Anda di halaman 1dari 3

A. Kesimpulan

1. Asas

keseimbangan

PERTAMINA

dengan

BAB V

PENUTUP

dalam

perjanjian

Pengusaha

SPBU

kerja

sama

antara

dalam

penyaluran

148

PT.

dan

pemasaran BBM di Yogyakarta, belum diterapkan secara optimal.

Dengan melihat pertukaran hak dan kewajiban yang seimbang diantara

para pihak maka perjanjian kerja sama tersebut dapat simpulkan tidak

menerapkan hak dan kewajiban yang berimbang antara kedua belah

pihak. Perjanjian kerja sama PT. PERTAMINA dengan Pengusaha

SPBU dalam penyaluran dan pemasaran BBM, masih mencantumkan

klausula yang sangat memberatkan bagi Pihak Pengusaha SPBU yang

berkedudukan

sebagai

mitra

perjanjian

kerja

sama

dengan

PT.

PERTAMINA.

2. Pihak Pengusaha SPBU sebagai mitra dalam perjanjian kerja sama

dengan Pengusaha SPBU belum mendapatkan upaya perlindungan

hukum yang memadai. Didalam perjanjian kerja sama tersebut tidak

mengatur

perihal

perlindungan

PERTAMINA

bilamana

pihak

hukum

yang

diberikan

PT.

PT.

PERTAMINA

mengalami

keterlambatan dalam pengiriman BBM kepada Pihak SPBU. Perjanjian

kerja sama tersebut hanya mengatur berkenaan kewajiban menyerahkan

BBM oleh PT. PERTAMINA, berkaitan dengan sanksi keterlambatan

149

dan batas waktu, tidak ditentukan secara jelas didalam perjanjian kerja

sama. Sementara itu, terhadap keterlambatan penyaluran BBM yang

dilakukan oleh PT. PERTAMINA, pihak SPBU

hanya menunggu

konfirmasi

dari

Pihak

PT.

PERTAMINA.

Pengaturan

yang

diatur

didalam perjanjian kerja sama hanya sekedar tentang penyelesaian

perselisihan

dan

upaya

hukum

bagi

kedua

belah

pihak.

Hal

ini

mengindikasikan lemahnya perlindungan hukum yang diberikan PT.

PERTAMINA.

Kewajiban

berkenaan

akibat

hukum

tidak

diatur

didalam perjanjian kerja sama, sehingga pengaturan berkenaan hal

tersebut akan dikembalikan kepada pengaturan didalam KUHPerdata.

B. Saran

1. Saran bagi PT. PERTAMINA :

PT. PERTAMINA hendaknya melakukan peninjauan perihal isi dari

ketentuan perjanjian kerja sama dengan mempertimbangkan penerapan

asas keseimbangan. Pertamina juga harus menampung aspirasi dan

pandangan

pihak

mitra

kerja

sama

(Pengusaha

SPBU)

berkenaan

dengan kedudukan para pihak yang tidak seimbang, diperlukan adanya

peninjauan

kontrak

/

perjanjian

secara

berkala

dengan

mempertimbangkan masukan dari pihak Pengusaha SPBU. Sehingga

hal

ini

dapat

menjadi

fasilitator

bagi

pihak

Pengusaha

untuk

memberikan masukan yang membangun hubungan kerja sama kedua

belah pihak lebih erat.

2. Saran bagi Pengusaha SPBU :

150

Pengusaha SPBU diharapkan dapat lebih aktif dalam menyuarakan

aspirasi dan masukan yang membangun terkait pelaksanaan perjanjian

kerja sama yang dilakukan dengan Pihak PT. PERTAMINA. Hal ini

nantinya dapat menjadi poin masukan untuk dapat dipertimbangkan

oleh PT. PERTAMINA.

3. Saran bagi Pemerintah :

Pemerintah

harus

mempertimbangkan

dan

mengawasi

jalannya

perjanjian kerja sama antara kedua belah pihak. Hal ini diperlukan

untuk menciptakan hubungan harmonis antara kedua belah pihak serta

menjamin

kinerja

yang

kepentingan masyarakat.

4. Saran bagi Masyarakat :

lebih

baik

bagi

kedua

belah

pihak

demi

Masyarakat hendaknya lebih peduli terkait hak dan kewajiban dari PT.

PERTAMINA dan Pengusaha. Dan masyarakat diminta untuk lebih

peduli

kepada

perbuatan

salah

satu pihak

apabila dinilai

terdapat

perbuatan yang menyimpang, baik dilakukan oleh PT. PERTAMINA

maupun Pihak Pengusaha SPBU.