Anda di halaman 1dari 9

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

MENUNJUKKAN PRAKTIK K3 INDIVIDU DALAM PENCEGAHAN


DAN PENGENDALIAN INFEKSI

OLEH : LUSI APRIANTI

SI KEPERAWATAN STIKes DHARMA


HUSADA BANDUNG

”Health-care Associated Infections


(HAIs)” merupakan komplikasi yang hari setelah pasien masuk rumah sakit

paling sering terjadi di pelayanan atau tempat pelayanan kesehatan

kesehatan. HAIs selama ini dikenal lainnya, atau dalam waktu 30 hari setelah

sebagai Infeksi Nosokomial atau disebut pasien keluar dari rumah sakit. Dalam hal

juga sebagai Infeksi di rumah sakit ini termasuk infeksi yang didapat dari

”Hospital-Acquired Infections” rumah sakit tetapi muncul setelah pulang

merupakan persoalan serius karena dan infeksi akibat kerja terhadap pekerja

dapat menjadi penyebab langsung di fasilitas pelayanan kesehatan.

maupun tidak langsung kematian pasien. Angka kejadian terus meningkat


Kalaupun tak berakibat kematian, pasien mencapai sekitar 9% (variasi3-21%) atau
dirawat lebih lama sehingga pasien harus lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di
membayar biaya rumah sakit yang lebih rumah sakit seluruh dunia.Kondisi ini
banyak. menunjukkan penurunan mutu

AIs adalah penyakit infeksi yang pertama pelayanan kesehatan. Tak dipungkiri lagi

muncul (penyakit infeksi yang tidak untuk masa yang akan datang dapat

berasal dari pasien itu sendiri) dalam timbul tuntutan hukum bagi sarana

waktu antara 48 jam dan empat pelayanan kesehatan, sehingga kejadian


infeksi di pelayanan kesehatan harus kesehatan lainnya. Keberhasilan
menjadi perhatian bagi Rumah Sakit. program PPI perlu keterlibatan lintas
profesional: Klinisi, Perawat,
Pasien, petugas kesehatan, pengunjung
Laboratorium, Kesehatan Lingkungan,
dan penunggu pasien merupakan
Farmasi, Gizi, IPSRS, Sanitasi
kelompok yang berisiko mendapat HAIs.
& Housekeeping, dan lain-lain sehingga
Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan
perlu wadah berupa Komite Pencegahan
dari pasien kepada petugas, dari pasien
dan Pengendalian Infeksi.
ke pasien lain, dari pasien kepada
pengunjung atau keluarga maupun dari
petugas kepada pasien. Dengan
demikian akan menyebabkan
peningkatan angka morbiditas,
mortalitas, peningkatan lama hari rawat
dan peningkatan biaya rumah sakit.

Program Pencegahan dan Pengendalian


Infeksi (PPI) sangat Penting untuk

melindungi pasien, petugas juga


pengunjung dan keluarga dari resiko
tertularnya infeksi karena dirawat,
bertugas juga berkunjung ke suatu
rumah sakit atau fasilitas pelayanan
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

Rantai Penularan Infeksi

Komponen yang diperlukan sehingga


terjadi penularan adalah:
4. dan kelamin, kulit dan membrana
1. Ageninfeksi (infectious
mukosa, transplasenta dan darah
agent) adalah Mikroorganisme yang
serta cairan tubuh lain.
dapat menyebabkan infeksi. Pada
5. Transmisi (cara penularan) adalah
manusia dapat berupa bakteri ,virus,
mekanisme bagaimana transport
ricketsia, jamur dan parasit.
agen infeksi dari reservoir ke
Dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
penderita (yang suseptibel).
patogenitas, virulensi, dan jumlah
6. Port of entry (Pintu masuk) adalah
(dosis, atau load)
Tempat dimana agen infeksi
2. Reservoir atau tempat dimana agen
memasuki pejamu (yang suseptibel).
infeksi dapat hidup, tumbuh,
Pintu masuk bisa melalui: saluran
berkembang biak dan siap
pernafasan, saluran pencernaan,
ditularkan kepada orang. Reservoir
saluran kemih dan kelamin, selaput
yang paling umumadalah manusia,
lendir, serta kulit yang tidak utuh
binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah,
(luka).
air dan bahan-bahan organik
7. Pejamu rentan (suseptibel) adalah
lainnya. Pada manusia: permukaan
orang yang tidak memiliki daya
kulit, selaput lendir saluran nafas
tahan tubuh yang cukup untuk
atas, usus dan vagina
melawan agen infeksi serta
3. Port of exit ( Pintu keluar) adalah
mencegah infeksi atau penyakit.
jalan darimana agen infeksi
Faktor yang mempengaruhi: umur,
meninggalkan reservoir. Pintu
status gizi, status imunisasi,
keluar meliputi : saluran pernafasan,
penyakit kronis, luka bakar yang
saluran pencernaan, saluran kemih
luas, trauma atau pembedahan,
pengobatan imunosupresan. : Difteria, Pertussis, Mycoplasma,
Sedangkan faktor lain yang mungkin Haemophillus influenza type b
berpengaruh adalah jenis kelamin, (Hib), Virus Influenza, mumps,
ras atau etnis tertentu, status rubella
ekonomi, gaya hidup, pekerjaan dan
herediter

Ada beberapa cara penularan yaitu :


a. Kontak (contact transmission):
Direct/Langsung: kontak badan
ke badan transfer kuman penyebab
secara fisik pada saat pemeriksaan c. Airborne : partikel kecil ukuran < 5
fisik, μm, bertahan lama di udara, jarak
penyebaran jauh, dapat terinhalasi,
contoh: Mycobacterium
tuberculosis,viruscampak,
Varisela (cacar air), spora jamur
d. Vehikulum : Bahan yang dapat
memandikan pasen. Indirect/Tidak berperan dalam mempertahankan
langsung (paling sering !!!): kontak kehidupan kuman penyebab
melalui objek (benda/alat) sampai masuk (tertelan atau
perantara: melalui instrumen, terokulasi) pada pejamu yang
jarum, kasa, tangan yang tidak rentan. Contoh: air, darah, serum,
dicuci plasma, tinja, makanan
b. Droplet : partikel droplet > 5 μm e. Vektor : Artropoda (umumnya
melalui batuk, bersin, bicara, jarak serangga) atau binatang lain yang
sebar pendek, tdk bertahan lama di dapat menularkan kuman
udara, “deposit” pada mukosa penyebab cara menggigit pejamu
konjungtiva, hidung, mulut contoh yang rentan atau menimbun kuman
penyebab pada kulit pejamu atau
makanan. Contoh: nyamuk, lalat,
pinjal/kutu, binatang pengerat

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


1. Peningkatandaya tahan penjamu,
Proses terjadinya infeksi bergantung
dapat pemberian imunisasi aktif
kepada interaksi antara suseptibilitas
(contoh vaksinasi hepatitis B),
penjamu, agen infeksi (pathogenesis,
atau pemberian imunisasi pasif
virulensi dan dosis) serta cara penularan.
(imunoglobulin). Promosi
Identifikasi factor resiko pada penjamu
kesehatan secara umum
dan pengendalian terhadap infeksi
termasuk nutrisi yang adekuat
tertentu dapat mengurangi insiden
akan meningkatkan daya tahan
terjadinya infeksi (HAIs), baik pada
tubuh.
pasien ataupun pada petugas kesehatan.

Strategi pencegahan dan pengendalian


infeksi terdiri dari:

2. Inaktivasi agen penyebab infeksi,


dapat dilakukan metode fisik
maupun kimiawi. Contoh metode
fisik adalah pemanasan jarum bekas pakai atau pajanan
(pasteurisasi atau sterilisasi) dan lainnya. Penyakit yang perlu
memasak makanan seperlunya. mendapatkan perhatian adalah
Metode kimiawi termasuk klorinasi hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV.
air, disinfeksi. 5. Kewaspadaan Isolasi
3. Memutus mata rantai penularan. Mikroba penyebab HAIs dapat
Merupakan hal yang paling mudah ditransmisikan oleh pasien
untuk mencegah penularan penyakit terinfeksi/kolonisasi kepada pasien
infeksi, tetapi hasilnya bergantung lain dan petugas. Bila k
kepeda ketaatan petugas dalam
melaksanakan prosedur yang telah
ditetapkan.

Tindakan pencegahan ini telah


disusun dalam suatu “Isolation
Precautions” (Kewaspadaan Isolasi) ewaspadaan isolasi
yang terdiri dari 2 pilar/tingkatan, diterapkan benar dapat menurunkan
yaitu “Standard Precautions” risiko transmisi dari pasien
(Kewaspadaan Standar) dan infeksi/kolonisasi. Tujuan
“Transmission based Precautions” kewaspadaan isolasi adalah
(Kewaspadaan berdasarkan cara menurunkan transmisi mikroba
penularan) infeksius diantara petugas dan
4. Tindakan pencegahan paska pasien. Kewaspadaan Isolasi harus
pajanan (“Post Exposure diterapkan kewaspadaan isolasi
Prophylaxis”/PEP) terhadap petugas sesuai gejala klinis,sementara
kesehatan. Berkaitan pencegahan menunggu hasil laboratorium kelur.
agen infeksi yang ditularkan melalui
darah atau cairan tubuh lainnya,
yang sering terjadi karena luka tusuk
6. Kebersihan Tangan
Tangan merupakan media transmisi
patogen tersering di RS. Menjaga
kebersihan tangan dengan baik dan
benar dapat mencegah penularan
mikroorganisme dan menurunkan
frekuensi infeksi nosokomial.
Kepatuhan terhadap kebersihan
tangan merupakan pilar
pengendalian infeksi. Teknik yang
digunakan adalah teknik cuci tangan
enam langkah. Dapat memakai
antiseptik, dan air mengalir atau
handrub berbasis alkohol.
Kebersihan tangan merupakan
prosedur terpenting untuk
mencegah transmisi penyebab
infeksi (orang ke orang;objek ke
orang). Banyak penelitian
menunjukkan bahwa cuci tangan
menunjang penurunan insiden
MRSA, VRE di ICU.
KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI bekerjasama dengan Perdalin.


Memutus mata rantai penularan 2009. Pedoman Pencegahan dan
merupakan hal yang paling mudah untuk Pengendalian Infeksi di Rumah
mencegah penularan penyakit infeksi, Sakit dan Fasiltas Pelayanan
tetapi harus didukung dengan kepatuhan Kesehatan Lainnya. SK Menkes No
dan ketaatan dalam melaksanakan 382/Menkes/2007. Jakarta:
prosedur yang telah ditetapkan dalam Kemenkes RI
Standar Prosedur Operasional. Adapun
cara memutus mata rantai penularan
infeksi tersebut adalah dengan Depkes RI. 2006. Pedoman
penerapan “Isolation Penatalaksanaan Flu Burung di
Precautions” (Kewaspadaan Isolasi) Pelayanan Kesehatan. Depkes RI:
yang terdiri dari 2 pilar/tingkatan, yaitu Ditjen Bina Yan
“Standard Precautions” (Kewaspadaan Med 2007. Pedoman Manajerial
Standar) dan “Transmission based Pencegahan dan Pengendalian
Precautions” (Kewaspadaan Infeksi di Rumah Sakit dan Fasiltas
berdasarkan cara penularan). Pelayanan Kesehatan
Lainnya. SK Menkes No
270/MENKES/2007. Jakarta:
Promosi secara umum termasuk nutrisi Depkes RI
yang adekuat akan dapat meningkatkan
daya tahan tubuh. Selanjutnya perlu
perlindungan bagi petugas minimal
dengan imunisasi Hepatitis B, dan
diulang tiap 5 tahun paska imunisasi.

Kewaspadaan yang konstan dalam


penanganan benda tajam harus
dilaksanakan sesuai dengan Standar
Prosedur Operasional (SPO). Luka
tertusuk Jarum merupakan bahaya yang
sangat nyata dan membutuhkan program
manajemen paska pajanan (“Post
Exposure Prophylaxis”/PEP) terhadap
petugas kesehatan berkaitan
pencegahan agen infeksi yang ditularkan
melalui darah atau cairan tubuh
lainnya,yang sering terjadi karena luka
tusuk jarum bekas pakai atau pajanan
lainnya.