Anda di halaman 1dari 6

Infeksi merupakan interaksi antara mikroorganisme penjamu rentan yang terjadi melalui kode transmisi

kuman yang tertentu. Di rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya. Infeksi dapat terjadi antar pasien, dari
pasien ke petugas, dari petugas ke petugas. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di
rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai
dirawat disebut infeksi nosocomial. Terjadinya infeksi nosocomial akan menimbulkan banyak kerugian
bagi penderita seperti semakin lamanya perawatan penyakit, semakin menderita pasien oleh sakit dan
meningkatnya biaya pengobatan.

Infeksi nosocomial menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak dewasa ini dan telah banyak
perkembangan yang dibuat guna mencari penyebab meningkatnya angka kejadian infeksi nosocomial.
Data WHO pada tahun 2002 menyebutkan angka terjadinya infeksi nosocomial diseluruh dunia sebesar
8,7 persen atau sejumlah 1.4 juta jiwa pasien mendapat infeksi nosocomial ketika dirawat di rumah sakit.

1.2 Rumusan masalah

Bagaimana peran dokter muda dalam mencegah infeksi nosocomial


BAB II

ISI

2.1 Definisi dan batasan infeksi nosocomial

Dokter muda adalah sarjana lulusan perguruan tinggi pendidikan dokter yang menjalankan profesi
di sarana kesehatan yang telah ditunjuk sebelum memperoleh hak untuk mendapatkan surat ijin praktek
yang ditetapkan konsul kedokteran Indonesia.

Infeksi nosocomial adalah infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien dirawat di rumah
sakit. Infeksi nosocomial sukar diatasi karena sebagai penyebabnya adalah mikroorganisme atau bakteri
yang sudah resisten terhadap antibiotika. Suatu infeksi dapat disebut infeksi nosocomial bila memenuhi
kriteria sebagai berikut :

1. Apabila pada waktu di rawat di rumah sakit tidak dijumpai tanda-tanda klinik infeksi tersebut.
2. Pada waktu penderita mulai dirawat tidak dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut.
3. Tanda-tanda infeksi tersebut baru timbul sekurang-kurangnya 3x24 jam sejak mulai dirawat.
4. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (residual) dari infeksi sebelumnya.
5. Bila pada saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi, tapi terbukti bahwa
infeksi didapat penderita pada waktu di rumah sakit.

2.2 Epidemiologi

Infeksi nosocomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di Negara miskin
dan Negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8.7 persen dari 55 rumah sakit
dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur tengah, Asia Tenggara dan Pasific tetap menunjukkan
adanya infeksi nosocomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10 persen.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologio sedikit demi sedikit
menurunkan resiko infeksi nosocomial. Namun semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit
immunocompromised, bakteri yang resisten antibiotic, super infeksi virus dan jamur, dan prosedur
invasive, masih menyebabkan infeksi nosocomial menimbulkan kematian sebanyak 88.000 kasus setiap
tahunnya.

2.3 Faktor penyebab perkembangan infeksi nosocomial

Secara umum factor yang mempengaruhi terjadinya nosocomial terdiri dari 2 bagian besar yaitu
faaktor endogen(umur, seks, penyakit penyerta, daya tahan tubuh, dan kondisi – kondisi lokal) dan factor
eksogen (lama penderita dirawat, kelompok yang merawat, alat medis, serta lingkungan).

Mekanisme pasien terkena infeksi nosocomial adalah pasien mendapat infeksi nosocomial
melalui dirinya sendiri (autoinfeksi), melalui petugas yang merawat di RS, melalui pasien yang dirawat di
tempat atau di ruangan yang sama, melalui keluarga pasien yang berkunjung, melalui peralatan yang
dipakai.

2.3.1 Agen Infeksi

Pasien akan terpapar berbagai mikroorganisme selama dirawat di RS. Kontak antar pasien dan
berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya factor lain
yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosocomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada
karakteristik mikroorganisme, resistensi terhadap antibiotika, tingkat virulensi, dan banyaknya materi
infeksius.

Etiologi infeksi nosocomial secara umum dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Pada tahun
1981 penyebab infeksi nosocomial coccus gram positif mengalami peningkatan yang mencolok. Pada
tahun 1979 – 1980 hanya 2 – 3 epidemi yang disebabkan oleh coccus gram positif. English Medical
Literature melaporkan pada tahun 1983 sampai akhir tahun 1991 mikroba penyebab infeksi nosocomial
dikelompokkan sebagai berikut:

1. Gram positif.
Penyebab terbanyak dari infeksi gram positif adalah MRSA (Methicilin Resisten
Staphylococcus Aureus) diikuti dengan streptococcus spesies, staphylococcus aureus,
enterococcus dan koagulan negative dari staphylococcus spesies.
2. Gram Negatif
Infeksi nosocomial yang disebabkan oleh gram negative juga mengalami peningkatan
dibandingkan pada tahun 1980. Mikroba yang berperan dalam infeksi nosocomial disebabkan
oleh salmonella sp., serratia sp., pseudomonas sp. , atau klebsiella sp.
3. Virus
Infeksi nosocomial yang disebabkan oleh virus adalah adenovirus, rotavirus, influenza A,
measles, hepatitis A.
4. Organisme lain
Organisme lain penyebab nosocomial adalah scabies, candida, mycobacterium, C. defficile,
legionella.

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur, dan parasite dapat menyebabkan infeksi
nosocomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain ( cross
infection) atau dapat disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenus infection).
Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan oleh factor eksternal, yaitu penyakit
yang penyebarannya melalui mekanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril.

Penyakit yang didapat dari rumah sakit ini kebanyakan disebakan oleh mikroorganisme yang
umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang
normal atau sering disebut flora normal.

Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan
bakteri disini sangata penting dalam melindungi tubuh dari datanganya bakteri pathogen tetapi pada
beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah
terhadap mikroorganisme seperti Escherechia coli yang paling sering menjadi penyebab infeksi saluran
kemih.

Bakteri pathogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadis maupun
endemik. Seperti anaerob gram positif, clostridium yang dapat menyebabkan gangren, bakteri gram
positif staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan
pada paru, jantung, dan infeksi pembuluh darah, serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
Pseudomonas sering ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran
pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari
semua infeksi di rumah sakit. Serratia marcescens dapat menyebabkan infeksi serius [ada luka bekas
jahitan, paru, dan peritoneum.

Banyak pula kemungkinan infeksi nosocomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk
virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfuse, dialysis, suntikan dan endoskopi,
Respiratory Syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enterovirus yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut
atau melalui rute fecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi
darah. Rute penularan untk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi
traktus respiratorius, penyakit kulit, dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi
nosokomial adalah cytomegalovirus, ebola, virus influenza, herpes simplex virus, dan varicella zoster virus
juga dapat ditularkan.

Beberapa parasite seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa
maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasite dapat timbul selama pemberian obat antibiotic bakteri
dan obat imunosupressan, contohnya infeksi dari candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus
neoformans, Cryptosporidium.

2.3.2 Respon dan toleransi tubuh pasien

Factor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini
adalah umur, status imunitas penderita, penyakit yang diderita, obesitas dan malnutrisi, penggunaan
obat-obatan imunosupressan dan steroid dan intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan
diagnose san terapi.

Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi
kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia,
diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE, dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh
terhadap infeksi dari kuman yang semula yang bersifat oportunistik. Obat-obatan yang bersifat
imunosuppresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan
penunjang dan terapi seperti biopsy, endoskop[I, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga
meningkatkan resiko infeksi.

2.3.3 Resistensi terhadap antibiotic

Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotik penicillin Antara tahun 1950-1970, banyak
penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. Bagaimanapun keberhasilan ini
menyebabkan penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan dari antibiotik. Banyak mikroorganisme yang
kini menjadi lebih resisten. Meningkatkan resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas
terutama terhadap pasien yang immunocompromised. Resistensi dari bakteri ditransmisikan antar pasien
dan factor resistensinya dipindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang terus menerus ini justru
meningkatkan multiplikasi dan penyebaran strain yang resisten. Penggunaan yang irrasional tersebut
meliputi penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol, dosis antibiotika yang tidak
optimal, terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat yang disebabkan oleh
kesalahan diagnose.