Anda di halaman 1dari 17

Nama : Nadia Zaky Fadillah

NIM : 061640421953

Kelas : 3 KIA

Mata Kuliah : Fenomena Perpindahan

Dosen Pengampu : Ir. Selastia Yuliati M.Si

A. Fenomena Perpindahan
Dalam fisika, kimia, dan teknik, fenomena perpindahan adalah salah satu
dari berbagai mekanisme di mana partikel atau kuantitas fisik berpindah dari
satu tempat ke tempat lain. Tiga contoh umum fenomena perpindahan
adalah difusi,konveksi, dan radiasi. Tiga jenis utama fenomena perpindahan
adalah perpindahan energi , perpindahan massa, dan perpindahan
momentum (dinamika fluida).
Satu prinsip penting dalam fenomena perpindahan adalah adanya analogi
antar tiap fenomena. Sebagai contoh, massa, energi, dan momentum semua
dapat mengalami perpindahan secara difusi:
- Penyebaran atau disipasi bau di udara merupakan contoh difusi massa
- Konduksi panas pada bahan padat adalah contoh difusi panas
- Seretan (drag) yang dialami butiran hujan sewaktu jatuh dalam
atmosfer adalah contoh dari difusi momentum (butiran hujan
kehilangan momentumnya ke udara sekitar melalui tegangan
kental, viscous stress, dan berkurang kecepatannya)

Perpindahan massa, energi, dan momentum juga dipengaruhi faktor-faktor


luar:
- Disipasi atau pelesapan bau menjadi lebih lambat jika sumber bau
tetap ada
- Laju pendinginan suatu zat padat yang menghantarkan panas
tergantung pada apakah sumber panas ada
- Gaya gravitasi yang bekerja terhadap butiran hujan melawan seretan
yang disebabkan udara sekitar

Semua pengaruh ini dijelaskan oleh persamaan perpindahan skalar


generik. Persamaan yang sama yang mengatur konveksi pada perpindahan
panas dapat diterapkan pada konveksi pada perpindahan massa. Sewaktu
mempelajari problem fenomena perpindahan yang kompleks, seseorang harus
menggunakan mekanika malaran (continuum mechanics) dan kalkulus
tensor dan seringkali permasalahan tersebut dapat dijelaskan
dengan persamaan diferensial parsial.
Ada beberapa kesamaan pada persamaan perpindahan panas,
momentum, dan massa semuanya dapat dipindahkan dengan difusi:

 Massa: tersebarnya bau di udara merupakan contoh difusi massa.


 Panas: konduksi panas pada material padat merupakan contoh difusi
panas.
 Momentum: drag yang dialami oleh tetesan air hujan di atmosfer
merupakan contoh difusi momentum.

Persamaan perpindahan molekuler untuk momentum Hukum Newton,


panas Hukum Fourier, dan massa Hukum Fick sangat mirip.

Perbandingan fenomena difusi


Besaran Fenomena Persamaan
yang fisika
berpindah

Momentum Viskositas
(Fluida
Newtonian)

Energi Konduksi
panas
(Hukum
Fourier)

Massa Difusi
molekuler
(Hukum
Fick)

1.a. Perpindahan Momentum


Pada perpindahan momentum transfer, fluida dibayangkan sebagai
objek yang terdistribusi kontinyu. Studi mengenai perpindahan momentum
atau mekanika fluida dapat dibedakan menjadi 2 cabang : statika
fluida (fluida diam) dan dinamika fluida (fluida bergerak).
Macam – macam aliran fluida :
1. Aliran Laminar : bagian – bagian fluida bergerak melalui jalur – jalur
yang sejajar satu dengan yang lain dan tetap mengikuti alir
2. Aliran Turbulen : terdapat banyak aliran bergolar ke samping
meninggalkan arah alir

a. Dasar hukum perpindahan Momentum


Momentum merupakan produk dari adanya massa dan kecepatan
dari sebuah objek ( dasar jika benda tidak memiliki kecepatan maka benda itu
tidak memiliki momentum). Untuk permasalahan transfer momentum bisa
kita lihat pada sebuah aliran di antara dua plat sejajar, dimana jarak antar plat
adalah Y. plat terbawah digerakkan dengan kecepatan V. pada saat fluida
bergerak akan timbul momentum dengan arah tegak lurus aliran, serta pada
saat steady, distribusi kecepatan digambarkan sebagai berikut :

Sumber: http://profarizhidayat.blogspot.co.id/2013/05/newtons-law-of-
viscosity-dasar-hukum.html

Untuk yang biasanya digunakan pada textbook biasanya diganti F/A


= τyx dimana persamaan ini didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada arah
x pada area tegak lurus arah y (lebih mudah disebut dengan fluks momentum
y ke arah x).lebih jauh lagi, untuk V/Y juga diganti dengan –dvx/dy (kenapa
bisa siganti begitu: ingat makna dari dvx/dy adalah perubahan kecepatan
searah dengan x (delta x) tiap y satuan (delta y). Sehingga persamaan
dituliskan menjadi :

persamaan ini menyatakan bahwa shearing force per unit area (F/A)
itu sebanding dengan negative velocity gradient yang juga familiar dikenal
sebagai Hukum Newton untuk viskositas. Hukum newton untuk viskositas ini
akan mendasari kita dalam pengerjaan berbagai persoalan transfer
momentum.

Di dalam fluida yang mengalir ada 2 jenis perpindahan momentum :

1. Perpindahan momentum secara molekuler


Perpindahan momentum yang ditimbulkan karena gaya tarik menarik
antar – molekul

2. Perpindahan momentum secara konveksi


Perpindahan momentum karena aliran massa Ketika fluida bergerak
pada arah x paralel dengan permukaan solid, fluida tersebut memiliki
momentum pada arah-x dengan konsentrasi υxρ. Dengan difusi acak
molekul maka ada perpindahan molekul pada arah-z. Maka momentum
pada arah-x berpindah ke arah-z dari lapisan yang bergerak lebih cepat
ke lapisan yang bergerak lebih lambat. Persamaan perpindahan
momentum menurut Hukum Newton tentang Viskositas dapat ditulis
sebagai berikut:

dengan τzx adalah fluks momentum arah-x pada arah-z, ν is μ/ρ,


difusivitas momentum z adalah jarak transport atau difusi,ρ adalah
densitas, dan μ adalah viskositas.

2.a. Perpindahan Energi Panas

Transfer energi panas biasanya terjadi pada banyak proses kimia dan
proses lainnya. Transfer panas seringkali terjadi dalam bentuk kombinasi
diantara berbagai unit operasi, seperti pengeringan kayu atau makanan,
pembakaran bahan bakar, dan evaporasi. Transfer energi terjadi karena
perbedaan temperatur dan aliran panas dari temperatur yang tinggi ke yang
rendah.

Dalam termodinamika, panas didefinisikan sebagai energi yang


terkandung dalam batasan sistem, dan energi tersebut mengalir karena
perbedaan temperatur anatara siatem dengan lingkungan. Hukum kedua
termodinamika panas selalu mengalir melewati batasan sistem menuju
temperatur yang lebih rendah. Akan tetapi termodinamika tidak menjelaskan
bagaimana energi panas tersebut ditransfer. Ini adalah tugas dari perpindahan
panas untuk menjelaskannya. Terdapat tiga macam jenis perpindahan panas,
yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.

a. Perpindahan Energi Panas Konduksi

Perpindahan ini dapat terjadi pada benda padat, cair, maupun gas. Laju
perpindahan kalor melalui konduksi dapat dihitung secara makroskopik
berdasarkan Hukum Fourier.

Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari misalnya, ketika kita


membuat kopi atau minuman panas, lalu kita mencelupkan sendok untuk
mengaduk gulanya. Biarkan beberapa menit, maka sendok tersebut akan ikut
panas. Panas dari air mengalir ke seluruh bagian sendok. Atau contoh lain
misalnya saat kita membakar besi logam dan sejenisnya. Walau hanya salah
satu ujung dari besi logam tersebut yang dipanaskan, namun panasnya akan
menyebar ke seluruh bagian logam sampai ke ujung logam yang tidak ikut
dipanasi. Hal ini menunjukkan panas berpindah dengan perantara besi logam
tersebut.

b. Perpindahan Energi Panas Radiasi

Perpindahan panas radiasi adalah pengetahuan mengenai transfer


energi dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Tidak seperti perpindahan
konduksi, gelombang elektromagnetik tidak memerlukan medium untuk
perambatan energinya. Oleh karena kemampuannya merambat di ruangan
vakum, radiasi panas menjadi dominan pada transfer panas di ruang hampa
dan di luar angkasa

Sebagai contoh, ketika matahari bersinar terik pada siang hari, maka
kita akan merasakan gerah atau kepanasan. Atau ketika kita duduk dan
mengelilingi api unggun, kita merasakan hangat walaupun kita tidak
bersentukan dengan apinya secara langsung. Dalam kedua peristiwa di atas,
terjadi perpindahan panas yang dipancarkan oleh asal panas tersebut sehingga
disebut dengan Radiasi.

c. Perpindahan Energi Panas Konveksi

Konveksi adalah perpindahan panas karena perpindahan zat. Peristiwa


konveksi (aliran zat) terjadi pada perubahan suhu suatu zat. Zat cair atau gas
yang terkena panas molekul-molekulnya bertambah besar dan beratnya tetap,
sehingga akan bergerak ke atas. Gerakan ke atas ini akan diikuti oleh gerakan
zat lain secara terus-menerus sehingga terjadi aliran zat karena panas. Dari
peristiwa aliran inilah, maka panas dapat merambat secara konveksi.

Contoh ketika kita memanaskan air menggunakan kompor, kalor


mengalir dari nyala api (suhu lebih tinggi) menuju dasar wadah (suhu lebih
rendah). Karena mendapat tambahan kalor, maka suhu dasar wadah
meningkat. Ingat ya, yang bersentuhan dengan nyala api adalah bagian luar
dasar wadah. Karena terdapat perbedaan suhu, maka kalor mengalir dari
bagian luar dasar wadah (yang bersentuhan dengan nyala api) menuju bagian
dalam dasar wadah (yang bersentuhan dengan air). Suhu bagian dalam dasar
wadah pun meningkat. Karena air yang berada di permukaan wadah memiliki
suhu yang lebih kecil, maka kalor mengalir dari dasar wadah (suhu lebih
tinggi) menuju air (suhu lebih rendah).
3.a Perpindahan Massa
Perpindahan massa adalah perpindahan massa dari satu lokasi, biasanya
berupa aliran, fasa, fraksi, atau komponen, ke lokasi lainnya. Perpindahan
massa muncul pada banyak proses seperti absorpsi, evaporasi, adsorpsi,
pengeringan, presipitasi, filtrasi membrane, dan distilasi.

Perpindahan massa digunakan oleh berbagai ilmu sains untuk proses dan
mekanisme yang berbeda-beda, namun frasa ini banyak digunakan pada
ilmu teknik untuk proses fisika yang melibat kandifusi molekuler dan
transport konveksi suatu speses kimia dalam sistem.

Beberapa contoh sederhana proses perpindahan massa


adalah evaporasi air ke atmosfer, penjernihan darah pada ginjal dan liver,
serta distilasi alkohol. Pada proses industri, operasi perpindahan massa
termasuk pemisahan komponen kimia pada kolom distilasi, adsorber seperti
scrubber, adsorber seperti activated carbon bed, dan ekstraksi liquid-liquid.
Perpindahan massa pada umumnya digabungkan dengan proses
perpindahan untuk penerapannya seperti pada menara pendingin industri.

Ketika sistem berisi 2 atau lebih komponen yang konsentrasinya berbeda-


beda antar titik, ada kecenderungan alami dari massa untuk berpindah, untuk
meminimalkan perbedaan konsentrasi dalam sistem. Perpindahan massa
dalam sistem dijelaskan oleh Hukum pertama Fick: 'Difusi fluks dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah berbanding lurus dengan gradien
konsentrasi substansi dan difusivitas substansi pada medium.' Perpindahan
massa dapat berlangsung karena ada perbedaan driving force. Beberapa
diantaranya adalah:

 Massa dapat berpindah akibat gradien tekanan (difusi tekanan)


 Difusi gata muncul akibat gerak beberapa gaya luar
 Difusi disebabkan oleh gradien temperatur (difusi termal)

Dapat dibandingkan dengan Hukum Fourier mengenai konduksi panas:


dengan D adalah konstanta difusivitas.
Macam- macam jenis transfer massa ( difusi ) pada campuran biner :

a. Difusi Molekuler
b. Difusi antar 2 fase satu film ( difusi dalam aliran turbulen)
c. Difusi antar fase dua film

B. Sifat- sifat Aliran Fluida


1.b. Aliran laminar dan aliran turbulen
Ditinjau dari jenis aliran,dapat diklasifikasikan menjadi aliran laminar dan
aliran turbulen. Aliran fliuida dikatakan laminar jika lapisan fluida bergerak
dengan kecepatan yang sama dan dengan lintasan partikel yang tidak memotong
atau menyilang, atau dapat dikatakan bahwa aliran laminar di tandai dengan tidak
adanya ketidak beraturan atau fluktuasi di dalam aliran fluida. Karena aliran fluida
pada aliran laminar bergerak dalam lintasan yang sama tetap maka aliran laminar
dapat diamati. Partikel fluida pada aliran laminar jarang dijumpai dalam praktek
hidrolika. Aliran laminar merupakan aliran yang jarang terjadi pada air dan tidak
begitu penting dalam aliran udara, tapi ini terjadi dalam viscosity fluida yang
tinggi seperti campuran sediment dalam air, es, & lava.

Alirannya relatief mempunyai kecepatan rendah dan fluidanya bergerak


sejajar (laminae) & mempunyai batasan-batasan yang berisi aliran fluida. Aliran
laminar adalah aliran fluida tanpa arus turbulent ( pusaran air ). Partikel fluida
mengalir atau bergerak dengan bentuk garis lurus dan sejajar. Laminar adalah ciri
dari arus yang berkecepatan rendah, dan partikel sedimen dalam zona aliran
berpindah dengan menggelinding (rolling) ataupun terangkat (saltation).
Sedangkan aliran dikatakan turbulen, jika gerakan fluida tidak lagi tenang
dan tunak (berlapis atau laminar) melainkan menjadi bergolak dan bergejolak
(bergolak atau turbulen). Pada aliran turbulen partikel fluida tidak membuat
fluktuasi tertentu dan tidak memperlihatkan pola gerakan yang dapat diamati.
Aliran turbulen hampir dapat dijumpai pada praktek hidrolika. Dan diantara aliran
laminar dan turbulen terdapat daerah yang dikenal dengan daerah transisi.

Sumber : Streeter (1988)

Untuk menganalisa kedua jenis aliran ini diberikan parameter tak berdimensi yang
dikenal dengan nama bilangan Reynolds, Angka Reynolds adalah perbandingan
gaya inersia fluida dan viscositasnya, dan menghadirkan perbandingan antara
suatu gaya pemercepat dan lambat. (Giles. V, 1984) sebagai berikut:

Re = ρ . D . v / μ

Dimana :

Re = Bilangan Reynolds

ρ = Massa Jenis (gr/Liter)

µ = viskositas dinamis (N.s/m2)

D = Diameter (m)

v = kecepatan aliran (m/s)


Transisi dari aliran laminar dan aliran turbulen karena diatas bilangan Reynolds
yang tertentu aliran laminar menjadi tidak stabil, jika suatu gangguan kecil
diberikan pada aliran, pengaruh aliran ini semakin besar dengan bertambahnya
waktu. Suatu aliran dikatakan stabil bila gangguan–gangguan diredam. Ternyata
bahwa dibawah bilangan Reynolds yang tertentu aliran pipa yang laminar bersifat
stabil untuk tiap gangguan yang kecil.

Karena transisi tergantung pada gangguan-gangguan yang dapat berasal dari luar
atau karena kekasaran permukaan pipa,transisi tersebut dapat terjadi dalam selang
bilangan Reynolds. Dan telah diketahui bahwa aliran laminar pada kondisi dimana
bilangan Reynolds lebih kecil dari 2000 (>2000) dan turbulen jika bilangan
Reynolds lebih besar 4000 (>4000). Dan jika bilangan Reynolds berada diantara
2000 dan 4000 adalah merupakan daerah transisi.

Pada arus turbulen, massa air bergerak keatas, kebawah, dan secara lateral
berhubungan dengan arah arus yang umum, memindahkan massa dan momentum.
Dengan gerakan tidak beraturan seperti itu, massa atau gumpalan fluida akan
mempunyai percepatan menyimpang yang hanya sedikit persentasinya dari
kecepatan rata-rata, meskipun begitu arus turbulen bersifat menentukan arus,
sebab turbulen menjaga patikel-partikel dalam suspensi, secara konstan, Turbulen
mentransport partikel-partikel dengan dua cara; dengan penambahan gaya fluida
dan penurunuan tekanan lokal ketika pusaran turbulen bekerja padanya.

2.b. Aliran Steady dan Aliran Uniform


Aliran disebut steady (tenang) apabila aliran semua tempat disepanjang
lintasan aliran tidak berubah menurut waktu. Sedangkan aliran Uniform dapat
diartikan sebagai suatu keadaan aliran yang tidak berubah diseluruh ruang. Kedua
defenisi ini sering dipakai pada keadaan aliran turbulen dan biasanya dianggap
aliran steady yang berarti aliran steady rata-rata. Demikian pula aliran uniform
berarti uniform rata-rata.
3.b. Newtonian dan non-Newtonian
 Newtonian
Fluida Newtonian adalah fluida yang tegangan gesernya linier terhadap
laju regangan geser atau laju deformasi angular. Tegangan geser ini merupakan
interaksi antara fluida dengan batas padat yang diberi gaya pada suatu luasan
efektif. Sedangkan regangan geser adalah perpindahan sudut antara titik-titik awal
fluida saat luasan efektif diam dengan titik-titik fluida setelah luasan efektif diberi
suatu gaya dengan kecepatan tertentu. Pada fluida Newtonian, viskositasnya tetap
dan tidak akan berubah meskipun terdapat gaya yang bekerja. Contoh fluida
Newtonian adalah air.

 non-Newtonian
Fluida non-Newtonian adalah fluida yang tegangan gesernya tidak linier
terhadap laju regangan geser. Pada fluida non-Newtonian, viskositasnya berubah
bila terdapat gaya yang bekerja. Perubahan ini dapat berupa viskositas yang
mengecil, contohnya cat lateks yang digoreskan pada dinding, dan juga viskositas
yang membesar, contohnya pada adonan, misalnya campuran air dan tepung.

4.b. Compressible dan incompressible


 Compressible
Fluida yang compressible adalah fluida yang kerapatannya dapat berubah
karena perubahan tekanan dan temperatur. Contoh fluida compressible adalah gas
nitrogen dan oksigen.

 Incompressible
Fluida yang incompressible adalah fluida yang kerapatannya konstan
terhadap perubahan tekanan. Contoh fluida incompressible adalah air.

5.b. Inviscid dan Viscous


 Inviscid
Fluida inviscid adalah fluida yang tidak viscous. Viskositas muncul karena
adanya tegangan geser atau gesekan fluida. Fluida seperti udara mempunyai
viskositas kecil sehingga dapat diabaikan. Tegangan normal pada fluida inviscid
tidak tergantung pada arah. Aliran inviscid digunakan dalam mengembangkan
persamaan Bernoulli.

 Viscous
Fluida memiliki sifat viscous (viskositas), dimana fluida selalu melekat
pada batas padat fluida. Meskipun fluida ini bergerak, fluida akan selalu melekat
pada batas padat yang melingkupinya. Fluida yang bergerak dapat menimbulkan
tegangan geser. Tegangan geser (τ) ini merupakan interaksi antara fluida dengan
batas padat yang diberi gaya (P) pada suatu luasan efektif (A). Interaksi yang
terjadi berupa pertemuan permukaan antara benda padat dan fluida yang
kemudian terjadi kesetimbangan, dimana tegangan geser yang muncul pada suatu
luasan efektif besarnya akan sebanding dengan gaya yang bekerja pada batas
padat. Ini dapat dituliskan pada persamaan:

P = τ.A

Pada eksperimen dengan suatu fluida yang ditempatkan diantara dua pelat
sejajar yang lebar dimana pelat atas dapat digerakkan, sedangkan yang lainnya
diam, terlihat bahwa tegangan geser yang terjadi akan menimbulkan regangan
geser. Ketika pelat atas digerakkan, akan trerjadi perpindahan sudut (δβ) antara
titik-titik awal fluida saat pelat atas diam dengan titik-titik fluida setelah pelat atas
digerakkan dengan gaya P sejauh δa dengan kecepatan U tertentu. Perbedaan
sudut inilah yang disebut regangan geser. Nilai viskositas tergantung pada jenis
fluida dan temperatur fluida, dimana semakin besar temperatur viskositasnya akan
semakin kecil.

6.b. Onephase dan Multiphase


 Onephase
Aliran fluida onephase adalah aliran fluida yang dalam satu alirannya
hanya berupa satu wujud zat. Misalnya dalam suatu sistem perpipaan PDAM,
fluida yang dialirkan adalah air dalam bentuk cair mulai dari kolam penampung
hingga mulut keran konsumennya.

 Multiphase
Aliran fluida multiphase adalah aliran fluida yang dalam satu alirannya
dapat terdiri dari dua atau lebih wujud zat yang perubahannya terjadi secara
simultan. Misalnya dalam kolom destilasi, fluida yang mengalir mula-nula berupa
uap yang kemudian setelah didestilasi berubah menjadi cairan. Contoh lain adalah
pada sistem boiler dan kondensor dimana wujud fluida yang mengalir berupa
steam-cair.

7.b. Internal flow dan External flow


 Internal flow
Aliran dalam adalah aliran yang mengalir melalui saluran tertutup.
Contohnya lairan dalam pipa dan sambungan. Pada daliran dalam, gaya yang
berperan adalah gaya inersia dan viskositas. Analisis aliran ini memperhitungkan
geometri sistem yng berupa dimensi panjang. Selain itu, analisis aliran ini juga
memperhitungkan tingkat kekasaran permukaan dalam yang bersentuhan dengan
sistem aliran.

 External flow
Aliran luar berarti aliran yang melewati benda-benda yang terendam dalam
fluida. Contohnya aliran air disekitar kapal selam dan aliran udara disekitar bola
golf yang tengah melambung di udara. Analisis aliran ini memperhitungkan
geometri benda, yaitu benda dua dimensi, simetri sumbu, dan tiga dimensi. Selain
itu, analisis aliran ini juga mempertimbangkan karakteristik benda, apakah benda
tersubut dibuat mulus seperti arur (seperti mobil balap) atau tumpul (seperti
parasut).
8.b. Rotational dan Irrotational
 Rotational
Aliran rotasional terjadi apabila setiap partikel fluida mempunyai
kecepatan sudut terhadap pusat massanya. Hal ini dapat diartikan bahwa aliran
rotasional (partikel fluida yang berotasi) terjadi apabila distribusi kecepatan tidak
merata.
 Irrotational
Aliran tak rotasional terjadi apabila distribusi kecepatan di tiap dinding
batas merata sehingga patikel fluida tersebut tidak berotasi terhadap pusat
massanya.

C. Sifat- Sifat Fluida


1.c Densitas
Densitas adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.
Semakin tinggi densitas suatu benda, maka semakin besar pula massa
setiap volumenya. Densitas rata-rata setiap benda merupakan total massa
dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki densitas
lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah
daripada benda bermassa sama yang memiliki densitas lebih rendah
(misalnya air).
Densitas berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki
densitas yang berbeda. Densitas merupakan salah satu parameter
terpenting dalam mempelajari dinamika laut. Perbedaan densitas yang
kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan pemanasan di
permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat. Oleh karena
itu penentuan densitas merupakan hal yang sangat penting dalam
oseanografi.

2.c.Viskositas
Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluida terhadap
perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya diterima sebagai
"kekentalan", atau penolakan terhadap penuangan. Viskositas
menggambarkan penolakan dalam fluida kepada aliran dan dapat dipikir
sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluid. Air memiliki
viskositas rendah, sedangkan minyak sayur memiliki viskositas tinggi.
Fluida adalah sub-himpunan dari fase benda, termasuk cairan, gas,
plasma, dan padat plastik. Fluida memiliki sifat tidak menolak terhadap
perubahan bentuk dan kemampuan untuk mengalir (atau umumnya
kemampuannya untuk mengambil bentuk dari wadah mereka). Sifat ini
biasanya dikarenakan sebuah fungsi dari ketidakmampuan mereka
mengadakan tegangan geser (shear stress dalam ekuilibrium statik).
Konsekuensi dari sifat ini adalah hukum Pascal yang menekankan
pentingnya tekanan dalam mengkarakterisasi bentuk fluid.
Fluid dapat dikarakterisasikan sebagai:
• Fluida Newtonian
• Fluida Non-Newtonian
Bergantung dari cara "stress" bergantung ke "strain" dan turunannya.
Fluida juga dibagi menjadi cairan dan gas. Cairan membentuk permukaan
bebas (yaitu, permukaan yang tidak diciptakan oleh bentuk wadahnya),
sedangkan gas tidak..

Sumber :
Boogs,. Sam., Principles of sedimentology and stratigraphy., 1995 Prentice Hall

Fritz., and Moore., Basics of stratigrapy and sedimentology., 1988., John wiley &
sons., Inc

https://www.academia.edu/8747750/Sifat-Sifat_Fluida

http://avtr-eng-d-24.blogspot.co.id/2012/08/review-perbedaan-jenis-dan-sifat-
aliran.html

https://www.slideshare.net/EzronWenggo/fenomena-perpindahan