Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Hari/tanggal : Rabu, 30 April 2014

Biokimia Umum Waktu : 11.00-14.00 WIB


PJP : Puspa Julistia P, MSc
Asisten : Dwi Fauziah
Synta Haqqul F
Nazula Rahma S
M. Maftuchin S

VITAMIN
Kelompok 9
Rahma Naharin B04130054
Umi N.A Sutrisno B04130087
Indra Saputra B04130169
Maria Golvensiana B04130204

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PENDAHULUAN
Istilah vitamin mula-mula diutarakan oleh seorang ahli kimia Polandia
yang bernama Funk, yang percaya bahwa zat penangkal beri-beri yang larut dalam
air itu suatu amina yang sangat vital, dan dari fakta tersebut lahirlah istilah
vitamine dan kemudian menjadi vitamin. Vitamin dikenal sebagai kelompok
seyawa organik yang tidak masuk dalam golongan protein, karbohirat, maupun
lemak. Vitamin merupakan komponen penting di dalam bahan pangan walaupun
terdapat dalam jumlah sedikit, karena berfungsi untuk menjaga keberlangsungan
hidup serta pertumbuhan. Vitamin diperlukan tubuh untuk proses metabolisme
dan pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat dalam jumlah
yang cukup oleh tubuh, oleh karena itu harus diperoleh bahan pangan yang
dikonsumsi. Kecuali vitamin D, yang dapat dibuat dalam kulit asal kulit
mendapatkan sinar matahari yang cukup (Dorland 2006).
Jenis vitamin dibedakan berdasarkan kelarutannya ada dua macam, yaitu
vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang
larut dalam air hanya ada dua yaitu Vitamin B dan C. Sedangkan vitamin A, D, E,
dan K, mereka larut dalam lemak. Cara kerja vitamin yang larut dalam lemak dan
yang larut dalam air berbeda. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di
dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan
dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis
vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis
vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh (Andarwulan
dan Koswara 1989).
Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam
air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang
bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin
yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian
tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama
urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara
terus-menerus (Andarwulan dan Koswara 1989).
Vitamin A pada umumnya terdapat di dalam hasil-hasil hewani seperti
daging, susu, keju, kuning telur, hati, ikan dan telur. Hasil nabati pada umumnya
tidak mengandung vitamin A tetapi mengandung zat dalam bentuk provitamin A
yang dikenal sebagai beta karoten, misalnya di dalam buah tomat, pepaya, wortel
dan sayur-sayuran hijau. Vitamin D ditemukan dalam hati, minyak ikan, hasil-
hasil susu dan telur. Sumber vitamin E adalah kacang-kacangan, minyak nabati
dan alpukat dll. Sumber utama vitamin K adalah hati dan sayuran seperti bayam,
kubis, dan bunga kol. Golongan vitamin B kompleks mencakup thiamin (vitamin
B1), riboflavin (vitamin B2), niasin (asam nikotinat, niasin amida), pyridoxin
(vitamin B6), asam pantotenat, asam folat, folasin (asam folat dan turunan
aktifnya), sianokobalamin (vitamin B12), biotin dan choline. Semua vitamin dari
golongan ini biasanya ditemukan di dalam bahan pangan yang sama seperti hati,
ragi, dedak dari biji-bijian (Djojosoebagjo dan Wiranda 1996).
Vitamin C banyak terdapat pada bahan nabati sayur dan buah terutama
yang segar karenanya sering disebut Fresh Food Vitamin. Bahan pangan yang
merupakan bahan sumber vitamin C adalah jeruk, tomat, dan cabe hijau. Buah
yang masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya. Semakin tua buah
semakin berkurang kandungan vitamin C-nya. Kentang mengandung vitamin C
walaupun dalam jumlah sedikit. Susu, biji-bijian dan daging sedikit sekali
mengandung vitamin C. Bayam, brokoli, cabe hijau, dan kubis merupakan sumber
yang baik, bahkan juga setelah dimasak (Djojosoebagjo dan Wiranda 1996).
Praktikum ini bertujuan menentukan kadar vitamin C yang terdapat di
dalam tablet vitamin C dan sari buah.

METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Biokimia 1-Departemen
Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian
Bogor. Waktu pelaksanaannya yaitu pada hari Rabu, tanggal 30 April 2014 pukul
11.00-14.00 WIB.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah labu Erlenmeyer, pipet
tetes, pipet Mohr, penangas air, bulb, dan corong. Bahan praktikum yang
digunakan adalah tablet vitamin C, larutan H2SO4 2 N, larutan iod 0.1 N, larutan
tiosulfat 0.1 N, larutan pati, dan sari buah jeruk.
Prosedur Percobaan
Penentuan Vitamin C dalam Tablet
Sebanyak 20 mL akuades dingin yang telah dipanaskan sebelumnya
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer dan ditambahkan satu buah tablet vitamin
C yang telah digerus sebelumnya. Selanjutnya ditambahkan 3 mL larutan H2SO4 2
N dan 15 mL larutan iod 0.1 N, lalu dititrasi dengan menggunakan larutan
tiosulfat 0.1 N. Setelah warna berubah menjadi lebih cerah dari warna
sebelumnya, segera ditambahkan 10 tetes larutan pati sebagai indikator, kemudian
dititrasi lagi sampai warna larutan kembali ke warna asal. Jumlah mL larutan
tiosulfat yang digunakan dicatat, dan ditentukan kadar vitamin C. Percobaan
dilakukan sebanyak dua kali.
Penentuan Vitamin C dalam Buah
Sebanyak 10 mL sari buah jeruk dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer,
kemudian ditambahkan 3 mL larutan H2SO4 2 N dan 15 mL larutan iod 0.1 N.
Selanjutnya dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai warna
berubah menjadi lebih cerah dari warna sebelumnya, segera ditambahkan 10 tetes
larutan pati sebagai indikator, kemudian dititrasi lagi sampai warna larutan
kembali ke warna asal. Kadar vitamin C dalam buah ditentukan dengan
perhitungan.
Titrasi Blanko
Sebanyak 10 mL akuades dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer,
kemudian ditambahkan 3 mL larutan H2SO4 2 N dan 15 mL larutan iod 0.1 N.
Selanjutnya dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai warna
berubah menjadi lebih cerah dari warna sebelumnya, segera ditambahkan 10 tetes
larutan pati sebagai indikator, kemudian dititrasi lagi sampai warna larutan
kembali ke warna asal.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Vitamin C atau asam askorbat adalah suatu senyawa beratom karbon 6
yang dapat larut dalam air. Vitamin C merupakan vitamin yang disintesis dari
glukosa dalam hati dari semua jenis mamalia, kecuali manusia. Manusia tidak
memiliki enzim gulonolaktone oksidase, yang sangat penting untuk sintesis dari
prekursor vitamin C, yaitu 2-keto-1-gulonolakton, sehingga manusia tidak dapat
mensintesis vitamin C dalam tubuhnya sendiri (Padayatty 2003). Di dalam tubuh,
vitamin C terdapat di dalam darah (khususnya leukosit), korteks anak ginjal, kulit,
dan tulang. Vitamin C akan diserap di saluran cerna melalui mekanisme transport
aktif (Sherwood 2000).
Vitamin C pertama kali ditemukan oleh Albert Szent-Györgyi, seorang
ilmuwan berkebangsaan Hungaria yang memenangkan Noble Prize in Physiology
or Medicine pada tahun 1937 atas karyanya dalam menemukan rumus bangun
vitamin C. Szent-Györgyi berhasil menemukan vitamin C saat mengisolasinya
dari paprika pada tahun 1930. (Douglas 2001).
Rumus bangun vitamin C (asam askorbat) adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Rumus Bangun Vitamin C (Douglas 2001)


Ada beberapa manfaat vitamin C yang telah diketahui sampai saat ini,
yaitu Vitamin C sebagai Penguat Sistem Imun Tubuh, vitamin C dapat
meningkatkan daya tahan tubuh akan tetapi hal ini masih kontroversial, dan belum
ada kesepakatan yang jelas untuk mekanismenya (Guyton dan Hall 2008);
Vitamin C sebagai Antioksidan, vitamin C merupakan suatu donor elektron dan
agen pereduksi. Disebut anti oksidan, karena dengan mendonorkan elektronnya,
vitamin ini mencegah senyawa-senyawa lain agar tidak teroksidasi. Walaupun
demikian, vitamin C sendiri akan teroksidasi dalam proses antioksidan tersebut,
sehingga menghasilkan asam dehidroaskorbat (Padayatty 2003); Vitamin C
sebagai Obat untuk Common Cold, menurut Douglas (2001), vitamin C
megadosis dapat menyembuhkan common cold, akan tetapi hal ini juga
dipengaruhi beberapa faktor, antara lain sistem imun penderita dan gejala yang
timbul, serta derajat keparahan penderitanya. Penggunaan vitamin C dengan dosis
3-10 g/ hari, akan dapat mengurangi insidensi dari common cold; Vitamin C
sebagai Obat Anti-penuaan, vitamin C juga terkenal dengan fungsinya sebagai
pencegah penuaan. Menurut Hahn (1996), vitamin C bila dikonsumsi secara
teratur dapat melindungi kulit dari proses oksidasi ataupun sengatan sinar
ultraviolet, yang merupakan penyebab kerusakan kulit; dan Vitamin C sebagai
Pensintesis Kolagen, kolagen adalah protein terbanyak pada serat-serat jaringan
ikat kulit, tulang, dan kartilago. Kolagen tidak dapat larut dalam air, tetapi mudah
dicerna dan mudah larut dalam basa (Dorland, 2006).
Analisa titrimetri atau analisa volumetrik adalah analisis kuantitatif dengan
mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah
diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan
larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif (Winarno 1994).
Dalam praltikum titrasi tidak langsung yang diguanakan adalah Iodometri.
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang
bersifat oksidator seperti besi III, tembaga III, dimana zat ini akan mengoksidasi
iodida yang ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk akan ditentukan
dengan menggunakan larutan baku tiosulfat (Winarno 1994). Hasil praktikum
penentuan kadar vitamin C pada tablet dapat dilihat pada pada Tabel 1.
Tabel 1. Penentuan Kadar Vitamin C pada Tablet
Kadar Vit
Vawal Vakhir Vterpakai Vterkoreksi Vrata-rata
Sampel C
(mL) (mL) (mL) (mL) (mL)
(mg/tablet)
Blanko 18.2 16.5 1.7
Ulangan 1 28 26.8 1.2 5.5
Ulangan 2 41.5 31.7 9.8
Indikator: Pati
Reaksi: C6H8O6 + I2 C6H6O6 + 2HI
I2 + 2Na2SSO3 2NaI + Na2S4O6
Perubahan Warna: Sebelum penambahan pati=
Setelah penambahan pati=

Contoh perhitungan
Vterpakai= Vawal – Vakhir= 18.2 – 16.5= 1.7 mL
V ulangan 1+2 1.2+9.8
Vrata-rata= = = 5.5 mL
2 2
Vterkoreksi= Vblanko – Vrata-rata sampel = 1.7 – 5.5 =
Konstanta Konvensi 1 mL Na2S2O3
 1 mL Na2S2O3 = 1 mL x 0.1 N = 0.1 mmol
 Asumsi mol I2 yang bereaksi dengan Na2S2O3 = mol I2 yang bereaksi
dengan C6H8O6
1
 Mol I2 = x 0.1 = 0.05 mL
2
1
 Mol C6H8O6 = x 0.05 = 0.05 mL
1
massa
 Mol C6H8O6 =
bobot molekul
m
0.05 =
176 mg/mmol
m = 8.8 mg/mL Na2S2O3
Kadar vitamin C = Vterkoreksi x konstanta konvensi 1 mL Na2S2O3
=

Tabel 2. Penentuan Kadar Vitamin C pada Sari Buah


Kadar Vit
Vawal Vakhir Vterpakai Vterkoreksi Vrata-rata
Sampel C
(mL) (mL) (mL) (mL) (mL)
(mg/tablet)
Blanko 18.2 16.5 1.7
Ulangan 1 36.4 31.7 4.7
Ulangan 2 7.1 3.1 3
Indikator: Pati
Reaksi: C6H8O6 + I2 C6H6O6 + 2HI
I2 + 2Na2SSO3 2NaI + Na2S4O6
Perubahan Warna: Sebelum penambahan pati=
Setelah penambahan pati=
Fungsi larutan iod adalah untuk menngetahui kandungan amilum atau pati
dalam suatu bahan yang pada percobaan ini dignakan sebagai indikator. Larutan
pati digunakan sebagai indikator karena mempermudah pengamatan warna.
Amilum membentuk kompleks berwarna biru tua bila bereaksi dengan iodin.
Penambahan amilum dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi, jika terlalu
awal akan memberikan perbedaan yang signifikan. Perubahan warna yang terjadi
adalah coklat tua, lalu pudar menjadi kuning, kemudian kuning tersebut memudar
lagi sampai akhirnya tidak berwarna. Sedangkan fungsi Na2S2O3 (larutan tiosulfat)
adalah untuk mencegah terjadinya ion kompleks ammonium sulfat dengan
katalisator. Kompleks yang terjadi ikatannya kuat dan sukar diuapkan. Na2S2O3
berfungsi untuk mengendapkan katalisator sehingga tidak mengganggu reaksi
kimia selanjutnya (Harjadi 1986).
SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Andarwulan, N dan Koswara, S. 1989. Kimia Vitamin. Jakarta (ID): Rajawali
Press
Djojosoebagio, S dan Wiranda, P. 1996. Fisiologi Nutrisi Edisi ke-3. Jakarta (ID):
Penerbit Universitas Indonesia

Dorland, W.A.N. 2006. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta (ID): EGC

Douglas, RM. 2001. Vitamin C for Preventing and Treating the Common Cold.
[terhubung berkala]
http://www.plosmedicine.org/article/info:doi%2F10.1371%2Fjournal.pme
d.0020168 [3 Mei 2014]

Guyton, A.C. dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta (ID): Penerbit Buku Kedokteran EGC

Hahn, GS. 1996. Anti Aging Cosmetics. Stanford (US): Stanford University

Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta (ID): PT Gramedia

Padayatty, S.J. Vitamin C as an antioxidant: evaluation of its role in disease


prevention. [terhubung berkala] www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12569111
[3 Mei 2014]

Sherwood, L. 2000. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta (ID): Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Winarno F G. 1994. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta(ID): PT Gramedia Pustaka


Utama