Anda di halaman 1dari 33

STATUS UJIAN

KATARAK SENILIS IMMATURE

Penguji:

dr. Henry A. W, SpM

Disusun oleh:

Afdhalul Mahfud

1102010008

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. I
Usia : 55 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat tanggal lahir : Solo, 18 Maret 1952
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat: : Jl. Budi Murni 3 RT 005/002 ,Cipayung, Jakarta Timur
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa, Indonesia
Status : Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 21 Desember 2017

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 21 Desember
2017 di poli mata RS Polri.

Keluhan Utama :
Penglihatan buram secara perlahan – lahan pada mata kanan sejak 1 bulan SMRS

Keluhan Tambahan :
Apabila melihat cahaya langsung pandangan seperti berpendar

Riwayat Penyakit Sekarang :


Seorang pasien perempuan usia 60 tahun datang ke Poliklinik Mata RS
Polri dengan keluhan penglihatan buram secara perlahan – lahan pada mata kanan
sejak 1 bulan SMRS. Pasien mengatakan awalnya penglihatan buram seperti tertutup
kabut pada mata kanan pasien sehingga sulit untuk melihat. Sejak 2 minggu terakhir,
keluhan semakin memberat dan menggangu pengelihatan pasien. Keluhan disertai

1
dengan penglihatan seperti berpendar bila melihat cahaya langsung. Keluhan tidak
disertai dengan mata merah, gatal, dan nyeri. Keluhan melihat ganda dan melihat
lingkaran disekitar sinar disangkal.
Pasien menceritakan awalnya 1 bulan yang lalu pasien mulai merasa
pandangannya buram dan semakin memberat hingga 2 minggu SMRS pasien
mengaku sulit melihat jauh dan keluhan mata silau dirasakan semakin memberat.
Pasien menyangkal pernah memiliki keluhan melihat seperti bercak mengapung yang
mengikuti arah gerak mata. Pasien mengaku memang menggunakan kacamata
sebelumnya karena gangguan penglihatan mata sejak 25 tahun yang lalu. Pasien juga
menyangkal pernah mengkonsumsi obat-obatan baik dalam bentuk tablet maupun
obat tetes mata dalam jangka panjang. Pasien tidak pernah mengalami benturan atau
trauma pada daerah mata. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit diabetes dan
hipertensi.
Pasien mengaku tidak pernah berobat ke dokter mata sebelumnya untuk
mengobati penyakitnya. Saat ini pasien mengaku pandangan mata kirinya buram,
sehingga kesulitan untuk melihat.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal
Riwayat menggunakan kacamata S – 5,00 OS dan S – 4,00 C – 2,00 X 900
Riwayat pembedahan pada mata sebelumnya disangkal
Riwayat penggunaan obat dalam jangka panjang disangkal
Riwayat penyakit diabetes mellitus disangkal
Riwayat mengalami benturan atau trauma benda asing disangkal
Riwayat alergi obat disangkal
Riwayat darah tinggi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal
Riwayat penyakit diabetes mellitus disangkal

2
III. PEMERIKSAAN FISIK
III.1 Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital :
- Tekanan Darah :120/80 mmHg
- Nadi : 78 x/menit
- Suhu : 36,5˚C
- Pernafasan : 20 x/menit

III.2 Status Oftalmologis

OD OS
Visus 3/60 2/60
S – 5,00 > 6/125F S – 4,00 C – 2,00 X 900 >
6/30F
Pemeriksaan TIO Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Kedudukan Bola Mata Ortoforia
Gerakan Bola Mata

Baik ke segala arah Baik ke segala arah


Lapang Pandang Dalam Batas Normal Dalam Batas Normal
Supra Silia Dalam Batas Normal Dalam Batas Normal
Palpebra Superior Tenang Tenang
Palpebra Inferior Tenang Tenang
Konjungtiva tarsal Tenang Tenang
superior
Konjungtiva tarsal Tenang Tenang
inferior
Konjungtiva bulbi Tenang Tenang
Kornea Jernih ; arkus senilis (+) Jernih ; arkus senilis (+)
Bilik mata depan/ COA Kedalaman sedang ; jernih Kedalaman sedang ;jernih

3
Iris Cokelat ; kripte (+) Cokelat ; kripte (+)
Pupil Bulat ; diameter 3mm ; RL Bulat ; diameter 3mm ;
(+) ; RCTL (+) RL (+) ; RCTL (+)
Lensa Keruh pada sebagian lensa Keruh pada sebagian
; shadow test (+) lensa ; shadow test (+)
TIO perpalpasi Normal /palpasi Nomal /palpasi
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

IV. RESUME
Pasien perempuan usia 55 tahun datang ke Poliklinik Mata RS Polri dengan
keluhan penglihatan buram pada mata kanan dan kiri sejak 1 bulan SMRS dan
memberat sejak 2 minggu SMRS. Pasien mengatakan penglihatan buram seperti
tertutup kabut pada mata kanan dan kiri sehingga pasien sulit untuk melihat jelas
terutama jarak jauh. Keluhan disertai dengan mata kanan silau jika melihat cahaya,
dan pandangan seperti berpendar bila melihat cahaya langsung.
Pasien mengatakan penglihatan buram dirasakan saat melihat jauh , namun
saat melihat dekat pasien dapat melihat dengan jelas. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan darah 120/80 mmHg, nadi
78 x/menit, suhu 36,5˚C, dan pernafasan 20 x/menit).
Pada pemeriksaan oftalmologis ditemukan:

OCULI DEXTRA(OD) PEMERIKSAAN OCULI


SINISTRA(OS)

3/60 Visus 2/60


S – 5,00 > 6/125F S – 4,00 C – 2,00 X 900
> 6/30F

Tenang Konjungtiva Tenang


Bulbi

Jernih ; arkus senilis (+) Kornea Jernih ; arkus senilis(+)

Keruh pada sebagian Lensa Keruh pada sebagian


lensa ; shadow test (+) lensa ; shadow test (+)

4
V. DIAGNOSA KERJA
- Katarak Senilis Immature ODS

VI. DIAGNOSA BANDING


Katarak Senilis Intumessen ODS

VII. PENATALAKSANAAN
A. Medikamentosa
- Tidak diberikan terapi medikamentosa pada pasien karena tidak terdapat
keluhan lain selain keluhan mata buram.
B. Terapi Operatif
- Pada Ocular Dextra dan Sinistra : Dapat dilakukan Operasi ECCE atau
Fakoemulsifikasi + IOL secara bertahap
C. Edukasi Pasien
- Menjelaskan cara pemakaian obat dan pentingnya menggunakan obat dengan
teratur sesuai petunjuk
- Menjelaskan kepada pasien untuk rutin kontrol setelah operasi
- Setelah operasi, pasien tidak diperbolehkan untuk menggaruk, menekan, dan
terkena air pada mata yang dioperasi
- Menghindari mengangkat beban, mengejan dan bersin yang kuat selama
kurang lebih dua bulan

VIII. PROGNOSIS
Quo Ad Vitam : Ad bonam
Quo Ad Functionam : Dubia Ad bonam
Quo Ad Sanationam : Dubia Ad bonam
Quo Ad Cosmetican : Dubia Ad bonam

5
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA

6
1.1 Anatomi Lensa
Gambar 1. Anatomi lensa dalam bola mata
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan hampir transparan
sempurna. Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Lensa tergantung pada zonula di belakang
iris, (zonula Zinnii) yang menghubungkannya dengan korpus siliare. Zonula tersusun atas
banyak fibril, fibril-fibril ini berasal dari permukaan corpus ciliare dan menyisip ke dalam
ekuator lensa. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquaeus dan disebelah posterior terdapat
viterus.

Gambar 2. Tampilan lensa dilihat dari anterior dan lateral


Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeabel yang dapat dilewati air dan elektrolit.
Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Sel epitel lensa akan terus-menerus
membentuk serat lensa sehingga mengakibatkan serat lensa memadat dibagian sentral lensa dan

7
membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu
dibentuk atau serat lensa tertua di dalam kapsul lensa. Di bagian luar nukleus terdapat serat lensa
yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Nukleus lensa memiliki konsistensi lebih
keras daripada korteks lensa. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar subepitel
terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastic. Nukleus dan korteks
terbentuk dari lamellae konsentris yang panjang.

Gambar 3. Tampilan lensa yang diperbesar menampakkan terminasi epitel subkapsular


(vertikal)

Gambar 4. Lensa pada pemeriksaan Slit-lamp


Lensa terdiri dari enam puluh lima persen air, 35% protein, dan sedikit sekali mineral
yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di

8
kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi
maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau pun saraf di lensa.

I.2 Fisiologi Lensa


Fungsi utama lensa adalah memfokuskan cahaya masuk ke dalam mata sehingga
terbentuk bayangan yang tajam pada retina. Mata dapat mengubah fokusnya dari objek jarak jauh
ke jarak dekat karena kemampuan lensa untuk mengubah bentuknya, suatu fenomena yang
dikenal sebagai akomodasi. Elastisitasnya yang alami memungkinkan lensa untuk menjadi lebih
atau kurang bulat (sferis), tergantung besarnya tegangan serat-serat zonula pada kapsul lensa.
Tegangan zonula dikendalikan oleh aktivitas musculus ciliaris, yang bila berkontraksi akan
mengendurkan tegangan zonula. Dengan demikian, lensa menjadi lebih bulat dan dihasilkan
daya dioptri yang lebih kuat untuk memfokuskan objek – objek yang lebih dekat. Relaksasi
musculus ciliaris akan menghasilkan kebalikan rentetan peristiwa-peristiwa tersebut, membuat
lensa mendatar dan memungkinkan objek-objek jauh terfokus. Dengan bertambahnya usia, daya
akomodasi lensa akan berkurang secara perlahan – lahan seiring dengan penurunan
elastisitasnya.

Gambar 5. Perubahan pada lensa saat akomodasi


Terjadinya akomodasi dipersarafi oleh saraf parasimpatik cabang nervus III
(okulomotorius). Obat-obat parasimpatomimetik (pilokarpin) memicu akomodasi, sedangkan

9
obat-obat parasimpatolitik (atropine) memblok akomodasi. Obat-obatan yang menyebabkan
relaksasi otot
silier disebut
cycloplegik.

I.3 Metabolisme Lensa


Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan kalium).
Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di bagian anterior lensa
lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K
bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk secara difusi
dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-K
ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh Ca-ATPase. Metabolisme
lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP shunt menghasilkan
NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan
aldose reduktase. Aldose reduktse adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan
sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim sorbitol dehidrogenase.

II. KATARAK
2.1 Definisi Katarak
Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin Cataracta yang
berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air
terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat
terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat
kedua-duanya.

10
Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, yang
menghalangi sinar masuk ke dalam mata. Katarak terjadi karena faktor usia, namun juga dapat
terjadi pada anak-anak yang lahir dengan kondisi tersebut. Katarak juga dapat terjadi setelah
trauma, inflamasi atau penyakit lainnya.
Menurut INASCRS (Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery) 2011, katarak
adalah kekeruhan lensa kristalin yang menyebabkan turunnya tajam penglihatan dan
menyebabkan keluhan gangguan penglihatan lainnya seperti kontras sensitivitas, silau dan tidak
nyaman. Kekeruhan ini dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme serat akibat proses
degenerasi, trauma, obat-obatan, penyakit sistemik dan lain-lain.

2.2 Klasifikasi Katarak


Tabel 2. Klasifikasi Katarak Berdasarkan Waktu Terjadinya

11
Klasifikasi katarak berdasarkan usia:
1. Katarak kongenital : katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
2. Katarak juvenil : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
3. Katarak senilis : katarak yang terjadi setelah usia 50 tahun

2.3 Epidemiologi Katarak


Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Berbagai studi cross-sectional
melaporkan prevalensi katarak pada individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50%,
prevalensi ini meningkat hingga 70% pada individu usia di atas 75 tahun.
Berdasarkan National Programme fo Control of Blindness 1992, katarak merupaan salah
satu penyebab kebutaan yang utama, dimana urutan penyebab kebutaan adalah katarak, kelainan
kornea, optic atrofi, dan kelainan retina.

2.4 Etiologi Katarak


a. Degeneratif (usia)
b. Diabetes
c. Radang mata
d. Trauma mata
e. Riwayat keluarga dengan katarak
f. Pemakaian steroid lama (oral) atau tertentu lainnya
g. Merokok
h. Pembedahan mata lainnya
i. Terpajan banyak sinar ultraviolet (matahari)

2.5 Patogenesis Katarak


Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa
katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas
cahaya dan mengurangi transplantasinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan
perubahan warna lensa menjadi kuning atau voklat. Temuan tambahan mungkin berupa vesikel

12
di antara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang
menyimpang.

Ada beberapa teori mengenai patogenesis katarak:


1. Konsep Penuaan
Lensa mata mempunyai bagian yang disebut pembungkus lensa atau kapsul lensa,
korteks lensa yang terletak antara nukleus lensa atau inti lensa dengan kapsul lensa. Pada
anak dan remaja nukleus bersifat lembek sedang pada orang tua nukleus ini menjadi
keras. Dengan menjadi tuanya seseorang, maka lensa mata akan kekurangan air dan
menjadi lebih padat. Lensa akan menjadi keras pada bagian tengahnya, sehingga
kemampuannya memfokuskan benda dekat berkurang. Dengan bertambahnya usia, lensa
mulai berkurang kebeningannya, keadaan ini akan berkembang dengan bertambah
beratnya katarak.

2. Teori Radikal Bebas


Mekanisme terjadinya katarak karena penuaan memang masih diperdebatkan,
tetapi telah semakin nyata bahwa oksidasi dari protein lensa adalah salah satu faktor
penting. Serat-serat protein yang halus yang membentuk lensa internal itu sendiri bersifat
bening. Kebeningan lensa secara keseluruhan bergantung pada keseragaman penampang
dari serat-serat ini serta keteraturan dan kesejajaran letaknya di dalam lensa. Ketika
protein rusak, keseragaman struktur ini menghilang dan serat-serat bukannya
meneruskan cahaya secara merata, tetapi menyebabkan cahaya terpencar dan bahkan
terpantul. Hasilnya adalah kerusakan penglihatan yang parah.
Kerusakan protein akibat elektronnya diambil oleh radikal bebas dapat
mengakibatkan sel-sel jaringan dimana protein tersebut berada menjadi rusak yang
banyak terjadi adalah pada lensa mata sehingga menyebabkan katarak.
Pandangan yang mengatakan bahwa katarak karena usia mungkin disebabkan
oleh kerusakan radikal bebas memang tidak langsung, tetapi sangat kuat dan terutama
didasarkan pada perbedaan antara kadar antioksidan di dalam tubuh penderita katarak
dibandingkan dengan mereka yang memiliki lensa bening.

13
3. Sinar Ultraviolet
Banyak ilmuan yang sekarang ini mencurigai bahwa salah satu sumber radikal
bebas penyebab katarak adalah sinar ultraviolet yang terdapat dalam jumlah besar di
dalam sinar matahari. Memang sudah diketahui bahwa radiasi ultraviolet menghasilkan
radikal bebas di dalam jaringan. Jaringan di permukaan mata yang transparan sangat peka
terhadap sinar ultraviolet. Pada mereka yang mempunyai riwayat terpajan sinar matahari
untuk waktu lama dapat mempercepat terjadinya katarak
4. Merokok
Kerusakan lensa pada katarak adalah kerusakan akibat oksidasi pada protein
lensa. Rokok kaya akan radikal bebas dan substansi oksidatif lain seperti aldehid. Kita
tahu bahwa radikal bebas dari asap rokok dapat merusak protein. Dilihat dari semua ini,
tidaklah mengherankan bahwa perokok lebih rentan terhadap katarak dibanding dengan
yang bukan perokok.

III. KATARAK SENILIS

3.1 Definisi
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,
yaitu usia di atas 50 tahun. Penyakit ini mempengaruhi tajam penglihatan sesorang yang
di tandai dengan penebalan lensa pada mata yang terjadi secara progresif dan bertahap.
Katarak merupakan penyebab utama kebutaan yang dapat diobati.

Perubahan lensa pada usia lanjut menurut Ilyas (2015) :


1. Kapsul
- Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)
- Mulai presbiopia
- Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
- Terlihat bahan granular
2. Epitel → makin tipis
- Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat
- Bengakak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata

14
3. Serat lensa:
- Lebih iregular
- Pada korteks jelas kerusakan serat sel
- Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein nukleus
(histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa, sedang warna coklet protein
lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding normal.
- Korteks tidak berwarna karena:
· Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.
· Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.
Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut biasanya mulai
terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.

3.2 Klasifikasi Katarak Senilis

a. Katarak Senilis Berdasarkan Stadium


Katarak senilis secara klinik dikenal dalam empat stadium yaitu insipien, imatur,
matur dan hipermatur.
Tabel 3. Perbedaan stadium katarak senilis (Ilyas, 2015)

15
1. Katarak Insipien
Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator
menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di
dalam korteks. Pada katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat
anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks
berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak isnipien. Kekeruhan
ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada
semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.
2. Katarak Intumesen.
Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan
lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah
lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong
iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal.
Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaukoma. Stadium ini
tidak selalu terjadi pada proses katarak. Katarak intumesen biasanya terjadi pada
katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan mipopia lentikular. Pada
keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan
daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pada pemeriksaan
slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.
3. Katarak Imatur
Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak
yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat
bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang
degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan
hambatan pupil, sehingga dapat menimbulkan glaukoma sekunder. Pada
pemeriksaan uji bayangan iris atau shadow test akan terlihat bayangan iris pada
lensa, disebut shadow test positif.

16
4. Katarak Matur
Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh
masa lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh.
Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan
keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi
kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa.
Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat
bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.
5. Katarak Hipermatur
Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut, dapat
menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi kelur
dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering.
Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-
kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn
menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang
tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks
akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus
yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut
sebagai katarak Morgagni.
6. Katarak Morgagni
Merupakan lanjutan dari katarak hipermatur dimana likuefaksi total pada
korteks telah menyebabkan inti tenggelam pada bagian inferior. Bila proses
katarak hipermatur berlanjut disertai dengan perubahan kapsul, maka korteks
yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan
memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang
terbenam didalam korteks lensa karena lebih berat.

17
b. Katarak Senilis Berdasarkan Morfologi
Tabel 4. Klasifikasi Katarak Senilis Berdasarkan Morfologi

1. Katarak Nukleus
Katarak nukleus sebagai hasil dari sclerosis nukleus yang menyebabkan
terbentuknya kekeruhan sentral lentikular. Pada dekade keempat kehidupan,
tekanan serat lensa perifer menyebabkan penebalan seluruh lensa terutama
nukleus. Katarak nukleus meningkatkan kekuatan refraksi lensa sehingga
menyebabkan myopia lentikuler dan terkadang menghasilkan titik fokus kedua
sehingga terjadi diplopia monokular. Katarak nukleus ini berkembang sangat
lambat. Karena adanya myopia lentikular, penglihatan dekat (bahkan tanpa
kacamata) tetap baik untuk waktu yang lama

18
2. Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal, terdapat perubahan komposisi ion dari korteks lensa
dan akhirnya mengubah hidrasi dari serat lensa.katarak ini biasanya bilateral tapi
tidak simetris. Pasien katarak kortikal cenderung mengalami hiperopia. Namun
gangguan fungsi penglihatan bervariasi tergantung seberapa dekat kekeruhan
dengan aksis visual

3. Katarak Subkapsular Posterior


Katarak subkapsular posterior berlokasi pada korteks di dekat kapsul
posterior. Pada katarak ini terdapat terbentuk kekeruhan yang bergranuler.
Awalnya terdapat sekumpulan kecil kekeruhan granular yang lalu berkembang ke
perifer. Seiring dengan pertambahan kekeruhan, sisa korteks dan nukleus menjadi
ikut terlibat. Gejala yang biasa timbul adalah penglihatan yang berkurang dan
glare (silau) siang hari atau di saat terkena cahaya yang terang. Katarak ini dapat
disebabkan trauma, penggunaan kortikosteroid, inflamasi, dan radiasi ion.

Gambar 6. Stadium Katarak

19
c. Kesesuaian antara derajat kekeruhan lensa dengan visus pasien
a. Derajat 1: Nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak
sedikit keruh dengan warna agak keputihan. Refleks fundus juga masih dengan
mudah diperoleh dan usia penderita biasanya kurang dari 50 tahun.
b. Derajat 2: Nukleus dengan kekerasan ringan, tampak nukleus mulai sedikit
berwarna kekuningan, visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. Refleks fundus juga
masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran
seperti katarak subkapsularis posterior.
c. Derajat 3: Nukleus dengan kekerasan medium, dimana nukleus tampak berwarna
kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Visus
biasanya antara 3/60 sampai 6/30.
d. Derajat 4: Nukleus keras, dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan
visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60, dimana refleks fundus maupun keadaan
fundus sudah sulit dinilai.
e. Derajat 5: Nukleus sangat keras, nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada
yang berwarna agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan
usia penderita sudah diatas 65 tahun. Katarak ini sangat keras dan disebut juga
brunescent cataract atau black cataract.

3.3 Gejala Klinis


Pasien dengan katarak senilis memiliki riwayat penurunan tajam penglihatan yang
progresif dan bertahap dan terdapat gangguan penglihatan dalam gelap dan pada objek
yang dekat. Tanda dan gejala pada katarak senilis, yaitu:
- Penurunan tajam penglihatan
Ini merupakan keluhan utama yang biasanya dialami oleh pasien dengan katarak
senilis. Penurunan tajam penglihatan biasanya mengenai kedua mata dan berjalan
progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
- Penglihatan seperti berkabut atau berasap
- Silau atau Glare
Pasien dapat mengalami gejala silau yang bervariasi, mulai dari penurunan
sensitivitas terhadap cahaya yang terlalu terang atau silau mengihilang saat siang

20
hari kemudian memburuk pada malam hari. Keluhan silau tergantung dengan lokasi
dan besar kekeruhannya, biasanya dijumpai pada tipe katarak posterior subkapsular.
- Myopic shift
Membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata. Ini merupakan akibat
meningkatnya kekuatan fokus lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser
ke miopia (penglihatan dekat). Seiring dengan perkembangan katarak, dapat terjadi
peningkatan kekuatan dipotri lensa, yang dapat menyebabkan myopia ringan atau
sedang. Umumnya, pematangan katarak nuklear ditandai dengan kembalinya
penglihatan dekat oleh karena meningkatnya miopia akibat kekuatan refraktif lensa
nuklear sklerotik yang menguat, sehingga kacamata baca atau bifokal tidak
diperlukan lagi. Perubahan ini disebut dengan “second sight”. Akan tetapi, seiring
dengan penurunan kualitas optikal lensa, kemampuan tersebut akhirnya
menghilang.
- Diplopia monokular
Seiring berkembangnya waktu, nukleus lensa mengalami perubahan, yaitu lebih
padat pada bagian dalam lensa dan mengakibatkan pembiasan multipel di tengah
lensa sehingga menyebabkan refraksi ireguler karena indeks bias yang berbeda.
- Halo
Hal ini bisa terjadi pada beberapa pasien oleh karena terpecahnya sinar putih
menjadi spektrum warna oleh karena meningkatnya kandungan air dalam lensa.
- Melihat warna terganggu atau diskriminasi warna yang buruk

3.4 Diagnosis
Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit-penyakit
yang menyertai (contoh: diabetes melitus, hipertensi, cardiac anomalies). Penyakit seperti
diabetes militus dapat menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara
dini sehingga bisa dikontrol sebelum operasi.
Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui
kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat
membaik dengan dilatasi pupil.

21
Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan palpebra, konjungtiva, dan
kornea dalam keadaan normal. Iris, pupil, dan COA terlihat normal. Pada lensa pasien
katarak, didapatkan lensa keruh. Lalu, dilakukan pemeriksaan shadow test untuk
menentukan stadium pada penyakit katarak senilis. Ada juga pemeriksaan-pemeriksaan
lainnya seperti biomikroskopi, stereoscopic fundus examination, pemeriksaan lapang
pandang dan pengukuran TIO

Pemeriksaan Rutin
1. Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta
menggunakan pinhole
2. Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior
3. Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact, aplanasi atau Schiotz
4. Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes
mata Tropicanamide 0.5%. Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp
untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien
5. Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan

Pemeriksaan Tambahan
1. Biometri untuk mengukur power IOL jika pasien akan dioperasi katarak
2. Retinometri untuk mengetahui prognosis tajam penglihatan setelah operasi
3. Shadow Test untuk menentukan derajat kekeruhan katarak

Gambar 7. Shadow Test (+)

22
3.5 Tatalaksana

1. Penatalaksanaan non bedah untuk visus lebih baik atau sama dengan 6/12, yaitu
pemberian kacamata dengan koreksi terbaik.
2. Jika visus masih lebih baik dari 6/12 tetapi sudah mengganggu untk melakukan aktivitas
yang berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi medis lain untuk operasi,
pasien dapat dilakukan operasi katarak
3. Tatalaksana pasien katarak dengan visus terbaik kurang dari 6/12 adalah operasi
katarak berupa EKEK + IOL atau fakoemulsifikasi + IOL dengan mempertimbangkan
ketersediaan alat, derajat kekeruhan katarak dan tingkat kemampuan ahli bedah
4. Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah
mikro, di mana pasien dipersiapkan untuk implantasi IOL
5. Ukuran IOL dihitung berdasarkan data keratometri serta pengukuran biometri A-‐
scan
6. Apabila tidak tersedia peralatan keratometri dan biometri ukuran IOL dapat ditentukan
berdasar anamnesis ukuran kacamata yang selama ini dipakai pasien. IOL standar power
+20.00 dioptri, jika pasien menggunakan kacamata, power IOL standar dikurangi dengan
ukuran kacamata. Misalnya pasien menggunakan kacamata S -‐6.00 maka dapat
diberikan IOL power +14.00 dioptri
7. Operasi katarak bilateral (operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara berturutan)
sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa
berdampak kebutaan. Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alas an
pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-
baiknya.

Indikasi Operasi:
1. Fungsi penglihatan: jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan
sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien.
2. Indikasi medis: terjadi penyulit lain yang disebabkan oleh katarak itu sendiri, seperti
uveitis, dislokasi lensa, glaukoma, endoftalmitis, dan penyakit retina seperti retinopati
diabetikum dan ablasio retina.

23
3. Indikasi kosmetik: terkadang pasien dengan katarak matur meminta ekstraksi katarak agar
pupil kembali menjadi hitam

Teknik Operasi
Terapi definitif dari katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Terdapat 3 prosedur yang biasa
digunakan yaitu ekstraksi katarak intrakapsular, ekstraksi katarak ekstrakapsular dan
fakoemulsifikasi.

a. Ekstraksi katarak intrakapsular


Pada teknik ini, seluruh lensa akan dikeluarkan bersama kapsul lensa termasuk kapsul
posterior. Saat ini teknik tersebut sudah mulai ditinggalkan karena tingginya kejadian
komplikasi pascaoperasi, seperti ablasio retina, edema makular sistoid, astigmatisme, robekan
iris, dan edema kornea. Selain itu, diperlukan insisi limbus superior 140-160˚ sehingga
membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama. Teknik ini masih dapat digunakan jika
tidak tersedia fasilitas yang cukup untuk dilakukan teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular.
Operasi ini dapat dilakukan pada beberapa kondisi, yaitu: Pasien katarak muda, Pasien
dengan kelainan endotel, Keratoplasti, Implantasi lensa intraokular posterior, Implantasi lensa
sekunder intraokular, Bedah glaukoma, mata dengan predisposisi terjadi prolaps badan kaca,
ablasio retina, mata dengan edema makular sistoid. Pencegahan penyulit pada bedah katarak
seperti prolapsnya badan kaca. Kontraindikasi absolut teknik ini ialah anak-anak dan dewasa
muda dengan katarak dan kasus ruptur kapsular karena trauma. Kontraindikasi relatif berupa
miopia tinggi, sindrom Marfan, dan katarak morgagni.

b. Ekstraksi katarak ekstrakapsular


Pada teknik ini, lensa dikeluarkan bersama kapsul anterior, sedangkan kapsul posterior
ditinggalkan. Oleh sebab itu, terdapat ruang bebas di tempat bekas lensa yang memungkinkan
untuk ditempatkan lensa pengganti (lensa intraokuler ruang posterior). Insisi dilakukan di
limbus atau sebelah perifer kornea, biasanya di bagian superior (kadang temporal), sedangkan
pembukaan dilakukan di kapsul anterior lalu nukleus dan korteks dikeluarkan dan diganti
dengan lensa intraokular yang ditempatkan di “capsular bag” yang disokong oleh kapsul
posterior. Pembedahan ini dapat dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan

24
endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intraokuler posterior, perencanaan
implantasi sekunder lensa intraokuler, bedah glaukoma mata dengan presdisposisi terjadinya
prolaps badan kaca, riwayat ablasi retina, edema makular sistoid, dan pascabedah ablasio.

Gambar 8. Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular

Keuntungan teknik ini dibandingkan ekstraksi intrakapsular:


‐ Insisi yang lebih kecil meminimalisasi trauma dan waktu penyembuhan menjadi lebih
singkat
‐ Komplikasi aderensi korpus vitreus ke kornea dan iris dapat diminimalisasi.
‐ Letak anatomis lensa intraokuler yang lebih stabil karena disokong oleh kapsul posterior
‐ Kapsul posterior yang utuh dapat berperan sebagai sawar terhadap bakteri dan
mikroorganisme yang mungkin masuk saat operasi serta menahan pertukaran molekul antara
akuos humor dan vitreous.
Kekurangan dari teknik ini adalah dapat terjadi opasifikasi sekunder pada kapsul
posterior yang disebut sebagai katarak sekunder. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan
discission pada kapsul posterior dengan neodymium: YAG laser. Letupan energi laser akan
menyebabkan letupan kecil di jaringan target sehingga akan terbentuk lubang kecil di kapsul
posterior pada aksis pupil

25
c. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi menggunakan vibrator ultrasonik yang berguna untuk menghancurkan
nukleus lensa yang keras sehingga bahan nukleus dan korteks dapat diaspirasi melalui insisi
sebesar + 3mm. Insisi yang sama digunakan untuk memasukkan lensa intraokular yang dapat
dilipat. Jika menggunakan lensa yang kaku, diperlukan insisi sebesar 5 mm. Keuntungan dari
insisi kecil ini adalah bekas sayatan tidak perlu dijahit, penyembuhan luka lebih cepat dengan
distorsi kornea lebih sedikit, mengurangi inflamasi intraokuler pascaoperasi, dan pemulihan
fungsi visual lebih cepat. Risiko terlepasnya bahan posterior lensa melalui robekan kapsular
posterior dapat dihindari.

Gambar 9. Fakoemulsifikasi

Perawatan pasca operasi (jika ada tindakan operasi)

1. Frekuensi pemeriksaan pasca bedah ditentkan berdasarkan tingkat pencapaian visus


optimal yang diharapkan.
2. Pada pasien dengan rrisiko tinggi, seperti pada pasien dengan satu mata, mengalami
komplikasi intraoerasi atau ada riwayat penyaki mata lain sebelumnya seperti uveitis,
glaucoma dan lain-‐lain, maka pemeriksaan harus dilakukan satu hari setelah operasi

26
3. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre operasi maupun intra
operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti
petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:
a. Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam kurun waktu 24-‐48 jam setelah operasi
(untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang
menyebabkan bilik mata depan dangkal, hipotonus, peningkatan tekanan
intaraokular, edema kornea ataupun tanda-‐tanda peradangan.)
b. Kunjungan kedua: dijadwalkan pada hari ke 4-‐7 setelah operasi jika tidak
dijumpai masalah pada kunjungan pertama, yaitu untuk mendeteksi dan
mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu
pertama pasca operasi
c. Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien di mana
bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang
diharapakan.
4. Obat-‐obatan yang digunakan pasien pasaca operasi bergantung dari keadaan mata serta
disesuaikan dengan kebutuhan. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan
steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 4
minggu pasca operasi.

3.6 Komplikasi Pasca Operasi


a. Hilangnya vitreous. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka
gel vitreousnya dapat masuk ke dalam bilik mata depan yang merupakan resiko terjadinya
glaukoma atau traksi pada retina.
b. Prolaps iris. Iris dapat mengalami protus melalui insisi bedah pada periode paska
operasi dini. Pupil mengalami distorsi.
c. Endoftalmitis. Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun jarang terjadi
(<0,3%), pasien datang dengan mata merah yang terasa nyeri, penurunan tajam
penglihatan, pengumpulan sel darah putih di bilik mata depan (hipopion).
d. Astigmatisma pascaoperasi. Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan kornea
untuk mengurangi astigmatisma kornea. Ini dilakukan sebelum melakukan
pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi sembuh dan tetes mata steroid

27
dihentikan. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat terjadi pada garis jahitan bila
jahitan terlalu erat. Pengangkatan jahitan biasanya menyelesaikan masalah ini dan bisa
dilakukan dengan mudah di klinik dengan anastesi lokal, dengan pasien duduk di
depan slit lamp. Jahitan yang longgar harus diangkat untuk mencegah infeksi namun
mungkin diperlukan jahitan kembali jika penyembuhan lokasi insisi tidak sempurna.
Fakoemulsifikasi tanpa jahitan melalui insisi yang kecil menghindarkan komplikasi
ini. Selain itu, penempatan luka memungkinkan koreksi astigmatisma yang telah ada
sebelumnya.
e. Edema makular sistoid. Makula menjadi edema setelah pembedahan, terutama bila
disertai dengan hilangnya vitreous. Dapat sembuh seiring berjalannya waktu, namun
dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan yang berat.
f. Ablasio retina. Teknik-teknik modern dalam ekstraksi katarak dihubungkan dengan
rendahnya tingkat komplikasi ini. Tingkat komplikasi ini bertambah bila terdapat
kehilangan vitreous.
g. Opasifikasi kapsul posterior. Pada sekitar 20% pasien, kejernihan kapsul posterior
berkurang pada beberapa bulan setelah pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi
melalui permukaannya. Penglihatan menjadi kabur dan mungkin didapatkan rasa
silau. Dapat dibuat satu lubang kecil pada kapsul dengan laser (neodymium yttrum
(ndYAG) laser) sebagai prosedur klinis rawat jalan. Terdapat risiko kecil edema
makular sistoid atau terlepasnya retina setelah kapsulotomi YAG. Penelitian yang
ditujukan pada pengurangan komplikasi ini menunjukkan bahwa bahan yang
digunakan untuk membuat lensa, bentuk tepi lensa, dan tumpang tindih lensa
intraokular dengan sebagian kecil cincin kapsul anterior penting dalam mencegah
opasifikasi kapsul posterior

3.6 Prognosis
Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang tepat sehingga
tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada saat yang
tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik.

28
3.7 Pencegahan
Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis ialah
oleh karena faktor usia, namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal yang
memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik, mencegah paparan langsung
terhatap sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya.
Pemberian intake antioksidan (seperti asam vitamin A, C dan E) secara teori bermanfaat.

29
ANALISA KASUS
Berdasarkan teori Berdasarkan kasus
Definisi Katarak senilis adalah semua kekeruhan Pasien perempuan usia 55 tahun
lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia di atas 50 tahun.

Gejala 1. Penurunan tajam penglihatan yang 1. Penglihatan pada mata kanan


terjadi secara progresif atau perlahan dan kiri buram sejak 1 bulan
2. Penglihatan seperti berkabut atau yang lalu
berasap 2. Pasien mendeskripsikan
3. Mata merasa silau penglihatan yang buram
4. Melihat halo sekitar sinar seperti tertutup kabut
5. Melihat warna terganggu 3. Keluhan disertai dengan mata
6. Melihat ganda merasa silau jika melihat
7. Membaiknya penglihatan dekat cahaya yang terlalu terang
tanpa kacamata
Pemeriksaan Status Oftalmologis OD 1. Visus OD 3/60, OS 2/60
Fisik 1. Penurunan tajam penglihatan yang 2. Kornea jernih, arkus senilis
progresif, tergantung derajat (+)
kekruhan lensa yang terjadi. Visus 3. COA: kedalaman sedang,
dapat > 6/12 sampai < 1/60 jernih
2. Terdapat kekeruhan pada lensa, 4. Iris: tidak terdapat sinekia
tergantung stadium kekeruhan yang anterior
terjadi. Pada stadium imatur, 5. Lensa OD keruh pada
kekeruhan lensa sebagian, cairan sebagian lensa dan shadow
lensa bertambah, iris terdorong, test (+)
COA dangkal, sudut bilik mata
sempit dan shadow test (+)

Pemeriksaan 1. Pemeriksaan TIO dengan Tonometri Pada ODS: TIO tidak dilakukan
Penunjang Schiotz: jika TIO dalam batas
normal (kurang dari 21 mmHg)
dilakukan dilatasi pupil dengan
tetes mata Tropicanamide 0.5%.
Setelah pupil cukup lebar dilakukan
pemeriksaan dengan slit lamp untuk
melihat derajat kekeruhan lensa
apakah sesuai dengan visus pasien
2. Pemeriksaan funduskopi jika masih
memungkinkan

Terapi 1. Penatalaksanaan non bedah untuk 1. Pada OS: Pasien dapat


visus lebih baik atau sama dengan diberikan kacamata dengan
6/12, yaitu pemberian kacamata koreksi terbaik karena visus
dengan koreksi terbaik. pasien 3/60 OD dan 2/60 OS
2. Jika visus masih lebih baik dari 2. Terapi bedah: pasien
6/12 tetapi sudah mengganggu disarankan untuk dilakukan

30
untuk melakukan aktivitas yang operasi ECCE atau
berkaitan dengan pekerjaan pasien Fakoemulsifikasi + IOL
atau ada indikasi medis lain untuk pada OD
operasi, pasien dapat dilakukan
operasi katarak 3. Terapi edukasi :
3. Tatalaksana pasien katarak dengan mengedukasi cara
visus terbaik kurang dari 6/12 pemakaian obat dan
adalah operasi katarak berupa penggunaan secara teratur,
EKEK + IOL atau fakoemulsifikasi rutin kontrol setelah operasi,
+ IOL dengan mempertimbangkan dan perawatan pasca
ketersediaan alat, derajat kekeruhan operasi.
katarak dan tingkat kemampuan ahli
bedah

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Riordan-eva P, Cunningham E. Vaughan & Asbury General


Ophthalmology. 18th ed. McGraw-Hill Professional. 2011.
2. Harper R.A, Shock J.P. Lensa. Dalam: Susanto D, Pendit B.U. eds.
Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Edisi 17. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2015.
3. Ilyas S, Yulianti S.R. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Kelima. Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta. 2015.
4. Kanski JJ.J, Bowling B. Clinical Ophthalmology: Systemic Approach.
7th ed. Saunders. 2012.
5. Hutauruk J, Istiantoro, Tri B. Katarak. Dalam: IPD’s CIM (Compendium
of Indonesian Medicine). Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia
(PERDAMI). 1sr Edition. 2009.
6. Katarak Pada Penderita Dewasa. Panduan Penatalaksanaan Medis
(PPM). Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery
(INASCRS). 2011.
7. Andrew I Jobling, Robert C Augustey: What causes steroid cataracts? A
review of steroid-induced posterior su bcapsular cataracts; n.Clin Exp
Optom 2002; 85: 2: 61-75.
8. Review Article Diabetic Cataract—Pathogenesis, Epidemiology and
Treatment; Hindawi Publishing Corporation Journal of Ophthalmology
Volume 2010.
9. K V Raju , Sisira Sivan N.V : A clinical study of Complicated Cataract In
Uveitis. Kerala Journal of Ophthalmology Vol. XXII, No.1, March 2010.
10. Jungmook Lyu, Jung-A Kim,Sung Kun Chung, Ki-San Kim, and Choun-
Ki Joo : Alteration of Cadherin in Dexamethasone-Induced Cataract
Organ-Cultured Rat Lens;. Investigative Ophthalmology & Visual
Science, May 2003, Vol. 44, No. 5.

32