Anda di halaman 1dari 25

PTK BAHASA INDONESIA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN


MODEL PEMBELAJARAN MENULIS IMAJINATIF BERBASIS PENGALAMAN
PRIBADI PADA PESERTA DIDIK KELAS IX SMP NEGERI 18 SEMARANG
SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2013/2014
PROPOSAL PTK
Oleh
Nama : Herman Aji Prasetiyo
NIM : 2101012016
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

PENDIDIKAN PROFESI GURU


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
A. JUDUL
“PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN
MODEL PEMBELAJARAN MENULIS IMAJINATIF BERBASIS PENGALAMAN
PRIBADI PADA PESERTA DIDIK KELAS IX SMP NEGERI 18 SEMARANG
SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2013/2014”
B. LATAR BELAKANG
Kompetensi dalam pembelajaran bahasa Indonesia salah satunya adalah kompetensi
bersastra. Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disebutkan bahwa tujuan
akhir dari pembelajaran sastra adalah menanamkan sikap moral, menumbuhkan kreativitas,
dan meningkatkan nilai-nilai estetis dalam segi kehidupan. Salah satu keterampilan dalam
berbahasa maupun bersastra adalah menulis. Menulis merupakan salah satu dari empat
keterampilan berbahasa samping menyimak, berbicara, dan membaca. Di sekolah menengah
pertama menulis diajarkan lebih dahulu sebelum guru mengajarkan keterampilan yang lain.
Bahkan para guru berusaha sekuat tenaga agar peserta didik pandai dan pintar dalam
kemampuan menulis, yang sekaligus mampu mengusai isi dan tema-tema dalam tulisan.
Karya sastra prosa fiksi baru dibagi menjadi dua, yaitu cerpen dan novel. Cerita pendek
atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Cerita pendek mengisahkan
sepenggal kehidupan manusia yang penuh pertikaian mengahrukan atau menyenangkan, dan
mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Laksana 2009: 61).
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di SMP Negeri 18 Semarang kelas IX,
sebagian besar peserta didik bercerita bahwa hanya menulis ketika peserta didik mendapat
tugas dari guru. Sebaliknya, kurang dari satu pertiga peserta didik itu bercerita mereka hanya
menulis buku harian, itupun tidak semua dari peserta didik menulis secara rutin setiap hari
dengan alasan waktu yang peserta didik miliki terbatas untuk mengerjakan tugas-tugas mata
pelajaran lain. Ataupun bila ada waktu luang, mereka lebih untukrefreshing, entah itu
bermain, menonton tv, atau pergi bersama teman atau keluarga.
Dari fenomena di atas dapat disimpulkan tidak setiap peserta didik menyukai sastra,
lebih-lebih menulis sastra dalam bentuk cerpen. Banyak peserta didik beranggapan bahwa
menulis atau berkarya dibidang sastra adalah bakat. Kenyataan inilah yang menjadi motivasi
kami untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas, sehingga anggapan peserta didik pada
umumnya ini sedikit demi sedikit dapat ditepis. Selain itu adalah sudah kewajiban guru untuk
mengupayakan jalan keluar agar peserta didik mencintai sastra, lebih jauhnya lagi menguasai.
Dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen ini, peran model pembelajaran
pemebelajaran juga sangat dibutuhkan. Dengan adanya media pembelajaran yang tepat
diharapkan dapat meningkatkan minat peserta didik sejak awal pembelajaran dan dapat
mempermudah siswa dalam menulis cerpen yang pada akhirnya diharapkan dapat
meningkatkan ketereampilan menulis cerpen.
Media pembelajaran pendidikan bertujuan agar pesan atau informasi yang
dikomunikasikan tersebut dapat diserap semaksimal mungkin oleh para peserta didik sebagai
penerima informasi. Informasi yang dikomunikasikan melalui lambang verbal saja
kemungkinan terserapnya amat kecil, sebab informasi yang demikian itu merupakan
informasi yang sangat abstrak sehingga sangat sulit dipahami dan diresapi (Soeparno 1988:5).
Pembelajaran menulis cerpen dalam penelitian ini menggunakan model pembelajaran
menulis imajinatif. Model ini merupakan cara yang diajarkan untuk menguasai kompetensi
menulis atau mengarang secara bebas sesuai imajinasinya sendiri-sendiri. Di sini perserta
didik diberi kebebasan untuk menuangkan segala ide atau gagasan, pendapat atau opini,
imajinasi atau daya khayal, dsb ke dalam bentuk tulisan atau karangan.
Penggunaan model pembelajaran menulis imajinatif ini bertujuan untuk peserta didik
menulis bebas sesuai dengan imajinasinya sesuai dengan peristiwa yang pernah dialaminya
sehingga menjadi sebuah karya sastra yang kompleks.
Seperti dijelaskan di atas bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia diantaranya
materi yang harus dikuasai untuk menumbuhkan pemahaman keanekagaraman budaya
Indonesia melalui khasanah kesastraan Indonesia adalah pembelajaran mengarang. Salah
satunya tertera pada Kompetensi Dasar. Menulis kembali cerita pendek bertolak dari
peristiwa yang pernah dialami (8.2).
C. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di SMP Negeri 18 Semarang, kemampuan
menulis cerpen, khususnya peserta didik kelas IX masih rendah. Permasalahan ini
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Secara internal, rendahnya kemampuan menulis cerpen pada peserta didik berpusat pada
anggapan pribadi peserta didik .sebelum menulis, mereka sudah beranggapan menulis cerpen
itu membosankan. Akibatnya mereka malas dan kurang berminat untuk mencoba menulis
cerpen.
Faktor eksternal juga ada dua faktor dalam permasalahan menulis cerpen. Faktor yang
pertama mengarah pada waktu. Menulis cerpen sebenarnya mudah asal ada kemampuan kuat
dan latihan rutin, namun kebanyakan peserta didik enggan menulis karena alasan waktu
Faktor eksternal kedua mengarah pada pola mengajar guru. Selama ini guru masih
terpengaruh pola pembelajaran lama yang hanya menerapkan metode ceramah. Model
pembelajaran yang digunakan terkesan monoton dan kurang variatif. Hal ini tentu
mempengruhi minat dan motivasi peserta didik dalam mengikuti pelajaran, khususnya
menulis. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya pembaharuan model
pembelajaran.
D. BATASAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah yang muncul sangatlah luas sehingga
perlu dibatasi. Peneliti memilih kelas IX sebagai subjek penelitian karena memang peserta
didik di kelas tersebut dalam pembelajaran menulis cerpen kurang mendapat imajinasi dan
kurang waktu. Agar peserta didik dapat mengembangkan kreativitasnya, guru dituntut
menggunakan model yang tepat, yakni model pembelajaran menulis imajinatif. Model ini
dapat membantu menumbuhkan daya imajinasi peserta didik dalam menulis cerpen. Untuk
itu, peneliti membatasi pokok permasalahan pada peningkatan keterampilan menulis cerpen
berdasarkan peristiwa yang pernah dialami dengan model pembelajaran menulis imajinatif
peserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang dengan tujuan mempermudah peserta didik
dalam mengembangkan kemampuan menulis.
E. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, masalah dalam penelitian ini
adalah:
1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi pada
peserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang setelah dilakukan pembelajaran dengan
model pembelajaran menulis imajinatif?
2. Bagaiamanakah perubahan perilaku perserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang dalam
menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi dengan model pembelajaran menulis
imajinatif?
F. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini
adalah:
1. Menentukan besaran peningkatan kemampuan menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi
peserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang setelah dilakukan pembelajaran menulis
cerpen berdasarkan pengalaman pribadi dengan menggunakan model pembelajaran menulis
imajinatif.
2. Memaparkan perubahan perilaku peserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang dalam
mengikuti pembelajaran menulis menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi dengan
menggunakan model pembelajaran menulis imajinatif.
G. MANFAAT PENELITIAN
Dalam penyusunan PTK ini, penulis berharap hasil penelitian ini akan mempunyai
manfaat teoritis dan praktis sebagai berikut :
1. Manfaat teoretis
Penelitian ini mempunyai manfaat teoretis terhadap pengembangan kemampuan menulis.
Hal ini berkaitan dengan sumbangsih terhadap teori pengembangan menulis cerpen. Selain
itu, sebagai bahan memperkaya khasanah penelitian, khususnya penelitian dibidang
pendidikan. Menulis memiliki banyak makna dan manfaat. Ide dan pemikiran seseorang akan
lebih awet, menyebar luas, dan dapat dipelajarai lagi jika dituangkan ke dalam bentuk tulisan
( Lasa HS 2006 : 63).
2. Manfaat praktis
Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi guru, perserta didik dan peneliti lain. Bagi
guru diharapkan penelitian ini dapat memperkaya khasanah model dalam menulis cerpen,
dapat memperbaiki model pembelajaran yang selama ini digunakan, dan dapat menciptakan
susasana belajar yang menarik dan tidak membosankan. Bagi siswa penelitian ini diharapkan
dapat meningkatkan pemahaman dalam menulis karangan, dapat meningkatkan kemampuan
menulis cerpen, dapat meningkatkan kreatifitas dalam berpikir dan dapat memanfaatkan
model pembelajaran menulis imajinatif sebagai model berpikir dalam berbagai hal, baik
sebagai model dalam belajar maupun di luar belajar.
H. KAJIAN PUSTAKA
Upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen pada peserta didik. Hal ini
terbukti dengan banyaknya penelitian yang dilakukan oleh para pakar sastra maupun
mahasiswa. Setiap penilitian pasti menyisakan masalah baru. Oleh karena itu, penelitian
tersebut memerlukan penelitian lanjutan demi melengkapi dan menyempurnakan penelitian
sebelumnya.
Berikut adalah penelitian-penelitian yang berkaitan dengan keterampilan menulis, antara
lain Davis (2003), Laksmi (2007), Septiani (2007) Miftachul (2008), Erkaya (2009). Karya-
karya tersebut sekripsi, dan jurnal internasional, untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan
tentang karya-karya tersebut.
Davis (2003) dalam penelitiannya yang berjudul ”Actities for the ESL Classroom
Incorporating Reality-based TV” menunjukan bahwa dengan menggunakan media acara
televisi ke dalam kelas dapat mengajarkan berbagai keterampilan bahasa termasuk berbicara
dan mendengarkan, membaca dan menulis, serta pengambilan keputusan kelompok,
pemahaman budaya dan penalaran. Alasan Davis memilih media acara televisi adalah peserta
didik terlalu seringmendapatkan bahan ajar dari buku. Dengan menggunakan media acara
televisi, peserta didik akan merasa lebih nyaman saaat pembelajaran.
Penelitian yang dilakukan oleh Davis mempunyai persamaan dan perbedaan dengan
penelitian peneliti. Persamaannya terletak pada media yang digunakan, yaitu tentang
imajinasi yang dilihatkan dengan menonton televisi. Perbedaanya peneliti menggunakan
model pembelajaran menulis imajinatif untuk pembelajaran menulis cerpen, sedangkan Davis
tidak.
Laksmi (2007) dalam penelitian yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis
Cerita Pendek Berdasarkan Cerita Rakyat Pada Siswa Kelas X-8 SMA Isalam Sultan Agung
1 Semarang”menunjukan adanya peningkatan dari sklus I dan siklus II. Diketahui
peningkatan nilai menulis cerita pendek berdasarkan cerita rakyat, yaitu skor rata-rata kelas
adalah 69 pada siklus I, dan meningkat menjadi 72 pada siklus II. Peningkatan skor tersebut
berada pada kategori baik.
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh
Laksmi terletak pada masalah yang dikaji. Masalah yang dikaji adalah keterampilan menulis
cerita pendek. Perbedaanya terletak pada media serta teknik yang digunakan. Penelitian yang
dilakukan peneliti menggunakan model pembelajaran menulis imajinatif berbasis pengalaman
pribadi sedangkan penelitian yang dilakukan Laksmi menggunakan media cerita rakyat.
Septiani (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menul;is
Cerpen Melalui Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita dengan Media Visual
pada siswa X.4 SMA N 2 Tegal”, menyimpulkan bahwa melalui teknik pengandaian diri
sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual keterampilan menulis cerpen peserta
didik kelas X 4 SMA N 2 Tegal mengalami peningkatan sebesar 11,63 atau 18,30%. Hasil
rata-rata menulis cerpen pratindakan sebesar 63,65 dan pada siklus I rata-rata menjadi 70,31
atau meningkat sebesar 10,26% dari rata-rata pratindakan, kemudian pada siklus II diperoleh
rata-rata 75,19 atau meningkat sebesar 6,94 dari siklus I. Pemerolehan ini menunjukan bahwa
pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita
dengan media audio visual pada peserta didik kelas X 4 SMA N 2 Tegal dapat meningkat dan
berhasil. Begitu juga dengan prilaku peserta didik mengalami perubahan ke arah positif.
Persamaan penilitian yang dilakukan Septiani dengan penelitian adalah sama-sama
meneliti tentang peningkatan keterampilan menulis cerpen pada peserta didik. Perbedaan
penilitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah Septiani menggunakan
teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual sedangkan
peneliti menggunakan model pembelajaran menulis imajinatif.
Miftachul (2008) dalam penelitian skripsi yang berjudul “Peningkatan Keterampialan
Menulis Cerpen dengan Metode Sugesti Imajinasi Melalui Media Lagu Siswa Kelas IX-B
SMP N 1 Winong Pati”. Penelitiannya mengkaji tentang metode sugesti imajinasi dengan
media lagu yang berguna untuk meningkatkan keterampilan peserta didik dalam menulis
cerita pendek. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Miftachul menunjukan bahwa, penelitian
menulis cerpen dengan metode sugesti dan imajinasi melaui media lagu memahami
peningkatan dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan. Siswa dari 66,35 pada
siklus I menjadi 78,57 diikuti adanya perubahan perilaku belajar yang negatif berubah
menjadi positif.
Erkaya (2009) melakukan penelitian dengan judul Benefits of Using Hort Stories in the
EFL Context mengungkapkan bahwa pembelajaran menulis cerpen merupakan pembelajaran
yang sangat efektif karena menanamkan motivasi dalam cerita-cerita yang ditulis. Selain itu
dalam pembelajaran menulis cerpen guru dapat mengajarkan tentang sastra maupun budaya.
Namun, sebelum guru memulai pembelajaran menulis cerpen di kelas, guru harus memahami
manfaat dari pembelajaran itu dan memahami kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran.
Keterkaitan penelitian Erkaya dengan penelitian peneliti adalah sama-sama meneliti
menulis cerpen di kelas. Menurut Erkaya, guru dapat mengajarkan tentang sastra maupun
budaya melalui pembelajarn menulis. Sedangkan menurut peneliti, menulis cerpen dapat
meningkatkan kreativitas dan imajinasi peserta didik. Intinya pembelajaran menulis cerpen
baik diajarkan untuk peserta didik.
Penelitian juga dilakuakan oleh Azizah (2007) dengan judul Peningkatan Keterampilan
Menulis cerpen melalui Metode Latihan Terbilang dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7
SMA Negeri 1 Pemalang. Setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen terdapat
peningkatan sebesar 20,44% melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.
Keterkaitan penelitian Azizah dengan penelitian peneliti adalah sama-sama meneliti
menulis cerpen di kelas. Menurut Azizah, guru dapat mengajarkan tentang menulis
pengalaman sesorang untuk dijadikan sebuah cerita pendek dengan media teks lagu dan
peserta didik bisa berimajinasi. Sedangkan menurut peneliti, menulis cerpen dapat
meningkatkan kreativitas dan imajinasi peserta didik. Intinya pembelajaran menulis cerpen
baik diajarkan untuk peserta didik.
I. LANDASAN TEORETIS
Keterampialan menulis meruapakan salah satu keterampilan berbahasa yang menjadi
tujuan setiap pengajaran bahasa di sekolah. Keterampilan menulis itu hak semua orang dan
dapat dipelajari. Menulis merupakan proses perkembangan. Jika seseorang ingin terampil
menulis harus banyak melatih. Pada subbab inj dipaparkan pendapat para ahli mengenai
keterampilan menulis cerepen, pengalaman diri sendiri, model pembelajaran menulis
imajinatif, dan menulis cerita pendek berdasarkan kehidupan diri sendiri dengan model
pembelajaran menulis imajinatif.
1. Keterampilan menulis cerpen
Keterampilan menulis cerpen adalah kemampuan berbahasa seseorang untuk dapat
menghasilakan sebuah karya yang berupa cerpen. Pada bagian keterampilan menulis cerpen
ini akan dibahas tentang pengertian cerpen, unsur membangun cerpen, pengertian menulis
cerpen, langkah-langkah menulis cerpen, dan hakikat keterampilan menulis cerpen.

A. Pengertian cerpen
Dalam sebuah cerita pendek aspek masalah yang diceritakan sangatlah dibatasi. Oleh
karena itu, sebuah cerita prosa yang disebut cerita pendek memang pendek karena
pengembangan plotnya sangat dibatasi. Adegan yang ditampilkan dipilih secara cermat, hal-
hal yang tidak penting dibuang (Arsyad dkk. 1986. 1986:13)
Cerita pendek (cerpen) adalah cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek.
Ukuran panjang pendeknya suatu cerita memang relatif. Namun, pada umumnya cerita
pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam. Jumlah
katanya sekitar 500-5000 kata. Oleh karena itu, cerita pendek sering diungkapkan sebagai
cerita yang dapat dibaca dalam sekali duduk (Kosasih 2008:53). Menurut Notosusanto (dalam
Tarigan 1993:176) cerita pendek adalah cerita yang panjangnya disekitar 5000 kata atau kira-
kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

B. Unsur pembangun cerpen


Cerita pendek terdiri atas unsur-unsur intrinsik : alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut
pandang, gaya bahasa, tema, dan amanat. Berikut ini pembahsan masing-masing unsur.
1. Tema
Tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi cerita. Tema cerita menyangkut segala
persoalan, yaitu persoalan kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, dan
sebaginya. Untuk mengetahui tema sebuah cerita, diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap
berbagai unsur karangan/ Bisa saja tema “dititipkan” dalam unsur penokohan, alur, atau latar
( Kosasih 2008:55).
Tema suatu karya sastra dapat tersurat dan dapat tersirat. Disebut tersurat apabila tema
tersebut dengan jelas dinyatakan, tetapi terasa dalam keseluruhan cerita yang dibuat
pengarang (Suharianto 2005:17). Selanjutnya Tinambunan dkk. (1996: 11) mengatakan :
tema sebuah cerita merupakan pokok atau ide sentral cerita atau masalah yang membutuhkan
jalan keluar atau pemecahan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik simpulan bahwa yang dimaksud tema adalah
gagasan atau permasalahan yang mendasari suatu cerita yang merupakan patokan pengarang
dalam menyusun cerita atau karya sastra.
2. Alur atau plot
Pengertian alur dalam cerita pendek atau karya fiksi pada umumnya adalah rangkaian
cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang
dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminudin 2010:83). Alur merupakan cara
pengarang menjalin kejadian-kejadian secara berurutun dengan memperhatikan hukum sebab
akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh (Suharianto 2005:18).
Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah
cerita berdasarkan logika sebab akibat. Dalam sebuah cerita terdapat berbagai peristiwa.
Akan tetapi peristiwa-pwristiwa dalam cerita itu tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan antara
peristiwa satu dengan peristiwa yang lainnya. Rangakaian peristiwa itulah yang membentuk
plot atau alur cerita. Jadi, alur itu memperlihatkan bagimana cerita itu berjalan (Wiyanto
2005:79).
Menurut Setyaningsih (2003:20) alur adalah jalinan peristiwa secara beruntut dalam
sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan
keseluruhan yang padu, bulat, dan utuh. Alur sebuah cerita harus bersifat padu (unity). Antara
peristiwa yang satu dengan yang lainya harus berkaitan.
Dari keseluruhan pendapat tentang alur di atas, dapat disimpulkan bahwa alur adalah
peristiwa-peristiwa yang terjalin dengan urutan yang baik yang membentuk sebuah cerita.
Dalam alur terdapat serangkaian peristiwa dari awal sampai akhir.
3. Latar atau Setting
Sudarman (2008:274) latar (setting) merupakan tempat di mana suatu peristiwa cerita
ituterjadi. Latar sebenarnya tidak hanya mencangkup tempat, tetapi juga suasana kejadian
cerita dan kapan terjadinya kejadian itu. Suharianto (2005:22) latar adalah waktu terjadinya
cerita. Suatu cerita hakikatnya tidak lain ialah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa
atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu di suatu tempat.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa latar merupakan unsur yang menjelaskan
mengenai situasi dalam cerpen yang terbagi atas latar tempat, waktu, dan situasi lingkungan.
4. Tokoh dan penokohan
Pelaku yang mengembangkan peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu
menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh (Aminuddin 2010:79). Menurut Sudarman
(2008:274-275) tokoh adalah pelaku dalam suatu cerita yang diciptakan pengarang. Biasanya
dalam suatu cerita ada tokoh utama dan ada juga tokoh figuran atau tokoh kecil.
Penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun
batinya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiayadatnya,
sedangkan yang dimaksud watak adalah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang
membedakan tokoh lain (Suharianto 2005:31).
Dari uraian pendapat tentang tokoh dan penokohan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kehadiran seorang tokoh dalam karya sastra berbentuk prosa seperti cerpen merupakan suatu
hal yang mutlak. Lewat penggambaran tokoh tersebut, maka sebuah cerpen dapat dikatakan
menarik maupun tidak menarik. Inilah salah satu hal yang membedakan karya sastra prosa
atau cerpen denagan puisi. Jadi penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil
menggambarkan watak tokoh-tokoh cerita yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki
tema dan amanat. Agar kehadiranya dapat diterima pembaca, tokoh cerita tidak terlaluasing
bagi pembaca.
5. Sudut pandang
Sudut pandang ada beberapa jenis pengisahan,yaitu (1) pengarang sebagai pelaku utama
cerita. Tokoh akan menyebutkan dirinya sebagai “Aku” (2) pengarang ikut main, tetapi bukan
sebagi pelaku utama,(3) pengarang serba hadir. Dalam hal ini pengarang tidak berperan apa-
apa. Pelaku utama cerita tersebut orang lain, dapat “Dia” atau kadang-kadang disebut
namanya tetapi pengarang serba tahu apa yang akan dilakukan atau bahkan apa yang ada
dalam pikiran pelaku cerita, dan (4) pengarang peninjau, dalam pusat pengisahan ini,
pengarang seakan-akan tidak tahu apa yang akan dilakukan pelaku cerita atau yang ada dalam
pikirannya. Pengarang sepenuhnya hanya mengatakan atau menceritakan apa yang dilihatnya
(Suharianto 2005:36)
Menurut Kosasih (2008:62) point of view adalah posisi pengarang dalam membawakan
cerita. Posisi pengarang terdiri atas dua macam, yaitu berperan langsung sebagi orang
pertama dan hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat. Titik pandang
adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya
(Aminuddin 2010:90).
Berdasrkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sudut pandang adalah posisi
pengarang dalam menampilkan atau menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai
peristiwa dalam sebuah cerita. Fungsinya adalah sebagi sarana bagi pembaca untuk
mengahayati gagasan-gagasan pengarang.
6. Gaya bahasa
Gaya mengandung penegertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasanya
menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan
suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca (Aminuddin 2010:72).
Gaya (style) adalah cara khas seseorang mengungkapkan ceritanya (Sudarman 2008:278).
Adapun Kosasih (2008:64) dalam cerita, penggunaan bahasa berfungsi untuk mencipta nada
atau suasana persuasif dan merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan
interasi antartokoh.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa dalam sebuah cerpen
merupakan ciri khas yang dimiliki seorang pengarang. Gaya merupakan cara seorang
pengarang dalam menyampaikan cerita meliputi, pilihan kata, penggunaan kalimat, dialog
dan sebagainya.
7. Amanat
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan diktatis yang hendak disampikan pengarang
kepada pembaca melalui karyanya itu. Tidak jauh berbeda dengan bentuk cerita lainya,
amanat dalam cerpen akan disampaikan rapi dan disembunyikan pengaranya dalam
keseluruahan isi cerita (Kosasih 2008::64).
Jadi dapt disimpulkan bahwa amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang
terkandung di dalam sebuah karya sastra. Amanat ini berupa pesan yang disampaikan oleh
pengarang kepada pembaca. Amanat dalam cerpen dapat ditemukan dengan membaca secara
detail.
C. Pengertian menulis cerpen
Menulis hakikatnya adalah upaya mengekspresikan apa yang dilihat, dialami, dirasakan,
dan dipikirkan ke dalam bahasa tulisan. Hampir setiap orang, agaknya, pernah melakukan
aktivitas menulis. Misalnya menulis pesan, memo, surat, buku harian, laporan, opini, naskah,
buku, dan lain-lain. Jadi, ada beberapa macam bentuk dan bentuk jenis tulisan. Setiap orang
mungkin pernah menulis, dari bentuk yang paling ringan dan sederhana sampai yang luas dan
mendalam (Hakim 2005:15).
Menurut jabrohim (1994: 166) cerpen dapat dilihat dari segi, yaitu (a) berdasarkan
panjang pendeknya cerita : cerpen singkat, cerpen sedang, dan cerpen panjang; (b)
berdasarkan nilai sastranya : cerpen hiburan dan cerpen sastra; (c) berdasarkan corak unsur
struktur ceritanya : cerpen konvensional dan cerpen kontemporer.
Menulis cerpen adalah proses penciptaan karya sastra yang didasarkan pada kehidupan
manusia yang mempunyai nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan, yang mengarahkan,
dan meningkaytkan kualitas hidup kita sebagai manusia. Peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam cerpen hanya rekayasa pengarangnya, demikian juga pelaku yang terlibat dalam
peristiwa itu. Cerita dalam cerpen masuk akal namun hanya sebuah cerita fiksi atau khayal.

D. Langkah-langkah menulis cerpen


Adapun Sumardjo (1997:69-72) pada dasarnya terdapat lima tahap proses kreatif menulis.
Pertama adalah tahap persiapan. Dalam tahap ini seorang penulis telah menyadari apa yang
akan dia tulis dan bagaimana ia akan menulisnya.
Kedua, tahap inkubasi. Pada tahap ini gagasan yang telah muncul tadi disimpannya dan
dipikirkanya matang-matang, dan ditunggunya waktu yang tepat untuk menulisnya.
Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat kapan bayi gagasan di bawah sadr sudah mendepak-
depakan kakinya ingin keluar, ingin dilahirkan. Datangnya saat ini tiba-tiba saja. Inilah saat
“Eureka” yakni saat yang amat ideal. Gagasan dan bentuk ungkapkanya telah jelas dan
terpadu. Ada desakan kuat untuk segera menulis dan tidak bisa ditunggu-tunggu lagi.
Keempat, tahap penulisan. Kalau saat inspirasi telah muncul maka segeralah lari ke mesin
tulis atau komputer atau ambil bolpoin dan segera menulis. Tuangkan semua gagasan yang
baik dan kurang baik, muntahkan semua tanpa sisa dalam sebuah bentuk tulisan yang
direncanakannya.
Kelima, adalah tahap revisi. Setelah “melahirkan” bayi gagasan di dunia nyata ini berupa
tulisan, maka istirahatlah jiwa dan badan anda. Jika otot-otot tidak kaku lagi, maka periksalah
dan nilailah berdasarkan pengetahuan dan apresiasi yang kau miliki. Buang bagian yang
dinalar tidak perlu, tambahkan yang mungkin perlu ditambahkan.
E. Menilai kemampuan menulis cerpen
Menulis cerpen tentang kehidupan diri sendiri merupakan sebuah karangan. Karangan
yang baik tentu saja harus memenuhi sebuah kriteria untuk menjadi karangan yang
bagus.karangan yang bagus tentu saja mempunyai unsur-unsur yang membangunnya.
Menurut Haris (dalam Nurgiyantoro 2001:306) unsur-unsur karangan adalah contect (isi,
gagasan yang dikemukakan), from (organisasi isi), grammer (tata bahasa dan pola
kalimat), style (gaya, pilihan struktur dan kosakata), dan mechanics(ejaan). Unsur-unsur
tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menilai suatu karangan. Untuk mengukur
kuliatas cerita, hendaknya mencoba memberikan kepada orang lain untuk mengomentari,
bagimana kritik dan sarannya, apakah kelebihan dan kelemahanya kemudian diperbaiki lagi.
(Komaidi 2005 : 182).
Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahawa aspek yang dinilai
dalam tes keterampilan menulis cerpen berdasarkan kehidupan diri sendiri dengan model
pembelajaran menulis imajinatif, isi dan penyajian cerita, kelengkapan unsur-unsur intrinsik,
dan bahasa yang digunakan.
F. Keterampilan menulis cerpen
Keterampilan menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat
penting bagi kehidupan manusia yaitu sebagai alat komunikasi. Penulis menyampaikan
informasi kepada pembacanya melalui simbol-simbol bahasa yang dapat dibaca, dipahami,
dan dimengerti. Jadi menulis kretif sastra adalah suatu proses yang digunakan seseorang
dalam bentuk perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dan pikiran
seseorang dalam bentuk karangan baik puisi maupun prosa (Nugroho 2009 :4).
Pengertian keterampilan menulis cerpen adalah kemampuan seseorang untuk
menuangkan buah pikiran, ide, gagasan, dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang
imajinatif untuk menghasilkan sebuah karya sastra dalam bentuk cerpen yang mempunyai
nilai-nilai kehidupan dan nilai estis.
2. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi merupakan peristiwa yang pernah dialami sesorang. Peristiwa yang
pernah dialami seseorang terkadang sulit untuk dilupakan karena sangat berkesan, misalnya
saja pengalaman lucu, pengalaman aneh, pengalaman yang mendebarkan, pengalaman yang
mengharukan, pengalaman memalukan, dan pengalaman yang menyakitkan.
Depdiknas (dalam Nuryatin 2005:18-19) menyebutkan jenis-jenis pengalaman pribadi ada
enam, yaitu : pengalaman lucu, pengalaman aneh, pengalamanmendebarkan, pengalaman
mengharuhkan, pengalaman memalukan, dan pengalaman menyakitkan.
Menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi atau kehidupan diri sendiri dapat
membentuk peserta didik untuk lebih mudah memunculkan ide atau gagasan yang ada dalam
pikirannya. Dengan mengingat kembali serta menghayati pengalaman yang pernah dialami,
peserta didik dapat menulis secara jujur, ururt, dan tidak terkesan terpaksa.
3. Model pembelajaran menulis imajinatif
Dalam proses pembelajaran menulis Imajinatif ini peserta didik diajarkan menguasai
kompetensi menulis atau mengarang secara bebas sesuai imajinasinya sendiri-sendiri. Di
sini peserta didik diberi kebebasan untuk menuangkan segala ide atau gagasan,
pendapatatau opini, imajinasi atau daya khayal, dsb ke dalam bentuk tulisan atau karangan.
Penulis dalam penelitian ini menggunakan model pemebelajaran menulis imajinatif yang
dapat digunakan untuk menulis cerpen . pada model ini, terdapat tiga langkah untuk dapat
menulis cerpen, yaitu pengelompokan (clustering), menulis cepat (fast writing), dan
memperagakan bukan memberitahukan (show not tell).

1. Pengelompokan (Clustering)
Pengelompokan yang dikembangkan oleh Gabriele Rico adalah suatu cara memilih
pemikiran-pemikiran yang saling berkaitan dan menuangkanya di atas kertas secepatnya,
tanpa mempertimbangkan kebenaran atau nilainya. Suatu pengelompokan yang terbentuk di
atas kertas hampir seperti proses berpikir yang terjadi dalam otak, walaupun dalam bentuk
yang sangat disederhanakan (DepPoter 2004: 181).
Keuntungan dari teknik pengelompokan menurut Hernowo, yaitu (1) membuat peserta
didik mampu melihat dan membuat hubungan-hubungan antargagasan, (2) membantu peserta
didik mengembangkan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan, dan (3) membuat peserta
didik dapat menelusuri jalur yang dilalui otak tiba pada suatu konsep tertentu.
2. Menulis cepat (Fast writing)
Menulis cepat membantu peserta didik untuk menghindari penghentian ide-ide. Menulis
cepat sebuah teknik untuk menulis cerpen agar tulisan yang ada dalam pikiran dapat mengalir
bebas tanpa hambatan. Siswa terkadang tiba-tiba terhenti ketika sedang menulis sebuah
cerpen dikarenakan peserta didik bingung akan menulis apa lagi pada kalimat selanjutnya.
Siswa juga berpikir jika tulisanya tersebut mengandung banyak sekali nkesalahan sehingga
peserta didik berusaha langsung untuk mengoreksinya. Hal ini yang menyebabkan ide-ide
tersebut terhenti.
Peserta didik menulis semua yang ada dipikiranya ke dalam kertas kosong. Peserta didik
menulis berdasarkan kata-kata yang telah dikelompokan tadi. Siswa menulis cerpen dengan
cepat tanpa memperhatikan kesalahan-kesalahannya. Karena peserta didik memperhatikan
kesalahannya maka akan menhentikan kreatifitasnya.

3. Memperagakan bukan memberitahukan (Show not tell)


Pada teknik ini, peserta didik meulis draf kasar tentang cerpenya. Cerpen yang masih
berupa draf kasar ini, kemudian dipoles agar menjadi cerpen yang bahasanya menjadi hidup.
Memperagakan bukan memberitahukan artinyamemberikan penjelasan secara terperinci
seperti apa tampaknya, rasanya, dan kedengarannya.
Penjelasan yang hidup adalah alat yang ampuh untuk para penulis. Teknik ini mengambil
bentuk “kalimat-kalimat memberi tahu” kemudian mengubahnya menjadi “paragraf-paragraf
yang memperagakan”. Peserta didik yang menggunakan teknik ini, paragaraf akan terbentuk
secara alamiah dan berkesan hidup. Hasilnya akan menyenangkan dan mudah dipahami.
5. Menulis cerpen dengan menggunakan model pembelajaran menulis imajinatif berbasis
pengalaman pribadi
Menulis cerpen pada hakikatnya adalah mengembangkan ide menjadi tulisan imajinatif.
Memperoleh ide dan menjadikannya sebuah cerita pendek membutuhkan pemikiran, daya
imajinasi, kreatuvitas, dan kemampuan menuliskan bahasa dalam sebuah tulisan fiksi.
Agar pembelajaran lebih terarah, maka dapat diguanakan model pembelajaran imajinatif.
Model ini dapat membantu peserta didik mengeluarkan ide-ide ke dalam tulisan dan
mengembangkanya menjadi cerpen. Pada dasarnya, penerapan model pembelajaran menulis
imajinatif akan mempermudah siswa didalam menulis cerepen sehingga kemampuan menulis
cerpen akan meningkat dan speserta didik tidak beranggapan bahwa menulis cerpen itu hal
yang susah dan pembelajaran menulis cerpen adalah hal yang membosankan.
Sebelum peserta didik berhasil menulis cerpen, peserta didik melewati beberapa tahap
dalam proses kreatif yang berlaku juga dalam penulisan karya sastra. Tahap-tahap penulisan
cerpenya disesuaikan dengan model pembelajaran menulis imajinatif. Model pembelajaran
menulis imajinatif akan membantu peserta didik agar berhasil menulis cerpen. Unsur
kretifivitas mendapat tekanan dan perhatian besar karena dalam hal ini sangat penting
peranya dalam mengembangkan proses kreatif seorang penulis atau pengarang dalam karya-
karyanya, kreativitas ini dalam ide maupun akhirnya (Titik 2003:31).
J. KERANGKA BERPIKIR
Pembelajaran menulis cerita pendek dengan menggunakan model pembelajaran menulis
imajinatif diharapkan dapat menarik motivasi peserta didik untuk aktif belajar. Ada kaitan
antara penyajian model pembelajaran menulis imajinatif sebagai pengarang dengan
pengalaman pribadi.
Serangakaian pengalaman pribadi peserta didik dengan model pembelajaran menulis
imajinatif pada pembelajaran menulis cerpen dapat membantu pemahaman pada pikiran
peserta didik tentang cerita pendek yang akan disusun. Pemahaman itu penting bagi bekal
kegiatan menulis cerita pendek.
Model pembelajaran yang disajiakan dalam pembelajaran meulis cerita pendek dengan
berbasis pengalaman pribadi ini dapat menuntun peserta didik berekspresi menceritakan
pengalaman atau cerita yang ada dalam pengalaman pribadinya. Hal ini terjadi karena dengan
menulis imajinatif peserta didik tertarik atau terangsang untuk menceritakan dan
mengembankan ide cerita dengan model pembeljaran menulis imajinatif berbasis pengalaman
pribadi sesuai dengan karakter yang telah dialami dirinya sendiri dan peserta didik dapat
mengemas jalan cerita dalam menulis cerita pendek yang menarik sesuai dengan daya khayal
dan imajinasi peserta didik bangun lewat tokoh yang peserta didik pilih.
Oleh karena itu, penyajian model pembelajaran menulis imajinatif berbasis pengalaman
pribadi dapat membentuk suatu pemahaman tentang cerita pendek yang hendak disusun
dengan model pembelajaran menulis imajinatif berbasis pengalaman pribadi dapat menuntun
pikiran peserta didik untuk menyusun cerita pendek. Diharapkan sajian menulis imajinatif
berbasis pengalaman pribadi ini dapat memudahkan peserta didik mampu mneyusun cerita
pendek dengan baik.
K. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis tindakan penelitian ini adalah jika dalam pembelajaran menulis cerpen
mengunakan model pembelajaran menulis imajinatif berbasis pengalaman pribadi,
keterampilan peserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang dalam menulis cerpen akan
meningkat, serta dapat mengubah perilaku siswa ke arah yang positif.
L. METODE PENELITIAN
1. Desain penelitian
Penelitian yang dilakukan peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan PTK
guru akan memperoleh manfaat praktis,yaitu dapat mengetahui secara jelas maslah-maslah
yang ada di kelasnya dan bagaimana cara mengatasi masalah itu (Subyantoro, 2007:2).PTK
adalah bentuk penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual dalam pembelajaran di
kelas. Penelitian ini berupa tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik
pembelajaran di kelas (Taniredja,dkk 2010 :17)
Penelitian ini menggunakan desain PTK dengan dua siklus yaitu proses tindakan pada
siklus I dan siklus II. Siklus I bertujuan untuk mengetahui kemampuan menulis cerpen
peserta didik dan siklus II bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis
cerpen setelah dilakukan perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar yang didasarkan pada
refleksi siklus I. Tiap siklus terdiri terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Kempat komponen tersebut dipandang sebagai I siklus. Penelitian
ini diawali dengan pretes terlebih dahulu. Setelah menegtahui kondisi awal peserta didik,
kemudian dilakukan tindakan siklus I sebagai upaya perbaikan. Tindakan siklus II agar
terjadi peningkatan hasil peserta didik.

Gambar 1. Hubungan siklus I dan siklus II


Perencanaan Perencanaan Ulang

Refleksi Tindakan Refleksi Tindakan

Observasi Observasi
1. Siklus I
Proses siklus I meliputi empata tahap. Kempat tahap tersebut adalah (1) perencanaan; (2)
tindakan; (3) observasi; dan (4) refleksi.
1) Perencanaan
Tahap ini dimulai dengan reflesk awal. Kegiatan yang dilakukan berupa renungan atau
pemikiran terhadap wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IX SMP
N 18 Semarang. Kegiatan dilanjutkan dengan perencanaan pembelajaran yang akan
dilakukan sebagai upaya memecahkan permaslahan yang ditemukan pada refleksi awal.
Selain itu, dalam perencanaan peneliti juga mempersiapkan segala sesuatu yang perlu
dilakukan pada tahap tindakan.
Perencanaan yang dilakukan yaitu: (1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang
berisi langkah-langkah sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan; (2) mempersiapkan
fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, yang meliputi media pembelejaran
dan peralatan untuk kegiatan belajar mengajar; (3) mempersiapkan instrumen yang akan
digunakan, antara lain berupa pedoman penilaian, wawancara, observasi, jurnal, dan
dokumentasi; (4) menyusun rencana evaluasi; (5) berkolaborasi dengan guru mata pelajaran
Bahasa dan sastra Indonesia dan eteman sejawat tentang kegiatan pembelajaran yang akan
dilaksanakan.
2) Tindakan
Tindakan yang akan dilakukan peneliti pada pembelajaran bahasa dan sasatra Indonesia
adalah tindakan yang sudah dirancang pada tahap perencanaan atau tindakan merupakan
proses pembelajaran yang telah disesuaikan oleh peniliti pada tahap perencanaan. Tindakan
yang dilakukan peneliti dalam meneliti yaitu pembelajaran menulis cerpen dengan berbasis
pengalaman pribadi dan menggunakan model pembeljaran menulis imajinatis.
Tindakan ini melalui tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup
Tindakan pendahuluan merupakan tahap pengkondisian peserta didik agar peserta didik
siap dalam mengikuti pembelajaran. Pada tahap pendahuluan ini meliputi; (1) guru
melakukan apersepsi, (2) guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
Kemudian pada tahap inti meliputi; (1) guru memberikan materi tentang menulis cerpen,
(2) guru menjelaskan tentang model pembelajaran menulis imajinatif, (3)
guru menginformasikan kepada peserta didik dalam menulis cerpen, (4) guru menugaskan
peserta didik untuk menuliskan beberapa topik berdasarkan pengalaman pribadi, (5) peserta
didik diminta untuk menentukan salah satu topik yang akan dikembangkanya ke dalam
sebuah cerpen, (6) guru menugaskan peserta didik untuk menulis cerpen dengan model
pembelajran menulis imajinatif berbasis pengalaman pribadi.
Tahap penutup merupakan tahap merefleksikan kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan. Pada tahap ini meliputi; (1) guru merefleksikan kegiatan pembelajaran dan
merumuskan beberapa tindakan atau rekomendasi yang bisa dilakukan pada pengalaman
pribadi, (2) guru menanyakan kesulitan dan hambatan peserta didik dalam menulis cerpen
dengan memanfaatkan pengalaman pribadi dengan model pembelajaran menulis imajinatif.

3) Observasi
Observasi dalam penelitian ini adalah pengamatan dari peneliti terhadap kegiatan peserta
didik selama proses penelitian langsung serta repon dan dampak terhadap peserta didik
setelah kegiatan pembelajaran langsung. Dalam observasi ini akan diungkap segala peristiwa
atau aktifitas peserta didik selama pembelajaran maupun respon peserta didik terhadap teknik
pembelajaran.
Observasi dilakukan untuk mengetahui semua prilaku atau aktifitas peserta didik selama
kegiatan pembelajaran yaitu keantusiasan peserta didik selama mengikuti pembelajaran,
keantusiasan peserta didik mendengarkan penjelasan guru, peserta didik tertarik dalam
menulis cerpen, peserta didik serius dalm menulis cerpen, peserta didik ramai, peserta didik
diam saja, peserta didik melamun, peserta didik mengganggu temannya.
4) Refleksi
Setelah pelaksanaan tindakan, penilitian menganalisis tentang prosedur terhadap hasil
pemantauan. Terhadap hasil refleksi ini peneliti mempertimbangkan dan melakukan revisi
untuk perbaikan terhadap rencana selanjutnya yaitu terhadap rencana siklus II. Pada tahap ini
peneliti menganalisis hasil tes dan non tes siklus I. Hasil refleksi ini sebagai bahan masukan
untuk siklus II. Kemudian masalah yang timbul pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.
Sedangkan kelebihan yang terdapat pada siklus I akan dipertahankan dan ditingkatkan,
sehingga hasil pembelajaranpun akan meningkat.
2. Proses tindakan siklus
Prosedur tindakan siklus II melingkupi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan
refleksi.
1) Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus II ini merupakan perbaikan pada tahap siklus I. Dalam
perencanaan peneliti mempersiapkan; (1) mengadakan perbaikan dalam menyusun rencana
pembelajran dengan pemanfaatan pengalaman pribadi dengan model pembelajran menulis
imajinatif, (2) menyusun instrumen yang berupa rublik penilaian, lembar observasi, lembar
wawancara, dan lembar jurnal serta dokumentasi yang berupa foto untuk memperoleh data
nontes, (3) menyiapkan perangkat pembelajaran yang sudah diperbaiki untuk digunakan
siklus II.
2) Tindakan
Pada tahap tindakan yaitu tahap melakukan proses pembelajaran yang telah disusun pada
tahap perencanaan. Proses tindakan ini meliputi tiga tahap yaitu pendahuluan, inti, dan
penutup.
Tahap pendahuluan merupakan tahap pengkondisian peserta didik siap dalam mengikuti
pembelajaran. Pada tahap pendahuluan ini meliputi; (1) guru melakukan apresiasi, (2) guru
menjelaskan tujuan pembelajaran, (3) guru membahas sedikit tentang cerpen yang pernah
ditulis peserta didik pada pertemuan sebelumnya.
Kemudian pada tahap inti meliputi; (1) guru mengulas sedikit tentang materi cerpen dan
model pembelajaran menulis imajinatif, (2) guru menugaskan peserta didik untuk
menentukan beberapa topik yang akan dikembangkannya ke dalam sebuah cerpen, (3) peserta
didik menentukan salah satu topik yang akan dijadikan sebagai topik dalam cerpen yang akan
ditulisnya, (4) guru menugaskan peserta didik menulis cerpen dengan model pembelajaran
menulis imajinatif berbasis pengalaman pribadi.
Tahap penutup merupakan tahap merefleksikan kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan. Pada tahap ini meliputi; (1) guru merefleksikan kegiatan pembelajaran serta
merumuskan beberapa tindakan atau rekomendasi yang bisa peserta didik berpengalaman
pribadi. (2) guru menanyakan kesulitan dan hambatan peserta didik dalam menulis cerpen
berbasis pengalaman pribadi dengan pembelajaran menulis imajinatif, (3) peserta didik
mengisi jurnal, (4) guru menutup pembelajaran.
3) Observasi
Observasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dalam observasi ini
akan diungkap segala peristiwa yang berhubungan dengan pembeljaran, baik aktivitas selama
kegiatan pembelajaran maupun respon peserta didik terhadap model pembelajaran menulis
imajinatif berbasis pengalaman pribadi.
Observasi dilakukan untuk mengetahui semua prilaku atau aktifitas peserta didik selama
kegiatan pembelajaran yaitu, sikap positif dan sikap negatif peserta didik selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Sikap positif yang diamati yaitu; (1) perhatian peserta didik penuh
terhadap penjelasan guru, (2) peserta didik tertarik dalam menulis cerpen, (3) peserta
didik serius dalam menulis cerpen. Kemudian sikap negatif yang diamati selama
pembelajaran berlangsung, yaitu; (1) peserta didik ramai, (2) peserta didik diam saja, (3)
peserta didik pengganggu, (4) peserta didik melamun, (5) peserta didik mencoret-coret
bukunya.
M. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian pada penelitian ini adalah kemampuan menulis cerpen melalui model
pembelajran menulis imajinatif berbasis pengalaman pribadi pada peserta didik kelas IX SMP
Negeri 18 Semarang. Pengambilan keputusan untuk memilih kelas IX didasarkan atas
bebarapa faktor berikut (1) berdasarkan kurikulum tingkatan satuan pendidikan pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia SMP aspek menulis sastra kompetensi dasar yang harus dicapai
peserta didik adalah siswa mampu menulis cerita berdasrkan pengalaman sendiri, (2)
pandangan peserta didik yang menganggap remeh pembelajaran menulis cerpen, (3)
keterampilan menulis cerpen peserta didik kelas IX SMP Negeri 18 Semarang masih rendah
sehingga perlu ditingkatkan. Penelitian ingin meningkatkan keterampilan menulis cerpen
dengan menggunakan model pembelajaran menulis imajinatif.

N. VARIABEL PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu kemampuan menulis cerepen dan model
pembelajaran menulis imajinatif.
1. Kemampuan menulis cerpen
Variabel kemampuan menulis cerpen adalah suatu penuturan dalam bentuk lisan dari
serangkaian peristiwa atau tindakan sesuai dengan urutan waktu dengan memperhatikan
unsur-unsur pembangun cerita pendek. Langkah-langkah dalam proses penulisan cerita
pendek disesuaikan denagan model pembelajaran menulis imajinatif. Aspek-aspek yang perlu
diperhatikan dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi adalah isi dan penyajian
cerita, kelengkapan unsur-unsur intrinsik, dan bahasa. Kegiatan tesebut juga dengan
bimbingan guru yang menguasai ketrampilan mengajar dan menguasai sastra. Bimbingan
adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita, yang terlatih baik
dan memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadai kepada seseorang, dari semua usia
untuk membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri, dan menanggung bebanya sendiri
(Crow&crow dalam Mugiarso 2004:2).
2. Model pembelajaran menulis imajinatif
Variabel pembelajaran menulis cerita pendek dengan menggunakan model pembelajaran
menulis imajinatif. Langkah-langkah pembelajarannya adalah siswa membuat
pengelompokan kata-kata, yang kemudian kata-kata tersebut dikembangkan lagi yang
berkaitan dengan kata pusat yang bisanya disebut kata kunci. Dengan perasaan yang
dikendalikan oleh pikiran itulah, manusia mengembangkan imajinasinya, dan
mewujudkannya menjadi berbagai penemuan (Ariadinata 2006: 36).
Tahap selanjutnya peserta didik membuat kerangka karangan atau draf kasar
dengan teknik menulis cepat. Kegiatan ini bertujuan agar siswa dapat mengeluarkan ide yang
ada dalam pikirannya. Tujuan kegiatan tersebut adalah membuat draf kasar cerita yang akan
dijadikan cerpen dan belum dilakukan penyuntingan. Tahap terakhir dalam proses
pembelajarannya yaitu peserta didik mengoreksi hasil menulisnya yang masih berantakan,
biasanya disebut penyuntingan.
Untuk dapat dikatakan sebagai terampil menulis cerpen bagi peserta didik tersebut dapat
menggunakan tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.
Target kemampuan menulis cerpen pada penelitian ini jika peserta didik secara individu telah
memiliki kemampuan menulis dengan batasan nilai tuntas 75% atau lebih dengan nilai 75
pada proses pembelajaran siklus I dan siklus II.
O. INDIKATOR KINERJA
Indikator kinerja dalam peneilitian ini meliputi dua aspek, yaitu indikator kuantitatif dan
kualitatif. Penjelasan tentang kedua indikator tersebut adalah sebagai berikut.
1. Indikator kuantitatif
Indikator kuantitatif penelitian ini adalah kecapaian target menulis cerpen melalui teknik
tes. Peserta didik berhasil melakukan pembelajran menulis cerpen apabila nilai yang
diperoleh sesuai dengan target yang ditentukan. Dalam penelitian ini, peneliti menghendaki
nilai yang dicapai sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan, yaitu sebasar 75 dengan jumlah
peserta didik minimal 75% dari jumlah keseluruhan. Peserta didik yang memperoleh minimal
75 maka dinyatakan tuntas, sementara peserta didik yang memperoleh nilai di bawah 75
dinyatakan belum tuntas.
2. Indikator kualitatif
Indikator kualitatif penelitian ini adalah adanya perubahan perilaku yang diketahui
melalui teknik notes. Perserta didik dinyatakan berhasil dalam pembelajaran menulis cerpen
apabila perilaku peserta didik berubah kearah yang lebih baik, yaitu (1) peserta didik lebih
bermotivasi dalam mengikuti pembelajaran, (2) peserta didik bersikap santun dan tertib
dalam mengikuti pembelajaran, (3) peserta didik menjadi aktif bertanya dan memberikan
tanggapan yang logis, (4) peserta didik dapat berkerja sama dalam kelompok, (5) perserta
didik bertanggung jawab terhadap tugas yang kan diberikan, dan (6) peserta didik mudah
dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan model pembelajaran menulis
imajinatif.
P. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah tes dan
non tes. Tes digunakan peneliti untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam menulis
cerpen, sedangkan bentuk nontes dalam penelitian ini berupa lembar observasi, lembar
wawancara, dan lembar jurnal perserta didik yang digunakan untuk mengungkapkan
perubahan tingkah laku siswa.
1. Instrumen tes
Instrumen tes, yaitu berupa seluruh hasil karya peserta didik yang berupa cerita pendek.
Tes menulis cerpen digunakan mengetahui kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek
dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
Tes yang berupa tes perbuatan menulis cerpen dilaksanakan untuk mengetahui
kemampuan peserta didik dalam menulis cerpen dengan memperhatikan kriteria-kriteria
penilaian yang telah ditentukan kriteria-kriteria penilaian tersebut yakni, 1) tema, 2) latar, 3)
alur, 4) tokoh dan penokohan, 5) sudut pandang, 6) gaya bahasa, 7)kepaduan antar unsur
dalam cerpen.
Tabel 1. Kriteria penilaian kemampuan menulis cerpen
No. Aspek Kriteria Skor Kategori
1. Tema dan Tema dan amanat sangat 9-10 Sangat baik
amanat relevan dengan cerpen yang
ditulis.
Tema dan amanat cukup 6-8 Baik
relevan dengan cerpen yang
ditulis
Tema dan amanat kurang 3-5 Cukup
relevan dengan cerpen yang
ditulis
Tema dan amanat tidak 0-2 Kurang
relevan dengan cerpen yang
ditulis
2. Alur Rangkaian peristiwa dalam 16-20 Sangat baik
cerpen disusun secara logis
dan sesaui basis pengalam
pribadi
Rangkaian peristiwa dalam 11-15 Baik
cerpen disusun cukup logis
dan sesaui basis pengalam
pribadi
Rangkaian peristiwa dalam 6-10 Cukup
cerpen disusun kurang logis
dan sesaui basis pengalam
pribadi
Rangkaian peristiwa dalam 0-5 Kurang
cerpen disusun tidak logis dan
sesaui basis pengalam pribadi
3. Latar Pemilihan tempat, waktu, dan 9-10 Sangat baik
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam
cerpen sangat tepat.
Pemilihan tempat, waktu, dan
suasana yang menggambarkan 6-8 Baik
terjadinya peristiwa dalam
cerpen cukup tepat.
Pemilihan tempat, waktu, dan
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam 3-5 Cukup
cerpen kurang tepat.
Pemilihan tempat, waktu, dan
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam
cerpen tidak tepat. 0-2 Kurang
4. Tokoh dan Penggambaran tokoh dan 16-20 Sangat baik
penokohan penokohan jelas
Penggambaran tokoh dan 11-15 Baik
penokohan cukup jelas
Penggambaran tokoh dan 6-10 Cukup
penokohan kurang jelas
Penggambaran tokoh dan 0-5 Kurang
penokohan tidak jelas
5. Sudut Sudut pandang yang 9-10 Sangat baik
pandang digunakan dapat menjelaskan
tokoh
Sudut pandang yang 6-8 Baik
digunakan cukup dapat
menjelaskan tokoh
Sudut pandang yang 3-5 Cukup
digunakan kurang dapat
menjelaskan tokoh
Sudut pandang yang 0-2 Kurang
digunakan tidak dapat
menjelaskan tokoh
6. Gaya Penggunaan gaya bahasa 9-10 Sangat baik
bahasa sesuai dengan situasi
Penggunaan gaya bahasa 6-8 Baik
cukup sesuai dengan situasi
Penggunaan gaya bahasa 3-5 Cukup
kurang sesuai dengan situasi
Penggunaan gaya bahasa tidak 0-2 Kurang
sesuai dengan situasi
7. Kepaduan Kepaduan antar unsur 16-20 Sangat baik
antar pembangun cerpen sudah tepat
unsur Kepaduan antar unsur
dalam pembangun cerpen sudah 11-15 Baik
cerpen cukup tepat
Kepaduan antar unsur
pembangun cerpen kurang 6-10 Cukup
tepat
Kepaduan antar unsur
pembangun cerpen tidak tepat 0-5 Kurang

Tabel 2. Pedoman penilaian kemampuan menuis cerpen


No. Nilai Katergori
1. 90-100 Sangat baik
2. 75-89 Baik
3. 60-74 Cukup
4. 50-59 Kurang
5. 0-49 Sangat kurang

Berdasarkan kriteria pada tabel di atas, dapat diketahui peserta didik yang berhasil
mencapai sekala sangat baik adalah peserta didik yang memperoleh nilai 90-100, skala baik
adalah peserta didik yang memperoleh nilai 75-89, skala cukup adalah peserta didik yang
memperoleh nilai 60-74, skala kurang adalah peserta didik yang memperoleh nilai 60-74,
skala kurang baik adalah peserta didik yang memperoleh nilai 0-49.
2. Instrumen nontes
Instrumen nontes adalah instrumen yang digunakan untuk melengakapi data tes agar data
itu lebih valid. Instrumen nontes yang digunakan dalam penelitian ini antara lain observasi,
wawancara, dan dokumentasi.
1) Observasi
Observasi adalah pengamatan tingkah laku peserta didik selama pembelajaran
berlangsung. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan terhadap kegiatan peserta didik
selama pembelajaran menulis cerpen dengan model pembelajaran menulis imajinatif. Melalui
kegiatan observasi, peneliti dapat mengatahui segala segala peristiwa saaat pembelajaran,
baik aktivitas peserta didik maupun minat peserta didik dalam mengikuti pemebelajaran
menulis cerpen dengan model pembelajaran imajinatif.

2) Wawancara
Pedoman wawancara dipergunakan untuk memperoleh data secara langsung tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis cerpen dengan model pembelajran
menulis imajinatif. Data yang diambil menegenai kesan, pesan, dan pendapat peserta didik
terhadap pembelajaran menulis cerpen dengan model pembelajaran menulis imajinatif.
Kegiatan wawanvcara dilakukan setelah pembelajaran usai. Wawancara dapat dilakukan
di dalam kelas atau di luar kelas. Kegiatan wawancara dilakukan oleh peneliti dengan cara
bertanya sengan peserta didik yang telah dipilih, kemudain mencatat hasilnya.
3) Dokumentasi
Dokumentasi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini berupa
dokumentasi foto dan dokumentasi tertulis. Kegiatan-kegiatan dan tes menulis yang
didokumentasikan dapat memudah peneliti untuk mendeskripsikan hasil penelitian.
Dokumentasi tertulis digunakan sebagai bukti hasil pekerjaan yang telah dilakukan oleh
peserta didik. Dokumentasi tertulis berupa hasil pekerjaan peserta didik dalam menulis
cerpen dan model pembelajran menulis imajinatif. Dengan hasil pekerjaan peserta didik ini
maka dapat dilakukan pengajian ulang tentang tes pemahaman peserta didik.
Q. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik yang dilakukan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis
secara kuantitatif dan kualitatif. Uraian tentang analisis kauantitatif dan analisis kualitatif
sebagai berikut.
1. Teknik kuantitatif
Analisis kuantitatif dipakai untuk menganalisis data kuantitatif. Pada teknik kuantitatif,
peneliti menganalisis hasil kuantitatif dari peserta didik. Adapun yang diperoleh dari peneiliti
kemudian dikoreksi dengan memberikan nilai. Analisis data hasil tes secara kuantitatif
dihitung secara persentase dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menghitung nilai komulatif dari seluruh aspek
2) Merekap nilai yang telah diperoleh peserta didik
3) Menghitung nilai rata-rata peserta didik
4) Menghitung presentase nilai
Nilai Akhir = skor x bobot
Setelah itu nilai direkap keseluruhannya, untuk dihitung nilai akhir. Rumus yang digunakan
untuk menghitung nilai akhir keterampilan menulis cerpen adlah sebagai berikut.

Untuk mengetahui nilai rata-rata kelas dengan mengunakan penilaian rentang nilai maka
menggunakan rumus berikut.
Jumlah nilai seluruh siswa
Nilai rata-rata =
Jumlah siswa
Hasil penghitungan nilai peserta didik ini kemudian dibandingkan, yaitu anatara hasil tes
siklus I dan hasil tes siklus II, kemudian dihitung persentase peningkatan nialai setiap aspek
pada siklus I dan siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase
peningkatan kompetensi siswa dalam cerpen dengan model pembelajaran menulis
imajinatif.
2. Teknik kualitatif
Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data-data kualitatif. Data-data kualitatif
ini diperoleh dari data nontes, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi foto. Data-data
tersebut dianalisis dan dideskripsikan. Hasil analisis tersebut digunakan sebagai dasar untuk
mengetahui perubahan perilaku peserta didik setealah mengikuti pembelajaran model
pembelajaran menulis imajinatif. Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah
dengan menganalisis lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran. Wawancara
dipakai untuk mencari dan mengetahui adanya kesesuaian antara informasi yang diperoleh
melalui keduanya. Hal ini disebabkan karena setiap instrumen memiliki kelemahan.
Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto. Analisis data diambil dari
dokumentasi berupa pendeskripsian fenomena yang muncul dalam foto tersebut. Foto ini
merupakan bukti otentik dari aktivitas peserta didik saat pembelajaran berlangsung.
Hasil analisis siklus I dan siklus II dibandingkan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta didik. Dari hasil pertandingan tersebut dapat diketahui peningkatan perubahan
tingkah laku siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Maidar G. 1986. Buku Materi Pokok Kesusastraan II PINA 442/2 SKS/ Modul 4-6 . Yakarta:
Depdikbud Universitas Terbuka.
Aridinata, Joni. 2006. Aku Bisa Nulis Cerpen. Jakarta: Gema Insani.
Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensino.
Azizah. 2007. “Peningkatan Ketreampilan Menulis Cerpen Melalui Metode Latihan Terbimbing
dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 SMA Negeri Pemalang”.Skripsi. FBS Unnes.
Davis. 2003. Actities for the ESL Classroom Incorporating Reality-based TV. Jakarta: Sindo
DePoter, Bobbi. 2009. Quantum Writer: Menulis dengan Mudah, Fun, dan Hasil
Memuaskan. Bandung: Kaifa.
Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan sastra. Yogyakarta: Kota Kembang.
Erkaya, Odilea Rocha. 2009. Benefit of Using Short Strories in the EFL
Context.http://www.sosyalarastirmalar.com/cilt2/sayi6pdf/tuncel_ridwan.pdf. diunduh 1 Mei
2012.
Fajriyah, Miftachul. 2008. Peningkatan keterampilan Menulis Cerpen dengan Metode Sugesti
Imajinasi melalui Media Teks Lagu Siswa Kelas IXB SMP N 1 Winong Pati.Skripsi. UNNES.
Hakim, M. Arief. 2005. Kiat Menulis Artikel di Media: dari Pemula Sampai Mahir.Bandung:
Nuansa Cendekia.
Hamalik. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Haryadi. 2010. Model Ppembelajaran. Semarang: UNNES.
Hernowo. 2003. Quantum Writing : Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya
Potensi Menulis. Bandung: Mizan Learning Center.
Hernowo. 2003. Quantum Writing : Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya
Potensi Menulis. Bandung: Mizan Learning Center.
Hudiata, Edi. 2005. Kangen Banten dengan Mneluis Cerpen.
(http://www.hrena.com/MENULISpersen20CERPEN.cfm?pt=2&kt=1.cerpenbanten) (16
Juni 2013).
Indonesiaku, Citra. 2013. Metode, Model, dan Teknik Pembelajaran Menulis.
(http://citraindonesiaku.blogspot.com/2012/02/metode-model-dan-teknik-pembelajaran.html)
(17 juni 2013)
Jabrohim (Ed). 1994. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Karsidi. 2007. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.
Komaidi, Didik. 2006. Aku Bisa Menulis.Jakarta: Sabda.
Kosasih, E. 2008. Apesiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Novel Edumedia.
Laksana, Puja. 2009. Panduan Praktis Mengarang Menulis. Semarang: Aneka Ilmu.
Laksmi, Miftah. 2007 “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek Berdasarkan Cerita
Rakyat Pada Siswa Kelas X-8 SMA Isalam Sultan Agung 1 Semarang”.Skripsi. FBS.
Mugiarso. 2004. Bimbingan Konseling. Semarang: UNNES Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nurhadi. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP
VII. Jakarta: Erlangga.
Nuryatin, Agus. 2010. Mengabdikan Pengalaman dalam Cerpen. Rembang: Yayasan Adhigama.
Nugroho, Hamdan. 2009.Pembelajaran Menulis
Cerpen.http://Hamsmars.blodspot.com/2009/06/pembelajaran-menulis-cerpen-dengan-html
(17 juni 2013).
Rusilah. 2006. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga.
Sapani, Suardi, dkk. 1997. Teori Pembelajaran bahasa. Jakarta: Bumi Aksara
Sudarman, Paryati. 2008. Menulis di Mdeia Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumardjo, Jakob. 1997. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogayakarta: Pustaka Pelajar.
Setyaningsih, Nas Haryati. 2003.Apresiasi Prosa. Diklat Kuliah.
Septiani, Nurul Melti. 2007.”Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek melalui Teknik
Pengandaian Diri Sebagai Tokoh dalam Cerita dengan Media Audio Visual pada Siswa Kelas
X-4 SMA N 2 Tegal”. Skripsi. FBS.
Subyantoro. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Rumah Indonesia.
Suharianto, S. 2005. Dasar- dasar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia.
Syaiful Bahri Djamarah. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Tinanbunan, T. Raman dkk. Sastra Lisan dari Inventarisasi dan Analisis Struktur Prosa.Jakarta:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Titik, dkk. 2003. Teknik Menulis cerita Anak. Yogyakarta: PUSBUK.
Wiyanto, Asul. 2005. Kesastraan Sekolah. Jakarta: PT Grasindo.