pasien dengan nilai BMI ≥ 30 tanpa
faktor komorbid dan atau faktor risiko lain atau pasien yang mempunyai BMI ≥ 27 dengan
faktor komorbid dan/ atau faktor risiko lain. Diet jenis ini diterapkan secara eksklusif
selama 12-16 minggu yang kemudian dilanjutkan dengan diet kalori rendah (800-1200
kkal) selama 24 minggu hingga 5 tahun.
2. Diet kalori rendah (DKR)
Diet ini (1000-1500 kkal/hari) dianjurkan pada pasien obes denga nilai BMI ≥ 27
tanpa faktor kormobid dan/ atau faktor risiko lain atau pasien yang mempunyai BMI ≥ 25
dengan faktor komorbid dan/ atau faktor risiko lain. Dalam kurun waktu 6-12 bulan.
3. Diet kalori sedang dengan kandungan lemak rendah/ diet rendah lemak (DRL)
Jumlah kalori yang dipatok untuk DRL berkisar antara 1200-2300 kkal/hari.
Kontribusi lemak antara 20-30%.
4. Diet perorangan
Jumlah asupan energi yang ditakar berdasarkan kebutuhan gizi yang khas untuk
setiap pasien obesitas. Dalam hal ini, jumlah asupan energi per hari tentunya diupayakan
jangan kurang dari 1200 kkal. Dari sini, disusun daftar menu yang bergizi, beragam, serta
berimbang (B3), untuk selanjutnya diterjemahkan ke dalam daftar bahan penukar.

Olahraga

Di awal pengobatan, pasien dimotivasi untuk menjalankan kegiatan fisik selama 30-45
menit sebanyak 3-5 hari seminggu. Bagi sebagian besar pasien obesitas, olahraga harus dimulai
perlahan-lahan denga penambahan intensitas secara bertahap. Pasien jangan dipaksa berolahraga,
melainkan sekadar dibujuk agar bersedia mengubah pola, sekaligus meragamkan, kegiatan fisik
(misalnya memarkir kendaraan beberapa ratus meter dari tempat tujuan, menggunakan tangga
ketimbang lift atau escalator dan menggunakan sapu konvensional ketimbang vacuum cleaner).
Seiring berjalannya waktu, terlebih jika pasien telat merasakan kenikmatan dan manfaat dari
berkurangnya berat badan, intensitas kegiatan dapat ditingkatkan.11
Upaya mempertahankan berat badan yang telah susut, setelah pasien menjalani PGM, tidak
akan berhasil tanpa disertai olehraga (atau sekadar melakukan kegiatan fisik). Sementara itu, untuk
memperoleh keberhasilan jangka panjang, gaya hidup harus pula diubah. Meskipun tengah
menjalani diet, nafsu makan pasien obesitas kadang kala tidak dapat dicegah. Jika memang
demikian, para pengidap obesitas hendaknya diajari cara “membakar” kalori makanan yang sudah
terlanjur mengonsumsi kue pie apel. Jika pasien menginginkan kalori yang terkandung dalam kue
itu tidak mengendap dalam tubuhnya, maka pasien harus berjalan kaki selama 77 menit atau
bersepeda 49 menit, atau berenang 36 menit, atau berlari 21 menit. Demikian pula jika seseorang
hendak menenggak, sebut saja segelas bir, dia harus memusnahkan kalori yang terkandung dalam
bir tersebut dengan berjalan kaki selama 22 menit.11

Farmakoterapi

Karena obesitas merupakan suatu kondisi kronis, penggunaan obat jelas akan berlangsung
lama. Sama seperti obat antihipertensi, penghentian mendadak dapat mengakibatkan efek putus-
obat (withdrawal effect), yaitu berat badan dapat tiba-tiba melonjak. Oleh karena itu, National
Institute of Helath menganjurkan agar penggunaan farmako terapi diarahkan pada pasien obesitas
yang gagal diobati melalui perubahan gaya hidup. Upaya farmako terapi juga ditempuh sebagai
pendamping modifikasi gaya hidup jika pasien memenuhi kriteria BMI ≥ 30 tanpa keadaan
kormobid atau BMI ≥ 27 dengan minimal satu keadaan komorbid dan/ atau faktor risiko lain.
Faktor risiko yang dimaksud ialah hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung koroner, diabetes
mellitus tipe 2, serta sleep apnea.11

Obat penurun berat badan yang kini disetujui oleh Food and Drugs Administration (FDA)
terbagi dalam dua kelompok, yaitu obat penurun asupan pangan dan obat yang berfungsi sebagai
pengurang serapan zat gizi.11

1. Obat nonadrenergik
Obat-obat nonadrenergik yang tersedia saat ini, antara lain fentermin, dietlipropion,
fendimetrazin, dan benzofetamin. Amfetamin tidak lagi dianjurkan karena cenderung
dislahgunakan, begitu pula dua obat terakhir (fendimetrazin, dan benzofetamin). Obat-obat
golongan ini dianjurkan dan disetujui FDA hanya untuk penggunaan jangka pendek,
beberapa minggu saja (kurang dari 12 minggu). Beberapa penelitian memang
membuktikan bahwa obat-obat ini aman digunakan hingga 6 minggu atau lebih (maksimal
3 bulan). Berat badan akan terkikis sebanyak 4,8 kg, jika digunakan dosis 10 mg, atau
sebanyak 6,1 kg dengan takaran dosis 15 mg.
Efek samping obat golongan ini berupa insomnia, mulit ,kering, sembelit/
konstipasi, euforia, sakit kepala, palpitasi, serta hipertensi. Kontraindikasi relatif
penggunaan obat golongan ini meliputi penyakit jantung koroner, aritmia, gagal jantung
kongestif, dan stroke.
2. Obat serotonergik

Obat serotonergik bekerja dengan cara meningkatkan pengeluaran serotonin dan


menghambat ambilan-kembali (re-uptake), atau keduanya. Dua obat, fenfluramin (Redux)
dan dexflenfuramin (Pondimin), yang merangsang pengeluaran serotonin sembari
menghambat ambilan-kembali, telah ditarik dari peredaran karena keterkaitannya dengan
kelainan katup jantung dan hipertensi pulmonal. Kedua obat ini, masih dalam penelitian
memepunyai kemanfaatan yang serupa dengan obat-obat nonadrenergik.

Obat-obat serotonergik kini diindikasikan pada keadaan yang tidak terkait dengan
obesitas, seperti depresi dan obsesi-kompulsi. Beberapa penghambat ambilan-kembali
serotonin, seperti fluoksetin (Prozac), hanya dapat menurunkan berat selama 6 bulan
dengan dosis 60 mg. meskipun obat tetap diberikan, berat badan ternyata kembali seperti
semula dalam enam bulan berikutnya. Hal ini juga ditemukan pada penggunaan sertralin
(Zoloft), yang terbukti tidak memiliki kemanfaatan jangka panjang.

3. Obat campuran nonadrenergik-serotonergik

Sibutramin (Merida) salah satu penghambat ambilan-kembali norepinefrin dan


serotonin, juga telah disetujui FDA sebagai obat penurun dan pemelihara berat badan.
Namun, penggunaannya harus dipadukan dengan diet rendah kalori. Preparat ini
diindikasikan bagi pengidap dengan BMI ≥ 30 tanpa faktor komorbid atau dapat juga
diberikan pada mereka dengan BMI ≥ 27 dengan faktor risiko lain, semisal diabetes
mellitus tipe 2 atau hiperkolesterolemia. Penggunaan obat ini tidak dianjurkan pada anak/
remaja di bawah 18 tahun dan lansi di atas 65 tahun.
Efek samping sibutramin berupa peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi,
mulut kering, sakit kepala, insomnia, dan sembelit. Selain berat badan berkurang, faktor
risiko lain pun dapat diperbaiki. FDA tidak menganjurkan penggunaan preparat
sibutramine pada pasien dengan hipertensi tak-terkendali, penyakit jantung koroner, gagal
jantung kongestif, aritmia jantung, dan penyakit serebrovaskuler, hipertiroidisme,
hipertrofi prostat, feokromositoma, glaukoma sudut tertutup, wanita hamil dan menyusui,
mereka yang memiliki riwayat sebagai pecandu alkohol atau penyalahgunaan obat,
gangguan jiwa, serta stroke. Oleh sebab itu, pemantauan yang ketat harus diterapkan
selama pemberian obat.

Besaran dosis dipatok pada kisaran 10-15 mg/hari. Pemberian awal cukup 10 mg
sehari, yang ditingkatkan menjadi 15 mg jika penyusutan berat badan kurang dari 2 kg
setelah 4 minggu pemakaian. Apabila penurunan berat badan dengan dosis maksimal ini
tidak sampai 2 kg selama 4 minggu, obat tidak boleh digunakan lagi. Lama penggunaan
tidak boleh lebih dari 1 tahun. Obat harus dihentikan jika pengurangan berat setelah 3 bulan
kirang dari 5% berat badan awal. Pengobatan boleh diperpanjang hingga lebih dari 6 bulan
jika susutan berat badan lebih dari 10%. Berat badan pengidap obesitas yang diberi obat
ini selama 6 bulan dipadukan dengan diet rendah kalori terbukti berkurang sebanyak 5-8%.

4. Obat pengurang serapan zat gizi

Obat pengurang serapan zat gizi yang disetujui FDA hanyalah orlistat (Xenical)
yang merupakan penghambat lipase pankreas dan hati. Obat ini bekerja dengan jalan
berikatan dengan enzim lipase pada lumen saluran cerna guna mencegah hidrolisis lemak
dari makanan menjadi asam lemak bebas yang dapat diserap. Pasien yang mengonsumsi
orlistat sebanyak 120 mg akan mengeluarkan sekitar sepertiga (30%) lemak yang tersantap
sekitar 1 jam setelah makan.

Preparat ini diindikasikan bagi pendidap obesitas yang memiliki BMI ≥ 30 atau
BMI ≥ 28 dengan faktor risiko lain. Dosis mulai dari 120 mg, yang dianjurkan ditelan
sebelum, sewaktu, atau paling lama 1 jam setelah makan. Dosis boleh ditingkatkan hingga
360 mg sehari dengan penggunaan maksimal 2 tahun. Jika makanan tidak mengandung
lemak, preparat ini sebaiknya tidak dikonsumsi. Perlu diingat bahwa penggunaan preparat
ini tidak dianjurkan pada anak-anak berusia kurang dari 2 tahun, bahkan
dikontraindikasikan bagi wanita hamil dan menyusui, penyandang sindrom malabsorpsi,
serta pengidap kolestatis.

Efek samping orlistat berupa tinja cair berlemak, defekasi, flatus, nyeri perut dan
rectum, sakit kepala, ketidakteraturan haid, kecemasan, kelelahan ekstrem, dan hepatitis
(jarang sekali). Penggunaan orlistat bersamaan dengan pereduksian asupan lemak yang
akan mengakibatkan defisiensi vitamin larut-lemak. Oleh sebab itu, suplementasi vitamin
ADEK perlu dilakukan.

5. Suplemen/ preparat herbal

Konjugat asam linoleat (conjugated linoleic acid, CLA) berkhasiat mereduksi


timbunan lemak pada tikus percobaan yang obesitas melalui peningkatan oksidasi dan
penurunan ambilan trigliserida dalam jaringan lemak. Sayangnya hasil penelitian ini tidak
dapat diekstrapolasi ke manusia karena tidak ada data penelitian yang mendukung
keberhasilan CLA dlaam penurunan berat badan.

Penelitian Dullo et al membuktikan bahwa teh hijau mampu meningkatkan oksidasi


lemak dan termogenesis, tetapi tidak ada laporan tentang kemanfaatannya dalam
pengikisan berat badan. Meskipun tidak dapat mengurangi nilai BMI, licorice dapat
mengurangi lemak, preparat herbal ini terbukti pula membuahkan efek samping berupa
pseudo-aldosteronisme, hipertensi, dan hipokalemia.

Chitosan diolah dari chitin yang terkandung pada kulit Crustacea (salah satu kelas
Arthropoda) merupakan polimer bermuatan listrik positif yang dianggap mampu mencegah
penyerapan lemak karena sel-sel lemak dalam saluran cerna bermuatan listrik negatif.
Pengaruh penurunan berat badan ini tidak bermakna ketimbang efek yang ditimbulkan oleh
plasebo. Peneliti lain bahkan tidak dapat membuktikan perbedaan tersebut dan cenderung
melaporkan hasil penelitian yang berseberangan. Preparat ini sebaiknya tidak dimakan
bersamaan dengan vitamin yang larut dalam lemak.

Dua jenis preparat herbal, dandelion dan cascara, terbukti mampu menyusutkan
berat badan dengan cara mengeluarkan cairan tubuh. Dandelion berkhasiat diuretik,
sementara cascara bertindak sebagai pencahar. Keduanya menyebabkan efek samping
berupa dehidrasi dan ketidaknormalan elektrolit.

Suplemen atau preparat herbal yang boleh direkomendasikan sebagai obat


seharusnya memenuhi tiga kriteria, yaitu quality (mutu), safety (keamanan), dan efficacy
(kemanfaatan). Jika ketiga criteria ini terpenuhi, sebuah suplemen boleh dikonsumsi
dengan melakukan pengawasan terhadap penggunanya (pasien). Jika tidak, suplemen
tersebut jangan digunakan.

Pembedahan

Tujuan pembedahan pada pasien obesitas ialah menginduksi pengurangan berat badan dan
mempertahankannya, melalui tindakan operasi secara aman, serta memperbaiki atau melenyapkan
berbagai kondisi komorbid. Dengan begitu, mutu kehidupan dapat ditingkatkan dan usia pasien
dapat diperpanjang.7

Tindakan bedah baru boleh dipertimbangkan jika BMI pasien ≥ 40 atau BMI ≥ 35 dengan
faktor komorbid dan/ atau faktor risiko lain. Intervensi bedah terbatas untuk pasien berusia antara
18 hingga 50 tahun. Keberhasilan tindakan operasi dalam memangkas berat badan, yang dinilai
pada tahun kelima, jauh melampaui (90%) kesuksesan pengobatan dengan obat (21%). Meski
demikian, tindakan bedah pada obesitas morbid sesungguhnya bukan pilihan utama, melainkan
sebagai pendamping bagi terapi diet. Pada prinsipnya, terapi bedah didasarkan pada dua hal, yaitu
rancangan malabsropsi pada usus halus dan restriksi pada lambung. Rancangan malabsorpsi pada
usus halus bertujuan memendekkan usus halus atau mengurangi kemampuan mukosanya dalam
menyerap zat gizi. Operasi restriktif pada lambung merupakan upaya manipulatif melalui
pembuatan kantong dan saluran keluar baru (neogastric pouch), dengan begitu diharapkan asupan
makanan akan berkurang.7

Kesimpulan
Obesitas merupakan suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi
sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan
hidup dan meningkatkan masalah kesehatan. Status gizi seseorang diklasifikasikan berdasarkan
hasil perhitungan indeks massa tubuh (IMT) dan rasio lingkar pinggang : panggul/ waist to hip
ratio (WHR). Untuk mengetahui dan mengatur jumlah kalori dari asupan makanan seseorang,
dapat dihitung kebutuhan kalori/ energi per harinya. Penatalaksanaan pasien obesitas dengan cara
diet, olahraga, dan pengubahan perilaku. Namun, apabila belum berhasil, dapat dilakukan tindakan
farmako terapi dengan pemberian obat anti-obesitas dan juga terapi pembedahan. Obesitas dapat
mengakibatkan komplikasi yang disebut degan sindrom metabolik, yaitu kumpulan gangguan
medis yang meningkatkan risiko terkena penyakit metabolik.

Daftar Pustaka

1. Gleadle J. At A Glance: Anamesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;


2007.h.32-3.

2. Sastroamidjojo S, Lestiani L, sukmaniah S, Sayogo S, Titus J, Lukito W, et al. Pegangan


penatalaksanaan nutrisi pasien. Jakarta: Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia; 2000.

3. Piliang S, Bahri C. Hiperkortisolisme. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V FKUI. 2009.h .1922 -2068.

4. Hartono A. Terapi gizi dan diet rumah sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC;2006.h.93-7,107-8,173-5.

5. Asmadi. Teknik prosedural konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba
Medika; 2008.h.68-70,83-5.

6. Bonow RO, Eckel RH. 2003. Diet, Obesity, and Cardiovascular Risk, N Engl J Med 348;
21:2057-58

7. Escott-stump S. Nutrition and diagnosis-related care. North Carolina: Lippincott Williams &
Wilkins. Fifth edition; 2000.p.436-9

8. Villareal DT, Apovian CM, Kushner RF, Klein S. Obesity in older adults: technical review
and position statementof the American society for nutrition and NAASO, the obesity society.
Am J Clin Nutr 2005;82:923–34.

9. Barasi ME. At a glance ilmu gizi. Jakarta: Erlangga; 2007.h.26,106-10.

10. Davet P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2004.h.54-5.

11. Vetter ML, Faulconbridge LF, Webb VL, Wadden TA. Behavioral and pharmacologic
therapies for obesity. Nat Rev Endocrinol.2010 October; 6(10): 578-588.