Anda di halaman 1dari 51

Mini Project

Promosi Kesehatan dalam Gedung Puskesmas

Kariangau

Disusun untuk memenuhi


sebagian syarat Program Internsip Dokter Indonesia
Di Puskesmas Kariangau

Disusun oleh
dr. Aditya Rahman

Pembimbing
dr. Dedi Handoko

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS KARIANGAU
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Mini Project

Promosi Kesehatan dalam Gedung Puskesmas

Kariangau

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat Program Internsip Dokter Indonesia


di Puskesmas Kariangau

Balikpapan, November 2017

Pendamping Internsip Peserta Internship

dr. Dedi Handoko dr. aditya rahman


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, hanya


karena petunjuk,rahmat, hidayah dan ridho-Nya lah Mini Project dengan judul “Promosi
Kesehatan dalam Gedung Puskesmas Kariangau Balikpapan” dapat terselesaikan dengan baik.
Mini project ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat Program Internsip Dokter
Indonesia di Puskesmas Kariangau. Mini proyek ini tentu masih memiliki banyak kekurangan,
oleh karena itu penulis menerima segala kritik dan saran.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan dalam selesainya mini project ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis dengan segala kerendahan hati
menghaturkan terima kasih yang tidak terhingga dan penghargaan yang tulus kepada :
1. Pak Yogik Wahyudianto, SSI. Apt, selaku Kepala Puskesmas Kariangau yang penulis
hormati
2. dr. Dedi Handoko selaku dokter pendamping terima kasih atas segala bimbingan yang
diberikan dan kesabaran dalam mengarahkan penulis.
3. Seluruh dokter beserta staff Puskesmas Kariangau, terimakasih atas segala ilmu,
pengetahuan, dan bantuan yang diberikan kepada penulis selama menjalankan internsip
di Puskesmas.
4. Rekan-rekan sejawat penulis yang dengan kerendahan dan kemurahan hati dengan ikhlas
mendukung sehingga mini proyek ini dapat diselesaikan
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Balikpapan, 25 Desember 2017
Penulis,

dr. Aditya Rahman


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

ABSTRAK iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GRAFIK dan GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Permasalahan 6

1.3 Tujuan 7

1.3.1 Tujuan Penelitian 7

1.3.2 Kegunaan Penelitian 7

1.4 Sitematika Penulisan 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10

2.1 Landasan Teori 10

2.1.1 Pasar Modal 10

2.1.2 Investasi 11

2.1.3 Strategi Investasi pasif 11


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses penuaan akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia

pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara

keseluruhan. Perubahan-perubahan sebagai akibat proses menua (aging process),

meliputi perubahan fisik, mental, spiritual dan psikososial. 1 Pada usia lanjut terjadi

penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek,

sulit berkonsentrasi, melambatnya proses informasi sehingga dapat mengakibatkan

kesulitan berkomunikasi.2
Indonesia sedang mengalami perubahan struktur demografi sejak beberapa dekade

ini. Batasan umur lanjut usia (lansia) di Indonesia menurut undang-undang nomor 13

tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia adalah 60 tahun ke atas. Saat ini 35,6 juta

orang hidup dengan demensia di seluruh dunia. Angka ini akan mencapai dua kali

lipat setiap 20 tahun. Diperkirakan pada tahun 2050, penderita demensia di seluruh

dunia mencapai 115,4 juta orang.3 Di Indonesia, prevalensi kejadian demensia (per

1000 orang) pada tahun 2005 yaitu 191,4 insiden, tahun 2020 diperkirakan akan ada

314,1 insiden dan akan meningkat pada tahun 2050 yaitu sekitar 932 insiden.

Berdasarkan Sensus Penduduk pada tahun 2010, Indonesia memiliki jumlah lansia

sebesar 18,04 juta yang merupakan 7,59% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia.

Dimana Indonesia juga diperkirakan sebagai Negara dengan pertumbuhan lansia

tercepat dalam kurun waktu 1990 sampai dengan 2025.4


Peningkatan jumlah populasi lansia secara tidak langsung akan membawa

tantangan di berbagai bidang. Dalam bidang kesehatan tantangan yang muncul

seringkali berhubungan dengan bagaimana cara untuk mempertahankan kualitas

hidup serta status kesehatan dari para lansia. Dengan kata lain para lansia harus

mampu mencapai ‘optimal aging’ dalam hidupnya. Untuk dapat mencapai ‘optimal

aging’ tersebut, mereka harus mampu melanjutkan fungsi kehidupannya sebaik yang

mereka mampu, seperti mampu beraktifitas secara fisik, sosial dan kognitif.5
Salah satu masalah kesehatan utama di kalangan lanjut usia adalah dimana seiring

bertambahnya usia, tubuh akan mengalami proses penuaan, termasuk otak. Otak akan

mengalami perubahan fungsi, termasuk fungsi kognitif berupa sulit mengingat kembali,

berkurangnya kemampuan dalam mengambil keputusan dan bertindak (lebih lamban). Fungsi

memori merupakan salah satu komponen intelektual yang paling utama, karena sangat

berkaitan dengan kualitas hidup. Perhatian dan pengetahuan masyarakat terhadap fungsi

kognitif pada saat ini masih sangat kurang. Masyarakat cenderung menganggap hal tersebut

sebagai bagian dari proses menua yang wajar. Di Puskesmas Kariangau Balikpapan sendiri

telah melakukan program screening lansia sejak tahun ini yang meliputi 5 aspek yaitu

aktivitas sehari-hari, tes keseimbangan, tes fungsi kognitif, faktor resiko dan penyakit yang

diderita, dan, emosi lansia. Dengan demikian penulis tertarik untuk dapat mengetahui

gambaran fungsi kognitif pada lansia yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Kariangau

Balikpapan.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran fungsi kognitif pada lansia di wilayah kerja Puskesmas

Kariangau Balikpapan?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia di wilayah kerja

Puskesmas Kariangau Balikpapan.


2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi karakteristik dasar subjek penelitian

yang mencakup: usia, pendidikan terakhir, riwayat penyakit lansia di wilayah

kerja Puskesmas Kariangau Balikpapan.


b. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi subjek yang mengalami penurunan

fungsi kognitif di wilayah kerja Puskesmas Kariangau Balikpapan.

D. Manfaat
1. Bagi Peneliti
Dapat menjadi sarana untuk mengaplikasikan keilmuan yang diperoleh selama masa

pendidikan dan juga mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia.


2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi tentang gambaran fungsi

kognitif pada lansia serta berbagai perubahan yang terjadi pada lansia akibat proses

penuaan.
3. Bagi Puskesmas
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman untuk pemberian pelayan

kesehatan pada lansia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Profil Puskesmas
Puskesmas Kariangau terletak di RT. 06 Kelurahan Kariangau Kecamatan

Balikpapan Barat yang merupakan Kawasan Industri Kariangau (KIK). Telah menjadi

Puskesmas Perawatan 24 jam sejak Agustus 2009 dengan salah satu tujuannya adalah

memperpanjang waktu layanan. Artinya membuka ruang kepada masyarakat

khususnya masyarakat kelurahan Kariangau untuk bisa mengakses atau mendatangi

puskesmas kapanpun mereka membutuhkannya. Dalam menghadapi era globalisasi,


puskesmas dituntut untuk terus berinovasi dalam rangka peningkatan mutu pelayanan

kesehatan kepada masyarakat. Dengan demikian, puskesmas saat ini turut

mempersiapkan diri mengubah model manajemen konvensional ke arah model

pengelolaan publik yang modern melalui Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan

Umum Daerah dengan semangat dan spirit peningkatan kualitas pelayanan. Model ini

memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi

dan produktifitas dan penerapan praktek yang sehat.


1. Letak Geografi
Puskesmas Kariangau mempunyai luas wilayah kerja seluas 170.150 km 2.

Adapun batas-batas wilayah kerja puskesmas Kariangau adalah :


- Sebelah Utara : Kelurahan Mentawir (Kab. PPU)
- Sebelah Selatan : Kelurahan Baru Ulu
- Sebelah Barat : Kelurahan Jenebora (Kab. PPU)
- Sebelah Timur : Kelurahan Batu Ampar / Kelurahan Karang Joang
Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Kariangau Balikpapan
2. Sarana dan Prasarana Wilayah Kerja

Tabel 2.1 Sarana Kesehatan


No Sarana Kesehatan Kariangau
1. Rumah Sakit Umum 0
2. Puskesmas 1
3. Puskesmas Pembantu 1
4. Puskesdes 1
5. Poliklinik / Balai Pengobatan 0
6. Apotek 0
7. Posyandu 13
8. Toko Obat 0
9. Tempat Praktek Dokter 0
Jumlah 16

Tabel 2.2 Sarana Tempat Ibadah


No Jenis Tempat Ibadah Jumlah
1 Mesjid 10
2 Langgar/Surau/Mushola 2
3 Gereja Kristen 1
4 Gereja Katholik 0
5 Vihara 0
6 Pura 0
Jumlah 13
Sumber : Kantor Kelurahan Kariangau Tahun 2014
3. Peran Serta Masyarakat
Tabel 2.3 Peran Serta Masyarakat
No Uraian Jumlah
PHBS
a. Tatanan Rumah Tangga
Yang ber-PHBS 41,95 %
b. Tatanan TTU
- Memenuhi syarat 7
- Tidak memenuhi syarat 0
c. Sekolah / Tempat Pendidikan
- Memenuhi syarat 6
- Tidak memenuhi syarat 0
d. Kantor
- Memenuhi syarat 3
- Tidak memenuhi syarat 0
e. Institusi Kesehatan
- Memenuhi syarat 2
- Tidak memenuhi syarat 0
Posyandu 13
a. Pratama 4
b. Madya 7
c. Purnama 1
d. Mandiri 1
Kader Posyandu
a. Jumlah Kader 65
b. Jumlah Kader Aktif 25
UKS SD SLTP
a. Jumlah 3 3
b. Yang melaksanakan UKS 3 3
c. Warung Sehat 3 3
d. Jamban Sehat 3 8
e. Air Bersih 3 1
f. Dokter Kecil 30 0
g. PMR 0 15
Peserta Pembiayaan Kesehatan
a. JPKM ( Jamkesda ) 3
b. Dana Sehat 0
c. Askes/BPJS 1513
d. Astek 0
e. Lain-lain 0
Jumlah pabrik 37
Jumlah pabrik dengan poliklinik 2
Dasa Wisma
a. Aktif 30
b. Tidak Aktif 55
c. Jumlah kader Aktif 70
d. Jumlah kader tidak Aktif 185
Pos Obat Desa (POD)
a. Pratama 1
b. Madya 0
c. Purnama 0
d. Mandiri 0
Pos Pesantren
a. Pratama 0
b. Madya 1
c. Purnama 0
d. Mandiri 0

4. Demografi dan Kependudukan

Pada akhir tahun 2014, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas

Kariangau adalah 4.336 jiwa. Puskesmas Kariangau memiliki 13 RT dan jumlah

KK : 1.360 KK dengan kepadatan penduduk sebagai berikut :


Tabel 2.4 Luas Wilayah, Jumlah RT, Jumlah Penduduk,
Jumlah Rumah Tangga
Jumlah
Luas Rata-rata Kepadatan
Jumlah Jumlah Rumah
Kelurahan Wilayah Jiwa/Rumah Penduduk
Tangga
Kelurahan Penduduk
(km2) Tangga /km2
(KK)
1 2 3 4 5 6 7
0,03
Kariangau 170.146 1 4.336 1.360 3,19 Jiwa/ KK
Jiwa/Km2
Sumber : Kantor Kelurahan Kariangau Tahun 2014

Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin,


Kelompok Umur, Rasio Beban Tanggungan, Rasio
Jenis Kelamin
Jumlah Penduduk
Rasio
Jumlah Jenis Kelamin Kelompok Umur Rasio Beban
< Jumla Jenis
RT Tanggungan
L P 1-4 5 – 14 15 – 44 45 – 64 ≥ 65 h Kelamin
1

3
12 2.312 2.024 297 866 2115 663 359 4336 57 114,23
6

Sumber : Kantor Kelurahan Kariangau Tahun 2014

Tabel 2.6 Persentase Penduduk Berusia 10 Tahun ke Atas Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Yang
Ditamatkan
Puskesmas Kelurahan Laki - laki & Perempuan
Tidak/ Tdk/Belum SD/ SLTP/ SLTA/ D.I/D.II/
Belum Tamat SD/MI MI MTS MA D.III/D.IV/S.
Pernah I/ S.II/S.III
Sekolah
Kariangau Kariangau 21 452 1241 584 830 115

Tabel 2.7 Data Penduduk Berdasarkan Agama


Sumber : Kantor Kelurahan Kariangau Tahun 2014

Kelurahan Islam Kristen Katolik Hindu Budha Lain-lain Jumlah

Kariangau 3.877 252 52 13 1 0 4.195

Tabel 2.8 Data Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian


No Pekerjaan Kariangau
1 Pegawai Negeri 31
2 TNI / POLRI 6
3 Swasta 228
4 Wiraswasta/Pedagang 82
5 Tani/ternak 143
6 Pertukangan 6
7 Buruh Tani 25
8 Pensiunan 12
9 Nelayan 46
10 Pemulung 0
11 Jasa / dll 1.119
Jumlah 1.698
Sumber : Kantor Kelurahan Kariangau Tahun 2014

5. Data Sekolah

Tabel 2.9 Data Sekolah


No Jenis Sekolah Jumlah
1 Taman Kanak-kanak / KB 3
2 Sekolah Dasar/ MI 3
3 SLTP/ Sederajat 2
4 SLTA/ Sederajat 0
5 Perguruan Tinggi 0
6 Lembaga Pendidikan Agama 1
7 Tempat Penitipan Anak 0
Total 9
Sumber : Kantor Kelurahan Kariangau Tahun 2014

6. Data Kesehatan Lingkungan

Tabel 2.10 Data Penyehatan Lingkungan


Jumlah yg % yg Jumlah yg % yg
No Uraian Jumlah
Diperiksa memiliki Sehat sehat
1 Rumah
a. Jamban Keluarga 1301 900 93 826 92
b. Sarana Air Bersih 1301 1301 100 1301 100
c. Sarana Pembuangan
1301 900 92 790 96
Sampah
d. Sarana Air Limbah 1301 900 97 856 95
2 Sekolah 6 6 100 4 50
3 Madrasah 0 0 0 0 0
4 Mesjid 10 10 100 6 60
5 Gereja 1 1 100 1 100
6 Pura 0 0 0 0 0
7 Vihara 0 0 0 0 0
8 Kelenteng 0 0 0 0 0
9 Pesantren 1 1 100 1 100
10 Langgar/ Musholla 2 2 100 2 100
11 Kantor 2 2 100 2 100
12 Hotel ( Penginapan ) 1 1 100 1 100
13 Toko 18 12 67 10 83
14 Pasar 0 0 0 0 0
15 Restoran/ Bar 0 0 0 0 0
16 Rumah Makan 0 0 0 0 0
17 Depot ( Air Minum Isi Ulang ) 3 3 100 3 100
18 Warung/ Warung Kopi/ Caffe 8 5 62,5 0 0
19 Pedagang Keliling 2 2 100 2 100
20 Industri Rumah Tangga
5 5 100 4 80
( Home Industri )
21 TPS 5 5 100 5 100

B. Lanjut Usia
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses

penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik

yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan

kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel,

jaringan, serta sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang

sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Aspek sosial penduduk lanjut usia

merupakan satu kelompok sosial sendiri. 6


WHO (1989) menetapkan batasan usia lanjut menjadi 4 kelompok yang terdiri

dari: 7
1. Kelompok usia 45-59 tahun sebagai usia pertengahan ( middle/young elderly )
2. Orang dengan usia 60-74 tahun disebut lansia (ederly)
3. Umur 75-90 tahun disebut tua (old)
4. Umur di atas 90 tahun disebut sangat tua (very old).

C. Proses Menua
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan

fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki

kerusakan yang diderita.8 Semua organ pada proses menua akan mengalami

perubahan strktural dan fisiologis, begitu pula organ otak. Selama manusia hidup,

akan terjadi suatu perubahan fungsi dan struktur sel tubuh manusia. maturitas akan

terjadi pada sekitar usia 20 atau 25 tahun. pertumbuhan akan berhenti, dan proses

penuaan akan mulai nampak usia 30 tahun.9,10


Healthy aging akan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu endogenic dan exogenic

factor.12 Endogenic factor yang dimulai dengan cellular aging, melalui jaringan dan

anatomical aging ke arah proses menuanya organ tubuh. Sedangkan Exogenic

factor, yang dapat dibagi faktor lingkungan (environment) dan faktor sosiobudaya

atau gaya hidup ( life style ).11 Healthy aging (menua sehat) dapat dilakukan dengan
4P yaitu peningkatan mutu (promotion), pencegahan penyakit (prevention),

pengobatan penyakit (curative), dan pemulihan (rehabilitation), sehingga keadaan

patologik pun dicoba untuk disembuhkan karena proses patologik akan mempercepat

terjadinya proses penuaan, endogenic dan exogenic factors ini seringkali sulit untuk

dipisah-pisahkan karena saling mempengaruhi dengan erat maka bila faktor-faktor

tersebut tidak dapat dicegah terjadinya maka orang tersebut akan lebih cepat

meninggal.11,12
D. Fungsi Kognitif
Kognitif berasal dari bahasa Latin, yaitu cognitio yang artinya adalah berpikir.

Hal ini merujuk kepada kemampuan seseorang dan mengerti dunianya, yang dicapai

dari sejumlah fungsi yang kompleks termasuk orientasi terhadap waktu, tempat dan

individu, kemampuan aritmatika, pikiran abstrak, kemampuan fokus untuk berpikir

logis.13
Pengertian yang lebih sesuai dengan behavior neurology dan neuropsikologi,

kognitif adalah suatu proses dimana semua maksud sensori (taktil, visual, dan

auditori) akan diubah, diolah, disimpan, dan selanjutnya digunakan untuk hubungan

interneuro secara sempurna sehingga individu mampu melakukan penalaran terhadap

masukan sensoris tersebut.Fungsi kognitif merupakan suatu proses mental manusia

yang meliputi perhatian, persepsi, proses berpikir, pengetahuan dan memori.

Sebanyak 75% dari bagian otak besar merupakan area kognitif .14
Fungsi kognitif terdiri dari 15:
1. Atensi atau konsentrasi
Atensi merupakan kemampuan untuk bereaksi atau memperhatikan satu

stimulus tertentu (spesifik) dengan mampu mengabaikan stimulus lain baik

internal maupun eksternal yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan. 16 Fungsi

kognitif yang baik didukung oleh atensi atau konsentrasi yang baik. Atensi dan
konsentrasi yang terganggu akan mempunyai dampak terhadap fungsi kognitif

lain seperti memori, bahasa dan fungsi eksekutif. Sistem aktivasi retikuler sangat

berperan penting dalam fungsi atensi, demikian juga thalamus sebagai pusat

modulasi kortikal. Penurunan fungsi atensi sesuai proses menua normal dimulai

usia 20 tahun berlanjut sampai usia tua. Atensi merupakan kemampuan yang

kompleks termasuk kewaspadaan, konsentrasi, dan bebas distraksi. Atensi

merujuk pada mempertahankan menjalani perintah, fokus dan aktivitas mental

yang dapat beralih bila dibutuhkan.14 Gangguan atensi dapat berupa dua kondisi

klinik berbeda. Pertama ketidakmampuan mempertahankan atensi maupun atensi

yang terpecah atau tidak atensi sama sekali, dan kedua inatensi spesifik unilateral

terhadap stimulus pada sisi tubuh kontralateral lesi otak.17


2. Memori
Memori adalah proses bertingkat dimana informasi pertama kali harus

dicatat dalam area korteks sensorik kemudian diproses melalui system limbik

untuk terjadinya pembelajaran baru.17 Pengetahuan dasar individual dapat sangat

baik terpelihara sepanjang usia, tetapi pemasukan informasi baru dapat menurun.

Kemampuan memori pada usia 75 tahun menurun 25% dibandingkan usia 20

tahun.14
Secara klinik memori dibagi menjadi tiga tipe dasar : immediate, recent,

dan remote memory berdasarkan rentang waktu antara stimulus dan recall .17
a. Immediate memory merupakan kemampuan untuk merecall stimulus dalam

interval waktu beberapa detik.


b. Recent memory merupakan kemampuan untuk mengingat kejadian sehari-hari

(misalnya tanggal, nama dokter, apa yang dimakan saat sarapan, atau

kejadian-kejadian baru) dan mempelajari materi baru serta mencari materi

tersebut dalam rentang waktu menit, jam, hari, bulan, tahun.


c. Remote memory merupakan rekoleksi kejadian yang terjadi bertahun-tahun

yang lalu (misalya tanggal lahir, sejarah, nama teman)


Gangguan utama fungsi ini pada proses menua berhubungan dengan

pemindahan informasi dari penyimpanan sementara ke tempat penyimpanan

permanen di otak, hal ini berkaitan dengan memori baru. Memori lama biasanya

relative baik atau sedikit menurun. Hasil penelitian fungsi memori menurun pada

proses recall, sedangkan recognition tetap baik. Pemeriksaan memori meliputi

memori baru (verbal/auditorik dan non-verbal/visual), memori tertunda (recall

memory), dan mengenali sesuatu serta memori lama (remote memory).17


3. Bahasa
Bahasa merupakan perangkat dasar komunikasi dan modalitas dasar yang

membangun kemampuan fungsi kognitif. Oleh karena itu pemeriksaan bahasa

harus dilakukan pada awal pemeriksaan neurobehavior. Jika terdapat gangguan

bahasa, pemeriksaan kognitif seperti memori verbal, fungsi eksekutif akan

mengalami kesulitan atau tidak mungkin dilakukan.17


Fungsi bahasa merupakan kemampuan yang meliputi 4 parameter, yaitu

kelancaran, pemahaman, pengulangan dan naming 14,17 :


a. Kelancaran
Kelancaran merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan kalimat dengan

panjang, ritme dan melodi yang normal. Suatu metode yang dapat membantu

menilai kelancaran pasien adalah dengan meminta pasien menulis atau

berbicara secara spontan.

b. Pemahaman
Pemahaman merujuk pada kemampuan untuk memahami suatu perkataan atau

perintah, dibuktikan dengan mampunya seseorang untuk melakukan perintah

tersebut.
c. Pengulangan
Kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu pernyataan atau kalimat yang

diucapkan seseorang.
d. Naming
Naming merujuk pada kemampuan seseorang untuk menamai suatu objek

beserta bagian-bagiannya.
Bahasa mengacu pada komunikasi simbolis. Fungsi ini relatif baik pada proses

menua. Faktor sensoris seperti pendengaran yang berkurang juga dapat

menyebabkan gangguan kelancaran berbahasa.17


4. Visuospasial
Merupakan kemampuan persepsi ruang yaitu mengamati lingkungan

sekitar dan juga mengamati dirinya sendiri. Bila mengalami gangguan fungsi ini

terjadi kesulitan untuk menggambar atau melukis atau memahat dan sebagainya. 17

Kemampuan visuospasial dapat dievaluasi melalui kemampuan kontruksional

seperti menggambar atau meniru berbagai macam gambar (misal : lingkaran,

kubus) dan menyusun balok-balok. Semua lobus berperan dalam kemampuan

konstruksi ini tetapi lobus parietal terutama hemisfer kanan mempunyai peran

yang paling dominan. Menggambar jam sering digunakan untuk skrining

kemampuan visuospasial dan fungsi eksekutif dimana berkaitan dengan gangguan

di lobus frontal dan parietal.17


Pasien diminta untuk menggambar jam berbentuk lingkaran kemudian dengan

angkanya yang lengkap, jika gambar jam digambar terlalu kecil sehingga angka-

angkanya tidak muat, hal ini mencermikan gangguan pada perencanaan. Jika

terdapat neglek unilateral pasien menempatkan angka hanya pada satu sisi.

Selanjutnya pasien diminta untuk menggambar jarum pada pukul 11:10. Pasien

dengan gangguan fungsi eksekutif akan menunjuk jarum pada angka 10 dan 11.17
5. Fungsi eksekutif
Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif tinggi seperti cara berpikir

dan kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan eksekusi diperankan oleh

lobus frontal, tetapi pengalaman klinis menunjukkan bahwa semua sirkuit yang

terkait dengan lobus frontal juga menyebabkan sindroma lobus frontal.

Diperlukan atensi, bahasa, memori dan visuospasial sebagai dasar untuk

menyusun kemampuan kognitif 14.


Fungsi eksekutif dimediasi oleh korteks prefrontal dorsolateral dan

struktur kortikal serta subkortikal yang berhubungan dengan daerah tersebut.

Kerusakan pada korteks prefrontal dorsolateral dapat menimbulkan sindrom

neurobehavioral dengan gejala – gejala seperti berkurangnya aktivitas motorik

kompleks , proses berfikir yang tidak konkrit, gagal mengenal konsep-konsep,

kurang fleksibilitas, serta terjadi perilaku motorik yang stereotipik.17


Istilah penurunan kognitif sebenarnya menggambarkan perubahan kognitif

yang berkelanjutan. Beberapa dianggap masih dalam spektrum penuaan normal,

sementara yang lainnya dimasukkan dalam ketegori gangguan ringan. Untuk

menentukan gangguan fungsi kognitif, biasanya dilakukan penilaian terhadap satu

domain atau lebih seperti memori, orientasi, bahasa, fungsi eksekutif dan praksis.

Temuan dari berbagai peneltian klinis dan epidemiologis menunjukkan bahwa

faktor biologis, perilaku, sosial dan lingkungan dapat berkontribusi terhadap esiko

penurunan fungsi kognitif 13,14.

E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fungsi Kognitif


1. Jenis Kelamin
Wanita tampaknya lebih berisiko mengalami penurunan kognitif. Hal ini

disebabkan adanya peranan level hormon seks endogen dalam perubahan fungsi

kognitif. Reseptor estrogen telah ditemukan dalam area otak yang berperan dalam
fungsi belajar dan memori, seperti hipokampus. Rendahnya level estradiol dalam

tubuh telah dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif umum dan memori

verbal. Estradiol diperkirakan bersifat neuroprotektif dan dapat membatasi

kerusakan akibat stress oksidatif serta terlihat sebagai protektor sel saraf dari

toksisitas amiloid pada pasien Alzheimer.14


2. Pendidikan
Banyak studi menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi, berisiko rendah

menderita penyakit Alzheimer. Tingkat fungsi intelektual premorbid

mempengaruhi kemungkinan penyembuhan fungsi kognitif dan respon terhadap

rehabilitasi.14 Tingkat pendidikan yang rendah berhubungan dengan penurunan

fungsi kognitif yang dapat terjadi lebih cepat dibandingkan dengan tingkat

pendidikan yang tinggi. Diduga ada beberapa mekanisme yang mendasari proses

ini yaitu:16
a. Hipotesis brain reverse, teori ini mengatakan bahwasannya tingkat

pendidikan dan penurunan fungsi kognitif karena usia saling berhubungan

karena keduanya didasarkan pada potensi kognitif yang didapat sejak lahir.
b. Teori “use it or lose it”, teori mengatakan stimulus mental selama dewasa

merupakan proteksi dalam melawan penurunan fungsi kognitif yang

prematur. Pendidikan pada awal kehidupan mempunyai pengaruh pada

kehidupan selanjutnya jika seseorang tersebut terus melanjutkan

pendidikan untuk menstimulasi mental yang diduga bermanfaat untuk

neurokimia dan pengaruh struktur otak.


c. Satu teori menjelaskan tentang synaptic reserve hypothesis, dimana orang

yang berpendidikan tinggi mempunyai lebih banyak synaps di otak

dibanding orang yang berpendidikan rendah. Ketika synap tersebut rusak

karena ada proses penyakit Alzheimer maka synap yang lain akan
menggantikan tempat yang rusak tadi. Teori ini berhubungan dengan

cognitive reserve hypothesis dimana orang yang beredukasi memiliki lebih

banyak sinaps pada otak dan mampu melakukan mengkompensasi dengan

baik terhadap hilangnya suatu kemampuan dengan menggunakan strategi

alternative pada tes yang didapati selama pelatihan selama pendidikan,

dengan demikian dapat diasumsikan orang yang berpendidikan tinggi

menurun fleksibilitas ini dalam test-taking strategy.17


3. Pekerjaan
Pekerjaan dapat mempercepat proses menua yaitu pada pekerja keras/over

working, seperti pada buruh kasar/petani. Pekerjaan orang dapat mempengaruhi

fungsi kognitifnya, dimana pekerjaan yang terus-menerus melatih kapasitas otak

dapat membantu mencegah terjadinya penurunan fungsi kognitif dan mencegah

demensia.14
4. Stroke
Baik stroke iskemik maupun hemoragik dapat mengakibatkan kerusakan bahkan

sampai kematian sel otak. Akibat dari keadaan tersebut dapat timbul suatu

kelainan klinis sebagai akibat dari kerusakan sel otak pada bagian tertentu tetapi

juga dapat berakibat terganggunya proses aktivitas mental atau fungsi kortikal

luhur termasuk fungsi kognitif.14


Pasien stroke iskemik yang dirawat mempunyai risiko paling sedikit lima kali

untuk terjadinya demensia. Mekanisme yang mendasari hubungan tersebut ada

beberapa. Pertama stroke secara langsung atau sebagian penyebab utama

demensia, yang secara umum diklasifikasikan sebagai demensia multi infark atau

demensia vaskuler. Kedua adanya stroke memacu onset terjadinya demensia

Alzheimer’s. lesi vascular pada otak termasuk perubahan pada subtansi alba, lesi

degenerasi Alzheimer’s dan usia sendiri berpengaruh pada perkembangan dari


demensia. Pohjasvaara dkk (1998) mengatakan bahwa faktor risiko demensia

yang dihubungkan dengan stroke belum diketahui secara lengkap, berbagai faktor

gambaran stroke (dysphasia, sindrom stroke dominan), karakteristik penderita

(tingkat pendidikan) dan penyakit kardiovaskular yang mendahului berperan

terhadap risiko tersebut.14


5. Hipertensi
Mekanisme pasti terjadinya gangguan kognitif pada hipertensi belum

sepenuhnya dipahami. Suatu hipertensi menyebabkan percepatan terjadinya

arterosklerosis pada jaringan otak yang berimplikasi pada gangguan kognitif,

yang mana pada penelitian sebelumnya ditunjukan adanya hubungan bermakna

antara derajat retinopati hipertensi sebagai akibat hipertensi lama yang mana

selain proses terjadinya vasokonstriksi pada pembuluh darah retina sendiri juga

peristiwa aterosklerosis. Kapiler dan arteriola jaringan otak akan mengalami

penebalan dinding oleh karena terjadi deposisi hyaline dan proliferasi tunika

intima yang akan menyebabkan penyempitan diameter lumen dan peningkatan

resistensi pembuluh darah. Hal tersebut memicu terjadinya gangguan perfusi

serebral,memungkinkan terjadinya iskemia berkelanjutan pada gangguan aliran

pembuluh darah yang kecil hingga timbul suatu infark lakuner. Hipertensi kronik

dapat menyebabkan gangguan fungsi sawar otak yang menyebabkan peningkatan

permeabilitas sawar otak.hal ini akan menyebabkan jaringan otak khususnya

substansi alba menjadi lebih mudah mengalami kerusakan akibat adanya stimulus

dari luar.14
Peningkatan tekanan darah sistolik mempengaruhi fungsi kognitif terutama pada

usia lanjut, dimana terjadinya gangguan mikrosirkulasi dan disfungsi endotel juga

berperan pada gangguan fungsi kognitif pada hipertensi.16


6. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus adalah sebuah penyakit metabolik yang dapat mempunyai

efek yang sangat merusak pada banyak organ di dalam tubuh. Salah satu

komplikasi diabetes mellitus adalah disfungsi kognitif. Pasien dengan diabetes

mellitus tipe 2 dapat mengalami gangguan kognitif.16 Pengendalian kadar gula

darah berperan dalam menentukan derajat disfungsi kognitif yang terdeteksi pada

pasien dengan diabetes tipe 2. Yaffe dkk menemukan bahwa pasien dengan

HbA1c lebih dari 7,0% mempunyai peningkatan empat kali lipat mengalami

gangguan kognitif ringan. Pengendalian kadar glukosa yang buruk menyebabkan

fungsi kognitif yang buruk juga.14


7. Aktivitas fisik
Beberapa hipotesis yang menjelaskan tentang mekanisme yang mendasari

hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif masih belum dapat dipahami.

Aktivitas fisik terlihat dapat mempertahankan aliran darah otak dan mungkin juga

meningkatkan persediaan nutrisi otak. Selain itu kegiatan aktivitas fisik juga

diyakini untuk memfasilitasi metabolisme neurotransmiter, dapat juga memicu

perubahan aktivitas molekuler dan seluler yang mendukung dan menjaga

plastisitas otak. Bukti dari suatu studi hewan telah menunjukkan bahwa aktivitas

fisik berhubungan dengan seluler, molekul dan perubahan neurokimia. Pengaruh

yang diamati berhubungan dengan peningkatan vaskularisasi di otak, peningkatan

level dopamin, dan perubahan molekuler pada faktor neutropik yang bermanfaat

sebagai fungsi neuroprotective.16


8. Nutrisi
Berdasarkan penelitian di tiga kota di prancis dengan subjek 8085 lansia usia ≥

65 tahun tanpa demensia, didapatkan bahwa konsumsi ikan, buah dan sayur dapat
mengurangi risiko segala penyebab demensia. Penelitian ini dimulai pada tahun

1999 menggunakan studi kohort dan diikuti selama 4 tahun. Hasilnya,

mengkonsumsi ikan setidaknya sekali dalam seminggu terbukti mampu

menurunkan risiko segala penyebab demensia (HR 0,65) dibandingkan orang

yang lebih jarang mengkonsumsi ikan. Mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari

mempunyai hubungan yang signifikan dalam menurunkan risiko segala penyebab

demensia (HR 0,72) dibandingkan dengan mereka yang jarang makan buah dan

sayur.14
9. Merokok
Penelitian menunjukkan bahwa merokok pada usia pertengahan berhubungan

dengan kejadian gangguan fungsi kognitif pada usia lanjut, sedangkan status

masih merokok dihubungkan dengan peningkatan insiden demensia dan

Alzheimer Diseases.18 Pada penelitian lainnya didapatkan bahwa jumlah batang

rokok per-hari tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan fungsi kognitif . 14

Asupan nikotin, zat adiktif utama dalam rokok dapat menguntungkan fungsi

kognitif. Terutama atensi, belajar dan daya ingat dengan memfasilitasi pelepasan

asetilkolin, glutamate, dopamine, noreepinefrin, serotonin dan GABA, tetapi

terpapar asap tembakau jangka panjang terbukti meningkatkan risiko gangguan

kognitif dan demensia dikemudian hari, termasuk peningkatan infark otak silent,

intensitas massa alba, kematian neuron dan artrofi subkortikal. Merokok juga

menurunkan kadar antioksidan penangkap radikal bebas dalam sirkulasi,

meningkatkan respons inflamasi dan mengarah ke aterosklerosis yang

mempengaruhi permeabilitas sawar darah otak, aliran darah otak dan metabolisme

otak.14
F. Pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE) pada Lansia
Di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris, psikogeriatris menggunakan the Mini

Mental State Examination (MMSE) sebagai instrumen untuk menilai kognitif pasien.

Tes ini meski paling sering digunakan, memiliki kelemahan pada waktu yang

dibutuhkan untuk tes tersebut. MMSE menggunakan instrumen penilaian 30 poin.

Instrumen ini pertama dikembangkan sebagai skrining kelainan kognitif untuk

membedakan antara kelainan organik dan non organik (misalnya scizophrenia). Pada

saat ini, MMSE merupakan metode untuk skrining dan monitoring perkembangan

demensia dan delirium. MMSE berkorelasi baik dengan skor tes skrining kognitif

yang lain. Waktu yang dibutuhkan rata-rata 8 menit dengan rentang 4-21 menit. Skor

pada MMSE bisa bias karena pengaruh tingkat pendidikan, perbedaan bahasa, dan

hambatan budaya. Pasien dengan tingkat pendidikan lebih rendah dapat keliru

diklasifikasikan sebagai gila, dan pada pasien dengan tingkat pendidikan tinggi bisa

tidak terdeteksi. Skor MMSE umumnya menurun dengan bertambahnya usia.19


Skor 30 tidak selalu berarti fungsi kognitif normal dan skor nol bukan berarti

tidak ada fungsi kognitif secara absolut. Tes ini tidak punya kapasitas mencukupi

untuk tes fungsi frontal/eksekutif atau fungsi visuospasial (khususnya parietal

kanan). Tugas segilima pada MMSE memerintahkan pasien menirukan gambar dan

tidak menilai kemampuan merencanakan. Sebagai akibatnya tes ini mempunyai

keterbatasan untuk mendeteksi demensia non Alzheimer, seperti kelainan kognitif

pasca stroke, dan demensia frontotemporal atau subkortikal pada fase awal.19
Untuk mengurangi bias atau kelemahan MMSE, dikembangkan beberapa tes lain

salah satunya Mini-Cog-CDT (dapat dikerjakan dalam 3 menit). Clock Drawing Test
(CDT) mempunyai keuntungan relatif terhindar dari bias karena faktor tingkat

intelektual, bahasa, dan budaya.20


G. Pemeriksaan Clock Drawing Test (CDT)
Pertama kali penelitian tentang Clock Drawing Test (CDT) tahun 1983. Saat

itulah tes tersebut digunakan di berbagai macam setting. Tes tersebut memerlukan

kemampuan pemahaman, kemampuan visual spasial, kemampuan merekonstruksi,

konsentrasi, pengetahuan angka, ingatan visual dan fungsi eksekutif. Meskipun tes

tersebut mampu untuk menguji aspek kognitif yang luas, CDT tidak terlalu

menekankan pada aspek pengetahuan dibandingkan dengan tes lain misalnya The

abbreviated mental test score (AMTS) yang lebih pendek ataupun The Mini Mental

State Examination (MMSE) yang lebih umum.21


Inti dari tugas tes tersebut adalah aktivitas menggambar permukaan jam kemudian

menggambar jarum jam yang menunjuk pada arah tertentu sebagai simbol dari

waktu. Sejumlah variasi sudah berkembang, demikian juga variasi dari sistem

penilaiannya, akan tetapi yang disering digunakan adalah yang dikembangkan oleh

Manos dan Shulman. CDT menunjukkan korelasi yang baik dengan tes fungsi

kognitif yang lain yaitu MMSE dan The Blessed Dementia Rating Scale. CDT

mempunyai kemungkinan kelemahan terbesar karena tidak sesuai untuk orang-orang

yang mengalami gangguan penglihatan atau gangguan neurologis lengan bagian atas

seperti kelumpuhan atau tremor. Beberapa ahli berpendapat bahwa umur dan

pendidikan menyebabkan bias pada penilaian CDT, meskipun ahli lain mengatakan

sebaliknya. Di sisi lain, CDT mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan

metode skrining gangguan kognitif yang lain yaitu tidak terpengaruh dengan suasana

hati, bahasa atau budaya, selain itu tidak membutuhkan pengetahuan yang tidak
semestinya. Selain itu, CDT biasanya menarik perhatian para penderita karena tidak

terlalu lama dan mudah diterima.21


H. Kerangka Teori

Lanjut Usia
Perubahan Proses Menua:
Perubahan Fisik
Perubahan Sosial
Perubahan Psikososial

Gangguan Fungsi
Kognitif
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif yaitu

teknik penelitian ilmiah yang menggunakan metode statistik, yakni dengan

mengumpulkkan, menyusun, meringkas dan mempresentasikan data hasil penelitian

dalam bentuk angka atau statistik. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif

analitik yaitu metode yang bertujuan mendeskripsikan atau member gabaran terhadap

suatu objek penelitian yang diteliti melalui sampel atau data yang telah terkumpul dan

membuat kesimpulan yang berlaku umum. Data kuantitatif diperoleh dengan cara

melakukan pemeriksaan screening dengan menggunakan Mini Mental State

Examination (MMSE) dan Clock Drawing Test (CDT) pada lansia dengan usia ≥60

tahun. Dengan tujuan mengetahui gambaran distribusi frekuensi karakteristik dasar

subjek penelitian yang mencakup: usia, pendidikan terakhir, riwayat penyakit lansia

di wilayah kerja Puskesmas Kariangau Balikpapan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kariangau dan

dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 sampai dengan November 2017.


C. Populasi, Sampel, dan Sampling
1. Populasi
Populasi penelitian ini untuk metode kuantitatif menggunakan jumlah

lansia yang telah dilakukan pemeriksaan menggunakan MMSE dan minicog-CDT

pada bulan Oktober 2016 sampai dengan November 2017.


2. Sampel dan Sampling
Sampel dan sampling pada penelitian ini dengan metode kuantitatif dipilih

secara total sampling dengan tujuan jumlah sampel yang kurang dari 100,

sehingga penelitian lebih reprepentatif dan penelitian lebih objektif.


Seluruh Lansia
di wilayah Kerja
Puskesmas
Kriteria Inklusi: Kariangau

Lansia dengan usia ≥ 60 Kriteria Eksklusi :


tahun di wilayah kerja
Lansia yang tidak
Puskesmas Kariangau.
dapat ditemui saat
Lansia yangbersedia
Gambar 2. Kriteria inklusi dan eksklusi
D. Variabel Penelitian penelitian
mengikuti jalanya pemeriksan MMSE dan minicog- Clock Drawing Test
Lansia yang dilakukan
berlangsung.
penelitian.
(CDT) untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif dengan distribusi sesuai umur,

pendidikan, dan riwayat penyakit.


E. Definisi Operasional
1. Lansia
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. penduduk

lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus

menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin

rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini

disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta

sistem organ.
2. Fungsi kognitif
Fungsi Kognitif merupakan suatu proses mental manusia yang meliputi

perhatian, persepsi, proses berpikir, pengetahuan dan memori. Sebanyak 75% dari

bagian otak besar merupakan area kognitif . Faktor-faktor yang mempengaruhi

fungsi kognitif yaitu, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, stroke, hipertensi,

diabetes mellitus, aktifitas fisik, nutrisi dan merokok.

F. Teknik Pengumpulan Data


1. Observasi
Pelaksanaan observasi pada penelitian ini menggunakan pemeriksaan

MMSE dan minicog-CDT pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Kariangau.

G. Instrumen Penelitian
1. Mini Mental State Examination (MMSE)
Mini Mental State Examination (MMSE) adalah salah satu alat yang

paling umum untuk pemeriksaan penurunan kognitif pada dewasa tua dan lanjut

usia. MMSE mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menilai lima bidang fungsi

yang terdiri dari:


a. Atensi atau konsentrasi
Atensi merupakan kemampuan untuk bereaksi atau memperhatikan satu

stimulus tertentu (spesifik) dengan mampu mengabaikan stimulus lain baik

internal maupun eksternal yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan.


b. Memori
Memori adalah proses bertingkat dimana informasi pertama kali harus

dicatat dalam area korteks sensorik kemudian diproses melalui system limbik

untuk terjadinya pembelajaran baru.


c. Bahasa
Bahasa merupakan perangkat dasar komunikasi dan modalitas dasar yang

membangun kemampuan fungsi kognitif.


d. Visuospasial
Visuospasial Merupakan kemampuan persepsi ruang yaitu mengamati

lingkungan sekitar dan juga mengamati dirinya sendiri. Bila mengalami

gangguan fungsi ini terjadi kesulitan untuk menggambar atau melukis atau

memahat dan sebagainya.


e. Fungsi eksekutif
Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif tinggi seperti cara berpikir

dan kemampuan pemecahan masalah.


Skor MMSE normal adalah 24 – 30. Bila skor kurang dari 24 mengindikasikan

gangguan fungsi kognitif.


2. Clock Drawing Test (CDT)
Clock Drawing Test adalah tes sederhana yang dapat digunakan sebagai

bagian dari tes neurologi atau sebagai alat skrining bagi penyakit demensia. Pada

pemeriksaan menggunakan CDT maka pasien diminta untuk menggambar sebuah

jam lengkap dengan angka-angkanya dan jarum penunjuk, kemudian penderita

diminta untuk menggambarkan jarum penunjuk pada posisi yang menunjuk pada

waktu tertentu. Pemberian skor pada tes tersebut menggunakan sistem skor Shua-

Haim et al. 1996 yaitu, 1 poin untuk lingkaran jam, 1 poin untuk semua angka

yang urut , 1 poin untuk semua angka yang ditempatkan pada posisi yang sesuai,

1 poin untuk penggambaran kedua jarum jam yang benar, 1 poin untuk kedua

jarum jam yang menggambarkan kira-kira waktu yang sesuai, 1 poin untuk kedua

jarum jam menunjukkan waktu yang tepat. Skor normal adalah 4-6 poin.
3. Kamera
Merupakan alat untuk mendokumentasikan gambar proses penelitian ini

berlangsung dan mendokumentasikan pemeriksaan MMSE.


4. Alat Tulis
Alat tulis digunakan untuk menunjang pengumpulan data pada saat

wawancara dilakukan.

H. Pengolahan Data
Data skor pemeriksaan MMSE dan minicog-CDT pada sampel penelitian yang

telah didapatkan akan diolah dengan menggunakan analisa univariat yaitu analisa

yang dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian dalam analisa ini hanya

menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel yang diteliti yaitu variabel

usia, pendidikan dan variabel riwayat penyakit.

I. Alur Kegiatan

.
Gambar 3. Alur kegiatan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Karakteristik Responden Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kariangau
Responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah sebanyak

57 orang. Karakteristik responden yang ada di wilayah keja Puskesmas Kariangau

digambarkan berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dan riwayat penyakit

degeneratif yang dimiliki.

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin,


Pendidikan, dan Riwayat Penyakit Degeneratif
No Karakteristik Jumlah (orang) Prosentase (%)

1. Usia

60-74 Tahun 47 82,45%

≥ 75-89 Tahun 10 17,54%

2. Jenis Kelamin
Laki-laki 20 35,08%
Perempuan 37 64,91%

3. Pendidikan Terakhir
Tidak Sekolah 3 5,26%
SD 33 57,89%
SMP 14 24,56%
SMA 5 8,77%
Perguruan Tinggi 2 3,50%

4. Riwayat Penyakit
Ringan 17 29,82%
Sedang 19 33,33%
Berat 21 36,84%

Berdasarkan tabel di atas dapat kita lihat bahwa jumlah lansia berdasarkan

kelompok usia terbanyak adalah pada usia 60-74 tahun yaitu sebanyak 47 orang

(82,45%). Berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan yaitu 37 orang

(64,91%). Berdasarkan riwayat pendidikan terakhir terbanyak adalah yang bersekolah

dalam jenjang Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 33 orang (57,89%). Jumlah terbanyak

pada lansia dengan riwayat penyakit dahulu berdasarkan derajatnya didominasi oleh

lansia dengan penyakit derajat berat sebanyak 21 orang (36,84%).

2. Gambaran Fungsi Kognitif Lansia berdasarkan hasil MMSE dan Mini cog-CDT

di wilayah kerja Puskesmas Kariangau


Pemeriksaan fungsi kognitif dilakukan dengan melakukan pemeriksaan

menggunakan MMSE dan mini cog-CDT.

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fungsi Kognitif pada Lansia


di Wilayah Kerja Puskesmas Kariangau

No. Hasil Pemeriksaan Jumlah (orang) Prosentase (%)


1. Normal 45 78,94%

2. Penurunan Fungsi 12 21,05%


Kognitif

Berdasarkan tabel di atas dapat kita lihat bahwa jumlah lansia berdasarkan hasil

pemeriksaan MMSE dan mini cog-CDT terbanyak adalah dengan hasil pemeriksaan

normal sebanyak 45 orang (78,94%).

3. Gambaran Fungsi Kognitif Lansia berdasarkan usia, jenis kelamin, dan riwayat

penyakit degenerative pada hasil MMSE dan Mini cog-CDT di wilayah kerja

Puskesmas Kariangau
Hasil Pemeriksaan MMSE dan Mini cog-CDT dengan berdasarkan Usia, Riwayat

pendidikan, dan penyakit degenerative yang diderita.


Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fungsi Kognitif pada Lansia
di Wilayah Kerja Puskesmas Kariangau
No Karakteristik MMSE

Normal Menurun

Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase

1. Usia

60-74 Tahun 40 85,10% 7 14,89%


≥ 75-89 Tahun 5 50% 5 50%

2. Jenis Kelamin
Laki-laki 18 90% 2 10%
Perempuan 31 83,78% 6 16,21%

3. Tingkat
Pendidikan
Tidak sekolah 2 66,67% 1 33,33%

SD 19 67,85% 9 32,14%

SMP 11 84,61% 2 15,38%

SMA 5 100% 0 0%
Perguruan Tinggi 5 100% 0 0%

4. Riwayat
Penyakit Dahulu
Ringan 12 70,58% 5 29,41%

Sedang 14 73,68% 5 26,31%

Berat 19 90,47% 2 9,52%

Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat bahwa hasil pemeriksaan MMSE dan

mini cog-CDT berdasarkan usia 60-74 tahun adalah dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 40 orang (85,10%) dan yang mengalami penurunan fungsi kognitif pada

usia tersebut sebanyak 7 orang (14,89%). Sedangkan pada usia ≥ 75-89 tahun lansia

dengan hasil pemeriksaan normal sebanyak 5 orang (50%) dan yang mengalami penurunan

fungsi kognitif sebanyak 5 orang (50%).


Hasil pemeriksaan fungsi kognitif pada lansia berdasarkan jenis kelamin yaitu yang

berjenis kelamin laki-laki dengan hasil pemeriksaan normal sebanyak 18 orang (90%) dan

yang mengalami penurunan sebanyak 2 orang (10%). Kemudian yang berjenis kelamin

perempuan sebanyak 31 orang (83,78%) memiliki fungsi kognitif baik dan yang mengalami

penurunan fungsi kognitif sebanyak 6 orang (16,21%).


Kemudian hasil pemeriksaan fungsi kognitif berdasarkan tingkat pendidikan dimana yang

tidak menempuh pendidikan sekolah dengan fungsi kognitif normal sebanyak 2 orang

(66,67%) sedangkan yang mengalami penurunan fungsi kognitif berjumlah 1 orang (33,33%).

Lansia yang mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) dengan fungsi kognitif normal

sebanyak 19 orang (67,85%), sedangkan yang mengalami penurunan fungsi kognitif

sebanyak 9 orang (32,14%). pada lansia yang menempuh pendidikan SMP dengan fungsi

kognitif normal sebanyak 11 orang (84,61%), sedangkan lansia yang mengalami penurunan

fungsi kognitif pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 2 orang (15,38%). Selanjutnya dari
tabel yang disajikan dapat di lihat bahwa pada lansia yang menempuh pendidikan SMA dan

Perguruan Tinggi (PT) hasil yang didapatkan yaitu fungsi kognitifnya normal dengan jumlah

5 orang (100%).
Hasil pemeriksaan fungsi kognitif berdasarkan riwayat penyakit yang diderita oleh lansia

yang dibagi berdasarkan derajat penyakit yang diderita yaitu lansia dengan riwayat penyakit

derajat ringan mmiliki fungsi kognitif normal sebanyak 12 orang (70,58%) dan yang

mengalami penurunan fungsi kognitif pada derajat ringan sebanyak 5 orang (29,41%). Lansia

yang memiliki riwayat penyakit sedang dengan hasil pemeriksaan fungsi kognitif normal

sebanyak 14 orang (73,68%), sedangkan lansia dengan riwayat penyakit derajat sedang

dengan penurunan fungs kognitif sebanyak 5 orang (26,31%). Selanjutnya dari data yang

telah didapatkan pada lansia dengan riwayat penyakit derajat berat dengan hasil pemeriksaan

fungsi kognitif normal sebanyak 19 orang (90,47%), sedangkan pada lansia dengan riwayat

penyakit derajat berat yang mengalami penuruan fungsi kognitif sebanyak 2 orang (9,52%).

B. Pembahasan
Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 97 orang lansia dimana hanya 57 orang

memasuki kriteria inklusi. Berbagai penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya

menunjukkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan status kognitif

pada lansia, salah satunya adalah usia. Penelitian ini menunjukkan bahwa lansia yang g

berusia 75-90 tahun, 50% mengalami penurunan kognitif. Hasil ini sesuai dengan

penelitian potong lintang yang dilakukan pada tahun 2012 yang menunjukan semakin

bertambah usia lansia maka fungsi kognitif semakin berkurang.22


Berdasarkan data di atas secara umum faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif

pada seseorang adalah penurunan fungsi sistem saraf. Jika sistem saraf pada seseorang

terganggu maka secara otomatis ataupun secara tidak langsung fungsi kognitifnya pasti

akan menurun. Maka dari itu pada lansia pasti mengalami proses penuaan yang berakibat

pada penurunan kemampuan fungsi tubuh salah satunya adalah sistem saraf yang dapat
berakibat pada kemampuan fungsi kognitif pada lansia mengalami penurunan fungsi

kognitif ringan ataupun berat. Adapun faktor lain yang mempengaruhi perubahan fungsi

kognitif pada lansia diantaranya jenis kelamin, usia, pendidikan, hereditas, lingkungan

dan penyakit penyerta khususnya yang merusak sistem saraf.23


Jenis kelamin adalah suatu sifat yang dijadikan dasar untuk mengidentifikasi

perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perilaku, mental dan emosi. 24
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi kognitif salah satunya adalah jenis

kelamin. Menurut Dr R.O. Roberts belum diketahui secara pasti peyebab perbedaan

penurunan fungsi kognitif antara laki-laki dan perempuan. Faktanya berdasarkan

penelitian yang dilakukannya Robert melihat bahwa laki-laki lebih beresiko mengalami

perubahan fungsi kognitif pada usia lebih dini dari pada perempuan. Menurut Rekawati

& Japardi menyatakan bahwa perempuan yang sudah memasuki usia lanjut mempunyai

resiko terjadinya kepikunan sebesar 1.393 kali atau tiga kali lipat dibandingkan laki-laki,

Hal ini disebabkan karena usia harapan hidup perempuan lebih lama dibandingkan laki-

laki. Semakin tinggi usia harapan hidup perempuan maka semakin lama kesempatan

lansia perempuan untuk hidup, sehingga semakin besar kemungkinan mengalami

gangguan penurunan fungsi kognitif.25 Wanita pada usia lanjut lebih beresiko mengalami

penurunan fungsi kognitif disebabkan karena adanya peranan hormon seks endogen

dalam perubahan fungsi kognitif. Dari hasil penelitian yang didapatkan, penurunan fungsi

kognitif lebih banyak dialami oleh lansia yang berjenis kelamin perempuan dibandingkan

laki-laki dengan prosentase sebesar 16,21%.


Berdasarkan faktor resiko tingkat pendidikan, penelitian ini menunjukkan hasil

bahwa responden yang memiliki pendidikan yang lebih rendah memiliki prevalensi

penurunan fungsi kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki

tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan 33,33% dari responden
yang tidak mengenyam pendidikan mengalami penurunan fungsi kognitif. Sementara

responden dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD), sebesar 432,14% memiliki

skor MMSE kurang dari 24. Selanjutnya responden dengan tingkat pendidikan Sekolah

Menengah Pertama (SMP) memiliki prosentase 84,61% yang memiliki fungsi kognitif

normal. Sedangkan responden dengan tingkat pendidikan Sekolah Mennegah Atas

(SMA) dan Perguruan Tinggi (PT), menunjukkan hasil yang sama yaitu 100% dengan

hasil fungsi kognitif normal. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan

di Delhi pada tahun 2014, yaitu penurunan fungsi kognitif berhubungan dengan tingkat

pendidikan dengan p<=0,005.26 Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Mongsidi (2012), dimana responden dengan tingkat pendidikan lebih dari

sembilan tahun, memiliki hasil MMSE yang tergolong normal.27


Berdasarkan faktor resiko riwayat penyakit yang diderita, penelitian ini

menunjukan hasil bahwa lansia dengan riwayat penyakit derajat ringan memiliki fungsi

kognitif normal sebanyak 12 orang (70,58%. Selanjutnya lansia yang memiliki riwayat penyakit

sedang dengan hasil pemeriksaan fungsi kognitif normal sebanyak 14 orang (73,68%), hasil

penelitian lansia dengan riwayat penyakit derajat berat dengan hasil pemeriksaan fungsi kognitif

normal sebanyak 19 orang (90,47%).

BAB V
SIMPULAN & SARAN

A. Simpulan
Dari hasil analisis data penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:
1. Gambaran hasil pemeriksaan fungsi kognitif pada lansia di wilayah kerja Puskesmas

Kariangau Balikpapan sebanyak 45 orang (78,94%) dengan fungsi kognitif baik.


2. Gambaran lansia yang mengalami penurunan fungsi kognitif di wilayah kerja

Puskesmas Kariangau Balikpapan sebanyak 12 orang (21,05%)


3. Gambaran distribusi frekuensi sesuai dengan karakteristik subjek penelitian yang

mencakup :
a. Berdasarkan usia : usia 60-74 tahun adalah dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 40 orang (85,10%) dan yang mengalami penurunan fungsi kognitif

pada usia tersebut sebanyak 7 orang (14,89%). Sedangkan pada usia ≥ 75-89

tahun lansia dengan hasil pemeriksaan normal sebanyak 5 orang (50%) dan

yang mengalami penurunan fungsi kognitif sebanyak 5 orang (50%).


b. Berdasarkan jenis kelamin : yaitu jenis kelamin laki-laki dengan hasil

sebanyak 18 orang (90%) memiliki fungsi kognitif baik dan yang mengalami

penurunan sebanyak 2 orang (10%). Jenis kelamin perempuan sebanyak 31

orang (83,78%) dengan fungsi kognitif baik dan yang mengalami penurunan

fungsi kognitif sebanyak 6 orang (16,21%).


c. Berdasarkan tingkat pendidikan : lansia yang tidak menempuh pendidikan

sekolah dengan fungsi kognitif normal sebanyak 2 orang (66,67%). Lansia

dengan tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) dengan fungsi kognitif normal

sebanyak 19 orang (67,85%), Pada lansia yang menempuh pendidikan SMP

dengan fungsi kognitif normal sebanyak 11 orang (84,61%). Lansia yang

menempuh pendidikan SMA dan Perguruan Tinggi (PT) hasil yang didapatkan

sama yaitu dengan jumlah 5 orang (100%) memiliki fungsi kognitif yang baik.
d. Berdasarkan riwayat penyakit yang diderita oleh lansia: Lansia dengan

riwayat penyakit derajat ringan memiliki fungsi kognitif baik sebanyak 12

orang (70,58%). Lansia yang memiliki riwayat penyakit sedang dengan hasil

pemeriksaan fungsi kognitif baik sebanyak 14 orang (73,68%). Pada lansia

dengan riwayat penyakit derajat berat dengan hasil pemeriksaan fungsi

kognitif baik sebanyak 19 orang (90,47%).


B. Saran
1. Bagi Puskesmas
a. Pemeriksaan skrining atau pemeriksaan fungsi kognitif pada lansia secara berkala

agar dapat dilakukan pencegahan dini apabila terdapat penurunan fungsi kognitif.
b. Mengadakan kegiatan rutin yang dapat merangsang fungsi kognitif di wilayah kerja

puskesmas dengan melibatkan para lansia.


c. Mengadakan penyuluhan fungsi kognitif agar masyarakat lebih mengetahui dan

mengenal faktor-faktor pencetus penurunan fungsi kognitif.

2. Bagi masyarakat
a. Masyarakat harus lebih sadar akan pentingnya menjaga fungsi kognitif agar tetap

berfungsi dengan baik dan tidak menurun secara drastis karena akan mempengaruhi

kualitas hidup lansia.


b. Aktif ikut sertai setiap kegiatan yang di adakan puskesmas untuk para lansia.
Daftar Pustaka
1. Azizah, L. M. 2011. Keperawatan lanjut usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
2. Mubarok, W. I., Nurul, C., & Bambang, A. S. 2010. Ilmu keperawatan komunitas: Konsep dan
aplikasi. Vol. 2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
3. Lestari W, Ngestiningsih D. 2013. Hubungan Antara Status Kognitif dengan Status Fungsional
Lanjut Usia Panti Wredha di Semarang. Universitas Diponegoro.
4. WHO. 2013. Prevalences of dementia and cognitive impairment among older people in sub-
Saharan Africa: A systematic review. Diperoleh tanggal 6 November 2017 dari
http://www.who.int/bulletin/volumes/91/1 0/13-118422/en/.
5. Nevriana A, Riono P, Rihardjo T, Kusumadjati A. 2012. Lifetime Musical Activities and Cognitive
Function of the Elderly. Universitas Indonesia.
6. Setiati S, Harimurti K, Roosheroe AG. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya. Dalam:
Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S., ed. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,2006. 1335-1340.
7. Depkes 2009 (Depkes RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta. 2009.
Diperoleh http://www.depkes.go.id/ Departemen Kesehatan.(2009) Sistem Kesehatan
Nasional, Jakarta).
8. Nugroho, 2000., Keperawatan Gerontik. EGC, Jakarta.
9. Bahtiyar, Lutfi (2011) GDS: Hadi dan Kris Pranaka. 2010. Buku Ajar BoedhiDarmojo
GERIATRI. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
10. Pangkahila W. Memperlambat Penuaan, Meningkatkan Kualitas Hidup. AntiAging
Medicine. Cetakan ke-1. Jakarta : Penerbit Buku Kompas; 2007. Hal :9, 106,108.
11. Marquez DX, Bustamante EE, Blissmer BJ, Prohaska TR. Health Promotion for
Successful Aging. American Journal of 60 Lifestyle Medicine. 2009; Vol. 3, No. 1, 12-19.
12. Katzman R, Rowe JW. 2004. Principles of Geriatric Neurology. Philadelphia: FA Davis
Company.
13. Machnick G, Allegri RF, Dillon C, Serrano CM, Taragano FE. Cognitive, functional and
behavioral factors associated with the burden of caring for geriatric patiens with cognitive
impairment of depression evidence from a South American sample. Int J Geriatr
Psychiatry 2008. [cited 2014 Jan 29]:; 24: 382-389. Available from: EBSCH.
14. Hesti, Harris S, Mayza A, Prihartono J. Pengaruh Gangguan Kognitif Terhadap Gangguan
Keseimbangan Pada Lanjut Usia. Neurona.2008;25:26-31.
15. Kaplan, H.J., Sadock, B.J., Greb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis. Dialih bahasakan oleh Dr. I Made Wiguna S. Jakarta: Binapura
Aksara.
16. Machnick G, Allegri RF, Dillon C, Serrano CM, Taragano FE. Cognitive, functional and
behavioral factors associated with the burden of caring for geriatric patiens with cognitive
impairment of depression evidence from a South American sample. Int J Geriatr
Psychiatry 2008. [cited 2014 Jan 29]:; 24: 382-389. Available from: EBSCH.
17. Xinqi D, Melissa S, Kumar R, Denis AE. Association of cognitive funtion and risk for
elder abuse in a community-dwelling population. Applied dement geriatr cogn disord
2011;1(32):210.
18. Aziz, Firstyono Miftahul. (2016). Pengaruh Aktivitas Vitalisasi Otak Terhadap Kejadian
Demensia Pada Lanjut Usia di BPSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul.
Skripsi. Dipublikasikan. Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
19. Turana Y, Mayza A, Lumempouw SF. “Pemeriksaan Status Mental Mini pada Usia
Lanjut di Jakarta”, Medika.Vol.XXX, September, 2004; hal. 56
20. Korner, E.A., Lauritzen, L., Nilsson,F.M., Lolk, A., Christensen, P..2012. Simple Scoring
of The Clock Drawing Test for Demensia Screening. Danish Medical Journal.
21. Henderson, M., Scot, S. & Hotopf, M., (2007). Use of the clock-drawing test in a hospice
population, Palliative Medicine 2007; 21: 559–565
22. Ramadian D, Maja J, Runtuwene T. Gambaran Fungsi Kognitif pada Lansia di Tiga
Yayasan Manula di Kecamatan Kawangkoan.Universitas Sam Ratulangi; 2012..
23. Bandiyah, Siti. 2009. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika.
24. Mulia, S . Musdah. 2004. Sex and Gender Edisi 1. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
25. Myers, D.G. 2008. Social Psycology. Seven Edition. North America: McGraw-Hill, Inc.
26. Kaur J, Sidhu B, Sibia R, Kaur B. Prevalence of Mild Cognitive Impairment among
Hospital Patiens aged 65 and Above. Delhi Psychiatry Journal. 2014;17(1):60-64.
27. Mongsidi R, Tumewah R, Kembuan M. Profil Penurunan Fungsi Kognitif pada Lansia di
Yayasan-Yayasan Manula di Kecamatan Kawangkoan. Universitas Sam Ratulangi; 2012.
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini bersedia menjadi responden penelitian dengan :
Judul Penelitian : Gambaran Fungsi Kognitif pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Kariangau
Peneliti : dr. Yurni Dwi Astuti

Saya telah mendapat penjelasan dari peneliti tentang tujuan penelitian ini. Saya
mengerti bahwa data mengenai penelitian ini akan dirahasiakan. Semua berkas yang
mencantumkan identitas responden hanya digunakan untuk terkait penelitian. Saya mengerti
bahwa penelitian ini tidak akan berpengaruh negati terhadap diri saya dan berguna untuk
pengembangan Puskesmas Kariangau Balikpapan.
Demikian surat pernyataan ini saya tandatangani tanpa suatu paksaan. Saya bersedia
untuk menjadi responden dalam penelitian ini secara sukarela

Balikpapan, 2017

Responden

(…………………………)
LAMPIRAN 2

Identitas Pasien

1. Nama :
2. Jenis Kelamin :
3. Usia :
4. Tingkat Pendidikan :
5. Tekanan Darah
6. Riwayat Penyakit :
a. DM
b. Stroke
c. Penyakit Jantung
d. Kolesterol
e. Asam Urat
f. Merokok
g. Obesitas

LAMPIRAN 3
MINI-MENTAL STATE EXAM (MMSE)
I ORIENTASI 1 Hari
2 Tanggal
3 Bulan
4 Tahun
5 Musim
6 Ruangan saat ini
7 Alamat
8 Kota
9 Provinsi
10 Negara
II REGISTRASI 11 Bola
Mengingat 3 kata (11, 12, 13) 12 Melati
13 Kursi
III ATENSI KALKULASI 14 93 atau A
(serial 100 – 7 atau 15 86 atau I
kebalikan dari kata DUNIA) 16 79 atau N
17 72 atau U
18 65 atau D
IV MEMORI 19 Bola
Mengingat kembali 3 kata (11-13) 20 Melati
21 Kursi
V BAHASA 22 Jam tangan
23 Pensil
Pengulangan 24 Tanpa,Kalau,Dan,Atau,Tapi
Pengertian verbal 25 Ambil kertas ini dengan
tangan kanan
26 Lipat menjadi dua dan
27 Letakkan di lantai
Membaca + pengertian bahasa 28 Tutup mata anda
tulisan
Menulis 29 (tulis kalimat lengkap S+P)
VI KONSTRUKSI 30 Ikuti gambar di bawah ini

LAMPIRAN 4

MINI COG DAN CLOCK DRAWING TEST (CDT)


(Penilaian kognitif untuk lansia yang buta huruf/tidak sekolah/tidak tamat SD)
Cara Pemeriksaan :
1. Mintalah lansia untuk mendengarkan dengan cermat, mengingat dan kemudian
mengulangi tiga kata yang tidak berhubungan yang akan disampaikan oleh pemeriksa
(bola, melati, kursi)
2. Instruksikan lansia untuk menggambar jam pada selembar kertas kosong atau berikan
dengan lingkaran yang telah disediakan pada selembar kertas
3. Lansia menulis penunjukan waktu 11.10
4. Tanyakan lansia untuk mengulangi tiga kata tadi, kemudian diingatkan lagi dan diminta
mengulangi (bola, melati, kursi)
5. Jika lansia tidak dapat menyebutkan pada kata-kata yang pertama kali diucapkan, maka
tidak perlu ditanyakan kembali karena hal tersebut telah menunjukkan adanya gangguan
kognisi.

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Saran kesehatan……………………………………………………………


Tabel 2.2 Sarana tempat ibadah………………………………………………………
Tabel 2.3 Peran serta masyarakat……………………………………………………..
Tabel 2.4 Luas wilayah, jumlah RT, jumlah penduduk……………………………………..
Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur,
Rasio Beban Tanggungan, Rasio Jenis Kelamin…………………………….
Tabel 2.6 Persentase Penduduk Berusia 10 Tahun ke Atas Dirinci Menurut Tingkat
Pendidikan yang ditamatkan………………………………………………….
Tabel 2.7 Data penduduk berdasarkan agama…………………………………………..
Tabel 2.8 Data penduduk berdasarkan mata pencaharian……………………………….
Tabel 2.9 Data Sekolah………………………………………………………………….
Tabel 2.10 Data penyehatan lingkungan………………………………………………..
Tabel 4.1 Karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dan riwayat
penyakit
degenerative……………………………………………………………….
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fungsi Kognitif pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Kariangau………………………………………………………………..
…………..
Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Fungsi Kognitif pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas

Kariangau…………………………………………………………………………….
Daftar Gambar

Gambar 1. Peta wilayah kerja Puskesmas Kariangau……………………………


Gambar 2. Kriteria inklusi dan eksklusi………………………………………….
Gambar 3. Alur kegiatan…………………………………………………………..