Anda di halaman 1dari 26

Pemeriksaan Forensik pada Kasus Kekerasan

Dwiki Widyanugraha
(102014194)

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat: Jalan Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat 11470

Email: Dwiki.widyanugraha21@gmail.com

Pendahuluan
Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu Kedokteran
yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakkan hukum serta
keadilan. Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh
dan nyawa manusia. Berdasarkan kasus yang ditemukan, diduga telah terjadi kasus
pembunuhan. Belum ada dugaan terhadap siapa pembunuhnya. Dugaan tersebut dibuat
berdasarkan penemuan di TKP dan berdasarkan penampakan luar dari tubuh korban. Oleh
karena itu dilakukanlah pemeriksaan medik untuk membantu penegakan hukum, yaitu
pembuatan Visum et Repertum terhadap seseorang yang dikirim oleh polisi (penyidik) karena
diduga sebagai korban tindak pidana.1
Penemuan mayat mencurigakan merupakan sebuah peristiwa dalam ilmu Forensik
yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa kriteria telah ditetapkan dalam
mencurigai adanya peristiwa yang berkaitan dengan penemuan mayat yang mencurigakan,
diantaranya adalah pembunuhan. Dalam masyarakat kejadian pembunuhan bukan merupakan
hal yang jarang ditemui lagi. Oleh karenanya, penting bagi seorang dokter, baik dokter umum
maupun dokter spesialis, dapat memperkirakan cara dan sebab mati dengan memiliki
pengetahuan tentang berbagai aspek ilmu forensik. Dalam skenario ini, penemuan mayat
dengan bekas luka yang mencolok menguatkan kemungkinan kekerasan, pembunuhan secara
mekanis atau penganiayaan hingga mati.

1|Page
ISI
PROSEDUR MEDIKOLEGAL
Dalam perundang-undangan terdapat beberapa prosedur medikolegal yang harus dipatuhi
oleh setiap pihak yang terkait dalam penyelidikan kasus diatas. Berikut beberapa prosedur
medikolegal yang harus dipatuhi: 2
Pasal 133 KUHAP

(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan
pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 133 KUHAP

(2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman
disebut keterangan.3

Pasal 134
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban.
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya
tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang
diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. 2

2|Page
Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP

(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah
sepertiga.3

Pasal 222 KUHP

Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan


pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.2

Pasal 224 KUHP

Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-
undang ia harus melakukannnya: 3

1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9


bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan.1

3|Page
Visum Et Repertum
Pemeriksaan medic untuk tujuan membantu penegakan hukum anatara lain adalah
membuat visum et repertum terhadap seseorang yang dikirim polisis (penyidik) karena
diduga sebagai korban suatu tindak pidana, baik dalam peristiwa kecelakaan lalu-lintas,
kecelakaann kerja, penganiayaan, pembnuhan, pemerkosaan, maupun korban meninggal yang
pada pemeriksaa pertama polisi, terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak
pidana. Visum et repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan
penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medic terhadap manusia baik hidup
atau mati ataupun di duga bagian dari tubuh manusia.4

Identifikasi Forensik
Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun
mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga diartikan
sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada
pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan bahwa orang itu apakah
sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri
itu. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang
ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.1,4

Menentukan identitas korban seperti halnya identitas pada tersangka pelaku kejahatan
merupakan bagian yang terpenting dari penyidikan. Dengan dapat ditentukannya identitas
dengan tepat dapat dihindari kekeliruan dalam proses peradilan yang dapat berakibat fatal.
Penentuan identitas korban dilakukan dengan memakai metode identifikasi sebagai berikut:1
 Visual
Termasuk metode yang sederhana dan mudah dikerjakan yaitu dengan
memperlihatkan tubuh terutama wajah korban kepada pihak keluarga, metode ini akan
memberi hasil jika keadaan mayat tidak rusak berat dan tidak dalam keadaan busuk
lanjut.4

 Dokumen
KTP, SIM, kartu pelajar, dan tanda pengenal lainnya merupakan sarana yang
dapat dipakai untuk menetukan identitas. Dokumen yang ada di dalam saku seorang

4|Page
laki-laki lebih bermakna bisa dibandingkan dengan dokumen yang berada dalam tas
seorang wanita, terutama pada kasus kecelakaan massal sehingga tas yang dipegang
dapat terlempat dan sampai ke dekat tubuh wanita lainnya. Hal mana tidak terjadi
pada laki-laki yang mempunyai kebiasaan menyimpan dokumen dalam sakunya. 1

 Perhiasan
Merupakan metode identifikasi yang baik, walupun tubuh korban telah rusak
atau hangus. Inisial yang tedapat pada cincin dapat memberikan informasi siapa si
pemberi cincin tersebut, dengan demikian dapat diketahui pula identitas korban,
Dalam penentuan identifikasi dengan metode ini tidak jarang diperlukan keahlian dari
seorang yang memang ahli di bidang tersebut. 4

 Pakaian
Pencatatan yang baik dan teliti dari pakaian yang dikenakan korban seperti
model, bahan yang dipakai, merek penjahit, label binatu dapat merupakan petunjuk
siapa pemilik pakaian tersebut dan tentunya identitas korban. 1

 Identifikasi Medis
Merupakan metode identifikasi yang selalu dapat dipakai dan mempunyai nilai
tinggi dalam hal ketepatannya terutama jika korban memiliki status medis (medical
record, ante-mortem record), yang baik. Metode ini menggunakan data umum dan
data khusus. Data umum meliputi tinggi badan, perkiraan umur, berat badan, rambut,
mata, hidung, gigi dan sejenisnya. Data khusus meliputi tatto, tahi lalat, jaringan
parut, cacat kongenital, bekas operasi, tumor dan sejenisnya. Metode ini mempunyai
nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai
cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga ketepatan nya
cukup tinggi. Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode
identifikasi ini. Melalui identifikasi medik diperoleh data tentang jenis kelamin, ras,
perkiraan umur dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.4

 Gigi (odontologi)
Sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi ahli forensik, akan tetapi dalam
prakteknya hampir semuanya pemeriksaan dilakukan oleh dokter ahli ilmu kedokteran
forensik khususnya patologi Forensik. 5
5|Page
Melihat sifat khusus dari gigi yaitu ketahanan serta tidak ada kesamaan bentuk
gigi pada setiap manusia, pemeriksaan ini mempunyai nilai tinggi seperti halnya sidik
jari, khususnya jika keadaan mayat telah busuk/ rusak dan terutama bila ada ante-
mortem record. Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan
rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan
pencetakan gigi dan rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah,bentuk,
susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Seperti hal nya dengan sidik jari,
maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Dengan demikian dapat
dilakukan indentifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data
pembanding antemortem.5

 Sidik jari
Sidik jari atau finger prints dapat menentukan identitas secara pasti oleh
karena sifat kekhususannya yaitu pada setiap orang akan berbeda walaupun pada
kasus saudara kembar satu telur. Keterbatasannya hanyalah cepat rusak/
membusuknya tubuh. Penggunaan sidik jari untuk memnetukan identitas seseorang
tentunya baru dapat bila orang tersebut sebelumnya sudah diambil sidik jarinya. Akan
tetapi walaupun datanya tidak ada pengambilan sidik jari pada korban tetap
bermanfaat yaitu dengan membandingkan sidik jari yang mungkin tertinggal pada
alat-alat yang di rumah korban (latent print).1
Sedangkan pada kasus pembunuhan latent print yang ada pada senjata dapat
membuat si pelaku kejahatan tidak dapat mungkir atau mengelak dari tuduhan bahwa
ia telah melakukan pembunuhan.6

 Serologi
Prinsipnya ialah dengan menentukan golongan darah, dimana pada umumnya
golongan darah seseorang dapat ditentukan dari pemeriksaan darah, air mani, dan
cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan serologik betujuan untuk menentukan golongan
darah jenazah. Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat
dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang. Saat ini telah dapat dilakukan
pemeriksaan sidik DNA yang akurasinya sangat tinggi.1

6|Page
Mediko legal

Prosedur medikolegal yaitu tata cara prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang
berkaitan dengan pelayanan kedokteran dan masalah bioetik untuk kepentingan umum.2

Prosedur mediko legal

- penemuan
- pelaporan
- penyelidikan
- penyidikan
- pemberkasan perkara
- penuntutan
- persidangan
- putusan pengadilan
Keterangan dari prosedur medikolegal adalah :2

1. Penemuan dan Pelaporan


- dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengetahui, atau mengalami suatu
kejadian yang diduga merupaka suatu tindakan pidana.
- Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib, dalam hal ini kepolisian RI.
2. Penyelidikan
- dilakukan oleh penyidik
- penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara RI (pasal 4 KUHAP)
- menindak-lanjuti suatu pelaporan, untuk mengetahui apakah benar ada kejadian
seperti yang dilaporkan.
3. Penyidikan
- dilakukan oleh penyidik
- penyidik adalah (pasal 6 KUHAP)
a. Pejabat polisi negara RI
b. Pejabat pegawai negri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh
undang-undang.
- tindak lanjut setelah diketahui benar-benar telah terjadi suatu kejadian.
a. penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli

7|Page
b. dalam hal mengenai kejadian mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat
meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan secara kedokteran
forensik.
4. Pemberkasan perkara
- dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil
pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter.
- Hasil berkas perkara ini diteruskan ke penuntut umum.
5. Penuntutan
- dilakukan oleh penuntut umum disidang pengadilan setelah berkas perkara lengkap
diajukan ke pengadilan.

6. Persidangan

- pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim


- dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan para ahli, disini dokter
dapat dihadirkan di persidangan pengadilan untuk bertindak selaku saksi ahli atau
selaku dokter pemeriksa.
7. Putusan pengadilan
vonis ditentukan oleh hakim dengan ketentuan :

a. keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana
dan bahwa terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana tersebut
b. keyakinan hakim harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua alat bukti yang
sah.

Autopsi

Yang dimaksudkan dengan autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat,


meliputi pemeriksaan terhadap bagian tubuh luar maupun bagian dalam, dengan tujuan
menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan
penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat
antarakelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Jika pada pemeriksaan
ditemukan beberapa jenis kelainan bersama-sama, maka dilakukan penentuan kelainan mana
yang merupakan penyebab kematian, serta apakah kelainan yang lain turut mempunyai andil
dalam terjadinya kematian tersebut.6

8|Page
Autopsi forensik atau autopsi medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan
peraturan undang-undang dengan tujuan: 1

a) Membantu dalam hal penentuan identitas mayat.


b) Menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta
memperkirakan saat kematian.
c) Mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas benda
penyebab serta identitas pelaku.
d) Membuat laporan tertulis yang objektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum.
e) Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta
penuntutan terhadap orang yang bersalah.

Untuk melakukan autopsi forensik ini, diperlukan suatu surat permintaan pemeriksaan/
pembuatan visum et repertum dari yang berwenang, dalam hal ini pihak penyidik. Izin
keluarga tidak diperlukan, bahkan apabila ada seseorang yang menghalang-halangi
dilakukannya autopsi forensik, yang bersangkutan dapat dituntut berdasarkan undang-undang
yang berlaku. Dalam melakukan autopsi forensik, mutlak diperlukan pemeriksaan yang
lengkap, meliputi pemeriksaan tubuh bagian luar, pembukaan rongga tengkorak, dada dan
perut/panggul. 4

Autopsi Pada Kasus Kematian Akibat Kekerasan

Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus mengungkapkan hal-
hal seperti: 6
a) Penyebab luka

- Memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditentukan. Pada


kasus tertentu gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk
benda yang mengenai tubuh, mislanya luka oleh benda tumpul berbentuk bulat
panjang akan meninggalkan negantive imprint oleh timbulnya marginal
hemorrhage.

9|Page
b) Arah kekerasan

- Luka lecet jenis geser dan luka robek dapat menentukan arah kekerasan sehingga
penting untuk rekonstruksi terjadinya perkara. Pada luka yang menembus kedalam
tubuh, perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh mayat.

c) Cara terjadinya luka

- Apakah luka yang di temukan terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan atau
bunuh diri. Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh
bagian tubuh pada korban pembunuhan yang sempat menagdakan perlawanan
dapat ditemukan luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor
lengan bawah atau telapak tangan.

d) Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati

- Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian sematata-mata disebabkan oleh


kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu pertama-tama harus dapat
dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi
semasa korban hidup (luka intravital). Tanda intravital luka dapat bervariasi dari
ditemukanya resapan darah, tedapatnya proses penyembuhan luka, serbukan sel
radang, pemeriksaan histo-ensimatik sampai pemriksaan kadar histmani beba dan
serotonin jaringan. Pastikan juga terdapatnya luka, bukan penyebab lain misalnya
karna penyakit tertentu,.

Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan.

Pembunuhan dengan kekerasan dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam,
maupun senjata api. Pada pembunuhan dengan menggunakan kekerasan tumpul, luka dapat
terdiri dari luka memar, luka lecet maupun luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang
terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah.1

Pemeriksaan Luar

Bagian pertama dari teknik otopsi adalah pemeriksaan luar. Sistematika pemeriksaan luar
adalah:4

10 | P a g e
1. Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol
kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat
warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk
identifikasi di kamar jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat.
2. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran)
dari penutup mayat.
3. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran)
dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada.
4. Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di
bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar,
warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian
bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.
5. Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran
nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
6. Mencatat benda di samping mayat.
7. Mencatat perubahan tanatologi :
o Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.
o Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada
tidaknya spasme kadaverik.
o Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu ruangan
pada saat tersebut.
o Pembusukan.
o Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.
8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna
kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada
dinding perut.
9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus,
meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada
tubuh.
10. Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Rambut kepala
harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara memotong dan mencabut

11 | P a g e
sampai ke akarnya, paling sedikit dari 6 lokasi kulit kepala yang berbeda. Potongan
rambut ini disimpan dalam kantungan yang telah ditandai sesuai tempat
pengambilannya.
11. Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan,
kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh
darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak,
adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan
lensa mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.
12. Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
13. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan
lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak,
pewarnaan, dan sebagainya.
14. Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh
darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh.
15. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan bawaan
yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada wanita dicatat keadaan
selaput darah dan komisura posterior, periksa sekret liang sanggama. Perhatikan
bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan lain-lain.
16. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis,
edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.3
17. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada
tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran,
dll. Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua tepi ditautkan.
Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara lain : garis tengah
melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui
kedua puting susu, dan garis mendatar melalui pusat.
18. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya. 4

12 | P a g e
Pemeriksaan Dalam

Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat: 1

1. Ukuran : pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur.


Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ
hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran.
2. Bentuk.
3. Permukaan : pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut,
berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan,
permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
4. Konsistensi: diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.
5. Kohesi: merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya
dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan
yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan
yang susah menunjukkan kohesi yang kuat.
6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan
penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabu-
abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ
tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen
bisa merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia.3

Pemeriksaan khusus bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari
dugaan penyebab kematian. Insisi pada masing-masing bagian-bagian tubuh yaitu: 4

a) Dada :

- Dilakukan seksi jantung dan paru-paru .

b) Perut

- Dilihat esofagus, lambung, duodenum dan hati yang dikeluarkan sebagai satu unit

- Ginjal, ureter, rektum, dan kandung urine juga dilihat dan dikeluarkan sebagai
satu unit. Pada perempuan kantung kemih dilepaskan dari uterus dan vagina.

13 | P a g e
c) Leher :

- Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil dikeluarkan
sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok dan
tonsil. Pada kasus pencekikan tulang lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya
patah tulang.

d) Kepala :

- Pada trauma kepala perhatikan adanya edema, kontusio, laserasi serebri.3

Perawatan mayat setelah autopsi

Setelah autopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam rongga
tubuh. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke
daam rongga tengkorak. Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat
membuka rongga dada. Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari
bawah dagu sampai ke daerah simfisis. Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya
dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan
rapi. Bersihkanlah tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak
keluarga.4

Autopsi Kasus Kematian Akibat Asfiksia Mekanis


Asfiksia mekanik meliputi peristiwa pembekapan, penyumbatan, pencekikan,
penjeratan dan gantung serta penekanan pada dinding dada. Pada pemeriksaan mayat sering
ditemukan tanda kematian akibat asfiksi berupa lebam mayat yang gelap dan luas,
perbendungan pada bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran pernafasan,
perbendungan pada alat-alat dalam serta bintik perdarahan Tardieu. Tanda-tanda asfiksi tidak
akan ditemukan bila kematian terjadi melalui mekanisme non-asfiksi. Ciri khas bagi masing-
masing peristiwa adalah seperti berikut: 1

a) Pembekapan

- Tanda kekerasan sekitar lubang hidung dan mulut terutama bagain muka yang
menonjol. Dilihat juga tanda kekerasan pada bagian belakang bibir, daerah
belakang kepala atau tengkuk.

14 | P a g e
b) Penyumbatan

- Sering sekali benda asing masih terdapat dalam rongga mulut atau ditemukan sisa
benda asing dan tanada bekas penekanan benda asing pada dinding rongga mulut.

c) Pencekikan

- Kulit daerah leher menunjukkan tanda kekerasa yang ditimbulkan ujung jari atau
kuku berupa luka memar atau lecet jenis tekan. Pada pembedahan ditemukan
resapan darah bawah kulit daerah leher serta alat leher dan tulang lidah boleh
patah unilateral.

d) Penjeratan

- Jerat biasanya berjalan horisantal/mendatar dan letaknya rendah. Jerat


meninggalkan jejas jeratberupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher. Jerat
pada kasus pembunuhan sering kali disimpul mati.

e) Tergantung

- Jerat pada leher menunjukkan ciri khas berupa arah yang tidak mendatar tetapi
membentuk sudut membuka ke arah bawah dan letak jerat lebih tinggi. Ditemukan
resapan darah bawah kulit pada pembedahan sesuai letak jejas jerat pada kulit.

Pemeriksaan Traumatologi Forensik

Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (ruda paksa), sedangkan yang di maksud dengan
luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Trauma atau
kecelakaan merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus forensik. Hasil dari trauma atau
kecelakaan adalah luka, perdarahan dan atau skar atau hambatan dalam fungsi organ. Agen
penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain kekuatan mekanik, aksi
suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli. Dalam prakteknya nanti
seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab, sehingga
klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma.1

15 | P a g e
Luka akibat kekerasan benda tumpul

Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah
benda yang memiliki permukaan tumpul. Luka yangterjadi dapat berupa memar
(kontusio,hematom), luka lecet (eksoriasi, anrasi) dan luka terbuka/robek (vulnus laceratum).
Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar dapat merupakan hal yang penting,
apalagi bila luka memar tersebut disertai luka lecet atau laserasi. Dengan perjalanan waktu,
baik pada orang hidup maupun mati, luka memar akan memberi gambaran yang makin jelas.
Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukka pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan
dari lebam mayat.4

Listrik dan suhu

Faktor yan berperan pad cedera listrik ialah tegangan (volt), kuat arus (ampere),
tahanan kulit (ohm) luas dan lama kontak. Banyaknya arus listrik yang mengalir menuju
tubuh manusia menentuak kan juga fatalitas seseorang. Makin besar arus, makin berbahaya
bagi kelangsungan hidup. Selain faktor-faktor kuat arus, tahanan dan lama kontak, hal yang
lain penting diperhantikan adalah luas permukaan kontak.

Gambaran makrospik jejas listrik pada daerah kontak berupa kerusakan epitel tanduk
kulit sebagai luka bakar dengan tepi yang menonjol, disekitarnya terdaerah pucat dikelilingi
oleh kulit yang hiperemi. Bentuknya sering sesuai dengan benda penyebabnya. Metalitas
dapat juga ditemukan pada jejas listrik. Jejas listrik bukanlah tanda intravital karena dapat
juga ditimbulkan pada kulit mayat/pasca mati (namun tanpa daaerah hiperemi). Kematian
dapat terjadi karena fibrilasi ventrikel,kelumpuhan otot pernapasan dan kelumpuhan pusat
pernapasan.7

Luka Akibat Suhu/temperature

Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion primer. Temperature


yang tinggi dan rendahnya pengelepasan panas dapat menimbulkan kolaps pada seseorang
karena ketidakseimbangan antara darah sirkulasi dengan lumen pembuluh darah. Hal ini
sering terjadi pada pemaparan terhadap panas, kerja jasmani berlebihan dan pakaian yang

16 | P a g e
terlalu tebal. Dapat pula terjadi heat exhaustion sekunder akibat kehilangan cairan tubuh yan
berlebihan (dehidrasi). Heat stroke adalah kegagalan kerja pusat pengatur suhu akibat terlalu
tingginya temperature suhu tubuh. Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan benda
bersuhu tinggi. Kerusakan kulit yang terjadi bergantung pada suhu tinggi. Kerusakan kulit
yang terjadi bergantung pada tinggi suhu dan lama kontak. Luka bakar yang terjadi dapat
dikategorikan ke delam 4 derajat luka bakar: 1

I. Eritema
II. Vesikel dan bullae
III. Nekrosis koagulatif
IV. Karbonisasi

Pemamparan terhadap suhu rendah misalnya di puncak gunung yang tinggi, dapat
menyebabkan kematian mendadak. Mekanisme kematian dapat diakibatkan oleh kegagalan
pusat pengatur suhu maupun akibatnya rendahnya disosiaso Oxy-Hb. Pada kulit dapat terjadi
luka yang terbagi menjadi beberapa derajat kelainan:

I. Hyperemia
II. Edema dan vesikel
III. Nekrosis
IV. Pembekuan disertai kerusakan jaringan.

Tanatologi

 Tanda kematian tidak pasti


1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpaso, auskultasi).
2. Terhentinya sirkulasi dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin
terjadi spasme agonalsehingga wajah tampak kebiruan
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian.
Segmen-segmen tersebut bergerak kearah tepi retina dan kemudia menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.4

17 | P a g e
 Tanda pasti kematian
1. Lembam mayat
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya
Tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk warna merah ungu pada
bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekann alas keras. Lebam
mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya
bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini,
lebam maya masih hilang memucat pada penekana dan dapat berpindah jika posisi
mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila
penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama
setelah mati klinis. Tetapi, walaupun setelah 2 jam, darah masih tetap cukup cair
sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di
tempat terendah yang baru.
2. Kaku mayat
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak
kira-kira 2 jam setelah mai klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil)
kearah dalam (sentripetal). Teori lama menyembutkan bahwa kaku mayat ini menjalar
kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertankan
selama 12 jam dan kemudian menghlang dalam urutan yang sama. Faktro-faktor yang
mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum mati, suhu tubuh
yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-oto kecil dan suhu lingkung tinggi.1

Cara dan Sebab Kematian

a. Menentukan kematian atau memperkirakan cara kematian korban


Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian.
Menentukan atau memperkirakan cara kematian korban pada umumnya baru dapat dilakukan
dengan hasil yang baik bila dokter diikut sertakan pada pemeriksaan di TKP, yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan mayat oleh dokter yang bersangkutan. Jika hal tersebut tidak
dimungkinkan maka dokter yang melakukan pemeriksaan mayat masih dapat memperkirakan
atau menentukan cara kematian jika para penyidik memberikan keterangan yang jelas
mengenai berbagai hal yang dilihat dan ditemukan pada waktu penyidik melakukan
pemeriksaan di TKP.1

18 | P a g e
Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal 3 cara kematian, yang tidak boleh selalu
diartikan dengan istilah dan pengertian secara hukum yang berlaku.

Cara kematian tersebut adalah: 4


1. Wajar (natural death), dalam pengertian kematian korban oleh karena penyakit bukan
karena kekerasan atau rudapakasa; misalnya kematian karena penyakit jantung, karena
perdarahan otak dank arena tuberkulosa.
2. Tidak wajar (unnatural death), yang dapat dibagi menjadi :
 Kecelakaan
 Bunuh diri
 Pembunuh
3. Tidak dapat ditentukan (undetermined), hal ini disebabkan keadaan mayat telah
sedemikan rusak atau busuk sekali sehingga baik luka ataupun penyakit tidak dapat
dilihat dan ditemukan lagi.

b. Memperkirakan saat kematian


Saat kematian korban hanya dapat diperkirakan karena penentuan kematian secara
pasti sampai saat ini masih belum memungkinkan. Perkiraan saat kematian diketahui dari: 5
1. Informasi para saksi, dalam hal ini perlu diingat bahwa saksi adalah manusia dengan
segala keterbatasannya.
2. Petunjuk-petunjuk yang terdapat di TKP, seperti jam atau arloji yang pecah, tanggal
yang tercantum pada surat kabar, surat, nyala lampu, keadaan tepat tidur, debu pada
lantai dan alat-alat rumah tangga dan lain sebagainya; yang semuanya ini dapat
dilakukan baik oleh penyidik.
3. Pemeriksaan mayat, yang dalam hal ini ialah:
 Penurunan suhu mayat (algor mortis). Pada seseorang yang mati, suhu tubuh akan
menurun sampai sesuai dengan suhu disekitarnya. Secara kasar dikatakan bahwa
tubuh akan kehilangan panasnya sebesar 1 C/jam. Semakin besar perbedaan antara
suhu tubuh dengan lingkungan ( udara atau air), maka semakin cepat pula tubuh
akan kehilangan panasnya. Penurunan suhu tubuh juga dipengaruhi oleh intensitas
dan kuantitas dari aliran atau pergerakan udara. Kematian karena perdarahan otak,
kerusakan jaringan otak, perjeratan dan infeksi akan selalu didahului oleh
peningkatan suhu. Lemak tubuh, tebalnya otot serta tebalnya pakaian yang
dikenankan pada saat kematian pula mempengaruhi kecepatan penurunan suhu

19 | P a g e
tubuh. Selain pengurun suhu rectal, dokter dapat melakukan pengukuran suhu dari
alat-alat dalam tubuh seperti hati atau otak yang tentunya dapat dilakukan saat
pembedahan mayat.
 Lebam mayat mulai tampak sekitar 30 menit setelah kematian, intensitas
maksimal tercapai pada 8-12 jam post mortal.
 Kaku mayat terdapat sekitar 2 jam post mortal dan maksimal 10-12 jam post
mortal dan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam mulai menghilang kembali
sesuai urutan terdapatnya kaku mayat.
 Pembusukan, kecepatan pembusukan pada mayat berbeda-beda tergantung
berbagai faktor, diantaranya factor lingkungan. Pembusukan mayat dimulai 48
jam setelah kematian, dengan diawali oleh timbulnya warna hijau kemerah-
merahan pada dinding perut bagian bawah.4

c. Menentukan sebab kematian


Untuk dapat menentukan sebab kematian secara pasti mutlak harus dilakukan
pembedahan mayat (autopsy, otopsi), dengan atau tanpa pemeriksaan tambahn seperti
pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan toksikologis, pemeriksaan bakteriologis dan lain
sebaginya tergantung kasus yang dihadapi. Tanpa pembedahan mayat tidak mungkin dapat
ditentukan sebab kematian secara pasti. 1

Interpretasi hasil temuan

Temuan pada kasus 1

Mayat laki-laki:

1. Pemeriksaan luar
 Gantung diri di dalam sel tahanan polsek
 Wajah mayat terdapat pembengkakan dan memar
 Punggungnya ada beberapa memar bentuk dua garis sejajar (railway hematoma)
 Di paha sekitar kemaluan ada luka bakar bentuk bundar ukuran diameter kira-kira 1
cm
 Di ujung penis ada luka bakar sesuai jejas listrik
 Jejas jerat melingkari leher dengan simpul di daerah kiri belakang yang membentuk
sudut keatas

20 | P a g e
2. Pemeriksaan bedah mayat
 Resapan darah luas di kulit kepala
 Perdarahan tipis dibawah selaput keras otak
 Sembab otak besar
 Tidak ada resapan darah di kulit leher
 Sedikit resapan darah di otot leher sisi kiri
 Patah ujung rawan gondok sisi kiri
 Sedikit busa halus di dalam saluran napas
 Sedikit bintik-bintik perdarahan di permukaan kedua paru dan jantung
 Tidak ada patah tulang

21 | P a g e
RS UKRIDA
Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat 11510.
Telp: +62 (021) 56942061

PRO JUSTITIA Jakarta, 12 Desember 2017


VISUM ET REPERTUM
No.1/TU.RSU/I/2017

Yang bertandatangan di bawah ini, dr. Dwiki Widyanugraha, SpF, dokter pada Rumah Sakit
Ukrida, atas permintaan dari kepolisian Sektor Jakarta Barat dengan suratnya nomor VER
12/12/2017, tertanggal 12 Desember 2017, maka dengan ini menerangkan bahwa pada
tanggal dua belas desember tahun dua ribu tujuh belas, pukul sembilan lewat dua puluh
menit. Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di RS Ukrida, telah melakukan pemeriksaan
korban dengan nomor resistrasi 170-91-94 yang menurut surat tersebut adalah : ----------------

Nama : Samuel ----------------------------------------------------------------------------------

Umur : 25 tahun ----------------------------------------------------------------------------------

Jenis Kelamin : Laki-laki ---------------------------------------------------------------------------------

Warga Negara : Indonesia --------------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan : ---------------------------------------------------------------------------------------------

Alamat : ---------------------------------------------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN : -----------------------------------------------------------------------------

1. Korban datang dengan label berbahan karton merah yang diikat pada ibu jari kaki
kanan.---------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Mayat dibungkus dengan kain berwarna putih yang ditutupi kantung mayat berbahan
parasut berwarna hitam. -----------------------------------------------------------------------------
3. Pakaian : -----------------------------------------------------------------------------------------------
a. Satu buah pakaian---------

Lanjutan Ver No:No.1/TU.RSU/I/2017

22 | P a g e
Halaman ke 2 dari 4 halaman

a. Satu buah pakaian dengan dasar berwarna oranye, terdapat bercak darah lima
sentimeter dari kerah pakaian dengan diameter dua sentimeter, tidak terdapat
luka robek.-------------------------- --------------------------------------------------------
4. Tanatologi :
a. Lebam mayat ditemukan pada bagian lengan bawah kanan sebesar tiga
sentimeter berwarna merah keunguan, paha atas tiga sentimeter dari lutut
dengan diameter empat sentimeter merah keunguan, paha kiri tujuh sentimeter
di bawah panggul dengan diameter tiga sentimeter berwarna merah keunguan.---
b. Terdapat kaku mayat seluruh tubuh.-----------------------------------------------------
Mayat adalah seorang laki-laki, bangsa Indonesia, ras Mongoloid, umur dua puluh lima
tahun, kulit kuning langsat, gizi kurang, panjang tubuh seratus enam puluh delapan
sentimeter, berat tujuh puluh kilogram, zakar disunat. -----------------------------------------------

5. Identitas khusus :
a. Pada bagian telapak kaki kanan terdapat tanda lahir dengan diamter empat kali
lima sentimeter, warna ungu kehitaman.------------------------------------------------
Rambut berwarna hitam, tumbuhnya lurus, panjang dua sentimeter.--------------------------------

Alis mata berwarna hitam, tumbuhnya sedang, panjang satu sentimeter,---------------------------

Bulu mata berwarna hitam, tumbuhnya lurus, panjang satu sentimeter.----------------------------

Kumis berwarna hitam, panjang tiga millimeter.-------------------------------------------------------

Jenggot tercukur rapi.--------------------------------------------------------------------------------------

6. Ditemukan pembengkakkan dan memar pada wajah. Hematom dan memar menandakan
adanya kekerasan benda tumpul, mata kanan dan kiri masing masing tetutup, selaput bening
mata jernih, teleng mata bulat, diameter lima millimeter, warna tirai mata coklat, selaput bola
mata putih dan kelopak mata berwarna pucat, .--------------------------------------------------------
--------------
7. Hidung berbentuk sedang.---------------------------------------------------------------------------
8. Telinga berbentuk biasa.-----------
Lanjutan Ver No:No.1/TU.RSU/I/2017
Halaman ke 3 dari 4 halaman

23 | P a g e
8. Telinga berbentuk biasa.------------------------------------------------------------------------------
9. Lidah tidak terjulur dan berwarna merah muda.--------------------------------------------------
10. Gigi geligi :---------------------------------------------------------------------------------------------
a. Rahang atas kanan, atas kiri, bawah kanan dan bawah kiri gigi geligi lengkap
berjumlah tiga puluh dua.------------------------------------------------------------------
11. Lubang :------------------------------------------------------------------------------------------------
a. Dari lubang hidung tidak keluar apa-apa.-----------------------------------------------
b. Dari lubang mulut tidak keluar apa-apa, terdapat luka lecet pada bagian mulut
dalam berwarna merah keunguan.-------------------------------------------------
c. Dari lubang telinga kanan dan kiri tidak keluar apa-apa.------------------------------
d. Dari lubang kemaluan tidak keluar apa-apa, terdapat luka bakar yang sesuai
dengan jejas listrik, kerusakan lapisan tanduk kulit dengan tepi menonjol, di
sekitarnya terdapat daerah yang pucat dikelilingi oleh kulit yang hiperemis ------
--------------------
e. Dari lubang pelepasan tidak keluar apa-apa.--------------------------------------------
12. Luka luka:----------------------------------------------------------------------------------------------
a. Terdapat memar berbentuk dua garis sejajar (Railway Hematome) pada
punggung kanan sepuluh sentimeter dari bahu, berbentuk dua garis sejajar
dengan daerah pucat ditengahnya, lebar daerah pucat satu sentimeter, luas
memar seluruhnya tiga sentimeter kali delapan sentimeter.--------------------------
--------------------------------------------------

b. Terdapat luka bakar bundar dengan diameter 1 cm ditemukan di sekitar


kemaluan, luka berwarna dasar merah ditutupi oleh abu berwarna hitam.---------

c. Pada ujung Penis terdapat luka bakar, berwarna merah dengan jejas arus listrik.
---------

d. Terdapat jejas jerat melingkari leher dengan simpul di daerah kiri belakang
yang membentuk sudut ke atas, diameter tiga sentimeter, kulit berwarna coklat
dan mencekung, perabaan kaku.----------------------------------------------------------

13. Patah Tulang :------------------------------------------------------------------------------------------


a. Tidak terdapat patah tulang.-------------------------------------------------------------
14. Lain-lain:-----------------------------------------------------------------------------------------------

24 | P a g e
a. Terdapat resapan darah------------
Lanjutan Ver No:No.1/TU.RSU/I/2017
Halaman ke 4 dari 4 halaman
a. Terdapat resapan darah yang luas di kulit kepala bagian belakang, diameter
lima sentimeter berwarna merah.--------------------------------------------------------
---------------
b. Terdapat perdarahan tipis di bawah lapisan keras otak bagian belakang.----------
c. Terdapat sembab otak besar.--------------------------------------------------------------
d. Resapan darah di otot leher kiri, dengan diameter dua sentimeter.------------------
e. Pada saluran pernafasan terdapat sedikit busa halus, berwarna putih bening.-----
f. Pada bagian permukaan kedua paru-paru dan jantung terdapat bintik-bintik
perdarahan.---------------------------------------------------------------------------------
g. Terdapat patah ujung rawan gondok sisi kiri.-------------------------------------------
KESIMPULAN :-------------------------------------------------------------------------------------
Pada korban laki-laki berusia empat puluh tahun ini patah ujung rawan gondok sisi kiri
yang diikuti dengan sedikit bintik-bintik perdarahan di permukaan kedua paru dan
jantung, serta adanya sedikit busa halus pada saluran pernafasan. Korban meninggal
karena kekurangan oksigen akibat pencekikan yang beralaskan kain halus. Pelaku
menggunakan tangan kanan. Mayat telah meninggal sebelum dilakukannya penjeratan.--
Demikian visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan
keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang
Hukum Acara Pidana.--------------------------------------------------------------------------------
Dokter Pemeriksa,

Dr. Dwiki Widyanugraha, Sp F

25 | P a g e
Daftar Pustaka

1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Idries AM, Sidhi et al. Ilmu


kedokteran forensik. Jakarta: Penerbit Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Safitry, O. Kompilasi peraturan perundnga-undangan terkait praktek kedokteran.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2014.
3. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2014. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait
praktik kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.3-26.
4. Idries, A.M. 2002. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.
5. Mansjoer, A. Suprohaita. Wardhani, W.I. 2007. Kapita selekta kedokteran. Jilid 2.
Jakarta: Media Aesculapius.220-1.
6. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2000. Teknik autopsi forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.1-44,56-81.
7. Sampurna B, Syamsu S, Siswaja TD. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan
Hukum. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2003.

26 | P a g e