Anda di halaman 1dari 2

DAUN KERING

17 Tahun Kemudian..
HUJAN diluar tak henti hentinya berhenti. Rasa dingin ini sudah aku rasakan sejak kemarin, Vino anaku
belum pulang sekolah, seharusnya jam segini ia sudah pulang. Mungkin karena hujan. Mas arif tidak
pulang sejak dua minggu yang lalu, itu terjadi karena masalah pekerjaan yang harus membawanya
keluar negeri. Aku hanya memandangi kaca yang mulai mengembun karena dinginya hujan.
"assalamualaikum, ma aku pulang"
kulihat vino di ruang tamu dengan baju serba basah.
aku langsung membawakan anduk padanya.
"cepat sana ganti baju, nanti masuk angin"
"hmm"
Vino kini sudah kelas 3 SMA, aku tak menyangka saja ternyata anakku tumbuh begitu cepat.
Kututup pintu dan kulanjutkan lagi duduk dan melihat hujan di luarsana.
Bayang bayang masalalu yang selama ini sudah kulupakan teringat lagi, pelipis ini terasa sakit. Namun
bayang bayang itu tetap ada.
Aku masih ingat waktu itu aku harus dengan berat hati meninggalkan andri dan memilih menuruti
kehendak kedua orang tuaku. Aku tau betapa kecewa dan hancurnya hati andri, tapi akupun tak bisa apa
apa. Namun pilihanku ternyata seperti ini, aku tau mas arifin sangat sayang dan mencintai aku, apa lagi
setelah lahirnya vino ilham di dunia ini, nampaknya rasa kasih dan cinta suamiku tak luntur malah makin
sayang denganku, tapi tidak dengan aku, bayang bayang andri dalam hidupku masih ada, rasa cintaku
pada andri tak pernah luntur. Walau akupun merasakan suamiku, aku merasakan ia. Ah.. aku tak mau
mengecewakan rasa cinta yang telah ia berikan padaku walau aku tak bisa dan belum bisa.
Kupejamkan mata, kuresapi rasa ditubuhku ini, rasa sakit yang telah kupendam sejak 17 tahun yang lalu,
aku benar benar sudah lelah, suamiku, anaku maafkan aku.
"Ibu.. bangun.. ib-bu kenapa? tolong!"
sepertinya itu suara terakhir yang penah kudengar, vino maafkanlah ibu.
Ketika aku tersadar, aku ada di tempat itu lagi, tempat yang benar benar aku inginkan. Rumput rumput
itu, daun daun yang berguguran itu, dan angin angin yang sejuk itu.
Aku pun dengan jelas melihat garis garis sungai yang jernih bersama ikan ikan itu. Aku ingin kesana, tapi
seseorang membuatku mengurungkan itu.
ANDRI !
aku sangat kaget, aku benar benar tak menyangka, disini ada andri.
"aku telah menunggumu disini 17 tahun yang lalu, aku sangat lelah, tapi setelah aku tau kamu sangat
menderita didunia sana aku tak bisa membiarkanmu sendiri lagi."
Andri menatapku, ia memegang tanganku.
"sekarang dan selamanya, kita akan abadi bersama disini"
Andri. ja-jadi kamu telah meninggalkan duniamu selama ini,untuk aku. Andri, aku sangat terharu aku
ingin memelukmu.
"peluklah aku jika kamu menginginkan itu"
tanpa kutunggu lagi, aku langsung memeluk andri, aku ingin membuang dan menghapus semua beban
ini bersamamu.