Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik
maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin sampai
tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan sebelum hamil ( 6
minggu ). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate post partum dalam 24
jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late post partum period (
minggu kedua sampai minggu ke enam)..Potensial bahaya yang sering terjadi adalah pada
immediate dan early post partum period sedangkan perubahan secara bertahap
kebanyakan terjadi pada late post partum period.
Bahaya yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau
HPP (Haemorrhage Post Partum). Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska
persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc
segera setelah bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat persalinan sulit
karena bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain pada alas tidur.
POGI, tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang
terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien
mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea,
sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar HB < 8 gr %.

1 SistemReproduksi -Post Partum-


1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Post Partum ?
2. Sebutkan adaptasi biologis post partum ?
3. Sebutkan fisiologis post partum dengan Sectio Caessaria berdasarkan
TTV, sistem pernapasan, sistem kardiovaskuler, sistem gastrointestinal,
sistem reproduksi, sistem perkemihan, sistem endokrin, sistem integumen,
sistem muskuloskeletal ?
4. Sebutkan psikologis post partum ?
5. Bagaimana cara perawatan pada pasien post partum dengan SC ?
6. Bagaimana Proses pembentukan ASI dan manajemen laktasi ?
7. Sebutkan alat-alat kontrasepsi ?
8. Bagaimana Penyuluhuan Kesehatan kepada pasien post partum ?

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui definisi Post Partum
2. Untuk mengetahui adaptasi biologis post partum
3. Untuk mengetahui fisiologis post partum
4. Untuk mengetahui psikologis post partum
5. Untuk mengetahui perawatan pada pasien post partum dengan SC
6. Untuk mengetahui proses pembentukan ASI dan manajemen laktasi
7. Untuk mengetahui alat-alat kontrasepsi
8. Untuk mengetahui penyuluhan kesehatan pada pasien post partum

2 SistemReproduksi -Post Partum-


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Periode pasca partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai
organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini
kadang-kadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan (Bobak,
2004).
Nifas adalah masa yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir kira-
kira enam minggu dimana seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti
sebelum hamil (Sarwono Prawiro Harjo, 1997 : 237)
Masa nifas (peurperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan
selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini
yaitu 6-8 minggu. (Rustom Mochtar, 1998 : 115).
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga
rahim dengan mengiris dinding perut dan dinding rahim. (obstetri operatif, 138)
Sectio caesaria ialah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding rahim. (Kapita selekta jilid 1, 344)

2.2 Adaptasi Biologis


Masa post partum dibagi tiga tahap :
 Periode immediate post partum/kala IV ( dalam 1 jam pertama )
 Periode early post partum ( minggu pertama )
 Periode late post partum ( minggu kedua sampai keenam )
 Potensial bahaya lebih sering terjadi pada periode immediate dan early
post partum yaitu resiko terjadinya syok hipovolemia dan hemorrhage.

2.3 Fisiologi post partum dengan Sectio Caessaria


1) Tanda vital
a) Tekanan Darah

3 SistemReproduksi -Post Partum-


Tekanan darah sedikit berubahan atau menetap. Hipotensiortostatik,
yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan
segera setelah berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama. Hal ini
merupakan akibat pembengkakan limpa yang terjadi setelah wanita
melahirkan.
b) Nadi
Denyut nadi dan volume sekuncup serta curah jantung tetap tinggi
selama jam pertama setelah bayi lahir. Kemudian mulai menurun
dengan frekuensi yang tidak diketahui. Pada minggu ke-8 sampai ke-10
setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil.
c) Pernapasan
Pernapasan harus berada dalam rentang normal sebelum melahirkan.
d) Temperatur
Selama 24 jam pertama dapat meningkat sampai 38 derajat celcius
sebagai akibat efek dehidrasi persalinan. Setelah 24 jam wanita harus
tidak demam.

2) Sistem kardiovaskuler
Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor,
misalnya kehilangan darah selama melahirkan dam mobilisasi serta
pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan darah
merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi
terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang
menyebabkan volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume
sebelum hamil.
Hipervolemia yang diakibatkan kehamilan (peningkatan sekurang-
kurangnya 40% lebih dari volume tidak hamil) menyebabkan kebanyakan
ibu bisa menoleransi kehilangan darah saat melahirkan. Banyak ibu
kehilangan 300-400 ml darah sewaktu melahirkan bayi tunggal
pervaginam atau sekitar dua kali lipat jumlah ini pada saat operasi sesarea.

4 SistemReproduksi -Post Partum-


Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat
sepanjang masa hamil. Segera setelah melahirkan, keadaan ini akan
meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit.
Selama 72 jam pertama setelah bayi lahir volume plasma yang
hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Penurunan volume
plasma dan peningkatan sel darah merah dikaitkan dengan peningkatan
hematokrit pada hari ketiga sampai hari ketujuh pascapartum. Semua
kelebihan sel darah merah akan menurun secara bertahap sesuai dengan
usia sel darah merah tersebut.
Leukosit normal pada kehamilan rata-rata sekitar 12.000/mm3.
Selama 10-12 hari pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara 20.000-
25.000/mm3 merupakan hal yang umum.
Faktor-faktor pembekuan darah dan fibrinogen biasanya meningkat
selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium. Keadaan
hiperkoagulasi yang bisa diiringi kerusakan pembuluh darah dan
imobilitas, mengakibatkan peningkatan risiko tromboembolisme.

3) Sistem Reproduksi
a. Involusi uterus
Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah,
kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada
promontorium sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan
besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu kira-kira
sebesar grapefruit (jeruk asam) dan beratnya kira-kira 1000 g.
Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm
diatas umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi
berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampa 2 cm setiap 24
jam. Uterus tidak dapat dipalpasi pada abdomen di hari ke-9 pascapartum.
Uterus, yang pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat
sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 g 1 minggu setelah
melahirkan dan 350 g (11 sampai 12 ons) 2 minggu setelah lahir.

5 SistemReproduksi -Post Partum-


Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi.
Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50 sampai 60 g.
b. Kontraksi uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna setelah bayi
lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin
yang sangat besar. Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi
pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan
pemnentukan pembekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar
hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi
pembuluh darah, dan membantu hemostasis.
Selama 1-2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi bisa
berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk
mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan
oksitoksin secara intravena atau intramuskular diberikan segera setelah
plasenta lahir.
Pada primipara, tonus uterus meningkat sahingga fundus pada
umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering
dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang
awal peurperium.
Regenerasi endometrium selesai pada akhir minggu ketiga
pascapartum, kecuali pada bekas tempat plasenta. Regenerasi pada tempat
ini biasanya tidak selesai sampai enam minggu setelah melahirkan.
c. Lokhea
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir sering kali disebut
Lokhea, mula-mula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah
tua atau merah coklat. Rabas ini dapat mengandung bekuan darah kecil.
Selama 2 jam pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus
tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi.
Setelah waktu tersebut, aliran lokhea yang keluar harus semakin
berkurang.

6 SistemReproduksi -Post Partum-


Lokhea rubra terutama mengandung darah dan debris desidua serta
debris trofoblastik. Aliran menyembur, menjadi merah muda atau coklat
setelah 3 sampai 4 hari (Lokhea serosa). Lokhea serosa terdiri darah
lama (old blood), serum, leukosit, dan debris jaringan. Sekitar 10 hari
setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi kuning sampai putih (Lokhea
alba). Lokhea alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus,
serum, dan bakteri. Lokhea alba bisa bertahan selama dua sampai enam
minggu setelah bayi lahir.
Apabila wanita mendapatkan pengobatan oksitoksin, tanpa
memandang cara pemberiannya, Lokhea yang mengalir biasanya sedikit
sampai efek obat hilang. Setelah operasi sesarea, jumlah lokhea yang
keluar lebih sedikit. Cairan lokhea biasanya meningkat, jika klien
melakukan ambulasi dan menyusui. Setelah berbaring ditempat tidur
selama kurun waktu yang lama, wanita dapat mengeluarkan semburan
darah saat ia berdiri, tetapi hal ini tidak sama dengan perdarahan.
Lokhea rubra yang menetap pada awal periode pascapartum
menunjukkan perdarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau
membran yang tertinggal. Terjadinya perdarahan ulang setelah hari ke-10
pascapartum menandakan adanya perdarahan pada bekas tempat plasenta
yanng mulai memulih. Namun, setelah 3-4 minggu, perdarahan mungkin
disebabkan oleh infeksi. Lokhea serosa atau Lokhea alba yang berlanjut
bisa menandakan endometritis, terutama jika disertai demam, rasa sakit,
atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran
cairan. bau Lokhea menyerupai bau cairan menstruasi, bau yanng tidak
sedap biasanya menandakan infeksi.
d. Payudara/Laktasi
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara
selama wanita hamil (estrogen, progesteron, Human Chrionic
gonadotropin, prolaktin, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi
lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini kembali ke kadar
sebelum hamil sebagian di tentukan oleh apakah ibu menyusui atau tidak.

7 SistemReproduksi -Post Partum-


Apabila wanita memilih untuk tidak mennyusui kadar prolaktin
akan turun dengan cepat. Sekresi dan ekskresi kolostrum menetap selama
beberapa hari pertama setelah wanita melahirkan. Pada hari ketiga dan
keempat pascapartum bisa terjadi pembengkakan(engorgement).
Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak nyaman
biasanya berkurang dalam 24-36 jam.
Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan), tetapi
kantong susu yang terisi berubah possisi dari hari ke hari. Sebelum laktasi
dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni
kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Stelah laktasi dimulai, payudara
terba hangat dan keras ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap sekitar 48
jam. Puting susu harus diperiksa untuk dikai erektilitasnya, sebagai
kebalikan dari inversi, dan untuk menemukan apakah ada fisura atau
keretakan.

4) Sistem endokrin
Selama periode pasca partum, terjadi perubahan hormon yang
besar. Pengeluaran placenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-
hormon yang diproduksi oleh organ- organ tersebut.
Kadar estrogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah
plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pasca
partum. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan
payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi
selama masa hamil. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen
mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi
daripada wanita yang menyusui pada pasca partum hari ke 17.

5) Sistem defekasi

Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai
tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus
otot usus menurun selama persalinan dan pada awal pasca partum, diare

8 SistemReproduksi -Post Partum-


sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, atau
dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri
yang dirasakannya diperinium akibat apisiotomi, laserasi, atau hemoroid.
Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus
kembali ke normal.

6) Sistem integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat
kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak
menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Pada beberapa wanita,
pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap. Kulit yang meregang pada
payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak
hilang seluruhnya.
Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu
hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut
kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya menetap. Diaforesis ialah
perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem integumen.

7) Sistem muskuloskletal
Adaptasi sistem muskuluskletal ibu yang terjadi selama masa hamil
berlangsung secara terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi ini
mencakup hal-hal yang mambantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan
perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilisasi sendi
lengkap pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita melahirkan. Akan
tetapi, walaupun semua sendi kembali ke keadaan normal sebelum hamil,
kaki wanita tidak mengalami perubahan setelah melahirkan. Wanita yang
baru menjadi ibu akan memerlukan sepatu yang ukurannya lebih besar.

8) Sistem neurologi
Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan
adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma

9 SistemReproduksi -Post Partum-


yanng dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. Nyeri kepala
pascapartum bisa disebabkan berbagai keadaan, termasuk hipertensi akibat
kehamilan, stres, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang
tulang punggung untuk anestesi. Lama nyeri kepala bervariasi dari 1-3 hari
sampai beberapa minggu, tergantung pada penyebab dan efektivitas
pengobatan.

2.4 Perubahan Psikologis selama post partum menurut Rubin (1997)


1. Taking in (Ketergantungan)
 Terjadi pada hari ke 1-2 PP
 Ibu lebih pasif, kurang memperhatikan bayinya bahkan ibu sering
mengingat persalinan yang baru saja berlangsung
2. Taking Hold (Mandiri dan Ketergantungan)
 Terjadi pd hari ke 3-10 PP
 Ibu ada inisiatif utk memperhatikan bayinya ttp masih ketergantungan
org lain dlm hal memenuhi kebutuhan dirinya maupun bayinya
3. Letting Go (Mandiri)
 Terjadi > hari ke 10
 Ibu sudah mampu mandiri, melakukan segala sesuatu dengan
sendirinya

2.5 Perawatan Post Partum pada pasien SC


1. Analgesia
Untuk wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntikan
intramuskuler 75 mg mecriain setiap 3 jam sekali bila diperlukan untuk
mengatasi rasa sakit.
2. Tanda-tanda vital
Perlu dievaluasi setiap 4 jam yaitu tekanan darah, pengeluaran urin,
dandarah yang hilang.
3. Terpi cairan dan diit

10 SistemReproduksi -Post Partum-


Masa nifas akan di tandai dengan cairan yang tertahan selama kehamilan
yang kemudian jumlah menjadi berlebih pada saat persalinan di
selesaikan.
4. Vesika urinaria dan usus
Kateter harus sudah di lepas dari vesika urinaria setelah 0012 jam post
operasi atau pada esok paginya setelah operasi.
5. Ambulasi
Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawat
dapat bangun dari tempat tidur sekurang-kurangnya dua kali.
6. Perawatan luka
Secara normal jahitan di angkat pada hari ke empat.
7. Perawatan payudara
Pemberian ASI dapat di berikan pada hari ke dua post partum.

2.6 Fisiologi Laktasi


menyusui tergantung pada gabungan kerja hormon, refleks, dan perilaku
yang dipelajari ibu dan bayi baru lahir dan terdiri dari faktor-fator berikut :
a. Laktogenesis (permulaan produksi susu)
Di mulai pada akhir kehamilan. Kolostrum di sekresi akibat stimulasi sel-sel
alveolar mamaria ole laktogen plasenta, suatu substansi yang menyerupai
prolaktin.
b. Produksi susu
Sekresi susu berkaitan dengan jumlah produksi hormon prolaktin yang cukup dan
pengeluaran susu yang efisien.
c. Ejeksi susu
Pergerakan susu dari alveoli (di mana susu di sekresi oleh suatu proses ekstrusi
dari sel) ke mulut bayi merupakan proses yang aktif di dalam payudara.

2.7 Reflek Penunjang ASI


Reflek penunjang ASI pada ibu adalah :
1. Reflek prolaktin
Reflek ini merupakan reflek neuro hormonal yang mengatur
produksi ASI. Pada penghisapan bayi terjadi rangsangan pada papila dan

11 SistemReproduksi -Post Partum-


arscola mamae, rangsang dikirim menuju nervus dan terus ke hypotalamus
dimana terdapat prolaktin reliasing faktor (PRF) yang mengalir ke dalam
darah lalu ke kelenjar hypophisa anterior, terjadilah kemudian pengeluaran
prolaktin ke sirkulasi yang menyebabkan pembentukan air susu oleh sel
kelenjar mamae (sel acini). Kontiuitas sekresi prolaktin guna keberhasilan
lektasi ini tergantung pada :
a. Hisapan bayi
b. Seringnya menyusu
c. Jarak antara waktu menyusu
2. Reflek let down
Reflek ini disebut juga reflek pemancaran air susu dengan adanya
rangsangan pada papila dan arcola mamae waktu bayi menghisap.
Pada waktu bersamaan dari lobus posterior hypopise dikeluarkan
oxyto ke peredaran darah yang mana oxytoxin ini akan merangsang sel-sel
myotop dalam alveoli mamae untuk berkontraksi sehingga menyebabkan
keluar ASI, reflek ini bisa dihambat oleh faktor external yang
mengakibatkan terjadinya ichemi pada jaringan kapiler alveoli. Hal ini
bisa menghalangi transport oxytoxin ke laveoli. Reflek ini dinamakan
reflek psikosomatik yang sangat dipengaruhi oleh emosi. Setelah
persalinan fungsi sitim endokrin terjadi perubahan kemudian fungsi
endokrin di bawah ini mengalami peningkatan antara lain : tyroid, interior
pituitary gorado tropin hormon, prolaktin dan acytoxin.
Reflek penunjang ASI pada bayi :
1. Reflek menangkap/mencari (rooting)
Sentuhan pada bibir di sekitar mulut, bayi membuka mulut dan menangkap
putting susu.
2. Reflek menghisap (sucking)
Putting dalam mulut bayi menyentuh langit-langit / palatum molle lalu bayi
mengisap.

12 SistemReproduksi -Post Partum-


2.8 Kontrasepsi
Yaitu upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap.
1. kontrasepsi barier
 Kondom
 Diafragma
Yaitu mangkuk karet yang fleksibel dengan pinggir yang mudah di
bengkokan dan di sisipkan di bagian atas vagina, mencegah sperma masuk
ke saluran reproduksi bagian atas untuk mencegah terjadinya konsepsi.
 Obat-obat spermatisid (jelly, tablet busa, suppositoria, tissue KB)
Di pakai di vagina untuk menginaktifkan sperma sebelum melewati serviks
karena mengandung bahan yang akan merusak membran sel spermadan
mempengaruhi mobilitas dan kemampuan sperma membuahi ovum.
2. Kontrasepsi Hormonal
 Pil
Efek samping : Sedikit pasien mengalami efek samping seperti mual,
depresi, sakit kepala, penambahan berat badan, keram, dan nyeri pada
payudara. Biasanya gejala-gejala ini hilang setelah 3 atau 4 bulan.
Keuntungan : Menurunkan kram dan perdarahan, siklus menstruasi yang
teratur, menurunkan insiden anemia, kemungkinan menurunkan jerawat,
mengurangi insiden infeksi pelvis, perlindungan terhadap kanker uterus dan
ovarium, perlindungan terhadap penyakit ganas.
Wanita dengan menstruasi tdk teratur (kurang dari 6x selama 1 tahun) jangan
menggunakan kontrasepsi ini karena akan membutuhkan waktu lama bagi
ovarium untuk kembali berfungsi ketika berhenti menggunakan kontrasepsi
ini.
Kontra indikasi :
 Absolut : penyakit serebrovaskular, kanker payudara, kerusakan
fungsi hepar, hiperlipidemia kongental, perdarahan vagina yang
tidak terdiagnosa.
 Relatif : hipertensi, ikterus akibat empedu, perokok, penyakit sel
sabit, leiomioma (tumor fibroid) karena dapat memperbesar fibroid.
3. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
 Intra Uterine Device (IUD)

13 SistemReproduksi -Post Partum-


Ini menimbulkan reaksi radang endometrium dengan sebukan leukosit yang
dapat menghancurkan sperma. Dan mengandung tembaga menghambat
khasiat anhidrase karbon dan fosfatase alkali, memblok bersatunya sperma
dan ovum, mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopi dan
menginaktifkan sperma.
Kontraindikasi :
 Mutlak : kehamilan, infeksi aktif traktus genetalia, tumor traktus
genetalia, metroragia
 Relatif : kelainan uterus (mioma, polip, jaringan parut bekas seksio),
tumor ovarium, gonore, servisitis, dismenore, stenosis kanalis
servikalis, dan panjang kavum uteri kurang dari 6,5 cm.
Efektif untuk waktu yang lama, dan tampaknya tidak mempunyai efek
sistemik dan mengurangi kemungkinan kesalahan pasien.
Efek samping :
 Ringan : perdarahan (menoragia atau spotting menoragia), rasa nyeri
dan kejang perut, sekret vagina lebih banyak, dan gangguan pada
suami.
 Serius : perforasi uterus, inveksi pelvik, dan endometritis

2.9 Penyeluhan Kesehatan


1. Sedapat-dapatnya jangan hamil dulu selama 1 tahun setelah di SC.
2. Nutrisi. Walaupun gizi hanya mempengaruhi kuantitas bukan kualitas ASI namun
konsumsi makanan sebaiknya jangan di batasi.
3. Istirahat dan tidur yang cukup.
4. Posisi ibu / bayi yang benar saat menyusui dapat di capai bila bayi menyusui
dengan tenang, menempel betul pada ibu. Mulut dan dagu bayi menempel pada
payudara dan mulut membuka lebar sehingga sebagian besar areola tertutup pada
mulut bayi, ASI diisap pelan – pelan dengan kuat.
5. Jangan menyusui hanya terfokus pada 1 payudara tetapi bergantian agar tidak
terjadi bengkak sebelah.
6. Di luar waktu menyusui jangan berikan dot atau empeng, berikan ASI dengan
sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya.
7. Hendaknya bayi di berikan ASI eksklusif yaitu pemberian ASI tanpa makanan
pendamping ASI selama 6 bulan.

14 SistemReproduksi -Post Partum-


8. Bila ibu bekerja, berikan makanan pendamping ASI saat jam kerja sehingga ASI
dapat tetap di berikan saat ibu di rumah.

2.10 Patofisiologi
post partum

terputusnya mikroorganisme perubahan pada post partum

kontinunitas jaringan terjadi infeksi sistem reproduksi sistem perkemihan

pelepasan zat kimia Resiko terjadi kontraksi obstruksi uretra

Bradikinin histamin infeksi uterus Retensi urine

prostaglandin cemas Gg.Pola

resep ninociceptor Gg.Istirahat eliminasi BAK


(ujung saraf bebas) tidur
diantaranya ke
sum-sum tulang belakang

ke hipotalamus sistem Laktasi perubahan psikis

korteks cerebri gastrointestinal pengeluaran ASI adanya peran

Nyeri alat pencernaan kurang sebagai ibu

mendapat tekanan isapan bayi Kurang

peristaltik usus kurang informasi

menurun Bendungan air merawat bayi

konstipasi susu ibu

Gg.Pola BAB

15 SistemReproduksi -Post Partum-


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik
fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah
bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati
keadaan sebelum hamil ( 6 minggu ). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap :
Immediate post partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu
pertama).
Perubahan Psikologis selama post partum, adalah :
1. Taking in (Ketergantungan)
 Terjadi pada hari ke 1-2 PP
 Ibu lebih pasif, kurang memperhatikan bayinya bahkan ibu sering
mengingat persalinan yang baru saja berlangsung
4. Taking Hold (Mandiri dan Ketergantungan)
 Terjadi pd hari ke 3-10 PP
 Ibu ada inisiatif utk memperhatikan bayinya ttp masih ketergantungan
org lain dlm hal memenuhi kebutuhan dirinya maupun bayinya
5. Letting Go (Mandiri)
 Terjadi > hari ke 10
 Ibu sudah mampu mandiri, melakukan segala sesuatu dengan
sendirinya

16 SistemReproduksi -Post Partum-


DAFTAR PUSTAKA
1. Bobak, Keperawatan Maternitas, Jakarta : EGC, 2004
2. Kapita selekta jilid 1, Jakarta : EGC

17 SistemReproduksi -Post Partum-