Anda di halaman 1dari 16

2.

1 Prosedur Diagnostik pada Penyakit Pernafasan


2.1.1 Metode Morfologi
Prosedur diagnostik yang digunaka untuk mendeteksi penyakit paru dapat dipilah menjadi
metode-metode yang terutama bersifat morfologis atau fisiologis. Yang termasuk metode
morfologis adalah teknik radiologi, endoskopi, pemeriksaan biopsi dan sputum. Pengukuran
gas darah dan uji fungsi ventilasi merupajkan uji yang mengungkapkan fungsi fisiologis.
1. Teknik Radiologi
Toraks merupakan tempat yang ideal untuk pemerikssaan radiologi. Parenkim paru yang
berisi udara memberikan resistensi yang kecil terhadap jalannya sinar X, karenaa itu
parenkim menghasilkan bayangan yang sangat bersinar-sinar. Jaringan lunak dinding dada,
jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, serta diafragma lebih sukar ditembus sinar X
dibandingkan parenkim paru sehingga bagian-bagian tubuh ini tamak lebih padat pada
radiogram. Struktur toraks yang bertulang (termasuk iga, sternumdan vertebra) lebih sulit lagi
ditembus, sehingga bayangannya lebih padat lagi. Metode radiologi yang biasanya digunakan
untuk menemukan penyakit paru adalah radiografi dada rutin, tomografi komputer,
angiografi, serta pemindaian perfusi dan ventilasi paru.
2. Radiografi Dada Rutin
Pemeriksaan raadiograf dada rutin dilakukan pada suatu jarak standar setelah inspitaasi
maksimum dan menahan napas untuk menstabilkan diafrgama. Radiograf diambil dengan
sudut pandang posteroanterior dan kadang juga diambil dari sudut pandang lateral dan
melintang. Radiograf yang dihasilkan memberikan informasi berikut :
1. Status rangka toraks termasuk iga-iga, pleura dan kontur diafragma dan saluran napas
atas pada waktu memasuki dada
2. Ukuran, kontur dan posisi mediastinum dan hilus paru, termasuk jantung, aorta,
kelenjar limfe, dan akar percabangan bronkus
3. Tekstur dan derajat aerasi parenkim aru
4. Ukuran, bentuk, jumlah dan lokasi lesi paru termasuk kavitasi, tanda fibrosis dan
daerah konsolidasi
Penampilan radiograf dada yang normal bervariasi dalam beberapa hal bergantung
pada jeis kelamin, usia subjek yang berlainan, dan kedaan tepat merupakan suatu keahlian
yang memerlukan latihan cukup lama dan radiologi ini merupakan alat pembantu yang
berharga bagi dokter kalau digabungkan dengan pengamatan-pengamatan.
3. Tomografi Komputer (CT scan)
Tomografi komputer (CT scan) merupakan satu teknik radiologik yang serangkaian
radiografnya, masing-masing merupakan gambaran dari suatu “irisan paru” yang diambil
sedemikian rupa sehingga dapat dibentuk suatu gambaran yang cukup rinci. Banyak
bayangan abu-abu yang terlihat dengan CT scan yang dipadukan dengan radiograf dada
rutin; selain itu, lebih sedikit msalahyang timbul dalam mendeteksi ketidaknormalan karena
struktur normal yang tidak jelas seperti bila hanya menggunakan radiograf dada rutin. CT
scan berperan penting dalam mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang
utama bronkus, menentukan lesi pada pleura atau mediastinum(nodus, tumor, struktur
vaskular), dan secara umum untuk mengungkapkan sifat serta derajat kelaian bayangan yang
terdapat pada paru dan jaringan toraks lain. CT scan bersifat tidak infasif sehingga CT scan
mediastinum sering digunakan untuk menilai ukuran nodus limfe mediastinum dalam stadium
kanker paru, walaupun tidak seakurat bila menggunakan mediastinoskopi. CT scan telah
banyak digunakan dalam mengevaluasi diagnostik penyakit parenkim paru karena kemajuan
teknologi. Dengan CT scan resolusi tinggi (HRCT), ketebalan potongan melintang adalah 1
mm hingga 8 mm,sehingga dapat mengetahui banyak penyakit intertisial paru dan saluran
napas pada stadium dini, seperti fibrosis paru difus atau bronkoektasis.
4. Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI)
Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) menggunakan resonansi magnetik sebagai sumbaear
energi untuk mengambil gambaran potongan melintang tubuh. Dengan MRI gambaran dapat
diambil dalam berbgagai bidang (transversal, sagital, atau koronal); dapat membedakan
jaringan yang normal dan yang trekena penyakit, walaupun keduanya berada pada densitas
yang sama(keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan menggunakan CT scan);dan dapat
membedakan antara pembuluh darah ddengan struktur nonvaskular, walaupun tanpa
menggunakan zat kongtras. Namaun, karena MRI lebih mahal dibaningkan dengan CT scan,
MRI digunakan bila informasi yang diinginkan tidak diperoleh dengan alat yang lebih murah.
MRI khususnya, digunakan dalam mengevaluasi penyakit pada hilus dan mediastinum.
5. Ultrasound
Ultrasound tidak berguna dlam mengevaluasi penyakit parenkim paru. Namun, ultrasound
dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang akan timbul dan sering digunakan dalam
menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis.
6. Angografi Pembuluh Paru
Pola dan aliran ateria pulmonalis dapat didemonstrasikan dengan menyuntikan cairan
raadioopak melalui kateter yang di masukkan lewat vena lengan ke dalam atrium kanan,
ventrikel kanan, lalu kedalam arteria pulmonalis utama. Teknik ini digunakan untuk
menentukan lokasi emboli masif atau untuk mentukan derajat infark paru. Kelainan seperti
aneurisme atau perubahan vaskular yang sering terjadi pada emfisema juga dapat diketahui.
Namun, bila mash memungkinkan, lebih disukai teknik yang lebih sederhana untuk
mendeteksi penyakit paru. Risiko utama yang dapat terjadi pada angiografi adalah timbulnya
aritmia jantung saat kateter dimasukkan kedalam bilik jantung.
7. Pemindaian Paru
Pemindaian paru dengan memakai isotop walauoun merupakan metode yng kurang dapat
diandalkan untuk mendeteksi emboli paru, tetapi prosedur ini lebih aman dibandingkan
dengan angiografi. Kadang-kadang dilakukan pemindaian perfusi ventilasi paru. Pemindaian
perfusi dilakukan denganpenyuntikan mikrosfer albumin(biasanya berlabel teknetium 99m)
kedalam vena perifer; partikel ini tampak sebagai emboli yang bersifat sementara dalam
kapiler paru sebanding dengan aliran darah yang aktif. Distribsi radioaktivitas dihitung
dengan sebuah scintiscanner dan bayangannya direkam oleh kamera. Gambarannya hampir
selalu abnormal pada embolisme (daerah yang tidak mengadung radioaktif), tetapi tidak
sangat spesifik, karena kelaian ini juga ditemakan pada keadaan lain seperti emfisema dan
pneumonia. Pemindaian ventilasi memanfaatkan inhalasi bolus gas radioaktif, biasanya
memakai xenon-13. Pemindaian ventilasi paru biasanya tampaknormal pada embolisme,
tetapi tampak abnormal pada infark, pneumonia, dan emfisema.
Teknik pencitraan scintigraphic lain, yatu pencitraan menggunakan gallium 67, telah
digunakan untuk mendeteksi bdan mengevaluasi keadaan infeksi dan peradangan pada paru
yangbterkena. Pemindai gallium telah banayak digunakan untuk mendeteksi pneumocystis
carinii, yaitu penyebab pneumonia pada pasien dengan AIDS.
8. Bronkoskopi
Bronkoskopi merupakan teknik ynag memumngkinkan visualisasi langsung trakea dan
cabang-cabangutamanaya. Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis
karsinoma bronkogenik, tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkat benda asing.
Bronkoskopi konvensional berupa suatu pipa logam berlubang dengan sistem lensa cermin
berlampu. Pipa ini dengan mudah dpaat di masukan ke dalam percabangan trakeobronkial
sesudah pasien diberi anatesia lokal. Fiberoptic bronchoscope yang lebih baru merupakan
suatu alat yang fleksibel dan dapat meghantarkan cahaya dan bayangan yang jelas sampai ke
sudut-sudut. Alat ini berdiameter kecil dan lentur sehingga mengakibatkan trauma yang lebih
ringan bika dibandingkan dengan alat bonkoskop logam konvensional. Fiberoptic
bronchoscope memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan pda cabang-cabang bronkus
yang lebih kecil dan juga dapat dimasukan melalui hidung. Biopsi jaringan dpat dilakukan
dengang mempergunakan forsep kecil atau sikat yang lentur pada ujung bronkoskop tersebut.
Tabung penghisap juga dapat dimasukan melalui bronkoskop untuk mengambil sekret yang
diperlukan untuk pemeriksaan biakan dan sitologi. Fiberoptic bronchoscope ini dpat dipakai
di bangsal, maeskipun tempat terbaiknya adalah ruang operasi.
Sesudah menjalanai bronkoskopi, pasien tidak boleh makan atau minum selama
paling tidak 2-3 jam, yaitu sampai refleks muntah timbul lagi; kalau tidak, pasien mungkin
akan mengalami aspirasi ke dalam percabangan trakeobronkial. Timbulnya kembali refleks
muntah ini dapat di tes dengan menyentuhkan suatu aplikator dari kattun pada bagian
belakang kerongkongan pasien. Kalau ini menyebabkan pasien muntah, maka pasien sudah
diizinkan menelan. Komplikasi lain yang ungkin dapat terjadi sesudah menjalani bronkoskopi
adalah perdarahan dan pneumotoraks akibat bronkus yang pecah.
Prosedur yang sering dilakukan setelah bronkoskopi untuk mengetahui adanya
komplikasi adlah memantautanda-tanda vital selama beberapa jam, pembuatan radiograf dada
dan pengumpulan sputum selama 24 jam. Perawat juga harus menyadari bahwa spasme atau
edema laring bisa timbul sebagai kompliksai dan keadaan ini mungkin membutuhkan intubasi
endotrakea dan pemberian oksigen.
9. Pemeriksaan Biopsi
Contoh jaringan untuk pemeriksaan biopsi diperoleh dari saluran pernapasan bagian atas atau
baah dengan menggunakan teknik endoskopi yang memakai laringoskop atau bronkoskop.
Bedah toraks yang dipandu dengan video (VATS) adalah kemajuan teknologi terbaru yang
digunakan untuk diafnosis maupun penatalaksanaan penyakit pleura dan arenkim. Caranya
adalah dengan memasukan trokar yang kaku dengan lensa dibagaian distalnya masuk
kedalam pleura melalui insisi kecil interkostal dalam keaaan anestesi umum. Operator
kemudian dapat melakukan pemeriksaan biopsi pada lesi di pleura atau jaringan perifer aru
dibawah penglihatan langsung. Cara ini telah banayak digunakan untuk menggantikan biopsi
paru terbuka dan torakotomi. Jaingan berbentuk silinder dapat juga didapat dengan teknik
baru yaitu dengann biopsi jarum perkutaneus menggunakan air-turbine drill. Manfaat utama
biopsi paru terutama berkaitan dengan penyakit paru difus yang tdak dapat didiagnosis
dengan cara lain. Pneomotoraks dan perdarahan aasering terjadi pada sejumlah besar pasien
sesudah menjalani tindakan tersebut.
Bopsi kelenjar getah bening mediastinum dilakukan selama mediastinoskopi.
Tindakan ini merupakan tindakan insisi dasar leher bagian depan, lalu melalui insisi ini
dimasuka alat yang mempunyai sistem cermin-lensa dengan lampu. Alat ini terus didorong
maju dibawah pengawasan visual sampai mencapai nediastinum tempat dilakukannya
pemeriksaan dan biopsi. Mediastinoskopi merupakan metode post-operatif utama untuk
mengevaluasi keadaan patologis atau penyebaran regional ke kelenjar getah bening hilus
padda pasien dengan kanker paru.
10. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum secara makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik berperan penting
dalam diagnosis etiologi berbagai penyakit pernapasan. Waerna, bau, dan adanya darah
merupakan petunjuk yang berharga. Pemeriksaan mikroskopik dapat mengungkapkan
organisme penyebab berbagai pneumonia bakterial, tuberkolosis, serta beberapa jenis infeksi
jamur. Pemeriksaan sitologi eksfoliatif pada sputum juga dapat membantu diagnosis
karsinoma paru. Waktu terbaik pengumpulan sputum adalah segera sesudah bangun karena
sekresi bronkus yang abnormal cenderung tertimbun saat tidur. Kadang-kadang perlu
merangsang pembentukan sputum dengan nebulizer. Metode iynag populer untuk
mendapatkan sekret trakeobronkial adalah dengan pembilasan bronoalveolar (BAL)
menggunakan menggunakan bronkoskopi yang fleksibel. Salin steril disuntikan melalui
bronkoskopi dan dihisap kembali kedalam bilik penampungan pencucin bronkus ini dapat
diguanakan untuk memeriksa adanya sel-sel keganasan atau ikroorganisme dari saluran
pernapasana bawah. Cairan dari BAL cukp efektif untuk mendeteksi pneumocystis carinii
pada pasien dengan AIDS.
2.1.2 Metode fisiologi
1. Uji fungsi paru
Dari generasi yang lalu telah dikembangkan berbagai uji teknik yang berkaitan dengan
penyelidikan fisiologi pernapasan. Uji fungsi paru (PFT) ini dibagi dalam dua kategori: uji
yang berhubungan dengan ventilasi paru dan dinding dada, serta uji yang berhubungan
dengan pertukaran gas. Uji fungsi ventiasi termasuk pengukuran volume paru dalam keadaan
statis dan dinamis, juga pengukuran tekanan. Uji yang berhubungan ddengan pertukaran gas
mencakup analisis gas-gas yang terdapat dalam udara ekspirasi dan dalam darah.
Pengukuraan gas darah arteri (ABG) biasanya mencakup tekanan parsial (tegangan) oksigen
arteri (PO2), dan karbon dioksida arteri (PCO2) dan pH, serta menggambarkan fisiologi
kardiopulmonar.
PFT makin lama makin penting sebagai bagian dari evaluasi klinis rutin dan sudah
menempatkan diri di antara berbagai alat bantu diagnosis lain seperti radiogram dada dan
elektrokardiogram. Tetapi perlu disadari bahwa uji-uji ini hanya memperlihatkan pengaruh
yang ditimbulkan penyakit terhadap fungsi paru dan tidak dapat digunakan untuk
mendapatkan diagnosis dasar perubahan patologis. Tetapi, beberapa penyakit mempunyai
gambaran gangguan fungi yang khas dan dapat dibedakan antara kelainan ventilasi obstruktif
dan restriktif. Gangguan ventilasi obstruktif mempengaruhi kemampuan ekspirasi, sedangkan
gangguan restriktif memengaruhi kemampuan inspirasi. Dua gambaran utama gangguan
fungsional yang juga dapat diperoleh dari ABG adalah gangguan terjadinya peningkatan
ruang mati atau pirau.
Perlu dissadari bahwa tidak ada satu PFT yang dapat mengukur semua kemungkinan
yang ada. Walaupun demikian, uji fungsi paru ini dapat memberikan informasi yang
berharga. Uji fungsi ventilasi dapat menghasilkan data kuantitatif sehingga perkembangan
penyakit paru serta responya terhadap pengobatan dapat diikuti. Pada kasus kegagalan
operatif, uji-uji seperti ini dapat membantu menilai kemampuan pasien untuk menahan
anestesi, narkotik atau pengangkatan jaringan paru, dan membantu menentukan perawatan
sesudh operasi yang diperlukan. Karena beberapa penyakit hanya dapat merubah satu aspek
fungsi paru, PFT ini kadang-kadang dapat membantu menegakkan diagnosis. ABG
merupakan suatu sarana yang berharga dalam penilaian derajat insufisiensi pernapasan dan
petunjuk menentukan terapi yang sesuai.
2. Uji Fungsi Ventilasi
a. Volume Paru Statis
Volume dan kapasitas paru merupakan pengukuran anatomis yang dipengaruhi oleh
latihan fisik dan penyakit. Terdapat empat volume paru dan empat kapasitas paru.
Kapasitas paru terdiri dari dua volume paru atau lebih.
Hubungan antara pengukuran-pengukuran ini dan nilai rata-rata untuk seorang laki-laki
ddewasa muda yang sehat. Tabel 36-1 memberikan kesimulan dan uraian kapasitas volume
paru. Lima kapasitas dan volume paru berikut ini (berdasarkan kesmpulan yang terdapat pada
tabel) dapat langsung diukur dengan spirometer: VT, IRV, ERV, VC, dan IC. FRC diukur
secara tidak langsung, yaitu dengan metode pembersihan helium atau nitrogen, atau dengan
plestismograf tubuh. TLC dan RV diperoleh secara aritmatis (yaitu, TLC=FRC+IC, dan
RV=TLC-VC).
Spirometer adalah suatu alat sederhana yang dilengkapi pompa atau bel yang akan
bergeser pada waktu pasien bernapas ke dalamnya melalui sebuah katup dan tabung
penghubung. Pada waktu menggunakan spirometer, grafik akan terekam pada sebuah pena
pencatat. Spirometri langsung dengan memakai komputer pada waktu pasien berada di
tempat tidur sering dilakukan.
Pengukuan volume paru statis dalam praktik digunakan untuk mencerminkan
elastisitas par dan toraks. Pengukuran yang paling berguna adalah VC, TLC, FRC, dan RV.
Penyait yang membatasi pengembangan paru (gangguan restriktif) akan mengurangi volume-
volume ini. Sebaliknya, penyakit yang menyumbat saluran napas hampir selalu dapat
meningkatkan FRC dan RV akibat hiperinflasi paru. TLC dapat normal meningkat, dan VC
seringkali menurun. Pada penyakit paru dengan RV yang meningkat karena udara
tererangkap, VC harus menurun dalam jumlah besar, karena TLC relatif stabil kecuali bila
sebagian paru telah diangkat pada saat pembedaan) dan karena TLC=RV+VC.
TABEL 36-1
Kapasitas Volume Paru
Pengukuran Simbol Nilai rata-rata Definisi
laki-laki dewasa
(ml)
Volume tidal VT 500 Jumlah udara yang diinspirasi atau diekspirasi
pada setiap kali bernapas (nilai ini adalah untuk
keadaan istirahat)
Volume cadangan IRV 3100 Jumlah udara yang dapat diinspirasi secara paksa
nspirasi sesudah inhalasi voume tidal normal
Volume cadangan ERV 1200 Jumlah udara yang dapat diekspirai secara paksa
kspirasi sesudah ekspirasi volume tidal yang normal
Volume residu RV 1200 Jumlah udara yang tertinggal dalam paaru sesudah
ekspirasi paksa
Kapasitas paru TLC 6000 Jumlah udaramaksimal yang dapat dimasuka ke
otal dalam paru sesudah inspirasi maksimal:TLC=VT
+IRV +ERV +RV ; TLC= VC +RV
Kapasitas vital VC 4800 Jumlah udara maksimal yang dapat diekspirasi
sesudah insiprasi maksimal : VC = VT + IRV +
ERV (seharusnya 80% dari TLC)
Kapasitas IC 3600 Jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi
nspirasi sesudah ekspirasi nomal : IC = VT + IRV
Kapasitas residu FRC 2400 Volume udara yang tertinggal dalam paru sesudah
ungsional ekspirasi volume tidal normal : FRC =ERV +RV

b. Volume Dinamik Paru dan Kerja Pernapasan


Akan didapat lebih banyak keterangan mengenai status ventilasi bila kecepatan pergerakan
udara keluar dan masuk paru juga dianggap sebagai proses bernapas. Definisi-definisi berikut
akan berguna dalam pembahasan ventilasi yang efektif :
 Volume semenit atau ventilasi semenit (VE) adalah volume udara yang terkumpul
selama ekspirasi dalam periode satu menit. VE dapat dihitung dengan mengalihkan nilai vt
dengan kecepatan pernapasan. Dalam keadaaan istirahat, VE sekitar 6 atau 7 liter/ menit. VE
diukur dengan mengumpulkan udara ekspirasi dalam sebuah balon besar terbuat dari karet
dan membagi volume yang terkumpul dengan jumlah menit yang terpakai untuk
mengumpulkan volume itu. Huruf kecil E pada simbol untuk volume semenit ini menandakan
bahwa pengukuran dilakukan pada fase ekspirasi dari VE merupakan tanda pengukuran
waktu.
 frekuensi pernapasan (f) atau kecepatan adalah jumlah napas yang dilakukan per
menit. Dalam keadaan istirahat, kecepatan pernapasan sekitar 15 kali per menit.
 Volume tidal (VT) adalah banyaknya udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada
setiap pernapasan. VT besarnya sekitar 500 ml dalam keadaan istirahat tetapi dapat
meningkatsampai 3.000 ml pada waktu melakukan kegiatan fisik yaitu bila bernapas dalam.
VT didapatkan dengan membagi VE dengan kecepatan pernapasan.
 Ruang mati fisiologis (VD) adalah volume udara inspirasi yang tidak tertukar dengan
darah paru; udara ini dapat dianggap sebagai ventilasi yang terbuang sia-sia. Ruang mati
fisiologis terdiri dari ruang mati anatomis (volume udara dalam saluran napas penghantar,
yaitu sekitar 1 ml per pon berat badan), ruang mati alveolar (alveolus mengalami ventilasi
tetapi tidak mengaami perfusi; ruang mati alveolar ini sangat bervariasi) dan ventilasi
melampaui perfusi. Pada orang yang sehat VD hanya sedikit lebih besar dari pada uang mati
anatomis, tetapi mungkin akan meningkat kalau alveolus yang mengaami ventilasi kurang
mendaoatkan perfusi atau tidak mengalami paerfusi sama sekali, seperti pada kasus
embolisme paru. Perbandingan anatara VD dengan VT (VD/ VT) menggambarkan bagian dari
VT yang tidak mengadakan pertukaran dengan darah paru. Dengan kata lain, VD/VT
merupaan pengukuran presentase VT yang merupakan vd . Rasio ini dihitung dengan data
yang dikumpulkan pada waktu mengukur PCO2 dalam udara ekspirasi dan PCO2 dalam
darah artri. Semakin besar perbedaaan antara kedua pengukuran tersebut, semakin besar pula
nilai VD . Nilai rasio VD / VT tidak melebihi 30% sampai 40% pada orang yang sehat.
Perbandngan in seringkali digunakan untuk mengikuti bkeadaan pasien yang mendapatkan
ventilasi mekanik.
 Ventilasi alveolar (VA) adalah volume udara segar yang masuk kedalam alveolus
setiap menit, yang mengadakan pertukaran dengan darah paaru. Ini merupakan ventilasi
efektif. Pada keadaan istirahat nilai normalnya sekitar 4,3 L/ menit. Ventilasi alveolar dapat
dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut:
VA=(VT – VD) X f
VA = VE - VD
VA merupakan petunjuk yang lebih baik tentang ventilasi dibandingkan VE atau VT, karena
pada pengukuran VA ini diperhitungkan volume udara yang terbuang ventilasi VD.
perhitungan yang tercantum pada tabel 36-2 menggambarkan hubungan antara VE, pola
pernapasan, dan VA efektif. VD dari ketiga pasien tersebut dianggap konstan sebesar 150 ML,
sedangka kecepatqn dan dlamnya pernapasan berbeda-beda.
Dari data yang tercatat pada tabel 36-2 dapat ditarik beberapa kesimpilan. pada setipa
keada, jumlah udara yang masuk dan keluar paru adalah sama (VE), meskipun terdapat
perbedaan besar dalam persentase VT yaitu VD dan nilai ventilasi efektif. Sudah terbukti
bahwa pernapasan yang cepat dan pendek mengakibatkan ventilasi yang kurang befektif
karena lebih banyak udara yang terbuang sia-sia dalam volume ruang mati. Fakta ini semakin
jelas kalu kita menggunakan rumus untuk menghitung VA. Bila nilai VT mendekati volume
VD (150 ml) maka ventilasi efektif mendekati 100% bila VT mendekati VD. Bila kita
mempertimbangan bahwa VD total (anatomis daan alveolar ) dpat sanagt berbeda pada susatu
penyakit, maka jelas bahwa manfaat observasi klinis mengenai cukup tidaknya ventilasi
sangat terbatas, meskipun dapat diadakan penilaian kualitatif yang kasar.
Agar udara dapat bergerak msuk dan keluar paru, tubuh harus bekerja untuk
mengatasi resistensi gabungan dari toraks, paru, dan abdomen. Pekerjaan ini (dalam bentuk
pengadaan energi untuk menggerakkan pernapasan dada) dinamakan kerja pernapasan.
Kerja pernapasan dapat dinyatakan sebagai jumlah oksigen (O2) yang terpakai oleh otot-otot
pernapasan. Dalam keadaan normal, seorang yang sedang beristirahat hanya mempergunakan
sedikt O2 9kurang dari 5%) dari konsumsi O2 tubuh total, akan tetapi pada keadaan sakit
perbandingan ini mungkin ajauh lebih besar.
Energi dibutuhkan untuk mengatasi dua resistensi : elatik dan nonelastik. Resistensi
elastik adlah tahanan untuk meregang yang timbul karena sifat elastis paru dan toraks. Sifat
elastik toraks beraasal dari kemampuan meregang otot-otot, tendon an jaringan ikat.
Sedangkan sifat elastik paru ditimbulkan oleh tegangan permukaan cairan yang membatasi
alveolus dan oleh serabut-serabut elastis yang terdapatb diseluruh paru. Resistensi nonelastik
adlah tahanan gesekan terhadap aliran udara dalam saluran napas, dan dalam jumlah kecil
juga disebabkan karena viskositas jaringan paru-paru. Kerja pernapasan akan maeningkat bila
resitensi elastiknya meningkat (misalnya kalau paru menjadi “kaku” seperti pada fibrosis
paru) atau bila timbul resistensi nonelastik (misalnya aliran udara turbulen pada paenyakit
emfisema akibat penyempitan saluran napas.
Komplians (C =daya kembang) adalah ukuran sifat elastik (distensibilitas) yang
dimiliki oleh paru dan toraks. Didefinisikan sebagai perubahan volume per unit perubahan
tekanan dalam keadaan statis. Komplians total (daya kembang paru dan toraks) atau
komplians paru saja dapat ditentukan. Dua manometer dpat digunakan untuk mengukur
perubahan tekanan : satu dihubungkan dengan mulut atau lubang hidung (untuk mengukur
tekanan alveolar atau tekanan total yang dihasilkan oleh sistem paru toraks) dan klainnya
dihubungkan dengan balon esofagus (untuk mengatur tekanan intrapleura). Perubahan
volume dan tekanan (∆V, ∆P ) kemudian diukur pada berbagai derajat pengembangan paru
dan penahanan napas. Komplians diperkirakan dengan menghintung kecuraman kurva
tekanan volume dari data-data yang diperoleh. Komplians paru normal dan komplians rangka
toraks per VT, masing-masing sekitar 0,2 liter/cm H2O sedangkan komplians total (paru da
rangka toraks) besarnya sekitar 0,1 liter/cm H2O:

C = ∆V(perubahan volume paru dalam liter)


∆P(perubahan tekanan dalam cm H2O)

Komplains berkurang pada penyakit paru restriktif yang menambah kekakuan paru dan toraks
serta membatasi pengembangannya. Pada kasus ini dibutuhkan kekuatan yang lebih besar
(∆V) yang sama, menyebabkan komplians menjadi lebih kecil. Penyebab utama penurunan
kompians paru adalah atelektasis (kolaps alveoli), edema paru, pneumonia, dan fibrosis paru.
Kalau surfaktan paru berkurang karena paru menjadi lebih kaku akibat meningkatnya
tegangan permukaan (surfaktan dalam keadaan normal mengurangi tegangan permukan).
Komplians dinding dada berkurang pada obesita, peregangan abdomen dan perubahan
bentukn tulang rangka dada, misalnya pada kasus kifoskoliosis.
Resistensi saluran napas nonelastik (RAW) dapat diukur dengan menempatkan
individu dalam kotak yang tidak tembus udar (pletismograf tubuh) dan kemudian mengukur
besarnya tekanan disekitar tubuh (yang menggmbarkan perubahan tekanan alveolar); pada
saat yang sama kecepatan aliran udara pada mulut diukur(gbr 36-3). RAW menggambarkan
resistensi nonelastik saluran napas bagian atas (dari percabangan pertama sampai pada
generasi percabangan keduabelas) dan besarnya sekitar 1,8ncm H2O/L/detik aliran udara.
Pada pasien dengan penyakit obstruksisaluran napas (misalnya emfisema), RAW meningkat
dan mungkin sampai lebih dari 5 cm H2O/L/detik.
Tetapi, lebih sering resistensi nonelastik diperkirakan dengan mengukur volume ekspirasi
paksa dan kecepatan aliran udara. Pengukuran ini dilakukan dengan spirometer atau dengan
alat portabel yang dapat digunakan bangsal. Volume-volume udara berikut ini diukur dengan
pertolongan spirometer :
 Kapasitas vital paksa (FVC) adalah pengukuran kapasitas vital yang didapat pada
ekspirasi yang dilakukan secepat dan sekuat mungkin sangat penting. Volume udara ini
didalam keadaan normal nilainya kurang lebih sama dengan VC, tetapi mungkin sangat
berkurang pada pasien obstruksi saluran napas yang kecil dan akibat udara yang
terperangkap.
 Volume ekspirasi paksa (FEV) adalah volume udara yang dapat diekspirasi dalam
waktu standar selama tindakan FVC. Biasanya FEV diukur selama detik pertama ekspirasi
yang dipaksakan. Ini disebut FEV1. FEV merupakan petunjuk yang sangat berharga untuk
mengetahui adanya gangguan kapasitas ventilasi dan nilai yang kurang dari 1 L selama detik
pertama menunjukkan adanya fungsi berat.
FEV sebaiknya selalu dihubungkan dengan FVC atau VC. Individu normal dapat
menghembuskan napas sekitar 80% dari kapasitas vitalnya dalam satu detik, dinyatakan
sebagai rasio FEV1/FVC. Tidak banyak perbedaan apakah FVC atau VC yang dipergunakan
sebagai rasio. Hasilnya kurang lebih sama, rasio ini besar sekali manfaatnya untuk
membedakan antara penyakit – penyakit yang menyebabkan obstruksi saluran napas dan
penyakit – penyakit yang mennyebabkan paru tidak dapat mengembang sepenuhnya. Pada
penyakit obstruksi seperti bronkitis kronik atau emfisema, terjad pengurangan Fev 1 yang
lebih besar dibandingkan dengan VC ( VC mungkin normal ) , sehingga rasioFEV1 / FVC
kurang dari 80% atau lebih. Pada penyakit restriktif parenkin paru misalnya sarkoidosis ,
FEV1 dan FVC atau VC mengalami pennurunan dengan perbandingan yan kurang lebih
sama, dan perbandingan FEV1 /FVC tetapsekitar 80% atau lebih.
Laju aliran tengah ekspirasi maksimal (MMFR) merupakan suatu petunjuk
penting obstruksi saluran napas yang didapat dari ekspirasi paksa. MMFR merupakan laju
aliran udara pada dua kuartil tengah dari kapasitas vital paksa. MMFR agaknya tidak
bergantung pada usaha orang yang bersangkutan, sehingga merupakan petunjuk yang lebih
peka untuk memperlihatkan adany obstruksi saluran napas pada penyakit paru obstruktif
menahun dni dibandingkan dengan FEV1 (GBR 36-4).
Perlu diketahui bahwa PFT rutin yang dibicaraan diatas hanya dapat mendeteksi
penyakit obstruksi sedang sampai lanjut yang melibatan bagian saluran napas besar, yaitu
yang bertanggung jawab atas 80%resistensi. PFT tersebut tidak cukup peka untuk
mendeteksi obstruksi dari saluran-saluran npas perifer yang kecil(bronkiolus dengan diameter
lebih kecil dari 1 mm) karena saluran-saluran napas ini hanaya merupakan kurag dari 20%
dari resistensi. Penyakit pernapasan obstruktif dianggap mulai dari saluran napas perifer.
Krena alasan ini, telah diciptakan teknik-teknik baru untuk mendeteksi disfungsi saluran
napas yang dini.
Salah satu teknik ini adalah uji nitrogen napas tunggal untuk mendeteksi penyebaran
gas dalam paru yang tidak merata dan peningkatan volume penutupan. Paada uji ini subyek
melakukan ekspirasi penuh, kemudian melakukan inspiras VC tunggal dengan O2 100%,
selanjutnya melakukan ekspirasi secara perlahan-lahan sampai RV. Selama ekspirasi yang
terakhir, konsentrasi nitrogen (N2) dalam udara ekspirasi (kini sudah diencerkan dengan O2
yang diinspirasi) diukur dengan mempergunakan alat penganalisis n2 cepat dan dicatat
bersama volume udara ekspirasi.
Beberapa parameter yang penting dapat diperoleh dari kurva N2 (GBR 36-5),
termasuk ruang mati anatomis, RV, VC, TLC, volume penutupan, kapasitas enutupan serta
kecuraman plateau alveolar. Volume penutupan (CV) menyatakan volume paru pada saat
saluran – saluran npas yang sempit di bagian terbawah paru mulai menutup dan biasanya di
nyatakan sebagai persentase dari kapasitas vital ekspirasi ( CV / VC ). Kapasitas penutupan
(CC) terdiri dari CC di tambah dengan RV dan di nyatakan sebagai persentase dari kapasitas
total paru (CC/TLC). Rasio CV / VC bergantung pada usia dan dapat mencapai serendah
10% pada mereka yang masih muda serta sehat, dan 40% pada mereka yang telah mencapai
usia 65 tahun.
Peningkatan rasio CV / VC atau CC / TLC menandakan adanya penutupan dini
Saluran – saluran perifer kecil akibat penyempitan atau berkurangnya elastisitas , seperti pada
penyakit bronkitis dan emfisema. Peningkatan CV di temukan pada perokok yang
tampaknya sehat. Peningkatan kecurangan plateau alveolar dari kurva basuh N2 menyatakan
penyebaran gas N2 dalam paru yang tidak merata dan terjadi bila saluran- saluran napas
mengalami obstruksi. Uraian yang baik dan rinci dari semua uji ini serta uji fungsi paru
lainnya dapat di peroleh dalam buku cherniack (1992) danwest (1998).
Pengaruh menyeluruh dari perubahan sifat elastitas dan nonelastisitas paru dapat di
nilai dengan uji sederhana yang mengukur kapasitas pernapasan maksimal (MBC ) atau
ventilasi voluntar maksimal ( MVV ). MVV ( atau MBC ) dapat di nilai secara langsung
dengan menyuruh pasien bernapas secepat dan sedalam mungkin selama 15 detik dan
mengumpulkan udara ekspirasi dalam sebuah kantong Douglas. Volume ini di kalikan
dengan empat untuk menentukan VE dalam liter per menit. Uji ini telah banyak di gunakan
selama bertahun – tahun, tetapi kemudian sebagian besar diganti dengan uji FEV1 yang lebih
sedikit persyaratannya dan memberikan informasi yang sama . MBC dapat di perkirakan
dengan hasil kali FEV1 X 30. MBC dapat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan komplians
karena dibutuhkan peningkatan kerja otot. MBC juga i pengaruhuhi oleh perubahan resistensi
saluran napas karena meningkatnya aliran turbulen akibat kolaps saluran napas bila bernapas
dengan cept sekali. Seorang lelaki dewasa muda dan sehat dpat mengalirkan udara sebanyak
170 liter per menit dibandingkan dengan VE sekitar 6 liter/ menit dalam keadaan istirahat.
Perbedaan ini menggambarkan cadangan paru yang besar pada orang dewasa muda dan
sehat. Cadangan paru akan berkuang pada penyakit restriktif dan obstruktif, tetapi penurunan
jauh lebih besar pada penyakit obstruktif.
Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, kurang dari 5% darikonsumsi O2 total yang
dgunakan untuk kerja paernapasan pada orang normal yang sedang istirahat. Kebutuhan O2
akan sangat meningkat pada orang-orang yang menderita penyakit paru obstruktif dan
restriktif. Pada pasien emfisema (eningkatan resistensi saluran napas) atau pada mereka yang
gemuk sekali (ada hambatan pergerakan dada), mungkin akan menggunakan 25% atau lebih
daari jumlahO2 total yang diinspirasi untuk kerja pernapasan. Pada enyakit yang berat,
kelelahan mungkin merupakan satu faktor penting yang menimbulkan kegagalan pernapasan
karena meningkatnya kerja otot yang diperlukan untuk melakukan kerja pernpasan.
Juga hubungan antara kerja mekanik pernapasan dengan pola pernapasan (kecepatan
dan dalamnya napas). Para ahli fisiologi pernapasan telah menemonstrasikan bahwa untuk
tiap VA, ada suatu laju pernapasan dan v=t optimum, yaitu saat kerja total bernpas menjadi
minimal. grafik pada gbr 36-6 memperlihatkan hubungan antara kerja mekanik bernapas
termasuk kerja total dan dua komponennya (krja elastik serta nonelastik) yang dinyatakan
dalam kilo gram-meter (kgM) dan frekuensi pernapasan. Prinsip yang digambarkan disini
berlaku untuk orang normal mauun penderita penyakit paru. Kerja total adalah kerja elastik
ditambah dengan kerja non-elastik (perlu diingat bahwa kerja elastik diperlukan untuk
mengatasi resistensi elastik paru dan toraks, sedang kerja nonelastik diperlukan untuk
mengatasi resistensi aliran udara dan resistensi viskisitas jaringan). Pada orang normal dalam
keadaan istirahat dengan VA tertentu, kerja yang dibutuhkan untuk ernapasan adalah minimal
apabila frekuensi pernapasan sekitar 15 kali permenit (digambarkan oleh garis padat pada gbr
36-6). Pada VA yang sama, penderita penyakit paru restriktif (peningkatan kerja elastik)
missalnya pneumonia atau obesitas, jumlah kerjanya akan minimal apabila pernapasannya
cepat dan dangkal (digambarkan oleh garis puts-putus panjangpada gbr 36-6). Pola ini
mungkin muncul karena peningkatan VT yang dseddikit demi sedikit akan sangat
memperbesar resistensi nelastik. Aan tetapi bila pernapasan terlalu cepat atau terlalu dangkal,
VD menjadi relatif tinggi sekali. Sebaliknya, penderita penyakit paru obstruktif (peningkatan
kerja nonelastik) seperti yang mungkin terjadi emfisema, ernapasan akan lambat dan dalam
(digambarkan oleh garis terputus-putus pendek paada gbr 36-6). Pola ini diambil karena
keceptan aliran yang lebih tinggi kemungkinan besar akan meningkatkan beban kerja untuk
mengatasi resistensi aliran udara. Kenyataanya, kalau penderita penyakit obbstruktif secara
sadar mengadakan hiperventilasi untuk mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida, kadar
PCO2 mungkin malah akan meningkat akibat peningkatan produksi CO2 dari peningkatan
kerja mekanik pernapasan.
3. Analisis Gas Darah
Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat, perlu juga mempelajari hal-hal di luar paru
seperti volume dan distribusi gas yang diangkut oleh sistem sirkulasi. Faktor-faktr yang
memengaruhi transfortasi dan pembuangan gas antara paru dan sel-sel jaringan.
Biasanya digunakan contoh darah arteri untk analisis gaas darah. Gbr 36-7
memperlihatkan teknik yang baik untuk mengambil contoh darah. A5teri radialis (brakialis)
sering dipilih karena arteri ini mudah dicapai. Peergelangan tangan diekstensikan dengan
menempatkannya di ata gulungan handuk. Setalah kulit di sterilkan, lalu arteri distabilkan
dengan dua jari dari satu tangann sedangkan tangan yang lain menusuk arteris tersebut
dengan alat suntik yang sudah diisi heparin. Setelah 5 ml darah terisap ke dalam alat suntik,
udara dikeluarkan, dan darah disimpan di atas es dan langsung di bawa ke laboratorium untuk
dianalisi. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh perawat dari bagan perawatan intensif. Table
36-3 berisi nilai-nilai normal gad darah aretri.
PaCO2 merupakan petunjuk VA yang terbaik. Bila PaCO2 meningkat, penyebab
langsung selalu hipoventilasi alveolar . hiperventilasi menyebabkan asidosis respiratorik
dan penurunan Ph darah . hipoventilasi alveolar dapat terjadi bila VT menurun (efek ruang
mati), seperti pada pernapaan yang cepat dan dangkal. Hipoventilasi dapat pula terjadi jika
frekuensi pernapasan menurun seperti pda kelebihan dosis narkotik ataupun barbiturat.
PaCO2 dapat pula meningkat untuk mengompensasi alkalosis metabolik. Akibatnya dalam
interprestaasi nilai PaCO2 secara tepat, perlu dipertimbangkan pulapH darah dan kadar
bikarbonat timbul akibat kondisi pernapasan primer atau justru sebagai tindakan kompensasi
dari suatu kondisi metabolik.
Penyebab langsung penurunn PaCO2 adalah selalu hiperventilasi alveolar.
Hiperventilasi menyebabkan alkalosis respiratorik dan kenaika pH darah. Hiperventilasi
sering timbul pda asma dan pneumonia dan menggambarkan usaha tubuh untuk
meningkatkan PaO2 dengan usaha membuang CO2 yang berlebhan dari paru. cedera atau
tumor otak, keracunan aspirin, dan ketegangan dapat juga menyebabkan hiperventilasi aatau
dapat juga merupakan poses kompensasi untuk mengatasi asidosis metabolik. Tabel 36-4
mencantumkqn ringkasan perubahan asam-basa sebagai usaha mengompensasi keadaan
asidosis dan alkalosis. Panah tebal menyatakan gangguan primer. Perubahan kadar bikarbonat
menggambarkan usaha ginjal untuk mengompensasi kedaan asidosis atau alkalosis
respiratori, sedangkan perubahan PaCO2 pada gangguan metabolik menggambarkan peran
paru dalam usaha kompensasi. Tujuan kompenasi adalah mengembalikan pH darah ke nilai
normal.
Bila nilai PaO2 turun sampai dibawah nilai normal, terjadi hipoksemia. PaO2
menurun sedikt sesuai dengan usia; sehingga PaO2 70 mm Hg masih normal untuk yang
berusia diatas 60 tahun. Pada gagal pernapasan yang berat, PaO2 makin turun sampai 30-40
mm Hg. Hipoksemia akibat penyakit paru disebabkan oleh slalah satu lebih dari mekanisme
dibawah ini : (1) ketidakseimbangan antara proses ventilasi-perfusi (penyebab tersering), (2)
hipoventilasi alveolar, (3) gangguan difusi, atau (4) pirau anatomik intrapulmona. Hiposemia
akbat tiga kelainan yang pertama dapat diperbaiki dengan pemberian O2. Tetapi pirau
anatomik intrapulmonar (pirau arteriovenosa) tidak dapat diatasi dengan terapi O2.
Perubahan gas darah areteri merupakan hal yanang kritis dalam diagnosis kegagalan
pernapasan atau ventilasi yang mubkin timbul secara perlahan. . apabila kada PaO2 turun
dibawah normal, terjadi insufisiensi pernapasan, dan terjaadi kegagalan pernapasan bila PaO2
turun sampai 50 mm Hg. PaCO2 dapat meningkat atau turun sampai dibaah nilai normal pada
insufisiensi ata kegagalan pernapasan. Kegagalan pernapassan akan dibicarakan lebih rinci.
Tabel 36-5 berisi ringkasan perubahan-perubahan fungsi ventilasi dan ga darah arteri yang
sering terjadi pada penyakit paru restriktif dn obstruktif.
4. Oksimetri Denyut Nadi
Walaupun pengukuran gas-gas darah adalah cara terbaik untuk menilai perubahan gas,
terkadang terdapat keadaan yang tidak menguntungkan setelah punksi darah arteri dalam
mengumpulkan darah untuk danalisis. Akibatnya, oksimetri denyut nadi, yaitu satu cara
noninvasif untuk menilai oksigenasi, mulai banyak digunakan. Oksimetri denyut naadi
mengukur saturasi oksigen Hb (SaO2) lebih dahulu daripada PaO2, dengan menggunakan
probe yang biasanya menjepit sekeliling jari. dua gelombang cahaya yang berbeda akan
melewati jari. hb teroksigenasi dan yang tidak teroksigenasi memiliki bentuk absorbsii
cahaya yang berbeda. pengukuran absorpsi dua panjang gelombang pada denyut nadi darah
arteri menggolongkan dua bentuk hb. jumlah hb degan saturasi O2 langsung dihitung dan
ditampilkan pada alat pembacaany. SaO2 normal adalah 95% hingga 97% sesuai dengan
PaO2 yang berkadar sekitar 80 mm Hg hingga 100 mm Hg. Tujuan klinis yang biasanya
ingin dicapai untuk Hb dengan saturasi O2 adalah SaO2 paling sedikit 90%(sesuaidengan
PaO2 yang berkaadar sekitar 60 mm Hg). Tabel 36-6 memperlihatkan hubungan antara PaO2
dan Sao2 yang didapat diprkirakan pada kurva disosiasi okshihemoglobin.
Walaupun oksimetri memiliki keuntungan dalam pengukuran oksigenasi secara
noninvasif, cara ini memiliki keterbatasan. Pertama, para ahli kesehatan harus lebih
memperhatikan hubungan antara SaO2 dan Pao2 yang diperlihatkan pada kurva disosias
okshihemoglobin (lihat gbr 35-13), karena kurva ini relatif berbentuk datar di atas PaO2 yang
baerkadar lebih besar daripada 60 mm Hg (sesuai dengan SaO2 yang cukup berkadar 90%),
oksimeter denyut nadi cukup sensitif untuk merubah PaO2 diatas kadar ini. Selain itu,
hubungan antara PaO2 dan SaO2 dapat berubah bergatung pada keadaan kurva yang bergerak
ke arah kanan atau kiri akibat faktor-faktor seperti pH, suhu, dan konsentrasi 2,3
diposhologycerate (2,3 DPG). Keterbatasan kedua, alat tersebut tidak dapat membedakan
bentuk lain Hb, seperti karbokshihemoglobin atau mathemoglobin, bila hanya menggunakan
dua panjang gelombang. Yang ketiga, bila curah jantung rendahatau timbul vasokontriksi
kutaneus, pembacaan pada alat oksimetrinya tidak dapat dipercaya. Sehingga pada akhirnya
tidak ada informasi tentang Ph dan CO2 yang didapatkan.

Tanda dan gejala TBC

TBC bisa menyerang bagian tubuh yang mana pun, tapi paru-paru yang paling sering. Pengidapnya
mungkin mendapat aneka gejala sebagai berikut:
• batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu,
• demam,
• berat badan turun tanpa sebab,
• keringat malam,
• senantiasa lelah,
• nafsu makan berkurang,
• dahak bebercak darah, atau
• sakit dan bengkak di bagian yang terkena, bagi TBC yang di luar paru-paru.
Ada juga pengidap penyakit TBC aktip yang hanya bergejala ringan.